• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Ketenaganukliran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Peraturan Ketenaganukliran"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

Peraturan Ketenaganukliran

Pendahuluan:

• Undang-Undang No. 31 Tahun 1964 Tentang Ketentuan Pokok Tenaga Atom: Menunjuk Badan Tenaga Atom Nasional sebagai Badan Pelaksana dan pengawas Tenaga Atom

• Tuntutan kemajuan teknologi dan dunia internasional dalam pemanfaatan tenaga nuklir yang menghendaki adanya pemisahan antara tugas pelaksana dan tugas pengawasan (Nuclear safety convention)

• Undang-Undang No. 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran:

• Memisahkan tugas pelaksana dan pengawas yang disebut dengan Badan Pelaksana (ps. 3) dan Badan Pengawas (ps.4)

• Perubahan Istilah dari Tenaga Atom menjadi Tenaga Nuklir (ps. 1)

• Adanya kesempatan Badan swasta dalam pemanfaatan tenaga nuklir untuk komersial (BAB III).

BATAN

BPTA

Badan Pelaksana pengembangan dan pengawasan Tenaga Atom

Biro Pengawasan Tanaga Atom

BATAN BPTA BATAN KepPres 197/1998 BAPETEN KepPres 76/1998 Pelaksana Pengawas

(2)

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)

Dasar Pembentukan : Keppres R.I. No.197 Tahun 1998 diganti Keppres No. 103 tahun 2001, BATAN yang semula berkepanjangan Badan Tenaga Atom Nasional berubah menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional.

BATAN adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen yang mempunyai tugas pokok membantu Presiden dalam merumuskan kebijaksanaan di bidang nuklir dan

melaksanakan pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia. Dalam melaksanakan tugasnya, BATAN menyelenggarakan fungsi:

a. perumusan kebijaksanaan dan program ketenaganukliran secara nasional serta pelaksanaan kerja sama dan koordinasi dengan Departemen dan Badan/Lembaga lain untuk menjamin keserasian perkembangan pemanfaatn tenaga nuklir di Indonesia;

b. pembinaan, perencanaan, dan pelaksanaan pelayanan teknis dan administrasi; c. pembinaan, perencanaan, dan pelaksanaan program penelitian dasar dan terapan; d. pembinaan, perencanaan, dan pelaksanaan program pengembangan teknologi dan

energi nuklir;

e. pembinaan, perencanaan, dan pelaksanaan program pengembangan teknologi daur bahan nuklir dan rekayasa;

f. pembinaan, perencanaan, dan pelaksanaan program pendayagunaan hasil penelitian dan pengembangan serta pemasyarakatan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir.

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN)

Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) dibentukdengan Keputusan Presiden RI Nomor 76 tahun 1998 (dganti degan Keppres 103 tahun 2001) berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, adalah salah satu Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang berada di bawah dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden.

Tugas Pokok BAPETEN: melaksanakan pengawasan terhadap segala kegiatan pemanfaatan tenaga nuklir dengan menyelenggarakan peraturan, perizinan dan inspeksi.

Dalam melaksanakan tugas Pokok, BAPETEN menyelenggarakan fungsi :

1. perumusan kebijaksanaan nasional di bidang pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir;

2. penyusunan rencana dan program nasional di bidang pengawasan pemanfaatan

tenaga nuklir;

3. pembinaan dan penyusunan peraturan serta pelaksanaan pengkajian

keselamatan nuklir, keselamatan radiasi, dan pengamanan bahan nuklir;

4. pelaksanaan perizinan dan inspeksi terhadap pembangunan dan pengoperasian

reaktor nuklir, instalasi nuklir, fasilitas bahan nuklir, dan sumber radiasi serta pengembangan kesiapsiagaan nuklir;

(3)

5. pelaksanaan kerjasama dibidang pengawasan pemanfaatan tenaga nuklir

dengan instansi Pemerintah atau organisasi lainnya baik di dalam maupun di luar wilayah Indonesia;

6. pelaksanaan pengawasan dan pengendalian bahan nuklir;

7. pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan terhadap upaya yang menyangkut

keselamatan dan kesehatan pekerja, anggota masyarakat dan perlindungan terhadap lingkungan hidup;

8. pelaksanaan pembinaan sumber daya manusia di lingkungan BAPETEN; 9. pelaksanaan pembinaan administrasi, pengendalian dan pengawasan di

lingkungan BAPETEN;

10. pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Presiden.

Tujuan Pengawasan adalah terjaminnya kesejahteraan, keamanan, ketentramanan masyarakat, keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup, memelihara tertib hukum dan mencegah perubahan tujuan pemanfaatan tenaga nuklir.

