• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 11. TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 11. TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
171
0
0

Teks penuh

(1)

BAB

11.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Data dan Informasi

Davis (1992a:29) dan O'Brien (1990) mendefinisikan data sebagai kelompok teratur simbol-simbol yang menggambarkan fenomena fisik atau suatu transaksi bisnis dan m e ~ p a k a n ukuran objektif dari atribut suatu entitas (objek seperti manusia, tempat, benda, dan kejadian) yang direpre- sentasikan dalam simbol-simbol seperti angka, kata, kode yang terdiri dari gabungan numerik dan karakter.

Informasi adalah data yang diolah dan disajikan ke dalam konteks yang berarti dan bermanfaat dengan cara: (1) m e ~ b a h bentuknya, (2)

menganalisa dan mengevaluasi isinya, (3) menempatkan dalam konteks yang tepat bagi penggunanya (O'Brien, 1990). Dalam dunia yang tidak menentu, informasi mengurangi ketidakpastian dan mempunyai nilai dalam proses keputusan (Davis, 1992a:U).

Data dapat disebut sebagai fakta mentah atau hasil observasi yang masih belum diolah, sehingga dapat dipandang sebagai bentuk primitif dari informasi. Informasi m e ~ p a k a n data yang telah diolah untuk tujuan informatif, argumentatif, dan basis pengambilan keputusan saat ini atau masa yang akan datang. Hubungan antara informasi dengan data adalah seperti bahan baku sampai barang jadi. Nilai informasi berhubungan dengan keputusan, bila tidak ada pilihan atau keputusan, nilai informasi menjadi rendah.

(2)

2.2. Sistem

Terminologi umum dari sistem adalah suatu totalitas yang terdiri dari subsistem-subsistem dengan atribut-atributnya yang satu sama lain saling berkaitan, saling ketergantungan satu sama lain, saling berinterkasi, dan saling pengaruh mempengaruhi secara terorganisir sehingga keselu- mhannya merupakan suatu kebulatan yang utuh serta mempunyai peranan dan tujuan tertentu. Suatu sistem dapat mempakan subsistem dari sistem yang lebih besar.

Dengan demikian, sistem dapat didefinisikan sebagai aktivitas berbagai elemen yang bersifat sinergis dari suatu lingkup organisasi atau lembaga dalam rangka mencapai tujuan. Pencapaian tujuan ini bisa diper- oleh melalui berbagai aktivitas pengolahan data menjadi infonnasi.

2.3. Sistem lnformasi

Sistem informasi adalah sistem terbuka yang melihat keterkaitan berbagai tujuan dalam rangka menghasilkan informasi untuk dimanfaatkan bagi proses-proses yang terjadi dalam sistem itu sendiri (Kroenke,

1992:21). Sistem informasi dapat dikatakan sebagai himpunan dari kelompok orang-orang yang bekerja, prosedur-prosedur. dan sumberdaya peralatan yang mengumpulkan data, mengolahnya, merawat, dan menye- barkan dalam suatu organisasi (O'Brien, 1990).

Mengikuti kecendemngan dalam sistem informasi industri dibutuh- kan pegembangan sistem informasi pada level perusahaan. Dalam ha1 ini, sistem informasi meliputi tiga variabel analisis, yaitu: organisasi, pemsa- haan, dan sistem informasi integratif antar departemen. Sistem informasi

(3)

yang efektif adalah yang dapat membantu pencapaian tujuan (Kroenke, 1992:6). Menurut O'Brien (1990) pada prinsipnya sistem informasi mempunyai tiga peran utama dalam suatu organisasi, yaitu (1) menunjang kegiatan (bisnis) operasional, (2) menunjang manajemen dalam pengambi- lan keputusan, dan (3) menunjang keunggulan strategi kompetitif organisa- si.

Elemen sistem informasi minimal adalah orang, prosedur, dan

data. Sebagai tambahan dapat berupa mesin yang terdiri dari hardware

dan software (program) (Kroenke, 1992:21). "Data" yang dimaksud meli- puti (1) keterkaitan data antar departemen, (2) alternatif data distribusi, dan (3) sistem legal pada sistem distribusi data. "Prosedur" meliputi (1) proses kontrol terhadap manajemen informasi, (2) mengawasi, mengelola, mengikuti perkembangan secara serius, (3) proses kontrol terhadap organi- siasi, struktur organisasi, aset; dan (4) proses kontrol terhadap sumberdaya data. "Orang" meliputi (1) pemakai di setiap departemen; dan (2) sistem informasi manajemen pada setiap departemen yang meliputi data proses- ing, administrasi data, dan pemakai pendukung (pelatihan, konsultasi, toko, penelitian dan pengembangan) (Kroenke, 1992592).

Dalam kaitannya dengan bisnis, sistem informasi meliputi pengola- han data bisnis (business data processing) dan sistem informasi manajemen (management infonnation system). Tipe informasi yang dibutuhkan peru- sahaan meliputi, laporan rutin, fungsional silang, laporan adhoc, perama- lan Cforecast), non faktual, detail fakta (detail of factual), laporan perkecu- lian (exeption report), dan sebagainya. Tipe informasi ini sangat spesifik berdasarkan karakteristik dan jenis perusahaannya.

(4)

Implementasi dari sistem informasi pada suatu pemsahaan akan mempengamhi pemsahaan itu dalam mengelola sumberdaya informasi, penggunaan data bersama (data sharing), mempertimbangkan lingkungan dan hubungan sistem informasi dengan strategi bisnis. Keuntungan sistem informasi bagi perusahaan adalah (McLeod, 1995:71):

(1) fleksibel dalam merespon kompetitor (2) kemampuan merespon perubahan (3) kemampuan mengikuti perubahan pasar

(4) kemampuan melakukan transfer pengetahuan (5) mengurangi biaya-biaya operasi secara keseluruhan

(6) meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam memenuhi kebutuhan pelanggan

(7) kemampuan untuk meningkatkan dan memelihara keragaman produk dan bagaimana memproduksi dan mendistribusikan.

Sistem informasi berperan penting dalam menunjang kesuksesan suatu organisasi modem. Walaupun demikian, sistem informasi yang tidak akurat dapat secara serius merusak keberadaan dan kesuksesan organisasi tersebut. Karena itu, pengelolaan sistem informasi yang tepat adalah tan- tangan utama organisasi. Bagi para pengguna akhir (end user, seperti manajer), sistem informasi merepresentasikan hal-ha1 berikut (O'Brien,

1990):

(1) Bagian utama sumberdaya organisasi untuk melaksanakan bisnis. (2) Faktor yang mempengamhi efisiensi operasional, produktivitas tenaga

kerja dan moral, serta pelayanan dan pemuasan pelanggan.

(5)

(3) Sumber utama informasi dan sarana menunjang utama dalam mela- hirkan keputusan yang efektif.

(4) Salah satu unsur penting dalam pengembangan produk dan layanan yang kompetitif yang dapat memberikan keuntungan strategi bagi organisasi di pasaran.

(5) Suatu yang penting, dinamik dan tantangan kesempatan pengembangan karir bagi banyak orang.

Dengan demikian, manajer perlu mengetahui konsep dasar sistem informasi, teknologi dasar sistem informasi, aplikasi sistem informasi, pengembangan sistem informasi, dan manajemen (pengelolaan) sistem informasi. Desain sistem informasi bagi top manajemen adalah dalam rangka perencanaan sistem informasi yang bersifat top-down. Bagi mena-

jemen menengah adalah gabungan antara top-down dan bottom-up, se-

dangkan bagi manajemen bawah yang dirancang sebagai kontrol sistem informasi yang bersifat bottom-up.

Tiga peran strategis yang dianggap penting dari sistem informasi dalam membantu perusahaan meningkatkan daya saingnya adalah (O'Bri- en, 1990):

(1) Peningkatan efisiensi dalam kegiatan operasional. Investasi tek- nologi sistem informasi dapat membantu perusahaan dalam mening- katkan efisiensi dalam kegiatan operasional secara signifikan. Pemsa- haan dapat secara dramatis mengurangi posting biaya yang biasa diie-

luarkan untuk melakukan kegiatan operasional, sekaligus meningkat- kan kualitas produk dan layanan jasanya. Efisiensi operasional perusa- haan mengarahkan perusahaan untuk mengadopsi strategi cost leader-

(6)

ship dan product differentiation. Dengan demikian, pemsahaan akan dapat lebih mudah dalam mengatasi ancaman-ancaman persaingan, karena akan sangat sulit bagi para pesaing untuk memasuki industri yang efisien. Efisiensi operasional juga berimplikasi pada peningkatan jumlah investasi ataupun derajat kompleksitas teknologi sistem infor- masi. Investasi teknologi sistem informasi ini dapat digunakan sebagai sarana pelekat dalam hubungan bisnis. Dengan demikian, keunggu- lan teknologi sistem informasi dapat dijadikan basis kekuatan oleh BPR dalarn membina dan melekatkan hubungan bisnis dengan nasa- bahnya.

(2) Menggencarkan inovasi dalam bisnis. Investasi dalam teknologi sistem informasi, seperti ATM, merupakan inovasi pelayanan bank. Dalam ha1 ini, bank ingin menciptakan ketergantungan nasabah mela- lui informasi yang inovatif tersebut. Sebagai akibatnya, para nasabah BPR enggan untuk menyisihkan biaya, waktu dan upaya untuk ber- pindah pada bank lain.

