• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Pemerintah Minimal Saja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Peran Pemerintah Minimal Saja"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Pemerintah Minimal Saja

(2)

Soal Agama, Publik Ingin Peran Pemerintah Minimal

(Kasus Penentuan Hari Raya)

• Perdebatan antar ormas Islam mengenai kapan seharusnya awal puasa dan lebaran sudah sering kita dengar. Polemik antar ulama mengenai metode yang sah untuk menentukan awal puasa dan lebaran juga sering kita baca. Namun kita belum pernah mengeksplorasi bagaimana persepsi mayoritas publik Indonesia mengenai polemik awal puasa dan lebaran. Selama ini publik adalah “silent mayority” yang tak bersuara. Persepsi publik ini penting diketahui pemerintah dan pimpinan ormas untuk kebijakan di kemudian hari.

• Lingkaran Survei Indonesia mengadakan survei khusus mengenai penentuan Hari Raya Lebaran. Survei ini dilakukan melalui quick poll pada tanggal 13-14 Agustus 2013. Survei menggunakan metode multistage random sampling dengan 1200 responden dan margin of

error sebesar +/- 2.9 %. Survei dilaksanakan di 33 propinsi di Indonesia. Untuk memperkuat

data dan analisa, kami juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview.

• Ini adalah survei pertama tak hanya di Indonesia, mungkin juga di dunia, untuk mengeksplorasi persepsi publik khusus untuk polemik awal puasa dan hari raya. Di era modern, publik luas adalah stakeholder, bagian dari komunitas, yang terkena efek sebuah kebijakan, baik kebijakan pemerintah atau pimpinan ormas/ulama. Publik memiliki hak untuk ikut merespon aneka kebijakan yang mempengaruhi kehidupan mereka.

(3)

• Sebanyak 52.05% publik menginginkan kepastian waktu awal puasa dan lebaran jauh hari semenjak pergantian kalender Masehi 1 Januari. Sebaliknya, hanya 34.10 % publik yang menginginkan kepastian Lebaran sehari sebelumnya (H-1) melalui sidang Isbat setelah magrib. Sementara sebanyak 13.85% publik menyatakan tidak tahu/tidak jawab.

• Kalangan masyarakat menginginkan kepastian penetapan awal Puasa dan Lebaran sejak 1 Januari terdapat di lintas segmen masyarakat. Diantaranya mereka yang berpendidikan tinggi ( 68.20%), berdomisi di kota (59.19%), dan bergender perempuan (57.33%) menyetujui adanya kepastian penetapan tersebut jauh lebih awal. Untuk mereka yang berpendidikan rendah, warga kelas bawah, berdomisili di desa dan bergender laki-laki, rata-rata memiliki angka ketersetujuan dibawah sedikit lebih rendah.

• Mengapa lebih banyak masyarakat menginginkan kepastian penetapan awal Ramadhan dan Lebaran lebih awal? Tiga alasan dikemukakan. Pertama, Lebaran lebih terencana dan pasti jika sudah diketahui sejak jauh hari. Ini akan memberi keleluasan bagi masyarakat untuk membuat perencanaan mengingat hari lebaran sangat penting bagi ritual pribadi, maupun

(4)

Kedua, keilmuan (science) sudah bisa memprediksi waktu secara akurat. Di era kini, ilmu

sudah bisa memprediksi gerhana bulan dan matahari secara sangat akurat yang sudah teruji. Sebanyak 53.66% publik beranggapan bahwa kelimuan saat ini sudah bisa menentukan awal Ramadhan dan Lebaran jauh hari sebelumnya. Hanya 31.71% publik yang beranggapan sebaliknya bahwa keilmuan saat ini masih belum bisa menentukan awal Ramadhan dan Lebaran sejak jauh hari. Sehingga sistem kalender itu masih perlu ditest di H-1 melalui observasi langsung. Sementara sebanyak 14.63% publik menyatakan tidak tahu / tidak jawab.

Ketiga, lebih banyak publik yang percaya bahwa menentukan awal puasa dan lebaran sejak

jauh hari juga sah secara agama. Sebanyak 58.76% publik menilai penetapan awal Ramadhan dan Lebaran di tentukan jauh sebelumnya tidak bertentangan dengan agama. Dan sebaliknya hanya 24.30% publik yang menyatakan bahwa penetapan tersebut bertentangan dengan agama. Sementara sebanyak 16.94% publik menyatakan tidak tahu / tidak jawab.

