• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRINING KECELAKAAN KERJA EPIDEMIOLOGI K (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SKRINING KECELAKAAN KERJA EPIDEMIOLOGI K (1)"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

SKRINING KECELAKAAN KERJA EPIDEMIOLOGI KESEHATAN LINGKUNGAN DI PT X

PROYEK PEMBANGUNAN JALAN AKSES PELABUHAN TRISAKTI LIANG ANGGANG (KALIMANTAN SELATAN)

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN BANJARBARU

(2)

TUGAS BESAR EPIDEMIOLOGI

SKRINING

Dan Penerapannya Pada Proses Skrining Kecelakaan Kerja Epidemiologi Kesehatan Lingkungan Di PT X

Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti Liang Anggang (Kalimantan Selatan)

Dosen Mata Kuliah:

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Dipl.hyp, ST., M.Kes

Disusun Oleh Kelompok 2:

Lenalda Febriany Santosa H1E115036

Lilis Suryani H1E115037

Rizqurrahman H1E115208

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN BANJARBARU

(3)

i

REKTOR UNLAM

Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc

NIP.19660331 199102 1 001

WAKIL REKTOR 1

Dr. Ahmad Alim Bachri, SE., M.Si NIP. 19671231 199512 1 002

WAKIL REKTOR 2

Dr. Hj Aslamiah, M.Pd., Ph.D NIP. 196001101986032001

Prof. Dr. Ir. H. Yudi Firmanul Arifin, M.Sc NIP. 19761017 199903 1 003

DOSEN MATA KULIAH EPIDEMOLOGI

Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, Amd. Hyp., S.T., Mkes. NIP. 19780420 200501 2 002

Rizqurrahman

Mahasiswa teknik lingkungan angkatan 2015

DOSEN MATA KULIAH EPIDEMOLOGI

Rd. Indah Nirtha Nilawati N.P.S, ST., M.Si

(4)

ii Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada :

1. Rektor Universitas Lambung Mangkurat : Prof. Dr. H. SutartoHadi, M.Si, M.Sc.

2. wakil rektor 1 Universitas Lambung Mangkurat Dr. Ahmad Alim Bachri, SE., M.Si

3. Wakil rektor 2 Universitas Lambung Mangkurat Dr. Hj Aslamiah, M.Pd., Ph.D

(5)

iii

5. Wakil rektor 4 Universitas Lambung Mangkurat Prof. Dr. Ir. H. Yudi Firmanul Arifin, M.Sc

6. Dekan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat :

Dr-Ing Yulian FirmanaArifin, ST., MT.

7. Kepala Prodi TeknikLingkungan Universitas Lambung Mangkurat :

Dr. Rony Riduan, ST., MT.

8. Dosen Mata Kuliah Epidemiologi :

(6)

iv 9. Dosen Mata Kuliah Epidemiologi :

Rd. Indah Nirtha Nilawati N.P.S, ST., M.Si

10. AnggotaKelompok :

 Lenalda Febriany Santosa  Lilis Suryani

(7)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya makalah yang

berjudul “Skrining” ini dapat diselesaikan tepat waktu. Makalah ini diajukan sebagai tugas

mata kuliah Epidemeologi. Didalam makalah ini Penulis memaparkan definisi skrining serta

contoh pelaksanaan skrining pada kasus-kasus yang berkaitan dalam teknik lingkungan.

Dalam penulisan makalah ini, Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang

telah membantu. Penulis merasa berkewajiban dan perlu menyampaikan ucapan terima kasih

serta penghargaan, kepada yang terhormat :

1. Bapak Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M. Si, M. Sc selaku rektor Universitas

5. Bapak Nurhakim, ST. MT selaku PD III Dekan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat.

6. Bapak Rony Ridwan, ST. MT selaku Kepala Prodi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat.

7. Ibu Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Dipl.hyp selaku Dosen mata kuliah Epidemiologi.

8. Ibu Rd. Indah Nirta, ST., M.Si selaku Dosen mata kuliah Epidemiologi. 9. Pihak PT X yang telah memberikan bantuan serta dukungan dalam

pengerjaan makalah ini.

10. Kedua orang tua dan keluarga yang telah memberikan doa dan dukungan dalam pengerjaan makalah ini.

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga

makalah ini dapat memberikan manfaat bagi Penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Banjarbaru, Desember 2017

(8)

vi DAFTAR ISI

Halaman

STRUKTUR JABATAN ... i

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 2

D. Manfaat Penelitian ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penenlitian ... 20

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian... 20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Hasil Penelitian ... 22

4.2Pembahasan ... 23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN ... 25

5.2 SARAN ... 25

(9)

vii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Bagan Proses Pelaksaan Skrining ... 8

