• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISU LINGKUNGAN HIDUP DALAM EKSPANSI PERU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ISU LINGKUNGAN HIDUP DALAM EKSPANSI PERU"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ISU LINGKUNGAN HIDUP DALAM EKSPANSI

PERUSAHAAN MULTINASIONAL

(Study Tentang Aktivitas Freeport di Papua)

Galuh Tri Wahyuning Tyas

1516041025

PENDAHULUAN

Indonesia menjadi salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, dengan wilayah laut yang dimiliki terbentang dari Sabang sampai Merauke seluas lebih dari 17.508 pulau. Besarnya wilayah Indonesia mengakibatkan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah berupa minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas dan perak yang tersebar di beberapa wilayah.

Kondisi Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang begitu besar ini mengakibatkan banyak perusahaan asing untuk menanamkan modalnya dan menjalin kerjasama dengan Indonesia. Di sektor pertambangan, salah satu perusahaan asing yang telah menjalin dengan Indonesia adalah PT. Freeport Indonesia, perusahaan tambang yang berasal dari Amerika Serikat yang melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas dan perak yang terletak di Kabupaten Mimika Provinsi Papua Barat, Indonesia. Praktek eksploitasi tambang secara besar-besaran ini ternyata tidak memperhatikan sisi lingkungan hidup daerah yang di eksploitasi, bahan-bahan kimia yang berbahaya yang digunakan untuk memisahkan konsentrat di biarkan mengalir pada sungai-sungai dan tanah dimana bahan-bahan ini tidak sepenuhnya bisa dinetralisir.

(2)

A. Rusaknya Tanah Surga

Merusak alam adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sistem kapitalisme, karena tanpa merusak alam tidak mungkin kapitalisme melakukan akumulasi kapital1. Akumulasi kapital adalah jantung yang berdenyut dan darah yang mengalir di dalam sistem yang sarat dengan eksploitasi buruh dan alam, karena akumulasi kapital merupakan sifat dasar dari sistem kapitalisme. Tanpa akumulasi kapital sistem kapitalisme akan bangkrut.

Persaingan adalah sifat yang diturunkan dari sifat dasar kapitalisme dalam akumulasi kapital. Akumulasi kapital dapat dijelaskan sebagai keuntungan yang diperoleh dari proses produksi akan lebih ditingkatkan lagi dalam proses produksi selanjutnya. Peningkatan ini terus menerus dilakukan oleh pemilik kapital (modal). Jika hal ini tidak dilakukan pemilik modal akan dijatuhkan oleh para pesaingnya dan akan mengalami krisis dan terancam bangkrut. Dengan kata lain, jika pemilik modal tidak ingin dijatuhkan oleh pesaingnya maka pemilik modal harus melakukan akumulasi kapital (penumpukan keuntungan) hingga pemilik modal dapat memonopoli semua saingannya maka dari itu pesaing merupakan turunan dari sifat dasar tersebut.

Perusahaan Freeport sebagai bentuk konkret dari proses produksi dalam sistem kapitalisme, semenjak awal beroperasinya di Indonesia hingga hari ini telah melakukan tindakan negatif untuk kepentingan melakukan akumulasi kapital, diantaranya mendikte negara untuk tunduk pada kepentingannya dapat dicontohkan pada perjanjian antara Freeport dengan Pemerintahan Indonesia yaitu kontrak karya yang kebanyakan pada isi kontrak tersebut hanya menguntungkan pihak Freeport saja, persaingan tidak sehat antar mitra bisnisnya, penindasan terhadap buruh yang dipekerjakan, merampas tanah penduduk dalam proses akumulasi primitif dan abai terhadap kesejahteraan penduduk setempat dimana Freeport melakukan proses produksinya.

