Materi debat
Penggunaan Bahasa Indonesia di Jejaring
Sosial (Facebook dan Twitter) Kurang
Mendidik
Dalam ujian praktek debat Bahasa Indonesia saya mendapatkan tema "Penggunaan Bahasa Indonesia di Jejaring Sosial Kurang Mendidik" sebagai kontra. Sebagian tulisan ini saya ambil dari berbagai sumber, semoga dapat bermanfaat untuk anda :)
Penggunaan Bahasa Indonesia di Jejaring Sosial
Kurang Mendidik
Saya sebagai kontra tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Alasannya penggunaan bahasa Indonesia di jejaring sosial justru mempermudah komunikasi. Mayoritas remaja yang menganggap bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD terlalu kaku dan terlalu banyak aturan. Bahasa Indonesia yang baik dan benar masih menjadi bahasa yang sulit untuk digunakan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan dan faktanya Bahasa Indonesia merupakan bahasa ke-3 tersulit di Asia.
Bahasa yang di gunakan di jejaring sosial merupakan salah satu kreatifitas kalangan remaja dalam mengekspresikan dirinya melalui bahasa, dan itu bukan merupakan sebuah masalah jika diposisikan pada tempat yang sesuai dan proporsi yang tepat dengan memperhatikan kondisi, kapan dan dengan siapa mereka berbicara. Bahasa yang sering digolongkan oleh para ahli ke dalam ragam bahasa tidak resmi atau slang. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Ed. IV, 2008) mendefinisikannya sebagai “ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya musiman, dipakai oleh kaum remaja atau kelompok sosial tertentu untuk komunikasi intern dengan maksud agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti."
Bahasa yang digunakan di jejaring sosial yang semakin marak merupakan realitas akibat dinamika peradaban manusia. Bahasa di jejaring sosial merupakan pola bahasa peralihan dari bahasa lisan ke bahasa tulisan. Tidak ada yang salah dalam bahasa di jejaring sosial karena dinamika peradaban manusia, budaya, dan lingkungan/demografis adalah factor-faktor yang mempengaruhi pola berbahasa seseorang.
Disisi lain terdapat motivator-motivator yang aktiv di jejaring sosial yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Jadi, menurut saya tidak semua penggunaan Bahasa Indonesia di jejaring sosial kurang mendidik. Suatu hal yang harus tetap disepaki adalah penggunaan bahasa Indonesia yang bercampur kode dengan bahasa gaul, dunia maya, alay, ataupun bahasa daerah selagi tidak dipakai dalam situasi formal tidak lah perlu dirisaukan (Nababan 1993
termasuk di Indonesia, banyak cara yang dipilih pemakai bahasa dalam berkomunikasi.
Bahkan pilihan cara komunikasi tidak hanya makin beragam tapi juga semakin canggih.
Disaat ini perkembangan semakin pesat. Perkembangan dan berbagai
pengaruh-pengaruh globalisasi semakin menjalar. Terutama dikalangan remaja. Dizaman sekarang
serasa segalanya sudah berbeda, apalagi jika dibandingkan dengan zaman dahulu. Dizaman
sekarang dari segi penampilan berbeda dengan dahulu, jika dulu pakaian adat adalah maskot,
sekarang pakaian trendy yang lebih oke. Dari segi tingkah laku dan gaya bahasa yang
digunakan pun saat ini juga berbeda dengan dengan zaman dulu.
Salah satu fenomena komunikasi yang paling pesat saat ini adalah penggunaan bahasa
yang didukung oleh perangkat teknologi canggih, khususnya bahasa yang digunakan pada
jejaring sosial, seperti internet, facebook, twitter, chatting, email, sms, dan sebagainya.
Namun penggunaan bahasa yang menyimpang dari kaidah Bahasa Indonesia menimbulkan
sorotan besar dari para pengamat.
Berlatar pada kondisi itulah, kita perlu berdiskusi dan menentukan sikap terhadap
fenomena bahasa pada jejaring sosial yang semakin mengglobal. Bagaimana kita memandang
bahasa pada jejaring sosial; ancaman atau peluang? Bahasa Indonesia adalah salah satu aset
penting bangsa Indonesia. Kenapa? Karena menurut saya, bahasa Indonesia merupakan
satu-satunya bahasa resmi yang membantu berbagai suku di Indonesia untuk berkomunikasi
secara baik.
Saya sebagai pro menganggap pernyataan tersebut benar. Karena bahasa pada jejaring
sosial semakin mendapat tempat di kalangan anak muda. Apalagi kemunculan bahasa gaul
yang kini menjadi trend anak muda dikhawatirkan dapat mengikis jati diri bahasa Indonesia.
Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar mulai tergusur oleh munculnya bahasa
gaul, hal ini tampak jelas pada bahasa lisan dan tulis yang sering digunakan oleh masyarakat
kita, khususnya dikalangan remaja. Fenomena itu sering kita sebut “
Bahasa Alay
” yang lebih
dikenal dengan “
Bahasa Anak Layangan”,
atau
“Bahasa Anak Lebay”
yang benar-benar
sudah menjadi bahasa favorit mereka daripada bahasa Indonesia itu sendiri. Hal ini terjadi
karena anak muda sekarang membutuhkan pengakuan akan eksistensi mereka. Mereka
hampir tidak punya ruang untuk mewujudkan eksistensi mereka.
Remaja Indonesia kesulitan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Kesulitan tersebut terjadi karena adanya penggunaan bahasa baru yang
mereka anggap sebagai sebuah kreativitas. Bahasa yang mengandung sandi-sandi tertentu dan
sekarang dirasa wajar muncul dari beberapa kalangan yang menggunakan
bahasa prokem. Bahasa prokem adalah bahasa yang digunakan oleh sekelompok orang dan
hanya dimengerti oleh mereka. Bahasa prokem yang sekarang ini sedang menjadi tren di
Indonesia terutama pada kalangan remaja adalah bahasa gaul. Jadi, anak muda yang tidak
memakai bahasa alay maka tidak disebut anak gaul, dan status sosial seseoranglah yang
paling mempengaruhi penggunaan bahasa itu sendiri.
Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang baku yang mempunyai kaidah-kaidah
disetiap penulisan maupun pengucapannya. Bahasa Indonesia ini bahasa yang mudah
dimengerti oleh semua orang, meskipun mereka berasal dari daerah yang berbeda.
Contohnya: Saat kita (orang jawa) bertemu dengan orang dari suku lain, misalnya saja orang
batak, mungkin saat bertemu kita akan kesulitan dalam berkomunikasi. Pastinya dengan
memilih berkomunikasi dengan bahasa Indonesia itu akan mempermudah. Itulah pentingnya
jika mampu menggunakan bahasa indonesia dengan baik.
menimbulkan kesan kurang baik jika dikaitkan dengan kesopanan berbicara dengan orang
lain.
Pengguna jejaring sosial saat ini tidak hanya kalangan remaja atau orang dewasa,
namun anak-anak pun tidak sedikit yang menggunakan jejaring sosial untuk bermain atau
berkomunikasi. Sehingga bahasa di jejaring sosial yang kurang mendidik tidak baik untuk
ditiru oleh anak-anak. Sebagai pemuda penerus bangsa, harusnya fenomena ini tidak boleh
terjadi karena akan merusak generasi bangsa Indonesia. Bisa jadi bahasa Indonesia tak lagi
perlu ejaan. Bisa-bisa akan merusak bahasa Nasional kita sendiri. Jika sudah rusak, dimana
letak citra negara kita dilahirkan ini? Sungguh perkembangan yang tidak baik bagi anak cucu
kita kelak.
Kesimpulan saya yakni, inilah momentum bagi pemakai Bahasa Indonesia untuk
menerapkan pola tutur yang baik dan benar secara lisan maupun tulisan. Kita harus bersikap
bangga terhadap Bahasa Indonesia dan selalu menjunjung tinggi kaidah pemakaiannya agar
tidak hilang akibat dinamika peradaban manusia dan intervensi dari bahasa lain. Kita harus
aktif dan tepat dalam menggunakan Bahasa Indonesia dan tidak menjadikan Bahasa
Indonesia sebagai bahasa sarkasme terhadap generasi muda dan remaja. Bahasa adalah
keharmonian.
Penggunaan
Bahas
a
Di
j
ej
ar
i
ng
Sos
i
al
(
Fac
ebook
dan
T
wi
t
t
er
)
Kur
ang
Mendi
di
k
Posted on
Oktober 29, 2012 by Dianmampu menggunakan bahasa indonesia dengan baik. Namun,di zaman
sekarang ini apakah pengunaan bahasa Indonesia semakin baik ?.
