• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME MAKALAH ABU BAKAR SEBAGAI KEPALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RESUME MAKALAH ABU BAKAR SEBAGAI KEPALA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME MAKALAH

ABU BAKAR SEBAGAI KEPALA NEGARA

Disampaikan Pada Seminar Kelas Mata Kuliah Sejarah & Peradaban Islam

Semester I Program Magister (S2)

Oleh: IKE FAUZIAH

Dosen Pemandu:

Prof. Dr. H. Abd. Rahim Yunus, M.A Dr. Hasaruddin, S.Ag., M.Ag

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER (S2)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN

(2)

A. Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq

1. Riwayat Abu Bakar ash-Shiddiq

Abu Bakar Ash-Shiddiq memiliki nama asli Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin

Amir bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin

Ghalib, al-Quraisyi, at-Tamimi. Serta nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah di

kakeknya, Murrah1.

Abu Bakar lahir di kota Makkah dua tahun setelah lahirnya Rasulullah SAW. Adapun

gelar ash-Shiddiq yang disandangnya merupakan sebagai sebuah penilaian terhadap sikapnya

yang senantiasa jujur dan benar selain itu dialah yang bersegera dalam membenarkan

Rasulullah saw. seperti dalam peristiwa Isra’ danMi’raj.

Selain itu Abu Bakar memiliki gelar al-Atiq, karena dia termasuk 10 sahabat yang

dijamin masuk surga sehingga terlepas dari neraka sebagaimana ini yang terdapat dalam

riwayat at-Tirmidzi. Juga disebutkan bahwa gelar itu karena wajahnya yang rupawan atau ada

yang mengatakan karena keturunannya tidak ada yang mengandung aib2.

2. Proses Pengangkatan Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi Khalifah

Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin keagamaan dan pemimpin politik sekaligus. Ia

adalah nabi yang terakhir. Tidak mungkin ada nabi sepeninggal beliau. Artinya, posisi

sebagai pemimpin keagamaan (setingkat nabi) tidak mungkin ada yang meneruskan tetapi

sebagai pemimpin politik (setingkat kepala negara) dapat saja digantikan dan diteruskan oleh

sahabat beliau.

Pertanyaannya: siapa yang menggantikan beliau sebagai pemimpin politik, apa syaratnya

dan bagaimana caranya?

Wafatnya Rasul membuat Madinah bising dengan tangisan. Umat pun bertanya-tanya

siapa yang akan memimpin mereka. Sebagian sahabat terkemuka rupanya sudah memikirkan

(3)

hal itu dan berkumpul di "balairung" safiqah di perkampungan Bani Sa'idah. Yang mula-mula

berkumpul disana adalah golongan Anshar, yang terbagi pada suku Kharaj dan 'Aus. Umar

rupanya mendengar pertemuan tersebut. Ia mencari Abu Bakar dan menerangkan gawatnya

persoalan. Umar berkata: "Saya telah mengetahui kaum Anshar sedang berkumpul di Safiqah,

mereka merencanakan untuk mengangkat Sa'ad bin Ubadah untuk menjadi pemimpin (ia dari

suku Khazraj). Bahkan diantara mereka ada yang mengatakan dari kita seorang pemimpin

dan dari Quraisy seorang pemimpin (minna amir wa minkum amir). Ini dapat membawa pada

dualisme kepemimpinan yang tak pelak lagi akan menggoyang "bayi" umat Islam.

Setelah mengerti betapa gawatnya pesoalan, Abu Bakar mengikuti Umar ke Safaqah. Di

tengah perjalanan keduanya bertemu Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan ia diajak ikut serta.

Ketika mereka tiba telah hadir terle bih dulu beberapa kaum muhajirin yang tengah terlibat

perdebatan sengit dengan kaum Anshar. Umar yang menyaksikan di depan matanya bahwa

Muhajirin dan Anshar akan mencabik-cabik ukhuwah Islamiyah, hampir tak kuasa menahan

amarah dirinya. Saat ia hendak berbicara, Abu Bakar menahannya.

Setelah mendengar perdebatan yang terjadi, Abu Bakar mulai berbicara dengan tenang

dan ia mengingatkan bahwa bukankah Nabi pernah bersabda: al-aimmah min Quraisy

(kepemimpinan itu berada di tangan suku Quraisy).3 "Kami pemimpin (umara) dan kalian

"menteri/pembantu (Wizara). Telah bersabda Rasul bahwa dahulukan Quraisy dan jangan

kalian mendahuluinya."

