• Tidak ada hasil yang ditemukan

PETUNJUK TEKNIS APLIKASI and BUDIDAYA PU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PETUNJUK TEKNIS APLIKASI and BUDIDAYA PU"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Aplikasi Pupuk DEWA PUPUK pada Tanaman Tebu

Page

1

PETUNJUK TEKNIS APLIKASI & BUDIDAYA

METODE PEMUPUKAN BERBASIS PADA

PUPUK ORGANIK DEWA PUPUK

TEKNOLOGI & STRATEGI PENINGKATAN RENDEMEN TANAMAN TEBU

(TERAPAN & PENGGUNAAN UNTUK LAHAN PER 1 Ha)

---

NILAI DASAR & TUJUAN TEKNOLOGI

Tujuan utama penanaman tebu adalah untuk memperoleh hasil hablur yang sebanyak benyaknya, Hablur adalah gula sukrosa yang dikristalkan, dalam system produksi gula, pembentukan gula terjadi didalam proses metabolise tanaman tebu yang terjadi dilahan tebu, dan pabrik gula sebenarnya hanya berfungsi sebagai alat ekstraksi untuk mengeluarkan nira dari batang tebu dan mengolahnya menjadi gula.

Hablur yang dihasilkan mencerminkan nilai “rendemen tebu” yang dalam prosesnya ternyata

rendemen yang dihasilkan oleh tanaman dipengaruhi oleh keadaan tanaman dan faktor lingkungan tumbu, tanaman harus bermutu baik dan ditebang pada saat yang tepat, namun sebaik apapun mutu tebu jika pabrik sebagai sarana pengolahan tidak baik, hablur yang didapat akan berbeda dengan kandungan sukrosa yang ada dibatang tanaman tebu.

Pada dasarnya rendemen atau kadar gula dibentuk dikebun tebu. Pembentukannya dilakukan melalui reaksi fotosintesis yang melibatkan khlorofil dan radiasi matahari, CO2 dan Air, dengan hasil berupa gula yang kemudian ditraslokasikan dan disimpan dalam batang tebu. Reaksi biokimiawi fotosintesis yang rumit berlangsung di khloroplast. Pada suasana radiasi matahari yang kurang optimal karena adanya anomaly iklim yang disertai hujan berkepanjangan, mengakibatkan kapasitas fotosintesis tidak optimal.

Varietas tebu, tata cara budidaya dan perlakuan terhadap tanaman dan tanah tempat tumbuhnya, termasuk penambahan input berupa bahan organik, pupuk DEWA PUPUK (produk lengkap: PHM, POC, NPK Humik Plus Mg, Rendemen) dan bahan bahan pendukung lainnya, secara terintegrasi, diharapkan dapat meningkatkan “rendemen tebu”.

JENIS - JENIS VARIETAS TEBU

Klasifikasi tanaman tebu dikelompokkan sebagai berikut: termasuk Divisi: Spermatophya, Subdivisio: Angiospermae, Famili: Gramineae, Genus: sccharum dan termasuk sepsis: Saccharum officinarum L. Dan Tanaman ini termasuk famili rumput-rumputan (gramine) yang terdiri dari 3 varietas, yaitu : genyah, verietas : sedang dan varietas dalam, Varietas genyah dapat dipanen pada 12 bulan. Varietas sedang pada umur 12~14 bulan dan varietas dalam pada umur di atas 14 bulan sedangkan

Jenis varietas tebu yang sering ditanam di Indonesia adalah: POY 3016, P.S. 30, P.S. 41, P.S. 38, P.S. 36, P.S. 8, B.Z. 132, B.Z. 62, dan kidang kencana dll.

SYARAT TUMBUH

 Tanaman tebu dapat ditanam di daratan rendah sampai daratan tinggi yang tidak lebih dari 500 m dpl. Biasanya pada daratan tinggi yang lebih dari 1.200 m dpl pertumbuhan tanaman akan lambat, Tanah yang cocok adalah bersifat kering-kering basah, yaitu curah hujan kurang dari 2000 mm per tahun.

