Pemberdayaan
Masyarakat
MODUL DASAR
DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUMDirektorat Jenderal Cipta Karya
Konsultan dan Pemda
04
Modul 1 Pemberdayaan Sejati 1
Kegiatan 1 Diskusi Keberdayaan Hewani 2
Kegiatan 2 Diskusi Menemukan Makna Hakiki Pemberdayaan Manusia 3
Kegiatan 3 Diskusi Kelompok: Kualitas Manusia Sejati 4
Modul 2 Pemberdayaan Perempuan dan Laki-laki 25
Kegiatan 1 Diskusi Pemberdayaan Laki-Laki dan Perempuan 26
Modul 3 Kepemimpinan Masyarakat Manusia 36
Kegiatan 1 Diskusi Pemimpin versus Pemimpin 37
Kegiatan 2 Menggambar Bersama Pemimpin Masyarakat Manusia 39
Kegiatan 3 Diskusi tipologi kepemimpinan dan pengaruhnya
terhadap pemberdayaan masyarakat 40
Modul 4 Pengorganisasian Masyarakat 58
Kegiatan 1 Permainan dan Diskusi Makna Pengorganisasian Masyarakat 59
Kegiatan 2 Diskusi Alasan Masyarakat Berorganisasi 60
Kegiatan 3 Diskusi Prinsip dan Cara Masyarakat Berorganisasi 60
Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu upaya untuk memulihkan atau meningkatkan keberdayaan suatu komunitas agar mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat mereka dalam melaksanakan hak – hak dan tanggung jawab mereka sebagai komunitas manusia dan warga negara. Tujuan akhir pemberdayaan masyarakat adalah pulihnya nilai – nilai manusia sesuai harkat dan martabatnya sebagai pribadi yang unik, merdeka dan mandiri. (1) unik dalam konteks kemajemukan manusia;(2)merdeka dari segala belenggu internal maupun eksternal termasuk belenggu keduniawian dan kemiskinan (3) mandiri untuk mampu menjadi programer bagi dirinya dan bertangung jawab terhadap diri sendiri dan sesama.
Manusia yang berdaya adalah manusia yang mampu menjalankan harkat martabatnya sebagai manusia, merdeka dalam bertindak sebagai manusia dengan didasari akal sehat serta hati nurani. Artinya manusia tidak harus terbelenggu oleh lingkungan, akan tetapi semata – mata menjadikan nilai – nilai luhur kemanusiaan sebagai kontrol terhadap sikap perilakunya. Manusia dikaruniai hati nurani, sehingga mempunyai sifat – sifat baik dalam dirinya sesuai dengan fitrahnya.
Wujud dari keberdayaan sejati adalah kepedulian, kejujuran, bertindak adil, tidak mementingkan diri sendiri dan sifat – sifat baik lainnya. Manusia – manusia berdaya tidak akan merusak dan merugikan orang lain tetapi memberikan cinta kasih yang ada dalam dirinya kepada orang lain dengan tulus sehingga hidupnya bermakna bagi dirinya dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Terciptanya komunitas yang berdaya seperti inilah yang akan bisa menanggulangi kemiskinan yang diakibatkan oleh lunturnya nilai – nilai kemanusiaan.
Pemberdayaan komunitas, dipengaruhi oleh tauladan – tauladan dari tindakan (perilaku) pemimpinnya. Karakter pemimpin yang mencerminkan sifat – sifat kebaikan akan mempercepat proses perubahan di masyarakat. Pemimpin – pemimpin seperti ini akan menjamin warganya untuk mendapatkan keadilan, tidak mementingkan diri sendiri tetapi bekerja untuk sesama, semata – mata sebagai wujud dari tanggung jawabnya sebagai manusia.
Sebagai langkah awal proses penyadaran kritis untuk pemberdayaan komunitas di atas, dilakukan melalui pengorganisasian masyarakat supaya masyarakat sadar akan kondisi dan potensinya dan pada akhirnya dapat maju bersama sehingga tercipta masyarakat berorganisasi dengan landasan nilai – nilai kemanusiaan.
Modul 1
Topik: Pemberdayaan Sejati
Peserta memahami dan menyadari: 1. Makna hakiki pemberdayaan sejati
2. Mampu merumuskan makna pemberdayaan sejati
Kegiatan 1: Diskusi keberdayaan hewani
Kegiatan 2: Diskusi menemukan makna hakiki pemberdayaan manusia Kegiatan 3: Diskusi kualitas manusia sejati
4 Jpl (180 ’)
Bahan Bacaan:
Kumpulan Berbagai Bahan Pembangunan Manusia
• Kerta Plano
• Kuda-kuda untuk Flip-chart • LCD
Diskusi Keberdayaan Hewani
1) Buka pertemuan dengan salam singkat kemudian uraikan bahwa kita akan memulai Modul: Pemberdayaan Sejati yang terdiri dari 2 Kegiatan Belajar yaitu:
Kegiatan 1: Diskusi Keberdayaan Hewani
Kegiatan 2: Diskusi Menemukan Makna Hakiki Pemberdayaan Manusia, dan yang ingin dicapai melalui Modul ini yaitu:
• Peserta memahami makna hakiki pemberdayaan sejati (manusiawi) • Peserta mampu merumuskan konsep pemberdayaan sejati (manusiawi)
Uraikan kemudian bahwa kita akan memulai Modul ini dengan Kegiatan 1: Diskusi Keberdayaan Hewani.
2) Bagi peserta menjadi beberapa kelompok terdiri dari 5 s/d 7 orang, kemudian mintalah kelompok mengerjakan tugas tersebut di bawah ini setelah membacanya dengan cermat Gunakan LK-Pemberdayaan Sejati-1
Diskusi Menemukan Makna Hakiki Pemberdayaan
Manusia
1) Buka pertemuan dengan salam singkat kemudian uraikan bahwa kita akan memulai Kegiatan 2: Diskusi Menemukan Makna Hakiki Pemberdayaan Manusia dan uraikan juga tujuan yang akan dicapai melalui kegiatan belajar ini, yaitu:
Peserta mampu menguraikan dengan kata-kata sendiri: Makna hakiki pemberdayaan manusia.
Konsep pemberdayaan sejati.
2) Bagi peserta menjadi beberapa kelompok terdiri dari 5 s/d 7 orang, kemudian mintalah tiap kelompok mengerjakan tugas sesuai dengan panduan dalam LK 2 -Pemberdayaan Sejati
3) Setelah diskusi selesai kemudian bahaslah dalam pleno kelas, berikan pencerahan (bisa dengan menggunakan media bantu tabel di bawah ini).
Binatang bertindak digerakkan oleh insting, mereka tidak bisa memilih dengan bebas apa tindakan yang akan diambil. Tidak seperti binatang, manusia mempunyai akal sehat, hati nurani, dan pilihan bebas. Oleh karena itu manusia mempunyai pilihan bebas untuk melakukan tindakan, mau menjadi baik atau buruk perilaku manusia adalah merupakan pilihan. Akan tetapi karena manusia mempunyai akal sehat dan hati nurani, maka manusia dalam bertindak seharusnya dikendalikan oleh akal sehat dan hati nuraninya. Manusia yang menggunakan hati nurani dan akal sehatnya, tentu dipenuhi oleh sifat-sifat kebaikan, sesuai dengan harkat martabatnya sebagai manusia yang merdeka.
Pemberdayaan sejati berhubungan dengan kemerdekaan, manusia yang merdeka adalah manusia yang mampu mengejawantahan hati nuraninya dalam sikap perilaku sehari - hari. Manusia yang berdaya adalah manusia pemberi, yaitu manusia yang mampu dengan ikhlas memberikan apa yang dipunyai oleh dia untuk orang lain. Apa yang diberikan bukan hanya harta benda tetapi bisa dalam bentuk perhatian (kepedulian), waktu, pemikiran dan sebagainya. Jiwa dan semangat ini sebenarnya dipunyai oleh setiap manusia, karena manusia dianugrahi hati nurani yang di dalamnya ada cinta, sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Bukankah setiap manusia mempunyai kemampuan untuk mencintai? Mencintai artinya ikhlas untuk memberikan apa yang kita miliki tanpa pamrih apapun.
Bukankah dengan memberikan cinta kasih pada sesama inilah, kita berguna dan menemukan makna hakiki dari hidup kita. Untuk menjalani hidup kita bisa memilih:
Menjadi manusia yang terus menerus mengambil dari lingkungan kita, sehingga keberadaan kita merusak lingkungan (biasanya ini manusia yang serakah) atau
Menjadi manusia yang memberi dan mengambil dari lingkungannya karena tidak mau rugi, padahal keberadaannya jadi tidak berarti apa-apa bagi lingkungan.
Menjadi manusia yang mampu memberi kepada lingkungan dengan tidak memikirkan apakah akan mendapatkan keuntungan dari lingkungannya, sehingga hidupnya bermakna
menggunakan semua waktu, tenaga, kecerdasan dan apa yang dia miliki sebagai wujud cinta kasih kepada Sang Pencipta.
Diskusi Kelompok: Kualitas Manusia Sejati
1) Ajaklah peserta untuk mempulai kegiatan 3 dalam modul ini, yaitu membahas manusia yang berdaya sejati.
2) Ingatkan kembali kepada peserta, berdasarkan kepada hasil pembahasan dalam kegiatan 1 dan 2: ”Bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk memberi dan peduli kepada manusia lainnya. Artinya manusia berperan sebagai manusia apabila dia mempunyai manfaat bagi kesejahteran lingkungannya. Manusia akan memberikan lebih banyak manfaat kepada lingkungan apabila dia juga mempunyai kapasitas (ilmu, keahlian, kekayaan materi, tenaga , dsb) yang bisa diberikan kepada lingkungannya”.
