● Panduan Penyusunan Profi l Gender Bidang Pendidikan Daerah
● Panduan Strategi Pengembangan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Responsif Gender ● Isu dan Solusi Gender Bidang Pendidikan ● Strategi Pengembangan Sekolah Responsif Gender ● Panduan Penyusunan Bahan Ajar Responsif
Gender
● Panduan Umum Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
● Panduan Kelompok Kerja (Pokja) PUG Bidang Pendidikan
● Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
● Data dan Indikator Pendidikan Berwawasan Gender tahun 2010/2011
● Bahasa dan Gender
Buku
Saku
Bidang
Pendidikan
Pengarusutamaan Gender
● Panduan Penyusunan Profi l Gender Bidang Pendidikan Daerah ● Panduan Strategi Pengembangan Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat (PKBM) Responsif Gender ● Isu dan Solusi Gender Bidang Pendidikan ● Strategi Pengembangan Sekolah Responsif Gender ● Panduan Penyusunan Bahan Ajar Responsif Gender
● Panduan Umum Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan ● Panduan Kelompok Kerja (Pokja) PUG Bidang Pendidikan
● Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
● Data dan Indikator Pendidikan Berwawasan Gender tahun 2010/2011
i
i
Buku
Saku
Bidang
Pendidikan
ii Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan iii
P
endidikan nasional sangat berperan bagi pembangunan manusia karena dapat menginvestasikan perwujudan manusia Indonesia yang berakhlak mulia, berkarakter produktif, dan berdaya saing sehingga dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.Pendidikan sebagai hak azasi manusia tercantum pada pasal 28B ayat (2) UUD 1945 yang tertulis: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Pada Pasal 28C ayat (1) tertulis, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.
Dalam upaya memenuhi hak-hak warga negara terhadap akses pendidikan yang bermutu, adil dan setara bagi perempuan dan laki-laki serta kesempatan meningkatkan kualitas hidup, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan
Kata Sambutan
Perpustakaan Nasional RI. Data Katalog dalam Terbitan (KDT)Sardin Supriatna
Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan/
Sardin Supriatna, Kurniati Restuningsih; Editor, Ella Yulaelawati,
Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat-Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013
x+ 22 hlm + illustrasi; 10 x 15 cm ISBN 978-602-1224-00-7
1. Wanita dalam pendidikan. I. Judul
iv Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan v
Informal sebagai Koordinator Program PUG Bidang Pendidikan melakukan berbagai strategi dan program sehingga seluruh provinsi dan beberapa kabupaten/kota telah mengintegrasikan gender dalam bidang pendidikan melalui bantuan program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pengintegrasian gender dalam bidang pendidikan juga dilakukan secara sinergi dan koordinatif dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya terutama dalam hal perencanaan dan penganggaran pendidikan responsif gender, audit gender, pengembangan pedoman, dan acuan teknis kegiatan yang disusun bersama-sama dengan pakar, para mitra, pokja kabupaten, kota dan provinsi. Sinergi dan koordinasi ini diharapkan akan menghasilkan peningkatan kapasitas pengarusutamaan gender bidang pendidikan secara lebih memadai.
Sampai pada tahun 2012, capaian kinerja layanan kabupaten/kota telah menerapkan pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan sebesar 57,34% lebih tinggi dari target Renstra Pembangunan Pendidikan Nasional 2010-2014 sebesar 54% dan angka disparitas gender penduduk tuna aksara sebesar 2,4% dari jumlah tuna aksara sebanyak 6.401.522 orang.
Penyusunan dan penerbitan sepuluh judul Buku PUG Bidang Pendidikan tahun 2012 merupakan komitmen Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan dalam merealisasikan amanat Inpres No. 9 Tahun 2000 dan Permendiknas Nomor 84 tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan sebagai wujud peningkatan kapasitas PUG bidang Pendidikan. Sebagai realisasi amanat Inpres tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memenuhi target Renstra Kemdikbud tahun 2012 yaitu tercapainya 54% Kabupaten/Kota melaksanakan PUG bidang Pendidikan. Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada berbagai pihak atas kontribusi dan perannya dalam penyusunan buku-buku tersebut. Akhirnya semoga Norma Standar Prosedur dan Kriteria yang disusun dengan kesungguhan, komitmen, dan keikhlasan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, dengan harapan semoga Allah SWT berkenan memberikan rakhmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amin.