Selain hal yang terseut di atas, Freeport juga melakukan tindakan lain yang dilakukan di tanah Papua guna kepentingan akumulasi kapital yaitu dengan tindakan merusak alam tanah Papua. Freeport melakukan dua jenis penambangan yaitu penambangan terbuka ( open-pit) dengan menggunakan truk pengangkut dan sekop listrik besar dan sistem penambangan tertutup (block-caving) pada tambang bawa tanah.2 Setelah memperoleh bijih tambang, kemudian di angkut ke pabrik pengolahan, selanjutnya proses penampungan bagi bahan yang mengandung alkohol dan kapur, untuk memisahkan konsentrat yag mengandng mineral, tembaga, emas dan perak. Sisa dari batuan yang tidak memiliki nilai ekonomi, mengendap sebagai tailing dan dilepaskan ke sungai Ajkwa. Sisa endapan tailing yang dilepaskan

(3)

kesungai Ajkwa ini mengandung kadar asam yang tinggi dan tidak sepenuhnya bisa dinetralisir sehingga menimbulkan pencemaran sungai dan air tanah. Padahal sungai dan air bawah tanah mengandung nilai sosial-kultural bagi masyarakat Papua.

Fakta lain yang terjadi pada penambangan yang dilakukan Freeport terhadap perusakan lingkungan , Freeport melakukan kolonialisasi dan penjarahan secara ugal-ugalan atas sumber daya alam yang dimiliki tanah Papua tanpa memperhatikan dan melestarikan kelestarian lingkungan. Penambangan terbuka yang dilakukan oleh Freeport di Puncak Grasberg menghasilkan batuan limbah dan tailing hingga 700 ribu ton. Limbah tailing dan batuan itu dapat menenggelamkan wilayah seluas 200 km² atau setara dengan luas kota Bandung.

Proses produksi Freeport tidak menunjukkan tanggungjawab terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Sekitar 1,3 milliar ton limbah tailing dan 3,6 milliar ton limbah batuan yang dibuag telah mencemari sungai Ajkwa dan pembuangan limbah ini telah mengakibatkan jebolnya danau Wanagon hingga terkontaminasinya ratusan ribu hektar daratan dan lautan Arafuru. Tindakan ini sebenarnya telah melanggar hukum yang ditetapkan pemerintah Indonesia diantaranya pelanggaran terhadap KepMenLH No.5/2004 (hukum yang dibuat semasa kepemimpinan SBY) yang mengatur tetang Baku Mutu Air Laut dan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. (Siti Maimunah, Ibid. Hal. 81)

Perusakan lingkungan yang dilakukan oleh Freeport dalam proses produksinya terjadi semenjak awal tambang emas raksasa ini beroperasi di tanah Papua. Perusakan lingkungan secara masif terjadi dari tahun 1972, hingga hari ini freeport meningkatkan pembuangan limbahnya dari 75.000 ton hingga menjadi 230.000 ton perhari. Dari hasil kajian dampak lingkungan hidup pertambangan Freeport menunjukkan bahwa limbah tailing telah merusak setidaknya 36.000 hektar kawasan sungai Ajkwa, sepanjang 60 km kearah laut. Menurut menteri kehutanan Freeport telah mencemari 200.000 hektar hutan Papua. Jika tambang ditutup pada 2041 mendatang, berarti Freeport akan meninggalkan lebih dari 3 milliar ton limbah tailing dan lebih dari 4 miliar ton limbah batuan.

(4)

tinggal di sekitar tambanglah yang terancam bencana potensial terseut. Namun sayangnya, hal ini tidak mendapat perhaian dari perusahaan kapitalis Freeport tersebut.

B. Ancaman Limbah Freeport Bagi Kesehatan Masyarakat Papua

Limbah yang dibuang oleh perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoran Copper & Gold dan Rio-Tinto atau yang lebih di kenal dengn PT Freeport sangat berbahaya karena mengandung zat beracun yang bernama B3 atau akronim dari bahan, beracun, dan berbahaya. Limbah B3 dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk dalam tubuh melalui pernafasan, mulut dan pori-pori (kulit). Selain bahaya bagi tubuh manusia zat B3 ini juga sangat bahaya bagi lingkungan hidup. (Ajun Listiatoko d.k.k. 2012.limbah Berbahaya dan Beracun (B3). Fakultas Hukum UGM-Yogyakarta dalam Jurnal Freeport)