Gambar 2.2 Hubungan antara Sensitivitas dan Spesifisitas ... 12

Gambar 2. 3 Perhitungan Validitas Uji Skrining ... 14

Gambar 2. 4 Contoh Perhitungan Spesifisitas Sensitivitas... 14

(10)

viii

DAFTAR TABEL

(11)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Epidemiologi berasal dari bahasa yunani kuno, yaitu epi yang berarti diantara, demos yang berarti masyarakat, dan logos yang berarti kajian. Jadi epidemiologi dapat kita artikan sebagai kajian tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat.Epidemiologi merupakan ilmu pengetahuan terapan yang mempelajari tentang timbulnya penyakit atau masalah kesehatan yang menimpa masyarakat.dimana ilmu pengetahuan epidemiologi digunakan community health nursing CHN sebagai alat meneliti dan mengobservasi pada pekerjaan dan sebagai

dasar untuk intervensi dan evaluasi literatur riset epidemiologi. Pengetahuan ini memberi kerangka acuan untuk perencanaan dan evaluasi program intervensi masyarakat, mendeteksi segera dan pengobatan penyakit, serta meminimalkan kecacatan (Ferasyi, 2012).

Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu alat atau program dalam upaya untuk mencapai derajat kesehatan kerja yang setinggi-tingginya yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja. Demikian halnya dengan PT.X yang berupaya untuk meningkatkan kesejateraan pekerjanya dengan mempertimbangkan jumlah yang cukup banyak, tipe aktivitas produksi, luasnya areal kerja dan kesulitan dalam sistem produksi. Oleh karena itu, perusahaan menganggap perlu untuk membentuk suatu departemen yang khusus untuk memparhatikan keselamatan dan kesehatan kerja bagi seluruh karyawan yang diberi nama yaitu Departemen Loss P revention and Control ( LP&C).Keselamatan kerja juga merupakan suatu hal yang sangat sensitive dalam kaitanya dengan usaha peningkatan produksi yang ditandai dengan tuntutan untuk meningkatkan efisiesensi dan produktivitas faktor manusia dalam sistem produksi.

(12)

2 (preventive) harus lebih dahulu dilakukan. Tempat serta lingkungan kerja juga sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya tingkat produktivitas para pekerja. Lingkungan dan tempat kerja yang baik dapat memberikan semangat ketenangan bagi para pekerja sehingga tercapai tingkat produktivitas yang tinggi.

Pada laporan ini akan dibahas tentang skrining tingkat keselamatan kerja di Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X. Keselamatan kerja merupakan keselamatan yang berhubungan dengan mesin, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja dan kondisi lingkungannya, keselamatan kerja bertujuan untuk :

1. Melindungi tenaga kerja atas hak dan keselamatan dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi.

2. Menjamin keselamatan setiap orang yang berada di tempat kerja.

3. Sumber-sumber produksi terpelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

(Sabdoadi,1999)

Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X merupakan proyek pembangunan jalan yang memerlukan alat-alat berat seperti excavator, loader, asphalt mixing plant, dump truck dan lain-lain dalam pengerjaannya. Penggunaan alat-alat berat tersebut memerlukan sumbedaya yang memiliki keahlian dan berpengalaman dalam pengoperasiannya agar pembangunan proyek dapat berjalan lancar. Pengoperasian alat juga harus menyesuaikan dengan kondisi jalan, bahan yang digunakan dan kondisi alam seperti cuaca. Pada awal pembangunan Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X, kondisi jalan yang bergelombang dan rusak rawan untuk terjadinya kecelakaan dan gangguan kesehatan. Data yang tercatat, kondisi lingkungan sekitar konstruksi yang berdebu membuat para pekerja mengeluhkan sakit sepeti pusing, flu, batuk, dll.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

(13)

3 2. Bagaimana cara uji skrining pada keselamatan kerja di Proyek

Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X? 3. Apa penyebab kecelakaan kerja di Proyek Pembangunan Jalan Akses

Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X?

4. Bagaimana cara pendeteksian dini dan penanggulangan kecelakaan kerja di Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan dari Penelitian ini Adalah :

1. Mengetahui bagaimana skrining kecelakaan kerja di Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X

2. Mengetahui uji skrining pada kecelakaan kerja 3. Mengetahui penyebab kecelakaan kerja

4. Mengetahui cara pendeteksian dini dan penanggulangan kecelakaan kerja 1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari Penelitian ini adalah :

1. Dapat mengetahui bagaimana skrining kecelakaan kerja di Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X 2. Dapat mengetahui uji skrining pada kecelakaan kerja

3. Dapat mengetahui penyebab kecelakaan kerja

(14)

4 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI SKRINING

Skrining adalah upaya yang dilakukan untuk menemukan suatu penyakit secara aktif pada orang-orang yang tidak menunjukkan adanya gejala dan terlihat Nampak sehat dengan cara menguji, memeriksa, atau prosedur lain yang dapat dilakukan dengan cepat. Skrining bukanlah penetapan diagnosis, akan tetapi apabila dari pemeriksaan menunjukkan hasil positif atau kemungkinan mengidap suatu penyakit perlu dilakukan tindakan atau pemeriksaan lebih lanjut (Sutrisno,1994). Skrining merupakan suatu pemeriksaan asimptomatik(tidak menunjukkan gejala) pada satu atau sekelompok orang untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit (Rajab,2009). Tes skrining merupakan salah satu cara yang digunakan pada epidemiologi untuk mengetahui jumlah kasus suatu penyakit yang tidak dapat didiagnosis atau keadaan ketika jumlah angka penyakit tinggi pada sekelompok individu atau masyarakat yang berisiko tinggi serta pada keadaan yang kritis dan serius memrlukan penanganan segera. Namun demikian, masih harus dilengkapi dengan pemeriksaan lain untuk menentukan diagnosis secara pasti (Chandra, 2009).

