• Tidak ada hasil yang ditemukan

Koperasi dan Pengembangan Agribisnis. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Koperasi dan Pengembangan Agribisnis. docx"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

“Koperasi dan Pengembangan Agribisnis ”

Mochamad Setyadi

“Koperasi dan Pengembangan Agribisnis ”

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mengkaji kisah sukses dari berbagai koperasi, terutama koperasi di Indonesia, kiranya dapat disarikan beberapa faktor kunci dalam pengembangan dan pemberdayaan koperasi. yaitu antara lain : Pemahaman pengurus dan anggota akan jati diri koperasi (co-operative identity) yang antara lain dicitrakan oleh pengetahuan mereka terhadap ‘tiga serangkai’ koperasi, yaitu pengertian koperasi, nilai-nilai koperasi dan prinsip-prinsip gerakan koperasi (International Co-operative Information Centre, 1996). Pemahaman akan jati diri koperasi merupakan poin penting dalam mengimplementasikan jati diri tersebut pada segala aktifitas koperasi. Aparatur pemerintah terutama departemen yang membidangi masalah koperasi perlu pula untuk memahami secara utuh dan mendalam mengenai perkoperasian. Badan usaha baik yang berbentuk perusahaan maupun koperasi ada kemungkinan memiliki sifat dan pola kerja sama, namun tidak dapat menamakan dirinya koperasi. Karena banyak model pendekatan kerja sama atau usaha bersama yang tidak sesuai dengan prinsip dasar koperasi dan bahkan melanggar ketentuan perundangan yang berlaku. Koperasi sejati harus mampu menggalang semangat kerja sama yang dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar koperasi sebagai instrumen untuk mewujudkan tujuan bersama.

Dalam praktiknya memang prinsip dasar koperasi selalu berinteraksi dengan lingkungan baik fisik, politik, ekonomi, maupun sosial di mana koperasi yang bersangkutan berada. Namun proses penyesuaian terhadap lingkungan tersebut tidak harus mengorbankan jati diri koperasi. Karena prinsip-prinsip dasar perkoperasian merupakan esensi dari dasar koperasi sebagai badan usaha dan merupakan ciri khas dan jati diri koperasi yang membedakannya dari badan usaha atau organisasi lainnya.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :

1.

Mahasiswa mampu memahami lebih lanjut tentang jatidiri koperasi : definisi, nilai, dan prinsip-prinsip koperasi.

2.

Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menjelaskan permasalahan koperasi dengan kaitan jatidiri koperasi.

3.

Mahasiswa mampu menjelaskan dan memahami keunggulan koperasi bila dibandingkan dengan organisasi ekonomi lainnya.

1.3 Manfaat

Setelah membaca tulisan ini, pembaca akan semakin memahami

jatidiri koperasi. Selain itu, pembaca akan dapat mengetahui definisi, nilai,

dan prinsip-prinsip koperasi dalam perekonomian bangsa. Dan akhirnya

akan didapat solusi untuk mengatasi masalah internal koperasi dengan

anggota dan dengan organisasi ekonomi lain.

(2)

2.1 Jatidiri Koperasi

2.1.a Pengertian koperasi

(1). Dalam ILO recommendation nomor 127 pasal 12 (1) dirumuskan

bahwa koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang yang berkumpul secara sukarela untuk berusaha bersama mencapai tujuan bersama melalui organisasi yang dikontrol secara demokratis, bersama-sama berkontribusi sejumlah uang dalam membentuk modal yang diperlukan untuk mencapai tujuan bersama tersebut dan bersedia turut bertanggung jawab menanggung resiko dari kegiatan tersebut, turut menikmati manfaat usaha bersama tersebut, sesuai dengan kontribusi permodalan yang diberikan orang-orang tersebut, kemudian orang-orang tersebut secara bersama-sama dan langsung turut memanfaatkan organisasi tadi.

(2). Menurut Internasional Cooperative Allience (ICA) Koperasi adalah perkumpulan dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka milik bersama dan mereka kendalikan secara demokratis,

(3). Menurut Undang-Undang nomor 25 tahun 1992 (Pasal 1 ayat 1) koperasi adalahBadan usaha yang beranggotaan orang-orang yang berkumpul secara sukarela (pasal 5 ayat I a.) untuk mencapai kesejahteraaan (pasal 3) memodali bersama (pasal 4.1) dikontrol secara demokratis (pasal 5 ayat b) orang-orang itu disebut pemilik danpangguna jasa koperasi yang bersangkutan (pasal 17 ayat 1)

(4). Dari berbagai pengertian koperasi Ibnu Soedjono (2000), salah seorang pakar koperasi yang pemikiran-pemikirannya perlu dipahami mendefinisikan koperasi sebagai: koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasiaspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis.

2). Nilai- Nilai koperasi

(3)

partisipasinya, baik partisipasi sebagai pemilik maupun partisipasi sebagai pemakai.

3). Prinsip-prinsip koperasi

ICA (1999) merumuskan prinsip-prinsip koperasi adalah :

Pertama : Koperasi adalah perkumpulan sukarela, terbuka bagi semua orang yang mampu menggunakan jasa-jasa perkumpulan dan bersedia menerima tanggung jawab keanggotaan tanpa diskriminasi gender, sosial, rasial, politik dan agama.

Kedua : koperasi adalah perkumpulan demokratis, dikendalikan oleh para anggotanya yang secara akfif berpartisipasi dalam penetapan kebijakan-kebijakan perkumpulan dan mengambil keputusan-keputusan

Ketiga : Anggota koperasi menyumbang secara adil dan mengendalikan secara demokratis, modal dari koperasi mereka

Keempat : Koperasi bersifat otonom, merupakan perkumpulan yang menolong diri sendiri dan dikendalikan oleh anggota-anggotanya

Kelima : Koperasi menyelenggarakan pendidikan bagi anggotanya, para wakil yang dipilih, manajer dan karyawan, agar mereka dapat memberikan sumbangan yang efektif bagi perkembangan koperasi

Keenam : Koperasi dapat memberikan pelayanan paling efektif kepada para ngggotanya dan memperkuat gerakan koperasi dengan cara kerjasama melalui struktur lokal, nasional, regional, dan internasional

Ketujuh : Koperasi bekerja bagi pembangunan yang berkesinambungan dari komunitas mereka melalui kebijakan yang disetujui anggotanya.

4). Keanggotaan koperasi

Berdasarkan pengertian koperasi yang dikemukakan oleh ICA di atas maka :"Anggota koperasi adalah orang-orang yang berkumpul, bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis”.

Tabel Perbandingan UU No. 25 Tahun 1992 dan UU No. 12 Tahun 1967 UU No. 25 Tahun 1992 UU No. 12 Tahun 1967 Definisi Koperasi adalah

badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya

berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus

(4)
(5)

2.1.b. Faktor-faktor yang Membedakan UU No.25 Tahun 1992 dengan ICA 1995

Koperasi dari sejak kelahirannya disadari sebagai suatu upaya untuk menolong diri sendiri secara bersama-sama. Oleh karena itu antara selfhelp-cooperation atauindividualitet-solidaritet (Moh Hatta) selalu disebut bersamaan untuk menggambarkan dasar pendirian koperasi adalah kebersamaan bersendikan kemandirian. Dengan cara pandang ini koperasi dapat dilihat sebagai kerjasama pasar dari sebagian pelaku ekonomi dalam melawan ketidak adilan pasar yang terjadi. Sementara kerjasama yang melibatkan lebih dari satu orang yang menempatkan kebersamaan sebagai dasarnya maka tidak dapat terlepas dari dimensi sosial. Oleh karena itu koperasi juga sering ditempatkan sebagai bentuk member base economic organisation fiz a fiz capital base economic organisation. Gambaran inilah yang menjadikan koperasi selalu menjadi pilihan untuk mengatur ekonomi orang banyak yang lemah dalam menghadapi persaingan pasar. Namun karena sejarah pengenalan koperasi yang berbeda, maka pemikiran koperasipun juga berkembang dengan madzab yang berbeda-beda, bahkan kaitan antara dimensi ekonomi murni dengan masalah politik dan sosial banyak campur aduk, terutama di negara sedang berkembang termasuk Indonesia .

