Metodologi Pemeringkatan Perusahaan Pertambangan Batubara*
Ikhtisar
Indonesia tercatat sebagai salah satu produsen batubara terbesar, eksportir batubara terbesar kedua, dan eksportir batubara thermal terbesar di dunia. Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) memperkirakan pada 2010 produksi batubara Indonesia mampu mencapai 280 juta ton, lebih tinggi dari target pemerintah 250 juta ton. Sedangkan ekspor batubara bisa menyentuh angka 210 juta ton per tahun, jauh lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 175 juta ton. Sementara itu, peran batubara sebagai sumber energi pembangkit juga semakin besar. Saat ini sekitar 71,1% dari konsumsi batubara domestik diserap oleh pembangkit listrik (PLN), 17% untuk industri semen dan 11,9% untuk industri tekstil, kertas dan lainnya. Menurut catatan Kementerian ESDM, 78,3% dari total produksi batubara Indonesia (market share produsen batubara) dihasilkan oleh 6 perusahaan penambang batubara besar yaitu PT Bumi Resources, PT Adaro Energy, PT Kideco Jaya Agung, PT Berau Coal, PT Indo Tambangraya Megah, dan PT Bukit Asam.
Kerangka Analisis
Seperti dalam kasus perusahaan manufaktur, metodologi pemeringkatan ICRA Indonesia untuk perusahaan batubara juga melibatkan penilaian tentang risiko usaha, risiko keuangan dan kualitas manajemen. Metodologi ini menyoroti faktor yang secara khusus dievaluasi dalam penilaian kualitas kredit perusahaan batubara. Untuk kemudahan analisis, faktor-faktor ini dapat dikelompokkan dalam bagian berikut:
‐ Risiko Industri
‐ Posisi Kompetitif Emiten o Efisiensi Operasional o Fleksibilitas Harga
o Bauran Pelanggan dan Kredibilitasnya
o Penggantian/Pembaruan Cadangan Batubara o Kepatuhan Lingkungan
‐ Struktur dari Induk dan Anak Perusahaan ‐ Posisi Keuangan
‐ Kualitas Manajemen.
Risiko Industri
Kerangka peraturan merupakan salah satu faktor utama dalam perkembangan industry batubara. ICRA Indonesia memandang bahwa sebagian kerangka peraturan yang ada belum konsisten, saling tumpang-tindih dan lemah dalam penegakan hukumnya.
Disisi lain, cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia yang dapat ditambang mencapai 9 miliar ton atau sekitar 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia. ICRA Indonesia melihat peluang bisnis untuk mengekspor “mutiara hitam” ini harus didukung dengan aturan yang detail dari pemerintah Indonesia dan daerah setempat.
ICRA Indonesia Rating Feature
Dalam pandangan ICRA Indonesia, pergeseran dalam peraturan yang mengatur sektor batubara memberi sinyal pergerakan bertahap ke arah persaingan pasar. Kemampuan perusahaan batubara untuk memanfaatkan peluang pasar yang muncul akan tergantung pada daya tawar dengan para pelanggan utama, terutama di sektor listrik, karena sering kenaikan harga tidak lagi mencerminkan kenaikan biaya input dan lainnya yang meningkat.
Masalah lain yang menjadi tantangan industri ini ke depan adalah masalah lingkungan. Tambang batubara terutama tambang terbuka memerlukan lahan luas. Hal tersebut tentu menimbulkan permasalahan lingkungan hidup seperti erosi tanah, polusi debu, suara, air serta dampak terhadap keanekaragaman hayati setempat atau lebih luas bisa mengakibatkan perubahan iklim (cuaca) pemanasan global.
Di lapangan juga terdapat kendala transportasi hasil tambang. Persoalan tersebut tidak lepas dari kondisi infrastruktur transportasi angkutan hasil tambang yang masih sangat buruk. Selain itu, banyak daerah Kalimantan, terutama Kalimantan Tengah, yang tidak memiliki pelabuhan batu bara yang me-madai. Selama ini, pengangkutan hanya mengandalkan transportasi air sungai. Ketika musim kemarau tiba dan sungai pun menyusut, pengangkutan hasil tambang yang berkapasitas besar sering mengalami penundaan.