(15)

5 tes/pemeriksaan yang secara singkat dan sederhana dapat memisahkan mereka yang sehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita, yang selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan.

2.2 TUJUAN DAN MANFAAT SKRINING

Uji skrining digunakan untuk mengidentifikasi suatu penanda awal perkembangan penyakit sehingga intervensi dapat diterapkan untuk mengha mbat proses penyakit. Selanjutnya, akan digunakan istilah “penyakit” untuk menyebut setiap peristiwa dalam proses penyakit, termasuk perkembangannya atau setiap komplikasinya. Pada umumnya, skrining dilakukan hanya ketika syarat-syarat terpenuhi, yakni penyakit tersebut merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan, terdapat sebuah uji yang sudah terbukti dan dapat diterima untuk mendeteksi individu- individu pada suatu tahap awal penyakit yang dapat dimodifikasi, dan terdapat pengobatan yang aman dan efektif untuk mencegah penyakit atau akibat-akibat penyakit (Morton, 2008).

Tujuan skrining adalah untuk mengidentifikasi penyakit yang asimptomatis (tanpa gejala), atau faktor risiko penyakit, dengan menguji populasi yang belum mengalami gejala klinis. Secara umum Tujuan Skrining adalah untuk mengura ngi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Program diagnosis dan pengobatan dini hampir selalu diarahkan kepada penyakit tidak menular, seperti tingkatan prevensi penyakit, deteksi dan pengobatan dini yang termasuk dalam tingkat prevensi sekunder. Berikut tujuan dari skrining secara lebih detail:

1. Untuk Menemukan orang yang terdeteksi menderita suatu penyakit sedini mungkin sehingga dapat dengan segera memperoleh

pengobatan.

2. Untuk Mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat. 3. Untuk Mendidik dan membiasakan masyarakat untuk

memeriksakan diri sedini mungkin.

(16)

6 5. Untuk Mendapatkan keterangan epidemiologis yang berguna bagi

klinis dan peneliti. (Harlan, 2006).

Secara garis besar, uji skrining ialah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapoat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang orang yang mungkin tidak menderita. Jadi, tes untuk uji skrining tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis sehingga pada hasil tes uji skrining yang positif harus dilakukan pemeriksaan yang lebih intensif untuk menentukan apakah yang bersangkutan memang sakit atau tidak kemudian bagi yang diagnosisnya positif dilakukan pengobatan intensif agar tidak membahayakan bagi dirinya maupun lingkungannya, khususnya bagi penyakit-penyakit menular (Mubarak, 2012).

Untuk dapat melakukan proses skrining, diharuskan memenuhi beberapa kriteria atau ketentuan-ketentuan khusus yang merupakan persyaratan suatu tes skrining, antara lain :

a. Penyakit yang dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti dalam masyarakat dan dapat mengancam derajat kesehatan masyarakat tersebut.

b. Tersedianya obat yang potensial dan memungkinkan pengobatan bagi mereka yang dinyatakan menderita penyakit sesudah mengalami tes. Keadaan penyediaan obat dan jangkauan biaya pengobatan dapat mempengaruhi tingkat atau kekuatan tes yang dipilih.

c. Tersedianya fasilitas dan biaya untuk diagnosis pasti bagi mereka yang dinyatakan positif terserang penyakit dan ketersediaan biaya pengobatan bagi mereka yang dinyatakan positif dari hasil diagnosis klinis.

d. Tes penyaringan, terutama ditujukan pada penyakit yang masa latennya cukup lama dan dapat diketahui melalui pemeriksaan atau tes khusus. e. Tes penyaringan hanya dilakukan bila memenuhi syarat untuk tingkat

(17)

7 f. Semua bentuk atau teknis dan cara pemeriksaan dalam tes penyaringan

harus dapat diterima oleh masyarakat secara umum.

g. Sifat perjalanan penyakit yang akan dilakukan tes harus diketahui denan pasti.

h. Adanya suatu nilai standar yang telah disepakati bersama tentang mereka yang dinyatakan menderita penyakit tersebut.

i. Biaya yang digunakan dalam melakukan tes penyaringan sampai pada titik akhir pemeriksaan harus seimbang dengan resiko biaya bila tanpa melakukan tes tersebut.

j. Harus memungkinkan untuk diadakan pemantauan (follow up) tentangpenyak it tersebut serta penemuan penderita secara berkesinambungan

(Noor, 2008).

