• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA MINAT STUDI LANJUT KE

PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (PTAIN)

DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAN 1 BOYOLALI

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

NUR HAYATI

NIM : 111 09 100

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

2013

▸ Baca selengkapnya: contoh program ekskul agama islam

(2)
(3)

HUBUNGAN ANTARA MINAT STUDI LANJUT KE

PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (PTAIN)

DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAN 1 BOYOLALI

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh :

NUR HAYATI

NIM 11109100

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

2013

(4)

KEMENTERIAN AGAMA RI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721 Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Lamp : 4 Eksemplar

Hal : Pengajuan Naskah Skripsi Kepada

Yth. Ketua STAIN Salatiga Di Salatiga

Assalamu’alaikum wr.wb.

Setelah kami mengoreksi dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka bersama ini, kami kirimkan naskah skripsi saudari :

Nama : NUR HAYATI

NIM : 11109100

Jurusan : Tarbiyah

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Judul : HUBUNGAN ANTARA MINAT STUDI LANJUT KE PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (PTAIN) DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAN 1 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Dengan ini kami mohon skripsi saudari tersebut di atas supaya segera dimunaqosyahkan.

Salatiga, 23 September 2013 Pembimbing

Muna Erawati, M.Si

(5)

KEMENTERIAN AGAMA RI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721 Website :www.stainsalatiga.ac.idE-mail :[email protected]

SKRIPSI

HUBUNGAN ANTA RA MINAT STUDI LANJUT KE

PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (PTAIN)

DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAN 1 BOYOLALI

TAHUN PELAJARAN 2013/2014

DISUSUN OLEH: NUR HAYATI

11109100

Telah dipertahankan di depan panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, pada tanggal 1 November

2013 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana SI Kependidikan Islam.

Susunan Panitia Penguji Ketua Penguji : Drs. Miftahuddin, M.Ag. Sekretaris Penguji : Dra. Sumarno Widjadipa, M.Pd Penguji I : Dra. Sri Suparwi, M.A

Penguji II : Hj. Maslikhah, S.Ag., M.Si Penguji III : Muna Erawati, M.Si

Salatiga, 15 November 2013 Ketua STAIN Salatiga

Dr. Imam Sutomo, M.Ag NIP. 19580827 198303 1 002

(6)

KEMENTERIAN AGAMA RI

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721 Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang betanda tangan dibawah ini:

Nama : Nur Hayati

NIM : 11109100

Jurusan : Tarbiyah

Progam Studi : Pendidikan Agama Islam

Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan atau karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Salatiga, 21 September 2012 Penulis

Nur Hayati NIM.11109100

(7)

MOTTO

ارِ هَّ مَل نْ ا مَ رِ ا قً نْ رِ مَ اسُ مَ اسُ امَ هَّ مَ قً نْ رِ ارِ نْ رِ ا سُ رِ مَ نْ مَ ا قً نْ رِ مَ ا مَ مَ مَ ا نْ مَ ”

"(

م س اه ور)

“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan

(8)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada :

1. Bapak (Muri) dan Ibu (Siti Juwariyah)yang selalu memberikan dukungan secara moral, material maupun spiritual.

2. Muna Erawati, M.Si selaku pembimbing yang telah mengarahkan penulis dalam menyusun skripsi ini.

3. Imam terbaikku yang selalu membimbing dan memotivasi

4. Adik-adikku, Wahyu dan Asyifa yang selalu berbagi tawa dan canda.

5. Teman-teman seperjuangan angkatan 2009 yang tidak dapat penulis sebut satu persatu.

6. Semua pihak yang selalu memberi semangat dan dukungan bagi penulis untuk menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

(9)

KATA PENGANTAR

ميح رلا نمح رلا لله ا مسب Assalamu’alaikum wr.wb

Dengan mengucap Alhamdulillah, sebagai rasa syukur atas limpahan rahmat serta hidayah yang telah diberikan Allah S.W.T sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.Penulisan skripsi yang berjudul “HUBUNGAN ANTARA MINAT STUDI LANJUT KE PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (PTAIN) DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAN 1 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2013/2014”.

Mengingat kemampuan penulis masih belum sempurna, maka di dalam penyusunan skripsi ini mungkin akan ditemui banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis dengan rendah hati dan tangan terbuka menerima masukan dan saran-saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Adapun yang menjadi tujuan penyusunan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam dalam Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.

Selama penulisan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, maka bersamaan dengan selesainya skripsi ini perkenankanlah penulis menghaturkan rasa terima kasih terutama kepada yang terhormat :

1. Dr. Imam Sutomo, M.Ag. Selaku Ketua STAIN Salatiga.

(10)

3. Dra. Siti Asdiqoh, M.Si, Selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam.

4. Muna Erawati, M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar dan penuh perhatian telah meluangkan waktu, untuk memberikan pengarahan serta bimbingan sejak awal penulisan skripsi ini sampai dapat terselesaikan.

5. Drs. H.Cholid Trenggono, M.Pd, selaku Kepala Sekolah MAN 1 Boyolali yang telah memberikan izin serta bantuan kepada penulis dalam mengumpulkan data sehingga skripsi ihi dapat penulis selesaikan.

6. Bapak dan Ibu tercinta yang selalu memberikan dukungan secara moral, material, spiritual serta senantiasa berkorban dan berdoa demi tercapainya cita-cita.

7. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebut satu-persatu.

Akhirnya penulis hanya dapat berdoa semoga semua amal baik dan bantuan yang telah diberikan akan mendapat balasan dari Allah SWT. Penulis juga berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu dalam dunia perndidikan.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Salatiga, 19 September 2013 Penulis

(11)

ABSTRAK

Hayati,Nur, 2013. Hubungan antara Minat Studi Lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan Motivasi Belajar siswa MAN 1 Boyolali Tahun 2013/2014.Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam.Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.Pembimbing : Muna Erawati, M.Si.

Kata Kunci :Minat studi lanjut dan motivasi belajar

Penelitian ini merupakan upaya untuk membuktikan adanya hubungan antara minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali tahun pelajaran 2013/2014. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah(1) bagaimana variasi minat siswa untuk studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)?, (2) bagaimanakah variasi motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali?, (3) apakah ada hubungan antara minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali?. Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui variasi minat siswa studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), (2) untuk mengetahui variasi motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali,(3) untuk mengetahui seberapa besar hubungan antara minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali.

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan korelasi.Populasi dalam penelitian ini sebanyak 670 siswa dan sampel yang digunakan adalah 208 siswa yang duduk di kelas XII.Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel purposive, karena subjek atau responden yang dipilih didasarkan pada karakteristik yang sesuai dengan tujuan penelitian.Metode dalam pengumpulan data menggunakan metode angket dan metode dokumentasi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) deskripsi variasi minat siswa untuk studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang berada dalam kategori tinggi mencapai 23,56 %, kategori sedang 48,56 %, kategori rendah 28,36 %; (2) variasi motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali yang berada dalam kategori tinggi mencapai 6,7 %, kategori sedang 82,21 %, dan kategori rendah 11,06; (3) ada hubungan antara minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali.Hal ini dibuktikan dengan besarnya koefisien korelasi 0,332 yang memiliki nilai P (p value) sebesar 0,000. Karena signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara minat studi lanjut ke PTAIN dengan motivasi belajar, sehingga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima.