Disaat ini perkembangan semakin pesat. Perkembangan dan berbagai
pengaruh-pengaruh globalisasi semakin menjalar. Terutama dikalangan
remaja. Dizaman sekarang serasa segalanya sudah berbeda, apalagi jika
dibandingkan dengan zaman dahulu. Dizaman sekarang dari segi penampilan
berbeda dengan dahulu, jika dulu pakaian adat adalah maskot, sekarang
pakaian trendy yang lebih oke. Dari segi tinggkah laku dan gaya bahasa yang
digunakan pun saat ini juga berbeda dengan dengan zaman dulu. Sekarang
ini sapaan yang digunakan jika bertemu dengan orang lain, lebih akrab
dengan sapaan
Loe-Loe Gue-Gue
. Sepertinya dizaman dahulu seperti itu
tidak ada. Begitu berpengaruhnya globalisasi yang kebanyakan datang dari
berbagai negara didunia ini. Lama kelamaan pengaruh yang seperti ini akan
menjadi perubahan yang tak terduga. Terutama pengaruh yang seperti ini
terfokus pada remaja-remaja kita.
Apalagi dizaman sekarang ini didukung teknologi yang semakin canggih.
Dahulu saja tidak ada
Telephone Seluler (Handphone
) atau adapun jarang
yang memiliki. Tapi,disaat sekarang ini ank SD pun sudah mengenal bahkan
mempunyai
Telephone Seluler (Handphone).
Tak lain lagi saat ini ada juga
situs-situs jejaring sosial diInternet. Yang semuanya adalah fasilitas
untuk
Chatting (Ngobrol Online).
Seperti: BBM,e-Buddy,Yahoo Messanger, dan
yang saat ini lagi naik daun seperti
Facebook (FB)
dan
. Subhanallah
semakin canggih saja…!!
Seperti
:“Mu’uph,kamuh,tyuss,bray,cuy,ama-ama,ciuss,xorry,doLoe,CebeNtAr,SenDiRi ajhhA,bo’Ong,yaNk mN4, aPhA C!
hh,beCok,dsb.”.
Sekarang ini dikenal dengan bahasa
“Alay”.
Bahasa
“Alay”
lebih dikenal
dengan bahasa Anak Layangan atau bahasa Anak Lebay, bahasa yang tidak
tersusun dengan sesuai. Jika bahasa didunia maya yang digunakan seperti
ini kemungkinan bahasa sehari-hari yang digunakan oleh para remaja
sekarang juga tidak jauh berbeda dengan di FB or Twitter. Mungkin dampak
positif yang mereka dapat,menjadi hal yang menyenangkan mereka dapat
kreatif dan inovatif mengotak-atik abjad. Menjadi sebuah trend tersendiri.
Namun dampak negatif yang didapat adalah mereka tak lagi menghiraukan
kaidah-kaidah bahasa yang ada. Tak ada gunanya pelajaran bahasa indonesia
yang diajarkan sejak kita sekolah di Taman Kanak-Kanak. Bisa juga
bahasa
“Alay”
mempersulit komunikasi dengan orang yang tak mengerti
perkembangan seperti sekarang ini. Bahasa
“Alay”
juga menimbulkan kesan
kurang baik jika dikaitkan dengan kesopanan berbicara dengan orang lain.
Bahasa “Alay” juga tak cocok jika anak-anak yang masih kecil mengenalnya.
Sebagai pemuda penerus bangsa jika perkembangan seperti ini apa bisa
merubah keadaan menjadi yang lebih baik. Bisa jadi bahasa Indonesia tak
lagi perlu ejaan. Bisa-bisa akan merusak bahasa Nasional kita sendiri. Jika
sudah rusak dimana letak citra negara kita dilahirkan ini. Sungguh
perkembangan yang tidak baik bagi anak cucu kita kelak.
Jika ada usaha untuk mencegah perkembangan seperti ini tak ada kata
terlambat. Setidaknya dengan mengurangi berkomunikasi dengan
bahasa-bahasa yang tidak seharusnya. Berkomunikasilah dengan bahasa-bahasa-bahasa-bahasa
yang baku atau yang dipandang baik. Terapkan berbahasa yang baik sesuai
dengan yang telah diajarkan. Sebagai anak bangsa berbanggalah dengan
perubahan-perubahan yang datang dari diri kita sendiri, jangan bangga
dengan perubahan yang dibawa oleh orang lain. Tak tentu juga dampak yang
didapat semuanya baik. Siapa lagi yang membanggakan bahasa Indonesia
jika bukan kita sendiri sebagai warga negaranya. Untuk itu mri bersama
lindungi dan pertahankan apa yang rlah negara kita miliki.
“Bangsa
Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia”.
Pemuda,, ingatlah …!!!
PENGGUNAAN BAHASA DALAM JEJARING SOSIAL FACEBOOK
DAN TWITTER (SEPTIYAS ALFINA UNAIZAH)
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bahasa adalah suatu sistem perisyaratan yang terdiri dari unsur-unsur isyarat dan hubungan antara unsur-unsur tersebut. Hakikat bahasa sendiri antara lain bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Bahasa itu bersifat dinamis, bahasa itu tidak dapat terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang
sewaktu-waktu dapat terjadi.
Bahasa juga beragam, artinya meskipun bahasa memiliki kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologi, morfologi, sintaksis, maupun pada tataran leksikon. Sebagai sebuah langue sebuah bahasa mempunyai sistem dan subsistem yang dipahami sama oleh semua penutur bahasa itu. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penutur yang tidak homogen, tetapi karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Dalam hal ini, ada kaitannya dengan munculnya bahasa yang digunakan oleh kalangan anak muda, dan biasanya bahasa-bahasa ini muncul dalam jejaring sosial seperti facebook maupun twitter.
Dilihat dari fungsinya, yaitu fungsi kemasyarakatan, bahasa berdasarkan ruang lingkup berfungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa kelompok. Melihat bahasa nasional di Indonesia adalah bahasa Indonesia, munculnya bahasa yang digunakan dalam jejaring sosial ini jelas merusak bahasa nasional. Sebenarnya bahasa yang biasa muncul di jejaring sosial sudah ada sejak tahun 1970-an. Munculnya bahasa ini disebut dengan bahasa slang atau prokem yaitu variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa itu untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Dulu, bahasa slang atau prokem digunakan oleh komunitas tertentu seperti preman, namun lama kelamaan orang awampun mengetahui maksud dari bahasa rahasia yang mereka gunakan. Seiring dengan perkembangan zaman, penggunan bahasa prokem justru digunakan di luar komunitasnya yang kemudian istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari dan sering dipakai dalam pesan singkat atau SMS dan di jejaring sosial seperti facebook, twitter, kaskus bahkan blog.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana wujud penggunaan bahasa dalam jejaring
2. Apa fungi social penggunaan bahasa dalam jejaring sosial facebook dantwitter?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui wujud penggunaan bahasa dalam jejaring
sosial facebookdan twitter.
2. Mengetahui Fungsi social dari penggunaan bahasa dalam jejaring social
facebook dan twitter.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORITIS
2.1 Kajian Pustaka
Berbagai penelitian mengenai penggunaan variasi bahasa prokem telah dilakukan sebelumnya. Bahasa prokem adaah bahasa yang memang diciptakan oleh kalangan muda untuk komunitas tertentu. Keunikan bahasa yang diciptakan oleh kalangan remaja mendorong beberapa peneliti untuk melakukan penelitian.
Penelitian tentang ragam bahasa slang yang dilakukan oleh Usmiyati (2003) dalam penelitiannya yang berjudul Ragam Bahasa Slang Remaja Pekalongan. Di dalam penelitianya dinyatakan bahwa ragam bahasa slang yang digunakan oleh remaja pekalongan berwujud slang bentuk kata tunggal, slang bentuk kata kompleks, slang bentuk frasa, serta proses pembentukan slang, dan funsgi social slang.
Dalam skripsinya Lestari (2011) yang berjudul Variasi Bahasa dalam Status Bearanda pada situs jejaring social facebook dinyatakan bahwa penggunaan bahasa yang sering muncul dalam status beranda facebook berwujud kata, frasa, klausa, kalimat, wacana, serta karakteristik bahasanya yang merupakan campur kode dari berbagai bahasa, bentuk penyampaian baik puisi, pantun, prosa, iklan, lirik lagu, segi penulisan dan funsi sosialnya. Dalam penelitian ini kekurangannya adalah tidak adanya analisis kosakata variasi bahasa slang atau prokem.
2.2 Landasan Teoritis
Konsep-konsep teori yang digunakan dalam penelitian ini mencakup pengertian bahasa, variasi bahasa, dan fungsi bahasa.
2.2.1 Bahasa
2.2.2 Variasi Bahasa
Variasi atau ragam bahasa merupakan bahasan pokok dalam studi sosiolinguistik. Menurut Kridalaksana (1974) mendeinisikan sosiolinguistik sebagai cabang linguistic yang berusaha menjelaskan cirri-ciri variasi bahasa dan menetapkan korelasi cirri-ciri variasi bahasa tersebut dengan ciri-ciri sosial kemasyarakatan.
Sebagai sebuah langue sebuah bahasa memiliki sisten dan subsistem yang dipahami oleh semua penutur bahasa itu. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh penutur yang tidak homogeny, tetapi juga karena interaksi sosial yang mereka lakuka sangat beragam.