2.3 PROSES DAN PELAKSANAAN SKRINING Bentuk pelaksanaan skrining diantaranya adalah:

1. Mass screening adalah skrining secara masal pada masyarakat tertentu. 2. Selective screening adalah skrining secara selektif berdasarkan kriteria

tertentu, contoh pemeriksaan Ca paru pada perokok; pemeriksaan Ca servik pada wanita yang sudah menikah.

3. Single disease screening adalah skrining yang dilakukan untuk satu jenis penyakit.

4. Multiphasic screening adalah skrining yang dilakukan untuk lebih dari satu jenis penyakit contoh pemeriksaan IMS.

(18)

8 Gambar 2.1 Bagan Proses Pelaksaan Skrining

Pada sekelompok individu yang tampak sehat dilakukan pemeriksaan (tes) dan hasil tes dapat positif dan negatif. Individu dengan hasil negatif pada suatu saat dapat dilakukan tes ulang, sedangkan pada individu dengan hasil tes positif dilakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik dan bila hasilnya positif dilakukan pengobatan secara intensif, sedangkan individu dengan hasil tes negatif. dapat dilakukan tes ulang dan seterusnya sampai penderita semua penderita terjaring. Tes skrining pada umumnya dilakukan secara masal pada suatu kelompok populasi tertentu yang menjadi sasaran skrining. Namun demikian bila suatu penyakit diperkirakan mempunyai sifat risiko tinggi pada kelompok populasi tertentu, maka tes ini dapat pula dilakukan secara selektif (misalnya khusus pada wanita dewasa) maupun secara random yang sarannya ditujukan terutama kepada mereka dengan risiko tinggi. Tes ini dapat dilakukan khusus untuk satu jenis penyakit tertentu, tetapi dapat pula dilakukan secara serentak untuk lebih dari satu penyakit (Noor, 2008).

(19)

9 pemeriksaan ulang secara periodik. Ini berarti bahwa proses skrining adalah pemeriksaan pada tahap pertama.

Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk skrinig dapat berupa pemeriksaan laboratorium atau radiologis, misalnya :

a. Pemeriksaan gula darah.

b. Pemeriksaan radiologis untuk uji skrining penyakit TBC. Pemeriksaan diatas harus dapat dilakukan:

1. Dengan cepat tanpa memilah sasaran untuk pemeriksaan lebih lanjut (pemeriksaan diagnostik).

2. Tidak mahal.

3. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan.

4. Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa. (Budiarto dan Anggraeni, 2003).

Namun jika dalam pelaksanaanya tidak berpengaruh terhadap perjalanan penyakit, usia saat terjadinya stadium lanjut penyakit atau kematian tidak akan berubah, walaupun ada perolehan lead time, yaitu periode dari saat deteksi penyakit (dengan skrining) sampai dengan saat diagnosis seharusnya dibuat jika tidak ada skrining.

Contoh dari pelaksanaan skrinning diantaranya adalah:

1. Mammografi dan Termografi; Untuk mendeteksi Ca Mammae.

Kadangkala dokter-dokter juga menganjurkan penggunaan dari screening magnetic resonance imaging (MRI) pada wanita-wanita lebih muda dengan jaringan payudara yang padat.

2. P ap smear; Pap smear merupakan kepanjangan dari Papanicolau test.

(20)

10 Secara internasional setiap tahun terdiagnosa 500.000 kasus baru. Seperti halnya kanker yang lain, deteksi dini merupakan kunci keberhasilan terapi, semakin awal diketahui, dalam artian masih dalam stadium yang tidak begitu tinggi atau bahkan baru pada tahap displasia atau prekanker, maka penanganan dan kemungkinan sembuhnya jauh lebih besar. Meskipun sekarang ini sensitivitas dari pap smear ini ramai diperdebatkan dalam skrening kanker leher rahim, Pap smear ini merupakan pemeriksaan non invasif yang cukup spesifik dan sensitif untuk mendeteksi adanya perubahan pada sel-sel di leher rahim sejak dini, apalagi bila dilakukan secara teratur.

Cervicography dan tes HPV DNA diusulkan sebagai metode alternatif bagi skrining kanker leher rahim ini, karena kombinasi antara pap smear dan cervicography atau tes HPV DNA memberikan sensitivitas yang lebih tinggi dibanding pap smear saja. Pada umumnya seorang wanita disarankan untuk melakukan pap smear untuk pertama kali kira-kira 3 tahun setelah melakukan hubungan seksual yang pertama kali. American College of Obstetricians and Gynecologist (ACOG) merekomendasikan pap smear dilakukan setiap tahun bagi wanita yang berumur 21-29 tahun, dan setiap 2-3 tahun sekali bagi wanita yang berumur lebih dari 30 tahun dengan catatan hasil pap testnya negatif 3 kali berturut-turut.

