• Tidak ada hasil yang ditemukan

Seminar Nasional Sustainability dalam Bi (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Seminar Nasional Sustainability dalam Bi (1)"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

KONSTRUKSI RAMPING UNTUK MENCAPAI KONSTRUKSI YANG

BERKELANJUTAN

1

Muhamad Abduh2

Abstrak:

Konstruksi yang berkelanjutan (sustainable construction) sudah menjadi tema yang populer dan selalu menjadi rujukan dalam menilai sejauh mana kinerja produk jasa konstruksi saat ini terutama di negara yang sudah maju. Spesifikasi umum dan teknis yang harus dipenuhi dalam suatu proyek konstruksi akan ditambahkan dengan beberapa kriteria yang terkait dengan pencapaian konstruksi yang berkelanjutan ini. Terdapat konsekuensi dari kebutuhan ini berupa peningkatan biaya proyek yang berkisar antara 5% hingga 10%. Pada makalah ini akan disampaikan mengenai konsep konstruksi yang berkelanjutan serta konsekuensinya. Selain itu akan didiskusikan pula konsep konstruksi ramping (lean construction) yang merupakan bagian penting untuk mencapai konstruksi yang berkelanjutan dengan usaha pengurangan pemborosan (waste) sebagai ‘trade-off’ dari kecenderungan biaya yang relatif lebih tinggi untuk mencapai spesifkasi konstruksi yang berkelanjutan.

Kata Kunci: konstruksi yang berkelanjutan, konstruksi ramping, production control, supply chain management, work structuring

1. Pendahuluan

Saat ini kebutuhan akan fasilitas fisik atau sarana dan prasarana untuk mendukung kehidupan

manusia tidak hanya ditujukan untuk kehidupan sesaat dan terbatas, tetapi harus juga ditujukan

untuk kehidupan yang akan datang. Hal ini merupakan suatu kesadaran yang terlambat namun

penting untuk segera dilakukan akan pentingnya pembangunan fasilitas fisik yang

memperhatikan aspek keberlanjutan atau sustainable development. Terkait dengan kebutuhan

akan hal tersebut pada industri konstruksi, maka konsep kontruksi yang berkelanjutan

(sustainable development) menjadi penting karena industri konstruksi merupakan mata rantai

signifikan untuk mendukung pengembangan fasilitas fisik. Manfaat dari konsep konstruksi yang

berkelanjutan adalah nyata dan besar untuk dan menciptakan kehidupan yang berkualitas,

seperti penghematan energi, kualitas lingkungan yang baik, fasilitas fisik yang sehat,

peningkatan produktivitas, dan penggunaan sumber daya yang minimal.

Namun demikian, pemenuhan terhadap konsep konstruksi yang berkelanjutan ini memberikan

konsekuensi kepada industri konstruksi untuk menambah syarat atau spesifikasi yang pada

akhirnya membutuhkan peningkatan jumlah serta kualitas sumber daya yang lebih, seperti

kebutuhan akan tenaga profesional multidisiplin, tingkat analisa yang lebih dalam dan

kompleks, pemilihan material dan metoda yang lebih hati-hati, kebutuhan sertifikasi, dan

1

Disampaikan pada Seminar Nasional: ”Sustainability dalam Bidang Material, Rekayasa, dan Konstruksi Beton”, Kelompok Keahlian Rekayasa Struktur, FTSL, ITB, 4 Desember 2007

2

(2)

lain. Pada akhirnya, semua konsekuensi dari konstruksi yang berkelanjutan akan meningkatkan

biaya konstruksi cukup signifikan mulai 5% hingga 10% (Smith, A dalam Lapinski 2006). Hal

ini tentunya akan membuat konsep konstruksi yang berkelanjutan ini tidak menarik untuk

diimplementasikan.