 Tanaman membutuhkan curah hujan yang tinggi pada fase pertumbuhan vegetatif. Setelah itu, tanaman tidak banyak membutuhkan curah hujan. Curah hujan yang tinggi setelah fase vegetatif akan menurunkan rendemen gula.

 Curah hujan yang ideal adalah 125 mm per bulan selama 6 bulan pertama, 125 mm per bulan pada dua bulan berikutnya, dan kurang dari 75 mm per bulan (bulan kering) pada akhir pertanaman.

(2)

Aplikasi Pupuk DEWA PUPUK pada Tanaman Tebu

Page

2

lebih dari 100C. Tanah yang ideal bagi tanaman tebu adalah tanah berhumus dengan tanah tidak terlalu masan, dan pH antara 5,7 sampai dengan 7.

 Batang tebu mengandung serat dan kulit batang (12,5 %), dan nira yang terdiri dari air, gula, mineral dan bahan-bahan non gula lainnya (87,5 %).

PEMBUKAAN KEBUN

 Sebaiknya pembukaan dan penanaman dimulai dari petak yang paling jauh dari jalan utama atau lori pabrik

 Ukuran got standar ; Got keliling/mujur lebar 60 cm; dalam 70 cm, Got malang/palang lebar 50 cm; dalam 60 cm. Buangan tanah got diletakkan di sebelah kiri got. Apabila got diperdalam lagi setelah tanam, maka tanah buangannya diletakkan di sebelah kanan got supaya masih ada jalan mengontrol tanaman.

 Juringan/cemplongan (lubang tanam) baru dapat dibuat setelah got-got malang mencapai kedalaman 60 cm dan tanah galian got sudah diratakan. Ukuran standar juringan adalah lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah basah, 25 cm untuk tanah kering. Pembuatan juringan harus dilakukan dua kali, yaitu stek pertama dan stek kedua serta rapi.

 Jalan kontrol dibuat sepanjang got mujur dengan lebar + 1 m. Setiap 5 bak dibuat jalan kontrol sepanjang got malang dengan lebar + 80 cm. Pada juring nomor 28, gulu dan diratakan untuk jalan kontrol (jalan tikus)

TURUN TANAH/KEBRUK

Yaitu mengembalikan tanah stek kedua ke dalam juringan untuk membuat kasuran/bantalan /dasar tanah. Tebalnya tergantung keadaan, bila tanahnya masih basah + 10 cm. di musim kemarau terik tebal + 15 - 20 cm.

PERSIAPAN TANAM

1. OLAH LAHAN

PRA TANAM (14

20 Hari)

1. Larutkan 2 (dua) Liter PHM DEWA PUPUK dalam 120 liter air, dan tambahkan 3 -5 kg dedak, 1-2 ons gula pasir dan 1-2 ons Urea. Aduk hingga merata, dan didiamkan

6–12 jam.

Selanjutnya siramkan larutan tersebut pada tumpukan jerami secara merata, dan tumpukan jerami tersebut disiram dengan air secara merata hingga basah dan Biarkan tumpukan jerami selama 1–2 minggu. (Lihat tehnis pembuatan kompos)

2. Olah tanah dengan cara dibajak hingga gembur dan siram agar lembab, dan pengolahan tanah dilakukan sebanyak 3 kali, dan buat alur tanam dengan jarak juring 1,2 m dan kedalaman juring 40 cm

3. Bersihkan tanah dari tanaman liar atau gulma dan sisa-sisa akar tanaman sebelumnya

4. Buat got dengan ukuran lebar 60 cm dengan kedalaman 70 cm (got keliling), got malang atau palang dengan ukuran lebar 50 cm dan dengan kedalaman 60 cm