Jakarta, November 2012 Direktur Jenderal
Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal,
Prof. Dr. Lidya Freyani Hawadi,Psikolog NIP 195703121982112001
vi Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan vii
S
ejak tahun 2002, kegiatan pengarusutamaan gender dibidang pendidikan telah difasilitasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Upaya ini dilakukan dalam rangka mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender dalam pembangunan pendidikan. Sampai tahun 2012 semua provinsi dan 294 kabupaten/kota telah melaksanakan pengarusutamaan gender dalam bidang pendidikan. Pencapaian ini tidak secara otomatis mampu menghilangkan kesenjangan dan ketidakadilan gender di masyarakat, karena persoalan gender berkait erat dengan konstruksi sosial budaya. Menyadari bahwa akar masalah gender bersumber pada konstruksi sosial budaya masyarakat, upaya pengarusutamaan gender bidang pendidikan dilakukan dengan menyertakan berbagai elemen pemerintah yang berkaitan dengan pembangunan pendidikan serta masyarakat stakeholders pendidikan. Berbagai kegiatan telah dilakukan, antara lain: 1) peningkatan kapasitas kelembagaan dan para perencana kebijakan dan teknis bidang pendidikan, 2) kemitraan dengan Pusat Studi Wanita/Pusat Studi Gender
Kata Pengantar
untuk melakukan kajian studi kebijakan pendidikan yang berwawasan gender, 3)kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat, khususnya dalam rangka mengembangkan pengalaman empirik pendidikan keluarga berwawasan gender dan lifeskill perempuan, 4)penataan database dan sistem pendataan pendidikan yang berwawasan gender, 5)melakukan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat luas melalui berbagai media massa, cetak maupun elektronik. Dalam upaya mendinamisasi dan melakukan penjaminan mutu program/ kegiatan pengarusutamaan gender bidang pendidikan tersebut, baik di tingkat pusat maupun daerah, telah dibentuk Pokja PUG Pendidikan.
Pengalaman yang terjadi selama ini menunjukkan bahwa motivasi, wawasan, dan ketersediaan sumberdaya pengelola di masing-masing provinsi dan kabupaten/kota cukup beragam. Keadaan seperti ini terkadang menimbulkan kekurangefektifan program/kegiatan. Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan suatu pedoman, acuan dan bahan-bahan lain yang memudahkan para pengelola dan pengambil kebijakan dalam mengintegrasikan gender dalam pembangunan pendidikan. Untuk keperluan tersebut, tahun 2012 telah disusun 10 (sepuluh) buku bahan sosialisasi PUG Bidang Pendidikan
viii Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan ix
Mudah-mudahan dengan adanya bahan sosialisasi ini dapat meningkatkan kualitas kinerja program/kegiatan pengarusutamaan gender di bidang pendidikan secara keseluruhan.
Jakarta, November 2012
Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat,
Ella Yulaelawati, M.A., Ph.D. NIP.195804091984022001
Daftar Isi
Kata Sambutan ... iii
Kata Pengantar ... vI Perempuan dan Laki-Laki ... 1
Pengertian Gender ... 3
Gender dalam Pendidikan ... 5
Penerapan Gender ... 10
Daftar Pustaka ... 21 r Pembinaan Pendidikan MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMaasaaaaaay
x Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 1
Sejak manusia dilahirkan ke dunia, pada saat itu juga telah membawa beban dan tugas gender. Jika anak lahir mempunyai penis, ia dikonsepsikan sebagai anak laki-laki, dan bila lahir mempunyai vagina, maka ia dikonsepsikan sebagai perempuan. Adapun ciri-cirinya:
● pria: memiliki jakun, penis dan sperma yang berfungsi untuk membuahi.
● wanita: memiliki vagina, sel telur, dan rahim. ● Kodrat merujuk pada istilah yang diberikan
kepada makhluk (termasuk manusia) yang sifatnya menetap/tidak berubah.