Limbah-limbah tersebut tidak hanya di buang di sungai Ajkwa oleh Freeport, namun banyak juga limbah yang dibuang di pegunungan sekitar lokasi pertambangan atau ke sungai-sungai lainnya yang mengalir turun kedataran rendah basah, yang dekat dengan lokasi penambangan. Berikut zat-zat beracun dan berbahaya yang dibuang oleh Freeport ke sungai, laut bahkan pegunungan diantaranya :

 Air raksa/hargentum/Hg/Mercury (memiliki daya rusak terhadap susunan saraf dan ginjal, menyebabkan kerusakan ginjal dan rusaknya daya ingat)

 Chromium (dapat menyerang sisitem kekebalan tubuh manusia sehingga rentan dengan berbagai penyakit dan sulit untuk disembuhkan)

 Cadmium/Cd (memiliki daya rusak terhadap ginjal, liver, testis pada pria dan indung telur pada kaum perempuan , menyerang sistem kekebalan tubuh susunan saraf dan darah)

 Timah hitam/Pb ( dapat menyerang saraf prifer dan sentral, sel darah, gangguan metabolisme vitamin D, dan kalsium unsur pembentuk tulang, juga gangguan ginjal secara kronis)

 Dan bahan-bahan lainnya yang berbahaya dan mengancam kesehatan masyarakat jika berada di sekitar zat-zat berbahaya tersebut.

Akibat dari limbah yang dibuang Freeport, banyak rakyat Papua yang menjadi korban. Dari wawancara dengan seorang mantan aktivis Walhi, ribuan orang terhitung semenjak tahun 1970an sampai dengan 2014 rakyat Papua mengidap penyakit yang berujung kematian. Air sungai yang mengalir di sungai pun sudah tak bisa lagi di konsumsi oleh warga sekitar tambang karena beracun.3

(5)

Sungai-sungai yang mengalir disekitaran wilayah eksploitasi Freeport sebelumnya adalah sungai-sungai yang indah dan dijadikan sumber air bersih bagi penduduk setempat. Seperti halnya dengan tanah, sungai-sungai itu memiliki status hak ulayat atau hak kolektof suku Kamoro. Namun ketika Freeport beroperasi sungai-sungai itu dirampas oleh Freeport, dicemari dengan limbah beracun yang memiliki daya rusak terhadap kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya yang ada di sungai.

Demi pembangunan dan perluasan areal Freeport, perusahaan ini telah merampas hak ulayat atau lahan milik suku Kamoro seluas 100.000 hektar pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian antara tahun 1983-1985, orang Amungme dan suku Kamoro kembali lahan mereka di rebut oleh Freeport seluas 7.000 hektar untuk mendirikan kota Timika. Kemudian lahan seluas 25.000 hektar direbut kembali untuk pembangunan kota Kuala Kencana. Rakyat Papua yang menjadi korban lahannya dirampas oleh Freeport tersingkir dan bermukim ditempt-tempat pembuangan limbah Freeport. Dan diditempt-tempat inilah mereka hidup bersama maut (racun kimia).

Dalam buku yang ditulis oleh Marwan Batubara melontarkan argumentasi bertendensi “gugatan”, ketika rakyat Papua disingkirkan dari tanah-tanah tempat menggantungkan hidupnya, “bercumbu” dengan limbah beracun, hidup dalam kemiskinan, kurang gizi, dan kelaparan yang berujung pada kematian. Sementara para petinggi Freeport mendapatkan fasilitas, tunjangan dan keuntungan yang besarnya mencapai satu huta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Timika-Papua. Di sisi lain, pemerintah Indonesia pun tidak diuntungkan (dalam ukuran kepentingan nasional tetapi tidak ketika keuntungan tersebut hanya di nikmati oleh segelintir elite daerah-Papua dan Pusat-Jakarta).4

