1
CSIS Commentaries is a platform where policy researchers and analysts can present their timely analysis on various strategic issues of interest, from economics, domestic political to regional affairs. Analyses presented in CSIS Commentaries represent the views of the author(s) and not the institutions they are affiliated with or CSIS Indonesia.
CSIS Commentaries DMRU-079-ID
5 Juni 2020
Potret Pendidikan di Tahun Pandemi:
Dampak COVID-19 Terhadap Disparitas
Pendidikan di Indonesia
Ari Budi Santosa
Research Intern, Departemen Hubungan Internasional, CSIS Indonesia
[email protected]
Kebijakan “belajar dari rumah” sebagai respons dari pandemi COVID-19 memiliki dampak serius kepada 68 juta siswa dan 3,2 juta guru.1 Pembelajaran jarak jauh (PJJ) berisiko menghambat bahkan
menghentikan proses pembelajaran bagi sekolah-sekolah di wilayah terpencil karena keterbatasan akses internet dan biaya yang harus dikeluarkan setiap murid. Sekolah dan murid-murid yang tidak memiliki fasilitas memadai mengalami kesulitan melanjutkan proses belajar-mengajar. Hal tersebut berpotensi meningkatkan disparitas atau ketimpangan pendidikan di Indonesia. Kini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia sedang mendiskusikan berbagai kebijakan
1 “Beda Sikap Nadiem dan Serikat Guru soal Belajar Selama Corona”, CNN Indonesia, 2 Mei 2020,
2
untuk mengurangi dampak buruk dari pandemi COVID-19, termasuk pembentukan kurikulum darurat dan menggeser tahun ajaran baru.
Dampak COVID-19 terhadap Sektor Pendidikan
Sektor pendidikan pada dasarnya hidup dalam konteks jejaring kompleks yang melibatkan situasi sosio-ekonomi serta lingkungan masyarakat sekitar. Kelas ekonomi sebuah keluarga memiliki dampak besar terhadap lama sekolah dan kualitas Pendidikan individu.
Dalam sebuah penelitian yang dibuat oleh SMERU Research Institute, Pandemi COVID-19 berpotensi menaikkan tingkat kemiskinan di Indonesia. SMERU melakukan beberapa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan dalam skenario terburuknya angka kemiskinan di tahun 2020 meningkat sebanyak 4 persen dari tahun 2019 menjadi sekitar 12 persen. Apabila kita menempatkan angka tersebut dalam konteks keluarga, peningkatan tersebut bisa memiliki dampak yang cukup besar kepada sektor pendidikan terutama dalam kemampuan orang tua memberikan fasilitas belajar bagi anak-anaknya.
Pandemi COVID-19 sudah jelas akan memiliki dampak yang beragam terhadap kelas-kelas ekonomi yang berbeda. Selain kelas miskin sebagai prioritas utama, kelas menengah yang rentan juga perlu dipertimbangkan sebagai penerima bantuan selanjutnya karena mereka bisa saja kembali masuk kalangan miskin ketika menerima tekanan ekonomi yang besar.2
Menurut data dari BPS, status ekonomi sebuah keluarga memiliki dampak yang jelas terhadap rata-rata lama sekolah anak-anaknya dan menentukan di tahap mana pendidikan seorang anak selesai.3 Terdapat
perbedaan angka lama sekolah yang signifikan (4.54 tahun) antara kelompok tertinggi dan terendah. Ketimpangan tersebut merupakan sebuah masalah yang sudah menempel dalam pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Maka dari itu, penurunan status ekonomi jutaan keluarga akibat wabah COVID-19 dapat semakin mengurangi rata-rata lama sekolah anak-anak. Belum lagi dengan bertambahnya jumlah Pekerja Dirumahkan/PHK, yang bertambah sebanyak 1.722.958 pekerja di sektor formal dan informal akibat pandemi COVID-19.4
Dampak keterpurukan ekonomi juga berlaku dua arah dan mempengaruhi kesejahteraan guru dan sekolah sebagai institusi pendidikan. Beberapa sekolah di Indonesia sudah mulai melaporkan masalah pembayaran biaya SPP yang tidak sesuai ataupun tidak tepat waktu.5 Sekolah-sekolah yang memiliki
angka guru honorer dan tidak tetap yang tinggi akan mengalami kesulitan yang lebih serius karena guru tanpa sertifikasi memiliki pendapatan yang lebih rendah. Daerah seperti Kabupaten Garut sudah mulai inisiatif menyalurkan dana bagi guru-guru tidak tetap di wilayahnya.6