Hingga tahun 1961 praktis kita belum pernah menemukan definisi koperasi yang didokumentasikan secara formal dan diakui oleh dunia internasional, meskipun koperasi telah hadir sejak abad 18. Koperasi diberikan pengertian yang diterima internasional pada awalnya oleh organisasi bukan milik gerakan koperasi, tetapi justru oleh lembaga internasional yang menangani masalah perburuhan yakni ILO. ILO lebih menekankan pada peran koperasi sebagai instrumen untuk memperbaiki kesejahteraan para pekerja, oleh karena itu yang menonjol adalah persyaratan seseorang untuk menjadi anggota koperasi dan lebih ditekankan pada kemampuan untuk memanfaatkan jasa koperasi. Pada tahun 1990an ditengah arus globalisasi dan liberalisasi perdagangan, koperasi dunia juga mempertanyakan kelangsungannya ditengah arus swastanisasi dan persaingan yang semakin tajam sebagaimana terlihat dalam kongres Tokyo 1992 (Svend Akheberg, 1992).

Namun pada tahun 1995 gerakan koperasi dunia melalui kongresnya di Manchester Inggris menjawab dengan dua tema pokok kembali kepada nilai dan jatidiri koperasi dan menempatkan koperasi sebagai badan usaha atau perusahaan (enterprise) dengan pengelolaan demokratis dan pengawasan bersama atas keanggotaan yang terbuka dan sukarela. Gerakan koperasi kembali menyatakan keharusan bagi koperasi untuk menjunjung tinggi nilai etika (ethical values) yaitu: kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial dan kepedulian kepada pihak lain (honesty, openness, social responsibility and caring for others) (ICA, 1995), International Cooperative Alliance ; Conclusion And Recommendation, 6 th Cooperatives Minister Conference, Kathmandu , Nepal 2002. Sejak itu gerakan koperasi dunia memiliki definisi secara formal dan tertulis untuk menjadi kesepakatan gerakan koperasi dunia.

(6)

pengaturan dijaga tidak menjadi intervensi yang menimbulkan ketergantungan. Di banyak negara para pendukung gerakan koperasi selalu menempatkan prinsip: kerja keras dan berusaha dengan keras sebagai posisi utama yang diajarkan kepada masyarakat. Jika gagal datang ke pemerintah, jika pemerintah tidak mampu memecahkan, bekerjasamalah dalam koperasi dan bersama koperasi lain (CCA). Semangat ini masih mungkin perlu ditanamkan kembali dan ketergantungan dapat dihindari apabila ada "institusi perantara" yang merupakan representasi kepentingan koperasi dan pemerintah serta stakeholder lainnya. Dalam kurun waktu menuju 2009 ini boleh dikatakan perekonomian Indonesia telah kembali dari krisis, tetapi sisa beban bunga hutang pemerintah akibat krisis perbankan masih akan terus dipikul rakyat entah berapa lama lagi. Secara konstitusional UUD 1945 setelah perubahan memberikan garis baru berupa prinsip penyelenggaraan ekonomi sebagaimana tertuang dalam ayat 4 pasal 33. Perekonomian diselenggarakan atas prinsip kebersamaan, berwawasan lingkungan, efisiensi, demokratis dan berkelanjutan.

Pada ayat 5 pasal 33 UUD setelah pembahas pengaturan pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang, oleh karena itu pengertian ayat ini harus jelas mengenai lingkup UU. Apakah melalui UU payung yang mengatur Perekonomian Nasional atau menyesuaikan dengan UU yang ada. Sebagai contoh landasan keberadaan dan posisi koperasi memang menjadi perlu diatur dalam UU Koperasi. Jika pandangan ini diterima maka cara pandang UU No. 25 dan rencana perubahannya harus ditinjau kembali, karena tidak mengkaitkan dengan pengaturan sistem perekonomian sebagaimana jiwa UU No. 12/1967 tentang Pokok-Pokok Perkoperasian dahulu. Demikian juga terhadap UU Usaha Kecil No. 9/1995. Oleh karena itu berbagai konsekuensi ini menuntut cara dasar pengaturan yang berbeda. Ketiadaan pengaturan ini akan menyebabkan kita kehilangan arah dalam mendudukkan jalannya perekonomian kita. Maka salah satu agenda besar dalam mencari format baru itu adalah terselesaikannya UU yang diamanatkan oleh ayat 5 pasal 33 UUD 1945.

Nilai – nilai dan prinsip dasar koperasi sebagaimana tersebut, merupakan suatu konsepsi yang harus dihayati guna memberikan arah pada sikap, keyakinan dan perilaku serta pedoman dalam rangka mencapai tujuan koperasi. Definisi koperasi menurut Kongres International Cooperative Aliance (ICA) di Manchester Inggris tanggal 23 September 1995 adalah :“ Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang besatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis”.

Seiring dengan definisi tersebut, tujuan koperasi menurut Bab 1 pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia No.25 tahun 1992 tentang Perkoperasian, yaitu : “Koperasi bertujuan mewujudkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur bedasarkan Pancasila dan UUD 1945”.

(7)

yang dimiliki oleh banyak orang dengan prinsip satu orang satu suara. Malahan ide koperasi sesungguhnya berasal dari negara Eropa. Tetapi ketika konsep koperasi ingin diterapkan di Indonesia yang digagas oleh Bung Hatta, ada perbedaan yang paling mendasar mengenai konsep koperasi Indonesia.

Faktor-faktor yang membedakan antara prinsip koperasi ICA dengan UU No. 25 tahun 1992, antara lain:

1. Di Indonesia koperasi diberi peran utama sebagai bagian dari pembangunan dalam rangka mengentaskan kemiskinan.

Peran tersebut membuat beban Koperasi Indonesia jauh lebih berat dengan koperasi-koperasi di negara lain, karena Koperasi Indonesia mengemban misi kesejahteraan suatu negara, bukan hanya menjadi bentuk suatu badan usaha semata.

2. Koperasi mempunyai peran agar jiwa dan semangatnya juga berkembang di perusahaan swasta dan negara.

Perbedaan peran koperasi Indonesia dan di negara lain ini terjadi karena koperasi di Indonesia dilatarbelakangi oleh kondisi kemiskinan struktural yang saat ini semakin diperparah dengan berlakunya pasar bebas.

3. Perbedaan prinsip koperasi yang mendasar.

Prinsip-prinsip koperasi merupakan hasil Kongres 100 tahun ICA di Manchester tahun 1995 yang sedikit beda dengan prinsip koperasi yang telah ditetapkan dalam pasal 5 UU 25/92. Dalam UU 25/92 secara eksplisit masih menegaskan adanya prinsip pembagian sisa hasil usaha masing-masing anggota secara adil dan sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota serta prinsip pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal. Sementara itu hasil Kongres 100 tahun ICA tersebut lebih menekankan pada pentingnya prinsip partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi serta prinsip kepedulian terhadap masyarakat.

