POTENSI, PELUANG DAN KENDALA PENGEMBANGAN SAPI MENDUKUNG PENGEMBANGAN JAGUNG DI KABUPATEN PONTIANAK
L. M. Gufroni1) dan Tatang M. Ibrahim1)
ABSTRAK
Propinsi Kalimantan Barat mencanangkan 25.000 ha areal penanaman jagung. Sumberdaya Kabupaten Pontianak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan kebutuhan penduduk Kota Pontianak. Termasuk dalam penyediaan ternak sapi sehingga perlu diketahui bagaimana potensi kendala dan peluang pengembangan ternak sapi di Kabupaten Pontianak dalam rangka menunjang pengembangan tanaman jagung. Terdapat 287.954 ha areal potensi sumberdaya lahan jagung di Kabupaten Pontianak. Biomasa jagung dari areal tanam jagung di Kabupaten Pontianak sejumlah 14.268,30 ton dapat mendukung 7.818,25 unit ternak per tahun per musim tanam. Jika 25 % potensi areal pengembangan jagung seluas 71.988,50 ha akan menghasilkan 18,50 kali biomasa/musim tanam dari pertanaman jagung saat ini, maka mampu menyediakan pakan untuk 144.637,60 unit ternak. Sejumlah 58,68 % penduduk Kabupaten Pontianak bekerja di bidang pertanian merupakan potensi untuk pengembangan ternak sapi. Iklim Kabupaten Pontianak sangat sesuai untuk pengembangan bangsa sapi Bos indicus dan Bos sondaicus. Keperluan sapi bakalan untuk Kabupaten Pontianak sejumlah 22,19 % dari jumlah populasi per tahun, merupakan peluang dalam usaha pembibitan sapi bakalan. Satu hektar jagung menghasilkan 7-10 ton pupuk organik per tahun dari 4 – 6 ekor sapi yang menunjang kebutuhan pupuk organik dua kali tanam setahun untuk 1 – 2 hektar. Konsumsi protein hewani penduduk Kalimantan Barat khususnya daging, masih kurang sebesar 6,26 kg/kapita/tahun atau sebesar 60,78 % merupakan pangsa pasar bagi pengembangan ternak sapi. Pola penggemukan sapi selama 3 bulan memberikan keuntungan yang paling maksimal dibandingkan penggemukan setahun dan pembibitan, pemilihan pola pemeliharaan sangat ditentukan oleh kapasitas sumberdaya modal dan sumber pakan tersedia. Pemerintah perlu menggerakkan para petani, pemodal, pengusaha dan lembaga penunjang lainnya untuk bersama-sama merumuskan struktur dan mekanisme sistem agribisnis ternak sapi yang operasional dan terarah.
Kata Kunci: potensi, peluang, kendala, pengembangan sapi dan pengembangan jagung.
PENDAHULUAN
Potensi lahan kering dan lahan gambut di Kalimantan Barat sebagai areal pengembangan jagung masih belum termanfaatkan. Untuk itu Guber-nur Kalimantan Barat telah menca-nangkan 25.000 ha areal penanaman jagung di Propinsi Kalimantan Barat.
1) Staf Peneliti BPTP Kalimantan Barat
dan ekonomis adalah dengan jagung sebagai pakan ternak.
Kebutuhan jagung di
Jagung merupakan proporsi terbesar dalam peyusun ransum unggas (>50%), sehingga jika konsumsi pakan unggas pada tahun 2003 mencapai lebih dari 7 juta ton, maka diperlukan jagung sedikitnya 3,5 juta ton. Dari jumlah itu sekitar 40% masih harus diimpor dari berbagai negara, seperti USA, Brasil dan lainnya. Pada tahun 2010 dan tahun 2020 impor jagung diproyeksikan dapat mencapai 4 juta dan 8 juta ton, jika produksi jagung nasional tidak tumbuh (GPMT, 2004 dalam Dwiyanto, dan Priyanti, 2004).
Pembangunan sub sektor peternakan Kalimantan Barat dilak-sanakan dalam rangka peningkatan pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang bertujuan mengem-bangkan usaha seluruh subsistem agribisnis mulai dari hulu, on farm, hilir dan jasa penunjang. Semua sub sistem tersebut harus dikembangkan secara simultan, serasi dan seimbang
(Diswannak Kalbar, 2005). Pengem-bangan peternakan unggas secara langsung perlu didukung pengem-bangan sarana produksinya termasuk penyediaan jagung sebagai bahan an Sub Sektor Peternakan Kalimantan Barat dilaksanakan melalui 2 program utama yaitu Program Peningkatan Ketahanan Pangan dan Program Pengembangan Agribisnis serta terdapat satu program khusus yaitu Program Ketercukupan (Swasembada) Daging Sapi Tahun 2010 Propinsi Kalimantan Barat (Diswannak Kalbar, 2005). Integrasi tanaman jagung dengan ternak sapi merupakan salah satu kegiatan yang sangat mendukung kedua program utama dan program khusus dalam pembangunan Sub Sektor Peternakan tersebut.
Program peningkatan ketahan-an pketahan-angketahan-an dimaksudkketahan-an untuk mengembangkan sistem ketahanan pangan dalam arti luas. Program pengembangan Agribisnis dimaksud-kan untuk mengarahdimaksud-kan seluruh subsistem agribisnis yang produktif dan efisien menghasilkan berbagai produk dengan nilai tambah yang berdaya saing tinggi. Untuk program khusus ketercukupan (swasembada) daging sapi 2010 dimaksudkan untuk mengeliminasi masuknya sapi bakalan dari luar dan menyediakan daging sapi yang aman, sehat, utuh dan halal atau ASUH (Diswannak Kalbar, 2005).
Dengan demikian seluruh sumberdaya yang dimiliki Kabupaten Pontianak selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri juga diarahkan untuk secara langsung menunjang kebutuhan termasuk bidang pertanian bagi penduduk Kota Pontianak. Kabupaten Pontianak juga berperan penting dalam penyediaan ternak sapi bagi Kota Pontianak sehingga perlu diketahui bagaimana potensi, peluang dan kendala pengembangan ternak sapi di kabupaten ini.