Undang_undang Ketenaganukliran:

Undang-Undang No. 10 tahun 1997 tentang Ketenaganukliran:

1. Pendahuluan

2. BAB I KETENTUAN UMUM 3. BAB II KELEMBAGAAN

4. BAB III PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN 5. BAB IV PENGUSAHAAN

6. BAB V PENGAWASAN

7. BAB VI PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF

8. BAB VII PERTANGGUNGJAWABAN KERUGIAN NUKLIR 9. BAB VIII KETENTUAN PIDANA

10.BAB IX KETENTUAN PERALIHAN 11.BAB X KETENTUAN PENUTUP 12.Penjelasan

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Ketenaganukliran adalah hal yang berkaitan dengan pemanfaatan,

pengembangan, dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir serta pengawasan kegiatan yang berkaitan dengan tenaga nuklir.

2. Tenaga nuklir adalah tenaga dalam bentuk apa pun yang dibebaskan dalam proses transformasi inti, termasuk tenaga yang berasal dari sumber radiasi pengion.

(4)

3. Radiasi pengion adalah gelombang elektromagnetik dan partikel bermuatan yang karena energi yang dimilikinya mampu mengionisasi media yang dilaluinya. 4. Pemanfaatan adalah kegiatan yang berkaitan dengan tenaga nuklir yang

meliputi penelitian, pengembangan, penambangan, pembuatan, produksi, pengangkutan, penyimpanan, pengalihan, ekspor, impor, penggunaan, dekomisioning, dan pengelolaan limbah radioaktif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

5. Bahan nuklir adalah bahan yang dapat menghasilkan reaksi pembelahan

berantai atau bahan yang dapat diubah menjadi bahan yang dapat menghasilkan reaksi pembelahan berantai.

6. Bahan galian nuklir adalah bahan dasar untuk pembuatan bahan bakar nuklir. 7. Bahan bakar nuklir adalah bahan yang dapat menghasilkan proses

transformasi inti berantai.

8. Limbah radioaktif adalah zat radioaktif dan bahan serta peralatan yang telah terkena zat radioaktif atau menjadi radioaktif karena pengoperasian instalasi nuklir yang tidak dapat digunakan lagi.

9. Zat radioaktif adalah setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktivitas jenis lebih besar dari pada 70 kBq/kg (2 nCi/g).

10. Pengelolaan limbah radioaktif adalah pengumpulan, pengelompokan, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, dan/atau pembuangan limbah radioaktif.

11. Radioisotop adalah isotop yang mempunyai kemampuan untuk memancarkan radiasi pengion.

12. Instalasi nuklir adalah : 1. reaktor nuklir;

2. fasilitas yang digunakan untuk pemurnian, konversi, pengayaan bahan nuklir, fabrikasi bahan bakar nuklir dan/atau pengolahan ulang bahan bakar nuklir bekas; dan/atau

3. fasilitas yang digunakan untuk menyimpan bahan bakar nuklir dan bahan bakar nuklir bekas.

1. Reaktor nuklir adalah alat atau instalasi yang dijalankan dengan bahan bakar nuklir yang dapat menghasilkan reaksi inti berantai yang terkendali dan

digunakan untuk pembangkitan daya, atau penelitian, dan/atau produksi radioisotop.

2. Dekomisioning adalah suatu kegiatan untuk menghentikan beroperasinya reaktor nuklir secara tetap, antara lain, dilakukan pemindahan bahan bakar nuklir dari teras reaktor, pembongkaran komponen reaktor, dekontaminasi, dan

(5)

3. Kecelakaan nuklir adalah setiap kejadian atau rangkaian kejadian yang menimbulkan kerugian nuklir.

4. Kerugian nuklir adalah setiap kerugian yang dapat berupa kematian, cacat, cedera atau sakit, kerusakan harta benda, pencemaran dan kerusakan

lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh radiasi atau gabungan radiasi dengan sifat racun, sifat mudah meledak, atau sifat bahaya lainnya sebagai akibat kekritisan bahan bakar nuklir dalam instalasi nuklir atau selama pengangkutan, termasuk kerugian sebagai akibat tindakan preventif dan kerugian sebagai akibat atau tindakan untuk pemulihan lingkungan hidup.

5. Pengusaha instalasi nuklir adalah orang perseorangan atau badan hukum yang bertanggung jawab dalam pengoperasian instalasi nuklir.

6. Pihak ketiga adalah orang atau badan yang menderita kerugian nuklir, tidak termasuk pengusaha instalasi nuklir dan pekerja instalasi nuklir yang menurut struktur organisasi berada di bawah pengusaha instalasi nuklir.

BAB II

KELEMBAGAAN

Pasal 3

• Pemerintah membentuk Badan Pelaksana. Pasal 4

• Pemerintah membentuk Badan Pengawas Pasal 5

• Pemerintah membentuk Majelis Pertimbangan Tenaga Nuklir yang bertugas memberikan saran dan pertimbangan mengenai pemanfaatan tenaga nuklir.