● Perbedaan organ biologis perempuan dan laki-laki, khususnya pada bagian alat-alat reproduksi adalah anugerah Tuhan yang sifatnya menetap,
Perempuan
dan
Laki - Laki
K
e
rangka K
erja P
engarusutamaan Gender Bidang P
endidikan CAP A CITY B UILDING STUDI KEBIJ AKAN KEMITRAAN PSW KEMITRAAN LSM PENGU AT AN ST AKEHOLDERS DA TA & WEBSITE Penerbit/ Penulis/ Satuan P end/ Stak eholder s LSM Or g . Pe rempuan PT/PSW WORKSHOP , R TD, FGD STUDI, WORKSHOP PENG. MODEL SOSIALISASI Pe
rencana & Pengelola Progr
am
Pemegang
K
ebijakan Pusat/ Prov/Kab-K
ota KEADILAN D A N KESET ARAAN GENDER BID ANG PENDIDIKAN K
ebijakan Responsif Gender Position Paper/
RAN - RAD Rencana & Pr ogr am Responsif Gender Analisis situasi/ Pr ofi l Gender Pendidikan Database/ W ebsite Uploading PKBG/
Life Skills Perempuan
Masyar akat Berwawasan Gender Panduan B A/ P embelajar an Pengelolaan Satuan P end. Responsif Gender MEDIA KIE PENGEMB. PENDA TAAN
2 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 3
sehingga itulah yang disebut sebagai kodrat. Secara kodrati, perempuan mempunyai fungsi reproduksi seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui; sedangkan laki-laki mempunyai fungsi membuahi.
● Peran reproduksi tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan dan berlaku sepanjang masa.
● Jadi gender itu bukan kodrat karena buatan manusia, tapi peran reproduksi adalah kodrat karena buatan Tuhan.
GENDER
● perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggung jawab, dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai sosial, budaya dan adat istiadat dari kelompok masyarakat yang dapat berubah menurut waktu serta kondisi setempat (MOWE, UNFPA & BKKBN 2005).
● pembedaan peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008).
Gender lahir karena budaya yang dibuat oleh manusia, sehingga dapat berubah sesuai dengan
Konstrusi Sosial GENDER Dapat dibentuk dan dirubah Tempat Suku/Ras/Bangsa Status sosial Waktu / Zaman Agama / Ideologi Kultur Negara Dipengaruhi oleh Bukan Kodrat Buatan Manusia Dapat diubah
Ketidak adilan dan ketidaksetaraan Faktor-faktor yang mempengaruhi relasi gender
Sumber : Aida Vitalaya, 2010 hal. 345
4 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 5
kebutuhan, wilayah manusia, serta perkembangan zaman, sehingga gender bukan merupakan kodrat karena berhubungan dengan peran baik perempuan maupun laki-laki yang bersifat relatif, dapat berubah, dan dapat dipertukarkan.
Pengarusutamaan Gender Pada Bidang Pendidikan
strategi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender melalui penyusunan kebijakan dan program yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan dan permasalahan perempuan dan laki-laki mulai tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi di berbagai bidang pembangunan.
Kebijakan Responsif Gender Bidang Pendidikan (netral, bias, dan responsif gender).
● netral gender adalah kebijakan yang tidak membedakan untuk kepentingan perempuan atau laki-laki, sehingga akan terus melestarikan kesenjangan gender pada kaum tertentu.
6 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 7
● bias gender adalah kebijakan yang memberi-kan keberpihamemberi-kan kepada salah satu jenis kelamin dan membatasi untuk jenis kelamin lainnya tanpa didasarkan atas pertimbangan keadilan dan kesetaraan.
● responsif gender
adalah kebijakan yang mengintegra-sikan dimensi kea-dilan dan kesetaraan gender. Kebijakan yang responsif gen-der merupakan upa-ya pemerintah untuk menegakkan hak perempuan dan laki-laki atas kesempa-tan, pengakuan dan penghargaan yang sama di masyarakat.
Sistem Pendukung Kebijakan responsif Gender
Perangkat sistem yang umum digunakan adalah ● Alat analisis kesenjangan gender.