Di lain pihak, secara umum, industri konstruksi masih bergelut dengan permasalahan

ketidakefisienan dalam pelaksanaan proses konstruksinya. Masih terlalu banyak pemborosan

(waste) berupa kegiatan yang menggunakan sumber daya tetapi tidak menghasilkan nilai yang

diharapkan (value). Berdasarkan pada data yang disampaikan oleh Lean Construction Institute,

pemborosan pada industri konstruksi sekitar 57% sedangkan kegiatan yang memberikan nilai

tambah hanya sebesar 10%. Jika dibandingkan dengan industri manufaktur, maka industri

konstruksi harus belajar banyak dari industri manufaktur dalam mengelola proses produksinya

sehingga jumlah waste dapat dikurangi dengan sekaligus meningkatkan value yang didapat.

Industri konstruksi telah mengadopsi dan belajar dari industri manufaktur dengan melakukan

adopsi teori produksi yang dinamakan Lean Production kapada proses konstruksi, yang

selanjutnya disebut Konstruksi Ramping (Lean Construction) (Koskela 1992).

Konstruksi ramping, dalam hal ini, tentunya akan signifikan untuk diterapkan pada konstruksi

pada umumunya, dan seperti gayung yang bersambut untuk menjawab tantangan terhadap

permasalahan implementasi konstruksi yang berkelanjutan.

2.

Konstruksi yang Berkelanjutan

Konstruksi yang berkelanjutan adalah suatu konsep yang ditawarkan oleh pelaku di industri

konstruksi untuk menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan yang berkelanjutan

(sustainable development) (Huovila dan Koskela 1998). Pengembangan yang berkelanjutan

sendiri adalah konsep pembangunan yang ditujukan untuk menyediakan kualitas kehidupan

yang lebih baik untuk semua orang saat ini dan untuk generasi yang akan datang. Dalam hal ini

pengembangan yang berkelanjutan melingkupi tiga tema penting, yaitu sosial, lingkungan dan

ekonomi (Khalfan 2002) seperti terlihat dalam Gambar 1. Pengembangan yang berkelanjutan

(3)

Gambar 1: Tema Pengembangan yang Berkelanjutan (Khaflan 2002)

Pengembangan yang berkelanjutan sering diartikan hanya pada tema pelestarian lingkungan

semata. Namun sebenarnya, sebagaimana tergambar pada gambar di atas, permasalahan

keberlanjutan (sustainability) tidak hanya masalah lingkungan. Masalah lingkungan akan sangat

terkait dengan isu-isu lain, seperti kemiskinan, kependudukan, pengangguran dll., dan kadang

merupakan akar permasalahan dari masalah lingkungan. Tantangan-tantangan yang dihadapi

setiap negara akan berbeda tergantung sejauh mana negara tersebut telah berkembang (Hart

1997).

Praktek konsep konstruksi yang berkelanjutan saat telah dilakukan dengan tingkat yang

berbeda-beda untuk setiap industri konstruksi di berbagai negara sesuai dengan sejauh mana

perkembangan atau kemajuan masing-masing negara. Untuk negara-negara berkembang seperti

di Indonesia, tema sosial-ekonomi yaitu penyediaan lapangan kerja lebih tinggi dibandingkan

dengan tema lingkungan. Sebaliknya negara-negara maju telah dengan sangat cepat menerapkan

spesifikasi ketat pada industri konstruksi pada tema lingkungan, seperti negara Belanda,

Finlandia, Amerika, Inggris, Irlandia, Belgia, Jepang, Afrika Selatan, Romania, Italia, Perancis

dan Spanyol (Huovila dan Koskela 1998). Sebagai catatan di sini, untuk Indonesia, konsep

konstruksi yang berkelanjutan ini masih sebatas slogan semata, belum masuk kepada ranah

implementasi yang terkonsepsi dan teroganisasi dengan baik oleh berbagai pihak yang ada di

industri konstruksi.