Posisi Kompetitif Emiten
Efisiensi OperasionalDi sektor batubara, yang --seperti kebanyakan sektor komoditas lainnya-- dihadapkan dengan volatilitas harga, faktor terpenting yang menentukan posisi kompetitif suatu emiten adalah struktur biaya. Struktur biaya, pada gilirannya, tergantung pada beberapa faktor, di antaranya akan dibahas di bawah ini:
Posisi cadangan dan kualitas batubara: Posisi/kedalaman cadangan dan kualitas batubara
berdampak signifikan pada struktur biaya perusahaan batubara. Misalnya, daerah-daerah tertentu dapat memiliki lapisan batubara lebih dekat ke permukaan dan gradien rendah/landai, sedangkan dalam kasus lain, mungkin batubara berada pada kedalaman lebih besar, dengan gradien curam dan juga ditambah dengan ketidaksempurnaan geologis. Biaya ekstraksi akan lebih rendah dalam kasus ini. Namun, kerugian biaya yang terkait dengan penggalian batubara dari lapisan yang terletak pada kedalaman lebih besar dapat diimbangi oleh keunggulan kualitas batubara terealisasi yang lebih baik. Oleh karena itu, ICRA Indonesia menganalisis biaya dan manfaat relatif yang terkait dengan ekstraksi.
Parameter Produktivitas: Dengan kedalaman cadangan batubara dan rasio tambang terbuka (Open
Cast) terhadap tambang dalam (Underground) tak dapat diubah oleh perusahaan, produktivitas operasional tergantung pada beberapa faktor, termasuk: tingkat mekanisasi; sifat teknologi pertambangan yang digunakan; tingkat penggunaan buruh kontrak (meminimalkan penggunaan biaya overhead); dan pola pemanfaatan mesin (menggunakan mesin optimal, terutama peralatan berat). Oleh karena itu, ICRA Indonesia mengevaluasi kecenderungan dalam parameter produktivitas utama seperti output per manshift (OMS), nilai output per unit tenaga kerja yang dipekerjakan, dan tingkat penggunaan sistemnya. Karena suku cadang adalah item biaya yang besar, kemampuan perusahaan batubara untuk mengoptimalkan persediaan suku cadang dan biaya pengadaan juga penting. Praktek pertambangan tersebut dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap profitabilitas operasional sebuah perusahaan batubara, terlepas dari kualitas cadangan.
Biaya dan produktivitas tenaga kerja: Biaya tenaga kerja merupakan komponen biaya yang
penting bagi perusahaan pertambangan batubara. Hal ini disebabkan oleh, biasanya, perusahaan memiliki jumlah tenaga kerja yg besar, rata-rata usia pekerja yang tinggi, upah harus dinaikkan secara periodik (atau paling tidak pernah dilakukan), adanya keengganan untuk pelatihan ulang dan relokasi ke tambang baru, dan biaya sosial yang tinggi. Oleh karena itu ICRA Indonesia mengevaluasi kecenderungan dalam biaya tenaga kerja, periodesasi kenaikan upah, dan kemampuan perusahaan batubara untuk membebankan kenaikan upah kepada konsumen melalui kenaikan harga produk dalam kontrak harga jualnya. Hal lain, ICRA Indonesia mengevaluasi sejarah
perusahaan sehubungan dengan tenaga kerja dan kehilangan waktu kerja karena pergolakan buruh, pemogokan dan gangguan lain.
Kualitas: Kualitas yang konsisten dalam hal kelas (grade), spesifikasi dan berat batubara
memungkinkan perusahaan mencapai realisasi rata-rata lebih tinggi, sehingga meningkatkan profitabilitas operasional. ICRA Indonesia menganalisis inisiatif yang diambil oleh perusahaan batubara untuk menjamin kualitas pasokan yang konsisten dan meminimalkan sengketa melalui uji sampling bersama atau oleh pihak ketiga di lokasi pemuatan dan lokasi pelanggan, penimbangan elektronik, dan lain-lain.
Fleksibilitas Harga
Mengingat tidak adanya peraturan penetapan harga, perusahaan batubara, secara teoritis, memiliki fleksibilitas untuk menaikkan harga dalam mengimbangi dampak dari setiap kenaikan biaya utama. Namun dalam kenyataannya, fleksibilitas tersebut mungkin terbatas mengingat berlakunya harga secara global, pentingnya sektor pemakai seperti listrik, sifat sensitif secara politis dari industri batubara, dan kebutuhan untuk mempertahankan daya saing harga vis-à-vis bahan bakar alternatif. Oleh karena itu ICRA Indonesia menganalisis tingkat fleksibilitas harga yang dimiliki sebuah perusahaan batubara dan sejauh mana dapat menyerap kenaikan biaya tanpa mengurangi secara signifikan kemampuan pembayaran hutangnya.