3) Gambarlah diagram di bawah ini untuk memberikan penjelasan kepada peserta:
Manusia yang paling berdaya adalah manusia yang mempunyai kapasitas yang tinggi dan menggunakan kapasitasnya untuk kepentingan umat manusia. (perilaku baik, dan kapasitas tinggi). Manusia seperti inilah yang disebut dengan manusia berkualitas (mempunyai kualitas manusia sejati)
Perilaku Baik
Perilaku Buruk
Kapasitas Tinggi
Kapasitas Rendah
Manusia yang mempunyai sifat– sifat baik, dan kapasitas tinggi akan menggunakan seluruh
kemampuannya untuk kepentingan sesama. Manusia ini yang paling bermanfaat bagi sesama
Manusia yang mempunyai kapasitas tinggi, akan tetapi berperilaku buruk, akan menjadi
licik dan merusak bagi lingkungan. Manusia seperti ini
sangat berbahaya Manusia yang mempunyai sifat–
sifat buruk dan kapasitas rendah, tidak akan berguna bagi
lingkungannya bahkan mungkin untuk dirinya. Manusia yang mempunyai sifat–
sifat baik, dan mempunyai kapasitas rendah, kebaikannya
hanya akan berguna bagi dirinya. Kalaupun bermanfaat
bagi lingkungan tidak akan terlalu besar
4) Bantulah peserta untuk memetakan kembali posisi Si A, B, C, D dan E dalam garis keberdayaan yang sudah mereka diskusikan. Bantu dengan pertanyaan: siapa sebetulnya yang paling memberikan manfaat bagi masyarakat di Make-Muke?
Jawaban yang diharapkan adalah sebagai berikut:
5) Mintalah peserta untuk merenungkan akan menjadi manusia seperti apakah kita? Dan apa yang harus kita lakukan dalam mendorong pemberdayaan di masyarakat?
• Memberdayakan masyarakat artinya mendorong peningkatan kualitas kemanusiaan masyarakat yaitu menggunakan sifat-sifat kemanusiaannya dan meningkatkan kapasitas mereka.
• Mendorong masyarakat untuk menggunakan sifat kemanusiaannya dengan cara: mendorong kepedulian untuk saling menolong di antara warga masyarakat; mendorong masyarakat untuk menyumbangkan tenaga waktu dan pikirannya bagi penangggulangan kemiskinan dan sebagainya. Meningkatkan kapasitas masyarakat dengan cara: meningkatkan pendidikan masyarakat melalui pendidikan formal, pelatihan, memberikan akses informasi, melibatkan masyarakat dalam diskusi-diskusi; meningkatkan keterampilan warga masyarakat; memberikan santunan kepada warga yang benar-benar tidak mampu; meningkatkan kesehatan masyarakat , mengurangi pengangguran dan sebagainya.
• Melibatkan masyarakat dalam proses penanggulangan kemiskinan mulai dari refleksi kemiskinan, pemetaan swadaya, pemilihan BKM/LKM, penyusunan PJM pronangkis, terlibat di KSM, monitoring evaluasi kegiatan.
(-) 5 (-) 0
C & D
(+) 5E
LK-Pemberdayaan Sejati-1
Pertanyaan dan tugas yang terkait dengan diskusi
“Keberdayaan Hewani”
1) Peserta terbagi dalam kelompok kecil 5 s/d 7 orang dan tiap kelompok mengerjakan tugas seperti tersebut di bawah ini setelah membacanya dengan seksama
Bacaan 1
Di sebuah kota, dalam kegiatan penggerebekan rumah-rumah yang memelihara binatang yang hampir punah, ditemukan seekor orangutan yang tak berdaya dengan tatapan matanya yang layu. Melihat hal itu seorang petugas pemerintah yang sangat peduli segera mengirimkan orangutan itu ke tempat rehabilitasi orangutan di Tanjungputing, Kalimantan.
Di dalam pusat rehabiltasi orangutan inilah orangutan yang tak berdaya itu diberdayakan. Di sana orangutan akan mendapat latihan untuk “mempertahankan hidup” seperti, mencari makan, menjaga, dan melindungi hak-hak hidupnya, dsb.
Oleh pedulinya yang mendalam terhadap pelestarian binatang langka, enam bulan kemudian petugas pemerintah yang mengirim si orangutan, memutuskan untuk melihat nasib binatang yang malang dan tak berdaya itu... Sesampainya di tanjungputing, dia menemukan kandang sudah kosong. Pegawai di sana mengatakan bahwa si orangutan sudah dilepas dalam hutan karena memang sudah menjadi orangutan yang berdaya (orangutan sejati).
Demikianlah, bersama pegawai pusat rehabilitasi, mereka masuk ke hutan dan memang benar-benar menemukan seekor orangutan yang sungguh sangat berdaya.
Tugas
Diskusikan dalam kelompok jawaban pertanyaan tersebut di bawah ini: a) Kondisi orang utan seperti apakah yang dia lihat setelah dia kembali
enam bulan kemudian?
b) Menurut pendapat Anda apakah orang utan yang berdaya mampu mendapatkan dan mempertahankan hak-haknya?
c) Menurut pendapat Anda apakah orang utan yang berdaya mampu secara mandiri mencari makan?
d) Apakah motivasi utama orang utan yang berdaya untuk berpindah dari satu wilayah ke wilayah yang lain?
e) Dalam sebuah musim kemarau hanya ada satu pohon yang berbuah dan lainnya tak berbuah. Sedangkan ada 10 orang hutan disana? Apakah saja yang dapat dilakukan orang utan yang berdaya ini? Apa saja pilihannya?
f) Musim kemarau panjang telah menyebabkan sebagian hutan mulai gundul. Apa yang secara sadar dan kritis dapat dilakukan oleh sang orang utan yang sangat berdaya ini dalam memperbaiki lingkungannya?
g) Jadi apa saja yang dapat dilakukan oleh orang utan yang berdaya sepanjang hidupnya? Coba rinci!!!
h) Kalau demikian apakah tujuan utama pemberdayaan orang utan?
i) Simpulkan apakah definisi pemberdayaan orang utan (keberdayaan hewani)? 2) Peserta tetap dalam kelompok masing-masing dan tiap kelompok mengerjakan
tugas seperti tersebut di bawah ini setelah membacanya dengan seksama
Bacaan 2
Di sebuah desa yang bernama Make-Muke (Maju Kena Mundur Kena), yang berpenduduk 500 orang, terletak berdekatan dengan wilayah hutan, hiduplah suatu masyarakat manusia yang sedang mengalami kemarau panjang juga. Mengingat jumlah beras yang terbatas maka si A seorang cendekiawan dan pengusaha kaya segera saja membeli separuh persediaan beras yang ada karena dia tidak ingin dirinya dan anggota keluarganya kelaparan. Malah si A melihat paceklik ini peluang sehingga kemudian dia membeli lagi beras dlm jumlah besar untuk dijual kembali dengan harga yang menguntungkan.
Si B yang tidak sekaya si A, berpendidikan tinggi dan sangat peduli dengan kaum miskin, secara sadar memutuskan membeli juga beras dalam jumlah besar untuk dibagi-bagikannya ke keluarga miskin di desanya dan sisanya sedikit disimpan untuk keluarganya. Disamping itu si B juga mengorganisasikan berbagai unsur masyarakat desa untuk bersama-sama membangun saluran air dari sumber air yg memang tak jauh dari desa tersebut sehingga kemarau panjang ini dapat diatasi dgn sistem irigasi sederhana gagasannya.
Si C dan istri tercintanya si D adalah warga yang kurang mampu dan hanya sanggup membeli ½ kg per hari. Pada saat sedang masak mereka mendengar anak tetangganya (keluarga E) menangis karena lapar. Keluarga E ini memang memiliki banyak anak dan sangat miskin. Hatinya tergerak oleh suara tangisan tersebut maka mereka putuskan untuk memberikan separuh nasi mereka yang hanya sedikit tersebut tiap hari kepada tetangganya meskipun mereka harus menahan lapar karena menolong keluarga E.
Sementara itu si F, yang tinggal tak jauh dari si C dan D, adalah ahli kunci yang handal. Sayangnya keahliannya tersebut dia gunakan untuk membongkar toko si A, dan mencuri beras.
Kemudian datang berita ada P2KP. Seorang fasiltator (beneran) bersama pak Lurah mengundang masyarakat dalam suatu pertemuan awal. Si A, B, C dan D diundang dalam pertemuan ini. A yang sehat, si B yang sehat dan banyak ide dan si C & D yang lemah. Di ujung lain duduk Bapak E.
Mendengar cerita dari warga masyarakat dalam menyikapi musim kemarau panjang, sang fasiltator termenung di malam hari: siapakah sesungguh manusia yang paling berdaya disini A, B, C, D, E atau malah F? Siapakah yang tak berdaya? Kalau diurut dari yang paling berdaya ke yang paling tidak berdaya bagaimanakah urutannya? Dia teringat seluruh teori pemberdayaan yang dipelajari dalam training baru-baru ini (menurut versi Prof ini dan itu, Dr. ini dan itu, Mr ini dan itu, Bapak ini dan Ibu itu, Lembaga ini dan itu, filsuf ini dan itu). Sungguh sulit menemukan jawabannya karena urutannya jadi beda-beda?
b) Bantulah dia menentukan urutannya, bila nilai –1 s/d –5 adalah untuk yg merugikan masyarakat dan dunia sedangkan nilai 0 untuk yang tak berbuat apa-apa dan nilai +1 s/d +5 untuk bermanfaat bagi masyarakat, dunia dan diri sendiri
c) Apa beda berdayanya si A tersebut dengan “orang utan” yang berdaya? d) Jadi apakah ciri-ciri manusia yang berdaya?
e) Apakah ciri-ciri manusia yang berdaya tersebut dipunyai oleh laki-laki atau perempuan? f) Kalau demikian apa saja yang dapat dilakukan oleh manusia yang berdaya sepanjang
hidupnya? Coba rinci!!!
g) Jadi apakah tujuan utama pemberdayaan manusia?
LK-Pemberdayaan Sejati-2
Pertanyaan dan tugas yang terkait dgn diskusi “Menemukan Makna Hakiki Pemberdayaan Manusia” 1) Peserta terbagi dalam kelompok kecil 5 s/d 7 orang dan tiap kelompok mengerjakan tugas
seperti tersebut di bawah ini setelah membacanya dengan seksama
Tugas 1
a) Isilah daftar tersebut di bawah, siapakah dari daftar tersebut yang masuk dalam kategori berikut di bawah ini dari sangat berdaya (+5) sampai dengan sangat tidak berdaya (-5) menurut pendapat Anda sendiri, dalam konteks pembangunan masyarakat berkelanjutan (sustainable community development)?