POTENSI PENGEMBANGAN TERNAK SAPI
Potensi Lahan Pengembangan Jagung
Kabupaten Pontianak terletak di pesisir barat, di tengah pulau Kalimantan yang dilalui garis Khatulistiwa. Posisi ini berpengaruh terhadap kondisi iklim tropis dengan penyinaran matahari yang maksimal. Secara administratif Kabupaten Pontianak setelah terjadi pemekaran
wilayah administrasi, berbatasan
langsung dengan Kabupaten
Bengkayang di sebelah utara, Kabupaten Ketapang di sebelah selatan, Kabupaten Landak di sebelah timur, Laut Natuna di sebelah barat dan mengelilingi Kota Pontianak di wilayah selatannya.
Kabupaten Pontianak terdiri dari 14 kecamatan dengan luas wilayah seluruhnya seluas 8.262,10 km2 atau sekitar 5,63 % dari luas wilayah Kalimantan Barat. Pengguna-an lahPengguna-an di Kabupaten PontiPengguna-anak pada tahun 2002 disajikan pada Tabel 1.
Lahan-lahan yang potensial untuk dikembangkan sebagai areal penanaman jagung adalah pekarang-an, tegal/kebun dan ladang/huma seluas 973.355 ha. Dengan asumsi seperti pada lahan perkebunan sebesar 16 % lahan yang dapat diman-faatkan untuk ditanami jagung dan di-integrasikan dengan ternak sapi maka tersedia lahan seluas 155.736,8 ha. Potensi lahan pekarangan, tegal/kebun
Tabel 1. Penggunaan Lahan di Kabupaten Pontianak Tahun 2002.
No. Pengunaan Lahan
Kalimantan Barat Kab. Pontianak Luas (ha) Persentase
(%) Luas (ha) Persentase(%)
1. Sawah 442.738
3.02 86.213 10.99
2. Pekarangan 255.843 1.74 32.926 4.20
3. Tegal/kebun 455.986 3.11 41.851 5.33
4. Ladang/huma 261.526 1.78 16.014 2.04
5. Padang Rumput 22.771 0.16 4.571 0.58
6. Rawa-rawa 354.088 2.41 5.715 0.73
7. Tambak 22.893 0.16 241 0.03
8. Tanah tidak diusahakan 1.723.174 11.74 51.826 6.61
9. Kayu rakyat 1.345.168 9.16 19.413 2.47
Jumlah 14.680.700 100.00 784.582 100.00 Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kalbar (2003a)
dan ladang/huma secara teknis dapat dimanfaatkan hijauan atau rumputnya sebagai pakan ternak, dengan demikian dapat dikembangkan sebagai areal pemeliharaan ternak.
Lahan sawah, perkebunan dan tanah tidak diusahakan yang berpotensi untuk pengembangan jagung harus dikoreksi dari luas riilnya. Tidak semua lahan sawah dapat dimanfaatkan sebagai areal tanam jagung, terutama lahan yang tergolong lahan basah dan tergenang khususnya lebak. Kabupaten Pontianak memiliki potensi lahan areal sawah untuk setengah teknis, irigasi sederhana dan irigasi desa. Lahan perkebunan di Kabupaten Pontianak seluas 15.331 ha merupakan potensi lahan pengembangan jagung dengan pola integrasi pada areal peremajaan kebun setiap tahunnya. Potensi lahan yang dapat dikembangkan sebagai areal penanaman jagung yang diintegrasi-kan dengan ternak pada lahan sementara tidak diusahakan masih sangat luas yaitu 51.826 ha.
Jagung merupakan komoditas penting kedua setelah padi yang banyak ditanam di lahan pasang surut, baik pada saat musim kemarau maupun musim hujan. Pada saat musim hujan tanaman jagung banyak diusahakan pada lahan yang bertipe luapan B yakni lahan yang hanya terluapi air pasang besar dan saat musim hujan. Selain itu jagung dapat ditanami pada bagian surjan, gulugan surjan dan pada lahan yang bertipe luapan C atau lahan yang tidak terluapi
air pasang besar maupun kecil, kedalaman air tanah <50cm dan tipe luapan D, lahan yang tidak terluapi air pasang baik besar maupun kecil dan kedalaman air tanah >50cm, dengan pembuatan saluran kemalir dan saluran cacing. Pada musim kemarau jagung dapat ditanam pada lahan yang bertipe luapan B, C dan D baik pada bagian tabukan surjan maupun bagian guludan (Widjaja Adhi dan Alamsyah, 1998 dalam Isbandi, 2004).
Informasi ini menunjukkan bahwa potensi lahan pasang surut masih dapat dikembangkan sebagai lahan pengembangan jagung dengan teknis budidaya yang sesuai. Dengan demikian Kabupaten Pontianak memiliki tambahan potensi areal luas masing-masing tipe luapan untuk Kabupaten Pontianak sudah tersedia. Secara kasar rekapitulasi potensi areal pengembangan jagung yang dapat diintegrasikan dengan ternak di Kabupaten Pontianak disajikan pada Tabel 2.
sederhana, desa 12.334 4 3. Peremajaan
kebun 15.331 5
4. Lahan tidak
5. Lahan pasang
surut 52.726 18 Jumlah 287.954 100
Sumber : Analisis Data (2004).
Berdasarkan jumlah potensi areal pengembangan jagung dan ternak sapi di Kabupaten Pontianak pada Tabel 2, terdapat 287.954 Ha areal yang berpotensi sebagai areal pengembangan jagung. Demikian luasnya potensi sumberdaya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk memproduksi jagung di Kabupaten Pontianak memerlukan penanganan secara operasional yang sesuai seperti dengan melakukan ekstensifikasi penanaman jagung yang diintegrasi-kan dengan ternak sapi. Mengingat sangat terbatasnya sumberdaya manusia untuk menangani lahan yang demikian luas, perlu dipertimbangkan secara mendalam penggunaan mekanisasi pertanian untuk mengolah potensi lahan yang ada.
Biomasa Limbah Jagung Sebagai Pakan Ternak
Tanaman palawija terutama jagung sudah banyak diusahakan dan menyediakan pakan yang dibutuhkan oleh ternak ruminansia berupa biomasa tanaman jagung. Limbah pertanian maupun vegetasi yang merupakan gulma bagi tanaman dapat digunakan sebagai pakan ternak sedangkan ternak maupun hasil produksinya dapat meningkatkan pendapatan petani. Konversi sisa hasil pertanian tanaman jagung dapat mencapai 5 ton biomasa. Produksi jerami jagung bagian atas saja dapat mencapai 0,86 ton per hektar (Targast;1960, Anonimus; 1982 dalam Isbandi, 2004). Bobot biomasa jagung pada tingkat hasil panen yang berbeda disajikan pada Tabel 3.