(12)

DAFTAR ISI

HALAMANJUDUL……….. . i

PERSETUJUANPEMBIMBING………. iv

PENGESAHAN KELULUSAN ……….... v

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN………... . vi

MOTTO……….... vii

PERSEMBAHAN……….... viii

KATA PENGANTAR ……… ix

ABSTRAK ...………. xi

DAFTAR ISI……… xii

DAFTAR TABEL ……….. xv

DAFTAR LAMPIRAN ……….. xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……… 1

B. Rumusan Masalah ………. 5 C. Tujuan Penelitian ……… 5 D. Hipotesis Penelitian……… 5 E. Manfaat Penelitian ………. 6 F. Definisi Operasional ……….. 7 G. Metode Penelitian ……… 10

1. Pendekatan dan Rancangan Penelitian ………. 10

2. Lokasi dan Waktu Penelitian ………... 10

3. Populasi dan Sampel ……… 10

4. Metode Pengumpulan Data ……… 12

5. Instrumen Penelitian ……….. 13

6. Analisis Data…….. ………. 14

(13)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Minat Studi Lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam

Negeri (PTAIN) ……… 18

1. Pengertian Minat Studi Lanjut ………... 18

2. Faktor-faktor Pendorong Minat ……….. 21

3. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) …….. 23

B. Motivasi Belajar ……… 33

1. Pengertian motivasi belajar ……… 33

2. Fungsi Motivasi Belajar ……… 36

3. Macam-macam Motivasi Belajar ………. 37

4. Faktor yang Mempengaruhi Tinggi Rendahnya Motivasi Belajar Siswa ……… 43

C. Hubungan Antara Minat Studi Lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan Motivasi Belajar … 44 BAB III LAPORAN HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum MAN 1 Boyolali ……… 50

1. Sejarah Madrasah Aliyah Negeri 1Boyolali …………. 50

2. Letak Madrasah Aliyah Negeri 1 Boyolali …………... 54

3. Visi dan Misi Madrasah Aliyah Negeri 1Boyolali ….... 54

4. Struktur Organisasi Madrasah Aliyah Negeri 1 Boyolali... 55

5. Sarana dan Prasarana Madrasah Aliyah Negeri 1 Boyolali... 55

(14)

6. Prestasi yang Pernah Diraih... 60

7. KegiatanEkstrakurikuler……… 62

8. Tata Tertib Siswa………... 62

B. Penyajian Data………... 67

BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis Deskriptif ... 70

1. Analisis Data tentang Minat Studi Lanjut ke Perguruan TinggiAgama Islam Negeri (PTAIN)……… 71

2. Analisis Motivasi Belajar Siswa ... 74

B. Analisis Uji Hipotesis ... 77

C. Pembahasan ... 79 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 84 B. Saran ... 85 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Kisi-kisi Angket Minat Studi Lanjut ke PTAIN ... 13

Tabel 1.2 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar ... 14

Tabel 3.1 Daftar Kepala Sekolah………. 53

Tabel 3.2 Daftar Kelas MAN 1 Boyolali ... 56

Tabel 3.3 Perlengkapan Kegiatan Belajar Mengajar MAN 1Boyolali………... 57

Tabel 3.4 Perlengkapan Administrasi MAN 1 Boyolali... 58

Tabel 3.5 Jumlah Siswa MAN 1Boyolali ... 58

Tabel 3.6 Karakteristik Guru....……….… 59

Tabel 3.7 Karakteristik Karyawan………. 60

Tabel 3.8 Karakteristik Responden………..……….. 67

Tabel 3.9 Data Hasil Angket Minat Studi Lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) ……… 68

Tabel 3.10 Data Hasil Angket Motivasi Belajar………... 69

Tabel 4.1 SkorAngket Minat Studi Lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) ………... 71

Tabel 4.2 Kelas Interval Beserta Kategorinya ... 72

Tabel 4.3 Kategori Skor Minat Studi Lanjut ke PTAIN Beserta Jumlah Respnden……… 73

Tabel 4.4 Kategori SkorFrekuensi dan Hasil Angket Minat Studi Lanjut ke PTAIN……… 73

Tabel 4.5 Skor Angket Motivasi Belajar……… 74

Tabel 4.6 Kelas Interval Beserta Kategorinya…….………. 75

Tabel 4.7 Kategori Skor Motivasi Belajar Beserta Jumlah Responden … 76 Tabel 4.8 Kategori Skor Frekuensi dan Hasil Angket Motivasi Belajar…… 77

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran. 1.Daftar Guru dan Karyawan……… 90

Lampiran.2. Daftar Nama Responden……… 92

Lampiran. 3. Data Hasil Angket Minat Studi Lanjut ke PTAIN……… 97

Lampiran. 4. Data Hasil Angket Motivasi Belajar……….. 102

Lampiran. 5. Skor Angket Minat Studi Lanjut ke PTAIN……… 107

Lampiran. 6. Skor Angket Motivasi Belajar……… 112

Lampiran. 7. Angket Penelitian………... 117

Lampiran. 8. Daftar Riwayat Hidup……… 123

Lampiran. 9. Daftar Nilai SKK……… 124

Lampiran. 10. Nota Dosen Pembimbing Skripsi………. 126

Lampiran. 11. Lembar Konsultasi……… 127

Lampiran. 12. Surat Ijin Penelitian……… 128

(17)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pada zaman sekarang ini manusia mulai mengakui pentingnya pendidikan. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa mengenyam pendidikan yang sesuai dengan yang diinginkan demi masa depan yang lebih baik. Semakin ketatnya persaingan di era global dan tuntutan persaingan di dunia kerja, sangat dibutuhkan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan mampu membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Kemajuan suatu bangsa di masa akan datang sangat tergantung pada mutu pendidikan generasi muda saat ini, karena pemuda adalah ujung tombak dari kesuksesan suatu negara. Namun, untuk mendapatkan itu semua tidak mudah dibutuhkan usaha dan ikhtiar secara terus menerus.

Seorang pakar psikologi, Maslow (dalam Purwanto, 1990: 77) mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok yang dimaksud adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan perlindungan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Berdasarkan pendapat tersebut, kebutuhan akan pendidikan masuk dalam kebutuhan yang kelima yaitu kebutuhan aktualisasi diri yang

(18)

merupakan kebutuhan untuk mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas dan ekspresi diri.

Syah mendefinisikan minat (interest) adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Syah,1995: 132). Minat juga bisa diartikan sebagai suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 1991: 182).