(3) Membangun Sumberdaya Informasi Strategis. Bagaimana mem- bangun sumberdaya informasi yang meliputi hardware (perangkat keras), sofrware (perangkat lunak), jaringan kerja, pemenuhan para profesional dalam sistem informasi dalam upaya untuk menghasilkan suatu produk dan layanan barn. Suatu basis informasi yang strategis dapat dibangun untuk menunjang strategi persaingan pemsahaan. Informasi dalam bentuk corporate database senantiasa merupakan aset yang bemilai tinggi dalam mempromosikan efektivitas dan efisiensi. Informasi yang berkaitan dengan kegiatan operasional pemsahaan,

(7)

informasi tentang pelanggan, para pesaing, data ekonomi, demografi, dan lainnya, justm saat ini sering dipandang sebagai informasi yang bersifat strategis. Kesemuanya itu, dapat digunakan sebagai dasar penyusunan strategi BPR dalam menyongsong persaingan yang sema- kin ketat.

Dengan demikian, peranan strategis sistem informasi memaksa para manajer BPR untuk melihat sistem informasi dari sistem bam. Sistem informasi itu bukan hanya dianggap sebagai sekelompok jasa pelayanan dalam bentuk pengolahan transaksi-transaksi bisnis dan untuk kepentingan pencatatan akuntasi BPR. Sistem informasi juga bukan hanya sebagai pensuplai informasi yang dibutuhkan dalam laporan bisnis dan sebagai alat dalam pengambilan keputusan.

Selanjutnya, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi dirancang atau dibuat untuk menciptakan aliran informasi dalam garis-garis struktur organisasi, baik secara vertikal, horizontal maupun fungsi silang (cross- functional). Sistem informasi, pada saat ini dan masa mendatang merupa-

kan ha1 yang esensial bagi manajer. Hal ini karena, saat ini sumber informasi bagi top manajemen berasal dari intelejen eksternal, jaringan elekronik komputer, dan dari manajemen menengah, serta berasal dari media internal (seperti observasi, majalah pemsahaan, manual sistem informasi, dan sebagainya). Informasi intelejen yang dimaksud meliputi peraturan pemerintah, perubahan sosial budaya, lingkungan ekonomi, lingkungan politik, industri, pasar, kompetitor, teknologi, dan laimya.

(8)

2.4. Sistem lnformasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen (SIM) melibatkan semua individu dalam organisasi yang aktivitasnya adalah perencanaan, pengorganisasian, dan pengontrolan (Kroenke, 1992:14). Sistem informasi manajemen m e ~ p a k a n bagian dari sistem informasi strategis yang didisain untuk menghasilkan informasi yang diperlukan untuk membantu pengambilan keputusan yang efektif. Dalam kaitan ini Davis (1992a), mendefinisikan SIM sebagai suatu sistem terpadu antara manusia dan mesin yang menye- diakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dari suatu organisasi. Sistem

ini

meman- faatkan komputer baik perangkat keras maupun lunak, prosedur dan tata kerja, menajemen dan model pengambilan keputusan dan juga database. SIM adalah penggunaan dan pengembangan sistem informasi yang efektif dalam organisasi (Kroenke, 1992:6).

2.5. Bank

Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan menyebutkan bahwa bank adalah badan usaha yang menghim- pun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak yang berazaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati- hatian (safety). Ada dua jenis bank yang dilegalisasi oleh Undang-Undang ini, yaitu Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat.

Dalam melakukan kegiatan usahanya, bank wajib menempuh cara- cara yang tidak memgikan bank maupun nasabah yang mempercayakan

(9)

dananya. Untuk itu, bank selalu menyediakan informasi mengenai ke- mungkinan timbulnya resiko kemgian bagi transaksi nasabah yang dilaku- kan melalui bank. Dalam ha1 ini, sistem informasi dalam operasionalisasi suatu bank menjadi mutlak diperlukan.

2.6. Bank Perkreditan Rakyat

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposit0 berjangka, tabungan, dadatau bentuk lain yang dipersamakan. BPR dilarang menerima simpa- nan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas pembayaran, melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing, melakukan penyertaan modal, melaku- kan usaha perasuransian, dan dilarang melakukan usaha lain di luar kegia- tan usaha yang ditentukan. Larangan ini diiaksudkan untuk menyesuai- kan dengan kegiatan usaha BPR yang terutama ditujukan untuk rnelayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di daerah pedesaan.

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 71 Tahun 1992 tentang Bank Perkreditan Rakyat, bentuk hukum BPR dapat berupa Pemsahaan Daerah, Koperasi, dan Perseroan Terbatas. Berdasarkan Peraturan Pemerintah ini juga, Bank Desa, Lumbung Desa, Bank Pasar, Bank Pegawai, Lumbung Pitih Nagari (LPN), Lembaga Perkreditan Desa (LPD), Badan Kredit Desa (BKD), Badan Kredit Kecamatan (BKK), Kredit Usaha Rakyat Kecil (KURK), Lembaga Perkreditan Kecamatan (LPK), Bank Karya Produksi Desa (BKPD), dantatau lembaga-lembaga lain yang dipersamakan dengan itu, dinyatakan menjadi BPR.

(10)

BPR dalam oprasionalisasinya harus melakukan simbiosis dengan bank umum, seperti penyaluran kredit usaha kecil. Simbiosis mutualistis menjadi mutlak terjadi untuk menjaga keseimbangan bisnis antara BPR dengan bank umum dan sekaligus mengembangkan bisnis BPR itu sendiri. Pengawasan dan pembinaan Bank Indonesia (BI) menjadi instrumen utarna bagi peningkatan kualitas maupun kuantitas BPR.

Rakyat miskin dan pengusaha kecil yang dilayani BPR dapat diie- lompokkan sebagai berikut (Danusaputro, 1992):

1. Golongan pengusaha dengan aset Rp 201 juta sampai Rp 600 juta. 2. Golongan pengusaha dengan aset Rp 100 juta sampai Rp 200 juta. 3. Golongan pengusaha dengan aset maksimal Rp 100 juta. Mempunyai

usaha pokok, tempat usaha yang tetap, namun tidak mempunyai badan hukum dan tidak mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan.

4. Jenis usaha terkecil yang disebut informal "asongan".

5. Golongan rakyat yang tidak memiliki lahan, pendapatan tidak lebih dari Rp 40.000 per bulan, dan memiliki keterampilan berusaha.

2.7. Kerangka Konseptual

Secara konseptual Geladikarya ini didasarkan atas permasalahan yang dihadapi oleh BPR (Gambar 1).

(11)

Internal

P

SDLC

w

ERD; ND; DFD

Eksternal

Q

I

PENINCKATAN DAYA

SAXNG

Keterangan

SDLC : Syslem Development Li/e Cycle

ERD : Enlily-Relalionship Diagrams

ND : Network Diagrams DFD : Data Flow Diagrams

(12)

BAB 111.

METODOLOGI

3 . 1 . Tempat dan Waktu

Geladikarya ini dilaksanakan di BPR Talabumi Leuwiliang yang berlokasi di Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat dan dilakukan selama 2 bulan, dari bulan Januari sampai Febmari

1997.

3.2.

Metoda

Metoda rekayasa sistem informasi yang digunakan adalah System Development Life Cycle

(SDLC)

yang meliputi tahap invetigasi, analisis, dan perancangan sistem, sedangkan tahap implementasi dan tahap pemeli- haraan diserahkan pada BPR (Gambar 2). Tahap investigasi untuk menge- tahui peluang dan masalah yang ada di BPR serta menentukan kelayakan terhadap rekayasa sistem. Tahap analisis menghasilkan kebutuhan- kebutuhan sistem BPR yang akan direkayasa dengan mengembangkan pemikiran logis dan komprehensif. Tahap perancangan menghasilkan spesifkasi dari sistem yang direkayasa yang dapat digunakan oleh penggu- na akhir. Tahap implementasi merupakan operasionalisasi dari sistem yang direkayasa dan tahap pemeliharaan merupakan pengembangan dari sistem tersebut.

Geladikarya ini merupakan studi kasus, dimana hasil dari geladi- karya ini hanya berlaku untuk BPR yang bersangkutan.

MIS - 18

Hagister Hanajemen A g r i b i e n i s IPB

(13)

I

PENGEMBANGAN

5

SISTEM INFORMASI V1 7 Zl PENERAPAN SISTEM INFORMASI

(14)

3.3. Data

Data terdiri dari data primer yang meliputi wawancara dan data sekunder dari BPR dan lembaga terkait lainnya. Jenis data bersifat kualita- tif dan kuantitatif.

3.4. Analisis Data

Data dianalisis dengan menggunakan alat-alat merekayasa sistem, yaitu: (1) Entity-Relationship Diagrams (ERD), (2) Network Dia-

grams, dan (3) Data Flow Diagrams (DFD).

(15)

BAB

IV.

INVESTIGASI DAN ANALISA SISTEM

BPR TALABUMI LEUWILIANG

4.1. BPR Talabumi Leuwiliang

BPR Talabumi Leuwiliang merupakan usaha jasa bank yang didiri- kan pada tanggal 13 Mei

1992

dengan Akte Notaris Jimmy Simanungkalit SH. nomor

50.

BPR ini mulai beroperasi pada tanggal

24

Agustus

1994

melalui keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor Kep.

242lKM.

1711994.

BPR Talabumi Leuwiliang termasuk BPR yang paling awal berdiri di Kecamatan Leuwiliang. Keputusan mendirikan BPR di Kecamatan Leuwiliang ini didasarkan atas penilaian potensi wilayah, terutama jenis usaha yang cukup beragam dari usaha pertanian, perdagangan, jasa, dan industti; dan lokasi usaha yang cukup strategislramai. Hal ini juga karena di Kecamatan Leuwiliang, pada tahun

1970

sampai akhir

1980

banyak berpraktek ijon-ijon, yang sangat menjerat dan sifatnya tidak mendidik masyarakat. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk mendirikan BPR dengan praktek sistem perbankan yang dinilai lebih "manusiawi". Artin- ya, masyarakat tidak terjerat oleh hutang dan dapat belajar untuk berhu- bungan dengan bank (bankable).