2.2.a Jati Diri Koperasi menjadi Sebuah Kekuatan/Keunggulan bagi Gerakan Koperasi

(8)

prinsip-prinsip koperasi yang dianut adalah prinsip-prinsip-prinsip-prinsip koperasi Rochdale yang didirikan pada tahun 1844 sebagai koperasi konsumen oertama yang berhasil d dunia dan prinsip tersebut disempurnakan dalam kongres ICA di Paris tahun 1937, di Wina tahun 1966, dan Manchester tahun 1995. Perumusan jati diri koperasi oleh ICA di Manchester secara formal diberlakukan bagi seluruh koperasi seluruh dunia.

2.a.1 Definisi Koperasi

International Co-operative Alliance, 1995 : “Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya bersama melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara demokratis.”

Definisi ini dimaksudkan sebagai pernyataan minimal, tidak dimaksudkan sebagai deskripsi dari koperasi yang sempurna. Secara sengaja ruang lingkupnya dibuat luas, mengakui bahwa anggota dari koperasi yang jenisnya beragam akan dilibatkan secara berbeda dan anggota-anggota harus memiliki kebebasan tertentu bagaimana mereka mengorganisir kepentingan-kepentingan bersama. Definisi ini menekankan karakteristik sebagai berikut yang menjadi kekuatan bagi gerakan koperasi.

a)Koperasi adalah otonom, artinya sejauh mungkin bebas dari pemerintah dan perusahaan swasta.

b)Koperasi adalah perkumpulan orang-orang. Ini berarti behwa koperasi memiliki kebebasan untuk mendefinisikan orang—orang sesuai dengan ketentuan hukum yang dipilihnya. Banyak koperasi primer di dunia memilih hanya menerima orang secara individual sebagai anggota. Banyak juga koperasi primer lain menerima badan hukum yang meliputi perusahaan dengan memberikan kepada mereka hak-hak yang sama seperti halnya anggota lain. Sifat dari praktek koperasi adalah maslah yang harus diputus oleh keanggotaan mereka sendiri. c)Orang-orang bersatu secara sukarela. Keanggotaan dalam koperasi tidak

boleh merupakan keharusan. Anggota harus bebas, dalam batas tujuan dan sumber daya koperasi untuk bergabung atau menanggulanginya. d)Anggota koperasi memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya

(9)

kemanfaatan bagi anggota-anggotanya dan menyumbang bagi komunitas mereka.

e)Koperasi adlah perusahaan yang dimiliki bersama dan dikendalikan secara demokratis. Hal ini menekankan bahwa dalam koperasi pengendalian oraganisasi atas dasar demokrasi. Sifat rangkap dari kepemilikan dan pengemdalian secara demokratis adalah sangat penting dalam membedakan koperasi dengan bagian perusahaan yang lain, seperti perusahaan yang dikendalikan oleh modal dan oleh pemerintah. Setiap koperasi adlah sebuah perusahaan dan dalam arti bahwa koperasi merupakan suatu kenyataa yang normalnya berfungsi dalam pasar dan karenanya koperasi harus bekerja dengan sungguh-sungguh untuk melayani anggota-anggota secara efisien dan efektif. 2.a.2Nilai-nilai Koperasi

Koperasi melandaskan nilai-nilai menolong diri sendiri(swadaya), bertanggung jawab kepada diri sendiri, demokrasi,kebersamaan, keadilan dan solidaritas/kesetiakawanan. Berdasarkan tradisi para pendirinya, para anggota koperasi percaya pada nilai-nilai etis, yaitu kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial, dan peduli pada orang lain.

Nilai-nilai koperasi ini diharapkan akan menuntun dan diaplikasikan oleh para anggota koperasi dalam menjalankan koperasi. Setiap nilai dalam nilai-nilai koperasi memiliki makna khusus yang menjadi kekuatan gerakan koperasi yang menjadikan koperasi berbeda dengan badan usaha lainnya.nilai-nilai tersebut diantaranya :

a)Swadaya (self-help) didasarkan pada kepercayaan bahwa semua orang dapat dan seharusnya berupaya keras mengandalikan nasibnya sendiri. Koeprasiwan percaya bahwa pengembangan diri secara penuh dapat terjadi hanya dnegan bergabung bersama yang lain. Sebagai individu, seseorang dibatasi oleh apa yang dapat dicoba untuk diperbuat dan apa yang dapat dicapai. Melalui kegiatan yang digabungkan dan tanggung jawab bersama, seseorang dapat mencapai lebih banyak, terutama dengan meningkatkan pengaruhnya secara koleftif di pasar dan hadapan pemerintah (kolektif action).

b)Bertanggung jawab kepada diri sendiri bararti bahwa anggota menerima tanggung jawab bagi koperasi mereka, bagi berdirinya, dan kelanjutan vitalitasnya. Selanjutnya anggota memiliki tanggung jawab dalam memajukan koperasi mereka di kalangan keluarga, kawan-kawan, dan kenalan mereka. akhirnya swa-tanggung jawab berarti bahwa naggota bertanggung jawab guna pemastian bahwa koperasi mereka tetap independen dari oraganisasi lain, public, maupun swasta.

c)Koperasi berasaskan kebersamaan/persamaan. Kesatuan dasar koperasi adalah anggota yang merupakan manusia atau pengelompokan manusia. Dasar kepribadian manusia adalah salah satu ciri utama yang membedakan koperasi dan perusahaan yang dikendalikan henya untuk kepentingan modal. Anggota mempunyai hak untuk berpartisipasi, hak untuk memperoleh informasi, hak untuk didengar, dan hak untuk dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Anggota harus terhimpun dengan cara yang sejauh mungkin sama (one man, one vote).

(10)

melalui pembagian sisa hasil usaha berdasarkan transaksi mereka, alokasi pencadangan modal atas nama mereka, atau melalui potngan-potongan biaya.

e)Solidaritas (kesetiakawanan) mempunyai sejarah yang panjang dan dimuliakan dalam gerakan koperasi internasional. Nilai ini menjamin bahwa kegiatan koperasi bukan sekedar bentuk terselubung dari kepentingan pribadi yang dibatasi. Sebuah koperasi adalah lebih dari sebuah perkumpulan anggota-anggota, anggota koperasi adalah sebuah kolektivitas. Setiap anggota mempunyai tangung jawab untuk memastikan bahwa semua anggota diperlakukan seadil mungkin, bahwa kepentingan umum selalu memperoleh perhatian, setiap anggota koperasi bekerja sama dalam setiap cara yangpraktis utnuk menyediakan begi anggota barang-barang dan jasa dengan mutu terbaik dengan harga yang terendah. Intinya bahwa solidaritas adalah sebab dan akibat yang benar dari self help dan tolong menolong, dua dari konsep mendasar dalam jantung falsafah perkoperasian.

Kalimat kedua pada nilai-nilai koperasi pun memiliki makna. Mengikuti tradisi dari pendirinya bahwa semua gerakan yang besar memiliki pendiri-pendiri yang berpikiran besar seperti pelopor-pelopor Rochdale, Frederich Raiffeisen, Herman Schultze Delitzsch, Phillipe Buchez, Bishop Grundzvig dan Alphonse Desjardins. Sumbangan-sumbangan mereka lebih dari sekedar praktis, sama pentingnya dengan pragmatism mereka, adalah etika dan moral.

Nilai-nilai etis yang merupakan aspirasi gerakan koperasi ternyata telah mempengaruhi kegiatan sementara oraganisasi yang dikendalikan modal dan organisasi milik pemerintah. Bagaimanapun juaga nilai-nilai etis merupakan bagian dari perkembangan koperasi, karena pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan menduduki tempat khusus dalam tradisi koperasi.