Pasal 7

• Pemerintah dapat membentuk Badan Usaha Milik Negara yang berkaitan dengan pemanfaatan tenaga nuklir secara komersial.

BAB III

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Pasal 8

• Penelitian dan pengembangan tenaga nuklir harus diselenggarakan dalam rangka penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir untuk keselamatan, keamanan, ketenteraman, dan kesejahteraan rakyat.

• Penelitian dan pengembangan diselenggarakan terutama oleh dan menjadi tanggung jawab Badan Pelaksana.

• Dalam menyelenggarakan penelitian dan pengembangan, Badan Pelaksana dapat bekerja sama dengan instansi dan badan lain.

BAB IV

(6)

Pasal 9

• Penyelidikan umum, eksplorasi, dan eksploitasi bahan galian nuklir hanya dilaksanakan oleh Badan Pelaksana.

• Badan Pelaksana dapat bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara, koperasi, badan swasta, dan/atau badan lain.

Pasal 10

1. Produksi dan/atau pengadaan bahan baku untuk pembuatan bahan bakar nuklir hanya dilaksanakan oleh Badan Pelaksana.

2. Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Negara, koperasi, dan/atau badan swasta.

Pasal 11

1. Produksi bahan bakar nuklir nonkomersial dilaksanakan oleh Badan Pelaksana. 2. Produksi bahan bakar nuklir komersial dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik

Negara, koperasi, dan/atau badan swasta. Pasal 12

1. Produksi radioisotop nonkomersial dilaksanakan oleh Badan Pelaksana.

2. Produksi radioisotop komersial dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara, koperasi, dan/atau badan swasta.

Pasal 13

• Pembangunan, pengoperasian, dan dekomisioning reaktor nuklir nonkomersial dilaksanakan oleh Badan Pelaksana, dapat bekerja sama dengan instansi pemerintah lainnya dan perguruan tinggi negeri.

• Pembangunan, pengoperasian, dan dekomisioning reaktor nuklir komersial dilaksanakan oleh Badan Usaha Milik Negara, koperasi, dan/atau badan swasta. • Pembangunan reaktor nuklir komersial yang berupa pembangkit listrik tenaga nuklir,

ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

BAB V

PENGAWASAN Pasal 14

1. Pengawasan terhadap pemanfaatan tenaga nuklir dilaksanakan oleh Badan Pengawas.

2. Pengawasan dilaksanakan melalui peraturan, perizinan, dan inspeksi. Pasal 15

Pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ditujukan untuk : 1. terjaminnya kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman masyarakat;

2. menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup;

(7)

4. meningkatkan kesadaran hukum pengguna tenaga nuklir untuk menimbulkan budaya keselamatan di bidang nuklir;

5. mencegah terjadinya perubahan tujuan pemanfaatan bahan nuklir; dan

6. menjamin terpeliharanya dan ditingkatkannya disiplin petugas dalam pelaksanaan pemanfaatan tenaga nuklir.

Pasal 16

1. Setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan tenaga nuklir wajib memperhatikan keselamatan, keamanan, dan ketenteraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.

2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 17

1. Setiap pemanfaatan tenaga nuklir wajib memiliki izin, kecuali dalam hal-hal tertentu yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

2. Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir dan instalasi nuklir lainnya serta dekomisioning reaktor nuklir wajib memiliki izin.

3. Syarat-syarat dan tata cara perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 18

1. Setiap izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dikenakan biaya.

2. Besar biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Pasal 19

1. Setiap petugas yang mengoperasikan reaktor nuklir dan petugas tertentu di dalam instalasi nuklir lainnya dan di dalam instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi pengion wajib memiliki izin.

2. Persyaratan untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh Badan Pengawas.

Pasal 20

1. Inspeksi terhadap instalasi nuklir dan instalasi yang memanfaatkan radiasi pengion dilaksanakan oleh Badan Pengawas dalam rangka pengawasan terhadap ditaatinya syarat-syarat dalam perizinan dan peraturan perundang-undangan di bidang keselamatan nuklir.

2. Inspeksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh inspektur yang diangkat dan diberhentikan oleh Badan Pengawas.

3. Inspeksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan secara berkala dan sewaktu-waktu.

Pasal 21

Badan Pengawas melakukan pembinaan berupa bimbingan dan penyuluhan mengenai pelaksanaan upaya yang menyangkut keselamatan dan kesehatan pekerja, dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.

(8)

BAB VI

PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF

Pasal 23

1. Pengelolaan limbah radioaktif dilaksanakan oleh Badan Pelaksana.

2. Badan Pelaksana dapat bekerja sama dengan atau menunjuk Badan Usaha Milik Negara, koperasi, dan/atau badan swasta.

Pasal 24

1. Penghasil limbah radioaktif tingkat rendah dan tingkat sedang wajib mengumpulkan, mengelompokkan, atau mengolah dan menyimpan sementara limbah tersebut sebelum diserahkan kepada Badan Pelaksana, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.

