• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Jamul Quran pada Masa Abu Bakar.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Jamul Quran pada Masa Abu Bakar."

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Ulumul Qur‟an dengan

Dosen Pengampu: Siti Robiah Adawiyyah Alh, S.Sos.I

Disusun Oleh:

1. Annis Hana Amalina

2. Azyan Liyana Fatin

3. Setyo Efendi

Program Studi Arsitektur

Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer

Universitas SAINS Al-

Qur’an Jawa Tengah di Wonosobo

(2)

2

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... 1

Daftar Isi ... 2

Halaman Persembahan ... 3

Kata Pengantar ... 4

BAB 1 PENDAHULUAN ... 5

1.1 Latar Belakang ... 5

1.2 Rumusan Masalah ... 6

BAB II PEMBAHASAN ... 7

2.1 Pengertian Jam‟ul Qur‟an ... 7

2.2 Jam‟ul Qur‟an pada Masa Abu Bakar ... 10

BAB III PENUTUP ... 15

2.3 Kesimpulan ... 15

(3)

3

PERSEMBAHAN

Karya kecil ini kami persembahkan kepada:

1. Dosen Ulumul Qur‟an yang selalu memberikan motivasi dan pengajarannya disetiap

langkah kami.

2. Orangtua kami yang selalu mendoakan dan memberikan kami semangat hingga saat

ini.

(4)

4

KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah dan

inayah-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW,

sahabat dan tabiin hingga hari akhir. Amin

Tugas yang berjudul “Jam‟ul Qur‟an pada Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq” ini selain salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer,

juga merupakan salah satu usaha dalam mengkaji dan mempelajari proses pengumpulan

Al-Qur‟an itu sendiri pada masa Kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Penuyusunan tugas ini, tidak akan berhasil sebagaimana diharapkan tanpa adanya restu,

dorongan, semangat, dan pengertian dari dosen, orangtua, sahabat dan teman. Semoga dengan

adanya tugas ini, hasilnya dapat memenuhi penilaian untuk mata kuliah Ulumul Qur‟an.

Namun demikian, kami menyadari bahwa tugas ini jauh dari sempurna, karena kesempurnaan

hanyalah milik Allah SWT. Untuk itu tiada gading yang tak retak, segala kritik dan saran

untuk kebaikan tugas ini, kami merasakan bahwa itu adalah bagian dari kearifan pembaca

yang sangat berharga sehingga layak mendapat tempat yang tinggi.

Pada akhirnya, semoga tugas besar ini bermanfaat dalam menunjang ilmu pengetahuan

khususnya tentang materi Jam‟ulQur‟an pada Mata Kuliah Ulumul Qur‟an.

Wonosobo, Oktober 2015

(5)

5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Al-Qur‟an merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada nabi

Muhammad SAW sebagai sumber hukum Islam yang pertama. Ayat-ayat yang

pertama turun adalah al-Alaq 1-5 pada tanggal 17 Ramadhan dan ayat yang

terakhir turun adalah surat al Maidah ayat 3 ketika rasul menjalankan haji wada‟.

Dalam sejarah Al-Qur‟an ada istilah pengumpulan Al-Qur‟an, yaitu usaha

pengumpulan berkas-berkas Al-Qur‟an yang tercecer di tangan para sahabat

kemudian berkas-berkas tersebut disatukan sebagai konteks utuh yang

bernama mushaf.

Pengumpulan dan penyusunan al-Qur‟an dalam bentuk seperti saat ini,

tidak terjadi dalam satu masa, tapi berlangsung beberapa tahun atas upaya

beberapa orang dan berbagai kelompok. Cara lazim dalam menjaga al-Qur‟an

pada masa Nabi dan Sahabat adalah dengan hafalan ( al-jan‟ fissudur). Hal ini

selain karena masih banyak sahabat yang buta huruf, juga karena hafalan orang

Arab ketika itu terkenal kuat. Bisa dimaklumi jika pencatatan al-Qur‟an belum

merupakan alat pemeliharaan yang handal, karena dari segi teknis, alat-alat tulis

ketika itu masih sangat sederhana dan rawan terhadap kerusakan. Bahan tempat

menulis berasal dari pelepah-pelepah kurma dan tulang- belulang yang gampang

lapuk dan patah, tinta yang mudah luntur, dan alat tulis yang sangat sederhana.