Banyak dari koperasi yang pertama dalam abad ke-19 teruutama tampak pada pelopor Rochdale yang memiliki komitmenkhusus mengenai kejujuran. Sesungguhnya upaya-upaya mereka erkenal dalam pasar untuk sebagian karena mereka menghendaki dengan sungguh-sungguh adanya ukuran-ukuran yang jujur, mutu tinggi dan harga yang jujur. Koperasi-koperasi pekerja, sepanjang sejarahnya menjadi terkenal akan upaya mereka untuk menciptakan sistem manajemen terbuka yang jujur. Koperasi di bidang keuangan memperoleh reputasi yang bagus sekali di seluruh dunia karena cara-cara yang jujur dalam melaksanakan bisnis mereka, khususnya dalam perhitungan pembayaran tingkat bunga. Selama dasawarsa koperasi pertanian telah berkembang subur karenakomitmen mereka terhadap mutu tinggi, produk dengan label yang jujur.

Lepas dari tradisi kejujuran yang khusus, koperasi-koperasi memiliki aspirasi untuk berhubungan secara jujur dengan anggotanya yang menurut gilirannya menuntunnya ke hubungan jujur dengan bukan anggota. Untuk alasan yang sama, koperasi mendukung kepada keterbukaan. Koperasi adlah organisasi public yang secara teratur membuka informasi yang berharga mengenai kegiatan-kegiatan mereka kepada anggota-anggota mereka, umum dan pemerintah.

(11)

memiliki kewajiban utnuk memenuhi tanggung jawab sosial melalui semua kegiatannya. Dalam kapasitasnya banyak koperasi telah menunjukan kemampuannya untuk membantu pihak lain, diantaranya telah meberi sumbangan yang berarti bagi sumber daya manusia dan keuangan komunitasnya.

2.a.3 Prinsip Koperasi

Prinsip-prinsip yang merupakan jantung dari koperasi adalah titik independen yang satu dengan yang lain. Mereka saling terkait secara halus, bilamana yang satu diabaikan keseluruhannya menjadi berkurang. Koperasi seharusnya tidak dapat dinilai secara eksklusif berdasarkan salah satu diantara prinsip-prinsip, akan tetapi harus dinilai seberapa jauh koperasi secara benar mentaati prinsip-prinsip tersebut sebagai satu keseluruhan. Terdapat tujh prinsip dalam koperasi. Tiga prinsip pertama secara esensial dikaitkan pada dinamika internal, tipikal bagi setiap koperasi. Empat yang terakhir menyangkut operasi internal maupun hubungan eksternal oleh koperasi.

Prinsip Pertama : Keanggotaan Sukarela dan Terbuka

Koperasi-koperasi adalah perkumpulan-perkumpulan sukarela, terbuka bagi semua orang yang mampu menggunakan jasa-jasa perkumpulan dan bersedia menerima tanggung jawab keanggotaan, tanpa diskriminasi gender, sosial, rasial, politik, atau agama.

Prinsip Kedua : Pengendalian oleh Anggota secara Demokratis

Koperasi-koperasi adalah perkumpulan-perkumpulan demokratis dikendalikan oleh para naggota yang secara aktif berpartisipasi dalam penetapan kebijakan perkumpulan dan mengambil keputusan–keputusan. Pria dan wanita mengabdi sebagai wakil-wakil yang dipilih, bertanggung jawab kepada naggota. Dalam koperasi rimer anggota-anggota mempunyai hak-hak suara yang sama (one man, one vote) dan koperasi-koperasi pada tingkatan-tingkatan lain juga diatur secara demokratis.

Prinsip Ketiga : Partisipasi Ekonomi Anggota

Anggota-anggota menyumbang secara adil bagi, dan mengendalikan secara demokratis modal dari koperasi mereka. Sekurang-kurangnya sebagian dari modal tersebut biasanya merupakan milik bersama dari koperasi. Anggota-anggota biasanya menerima kompensasi yang terbatas atas modal yang disyaratka untuk menjadi anggota. Anggota-anggota mengalokasikan sisa hasil usaha untuk beberapa tau semua dari tujuan berikut : pengembangan koperasi mereka, kemungkinan dengan membentuk sebagian dari padanya tidak dapat dibagi-bagi, pemberian manfaat kepada anggota-anggota sebanding dengan transaksi-transaksi mereka dengan koperasi, dan mendukung kegiatan-kegiatan yang disetujui oleh para anggota.

Prinsip Keempat : Otonomi dan Kebebasan

Koperasi-koperasi bersifat otonom, menolong diri sendiri serta diawasi oleh angota-anggotanya. Apabila koperasi mengadakan perjanjian dengan organisasi lain termasuk pemerintah atau memupuk modal dari sumber luar, koperasi melakukannya berdasarkan persyaratan yang menjamin adanya penawasan demokratis anggota-anggota serta dipertahankannya otonomi koperasi.

(12)

Koperasi-koperasi memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anggotanya, para wakil yang dipilih oleh rapat anggota, manajer, dan karyawan agar mereka dapat melakukan tugasnya lebbih efektif bagi pengembangan koperasinya. Mereka memberikan informasi (penerangan) kepada masyarakat umu -khususnya orang-orang muda dan pemimpin opini masyarakat- mengenai hakekat perkoperasian dan manfaat berkoperasi. Prinsip Keenam : Kerjasama antar Koperasi

Koperasi melayani para anggota secara efektif dan memperkuat gerakan koperasi dengan bekerjasama melalui organisasi koperasi tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional.

Prinsip Ketujuh : Kepedulian terhadap Masyarakat

Koperasi melakukan kegiatan untuk pengembangan masyarakat sekitarnya secara berkelanjutan, melalui kebijakan-kebijakan yang diputuskan oleh rapat anggota.

2.2.b Praktek Jatidiri Koperasi pada perusahaan swasta maupun BUMN JATIDIRI KOPERASI

(INTERNATIONAL CO-OPERATIVE IDENTITY STATEMENT) Manchester, 23 September 1995

Definisi :

Koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis

Nilai-nilai :

Koperasi berdasarkan pada nilai-nilai menolong diri sendiri, tanggungjawab sendiri, demokrasi, persamaan, keadilan, dan kesetiakawanan. Mengikuti tradisi para pendirinya, anggota-anggota koperasi percaya pada nilai-nilai ethis kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab sosial, serta peduli terhadap orang lain.

Prinsip-Prinsip :

Prinsip-prinsip koperasi sebagai garis penuntun untuk melaksanakan nilai-nilai dalam praktek adalah:

Keanggotaan sukarela dan terbuka

Pengendalian oleh anggota secara demokratis Partisipasi ekonomi anggota

Otonomi dan Kebebasan

Pendidikan, pelatihan dan informasi Kerjasama antar koperasi

Kepedulian terhadap komunitas

UUD 1945 pasal 33 memandang koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional, yang kemudian semakin dipertegas dalam pasal 4 UU No. 25 tahun 1992 tentang perkoperasian. Menurut M. Hatta sebagai pelopor pasal 33 UUD 1945 tersebut, koperasi dijadikan sebagai sokoguru perekonomian nasional karena:

1.Koperasi mendidik sikap self-helping.

2.Koperasi mempunyai sifat kemasyarakatan, di mana kepentingan masyarakat harus lebih diutamakan daripada kepentingan dri atau golongan sendiri.

3.Koperasi digali dan dikembangkan dari budaya asli bangsa Indonesia.

(13)

Ada 9 asas pembangunan nasional yang harus diperhatikan dalam setiap pelaksanaan pembangunan (GBHN, 1988) yaitu:

1.Asas Keimanan dan Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional dijiwai, digerakkan dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai nilai luhur yang menjadi landasan spiritual, moral dan etika dalam rangka pembangunan nasional sebagai pengamalan pancasila.