2. Penghasil limbah radioaktif tingkat tinggi wajib menyimpan sementara limbah tersebut dalam waktu sekurang-kurangnya selama masa operasi reaktor nuklir. Pasal 25

1. Badan Pelaksana menyediakan tempat penyimpanan lestari limbah radioaktif tingkat tinggi.

2. Penentuan tempat penyimpanan lestari sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pemerintah setelah mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Pasal 26

1. Penyimpanan limbah radioaktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (1) dan Pasal 25 ayat (1) dikenakan biaya.

2. Besar biaya penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Pasal 27

1. Pengangkutan dan penyimpanan limbah radioaktif wajib memperhati-kan keselamatan pekerja, anggota masyarakat, dan lingkungan hidup.

2. Ketentuan tentang pengelolaan limbah radioaktif, termasuk pengangkutan dan penyimpanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

BAB VII

PERTANGGUNGJAWABAN KERUGIAN NUKLIR

Pasal 29

1. Dalam hal terjadi kecelakaan nuklir selama pengangkutan bahan bakar nuklir atau bahan bakar nuklir bekas, yang bertanggung jawab atas kerugian nuklir yang diderita oleh pihak ketiga adalah pengusaha instalasi nuklir pengirim.

(9)

2. Pengusaha instalasi nuklir pengirim sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengalihkan tanggung jawabnya kepada pengusaha instalasi nuklir penerima atau pengusaha pengangkutan, jika secara tertulis telah diperjanjikan.

Pasal 30

1. Apabila pertanggungjawaban kerugian nuklir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 melibatkan lebih dari satu pengusaha instalasi nuklir dan tidak mungkin menentukan secara pasti bagian kerugian nuklir yang disebabkan oleh tiap-tiap pengusaha instalasi nuklir tersebut, pengusaha tersebut bertanggung jawab secara bersama-sama.

2. Pertanggungjawaban tiap-tiap pengusaha instalasi nuklir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak melebihi batas jumlah pertanggung-jawabannya.

Pasal 31

Apabila dalam suatu lokasi terdapat beberapa instalasi nuklir yang dikelola oleh satu pengusaha instalasi nuklir, pengusaha tersebut harus bertanggung jawab atas setiap kerugian nuklir yang disebabkan oleh setiap instalasi nuklir.

Pasal 32

Pengusaha instalasi nuklir tidak bertanggung jawab terhadap kerugian nuklir yang disebabkan oleh kecelakaan nuklir yang terjadi karena akibat langsung dari pertikaian atau konflik bersenjata internasional atau non-internasional atau bencana alam dengan tingkat yang luar biasa yang melampui batas rancangan persyaratan keselamatan yang telah ditetapkan oleh Badan Pengawas.

Pasal 33

1. Apabila pengusaha instalasi nuklir setelah melaksanakan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 dapat membuktikan bahwa pihak ketiga yang menderita kerugian nuklir disebabkan oleh kesengajaan penderita sendiri, pengusaha tersebut dapat dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk membayar seluruh atau sebagian kerugian yang diderita.

2. Pengusaha instalasi nuklir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berhak untuk menuntut kembali ganti rugi yang telah dibayarkan kepada pihak ketiga yang melakukan kesengajaan.

Pasal 34

1. Pertanggungjawaban pengusaha instalasi nuklir terhadap kerugian nuklir paling banyak Rp 900.000.000.000,00 (sembilan ratus miliar rupiah) untuk setiap kecelakaan nuklir, baik untuk setiap instalasi nuklir maupun untuk setiap pengangkutan bahan bakar nuklir atau bahan bakar nuklir bekas.

2. Besar batas pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Keputusan Presiden.

3. Jumlah pertanggungjawaban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) hanya digunakan untuk pembayaran kerugian nuklir, tidak termasuk bunga dan biaya perkara.

(10)

4. Batas pertanggungjawaban pengusaha instalasi nuklir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat ditinjau kembali dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 35

1. Pengusaha instalasi nuklir wajib mempertanggungkan pertanggung-jawabannya sebesar jumlah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) melalui asuransi atau jaminan keuangan lainnya.

2. Ketentuan tentang kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga bagi pengusaha instalasi nuklir penerima atau pengusaha pengangkutan.

3. Apabila dalam suatu lokasi terdapat beberapa instalasi nuklir yang dikelola oleh satu pengusaha instalasi nuklir, pengusaha tersebut wajib mempertanggungkan pertanggungjawabannya untuk setiap instalasi yang dikelolanya.

Pasal 36

1. Apabila jumlah pertanggungan berkurang karena telah digunakan untuk membayar kerugian nuklir, pengusaha instalasi nuklir wajib menjaga agar jumlah pertanggungan tetap sesuai dengan jumlah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2).