Ada terdapat enam prinsip dalam konstruksi yang berkelanjutan (Kibert 1994):

1. Meminimalkan konsumsi sumber daya

2. Maksumalkan pemanfaatan kembali (re-use) sumber daya

3. Menggunakan sumber daya yang terbarukan (renewable) dan didaur ulang (recycleable)

4. Melestarikan lingkungan alam

5. Menciptakan lingkungan yang sehat dan tidak berbahaya

(4)

Berdasarkan hal tersebut, telah berkembang beberapa inisiatif dan strategi pelaksanaan

konstruksi yang berkelanjutan pada beberapa industri di beberapa negera, seperti:

1. Green Buildings yang merupakan kombinasi tata ruang, perancangan bangunan, proses

konstruksi yang dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan sekitarnya.

2. Sustainable Design yang merupakan langkah awal dan paling menentukan dalam

menciptakan spesifikasi untuk konstruksi yang berkelanjutan.

3. Environmental Assessment sebagai alat untuk mereview dan meningkatkan kinerja

rencana atau rancangan terhadap lingkungannya.

4. Lyfe Cycle Cost (LCC) dan Life Cycle Assessment (LCA) merupakan alat untuk

menilai sejauh mana dampak ekonomi dan juga lingkungan dari suatu rancangan dan

pelaksanaan konstruksi.

5. Standards yang merupakan spesifikasi untuk perusahaan menerapkan pengelolaan

lingkungan yang baik, seperti keluarga ISO 14000.

Masih terlihat pada contoh inisiatif dan strategi di atas, bahwa konstruksi yang berkelanjutan

masih terfokus kepada lingkungan dan sedikit ekonomi. Belum ada strategi yang fokus kepada

tema ekonomi secara lengkap, begitu pula kepada tema sosial, apa lagi yang fokus kepada

semua tema secara terpadu.

3. Konsep Konstruksi Ramping

Pada intinya, konstruksi ramping merupakan penerapan lean principles yang diterapkan pada

industri manufaktur kepada industri konstruksi dengan tujuan untuk meningkatkan value dan

mengurangi waste. Prinsip-prinsip lean adalah sebagai berikut (Womack dan Jones, 1996):

1. Value. Pendefinisian nilai harus sangat spesifik dan dilakukan oleh customer akhir.

2. The Value Stream. Harus didesain sedemikian rupa sehingga terdapat perpindahan nilai

yang terdefinisi dari suatu kegiatan ke kegiatan yang lain, mulai dari kegiatan

problem-solving di awal, kemudian ke kegiatan pengelolaan informasi, dan kepada kegiatan

transformasi dari material mentah hingga produk akhir.

3. Flow. Perpindahan nilai tersebut harus dilakukan secara mengalir, tidak ada hambatan.

4. Pull. Untuk menghindari produk yang tidak terpakai, dan mengurangi waste, maka

produk sebaiknya diproduksi ketika diminta oleh pengguna.

5. Perfection. Kegiatan memperbaiki semua proses dengan terus menerus harus dilakukan

untuk mencapai kesempurnaan.

Untuk melaksanakan konstruksi ramping pada setiap tahap, terdapat alat (tools) yang

dibutuhkan untuk menciptakan rangkaian value dan flow yang baik dengan alat Work

(5)

ramping merupakan alat manajemen yang sudah ada sejak lama di dunia manufaktur dan telah

diterapkan dengan berhasil, seperti supply chain management, pre-fabrication, pre-assembly,

standardization, constructability, just in time dan lain-lain. Selanjutnya akan dijelaskan secara

singkat beberapa alat tersebut, yaitu work structuring, supply chain management dan production

control.