• Sangat berdaya: +5 • Berdaya: 1
• Sangat tidak berdaya: -5
• Yang lain berada pada skala +5 s/d –5, Angka 0 diberikan untuk mereka yang kurang berdaya dan tidak berbuat apa-apa.
No Pernyataan Derajat
Keberdayaan
Alasan Anggapan yang Berlaku
1. Bapak B berpendidikan tinggi dan mencapai kedudukan tinggi dalam karier serta kaya. Dia tidak mau membantu pengentasan kemikisnan karena dia anggap tidak ada gunanya dari sisi pengembangan karier serta kurang menguntungkan dari sisi ekonomi. Yang penting baginya adalah semua anaknya bisa berpendidikan tinggi, kaya, serta istrinya bahagia.
2. Bapak B1 berpendidikan tinggi dan mencapai kedudukan tinggi dalam karier serta kaya dan mau membantu pengentasan kemikisnan walaupun hal itu tidak ada gunanya dari sisi
No Pernyataan Derajat
Keberdayaan Alasan Anggapan yang Berlaku
3. Ibu A terampil mempengaruhi semua pihak melalui cara dan sikap bicaranya yang lembut, memikat dan sangat cerdas, untuk menuruti kemauannya yang sangat kuat dalam menjalankan misinya mendorong terpilihnya seorang calon Kepala Desa yang suka KKN.
4. Ibu A1 Seorang yang kurang dapat mempengaruhi semua pihak karena keterbatasan bergaul. Dia hanya mampu mempengaruhi keluarga dan tetangganya untuk memastikan bahwa tetangganya ikut mendukung program penanggulangan kemiskinan yang sedang berjalan agar tidak terjadi KKN.
5. Ibu A2 seorang yang dapat
mempengaruhi semua pihak melalui cara dan sikap bicaranya yang memikat untuk menuruti kemauannya yang sangat kuat dalam menjalankan misinya untuk memastikan bahwa semua orang mendukung program kemiskinan yang sedang berjalan agar tidak terjadi KKN.
6. Sdr. C sangat ahli didalam ilmu adminsitrasi negara dan bisa mempertahankan semua haknya dengan baik sehingga selalu berhasil mematahkan segala upaya serangan terhadapnya. Namun dia tak peduli terhadap ketidakadilan yang sedang terjadi di desanya.
7. Sdr. D telah berhasil dalam usahanya sehingga hampir seluruh toko-toko kecil dalam kota tidak bisa lagi beroperasi untuk bersaing dengan toko serba ada yang telah dibangunnya. Setiap toko yang bangkrut membuatnya tersenyum. Katanya hilang lagi satu saingan!!!
8. Sdr. E Saat ini telah lulus dengan nilai tertinggi dan berkepribadian hangat. Dia segera ditawari untuk membantu sebuah perusahaan yang terkenal dengan KKNnya dengan gaji yang tinggi, dan dia segera menerimanya.
No Pernyataan Derajat
Keberdayaan Alasan Anggapan yang Berlaku
9. Sdr. F seorang yang sangat cerdas dan terkenal, sebagai pegawai negeri yang dikenal bededikasi dalam pengabdian masyarakat, dan hidup cukupan saja.
10. Sdri. G, aktris yg sangat cantik, terkenal dan berpendidikan serta sering bermain film yang mencontohkan perilaku-perilaku tidak manusiawi dan kejam. 11. Bapak H, petani miskin yang selalu
berupaya menutup air yang mengalir ke sawah orang lain supaya sawahnya subur terus. Dengan tubuhnya yang tegap dan tombak di tangan dia menakuti yang lainnya.
12. Sdr. I seorang petani miskin berbadan ringkih yang sering gagal panen namun selalu berupaya menjamin agar semua sawah mendapat pembagian air yang adil, meskipun seringkali sawah sendiri kekurangan air hingga menyebabkan panen kurang berhasil.
13. Sdr. J seorang petani miskin berbadan ringkih yang sukses panen dan selalu berusaha menjamin agar semua sawah di wilayahnya mendapat pembagian air yang adil, memang sering sawah dia tidak mendapat cukup air tetapi dia berhasil mengefisienkan penggunaan air, hasil pelatihan yang diikutinya.
14. Sdri. K seorang dosen perguruan tinggi bidang kesehatan yang bekerja siang malam untuk menambah jumlah pendapatannya untuk membeli rumah di tempat lain karena dia tahu bahwa di kampungnya ada persoalan kesehatan akibat air limbah.
15. Sdr. L seorang Sopir Taksi yang bekerja siang malam untuk menambah jumlah pendapatannya, meluangkan waktunya untuk mengatasi persoalan bersama di
No Pernyataan Derajat
Keberdayaan Alasan Anggapan yang Berlaku
16. Sdri. M seorang dosen perguruan tinggi bidang kesehatan yang bekerja siang malam untuk menambah jumlah pendapatannya untuk beli rumah ditempat lain, namun meluangkan waktunya untuk mengatasi persoalan kesehatan di kampungnya akibat air limbah sehingga berhasil membaik
17. N, seorang anak yang cerdas di kelas, dan wajar saja dia tak mau membagi catatannya kepada yang lain, karena ini adalah hasil jerih payahnya untuk mendapatkan nilai yang baik. Tidak adil bila yang lain tidak mencatat
mendapatkan manfaat dari bukunya dan jadi pandai dan juga mendapatkan nilai yang baik.
18. O, seorang anak yang biasa saja di kelas namun mau membagi catatannya kepada yang lain. Dia tak peduli apakah yang lain dapat nilai lebih baik darinya karena dia senang catatannya jadi berguna untuk teman-temannya belajar dan dia juga dapat berlajar.
19. P, seorang anak yang cerdas sekali di kelas namun mau membagi catatannya kepada yang lain. Dia tak peduli apakah yang lain dapat nilai lebih baik darinya karena dia senang catatannya juga berguna untuk teman-temannya belajar.
20. Anda sendiri?
2) Setelah peserta selesai mengerjakan Tugas 1 masih dalam kelompok kecil 5 s/d 7 orang dan maka tiap kelompok harus mengerjakan Tugas 2 sbt.
Tugas 2
Coba musyawarahkan hasil Anda untuk mencapai kesepakatan kolektif tentang: a) Apakah ciri-ciri seorang manusia yang berdaya?
b) Jadi apakah inti pemberdayaan manusia itu yang kemudian disebut sebagai pemberdayaan sejati?
Slide 1 Slide 2
Slide 5 Slide 6
Slide 7 Slide 8
Slide 11 Slide 12
Slide 13 Slide 14
Kekayaan Manusia yang Terbesar
(Dari Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede Parma)”Bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur ’cukup’, segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar”
Seorang sahabat yang mulai kelelahan hidup, pagi bangun, berangkat ke kantor, pulang malam dalam kelelahan, serta amat jarang bisa merasakan sinar matahari di kulit, kemudian bertanya, ”Untuk apa hidup ini?” Ada juga orang yang sudah benar-benar telah mengungsi (kecil mengungsi di rumah orang tua, dewasa mengungsi ke lembaga pernikahan, tua mengungsi di rumah sakit), dan juga bertanya serupa. Objek sekaligus subjek yang dikejar dalam hidup memang bermacam-macam. Ada yang mencari kekayaan, ada yang mengejar keterkenalan, ada yang lapar dengan kekaguman orang, ada yang demikian seriusnya di jalan-jalan spiritual sampai mengorbankan hampir segala-galanya. Dan tentu saja sudah menjadi hak masing-masing orang untuk memilih jalur bagi diri sendiri.
Namun yang paling banyak mendapat pengikut adalah mereka yang berjalan atau berlari memburu kekayaan (luar maupun dalam). Pedagang, pengusaha, pegawai, pejabat, petani, tentara, supir, penekun spiritual sampai dengan tukang sapu, tidak sedikit kepalanya yang diisi oleh gambar-gambar hidup agar cepat kaya. Sebagian malah mengambil jalan-jalan pintas.
Yang jelas, pilihan menjadi kaya tentu menjadi sebuah pilihan yang bisa dimengerti. Terutama dengan kaya materi manusia bisa melakukan lebih banyak hal. Dengan kekayaan di dalam, manusia bisa berjalan lebih jauh di jalan-jalan kehidupan. Dan soal jalur menjadi kaya mana yang akan ditempuh, pilihan yang tersedia memang amat melimpah. Dari jualan asuransi, ikut MLM, memimpin perusahaan, jadi pengusaha sampai dengan jadi pejabat tinggi. Namun, salah seorang bijak dari Timur pernah menganjurkan sebuah jalan: Contentment is the greatest wealth. Tentu agak unik kedengarannya terutama di zaman yang serba penuh dengan hiruk-pikuk pencarian keluar. Menyebut cukup, sebagai kekayaan manusia terbesar, tentu bisa dikira dan dituduh miring. Ada yang mengira itu menganjurkan kemalasan, ada yang menuduh anti kemajuan, dan tentu saja tidak dilarang untuk berpikir seperti ini. Cuman, bagi setiap pejalan kehidupan yang sudah mencoba serta berjalan jauh di jalur-jalur “cukup”, segera akan mengerti, memang merasa cukuplah kekayaan manusia yang terbesar. Bukan merasa cukup kemudian berhenti berusaha dan bekerja. Sekali lagi bukan. Terutama hidup serta alam memang berputar mellaui hukum-hukum kerja. Sekaligus memberikan pilihan-pilihan yang mengagumkan, bekerja dan lakukan tugas masing –masing sebaik-baiknya, namun terimalah hasilnya dengan rasa cukup.
