• Tidak ada hasil yang ditemukan

dr. Agustina Tri P. Sp.KK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "dr. Agustina Tri P. Sp.KK"

Copied!
53
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Daftar Pustaka

• Fitzpatrick's Dermatology, Ninth Edition

(3)

1. Tn. J, 50 tahun datang dengan demam dan ruam berwarna merah-oranye yang pucat. Nampak

Makula eksantema yang ada di kepala, namun juga menyebar ke seluruh tubuh. Selain itu dari

pemeriksaan fisik juga ditemukan rhinorhea

purulent, konjungtivitis, serta otitis media. Setelah pasien dirawat selama 2 hari kemudian lesi

menjadi lepuh dan sudah menyebar pada lipatan paha, ketiak, hidung, dan telinga. Diagnosis yg

paling mendekati pada pasien ini adalah a. Pemphigus vulgaris

b. Scarlett fever c. SSSS

d. Pempghigoid bullosa e. Pioderma

(4)

Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS)/

Sindrom Kulit Lepuh Stafilokokal

• SSSS merupakan penyakit infeksi yang dapat mengancam nyawa, ditandai dengan

terbentuknya bula pada permukaan kulit yang disebabkan oleh toksin eksfoliatif oleh bakteri

(5)

Anamnesis

• Gejala awal dapat berupa demam dengan ruam

berwarna merah-oranye, pucat, makula eksantema, terbatas di kepala dan

menyebar ke bagian tubuh lain dalam beberapa jam • Keluhan disertai iritabilitas,

malaise, pruritus, dan sulit makan

Pemeriksaan fisik

• Ruam berwarna merah-oranye, pucat, makula eksantema, terbatas di kepala dan menyebar ke bagian tubuh lain

• Gejala ini disertai dengan rhinorrhea purulen,

konjungtivitis, atau otitis media

• Tanda Nikolsky positif

• Ruam kulit disertai dengan nyeri tekan pada kulit

menyebabkan anak menolak untuk digendong atau

(6)

• Dalam waktu 24-48 jam, makula eksantema secara bertahap berubah

menjadi lepuh, dan pada daerah seperti lipat paha, ketiak, hidung, dan

telinga, secara khusus berbentuk bula besar lembut yang merupakan lapisan epidermis yang berkerut dan tampak seperti kertas tisu

• Setelah 24 jam, bula tersebut pecah

meninggalkan krusta berkilat, lembab, dan memiliki permukaan berwarna merah

• Pada tahap ini pasien akan iritabel, sakit,

demam dengan sad man

facies, dan edema wajah

ringan, dan gambaran khas krusta radier di

(7)
(8)
(9)

2. Etiologi pada soal no 1 di atas adalah a. Sthapylococcus epidermidis b. Stretptococcus comunicans c. Staphylococcus aureus d. Streptococcus epidermidis e. Mycobacterium leprae

(10)

3. Berikut ini merupakan temuan klinis yang mendukung diagnosis sindroma kulit lepuh stafilokokal

a. Auspits sign b. Nikolski sign

c. Punch out lesion

d. Christmas tree pattern e. Zebra patern

(11)

4.Berikut ini komplikasi yang dapat muncul dari sindroma lepuh kulit

stafilokokal, kecuali a. Dehidrasi b. Sepsis c. Pneumoniae d. Faringitis e. Glomerulonefritis Komplikasi 1. Dehidrasi 2. Sepsis 3. Pneumonia 4. Post-streptococcal glomerulonephritis (PSG): sering terjadi

pada orang dewasa, sangat jarang terjadi pada anak-anak

(12)

5.Berikut ini merupakan temuan klinis yang

muncul pada diagnosis sindroma lepuh kulit

stafilokokus yang muncul pada fase akhir penyakit bersamaan dengan

munculnya krusta adalah a. Ruam merah oranye

b. Makula eksantema c. Rhinorhea

d. Konjungtivitis e. Sad man facies

• Setelah 24 jam, bula tersebut pecah

meninggalkan krusta berkilat, lembab, dan memiliki permukaan berwarna merah

• Pada tahap ini pasien akan iritabel, sakit,

demam dengan sad man

facies, dan edema wajah

ringan, dan gambaran khas krusta radier di

(13)