Tidak banyak kontribusi penambangan Freeport terhadap rakyat Papua bahkan pembangunan di Papua dinilai gagal. Kegagalan pembangunan di tanah Papua dapat dilihat angka kesejahteraan rakyat Papua di Kabupaten Mimika. Penduduk Kabupaten Mimika yang ada di areal eksploitasi Freeport, terdiri dari 35% penduduk asli dan 65% pendatang. Pada tahun 2002, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 4% penduduk Papua dalam kondisi miskin, dengan komposisi 60% penduduk asli dan sisanya pendatang. Dan tahun 2005 kemiskinan rakyat di Provinsi Papua mencapai hingga 80,07% atau 1,5 juta penduduk. ( data BPS Papua tahun 2002-2005)

(6)

C. Rakyat Ibarat Ayam Mati Di Lumbung Padi

Ibarat ayam kelaparan dan mati dilumbung padi, kekayaan alam Papua tidak membuat rakyat Papua hidup dengan layak. Ditanah Papua masih banyak rakyatnya yang hidup dalam kemiskinan, kelaparan, dan kurang gizi karena kurangnya pangan.

Dalam buku yang ditulis Hira Jhamtani, mencatat selama bulan November – Desember 2005, ada sebanyak 55 orang (rakyat Papua) yang meninggak dunia karena disebabkan oleh gizi buruk dan sedikitnya 112 lainnya terbaring sakit karena kelaparan. Peristiwa ini terjadi di Kabupaten Yahukimo, ibu kota Provinsi Papua.5

Kondisi kelaparan dan kurang gizi yang menyebabkan kematian mengindikasikan keadaan kerawanan pangan yang paling ironis di Indonesia. Pertama, jumlah orang yang meninggal dunia di Yahukimo itu cukup banyak bila dibandingkan dengan jumlah penduduk disana yang hanya 55.000 orang.( Hira Jhamtani, Ibid. Halaman 30). Kedua, kelaparan ini terjadi disalah satu daerah yang memiliki kekayaa sumberdaya alam paling melimpah. Papua memiliki jutaan hektar hutan tropis yang masih asli, selain laut serta cadangan mineral (dari gas bumi dan minyak sampai tembaga emas yang dikelola oleh Freeport McMoran Copper % Gold) yang sungguh berlimpah.

Yahukimo secara goegrafis terletak di wilayah terpencil ,hanya dapat dijangkau dengan jalan kaki atau pesawat terbang, baik dari Jayapura maupun Wamena kota terbesar di dataran tinggi Papua yang berketinggian lebih dari 3000 meter di atas permukaan laut. Ini alasan bagi pemerintah untuk sulit mengakses Yahukimo untuk kepentingan memberikan bantuan kepada daerah ini. Alasan ini adalah alasan yang dibuat-buat. Karena hambatan geografis tidak akan menjadi masalah apabila kapitalis domestik dan korporasi-korporasi asing yang beroperasi di tanah Papua, terutama Freeport dan pemerinah Indonesia sendiri

care terhadap rakyat Papua. Berbagai infrastruktur yang memudahkan orang untuk menjangkau Yahukimo dapat dibangun oleh Freeport dan pemerintahan Indonesia, tetapi hal itu tidak dilakukan. Jika Freeport dapat membangun infrastruktur di Garsberg dan Ertsberg mengapa sulit untuk membangun Yahukimo dengan alasan sulitnya geografis Yahukimo.

Kesulitan geografis atau hambatan goegrafis yang menjadi alasan pemerintah Indonesia selalu terlambat dalam memberikan bantuan kepada rakyat Papua yang bertempat tinggal di daerah Yahukimo dan bencana kelaparan telah menyebar di daerah tersebut.