Dan ada yang berbeda jauh di dalam sini, ketika tugas dan kerja keras sudah dipeluk dengan perasaan cukup. Tugasnya berjalan, kerja kerasnya juga berputar. Namun rasa syukurnya mengagumkan. Sekaligus membukakan pintu bagi perjalanan kehidupan yang penuh dengan kemesraan. Tidak saja dengan diri sendiri, keluarga, tetangga serta teman. Dengan semua perwujudan Tuhan manusia mudah terhubung ketika rasa syukurnya mengagumkan. Tidak saja dalam keramaian manusia menemukan banyak kawan, di hutan yang paling sepi xeklaipun menemukan banyak teman.
Dalam terang cahaya pemahaman seperti ini, rupanya merasa cukup jauh dari lebih sekedar memaksa diri agar lebih damai. Awalnya, apapun memang diikuti keterpaksaan. Namun begitu merasa cukup nyaman ke sarang laba-laba kehidupan. Dimana semuanya (manusia, binatang,
tetumbuhan, batu, air, awan, langit, matahari, dll) serba terhubung sekaligus menyediakan rasa aman nyaman di sebuah titik pusat.
Orang tua mengajarkan hidup berputar seperti roda. Dan setiap pencaharian kekayaan ke luar yang tidak mengenal rasa cukup, mudah sekali membuat manusia terguncang menakutkan di pinggir roda. Namun di titik pusat, tidak ada putaran. Yang ada hanya rasa cukup yang bersahabatkan hening, jernih sekaligus kaya. Bagi yang belum pernah mencoba, apalagi diselimuti ketakutan, keraguan dan iri hati, hidup di titik pusat berbekalkan rasa cukup memang tidak terbayangkan. Hanya keberanian untuk melatih dirilah yang bisa membukakan pintu dalam hal ini.
Hidup yang ideal memang kaya di luar sekligus di dalam. Dan ini bisa ditemukan orang-orang yang mampu mengkombinasikan antara kerja keras di satu sisi, serta rasa cukup di sisi lain. Bila orang-orang seperti ini berjalan lebih jauh lagi di jalan yang sama, akan datang suatu waktu dimana bahagia dengan hidup yang bodoh di luar, namun pintar mengagumkan di dalamnya. Ini bisa terjadi, karena rasa cukup membawa manusia pelan-pelan mengurangi ketergantungan akan penilaian orang lain. Jangankan dinilai baik dan pintar, dinilai buruk sekaligus bodoh pun tidak ada masalah.
Salah satu manusia yang sudah sampai di sini bernama Susana Tamaro. Dalam novel indahnya berjudul Pergi Ke Mana Hati Membawamu. Ia kurang lebih menulis: ”Kata-kata ibarat sapu”. Ketika dipakai menyapu, lantai lebih bersih namun debu terbang ke mana-mana. Dan hening ibarat lap pel. Lantai bersih tanpa membuat debu terbang. Dengan kata lain , pujian, makian, kekaguman, kebencian dan kata-kata manusia sejenis, hanya menjernihkan sebagian, sekligus memperkotor di bagian lain (seperti sapu). Sedangkan hening di dalam bersama rasa cukup seperti lap pel, bersih, jernih tanpa menimbulkan dampak negatif.
Manusia lain yang juga sampai di sini bernama Chogyum Trungpa, di salah satu karyanya yang mengagumkan (Shambala, the Sacred Path of the Warrior) ia menulis:”This basic wisdom of Shambala is that in this worl, as it is, we can find a good and meaningful human life that will also serve others. This is richness”. Itulah kekayaan yang mengagumkan, bahwa dalam hidup yang sebagaimana adanya (bukan yang seharusnya) kita bisa menemukan kehidupan berguna sekaligus pelayanan bermakna buat pihak lain.
Semakin Kaya Semakin Kurang
(dari: ”A Book of Wisdom”, Tasirun Sulaiman)”Hartamu yang sesungguhnya adalah yang engkau berikan di jalan kebenaran ”. (Hadis Nabi)
Raja Termiskin
Suatu siang seorang guru sufi mendengar keriuhan dan kegaduhan melanda desanya. Teriakan manusia berserakan di udara, ingar bingar dicampur dengan ringkikan kuda, lenguhan sapi dan kerbau, embikan kambing dan lainnya, orang–orang desa sepertinya sedang dicekam rasa takut dan kalut yang sangat. Sang guru sufi yang sedang asyik berzikir di gubuknya pun terusik, hingga diapun berhenti dan ke luar ingin melihat apa yang sedang terjadi.
Dari kejauhan sang guru sufi dapat meihat beberapa tentara kerajaan sedang menjarah uang orang-orang desa. Mereka yang tidak punya uang harus merelakan binatang ternaknya digondol. Mereka yang menentang ditendang atau dihajar. Oleh karena itulah kemudian orang-orang desa berlarian menyeret-nyeret hewan ternaknya agar bisa diselamatkan.
Sang guru sufi kembali masuk ke dalam gubuknya dan melanjutkan zikirnya. Siangnya orang-orang desa mengerumuni gubuk sang guru sufi. Mereka mengeluhkan kekejaman yang dilakukan sang raja.
Entah bagaimana, dua hari kemudian sang guru dijemput seseorang utusan dari raja zalim itu agar datang ke istana. Kabarnya, sang raja zalim itu ingin bertemu dengannya. Kemasyuharan sang guru sufi dalam hal kearifan dan kesalehan membuat sang raja ingin bertemu dengannya. Sesampai di istana, sang guru sufi diantar pengawal menemui raja.
Sang raja sangat senang dengan kedatangan sang guru sufi. Sang raja pun menyilakan duduk dengan senyum lebar. Gigi sang raja terlihat di bawah rerimbunan kumis yang lebat. Setelah berbicara banyak, sang raja pun merasa senang dan puas dengan kearifan sang guru sufi. Lalu sang raja menyuruh pembantunya mengambil satu kantong uang untuk diberikan pada sang guru sufi.
Tapi, apa yang terjadi? Sang guru sufi yang penampilan luarnya sangat sederhana, sebagai seorang darwis, pengemis, tiba-tiba menolak uluran tangan dari sang raja.
Raja sangat heran ketika sang guru sufi berkata ”Saya kira baginda lebih layak menerima pemberian ini”
”Kenapa begitu?” sergah sang raja dengan mata terbelalak keheranan. ”Karena sang rajalah yang termiskin di negeri ini!” jawab sang guru sufi.
Dunia itu Hanya Secuil
Pernahkah kita menolak pemberian orang lain, apalagi dalam bentuk uang tunai, cash? Jawabannya, tidak pernah. Bahkan orang-orang yang uangnya sudah berlimpah pun masih berharap diberi uang. Buktinya soal hadiah yang ujung-ujungnya penipuan itu juga berpangkal keinginan mendapatkan pemberian.
Dalam ungkapan kearifannya masyarakat Barat dikatakan, ”Golden key open every door”. Maksudnya, kalau kita datang dan membawa hadiah atau oleh-oleh, orang akan menerima kita dengan senang hati. Tidak ada istilah penolakan atau ungkapan kebohongan seperti yang pernah diceritakan teman saya.
Teman saya yang kebetulan adalah ketua ikatan remaja masjid, katanya benar-benar kecewa ketika dia mendatangi seorang mubalig untuk sebuah perayaan di masjidnya. Ketika dia datanga ke rumah mubalig itu, katanya sang mubalig sedang tidak ada di rumah, padahal kata panitia sang mubalig ada, kenapa?.
Wallahua’lamu bishawwab, tapi saya percaya dengan ungkapan teman saya itu, katanya karena mungkin bayaran yang diterima tahun lalu tidak sesuai ”tarif” yang diinginkan sang mubalig. Cerita seperti itu bukan hanya saya dengar dari teman saya saja, ternyata di surat kabar juga dalam rubrik surat pembaca saya pernah membacanya.
Jadi ungkapan kearifan masyarakat Barat itu sesungguhnya berlaku juga untuk mubalig tadi. Ia tidak bekerja secara efektif, bahkan boleh dibilang tidak berpengaruh terhadap kewaraan-keinginan terus menjaga kesucian-sang guru sufi.
Kenapa sang guru sufi yang darwis dengan kehidupan sangat sederhana, bahkan meminjam istilah developer (pengembang) triple s, sangat-sangat sederhana, ternyata menolak pemberian itu? Jawabannya, tidak lain adalah kesucian hati dan jiwa. Dia tidak ingin zikir yang dilakukannya siang malam hanya untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, Swt, sirna begitu saja karena harta yang tidak halal itu.
Guru sufi sudah merasakan kecukupan dengan bisa hidup tenteram dan damai dalam rengkuhan cinta ilahi. Hati dan jiwanya begitu terang dalam dekapan cahaya cinta Ilahi. Sehingga dia tidak menginginkan yang lainnya. Maqam (tingkatan) paling tinggi, dimana hubungan seorang hamba begitu dekat antara dirinya dan Allah, Swt. Inilah bentuk dari segala kebahagiaan yang didambakannya.
Sekaya apa pun dan seberapa banyak harta yang dimiliki seseorang, apalagi diperoleh dengan cara-cara yang tidak dibenarkan agama, seperti: memeras, merampok, korupasi, suap dll, adalah bentuk kemiskinan yang sesungguhnya. Semakin bertambah hartanya, rasa kurangnya juga bertambah.
Kenapa sang guru sufi mengatakan kalau rajalah yang layak atas uang itu?. Sang guru sufi melihat keserakahan merasuki sang raja akan kekayaan duniawi. Padahal menurut pandangan dan keyakinan sufi kekayaan duniawi itu hanya secuil.
Lalu yang secuil saja diambil dengan cara –cara yang kotor seperti menjarah dan memeras. Lalu berapa nilainya kalau begitu?. Tidak ada.
Tentang lemewahan, kemegahan dan kenikmatan dunia, Rasulullah Saw pernah bersabda dengan menyatakan bahw aperumpamaannya adalah mirip air yang tersisa di jari telunjuk setelah dicelupkan ke dalam lautan.