2.2.2.1 Variasi dari Segi Penutur
a. Variasi bahasa pertama berdasarkan penuturnya adalah variasi bahasa yang
disebut idiolek, yaitu variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai varias bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan klaimta dan sebagainya.
b. Variasi bahasa kedua berdasarkan penuturnya adalah dialek,yakni varias
bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relative, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu. Karena dialek ini berdasarkan pada wilayah atau area tempat tinggal penutur, maka dialek ini lazim disebut dialek areal, dialek regional, dialek geograi. Bidang studi linguistic yang mempelajari dialek-dialek ini adalah dialektologi. Bidang studi ini dalam kerjanya berusaha membuat peta batas-batas dialek dari sebuah bahasa, yakni dengan cara membandingkan bentuk dan makna kosakata yang digunakan dalam dialek-dialek itu.
c. Variasi bahasa ketiga berdasarkan penutur adalah kronolek, yakni variasi
bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu.
d. Variasi bahasa yang keempat berdasarkan penuturnya adalah sosiolek atau
2.2.2.2 Variasi dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa yang berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek (Nababan 1984), ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingka keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa iu digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya, bidang sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan. Variasi bahasa berdasarkan bidang kegiatan ini yang tampak cirinya adalah dalam bidang kosakata.
2.2.2.3 Variasi dari Segi Keformalan
Berdasarkan tingkat keformalan, Martin Joos(1967) dalam bukunya The Five Clock membagi variasi bahasa atas lima macam gaya, yaitu gaya atau ragam beku, gaya atau ragam resmi, gaya atau ragam usaha, gaya atau ragam santai, dan gaya atau ragam akrab.
Dalam kehidupan kita sehari-hari kelima ragam di atas, yang dilihat dari tingkat keformalan penggunaannya, mungkin secara bergantian kita gunakan. Sebenarnya banyak faktor atau variable lain yang menentukan pilihan ragam mana yang harus digunakan.
2.2.2.4 Variasi dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan. Dalam hal ini dapat disebut adanya ragam lisan dan ragam tulis, atau ragam dalam berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, yakni misalnya dalam bertelepon dan bertelegraf. Adanya ragam bahasa tulis dan bahasa lisan memiliki wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidaksamaan wujud struktur ini adalah karena dalam berbahasa lisan atau dalam menyampaikan informasi secara lisan, kita dibantu oleh unsure-unsur nonsegmental atau unsure nonlinguistic yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengan kepala dan sejumlah gejala-gejala isik lainnya.
2.2.3.1 Fungsi Kebudayaan
Fungsi bahasa dari kebudayaan yaitu sebagai sarana perkembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan dan inventaris cirri-ciri kebudayaan. Di atas kita katakana bahwa secara ilogenetik bahsa adalah bagian kebudayaan, dan bahasalah yang memungkinkan pengembangan kebudayaan sebagaimana kita kenal.
Secara ontogenetic, seseorang belajar dan mengetahui kebudayaannya kebanyakan melalui bahasa artinya kita belajar hidup dalam masyarakat melalui dan dengan bantuan bahasa. Dengan kata lain, suatu kebudayaan dilahirkan dalam perorangan kebanyakan dengan bantuan bahasa.
2.2.3.2 Fungsi Kemasyarakatan
Fungsi kemasyarakatan bahasa menunjukan peranan khusus sesuatu bahasa dalam kehidupan masyarakat. Klasiikasi bahasa berdasarkan fungsi kemasyarakatan dibagi menjadi dua yakni berdasarkan ruang lingkup dan berdasarkan bidang pemakaian. Berdasarkan ruang lingkup mengandung bahasa nasional dan bahasa kelompok. Berdasarkan bidang pemakaian fungsi bahasa sebagai bahasa resmi, bahasa pendi observasi yang terus menerusdikan, bahasa agama, bahasa dagang, dan sebagainya.
2.2.3.3 Fungsi Perorangan
Klasiikasi fungsi bahasa golongan ketiga yaitu fungsi perorangan, akan kita dasarkan di sini pada kajian Halliday (1976). Dia membuat suatu klasiikasi kegunaan pemakaian bahasa atas dasar observasi yang terus menerus terhadap penggunaan bahasa oleh anaknya sendiri.
2.2.3.4 Fungsi Pendidikan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kulaitatif. Metode ini digunakan sebagai prosedur penelitian untuk menghasikan data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari hasil pengamatan.
Metode ini sesuai dengan tujuan yaitu mendiskripsikan bentuk penggunaan bahasa dalam jejaring sosial facebook dan twitter. Diskripsi tersebut diperoleh dari hasil observasi pengamatan di lapangan dengan mengambil data secara langsung di sosial media facebook dan twitter.
3.2 Sumber Data Penelitian
3.2.1 Wujud Data
Wujud data dalam penelitian ini adalah berupa satuan lingual yang berwujud kata, kalimat dalam penggunaan bahasa yang dipakai dalam jejaring sosial facebookdan twitter.
3.2.2 Sumber Data
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak. Teknik simak dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Selanjutnya teknik yang digunakan adalah teknik catat. Teknik catat merupakan teknik dengan menggunakan alat tertentu. Data yang telah didapat oleh peneliti dalam bentuk ile lalu di crop dan dikumpulkan menjadi satu.
3.4 Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode padan. Metode padan disebut juga metode identitas. Metode padan adalah metode analisis data yang alat penentunya berada di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan atau yang diteliti. ( Sudaryanto 2007: 47). Jenis metode ini adalah metode padan ortograis. Metode padan ortograis adalah metode padan yang alat penentunya berupa bahasa tulis.
Analisis data dilakukan dalam dua tahap yaitu menganalisi wujud penggunaan bahasa dalam jejaring social facebook dan twitter serta fungsi social dalam penggunaan bahasa tersebut.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
muncul tahun 1970-an. Awalnya istilah-istilah tersebut untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Tetapi karena sering digunakan diluar komunitasnya, lama kelamaan istilah tersebut menjadi bahasa sehari-hari bahkan sering kita jumpai dalam social media seperti facebook dan twitter.
Berikut wujud penggunaan bahasa yang dipakai dalam jejaring social facebook dan twitter yang ditemukan dari penelitian yang dapat dianalisis.
4.1 Penggunaan Bahasa dalam Jejaring Social Facebook dan Twitter yang Berwujud Kata
Kata merupakan satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas atau berdiri sendiri. Dalam penelitian ini ditemukan penggunaan bahasa dalam wujud kata ada dua yaitu kata tunggal dan kata kompleks.
4.1.1KataTunggal
Kata tunggal adalah satuan gramatikal yang terdiri atas satuan yang lebih kecil dan belum mendapat proses morfologis . Lihat dalam data berikut.
• AcWehy FariLzah : Sabarrrrrrrr (data 1) • Tarom Avenvoedzkae : aaasssuuu. (data 2) • Tharii Pmd : Bingung (data 3)
Dalam status AcWhy Farilzah yang bertulis sabarrrr (data 1), artinya dia sedang mengungkapkan perasaannya untuk bersabar. Hanya saja penulisan “r” lebih dari satu hanya karakter dalam menulis. Sama halnya dengan data 2 yaitu pada status Tarom Avenvoedzkae yang bertulisaaasssuuu artinya bentuk perasaan dia yang sedang kesal atau marah pada seseorang. Penulisan yang seperti itu juga hanya merupakan karakter penulisan saja. dalam status Tharii Pmd yaitu bingung (data 3) , juga mengungkapkan bahwa dia sedang merasa kebingungan.
4.1.2 Kata Kompleks
Kata kompleks adalah satuan gramatikal paling kecil yang sudah mengalami proses morfologis. Seperti dalam data berikut.
Dalam status rismaputriW yaitu menyebalkan (data 4), merupakan kata kompleks, karena kata menyebalkan sudah mengalami proses morfologis yaitu mendapatkan imbuhan awalan me- dan akhiran -kan. Pada data 5 dalam status 11yunii dalam twitter kata ketiduran juga merupakan kata kompleks karena kata tersebut sudah mendapatkan imbuhan yaitu awalan ke- dan akhiran -an
4.2 Penggunaan Bahasa dalam Jejaring Social Facebook dan Twitter yang Berwujud Frasa
Frasa merupakan kelompok kata nonpredikatif, bukan kata majemuk, dan bukan klausa atau kalimat. Berikut data penggunaan bahasa yang berwujud frasa yang dapat dianalisis.
4.2.1 Frasa Endosentris
Frasa endosentris adalah frasa yang kategori sintaksisnya sama dengan kategori salah satu unsurnya. Frasa endosentrik ini memiliki unsure inti. Berikut data yang berupa frasa endosentrik.
· @bobbyrahman2 : avaaa baruu (data 6) · @exoticangelf : @lyeheechul SEDIH BANGET (data 7)
Dalam status yang dibuat oleh @bobbyrahman2 yaitu avaaa baruutermasuk frasa endosentrik. Karena kata avaaa merupakan inti yang berupa nomina. Dalam data 7 status sedih banget juga termasuk frasa endosentrik karena kata sedih merupakan inti yang berupa adjektifa.
4.2.2 Frasa Eksosentris
Frasa eksosentris adalah frasa yang terdiri atas dua unsure yaitu unsure perangkai yang berkategori preposisi,konjungsi, atau artikula dan unsure poros yang terdiri atas nomina, verba, adjektiva, atau numeralia. Ciri frasa jenis ini ialah perilaku sintaksis frasa ini tidak sama dengan perilaku kedua unsurnya. Dalam penelitian ini tidak ditemukan adanya frasa eksosentris.