Namun apabila seorang wanita mempunyai faktor resiko terkena kanker leher rahim (misalnya : hasil pap smear menunjukkan prekanker,terkena infeksi HIV, atau pada saat hamil ibu mengkonsumsi diethylstilbestrol (DES) maka pap smear dilakukan setiap tahun tanpa memandang umur. Batasan seorang wanita untuk berhenti melakukan pap smear menurut American Cancer Society (ACS) adalah apabila sudah berumur 70 tahun dan hasil pap smear negatif 3 kali berturut-turut selama 10 tahun.

3. Sphygmomanometer dan Stetoscope; Untuk mendeteksi hipertensi.

(21)

11 penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Tekanan darah normal adalah kurang dari 120/80. Tekanan darah cukup tinggi adalah 140/90 atau lebih. Dan tekanan darah di antara kedua nilai tersebut disebut prehipertensi. Seberapa sering tekanan darah harus diperiksa tergantung pada seberapa tinggi nilainya dan apa faktor-faktor risiko lainnya yang dimiliki.

4. P hotometer; alat untuk memeriksa kadar gula darah melalui tes darah.

Mula-mula darah diambil menggunakan alat khusus yang ditusukkan ke jari. Darah yang menetes keluar diletakkan pada suatu strip khusus. Strip tersebut mengandung zat kimia tertentu yang dapat bereaksi dengan zat gula yang terdapat dalam darah. Setelah beberapa lama, strip tersebut akan mengering dan menunjukkan warna tertentu. Warna yang dihasilkan dibandingkan dengan deret (skala) warna yang dapat menunjukkan kadar glukosa dalam darah tersebut. Tes ini dilakukan sesudah puasa (minimal selama 10 jam) dan 2 jam sesudah makan.

5. P lano Test; Untuk mendeteksi kehamilan (memeriksa kadar HCG dalam darah).

6. EKG (Elektrokardiogram); Untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner. 7. Pita Ukur LILA; Untuk mendeteksi apakah seorang ibu hamil menderita

kekurangan gizi atau tidak dan apakah nantinya akan melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) atau tidak.

8. X-ray, pemeriksaan sputum BTA; Untuk mendeteksi penyakit TBC

9. Pemeriksaan fisik Head to Toe; Untuk mendeteksi adanya keadaan abnormal pada ibu hamil.

10. Rectal toucher; Yang dilakukan oleh dokter untuk mendeteksi adanya „cancer prostat‟. Tes skrining mampu mendeteksi kanker ini sebelum gejala-gejalanya semakin berkembang, sehingga pengobatan/treatmennya menjadi lebih efektif. Pria dengan resiko tinggi terhadap kanker prostat adalah pria usia 40 tahunan.

(22)

12 (Bustan, 2000).

Kriteria Evaluasi. 1. Validitas

Suatu alat (test) skrining yang baik adalah mempunyai tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi, yaitu mendekati 100%. Validitas adalah kemampuan dari test penyaringan untuk memisahkan mereka yang benar sakit terhadap yang sehat. Besarnya kemungkinan untuk mendapatkan setiap individu dalam keadaan yang sebenarnya (sehat atau sakit). Validitas berguna karena biaya screening lebih murah daripada test diagnostik. Komponen Validitas diantaranya adalah:

 Sensitivitas adalah kemampuan dari test secara benar menempatkan mereka yang positif betul-betul sakit.

 Spesivicitas adalah kemampuan dari test secara benar menempatkan mereka yang negatif betul-betul tidak sakit.

(Budiarto dan Anggraeni, 2003).

Gambar 2. 2 Hubungan antara Sensitivitas dan Spesifisitas (kurva atas menggambarkan distribusi diantara individu sehat, kurva bawah distribusi

(23)

13 Gambar diatas mengilustrasikan secara skematis interdependensi (saling ketergantungan) dari sensitifitas dan spesifitas. asumsinya adalah bahwa diagnosis didasarkan pada suatu variabel terukur yang distribusinya untuk bagian populasi yang sakit dan sehat berbeda. Individu-individu yang nilainya diatas titik potong (cut-off point) k dari ukuran diagnosis diklasifikasi sebagai sakit. Bila area dibawah tiap grafik sama dengan 100%, bagian kiri dari grafik yang diatas sesuai dengan spesifitas dan bagian kanan dari grafik yang dibawah sesuai dengan sensitivitas. Bila persyaratan untuk seorang individu diklasifikasi sebagai sakit diperketat, yaitu bila k digerakkan kekiri, sensitivitas akan berkurang.

Besarnya nilai kedua parameter tersebut tentunya ditentukan dengan alat diagnostik diluar tes penyaringan. Kedua nilai tersebut saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya, yakni bila sensitivitas meningkat, maka spesifisitas akan menurun, begitu pula sebaliknya. Untuk menentukan batas standar yang digunakan pada tes penyaringan, harus ditentukan tujuan penyaringan, apakah mengutamakan semua penderita terjaring termasuk yang tidak menderita, ataukah mengarah pada mereka yang betul-betul sehat (Budiarto dan Anggraeni, 2003).