Seiring dengan berjalannya waktu, maka pada masa Rasulullah saw. hingga

kepada periode Khulafaurrosyidin masing-masing periode memiliki cara dan

metode dalam memelihara dan mengumpulkan al-Qur‟an. Khususnya aspek

sejarah dari proses pengumpulan al-Qur‟an pada masa setelah Rasulullah saw,

yaitu pada masa sahabat, dan juga usaha lanjutan pemeliharaan al-Qur‟an pasca

(6)

6

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis menarik suatu

rumusan dan batasan masalah pada pembahasan makalah ini, yaitu sebagai

berikut:

1. Apakah pengertian Jam„ul Qur‟an?

2. Bagaimana Jam‟ul Qur‟an pada masa sahabat khususnya Abu Bakar

(7)

7

BABII

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Jam’ul Qur’an

Berdasarkan artian secara etimologi, istilah al-Jam‟u berasal dari kata عمخي

-

عمج

yang berarti mengumpulkan. Sedangkan pengertian al-Jam‟u secara terminologi, para ulama mengemukakan pendapat yang berbeda-beda.

Menurut Az-Zarqani, Jam‟ul Qur‟an mengandung dua pengertian. Pertama

mengandung makna menghafal al-Qur‟an dalam hati, dan kedua yaitu menuliskan

huruf demi huruf dan ayat demi ayat yang telah diwahyukan oleh Allah SWT

kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurut al-Qurtubi dan Ibnu Katsir maksud dari Jam‟ul Qur‟an adalah

menghimpun al-Qur‟an dalam hati atau menghafal al-Qur‟an1.

Dalam sebagian besar literatur yang membahas tentang ilmu- ilmu

Al-Qur‟an, istilah yang dipakai untuk menunjukkan arti penulisan, pembukuan, atau

kodifikasi Al- Qur‟an adalah “Jam‟u Al- Qur‟an” yang berarti pengumpulan Al-

Qur‟an. Tetapi ada juga sebagian kecil literatur yang memakai istilah “Kitabat Al

-Qur‟an” artinya penulisan al- qur‟an serta “Tadwin Al- Qur‟an” berarti Pembukuan al- qur‟an2.

Menurut Ahmad von Denffer, istilah pengumpulan al-Qur‟an (jam’ al

-qur’ân) dalam literatur klasik itu mempunyai berbagai makna3, antara lain:

1. Al-Qur‟an dicerna oleh hati.

2. Menulis kembali tiap pewahyuan.

3. Menghadirkan materi al-Qur‟an untuk ditulis.

4. Menghadirkan laporan (tulisan) para penulis wahyu yang telah

menghafal al-Qur‟an.

5. Menghadirkan seluruh sumber, baik lisan maupun tulisan.

1

Hafidz Abdurrahman, Ulumul Qur’an Praktis (Bogor: Idea Pustaka Utama, 2003) , hal. 82 2

Said Agil Husin Al- Munawwar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat Press,2002), hal.15-16

3

(8)

8

Dalam kalangan para ulama, jam‟ al-Qur‟an memiliki dua makna yaitu

hifzuhu kulluh fi al-sudur dan kitabatuhu kulluh fi al-sutur.4

1. Jam‟ al-Qur‟an dalam arti Hifzuhu

Periode ini dimulai dari awal turunnya al-Qur‟an. Oleh karena

itu, Rasulullah saw. adalah orang yang pertama yang

menghafalkannya. Allah swt. menjamin akan mengumpulkannya di

dada Nabi sebagaimana firman Allah SWT.: Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas

tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan

(membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah selesai

membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian,

sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. (QS. Al Qiyamah 75 : 16-19 ) 5

Ibnu „Abbas mengatakan; “Rasulullah sangat ingin segera menguasai al-Qur‟an yang diturunkan. Ia menggerakkan lidah dan

bibirnya, karena takut apa yang turun itu akan terlewatkan. Ia ingin

segera mengahafalnya, maka Allah menurunkan ayat di atas, dengan

maksud bahwa Kamilah Allah yang mengumpulkannya di dadamu,

kemudian Kami membacakannya”. Dalam ungkapan yang lain dikatakan, “Atas tanggungan Kamilah membacakannya”. Maka

setelah ayat di atas turun, apabila Jibril datang, Rasulullah diam.