Luas panen tanaman jagung di Kabupaten Pontianak seluas 3.891 Ha dengan jumlah produksi sebesar 7.135 ton. Rata-rata produksi jagung per hektar di Kabupaten Pontianak sebesar 1,834 ton per hektar pada tahun 2003, sedangkan rata-rata produksi jagung per hektar selama 5 tahun (1999-2003) sebesar 1,72 ton per hektar (BPS, 2004). Berdasarkan luas panen jagung di Kabupaten Pontianak seluas 3.891 Ha dengan asumsi produksi biomasa jagung sesuai dengan Tabel 3, sebesar 3,667 ton/ha akan tersedia biomasa jagung sejumlah 14.268,30 ton. Ketersediaan biomasa jagung tersebut dapat mendukung 7.818,25 unit ternak per tahun untuk sekali musim tanam dengan asumsi kebutuhan pakan berserat seekor sapi sekitar 5-6 kg/unit ternak/hari/tahun. Jika tanaman jagung dapat ditanam 2 kali setahun, maka akan tersedia biomasa dari jagung saja bagi 15.636,50 unit ternak per tahun yang sudah melebihi kebutuhan jumlah populasi sapi di Kabupaten Pontianak sejumlah 13.076 ekor. Permasalahannya apakah daerah penyebaran sapi juga sekaligus merupakan areal penanaman jagung,
Tabel 3. Biomasa Hasil Panen Jagung Per Hektar.
No. Hasil Panen Jagung
(ton pipilan/ha) BiomasaJagung (ton/ha)
1. 1,343 3,0481
2. 1,810 3,6671
3. 2,143 3,9761
4. 3,30 6,322
5. 3,57 6,602
6. 3,97 7,642
8. 5,15 8,132
9. 5,72 8,612
sehingga dapat terjadi integrasi diantara keduanya.
Jika 25 % saja potensi areal pengembangan jagung seluas 287.954 ha di Kabupaten Pontianak dapat ditanami jagung, yaitu seluas 71.988,50 ha maka biomasa yang akan dihasilkan dalam satu musim tanam sekitar 18,50 kali biomasa yang dihasilkan dari areal pertanaman jagung saat ini. Biomasa sebesar itu mampu menyediakan pakan untuk 144.637,6 unit ternak dalam setahun yang hampir sama dengan populasi sapi di Kalimantan Barat saat ini. Besarnya potensi areal pengembang-an jagung ypengembang-ang belum dimpengembang-anfaatkpengembang-an ini bagaikan raksasa agribisnis yang sedang tidur menanti investasi konkrit untuk menggerakkannya.
Sumberdaya Ternak
Ternak disamping dapat menyediakan pangan berupa daging dan susu bagi petani ataupun sebagai tabungan yang dapat dijual sewaktu-waktu, kotorannya dapat dimanfaatkan oleh tanaman yang diusahakan sebagai pupuk kandang. Selain itu ternak ruminansia seperti sapi dan kerbau dapat dimanfaatkan tenaganya
untuk mengolah lahan. Pada beberapa daerah, terutama daerah transmigrasi lahan kering, lahan basah, rawa, air tawar dan pasang surut faktor tenaga kerja mengolah tanah masih merupakan kendala. Apalagi dengan keterbatasan sarana transportasi lokal, tenaga ternak juga dapat dimanfaatkan untuk menarik beban, untuk meng-angkut sarana produksi pertanian dan mengangkut hasil panen (Isbandi, 2004). Profil sumberdaya ternak sapi di Kabupaten Pontianak disajikan pada Tabel 4.
Berdasarkan kepadatan ternak sapi, sapi di Kabupaten Pontianak lebih padat dibandingkan Kalimantan Barat, yaitu 0,017 banding 0,010 ekor/ ha. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan Propinsi Bali yang luas wilayahnya hanya 68,18 % dari luas wilayah Kabupaten Pontianak, memili-ki kepadatan ternak 0,945 ekor/ha atau 55,59 kali lebih padat dengan jumlah ternak 37,33 kali jumlah ternak sapi di Kabupaten Pontianak. Keadaan ini menunjukkan bahwa potensi lahan di Kabupaten Pontianak yang dapat dimanfaatkan untuk ternak sapi masih sangat besar. Ditunjang dengan tingginya curah hujan di Kalimantan Barat dibandingkan di Bali yang cenderung beriklim lebih kering, akan
Tabel 4.
Komparasi Keragaan Sumberdaya Ternak Sapi.
No. Sumberdaya Luas Wilayah
(ha)
Populasi Ternak Sapi
Kepadatan Ternak Sapi (ekor ha 1) 1. Kabupaten
Pontianak1
826.210 14.258 0,017
2. Kalimantan Barat1 14.680.700 148.303 0,010
3. Propinsi Bali2 563.300 532.300 0,945
sangat berpengaruh terhadap potensi produksi hijauan bagi ternak ruminansia. Sehingga potensi produksi sapi yang tinggi di Kabupaten Pontianak adalah suatu hal yang rasional. Penyebaran ternak sapi di Kabupaten Pontianak berdasarkan kecamatan disajikan pada Tabel 5.
Berdasarkan penyebaran
ternak sapi di Kabupaten Pontianak dapat diketahui bahwa kecamatan dengan kepadatan ternak yang tertinggi adalah Kecamatan Rasau Jaya sebesar 0,149 ekor per hektar, diikuti Kecamatan Sungai Kakap,
Mempawah Hilir dan Sungai Kunyit. Daerah dengan kepadatan ternak sapinya terrendah adalah Kecamatan Batu Ampar sebesar 0,002 ekor per hektar, kemudian Kecamatan Kubu, Teluk Pakedai, Terentang dan Sungai Raya yang kepadatan ternak sapinya dibawah kepadatan 0,010 ekor per hektar untuk Kalimantan Barat. Kenyataan ini menunjukkan sangat tidak meratanya penyebaran ternak sapi di Kabupaten Pontianak.