2.Asas Manfaat, bahwa segala usaha dan kegiatan pembangunan nasional memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengembangan pribadi warga negara serta mengutamakan kelestarian nilai-nilai luhur budaya bangsa dan elestarian fungsi lingkungan hidup dalam rangka pembangunan yang berkesinambungan dan berkelanjutan.

3.Asas Demokrasi Pancasila, bahwa upaya mencapai tujuan pembangunan nasional yang meliputi seluruh kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dilakukan dengan semangat kekeluargaan yang bercirikan kebersamaan, gotong-royong, persatuan dan kesatuan melalui musyawarah untuk mencapai mufakat.

4.Asas Adil dan Merata, bahwa pembangunan nasional yang diselenggarakan sebagai usaha bersama harus merata di semua lapisan masyarakat dan di seluruh wilayah tanah air.

5.Asas Keseimbangan, Keserasian, dan Keselarasan dalam Perikehidupan, bahwa dalam pembangunan nasional harus ada keseimbangan antara berbagai kepentingan, yaitu keseimbangan, keserasian, keselarasan antara kepentingan dunia dan akhirat, jiwa dan raga, individu, masyarakat dana negara, dan lain- lain.

6.Asas Kesadaran Hukum, bahwa dalam pembangunan nasional setiap warga negara dan penyelenggara negara harus taat pada hukum yang berintikan keadilan dan kebenaran, serta negara diwajibkan untuk menegakkan dan menjamin kepastian hukum.

7.Asas Kemandirian, bahwa dalam pembangunan nasional harus berlandaskan padakepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri serta bersendikan kepada kepribadian bangsa.

8.Asas Kejuangan, bahwa dalam penyelenggaraan pembangunan nasional, penyelenggaraan negara dan masyarakat harus memiliki mental, tekad, jiwa dan semangat pengabdian serta ketaatan dan disiplin yang tinggi dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi/golongan.

9.Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dalam pembangunan nasional dapat memberikan kesejahteraan lahir batin yang setinggi-tingginya, penyelenggaraannya perlu menerapakan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan tekonologi secara seksam dan bertanggung jawab dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Literatur

(14)

Landsforening (NKL) di Norwegia, The Swedish Co-operative Union atau Kooperativa Förbundet (KF) di Swedia dan The Danish Consumers Co-operative Society atau Fællesforeningen for Danmarks Brugsforeninger (FDB) di Denmark. Komposisi saham dalam Coop Nordic, 42 persen dimiliki KF, 38 persen oleh FDB dan 20 persen milik NKL.

Di Norwegia, koperasi konsumen menggenggam pangsa pasar 24,1 persen bisnis ritel, dan tampil dalam deretan empat besar perusahaan ritel raksasa. Sedangkan di Swedia, penguasaan pangsa pasar oleh koperasi konsumen sebesar 21,6 persen. Bahkan di Denmark, pangsa pasar bisnis ritel yang dikuasai koperasi konsumen mencapai 36,5 persen. Dengan mengoperasikan sejumlah supermarket dan grosir, koperasi konsumen di negeri Hamlet itu bertengger dalam urutan tiga besar perusahaan ritel.

Lantas, mengapa mereka merasa harus melakukan merger? Di negara-negara Eropa, khususnya Skandinavia yang tradisi koperasinya sangat kuat, fenomena merger sebetulnya bukan langkah yang asing. NKL, KF dan FDB sendiri, merupakan hasil merger dari koperasi konsumen di negaranya masing-masing. Jadi, tidak aneh kalau jumlah koperasi di sana mengalami tren makin sedikit dan, sebaliknya, dengan skala usaha yang makin meraksasa.

Yang menjadi konsen para pegiat koperasi di negara-negara Skandinavia, tampaknya, bukan bagaimana mempertahankan keberadaan koperasinya sendiri, tetapi lebih pada bagaimana menghadapi lingkungan bisnis yang terus berubah dan semakin mengglobal. Perusahaan-perusahaan swasta, yang sudah lama mengonsolidasikan diri dengan membentuk multinational corporation (MNC), makin agresif melakukan ekspansi bisnisnya, hingga menciptakan kekuatan yang makin sulit ditandingi.

Maka, ketika fenomena globalisasi makin mengental dan kekuatan MNC kian menjadi, ketiga koperasi konsumen di tiga negara itu pun, merasa perlu untuk melakukan langkah radikal, dengan melakukan merger. Coop Nordic, koperasi konsumen hasil merger itu, bisa dikatakan sebagai koperasi transnasional yang pertama kali lahir di dunia.

Tentu saja, langkah merger tersebut dilakukan dengan perhitungan yang cukup rumit. Karena itu, kendati sudah diwacanakan sejak lama, baru terwujud setelah lahir kebijakan “Satu Eropa” di bidang ekonomi. Hasilnya, Coop Nordic mampu bekerja secara lebih efisien, dengan skala usaha terbesar di seluruh kawasan Skandinavia, bahkan menjadi pemain ritel makanan dan minuman terbesar di seantero Eropa.

Di samping soal ketatnya persaingan yang menuntut pengelolaan efisien agar menghasilkan harga bersaing, langkah merger juga didorong oleh tuntutan konsumen di Eropa, yang makin complicated. Mereka bukan hanya sensitif dengan harga, tetapi juga tidak bisa kompromi dengan kualitas produk, bahkan unsur lain seperti kesehatan, etika bisnis dan lingkungan hidup. Jika, misalnya, sebuah produk yang penggunaan atau proses produksinya membahayakan kesehatan bahkan lingkungan hidup, niscaya akan dijauhi meskipun harganya murah.

Secara keseluruhan, Coop Nordic menghimpun sekitar 7 juta anggota perorangan. Melalui koperasinya masing-masing, anggota koperasi di tiga negara itu menempatkan pengurus di Coop Nordic, yang berjumlah 13 orang.

(15)

dan peternakan, yang produk olahannya menguasai pasar di negaranya masing-masing.

Coop Nordic mempekerjakan 28.290 karyawan yang tersebar di tiga negara, dan mengoperasikan 3.000 outlet. Dari seluruh outlet yang dioperasikan, koperasi mencetak volume usaha sekitar SEK 90 miliar per tahun (SEK 1 sekitar Rp 1.521,4). Setiap outlet, dikelola secara otonom oleh koperasi di masing-masing negara, agar bisa lebih menyesuaikan dengan kebutuhan anggota koperasi atau konsumen setempat. “Setiap koperasi di masing-masing negara, mempunyai tanggung jawab penuh dalam mengelola outlet,” ujar Nina Jarback, salah seorang pengurus Coop Nordic yang juga pengurus KF.

DEKOPIN 1. Arti Dekopin

Dewan koperasi Indonesia yang selanjutnya dalam Anggaran Dasar di singkat DEKOPIN adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan landasan idiil Pancasila landasan strukturil UUD 1945 Pasal 2 dan Pasal 33 ayat (1) beserta penjelasannya, serta landasan operasional UU No. 12 Tahun 1967 Jo UU No. 25 tahun 1992 tentang pokok-pokok perkoperasian.

Dekopin berasaskan kekeluargaan dan k3gotong-royongan. D3kopin merupakan partner pemerintah dalam rangka mewujudkan cita-cita nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

2. Tujuan Dekopin

memperjuangkan tercapainya cita-cita, tujuan dan kepentingan bersama koperasi Indonesia, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, melalui data ekonomi Indonesia yang berpijak kepada demokrasi ekonomi berdasarkan pancasila sesuai dengan UUD 1945 pasal 33 ayat (1) beserta penjelasannya.