Selain kedua nilai tersebut, dalam memilih tes untuk skrining dibutuhkan juga nilai prediktif (P redictive Values). Nilai prediktif adalah besarnya kemungkinan dengan menggunakan nilai sensitivitas dan spesivitas serta prevalensi dengan proporsi penduduk yang menderita. Nilai prediktif value terbagi menjadi dua, yaitu:

 Nilai Prediktif Positif (NPP)

Nilai Prediktif Positif (NPP) atau P redictive P ositive Value (P P V) adalah porsentase dari mereka dengan hasil tes positive yang benar benar sakit, artinya mereka dengan tes positif juga menderita penyakit, sedangkan nilai prediktif negatif artinya mereka yang dinyatakan negatif juga ternyata tidak menderita penyakit.

Rumus:

(24)

14  Nilai Prediktif Negatif (NPN)

Nilai Prediktif Negatif (NPN) atau Negative P rediktive Value (NPV) adalah porsentase dari mereka dengan hasil tes negatif yang benar benar tidak sakit, sangat dipengaruhi oleh besarnya prevalensi penyakit dalam masyarakat dengan ketentuan, makin tinggi prevalensi penyakit dalam masyarakat, makin tinggi pula nilai prediktif positif dan sebaiknya.

Rumus:

NPN = NS / (NS + NP)

Sebuah program skrining yang efektif akan menggunakan pemeriksaan yang mampu membedakan antara individu yang sakit dan yang sehat. Hal ini dikenal sebagai validitas skrining. Untuk mengukur uji validitas, digunakan hasil skrining dibandingkan dengan baku emas (gold standard) dari pemeriksaan yang dilakukan. Hasil dari uji validitas adalah didapatkannya nilai sensitivitas dan spesifisitas. Berikut ini gambar yang menunjukkan perhitungan sensitivitas dan spesifisitas dalam skrining.

Gambar 2. 3 Perhitungan Validitas Uji Skrining

(25)

15 Gambar 2. 5 Contoh Perhitungan Spesifisitas

(Budiarto dan Anggraeni, 2003).

2. Reliabilitas

Jika tes yang dilakukan secara kontinyu menunjukan hasil yang konsisten, maka dapat dikatakan reliable. Variabilitas ini dipengaruhi oleh beberapa factor :

1. Variabilitas yang dapat ditimbulkan oleh: a. Stabilitas reagen

b. Stabilitas alat ukur yang digunakan

Stabilitas reagen dan alat ukur sangat penting karena makin stabil reagen dan alat ukur, makin konsisten hasil pemeriksaan. Oleh karena itu, sebelum digunakan hendaknya kedua hasil tersebut ditera dan diuji ulang ketepatannya.

2. Variabilitas orang yang diperiksa. Kondisi fisik, psikis, stadium penyakit atau status penyakit dalam masa tunas. Misalnya: lelah, kurang tidur, marah, sedih, gembira, penyakit yang berat, dan penyakit yang sedang bertunas. Umumnya variasi ini sulit untuk diukur terutama faktor psikis.

3. Variabilitas pemeriksa. Variasi pemeriksa dapat berupa:

(26)

16 b. Variasi eksterna ialah variasi yang terjadi bila satu sediaan dilakukan

pemeriksaan oleh beberapa orang.

Upaya untuk mengurangi berbagai variasi diatas dapat dilakukan dengan mengadakan:

1. Standarisasi reagen dan alat ukur. 2. Latihan intensif pemeriksa. 3. Penentuan criteria yang jelas.

4. Penerangan kepada orang yang diperiksa. 5. Pemeriksaan dilakukan dengan cepat.

3. Yield

Yield merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai hasil dari skrining. Hasil ini dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut (Budiarto, 2003):

1. Sensitivitas alat skrining.

2. Prevelansi penyakit yang tidak tampak.

3. Skrining yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. 4. Kesadaran masyarakat.

(27)

17 sehingga kemungkinan banyak penyakit tanpa gejala yang dapat terdeteksi dengan demikian yield akan meningkat.

Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan saat ingin melakukan kegiatan skrining yaitu:

1. Penyakit atau kondisi yang sedang diskrining harus merupakan masalah medis utama.

2. Pengobatan yang dapat diterima harus tersedia untuk individu berpenyakit yang terungkap saat proses skrining dilakukan.

3. Harus tersedia akses kefasilitasan dan pelayanan perawatan kesehatan untuk diagnosis dan pengobatan lanjut penyakit yang ditemukan.

4. Penyakit harus memiliki perjalanan yang dapat dikenali dengan keadaan awal dan selanjutnya dapat diidentifikasi.

5. Harus tersedia tes atau pemeriksaan yang tepat dan efektif untuk penyakit. 6. Tes dan proses uji harus dapat diterima oleh masyarakat umum.