Selain itu, adanya kejelian pemili BPR dalam melihat situasi pelayanan perbankan yang sudah berdiri sebelumnya, seperti BRI, yang belum mampu menjangkau masyarakat kecil yang membutuhkan bantuan modal hanya ratusan ribu rupiah. Informasi ini diperoleh Pemilik melalui pengamatan langsung ke lapangan sejak masih menjadi mahasiswa IPB.

(16)

Antisipasi terhadap kebutuhan masyarakat ini merupakan alasan mengapa kantor BPR Talabumi ditempatkan dekat dengan lokasi pasar dan terminal. Selain karena kedua lokasi tersebut merupakan pusat transaksi ekonomi yang pesat pertumbuhannya, juga karena kebutuhan akan modal yang jumlahnya relatif kecil sangat tinggi intensitasnya.

Menurut Laporan dan Pertanggungjawaban Direktur (1996: 11). secara garis besar program BPR Talabumi Leuwiliang meliputi:

(a) Program Bidang Umum yang meliputi Organisasi, Manajemen, Sistem dan Prosedur, Personalia, Aktiva Tetap d y Inventaris.

(b) Program Bidang Operasi yang meliputi E!$ngumpulan Dana (Tabungan dan Deposito), dan Penggunaan

Dana

(Kredit atau penyaluran).

(c) Program Bidang Akuntansi yang meliputi Intensifisi Pengawasan, Pemeriksaan, dan Pembinaan.

Hasil Evaluasi Direktur BPR Talabumi Leuwiliang selama tahun 1996 menyimpulkan bahwa:

(a) Secara umum cukup menggembirakan, namun pendapatan mengalami penurunan (kerugian). Jika pada tahun 1995 pendapatan sebesar posi- tif Rp. 4.190.000 (untung), maka pendapatan pada tahun 1996 sebesar minus Rp. 12.371.323 (rugi). Kerugian ini, menurut Direktur, seba- gian besar karena adanya kemacetan kredit akibat kesemrawutan dalam manajemennya, sehingga saat ini manajemen menjadi fungsi yang sedang dibenahi dan diefisienkan.

(b) Kebutuhan modal sendiri masih memenuhi persyaratan dari Bank Indonesia (BI) atau menurut ketentuan Aktiva Tertimbang Menurut

(17)

Resiko (ATMR). Sampai Desember 1996, BPR Talabumi Leuwiliang mempunyai Rasio Modal sebesar 25 %

.

(c) Terjadi peningkatan total asset, dimana pada tahun 1995 sebesar Rp. 89.378.649 menjadi Rp. 97.247.117 pada tahun 1996 (naik 8.80%). (d) Terjadi kenaikan pinjaman yang diberikan, dari Rp. 51.148.348 pada

tahun 1995 menjadi Rp. 58.641.300 pada tahun 1996 (naik 14.65%) dengan jumlah nasabah 229 orang (naik 11.71 %).

(e) Terjadi kenaikan deposit0 sebesar 200%. dari Rp. 10.000.000 pada tahun 1995 menjadi Rp. 30.000.000 pada tahun 1996 dengan jumlah deposan 3 orang @ada tahun 1995 hanya 1 orang). Sedikitnya jumlah deposan ini, menurut Direktur adalah akibat salah persepsinya ma- syarakat terhadap kerja operasional BPR Talabumi Leuwiliang, diiana masyarakat hanya menganggap BPR adalah hanya melayani kredit, karena namanya adalah bank perkreditan.

(0

Tabungan juga naik, dari Rp 2.797.906 pada tahun 1995 menjadi Rp. 3.153.402 (naik sebesar 12.71 %) dengan jumlah nasabah yang turun menjadi 176 orang (turun sebesar 13.30%). Menurunnya jumlah nasabah tabungan ini pun tidak terlepas dari perbedaan persepsi di atas, namun demikian banyaknya jumlah nasabah karena adanya anti- sipasi kebijakan dari BPR Talabumi kuwiliang yang mengharuskan pengambil kredit untuk membuka rekening tabungan.

(g) Minat dan opini masyarakat terhadap keberadaan BPR Talabumi Leuwiliang sangat positif, karena melayani pedagang kecil yang dapat menumbuhkan tingkat pendapatan.

(18)

(h) Penataan administrasi dan prosedur pemberian kredit telah diterapkan sesuai dengan pokok-pokok peraturan dan prosedur pemberian kredit yang Iayak dan sistem pembukuan yang mendukung operasional perkreditan perbankan. Sistem dan prosedur dari seluruh bagian stmktur organisasi tersebut adalah Tabungan, Deposito, Kredit, dan Akuntansi yang disesuaikan menurut petunjuk dan blanko pelaporan dari Bank Indonesia @I).

(i) Bagian kepegawaian sedang di tata melalui sesuatu sistem yang diter- apkan melalui pokok-pokok peraturan kepegawaian BPR Talabumi Leuwiliang.

(i) Pengadaan aktiva tetap dan inventaris didasarkan atas kebutuhan yang sangat mendesak pemanfaatan maksimal.

(k) Laporan pajak kepada pemerintah setiap bulan terdiri dari PPh 21 (karyawan), PPh 25 (badan), PPh 23 (Pajak Tabungan dan Deposito). (I) Laporan kepada Bank Indonesia sesuai dengan ketentuan Bank Indone-

sia.

(m) Kerja sama dengan lembaga lain seperti, kecamatan, lembaga keama- nan (kepolisian dan militer), pasar, lembaga keagamaan dan lembaga masyarakat lain perlu terus dikembangkan dan ditingkatkan.

Selanjutnya, sasaran yang hendak dicapai pada akhir tahun 1997 dicapai adalah sebagai berikut (Rencana Kerja dan Anggaran, 1997:7): (a) Pendapatan operasional pada akhir 1997 sebesar Rp. 58.402.000,-

(Lima puluh delapan juta empat ratus dua ribu rupiah).

(b) Biaya operasional apa akhir 1997 sebesar Rp. 57.649.000,- (Lima puluh tujuh juta enam ratus empat puluh sembilan ribu rupiah).

(19)

(c) Laba operasional pada akhir 1997 sebesar Rp.753.000,- (Tujuh ratus lima puluh tiga ribu rupiah).

Namun demikian, hambatan-hambatan yang mungkin menjadi kendala bagi perolehan sasaran di atas adalah sebagai berikut:

(a) Kurang profesionalnya para karyawan menguasai bidangnya untuk menunjang kegiatan usaha Bank yang berhasil guna dan berdayaguna akan menjadi kendala bagi kinerja bank secara keseluruhan. Untuk itu, pendidikan dan latihan perbankan perlu diintensifkan.

(b) Masih kurangnya peralatanlkelengkapan kantor (inventaris) untuk menunjang operasional sebuah BPR.

(c) Kurangnya pengetahuan atau kesalahan persepsinya masyarakat desa akan bidang operasional BPR, sehingga masyarakat sebagian besar hanya mengetahui bahwa BPR hanya untuk pemberian kredit saja. (d) Penampilan kantor BPR Talabumi Leuwiliang yang perlu ditata

kembali untuk memberikan image positif pada masyarakat kecil pedesaan.

Harapan Direktur saat ini adalah bagaimana caranya agar BPR Talabumi Leuwiliang dapat dikenal masyarakat dan bisa bersaing minimal dengan sesama bank rakyat, antara lain:

(a) bisa menyalurkan kredit pada masyarakat lebih banyak. (b) bisa membuat kantor BPR lebih besar dan lebih dipercaya. (c) bisa menepati semua ketentuanlaturan yang berlaku.

Saat ini, BPR Talabumi terdapat di lima kota, yaitu BPR Talabumi Sunrigal Medan, BPR Talabumi Tridana Pecut Medan, BPR Talabumi Pacur Batu Medan, dan BPR Talabumi Persada Bekasi dan BPR Talabumi

(20)

Leuwiliang Bogor. Perkembangan BPR Talabumi Leuwiliang tidak sepe- sat BPR Talabumi laimya, karena selain masih dalam tahap baru berdiri juga karena kurangnya atau tidak adanya promosi aktif terhadap rnasyara-

kat.

Susunan pengurus BPR Talabumi LRuwiliang pada saat ini adalah sebagai berikut:

Pemegang Saham Komisaris

Direktur

Kepala Bagian Umum Kepala Bagian Operasional Tata Usaha

Akuntansi Kasir Kredit

Tabungan dan Deposito

Ir. Wilson Ludin Siagian, MBA Bintang Bima Prakarsa Negara Ir. Wilson Ludin Siagian, MBA Abdul Haris - - Ida Farida Doni Ali

A.

Eet F.

Robert Siagian, Mahmud A, Wilman Siagian, Andi Ida Farida

Jabatan Kepala Bagian masih belum ada yang menjabat, karena saat ini Direktur sedang melakukan perombakan pengums dan sedang melakukan penjajagan terhadap kemampuan stafnya untuk mengisi kekosongan terse- but. Hal ini juga karena posisi Kepala Bagian tersebut me~pi-ikan posisi barn yang ditawarkan Direktur dalam memperbaikan manajemen BPR Talabumi Leuwiliang (Gambar 3).

Secara struktural Komisaris dan Direktur bertanggungjawab kepada RUPS terhadap pelaksanaan anggaran dan realisasi kerja tahun anggaran. RUPS secara rutin dilaksanakan setelah habis tahun anggaran sebelumnya. Maksimal waktu untuk melaksanakan RUPS adalah pada bulan Juni Tahun Anggaran (TA) berikutnya, atas undangan yang dibuat dan disebar oleh Direktur. Undangan pelaksanaan RUPS sudah hams disebar kepada

(21)

seluruh pemegang saham kira-kira 14 hari sebelum tangal RUPS dilaksa- nakan dan hams ada tanda tangan pemegang saham tentang kehadiran (bisaltidak) di dalam buku ekspedisi.