Penyebaran ternak sapi yang tidak merata berdasarkan kecamatan dapat disebabkan berbagai faktor
Tabel 5. Penyebaran Ternak Sapi di Kabupaten Pontianak.
No. Kecamatan
Populasi Ternak Sapi
Luas Wilayah
Kepadatan Ternak Sapi
(ekor/ha1) Jumlah Persentase
1. Batu Ampar 363
2.55%
200.270
0.002
2. Terentang 498
3.49%
78.640
0.006
3. Kubu 386
2.71%
121.160
0.003
4. Teluk Pakedai 157
1.10%
29.190
0.005
5. Sungai Kakap 2.875
20.16%
45.313
0.063
6. Rasau Jaya 1.650
11.57%
11.107
0.149
7. Sungai Raya 915
6.42%
92.930
0.010
8. Sungai Ambawang 2.598
18.22%
72.610
0.036
9. Siantan 592
4.15%
32.430
0.018
11. Mempawah Hilir 1.353
9.49%
25.440
0.053
12. Sungai Kunyit 807
5.66%
15.660
0.052
13. Toho 1.060
7.43%
35.690
0.030 14. Kuala Mandor Besar 371
2.60%
47.300
0.008
Jumlah 14.258 100 % 826.210
Sumber : BPS Kabupaten Pontianak (2004) seperti jumlah penduduk yang berprofesi sebagai petani, jarak relatif dengan pasar, tersedianya sarana dan prasarana pendukung seperti jalan dan kondisi sosial budaya masyarakat. Program pembangunan khususnya di bidang peternakan yang masih belum dapat menjangkau ke seluruh wilayah, keterbatasan sumberdaya manusia dan sumber dana yang terbatas merupakan faktor pembatas yang perlu dikelola secara optimal.
Potensi Sumberdaya Manusia
Penduduk Kabupaten
Pontianak tahun 2003 berjumlah 691.920 jiwa yang terdiri dari penduduk laki-laki 353.188 jiwa (51,12 %) dan penduduk perempuan 338.232 jiwa (48,88 %). Pertambahan penduduk dari tahun 2002 sebesar 33.198 jiwa (5,04 %). Penyebaran penduduk di Kabupaten Pontianak tidak merata, Kecamatan Sungai Raya dengan jumlah penduduk 186.399 jiwa merupakan yang terbanyak penduduk-nya dan Kecamatan Terentang dengan jumlah penduduk 8.069 jiwa merupakan yang paling sedikit penduduknya. Kondisi ini disebabkan karena Kecamatan Sungai Raya berbatasan langsung dengan Kota
Pontianak (Ibukota Propinsi Kalimantan Barat) serta merupakan sentra industri kayu yang banyak menyerap tenaga kerja sehingga banyak terjadi imigrasi. Jumlah penduduk yang cukup besar ini juga merupakan peluang pasar bagi produk ternak termasuk ternak sapi.
Berdasarkan data penduduk usia 10 tahun ke atas yang bekerja di bidang pertanian untuk Kabupaten Pontianak, adalah 158.717 orang dari 270.499 orang yang bekerja, atau sekitar 58,68 % dari jumlah penduduk yang bekerja (BPS, 2004). Kadaan ini menunjukkan bahwa bidang pertanian masih menjadi sumber mata pencaharian yang utama bagi penduduk di Kabupaten Pontianak. Besarnya jumlah penduduk yang bekerja di bidang pertanian ini merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk pengembangan ternak sapi di Kabupaten Pontianak.
KENDALA PENGEMBANGAN TERNAK SAPI
karena dapat mengganggu ketahanan pangan (Santoso dan Enggis Tukerih, 2004). Kendala dalam pembuatan kebijakan pengembangan ternak sapi di Kabupaten Pontianak seperti juga pada tingkat Propinsi Kalimantan Barat adalah masih belum tersedianya database mengenai ternak yang memadai. Database yang sangat diperlukan dalam pengembangan ternak sapi meliputi data dinamika populasi ternak sapi yang dapat menggambarkan tingkat kelahiran dan proyeksi populasi ternak pada tahun berikutnya. Data sumberdaya lahan yang meliputi kesesuaian lahan untuk peternakan, data produksi dan kualitas hijauan makanan ternak aktual, tingkat produksi spesifik ternak sapi dan kinerja reproduksi ternak sapi di Kalimantan Barat.
Lambatnya pertumbuhan
ternak ruminansia besar di Indonesia saat ini berhubungan erat dengan akar permasalahannya di bidang pengelola-an lahpengelola-an yaitu bpengelola-anyak lahpengelola-an penggembalaan terdegradasi dan lahan-lahan lain yang dapat ditanami HMT banyak yang miskin unsur-unsur hara, serta status lahan dalam tata ruang daerah belum jelas (Santoso dan Enggis Tukerih, 2004).
Untuk Kalimantan Barat belum tersedia pusat pembibitan hijauan makanan ternak yang sesuai kondisi di Kalimantan Barat. Perlu realisasi yang operasional pewilayahan peternakan sehingga tidak terjadi kompetisi penggunaan lahan yang tidak sesuai peruntukannya. Limbah atau hasil samping produk dan pengolahan hasil pertanian seperti limbah sawit, bungkil sawit, bungkil kelapa, bungkil jagung, limbah pengolahan ikan dan udang belum secara optimal dimanfaatkan dan tersedia sebagai bahan pakan ternak. Produk ternak memerlukan
prasarana dan sarana pemasaran sehingga diperlukan pasar ternak yang memadai di lokasi yang strategis. Dengan adanya pasar diharapkan dapat menciptakan kondisi pemasaran yang memenui syarat secara teknis dan berdampak besar dalam pengembangan ternak di Kalimantan Barat.
PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI
Posisi Strategis Kabupaten Pontianak
Letak geografis Kabupaten Pontianak yang terletak di pesisir barat pulau Kalimantan memberikan kemudahan akses ke luar melalui lalu-lintas pelayaran antar pulau bahkan antar negara, sebab di sebelah Barat pesisir Propinsi Kalimantan Barat adalah Laut Cina Selatan yang merupakan lalu-lintas pelayaran internasional. Kabupaten Pontianak juga memiliki pelabuhan udara yang melayani transportasi udara ke daerah atau negara lainnya. Wilayah
Kabupaten Pontianak yang
mengelilingi Kota Pontianak menjadi-kan wilayah ini merupamenjadi-kan daerah penyangga untuk memenuhi kebutuh-an penduduk kota. Sebaliknya Kota Pontianak merupakan penyedia sarana dan prasarana penunjang bagi pembangunan Kabupaten Pontianak dengan biaya yang relatif lebih murah dibandingkan biaya yang diperlukan Kabupaten lain di Kalimantan Barat.
dan informasi pasar serta merupakan
daerah penghubung dengan
Kabupaten lain di Kalimantan Barat. Dengan demikian keunggulan komparatif geografis ini harus secara optimal dimanfaatkan dalam rangka mengembangkan ternak sapi di Kalimantan Barat.
