1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Sejak pertengahan abad ke-19 silam, kota Bandung terkenal sebagai kota pendidikan. Orang Belanda menyebutkan sebagai kota pusat intelektual, khazanah keilmuan yang konon sudah tumbuh pesat semenjak pemerintahan Hindia Belanda. Dari sinilah tumbuh pesat tempat-tempat pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai Sekolah Tinggi (http://www.bandung.go.id/images/download-/Bandung_Termasuk_Kota_Pendidikan.doc).
Kota Bandung memiliki cukup banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS), sehingga jumlah mahasiswa yang terdaftar di perguruan tinggipun semakin meningkat tiap tahunnya. Mahasiswa merupakan kalangan muda yang berumur antara 19-23 tahun yang dalam usia tersebut mengalami suatu peralihan dari tahap remaja ke tahap dewasa (Susantoro, 2003:18). Indri Utami M.Psi (seorang psikolog) mengatakan, dalam psikologi perkembangan pada usia antara 19-23 tahun seseorang mulai mengalami suatu gejolak emosi dengan banyak keinginan dalam melihat sesuatu yang baru (situasi yang penuh dengan labilitas untuk pencarian jati diri).
Dalam suatu pergaulan, ada beberapa yang dapat membawa pengaruh yang positif maupun negatif, salah satunya adalah kebiasaan merokok. Awal kebiasaan merokok dilakukan oleh beberapa
2 perempuan ketika mereka beranjak remaja hingga menuju ketahap dewasa. Fakta ini di buktikan berdasarkan riset dari Koalisi untuk Indonesia Sehat (KuIS) yang mengungkapkan, 88,78% dari 3.040 pelajar SMP putri hingga mahasiswi (13-25 tahun) Indonesia merokok (http://id.shvoong.com/books/guidance-self-improvement/1867936/ha-mpir-90-wanita-muda-indonesia/).
Mahasiswi mulai belajar untuk menjadi lebih mandiri ketika berinteraksi dengan lingkungannya yang baru, sehingga mereka memiliki banyak teman yang berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda sesuai dengan lingkungan pergaulan yang ia pilih. Seorang mahasiswi dapat terdorong untuk menjadi seorang perokok sesuai dengan lingkungan pergaulan yang ia pilih, akan tetapi dorongan teresebut dapat juga berasal dari lingkungan dalam rumah.
Kebiasan merokok yang bermula dari anggota keluarga dapat menjadi salah satu penyebab seorang mahasiswi menjadi seorang perokok. Keluarga yang sudah terbiasa dengan kegiatan merokok dan tidak melarang perbuatan tersebut, sangat berperan untuk menjadikan seorang anak menjadi perokok dibandingkan dengan keluarga yang bukan perokok. Hubungan antar individu dengan lingkungan masyarakat maupun keluarga bukanlah dua realitas yang berdiri secara terpisah, melainkan dua sisi atau segi dari realitas yang satu dan sama. Analisis tersebut masuk ke dalam konsep Coley tentang “diri cerminan orang lain” (Horton dan Hunt, dalam Mulyana, 2010:90).
Bentuk perilaku merokok merupakan suatu kebiasaan yang merusak karena rokok dapat menjadi pemicu berbagai penyakit, seperti
3 asma, kanker mulut rahim, serangan jantung, bahkan kanker paru-paru. 99 persen dari pasien yang terdiagnosa kanker paru-paru disebabkan oleh aktivitas merokok, hal ini disebutkan oleh Direktur Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan dan M Syarif pada surat kabar harian Kompas (http://nasional.kompas.com/read/20/11/10/20/2227219/Penderita.Kan-ker.Paruparu.Terus.Meningkat).
1.2 Konteks Penelitian
Surat kabar harian kompas (01/02/2013) menyatakan, Indonesia adalah negara peringkat ketiga perokok terbanyak di dunia setelah China dan India. Di Indonesia, saat ini ada sekitar 70 juta perokok aktif. Ada tiga penyebab utama mengapa rokok merajalela di Indonesia. Pertama, keserakahan industri rokok (multinasional dan nasional). Kedua, iklan dan promosi rokok yang (dibiarkan) masif. Ketiga, lemahnya komitmen politik.
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyatakan, cukai rokok setahun sekitar Rp. 55 triliun, tetapi konsumsi rokok, biaya kesehatan rokok, dan kehilangan nilai ekonomi tenaga kerja produktif akibat rokok dalam setahun mencapai empat kali lipatnya. Rokok telah menyebabkan kematian sekitar 400.000 orang (250.000 orang di antaranya perokok pasif) setiap tahun dan jutaan orang sakit serta menjadi tidak produktif.