3.1. Work Structuring

Work Structuring (WS) adalah terminologi yang diciptakan oleh Lean Construction Institute

(LCI) untuk kegiatan pengembangan rancangan proses dan operasi yang dilakukan bersamaan

seiring dengan perancangan produk, penentuan struktur supply chain, pengalokasian sumber

daya dan usaha perancangan untuk pelaksanaan. Tujuan dari WS ini adalah untuk membuat

aliran kegiatan yang lebih andal dan cepat tanpa mengurangi value kepada customer. Dalam

perancangan proses tersebut, variasi produktivitas antar pekerjaan dan juga interaksi antar

pekerjaan harus dipertimbangkan. Dengan demikian akan diharapkan dapat meminimalkan

waste baik berupa inventory maupun work in process.

WS ini merupakan hal yang biasanya tidak banyak dilakukan pada saat tahapan perancangan

(design) berlangsung. Karena biasanya perancang (designer) hanya melakukan perancangan

produk (product design) saja yang harus sesuai dengan kebutuhan customer atau owner, namun

tidak merancang bagaimana proses produksinya. Biasanya diasumsikan bahwa pihak kontraktor

yang akan melakukannya. Ini merupakan praktek dan permasalahan fragmentasi di dunia

konstruksi yang terpecah belah menjadi banyak pihak yang terlibat pada seluruh daur hidup

proyek konstruksi. Waste banyak terjadi karena hasil rancangan tidak dapat dilaksanakan oleh

pihak pelaksana karena terjadinya miskomunikasi.

Sebenarnya terdapat praktek yang telah dilakukan saat ini bahwa perancang melakukan juga

kajian kemampu-laksanaan suatu proyek konstruksi yang biasa disebut constructability dan

usulan metoda pelaksanaan dari perancang untuk rancangan yang dibuatnya. Tetapi hal ini

terkadang masih belum memadai, karena tidak dibarengi dengan antisipasi hal-hal penting

lainnya seperti perancanaan sumber daya serta struktur supply chain-nya. Pada konsep

konstruksi ramping hal tersebut menjadi kunci untuk mengurangi variasi dan tentunya

ketidakpastian yang mungkin terjadi pada saat pelaksanaan di lapangan.

Jika tahapan pelaksanaan konstruksi diasumsikan telah ditetapkan dengan tahapan yang telah

disampaikan pada bagian pendahuluan dan constructability telah dilakukan pada saat design,

maka Gambar 2 berikut ini adalah jadwal yang disusun dengan menggunakan metoda linear

(6)

dilakukan. Pada gambar ini, WS merupakan usaha perubahan penjadwalan dengan

memperhatikan keseimbangan produktivitas antar pekerjaan untuk menciptakan aliran yang

baik.

Gambar 2: Penyeimbangan Pekerjaan dengan WS

Garis yang solid pada Gambar 2 menunjukkan jadwal awal yang hanya direncanakan dengan

menggunakan perkiraan produktivitas masing-masing pekerjaan tanpa melihat keterkaitannya

dengan pekerjaan lain dan keseimbangan antar pekerjaan. Terlihat bahwa terdapat pemborosan

karena sumber daya yang akan melakukan pekerjaan Pekerjaan 2 pada Seksi 2 harus menunggu

lahan selesai digunakan oleh sumber daya yang mengerjakan pekerjaan Pekerjaan 1 yang belum

selesai. Di lain pihak, pekerjaan Pekerjaan 2 meninggalkan tempat kerja yang kosong untuk

beberapa lama sebelum Pekerjaan 3 dapat dilaksanakan di Seksi 2. Konsep penyeimbangan

dilakukan untuk mengurangi pemborosan tersebut di atas yang digambarkan dengan

penyeimbangan produktivitas seluruh pekerjaan. Tentunya penyeimbangan ini tidak hanya ada

di atas kertas dalam bentuk perencanaan jadwal, tetapi juga harus dibarengi dengan pembagian

tim kerja yang baik, mempertimbangkan kondisi lapangan, perencanaan produktivitas yang

ditentukan serta supply chain yang baik.