Kemente-rian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Meneg PP dan PA) dan Bapenas mengembangkan alat analisis yang disebut dengan Alur Kerja Analisis Gender (Gender Analysis Pathway/GAP). Alat ini bertujuan untuk menemukenali kebijakan dan faktor penyebab munculnya kesenjangan gender dan rekomendasi untuk memperbaiki kebijakan. Lebih lengkap tentang GAP dapat dibaca pada Pesan Standar Gender. Analisis kesenjangan gender dapat juga menggunakan alat analisis lainnya.
● Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender: perangkat yang digunakan dalam merencanakan program dan kegiatan yang mengintegrasikan dimensi keadilan dan kesetaraan gender. Perencanaan yang responsif gender memberikan kejelasan tentang penerima
8 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 9
manfaat dari program/kegiatan yang dilakukan dilihat dari perspektif gender. Perencanaan dan penganggaran responsif gender juga didukung oleh pernyataan anggaran gender (gender budget statement).
● Audit Gender, perangkat pengontrol yang digunakan untuk memastikan bahwa program yang dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan penganggaran responsif gender. Audit gender bukan berarti terhadap program gender akan tetapi audit terhadap setiap program yang direncanakan oleh kementrian/lembaga, dinas pendidikan sampai satuan pendidikan (sekolah) dalam perspektif gender.
● Kelompok Kerja PUG Bidang Pendidikan, bertugas menjadi mitra di Kementrian Pendidi-kan dan Kebudayaan, Dinas PendidiPendidi-kan, atau satuan pendidikan dalam merancang, mengem-bangkan, dan mengevaluasi pelaksanaan peng-arusutamaan gender pada unit kerja.
● Focal Point gender, sumber daya yang memiliki pemahaman, komitmen, dan pengaruh terhadap para pengambil kebijakan dan perencana pendidikan di bidang pendidikan.
Prasyarat Lembaga Pendidikan Pelaksana PUG Bidang Pendidikan
● Komitmen politik para pimpinan (eksekutif, legislatif, yudikatif)
● Kebijakan yang mengintegrasikan dimensi keadilan dan kesetaraan gender
● Mekanisme pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan ● Sumber daya yang mendukung (focal point
gender)
● Sistem dan informasi data terpilah
● Alat-alat pendukung pelaksanaan berupa; panduan, modul pelatihan, dan alat analisis gender.
10 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 11
Satuan Pendidikan (Formal dan Nonformal)
1. Manajemen Pendidikan
● Manajemen sekolah yang memberikan kesempa-tan dan peran yang yang sama atau setara dalam mengendalikan sistem pendidikan di sekolah. ● Memberikan pelayanan pendidikan di sekolah
dan dapat memperoleh manfaat yang sama dari kesempatan yang diberikan pada perempuan dan laki-laki.
● Menyusun materi dan data terpilah jenis kelamin untuk membantu guru dalam melakukan penilaian atau evaluasi proses pembelajaran dan penilaian hasil belajar.
● Mendorong guru untuk merubah pola pembelajaran yang dilakukan jika tidak responsif gender.
● Mendorong sekolah untuk menyusun rencana kerja untuk mencapai keadilan dan kesetaraan gender.
● Menyediakan prasarana sekolah sesuai dengan kebutuhan khusus anak perempuan dan laki-laki (kamar ganti, kamar kecil, sarana olah raga).
Penerapan
Gender
Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota
● Membangun komitmen semua pengambil kebijakan di unit kerja memiliki pemahaman yang utuh tentang pengarusutamaan gender bidang pendidikan.
● Menyusun kebijakan dan program responsif gender ● Membentuk Kelompok Kerja sebagai mitra dari
unit kerja
● Mengembangkan sumber daya melalui pelatihan atau peningkatan kapasitas.
● Mengembangkan sistem informasi dan data terpilah
● Mengembangkan alat analisis gender, panduan-panduan, dan modul-modul.