• Mayoritas publik lebih memilih metode hisab (kalender) dibandingkan rukyat di H-1 karena metode hisab dianggap lebih sesuai dengan dunia modern yang sudah bisa memprediksi waktu secara akurat dan masyarakat bisa mengetahui awal puasa dan lebaran jauh lebih cepat. Namun publik menghormati perbedaan yang ada di antara ormas dan ulama.

(5)

• Soal peran pemerintah dalam hal awal puasa dan lebaran, mayoritas publik menginginkan peran pemerintah yang minimal saja. Mayoritas publik 51.08% menyatakan pemerintah tak perlu lagi terlibat dalam sidang Isbat menentukan awal puasa atau Lebaran di H-1. Sebaliknya, hanya 36.50 % publik yang ingin pemerintah tetap membuat sidang Isbat untuk menentukan awal puasa dan Lebaran di H-1. Sementara sebanyak 12. 42 % publik menyatakan tidak tahu / tidak jawab.

Hal ini diperkuat tiga alasan penyebab . Pertama, Hari Raya Lebaran adalah kepercayaan warga yang tak perlu dicampuri pemerintah. Biarkan masyarakat menentukan sendiri waktu awal puasa dan lebarannya sesuai dengan keyakinannya. Selama ormas meyakini metode yang berbeda dalam menentukan dimulainya awal puasa dan lebaran, selama ini pula mereka selalu mungkin merayakannya di waktu yang berbeda. Seharusnya tak ada masalah dengan keberagaman itu karena masalah keyakinan agama tak bisa diseragamkan oleh pemerintah dan dilindungi oleh konstitusi.

• Kedua, untuk isu yang antar ormasi Islam sendiri berbeda pendapat, seharusnya keterlibatan pemerintah minimal saja dan kosnsiten. Pemeritah hanya teribat dalam kasus yang memang

(6)

• Dalam kalender itu juga tak terhindari sudah harus ada tanggal merah untuk hari lebaran. Pemerintah harus konsisten saja dengan peran minimal dalam penanggalan merah hari lebaran itu. Seraya tetap membiarkan warga untuk merayakan awal puasa dan hari lebarannya sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

Ketiga, Sidang Isbat sebaiknya dilakukan organ masyarakat sendiri. Tak semua ormas Islam setuju dengan sidang Isbat untuk menentukan awal puasa dan lebaran. Karena itu sebaiknya Sidang isbat dilakukan oleh masyarakat yang menyetujuinya saja, dan untuk masyarakat yang juga menyetujuinya saja, tanpa dana APBN (Anggaran Pembelanjaan Belanja Negara). Apalagi hasil Sidang Isbat itu tidak mengikat warga negara yang tidak menyetujuinya. Dana APBN untuk kegiatan yang kontroversi di mata umat Islam sendiri justru bisa meruncingkan kecemburuan antar ormas.

-o0o-

• Walau menghormati perbedaan, ada kerinduan umat Islam Indonesia untuk merayakannya awal puasa dan lebaran bersama secara nasional. Sebanyak 74.78% publik berharap ingin Indonesia merayakan Hari Raya di hari yang sama di seluruh Indonesia.

(7)

• Kerinduan merayakan awal puasa dan lebaran dalam hari yang sama secara nasional merata di semua segmen. Dengan prosentase antara 65% - 85% kerinduan itu dirasakan oleh pria atau wanita, penduduk desa atau kota, pendidikan rendah atau tinggi, bahkan juga keluarga besar NU dan Muhammadiyah.

• Sebanyak 70.30% meyakini suatu saat ulama/pimpinan ormas bersepakat menentukan awal puasa dan lebaran sejak jauh hari. Syarat yang dibutuhkan adalah kesepakatan pimpinan ormas, ahli fiqih dan ilmuwan di masing-masing ormas itu untuk menyamakan metode dengan menggunakan sebanyak mungkin kemampuan ilmu pengetahuan yang sudah bisa memprediksi waktu. Sementara peran pemerintah yang minimal, yang konsisten hanya terlibat dalam penentuan tanggal merah di sistem kalender 1 Januari, akan ikut mempercepat kesepakatan itu.