“Wabah Virus” Ketidakjujuran
(dari: ”A Book of Wisdom”, Tasirun Sulaiman)“Dan manusia itu ssungguhnya mencintai yang serba cepat” (QS Al-Qayimah - 75 : 20 )
Susu dan Air
Seperti biasa khalifah Umar r.a. keliling di malam hari untuk memerikas keadaan kaum Muslimin. Ketika beliau sedang melintasi sebuah rumah seorang janda, tiba-tiba harus menghentikan langkahnya. Sang Khalifah kemudian mengendap-endap dan mendengar sebuah percakapan dari dalam rumah.
”Nak, campuri saja susunya dengan air biar banyak,” kata sang ibu.
”Jangan bu, karena khalifah Umar telah mengeluarkan peraturan, dan kita tidak boleh melanggarnya,” jawab si anak.
” Tidak apa nak, kan Khalifah Umar r.a tidak mengetahuinya,” timpal sang ibu.
”Benar bu, Khalifah Umar tidak melihatnya, tapi Allah Swt, mengetahuinya”. Jawab si anak.
Percakapan mereka malam itu membuat hati Khalifah Umar benar-benar terharu. Beliau selalu memikirkan kejadian tersebut dan penasaran ingin mengetahui lebih jauh.
Karenanya, keesokannya Khalifah Umar megutus pembantunya untuk menyelediki lebih detil lagi keadaan penghuni rumah itu: Khalifah ingin tahu dan menegaskan siapakah mereka itu sebenarnya?
Setelah menyelidiki dan mendapatkan gambaran keluraga itu, akhirnya diketahui kalau sang ibu itu adalah seorang janda dan anak putrinya adalah seorang gadis.
Khalifah Umar r.a. kemudian memanggil putranya Ashim. Ketika Ashim mendekat, beliau berkata: ”Pergilah putraku, temui seorang gadis. Ayah mengenalnya ketika sedang berkeliling. Nikahilah dia. Ayah berharap dia akan melahirkan seorang pahlawan yang mau memimpin kejayaan Islam kelak”. Ashim kemudian menuju rumah gadis itu lalu melamarnya. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak perempuan. Singkat cerita, anak perempuan itu kemudian dinikahi Abdul Aziz bin Marwan dan dari pernikahan mereka lahir seorang anak laki-laki bernama Umar bin Abdul Aziz, seorang Khalifah yang sangat harum namanya karena kejujuran dan keadilannya.
”Bermain Api” dengan ketidakjujuran
Masih perlukah sikap jujur, di negeri dimana moral sudah tidak lagi bersendi? Moral sudah berserak-serak?. Korupsi dimana-mana: dari birokrasi hingga lembaga perwakilan, dari pusat sampai ke desa, dari pejabat tinggi sampai RT. Apakah tidak merugi kita bersikap jujur?.
Kejujuran adalah bawaan lahir manusia. Manusia betapapun rusak akhlaknya, tetap mencintai kejujuran. Seorang penjahat sungguh tidak pernah menginginkan anaknya menjadi penjahat. Seorang penipu tidak pernah terlintas dalam pikirannya agar anaknya menjadi penipu juga. Bahkan seorang koruptor juga tidak ingin anaknya melanjutkan karir sebagai koruptor.
Mereka yang tidak jujur sebenarnya memiliki rasa bersalah. Mereka lantas menyalahkan keadaan: blaming the others. Seperti menyalahkan punya anak banyak. Punya istri banyak. Teman-temannya juga koruptor. Keadaan memaksa kalau tidak korup tidak akan langgeng menduduki jabatan karena jabatan itu menjadi transaksi korupsi.
Kenapa korupsi merajalela?. Karena moral dan kejujuran sudah tidak dibudayakan. Moral dan kejujuran sebagai hiasan dan formalitas saja. Nama boleh diawali dengan Haji, KH, DR, SH, apalagi gelar-gelar yang mencerminkan manusia berpendidikan dan mengerti apa itu etika-kaidah benar dan salah-tapi kalau sudah berdekatan dengan masalah uang, langsung meleleh. Berubah warna dan pudar.
Manusia juga sesungguhnya menyukai cara-cara yang instan dan cepat untuk mencapai tujuannya. Akhirnya, demi mencapai tujuan, cara apa pun bisa ditempuh. Apakah bertentangan dengan moral dan ajaran agama, itu tidak penting lagi. Yang penting adalah bagaimana saya mendapat keuntungan sebesar-besarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Masalah orang lain menderita kerugian itu urusan lain.
Sekilas, ketidakjujuran terlihat menguntungkan, tapi sesungguhnya ketidakjujuran justru awal dari kejatuhan. Tidak saja kejatuhan moral dan integritas, tetapi kajatuhan ruhani. Bahkan, bisa dikatakan kebangkrutan ruhani. Kalau terus menerus tidak jujur, lama-lama dia akan hancur.
Jalan kejujuran itu mirip dengan istilah jalan yang benar: jalan benar bukan berarti lurus seperti jalan tol. Tapi bisa jadi jalan yang benar itu berkelok-kelok. Sementara itu ketidakjujuran mirip dengan jalan pintas yang mengahantarkan seseorang tapi membahayakan. Ketidakjujuran terlihat dari luarnya menguntungkan, tapi sesungguhnya merugikan karena mengorbankan sesuatu yang paling berharga sebagai mansuia: concience atau hati nurani. Orang yang tidak jujur selalu bertentangan dan bertarung dengan dirinya. Oleh karenanya, dia tidak akan pernah merasakan kepuasan dan kebahagiaan hidup.
Sekali seseorang berlaku tidak jujur, maka dia juga akan melakukan hal yang sama untuk kasus-kausus lainnya. Jadi, ketidakjujuran ibarat bara api yang akan merembet dan menghabiskan gulungan kayu, bahkan hutan. Susah dihentikan. Hati –hatilah dengan perbuatan tidak jujur, meski hanya sekali.
Otoritas Alamiah dan Moral
(dari: The 8th Habit, Stephen R. Covey)Apa itu otoritas moral? Otoritas moral adalah pemanfaatan kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih berdasarkan suatu prinsip. Dengan kata lain, bila kita mengikuti prinsip-prinsip dalam hubungan kita dengan sesama kita, kita seperti sedang memasuki wilayah perizinan alam. Hukum alam (seperti gravitasi) dan prinsip-prinsip (seperti rasa hormat, kejujuran, kebaikan, hati, integritas, pelayanan dan keadilan) mengendalikan akibat dari pilihan-pilihan kita. Sebagaimana anda mendapatkan udara dan air yang tercemar kalau anda terus menerus bersikap tidak baik dan tidak jujur kepada orang lain. Dengan pemnafaatan kebebasan dan kemampuan untuk memilih secara bijaksana, dan didasari dengan prinsip-prinsip yang baik, orang yang rendah hati akan memperolah otoritas moral terhadap orang-orang, budaya, organisasi, maupun seluruh masyarakatnya.
Nilai adalah norma sosial, yang bersifat personal, emosional, subyektif, dan dapat diperdebatkan. Kita semua punya nilai-nilai. Bahkan kriminal pun punya nilai-nilai. Pertanyaan yang harus anda ajukan terhadap diri sendiri adalah, apakah nilai-nilai anda didasarkan atas prinsip?. Bila anda runut sampai ujungnya, anda akan menemukan bahwa prinsip-prinsip tersebut adalah hukum alam, yang bersifat impersonal, faktual, objektif dan jelas dari sananya. Berbagai akibat atau konsekuensi ditentukan oleh prinsip, perilaku ditentukan oleh nilai, karena itu hargailah prinsip-prinsip itu! Orang yang terobsesi dengan ketenaran, adalah contoh dari mereka yang nilai-nilainya mungkin tidak mengakar kuat pada prinsip. Popularitas membentuk pusat moral mereka. Dengan kata lain, keinginan untuk tenar dan tetap tenar menghalalkan segala cara. Mereka tidak tahu sebenarnya siapa mereka itu, dan tidak tahu ke mana sebenarnya arah ”utara” yang benar. Mereka tidak tahu prinsip mana yang harus diikuti, karena kehidupan mereka didasarkan pada nilai-nilai sosial. Mereka tercabik karena tegangan antara kesadarannya akan tuntutan sosial dan kesadaran diri mereka di satu pihak, dan hukum alam dan prinsip di pihak lain. Bila sedang ada dalam pesawat terbang, keadaan seperti itu disebut vertigo. Dalam keadaan itu, Anda kehilangan arah atau acuan ke darat (yang dalam hal ini berarti prinsip) sehingga anda jadi benar-benar bingung dan tersesat. Banyak orang yang menjalankan hidup mereka dengan semacam vertigo, atau kebingungan moral. Anda menyaksikan mereka dalam kehidupan anda dan dalam budaya populer. Mereka tidak mau bersusah payah untuk benar-benar memusatkan dan mendasarkan nilai-nilai mereka pada prinsip-prinsip yang abadi.
Karena itu, tugas pokok kita adalah menentukan di mana ”utara yang sesungguhnya” dan kemudian mengarahkan segalanya ke situ. Kalau tidak, anda akan hidup dengan berbagai konsekuensi negatif yang pasti akan muncul. Sekali lagi, konsekuensi negatif itu tak terelakan karena walau nilai mengendalikan tingkah laku, prinsiplah yang mengendalikan tingkah laku itu. Otoritas moral menuntut pengorbanan atas kepentingan egoistik berjangka pendek, dan keberanian untuk meletakkan nilai-nilai sosial di bawah prinsip-prinsip. Dan nurani kita adalah gudang dari prinsip-prinsip tersebut.
Nurani
Berupayalah untuk mempertahankan percikan api ilahi yang disebut nurani itu tetap menyala (George Washington).
Banyak yang telah dikatakan mengenai pentingnya nurani atau suara hati. Ada banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa nurani-yaitu kesadaran moral kita, cahaya batin kita-merupakan fenomena yang bersifat universal. Kodrat rohani dan kodrat moral manusia itu terlepas dari agama, atau pendekatan agama, budaya, geografi, nasionalitas atau ras tertentu. Kendati demikian, semua tradisi agama besar di dunia ini bertemu di dalam prinsip atau nilai dasar tertentu.