7. Riwayat alami penyakit atau kondisi harus cukup dipahami termasuk fase regular dan perjalanan penyakit dengan periode awal yang dapat diidentifikasi melalui uji.

8. Kebijakan, prosedur, dan tingkatan uji harus ditentukan untuk menentukan siapa yang harus dirujuk untuk pemeriksaan, diagnosis, dan tindakan lebih lanjut.

9. Proses harus cukup sederhana sehingga sebagian besar kelompok mau berpartisipasi.

10. Screening jangan dijadikan kegiatan yang sesekali saja, tetapi harus dilakukan dalam proses yang teratus dan berkelanjutan.

11. Alat untuk penanganan. 12. Waktu pelaksanaan tersedia. 13. Pengaplikasian tepat.

14. Mendapat pengobatan segera. 15. Alat diagnosis tersedia.

(28)

18 1. Lead Time Bias adalah interval waktu antara keadaan dapat dideteksi dengan uji skrining dan saat umumnya keadaan dapat dideteksi melalui keluhan adanya gejala awal. Deteksi melalui skiring terjadi pada umumnya lebih awal diandingkan pada saat diagnosis dapat dilakukan, tanpa menunda saat kejadian terjadi. Dengan penemuan kasus melalui skrining seolah-olah memperpanjang interval antara waktu diagnosis dapat dibuat sampai kematian terjadi.

2. Lengt Bias. Kasus yang terdeteksi melalui program skrining cenderung memiliki tahap presimptomatik atau subklinik lebih panjang dibandingkan dengan mereka yang ditemukan diantara periode penyaringan karena upaya pribadi.

3. P atient Self-selection Bias yaitu individu-individu yang berperan dalam proses penyaringan pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan mereka yang tidak. Karakteristik tersebut mungkin berpengaruh kepada kelangsungan hidup. (Budiarto, 2003). konstruksi dengan menangani berbagai proyek penting seperti pemasangan jaringan listrik di Asahan dan proyek irigasi Jatiluhur. Pada tahun 1982, X membentuk divisi baru: Divisi Sipil Umum, Divisi Bangunan Gedung, Divisi Sarana Papan, Divisi Produk Beton dan Metal, Divisi Konstruksi Industri, Divisi Energy, dan Divisi Perdagangan. Proyek yang ditangani saat itu diantaranya adalah Gedung LIPI, dan Proyek Bangunan dan Irigasi.

(29)
(30)

20 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat kualitatif atau metode pengumpulan data yang bertujuan untuk mengetahui proses dan tatacara yang umumnya dilakukan untuk melaksanakan kegiatan skrining terutama pada kasus kecelakaan kerja di Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X. Design penelitian yang digunakan adalah wawancara dan dokumentasi. Wawancara merupakan usaha kami untuk melakukan re-checking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Dokumentasi merupakan salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang lain tentang subjek.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1

Jalan : Jalan Gubernur Seobardjo Kelurahan : Basirih

Kecamatan : Liang Anggang Kota : Banjarbaru

Provinsi : Kalimantan Selatan 3.2.2 Waktu Penelitian

(31)

21 Kerangka Konsep

Mulai

Studi Literatur

Pengumpulan Data Primer

Analisis Data Primer dengan Menggunakan Metode Skrining

Angka Kecelakaan Kerja yang Menunjukkan Kesehatan Pekerja

di PT X

Analisis dan Pembahasan

(32)

22 BAB IV

ISI

3.1 Hasil

Tabel 4.1 Jumlah Karyawan Pada PT X

Tabel 4.2 Jumlah Kecelakaan Kerja Pada PT X

Keterangan Jumlah (orang)

Karyawan PT X 288

No Bulan Tahun Jumlah Kecelakaan Kerja

(33)

23 3.2 PEMBAHASAN

Angka kecelakaan kerja di Indonesia masih termasuk buruk. Pada tahun 2004, lebih dari 1700 pekerja meninggal ditempat kerja. Menurut Juan Somavia, Dirjen ILO, industry konstruksi termasuk paling rentan kecelakaan, diikuti dengan manufaktur makanan dan minuman. Para ahli menganggap suatu kecelakaan disebabkan oleh tindakan pekeja yang salah. Sekarang anggapan itu telah bergeser bahwwa kecelakaan kerja bersumber kepada factor-faktor organisasi dan manajemen. Para pekeja dan pegawai mestinya dapat diarahkan dan dikontrol oleh pihak manajemen sehingga tercipta suatu kegiatan kerja yang aman. Sejalan dengan teori-teori penyebab kecelakaan yang terbaru, maka pihak manajemen harus terbaru, maka pihak manajemen harus bertanggungjawab terhadap keselamatan kerja para pekerjanya.