4.3 Penggunaan Bahasa dalam Jejaring Social Facebook dan Twitter yang Berwujud Klausa
Klausa merupakan gabungan kata yang unsure-unsurnya menduduki fungsi sintaksis atau gabungan kata yang bersifat predikatif yang belum memiliki intonasi final. Berikut data yang dapat diamati.
Dalam data 8 yang ditulis oleh Hary Ungcy yaitu kpgn sate kambing. Dalam konteknya si penulis status menyatakan bahwa dirinya lagi menginginkan sate kambing. Statusnya yang berbunyi kpgn sate kambing juga termasuk klausa. Karena dalam status tersebut setidaknya terdapat SP bahkan lebih. Jika dilihat kata aku sebagai S dilesapkan dan kepengin sebagai P, sedangkan sate kambing sebagai O.
4.4 Penggunaan Bahasa dalam Jejaring Social Facebook dan Twitter yang Berwujud Kalimat
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berkomunikasi dengan orang lain. Alat komunikasi verbal adalah bahasa. Dalam berbahasa , percakapan tersebut berlangsung dalam kesatuan-kesatuan yang dengan jelas dapat dibedakan antara kesatuan ucapan satu dengan lainnya. Kesatuan ucapan itu adalah kalimat. Secara linguistic kalimat mengacu pada kesatuan ujaran yang mampu berdiri sendiri sehingga ucapan itu tidak berkonstruksi lagi dengan ujaran lainnya(Bloomfild 1933). Berikut data penelitian yang dapat dianalisis.
4.4.1 Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terjadi dari satu klausa bebas. Berikut data penelitiannya.
· Andhika Deris : Aku bisa bangun pagi lagi…!!! (data 9)
Dalam data 9 Andhika Deris menulis statusnya di facebook yaitu “Aku bisa bangun pagi lagi”. Disini data 9 termasuk kalimat tunggal karena terdiri atas satu klausa bebas.
4.4.2 Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk merupakan kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Suatu bentuk kalimat majemuk yaitu kalau kalimat itu dapat dipilah menjadi dua klausa atau lebih tanpa mengubah informasi atau pesannya. Berikut data penelitian yang dapat dianalisis.
· AdiellaChiiyy Cwek Corner : Alhamdulillah mendingan…cz bsa bubbuuu nyenyak…J (data 10)
Dalam status yang ditulis oleh AdiellaChiiyy Cwek Corner yaitu Alhamdulillah mendingan… cz bsa bubbuuu nyenyak…J termasuk kalimat majemuk. Karena dalam status tersebut ada konjungsi yaitu cz yang berarti karena.
4.5 Penggunaan Bahasa dalam Jejaring Social Facebook dan Twitter yang Berwujud Wacana
atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, dan persyaratan kewacanaan lainnya. Berikut data hasil penelitian.
· Arjun Saputra : Bru satu bulan krja ...pingn rasanya cpat" dua taun ...aku pnasaran apha yg akan terjadi pada diriku 2taun yg akan datang ..tambh sukses ..apha tambh.. bejad (data 11)
· Lenny Mutzz : biarlah qu simpan derita nii sendiri .mulai sekarang aqhu akn diam kau tak prlu mngkhawatirkan_qu krna aqhu bukan beban_mu jka firasat_qu benar (data 12)
· I Love Hijab : Pandanglah segala sesuatu dari kacamata oranglain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hari
orang lain pula.Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan. Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan. Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan. Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan. Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati. Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti. Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan. Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga. (data 13)
· Rizka Amalia Syarifa Ma'mur : Wahai Jiwa...
Percayalah bahwa janjiNya adalah nyata.. Jangan pernah ragu dengan kehendakNya..
Dia lebih mengetahui mana yang terbaik untuk para hamba2Nya...
(data
14)
4.6 Kosakata yang Sering Muncul dalam Penggunaan Bahasa dalam
Jejaring Social
dan
.
Sutralah : merupakan kata plesetan dari sudahlah
Alay : anak layangan yaitu orang kampong yang berpenampilan norak
Kepo : kepengin tau info atau mau tau banget
Gaje/ gajebo : merupakan singkatan dari ga jelas
Hoax : sesuatu yang dianggap hanya omong kosong
Ngakak : tertawa terbahak-bahak
Unyu-unyu : lucu banget
Ciyus : merupakan plesetan dari serius
Lekong : laki-laki bencong
Bokap : bapak
Jomblo : sebutan untuk remaja yang belum punya pacar
Woles : berasal dari kata slow yang dibalik, artinya santai
Pele : hampir sama dengan pea, artinya bego atau bodoh
Cinlok : merupakan singkatan dari cinta lokasi
Modus : untuk mengungkapkan sesuatu dengan melakukan suatu tindakan
Ceman : plesetan dari kata teman
Eke : artinya aku
Gokil : gaul banget
Lebay : menyatakan sesuatu yang berlebihan
Capcus : cabut (pulang atau pergi)
Ojob / ujub : berasal dari kata bojo yang dibalik, artinya panggilan kesayangan untuk pacar
BT : merupakan singkata dari boring total
Rempong : ribet banget
Ababil : sebutan untu remaja yang masih labil
Galau : untuk menyatakan perasaan yang sedang sedih
Gengges : merupakan kata plesetan dari ganggu
Dumay : dunia maya
PHP : Pemberi Harapan Palsu
Selain kokata-kosakata tersebut, dalam penulisan status baik di facebookmaupun twitter sering kita temukan istilah yang menyatakan ekspresi-ekspresi. Terkadang mereka juga menamhkan dengan emotikon lucu. Berikut data yang diambil dalam penelitian.
Hahaha,wkwkwk, : untuk mengungkapkan sesuatu yang lucu(tertawa)
Pukpuk : ungkapan untuk selalu bersabar ( pelukan )
Hufftftft : ungkapan mengeluh
:) : untuk menyakan senang
L : untuk menyatakan sedih
T_T : untuk menungkapkan kesedihan( menangis)
-___- : untuk menyatakan rasa sebel/ragu-ragu/mengeluh
4.7 Fungsi Sosial Penggunaa Bahasa dalam Jejaring Sosial Facebook dan Twitter.
Variasi bahasa yang muncul dalam penggunaan bahasa dalam jejaring social facebook dan twitter menimbulkan banyak fungsi social. Rata-rata para pengguna social media seperti facebook dan twitter menggunakan bahasanya dalam status mereka sebagai ungkapan perasaan mereka. Berikut funsgi social yang ditemukan dalam penelitian.
•
Utari Sardi Diah Pertiwi
: "Pembalasan yang paling
menyakitkan bagi yang menyakitimu adalah hidup lebih
berbahagia
darinya."
-
Tablo
#omaigat
(data 15)
Dalam data 15 status yang ditulis oleh Utari Sardi Diah
Pertiwi yaitu "Pembalasan yang paling menyakitkan bagi
yang menyakitimu adalah hidup lebih berbahagia darinya.
"Tablo
#omaigat
berisi
nasihat
buat
para
pengguna
untuk tidak berbalas dendam.
4.7.2 Fungsi Mempromosikan
Hidung Mancung Kurus
: Sista2 kini telah hadir Alat
Pemancung Hidung Tanpa Efek
Samping Negatif Bekerja Secara
Natural Memancungkan Hidung ,kamu
sudah bisa mulai melihat perubahan
0,5cm-1cm dengan pemakaian rutin
5menit-15menit /perhari dalam waktu
2minggu
Promo bulan ini Ongkos kirim gratis
hanya
rp.52.000
Pesan Nose Strap sekarang dan ikuti
PROMOnya! Caranya Mudah SMS Ke
087-886-018-206 dengan format :
1.ketik"PesanNoseStrap"
2.Tunggu Balasan cara pemesanan
akan
dikirim
ke
HP
km :)
http://www.nosestrap.com/
(data
16)
Dari data 16 dapat dilihat bahwa status tersebut
berfungsi untuk mempromosika barang. Terlihat dalam
status tersebut dijual produk untuk memancungkan hidung
dengan cara memesan pada no yang sudah tersedia atau
dengan membuka websitenya.
4.7.2
Fungsi Bertanya
Dini Bz Setia : mati listrik gmana si! Kata’y tarif listrik naik
dr bln ini. Tp bgaimana pelayanan’y???
4.7.3 Fungsi Meminta Maaf
@
yuninggra
: maaf maaf maaf maaf gua minta
maaf sama lu iya gua yg slah tp gua janji ini yg pertama dan
terakhr gua ngomng kyk gto sama lu :'(
(data 18)
Dalam data 18 terlihat bahwa @yuninggara sedang
meminta maaf pada pacarnya. Hal ini dia ungkapkan dalam
status agar pacarnya mau memaafkan dia.