4Ibrahim „Abd al-Rahman Khalifah,

Al-Mausu’ah al-Qur’aniyyah al-Mutakhassisah. hal. 135 5

(9)

9

Dalam lafaz lain dikatakan, “Ia mendengarkan”. Bila Jibril telah

pergi, barulah ia membacanya sebagaimana diperintahkan oleh Allah

SWT.6

2. Jam‟ al-Qur‟an dalam arti Kitabatuhu

Ini dimaksudkan adalah baik dengan memisah-misahkan

ayat-ayat dan surah-surahnya, atau pun dengan menertibkan ayat-ayat-ayat-ayatnya

semata, baik setiap surah ditulis dalam satu lembaran secara terpisah,

ataupun menertibkan ayat-ayat dan surah-surahnya dalam

lembaran-lembaran yang terkumpul, yang menghimpun semua surah, yang

sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain.7

Berdasarkan dua pengertian diatas, sebenarnya istilah- istilah yang

digunakan memiliki maksud yang sama, yaitu proses penyampaian wahyu yang

turun, oleh Rasulullah kepada para sahabat, pencatatan atau penulisanya sampai

dihimpun catatan-catatan tersebut dalam 1 mushaf yang utuh dan tersusun secara

tertib. Secara garis besar, pengumpulan Al-qur‟an dilakukan 2 periode, yaitu

periode nabi SAW dan periode khulafaur rasyidin. Sedangkan pengumpulan yang

terjadi pada masa nabi pun dibagi menjadi dua, seperti pendapat kebanyakan para

ulama, yaitu:8

1. Pengumpulan dalam dada, dengan cara menghafal, menghayati dan

mengamalkan

(10)

10

2.2 Jam’ul Qur’an pada Masa Abu Bakar

Sepeninggal Rasulullah SAW., kaum muslimin melakukan konsensus

untuk mengangkat Abu Bakar Ash- Shiddiq sebagai khalifah menggantikan Nabi

Saw. Pada awal masa pemerintahan Abu Bakar, terjadi kekacauan oleh

Musailamah al- Kazzab beserta pengikut- pengikutnya. Mereka menolak

membayar zakat dan murtad dari islam. Pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid

segera menumpas gerakan ini. Peristiwa tersebut terjadi di Ymamah tahun 12 H.

Akibatnya banyak sahabat yang gugur, termasuk 70 orang yang diyakini telah

hafal Al- Qur‟an.9

Peristiwa tersebut menggugah hati Umar bin Khattab untuk meminta

kepada Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq agar Al Qur‟an segera di kumpulkan

dan di tulis dalam sebuah kitab yang nantinya dinamakan dengan mushaf. Usulan

ini disampaikan karena beliau merasa cemas dan khawatir bahwa Al Qur‟an

sedikit demi sedikit akan musnah bila hanya mengandalkan hafalan, apalagi para

penghafal Al Qur‟an semakin berkurang dengan banyaknya mereka yang gugur

dalam medan perang.10

Semula Khalifah Abu Bakar merasa ragu untuk menerima gagasan Umar

bin Khattab itu, sebab Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam tidak pernah memerintahkan untuk mengumpulkan Al Qur‟an kepada kaum muslimin.

Sehingga suatu saat Allah membukakan hati Abu Bakar dan menerima gagasan

itu setelah betul-betul mempertimbangkan kebaikan dan manfaatnya. Abu Bakar

ra tahu bahwa dengan mengumpulkan Al Qur‟an sebagaimana yang diusulkan

oleh Umar bin Khattab sarana yang sangat penting untuk menjaga kitab suci Al

Qur‟an dari kemusnahan, perubahan dan penyelewengan.

Maka dibentuklah sebuah tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dalam

rangka merealisasikan mandat dan tugas suci tersebut, melihat kedudukanya

dalam masalah qiraat, hafalan, penulisan, pemahaman dan kecerdasanya serta

kehadiranya pada pembacaan yang terakhir kali. Sebagaimana halnya dengan

Abu Bakar dahulu, Zaid bin Tsabit pada awalnya menolak perintah Abu Bakar ra

tersebut. Kemudian timbullah diskusi panjang antara Abu Bakar ra dan Zaid bin

Tsabit hingga beliau menerima permintaan Abu bakar Ash Shiddiq.

9

Mardan, Al-QUR’AN: Sebuah Pengantar(Jakarta: Mazhab Ciputat, 2010), hal.84. 10

(11)

11

Diskusi antara Zaid bin Tsabit dan Abu bakar Ash Shiddiq termaktub di

dalam kitab Shahih Bukhari. Zaid bin Tsabit berkata :