6. Jika terdapat kecurigaaan infeksi akibat MRSA, antibiotic apa yang digunakan

a. Dikloksasilin b. Nafcilin

c. Gentamisin d. Vancomisin e. Oksilin

(14)

Prinsip: eradikasi S.aureus

• Pasien biasanya harus dirawat inap selama 6-7 hari dan mendapatkan antibiotik sistemik dan terapi suportif lainnya yang diperlukan

• Terdapat beberapa obat yang dapat diberikan sesuai dengan indikasi sebagai berikut:

1. Antibiotik antistafilokokal IV

• Penicillinase-resistant penicillin, misalnya dikloksasilin, nafcillin, dan oksilin. Dapat juga diberikan sefalosporin generasi I atau II atau klindamisin

• Apabila terdapat/dicurigai ada methycillin resistent Staphylococcus aureus (MRSA) pada infeksi berat: diberikan vankomisin 1-2 gram/hari dalam dosis terbagi, intravena, selama 7 hari

2. Pada kasus rekuren, diberikan antibiotik berdasarkan hasil kultur dan resistensi

3. Terapi tambahan:

• Daerah yang lembap atau yang mengalami erosi dapat dilubrikasi dengan menggunakan emolien untuk meringankan rasa gatal dan nyeri tekan • Untuk mengurangi nyeri tekan pada kulit diberikan analgesik, misalnya

(15)

7. Tn. J, 36 tahun datang dengan keluhan demam dan ruam. Pada tanda vital ditemukan hipotensi. Pada pemeriksaan fisik Nampak macula eritematosa

yang kemudian muncul deskuamasi. Pasien

mengatakan keluhan dimulai dari batang tubuh

kemudian menyebar ke ekstremitas hingga telapak tangan. Pasien juga mengeluhkan diare. Pada

pemeriksaan laboratorium ditemukan peningkatan fungsi ginjal dan fungsi liver. Diagnosis yang paling mendekati adalah

a. Rubella

b. Sindroma syok toksik

c. Sindroma Johnson Johnson d. Varicella

(16)

Toxic Shock Syndrome (TSS)/

Sindrom Syok Toksik

• TSS merupakan respons inflamasi terhadap superantigen dari Staphylococcus sp. atau

Streptococcus sp, yang secara klinis ditandai

oleh demam, ruam, hipotensi dan keterlibatan multiorgan yang menggambarkan derajat

(17)

1. Gejala awal awitan akut berupa demam, nyeri tenggorokan, dan mialgia

• Ditemukan makula eritematosa diikuti deskuamasi dalam 1-2 minggu

• Erupsi dimulai dari batang tubuh, menyebar ke ekstremitas hingga telapak tangan dan kaki

2. Kelainan ini dapat disertai diare dan muntah, hipotensi, pingsan, atau bahkan syok, gagal ginjal dan kegagalan multiorgan

• Dapat pula ditemukan konjungtiva hiperemis, inflamasi faring, dan strawberry tongue

3. Gejala demam tinggi, nausea, vomitus, diare, mialgia dan hiperemis konjungtiva lebih sering terdapat pada TSS yang disebabkan oleh stafilokokus.

• Apabila terdapat selulitis, fasciitis necrotizing dan miositis yang disertai nyeri sering terjadi pada TSS yang disebabkan streptokokus

(18)
(19)

8. Berikut ini gejala yang juga dapat ditemukan pada sindroma syok toksik, kecuali

a. Anuria

b. Konjungtiva hiperemis c. Inflamasi faring

d. Strawberry tongue e. Koplik spot

(20)

9. Umumnya selulits atau

fasciitis necrotizing

muncul pada sindroma syok toksik yang

disebabkan oleh a. Streptokokus b. Staphylococcus c. Mycobacteria d. Hemophilus e. Candida • Apabila terdapat selulitis, fasciitis

necrotizing dan miositis

yang disertai nyeri

sering terjadi pada TSS yang disebabkan

(21)

10.Seorang wanita muda control rutin pada Anda setelah 2 bulan lalu

menderita sindroma syok toksik. Edukasi yang perlu Anda berikan untuk

mencegah penyakit

tersebut berulang adalah a. Hindari konsumsi cokelat b. Sering cuci tangan

c. Hindari pemakaian tretinoin

d. Hindari pemakaian

tampon saat menstruasi e. Hindari pemakain

sunscreen dengan SPF rendah

Edukasi

• Hindari pemakaian

tampon untuk wanita saat haid, hindari kontrasepsi diafragma dan sponge.