2. Apabila perjanjian pertanggungan telah berakhir atau batal karena suatu sebab lain, pengusaha instalasi nuklir tersebut wajib segera memperbaharui perjanjian pertanggungannya.

3. Apabila pengusaha instalasi nuklir belum memperbaharui perjanjian pertanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dan terjadi kecelakaan nuklir, pengusaha tersebut tetap bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 dan Pasal 35.

Pasal 37

1. Ketentuan tentang pertanggungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 tidak berlaku bagi instansi pemerintah yang bukan Badan Usaha Milik Negara.

2. Penggantian kerugian nuklir akibat kecelakaan nuklir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden.

Pasal 38

1. Perusahaan asuransi yang menanggung ganti rugi nuklir yang disebabkan kecelakaan nuklir wajib melakukan pembayaran ganti rugi paling lama 7 (tujuh) hari setelah diterbitkan pernyataan adanya kecelakaan nuklir oleh Badan Pengawas.

2. Pernyataan Badan Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diterbitkan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sejak terjadinya kecelakaan nuklir. Pasal 39

1. Hak menuntut ganti rugi akibat kecelakaan nuklir kadaluwarsa apabila tidak diajukan dalam waktu 30 (tiga puluh) tahun terhitung sejak diterbitkan pernyataan Badan Pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38.

2. Apabila kerugian nuklir akibat kecelakaan nuklir melibatkan bahan nuklir yang dicuri, hilang, atau ditelantarkan, maka jangka waktu untuk menuntut ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dari saat terjadinya kecelakaan

(11)

nuklir dengan ketentuan jangka waktu itu tidak boleh melebihi 40 (empat puluh) tahun terhitung sejak bahan nuklir dicuri, hilang, atau ditelantarkan.

3. Hak untuk menuntut ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun setelah penderita mengetahui atau patut mengetahui kerugian nuklir yang diderita dan pengusaha instalasi nuklir yang bertanggung jawab dengan ketentuan jangka waktu tersebut tidak boleh melebihi jangka waktu yang ditetapkan pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 40

Pengadilan Negeri yang berwenang memeriksa dan mengadili tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 39 adalah sebagai berikut :

1. Pengadilan Negeri tempat kecelakaan nuklir terjadi; atau

2. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam hal terjadi kecelakaan nuklir selama pengangkutan bahan bakar nuklir atau bahan bakar nuklir bekas di luar wilayah negara Republik Indonesia.

BAB VIII

KETENTUAN PIDANA

Pasal 41

1. Barang siapa membangun, mengoperasikan, atau melakukan dekomisioning reaktor nuklir tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

2. Barang siapa melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menimbulkan kerugian nuklir dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

3. Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun. Pasal 42

1. Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).

2. Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 6 (enam) bulan.

Pasal 43

1. Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

2. Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun.

(12)

Pasal 44

1. Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2) untuk penghasil limbah radioaktif tingkat tinggi dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

2. Barang siapa melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) untuk penghasil limbah radioaktif tingkat rendah dan tingkat sedang dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

3. Dalam hal tidak mampu membayar denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), terpidana dipidana dengan kurungan paling lama 1 (satu) tahun.

(13)

Undang-undang No. 10 Tahun 1997

tentang

Ketenaganukliran

1. PP Keselamatan Radiasi 2. PP Pengangkutan Zat Radioaktif 3. PP Perizinan Zat Radioaktif dan SR 4. PP Pembangunan Reaktor Nuklir 5. PP Limbah Radioaktif

6. PP Pengecualian Izin

7. PP Pertambangan Bahan galian Nuklir

1. Kepres 76/1998 Badan Pengawas 2. Kepres 197/1998 Badan Pelaksana

3. Kepres Besar Pertangungan

1. Kep. Menkeu Biaya Izin

2. Kep. Menkeu Biaya Penyimpanan

SK Kepala Bapeten 1. Syarat Petugas Tertentu

2. I n s p e k t u r

1. N0. 01/K-OTK/VIII/98 : Organisasi Tata Kerja Bapeten

2. No. 01/Ka-BAPETEN/V-99 : Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi 3. No. 02/Ka-BAPETEN/V-99 : Baku Tingkat Radioaktivitas Di Lingkungan

4. No. 03/Ka-BAPETEN/V-99 : Ketentuan Keselamatan untuk Pengelolaan Limbah Radioaktif 5. No. 04/Ka-BAPETEN/V-99 : Ketentuan Keselamatan Untuk Pengangkutan Zat Radioaktif 6. No. 05/Ka-BAPETEN/V-99 : Ketentuan Keselamatan Disain Reaktor Penelitian

7. No. 06/Ka-BAPETEN/V-99 : Pembangunan dan Pengoperasian Reaktor Nuklir 8. No. 07/Ka-BAPETEN/V-99 : Jaminan Kualitas Instalasi Nuklir