5. Buat juringan dengan ukuran lebar 50 cm dan dalam 30 cm untuk tanah yang cenderung basah, 25 cm untuk tanah kering

6. Sebelum tanam, juringan harus diairi untuk membasahi kasuran, sehingga kasuran hancur dan halus.

2. SELEKASI BIBIT/BENIH

1. Lakukan seleksi bibit/benih tebu dan gunakan bibit benih tebu yang baik mutunya. 2. Sebelum melakukan tanam, permukaan potongan direndam dahulu dengan POC

(3)

Aplikasi Pupuk DEWA PUPUK pada Tanaman Tebu

Page

3

DEWA PUPUK yang memiliki kandungan Auksin, Giberelin, Sitokinin sehingga mempercepat proses tumbuh)

3. Bibit stek harus ditanam berhimpitan (jarak cm) agar mendapatkan jumlah anakan semaksimal mungkin. Bibit stek jumlahnya (+/-) 65.000 s/d 70.000 per ha.

MASA TANAM

Pengelolaan pada masa musim tanam khususnya pada tanaman tebu berlangsung pada periode tertentu, pengelolaan hara pada produk ini didasarkan pada realita tidak hanya berorientasi pada target hasil tebu, tetapi harus diorientasikan pada pengelolaan hara keberlanjutan, hal ini berarti bahwa produksi tebu yang menguntungkan harus dicapai secara terintegrasi dengan upaya memelihara kesuburan tanah on-farm dan meminimkan dampak negative on-farm.

Teknologi produk ini memiliki program 7 (tujuh) langkah merupakan sarana pengelolaan hara

secara terpadu yang memungkinkan adopsi “praktek terbaik” pengelolaan hara On-farm antara lain adalah:

1. Mengetahui dan memahami kualitas tanah (pH antara 5,7 sd 7). 2. Memahami dan mengelola proses-proses dan kehilangan hara. 3. Lakukan Uji tanah secara berkala.

4. Mengadopsi arahan/pedoman/metode pemupukan produk ini secara terarah. 5. Menganalisa kecukupan masukan hara (mis. Dengan analisa daun BWD)

6. Memelihara sumber daya pertanian bagi generasi mendatang; dan menjaga lingkungan yang lebih luas dengan jalan “tidak menggunakan pupuk kimia secara berlebihan”

7. Melakukan pencatatan yang baik, untuk dapat memodifikasi masukan hara pada waktu dan tempat yang tepat sehinggan menghasilkan produksi yang tinggi.

Program dalam praktek tersebut diharapkan memberi peluang yang sangat besar untuk dapat meminimumkan resiko “kehilangan produktivitas” (kehilangan hasil), “Profitabilitas” (kehilangan keuntungan), “hara” (pencucian, run-off, pelarutan), dan “sumber daya tanah” (erosi dan kehilangan kesuburan) oleh karenanya produk ini menyediakan paket teknologi lengkap.

1. CARA TANAM

1. Bibit Bagal/debbeltop/generasi, dan tanah kasuran harus diratakan dahulu, kemudian tanah digaris dengan alat yang runcing dengan kedalaman + 5-10 cm. Bibit dimasukkan ke dalam bekas garisan dengan mata bibit menghadap ke samping. Selanjutnya bibit ditimbun dengan tanah.

2. Bibit Rayungan (bibit yang telah tumbuh di kebun bibit), jika bermata (tunas) satu: batang bibit terpendam dan tunasnya menghadap ke samping dan sedikit miring +/- 45o derajat dan Arahkan menghadap kearah barat, dan jika bibit rayungan bermata dua; batang bibit terpendam dan tunas menghadap ke samping dengan kedalaman + 1 cm. Dan usahakan arah yang bermata dua atau lebih arahnya menghadap barat atau utara.

3. Bibit sebaiknya ditanam berhimpitan dan tertata baik atau sejajar agar diperoleh anakan dengan jumlah yang maksimal

4. Sebaiknya, bibit bagal (stek) dan rayungan ditanam secara terpisah di dalam petak-petak tersendiri supaya pertumbuhan tanaman merata dan mendapat sinar matahari yang cukup.