Minat adalah sumber motivasi yang berlatar belakang dari kemampuan yang dimiliki individu sehingga mampu mendorong individu untuk menjadi tertarik dan melakukan suatu kegiatan yang diinginkan, dan dapat mempengaruhi proses dan hasil dari suatu kegiatan yang dilakukan. Apabila siswa sudah memahami sekaligus mempunyai minat untuk menentukan pilihan studi lanjut ke perguruan tinggi, maka ia akan dapat memilih studi lanjut ke perguruan tinggi yang sesuai dengan minatnya, sehingga siswa mempunyai motivasi yang kuat untuk mencapai dan memilih minatnya tersebut dengan lebih konsentrasi dalam menyelesaikan studinya di sekolah menengah dan mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi ( http://enamkonselor.wordpress.com/2012/05/09/minat-studi-lanjut-perguruan-tinggi, diakses Selasa, 11 Juni 2013 pukul 14.15 WIB).

Ada banyak sekali Perguruan Tinggi di Indonesia. Secara umum Perguruan Tinggi (PT) dapat dikategorikan menjadi dua kriteria. Kriteria pertama adalah status perguruan tinggi. Ada dua jenis Perguruan Tinggi

(19)

(PT) yaitu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Peguruan Tinggi Swasta (PTS). Kriteria kedua adalah penanggung jawab Perguruan Tinggi. Ada dua penanggung jawab utama perguruan tinggi walaupun keduanya saling bersinergi (bekerjasama), yaitu Perguruan Tinggi yang berada di bawah tanggung jawab Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Diknasbud) dan Kementerian Agama. Perguruan Tinggi yang berada di bawah Kementeian Agama dengan Status Negeri sering disebut sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN).

Terdapat lima puluh tiga Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatun Republik Indonesia (NKRI). Kelima puluh tiga perguruan tinggi tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) sebayak enam buah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) sebanyak enam belas buah, dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) sebanyak tiga puluh satu buah.

Memasuki Perguruan Tinggi yang diinginkan tidak mudah, siswa harus memiliki dorongan atau motivasi belajar yang baik. Motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (KBBI, 2007: 756). Bisa juga diartikan bahwa motivasi adalah energi psikis yang memberi kekuatan kepada manusia untuk melakukan sesuatu (Wahyuni, 2009: 12).

(20)

Minat atau keinginan yang terjadi dalam diri seseorang biasanya akan berpengaruh terhadap apa yang dilakukan seperti ingin menambah wawasan, memperdalam ilmu pengetahuan agama, ingin mencapai cita-cita atau hanya sekedar formalitas untuk mendapat ijazah. Begitu juga dengan minat siswa untuk studi lanjut ke Perguruan Tinggi Islam terutama yang berada di bawah Kementerian Agama, yang akhirnya akan mempengaruhi motivasi belajar mereka agar memperoleh hasil yang sesuai harapan.

Walaupun demikian, seringkali siswa kurang menyukai jurusan-jurusan yang ditawarkan oleh Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang sebagian besar merupakan kajian agama Islam, mereka kadang memilih/ memfavoritkan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) umum. Akibatnya, pada kondisi tertentu ketika tidak memungkinkan mereka melanjutkan ke Perguruan Tinggi Umum, maka justru sebagian siswa menjadi kurang bersemangat dalam belajar.

Berdasarkan paparan di atas, peneliti bermaksud untuk mengetahui lebih jauh tentang minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) terhadap motivasi belajar siswa terutama siswa yang sudah sekolah di bawah naungan Kementerian Agama melalui judul penelitian “HUBUNGAN ANTARA MINAT STUDI LANJUT KE PERGURUAN TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (PTAIN) DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MAN 1 BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2013/2014”.

(21)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, Penulis dapat menarik beberapa rumusan masalah, yaitu:

1. Bagaimana variasi minat siswa untuk studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)?

2. Bagaimanakah variasi motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali?

3. Apakah ada hubungan antara minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang dilakukan oleh penulis, antara lain untuk mengetahui:

1. Variasi minat siswa studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN).

2. Variasi motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali.

3. Hubungan antara minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali. D. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2011: 64). Hipotesis adalah dugaan sementara yang mungkin benar atau mungkin salah, dia akan

(22)

ditolak jika salah satu palsu dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkan (Hadi, 1981: 63).

Dari kedua pendapat diatas penulis menyimpulkan bahwa: Hipotesis adalah dugaan atau kesimpulan sementara terhadap permasalahan penelitian, yang mungkin benar atau mungkin salah, hipotesis ini akan diterima jika benar dan ditolak jika salah. Hipotesis kerja dalam penelitian ini adalah,”ada hubungan antara minat studi lanjut ke Peguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan motivasi belajar siswa MAN 1 Boyolali”.

E. Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa kegunaan atau manfaat, diantaranya:

1. Manfaat teoretik

a. Sebagai suatu karya ilmiah maka hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pendidikan. b. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan mengenai hubungan

minat terhadap motivasi belajar siswa 2. Manfaat Praktis

a. Menyebarkan informasi mengenai arti pentingnya minat terhadap motivasi belajar siswa secara optimal.

b. Sebagai pendidik maka pengetahuan selama mengadakan penelitian dapat ditransformasikan kepada peserta didik maupun pada masyarakat luas pada umumnya.

(23)

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari kemungkinan penafsiran yang berbeda dalam penggunaan kata pada judul penelitian ini perlu adanya penjelasan beberapa istilah pokok maupun kata-kata yang menjadi variabel penelitian. Istilah yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:

1. Minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Frasa minat studi lanjut merupakan gabungan dari beberapa kata yang masing-masing memiliki makna tersendiri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, gairah, atau keinginan (KBBI, 2007: 744). Menurut Hilgard (dalam Tohirin, 2008: 130) menyatakan bahwa: interest is persiting tendency to and enjoy some activity or content. Dengan demikian, minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan, atau bisa juga dikatakan sebagai perasaan senang atau tidak senang terhadap suatu objek.

Kata studi dapat diartikan sebagai penelitan ilmiah, kajian, telaahan (KBBI, 2007: 1093). Sedangkan lanjut dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai terus, tidak berhenti, masih bersambung (KUBI, 1982: 563). Studi lanjut yang dimaksud dalam skripsi ini mengacu pada makna meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

(24)

Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) adalah lembaga pendidikan tinggi yang mengelola proses pendidikan yang bertugas mencetak sarjana-sarjana Islam untuk kepentingan masyarakat dan pemerintah dalam beberapa cabang ilmu (Depag R.I, 2000: 87).

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) adalah keinginan untuk meneruskan kuliah ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri.

2. Motivasi Belajar.

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu demi mencapai suatu tujuan (Tadjab, 1994: 102). Motivasi belajar dapat juga dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkaan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (Sardiman, 2009: 75).