Kelompok rentan yang sudah tertinggal dalam kualitas pendidikan akan semakin terjatuh karena kondisi ekonomi yang semakin terpuruk dan pendidikan anak-anak terancam dikesampingkan demi membiayai kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, pemerintah perlu menyeimbangkan antara
2 Yuli Yanna Fauzie, “Hati-hati, Kelas Menengah Rentan Jatuh Miskin karena Pandemi”, CNN Indonesia, 28 April 2020, https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20200428071536-532-497901/hati-hati-kelas-menengah-rentan-jatuh-miskin-karena-pandemi
3 Dwi Hadya Jayani, “Ketimpangan Pendidikan Antar-Kelompok Ekonomi Masyarakat RI” , Katadata, 5 November 2019, https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/11/05/tingginya-ketimpangan-pendidikan-antar-kelompok-ekonomi-di-indonesia#
4 Kementerian Ketenagakerjaan per 1 Mei 2020
5 “Virus corona: Guru honorer jual barang, orang tua siswa tunggak iuran sekolah: 'Mending untuk makan'”, BBC Indonesia, 4 Mei 2020, https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52525402
6 Pernyataan Wakil Bupati Kabupaten Garut per 14 Mei 2020, https://www.garutkab.go.id/news/pemkab-garut-alokasikan-anggaran-8-miliar-bantu-guru-honorer-dan-swasta
3
keberlangsungan sekolah, kesejahteraan guru, dan beban orang tua murid yang sedang mengalami kesulitan finansial akibat pandemi.
Permasalahan Pembelajaran Jarak Jauh bagi Pendidikan di Indonesia
Kebijakan PJJ Kemendikbud mendapat berbagai macam respons dari publik. Meskipun tidak ideal, PJJ dianggap sebagai satu-satunya kebijakan yang memungkinkan proses pembelajaran tetap bisa dilakukan di tengah pandemi COVID-19. Meskipun begitu, terdapat dua masalah utama yang menghambat efektivitas proses PJJ yaitu keterbatasan akses terhadap internet dan keterbatasan kapabilitas tenaga pengajar.
Pertama, keterbatasan akses terhadap internet yang stabil. Banyak wilayah di Indonesia belum dijangkau oleh internet, bahkan sinyal komunikasi dan listrik pun belum mencapai beberapa wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Salah satu building block dari sebuah pembelajaran jarak jauh yang efektif adalah kecepatan internet yang memadai dan stabil. Tanpa koneksi yang stabil, murid tidak mungkin mendapatkan materi pembelajaran secara utuh dan proses pemahaman pun terbatas dan dibatasi oleh internet. Ketimpangan akses terhadap internet tersebut dapat terlihat jelas ketika kita membandingkan data antara wilayah perkotaan dan pedesaan.
Berdasarkan data dari BPS, persentase rumah tangga dengan akses internet di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dan mencapai 78% pada tahun 2018. Meskipun begitu, terlihat adanya disparitas yang cukup tinggi antara akses internet di pedesaan dan perkotaan yaitu 27% di tahun 2018. Disparitas akses tersebut dapat dilihat ketika membandingkan beberapa provinsi di Indonesia. Yogyakarta dan Jakarta memiliki penetrasi internet yang mencapai 50%. Sementara itu, penetrasi internet di provinsi-provinsi bagian timur masih di bawah 30 persen.7 Hal tersebut memperkuat asumsi
disparitas pendidikan bagi beberapa wilayah ketika melaksanakan PJJ yang bersifat daring.
Lembaga Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) melakukan survei di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan Utara (Kaltara), dan Jawa Timur untuk mengetahui penerapan kebijakan belajar dari rumah.8 Dari keempat provinsi tersebut, Provinsi
NTB dan NTT mencatat angka pembelajaran daring paling rendah yaitu 7% dan 4% selebihnya menggunakan buku dan lembar kerja siswa (LKS). Jadi, di samping disparitas regional untuk akses internet, pemanfaatannya pun masih terfragmentasi pada kelas dan wilayah tertentu. Murid-murid yang tidak punya privilese geografis dalam mengakses internet terpaksa harus mengandalkan buku tanpa ada bimbingan langsung dari tenaga pengajar.