3.2. Supply Chain Management

Waktu Seksi

Seksi 1 Seksi 2

Pekerjaan 1 Pekerjaan 2 Pekerjaan 3

(7)

Supply Chain Management (SCM) dalam konteks proyek konstruksi adalah kegiatan mengatur,

mengkoordinasikan, dan mengintegrasikan aliran material dengan aliran informasi di antara

seluruh pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi. Kondisi konstruksi ramping dalam SCM

dicapai bila setiap stakeholder telah memiliki kesamaan visi dalam mencapai tujuan proyek.

Pada kondisi ini terlihat bahwa waste yang berhubungan dengan aliran material dan aliran

informasi dapat diminimalkan bahkan dihilangkan. Hubungan antar stakeholder diikat dalam

bentuk relational contract sehingga koordinasi antar stakeholder baik secara horizontal maupun

secara vertical dapat berlangsung dengan lebih baik lagi.

Dengan demikian SCM merupakan pengelolaan seluruh pihak yang terlibat dalam mensuplai

sumberdaya mulai dari hulu hingga hilir rantai kegiatan. Pengelolaan tersebut ditekankan agar

dapat menghindari penumpukan sumber daya yang tidak berguna (waste) dan terjadi flow antara

kegiatan yang memerlukan sumber daya tersebut. Sehingga SCM akan sangat erat kaitannya

dengan sistem outsourcing dan procurement serta hubungan antar pihak yang terkait.

Pada Gambar 3 yang dikembangkan oleh O’Brien et. al. (2002), terlihat keterlibatan beberapa

pihak dalam proses produksi yang terjadi di dalam site (in site production), juga menunjukkan

adanya rangkaian pihak yang menunjukkan proses produksi yang terjadi luar site (off site

production). Rangkaian aktifitas subkontraktor sebagai pihak yang memberikan input pada site

konstruksi dipahami sebagai pihak yang dapat melakukan proses produksinya diluar site.

Pada intinya, SCM harus dilaksanakan untuk menjamin value yang sudah ditetapkan tidak akan

berkurang sehubungan dengan terdapatnya banyak pihak yang terkait yang terkadang berada di

luar pengendalian. Pihak-pihak yang berada dalam pengendalian, tetap memerlukan pengelolaan

yang baik agar terdapat kesamaan tujuan dalam penciptaan rangkaian value dan terjadi aliran

yang diharapkan sebagaimana yang telah dirancang dalam work structuring. Bagi pihak-pihak

yang berada di luar kendali, yang tidak ada ikatan kerja sama, memang berat untuk dikelola,

tetapi seharusnya lewat pihak yang ada ikatan kerja sama, pesan kebutuhan pemenuhan prinsip

lean harus dapat dilakukan, misalnya dengan pendekatan partnering maupun kontrak relational.

Terdapat banyak kasus, owner ataupun kontraktor melakukan kontrak kerjasama jangka panjang

dengan supplier (seperti material beton ready-mix dan material semen) untuk mendukung

logistik proyek meskipun suatu pekerjaan yang dipasok logistiknya tersebut dilakukan oleh

sub-kontraktor. Dengan semakin dapat dikendalikannya pihak-pihak yang terlibat dalam supply

chain proyek maka work structuring yang dibuat dapat lebih andal untuk dilaksanakan dan

(8)

Gambar 3: Konseptual Rantai Pasok Proyek Konstruksi (O’Brien et al., 2002)

3.3. Production Control

Pada praktek yang sering dilakukan pengendalian hanya berupa penilaian pelaksanaan pekerjaan

dan membandingkanya dengan perencanaan yang dilakukan. Padahal terkadang perencanaan

yang dilakukan, misalnya dengan work structuring, belum tentu dapat diandalkan. Sehingga ada

kemungkinan deviasi yang terjadi bukan karena kinerja pelaksanaan yang buruk, tetapi lebih

kepada perencanaan yang tidak realistis. Dalam sistem pengendalian produksi dengan konsep

konstruksi ramping, praktek tersebut dapat diperbaiki dengan menggunakan sistem the Last

Planner (Ballard, 2000b).