2. WAKTU TANAM

(4)

Aplikasi Pupuk DEWA PUPUK pada Tanaman Tebu

Page

4

3. PENYIRAMAN

Penyiraman tidak boleh berlebihan supaya tidak merusak struktur tanah. Setelah satu hari tidak ada hujan, harus segera dilakukan penyiraman.

4. PENYULAMAN

1. Sulam sisipan, dikerjakan 5-7 hari setelah tanam, yaitu untuk tanaman rayungan bermata satu.

2. Sulaman ke-1, dikerjakan pada umur 3 minggu dan berdaun 3-4 helai. Bibit dari rayungan bermata dua atau pembibitan.

3. Penyulaman yang berasal dari ros/pucukan tebu dilakukan ketika tanaman berumur +1 bulan

4. Penyulaman ke-2 harus selesai sebelum pembubunan, bersama sama dengan pemberian air ke -2 atau rabuk ke-2 yaitu umur 1,5 bulan.

5. Lepaskan daun kering sebanyak 3 kali saat sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang

6. Penyulaman ekstra bila perlu, yaitu sebelum bumbun ke -2.

5. PEMBUMBUNAN TANAH

1. Pembumbunan ke-1 dilakukan pada umur 3-4 minggu, yaitu berdaun 3-4 helai. Pembumbunan dilakukan dengan cara membersihkan rumput-rumputan, membalik guludan dan menghancurkan tanah (jugar) lalu tambahkan tanah ke tanaman sehingga tertimbun tanah.

2. Pembumbunan ke-2 dilakukan jika anakan tebu sudah lengkap dan cukup besar + 20 cm, sehingga tidak dikuatirkan rusak atau patah sewaktu ditimbun tanah atau + 2 bulan.

3. Pembumbunan ke-3 atau bacar dilakukan pada umur 3 bulan, semua got harus diperdalam ; got mujur sedalam 70 cm dan got malang 60 cm.

6. GARPU MUKA GULUD

Penggarpuan harus dikerjakan sampai ke pinggir got, sehingga air dapat mengalir. Biasanya dikerjakan pada bulan Oktober/November ketika tebu mengalami kekeringan.

7. KLENTEK

Yaitu melepaskan daun kering, harus dilakukan 3 kali, yaitu sebelum gulud akhir, umur 7 bulan dan 4 minggu sebelum tebang.

8. TEBU ROBOH

Batang tebu yang roboh atau miring perlu diikat, baik silang dua maupun silang empat. Ros-ros tebu, yang terdiri dari satu deretan tanaman, disatukan dengan rumpun - rumpun dari deretan tanaman di sisinya, sehingga berbentuk menyilang.

FASE & PROSES TUMBUH TANAMAN TEBU

1. KERANGKA DASAR TEKNOLOGI

dan seterusnya lihat: (lampiran 5)

2. FASE VEGETATIF

Pada awal dari tanaman tebu ini adalah bahwa “Pabrik Gula” adalah tanaman tebu itu

sendiri, yang secara spesifik dilaksanakan oleh “Daun melalui Fotosintesa” dan hasil dari proses fotosintesa selain oleh tanaman digunakan untuk pertumbuhan (Akar, Batang, Daun dll) sebagian disimpan cadangan didalam batang.

(5)

Aplikasi Pupuk DEWA PUPUK pada Tanaman Tebu

Page

5

tanaman sebagai sumber energy untuk pertumbuhan sekaligus sebagai cadangan energy yang disimpan didalam batang, dan inilah Cadangan energi yang tersimpan dalam batang tanaman tebu sebagai dasar terbentuknya sukrosa yang menjadi bahan dasar gula Kristal putih.

3. FASE GENETATIF

Hasil dari proses fotosintesa tanaman tebu yang bias diproses untuk menjadi gula Kristal putih hanya dalam bentuk Sukrosa, padahal masih terdapat bentuk gula lain (Glukosa, Fruktosa dll) sehingga problemnya adalah memacu terbentuknya gugus Sukrosa atau menghambat terjadinya reaksi balik Sukrosa untukmenjadi Glukosa dan Fruktosa.