12 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 13
BAB II
KONSEP-KONSEP
DASAR GENDER
B
B
B
B
B
B
B
A
A
A
A
B
B
B
B
B
B
B
B
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
I
K
K
K
K
K
K
K
K
K
O
ON
O
O
O
O
O
O
O
O
O
O
N
N
N
N
N
N
N
N
N
N
N
N
S
S
S
S
S
S
S
S
S
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
-
-
-
-
-
K
K
K
K
K
K
K
K
K
O
O
O
N
N
N
N
N
S
S
S
S
S
S
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
P
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
A
A
A
A
A
A
S
S
S
S
S
S
S
A
A
A
A
A
A
A
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
G
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
N
N
N
N
N
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
E
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R
● Menjamin peraturan sekolah memberi peluang yang sama bagi anak laki-laki dan perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan.
● Menyusun mekanisme untuk mengidentifi kasi, mendukung dan memonitor anak yang beresiko atau yang membutuhkan perhatian khusus. ● Menyediakan program untuk guru, pembimbing
dan orangtua yang memungkinkan mereka memahami anak-anak yang beresiko tinggi yang berpeluang tidak melanjutkan sekolah.
2. Proses Pembelajaran Responsif Gender a. Perilaku guru dalam proses pembelajaran ● memperlakukan siswa perempuan dan
laki-laki secara setara dan berkeadilan dengan memperhatikan sifat-sifat pribadi dan kebutuhan spesifi k berdasarkan biologi dan sosial.
● menghindari sikap dan perilaku yang mengarah pada pelecehan sosial, seksual, dan budaya pada siswa perempuan dan laki-laki.
● menumbuhkan motivasi belajar, memilih program studi yang cocok sesuai kompetensi, minat dan kemampuan ekonomi siswa perempuan
dan laki-laki:
● memberi wawasan dan motivasi pada siswa
pe-rempuan dan laki-laki yang kompeten
untuk melanjutkan belajar ke program
studi sesuai dengan minat dan bakatnya (baik
14 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 15 14 Buku SSSakuakuakuakukuuuuPPPePPPePePPeengarusutamaaaaaan Gn Gn Gn GGGenGGGGGGGGendendereendeendenendendendendendendndnder er er erereeer r BidBidBidBidBiddangananangangngggggPePPPePeendidididididddidiikian
ilmu teknik/eksakta maupun ilmu sosial) serta sekaligus dibekali bagaimana cara mengatasi kegagalan dalam studi.
● memberikan jaminan kepada peserta didik perempuan dan laki-laki dalam memperoleh hak dan kewajiban yang sama dalam belajar di sekolah, misalnya sama-sama dapat belajar secara aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
● memberikan pelayanan yang baik dan bermutu kepada peserta didik perempuan dan laki-laki yang memiliki kesulitan belajar
14 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
b. Bahan Ajar yang Responsif Gender
● Memberikan gambarkan tentang potret perempuan dan laki-laki yang dinamis
● Menggambarkan peran gender yang seimbang dan berkeadilan,
● Meninggalkan stereotipe gender yang keliru ● Menggambarkan kehidupan nyata yang
16 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 171
Contoh Text dan Analisis Gambar Bias Gender: ● Bentuk aktivitas dan permainan yang
dilabelkan pada anak laki-laki dan perempuan berbeda. Anak laki-laki umumnya digambarkan membantu ayah dan melakukan bentuk permaian “keras” seperti sepak bola, bela diri, dll, dan anak perempuan membantu ibu dan melakukan bentuk permainan yang lembut seperti main boneka, menanam bunga, dll.
● Perempuan distereotipikan dengan peran gender sebagai penanggung jawab pekerjaan rumah tangga, pencari nafkah tambahan, pelaku kegiatan sosial kemasyarakatan. Sedangkan laki-laki sebagai kepala rumah tangga, pencari nafkah utama.
Contoh Teks dan Analisis Gambar Responsif Gender:
● Sekarang ibu-ibu dapat bekerja seperti yang dilakukan ayah. Ayah
juga harus membantu pekerjaan ibu di rumah. Jadi ayah dan ibu harus saling membantu (Peran gender)
18 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 19
● Sejak SD sampai SLTP Ridwan menduduki peringkat pertama di kelasnya. Demikian pula dengan Zainab ia selalu menduduki peringkat pertama di kelasnya.