Jadi yang di maksud dengan motivasi belajar adalah suatu dorongan yang terjadi pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu yang berupa aktifitas peningkatan diri atau perubahan diri untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

(25)

Indikator-indikator yang digunakan untuk menyusun instrument penelitan adalah:

1. Indikator minat studi lanjut dalam penelitian ini adalah:

a. Mencari informasi tentang Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

b. Mempunyai Ketertarikan untuk mendaftar di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

c. Memiliki persepsi atau pandangan positif tentang Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

2. Indikator motivasi belajar dalam penelitian ini adalah: a. Tekun menghadapi tugas

b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa).

c. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah. d. Lebih senang bekerja mandiri

e. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin f. Dapat mempertahankan pendapatnya g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini

h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal (Sardiman, 2009: 83).

Mengingat indikator yang dikemukakan oleh Sardiman sebagian kurang relevan dengan maksud penelitian, maka penulis menggunakan sebagian indikator dan menggantinya agar indikator jadi lebih relevan, antara lain :

(26)

1) Tekun menghadapi tugas sekolah 2) Ulet menghadapi kesulitan belajar

3) Lebih senang belajar mandiri/ mempunyai inisiatif belajar 4) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal latihan

atau tertantang dengan soal-soal yang lebih sulit. G. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan rancangan penelitian.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dikarenakan peneliti melakukan kualifikasi data untuk dianalisis dengan piranti statistik.

2. Lokasi dan waktu penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah Madrasah Aliyah Negeri (MAN)1 Boyolali. Waktu penelitian adalah waktu secara umum yang digunakan oleh peneliti selama penelitian. Dalam kesempatan ini peneliti melakukan penelitian pada tahun 2013 dari bulan Agustus sampai September.

3. Populasi dan sampel

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2002: 108). Sedangkan menurut Sugiyono populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2011: 80). Dari kedua pendapat di atas, penyusun lebih condong pada pendapat Sugiyono

(27)

bahwa wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang ada di MAN 1 Boyolali yang berjumlah 670 siswa yang terdiri dari kelas X, XI, dan kelas XII.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011: 81). Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 109).

Peneliti menyimpulkan bahwa sampel adalah wakil dari keseluruhan anggota populasi penelitian. Besar kecilnya sampel tidak ada ketentuan, tapi perlu diingat bahwa semakin besar sampel yang diambil maka kesimpulan yang diperoleh semakin baik. Menurut Arikunto, untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya, jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Arikunto, 2002: 112).

Teknik pengambilan responden, penulis menetapkan besar subyek penelitian adalah seluruh siswa kelas XII jurusan IPA, IPS, dan Agama. Teknik yang digunakan adalah teknik sampel purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011: 85). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik sampel

(28)

purposive karena subjek atau responden yang dipilih didasarkan pada karakteristik yang sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui keinginan siswa setelah lulus dari sekolah yang bersangkutan sehingga sampel yang diambil hanya kelas XII saja. 4. Metode pengumpulan data.

Sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dimana data dapat diperoleh yaitu siswa MAN 1 Boyolali. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa metode antara lain:

a. Metode angket (kuesioner).

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab (Sugiyono, 2011: 142). Adapun caranya adalah dengan menyebarkan angket kepada siswa.

b. Metode dokumentasi.

Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian, dan sebagainya (Arikunto, 2002: 135). Metode dokumentasi ini penulis gunakan sebagai pelengkap dalam mengumpulkan data. Dalam menerapkan metode ini hanya digunakan untuk mengumpulkan data, yang berwujud surat-surat

(29)

atau dokumentasi jumlah siswa, tenaga pengajar, maupun sarana yang tersedia.

5. Instrumen penelitian.

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diteliti (Sugiyono, 2011: 102). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan instrument berupa angket yang disebarkan kepada siswa. Angket yang digunakan dalam penelitian ini antara lain:

a. Angket minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

Rancangan angket minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang akan disebarkan adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Kisi-kisi Angket Minat Studi Lanjut ke PTAIN No. Indikator Perilaku No. Soal Jumlah

1. Mencari informasi tentang Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

1,2,3 3

2. Mempunyai ketertarikan untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

4,5,6 3

3. Memiliki persepsi atau pandangan positif tentang Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

7,8,9,10 4

(30)

b. Motivasi belajar

Rancangan angket motivasi belajar yang akan disebarkan adalah sebagai berikut:

Tabel 1.2 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar

No. Indikator Perilaku No. Soal Jumlah 1. Tekun menghadapi tugas

sekolah

1,2,4 3

2. Ulet menghadapi kesulitan belajar

3,6,8 3

3. Lebih senang belajar mandiri/ mempunyai inisiatif belajar

5,7 2

4. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal latihan atau tertantang dengan soal-soal yang lebih sulit

9,10 2

Total 10

6. Analisis data.

Setelah penulis memperoleh data, penulis akan melakukan rekap dan kemudian mengadakan analisis data. Dalam proses analisisnya dibagi menjadi dua tahapan. Analisis pendahuluan dengan menggunakan tabel distribusi sederhana untuk setiap variabel. Dengan menggunakan kriteria:

a. Untuk jawaban alternatif A dengan nilai 3. b. Untuk jawaban alternatif B dengan nilai 2. c. Untuk jawaban alternatif C dengan nilai 1.

P = 𝐹

(31)

Keterangan:

P = Persentase Perolehan F = Frekuensi

N = Jumlah Sampel (Sudiyono, 1991: 40).

Langkah selanjutnya penulis menggunakan analisis dan statistik product moment. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel minat studi lanjut dengan motivasi belajar siswa. Analisis dan statistik product moment ini menggunakan rumus: 𝑟𝑥𝑦 = 𝑥𝑦 − 𝑥 𝑦 𝑁 𝑥2 𝑥 2 𝑁 𝑦 2 𝑦 2 𝑁 Keterangan:

𝑟𝑥𝑦 = koefisien korelasi antara X dan Y

𝑥 = variabel minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN).

𝑦 = variabel motivasi belajar N = jumlah responden

𝑥 = nilai hasil variabel minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

𝑦 = nilai hasil variabel motivasi siswa (Arikunto, 2010: 317). Meskipun demikian, dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat bantu Program SPSS (Statistic Package For Social Sciences) 17 sebagai media untuk menganalisis.

(32)

H. Sistematika Penulisan Skripsi

Sistematika disini adalah gambaran umum tentang skripsi ini. Skripsi ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal, bagian inti dan bagian akhir. Bagian awal berisi sampul, lembar berlogo, judul, persetujuan pembimbing, pengesahan kelulusan, pernyataan keaslian tulisan, tabel, dan daftar lampiran. Bagian inti berisi pendahuluan sampai penutup dan bagian akhir berisi daftar pustaka, lampiran-lampiran dan riwayat hidup penulis. Adapun sistematikanya sebagai berikut :

BAB I : Pendahuluan, meliputi : Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, metodologi penelitian serta sistematika penulisan skripsi.