I

I

I I

-

,

I BAGIAN UHUM I 1 BAGIAN OPERASIONAL I

-

-

I I I I

I

I I I I I

--A,r---!

I KASIR I I TATAUSAHA I I AKUNTANSI

I I

TABUNAN & D E P O S I T 0 I I KREDIT

I

I I I U1 - 1

Gambar 3. Struktur Organisasi BPR Talabumi Leuwiliang

BPR Talabumi Leuwiliang pernah berhubungan dengan 3 Bank umum, yaitu BRI Leuwiliang, Lippo Bank, dan terakhir dengan Bank Danamon Leuwiliang. Keterkaitan BPR Talabumi Leuwiliang dengan Bank Danamon ini hanya sebatas sebagai nasabah tabungan, bukan hu- bungan kelembagaan.

(22)

4.2. Sistem BPR Talabumi Leuwiliang

Secara umum, BPR Talabumi Leuwiliang telah melakukan opera- sionalisasi perbankan selayaknya sebuah bank perkreditan. Persyaratan- persyaratan operasional yang ditentukan oleh Bank Indonesia (BI) telah dipenuhi. Namun, demikian Bank Talabumi Leuwiliang masih memerlu- kan beberapa perbaikan, terutama dalam aspek manajemennya. Saat ini, Direktur BPR Talabumi sedang melakukan perbaikan-perbaikan tersebut, sehingga pembangunan sistem informasi strategis yang diusulkan

ini

sangat relevan dengan kebutuhan BPR Talabumi huwiliang. Bahkan, beberapa masukan dan inovasi Direktur sudah diiulai diterapkan, seperti perbaikan sistem pembukuan, penagihan, kepegawaian, pelaporan dan sebagainya.

Ditinjau dari aspek sistem informasi manajemen, Bank Talabumi Leuwiliang masih belum memanfaatkan secara maksimal manfaat informa- si dan kebutuhan akan data-data. Seperti halnya BPR secara umum, BPR Talabumi Leuwiliang masih menterjemahkan data dan informasi secara konvensional. Dalam ha1 ini dapat dilihat dari kepasifan dalam mempero- leh dan mendapatkan informasi untuk meningkatkan efisiensi operasional- nya. Namun demikian, potensi untuk mengarah pada pembangunan sistem informasi strategis sangat besar, karena peranan Direktur yang dinamis, mau b e r f i i inovatif, dan mengembangkan ide-ide yang menantang tetapi progresif, serta berani mengambil resiko menjadi dasar kuat bagi BPR Talabumi Leuwiliang untuk maju di era persaingan yang semakin ketat.

Beberapa ide menarik dari Direktur yang patut menjadi pertim-

bangan adalah seperti penggunaan nama Bank Perkreditan Rakyat dan pendirian lembaga pemerintah dalam mengatasi kredit macet BPR.

(23)

Penggunaan nama "bank perkreditan" menjadi salah satu kendala bagi BPR Talabumi Leuwiliang untuk mengembangkan jasa lain seperti tabungan dan deposito. Hal ini karena persepsi masyarakat akan BPR adalah hanya untuk melayani kredit saja, sehingga masyarakat mengangap BPR tidak layaklaman (reliable) untuk tabungan dan deposito. Padahal kombinasi antara panyaluran (kredit) dan pangumpulan dana (tabungan dan deposito) hams berimbang sebagai dasar penentukan kesehatan bank yang ditentukan oleh BI.

Persepsi masyarakat pada nama "perkreditan" ini menarik untuk dikaji. Ada dua kemungkinan solusi dari persepsi yang salah ini, yaitu:

(a) Melakukan redefinisi terhadap nama BPR dengan narna yang tetap memberikan makna sebuah bank pengumpul dan penyalur dam serta memberikan sentuhan pada masyarakat kecil, misalnya menjadi "Bank Pedesaan" atau "Bank Rakyat Kecil" atau "Bank Pengusaha Kecil", dan lain-lain.

(b) Melakukan penyesuaian ketentuan BPR yang dibedakan dengan bank umum dalam beberapa kriteria pelaporan dan p e ~ l a i a n , terutama dalam perimbangan antara pengumpulan (tabungan dan deposito) dengan penyaluran dana (kredit). Berdasarkan pengalaman BPR Talabumi Leuwiliang, tidak ada masyarakat yang menaruh deposito di BPR, sehingga deposito yang ada hanya dari pemilik atau pemegang saham BPR yang bersangkutan. Hal iN mempakan suatu keharusan untuk menjaga kesehatan BPR. Selain itu, banyaknya jumlah pena- bung di BPR Talabumi bukan karena masyarakat menginginkan untuk menabung, tetapi lebih cendemng pada strategi BPR untuk memperbe-

(24)

sar pengumpulan dana dengan cara mengharuskan nasabah kredit untuk menabung (yang dipotong langsung dari jumlah kreditnya). Cara ini untuk sementara cukup efektif,' namun pada masa yang akan datang perlu ditemukan strategi pengumpulan dana yang lebih inova- tif. Melalui teknik pemasaran yang berdasar pada ketersediaan infor- masi diharapkan menambah daya jangkau dan daya saing BPR di masa mendatang.

Kedua solusi ini lebih terkait pada aspek kelembagaan dan hukum, sehingga pelaksanaannya membutuhkan suatu survey ilmiah yang kompre- hensif. Dalam ha1 ini, BI mempunyai peranan utama dalam mengantisipasi

<a&

permasalahan di atas, jika ternyata ha1 tersebut menjadi kendala bagi BPR-

-

l.

BPR lain.

Sebagian besar data yang ada di BPR Talabumi Leuwiliang meru- pakan data operasional b e ~ p a : (a) data keuangan, (b) data nasabah kredit, dan (c) data nasabah tabungan dan deposito, sedangkan data karyawan masih dalam pembenahan. Sampai saat ini, BPR Talabumi Leuwiliang belum memanfaatkan data atau informasi dari lembaga lain yang berada di Leuwiliang, seperti dari Kecamatan, Pasar dan lain sebagainya secara aktif. Informasi yang sering diterima oleh BPR Talabumi adalah dari BI yang berupa hasil evaluasi BI terhadap BPR Talabumi Leuwiliang atas

dasar laporan periodik yang diterima BI.

Mentransformasi data menjadi informasi pun masih sebatas berupa laporan-laporan, baik internal maupun eksternal, terutama laporan perkem- bangan keuangan dan kredit, karena keduanya mempakan titik penting operasional BPR Talabumi Leuwiliang. Dengan demikian, pembenahan

(25)

manajemen pun ditekankan pada kedua ha1 tersebut, sehingga keterlibatan level menajemen pada kedua aspek ini sangat intensif. Sejalan dengan ha1 ini, penekanan sistem informasi strategis yang akan dibangun pun lebih pada sistem kredit dan keuangan, namun bukan berarti sistem lain dike- sampingkan.

4.3. Sistem Kredit

Ada dua jenis kredit yang ditawarkan oleh BPR Talabumi LRuwi- liang, yaitu kredit konsumen dan kredit modal kerja mingguan

(MKM).

Pada dasamya, kedua jenis kredit tersebut mempunyai sistem yang sama, hanya berbeda sasarannya. Sasaran kredit konsumen adalah para konsu- men yang mengajukan permohonan kredit untuk kebutuhan rumahtangga, artinya bukan untuk kegiatan produktif. Sedangkan kredit

MKM

sasaran- nya adalah para produksenlpengusaha yang mengajukan permohonan kredit untuk kegiatan produktif usahanya.

Jumlah pemberian kedua jenis kredit tersebut sampai saat ini berki- sar antara Rp. 100.000 sampai Rp. 3.000.000, tetapi sebenarnya Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) adalah 20% dari modal disetor. Dalam ha1 ini BPR Talabumi dapat memberikan kredit sebesar Rp. 15

juta. Meskipun demikian, perlu dilakukan sistem kontrol antara jumlah kredit yang disalurkan dengan jumlah uang yang tersedia, sehingga BPR Talabumi dapat menentukan jumlah uang minimal untuk kegiatan opera- sionalnya. Sistem kontrol tersebut mempakan bagian dari sistem informasi strategis BPR yang direkayasa.

(26)

Persaingan antar BPR dalam penyaluran dana ini terletak pada besarnya bunga. Semakin kecil bunganya, akan semakin disukai oleh nasabah. Walaupun demikian belum berarti bahwa BPR dengan bunga terendah akan lebih banyak meraih nasabah, karena ternyata faktor pri- mordial sangat bewariasi. Oleh karena itu, tingkat penentuan bunga kredit mutlak menjadi hak BPR dengan asumsi tidak memberatkan masyarakat.

Dengan dasar demikian maka penentuan bunga kredit tidak dikoor- dinasikan antara BPR dalam wilayah yang sama, sehingga keterkaitan antar BPR cenderung sangat lemah, baik keterkaitan informasi, institusi ataupun hubungan personal. Hal ini memerlukan kajian untuk membentuk jaringan k e j a antar BPR dalam suatu sistem informasi strategis BPR Talabumi Leuwiliang. Jaringan kerja tersebut dapat bempa guna bersama informasi, transfer dana, pembinaan nasabah, dan pemecahan masalah.