Kedua, permasalahan kapabilitas tenaga pengajar yang kesulitan beradaptasi dengan metode pembelajaran PJJ. Secara umum PJJ menambahkan beban kepada guru karena kebanyakan dari mereka baru pertama kali melakukan pembelajaran dari jarak jauh. Dengan adanya pandemi COVID-19, sekolah mengerti bahwa proses belajar tidak bisa dilakukan dalam waktu yang lama seperti pada situasi normal. Akibatnya, guru terpaksa memadatkan materi pembelajaran yang banyak dalam beberapa jam saja.9
Bagi murid-murid di wilayah perkotaan, masalah utamanya biasanya berasal dari pola pemberian tugas tanpa ada timbal balik dari guru. Hal tersebut terjadi karena pada umumnya sekolah dasar dan
7 Data disadur dari Indeks Pembangunan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Badan Pusat Statistik (BPS) 2018
8 Senza Arsedy, George Adam Sukoco, dan Rasita Ekawati Purba, “Riset dampak COVID-19: potret gap akses online ‘Belajar dari Rumah’ dari 4 provinsi”, The Conversation, 2 Mei 2020, https://theconversation.com/riset-dampak-covid-19-potret-gap-akses-online-belajar-dari-rumah-dari-4-provinsi-136534
9 “FSGI Sebut Kualitas Pendidikan Indonesia Turun saat Corona”, CNN Indonesia, 2 Mei 2020,
4
menengah di Indonesia tidak memiliki sistem pembelajaran daring sehingga guru hanya membagikan tugas melalui Whatsapp.10
Selain itu, banyak murid yang mengeluh tidak ada penjelasan dari guru tentang materi-materi yang mereka kerjakan. Padahal, guru bisa saja merekam video penjelasan sebuah materi sebelum memberikan tugas kepada murid. Masalahnya, mereka kurang dibekali dengan pendidikan literasi digital dan kecakapan teknologi untuk memanfaatkan sarana dasar yang ada. Ditambah lagi, Kemendikbud pun tidak memberikan arahan yang spesifik dan detail dalam pelaksanaan PJJ di masa pandemi COVID-19 sehingga guru dan sekolah dituntut untuk berinovasi dan membuat kebijakannya masing-masing.
Bagi sekolah dan guru yang berada di wilayah terpencil, permasalahannya juga tentang cara mengatasi keterbatasan-keterbatasan fundamental seperti akses internet yang tidak ada atau tidak stabil, keterbatasan finansial keluarga murid, dan fasilitas digital sekolah yang terbatas. Bagi wilayah pedesaan yang masih bisa mengakses internet, biaya menjadi kendala karena keluarga murid yang tidak bisa membayar pulsa dan paket data internet bagi anaknya. Pada akhirnya guru kerap terpaksa mendatangi murid ke rumah masing-masing meskipun berisiko menyebarkan penyakit COVID-19.11
Wilayah-wilayah tertinggal seperti ini perlu diberikan perhatian khusus karena berpotensi melebarkan jarak kesenjangan pendidikan.
Situasi Pandemi COVID-19 menunjukkan adanya kekosongan dalam infrastruktur dan juga institusi Pendidikan Indonesia yang tidak siap menghadapi situasi tidak terduga seperti sekarang. Lebih dari itu, kebijakan PJJ memperlihatkan ketidaksiapan Indonesia untuk memindahkan pendidikan ke dalam medium teknologi digital. Jurang pemisah antara wilayah maju dengan fasilitas internet dan wilayah terpencil tanpa sinyal begitu besar sehingga pemerintah pun harus melakukan jenis intervensi yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
Refleksi Kebijakan Kemendikbud di Tengah Pandemi
Kebijakan konkret Kemendikbud terkait himbauan pemerintah tentang belajar dari rumah tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah untuk Mencegah Penyebaran COVID-19 yang isinya menjelaskan tentang pelaksanaan PJJ bagi seluruh sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Surat Edaran tersebut juga melampirkan beberapa saran pembelajaran daring yang bisa dimanfaatkan oleh sekolah dan siswa. Dalam praktiknya, banyak tenaga pengajar yang tidak dilatih dan tidak mengetahui cara penggunaan sarana pembelajaran daring. Lalu, melalui Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19), Kemendikbud menerapkan kebijakan pembatalan Ujian Nasional (UN) dan penyesuaian nilai pembelajaran. Selain itu, terdapat beberapa poin tentang pelaksanaan PJJ termasuk imbauan agar guru tidak terlalu membebankan murid dengan capaian yang sesuai dengan kurikulum dan penilaian yang bersifat timbal balik menyesuaikan dengan kebutuhan murid. Surat Edaran Nomor 4 sayangnya tidak memberikan arahan khusus tentang petunjuk pelaksana (juklak) bagi guru dalam melaksanakan PJJ. Surat tersebut hanya berperan sebagai arahan umum tentang apa yang harus diajarkan dan bagaimana menilainya. Hingga akhir Mei, Kemendikbud belum memberikan petunjuk spesifik bagi guru tentang menjalankan proses pembelajaran.