Bauran dan Kredibilitas Pelanggan
ICRA Indonesia mengevaluasi keragaman profil pelanggan perusahaan batubara, pola penjualan batubara (off-take) dan kualitas kredit konsumen kunci perusahaan. Mengingat tingginya biaya tetap operasional pertambangan batubara, perusahaan batubara sangat sensitif terhadap volume penjualan. Jadi, kontrak jangka panjang, yang mengurangi risiko dan menjamin stabilitas penjualan dipandang menguntungkan. ICRA Indonesia juga mengevaluasi kualitas kredit konsumen secara lintas sektoral.
Penggantian/Pembaruan Cadangan
Strategi penggantian cadangan perusahaan batubara merupakan faktor penting yang mempengaruhi kelangsungan jangka panjang dan, karena itu, mempengaruhi kualitas kredit. Untuk meningkatkan produksi, perusahaan perlu mengeksplorasi cadangan baru yang akan menggantikan tingkat produksi saat ini. Jadi, ICRA Indonesia mengevaluasi tingkat kesuksesan eksplorasi perusahaan dan kesuksesan membuka tambang baru tanpa waktu dan biaya yang berlebihan. Yang terakhir adalah kritis mengingat lamanya waktu dan besarnya tenaga kerja yang dibutuhkan dalam proses pembersihan (clearance), terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan rehabilitasi/penghutanan kembali.
Kepatuhan Lingkungan
ICRA Indonesia meninjau rekam jejak perusahaan batubara tentang kepatuhannya terhadap norma-norma yang berlaku. Disamping lingkungan, juga diperiksa rekam jejak perusahaan dalam hal standar keselamatan kerja.
Struktur dari Induk dan Anak Perusahaan
ICRA Indonesia, berdasarkan tingkat kepemilikan suatu induk perusahaan, mengkonsolidasikan profil keuangan perusahaan pengelola pertambangan dengan perusahaan induk. ICRA Indonesia berpendapat bahwa kelayakan kredit suatu entitas tidak hanya ditentukan oleh profil risiko usaha dan keuangan perusahaan sendiri, tetapi juga oleh kelompok perusahaan, mengingat tingkat kepemilikan sangat menentukan aliran dana (kas/modal) dalam kelompok. Selain kepemilikan, ICRA Indonesia juga berusaha untuk mengidentifikasi apakah ada anggota kelompok yang dapat terisolasi dari anggota lain karena alasan hukum, peraturan atau faktor-faktor geografis; tingkat kepentingan strategis dan karena itu ketergantungan antar anggota dan batasan-batasannya, jika ada.
Posisi Keuangan
Saat mengevaluasi posisi keuangan perusahaan batubara, ICRA Indonesia khususnya menekankan factor-faktor berikut:
- Proporsi biaya tenaga kerja dalam struktur biaya keseluruhan,
- Periodesasi dan besaran dari kenaikan upah di masa lalu dan perkiraan ke depan, - Sensitivitas dari profitabilitas operasional terhadap volume penjualan,
- Volume break-even point (BEP),
- Kecenderungan dalam piutang dan arus kas operasional, - Besaran dan sifat belanja modal dan pendanaannya.
Mengingat bahwa harga batubara cenderung fluktuatif, ICRA Indonesia membuat proyeksi arus kas untuk rentang harga produk tertentu dalam menilai kapasitas pembayaran hutang perusahaan termasuk dalam masa-masa sulit. Selain itu, ICRA Indonesia mengevaluasi sumber-sumber fleksibilitas keuangan perusahaan seperti akses ke lembaga pendanaan, fleksibilitas dalam pembayaran (termasuk kepada Pemerintah), atau ketersediaan investasi yang likuid. Dalam kasus suatu perusahaan memiliki rencana belanja modal yang besar, sumber-sumber pendanaannya dan manfaat yang dihasilkan juga diperhitungkan.