4 Gambar 1.1 Regulasi Rokok di Indonesia
Sumber : Novan, surat kabar harian Kompas (01/02/2013)
Tembakau dalam rokok sudah dinyatakan oleh Undang-undang Kesehatan Tahun 2009 mengandung zat adiktif dan dikukuhkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK), namun lemahnya kemauan politik membuat industri rokok di Indonesia merajalela dan tetap saja berpromosi secara agresif sekaligus persuasif. Berdasarkan data survei yang dilakukan Komnas Anak, 99 persen remaja melihat iklan rokok di TV 86,7 persen; melihat iklan outdoor; dan 81 persen remaja menghadiri acara yang disponsori oleh rokok (http://tempo.com/).
Pihak Komisi Nasional Perlindungan Anak (KPA) menyatakan sebanyak 163.923.599 anak dan perempuan Indonesia telah terkontaminasi dan menjadi korban rokok. Bersama Koalisi Anti
5 Kekerasan Berbasis Gender dan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau (WITT), KPA menyerukan penolakan intervensi industri rokok dalam bentuk apa pun untuk melindungi kesehatan wanita dan anak. KPA juga mendesak agar pemerintah mengambil langkah kebijakan kuat dan berwibawa menghadapi industri rokok.
KPA memantau 1.042 kegiatan yang disponsori industri rokok itu juga kegiatan CSR yang ditujukan kepada anak dan perempuan seperti beasiswa dan koperasi perempuan. Jumlah perokok aktif perempuan tercatat meningkat empat kali lipat. Sejak tahun 1995 yang tadinya 1,1 juta menjadi 4,8 juta perokok perempuan pada 2007 dan jumlah ini semakin terus meningkat tajam hinggaa saat ini (http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/05/anak-dan-perempuan-r-entan-target-industri-rokok).
Perilaku mahasiswi perokok di perguruan tinggi merupakan fenomena sosial yang sering dijumpai. Perguruan tinggi merupakan salah satu tempat di mana berkumpulnya beberapa individu yang berasal dari berbagai macam daerah. Menyikapi fenomena mahasiswi perokok, akan lebih relevan apabila dikaitkan dengan metodelogi penelitian fenomenologi.
Fenomenologi merupakan sebuah studi fenomenologis yang berkaitan dengan realitas yang merupakan praktek interpretif dan menjelaskan arti dari pengalaman hidup untuk beberapa individu tentang suatu konsep maupun fenomena. Creswell (1998:51) mengatakan, “...contends that a phenomenological study describes the meaning of the lived experiences for several individuals about a concept or the phenomenon”. Berdasarkan pengalaman yang dialami
6 oleh seseorang, maka akan membentuk suatu tipe kepribadian serta latar belakang yang berbeda pula.
Dengan adanya mahasiswi perokok yang semakin banyak terlihat di lingkungan kampus, menggambarkan bahwa kesadaran bergaya hidup sehat semakin rendah. Selain itu sebagian masyarakat memandang bahwa seorang perempuan yang memiliki kebiasaan merokok diasumsi sebagai perempuan yang bercitra negatif. Akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman, gaya hidup dan pengaruh dari berbagai iklan mulai merubah asumsi tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Endang Rahayu Sedyaningsih (mantan Menteri Kesehatan) menurutnya, “dulu perempuan yang merokok dianggap nakal dan liar. Pelan-pelan pandangan itu berubah, tidak sekuat dulu, sehingga para perempuan tidak lagi merasa malu kalau merokok, bahkan sebaliknya, merasa keren" (http://nasional.kompas.com/read/2010/05/27/1825053-8/fun-ction.sim-plexml-load-file).
Selain itu, perokok perempuan di masyarakat kita masih dianggap buruk atau distigma. Perokok perempuan dianggap terkait dengan hal - hal yang kurang bermoral, seperti kerap bergadang, kerap minum-minuman keras, dan sebagainya. “Stigmatisasi perempuan perokok jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki perokok. Persoalan merokok bukan hanya sebatas itu, melainkan jauh sebagai persoalan persaingan bisnis global”, papar Dwi Ayu selaku permbicara perempuan aktivis (http://m.beritahukum.com/detail_berita.php?ju-dul=Perempuan%20Bicara%20Soal%20Stigmatisasi%20Perempuan% 20Perokok&subjudul=Kretek).
7 Mengukur nilai yang ada pada suatu fenomena yang terjadi, kita mempelajari mengenai etika (ethics), atau persepsi akan benar atau salahnya suatu tindakan atau perilaku. Seperti yang dikatakan oleh Englehardt (dalam West dan Turner, 2008:17), etika merupakan suatu tipe pembuatan keputusan yang bersifat moral dan menentukan apa yang benar atau yang salah dipengaruhi oleh peraturan dan hukum yang ada dalam masyarakat. Tindakan atau perilaku kita dapat dinilai berdasarkan introspeksi atau dari pemikiran sendiri yang sederhana.
George Herbet Mead (pencetus awal teori interaksi simbolik) mendefinisikan diri (self) sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain (dalam West dan Turner, 2008:106). Diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran yang khusus (maksudnya membayangkan bagaimana kita dilihat oleh orang lain). Dalam interaksi simbolik terdapat pertukaran simbol dalam diri seseorang dengan indivu di sekitarnya sehingga membentuk suatu makna. Pertukaran makna dapat terjadi melalui percakapan antar diri kita dengan orang lain.