• Keterlibatan pemerintah dalam menentukan hari lebaran di era reformasi dianggap yang paling heboh dan sekaligus paling buruk. Hanya 12.42% yang menganggap keterlibatan pemerntah di era reformasi baik. Jauh lebih banyak (51.08%) yang menganggap peran

(8)

• Saran berdasarkan temuan :

• Keterlibatan pemerintah sebaiknya minimal saja dalam perbedaan dan keberagaman penentuan waktu awal puasa dan lebaran. Pemerintah sebaiknya berperan dalam kasus yang memang tak terhindari. Yaitu sudah harus menetapkan tanggal merah untuk dua hari lebaran dalam kalender masehi yang sudah sampai di tangan masyarakat sejak tanggal 1 Januari tahun itu. Sebaiknya pemerintah konsisten hanya terlibat sampai di level itu saja, sambil menghormati warga negara yang mengambil sikap berbeda soal waktu awal puasa dan lebaran sesuai keyakinannya.

• Ulama masing-masing ormas harus juga mendengar suara umatnya. Walau menghargai perbedaan, mayoritas umat Islam tetap merindukan merayakan awal puasa dan lebaran bersama dalam satu waktu secara nasional. Kepastian dan penetapan awal puasa dan lebaran sebaiknya dilakukan jauh hari sejak awal kalender masehi tanggal 1 Januari. Mayoritas publik percaya bahwa ilmu pengetahuan sudah bisa memprediksi jatuhnya 1 Ramadhan dan 1 syawal secara akurat. Mayoritas publik juga percaya bahwa penetapan hari raya sejak jauh hari (melalui hisab) juga sesuai dengan hukum agama.

(9)

• Pemerintah sebaiknya juga menghormati perbedaan perlu atau tidaknya sidang isbat antar ormas di satu hari sebelum puasa dan lebaran. Cara pemerintah menghormatinya adalah dengan tidak melibatkan diri atas pertentangan itu. Biarkan sidang isbat oleh dan untuk masyarakat sendiri. Biarkan masyarakat sendiri yang mengorganisir dan membiayai sidang isbat itu. Pemakaian dana APBN dalam sidang isbat yang tidak disetujui oleh semua ormas Islam justru bisa memperuncing kecemburuan antar ormas.

Minggu, 18 Agustus 2013 Lingkaran Survei Indonesia

No HP Rully Akbar: +628568049040 No HP Fitri Hari: +6281380140260

(10)

REKOR MURI

Survei Paling Akurat dan Presisi

6 Rekor terbaru MURI

( Museum Rekor Indonesia)

Paling Presisi

1. Quick Count yang diumumkan tercepat (1 jam setelah TPS ditutup)

2. Quick Count akurat secara berturut-turut sebanyak 100 kali

3. Quick Count dengan selisih terkecil dibandingkan hasil KPUD yaitu

0,00 % (Pilkada Sumbawa, November 2010)

Prediksi Paling Akurat

1. Survei prediksi pertama yang akurat mengenai Pilkada yang

diiklankan

2. Survei prediksi akurat Pilpres pertama yang diiklankan

(11)

METODOLOGI SURVEI

• Metode sampling : multistage random sampling

• Jumlah responden awal : 1200 responden

• Wawancara Handset (Quick Poll)

• Margin of error : 2.9%

Survei dilengkapi dengan Riset Kualitatif

• FGD di tujuh ibu kota propinsi terbesar

• In Depth Interview

• Analisis media nasional

(12)

Background

Selama ini hanya elit agama/ulama

yang bersuara soal kontroversi

waktu awal puasa dan lebaran

Publik luas perlu juga

didengar suaranya

soal waktu awal puasa dan

lebaran

Ini survei pertama, di seluruh dunia,

eksplorasi suara publik

(13)

Mayoritas Publik Menginginkan Kepastian

Tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal

Q : Apakah anda menginginkan kepastian 1 ramadhan dan 1 syawal (awal

puasa dan lebaran) sudah diketahui dari 1 Jan tahun itu (awal pergantian

kalender biasa) atau mendekati pelaksanaannya (1 hari sebelum puasa dan

lebaran)? ?

Jauh Hari Semenjak Pergantian Kalender

52.05%

Mendekati Pelaksanaannya (1 Hari

Sebelumnya)

34.10%

Tidak Tahu/Tidak Jawab

13.85%

(14)

SEGMEN JENIS KELAMIN

Q :

Jauh hari

semenjak

pergantian

kalender

(1 Januari)

Mendekati

pelaksanaanya

(1- 2 hari

sebelumnya)

TT / TJ

Laki-Laki

47.79%

38.97%

13.24%

Perempuan

57.33%

37.60%

5.07%

Segmen Perempuan mendominasi

sebesar

57,33%

menginginkan

Apakah anda menginginkan kepastian 1 ramadhan dan 1 syawal (awal

puasa dan lebaran) sudah diketahui dari 1 Jan tahun itu (awal

pergantian kalender biasa) atau mendekati pelaksanaannya (1 hari

sebelum puasa dan lebaran)? ?