Saat ini terdapat dua tipe jangka waktu kredit, yaitu mingguan (16 minggu) dan bulanan (10 sampai 12 bulan). Dalam jangka panjang, kredit bulanan akan dijadikan pola kredit utama dengan proporsi yang lebih besar, sedangkan kredit mingguan hanya sebagai penunjang untuk menjaga perputaran uang dalam kendali. Hal ini didasarkan atas tujuan BPR yang ingin meringankan beban nasabah yang berorientasi pada simbiosis

mu-

talistis. Besar bunga pada kedua tipe kredit ini berbeda, 3.5% untuk

kredit bulanan dan 4.5% untuk kredit mingguan.

Penyaluran kredit tidak dibedakan berdasarkan sektor usaha calon nasabah, yang membedakan hanya jumlah kredit yang diajukan. Sektor pertanian belum menjadi fokus perhatian penyalurau kredit dari BPR Talabumi, karena resikonya relatif besar (sektor pertanian tergantung

(27)

kepada musim), sedangkan pasar untuk kredit mingguan (dagang) dirasa- kan oleh BPR Talabumi Leuwiliang masih besar. Saat ini pun, kredit sektor perdagangan kira-kira 75% dari total kredit yang disalurkan. Hal ini menguntungkan BPR karena perputaran uang yang rutin dan cepat, sedangkan 25% adalah jasa-jasa (misalnya konstruksi) yang jumlah nasa- bahnya masih sangat terbatas.

Syarat utama mendapatkan kredit dari BPR Talabumi Leuwiliang hams mengajukan jaminan barang, bisa b e ~ p a barang bergerak ataupun barang tidak bergerak. Jika kredit dibawah Rp. 300.000, calon nasabah bisa memberikan barang jaminan bempa barang-barang fiducia (barang bergerak) seperti kuitansi TV atau alat ~ m a h tangga berharga lainnya. Jika kredit diatas Rp. 300.000 barang jaminan lebih besar nilai-nya seperti surat BPKB motor, surat girik, sertifikat tanah. Sampai saat ini, sebagian besar barang jaminan yang sering diajukan adalah berupa BPKB motor.

Minimal nilai barang jaminan yang diajukan biasanya bernilai 150% dari nilai kredit yang disetujui, terutama untuk barang jaminan berupa barang fiducia. Sedangkan untuk barang jaminan bempa barang tidak bergerak nilainya sekitar 180 - 200% dari kredit yang disetujui. Meskipun demikian, belum ada ketentuan resmi dari BPR Talabumi mengenai ketentuan nilai jaminan ini, sehingga sangat bervariasi tergan- tung dari hubungan personal dengan nasabah.

Penyitaan barang yang dilakukan oleh BPR Talabumi Leuwiliang terjadi karena nasabah sudah menyatakan tidak sanggup lagi untuk meluna- si kreditnya. Berdasarkan pengalaman BPR Talabumi Leuwiliang, penye- lesaian kredit macet tidak semudah di bank umum yang langsung melaku-

(28)

kan penyitaan (yang memang kuat dasar hukumnya). BPR menghadapi dilema dalam penyitaan, karena selain akan memperbumk citra BPR itu sendiri, juga menuntut biaya penyelesaian yang lebih besar dari nilai kre- ditny a.

Untuk mengatasi dilema tersebut, Direktur BPR Talabumi Leuwi- liang melakukan pendekatan kelembagaan. Dalam ha1 ini, pendirian lembaga pemerintah yang mampu menyelesaikan kredit macet BPR-BPR dalam satu wilayah perlu diiaji. Lembaga ini diharapkan mampu menjadi katalisator dalam penyelesaian masalah kredit macet dengan temp berdasar pada ketentuan-ketentuan hukum dan hubungan antara nasabah dengan BPR. Keterkaitan antara lembaga ini dengan BPR dapat diatur dan di- koordinasikan oleh Bank Indonesia sebagai pengawas BPR.

Bagi nasabah yang membayar lebih awal dari jatuh tempo mendapat insentif bempa potongan bunga angsuran yang dapat mencapai nilai bunga satu minggulbulan. Jika dilihat dari nilai presentasenya, hampir 80-90% adalah kredit baiWlancar dan sisanya 10-20% kredit macet. Dengan angka prosentase kredit macet yang demikian, menurut Direktur, BPR Talabumi masih termasuk BPR sehat.

Ada dua pola untuk mendapatkan kredit di BPR Talabumi Leuwi- liang, yaitu: nasabah datang sendiri atau nasabah dicari oleh BPR. Pola pertama memang masih menjadi pilihan BPR Talabumi Leuwiliang, selain karena dengan alasan tidak adanya pos biaya dan tenaga untuk promosi atau mencari nasabah, juga karena pengamh primordial yang menganggap bahwa masyarakat yang membutuhkan bank. Namun demikian, peningka- tan persaingan antar BPR mengharuskan BPR Talabumi Leuwiliang untuk

(29)

lebih progresif mencari nasabah. Melalui sistem informasi menajemen yang baik akan menekan biaya dan tetap menempatkan BPR sebagai mitra masyarakat dalam berusaha.

Nasabah yang akan mengajukan kredit akan melalui beberapa prosedur yang terlingkup dalam Sistem Kredit BPR Talabumi (Gambar 4).

Gambar ini mempakan diagram konteks sistem kredit BPR yang melibat- kan lima elemen lingkungan (environmental elements), yaitu Nasabah, Kasir, Bagian Kredit, Kepala Bagian Operasional dan Direktur. Bagian Kredit terlibat sejak nasabah bermaksud mengambil kredit sampai kredit disetujui oleh Direktur. Secara manual, semua file-file yang berkaitan dengan kredit disiapkan dan disimpan oleh Bagian Kredit. Kasir hanya bersifat juru bayar saja, setelah nasabah menerima kuitansi pencairan kredit. Direktur sebagai penentu persetujuan kredit hanya berdasarkan pada data yang diterima dari Bagian Kredit (misalnya persyaratan), se- dangkan Kepala Bagian Operasional belum berfungsi.

Gambar 5 merupakan Sistem Kredit yang saat ini berjalan atau sistem manual. Disini terlihat bahwa Direktur tidak mempunyai informasi pendukung yang mampu menyakinkan dirinya dalam mengambil keputusan persetujuan kredit, sehingga ketergantungan pada bagian kredit dalam pengumpulan data yang benar dan akurat seringkali menyebabkan proses

"Pengecekan Lapangan" berlangsung lama.

Pada masa yang akan datang, Sistem Kredit ini hams lebih cepat dan efisien. Untuk itu, diperlukan perbaikan sistem informasi seperti yang disajikan Gambar 6. Disini diperlukan fasilitas komputer (hardware maupun somare) yang memungkinkan percepatan pengamb'ilan keputusan

(30)
(31)
(32)
(33)

pemberian kredit dan keputusan manajerial lainnya yang lebih cepat dan objektif. Hal ini dapat diharapkan karena adanya data pendukung yang terorganisasi baik (database). Sebagai contoh, data calon nasabah dan

data keuangan sebagai informasi pendukung dalam pemutusan persetujuan kredit dan penentuan nilai kredit.

Untuk menentukan nilai kredit, ada tiga variabel yang dipertim- bangkan, yaitu: (1) variabel usaha, (2) variabel keluarga, dan (3) variabel jaminan. Variabel usaha ditentukan dengan analisis kelayakan berdasarkan standar umum yang berlaku. Artinya, pendapatan dan resiko dari usaha nasabah ditaksir dari pendapatan dan resiko rata-rata masyarakat dari usaha tersebut, misalnya ojeg, buka kios, dan dagang buah. Dengan demikian ketersediaan data dan informasi relatif tidak diperhatikan, namun untuk usaha yang tidak umum dimasyarakat, seperti jasa penyewaan komputer, dan toko buku, BPR Talabumi Leuwiliang akan kesulitan melakukan taksiran pendapatan dan resiko.

Untuk itu, data dan informasi mengenai komoditi dan jasa, seperti data harga dan kebutuhan, sangat dibutuhkan

BPR

Talabumi Leuwiliang pada masa mendatang. Data dan informasi ini dapat diperoleh dari lemba- ga-lembaga terkait, seperti kantor kecamatan, kantor desa, dinas-dinas, pasar, kelompok pedagang, persatuan ojeg, dan lembaga perekonomian lainnya.

Variabel keluarga ditentukan dari kartu keluarga yang dapat dipero- leh dari kantor desa. Data yang dibutuhkan adalah jumlah keluarga, pekerjaan, jumlah tanggungan, pendidikan anggota keluarga, hubungan antara keluaraga, dan laimya. Dari data keluarga ini dapat diprediksi

(34)

pendapatan dan pengeluaran per bulannya serta tingkat hubungamya dengan BPR Talabumi Leuwiliang. Variabel jaminan ditaksir langsung berdasarkan harga umum yang terjadi pada saat sekarang, sehingga BPR Talabumi kuwiliang hams memiliki data dan informasi tentang harga dan kecendemngan perkembangan perekonomian wilayah, supaya memberikan keadilan h a t dalam menentukan nilai jaminan tersebut.

Informasi yang terkumpul dari ketiga variabel diatas, oleh pihak manajemen dijadikan sebagai bahan dasar dalam menentukan nilai kredit dan memutuskan realisasi kredit nasabah. Dengan demikian, resiko kesa- lahan lebih diperkecil, karena data yang dipakai adalah data aktual dan berlaku di masyarakat.