Kelaparan dan gizi buruk tidak hanya ditemui di Yahukimo, kasusu serupa juga ditemui di Kabupaten Tambrauw Provinsi Papua Barat. Berdasarkan dari data Dinas Kependudukan dan Tenaga Kerja Kabupaten Tambrauw, jumlah penduduk Kabupaten tambrauw di 7 Distrk pada taun 2011 sebanyak 9.771 jiwa yang terdiri dari 5.309 penduduk laki-laki dan 4.462 penduduk perempuan. Dengan jumlah peduduk yang sedikit, seharusnya

(7)

pemerintah setempat lebih memahami kondisi penduduknya dan lebih dapat membuat program sesuai dengan anggaran yang tersedia. Namun kenyataannya pihak pemerintah kabupaten justru mengetahui kelaparan diwilayahnya melalui laporan media. Dan respon para pejabat ialah membantah berita itu, bahkan mengancam membawa kejalur hukum para aktivis LSM yang mengadukan persoalan tersebut. (Zely Ariane, Ellias, Wilson, Heny, Ibid. Hal. 4-5).

Pada saat itu penduduk hanya makan satu kali sehari dan itupun hanya memakan buah-buahan dan dedaunan dari hutan. Bantuanpun akan didatangkan dari pusat kota menggunakan pesawat. Agar tidak terlambat sampai ketempat tujuan maka diperlukan pesawat yang dapat memuat makanan dengan kapasitas 3 ton, namun karena tidak adanya pesawat berkapasitas 3 ton makanan pun diangkut sedikit demi sedikit dan itupun datang terlambat. Karena kapasitas yang sedikit dan keterlambatan itulah yang menyebabkan banyak penduduk yang kelaparan. Pdahal perusahaan-perusahaan besar mempunyai pesawat dengan kapasitas 3 ton yang mampu membawa makanan itu dengan tepat waktu. Namun Freeport tidak mau mengerahkan pesawat tersebut dengan dalih tidak baik untuk iklim investasi. (Hira Jhamtani. Op.cit. Hal.33)

Seharusnya sebagai perusahaan yang mengambil kekayaan alam rakyat Papua, Freeport juga harus memperhatikan kesejahteraan rakyat Papua yang kelaparan khususnya di daerah Yahukimo dan provinsi Papua Barat. Freeport tidak seharusnya hanya menikmati buah manis dari penambangan tanah Papua, namun juga harus memperhatikan rakyat Papua yang berada pada garis kemiskinan, kelaparan dan gizi buruk yang menyebabkan bertambahnya angka kematian pada rakyat Papua.

D. Ketidakadilan Dalam Pemberian Hak

Selain berbagai masalah kemanusiaan yang disebakan oleh Freeport terhadap Lingkungan maupun rakyat Papua yang berada di daerah penambangan. Ternyata Freeport juga tidak memberlakukan keadailan pada para pekerja yang berasal dari dalam negeri.

(8)

yang didatangkan dari luar negeri (Filiphina, Korea, Australia, Amerika Serikat dan Jepang) dan sebanyak mungkin buruh-buruh dari Indonesia.

Dalam tahap ini terjadi diskriminasi upah. Upah yang paling besar diperoleh oleh buruh-buruh ahli yang datang dari Amerika Serikat, sedangkan upah terendah diberikan kepada buruh-buruh yang berasal dari dalam negeri.

Tidak hanya diskriminasi dalam hal upah, dalam ha perlakuan pun buruh-buruh Indonesia diberlakukan tidak adil dengan buruh-buruh yang berasal dari luar negeri khususnya dari Amerika Serikat diperlakukan secara istimewa. Perlakuan rasis pun tidak jarang dialami oleh buruh-buruh Indonesia.

Perlakuan rasis sengaja dilakukan Freeport agar buruh-buruh Indonesia merasa rendah diri. Tindakan ini adalah upaya dari Freeport agar mereka tidak akan protes apabila diupah dengan upah yang sangat rendah. Mereka digiring untuk merasa lebih inferior dari buruh-buruh luar negeri yang superior.6

Untuk lebih menekan ongkos produksi, Freeport juga mempekerjakan buruh-buruh sub-kontrak (outsourching). Pada awal beroperasinya Freeport ditanah Papua, hanya 400 buruh yang dipekerjakan secara permanen oleh Freeport dan itupun buruh-buruh dari Amerika Serikat. Dengan metode itu, pemilik modal dapat merekrut buruh-buruh yang dibutuhkannya setiap waktu dan memecatnya saat tidak diperlukan. (Ross Garnaut dan Chris Manning. Op.cit. Hal 93)