9. No. 08/Ka-BAPETEN/V-99 : Ketentuan Keselamatan Radiografi Industri

10. No. 09/Ka-BAPETEN/V-99 : Ketentuan Keselamatan Radiasi dalam Penampangan Lubang Bor 11. No. 10/Ka-BAPETEN/V-99 : Ketentuan Keselamatan Operasi Reaktor Penelitian

dan lain sebaginya ……

(14)

HIMPUNAN PERATURAN KETENAGANUKLIRAN

( Sampai dengan 31 Agustus 2000)

No UU/PP/KEPRES/ KEPMEN/SK DJ/SE

Tentang Tanggal

disyahkan

Ket. 1. UU No 8 Tahun 1978 Pengesahan Perjanjian Mengenai

Pencegahan Penyebaran Senjata-Senjata Nuklir 18-12-1978 2. UU No 10 Tahun 1997 Ketenaganukliran 10-04-1997 3. PP No 11 Tahun 1975 dicabut dengan PP No 63 Tahun 2000

Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi

Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion

16-04-1975 21-08-200 4. PP No 12 Tahun 1975

dicabut dengan

PP No 64 Tahun 2000

Izin Pemakaian Zat Radioaktif dan/atau Sumber Radiasi Lainnya

Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir

16-04-1975

21-08-2000

5. PP No 13 Tahun 1975 Pengangkutan Zat Radioaktif 16-04-1975 siap revisi 6. KepPres No 49 Tahun

1986 Pengesahan Convention on the Physical Protection of Nuclear Materials 24-09-1986 7. KepPres RI No. 80 Th

1993

Pengesahan An Amendement Of Article VI Of The Statute Of The International Atomic Energy Agency

01-09-1993

8. KepPres RI No. 81 Th

1993 Pengesahan Convention On Early Notification Of A Nuclear Accident 01-09-1993 9. KepPres RI No 76 Th

1998 Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) 08-05-1998

1. Kep.Ka.BAPETEN No. 01/Ka-BAPETEN/V-99

Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi

05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

02/Ka-BAPETEN/V-99 Baku Tingkat Radioaktivitas Di Lingkungan 05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

03/Ka-BAPETEN/V-99 Ketentuan Keselamatan Untuk Pengelolaan Limbah Radioaktif 05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

04/Ka-BAPETEN/V-99 KetentuanPengangkutan Zat RadioaktifKeselamatan Untuk 05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

05/Ka-BAPETEN/V-99

Ketentuan Keselamatan Disain Reaktor Penelitian

05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

06/Ka-BAPETEN/V-99 Pembangunan dan Pengoperasian Reaktor Nuklir 05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

07/Ka-BAPETEN/V-99 Jaminan Kualitas Instalasi Nuklir 05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

08/Ka-BAPETEN/V-99 Ketentuan Keselamatan Radiografi Industri 05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

09/Ka-BAPETEN/V-99

Ketentuan Keselamatan Radiasi Dalam Penampangan Lubang Bor

05-05-1999 1. Kep.Ka.BAPETEN No.

10/Ka-BAPETEN/VI-99 Ketentuan Keselamatan Operasi Reaktor Penelitian 15-06-1999 20. Kep.Ka.BAPETEN No.

11/Ka-BAPETEN/VI-99 Izin Konstruksi dan Operasi Iradiator 15-06-1999 21. Kep.Ka.BAPETEN No.

12/Ka-BAPETEN/VI-99 KetentuanPenambangan dan pengelohan Bahan Keselamatan Kerja Galian Radioaktif

15-06-1999

(15)

No UU/PP/KEPRES/ KEPMEN/SK DJ/SE Tentang Tanggal disyahkan Ket. 23 . Kep.Ka.BAPETEN No.

14/Ka-BAPETEN/VI-99 Ketentuan Keselamatan Pabrik Kaos Lampu 15-06-1999 24. Kep.Ka.BAPETEN No.

01-P/Ka-BAPETEN/VI-99 Pedoman Penentuan Tapak Reaktor Nuklir 15-06-1999 25. Kep.Ka.BAPETEN No.

02-P/Ka-BAPETEN/VI-99

Pedoman Proteksi Fisik Bahan Nuklir 15-06-1999 26. Kep.Ka.BAPETEN No.

03-P/Ka-BAPETEN/VI-99 Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL Untuk Rencana Pembangunan Dan Pengoperasian Reaktor Nuklir

15-06-1999

27. Kep.Ka.BAPETEN No.

04-P/Ka-BAPETEN/VI-99 Pedoman Teknis Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Untuk Rencana Pembangunan dan Pengoperasian Instalasi Nuklir dan Instalasi Lainnya

15-06-1999

28. Kep.Ka.BAPETEN No.

15/Ka-BAPETEN/VIII-99 Inspektur Badan Pengawas Tenaga Nuklir Tahun 1999/2001 30-08-1999 29. Kep.Ka.BAPETEN No.