BAB II : Kajian Pustaka, meliputi : Minat Studi Lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), motivasi Belajar, hubungan antara minat studi lanjut ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) dengan Motivasi Belajar

BAB III : Hasil Penelitian, meliputi : Gambaran umum lokasi penelitian, yaitu profil madrasah, letak geografis, sejarah berdirinya MAN 1 Boyolali, visi dan misi MAN 1 Boyolali, ekstrakurikuler, keadaan guru dan karyawan MAN 1 Boyolali, struktur organisasi, keadaan siswa MAN 1 Boyolali, sarana dan prasarana serta penyajian data hasil penelitian.

(33)

BAB IV : Analisis Data, meliputi : analisis deskripsi, analisis uji hipotesis, dan pembahasan.

(34)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Minat Studi Lanjut Ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN)

1. Pengertian Minat Studi Lanjut

Minat merupakan salah satu komponen psikologis yang besar pengaruhnya bagi pencapaian prestasi belajar. Selama ini banyak pakar psikologi yang memberikan perhatian terhadap permasalahan minat antara lain melalui pemberian pengertian dan penjelasan mengenai minat.

Menurut Sardiman (2009: 76) dalam Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang kepada sesuatu (biasanya disertai dengan perasaan senang), karena itu merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu. Minat dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai perhatiaan, kesukaan (kecenderungan hati) kepada sesuatu, keinginan (Poerwadarminto, 1982: 650). Sedangkan studi lanjut merupakan gabungan dari dua kata, yaitu studi dan lanjut. Dalam kamus yang sama studi dapat diartikan pelajaran, penggunaan waktu & pikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan (Poerwadarminto, 1982: 965). Sedangkan lanjut dapat diartikan terus, tidak berhenti, masih bersambung (Poerwadarminto, 1982: 563).Sehingga yang dimaksud dengan minat studi lanjut adalah

(35)

keinginan yang kuat untuk terus mencari ilmu ke jenjang yang lebih tinggi.

Minat merupakan kecenderungan jiwa seseorang yang terarah pada objek tertentu, sehingga individu ini merasa senang serta memberikan perhatian padanya dan objek ada sangkut pautnya dengan dirinya dan dapat memenuhi kebutuhan. Minat merupakan salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar. Minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab partisipasi kegiatan. Dari pengertian tersebut dapat diperoleh kesan bahwa minat itu sebenarnya mengandung unsur-unsur kognitif (menganalisis), emosi (perasaan), dan konasi (kehendak). Maka minat dapat dianggap sebagai respon sadar, sebab kalau tidak demikian, maka minat dapat mempunyai arti apa-apa.

Unsur kognitif dalam arti minat itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai objek yang dituju oleh minat tersebut yang dalam hal ini adalah keinginan untuk studi lanjut atau melanjutkan kembali ke jenjang yang lebih tinggi setelah seorang siswa lulus dari sekolah yang bersangkutan. Unsur emosi, karena dalam partisipasi atau pengalaman itu di sertai dengan perasaan tertentu ( biasanya perasaan senang). Sedangkan unsur konasi merupakan kelanjutan dari kedua unsur tersebut yaitu diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk melakukan suatu tindakan.

(36)

Secara umum pemahaman tentang minat lebih cenderung pada keinginan dalam hati. Dalam Islam hasrat atau keinginan itu bisa dikatakan sebagai suatu niat untuk melakukan sesuatu.

Niat merupakan ukuran untuk meluruskan amal perbuatan. Jika niatnya lurus maka amalnya akan menjadi baik, dan jika niatnya sudah rusak maka akan rusak pula amalannya. Kaitannya dengan menuntut ilmu atau studi lanjut, minat akan mempengaruhi seseorang untuk mencapai keinginannya. Dalam hal ini yaitu keinginan untuk memperdalam ilmu pengetahan dengan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah lulus dari sekolah yang bersangkutan.

Allah menganjurkan setiap manusia untuk memperdalam ilmu pengetahuannya agar menjadi orang yang bermanfaat, seperti dalam firman-Nya surat At-Taubah:122 yang berbunyi:

Artinya: “Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”(At-Taubah:122).

(37)

Ilmu dalam hal ini tentu saja tidak hanya berupa pengetahuan agama tetapi juga berupa pengetahuan yang relevan dengan tuntutan kemajuan zaman. Selain itu, ilmu tersebut juga harus bermanfaat bagi kehidupan orang banyak disamping bagi kehidupan diri pemilik ilmu tersebut.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan minat studi lanjut adalah suatu kondisi psikologis yang berisi kecenderungan untuk tertarik pada suatu objek atau hal tertentu yang sifatnya menetap dan mendorong subyek untuk selalu melaksanaan aktifitas dalam rangka mendapatkan obyek atau hal yang diminati yang dalam hal ini adalah keinginan untuk memperdalam ilmu pengetahuan di jenjang yang lebih tinggi terutama ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN).

2. Faktor-faktor Pendorong minat

Minat didorong oleh motivasi. Motivasi adalah tenaga yang mendorong individu bertindak atau berbuat untuk tujuan tertentu. Minat dimanifestasikan berdasarkan komponen drive (dorongan) yang mendorongnya, antara lain:

a. Drive determinan, dorongan untuk mempertahankan hidup.

b. Dorongan keadaan, keadaan yang ditimbulkan oleh dorongaan determinan di atas.

(38)

c. Kegiatan mencapai tujuan. Komponen ini dilandasi oleh komponen dorongan determinan dan dorongan keadaan. Jika tujuan dicapai berarti dorongan pertama dan kedua diatas terpenuhi.

d. Tercapainya tujuan oleh individu.

e. Mengendurnya dorongan karena tujuan telah tercapai, serta keinginan dan kebutuhan (needs & wants) telah terpenuhi.

f. Efek mengendurnya dorongan semula karena munculnya dorongan lain yang baru, menghendaki pemuasannya.

Keenam komponen itu bekerja berhubungan, atau berkelanjutan dari yang pertama hingga yang terakhir, sebagai landasan tumbuhnya minat seseorang untuk bertindak atau memusatkan perhatiannya ke dalam suatu hal (Kartawidjaja,1987:184).

Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap subyek tersebut.

Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian. Minat terhadap sesuatu dipelajari dan mempengaruhi belajar selanjutnya serta mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Jadi minat terhadap sesuatu merupakan hasil belajar dan menyokong belajar selanjutnya.

(39)

Dengan demikian, faktor yang mempengaruhi besar kecilnya minat seseorang adalah kondisi atau perasaan suka terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh pengalaman atau proses belajar seseorang serta dorongan dari luar atau lingkungan serta keinginan untuk mencapai tujuan.

3. Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) a. Sejarah singkat munculnya PTAIN di Indonesia

Pendirian lembaga pendidikan tinggi Islam sudah dirintis sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, dimana Dr. Satiman Wirjosandjoyo pernah mengemukakan pentingnya keberadaan lembaga pendidikan tinggi Islam untuk mengangkat harga diri kaum muslim di Hindia Belanda yang terjajah itu.

