LAPORAN HASIL
PEMBUATAN TEMPE
Guru Pembimbing : FIVIANA, S.Pd
Disusun Oleh:
KELOMPOK II
Nama Anggota :
YESI HERDEVI HB
MELISA
YANTI NORA
WILA RAMADANI
M. ISNAN MUSAFIR
ANDRI PRATAMA
Kata Pengantar
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian pembuatan tempe ini tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan laporan ini, banyak sekali tantangan dan hambatan,akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Oleh karena itu, segala kritikan dan saran yang membangun akan saya terima dengan baik.Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.
Bangko Februari 2018
DAFTAR ISI
BAB III: BAHAN DAN METODE PERCOBAANsederhana sehingga senyawa tersebutdengan cepat dapat dipergunakan oleh tubuh.
Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat.Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis dapat merumuskan :
1. Bagaimanakah peranan mikroorganisme Rhizopus Oryzae dalam proses pembuatan tempe?
2. Bagaimanakah proses pembuatan tempe?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penulisan yang menjadi acuan penulis untuk membuat laporan hasil penelitian ini adalah sebagai berikut
1. Mengetahui bagaimana peranan dari mikroorganisme Rhizopus Oryzae
dalam proses pembuatan tempe.
2. Mengetahui bagaimana proses pembuatan tempe.
1.4 Manfaat Penelitian
penulisan laporan hasil penelitian yang lain yang sejenis dengan judul laporan hasil penelitian ini.
Secara praktis, hasil penulisan makalah ini diharapkan juga dapat bermanfaat sebagai berikut :
1) Menjadi bahan masukan berbagai pihak dalam menganalisis peranan mikroorganisme Rhizopus Oryzae dalam proses pembuatan tempe
fermentasi sebagai laru (starter). Misalnya pada pembuatan tempe atau oncom digunakan hancuran tempe dan oncom yang sudah jadi.
B. Mikroorganisme pada Fermentasi
Jenis kapang digunakan dalam khususnya bagi beberapa jenis kayu dan fermentasi bahan pangan khususnya di Asia, seperti kecap, miso, tempe dan lain-lainnya. Jenis kapang yang banyak memegang peranan penting dalam fermentasi bahan makanan tersebut adalah Aspergillus, Rhizopus dan Penicillium Tempe adalah sumber protein yang terbuat dari kedelai.
C. Fermentasi Tempe
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
Reaksi dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Secara singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana , melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan pada produksi makanan.
D. Persamaan Reaksi Kimia:
Dijabarkan sebagai:
Gula (glukosa, fruktosa, atau sukrosa) → Alkohol (etanol) + Karbon dioksida + Energi (ATP)
Jalur biokimia yang terjadi, sebenarnya bervariasi tergantung jenis gula yang terlibat, tetapi umumnya melibatkan jalur glikolisis, yang merupakan bagian dari tahap awal respirasi aerobik pada sebagian besar organisme. Jalur terakhir akan bervariasi tergantung produk akhir yang dihasilkan.
2.2 Sumber Kedua
E. Jamur pada tempe
dengan cara membentuk sporangium yang di dalamnya terdapat sporangiospora.
Rhizopus oligosporus menghasilkan enzim-enzim protease. Perombakan senyawa kompleks protein menjadi senyawa-senyawa lebih sederhana adalah penting dalam fermentasi tempe, dan merupakan salah satu faktor utama penentu kualitas tempe, yaitu sebagai sumber protein nabati yang memiliki nilai cerna amat tinggi. Kandungan protein yang dinyatakan sebagai kadar total nitrogen memang tidak berubah selama fermentasi. Perubahan terjadi
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Alat dan Bahan
a) Kompor, panci, dan tampah
b) Sendok pengaduk dan sendok
c) Kantong plastik atau daun pisang
d) Serbet
e) Kacang kedelai 1kg
f) Ragi tempe satu dendok teh
3.2 Cara Kerja
1) Sebelum digunakan, semua alat proses pembuatan tempe harus bersih 2) Cuci kedelai hingga bersih. Buang kedelai yang terapung. Kedelai yang
3) Rebus kedelai sekitar satu jam agar kulitnya cukup mudah untuk di kelupas.
4) Kupas kulit kedelai dengan cara mengaduk-ngaduknya dalam ember. 5) Cuci kembali kedelai sampai bersih, rendam satu malam (12-24 jam). 6) Rebus kembali dengan air rendaman selama sekitar satu jam, tiriskan
kedelai dan letakkan di tampah hingga dingin dan kering.
7) Bubuhi satu sendok teh ragi tempe pada kedelai dan aduk hingga rata. Perhatian: tangan pengaduk harus bersih.