Kualitas Manajemen
ICRA Indonesia menilai manajemen perusahaan batubara dalam hal kedalaman, tingkat pengalaman dan catatan kesuksesan yang telah terbukti, filosofi pertumbuhan, rekam jejak dalam mengelola aset bermasalah, kebijakan keuangan dan sejauh mana kebijakan-kebijakannya konsisten dengan strategi bisnis. ICRA Indonesia menilai positif kemampuan perusahaan batubara untuk mengendalikan kenaikan upah, menutup tambang yang tidak ekonomis dan mengurangi tenaga kerja atau mempekerjakan kembali tenaga kerja yang ada. Aspek spesifik dari strategi manajemen yang dievaluasi adalah rencana perusahaan untuk mengadopsi teknologi batubara yang bersih dan memastikan ramah lingkungan dan keberlanjutan sosial dari kegiatan penambangan.
Ringkasan Prospek Peringkat
Dalam pandangan ICRA Indonesia, pergeseran dalam peraturan yang mengatur sektor batubara memberi sinyal pergerakan bertahap ke arah persaingan pasar. Kemampuan perusahaan batubara untuk memanfaatkan peluang pasar yang muncul akan tergantung pada daya tawar dengan para pelanggan utama, terutama di sektor listrik, karena kenaikan harga tidak lagi mencerminkan kenaikan biaya input dan lainnya.
Konsumsi batubara global sebagai bagian dari energi utama kemungkinan mengalami penurunan dalam jangka panjang, khususnya di negara maju. Namun, di negara-negara berkembang, penggunaan batubara diperkirakan akan meningkat, dengan India dan Cina mewakili hampir seluruh permintaan tambahan. Batubara merupakan sumber energi primer yang dominan di India dengan pangsa lebih dari 60% dan ini tidak mungkin diubah secara signifikan dalam jangka menengah sampai jangka panjang. Digabung dengan keadaan penawaran-permintaan yang diproyeksikan menguntungkan, mungkin dapat dikatakan risiko bisnis untuk sebuah perusahaan batubara relatif rendah. Sementara prospek peringkat ICRA Indonesia memperhitungkan stabilitas penjualan (off-take) terutama dari sektor listrik, kredibilitas pembeli tetap menjadi perhatian utama.
Inisiatif-inisiatif terbaru dari perusahaan batubara domestik untuk masuk ke dalam perjanjian bilateral jangka panjang dengan klien dipandang positif oleh ICRA Indonesia karena dapat bertindak sebagai penghalang masuk yang kuat dan melindungi kepentingan komersial dari perusahaan batubara. Keadaan penawaran-permintaan yang menguntungkan dalam industri batubara seperti dibahas sejauh ini, tentu saja, bergantung pada ketepatan waktu dari berbagai proyek pembangkit listrik, ketepatan waktu pembangunan tambang batu bara yang sudah ada pembelinya, tambahan jaringan transportasi (terutama kereta api) untuk mengangkut volume tambahan serta ketersediaan fasilitas pencucian, khususnya untuk batubara berkandungan abu tinggi. Selain itu, kemampuan industri batubara untuk mengatasi masalah lingkungan (yang telah mempengaruhi perkembangan proyek di masa lalu) akan tetap menjadi perhatian dalam pemeringkatan.
ICRA Indonesia memperkirakan pergeseran dalam produksi dari tambang bawah tanah yang lebih tinggi biayanya ke tambang-terbuka yang lebih mekanik, tenaga kerja kontrak, rasionalisasi tambang tidak ekonomis, pengurangan tenaga kerja, dan peningkatan fokus perusahaan akan kualitas dari perusahaan batubara akan menjadi dasar untuk meningkatkan profitabilitas.
© Copyright, 2011, ICRA Indonesia. All Rights Reserved.
Semua informasi yang tersedia merupakan infomasi yang diperoleh oleh ICRA Indonesia dari sumber-sumber yang dapat dipercaya keakuratan dan kebenarannya. Walaupun telah dilakukan pengecekan dengan memadai untuk memastikan kebenarannya, informasi yang ada disajikan 'sebagaimana adanya' tanpa jaminan dalam bentuk apapun, dan ICRA Indonesia khususnya, tidak melakukan representasi atau menjamin, menyatakan atau menyatakan secara tidak langsung, mengenai keakuratan, ketepatan waktu, atau kelengkapan dari informasi yang dimaksud. Semua informasi harus ditafsirkan sebagai pernyataan pendapat, dan ICRA Indonesia tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang dialami oleh pengguna informasi dalam menggunakan publikasi ini atau isinya.