Immanuel Kant berkata, ”Saya selalu dibuat kagum oleh dua hal: langit berbintang-bintang di atas kita, dan hukum moral di dalam diri kita.” Nurani adalah hukum moral di dalam diri kita. Banyak orang yang percaya, demikina juga saya, bahwa nurani adalah suara Tuhan kepada anak-anakNya. Orang lain mungkin saja tidak memiliki keyakinan seperti ini, tetapi tetap mengakui adanya suatu pemahaman yang sudah mereka bawa sejak lahir mengenai kejujuran dan keadilan, mengenai benar dan salah, mengenai apa yang baik dan buruk, mengenai apa yang mendukung dan apa yang mengganggu, mengenai apa yang memperindah dan apa yang merusak, mengenai apa yang benar dan salah. Tentu saja, berbagai budaya yang berbeda menerjemahkan pemahaman moral dasar ini dalam berbagai praktik dan istilah yang berbeda pula, tetapi terjemahan yang berbeda-beda itu tidak meniadakan pemahaman dasar mengenai baik dan buruk.
Ketika bekerja di antara bangsa-bangsa yang menganut beragam agama dan budaya, saya menyaksikan penyingkapan nurani yang bersifat universal itu. Nurani itu sesungguhnya adalah seperangkat nilai, suatu kesadaran mengenai keadilan, kejujuran, rasa hormat, dan sumbangan yang mengatasi budaya-sesuatu yang abadi, yang mengatasi jaman, dan tidak memerlukan bukti lain (self evident). Sekali lagi, hal itu sama jelasnya dengan fakta bahwa kepercayaan menuntut sifat dapat dipercaya.
”Nurani rela berkorban”-mengalahkan diri sendiri dan menundukkan ego demi tujuan, alasan atau prinsip yang lebih tinggi. Pengorbanan itu sesungguhnya berarti melepaskan sesuatu yang baik demi sesuatu yang lebih baik lagi. Kendati demikian dalam benak orang yang melakukan pengorbanan, sesungguhnya tidak ada kerugian, dan hanya si pengamat yang melihat hal itu sebagai pengorbanan.
Pengorbanan itu bisa mengambil banyak bentuk, sebagaimana dia dapat menampakkan diri dalam empat dimensi kehidupan kita: berkorban secara fisik dan ekonomis (tubuh); berupaya mengembangkan pikiran yang terbuka, selalu ingin tahu; dan membersihkan diri dari bermacam prasangka (pikiran); menunjukkan rasa hormat dan cinta mendalam terhadap sesama (hati); menundukkan kehendak diri kita kepada kehendak yang lebih tinggi demi kebaikan yang lebih besar (jiwa).
Nurani megajarkan kepada kita bahwa tujuan dan cara mencapainya tidak terpisahkan, bahwa tujuan sesungguhnya sudah ada sebelumnya dalam cara mencapainya. Immanuel Kant mengajarkan bahwa cara yang digunakan untuk mencapai tujuan sama pentingnya dengan tujuan itu sendiri. Machiavelli mengajarkan sebaliknya, tujuan membenarkan, dan karen itu juga menghalalkan segala cara.
Nurani terus menerus mengingatkan kita akan nilai-nilai dari tujuan maupun cara mencapainya, dan bahwa keduanya tidak terpisahkan. Ego mengatakan kepada kita bahwa tujuan membenarkan caranya, karena ego tidak sadar bahwa tujuan mulia tidak akan pernah dapat diraih dengan cara yang tidak semestinya. Mungkin tampaknya anda bisa mencapai tujuan mulia dengan cara yang tidak semestinya, tetapi akan ada sekian banyak konsekuensi yang tidak diharapkan, yang sebelumnya tidak tampak atau tidak jelas, yang pada akhirnya akan menghancurkan tujuan itu sendiri. Misalnya, anda dapat meneriaki anak anda untuk membersihkan kamarnya. Bila tujuan anda adalah ”kamarnya jadi bersih”, mungkin anda mencapai tujuan itu, tapi ya hanya itu. Saya jamin, cara yang anda pakai itu tidak akan hanya berpengaruh negatif terhadap hubungan anda
jadi saling tergantung. Ketika hal ini terjadi segala sesuatunya jadi berubah, anda memahami bahwa visi dan nilai harus disebarkan agar menjadi milik bersama, sebelum orang-orang bisa menerima menjadi disiplin yang dilembagakan dalam struktur dan sistem yang mengemban nilai-nilai bersama itu. Visi bersama itu akan menciptakan disiplin dan keteraturan tanpa menuntutnya. Nurani sering menyediakan alasan (kenapa); visi mengidentifikasi apa yang hendak dicapai; disiplin mewakili bagaimana anda mencapainya; dan gairah mewakili kekuatan perasaan dibalik kenapa, apa dan bagaimana tadi.
Nurani mengubah gairah menjadi belarasa atau welas asih (compassion). Dia membangkitkan perhatian tulus kepada orang lain, suatu kombinasi antara simpati dan empati, sehingga kita bisa merasakan penderitaan orang lain. Belarasa adalah perwujudan gairah dalam keterkaitan kita dengan orang lain.
Bila kita berusaha untuk hidup menurut nurani kita, nurani itu akan membangkitkan integritas dan ketenangan pikiran. Seorang pastor projo kelahiran Jerman yang sekaligus juga pembicara dan penulis yang membangkitkan motivasi, William J.H. Boetcker, pada awal abad kedua puluh mengatakan, ”Bila anda akan mempertahankan rasa hormat anda terhadap diri sendiri, lebih baik membuat orang lain tidak senang dengan melakukan hal-hal yang anda ketahui salah.” Kehormatan dan integritas itu pada gilirannya akan membuat orang yang memilikinya mampu menjadi baik hati sekaligus berani. ” Baik hati dalam arti bahwa dia akan menunjukkan rasa hormat yang mendalam terhadap orang lain, terhadap pandangan, perasaan, pengalaman, dan keyakinan mereka”. Berani dalam arti bahwa mereka dapat mengemukakan keyakinan mereka sendiri tanpa ancaman pribadi. Benturan di antara berbagai pendapat yang berbeda bisa menghasilkan alternatif ketiga, yang lebih baik daripada gagasan pertama yang muncul. Ini merupakan sinergi yang sesungguhnya, dimana keseluruhannya lebih besar daripada jumlah total bagian-bagiannya.
Orang yang tidak hidup dari nuraninya tidak akan mengalami integritas batiniah dan ketenangan pikiran. Ego mereka akan terus berusaha mengendalikan hubungan dengan orang lain. Kendati barangkali mereka bisa berpura-pura baik hati dan berempati, mereka akan menggunakan manipulasi halus, bahkan bisa lebih jauh terlibat dalam perilaku diktator, yang sepintas lalu kelihatan baik, tetapi sesungguhnya tidak.
Modul 2
Topik: Pemberdayaan Perempuan dan Laki-laki
1. Peserta mampu memetakan kualitas perempuan dan kulitas laki-laki 2. Peserta memahami dan menyadari
• Kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai manusia
• Pemberdayaan yang harus dilakukan kepada perempuan dan laki-laki
Diskusi pemberdayaan laki-laki dan permepuan
2 Jpl (90 ’)
Bahan Bacaan:
Analisa Gender dan Ketidakadilan
• Kerta Plano
• Kuda-kuda untuk Flip-chart • LCD
• Metaplan
• Papan Tulis dengan perlengkapannya • Spidol, selotip kertas dan jepitan besar
Diskusi Pemberdayaan Laki-Laki dan Perempuan
1) Buka pertemuan dengan salam singkat dan uraikan bahwa kita akan memulai Modul , 2 yaitu membahas kulaitas perempuan dan laki-laki dan apa yang akan dicapai melalui modul ini, yaitu:
• Peserta bisa memetakan kualitas perempuan dan kualitas laki-laki • Peserta menyadari kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai manusia
• Peserta mengetahui pemberdayaan yang harus dilakukan kepada perempuan dan laki-laki 2) Jelaskan kepada peserta bahwa kita akan memulai kegiatan 1 dalam modul ini, yaitu berdiskusi
mengenai sifat perempuan dan laki-laki.
3) Bagilah peserta ke dalam 2 kelompok laki-laki dan perempuan (apabila peserta laki-laki dan perempuan tidak berimbang, maka kelompok bisa dibagi sama jumlahnya tanpa memperhatikan jenis kelamin). Berilah tugas kepada kelompok:
• Kelompok laki-laki mendiskusikan sifat-sifat dan kapasitas yang dipunyai oleh perempuan • Kelompok perempuan mendiskusikan sifat-sifat dan kapasitas yang dipunyai oleh laki-laki 4) Mintalah kepada wakil kelompok untuk mendiskusikan hasil diskuinya, kemudian minta peserta
lain untuk mennanggapi.
5) Ajak peserta untuk membandingkan dengan kualitas manusia sejati yang sudah didiskusikan dalam modul 1 , dengan membuat tabel seperti berikut: (sebaiknya tabel sudah disiapkan sebelumnya dalam kertas plano, tabel sifat manusia diisi dengan hasil diskusi pada modul 1
Kulalitas laki-laki Kualitas manusia sejati Kualitas perempuan Sifat-sifat
6) Ajak peserta untuk membandingkan antara kualitas perempuan dan kualitas manusia sejati (baik dari sisi perilaku maupun dari sisi kapasitas), apakah sama atau ada perbedaan/ ketimpangan? Bahas dan diskusikan ketimpangan-ketimpangan bersama peserta.
7) Ajak peserta untuk membandingkan antara kualitas laki-laki dan kualitas manusia sejati , apakah sama atau ada perbedaan. Bahas dan diskusikan bersama perbedaan-perbedaan menurut mereka kemudian diskusikan sama-sama.
8) Ingatkan kepada peserta mengenai manusia yang berdaya sejati pada modul 1, yaitu manusia yang mempunyai ‘makna’ (bermanfaat) bagi kemaslahatan umat. Apakah perempuan dan laki-laki sudah berdaya sebagai manusia sejati? Mengapa demikian?
9) Jelaskan perumpamaan kepada peserta, burung terbang dengan dua sayap, bagaimana seandainya salah satu sayap tidak kuat. Apakah burung itu akan bisa terbang dengan sempurna? Apabila perempuan adalah sayap kiri dan laki-laki sayap kanannya, maka kehidupan juga akan timpang. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan perlu diberdayakan.