4.7.4 Fungsi Mengajak
Wiwid
Sujarwanto
:
mnggo
sarapan
(data 19)
Dari
status
yag
ditulis
oleh
Wiwid
Sujarwanto
yaitu
mnggo sarapan,,,
memiliki fungsi social
yaitu mengajak. Dari data 19 terlihat bahwa wiwid
Sujarwanto mengajak para pengguna facebook untuk
sarapan.
4.7.6 Fungsi Terima Kasih
@
yuninggra
: ° • · ♡·♥ τнänk чöü ♥·♡ · •
° (data 20)
Dari data 20 berfungsi untuk mengucapkan terima
kasih. Terlihat dalam status yang dibuat oleh @yuninggara
dia mengucapkan terima kasih dalam bahasa inggris.
BAB V
PENUTUP
Dari penelitian tersebut wujud penggunaan bahasa
dalam jejaring social facebook dan twitter dapat berupa
kata baik kata tunggal maupun kata kompleks, frasa,
klausa, kalimat, dan wacana. Selain itu, variasi bahasa yang
digunakan dalam penulisan status di facebook maupun
twitter juga unik dan lucu, seperti kata kepo, ciyus, dll.
Selain kosakata-kosakata tersebut, penggunaan emotikon
lucu juga sering muncul dalam penggunaan variasi bahasa.
Kosakata-kosakata tersebut sebenarnya adalah variasi
bahasa slang atau prokem yang muncul sejak zaman 1970’n
yang kemudian menjadi bahasa sehari-hari dan sering
ditemukan dalam social media. Dalam social media seperti
facebook dan twitter juga memiliki fungsi social yaitu fungsi
untuk mengajak, mempromosikan, mengungkapkan
permintaan maaf, terimakasih, ataupun bertanya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2007. Lingusitik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : Rineka Cipta
Nababan. 1984. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : Gramedia
Kurniati, Endang. 2008. Sintaksis Bahasa Jawa. Semarang : Griya Jawi
Usmiyati.2003.Ragam Bahasa Slang dalam Remaja Pekalongan. Semarang : Fakultas Bahasa dan seni Universitas Negeri Semarang. (skripsi)
Lestari, Sri .2011.variasi bahasa dalam status beranda pada situs jejaring social facebook . Semarang : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. (skripsi)
LAMPIRAN
Diposkan oleh bobby rahman di 11.58
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Bagikan ke Pinterest
dan wawasannya untuk mengoreksi kenyataan pesan agama dengan kenyataan keseharian yang terjadi dalam masyarakat. Kemampuan dan sensitifitas "Amar Makruf Nahi Munkar" mereka sudah majal dan tak berdaya. Mungkin upaya selemah-lemahnya iman saja yaitu berdo'a yang mungkin mereka lakukan. Adanya Kekuatan Tertentu Membudayakan Kerusakan Moral. Seperti penolakan banyak masyarakat terhadap berbagai acara TV bernuansa mesum yang telah
disampaikan kepada para pejabat terkait (pemerintah) dan sampai saat ini belum ditindak lanjuti. Dugaan kuat kita adanya kekuatan missi tertentu untuk melakukan pengrusakan akhlak anak bangsa semakin terbukti dan mereka berada pada tokoh-tokoh produser acara, tokoh-tokoh design grafis dan Koreografis acara serta hampir menguasai pada semua acara TV swasta. Badingkan dengan acara hiburan TV Internasional dalam versi video klip mesum. Acara-acara TV inilah yang menjadi barometer serta rujukan para pedangdut mesum untuk menyajikan acara bagaimana bisa lebih heboh mesum dari acara TV. Alasan Klasik Para Produser Acara. Pelarangan yang disampaikan oleh masyarakat yang masih sadar akhlak selama ini, dikatakan oleh para seniman dan produser acara mesum adalah merupakan pembunuhan kreatifitas seni. Apakah dengan mengatas namakan seni dan kreatifitas bisa bebas merusak akhlak ? Tidakkah berkreatifitas dan berseni itu juga harus menjunjung aspek moralitas ? Fungsi dan peran nyata Pemerintah dalam hal ini sangat diperlukan untuk memberi rasa aman ber akhlak, rasa aman berkreasi, rasa aman berproduksi, tidak seperti selama ini orang yang berahklak baik diteror dengan tampilan budaya erotis dan mesum. Sebagai Bahan Pembanding, inilah Sebagian lirik mesum dari lagu dangdut : Yupe Paling Suka 69 (Yupe) : "kau elus-elus tubuhku, kau belai-belai rambutku,
terpejam-pejam mataku, aduh aduh aduh nikmatnya, duh aduh aduh asiknya, desah indahmu menusuk kalbu ; suka suka jupe paling suka, kau buat aku tak berdaya, gairah cinta pun membara,
halus halus halusnya selembut sutra, irama gaya kamasutra ala india." Mobil Bergoyang ( Lia MJ feat Asep Rumpi) : "ada yang genit ada yang centil ada yang nakal, dan ada pula kaum wanita penjaja cinta, cari yang enak tak perlu mahal di hotel-hotel, biar di pantai di setiap mobil nikmat bercinta ; yang penting senang bergoyang bergoyang, di setiap mobil digoyang digoyang, dipeluk cium merangsang merangsang, biarkan orang ah tegang ah tegang." Apa Aja Boleh (Della Puspita) : "ku cinta kamu, ku sayang kamu, apa maumu bilang padaku, aku kabulkan permintaanmu, yang penting kamu jadi pacarku ; minta cium boleh, minta peluk boleh, apa aja boleh, semuanya boleh, minta ini boleh, minta itu boleh, apa aja boleh, semuanya boleh." Membaca saja lirik diatas, kita semua merasa sangat malu, apalagi menyanyikannya. Mungkin para pencipta lagu dan liriknya serta penyanyinya sudah tidak memiliki hati-nurani. Mereka menjadi kuda binal dari missi kekuatan tertentu untuk perusak budaya dan moral bangsa. Salut Kepada KPID Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Pantaslah KPID NTB gerah dan telah menyatakan pelarangan didaerahnya terhadap 10 buah lagu dangdut yang tidak boleh disiarkan melalui Radio maupun TV daerah lagu dangdut tersebut adalah : Jupe Paling Suka 69 (Julia Perez) Mobil Bergoyang (Lia MJ feat Asep Rumpi) Apa Aja Boleh (Della Puspita) Hamil Duluan (Tuty Wibowo) Maaf Kamu Hamil Duluan (Ageng Kiwi) Satu Jam Saja (Saskia) Mucikari Cinta (Rimba Mustika) Melanggar Hukum (Mozza Kirana) Wanita Lubang Buaya (Minawati Dewi) Ada Yang Panjang (Rya Sakila) Sebenarnya, masih banyak lagu dangdut mesum lainnya seperti lagu "Cinta Satu Malam" (cinta satu malam oh indahnya, cinta satu malam buatku melayang, walau satu malam akan, selalu ku kenang, dalam hidupku) yang juga harus masuk dalam pelarangan tersebut. Anehnya KPI Pusat yang posisinya dekat dengan pusat penyiaran Radio dan TV serta berada pada wilayah Pemerintah Pusat, tidak berupaya kuat melakukan pelarang terhadap lagu-lagu dangdut mesum ini sebagai siperusak akhlak bangsa. (Ashwin Pulungan) Salam selamatkan Anak Bangsa Dari Proses Pengrusakan Akhlak
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/www.didikbangsaku.blogspot.com/lagu-dangdut-mesum-perusak-moral-bangsa_550fe45b8133118e33bc61a2
Dangdut is The Music Of My Country . Masih ingat lagu dari Project Pop itu ? Hmmh sepertinya warga Indonesia memang harus berbangga bahwa ternyata memiliki satu genre musik yang tidak dimiliki negara lain dan asli dari Indonesia . Tapi sepertinya warga Indonesia juga patut waspada karena genre musik asli Indonesia ini sudah sangat merusak moral banyak orang .
lainnya ,Goyang Oplosan . Darimana goyangan itu berasal dan untuk apa mereka bergoyang ? Jawabannya tentu dari Dangdut dan untuk dangdut mereka bergoyang Oplosan yang sudah dinilai Erotis dan tidak pantas . Bahkan dibilang mesum , karena gerakan goyangan itu memang terkesan mesum .
Dan parahnya lagi ternyata goyangan itu dinikmati banyak sekali orang dari berbagai kalangan bahkan hingga nak-anak .
Beberapa hari yang lalu ada anak kelas 1 smp datang ke counter saya dan minta diisiin lagu Oplosan . Saat itu juga saya nanya ke itu anak .
"Lu suka dangdut Oplosan ?"
Dia bilang begini " Dulunya sih gak suka dangdut , tapi karena temen-temen saya sering muter lagu dangdut , sekarang jadi suka "
"Lu tau siapa aja penyanyi dangdut ?" "Ada sagita , Sera , Agunsa bla bla bla "
Dan saya sangat yakin bahwa anak seusia itu pasti tidak kenal dengan para pelantun lagu Dangdut yang sebenarnya .
Ya , seperti yang sudah saya bahas sebelumnya bahwa kemunculan Lagu dangdut panggung memang merusak Dangdut yang asli .
Oke , mungkin ada banyak dari kelompok anda yang kontra dengan pendapat saya bilang "Ini dangdut modern bro , kalau lagu dangdut masih sama kayak punya bang Haji Rhoma , siap yang mau dengerin !" .