(15)

SEGMEN WILAYAH

Jauh hari

semenjak

pergantian

kalender

(1 Januari)

Mendekati

pelaksanaanya

(1 hari

sebelumnya)

TT / TJ

Desa

42.23%

39.81%

17.96%

Kota

59.19%

22.73%

18.08%

Penduduk kota lebih

menginginkan

Q : Apakah anda menginginkan kepastian 1 ramadhan dan 1 syawal (awal

puasa dan lebaran) sudah diketahui dari 1 Jan tahun itu (awal pergantian

kalender biasa) atau mendekati pelaksanaannya (1 hari sebelum puasa

dan lebaran)? ?

(16)

SEGMEN PENDIDIKAN

Jauh hari

semenjak

pergantian

kalender

(1 Januari)

Mendekati

pelaksanaanya (1

hari sebelumnya)

TT / TJ

Tamat S1 atau

lebih tinggi

68.20%

26.00%

5.80%

Tamat

SD/sederajat

42.19%

34.38%

23.44%

Tamat

SLTA/sederajat

43.56%

35.64%

20.79%

Tamat

SLTP/sederajat

45.65%

41.30%

13.04%

(17)

Apa yang menjadi

penyebab publik

(18)

1. Lebaran lebih terencana dan pasti sejak jauh hari

Ramadhan dan Lebaran

yang sudah bisa dipastikan

sejak jauh hari, jelas akan

menguntungkan banyak pihak.

Perencanaan akan waktu libur,

waktu kerja, transportasi, serta

perekonomian

akan

lebih

teratur.

Perdebatan atau polemik

mengenai jadwal Ramadhan

juga dapat diminimalisir.

(19)

2. Sistem kalender dianggap juga sah berdasarkan

hukum agama

Q : Menurut anda jika awal ramadhan dan lebaran ditentukkan jauh

sebelumnya, apakah bertentangan dengan agama?

Ya Bertentangan

24.30%

Tidak Bertentangan

58.76%

Tidak Tahu / Tidak Mau Menjawab

16.94%

(20)

3. Ilmu Pengetahuan (Science) sudah bisa

memprediksi waktu

Ya, Bisa

53.66%

Tidak, Bisa

31.71%

Tidak Tahu / Tidak Mau Menjawab

14.63%

Q : Menurut anda apakah dengan keilmuan saat ini, sudah bisa ditentukan

(21)

Peran Pemerintah Minimal Saja

Q : Menurut anda perlukah/tidak perlukah pemerintah terlibat menentukan

waktu puasa/lebaran melalui Sidang Isbat di H-1 sebelum puasa/lebaran?

Pemerintah Tak Perlu Terlibat

51.08%

Pemerintah Perlu Terlibat

36.50%

Tidak Tahu/Tidak Jawab

12.42%

(22)

Apa yang menjadi

penyebab publik

berpendapat pemeritah

tak perlu terlibat Sidang

(23)

Pertama,

Awal puasa/ Hari Raya Lebaran adalah

kepercayaan warga

yang tak perlu dicampuri pemerintah.

Biarkan masyarakat menentukan

sendiri waktu awal puasa dan

Apa yang menjadi

penyebab publik

berpendapat pemeritah

tak perlu terlibat Sidang

(24)

Kedua,

Pemerintah sudah menetapkan

Tanggal merah hari lebaran

di kalender masehi yang beredar

di masyarakat sejak 1 Jan tahun itu.

Pemerintah konsiten saja.

Apa yang menjadi

penyebab publik

berpendapat pemeritah

tak perlu terlibat Sidang

(25)

Ketiga

,

Sidang Isbat sebaiknya

dilakukan organ masyarakat

sendiri

Dari masyarakat, untuk

Apa yang menjadi

penyebab publik

berpendapat pemeritah

tak perlu terlibat Sidang

(26)

ERA PEMERINTAHAN YANG DIANGGAP

BAIK MENENTUKAN AWAL RAMADHAN

DAN LEBARAN

Q : Menurut anda pada pemerintahan era manakah yang paling anda

sukai dalam menentukan awal ramadhan dan lebaran?