10) Dari sisi kapasitas, perempuan masih banyak ketinggalan dibandingkan dengan laki-laki. Kesempatan bagi kaum perempuan untuk meningkatkan kapasitasnya masih kurang dibandingkan dengan laki-laki (Ingatkan kembali peserta pada hasil diskusi perempuan dan kemiskinan pada tema Tantangan). Tanyakan kepada peserta mengapa hal ini terjadi? Ajak peserta untuk mendiskusikan paradigma-paradigma yang berkembang selama ini mengenai perempuan dan laki-laki yang menunjukkan adanya bias jender.
Sebagai manusia perempuan dan laki-laki mempunyai akal sehat, hati nurani, dan pilihan bebas, jadi tidak ada perbedaan yang hakiki antara perempuan dan laki-laki. Oleh karena itu kedua-duanya seharusnya dapat menjadi manusia yang berdaya dan mendapat kesempatan yang sama untuk diberdayakan. Perbedaan perempuan yang kodrati dengan laki-laki hanyalah dalam soal biologis, perempuan secara kodrati mempunyai kemampuan untuk menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui sedangkan laki-laki dikodratkan untuk menghasilkan sperma dan menghamili.Kodrat adalah ketentuan Tuhan yang tidak bisa dipertukarkan oleh manusia dan bersifat permanen. Walaupun saat ini ada operasi jenis kelamin, laki-laki yang merubah jenis kelaminnya menjadi perempuan tetap saja tidak bisa menstruasi, mengandung dan melahirkan. Pembedaan-pembedaan yang selama ini terjadi antara perempuan dan laki-laki disebabkan oleh adanya konstruksi secara sosial dan kultural. Sehingga timbul paradigma-paradigma bahwa perempuan itu lemah lembut, emosional, keibuan. Sedangkan laki-laki kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Laki-laki lebih cerdas dibandingkan dengan perempuan, dan lain-lain. Konsep mengenai sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan sebagai hasil dari konstruksi sosial maupun kultural inilah yang merupakan konsep jender. Konsep mengenai sifat-sifat perempuan dan laki-laki di atas menyebabkan bias gender dan menyebabkan ketidakadilan, baik bagi kaum perempuan maupun kaum laki-laki. Anggapan bahwa kelembutan hanya melekat pada kaum perempuan menyebbakan pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan kelembutan seperti membersihkan rumah, menari dan sebagainya dianggap sebagai “pekerjaan perempuan”. Di lain pihak anggapan bahwa kekuatan secara fisik, keperkasaan melekat pada kaum laki-laki, menyebabkan laki-laki dididik untuk agresif, menyelesaikan masalah dengan kekuatan fisik, bersaing dan sebagainya yang malah menjauhkan dari sifat manusia sejati. Padahal berbicara mengenai sifat laki-laki dan perempuan , seharusnya kita mengacu kepada sifat-sifat yang dipunyai oleh manusia sejati, karena sebagai manusia perempuan dan laki-laki mempunyai derajat dan martabat yang sama. Oleh karena itu dalam kaitan dengan pemberdayaan, baik perempuan dan laki-laki mestinya diberdayakan untuk menuju kualitas manusia yang sejati, karena secara hakiki perempuan dan laki-laki mempunyai martabat yang sama sebagai manusia.
Kulitas perempuan saat ini (sifat dan kapasitas) Pemberdayaan yang harus dilakukan Kualitas laki-laki selama ini (sifat dan kapasitas) Pemberdayaan yang harus dilakukan
Beri penekanan bahwa fasilitator harus mendorong dan memfasilitasi pemberdayaan baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Slide 1 Slide 2
Slide 5 Slide 6
Slide 7 Slide 8
Slide 11 Slide 12
Analisa Gender dan Ketidakadilan
(Disarikan dari buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Dr. Mansour Fakir)
Konsep penting yang harus dipahami dalam rangka membahas masalah kaum perempuan adalah membedakan antara konsep seks (jenis kelamin-penulis), dan konsep gender. Pemahaman dan pembedaan antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan-persoalan ketidakadilan sosial yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (gender differences) dan ketidakadilan gender (gender inequalities) dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian pemahaman dan pembedaan yang jelas antara konsep seks dan gender sangat diperlukan dalam membahas ketidakadilan sosial. Maka sesungguhnya terjadi keterkaitan antara persoalan gender dengan persoalan ketidakadilan sosial lainnya.
Apakah Gender itu?
Sejak beberapa tahun terakhir, kata gender telah memasuki perbendaharaan di setiap diskusi dan tulisan sekitar perubahan sosial dan pembangunan di dunia ketiga. Dari pengamatan, masih terjadi ketidakjelasan, kesalahpahaman tentang apa yang dimaksud dengan konsep gender dan kaitannya dengan emansipasi kaum perempuan. Setidak-tidaknya ada beberapa penyebab terjadinya ketidakjelasan tersebut. Kata gender dalam bahasa Indonesia dipinjam dari bahasa Inggris. Kalau dilihat dalam kamus tidak jelas dibedakan antara sex dan gender. Sementara itu, belum ada uraian yang mampu menjelaskan secara singkat dan jelas mengenai konsep gender dan mengapa konsep ini penting guna memahami sistem ketidakadilan sosial. Dengan kata lain timbulnya ketidakjelasan itu disebabkan oleh kurangnya penjelasan tentang kaitan antara konsep gender dengan masalah ketidakadilan lainnya.
Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Pengertian jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. Misalnya, bahwa manusia jenis laki-laki adalah manusia yang memiliki atau bersifat seperti: laki-laki adalah manusia yang mempunyai penis, memiliki jakala (kala menjing) dan memproduksi sperma. Sedangkan perempuan mempunyai alat reproduksi seperti rahim dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, meiliki vagina, dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada mansusia jenis perempuan dan laki-laki selamanya. Artinya secara biologis alat-alat tersebut tidak bisa dipertukarkan antara alat biologis yang melekat pada manusia laki-laki dan perempuan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan atau kodrat.
Sedangkan konsep lainnya adalah konsep gender, yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap: kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri dan sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional, perkasa. Perubahan ciri dan sifat-sifat itu dapat tejadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain. Misalnya saja zaman dahulu di suatu suku tertentu perempuan lebih
kuat. Juga perubahan bisa terjadi dari suatu kelas ke kelas masyarakat yang berbeda. Di suku tertentu, perempuan kelas bawah di pedesaan lebih kuat dibandingkan kaum laki-laki. Semua hal yang dapat dipertukarkan antara perempuan dan laki-laki, yang bisa berubah dari waktu ke waktu serta berbeda dari tempat ke tempat lainnya, maupun berbeda dari suatu kelas kepada kelas lainnya, itulah yang dikenal sebagai konsep gender.
Sejarah perbedaan gender (gender differences) antara manusia jenis laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu terbentuknya perbedaan-perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, di antaranya dibentuk dan disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial ataupun kultural. Melalui proses panjang, sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap menjadi ketentuan Tuhan-seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi, sehingga perbedaan-perbedaan gender dianggap sebagai kodrat laki-laki dan perempuan. Sebaliknya melalui dialektika, konstruksi sosial yang tersosialisasikan secara evolusional dan perlahan-lahan mempengaruhi biologis masing-masing jenis kelamin. Misalnya, karena konstruksi sosial gender, kaum laki-laki harus bersifat kuat dan agresif maka kaum laki-laki kemudian terlatih dan tersosialisasi serta termotivasi untuk menjadi atau menuju ke sifat gender yang ditentukan oleh suatu masyarakat, yakni secara fisik lebih kuat dan lebih besar. Sebaliknya, karena kaum perempuan harus lemah lembut, maka sejak bayi proses sosialisasi tersebut tidak saja berpengaruh kepada perkembangan emosi dan visi serta ideologi kaum perempuan, tetapi juga mempengaruhi perkembangan fisik dan biologis selanjutnya. Karena proses sosialisasi dan rekonstruksi berlangsung secara mapan dan lama, akhirnya menjadi sulit dibedakan apakah sifat-sifat gender itu, dikonstruksi oleh masyarakat atau kodrat biologis yang ditetapkan oleh Tuhan. Namun, dengan menggunakan pedoman bahwa sifat bisanya melakat pada jensi kelamin tertentu dan sepanjang sifat-sifat tersebut bisa dipertukarkan, maka sifat tersebut adalah hasil konstruksi masyarakat, dan sama sekali bukanlah kodrat.
Dalam menjernihkan perbedaan antara seks dan gender ini, yang menjadi masalah adalah, terjadi kerancuan dan pemutarbalikan makna tentang apa yang disebut seks dan gender. Dewasa ini terjadi peneguhan pemahaman yang tidak pada tempatnya di masyarakat, dimana apa yang sesungguhnya gender, karena pada dasarnya konstruksi sosial-justru dianggap sebagai kodrat yang berarti ketentuan biologis atau ketentuan Tuhan. Justru sebagian besar yang dewasa ini sering dianggap sebagai ”kodrat wanita” adalah konstruksi sosial dan kultural atau gender. Misalnya saja sering diungkapkan bahwa mnedidik anak, mengelola dan merawat kebersihan dan keindahan rumah tangga atau urusan domestik sering dianggap sebagai ”kodrat wanita”. Padahal kenyataannya, bahwa kaum perempuan memiliki peran gender dalam mendidik anak, merawat dan mengelola kebersihan dan keindahan rumah tangga adalah konstruksi kultural dalam masyarakat tertentu. Oleh karena itu, boleh jadi urusan mendidik dan merawat kebersihan rumah tangga bisa dilakukan oleh kaum laki-laki. Oleh karena jenis pekerjaan itu bisa dipertukarkan dan tidak bersifat universal, apa yang sering disebut sebagai ”kodrat wanita” atau ”takdir Tuhan atas wanita” dalam kasus mendidik anak dan mengurus rumah tangga, adalah gender.