Memeperjuangkan agar koperasi Indonesia menjadi soko guru dalam tatanan ekonomi bangsa Indonesia.

3. Fungsi Dekopin

Tugas dan kewjiban Dekopin

Dekopin bertugas dan berkewajiban :

1. Mengembangkan kerja sama antar koperasi Indonesia dan memupuk kerja sama natara koperasi dengan lembaga-lembaga lain baik didalam maupun diluar negeri.

2. memperjuangkan agar produk-produk yang menghambat perkembangan koperasi dapat diperbaiki dan disesuaikan dengan kepentingan gerakan koperasi. 3. Menumbihkan dan meningkatkan kesadaran dean semangat berkoperasi setia kawan dikalangan masyarakat dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan keperluan.

4. menyelenggarakan bimbingan dan pengawasan dalam bidang perkoperasian baik dalam segi idiil, organisasi, manajemen maupun usaha.

5. Memupuk kerja sama antar koperasi dengan perusahaan negara, dan perusahaan swasta atas dasar hubungan kerja sama yang sehat dan saling mengisi.

6. Memupuk kerja sama dengan golongan-golongan yang potensial dalam masyarakat sperti : tani, nelayan, buruh, wanita, pemuda, cendikiawan, dan pengusaha.

7. Memperjuangkan duduknya wakil gerakan koperasi di Indonesia di MPR, DPR, DPRD, dan lembaga-lembaga lainnya yang dibentuk baik oleh pemerintah maupun non pemerintah.

8. kegiatan dan usaha lain-lain yang dapat menunjang kemajuan dan perkembangan koperasi di Indonesia.

(16)

Artikel

Kapanlagi.com - Dewan Koperasi Indonesia menggandeng salah satu raksasa media Korea Selatan JoongAng Ilbo New Media untuk membangun sistem online koperasi yang nantinya akan menjadi satu sistem online yang tidak saja diterapkan di Indonesia tapi juga di Asia Tenggara.

Sekjen Dekopin Yusri Suhud ketika dihubungi di Jakarta, Minggu, mengatakan, kerja sama itu akan terealisasi bersama setelah para pihak melakukan penandatanganan MoU pada 6 Februari.

Proses kerja sama itu sendiri sudah dirintis sejak pertengahan tahun lalu, dan baru akan direalisasikan pada pekan ini.

Perusahaan Korea yang akan menjadi mitra Dekopin tersebut merupakan salah satu perusahaan media yang cukup ternama di Korea. Perusahaan tersebut menerbitkan koran dalam bahasa Inggris dan juga beberapa koran asing seperti International Herald Tribun (IHT) di Korea.

Mereka juga mempunyai jaringan TV kabel serta situs berita online Joins.com. Pada awalnya perusahaan ini mempunyai hubungan erat dengan Samsung, namun karena regulasi di Korea akhir mereka memisahkan diri dengan Samsung pada tahun 1993.

Presiden JoongAng Ilbo New Media, Jin Ki Kim juga mengadakan pertemuan dengan Ketua Umum Dekopin Adi Sasono beberapa waktu lalu di Jakarta.

Pertemuan itu merupakan pertama antara kedua pucuk pimpinan menjelang penandatanganan kerja sama. Dalam pertemuan itu keduanya lebih banyak bercerita soal potensi ekonomi negara masing-masing.

Adi Sasono menekankan bahwa kerja sama antar keduanya itu nantinya antara lain untuk mendukung sistem Koperasi Simpan Pinjam online yang sudah berjalan saat ini.

Selain itu perusahaan Korea tersebut akan membantu Dekopin dalam pengembangan pusat data, smartcard dan sistem IT Dekopin yang akan memungkinkan lembaga ini untuk online secara nasional.

JoongAng Ilbo akan menyediakan perangkat keras dan lunak dan diharapkan dari kerja sama ini bisa meningkatkan efisiensi transaksi ekonomi di antara para anggota Dekopin, dan pembelajaran jarak jauh serta pemutakhiran data.

Sistem yang dikembangkan Dekopin ini akan diintegrasikan dalam sistem di Asia Tenggara. Indonesia sebagai ketua Asean Cooperative Organization (ACO) akan memaksimalkan sistem online itu sehingga dapat diterapkan di Asia Tenggara. (*/lin)

JAWABAN

Trilogi pembangunan yaitu menciptakan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, serta stabilitas nasional yang dinamis dan strategis yang kemudian juga dijadikan sebagai misi yang melekat pada masing-masing pelaku ekonomi, baik negara, swasta, maupun koperasi di dalam sistem ekonomi nasional yang kita bangun.

Rumusan kedudukan, peranan, dan hubungan antara pelaku ekonomi dapat digambarkan sebagai berikut:

1.BUMN, koperasi, dan swasta hendaknya ditempatkan pada posisi dan kedudukan yang setara. Hal ini berarti, setiap pelaku ekonomi baik secara normatif maupun operasional memiliki hak hidup yang sama, sesuai dengan misi yang diembannya.

(17)

Keunggulan komparatif tersebut dapat dilihat dari cita-cita organisasi masing-masing pelaku ekonomi tersebut. BUMN dimiliki dan dikelola oleh pemerintah. BUMN bukan merupakan suatu perusahaan yang mengejar keuntungan sebagai prioritas utama, akan tetapi merupakan alat pemerintah yang efektif dalam melaksanakan pembangunan nasional. Dengan demikian, BUMN mengemban tugas melayani kepentingan umum untuk memenuhi hajat orang banyak.

Berbeda dengan sektor swasta yang dimiliki dan dikelola secara perseorangan, keluarga, dan atau sekelompok kecil orang yang memiliki modal untuk mencapai tujuan memberi keuntungan yang semaksimal mungkin.

Lain halnya sektor koperasi yang merupakan wadah ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang, dimiliki dan dikelola oleh anggota untuk kepentingan anggota serta masyarakat secara kekeluargaan.

Bertitik tolak dari ciri-ciri pelaku ekonomi tersebut diatas, maka keunggulan komparatif yang khas yang berkaitan dengan trilogi pembangunan nasional adaah sebagai berikut:

1.BUMN cenderung untuk melakukan peran utama sebagai stabilisator dan perintis perekonomian nasional

2.Swasta cenderung mengarah untuk melakukan peran utama di bidang pertumbuhan ekonomi nasional.

3.Koperasi mengemban peran utama di bidang pemerataan pembangunan dan hasil- hasilnya.

Keunggulan pelaku ekonomi BUMN lebih terfokus dalam bidang stabilitas, sedangkan BUMS lebih diarahkan untuk mencapi pertumbuhan ekonomi. Badan usaha koperasi, ditinjau dari aspek prinsip-prinsip organisasinya, lebih menitikberatkan pada asas pemerataan. Seiring dengan perubahan ruang, waktu, dan nilai dalam perjalanannya, koperasi juga berperan dalam pencapaian pertumbuhan dan stabilitas ekonomi nasional.

Membangun sokoguru perekonomian nasional berarti membangun badan usaha koperasi yang tangguh, menumbuhkan badan usaha swasta yang kuat dan mengembangkan BUMN yang

mantap secara simultan dan terpadu dengan bertumpu pada Trilogi Pembangunan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat banyak. Karena pemahaman dan pemikiran terhadap koperasi dalam arti yang luas dan mendasar seperti dimaksudkan.

Dalam hal efisiensi internal, koperasi sudah harus mencapai tingkat maksimal. Karena itu diperlukan pengembangan organisasi yang berorientasi ke luar agar dapat mengembangkan lebih lanjut efisiensi yang dimaksud. Untuk itu diperlukan proses keterkaitan yang integratif dalam bentuk kerjasama, baik antar-koperasi sendiri maupun dengan BUMN dan swasta, secara vertikal maupun horisontal.