Era Orde Lama (Era Soekarno)

31.06%

Era Orde Baru (Era Soeharto)

54.47%

Era Orde Reformasi (Pasca Soeharto)

14.47%

Era Reformasi dianggap era yang

paling heboh dan paling buruk

dalam menentukan awal

puasa/lebaran

(27)

Publik Merindukan (74.78%)

Merayakan Hari Raya Serentak (1)

Q : Menurut anda apakah kedepan diharapakan semua umat muslim di

indonesia serentak dalam memulai puasa dan berlebaran?

Ya, Harus Serentak

74.78%

Tidak mesti Serentak, Sesuai dengan

kepercayaan Masing-Masing

22.12%

(28)

Publik Merindukan (74.78%)

Merayakan Hari Raya Serentak (2)

Q : Menurut anda apakah kedepan diharapkan semua umat muslim di

indonesia serentak dalam memulai puasa dan berlebaran?

Antara 65% - 85%

Kerinduan merayakan puasa serentak

menonjol di aneka segmen

-laki/perempuan

-Pendidikan tinggi/rendah

-Ekonomi tinggi/rendah

-Desa/kota

(29)

Bagaimana agar ke

depan umat Islam

merayakan awal puasa

(30)

Bagaimana agar ke

depan umat Islam

merayakan awal puasa

dan lebaran bersama

secara nasional?

Pertama,

Kesediaan ulama/ilmuwan/

Pimpinan Ormas Islam

menyatukan parameter waktu awal puasa

dan lebaran

Mendaya-gunakan ilmu pengetahuan

secara maksimal karena ilmu sudah

(31)

Bagaimana agar ke

depan umat Islam

merayakan awal puasa

dan lebaran bersama

secara nasional?

kedua,

Pemerintah konsisten saja

dengan penanggalan merah lebaran

di kalender masehi yang beredar

Di masyarakat sejak 1 Jan tahun itu

Mayoritas publik akan pimpinan ormas

pada waktunya akan ikut.

(32)

Bagaimana agar ke

depan umat Islam

merayakan awal puasa

dan lebaran bersama

secara nasional?

ketiga,

Publik luas terus menerus

mendorong pimpinan ormas/ulama/

Ilmuwan masing-masing untuk

menyatukan parameter awal puasa/

Hari lebaran

(33)

Kesimpulan dan Rekomendasi

1. Walau menghormati perbedaan, mayoritas publik merindukan merayakan awal puasa dan lebaran di satu hari secara nasional

2. Saatnya ormas Islam menyatukan parameter awal puasa dan lebaran agar waktu awal

puasa/lebaran bisa diputuskan sejak jauh hari 3. Peran pemerintah sebaiknya minimal saja

dalam perbedaan keyakinan masyarakat, hanya terlibat dalam penentuan tanggal

merah hari lebaran di kalender masehi 1 Jan 4. Sidang Isbat H-1, sebaiknya dari masyarakat,

untuk masyarakat, tanpa campur tangan pemerintah, tanpa dana APBN

Referensi

Dokumen terkait

Terima kasih atas kesempatan, kritik dan motivasi yang yang telah diberikan kepada penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.. Ibu Hudaniah, S.Psi, M.Si selaku Dosen

Hasil penelitian ini menunjukkan bentuk problematika guru dalam peningkatan kompetensi diantaranya penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tidak sesuai

Berdasarkan analisis kelompok, pengelompokkan 38 kabupaten dan kota di provinsi Jawa Timur menggunakan metode K-mean dapat dibentuk 2 kelompok, dengan kelompok

Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini ditujukan: (1) untuk menganalisis kelayakan usaha dan penyerapan tenaga kerja pada usahatani tembakau virginia yang

Berdasarkan data penelitian yang ditemukan pada terjemahan alquran surah Al-Ma’idah, terdapat 2 jenis konjungsi dan 10 makna konjungsi, dengan total data sebanyak 334 data.

Setelah pengumuman hasil referendum Brexit, pasar keuangan global terlihat guncang, yang diwarnai dengan penurunan indeks saham gabungan di hampir seluruh negara pada tanggal

45 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004, h.. Jurnal Cita Hukum, Vol. Karena selama ini pihak kepolisian masih terkesan menginterogasi korban dibanding

Dalam pelaksanaan pembangunan Long Storage Muara Tukad Mati terdiri dari beberapa pekerjaan sebagai penunjang suksesnya proyek tersebut, diantaranya faktor metode