10 “Virus corona: Tak semua pengajar, siswa siap terapkan 'sekolah di rumah'”, BBC Indonesia, 18 Maret 2020, https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51906763
11 “Virus corona: Kisah guru di Jawa Barat mendatangi rumah murid-muridnya yang tidak punya gawai dan sulit akses siaran televisi”, BBC Indonesia, 13 Mei 2020, https://www.bbc.com/indonesia/majalah-52642997
5
Pada pertengahan April 2020, Kemendikbud melakukan kerja sama dengan TVRI dan RRI untuk menayangkan program edukasi demi membantu murid dan guru selama PJJ. Namun, banyak pihak yang menganggap materi yang disampaikan di TVRI terlalu monoton dan tidak efektif.12 Meskipun
langkah tersebut perlu diapresiasi, PJJ melalui televisi juga tidak menyelesaikan persoalan metode pembelajaran yang satu arah dan masalah pendidikan bagi keluarga miskin yang tidak memiliki akses terhadap listrik atau televisi.
Wahana Visi Indonesia melakukan survei terhadap 3.000 anak di 30 provinsi pada 2 sampai 21 April dan menemukan pengaruh emosional dalam penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan jaga jarak selama corona.13 Survei tersebut menjelaskan bahwa situasi keluarga juga berdampak pada emosional
anak. Murid juga banyak yang kesulitan menghadapi metode PJJ yang hanya difokuskan pada pemberian tugas tanpa jadwal yang teratur. Hal tersebut, kembali lagi, terjadi karena guru yang tidak memiliki pengalaman dalam proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi dan bersifat jarak jauh.
Pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa digitalisasi industri 4.0 Indonesia masih bersifat eksklusif pada sektor industri dan ekonomi, sementara sektor Pendidikan masih jauh tertinggal. Dalam praktiknya, digitalisasi pendidikan justru diinisiasi oleh sektor swasta berbentuk startup seperti Zenius dan Ruangguru yang pada dasarnya dibentuk untuk masyarakat urban di kota-kota besar. Penerima manfaat proses digitalisasi pendidikan di Indonesia masih terus berputar dalam sebuah kebijakan pendidikan yang bersifat Jawa-sentris dan hal tersebut memperlebar ketimpangan pendidikan yang sudah begitu besar di Indonesia.
Pada akhirnya, Kemendikbud harus mulai mempertimbangkan mengeluarkan juklak khusus yang membahas indikator-indikator dalam melaksanakan PJJ serta memperhatikan berbagai hambatan yang dihadapi oleh murid di wilayah perkotaan dan pedesaan. Penyusunan metode pembelajaran yang berbeda daripada situasi yang normal juga diperlukan untuk mempertimbangkan sisi emosional murid dan keterbatasan guru.
12 “Materi Program Belajar TVRI Dinilai ‘Jadul’ dan Tak Efektif”, CNN Indonesia, 4 Mei 2020,
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200504145301-20-499875/materi-program-belajar-tvri-dinilai-jadul-dan-tak-efektif 13 Feybien Ramayanti, “Home Sweet Home Tak Berlaku, Belajar Makin Sporadis dan Kaku”, CNN Indonesia, 8 Mei 2020, https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200506181541-20-500840/home-sweet-home-tak-berlaku-belajar-makin-sporadis-dan-kaku
CSIS Indonesia, Pakarti Centre Building, Indonesia 10160 Tel: (62-21) 386 5532| Fax: (62-21) 384 7517 | csis.or.id
COVID-19 Commentaries Editors