Sistem the Last Planner ini merupakan usaha melihat kembali apa yang telah direncanakan

sebelum dieksekusi oleh personil yang paling kompeten akan pekerjaan yang direncanakan dan

akan melaksanakan pekerjaan tersebut. Personil tersebut selanjutnya sebagai the last planner.

Dengan adanya sistem ini, akan terdapat penilaian kondisi lapangan yang ada baik sumber daya

maupun lokasi yang akan memberikan input untuk evaluasi perencanaan yang sudah ada

sebelum perencanaan tersebut dilaksanakan. Hasil koreksi tersebut kemudian yang akan

dilaksanakan di lapangan. Dengan adanya sistem the Last Planner, maka prinsip push (di mana

pekerja lapangan harus melaksanakan apa yang direncanakan) yang biasa dilakukan akan

digantikan dengan sistem pull sesuai dengan konsep konstruksi ramping.

Dalam sistem ini, terdapat indicator kinerja yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aliran

pekerjaan dapat tercapai dengan baik, yaitu Percent Planned Completed (PPC). PPC merupakan

ukuran sejauh mana flow yang direncanakan dapat berjalan. Sistem the Last Planner akan

berhasil jika PPCnya tinggi. Untuk mendukung sistem ini terdapat penambahan detail

perencanaan sebagai alat untuk dapat mendeteksi keandalan rencana dan kemungkinan

(9)

ahead plan), dan jadwal utama (master schedule) menjadi kombinasi yang dinamis dan penting

dalam sistem ini.

Gambar 4: Sistem Push (kiri) dan Pull (kanan) pada Production Control (Ballard 2000b)

4. Konstruksi Ramping untuk Mencapai Konstruksi yang Berkelanjutan

Sebagaimana telah disampaikan pada awal makalah ini, terdapat permasalahan implementasi

pada awal konsep konstruksi yang berkalanjutan dilakukan, yaitu terdapatnya peningkatan biaya

untuk memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Dalam hal ini konstruksi ramping menjadi

jawaban yang dibutuhkan untuk menjadi trade-off antar biaya tambahan yang muncul untuk

mengakomodasi spesifikasi konstruksi yang berkelanjutan dengan pengurangan pemborosan

yang terjadi dengan melakukan konstruksi ramping. Namun tidak hanya itu saja, konstruksi

ramping dapat juga digunakan untuk memaksimalkan nilai (value) yang diperlukan. Dalam

rangka pengurangan pemborosan yang terjadi ketika pelaksanaan proyek konstruksi, maka

alat-alat konstruksi ramping dapat diterapkan untuk mengurangi kegiatan yang tidak memberikan

nilai tambah, mengurangi variasi, meningkatkan waktu siklus, serta untuk mencegah terjadinya

pemborosan lainnya di lapangan. Selanjutnya, dalam rangka memaksimalkan nilai, maka analisa

nilai dalam prinsip lean perlu dilakukan, yang akan menganalisa rantai nilai (value chain) yang

terjadi di proyek konstruksi. Dalam hal ini nilai tambahan yang harus disampaikan kepada

(10)

Jika dilihat lebih luas dari sisi daur hidup produk konstruksi, yang biasa disebut sebagai daur

hidup proyek karena produksi konstruksi selalu dilaksanakan berbasis proyek, maka konsep

rantai nilai ini menjadi apa yang disebut lean project delivery system (Ballard 200a). Hal ini

perlu diperhatikan karena proses produksi di konstruksi terkait dengan berbagai tahapan dan

juga terkait dengan berbagai pihak yang mungkin terlibat tergantung kepada project delivery

system digunakan.