Perbedaan Gender Melahirkan Ketidakadilan
Perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender (gender inequalities). Namun, yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi kaum laki-laki dan terutama terhadap kaum perempuan. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana laki-laki dan perempuan menjadi korban dari sistem tersebut. Untuk memahami bagaimana perbedaan gender menyebabkan ketidakadilan gender, dapat dilihat melalui pelbagai manifestasi ketidakadilan yang
Manifestasi ketidakadilan gender tidak bisa dipisah-pisahkan, karena saling berkaitan dan berhubungan, saling mempengaruhi dialektis . tidak ada satupun manifestasi ketidakadilan gender yang lebih penting, lebih esensial dari yang lain. Misalnya marginalisasi ekonomi kaum perempuan , yang akhirnya tersosialisasikan dalam keyakinan, ideologi dan visi kaum perempuan sendiri. Dengan demikian, kita tidak bisa menyatakan bahwa marginalisasi kaum perempuan adalah menentukan dan terpenting dari yang lain dan oleh karen itu perlu mendapatkan perhatian lebih. Atau sebaliknya, bahwa kekerasan fisik (violence) adalah masalah yang paling mendasar yang harus dipecahkan terlebih dahulu.
Gender dan Marginalisasi Perempuan
Proses marginalisasi, yang mengakibatkan kemiskinan, sesungguhnya banyak sekali terjadi dalam masyarakat dan negara yang menimpa kaum laki-laki dan perempuan, yang disebabkan oleh pelbagai kejadian, misalnya penggusuran, bencana alam atau proses eksploitasi. Namun ada salah satu bentuk pemiskinan atas satu jenis kelamin tertentu, dalam hal ini perempuan disebabkan oleh gender. Ada beberapa perbedaan jenis dan bentuk, tempat dan waktu serta proses marginalisasi kaum perempuan karena perbedaan gender tersebut. Dari segi sumberdaya bisa berasal dari kebijakan pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, tradisi dan kebiasaan atau bahkan asumsi ilmu pengetahuan.
Banyak studi telah dilakukan dalam rangka membahas program pembangunan pemerintah yang menjadi penyebab kemiskinan kaum perempuan. Misalnya, program swa sembada pangan atau revolusi hijau secara ekonomis telah menyingkirkan kaum perempuan dari pekerjaannya sehingga memiskinkan mereka. Di Jawa misalnya, program revolusi hijau dengan memperkenalkan jenis padi unggul yang tumbuh lebih rendah, dan pendekatan panen dengan sistem tebang menggunakan sabit, tidak memungkinkan lagi panenan dengan ani-ani, padahal alat tersebut melekat dan digunakan oleh kaum perempuan. Akibatnya banyak kaum perempuan miskin di desa termarginalisasi, yakni semakin miskin dan tersingkir karena tidak mendapatkan pekerjaan di sawah pada musim panen. Berarti program revolusi hijau dirancang tanpa mempertimbangkan aspek gender.
Marginalisasi kaum perempuan tidak saja terjadi di tempat pekerjaan, juga terjadi dalam rumah tangga, masyarakat atau kultur dan bahkan negara. Marginalisasi terhadap perempuan sudah terjadi sejak di rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga laki-laki dan perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat dan keagamaan. Misalnya banyak suku-suku di Indonesia yang tidak memberi hak kepada kaum perempuan untuk mendapatkan hak waris sama sekali.
Gender dan Subordinasi
Pandangan gender ternyata bisa menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, beakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting.
Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari tempat ke tempat dan dari waktu ke waktu. Di Jawa, dulu ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi , toh akhirnya akan ke dapur juga. Bahkan, pemerintah pernah memiliki peraturan bahwa jika suami akan pergi belajar (jauh dari keluarga) dia bisa mengambil keputusan sendiri. Sedangkan bagi istri yang hendak ke tugas belajar ke luar negeri harus seizin suami. Dalam rumah tangga masih sering terdengar jika keuangan keluarga sangat terbatas, dan harus mengambil keputusan untuk menyekolahkan anak-anaknya maka anak laki-laki akan menadapatkan prioritas utama. Praktik seperti itu sesungguhnya berangkat dari kesadaran gender yang tidak adil.
Gender dan Stereotipe
Secara umum stereotipe adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Celakanya strereotipe selalu merugikan dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu jenis stereotipe itu adalah yang bersumber dari pandangan gender. Banyak sekali ketidakadilan terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, yang bersumber dari penandaan (stereotipe) yang dilekatkan kepada mereka. Misalnya, penandaan yang berawal dari asumsi bahwa perempuan bersolek adalah dalam rangka memancing perhatian lawan jenisnya, maka setiap ada kasus kekerasan atau pelecehan seksual selalu diakitkan dengan stereotipe ini. Bahkan jika ada pemerkosaan yang dialami oleh perempuan, masyarakat berkecenderungan menyalahkan korbannya. Masyarakat memiliki anggapan bahwa tugas utama kaum perempuan adalah melayani suami. Stereotipe terhadap kaum perempuan ini terjadi di mana-mana. Banyak peraturan pemerintah, aturan keagamaan, kultur dan kebiasaan masyarakat yang dikembangkan karena stereotipe tersebut.
Gender dan Beban Kerja
Adanya anggapan bahwa kaum perempuan memiliki sifat-sifat memelihara dan rajin, serta tidak cocok untuk menjadi kepala rumah tangga, berakibat bahwa semua pekerjaan domestik rumah tangga menjadi tanggugnjawab kaum perempuan. Konsekuensinya banyak kaum perempuan yang harus bekerja keras dan lama untuk menjaga kebersihan dan kerapian rumah tangganya, mulai dari membersihkan dan mengepel lantai,memasak, mencuci,mencari air untuk mandi hingga memelihara anak. Di kalangan keluarga miskin beban yang sangat berat ini harus ditanggung oleh perempuan sendiri. Terlebih-lebih jika si perempuan tersebut harus bekerja, maka ia memikul beban kerja ganda.
Bias gender yang mengakibatkan beban kerja tersebut seringkali dieprkuat dan disebabkan oleh adanya pandangan atau keyakinan di masyarakat bahwa pekerjaan yang dianggap masyarakat sebagai jenis ”pekerjaan perempuan”, seperti semua pekerjaan domestik, dianggap dan dinilai lebih rendah dibandingkan dengan jenis pekerjaan yang dianggap sebagai ”pekerjaan lelaki”, serta dikategorikan sebagai ”bukan produktif” sehingga tidak diperhitungkan dalam statistik ekonomi negara. Sementara itu kaum perempuan,karena anggapan gender ini, sejak dini telah disosialisasikan untuk menekuni peran gender mereka. Di lain pihak kaum lelaki tidak diwajibkan secara kultural untuk menekuni berbagai jenis pekerjaan domestik itu. Kesemuanya ini telah memperkuat pelanggengan secara kultural beban kerja kaum perempuan.
Modul 3
Topik: Kepemimpinan Masyarakat Manusia
Peserta memahami dan menyadari:
1. Ciri khas pemimpin masyarakat manusia
2. Bahwa pemimpin masyarakat manusia haruslah seorang manusia sejati sesuai dengan martabatnya sebagai mahluk ciptaan yang paling luhur.
Kegiatan 1: Diskusi pemimpin versus pemimpin
Kegiatan 2: Menggambar bersama pemimpin masyarakat menusia Kegiatan 3: Diskusi tipologi kepemimpinan dan pengaruhnya terhadap
pemberdayaan masyarakat
4 Jpl (180’)
Bahan Bacaan:
1. Golongan Pemimpin 2. Bukan Bos Tapi Pemimpin 3. Standar Tunggal Perilaku
4. Sistem Nilai: Meletakkannya Pada Garis 5. Kriteria Kepemimpinan
• Kerta Plano
• Kuda-kuda untuk Flip-chart • LCD
Diskusi Pemimpin versus Pemimpin
1) Buka pertemuan dengan salam singkat kemudian uraikan bahwa kita akan memulai Modul Kepemimpinan Masyarakat Manusia yang terdiri dari 3 Kegiatan Belajar yaitu:
Kegiatan 1: Diskusi Pemimpin versus Pemimpin 60 menit
Kegiatan 2: Menggambar Bersama Pemimpin Masyarakat Manusia 60 menit
Kegiatan 3: Diskusi Tipologi Kepemimpinan dan Pengaruhnya
terhadap Pemberdayaan Masyarakat 60 menit
Dan apa yang ingin dicapai melalui Modul ini yaitu:
Peserta memahami ciri khas seorang pemimpin masyarakat manusia
Peserta menyadari bahwa pemimpin masyarakat manusia haruslah seorang manusia sejati sesuai dengan martabatnya sebagai mahluk ciptaan tertinggi.
Uraikan kemudian bahwa kita akan memulai dengan Kegiatan 1: Diskusi Pemimpin versus Pemimpin. Uraikan secara singkat tujuan yang akan dicapai melalui kegiatan belajar ini, yaitu: Peserta mampu menguraikan dengan kata-kata sendiri perbedaan yang hakiki antara
kepemimpinan masyarakat manusia dan masyarakat binatang
2) Uraikan kasus yg telah disiapkan dan mulailah dgn ucapan maaf bukan dengan maksud merendahkan tetapi lebih dalam rangka membangun pemahaman kritis mengenai kepemimpinan masyarakat manusia.
Peristiwa yang pertama terjadi dalam masyarakat kera yang kehilangan pemimpimnya dan sedang berupaya memilih pemimpin. Peristiwa yang kedua terjadi pada masyarakat manusia yang juga kehilangan pemimpinnya dan sedang berupaya memilih pemimpin juga. Gunakan LK-Kepemimpinan-1. Kemudian bagilah peserta dalam beberapa kelompok 5-7 orang dan mintalah tiap kelompok merumuskan bagaimana kedua masyarakat tersebut akan memilih pemimpin dengan memberikan pertanyaan sebagai berikut:
Untuk masyarakat kera
• Apakah kriteria seorang pemimpin bagi masyarakat kera?
• Bagaimana menentukan mana yang sesuai sebagai pemimpin atau dengan kata lain memenuhi kriteria tersebut