(22)

11.Antibiotik pilihan untuk sindroma syok toksik yang disebabkan oleh streptococcus adalah

a. Pensiilin G intramuscular b. Penisilin G intravena

c. Penisilinn G per oral d. Klindamisin per oral e. Gentamisin per oral

(23)

Prinsip:

1. Eradikasi bakteri penyebab Stafilokokus/Streptokokus 2. Pasien harus dirawat inap dan mendapatkan antibiotik

sistemik dan terapi suportif yang diperlukan

• Terdapat beberapa obat yang dapat dipilih sesuai dengan indikasi sebagai berikut:

1. Penisilin resisten beta lactamase nafcilin/oksasilin 2 gram intravena setiap 4 jam dan klindamisin 600-900 mg

intravena setiap 8 jam atau 25-40 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3-4 dosis

2. Apabila disebabkan MRSA: vankomisin 15-20 mg/kgBB intravena setiap 8-12 jam dan klindamisin 600-900 mg setiap 8 jam atau 25-40 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3-4 dosis, selama 10-15 hari. Pilihan alternatif selain

vancomisin adalah linezolid

3. Pilihan antibiotik TSS yang disebabkan Streptococcus: Penisilin G 2-4 juta unit intravena setiap 4-6 jam dan klindamisin 600-900 mg intravena setiap 8 jam

(24)

12.Untuksindromasyoktoksik yang disebabkan oleh MRSA, dan pasien mengalami alergi

vankomisin. Antibiotik yang dapat diberikan adalah a. Linezolid b. Penisilin G c. Naficilin d. Oksasilin e. Naftalin

(25)

13. An. J, 12 tahun, datang kedokter kulit akibat adanya bengkak yang muncul cepat sejak 2 jam lalu. Pada pemeriksaan fisik pasien Nampak

angioedema seluruh tubuh diikuti dengan

kemerahan di sekitarnya. Keluhan muncul Ketika pasien bermain di wahana yang dipenuhi es.

Diagnosis untuk pasien ini adalah a. Urtikaria

b. Asma bronkiale

c. Cold touch eritema d. Cold touch redness e. Anafilaksis

(26)

URTIKARIA

• Urtikaria adalah suatu penyakit kulit yang ditandai dengan

adanya urtika berbatas tegas, dikelilingi oleh daerah berwarna kemerahan, dan terasa gatal

(27)

1. Anamnesis meliputi:

• Waktu mulai munculnya urtikaria (onset)

• Frekuensi dan durasi wheals • Variasi diurnal

• Bentuk, ukuran, dan distribusi

wheals

• Apakah disertai angioedema • Gejala subjektif yang dirasakan

pada lesi, misal gatal dan nyeri • Riwayat keluarga terkait

urtikaria dan atopi

• Alergi di masa lampau atau saat ini, infeksi, penyakit

internal, atau penyebab lain yang mungkin

• Induksi oleh bahan fisik atau latihan fisik (exercise)

• Penggunaan obat (NSAID, injeksi, imunisasi, hormon, obat pencahar (laxatives), suppositoria, tetes

mata atau telinga, dan obat-obat alternatif)

• Makanan

• Kebiasaan merokok • Jenis pekerjaan

• Hobi

• Kejadian berkaitan dengan akhir pekan, liburan, dan perjalanan ke daerah lain

• Implantasi bedah

• Reaksi terhadap sengatan serangga

• Hubungan dengan siklus menstruasi

• Respon terhadap terapi • Stres

(28)

2. Pemeriksaan Fisik:

• Urtika terdiri atas tiga gambaran klinis khas, yaitu: (i) edema di bagian sentral dengan

ukuran bervariasi, hampir selalu dikelilingi oleh eritema, (ii) disertai oleh gatal atau kadang sensasi seperti terbakar, dan (iii)

berakhir cepat, kulit kembali ke kondisi normal biasanya dalam waktu 1-24 jam

3. Tes dermografisme (terapi antihistamin harus dihentikan setidaknya 2-3 hari dan terapi

(29)
(30)
(31)

14.Urtikaria kolinergik adalah salah satu jenis urtikaria yang dicetuskan oleh

a. Sengatan lebah b. Gigitan hewan

c. Naiknya suhu tubuh d. Udara dingin

(32)
(33)