Gagasan tersebut akhirnya terwujud pada tanggal 8 Juli 1945, ketika Sekolah Tinggi Islam (STI) berdiri di Jakarta di bawah pimpinan Prof. Abdul Kahar Muzakkir, sebagai realisasi kerja yayasan Badan Pengurus Sekolah Tinggi Islam yang dipimpin oleh Drs. Mohammad Hatta sebagai ketua dan M. Natsir sebagai sekretaris. Ketika masa revolusi kemerdekaan, STI ikut Pemerintah Pusat Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta dan pada tanggal 10 April 1946 dapat dibuka kembali di kota itu.

Dalam sidang Panitia Perbaikan STI yang dibentuk pada bulan November 1947 memutuskan pendirian Universitas Islam Indonesia (UII) pada 10 Maret 1948 dengan empat fakultas:

(40)

Agama, Hukum, Ekonomi, dan Pendidikan. Tanggal 20 Februari 1951, Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII) yang berdiri di Surakarta pada 22 Januari 1950 bergabung dengan UII yang berkedudukan di Yogyakarta.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia secara internasional, Pemerintah mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN), yang diambil dari Fakultas Agama UII (Yogyakarta) berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1950. Penetapan PTAIN sebagai perguruan tinggi negeri diresmikan pada tanggal 26 September 1951 dengan jurusan Da'wah (kelak Ushuluddin), Qodlo (kelak menjadi Syari'ah) dan Pendidikan (Tarbiyah).

Sementara di Jakarta, berdiri Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA) pada 14 Agustus 1957 berdasarkan Penetapan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1957. Dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 1960 tentang pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), maka PTAIN Yogyakarta dan ADIA Jakarta menjadi IAIN "Al-Jami'ah al-Islamiah al-Hukumiyah" dengan pusat di Yogyakarta. IAIN ini diresmikan tanggal 24 Agustus 1960 di Yogyakarta oleh Menteri Agama K. H. Wahib Wahab. Sejak tanggal 1 Juli 1965 nama "IAIN Al-Jami'ah" di Yogyakarta diganti menjadi "IAIN Sunan Kalijaga", nama salah seorang tokoh terkenal penyebar agama Islam di Indonesia.

(41)

Dalam perkembangan selanjutnya, berdirilah cabang-cabang IAIN yang terpisah dari pusat. Hal ini didukung oleh Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 1963. Hingga akhir abad ke-20, telah ada 14 IAIN, dimana pendirian IAIN terakhir di Sumatera Utara pada tahun 1973 oleh Menteri Agama waktu itu, Prof. Dr. H. A. Mukti Ali.

Seperti telah diketahui, dalam perkembangannya telah berdiri cabang-cabang IAIN untuk memberikan pelayanan pendidikan tinggi yang lebih luas terhadap masyarakat. Untuk mengatasi masalah manajerial IAIN, dilakukan rasionalisasi organisasi. Pada tahun 1997 sebanyak 40 fakultas cabang IAIN dilepas menjadi 36 Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang berdiri sendiri, di luar 14 IAIN yang ada, berdasaran Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1997.

Dengan berkembangnya fakultas dan jurusan pada IAIN di luar studi keislaman, status "Institut" pun harus berubah menjadi "Universitas", sehingga menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta merupakan IAIN pertama yang berubah menjadi UIN, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Negara Indonesia adalah negara yang mayoritasnya dari ummat Islam, dan sangat peduli dengan dunia pendidikan, selalu ingin mencari berbagai cara untuk bisa membangun suatu sistem pendidikan Islam yang lengkap, terutama setelah Indonesia

(42)

merdeka. Hal ini dibuktikan bahwa negara Indonesia berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas suatu lembaga pendidikan hingga ke pelosok-pelosok negeri di nusantara ini. Pendidikan Islam juga tidak terlepas dari perhatian pemerintah Indonesia, yaitu dengan memberi bantuan kepada anak-anak yang kurang akan pendidikan, mendirikan pesantren-pesantren, madrasah-madrasah, dan sampai ke tingkat perguruan tinggi. Sehingga dapat melaksanakan pengajaran dan pendidikan kepada para peserta didik dengan sebaik-baiknya.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja pendidik yang terampil, aktif, dan sesuai dengan semangat mamajukan pendidikan di Indonesia, maka di dirikanlah perguruan-perguruan tinggi di Indonesia ( http://www.banjirembun.blogspot.com/2012/12/sejarah-perkembangan-perguruan-tinggi.html, diakses Kamis, 25 Juli 2013 pukul 17.20 WIB).

b. Macam-macam PTAIN

Di Indonesia terdapat beberapa bentuk Perguruan Tinggi Agama Islam yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang terbentuk sesuai dengan peraturan Undang-undang yang berlaku, diantaranya:

1) Sekolah Tinggi, merupakan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau profesioal dalam satu disiplin ilmu yang sejenis

(43)

2) Institut, merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/ atau profesional dalam sekelompok disiplin ilmu yang sejenis 3) Universitas, merupakan perguruan tinggi yang terdiri atas

sejumlah fakultas yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/ atau profesional dalam sekelompok disiplin ilmu yang sejenis (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1991: 9).

c. Visi dan Misi PTAIN

Setiap lembaga pendidikan di Indonesia, mulai dari dasar hingga perguruan tinggi di harapkan mempunyai visi dan misi, agar setiap lembaga pendidikan mempunyai tantangan sesuai dengan kemampuan guna memajukan pendidikan formal yang ada di Indonesia ini.

Dalam karyanya Mission of the University, Jose Ortega Y. Gasset yang dikutip Minhaji & Kamaruzzaman menjelaskan tugas pokok sebuah perguruan tinggi yang mencakup tiga agenda utama: 1. the transmission of culture; 2. the teaching of professional; 3. scientific research and the training of new scientists.

Agenda pertama menjelaskan tentang peran perguruan tinggi sebagai sarana transmisi budaya, yakni upaya melestarikan sekaligus mengembangkan culture yang didefinisikan sebagai “satu sistem pemikiran yang menjadi landasan kehidupan satu generasi

(44)

tertentu”. Agenda kedua berupa pengajaran profesi-profesi tertentu, yakni menyiapkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan masyarakat (marketable). Dalam konteks perguruan tinggi agama, mahasiswa antara lain disiapkan untuk menempati profesi-profesi tertentu seperti hakim, advokat, panitera, guru, da’i, pustakawan atau sebagai tenaga pengajar. Sedangkan agenda ketiga menyangkut dua hal: aktivitas ilmiah dan penyiapan para calon ilmuwan dan hal ini menuntut pula model kajian yang bernuansa ilmiah yang hingga batas-batas tertentu berbeda dengan aktivitas yang bernuansa dakwah (Minhaji & Kamaruzzaman, 2003: 26-27).

d. Tujuan Pendidikan PTAIN

Sebelum mengacu pada tujuan pendidikan di PTAIN maka, perlu dikemukakan tujuan penddikan yang dilihat dari berbagai aspek.