Menurut Per Menaker No. 01/1980 tentang K3 pada Konstruksi Bangunan pasal 3 ayat (1) dan (2), pada setiap pekerjaan konstruksi bangunan harus diusahakan pencegahan atau dikurangi terjadinya kecelakaan atau sakit akibat kerja terhadap tenaga kerjanya. Sewaktu pekerjaan dimulai harus segera disusun suatu unit keselamatan dan kesehatan kerja, hal tersebut harus diberitahukan kepada setiap tenaga kerja. Pada pasal 99 ayat (1) alat-alat penyelamat dan pelindung diri yang jenisnya disesuaikan dengan sifat pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing tenaga kerja harus disediakan dalam jumlah yang cukup.

(34)
(35)

25 BAB V

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari studi kasus ini adalah :

1. Skrining kecelakaan kerja yang terjadi di Proyek Pembangunan Jalan Akses Pelabuhan Trisakti – Liang Anggang PT X ditinjau dari beberapa faktor seperti faktor manusia, faktor lingkungan dan faktor interaksi manusia dan sarana kerja sehingga dilakukan pemeriksaan pada satu atau sekelompok orang untuk mengklasifikasikan mereka apakah mereka memiliki gejala gejala yang akan menyebabkan kecelakaan kerja.

2. Tujuan utama skrining adalah mengidentifikasi pekerja sedini mungkin untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja yang akan terjadi.

3. Penyebab kecelakaan kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor manusia, faktor lingkungan dan faktor interaksi dan sarana kerja.

4. Cara pendeteksian dini untuk para pekerja dilakukannya pengecekan kesehatan, pengecekan alat dan pengecekan sarana transportasi sebelum memulai bekerja. Asas pencegahan kecelakaan kerja yang dapat dilakukan oleh pihak pekerja yaitu dengan memakai APD secara sungguh – sungguh tanpa paksaan, menyadari betapa pentingnya keselamatan kerja serta mematuhi peraturan yang berlaku di tempat kerja.

4.2 SARAN

(36)

26 DAFTAR PUSTAKA

Budiarto dan Anggraeni, 2003.P engantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Bustan. 2000. P engantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Chandra, Budiman. 2009. Ilmu Kedokteran P encegahan & Komunitas. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Harlan, Johan. 2006. Informatika Kesehatan. Jakarta : Gunadarma.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 1980. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan

Transmigrasi No. 01 Tahun 1980. Sekretariat Negara. Jakarta.

Morton, Richard, Richard Hebel, dan Robert J. McCarter. 2008. P anduan Studi Epidemiologi dan Biostatika. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Mubarak, Wahit Iqbal. 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsep dan Aplikasi dalam Kebidanan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Noor, Nur Nasry. 2008. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta

Rajab, Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sholihah,Q . Aprizal S. H. 2016. Manajemen Epidemiologi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Banjarmasin : Lambung Mangkurat University Press

(37)

27 Weraman, Pius. 2010. Dasa r Surveilans Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Gramata

Publishing.

X, PT . 2015. Laporan Tahunan PT X. PT X (persero) Tbk Link:

http://www.X.co.id/pocontent/poupload/AR%20X%20TB%202015_LOW%

208%20MB.pdf

Yang dan Embretson. 2007. Construct Validity and Cognitive Diagnostic Assessment: Theory a nd Applications. New York: Cambridge University

(38)
(39)

FLOW CHART KESELAMATAN KERJA 2. Dibawa ke RS/rawat jalan

(40)

FLOW CHART PENANGANAN KECELAKAAN RINGAN

snjsnfanmn KECELAKAAN RINGAN

PERTOLONGAN P3K

LAPORAN KE ADMINISTRASI PROYEK

KORBAN DIBAWA KE RUMAH SAKIT

RS. UMUM BANJARMASIN

REKAMAN DATA KECELAKAAN

SELESAI PERLU DIBAWA

KE RUMAH SAKIT

DIBAWA KE RUMAH SAKIT

RUMAH SAKIT UMUM BANJARMASIN (0511 – 3257470, 3252180)

(41)

FLOW CHART PENANGANAN KECELAKAAN BERAT

snjsnfanmn KECELAKAAN KERJA

PERTOLONGAN P3K

LAPORAN KE KETUA/SEKR P2K3 PROYEK

PENANGANAN ADM. KECELAKAAN OLEH

ADMINISTRASI

LAPOR KE ASURANSI

CLAIM ASURANSI

PEMBERIAN ASURANSI

KORBAN DIBAWA KE RUMAH SAKIT

RS. UMUM BANJARMASIN

MONITORING PENYAKIT DAN PERAWATANNYA

PROSES PENYEMBUHAN

REKAMAN DATA KECELAKAAN

(42)

FLOW CHART PENANGANAN KECELAKAAN DENGAN KORBAN MENINGGAL DUNIA

(43)
(44)

Gambar

Gambar 2.1 Bagan Proses Pelaksaan Skrining
Gambar 2. 2 Hubungan antara Sensitivitas dan Spesifisitas (kurva atas
Gambar 2. 3 Perhitungan Validitas Uji Skrining
Gambar 2. 5 Contoh Perhitungan Spesifisitas
+2

Referensi

Dokumen terkait