15. Pada urtikaria spontan tanpa riwayat alergi, tes diagnostic yang direkomendasikan adalah a. Darah lengkap

b. CRP c. ESR

d. Tidak diperlukan e. ASST

(34)
(35)
(36)

16.Pilihan tatalaksana untuk urtikaria akut adalah a. Antihistamin b. Kortikosteroid c. Antibiotika d. Antikolinergik e. Antipiretika Urtikaria akut • Antihistamin (AH-1) generasi dua (non-sedatif)

• Bila dengan AH

nonsedatif tidak berhasil maka diberikan AH-1

(37)

17. Tn. D, 24 tahun, menderita urtikaria kronik yang tidak membaik dengan anthistamin H1 generasi 1 setelah diberikan selama 2 minggu. Tatalaksana selanjutnya adalah

a. Rawat inapkan untuk pemberian IVIG b. Rawat inapkan untuk pemberian

kortikosteroid intravena c. Berikan steroid per oral

d. Baikan dosis anthistamin H1 generasi kedua hingga 2-4 kali

(38)

Urtikaria kronik

Terapi lini pertama:

• Antihistamin H1 generasi kedua (non-sedatif) Terapi lini kedua:

• Jika gejala menetap setelah 2 minggu, antihistamin H1 generasi kedua (non sedatif) dapat dinaikkan dosisnya 2-4 kali

Terapi lini ketiga:

• Bila gejala masih menetap sampai 1-4 minggu, ditambahkan:

o Antagonis leukotrien (montelukast), atau siklosporin atau omalizumab

o Jika terjadi eksaserbasi gejala dapat diberikan kortikosteroid sistemik dengan dosis 0,5-1 mg/kgBB/hari, tidak boleh lebih dari 10 hari

(39)

18.Urtikaria dinyatakan kronik apabila sebuah urtikaria telah berlangsung lebih dari

a. 1 minggu b. 2 minggu c. 3 minggu d. 4 minggu e. 6 minggu

(40)

19.Urtikaria solaris adalah sebuah jenis urtikaria yang muncul akibat

a. Menghirup BBM

b. Kontak dengan bahan baka rminyak c. Kontak dengan jenis tanaman tertentu d. Kontak dengan sinar UV

(41)

20. Tn. J, 34 tahun didiagnosis demam tifoid 1

minggu lalu. Datang pada Anda dengan keluhan gatal dan kemerahan pada seluruh tubuh. Pada pemeriksaan fisik Nampak eritema seluruh tubuh yang edematus. Pasien mengatakan bahwa

dirinyaalergi antibiotic tertentu, dan sedang mengkonsumsi antibiotika dan antipiretika sebagai terapi demam tifoid. Diagnosis yang paling mendekati adalah

a. Erupsi obat alergi

b. Erupsi demam tifoid c. Toxic shock syndrome d. Tiphoid eritematous e. Typhoid skin syndrome

(42)

Erupsi Obat Alergi

• Erupsi obat alergi atau allergic drug eruption adalah reaksi alergi pada kulit atau mukokutan yang terjadi akibat pemberian obat sistemik, baik yang masuk ke dalam tubuh secara

peroral, pervaginam, per-rektal, atau parenteral

(43)

Klasifikasi

1. EOA ringan

• Urtikaria dengan atau tanpa angioedema

• Erupsi eksantematosa

• Dermatitis medikamentosa • Erupsi purpurik

• Eksantema fikstum (fixed drug eruption/FDE) • Eritema nodosum • Eritema multiforme • Lupus eritematosus • Erupsi likenoid 2. EOA berat • Pustular eksantema

generalisata akut (PEGA) • Eritroderma

• Sindrom Stevens-Johnson (SSJ)

• Nekrolisis epidermal toksik (NET) atau sindrom Lyell • Drug Reaction with

Eosinophilia and Systemic Symptoms (DRESS)

(44)

• Anamnesis

1. Riwayat menggunakan obat secara sistemik (jumlah

dan jenis obat, dosis, cara pemberian, lama pemberian, runtutan pemberian pengaruh paparan matahari) atau kontak obat pada kulit yang terbuka (erosi, ekskoriasi, ulkus)