Abu Bakar tak lupa mengingatkan pada kaum Anshar akan sejarah pertentangan kaum

Khazraj dan aus yang bila meletup kembali (dengan masing-masing mengangkat pemimpin)

akan membawa mereka semua ke alam jahiliyah lagi. Kemudian Abu Bakar menawarkan dua

tokoh Quraisy, Umar dan Abu Ubaidah. Kearifan Abu Bakar dalam berbicara ditengah

suasana penuh emosional rupanya mengesankan mereka yang hadir. Umar menyadari hal ini

(4)

dan ia mengatakan pada mereka yang hadir bahwa bukankah Abu Bakar yang diminta oleh

nabi untuk menggantikan beliau sebagai imam shalat bilamana nabi sakit?

Umar dan Abu Ubaidah segera membai'at Abu Bakar tapi mereka didahului oleh Basyir

bin Sa'ad, seorang tokoh Khazraj, yang membaiat Abu Bakar. Kemudian yang hadir di

safiqah, semuanya memberi baiat Abu Bakar.

Keesokan harinya Abu Bakar naik ke mimbar dan semua penduduk Madinah

membai'atnya. Abu Bakar resmi menjadi khalifah ar-Rasul. Kemudian ia berpidato, sebuah

pidato yang menurut ahli sejarah dianggap sebagai suatu statement politik yang amat maju,

dan yang pertama sejenisnya dengan semangat "modern" (patisipatif-egaliter):

“Wahai Manusia! saya telah diangkat untuk mengandalikan urusanmu padahal aku bukanlah orang terbaik diantara kamu, maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik maka ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat salah, maka luruskanlah! orang yang kamu pandang kuat saya pandang lemah, sehingga aku dapat mengambil hak darinya, sedang orang yang kau pandang lemah aku pandang kuat, sehingga aku dapat mengambalikan hak kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku Taat kepada Allah dan RasulNya, tetapi bilamana aku tidak mentaati Allah dan rasulnya, kamu tidak perlu mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian”4.

Pidato yang diucapkan setelah pengangkatannya menegaskan totalitas kepribadian dan

komitmen Abu Bakar terhadap nilai-nilai Islam dan strategi menilai keberhasilan tertinggi

bagi umat sepeninggal Nabi.

Apakah semuanya hadir? ternyata tidak, dari yang hadir di safiqah, Sa'ad bin Ubaidah

tidak membai'at Abu Bakar dan tidak pula ikut shalat jama'ah bersamanya. Diantara

penduduk madinah yang tidak hadir di safiqah dan tidak membai'at Abu Bakar adalah

Fatimah Az-Zahra. Ali bin Abi Tahlib dan bani Hasyim serta pengikutnya tidak berbai'at

selama enam bulan kemudian setelah wafatnya Fatimah Az Zahra.

Ketika diberitahukan kepada Imam Ali r.a. tentang peristiwa yang telah terjadi di safiqah

bani Sa'idah segera setelah rasul wafat, ia bertanya:

"Apa yang dikatakan kaum Anshar?"

4Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), h. 69. Lihat juga Suyuti

(5)

"Kami angkat seorang dari kami sebagai pemimpin, dan kalian (kaum muhajirin) mengangkat seorang dari kalian sebagai pemimpin!"

"Mengapa kamu tidak berhujjah atas mereka bahwa Rasulullah SAW telah berpesan agar berbuat baik kepada orang-orang Anshar yang berbuat baik dan memaafkan siapa diantara mereka yang berbuat slaah " tanya Imam Ali lagi.

"Hujjah apa yang terkandung dalam ucapan seperti itu?"

"Sekiranya mereka berhak atas kepemimpinan umat ini, niscaya Rasulullah SAW tidak perlu berpesan seperti itu tentang mereka."

Kemudian Imam Ali bertanya:

"Lalu apa yang dikatakan orang Quraisy?"

"Mereka berhujjah bahwa Quraisy adalah 'pohon' Rasulullah SAW."

"Kalau begitu mereka telah berhujjah dengan 'pohonnya' dan menelantarkan buahnya!"

Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa Abu Bakar dipilih secara aklamasi, walaupun

tokoh-tokoh lain tidak ikut membai’atnya, misalnya Ali bin Abi Thalib, Abbas, Thalhah, dan

Zubair yang menolak dengan hormat. Pembahasan-pembahasan tentang khalifah ini akhirnya

menimbulkan berbagai aliran pemikiran Islam. Dengan terpilihnya Abu bakar serta

pembai’atannya, resmilah berdiri kekhilafahan pertama di dunia Islam.

3. Masa Pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq (11-13 H / 632-634 M)

Kekuasaan yang dijalankan pada masa khalifah Abu Bakar bersifat sentral, yakni

kekuasaan Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif terpusat di tangan Khalifah. Selain

menjalankan pemerintahan, khalifah juga menjalankan hukum. Meskipun demikian, Abu

Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah. Adapun urusan

pemerintahan diluar kota madinah, khalifah Abu Bakar membagi wilayah kekuasaan hukum

Negara Madinah menjadi beberapa propinsi, dan setiap propinsi Ia menugaskan seorang amir

atau wali (semacam jabatan gubernur)5.