Menurut Suwarno (2006: 34-35) , pendidikan mempunyai beberapa tujuan di antaranya:

1) Tujuan umum

Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai diakhir pendidikan, yaitu tecapainya kedewasaan jasmani dan ruhani anak didik. Maksud kedewasaan jasmani adalah jika pertumbuhan jasmani sudah mencapai batas pertumbuhan maksimal, maka pertumbuhan jasmani tidak akan berlangsung lagi. Sedangkan maksud kedewasaan ruhani adalah siswa sudah

(45)

mampu menolong dirinya sendiri, mampu berdiri sendiri, dan mampu bertanggung jawab atas semua perbuatannya.

2) Tujuan khusus

Tujuan khusus adalah pengkhususan tujuan umum atas dasar usia, jenis kelamin, sifat, bakat, inteligensi, lingkungan sosial-budaya, tahap-tahap perkembangan, pekerjaan, dan sebagaianya.

3) Tujuan tidak lengkap

Tujuan tidak lengkap adalah tujuan yang menyangkut sebagian aspek manusia, misalnya aspek psikologi, biologis, atau sosiologis saja.

4) Tujuan sementara

Tujuan sementara adalah tujuan yang sifatnya sementara. Ketika tujuan sementara berhasil dicapai, tujuan itu akan ditinggalkan dan diganti dengan tujuan lain. Misalnya, orang tua ingin anaknya berhenti merokok, dengn cara mengurangi uang sakunya. Kalau tujuan tersebut sudah tercapai, lalu diganti dengan tujuan lain misalnya agar tidak suka begadang.

5) Tujuan Intermediet

Tujuan intermediet adalah tujuan perantara bagi tujuan lainnya yang pokok. Misalnya, anak dibiasakan untuk menyapu

(46)

halaman, maksudnya agar ia kelak mempunyai rasa tanggung jawab.

6) Tujuan Insidental

Tujuan insidental adalah tujuan yang dicapai pada saat-saat tertentu, yang sifatnya seketika dan spontan. Misalnya, orang tua menegur anaknya agar berbicara sopan.

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 juga disebutkan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Mendiknas, 2003: 6)”.

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 30 Tahun 1990 Tentang Pendidikan Tinggi menjelaskan tujuan pendidikan tinggi untuk:

1) Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/ atau kesenian.

2) Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/ atau kesenian serta mengupayakan

(47)

penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1991: 49).

Berkenaan dengan tujuan pendidikan tinggi diatas, PTAIN memiliki maksud dan tujuan untuk memberikan pengajaran tinggi dan menjadi pusat memperkembangkan dan memperdalam ilmu pengetahuan tentang Agama Islam, dan untuk tujuan tersebut diletakkan azaz untuk membentuk manusia susila dan cakap serta mempunyai keinsafan bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat Indonesia dan dunia umumnya atas dasar pancasila, kebudayaan, kebangsaan Indonesia, dan kenyataan (Minhaji & Kamaruzzaman, 2003: 39).

e. Kurikulum PTAIN

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 30 Tahun 1990 Bab IV Pasal 13 Tentang kurikulum Pendidikan Tinggi menjelaskan bahwa:

1) Penyelenggaraan pendidikan tinggi dilaksanakan atas dasar kurikulum yang disusun oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai dengan sasaran program studi.

2) Program studi merupakan pedoman penyelenggaraan pendidikan akademik dan/atau professional yang diselenggarakan atas dasar suatu kurikulum serta ditujukan agar

(48)

mahasiswa dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan sasaran kurikulum.

3) Kurikulum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berpedoman pada kurikulum yang berlaku secara nasional.

4) Kurikulum yang berlaku secara nasional diatur oleh Menteri (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1991: 52-53).

f. Alumni PTAIN

Yang dimaksud dengan alumni perguruan tinggi adalah seseorang yang tamat pendidikan di perguruan tinggi yang bersangkutan (Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1991: 89).

PTAIN sebagai salah satu Perguruan Tinggi berbasis agama Islam secara langsung kiprah alumni dari PTAIN tidak jauh dari lingkup Kementerian Agama RI. Hal ini sesuai dengan Fakultas dan jurusan atau program studi yang dicanangkan PTAIN. Seperti Fakultas Tarbiyah prospek masa depannya di cetak untuk menjadi pendidik atau guru. Entah itu guru PAI, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, dan lain sebagainya sesuai dengan ijazah dan Program studinya. Kemudian Alumni Fakultas Syariah juga dicetak sebagai orang yang nantinya dapat bekerja di Pengadilan Negeri/ Agama atau Kementerian Agama yang lain seperti KUA dan bisa juga bekerja di Bank/ Bank Muamalah yang ada di Indonesia ini.

(49)

Adapun dari Fakultas Ushuludin para alumni nantinya dapat menjadi Pemikir dan Pembaharu dalam dunia Islam. Fakultas Dakwah para alumni nantinya dapat bekerja di bidang-bidang dakwah, dan bidang penyiaran lainnya yang ada di Indonesia.

B. Motivasi Belajar

1. Pengertian Motivasi Belajar

Kata motivasi belajar berasal dari dua kata yaitu motivasi dan belajar. Kata motivasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu (Depdiknas, 2007: 76). Menurut Mc. Donald yang dikutip oleh Lilik Sriyanti, motivation is an energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction. Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mncapai tujuan. (Sriyanti, 2011: 116). Motivasi juga dapat dikatakan sebagai keadaan internal organisme yang mendorong untuk berbuat sesuatu (Tohirin, 2008: 133). Sedangkan belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan , sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 1991: 2). Belajar juga

(50)

dapat dikatakan sebagai suatu usaha sadar individu untuk mencapai tujuan peningkatan diri atau perubahan diri melalui latihan-latihan dan pengulangan-pengulangan dan perubahan yang terjadi bukan karena peristiwa kebetulan (Mulyati, 2005: 5).

Jadi yang di maksud dengan motivasi belajar adalah suatu dorongan yang terjadi pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu yang berupa aktifitas peningkatan diri atau perubahan diri untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberikan arahan pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang di kehendaki dapat tercapai.

Allah SWT. Dalam firman-Nya juga menjelaskan pentingnya suatu usaha dalam kaitannya dengan motivasi belajar siswa yang tidak lain untuk memperdalam ilmu pengetahuan agar menjadi orang yang bermanfaat, bahkan Allah juga akan meninggikan derajat orang yang berilmu, hal ini sesuai dengan ayat

(51)

Al-Qur’an Surat Al-Mujadilah ayat 11:































































Artinya: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Mujadilah: 11).

Dari ayat diatas dapat disimpulkan betapa pentingya memperdalam ilmu pengetahuan baik ilmu agama maupun ilmu umum. Bahkan Allah menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang yang sedang menuntut ilmu yang diharapkan mampu mendorong seseorang untuk lebih semangat atau termotivasi untuk lebih giat belajar.