(18)

untuk dapat berusaha secara komprehensif, saling mendidik dan memperkuat serta memberikan keuntungan tanpa mematikan satu sama lainnya. Hal itulah motif kerjasama dikembangkan untuk mewujudkan efisiensi usaha bersama bagi ketiga wadah pelaku ekonomi tersebut.

Bentuk pertama, dapat berupa kerjasama komplementer, dimana apabila terdapat kegiatan usaha koperasi yang tidak layak dikerjakan sendiri, maka koperasi dapat mengadakan kerjasama operasional [KSO] dengan pihak usaha milik negara maupun swasta

yang kegiatan usahanya lebih layak untuk melaksanakan kegiatan tersebut, demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh dari kerjasama ini diantaranya adalah pengadaan pangan untuk stock nasional yang dilakukan oleh KUD dengan BULOG, penyaluran pupuk oleh KUD dengan PT. Pusri, pemasokan susu dari KUD kepada industry pengolahan susu.

Bentuk kedua, kerjasama substitutif yang merupakan kerjasama manajemen dan kepemilikan dengan titik beratnya adalah apabila koperasi karena satu dan lain hal belum mampu memilki dan melaksanakan manajemennya secara layak, maka untuk sementara waktu manajemennya digantikan oleh swasta atau BUMN. Selanjutnya apabila kondisi koperasi telah memungkinkan maka pihak swasta atau BUMN secara bertahap menyerahkan kembali seluruhnya atau sebagian kepemilikan dan manajemennya kepada koperasi. Pola PIR dan modal ventura adalah salah satu bentuk kerjasama seperti diuraikan di atas.

Bentuk ketiga, adalah kerjasama secara kompetisi yang konstruktif. Yaitu, kesepakatan antara koperasi dengan swasta dan BUMN untuk bersaing secara sehat dengan mengembangkan seluas-luasnya prestasi dan produktivitasnya untuk mencapai kelayakan kegiatan usaha masing-masing. Bentuk kerjasama tersebut secara spesifik dapat berupa kerjasama “dua pihak” [koperasi dengan swasta dan BUMN] dan “tiga pihak” [menyangkut ketiga pelaku secara bersama-sama].

Adapun ruang lingkup kerjasama dapat dilakukan di bidang pemasaran, produksi dan permodalan di mana dalam perkembangannya proses kerjasama itu selanjutnya koperasi dapat memilki saham dari swasta dan BUMN atau membentuk P.T. baru bersama dengan swasta dan BUMN. Koperasi Unit Desa Sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi Pedesaan Sebagaimana amanat dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara 1993 bahwa tujuan pembangunan yang ingin dicapai adalah untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang maju dan mandiri serta adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Pencapaian tujuan pembangunan tersebut dilakukan dengan menitik beratkan pada pembangunan bidang ekonomi. Sasarannya adalah tercipta perekonomian yang mandiri dan handal sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Sasaran pembangunan bidang ekonomi ini diarahkan untuk mampu meningkatkan kemakmuran rakyat yang lebih merata, pertumbuhan yang cukup tinggi dan stabilitas nasional yang semakin mantap.

(19)

kemiskinan dan keterbelakangan dalam upaya untuk menciptakan pembangunan yang berkeadilan. Koperasi juga merupakan organisasi yang paling

banyak melibatkan peran serta rakyat. Oleh karena itu, koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat perlu lebih banyak diikutsertakan alam upaya pembangunan yang lebih merata, tumbuh dari bawah, berakar di masyarakat dan mendapat dukungan luas dari rakyat.

2.2.c Kelemahan Jatidiri Koperasi pada Kondisi Bangsa Indonesia

Esensi jati diri koperasi adalah bahwa koperasi merupakan

perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela atau

perkumpulan orang-orang, yaitu orang-orang yang menjadi anggota

koperasi. Anggota koperasi adalah pemilik, dan berpartisipasi dalam

menggunakan jasa perkumpulan dan menerima tanggungjawab

keanggotaan, baik dalam menyumbang permodalan secara adil dan

melakukan transaksi ekonomi dengan koperasinya sebagai pengguna jasa

atau pelanggan. Semua itu dilakukan untuk mencapai tujuannya, yaitu

memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi dan social para anggotanya.

Dengan demikian anggota adalah pemilik dan sekaligus pelanggan, atau

dengan kata lain pemilik dan pelanggan adalah orang-orang yang sama.

Paradigma pada hakikatnya tercemin dalam skema pemilik-pelanggan.

Meminjam istlah literature koperasi AS (David Cobia; 1989) koperasi

adalah

user oriented firm

. Berlawanan dengan perusahaan swasta yang

disebut

investor oriented firm.

Esensi lainnya adalah bahwa koperasi merupakan organisasi

perkumpulan orang-orang yang menolong diri sendiri, dan karenanya

otonomi dan kebebasan merupakan prinsip yang sangat diutamakan.

Koperasi bebas mengadakan kesepakatan dengan perkumpulan lain

termasuk pemerintah atau memperoleh modal dari sumber-sumber luar.

Upaya pemerintah membantu mengembangkan koperasi dan modal yang

diperoleh dari sumber-sumber luar dilakukan dengan

persyaratan-persyaratan yang menjamin adanya pengadilan anggota serta tidak

menggangu otonomi koperasi.

Rumusan Pasal 33 dan penjelasannya (UUD 1945) sebenarnya

merupakan system perekonomian nasional yang ideal, dimana koperasi

sebagai bangun perusahaan yang sesuai mempunyai peluang untuk

memainkan peran dalam menyusun perekonomian usaha bersama

berdasar atas asas kekeluargaan. Namun, rumusan tersebut lebih

diartikan sebagai alasan pembenar bahwa pemerintah mempunyai

kewajiban konstitusional membangun koperasi, penyediaan anggaran

belanja Negara, dan bahkan sampai mensponsori pembentukan koperasi.

Peran pemerintah dalam pembangunan koperasi sangat dominan,

sehingga pasang naik dan pasag surut perkembangan koperasi diwarnai

dan sejalan dengan upaya pemerintah membangun koperasi. Upaya

koperasi untuk membangun dirinya sendiri nyaris tidak terdengar. Hal ini

lah yang merupakan lemahnya peran jati diri koperasi itu sendiri.

(20)

kenikmatan tersendiri, sehingga koperasi enggan besusah payah

berswadaya. Akibatnya koperasi kehilangan otonomi keswadayaannya.

Upaya pemerintah membangun koperasi didorong oleh keinginan

segera memajukan koperasi, pemerintah menjadikan koperasi sebagai

instrumen untuk melaksanakan program pemerintah, yang sering kali

mengabaikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi. Program pemerintah

yang dilaksanakan oleh koperasi pada umunya tidak hanya ditujukan

untuk kepentingan anggota, tetapi untuk seluruh masyarakat yang

bersangkutan. Membuat pembedaan perlakuan antara anggota dengan

bukan anggota tidak diperbolehkan. Penyaluran barang konsumsi tidak

hanya untuk anggota koperasi, tetapi untuk seluruh penduduk.

Penyaluran pupuk dan kredit usahatani, serta pengadaan pangan dan

cengkeh yang dilaksanakan oleh KUD tidak hanya ditujukan kepada

anggota tetapi untuk seluruh petani yang bersangkutan. Kenyataan ini

ikut mempengaruhi perubahan pandangan bahwa koperasi tidak hanya

bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi dan social

anggota, tetapi untuk seluruh masyarakat. Bukan anggota dilayani sama

dengan anggota, sehingga tidak ada gunanya menjadi anggota koperasi.