4. FOTOSINTESIS

Berdasarkan tipe fotosintesis, tumbuhan dibai ke dalam tiga kelompok besar, yaitu C3, C4 dan CAM (crassulacatang tebu yang roan acid metabolism) dan seterusnya lihat:

(lampiran 1 dan lampiran 4)

5. SINTESIS SUKROSE

Sukrose merupakan produksi akhir asimilasi karbon (C) pada proses fotosintesis yang terjadi didaun dan bentuk karbohodrat yang mudah ditransformasikan kejaringan simpan atau sink tissues dalam tanaman dan seterusnya lihat: (lampiran 2)

6. SIMPANAN SUKROSE DIBATANG

Akumulasi sukrosa pada batang tebu dimulai pada intermodal yang sedang mengalami proses pemanjangan (elongation) dan seterusnya lihat: (lampiran 3)

METODE PEMUPUKAN

Kesuburan tanah telah mengalami penurunan dibanyak tempat dan lokasi perkebunan tebu, sehingga diperlukan aplikasi atau penggunaan pupuk yang berimbang berdasarkan hasul uji tanah dan kebutuhan tanaman tebu.

Suplai hara yang berimbang sangat penting supaya tanaman tebu dapat mencapai “potensial hasil” yang optimal, unsur hara yang sangat penting bagi tanaman tebu adalah: N, P, K, Mg, B, Cu, Fe. Mn . Si dan Zn sehingga pemupukan tanaman tebu dapat mengoptimumkan produksi tebu sehingga menghasilkan Sukrose untuk menjadi Glukosa dan Fruktosa dalam bentuk yang maksimal. Defisiensi (kekurangan) atau kelebihan salah satu (atau lebih) unsur ini dapat mengakibatkan hasil tanaman tebu menjadi terbatas atau kekurangan unsure hara, dan penggunaan pupuk yang effisien merupakan komponen utama bagi para petani/kelompok tani/koperasi tani/perusahaan perkebunan sehingga praktek budidaya yang layak ekonomis memupuk dengan dosis yang konsisten melalui pemupukan berimbang.

(6)

Aplikasi Pupuk DEWA PUPUK pada Tanaman Tebu

Page

6

KETERANGAN:

1. PEMBUATAN KOMPOS: Larutkan 2 (dua) Liter PHM DEWA PUPUK dalam 280 liter air dan tambahkan 3-5 kg dedak, 1-2 ons gula pasir, 10 Gram Garam Krosok dan 1-2 ons Urea, Aduk hingga merata dan didiamkan 6–12 jam. Selanjutnya siramkan larutan PHM DEWA PUPUK pada tumpukan jerami secara merata, dan tumpukan jerami tersebut disiram dengan air secara merata hingga basah dan Biarkan tumpukan jerami selama 1–2 minggu sehingga kompos masak diperkaya dengan mikoriza serta untuk memacu mikroba tanah dan meningkatkan ketersediaan hara. (Lihat tehnis pembuatan kompos).

Ditambah dengan 100 Kg TSP diaplikasikan secara terpisah.

2. PEMUPUKAN DASAR: dilakukan pada -5 (lima) hari menjelang tanam, Larutkan 1 (satu) Liter PHM DEWA PUPUK dalam 140 Liter air, kemudian diamkan beberapa saat baru kemudian dipergunakan, Sekali penyiraman / penyemprotan dikocorkan secara merata pada media tanah atau perakaran, diperlukan 1 liter PHM DEWA PUPUK untuk per 1 hektar untuk tanaman tebu guna memacu tumbuhnya dan aktifitas mikroba tanah dan meningkatkan ketersediaan hara,

Ditambah dengan 100 Kg DEWA PUPUK NPK Humik Plus dan diaplikasikan secara terpisah.