Kesesuaian Iklim
Iklim merupakan komponen penting dan penentu dalam keberhasilan pengembangan suatu komoditas. Suhu lingkungan untuk pemeliharaan sapi di Indonesia adalah 18–28 0C. Kisaran suhu dan kelem-baban yang nyaman bagi Bos indicus
adalah 10-26,67 0C dan 95 %, sedang-kan bagi Bos taurus di bawah 15 0C dan 80%. Pada kisaran suhu di atas normal akan berpengaruh langsung dan tidak langsung terhadap produktivitas ternak. Pengaruh langsung adalah perubahan tingkah laku, penurunan konsumsi pakan dan peningkatan konsumsi minum serta terjadi penurunan efisiensi pakan. Pengaruh tidak langsung adalah menurunnya kualitas hijauan, serta meningkatnya penyakit dan parasit pada ternak (Kusnadi et al., 1992; Kelembaban relatif antara 82% hingga 89% dengan rata-rata kelembaban relatif sebesar 85,79%. Curah hujan bulanan di Kabupaten Pontianak berkisar dari 72-836 mm. Berdasarkan informasi ini maka wilayah Kabupaten Pontianak masih berada pada kisaran temperatur udara dan kelembaban
relatif yang nyaman bagi Bos indicus, sedangkan bagi Bos taurus tidak merupakan daerah yang nyaman, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikembangkan di wilayah ini. wilayah Kabupaten Pontianak. Curah hujan yang tinggi cukup memberikan jaminan ketersediaan pakan hijauan makanan ternak yang tersedia cukup dan teratur sepanjang tahun.
Sebagai komparasi iklim, wilayah Propinsi Bali memiliki kisaran temperatur udara antara 21,25-34,80 0C, dengan kelembaban relatif 78,7–86,8 % dan curah hujan 14,7-469 mm (Direktorat Pengembangan Peternakan, 2004). Dapat diamati bahwa wilayah Propinsi Bali memiliki kisaran temperatur udara yang lebih lebar daripada kisaran temperatur udara di Kabupaten Pontianak, bahkan temperatur udara tertinggi yang terjadi lebih tinggi dari wilayah Kabupaten kelembaban yang diinginkan oleh Bos indicus, yaitu mendekati 95%. Telah kita ketahui bahwa sapi yang berkembang baik di Bali merupakan sapi asli Indonesia yaitu sapi Bali yang termasuk Bos sondaicus. Kondisi ini menunjukkan tingkat kesesuaian iklim Kabupaten Pontianak yang tinggi terhadap ternak untuk bangsa sapi
wilayah Kabupaten Pontianak disarankan untuk menyediakan kandang dengan memperhatikan kebutuhan ventilasi dan ketinggian atap kandang. Selain itu di sekitar kandang sapi juga dapat ditanami tanaman pohon atau hijuan makanan ternak seperti gamal, turi, lamtoro dan sebagainya yang dapat menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk bagi sapi. Integrasi ternak sapi di dalam lahan perkebunan merupakan pilihan yang ideal dalam pengembangan ternak sapi yang dipadukan dengan pengembangan tanaman jagung sebagai tanaman sela.
Dukungan Teknis Pengembangan Ternak Sapi
Nasrullah et al. (1997) dalam
Santoso dan Enggis Tukerih (2004) menyatakan bahwa tumpangsari tanaman leguminosa dengan tanaman jagung meningkatkan produksi HMT pakan sebesar 50 – 75 % lebih tinggi dibandingkan dengan sistem mono-kultur. Faktor pakan sangat menentu-kan pertumbuhan bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup maka pertumbuhannya akan menjadi cepat (Tillman et al., 1998).
Daya cerna sapi terhadap pakan hijauan adalah 65-85% sedangkan bila konsentrat ditingkat-kan, kecernaannya menjadi 70 %. Pemberian garam dapur (NaCl) pada sapi berfungsi untuk menstimulasi sekresi saliva dan membantu berfungsinya enzim diastatik, sehingga konsumsi pakan meningkat. Batas aman konsumsi garam dapur bagi sapi adalah 0,3 % dari total ransum. Bila konsumsi garam dapur terlalu tinggi akan menimbulkan peningkatan sekresi sodium chlorida sehingga konsumsi air munum meningkat dan
retensi air meningkat sehinga terjadi oedema (Prayugo et al., 2004).
Intensifikasi pemeliharaan sapi pada padang penggembalaan memiliki beberapa keuntungan dibandingkan dengan cara dilepas bebas, yaitu mudah pengontrolan waktu birahi, perkawinan terarah, energi ternak sapi tidak terkuras untuk berjalan, perbaikan mutu padang penggembala-an dengpenggembala-an pemupukpenggembala-an dpenggembala-an introduksi HMT unggul, daya tampung lahan makin meningkat (Santoso dan Enggis Tukerih, 2004).
Program inseminasi buatan (IB) merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu genetik dan meningkatkan produktifitas ternak yang saat ini mulai dikenal dan membudaya di kalangan petani ternak. Kegiatan IB di Kabupaten Pontianak ditunjang dengan adanya 2 pos IB yaitu di Sei Kunyit dan Rasau Jaya. Pada tahun 2003 telah dilaksanakan kegiatan GEMA INSAN (Gerakan Massal Inseminasi Buatan) sebagai salah satu upaya Dinas Kehewanan dan Peternakan dalam mengoptimalkan kegiatan IB. Bentuk kegiatannya adalah IB secara masal dan serempak, introduksi penggunaan preparat hormon PGF 2 alpha dalam penyerentakan birahi (Diswannak Kalbar, 2004).