Oke , modern ... hmmhhh tapi sepertinya saya sama sekali tidak sependapat dengan anda yang bilang dangdut panggung adalah dangdut Modern . Justru saya bilang itu dangdut kampungan .
Kenapa ? karena dangdut pangung semacam itu memang tampil di area perkampungan di tanggap oleh orang yang tengah menggelar hajatan . Dan kalau ada event tertentu biasanya dangdut panggung semacam itu juga tampil di alun-alun yang masih bisa dibilang itu kampung .
Anda masih ingin bilang bahwa itu modern ?
Satu hal yang sangat menganggu mata saya adalah Dangdut panggung bukan menjual lagu , tapi menjual goyangan . Semakin heboh goyangan artis dangdutnya , maka akan semakin laris dan terkenal grup dangdut panggung itu .
Anda keberatan dengan pendapat saya yang satu diatas ?
1 lagu dinyanyikan oleh lebih dari 15 artis dangdut dari grup yang berbeda .
Berapa banyak artis dangdut yang menyanyikan lagu Oplosan ? Hampir semua artis dangdut menyanyikan lagu yang memang lagi beken itu , dan memang selalu seperti itu . Alias tidak kreatif !
Lihat dong lagu Pop yang ada di Indonesia yang sekarang bisa dibilang sudah melayu dan aneh . Biarpun mereka sudah terlalu melayu , tapi mereka hanya membawakan lagu dari Bandnya , lagu yang mereka ciptakan sendiri atau mereka beli dari orang . Tidak seperti lagu dangdut yang setiap ada hajatan bisa di dengar ada lagu oplosan menggema .
Kembali ke Goyangan . Jika melihat fakta diatas bahwa mereka menyanyikan lagu yang sama dalam setiap kesempatan , itu berarti sudah bisa dipastikan bahwa mereka menjual goyangan erotis .
Hal ini tentu sidah dangat melenceng dari konsep musik dangdut yang sebenarnya , dan ini sudah jauh sekali tersesat . Ini bukan lagi dangdut , tapi tarian erotis yang diiringi lagu dangdut
progresif .
Dan anehnya lagi warga indonesia yang mayoritas muslim ini menyukai goyangan dangdut yang begitu seronok .
Ada banyak sekali pentas dangdut panggung yang artisnya hanya memakai pakaian dalam dibalut baju transparent , dan rupanya warga indoneisa menyukai itu . Ingin bukti ? liht di Youtube , ada banyak sekali fenomena seperti itu .
Dan anehnya lagi , ini bukan termasuk ke dalam pornografi atau pornoaksi dan dibiarkan begitu saja .
Dan parahnya lagi , pentas dangdut ini dikawal penegak hukum dan aparat kepolisian . Oke , mungkin karena pentas dangdut dinilai rawan kerusuhan .
Dan memang begitu faktanya , setiap kali ada konser dangdut seperti itu selalu ada kerusuhan . kalau di kampung biasanya konser dangdut seperti itu menjadi lahan balas dendam pemuda antar desa .
Dan apa sebaiknya hal itu dibiarkan berlangsung dan hanya diberi kawalan ketat kepolisian tau lebih baik di tiadakan ?
"Kalau di tiadakan artis dangdut mau makan apa ?" mungkin ada dari anda yang pernah bertanya soal itu .
Dan saya pikir itu pertanyaan yang terlalu bodoh dan naif . Masih ada begitu banyak lahan pekerjaan lain di Indonesia ini , dankalau ternyata tidak bisa diterima kerja di perusahaan manapun , lah apa tidakbisa buka usaha sendiri seperti misalnya buka salon atau dagang pecel ?
Dan yang jelas sekali saya katakan adalah Dangdut sekarang sudah sangat merusakmoral bangsa . Ada begitu banyak anak-anak yang menonton acara berbau dangdut KW itu , dan parahnya mereka menyukai dangdut karena goyangannya . Tidakkah kalian sadarbahwa itu sungguh tidak mendidik ?
Terserah anda , anda mungkin pecinta dangdut dan mengatakan "I love Dangdut" , tapi sekali lagi saya tegaskan itu adalah pilihan anda dan itu keputusan anda untukmendukung kerusakan moral bangsa Indonesia .
3.
Pembelajaran sastra Indonesia perlu untuk pembentukan
karakter siswa smk
Pendidikan karakter akhir-akhir ini sering menjadi pembahasan berbagai kalangan, terutama kalangan pendidikan. Berdasaran fakta yang ada bahwa siswa sebagai produk pendidikan masih belum tertanam secara kuat mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan, serta kepribadiannya masih lemah sehingga dengan mudahnya dapat terpengaruh oleh hal-hal dari luar. Selain itu, semangat untuk belajar, berdisiplin, beretika, bekerja keras, dan sebagainya kian menurun. Peserta didik banyak yang tidak siap untuk menghadapi kehidupan sehingga dengan mudah meniru budaya luar yang negatif, terlibat di dalam amuk massa, melakukan kekerasan di sekolah atau kampus, dan sebagainya. Meningkatnya kemiskinan, menjamurnya budaya korupsi, munculnya plagiarisme, menguatnya politik uang, dan sebagainya merupakan cerminan dari kehidupan yang tidak
berkarakter kuat untuk menuju bangsa yang berperadaban maju.
mendapatkan ide-ide baru, meningkatkan pengetahuan sosial budaya, berkembangnya rasa dan karsa, serta terbinanya watak dan kepribadian.
Saya sebagai kontra tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Alasannya karena setiap
siswa sudah memiliki karakter dalam dirinya masing masing. Jadi pembelajaran sastra tidak
begitu terlalu di perlukan dalam diri siswa SMK. Jadi bisa dikatakan siswa SMK sudah
memiliki karakter masing masing yang sudah tertanam dari diri mereka sendiri dengan
sendirinya karena sudah terbiasa dengan apa yang mereka hadapi di SMK.
Saya Sebagai pro setuju dengan pernyataan tersebut. Alasannya karena hal ini sangat
perlu untuk pembentukan karakter siswa sebagai anak bangsa dan sebagai modal seorang
siswa untuk menyongsong masa depannya. Di karena kan pembentukan karakter seseorang
sangat penting di era globalisasi seperti sekarang ini.
Membembentuk Karakter Siswa dengan Pengajaran Sastra
Kata kunci terpenting dalam prasaran ini adalah karakter – kata serapan dari bahasa Inggris, character, yang belum dibakukan oleh Pusat Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yang ada dalam KBBI hanya padanannya, yakni watak, yang diartikan sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah lakunya. Padanan dari watak, menurut KBBI, adalah budi pekerti dan tabiat. Kata karakter justru diakomodasi oleh Leksikon Sastra Indonesia , dan dimaknai sebagai watak atau sifat-sifat kejiwaan (akhlak, budi pekerti, tabiat, etos) yang membedakan seseorang dengan orang lain.
Karakter atau watak seseorang, selain bawaan sejak lahir (genetik), juga terbentuk oleh pendidikan, sejak pendidikan di dalam keluarga sampai di sekolah, serta pengaruh nilai-nilai yang beredar dalam masyarakat dan lingkungan yang menumbuhkannya. Karena tiap orang memiliki bawaan genetik yang berbeda, serta tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan pergaulan yang relatif berbeda, maka tumbuh pula karakter-karakter tertentu yang melekat pada sosok-sosok pribadi yang unik, sejak karakter-karakter yang lemah dan buruk (konsumtif, malas, gampang menyerah, kasar, suka menerabas, pembohong, khianat, dan korup) sampai karakter yang baik dan unggul (kreatif, rajin, pekerja keras, ulet, santun, jujur, amanah, adil, dan bertanggung jawab).
Selain karakter individu yang unik dan berbeda-beda itu, ada pula karakter kolektif yang dibangun oleh nilai-nilai yang bersifat universal seperti nilai-nilai agama, dan nilai-nilai yang menjadi semacam
”kesepakatan bersama” dalam hidup bermasyarakat dan diwariskan secara turun-temurun oleh para orang tua kepada yang lebih muda. Karakter kolektif ini menjadi semacam watak komunal suatu masyarakat atau bangsa. Misalnya, karakter masyarakat yang religius, serta karakter masyarakat yang santun, peduli dan suka bergotong-royong (solider).
Di tengah karakter kolektif itulah watak-watak individu berada dan saling berinteraksi serta saling
mempengaruhi, baik antar individu maupun dengan karakter kolektif. Jika karakter individu yang baik dan unggul dominan, dan kooperatif terhadap karakter koletif yang positif, maka akan terjadi harmoni yang dinamis di dalam masyarakat. Tetapi, ketika karakter individu yang buruk menang, dan abai terhadap karakter kolektif, maka akan terjadi disharmoni, pelanggaran terhadap nilai-nilai dan hukum, atau bahkan kekacauan nilai dan chaos.
pajak, serta penjungkirbalikan kebenaran yang menempatkan kepentingan kelompok dan kekuasaan sebagai segalanya. Ketika wibawa pemerintah pudar karena tidak dapat bersikap tegas, dan apalagi terindikasi terlibat suatu kasus, maka kekacauan nilai akan semakin parah. Dan, jika suatu era sudah menunjukkan tanda-tanda sebagai ”zaman edan” seperti pernah diramalkan oleh Ranggawarsita, maka suatu bangsa tinggal menunggu keterpurukannya. Semoga saja ini tidak terjadi pada bangsa Indonesia, meskipun maraknya berbagai kasus mafia hukum dan kekerasan politik dewasa ini sudah menunjukkan tanda-tanda zaman gila.