Karena banyaknya penolakan dan pemberontakan dari kabilah-kabilah Arab yang berada

(6)

yang dilakukan pertama kali oleh Abu Bakar adalah melakukan politik konsolidasi dengan

cara mempersatukan masyarakat Arab dalam satu kekuasaan dan keagamaan Islam. Perilaku

politik lain yang dijalankan oleh Abu Bakar adalah melakukan ekspansi. Abu Bakar dalam

berpolitik lebih mengutamakan musyawarh untuk menyelesaikan persoalan duniawi,

sehingga tidaklah salah jika dia dapat diakatakan sebagai seorang yang demokratis.

Nampaknya, kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada

masa Rasulullah saw. bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif terpusat di

tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah juga melaksanakan hukum

yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an danSunnah. Meskipun demikian, seperti jugaNabi

Muhammad saw., Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.

Abu Bakar selalu menyediakan kesempatan bagi kaum muslim untuk berunding dan

menentukan pilihan, inilah peradaban berpolitik dan bernegara beliau. Ia adalah orang yang

demokratis, tapi tetap bernegara dengan berpedoman pada al-Quran surah Ali-Imran: 159 dan

surah Asy-Syuura: 38.

4. Usaha-Usaha yang dilakukan Abu Bakar ash-Shiddiq

a. Merealisasikan keinginan Nabi yang hampir tidak terlaksana yaitu mengirimkan

ekspedisi ke perbatasan Syiria di bawah pimpinan Usamah untuk membalas pembunuhan

ayahnya, Zaid, dan kerugian umat islam dalam perang Mut’ah.

b. Abu Bakar menghentikan pergolakan yang ada dalam negeri, beliau juga menghadapi

bahaya dari luar yang pada gilirannya dapat menghancurkan eksistensi Islam6.

c. Perang Riddah (perang melawan kemurtadan).

d. Memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat dari suku-suku Yaman,

Yamanah, dan Oman.

e. Menghancurkan Nabi-Nabi Palsu.

5. Perluasan Wilayah Abu Bakar ash-Shiddiq

(7)

Setelah perang riddah melawan kaum murtad berakhir, di wilayah Timur Abu Bakar

mengangkat Kalid Ibn al-Walid dan Mutsana Ibn Haritsah sebagai panglima perang yang ada

12 H/633 M dan berhasil menguasai Iran dan beberapa kota Irak seperti Anbar, Daumatul

Jandal, dan Faradh. Pasukan ini berhasil memenangkan pertemuan di Yarmuk. Abu Bakar

juga memberangkatkan pasukan-pasukan ke beberapa daerah. Diantaranya adalah ke

Damaskus dipimpin Yazid Ibn Abi Sufyan, Palestina dipimpin ‘Amr Ibn Al Ash dan Hims

dipimpin Abu Ubaydah Ibn Al Jarrah7.

6. Akhir Pemerintahan Abu Bakar ash-Shiddiq

Pada saat pertempuran di Ajnadain negeri syam berlangsung, khalifah Abu Bakar

menderita sakit. sebelum wafat, beliau telah berwasiat kepada para sahabatnya, bahwa

khalifah pengganti setelah dirinya adalah umar bin Khattab. hal ini dilakukan guna

menghindari perpecahan diantara kaum muslimin.

Beberapa saat setelah Abu Bakar wafat, para sahabat langsung mengadakan musyawarah

untuk menentukan khalifah selanjutnya. telah disepakati dengan bulat oleh umat Islam bahwa

Umar bin Khattab yang menjabat sebagai khalifah kedua setelah Abu Bakar. piagam

penetapan itu ditulis sendiri oleh Abu Bakar sebelum wafat.

Setelah pemerintahan 2 tahun 3 bulan 10 hari (11 – 13 / 632 – 634 M), khalifah Abu

Bakar wafat pada tanggal 21 jumadil Akhir tahun 13 H / 22 Agustus 634 M.

7 Ahmad Choirul Rofiq, M. Fil. I, Sejarah Peradaban Islam (Dari Masa Klasik Hingga Modern),

Referensi

Dokumen terkait

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik

Dakwah Rasulullah SAW yang ditujukan kepada orang- orang yang sudah masuk Islam (umat Islam) bertujuan agar mereka mengetahui seluruh ajaran Islam baik yang diturunkan

Di antara cabang keimanan yang bernilai kemanusiaan adalah: berbuat baik kepada kedua orang tua; berakhlak mulia kepada siapa saja; menjaga jiwa manusia; saling membantu

Berpijak dari itu maka mereka mendefinisikan syirik khafi dengan mengatakan, suatu perbuatan yang tidak disadari oleh orang, baik ucapan maupun tindakan yang dilakukan pada