Jika koperasi bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi

anggota tidak akan bisa menjadi besar, dan tidak ada manfaat bagi

masyarakat. Paradigma koperasi sebagai perusahaan yang berorientasi

kepada anggota, berubah menjadi berorientasi untuk kepentingan

masyarakat.

Karena itu dapat dipahami, munculnya koperasi bias paradigma

dengan membatasi jumlah anggota sekedar memenuhi syarat

perundang-undangan (20 orang) dan beroperasi dengan mengksploitir masyarakat

luas sebagai pelanggan bukan anggota yang dikemas sebagai calon

anggota yang bersifat permanen. Para pendiri koperasi ini bisa disebut

sebagai pengusaha koperasi, yang sering bertindak sebagai investor

dengan mendirikan koperasi atau mungkin membeli badan hukum

koperasi. Koperasi simpan pinjam tampaknya berpeluang untuk

dioperasikan oleh para pengusaha koperasi.

(21)

aspirasi ekonomi dan social para anggota dan berperan dalam kehidupan

perekonomian masyarakat.

3. Upaya agar gerakan Koperasi di Indonesia terutama di pedesaan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan jati dirinya.

Menurut definisi identitas koperasi, koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial, dan budaya mereka yang sama melalui perusahaan yang dimiliki dan diawasi secara demokratis. Koperasi juga memiliki nilai-nilai dan prinsipi-prinsip yang mulia namun dalam kenyataannya, banyak koperasi yang memiliki citra yang buruk di benak para petani di pedesaan akibat dari sejarahnya di masa lampau. Selain itu, sebagian masyarakat dan petani di pedesaan merasa ‘alergi’ dengan kata Koperasi, hal tersebut dikarenakan kurangnya atau ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja koperasi sebagai badan usaha yang memiliki struktur kelembagaan (struktur organisasi, struktur kekuasaan, dan struktur insentif) serta kurang memasyarakatnya informasi tentang praktek-praktek berkoperasi yang benar.

Hal yang paling mendasar untuk mengatasi beberapa permasalahan di atas maka upaya agar gerakan koperasi di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan jati dirinya, yaitu perlu adanya upaya untuk menjernihkan kembali citra koperasi yang selama ini telah buruk di mata masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan gerakan kampanye kembali ke koperasi sebagai suatu gerakan yang dapat mensejahterakan anggotanya dengan melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi, seperti kegiatan untuk memenuhi kepentingan ekonomi para anggotanya pada tingkat usaha yang efektif dan efisien. Disamping itu, perlu dilakukan audit terhadap koperasi di sektor pertanian yang saat ini dikategorikan bermasalah. Audit ini sekaligus merupakan proses penyaringan sehingga nantinya koperasi ini dapat berkelanjutan dan diperoleh koperasi yang bersih dari pelanggaran.

(22)

pembentukan koperasi sekunder di tingkat nasional dengan pendekatan subsidiritas. Selain itu, untuk mendistribusikan hasil produknya dapat bekerjasama dengan koperasi yang lain sehingga selain koperasi melayani para anggotanya secara efektif, koperasi tersebut juga dapat memperkuat gerakan koperasinya dengan bekerjasama melalui organisasi koperasi tingkat local, nasional, regional, bahkan sampai internasional.

Disamping itu, juga perlu adanya program peningkatan kualitas kelembagaan koperasi di wilayah pedesaan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi agar koperasi mampu tumbuh dan berkembang secara sehat sesuai dengan jati dirinya menjadi wadah kepentingan bersama bagi anggotanya untuk memperoleh efisiensi kolektif. Dengan demikian, diharapkan gerakan koperasi di pedesaan akan tertata dan berfungsi dengan baik, infrastruktur pendukung pengembangan koperasi semakin lengkap dan berkualitas, lembaga gerakan koperasi semakin berfungsi efektif dan mandiri, dan praktek berkoperasi yang baik semakin berkembang di kalangan masyarakat pedesaan.

III. KESIMPULAN dan SARAN

Kesimpulan

Konsep koperasi adalah konsep umum di dunia. Di berbagai negara, koperasi ini dijadikan sebagai salah satu bentuk dari suatu badan usaha yang dimiliki oleh banyak orang dengan prinsip satu orang satu suara. Ide koperasi sesungguhnya berasal dari negara Eropa. Tetapi ketika konsep koperasi ingin diterapkan di Indonesia yang digagas oleh Bung Hatta, ada perbedaan yang paling mendasar mengenai konsep koperasi Indonesia. Diantaranya adalah di Indonesia koperasi diberi peran utama sebagai bagian dari pembangunan dalam rangka mengentaskan kemiskinan, koperasi mempunyai peran agar jiwa dan semangatnya juga berkembang di perusahaan swasta dan Negara, serta perbedaan prinsip Koperasi yang mendasar. Jati diri Koperasi adalah kesatuan dari definisi, nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Perlu adanya penjenihan kembali citra koperasi di mata masyarakat pedesaan agar gerakan koperasi dapat diterima kembali oleh masyarakat pedesaan. Pemberdayaan masyarakat sekitar juga sangat diperlukan dalam upaya pengembangan gerakan koperasi di pedesaan, seperti pemberdayaan capital dan pemberdayaan knowledge. Serta adanya peningkatan kualitas kelembagaan koperasi di wilayah pedesaan juga sangat membantu dalam upaya pengembangan gerakan koperasi. Peran dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Dewan Koperasi Indonesia, dan lembaga-lembaga dan pelatihan perkoperasian yang dimiliki oleh Negara juga sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya gerakan koperasi di wilayah pedesaan.

Saran

Perbedaan yang ada pada prinsip koperasi antara hasil Kongres ICA pada tahun 1995 dengan UU No. 25 Tahun 1992 jangan dijadikan perdebatan tetapi sebagai bahan pengawasan untuk membangun koperasi Indonesia menjadi lebih baik lagi.

(23)

kepentingan dan kesejahteraan anggotanya sebagai tujuan

dari koperasi dapat tercapai.

IV. DAFTAR PUSTAKA

http://mediaindo.co.id/mediaanda/default.asp?page=36 diakses tanggal 14 Maret 2009 pukul 19.41

[email protected] diakses tanggal 14 Maret 2009 pukul 19.54

Osa, stefanus. 2006. Koperasi “Berperilaku” Rentenir.

http//:www.kompas.com. [diakses pada 14 Maret 2009]

Referensi

Dokumen terkait

luar (bukan warga pasar) sekalian halal bihalal lah. Sudah saya rencanakan biar semua enak. Ya terimakasih juga mereka sudah ikut koperasi kami. Jadi awalnya,

Untuk memberikan pelayanan yang baik kepada anggota Koperasi Simpan Pinjam Karya Bersama Lestari dan mempermudah proses kerja karyawan , maka penulis merancang sebuah

(2) Penumbuhan iklim usaha koperasi sebagaimana dimaksud pada ayat ( 1) , dilaksanakan oleh Pemerintah Kota, bersama dengan Dunia U saha dan masyarakat secara sinergis,

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah Kota Bandung terutama Dinas Koperasi UKM dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung, sehingga

Kantor Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Kabupaten M agelang adalah salah satu Dinas penghasil bagi pendapatan Asli daerah Khususnya pada pengelolaan pasar,kinerja

Kami pun mengundang para pelaku dalam membutuhkan kelembaggan bagi koperasi yang akan kami bantu” Karawang, 9 Kamis 2018 Dari pernyataan di atas menjelaskan bahwa langkah awal untuk