Membentuk karakter siswa
Siswa adalah generasi muda, generasi penerus, yang akan menjadi pemilik masa depan bangsa. Akan seperti apa wajah bangsa Indonesia di masa depan sangat tergantung pada bagaimana kita membentuk karakter siswa sejak sekarang. Ketika kita seperti kehilangan harapan pada para elit politik dan pemimpin bangsa (penguasa) saat ini, maka harapan kita tinggal bergantung pada para pemilik masa depan itu. Karena itu, membangun karakter siswa sejak sekarang menjadi pekerjaan bersama (khususnya para guru dan orang tua) yang amat penting. Pengajaran di sekolah, termasuk pengajaran sastra, menjadi tumpuan yang sangat vital. Jika kita gagal membentuk karakter yang positif dan unggul pada diri siswa, bisa-bisa masa depan bangsa ini akan makin terpuruk, kehilangan harapan, atau setidaknya akan kehilangan kepribadian dan gampang dijajah serta ”diperbudak” oleh bangsa lain yang lebih adidaya.
Dulu, ketika masih ada pelajaran budi pekerti, pembentukan karakter siswa dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan, selain tentu juga melalui pelajaran agama dan Pancasila – yang sila-silanya merupakan intisari dari nilai-nilai agama. Pelajaran yang juga dapat diandalkan perannya dalam ikut membentuk karakter siswa adalah apresiasi sastra. Peran pelajaran sastra makin penting ketika pelajaran budi pekerti dan Pancasila tidak diberikan lagi di sekolah, sementara waktu yang tersedia untuk pelajaran agama juga sangat terbatas dan rata-rata guru agama hanya sempat memberikan pengetahuan secukupnya tentang agama sehingga pemahaman dan penghayatan agama siswa rata-rata masih kurang.
Pengajaran sastra diyakini dapat membantu proses pembentukan karakter siswa, karena di dalam karya sastra terkandung nilai-nilai positif, sejak nilai-nilai budaya, sosial, moral, kemanusiaan, hingga agama. Karena potensi nilainya itu kaum romantik meyakini bahwa karya sastra mengandung pesan kebenaran yang setara dengan kitab suci. Setidaknya, filosof Aristoteles menyejajarkan sastra, khususnya puisi, dengan filsafat (konsep tentang kebijaksanaan hidup). Bahkan dia menganggap sastra lebih filosofis dibanding sejarah. Sebab, sejarah hanya mentatat kejadian atau peristiwa terpenting yang kasat mata dan berpusat pada kekuasaan. Sedangkan sastra dapat mengungkap hal-hal yang tersembunyi di balik peristiwa, termasuk tersembunyi di dalam batin manusia (para pelaku sejarah), sekaligus ”meramal” apa yang bakal terjadi di masa depan. Sebut saja ”ramalan” sekaligus peringatan tentang zaman edan dalam ”Serat Kalathida” karya Ranggawarsita, yang tetap relevan hingga sekarang – terjemahan bebasnya sbb:
Tentang potensi sastra itu, kaum pragmatik -- yang cenderung memandang karya sastra dari sisi manfaat non-literernya – meyakini bahwa karya sastra memiliki potensi untuk menjadi sumber nilai ataupun sumber inspirasi untuk meningkatkan kualitas kecendekiaan kaum terpelajar. Kalangan pragmatik berkeyanikan bahwa karya sastra memang dapat memberikan pencerahan nurani dan intelektualitas pembacanya. Sifat komunikasinya yang langsung menyentuh perasaan dan pikiran tiap individu yang menikmatinya, membuat karya sastra memiliki daya sugesti yang cukup kuat untuk mempengaruhi pikiran dan perasaan tiap pembacanya.
Jika kecendekiaan dipahami sebagai kualitas diri yang cerdik-pandai, peduli dan arif-bijaksana, maka kegiatan membaca karya sastra dapat ikut meningkatkan kualitas kecendekiaan tiap orang. Sebab, pada karya sastra, sebagai refleksi kehidupan, tersaji nilai-nilai moral dan estetika serta berbagai kearifan hidup yang teraktualisasi secara imajinatif melalui bahasa sastra yang menarik dan inspiratif. Sastrawan seperti Taufiq Ismail dan Kuntowijoyo, misalnya, meyakini bahwa tokoh masyarakat yang banyak membaca karya sastra akan lebih arif dan bijaksana dibanding yang jauh dari karya sastra. Karena itulah, Taufiq berjuang keras agar siswa, dan kaum terpelajar bangsa ini, benar-benar melek sastra. Sementara, Kuntowijoyo, menggagas pentingnya dikembangan sastra profetik, yakni sastra yang membawa misi kenabian, atau sastra yang mencerahkan.
Lebih dari itu, kalangan pragmatik meyakini bahwa karya sastra mampu membangun suatu kesadaran sosial untuk mendorong terjadinya proses perubahan masyarakat dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik. Dalam bahasa media, karya sastra mampu membangun semacam opini publik. Jika bangunan opini publik itu menguat dan meluas, maka proses perubahan sosial akan dapat digerakkan. Orientasi penciptaan karya sastra, menurut Abrams (1981), memang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan non-literer. Dan, pandangan pragmatik itu sesuai dengan orientasi kedua Abram yang memandang karya sastra sebagai media untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya.
Abrams mengelompokkan karya sastra ke dalam empat orientasi. Pertama, karya sastra sebagai tiruan alam atau penggambaran alam. Kedua, karya sastra sebagai alat atau sarana untuk mencapai tujuan tertentu pada pembacanya. Ketiga, karya sastra sebagai pancaran perasaan, pikiran, ataupun pengalaman sastrawannya. Dan, keempat, karya sastra sebagai sesuatu yang otonom, mandiri, lepas dari alam sekeliling, pembaca maupun pengarangnya. Pada orientasi keempat inilah prinsip seni untuk seni (lart pour lart) berkembang.
Pada orientasi kedua, karya sastra dipandang sebagai media untuk tujuan-tujuan yang cenderung
pragmatis. Misalnya saja, sastra untuk sosialisasi ajaran agama (sastra dakwah), sastra untuk membangun kesadaran politik tertentu, atau untuk mendorong munculnya kesadaran social baru, seperti novel Max Havelar karya Multatuli dan sajak-sajak kritik sosial Rendra. Dalam orientasi ini, sajak-sajak Rabendranat Tagore juga dipercayai ikut mendorong semangat patriotisme kaum terpelajar India untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan Ingris. Sementara, sajak-sajak Kahlil Gibran ikut menyebarkan kearifan hidup bagi jutaan pembacanya di seluruh dunia. Karena itu, tidak berlebihan jika Mosye Dayan begitu takut pada sajak-sajak patriotik penyair Palestina, dan menangkapi penyair-penyair pejuang seperti Fatwa Tuqan. Seperti diyakini GL Morino, sebuah sajak patriotik mampu merangsang seratus perbuatan heroik.
merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda. Pada ketiga sajak tersebut pesan Chairil begitu jelas bagi pembaca untuk memenangkan perjuangan dan mengisi kemerdekaan dengan kebermaknaan:
Kami cuma tulang-tulang berserakan Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah kini yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, Kemenangan, dan harapan. Atau tidak untuk apa-apa Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata Kaulah sekarang yang berkata.
Dari kacamata politik-kekuasaan, sajak-sajak patriotik Chairil Anwar sebenarnya sangat subversif terhadap kekuasaan penjajah Belanda, dan bisa lebih berbahaya dibanding slogan-slogan perjuangan. Seperti diyakini GL Morino tadi, sebuah sajak patriotik mampu merangsang seratus perbuatan heroik. Jika menyadari bahaya itu, barangkali Belanda sudah menangkap dan memenjarakan Chairil, sebagaimana militer Israel pada era Mosye Dayan yang menangkapi dan memenjarakan para penyair Palestina karena dianggap berbahaya. Mungkin juga tidak terlalu bergurau jika mendiang mantan presiden AS John F Kennedy pernah berujar, ‘’jika politik bengkok, maka puisi akan meluruskannya.’’
Sebenarnya, apapun orientasi penciptaan karya sastra, karena merupakan sekumpulan sistem tanda yang menyimpan makna, maka ia akan memiliki kemampuan tersembunyi (subversif) untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran, dan karena itu dapat ikut menyumbang bagi peningkatan kualitas kecendekiaan pembacanya. Karya sastra yang melukiskan keindahan alam, misalnya, secara tidak langsung akan mengajak pembacanya untuk menghayati kebesaran Sang Pencipta. Begitu juga karya-karya sastra yang bersemangat melawan penindasan, dengan efektif akan mempengaruhi pikiran pembaca untuk bersikap sama. Demikian juga karya-karya sastra yang mengajarkan kearifan hidup, akan mengajak pembacanya untuk memiliki kearifan yang sama. Bahkan, ada pendapat bahwa para novelis dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia daripada psikolog. Karena, novelis mampu mengungkapkan kehidupan batin tokoh-tokoh novelnya sampai sedetil dan sedalam-dalamnya, termasuk kearifan sikap dan
pemikirannya.