Tahapan-tahapan dalam suatu daur hidup proyek tersebut akan membentuk suatu rantai yang

saling berkaitan erat untuk mencapai suatu tujuan tertentu, yaitu nilai yang diharapkan oleh

pengguna akhir (Gambar 5). Tujuan tersebut harus dapat diakomodir oleh tiap-tiap tahapan agar

proses yang akan dilakukan di dalam setiap tahapan dapat mencapai nilai yang sama seperti

yang diharapkan pada awalnya. Nilai tersebut dapat menjadi pengendali (control)

kegiatan-kegiatan yang dilakukan di dalam setiap tahapan. Untuk dapat mencapai nilai yang diharapkan,

maka perlu dilakukan suatu rancangan terhadap kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada

tiap-tiap tahapan. Kegiatan-kegiatan tersebut selanjutnya dapat dijadikan sebagai acuan dan

mengidentifikasi apakah suatu tahapan serta proyek tersebut telah mencapai tujuannya atau

tidak.

Gambar 6: Rantai Nilai pada suatu Daur Hidup Proyek Konstruksi

Dengan menggunakan analisa nilai pada rantai nilai suatu daur hidup proyek konstruksi, maka

akan didapatkan suatu aksi-aksi yang perlu dilakukan pada setiap tahap, terutama tahapan

perencanaan, perancangan dan pelaksanaan, untuk mencapai nilai keberlanjutan sebagaimana

tergabar pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Aksi-aksi Menuju Konstruksi yang Berkelanjutan pada Tahapan Proyek

Project Phases Stakeholder Themes for Action

Re-use of existing built assets

Preserve and enhance bio-diversity

Respect people and their local environment Planning Owner

Designer

Set targets

(11)

Design for minimum waste

Respect people and their local environment Construction Owner

Contractor

Set targets

Aksi-aksi tersebut telah juga dilakukan oleh beberapa negara dalam suatu strategi implementasi

konstruksi yang berkelanjutan. Departemen Lingkungan, Transportasi dan Wilayah di Inggris,

sebagai contoh telah menetapkan suatu best practice untuk menerapkan konsep konstruksi yang

berkelanjutan dengan menetapkan 10 aksi praktis untuk perusahaan konstruksi lakukan (DETR

2000). Salah satu yang penting dari aksi-aksi tersebut adalah usaha untuk mencapai konstruksi

ramping (aim for lean construction).

Aksi-aksi untuk menuju konstruksi yang berkelanjutan dengan menggunakan pendekatan

konstruksi ramping ini telah banyak dilakukan dan telah berhasil mengurangi kesan bahwa

konstruksi yang berkelanjutan tidak bisa dicapai tanpa penambahan biaya. Cerita sukses adalah

pelaksanaan proyek pembangunan beberapa fasilitas oleh Toyota dan General Services

Administration (GSA) di Amerika Serikat (Lapinski et al 2006). Toyota daalam membangun

fasilias fisiknya telah memenuhi konsep konstruksi yang berkelanjutan dengan mendapatkan

sertfikat tingkat emas dari US Green Building Council’s Leadership in Energy and

Enviromental Design (LEED) tanpa ada tambahan biaya, karena menerapkan konsep konstruksi

ramping dalam proses pelaksanaan proyeknya. Sedangkan GSA mendapatkan pula sertifikat

tingkat perak dari LEED untuk fasilitas yang dibangunnya dengan hanya ada tambahan biaya

2.5% karena menerapkan prinsip lean dalam pelaksanaan proyek konstruksinya.

5. Penutup

Sudah menjadi kebutuhan di industri konstruksi bahwa konstruksi yang berkelanjutan harus

(12)

fasilitas fisik maupun pelaksana konstruksinya. Konstruksi ramping, sebagai sebuah inovasi,

telah menyediakan suatu trade-off antara peningkatan biaya karena spesifikasi yang meningkat

untuk pemenuhan prinsip keberlanjutan dengan pengurangan pemborosan saat pelaksanaan

proses konstruksi dari tahap awal hingga akhir. Selain itu, konstruksi ramping, menyediakan

kepastian capaian nilai keberlanjutan dari awal tahapan hingga akhir serta oleh semua pihak

yang terkait dalam daur hidup proyek konstruksi. Dengan demikian, konstruksi ramping dapat

memberikan kepastian capaian konsep keberlanjutan, terutama tema ekonomi dan lingkungan,

dapat tercapai dalam implementasi konstruksi yang berkelanjutan.