8) Siapkan kantong plastik yang telah dilubangi kecil-kecil dengan tusuk gigi yang bersih. Selain kantong plastik, dapat menggunakan daun pisang. 9) Isi kantong plastik itu dengan kedelai sekitar tiga perempat bagian,
kemudian dilipat.
10) Letakkan bungkusan-bungkusan kedelai di tampah, tutupi dengan serbet. 11) Letakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung
(temperature ruangan adalah 26° – 30°)
12) Peram/diamkan selama dua hari. Setelah satu hari diperam, buka kain serbet.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Hasil Penelitian
Penelitian yang dilakukan pratikan pada satu hari penuh setelah pengolahan kedelai hingga menjadi tempe adalah sebagai berikut:
- Penelitian I (Sabtu, 9 september 2017/Pukul 09.15 WIB) Kacang kedelai direbus selama satu malam.
Memasukan ragi pada kacang kedelai dan mengisi kantong plastik dengan kacang kedelai.
Kedelai yang terbungkus masih dalam keadaan mengembun.
Mengulang dari langkah awal, menunggu rendaman selama satu malam. Memasukan ragi dan memasukan kedelai pada kantong plastik
Jamur sudah merata dan tempe yang dihasilkan lebih lembek dan lebih baik dari percobaan pertama.
4.2 Pembahasan
Pada penelitian mengikuti prosedur awal untuk membuat tempe dari kacang kedelai, seperti merebus kacang kedelai agar kulitnya mudah terkelupas dan merendamnya selama satu malam. setelah di rendam satu malam, memasukkan ragi pada kacang kedelai dan mangisi kantong plasik yang sudah dilubangi dengan kacang kedelai.keadaan bungkus kedelai dipenuhi uap air akibat panas yang masih ditimbulkan oleh proses fermentasi dan mycelia putih dari jamur belum merata (masih terlihat padatan/biji kedelai).
Pada kacang kedelai sudah terbungkus sempurna dengan mycelia putih dari jamur dan membentuk tekstur yang rata dan tercium bau tempe yang khas. Tempe yang dihasilkanpun lebih lembek dan lebih baik dari sebelumnya.
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
Pada dasarnya proses pembuatan tempe merupakan proses penanaman mikroba jenis jamur Rhizopus sp pada media kedelai, sehingga terjadi proses fermentasi kedelai oleh ragi tersebut. Hasil fermentasi menyebabkan tekstur kedelai menjadi lebih lunak, terurainya protein yang terkandung dalam kedelai menjadi lebih sederhana, sehingga mempunyai daya cerna lebih baik dibandingkan produk pangan dari kedelai yang tidak melalui proses fermentasi.
proses fermentasi kedelai menjadi tempe, akan dihasilkan antibiotika yang akan mencegah penyakit perut seperti diare.
Untuk tahan lama, tempe yang misalnya akan menjadi produk ekspor dapat di bekukan dan dikirim ke luar negeri di dalam peti kemas pendingin. Proses membekukan tempu untuk ekspor sbb : mula-mula tempe di iris-iris setebal 2 – 3 cm dan di blanching direndam dalam air mendidih selama lima menit untuk mengaktifkan kapang dan enzim. Kemudian tempe di bungkus dengan plastik selofan dan di bekukan pada suhu 40 derajat Celcius sekitar 6 jam. Setelah beku disimpan pada suhu beku sekitar 20 derajat celcius selama 100 hari tanpa mengalami perubahan sifat penampak warna, bau dan rasa.
5.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan percobaan dan penelitian melakukan secara serius dan cermat serta selalu mempertimbangkan dari kebersihannya. Dalam melakukan percobaan sebaiknya tetap dalam pengawasan guru pembimbing, agar hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan.
5.3 Daftar Pustaka
http://faishalibnu.blogspot.com/2013/03/laporan-pembuatan-tempe.html
http://rheskyemhordiank.blogspot.com/2012/04/laporan-hasil-penelitian-pembuatan_05.html
5.4 Lampiran
Mengupas kulit kedelaiKulit yang terkelupasRendam kedelai satu malam
5.5 Tabel pengamatan
Pengamatan hari ke-0
Jamur Kekompakkan Tekstur Bau Warna Belum ada - Lembek Netral Kuning
Pengamatan hari ke-1.
Jamur Kekompakkan Tekstur Bau Warna Belum ada - Lembek Netral Kuning
Pengamatan hari ke-2
Jamur Kekompakkan Tekstur Bau Warna
Ada ++ Padat Bau Tempe Putih
Pengamatan hari ke-3
Ada +++ Padat Bau Tempe Putih
Keterangan :