16/Ka-BAPETEN/IX-99 Pembantu Inspektur Badan Pengawas Tenaga Nuklir Tahun 1999/2001 06-09-1999 30. Kep.Ka.BAPETEN No.

17/Ka-BAPETEN/IX-99

Persyaratan Untuk Memperoleh Izin Bagi Petugas Pada Instalasi Nuklir Dan Instalasi Yang Memanfaatkan Radiasi Pengion

14-09-1999

31. Kep.Ka.BAPETEN No.

18/Ka-BAPETEN/II-00 Sertifikasi dan Akreditasi Lembaga Sertifikasi, Kursus dan atau Laboratorium dalam Pemanfaatan Tenaga Nuklir

02-02-2000

32. Kep.Ka.BAPETEN No. 19/Ka-BAPETEN/IV-00

Pengecualian dari Kewajiban Memiliki Izin Pemanfaatan Tenaga Nuklir

03-04-2000 33. Kep.Ka.BAPETEN No.

(16)

Keselamatan dan Kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion (PP No. 63 tahun 2000)

Ruang Lingkup dan Tujuan:

1. Mengatur persyaratan sistem pembatasan dosis, sistem manajemen keselmatan radiasi, kalibrasi, kesiapsiagaan dan penanggulangan kecelakaan raidiasi

2. Menjamin keselamatan, keamanan, dan ketentrama, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Sistem Pembatasan Dosis:

Pengusaha instalasi nukir yang pemanfaatkan tenaga nuklir harus memenuhi prinsip-prinsip sbb:

1. Manfaat lebih besar dibanding dengan resiko yang ditimbulkan

2. Penerimaan dosis radiasi pekerja atau masyarakat tidak melebihi nilai batas dosis yang ditetapkan.

3. Perencanaan, rancangan dan pengoperasian ditujukan agar paparan radiasi serendah-rendahnya

4. Pelepasan zat radioaktif ke lingkungan tidak boleh melebihi nilai batas dosis untuk masyarakat

Sistem Manajemen Keselamatan Radiasi:

Pengusaha instalasi nukir harus menerapkan sistem manajemen keselamatan yang meliputi:

1. Organisasi proteksi radiasi

• sekurang-kurangnya terdiri atas unsur pengusaha instalasi, petugas proteksi radiasi dan pekerja radiasi

2. Pemantauan dosis radiasi dan radioaktivitas • wajib bagi setiap pekerja radiasi

• diveluasi dan dicatat

• pemanatauan daerah kerja 3. Peralatan proteksi radiasi

• Peralatan proteksi

• Pemanatau dosis perorangan

• Pemanatau daerah kerja dan lingkungan 4. Pemeriksaan kesehatan

• usia minimal pekerja radiasi 18 tahun;

• pemeriksaan berkala minimal 1 tahun sekali ; • Hasil pemeriksaan dicatat dalam kartu kesehatan;

• dalam hal terjadi kecelakaan pemeriksaan menjadi tanggungan pengusaha 5. Penyimpanan dokumen

• Dokumen yag memuat catatan dosis, daerah kerja, lingkungan dan kartu kesehatan selama 30 tahun

• Untuk catatan pekerja radiasi dihitung sejak berhenti dari berkerja 6. Jaminan kualitas

(17)

• Instalasi yang mempnyai potensi resiko radiologi tinggi : instalasi daur bakar nuklir, irradiator, akselerator, radioterapi, produksi radioisotop dan instalasi sejenis

• Jaminan kualitas meliputi: perencanaan, pembangunan, pengoperasian perawatan dan pengolahan limbah

7. Pendidikan dan pelatihan

• Setiap pekerja radiasi harus medapat diklat te3ntang keselamatan dan kesehatan kerja terhadap radiasi

• Pelaksanaan diklat tanggungjawab pengusaha

Kalibrasi:

• alat ukur sekurang-kurangnya 1 tahun sekali

• peralatan radioterapi keluaran output minimal 2 tahun sekali

• dilakukan oleh instansi yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh Badan Pengawas

Penanggulangan Kecelakaan Radiasi

• Upaya Pencegahan terjadinya kecelakaan merupakan keharusan bagi pengusaha instalasi

• Keselamatan manusia harus diutamakan

• Wajib melaporakan kecelakaan dengan segera kepada badan pengawas dan instansi terkait

• Instalasi dengan resiko tinggi harus mempunyai Rencana Penanggulangan Keadaan Darurat

• RPKD sekurang-kurangnya memuat: • Jenis/klasifikasi kecelakaan

• Upaya penanggulangan terhadap jenis/klasifikasi • Organisasi

• Prosedur • Peralatan • Personil • Latihan

• Sistem komunikasi dan koordinasi

Sanksi Administratif

• Peringatan tertulis 14 hari dapat diperpanjang 2 kali • Penghentian pengoperasian sementara 30 hari • Pencabutan izin