Permintaan Pasar Terhadap Bibit Ternak Sapi
Dalam lima tahun ke depan permintaan terhadap pangan dan produk pangan yang makin berkualitas mengalami peningkatan sejalan dengan peningkatan pendapatan
masyarakat. Sejalan dengan
mengalami pergeseran ke arah pasokan yang kontinyu dan homogen untuk memenuhi tuntutan permintaan yang lebih berkualitas dan tepat waktu. Kontinuitas dan homogenitas produk pertanian penting untuk masa yang akan datang karena tanpa kontinuitas dan homogenitas tersebut mustahil produk pertanian mampu bersaing di pasar domestik sekalipun (Badan Litbang Pertanian, 2004).
Berdasarkan jumlah pemotong-an sapi tahun 2003 sebesar 25.395 ekor sapi dengan jumlah populasi sapi sebesar 148.303 ekor, maka dapat diketahui keperluan bibit sapi bakalan per tahun sebesar 14,62 % yang akan dipotong setiap tahun. Angka kebutuhan sapi bakalan ini hampir sama dengan keperluan bibit secara Nasional yaitu sebesar 14,6 % (Santoso dan Enggis Tukerih, 2004). Jika tidak dilakukan impor daging sapi, sapi bibit dan sapi bakalan maka populasi sapi di Kalimantan Barat akan sangat cepat berkurang.
Untuk Kabupaten Pontianak sendiri, dari data BPS (2004), diketahui populasi ternak sapi sebesar 13.076 ekor dengan jumlah pemotongan sebesar 3.730 ekor, sehingga keperluan sapi bakalan untuk Kabupaten Pontianak sejumlah 22,19 % dari jumlah populasi yang menjadi sapi potong. Tingkat persentase kebutuhan sapi bakalan di Kabupaten Pontianak adalah sebesar 1,51 kali dibadingkan kebutuhan sapi bakalan di Kalimantan Barat. Keadaan ini merupakan tekanan yang sangat berat terhadap pertumbuhan populasi ternak sapi di Kabupaten Pontianak jika tidak diimbangi program pengembangan ternak yang memadai selain memasukkan sapi bakalan dari luar daerah. Oleh karena itu investasi dalam pengembangan ternak di
Kabupaten Pontianak sangat
dibutuhkan untuk mempertahankan populasi sapi yang ada. Kondisi ini merupakan peluang dalam usaha pembibitan sapi sebagai sapi bakalan.
Permintaan Jagung Sebagai Bahan Pakan Ternak
Jumlah kebutuhan pakan ternak ayam petelur dan pedaging untuk Kalimantan Barat pada tahun 2003 sebesar 106.557 ton (Diswannak Kalbar, 2004). Sebesar 50 % dari jumlah tersebut atau 53.278,5 ton terdiri dari jagung yang dapat dihasilkan dari 30.797 ha areal panen jagung dengan asumsi produktifitas jagung di Kalimantan Barat sebesar 1,73 ton /Ha. Dengan potensi lahan untuk tanaman jagung di Kabupaten Pontianak sebesar 287.954 Ha, maka tidak sulit untuk memenuhi kebutuhan jagung Kalbar dari Kabupaten Pontianak sendiri.
Selain menghasilkan jagung, areal penanaman jagung juga berpotensi untuk menghasilkan bahan pakan bagi ternak ruminansia berupa biomassa tanaman jagung, rumput dan gulma yang tumbuh di antara tanaman jagung. Dengan demikian areal tanaman jagung sangat berpotensi untuk diintegrasikan dengan ternak ruminansia, terutama ternak sapi.
atau jagung yang tergolong rendah dapat ditingkatkan. Jerami padi tergolong berkadar protein rendah, yaitu 4,5-1,01 % sehingga dalam pemanfaatannya perlu pemberian pakan supplemen (Moerdolelono et al., 2000; Anggorodi, 1994 dalam Muzani
et al., 2004).
Peluang untuk meningkatkan populasi ternak sapi masih terbuka dengan memanfaatkan jerami padi dan jagung untuk pakan. Pakan dari jerami padi dan jagung atau dari limbah pertanian lainnya dapat ditingkatkan kualitasnya melalui proses fermentasi
dengan Ruminobacillus atau
Trichoderma sp. (Fagi dan Ketut Karyasa, 2004).
Ketidaktersediaan pakan me-rupakan masalah utama peternakan sapi rakyat di Indonesia. Persoalan ini disebabkan manajemen ternak sapi tidak sejalan dengan manajemen pakan, padahal 60 – 70 % dari seluruh biaya produksi terletak pada pakan. Sejak tahun 1986 Pemerintah Jepang bekerjasama dengan Dirjen Peternak-an Departemen PertPeternak-aniPeternak-an RI telah melakukan penelitian pakan ternak sapi silase di Jawa Barat. Silase dengan bahan pakan dari limbah jagung dapat dijadikan pakan ternak sapi unggulan. Penelitian pada ternak sapi perah menunjukkan peningkatan produksi 4 – 6 liter susu per ekor per hari dicapai dengan pemberian silase. Pemberian silase ditambah konsentrat dan rumput alam dapat menghasilkan susu 14 – 15 liter perekor per hari, dari rata-rata produksi susu peternak selama ini hanya 6 – 8 liter per hari (Purwadi, 2004).
Keunggulan Pemeliharan Ternak Sapi Dalam Usaha Tani Jagung
Sapi di lahan sawah dapat dipandang sebagai faktor produksi dari padi sawah, yaitu sebagai tenaga pengolah tanah dan penghasil pupuk kandang. Usaha agribisnis baru di pedesaan timbul dari proses pengomposan limbah ternak menjadi pupuk kandang dan fermentasi limbah tanaman menjadi pakan ternak berkualitas. Di Jawa Timur pemberian pupuk kandang pada tanaman padi dan jagung varietas unggul tidak mengurangi takaran pupuk anorganik. Pemberian pupuk kandang tampaknya meningkatkan efektivitas pupuk anorganik, tetapi unsur hara tidak dapat mensuplesi unsur hara dalam pupuk anorganik, karena unsur hara yang terkandung dalam pupuk kandang tersedia secara lambat (slow release). Peningkatan produktivitas tanaman akibat pemberian pupuk kandang dan pupuk anorganik pasti menguntungkan petani, sehingga mereka terus memberikan pupuk kandang untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas lahan dalam jangka panjang (Fagi dan Ketut Karyasa, 2004).