6. Referensi

Abduh, M., dan Roza, H.A. “Indonesian Contractor Readiness towards Lean Construction”,

Prosiding the 14th Annual Conference of the International Group of Lean Construction

(IGLC-14), Santiago, Chile, July 2006.

Ballard, G., “Lean Project Delivery System”, White Paper 8, Lean Construction Institute,

2000a.

Ballard, G., “The Last Planner System of Production Control.” Ph.D. Dissertation, School of

(13)

DETR. “Building for Better Quality of Life: A Strategy fo more Sustainable Construction”.

Department of the Environment, the Transport and the Regions (DETR), Report, United

Kingdom, 2000.

Khalfan, M.M.A. ”Sustainable Development and Sustainable Construction.” Work in Progress,

A Literature Review fo C-SanD, Date: 21/1/2002

Kibert, C.J. “Establishing Principles and a Model for Sustainable Construction.” Proceedings of

the 1st International Conference on Sustainable Construcition, Tampa, Florida, USA,

November 1994.

Koskela, L. “Application of the New Production Philosophy to the Construction Industry, CIFE

Technical Report No. 72, CIFE, Stanford University, 1992.

Lapinski, A.R., Horman, M.J., and Riley, D.R. “Lean Processes for Sustainable Project

Delivery.” ASCE Journal of Construction Engineering and Management, October,

2006.

Hart, S. “Beyond Greening.” Harvard Business Review, January-February, 1997.

Huovila, P., dan Koskela, L. “Contribution of the Principles of Lean Construction to Meet the

Challenges of Sustainable Development.” Proceedings of the 6 th Annual Conference

on Lean Construction, Brazil, August 1998.

O’Brien, London, dan Vrijhoef. “Construction Supply Chain Modeling: A Research Review and

Interdisciplinary Research Agenda”, Proc.10th Annual Conf. of the International Group

for Lean Construction, 2002.

Smith

Gambar

Gambar 1: Tema Pengembangan yang Berkelanjutan (Khaflan 2002)
Gambar 2: Penyeimbangan Pekerjaan dengan WS
Gambar 3: Konseptual Rantai Pasok Proyek Konstruksi (O’Brien et al., 2002)
Gambar 4: Sistem Push (kiri) dan Pull (kanan) pada Production Control (Ballard 2000b)
+2

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nilai panen cempe Kambing Kacang di Kabupaten Konawe Utara adalah 167,71% dengan interval beranak ( kidding

[r]

Uraian dari ketiga unsur tersebut menggambarkan bahwa pendekatan sosiologi sastra lebih tepat dengan masalah dan tujuan penelitian yang dilakukan, karena penelitian

Narasumber lainnya juga melakukan kegiatan serupa ketika menemukan konten berita hoaks di akun media sosialnya, akan tetapi cara yang ditempuh oleh Fathur dalam

Nilai rasa yang terkandung dalam bentuk penggunaan kebahasaan disfemia pada berita politik dalam surat kabar Fajar edisi Maret 2020, ada lima nilai rasa yang

'Syakubuku' dalam penyebarluasan, juga dibabarkan tentang kebajikan dari para Bodhisattva yang welas asih kepada semua orang. Sehingga, tidak dapat dikatakan bahwa sutra ini

Penelitian dilakukan pada 28 sefalogram lateral kasus borderline klas I yang dirawat dengan teknik straight wire, terdiri dari 2 kelompok (13 kasus dengan pencabutan dan 15