Dalam tahap pembangunan, hampir semua bahan makanan, bahan bangunan, ataupun alat-alat perlengkapan tidak didatangkan dan dibeli dari Indonesia, semuanya didatangkan dari perusahaan-perusahaan luar negeri milik Amerika Serikat. Hal ini dilakukan freeport untuk memberikan kesempatan bagi kapitalis perdagangan Amerika Serikat untuk mendapatkan keuntungan dari proses akumulatif primitif yang dilakukan Freeport pada proyek tersebut.

Ketika tahap Produksi telah dilakukan, maka terjadilah pemecatan secara besar-besaran buruh Indonesia yang dipekerjakan sebelumnya.7 Bagi para buruh yang berasal dari tanah Papua, yang direkrut setelah tanah miliknya dibebaskan oleh pemerintah, ketika mendapati dirinya dipecat dari perusahaan itu, mereka mendapati dirinya sebagai manusia

(9)

tanpa pekerjaan dan tanah untuk sandaran hidup. Oleh karena itulah tidak heran apabila sebagian diantara mereka melakukan perlawanan kepada Freeport dan Pemerintah Indonesia.

Rendahnya upah buruh-buruh dari Indonesia dibandingkan dengan penghasilan yang sangat besar yang dipeoleh Freeport dan buruh-buruh yang berasal dari Amerika Serikat dan dikekangnya kebebasan dalam berserikat, mendorong buruh-buruh Indonesia melakukan perlawanan. Namun saat buruh menuntut kebebasan berserikat, perbaikan kondisi kerja, penghapusan diskriminasi hak dan fasilitas antara pekerja asli Papua dan asing, serta kenaikan upah mereka justru diintimidasi dan represi. (Siti Maimunah. Ibid. Hal.13).

PENUTUP

(10)

oleh PT Freeport. Lingkungan hidup tidak dihiraukan lagi ketika kapitalisme telah menjarah Indonesia, kesehatan menjadi terabaikan ketika daratan emas menjadi tujuan utama demi kemakmuran segelintir orang penguasa namun tidak memakmurkan negeri tempat emas itu berada.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

[Dipetik dari Bab Evaluasi Dampak Dokumen ANDAL] [Halaman VI-15] Evaluasi dampak menggunakan matrik Leopold yang dimodifikasi, tetapi tidak dijelaskan sumber angka-

Belum lagi kerusakan lingkungan ini akan menciptakan bencana yang sebenarnya dibuat oleh manusia, seperti banjir, banjir bandang, kerusakan tanah, kekeringan, kelangkaan air

Kerusakan lingkungan hidup adalah salah satu bentuk ancaman nyata terhadap keamanan manusia dan stabilitas politik dan keamanan negara serta masyarakat internasional karena

Harimau!, maka hasil yang diperoleh menunjukan bahwa penggalan adegan video klip ini menerangkan tentang dampak dari kerusakan hutan Indonesia yang disebabkan

Dampak terhadap lingkungan yaitu pencemaran udara oleh debu dari aktivitas penambangan, hilangnya sebagian lapisan tanah menyebabkan kesuburan tanah hilang sehingga

Jepang sebagai negara penghasil polutan terbesar di dunia dan juga termasuk dalam kategori negara Annex-1 dalam Protokol Kyoto telah menyadari dan telah merasakan dampak

Kata kunci: Pemekaran daerah, transformasi sosial budaya, pembangunan, elite Papua PENDAHULUAN Artikel ini menghadirkan fragmen-fragmen etno- grafi dari suara-suara rakyat Papua yang

Dalam rangka pencegahan kita melakukan aktivitas penambangan pada titik- titik yang tidak rawan dan tidak akan menimbulkan kerusakan lingkungan, dan dampak buruk dari penambangan