Dengan demikian, nilai yang tertera pada Surat Permohonan Kredit (SPK) secara teknis mempakan nilai kredit yang sudah diakui kelaya- kannya oleh BPR Talabumi Leuwiliang, karena pengajukan SPK mempa- kan hasil analisis bagian kredit atas nasabah berdasarkan data dan informa- si ketiga variabel di atas yang dimiliki oleh BPR Talabumi Leuwiliang. Hal ini berimplikasi pada pengecekan lapangan yang lebih cepat, seperti terlihat pada Sistem Kredit yang diperbahami (Gambar 6). Pada sistem sekarang, survey dan interview relatif lebii lama karena hams mengum- pulkan data nasabah dilapangan, bam membuat analisis jaminan dan lapor- an serta meminta persetujuan Direktur. Pada sistem yang diperbahami, ha1 itu cukup ditangani oleh Kepala Bagian kredit yang berdasar pada informasi keuangan BPR sebagai kontrol keseimbangan antara penyaluran dan pengumpulan dana.

(35)

Proses "Pengecekan Lapangan" pada Gambar 6 hanya mempakan langkah preventif untuk menghindari penipuan data dan informasi, serta untuk membuktikan apakah usaha calon nasabah dapat dipercaya dan berjalan sesuai pennohonan, serta memeriksa apakah usaha calon nasabah akan mampu membayar uang angsuran kredit dan bisa mempunyai keun- tungan. Proses tersebut juga mengacu pada keuntungan, namun sudah dimulai dari tahap awal proses. Bahkan untuk nasabah yang mempunyai hubungan personal yang tinggi dengan BPR atau stafnya atau tersedia datanya secara lengkap di BPR, pelaksanaan pengecekan lapangan bisa diabaikan.

Pola ini bisa diadopsi untuk nasabah yang tidak memiliii jam&n, dimana derajat hubungan menjadi faktor penentu. Oleh karena itu, perlu dikaji supaya BPR Talabumi Leuwiliang berani menjangkau masyarakat (bukan keluarga staf) yang tidak mempunyai jaminan. Ini bisa terjadi, jika BPR Talabumi mempunyai data yang lengkap tentang potensi usaha dan karakteristik nasabah. Jika ini diterapkan, maka BPR Talabumi Leuwi- liang selangkah lebih maju dalam mengaplikasikan bank di masyarakat, dimana masyarakat kecil dapat berpartisipasi tanpa hams dibebani oleh jaminan yang notabene tidak dimiliki oleh masyarakat kecil. Salah satu yang dapat disarankan adalah bagaimana BPR Talabumi Leuwiliang marnpu menciptakan nasabah menjadi pengusaha-pengusaha kecil pede- saaan.

Selanjutnya, Gambar 6 juga menjelaskan bahwa pada Sistem Informasi Kredit yang diperbahamhi ada proses "Penyesuaian Keuangan". Proses ini dimaksudkan untuk mengontrol kondisi keuangan dalam periode

(36)

tertentu, misalnya harian, untuk menjaga keseimbangan antara pemasukan (dihitung dari biaya provisi, Biaya Administrasi TagihanIBAT, dan Biaya Tata Laksana/BTL) dan pengeluaran (kredit). Hal ini penting, supaya operasionalisasi BPR Talabumi Leuwiliang secara keseluruhan berlangsung dengan baik. Maka dari itu, BPR Talabumi Leuwiliang harus mempunyai database keuangan yang dapat dihubungkan dengan Sistem Kredit. Namun, demikian proses "Penyesuaian Keuangan" ini bukan menjadi faktor pembatas pemberian kredit, tetapi lebih berfungsi pada pengawasan terhadap batas minimal kas yang harus tersedia, supaya tidak terjadi over kredit pada tenggang waktu tertentu.

Dengan demikian, perhitungan pemasukan dan pengeluaran uang pada Sistem Kredit yang diperbaharui (komputer) ada pada proses awal bukan pada pada saat realisasi kedit. Ini berarti, Sistem Kredit yang diperbaharui satu proses lebih awal dan lebih cepat, tetapi tetap berazas pada prinsip kehati-hatian.

Perbandingan efisiensi antara Sistem Kredit yang sedang berlang- sung dengan yang diperbahuri pada setiap proses dapat dilihat pada Net- work Diagram (Gambar 7 dan 8). Gambar 7 menunjukkan bahwa nasabah umumnya membutuhkan waktu selama 9 (sembilan) hari sejak melakukan penyiapan persyaratan sampai akad kredit (lihat jalur kritis). Hal ini terja- di selain karena kurangnya ketersediaan data dan informasi tentang nasa- bah yang disuwey, juga karena kemampuan teknik pengumpulan data dan informasi bagian kredit masih rendah, serta tidak adanya prosedur baku yang efisien diterapkan.

(37)
(38)
(39)

Dengan demikian, sebenarnya BPR Talabumi dapat mempercepat dengan hanya melakukan efisiensi dan pengaturan jadwal kerja (Gambar 8

bagian A), yaitu menjadi 6 hari (perbaikan prosedur). Namun dengan melakukan penyediaan data dan informasi, maka akan lebih cepat lagi, yaitu 4 hari (Gambar 8 bagian

B).

Percepatan yang diperoleh ini secara langsung mengurangi biaya, sehingga BPR memperoleh keuntungan yang lebih besar dengan tidak membebani nasabah. Gambar 8 juga mengindika- sikan adanya aktivitas baru yang dapat dijadikan alat evaluasi kredit, yaitu proses "Evaluasi dan Pelaporan Kredit". Proses ini lebih cenderung pada evaluasi personal selama menjadi nasabah, seperti karakter, aktivitas so- sial, aktivitas agama, dan lain-lainnya.

Pembuatan pelaporan cenderung akan lebii cepat dengan adanya ketersediaan data dan informasi yang dibangun untuk menunjang pengam- bilan keputusan. J i a selama ini pelaporan hanya bersifat informatif, maka pelaporan yang diperbaharuhi hams lebii mengarah pada marketing.

Artinya, nasabah dievaluasi baik personal maupun kredimya untuk dipu- tuskan apakah bisa ditambah, dikurangi, tetap, atau dientikan kredimya. Hal ini bisa dilakukan jika

BPR

Talabumi memiliii perangkat evaluasi.

Gambar 9 adalah Jadwal Menagih Nasabah yang diisi dan dibuat oleh penagih sebagai data perkembangan kredit nasabah. Data perkem- bangan kredit ini dipadukan dengan data personal nasabah hasil evaluasi

langsung penagih dan kemudian direkap kedalam Evaluasi Penagihan Kredit (Gambar 10). Evaluasi Penagihan Kredit ini dibuat pada akhir periode kredit nasabah dan sekaligus dijadikan dokumen awal pada pengambilan kredit selanjutnya, juga sebagai bahan pelaporan kredit.

(40)
(41)
(42)

Untuk memudahkan penagihan dan meminimalkan biaya penagi- han, penggunaan jadwal mengansur (Gambar 11) dan peta nasabah (Gambar 12) sangat efektif. Jadwal mengangsur diberikan kepada nasabah dan diberi tanda tanggal-tanggal mengansur oleh penagih, selain untuk membantu mengingat juga membantu merencanakan pengangsuran. Keter- lambatan mengangsur dapat dijadikan tolok ukur evaluasi pelaksanaan kredit nasabah yang bersangkutan.

Peta nasabah memberikan alternatif yang lebih baik bagi BPR Talabumi Leuwiliang untuk melakukan perencanaan penagihan dengan biaya seminimal mungkin dan seefektif mungkin. Selain menentukan jalur terpendek juga untuk perencanaan pengembangan nasabah atau perluasan pasar, sehingga BPR Talabumi Leuwiliang mengetahui masyarakat mana yang menjadi nasabah dan bagaimana melakukan pendekatan serta kemana penyaluran dan pengumpulan dana dilakukan.

4.4. Sistem Tabungan

Pemberian jasa tabungan dilakukan setiap akhir bulan, dengan perhitungan tingkat bunga (17%) dikalikan saldo terendah awal bulan dan dikurangi pajak bunga (15%). Jenis Tabungan BPR Talabumi Leuwiliang adalah "Tabungan Persada". Nasabah tabungan sebagian besar adalah nasabah kredit, sehingga pengumpulan dana dari tabungan ini relatif lambat, bahkan beberapa nasabah hanya sekali menabung karena langsung dipotong dari nilai kredit. Pada masa yang akan datang, BPR Talabumi Leuwiliang hams memperbanyak nasabah sukarela yang menyadari man- faat menabung di BPR Talabumi Leuwiliang.

(43)
(44)
(45)

Gambar 13 menunjukkan diagram konteks sistem tabungan BPR yang melibatkan lima elemen lingkungan, yaitu Nasabah, Kasir, Bagian Tabungan, Kepala Bagian Tabungan dan Direktur. Gambar 14 mempakan Sistem Tabungan pada saat ini, dimana fungsi kelima elemen lingkungan ini tidak berbeda dengan di Sistem Kredit. Kepala Bagian Operasional barn terlihat fungsinya pada Gambar 15 yang merupakan penyempurnaan Sistem Tabungan dengan memasukkan unsur komputer.

Gambar 15 menunjukkan prosedur yang semakin sederhana dan cepat, walaupun prosesnya bertambah. Jiia pada sistem sekarang perlu persetujuan direktur untuk menabung, maka pada sistem yang diperbahami tidak diperlukan lagi persetujuan Direlrtur. Hal ini karena dalam mena- bung tidak perlu dilakukan analisis kelayakan dan juga penabung tidak hams orang yang tercantum namanya dalam kartu tabungan, sehingga resiko bukan pada pihak BPR.

Proses "Evaluasi Nasabah Tabungan" ini dianggap perlu karena selain bertujuan untuk mengetahui profil nasabah juga sebagai dasar pengukuran performans operasional tabungan. Hal ini bermanfaat sebagai informasi bagi manajemen dalam melakukan keputusan-keputusan manaje- rial mengenai perbaikan performans tabungan, misalnya dalam penentuan tingkat bunga, penentuan target nasabah, alokasi keuangan untuk opera- sional dan promosi dan sebagainya. Dengan demikian, masyarakat yang menabung di BPR Talabumi Leuwiliang menyadari betul manfaat dan keuntunganny a.