Herbert Blummer mengatakan, manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka, makna diciptakan dalam interaksi antar manusia, makna dimodifikasi melalui proses interpretif (dalam West dan Turner, 2008:99). Sebagai contohnya, pola interaksi sosial yang terjadi di antara perokok dapat memberikan pemahaman yang lain bagi dirinya dan lingkungannya. Seperti yang dituturkan oleh Kanina – seorang mahasiswi Unpar – yang mengatakan, “Aku berteman pertama dari rokok sebenernya. Misalnya pinjem korek atau enggak minta rokok
8 temen. Jadi gampang berinteraksi. Banyak temen-temen juga yang, bilang dan cerita kalo pertemanan berawal dari sebatang rokok“. Pernyataannya tersebut menyatakan, sebuah rokok mampu menjadikannya lebih mudah untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Pada saat berinteraksi dengan orang lain, individu akan melihat pada dirinya tentang bagaimana cara orang lain menilai, memperlakukan, dan berbuat terhadap dirinya. Karena itulah mengapa konsep diri dalam diri seseorang itu penting untuk kita pelajari (Mulyana, 2010:88).
Berkomunikasi dengan orang lain membuat kita dapat belajar bukan saja mengenai siapa kita, namun juga bagaimana kita. Anda mencintai diri anda apabila anda telah dicintai, anda mempercayai diri anda apabila anda telah dipercayai, anda berfikir anda cerdas apabila anda orang-orang disekitar anda menganggap anda cerdas, anda mengkonsepkan bahwa diri anda tampan atau cantik bila orang-orang di sekitar anda juga mengatakan demikian.
Untuk mengetahui konsep diri dan latar belakang mahasiswi perokok, peneliti melakukan penelitian menggunakan pendekatan fenomenologi dengan judul, “Konsep Diri Mahasiswi Perokok di Bandung”.
1.3. Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya pada latar belakang penelitian maka fokus penelitian ini yaitu, “Bagaimana Konsep Diri Mahasiswi Perokok di Bandung? ”
9 1.4. Pertanyaan Penelitian
Dalam penelitian ini, pertanyaan yang ingin dicermati oleh penulis dari penelitian ini adalah :
1) Apa latar belakang mahasiswi perokok di Bandung sehingga mereka menjadi seorang perokok?
2) Apa makna perilaku merokok bagi mahasiswi perokok di Bandung?
3) Bagaimana hubungan interaksi mahasiswi perokok di Bandung dengan lingkungan disekitar?
1.5. Maksud dan Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas, tujuan utama dari penelitian ini adalah :
1) Mengetahui latar belakang apa yang membuat mahasiswi di Bandung menjadi seorang perokok
2) Mengetahui bagaimana mahasiswi perokok di Bandung memaknai sebuah perilaku merokok yang sudah menjadi suatu kebiasaan
3) Mengetahui bagaimana pola hubungan interaksi mahasiswi perokok di Bandung dengan di lingkungan di sekitar
10 1.6. Kegunaan Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengkaji penelitian dari 3 kegunaan, diantaranya adalah:
1.6.1 Kegunaan Khusus
Kegunaan khusus dari penelitian ini ialah untuk mengetahui latar belakang dan motivasi konsep diri mahasiswi perokok di Bandung
1.6.2 Kegunaan Teoritis
Penelitian ini bermanfaat sebagai sumbangan ilmu dibidang komunikasi, khususnya dibidang komunikasi mengenai konsep diri mahasiswi perokok
1.6.3 Kegunaan Praktis
1) Sebagai sarana pembelajaran dalam membuat penelitian,
2) Menambah pengetahuan dan wawasan,
3) Menambah kemampuan dalam menganalisis sebuah fenomena yang terjadi dilingkungan sekitar
1.7 Sistematika Penulisan
Penyusunan penelitian ini terdiri atas lima bagian yang saling berkaitan yaitu sebagai berikut :
1.7.1 BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan mengenai gambaran umum objek penelitian, konteks penelitian, fokus penelitian, maksud dan tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan sistematika penulisan.
11 1.7.2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan tinjauan pustaka berisi teori–teori yang mendukung penelitian, penggunaan beberapa literatur sebagai referensi penelitian, ruang lingkup penelitian, serta kerangka pemikiran.
1.7.3 BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menjelaskan mengenai tahapan penelitian, jenis penelitian yang akan digunakan, jenis dan teknik pengumpulan data, objek penelitian, serta teknik analisis data.
1.7.4 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menjelaskan tentang hasil analisis dari penelitian yang digunakan dan pembahasan yang diuraikan secara sistematis sesuai tujuan dari penelitian.
1.7.5 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini akan mengemukakan simpulan dari hasil penelitian berupa penafsiran dan pemaknaan penulis terhadap hasil analisis beserta rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.