Motivasi merupakan salah satu komponen yang paling penting dalam belajar, namun seringkali sulit untuk diukur. Kemauan siswa untuk berusaha dalam belajar merupakan sebuah produk dari berbagai macam faktor, karakteristik, kepribadian dan kemampuan siswa untuk menyelesaikan tugas tertentu, insentif untuk belajar, situasi dan kondisi, serta performa guru. Begitu juga dalam belajar, berhasil tidaknya seorang siswa dalam proses

(52)

belajarnya sangat bergantung pada motivasi dalam dirinya saat menjalani proses belajarnya itu.

2. Fungsi Motivasi Belajar

Perlu ditegaskan bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan, sehingga mempengaruhi adanya kegiatan. Dalam kegiatan belajar, motivasi memiliki beberapa fungsi, diantaranya:

a) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.

b) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.

c) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

d) Pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang

(53)

belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya (Sardiman, 2009: 85-86).

3. Macam-macam Motivasi Belajar

Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-motif yang aktif itu sangat bervariasi, diantaranya: a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya

1) Motif-motif bawaan

Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya, dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beistirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini seringkali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberi istilah Psysiological drives (Sardiman, 2009: 86).

2) Motif-motif yang dipelajari

Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh: dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini seringkali

(54)

disebut dengan motif-motif yang diisyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Fransen mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerjasama didalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan sesama, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi (Sardiman, 2009: 87).

Disamping itu menurut Fransen yang dikutip oleh Sardiman, masih menambahkan jenis-jenis motif berikut ini:

a) Cognitive motives

Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.

(55)

b) Self-expression

Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. Yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk itu memang diperlukan kreatifitas, penuh imajinasi. Jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.

c) Self-enhancement

Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorng. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi (Sardiman, 2009: 87).

b. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik 1) Motivasi intrinsik

Yang dimaksud dengan motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 2009: 89).

(56)

Dalam motivasi intrinsik, siswa belajar karena ingin mengetahui seluk beluk suatu masalah selengkap-lengkapnya, atau ingin menjadi orang yang terdidik, atau ingin menjadi ahli di bidang suatu tertentu, dan sebagainya. Semua keinginan itu berpangkal pada penghayatan siswa, dan siswa berdaya upaya untuk memenuhi kebutuhan itu dengan/ melalui kegiatan belajar. Di sini, semua kebutuhan itu hanya dapat dipenuhi dengan belajar giat, dan tidak ada cara atau sarana lain untuk mengetahui seluk-beluk suatu masalah, atau menjadi orang terdidik, atau menjadi ahli dalam suatu bidang, selain dengan belajar.

Dalam proses belajar, pada saat seorang siswa termotivasi secara intrinsik, maka apa yang dikerjakan lebih mengarah untuk mencapai kepuasan atau kesenangan mengalahkan tantangan dari pada hanya sekedar menghindari tekanan, mendapat hadiah, atau faktor-faktor eksternal yang lain.

Menurut Brewster & Fager ( dalam Wahyuni, 2009: 28) mengemukakan ada beberapa karakteristik siswa yang temotivasi secara intrinsik, antara lain:

a) Siswa yang termotivasi secara intrinsik akan menunjukkan skor tes berprestasi lebih tinggi dari siswa yang termotivasi secara ekstrinsik.

(57)

b) Lebih mudah beradaptasi dengan situasi lingkungan di sekolah.

c) Lebih banyak meggunakan strategi-strategi dalam memproses dan memahami informasi.

d) Lebih memiliki percaya diri akan kemampuannya pada saat menerima atau mempelajari materi baru.

e) Lebih banyak menggunakan logika dan strategi dalam mengumpulkan informasi, serta menggunakan strategi-strategi dalam mengambil keputusan dari pada siswa yang termotivasi secara intrinsik.

f) Mengingat informasi dan konsep-konsep lebih lama, sehingga tidak terlalu membutuhkan remedial atau review.

g) Lebih memiliki semangat atau keinginan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi (belajar sepanjang hayat) dari pada siswa yang termotivasi secara ekstrinsik. 2) Motivasi ekstrinsik

Yang dimaksud dengan motivas ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar atau bisa juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang tidak

(58)

secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar (Sardiman, 2009: 90-91).

Motivasi belajar ekstrinsik, bukanlah bentuk motivasi yang berasal dari luar siswa, misalnya dari orang lain. Motivasi belajar selalu berpangkal pada suatu kebutuhan yang dihayati oleh orangnya sendiri, biarpun orang lain mungkin memegang peranan dalam menimbulkan motivasi itu. Maka yang khas, dalam motivasi ekstrinsik bukanlah ada atau tidak adanya pengaruh dari luar, melainkan apakah kebutuhan yang ingin dipenuhi itu pada dasarnya hanya dapat dipenuhi melalui kegiatan belajar ataukah sebetulnya juga dapat dipenuhi dengan cara lain.

Menurut Tadjab dalam Ilmu Jiwa Pendidikan, yang tergolong bentuk motivasi belajar ekstrinsik antara lain ialah:

a) Belajar demi memenuhi kewajiban

b) Belajar demi menghindari hukuman yang diancamkan c) Belajar demi memperoleh hadiah material yang

dijanjikan

d) Belajar demi meningkatkan gengsi sosial

e) Belajar demi memperoleh pujian dari orang yang penting, misalnya guru dan orang tua.

Gambar

Tabel 1.1 Kisi-kisi Angket Minat Studi Lanjut ke PTAIN  No.  Indikator Perilaku  No. Soal   Jumlah
Tabel 1.2 Kisi-kisi Angket Motivasi Belajar
Tabel 3.1 Daftar Kepala Sekolah
Tabel 3.2 Daftar Kelas MAN 1  Boyolali  No.  Daftar Ruang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalahnya adalah apa faktor yang melatarbelakangi terjadinya tindak pidana suap di Indonesia dan

Pembelajaran Learning Cycle 7E berbasis inkuiri merupakan pembelajaran matematika yang menggunakan tahap-tahap model pembelajaran Learning Cycle 7E dengan berdasarkan pada

Sistem navigasi navigasi pesawat

Tujuan ini secara rinci dapat diurai menjadi membangun pusat pemerintahan Provinsi Kalimantan Utara dalam arti luas (eksekutif, legislatif, dan instansi terkait

Selain biasanya digunakan menjadi bungkus makanan, kulit jagung yang seringnya dibuang bisa juga kita manfaatkan menjadi dekorasi ruangan dengan membentuknya menjadi bunga nan

Sumber: Kotler (1997) Rangsangan pemasaran Produk Harga Tempat Promosi Rangsangan lain Ekonomi Teknologi Politik Budaya Karakteristik pembeli Budaya Sosial Pribadi Psikologis

Dwi Puja Kesuma, yang ditulis oleh Editiawarman; kedua , Kebijakan Kriminal Terhadap Cyber Sex (Menggunakan Internet Untuk Tujuan Seksual) Dalam Pembaharuan Hukum

Ammatoaan , karena bagi komunitas keAmmatoaan pesta adat tidak akan dimulai tanpa meminum tuak atau ballo, kami sebagai komunitas yang tinggal dalam kawasan ada