Integrasi antara tanaman pangan dan ternak menjadi sistem usahatani yang terpadu merupakan komponen penting dalam meningkat-kan produktivitas dan kesejahteraan petani. Interaksi terjadi dengan penyediaan pupuk kandang, tenaga kerja, pendapatan dan produk hasil-hasil ternak dari usaha ternak ruminansia, sedangkan limbah pertanian dan gulma dapat dimanfaat-kan oleh ternak sebagai padimanfaat-kan (Isbandi, 2004)
hari. Pada luasan jagung satu hektar dapat diharapkan menghasilkan sekitar 7-10 ton pupuk organik per tahun dari 4 – 6 ekor sapi. Penggunaan kotoran ternak yang sudah diolah dengan baik dan benar pada lahan jagung adalah 2 – 3 ton per hektar setiap kali tanam. Sehingga potensi pupuk organik dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1 – 2 hektar dengan dua kali tanam setahun. Sistem integrasi jagung dan ternak diharapkan dapat memanfaatkan potesi sumberdaya wilayah dalam rangka mempertahan-kan kesuburan tanah (Diwyanto dan Priyanti, 2004).
Kebutuhan Daging Sapi di Pasar Lokal
Penduduk Indonesia dengan jumlah 210 juta orang tahun 2000 dan tingkat pertumbuhan yang tinggi (1,5 % per tahun) memerlukan produk-produk ternak ruminansia (daging, susu dan lain-lain) dalam jumlah banyak. Sementara populasi ternak ruminansia hanya sedikit dan perkembangannya lambat yaitu 11 juta ekor sapi potong pada tahun 1999 dengan pertumbuhan 13,6 % per tahun dan 2,4 juta ekor kerbau dengan pertumbuhan 6,4 % per tahun. Hal ini mengakibatkan setiap tahun perlu diimpor dalam jumlah besar produk-produk ternak ruminan-sia seperti daging, susu, keju maupun dalam bentuk hidup yaitu sapi bibit dan sapi bakalan (Santoso dan Enggis Tukerih, 2004).
Selama dua dasawarsa terakhir pendapatan per kapita masyarakat pedesaan secara absolut ataupun riil mengalami peningkatan. Secara absolut pendapatan masyarakat pedesaan meningkat dari Rp 243.000 pada tahun 1984 menjadi Rp 2.024.000 pada tahun 2001,
sedangkan secara riil (setara beras) pendapaan masyarakat pedesaan meningkat dari sekitar 934,2 menjadi 979,9 setara beras untuk tahun 2002. Dinamika pertumbuhan penduduk dan peapatan masyarakat Indonesia yang terjadi dalam lima tahun ke depan akan menciptakan peluang pasar yang besar bagi produk pertanian (Badan Litbang Pertanian, 2004).
Rata-rata konsumsi protein hewani asal ternak penduduk Kalimantan Barat baru mencapai 3,12 gram/kapita/hari setara dengan daging 4,04 kg/kapita/tahun, telur 3,45 kg/kapita/tahun dan susu 0,002 kg/kapita/tahun. Konsumsi protein hewani asal ternak ini hanya mencapai 52% apabila dibandingkan dengan standar norma gizi nasional yang ditetapkan rata-rata konsumsi protein hewani asal ternak sebesar 6 gram/kapita/hari setara dengan daging 10,30 kg/kapita/tahun, telur 6,5 kg/kapita/tahun dan susu 0,04 kg/kapita/tahun. Persentase kontribusi produksi daging dibanding total dengan produksi daging sebesar 3.926 ton (Diswannak Kalbar, 2005).
ternak ruminansia, seperti sapi dalam memanfaatkan hijauan dengan serat kasar tinggi terefleksikan pada komponen biaya pakan yang rendah dibanding ternak monogastrik yaitu sekitar 20 % dengan 70 %, sehingga ternak sapi dapat memberikan nilai tambah produk yang lebih tinggi. Keadaan ini merupakan peluang yang dapat diisi oleh produk daging, khususnya daging sapi yang menguntungkan secara eknomis, mendukung ketahanan pangan daerah serta sekaligus mempercepat pencapaian standar norma gizi nasional.
Peluang Investasi
Potensi investasi untuk pengembangan ternak sapi di Kabupaten Pontianak sangat besar mengingat daya dukung wilayah, sumberdaya manusia, potensi ketersediaan pakan, tersedianya limbah pertanian untuk pakan ternak dan dukungan Pemerintah Daerah Propinsi dan Kabupaten. Berdasarkan potensi Kabupaten Pontianak yang besar tersebut, masih terbuka peluang investasi dalam pengembangan ternak sapi bagi petani maupun swasta yang didukung oleh lembaga-lembaga permodalan seperti perbankan, BUMN dan sebagainya.
Berdasarkan hasil analisis usaha pemeliharaan sapi di Ogan bulan diberikan pakan jerami padi dan rumput unggul, konsentrat pabrik, bekatul dan ampas tahu sebagai penguat (komposisi 50%:25%:25%) diberikan 5 kg/hari, dijual dengan bobot badan 400 kg-425 kg Untuk pembibitan, sapi PO dipelihara selama 7 – 10 tahun, pemberian pakan dengan rumput alam dan jerami, konsentrat dedak, perkawinan ternak dilakukan dengan inseminasi buatan. Sapi yang dijual dengan pembibitan adalah sapi umur 2 tahun (Direktorat Pengembangan Peternakan (2004). Hasil analisis finansial oleh Tim IPB dan Direktorat Pengembangan Peternakan (2004) menyebutkan bahwa pada umumnya usaha sapi potong memiliki nilai IRR yang tinggi (> 50%), BC-Ratio sedang (1- 1,2) untuk daerah Wonogiri dan tinggi untuk Ogan Komering Ulu (> 1,5). Periode pengembalian untuk usaha peng-gemukan umumnya relatif pendek (2-3 tahun), sedangkan untuk usaha pembibitan umumnya relatif lama (> 5 tahun).
Tabel 6. Analisis Usaha Pemeliharaan Sapi (Rp/ekor/tahun).