2. Riwayat timbulnya kelainan kulit dengan jarak waktu pemberian obat, apakah timbul segera, beberapa saat atau jam atau hari. Jenis kelainan kulit yang terjadi

antara lain pruritus, eritema, skuama, urtikaria, lepuh, erosi, ekskoriasi ulkus maupun nodus

3. Keluhan sistemik

4. Riwayat atopi diri dan keluarga, alergi terhadap alergen lain, serta alergi obat sebelumnya

• Pemeriksaan Fisik

Kelainan kulit umumnya generalisata atau universal, dapat setempat misalnya eksantema fikstum

(45)
(46)
(47)

21.Berikut ini yang bukan merupakan eruspsi obat alergi berat,

a. PEGA

b. Eritema nodosum c. SJS

d. Sindroma Lyell e. DRESS

(48)

22.Untuk menegakkan diagnosis erupsi alergi obat, perlu dilakukan pemeriksaan penunjang berupa uji tempel dan uji tusuk. Pemeriksaan ini dilakukan Ketika

a. Minimal 6 minggu setelah lesi kulit hilang

b. Minimal 6 bulan setelah lesi kulit hilang

c. Minimal 3 bulan setelah lesi kulit hilang

d. Ketika lesi tidak gatal

e. minimal 6 minggu setelah lesi kulit hilang

Pemeriksaan Penunjang

• Dilakukan setelah tidak

ada erupsi kulit (minimal 6 minggu setelah lesi kulit hilang) dan memenuhi syarat uji kulit:

1. Uji tempel 2. Uji tusuk

(49)

23.Berikut ini yang merupakan erupsi obat alergi ringan, kecuali

a. Urtikaria dengan atau tanpa angioedema b. Erupsi eksantematosa

c. Dermatitis medikamentosa d. Erupsi purpurik

(50)

24.Terapi utama pada

erupsi obat alergi adalah a. Suportif b. Simptomatis c. Antihistamin d. Avoidance e. Kortikosteroid sistemik Prinsip

• Hentikan obat yang diduga sebagai

penyebab

• Atasi keadaan umum, terutama pada yang berat untuk life saving • Berikan obat anti alergi

yang paling aman dan sesuai

(51)

25.Pilihan utama pada erupsi obat alergi ringan yang sistemik adalah

a. Loratadine 1x15 mg

b. Predinson 0,5-1 mg/kgbb/hari c. Injeksi tramincolon 1x 10 mg d. CTM 0,5 mg

(52)

Topikal

• Sesuai dengan kelainan kulit yang terjadi (ikuti prinsip dermatoterapi)

• Pada purpura dan eritema nodosum tidak perlu • Eritroderma, SSJ, NET (lihat bab masing-masing)

Sistemik

• Atasi keadaan umum terutama kondisi vital

• Pada yang ringan: setara dengan prednison 0,5-1 mg/kgBB/hari

• Anthistamin: merupakan lini pertama pada urtikaria dan pruritus, atau EOA yang disertai rasa gatal. Dapat digunakan antihistamin sedatif atau nonsedatif

• Pada eritroderma dan PEGA: prednison 40-60 mg/hari, bila berat: rawat inap (lihat PPM SSJ dan TEN).

(53)

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui hubungan lingkungan belajar dengan konsentrasi belajar mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah

(2) Bangunan gedung atau bagian bangunan gedung tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi dengan proteksi kebakaran, akses pemadam kebakaran dan

Motivasi ini timbul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar (sosial dan non- sosial) secara efektif. Motivasi ekstrinsik merupakan hal dan keadaan yang

Dengan Penyuluh pertanian yang handal dapat mendorong terjadinya proses pembelajaran dalam mencerdaskan kehidupan petani sehingga mampu meningkatkan daya saing partanian

Berdasarkan tabel 5.4 didapatkan rata-rata ABI pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah diberikan tindakan konvensional sesuai standar rumah sakit di dapatkan nilai

Jenis radikal bebas yang ditemukan pada asap rokok kretek setelah diberikan membran biofilter serbuk daun delima dan kulit buah delima dan PEG.. Dari tabel 2 menunjukkan bahwa

Berikut Data dalam penelitian ini diperoleh dengan memberikan tes kepada siswa dalam bentuk pilihan ganda yang diberikan sesudah proses kegiatan belajar

Model pemilihan supplier yang akan digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan integrasi antara metode MCDM-PROMETHEE untuk mendapatkan urutan prioritas