(46)
(47)
(48)
(49)

Selanjutnya, BPR Talabumi Leuwiliang sebaiknya juga mempunyai peta nasabah tabungan, seperti pada peta nasabah kredit. Hal ini berfungsi sebagai informasi dalam merencanakan promosi atau pemasaran. Sekali- gus juga untuk mengetahui kelompok-kelompok masyarakat mana yang sangat antusias dalam menabung.

Selain itu, juga dianjurkan untuk membuat form evaluasi untuk setiap nasabah yang diisi dan dilaporkan oleh bagian tabungan ke pihak manajemen. Form evaluasi untuk nasabah tabungan pada dasamya mirip dengan nasabah kredit, tetapi lebih berorientasi pada peningkatan jumlah tabungan dan intensitas menabung. Contoh dari form evaluasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 16. Ini berarti bagian tabungan hams mengenal betul siapa nasabah (misalnya pekerjaannya, darimana uang yang ditabung, dan karakternya), sehingga bagian tabungan tidak hanya bertindak pasif tetapi aktif memberikan alternatif-alternatif untuk meningkatkan kemam- puan menabung para nasabah.

Ini

bisa terjadi, jika bagian tabungan memiliki naluri kemitraan @artnership) yang ramah dan normatif.

4.5. Sistem Deposito

Jenis deposito yang ditawarkan oleh BPR Talabumi Leuwiliang ada tiga, yaitu deposito berjangka 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan. Tingkat bunga sebesar 20% per tahun yang ditawarkan setiap bulan, sehingga untuk deposito sebesar Rp 10 juta, nasabah bisa memperoleh 142 ribu per bulan (setelah dikurangi pajak). Pihak BPR Talabumi Leuwiliang kesuli- tan untuk mengajak masyarakat agar mau menyimpan uangnya dalam jumlah besar. Karena itu, sampai saat ini belum ada masyarakat

(50)
(51)

Leuwiliang yang mendepositokan uangnya di BPR Talabumi Leuwiliang.' Dengan demikian, deposito hanya berasal dari pemegang saham.

Pada dasamya, Sistem Deposito tidak berbeda dengan Sitem Tabungan. Karena selain sama-sama proses pengumpulan dana, juga karena secara prinsip prosedural tidak berbeda, bahkan lebih sederhana. Berdasarkan pengalaman BPR Talabumi Leuwiliang, deposito yang ada adalah dari pemegang saham, sehingga penga~hnya pada Sistem Informa- si BPR tidak begitu terasa.

4.6.. Sistem Keuangan

Sistem Keuangan sangat terkait dengan sistem pelaporan keuangan BPR yang sekaligus menjadi tolok ukur performans BPR. Bank Indonesia @I) sebagai lembaga pengawas membuat beberapa standar laporan yang sebagian besar terkait dengan Sistem Keuangan, yaitu:

(a) 1. Laporan Keuangan Bulanan disampaikan paling lambat 10 hari.

2. Laporan BMPK (Batas Maksimum Pemberian Kredit)

disampaikan paling lambat 10 hari.

3. Laporan Keuangan Bulanan dan Laporan

BMPK

disampai-

kan ke BI secara bersama-sama.

(b) Laporan mengenai realisasi pemberian kredit setiap triwulan 3 atau 3 (tiga) bulan. Laporan ini disampaikan ke BI selambat-lambatnya

1 (satu) bulan setelah triwulan yang dimaksud berakhir. Bulan

laporan: MARET, JUNI, SEPTEMBER, DESEMBER.

(c) 1. Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi dilakukan se-

kurang-kurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun, yaitu berupa Laporan Keuangan Intern Posisi Akhir Bulan Juni dan Laporan Keuangan Akhir Tahun Posisi Akhir Desem- ber.

2. Laporan Keuangan Publikasi disajikan dalam bentuk Per- bandingan dengan Laporan Periode yang sama tahun sebe- lumnya.

3. Laporan Keuangan Publikasi dilakukan selambat-lambatnya:

I

I

Hagister nanajemen Agribisnis I P B M I S

-

57

I

(52)

a. 1 (satu) bulan setelah berakhirnya bulan laporan untuk Laporan Keuangan Intern, posisi akhir bulan Juni.

b. 2 (dua) bulan setelah berakhirnya tahun untuk Laporan Keuangan Akhir Tahun, posisi akhir bulan Desember.

4. Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi ditempelkan

pada papan pengumuman di kantor BPR Talabumi Leuwi- liang.

(d) Laporan Keuangan Tahunan wajib disampaikan kepada Bank

Indonesia selambat-lambatnya akhir bulan Februari tahun beri- kutnya. Laporan Tahunan yang disampaikan iN adalah Laporan Keuangan yang

dipertanggungjawabkan.kepada

Direksi atau yang setingkat RUPS atau Rapat Anggota.

(e) Pembuatan rencana kerja BPR Talabumi Leuwiliang adalah Renca- na Kegiatan dan Anggaran selama 1 (satu) tahun. Rencana Kegia- tan dan Anggaran ini disampaikan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah tahun takwim diiulai.

(f) Laporan Pelaksanaan Ke j a adalah Laporan dari dewan Komisaris

mengenai hasil pengawasan terhadap pelaksanaan rencana k e j a tahunan oleh Dieksi.

Standar Laporan Keuangan yang diminta oleh Bank Indonesia ter- diri dari:

(a) Neraca Bulanan

(b) RekeNng-rekening Administrasi

(c) Daftar Rincian Antar Bank Pasiva (d) Daftar Rincian Antar Bank Aktiva (e) Daftar Rincian Kredit yang Diberikan

(f) Daftar Rincian Tabungan

(g) Daftar Rincian Deposito Berjangka (h) Daftar Rincian Rupa-rupa Aktiva (i) Rincian Rupa-mpa Pasiva

(i) Daftar Rincian Laba Rugi

Untuk memenuhi laporan ke BI ini, BPR Talabumi LRuwiliang mempunyai:

(a) Perincian Perhitungan Laba-Rugi

(b) Jurnal

(53)

Perbedaan antara laporan Standar BI dengan yang dimiliki olehc BPR Talabumi Leuwiliang adalah format dan sandi yang digunakan. Untuk itu, dalam Sistem Informasi Keuangan, perlu penyesuaian penyan- dian.

Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam penyesuaian penyandian, yaitu (1) penyesuaian tanpa membah masing-masing sandi dan (2) penye- suaian dengan membah sandi BPR Talabumi Leuwiliang ke Standar BI. Cara pertama lebih praktis dengan alasan bahwa elemen-elemen keuangan BPR Talabumi Leuwiliang berbeda dengan BI, sehiigga tidak semua laporan standar BI bisa terisi. Dalam ha1 ini, laporan yang biasa diisi oleh BPR Talabumi Leuwiliang adalah Neraca Bulanan, Daftar Rincian Kredit yang Diberikan, Daftar Rincian Tabungan, Daftar Rincian Deposito Ber- jangka, Daftar Rincian Rupa-mpa Aktiva, dan Daftar Rician Laba Rugi.

Penyesuaian cara kedua akan lebih akrab, tetapi membumhkan beberapa pembahan elemen-elemen keuangan BPR Talabumi Leuwiliang yang seringkali sulit disesuaikan. Hasil penyesuaian pada kedua cara di .

atas dapat dilihat pada Lampiran 1,2, 3 , 4 , dan 5.

Penyesuaian sandi cara pertama menunjukkan tidak semua elemen (pos) keuangan sesuai (Lampiran 1, 2, dan 3), karena adanya perbedaan elemen keuangan antara BI dengan BPR Talabumi Leuwiliang. Bahkan, ada satu elemen keuangan BI hams disesuaikan dengan beberapa elemen keuangan BPR Talabumi Leuwiliang (Lampiran 3). Kondisi ini tidak terjadi pada penyeseuaian cara kedua (Lampiran 4 dan 5).

(54)

Namun, penyesuaian cara kedua ini membuhlhkan pembahan format laporan BPR Talabumi Leuwiliang, baik dari segi konteks penuli- san maupun letak (umtan) elemennya (lihat yang bertanda *). Walaupun demikian, cara kedua ini lebih mudah menggunakamya karena langsung merefleksi laporan standar BI.

4.7. Sistem Sumberdaya Manusia

Saat ini, BPR Talabumi Leuwiliang sedang melakukan pembenahan sumberdaya manusia. Posisi kosong pada Kepala Bagian, seperti yang terlihat pada bagan organisasi, m e ~ p a k a n posisi yang sedang ditawarkan oleh BPR Talabumi kepada stafnya (atau orang lain) yang dianggap me- miliki kemampuan. Untuk menempatkan seseorang pada posisi tersebut, BPR Talabumi sedang melakukan observasi terhadap staf yang ada dan mencari kemungkinan untuk merekrut dari luar. Dalam kaitan itu, BPR Talabumi Leuwiliang membutuhan suatu sistem kerja (prosedur) atau lebii jauh adalah sistem informasi sumberdaya manusia, yang secara teknis mampu memberikan informasi detail tentang staf BPR Talabumi Leuwi- liang (atau orang luar), baik yang berkaitan dengan kualitas kerja maupun kualitas kemampuan bekerjasama.