Dengan begitu, karya sastra tidak sekadar mampu merefleksikan realitas diri (batin) pengarang dan masyarakatnya, tapi juga dapat menjadi salah satu sumber inspirasi, pencerahan, sekaligus agen perubahan sosial. Di sini pula pentingnya kaum terpelajar membaca dan mengapresiasi karya-karya sastra yang mencerahkan guna meningkatkan kualitas kecendekiaannya agar dapat mengambil bagian lebih besar dalam ikut membawa bangsanya ke arah keadaan sosial, politik, dan budaya, yang lebih baik.
Kelima, fungsi religius karena karya sastra mampu memberikan pesan-pesan religius kepada para
pembacanya. Keenam,fungsi inspiratif, karena karya sastra yang baik dapat menjadi sumber inspirasi bagi pembacanya untuk menghasilkan karya baru, pemikiran baru, dan bahkan mendorong proses perubahan. Ketujuh, fungsi psikologis, karena karya sastra dapat membebaskan pembaca dan penulisnya dari tekanan emosi. Karya sastra dapat menjadi media pelepasan atau katarsis. Kedelapan, fungsi humanis, karena karya sastra dapat menyampaikan pesan-pesan kemanusiaan kepada pembacanya. Kesembilan, fungsi
penyadaran dan pencerahan, karena karya sastra dapat menjadi media penyadaran dan pencerahan hati nurani dan intelektualitas pembacanya. Dan, kesepuluh, fungsi rekreatif, karena karya sastra mengandung unsur-unsur yang menyenangkan pembacanya.
Dengan mewariskan fungsi-fungsi sastra itu kepada siswa melalui pengajaran sastra, maka pengajaran sastra akan ikut berperan dalam membentuk karakter yang positif pada diri siswa. Namun, pembentukan karakter siswa itu tidak akan maksimal, atau bahkan gagal, jika pengajaran sastra gagal menumbuhkan minat baca siswa pada karya sastra, dan mereka tetap tidak memiliki sikap apresiatif terhadap karya sastra.
Membangun sikap apresiatif
Membangun sikap apresiatif siswa pada sastra pada dasarnya adalah membangun minat atau rasa cinta siswa pada karya sastra, dan inilah tujuan terpenting pengajaran sastra. Apresiasi -- berasal dari bahasa Inggris appreciation – adalah penghargaan yang didasarkan pada pemahaman. Menurut Leksikon Sastra Indonesia, apresiasi sastra adalah kemampuan untuk memahami dan menghargai nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra. Dengan demikian, di dalam kegiatan apresiasi sastra diperlukan kemampuan untuk menikmati, menilai, menghargai, dan mencintai karya sastra.
Apresiasi sastra akan berjalan baik jika didasari oleh minat yang tinggi pada karya sastra. Minat, menurut KBBI Daring , adalah kecenderungan hati yang tinggi atau gairah terhadap sesuatu. Maka, ‘minat pada sastra’ dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi (gairah) pada sastra, yakni seseorang yang memiliki keinginan kuat untuk menggauli sastra, baik mencipta maupun sekadar menikmatinya sebagai rekreasi batin. Seseorang yang meminati sastra akan merasa hampa jika dalam waktu tertentu tidak bersentuhan dengan sastra, dan karena itu ia akan selalu rindu untuk membaca karya sastra.
Sebaliknya, seseorang yang tidak meminati sastra, tidak akan terdorong untuk membaca, dan apalagi mencipta, karya sastra. Orang yang demikian, umumnya memiliki apresiasi sastra yang rendah, bahkan banyak yang tidak memiliki apresiasi sama sekali. Jika karakter yang demikian ada pada siswa, atau sebagian besar siswa, maka kita akan berhadapan dengan para siswa yang sulit untuk diajak mengapresiasi karya sastra, apalagi belajar menciptanya Rendahnya minat siswa pada sastra itulah sebenarnya tantangan utama pengajaran sastra di sekolah, tantangan yang pertama-tama dihadapi oleh guru sastra, selain hambatan kurikulum dan sistem pengajaran sastra, kurangnya buku-buku sastra di perpustakaan sekolah, rendahnya kualitas buku pelajaran sastra, dan rendahnya kualitas sang guru sendiri.
Sebagian orang berpendapat bahwa yang namanya minat seseorang, termasuk minat pada karya sastra, tidak dapat dipaksakan. Karena, minat datang dari dalam hati. Begitu juga minat siswa pada sastra, tidak dapat dipaksanakan. Pendapat tersebut memang ada benarnya, tetapi bukan harga mati. Sebab, minat seseorang, seperti halnya selera, dapat dibangun secara pelan-pelan tapi pasti. Begitu juga minat siswa pada sastra, dapat dibangun melalui praktek pengajaran sastra yang benar dengan menciptakan situasi pengajaran yang mampu mendorong siswa pelan-pelan meminati karya sastra.
siswa merasa enjoy di dalamnya, atau dapat menikmati proses belajar sastra dengan menyenangkan. Penciptaan situasi yang demikian ini menuntut kreativitas guru dalam mengajar, dan tidak bias hanya bertumpu pada cara mengajar yang konvensional di depan kelas. Cara-cara sebagai berikut dapat dipertimbangkan:
1. Mengajak siswa ke luar kelas, ke taman atau kebun terdekat. Cara ini dapat dicoba untuk mengajar menulis puisi. Dalam belajar menulis puisi, para siswa dapat diperkenalkan dengan berbagai fenomena alam yang puitis, seperti gerak daun jatuh, desir suara angin, bunga yang mekar, burung yang bermain-main di dahan, atau kepak sayap kupu-kupu yang berpindah-pindah dari satu bunga ke bunga lainnya. Siswa diminta untk menuliskan fenomena alam itu dengan baris-baris kalimat yang puitis.
2. Belajar di luar ruang juga dapat dipilih untuk mengajarkan menulis cerpen, misalnya ke kantin, taman, kebun, atau pinggir jalan. Siswa dapat diminta mengamati dan memilih satu potret kehidupan yang dilihatnya. Misalnya, seorang anak penyemir sepatu, lalu diminta membayangkan anak itu rajin bekerja untuk mengumpulkan uang guna pengobatan ibunya yang sakit di rumah. Nah, siswa diminta
mengembangkan imajinasinya ini menjadi sebuah cerita pendek.
3. Dalam mengajarkan apresiasi sastra, misalnya membahas puisi, cerpen atau novel, bias saja siswa diajak ke suatu tempat untuk mendiskusikannya secara santai dan terbuka. Untuk cerpen dan novel, tentu siswa perlu membacanya dulu di rumah. Jika ingin tetap di dalam kelas, tentu guru perlu menciptakan suasana diskusi yang menyenangkan dan membuat anak berani berbicara.
4. Dalam mengajarkan membaca puisi, berbagai cara dapat dipilih. Misalnya, menayangkan dulu video penyair terkenal sedang membaca puisi, menghadirkan deklamator terkenal ke depan kelas, atau
menyiasatinya dengan berbagai model penyajian puisi yang langsung melibatkan anak, seperti membaca puisi secara kolektif dan musikalisasi puisi, yang dapat membuat anak gembira.
5. Setelah sesi-sesi di atas masing-masing dilalui, barulah siswa dikumpulkan di dalam kelas, diberi pengetahuan sastra yang sesuai dengan masing-masing sesi tersebut di atas. Dari sini, pengetahuan sastra anak dapat diperluas ke teori dan sejarah sastra yang diperlukan.
Langkah kedua adalah memberi penghargaan pada siswa yang unggul dalam pelajaran sastra. Misalnya, memberi hadiah buku sastra pada siswa yang puisi atau cerpennya dinilai terbaik, juga pada siswa yang membaca puisi atau cerpennya dinilai paling bagus, serta pada siswa pembahasan atau pendapatnya paling pas saat membahas karya sastra. Nah, akan lebih seru lagi kalau dalam memilih yang terbaik itu
melibatkan seluruh siswa. Misalnya, semua puisi siswa ditempel pada papan tulis dan semua siswa ikut menilainya.
Tapi, dalam menilai pembacaan puisi, tentu akan menghadapi problem waktu. Hal ini dapat diatasi dengan mengelompokkan siswa, misalnya ke dalam lima kelompok, dan masing-masing kelompok memilih seorang siswa wakilnya untuk beradu baca puisi dengan wakil kelompok lain. Dengan cara demikian, suasana bermain yang menyenangkan akan tercipta tanpa melupakan pokok pelajaran sastranya. Jadi, semi belajar sambil bermain.
Langkah ketiga adalah menyediakan ruang berekspresi bagi siswa yang berbakat di bidang sastra.