3. PERTUMBUHAN AWAL : dilakukan setelah tanaman pada umur 15 (lima belas) Hari Setelah Tanam, Larutkan 1 (satu) Liter POC DEWA PUPUK dalam 140 Liter air, kemudian diamkan beberapa saat, kemudian dipergunakan, Aplikasikan dengan sistem penyemprotan kabut secara merata pada media Batang dan Daun dan diperlukan 1 liter POC DEWA PUPUK untuk per 1 hektar untuk tanaman tebu guna memicu dan meningkatkan kapasitas fotosintesis dari klorofil.

4. PERAWATAN TANAMAN 1: dilakukan setelah tanaman pada umur 25 (dua puluh lima) Hari Setelah Tanam, pemupukan menggunakan pupuk ZA sebanyak 5o Kg.

5. PERAWATAN TANAMAN 2: dilakukan pada 45 (empat puluh lima) hari setelah tanam, Larutkan 1 (satu) Liter PHM DEWA PUPUK dalam 140 Liter air, kemudian diamkan beberapa saat baru kemudian dipergunakan, Sekali penyiraman / penyemprotan dikocorkan secara merata pada media tanah atau sekitar perakaran, diperlukan 1 liter PHM DEWA PUPUK untuk per 1 hektar untuk tanaman tebu guna memacu tumbuhnya dan aktifitas mikroba tanah dan meningkatkan ketersediaan hara,

Ditambah dengan 100 Kg Pupuk KCL dan diaplikasikan secara terpisah. Pemupukan ditaburkan di sebelah kiri rumpun tebu.

6. PERAWATAN TANAMAN 3: dilakukan setelah tanaman pada umur 60 (enam puluh) Hari Setelah Tanam, Larutkan 1 (satu) Liter POC DEWA PUPUK dalam 140 Liter air, kemudian diamkan beberapa saat, kemudian dipergunakan, Aplikasikan dengan sistem penyemprotan kabut secara merata pada media Batang dan Daun dan diperlukan 1 liter POC DEWA PUPUK untuk per 1 hektar untuk tanaman tebu guna memicu dan meningkatkan kapasitas fotosintesis dari klorofil.

Ditambah

dengan 50 Kg ZA diaplikasikan secara terpisah,

Pemupukan ditaburkan di samping kanan rumpun tebu.

7. PERAWATAN TANAMAN 4: dilakukan setelah tanaman pada umur 90 (sempilan puluh) Hari Setelah Tanam, Larutkan 1 (satu) Liter POC DEWA PUPUK dalam 140 Liter air, kemudian diamkan beberapa saat, kemudian dipergunakan, Aplikasikan dengan sistem penyemprotan kabut secara merata pada media Batang dan Daun dan diperlukan 1 liter POC DEWA PUPUK untuk per 1 hektar untuk tanaman tebu guna memicu dan meningkatkan kapasitas fotosintesis dari klorofil dan memacu sintesis Sukrose untuk menjadi Glukosa dan Fruktosa yang maksimal.

(7)

Aplikasi Pupuk DEWA PUPUK pada Tanaman Tebu

Page

7

liter RENDEMEN DEWA PUPUK untuk per 1 hektar untuk tanaman tebu guna memicu dan meningkatkan :

a.) Kapasitas dan mengikat fotosintesis dari klorofil dan memacu sintesis, memiliki unsur mikro dalam bentuk khelat organik sebagai aktifator enzim.

b.) Menghambat terjadinya reaksi balik dari Sukrose untuk menjadi Glukosa dan Fruktosa dalam proses reaksi inversi.

c.) Mendorong kinerja dalam menghasilkan karbohidrat sebagai bahan baku dasar terbentuknya disakarida (Sukrosa) secara optimum.

d.) Mendorong pembentukan sukarosa secara Enzimatis, dan mengarahkan enegy respirasi untuk sintesa sucrosa bukan untuk pembelahan sel (pembentukan sogolan) e.) Memperkuat/mengikat simpanan sucrose dibatang tebu pasca tebang.

9.