Untuk itu BPR Talabumi Leuwiliang membutuhkan seperangkat alat evaluasi, seperti yang terlihat pada Gambar 17. Gambar 17 iN menunjukkan form evaluasi akhir dari seorang staf dalam jangka waktu tertentu dengan aspek p e ~ l a i a n meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan perilaku. Pada kondisi saat ini, BPR Talabumi Leuwiliang sehamsnya melakukan penekanan pada "objektivitas atasan" dalam melihat ketiga

(55)

EVALUASI SUMBERDAYA MANUSIA

BPR TALABUMI LEUWILIING

Nama Staf

Nomor

Jabatan

Gambar 17. Form Evaluasi

SDM

BPR Talabumi Leuwiliang

Pengetahuan Resume Pendidikan dan Pelatihan

I

A m .

I p i q

Skala

Sikap Resume Gaji

Skala

ResumeJabatan Bog or,

. .

.

.

.

. . .

Menyetujui, Mengusulkan.

(56)

aspek tersebut, karena untuk hal-ha1 yang bersifat kuantitatif, seperti tes, belum mungkin untuk dilaksanakan.

BPR Talabumi Leuwiliang telah memiliki job description, sehingga evaluasi dapat dilakukan dengan melihat adanya gap yang terjadi antara kerja ideal dengan kerja faktanya. Meskipun demikian, job description bukan dijadikan dasar evaluasi utama, karena seringkali faktor non-teknis sangat berpengaruh (misalnya aspek lingkungan). Untuk itu, sudah sehamsnya melakukan pembangunan sistem informasi sumberdaya manu- sia ini sejak sekarang, selain karena masalah sumberdaya manusia ini sangat krusial, juga karena pengembangan sumberdaya manusia akan berpengaruh langsung pada pengembangan BPR Talabumi itu sendiri.

BPR Talabumi Leuwiliang juga diiarapkan mempunyai perangkat perencanaan sumberdaya manusia untuk memberikan kepastian masa depan bagi stafnya. Gambar 18 mempakan contoh form perencanaan untuk beberapa tahun mendatang yang dapat digunakan sebagai acuan bagi BPR Talabumi untuk mengembangkan sumberdaya manusianya. Pengem- bangan sumberdaya manusia ini mengarah pada tiga dimensi peningkatan, yaitu peningkatan kualitas (seperti pendidikan dan pelatihan), peningkatan status (seperti karir), dan peningkatan pendapatan (seperti gaji).

4.8. Sistern Pernasaran

Pemasaran dalam pengertian aktif memang belum menjadi perha- tian BPR Talabumi Leuwiliang, karena saat ini nasabah mendatangi BPR atau membutuhkan BPR. Dengan pemikiran seperti ini, BPR sudah cukup melakukan intervensi pada pasar, misalnya dengan dari mulut ke mulut

(57)

PERENCANAAN

SUMBERDAYA MANUSIA

BPR TALtBUMl LEOWILIAWG

II

Tanggal Dibuat

Tanggal Berakhir

Perencanaan Penerimaan Perencanaan Keluar

Perencanaan Pensiun

I-llJunlhI

Bogor,

. . .

.

. . .

.

. . .

.

Menyetujui. Mengusulkan.

(58)

atau penempatan papan nama di depan kantor. Ini berimplikasi pada tidak adanya posting biaya dan alokasi tenaga kerja ke pemasaran.

Pada masa mendatang, kondisi seperti di atas akan berubah pada persaingan yang semakin ketat. Selain karena masuknya lembaga keuangan lain (pertumbuhan industri yang relatif cepat), juga karena sasar- an konsumemya semakin sediiit dan cenderung tidak disertai dengan per- luasan area. Pada kondisi demikian, ada dua ha1 yang dapat dilakukan BPR Talabumi, yaitu melakukan efisiensi dan diversifikasi konsumen. Efisiensi adalah melakukan perbaikan manajemen terns menerus dengan memperbesar rasio output terhadap input, sedangkan diversivikasi konsu- men adalah membuka pasar baru bagi konsumen yang selama ini diting-

galkan padahal berpotensi untuk digarap, misalnya pertanian.

Untuk menjawab tantangan itu, maka BPR Talabumi harus Leuwi- liang h m s aktif memasarkan produknya. Dalam ha1 ini, peranan sistem informasi pemasaran yang sesuai dengan lingkungan BPR Talabumi mutlak diperlukan. Contoh pemasaran yang mungkin dilakukan adalah tatap muka

.. dan melalui media, seperti membuat papan nama, stiker, papan penunjuk,

dan sebagainya yang bekejasama dengan lembaga formal maupun non formal terkait laimya (misalnya kecamatan, desa, kepolisian, kelompok pengajian, dan laimya).

(59)

BAB V.

RANCANGAN SISTEM INFORMAS1 MANAJEMEN

BANK PERKREDITAN RAKYAT

Sistem Informasi Manajemen

Bank

Perkreditan Rakyat (SIM-BPR) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi pihak manajemen dan atau pihak lain yang berkompeten dengan BPR dalam rangka efisiensi, inovasi, dan pembangunan sumberdaya informasi sebagai basis pengambilan kepu- tusan strategis, baik berupa keputusan yang bersifat operasional (rutin dan mendadak) ataupun perencanaan. SIM-BPR ini akan dibagi dalam dua kategori, yaitu:

(a) Sistem Informasi Fungsional (SIFIFunctional Information System)

(b)

Sistem Informasi Eksekutif (SIEIExecutive Infonnation System)

SIF terdiri dari Sistem Informasi Jasa (SU) Sistem Informasi Keuangan (SIK), Sistem Informasi Sumberdaya Manusia (SISDM), dan Sistem Informasi Pemasaran (SIP). Keempat sistem informasi ini akan ditunjang oleh data yang diperoleh dari Sistem Informasi Pembukuan (Sistem Informasi AkuntansilSIA).

5.1. Sistern Informasi Akuntansi (SIA)

SIA ditandai oleh aktivitas transformasi data yang tinggi, baik dari aspek volume data maupun proses dan pengemasannya. Terdapat empat fungsi utama dalam SIA ini, yaitu: (1) pengumpulan data,

(2)

transformasi data, (3) penyimpanan data, dan (4) penyiapan dokumen. Dalam sistem terkomputerisasi, SIA memiliki model seperti pada Gambar 19.

(60)
(61)

Pengumpulan Data:

Setiap BPR Talabumi Leuwiliang berinteraksi dengan lingkungan- nya (individu, kelompok atau lembaga) dijelaskan oleh satu catatan data (record), misalnya data penduduk, data pedagang, dan seba- gainya.

Transformasi Data:

Transformasi data berarti mengubah data menjadi informasi bagi BPR Talabumi Leuwiliang (dan pengguna lain). Dalam mentrans- formasi data ini dilakukan beberapa tahapan, yaitu:

(1) Pengklasifikasian. Penggunaan kode untuk mengklasifika- sikan data. Kode merupakan satu atau beberapa karakter yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengelompok-

kan record. Contoh, record nasabah kredit memuat kode- kode yang mengidentifikasi nasabah yaitu nomor rekening, nomor desa, klasifikasi gaji, dan sebagainya.

(2) Penyortiran. Penyusunan record berdasarkan urutan ter- tentu atas dasar kode yang diinginkan pengguna. Contoh, ingin menyusun nama-nama nasabah berdasarkan jumlah kredit.

(3) Perhitungan. Digunakan operasi matematik (perkalian, pembagian, penambahan, pengurangan) dan logika (lebih besar, lebii kecil, naik, tetap, turun, dan sebagainya) untuk memperoleh data tambahan dalam menunjang informasi. Misalnya, menentukan jumlah bunga kredit.

(4) Pengikhtisaran. Penggunaan banyak data yang perlu disin- tesis dan disarikan menjadi informasi yang diinginkan. Misalnya, mengetahui tingkat permmbuhan kredit.

Penyimpanan Data:

Data disimpan dalam bentuk file baik pada memori internal dan eksternal dalam komputer. File-file tersebut dapat diintegrasikan secara logis untuk membentuk database.

Gambar

Gambar 1.  Kerangka Konseptual Geladikarya
Gambar  2.  System Development Life  Cycle
Gambar 3.  Struktur Organisasi BPR Talabumi Leuwiliang
Gambar  ini mempakan diagram konteks sistem kredit  BPR  yang melibat-  kan  lima  elemen  lingkungan  (environmental  elements),  yaitu  Nasabah,  Kasir,  Bagian  Kredit,  Kepala  Bagian  Operasional  dan  Direktur
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol daun sirih merah (EEDSM) terhadap kadar gula darah (KGD), berat pankreas dan dan berat badan mencit

Tingkat pemanfaatan dihitung dengan mempersenkan jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu terhadap nilai MSY (Paully, 1983). Tingkat pengupayaan dihitung dengan mempersenkan

Ebben az esetben megfigyelhető mind a farmakon akut hatása a feladat által létrejött agyi aktivitásra, mind krónikus kezelés hatása, például többhetes antidepresszív

atau karyawan Perseroan bertindak sebagai kuasa dari pemegang saham Perseroan sebagaimana dimaksud Pasal 24 ayat 7 Anggaran Dasar Perseroan dalam Pasal 85 ayat (4)

Hubungan antara parameter di dekat pantai dengan nilai temporal eigenfunction menunjukkan bahwa semakin besar sudut datang gelombang memberikan hasil wave steepness (Ho/Lo),

Tulisan ini memberikan gambaran tentang best practices pelaksanaan research support services di lingkungan perpustakan perguruan tinggi, dikaitkan dengan research

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa metode LibQual+™ bermanfaat untuk mengetahui pelayanan yang perlu perbaikan, mengembangkan pelayanan, dan memeriksa kinerja

Dari beragam definisi kepuasan konsumen yang telah dikemukakan oleh para ahli pemasaran, dapat disimpulkan bahwa kepuasan konsumen merupakan suatu tanggapan perilaku konsumen