● Ridwan dan Yusuf anak pak Rasyid dan Bu Hadijah… Pak Rasyid bekerja sebagai guru SD. Bu Hadijah bekerja di perusahaan swasta.
3. Peran Serta Masyarakat Responsif Gender ● Melibatkan orangtua dan masyarakat dalam pe-ngembangan program dan berbagai materi yang mendukung peningkatan pemahaman konsep gender dan aplikasinya di lingkungan sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan pendidikan bagi anak perempuan dan laki-laki.
● Menyusun program untuk mendidik anak perempuan dan laki-laki agar dapat melakukan komunikasi yang efektif dan ketrampilan hidup untuk menyelesaikan konfl ik/masalah.
● Menyusun peraturan di tingkat sekolah untuk menunjukkan bahwa penyimpangan perilaku (kenakalan, narkoba, pergaulan bebas) dan
pelecehan seksual merupakan perilaku yang tidak dapat diterima dan harus diberi sanksi hukuman. ● Menyediakan program dan bahan-bahan untuk
memberikan pemahaman pada komunitas sekolah tentang dampak negatif dari penyimpangan perilaku (kenakalan, narkoba, pergaulan bebas) dan pelecehan seksual terhadap anak.
● Komite sekolah harus mempunyai data terpilah berdasarkan jenis kelamin tentang peserta didik yang mempunyai masalah (material, perilaku) dan bersama-sama dengan sekolah mencari jalan keluar. ● Komite sekolah menyusun RPS dan RAPBS yang
melibatkan perempuan dan laki-laki dalam secara seimbang dalam fungsi kontrol.
Indikator Sekolah yang Sudah Responsif Gender? ● Pimpinan sekolah dan Komite Sekolah
memberikan dukungan setara kepada anak-anak perempuan dan laki-laki untuk belajar di sekolah ● Pimpinan sekolah dan komite sekolah menghargai
secara setara guru perempuan dan laki-laki ● Kepala sekolah memperlakukan guru laki-laki
dan perempuan sesuai dengan kebutuhan sosial dan biologisnya
20 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 21
● Anak-anak perempuan dan laki-laki merasa aman dari gangguan, diskriminasi, dan pelecehan seksual di sekolah
● Adanya bahasa komunikasi guru dan siswa yang menghargai kedua jenis kelamin
● Latihan dan cerita pada mata pelajaran menggambarkan secara setara posisi anak-anak perempuan dan laki-laki
● Peran, tanggung jawab, dan aktivitas siswa perempuan dan laki-laki mencerminkan kesetaraan di lingkungan sekolah
● Guru perempuan dan laki-laki diberi kesempatan sebagai pelatih utama dalam penerapan kurikulum dan bahan ajar baru yang responsif gender
● Semua sarana dan prasarana di sekolah sudah dipertimbangkan berdasarkan kebutuhan perempuan dan laki-laki
● Metode bimbingan dan konseling sudah disesuaikan dengan kebutuhan siswa baik perempuan maupun laki-laki dan sifat karakternya masing-masing
Daftar
Pustaka
Departemen Pendidikan Nasional, (2005), Pesan Standar Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
Departemen Pendidikan Nasional, (2005), Position Paper. Jakarta: Depdiknas.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan (KPP). (2001). Pemantapan Kesepakatan Mekanisme Operasional Pengarusutamaan Gender Kesejahteraan dan Perlindungan Anak dalam Pembangunan Nasional dan Daerah: Bagian I dan II. Rakernas Pemberdayaan PP & KPA. Jakarta: KPP
Kementerian Pemberdayaan Perempuan (KPP). (2004). Bunga Rampai: Panduan dan Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI, BKKBN, dan UNFPA. Jakarta: KPP
22 Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
Kementerian Pemberdayaan Perempuan. (2005). Bahan Pembelajaran Pengarusutamaan Gender. Kerjasama Kementerian Pemberdayaan Perempuan RI, BKKBN, dan UNFPA. Jakarta: KPP
Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun (2000) Tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan Nasional.
Permendagri No. 67 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan di Daerah
Permendiknas No. 84 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan
Permendagri No. 15 Tahun 2008 yang sudah direvisi menjadi Permendagri 67 tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan di Daerah