No Pola Penggemukan
(12 bulan)
Penggemukan (3 bulan)
Pembibitan/th
1. Biaya Tetap 3.329.000 14.088.148 818.278
2. Biaya Operasional 208.333 1.579.866 302.166
3. Biaya Resiko 500.500 69.500 325.000
4. Nilai Penjualan 4.550.000 18.000.000 2.500.000
5. Keuntungan 511.777 2.253.485 1.254.554
Sumber: Direktorat Pengembangan Peternakan (2004). IMPLIKASI KEBIJAKAN
Menurut Saragih (2000) dalam
Gunawan (2004), paradigma pem-bangunan peternakan yang mampu memberikan peningkatan pendapatan peternak yang relatif tinggi dan menciptakan daya saing global produk peternakan adalah pembangunan agribisnis berbasis peternakan. Dalam agribisnis peternakan tercakup empat subsistem, yaitu (1) subsistem agri-bisnis hulu peternakan yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sapronak (industri pembibitan, industri pakan dan obat-obatan, (2) subsistem usaha peternakan yakni usaha budidaya ternak, (3) subsistem agribisnis hilir peternakan yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas primer peternakan menjadi produk olahan (industri pengolahan dan pemasaran hasil ternak) dan (4) subsistem jasa penunjang yakni kegiatan ekonomi yang menyediakan jasa yang dibutuh-kan oleh ketiga subsistem lain.
PENUTUP
Sumberdaya Kabupaten
Pontianak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan sebagai penyangga kebutuhan penduduk Kota Pontianak. Terdapat 287.954 ha areal potensi sumberdaya lahan jagung di Kabupaten Pontianak. Biomasa jagung dari areal tanam di Kabupaten Pontianak sejumlah 14.268,3 ton dapat mendukung 7.818,25 unit ternak per tahun per musim tanam. Jika 25 % potensi areal pengembangan jagung seluas 71.988,5 ha akan menghasilkan 18,5 kali biomasa/musim tanam dari pertanaman jagung saat ini, maka mampu menyediakan pakan untuk 144.637,6 unit ternak. Sejumlah 58,68 % penduduk Kabupaten Pontianak bekerja di bidang pertanian merupakan potensi untuk pengembangan ternak sapi.
Iklim Kabupaten Pontianak sangat sesuai untuk pengembangan bangsa sapi Bos indicus dan Bos sondaicus. Keperluan sapi bakalan untuk Kabupaten Pontianak per tahun sejumlah 22,19 % dari jumlah populasi, merupakan peluang dalam usaha pembibitan sapi bakalan. Satu hektar jagung menghasilkan 7-10 ton pupuk organik per tahun dari 4 – 6 ekor sapi yang menunjang kebutuhan pupuk organik dua kali tanam setahun untuk 1 – 2 hektar. Konsumsi protein hewani penduduk Kalimantan Barat khususnya daging, masih kurang sebesar 6,26 kg/kapita/tahun atau sebesar 60,78 % merupakan pangsa pasar bagi pengembangan ternak sapi.
Pola penggemukan sapi selama 3 bulan memberikan keuntungan yang paling maksimal dibandingkan penggemukan setahun dan pembibitan. Pemerintah perlu menggerakkan para petani, pemodal,
pengusaha dan lembaga penunjang
lainnya untuk bersama-sama
merumuskan struktur dan mekanisme sistem agribisnis ternak sapi yang operasional dan terarah.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Litbang Pertanian. 2004. Rencana Strategis Badan Penelitian dan Pengembang-an PertPengembang-aniPengembang-an. Departemen Pertanian, Badan Litbang Pertanian, Bogor.
BPS. 2004. Kabupaten Pontianak Dalam Angka 2003. Biro Pusat Statistik, Pontianak. Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Propinsi Kalbar. 2003. Laporan Penggunaan Lahan (SP-VA) Propinsi Kalbar Tahun 2002.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kalbar. 2003. Laporan Tahunan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Kalbar Tahun 2003. Direktorat Pengembangan Peternakan.
2004. Informasi Peluang Investasi Agribisnis Peternak-an. Direktorat Pengembangan Peternakan, Jakarta.
Diswannak. 2005. Rencana Tahunan Sub Sektor Peternakan Kalimantan Barat Tahun 2005. Dinas Kehewanan dan Peternakan Propinsi Kaliman-tan Barat, Pontianak.
Nasional Sistem Integrasi Jagung-Ternak, Pontianak. Fagi, A.M. dan Ketut Karyasa. 2004.
Ulasan Makalah. Prosiding Lokakarya Sistem dan Kelem-bagaan Usahatani Tanaman-Ternak. Badan Litbang Pertanian, Bogor.
Gunawan. 2004. Model dan Strategi
Kerjasama Penelitian
Agribisnis Sapi Potong Dalam Era Globalisasi. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor
Isbandi. 2004. Ketersediaan Biomasa Tanaman Jagung di Desa Sukajadi (P-6) Karang Agung Tengah, Sumatera Selatan. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor. Muzani, A., Y. Geli Bulu, K. Puspadi, TS Panjaitan. 2004. Potensi Pakan Dalam Sistem Integrasi Tanaman Ternak di Lombok Nusa Tenggara Barat. Prosiding Lokakarya Sistem dan Kelembagaan Usahatani Tanaman-Ternak. Badan Litbang Pertanian, Bogor. Prayugo, S., E. Purbowati dan S.
Dar-tosukarno. 2004. Penampilan Sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin yang Dipelihara Secara Intensif. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor. Purwadi, R.M. 2004. Pemanfaatan Limbah Jagung Sebagai ”Selase”. Makalah Dalam Workshop Pengembangan Kawasan Agropolitan
Ber-basis Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Jakarta. Puslitbangtanak. 2004. Laporan
Tahunan Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Tahun Anggaran 2003. Puslitbangtanak, Bogor. Santoso, D. dan Enggis Tukerih. 2004.
Meningkatkan Pengelolaan Lahan Untuk Memacu Pengembangan Ternak Rumi-nansia. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peter-nakan, Bogor.
Tillman A. D., Hari Hartadi, Soedomo Reksohadiprodjo, S. Prawiro-usumo dan S. Lebdosoekojo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. UGM Press, Yogya-arta.
Widiastuti, D.P., M. Hatta dan Sih Wiyono. 2002. Pengujian Kalibrasi Tanah Pada Tanaman Jagung di Lahan Kering. Prosiding Seminar Loka Pengkajian Teknologi Pertanian Pontianak, Ponti-anak.