Waktu penyemprotan pagi (06.00-09.00) dan sore (16.00-18.00), POC DEWA PUPUK

metode aplikasinya disemprotkan kabut ke tanaman (batang, daun dan pucuk daun) dan

PHM DEWA PUPUK aplikasinya disemprotkan atau dikocorkan ke tanah dan perakaran. Tidak dianjurkan penggunaan POC DEWA PUPUK atau PHM DEWA PUPUK bersamaan dengan bahan-bahan KIMIA (pupuk atau Pestisida)

RENDEMEN TEBU

Proses kemasakan tebu merupakan proses yang berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada ruas yang yang bersangkutan. Tebu yang sudah mencapai umur masak, keadaan kadar gula di sepanjang batang seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk dan pangkal batang.

Produksi gula per-satuan luas dari tanaman tebu berkolerasi positif dengan akumulasi sukrosa dalam tanaman tebu, sedangkan proses penyimpanan dalam batang tebu yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsure hara dalam media tumbuh tanaman. Kualitas gula dalam batang tebu ini juga sangat dipengaruhi oleh fraksi glukosa secara langsung dan kondisi fisiologis tanaman dan bulan kering.

Pada saat batang tebu dipanen maka proses biositesis sukrosa terhenti dan proses respirasi mulai berjalan, dimana sukrosa yang merupakan makanan simpanan akan dibongkar dan dikonversikan menjadi glukosa dan fruktosa dan selanjutnya menjadi CO2 dan H2O, perubahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa saat masih dibatang tebu lebih dikarenakan proses respirasi saat setelah ditebang (pada saat menunggu giliran digiling), permasalahan ini membutuhkan stretagi amemperbaiki manajemen pemanenan dan pasca panen, sehingga perlu dipikirkan upaya-upaya memperpendek masa jeda waktu dari saat pemotongan akar dengan saat penggilingan, hal ini untuk menghindari respirasi yang berlebihan disaat jeda waktu giling,

Pada tebu varietas baru, terdapat beberapa hibrida seperti Saccharum officinarum L. Mampu menyimpan 21% sukrosa dalam batangnya (Sreenivissan and Nair, 1991), Saccharum spontaneum menyimpan 6%(Bull and Glasziou, 1963) dan Saccharum robustum Brandes kurang dari 10% (Rao.et.al, 1985) perbedaan utama diantara spesies dalam mengakumulasi sukrosa dalam batang tebu disebabkan oleh factor-faktor morphology dan factor Enzymatik.

Gambar

TABEL 1.1  APLIKASI TANAMAN TEBU

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian terhadap jumlah hara yang diserap tanaman ditunjukkan oleh kondisi tanah akhir setelah aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) hasil fermentasi isi rumen

Sedangkan perlakuan pemberian pupuk kandang sapi memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap tinggi tanaman kacang tanah pada umur 15 hari setelah tanam, tidak

perlakuan pupuk kandang sapi (k) berpengaruh berbeda nyata pada panjang tanaman pada umur 20, dan 40 hari setelah tanam, umur tanaman saat berbunga, umur

Produktivitas GKG padi paling tinggi diperoleh dari aplikasi pupuk kandang secara bertahap yaitu pada saat 2 minggu sebelum tanam dan 4 minggu setelah tanam dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pupuk organic Tanijau (t) berbeda sangat nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari setelah tanam, 30 hari setelah

Hasil penelitian terhadap jumlah hara yang diserap tanaman ditunjukkan oleh kondisi tanah akhir setelah aplikasi Pupuk Organik Cair (POC) hasil fermentasi isi rumen

Produktivitas GKG padi paling tinggi diperoleh dari aplikasi pupuk kandang secara bertahap yaitu pada saat 2 minggu sebelum tanam dan 4 minggu setelah tanam dengan

Pemberian pupuk nano fosfat abu tulang memiliki respon yang sama dengan pupuk SP-36 terhadap jumlah daun dan luas daun tanaman pada minggu ke-4 setelah tanam sehingga penggunaan unsur P