(18)

Perizinan Pemanfaatan Tenaga Nuklir (PP No. 64 tahun 2000)

Persyaratan dan tata cara memperoleh izin:

• Setiap orang atau badan yag akan memanfaatkan tenaga nuklir wajib mendapatkan izin dari Badan Pengawas

• Aktivitas dan paparan radiasi sangat rendah dikecualikan dari kewajiban izin • Pesyaratan Umum:

• Mempunyai izin usaha atau izin lainnya • Fasilitas memenuhi persyaratan keselamatan • Mempunyai petugas ahli

• Mempunyai peralatan keselamatan radiasi • Memiliki prosedur kerja

• Keputusan penilaian izin diberikan paling lama 14 hari setelah semua kelengkapan permohonan diterima dan memenuhi persyaratan, untuk Instalasi dengan potensi dampak tinggi 60 hari

• Jika waktu yag telah ditetapkan di atas, Badan pengawas belum menerbitkan keputusan, maka dianggap izin disetujui.

• Selama proses perizinan Badan pengawas dapat melakukan verifikasi lapangan Jangka Waktu:

• Izin berlaku paling lama 5 tahun dan dapat diperpanjang • Izin berakhir karena:

• Jangka waktu berakhir;

• Pemegag izin perorangan meninggal dunia • Badan pemegang izin bubar

• Dicabut oleh badan pengawas • Perubahan izin

• Spektek

• Pemegang izin

• Instalasi yang mengalami perubahan tersebut tidak boleh dioperasikan sebelum izin terbit

Kewjiban Pemegang Izin:

• Memberikan kesempatan untuk diperiksa oleh badan pengawas

• Melaksanakan pemeriksaan kesehatan pekerja radiasi (sebelum, selama dan saat akan pemutusan hubungan kerja) secara berkala dan sewaktu-waktu diperlukan • Menyelenggarakan dokumentasi

• Melakukan tindakan pencegahan atau memperkecil damapak

(19)

• Memanfatan tenaga nuklir sesuai dengan tujuan izin

• Melaporkan kepada badan pengawas atau instansi lain terkait apabila terjadi kecelakaan

• Memberikan laporan pemantauan dosis

• Melaksanakan rencana pengeloalaan lingkungana dan rencana pemanatauan lingkungan

• Pemegang izin bertanggungjwab atas kerugian yang timbul akibat pemanfaatan tenaga nuklir

Inspeksi:

• Dilakukan oleh badan pengawas, dengan menunjuk inspektur keselamatan nuklir • Dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu, dengan atau tanpa pemberitahuan Tugas dan wewenang inspektur Keselamatan nuklir:

• Memasuki setiap instalasi yang memanfaatkan sumber radiasi pengion, dan tempat-tempat lain dimana sumber radiasi pengion berada atau disimpan

• Melakukan isnpeksi selama proses perizinan

• Melakukan pemantauan radiasi di dalam dan di luar instalasi

• Dalam keadaan mendesak dapat menghentikan untuk sementara suatu kegiatan pemanfaatan

Sanksi Administratif

• Peringatan tertulis 14 hari dapat diperpanjang 2 kali • Penghentian pengoperasian sementara 30 hari

• Pembekuan izin (dapat dilakukan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu jika pemegang izin tidak lagi memenuhi persayaratan izin)

Referensi

Dokumen terkait

APINDO maupun of ฀ cer dan / atau karyawannya tidak bertanggung jawab apapun terhadap setiap kerugian yang timbul baik langsung maupun tidak langsung sebagai akibat

Batas pertanggungjawaban pengusaha instalasi nuklir terhadap kerugian nuklir yang semula berdasarkan Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1997

Upaya hukum yang dilakukan oleh pekerja apabila pengusaha jasa konstruksi tidak bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang terjadi terhadap pekerja adalah melaporkan

5) karena perbuatan anasir yang tidak bertanggung jawab ataupun sebagai akibat tindakan terhadap anasir itu. Cacat yang disebabkan oleh sakit yang diderita sebagai akibat

Ruang lingkup ketentuan pertanggungjawaban kerugian nuklir yang disebabkan oleh kecelakaan nuklir dalam undang-undang ini dibatasi hanya pada kerugian yang diderita oleh pihak

dan / atau karyawannya tidak bertanggung jawab apapun terhadap setiap kerugian yang timbul baik langsung maupun tidak langsung seba gai akibat dari setiap

Dalam prakteknya pemadam kebakaran bertanggung jawab terhadap kerugian yang dialami pengguna jalan apabila terjadi kecelakaan dalam pelaksanaan tugas pemadam

• Kerugian akibat kecelakaan kerja • Teori Gunung Es : ✔ Kerugian yang timbul akibat adanya kecelakaan ada yang terlihat jelas, ada juga yang tidak jelas terlihat Kerugian langsung