“Abu Bakar memanggilku untuk menyampaikan berita mengenai korban

perang Yamamah (sebelum kematian 70 para penghafal Al Qur‟an). Ternyata

Umar sudah ada disana. Abu Bakar berkata :”Umar telah datang kepadaku dan

mengatakan,bahwa perang di Yamamah menelan banyak korban dari kalangan

penghapal Al Qur‟an. Dan ia khawatir kalau-kalau terbunuhnya para penghafal Al-Qur‟an itu juga akan terjadi tempat lainnya, sehingga banyak darinya akan

hilang. Ia memerintahkan aku agar memerintahkan seseorang untuk

mengumpulkan Al Qur‟an. Maka aku katakan kepada Umar, bagaimana mungkin

kita melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Sallahu

„Alaihi wa Sallam? Tetapi Umar menjawab dan ia bersumpah, demi Allah, perbuatan tersebut baik. Ia terus-menerus mengatakan seperti itu sehingga Allah

membukakan hatiku untuk menerima usulannya, dan akhirnya aku sependapat

dengan Umar”. Zaid berkata lagi :”Abu bakar berkata kepadaku :”Engkau

seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukan kemampuanmu. Engkau

telah menuliskan wahyu untuk Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam, oleh karena itu carilah Al Qur‟an dan kumpulkanlah”. Kata Zaid lebih lanjut :”Demi Allah,

sekiranya mereka memintaku untuk memindahkan gunung, rasanya lebih ringan

bagiku daripada memintaku untuk mengumpulkan Al Qur‟an”. Karena itu aku menjawab :”Mengapa anda berdua ingin melakukan sesuatu yang tidak pernah di

lakukan oleh Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam ? Abu Bakar menjawab :”Demi Allah, itu perbuatan baik”. Abu bakar terus-menerus menyemangatiku sehingga Allah membukakan hatiku sebagaimana Ia telah membukakan hati Abu

Bakar dan Umar. Maka akupun mulai mencari Al Qur‟an . kukumpulkan Al

Qur‟an dari pelepah kurma, kepingan-kepingan batu dan dari hafalan para penghafal Al Qur‟an. Sampai akhirnya aku mendapatkan akhir surat At Taubah

berada pada Khuzaimah al Anshati, yang tidak dapat kudapatkan dari orang lain.

11 .

11

(12)

12

Atas kesediaan Zaid bin Tsabit, dibuatlah sebuah panitia yang diketuainya,

sedang anggotanya adalah Ubay bin Ka‟ab, Ali bin Abi Thalib dan Utsman bin

Affan.12

Zaid bin Tsabit memulai dengan bersandar pada hafalan yang ada dalam

hati para qurra‟dan catatan yang ada pada para penulis13

. Kemudian

lembaran-lembaran itu disimpan abu Bakar.

Zaid bin Tsabit mengumpulkan Al Qur‟an tersebut sesuai dengan peraturan

dan undang-undang yang di letakkan oleh Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Zaid

bin Tsabit tidak mencukupkan diri dengan hafalan di luar kepala, dengan apa

yang ia tulis dan dengan apa yang ia dengar. Bahkan di dalam pengumpulan Al

Qur‟an ia berpegangan kepada dua sumber, yaitu14 :

1. Al Qur‟an yang di tulis di hadapan Rasulullah Sallahu „Alaihi wa

Sallam

2. Hafalan para penghafal Al Qur‟an.

Ia sangat teliti dan hati-hati di dalam penulisannya. Bahkan ia tidak

menerima apa yang tertulis kecuali dengan dua orang saksi adil yang melihatnya

bahwa tulisan ini di tulis di hadapan Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam.

Hal ini berdasakan dari riwayat Yahya bin Abdurrahman bin Hathib ia

berkata : Umar datang dan berkata :”Barang siapa yang mendapatkan Al Qur‟an

dari Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam hendaknya ia sampaikan. Mereka

menuliskannya dalam lembaran dan pelepah, dan ia tdak menerima periwayatan

seseorang sampai ada dua orang saksi yang menerimanya”. ( HR. Abu Daud ) Dalam riwayat lainnya, dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya bahwa Abu

baker berkata kepada Umar dan Zaid :”Duduklah kalian berdua dipintu masjid.

Apabila ada yang datang kepada kalian dengan membawa dua orang saksi atas

sesuatu dari Kitab Allah, maka tulislah !”. ( HR. Abu Daud )

Ibnu hajar berkata :”Yang di maksud dengan dua saksi ini adalah : Hapalan dan Tulisan”. Sedangkan As Sakhawi berkata di dalam kitab ( Jamalul Qurra‟) :”Maksudnya ialah dua orang saksi atas tulisan yang tertulis di hadapan

Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam.

12

Hasybi al-Siddieqi,Sejarah dan Pengantar Ilmu al Qur’an/Tafsir,hal. 100. 13 Manna‟ Al- Qathathan,

Mabahis fi Ulum Al-Qur’an(Jakarta: Pustaka Al- Kautsar,2009), hal. 159 14

(13)

13

Dalam rentang waktu kerja tim, Zaid kesulitan terberat dialaminya pada

saat tidak menemukan naskah mengenai ayat 128 dari Surat at-Taubah. Ayat

tersebut dihafal oleh banyak sahabat termasuk Zaid, namun tidak ditemukan

dalam bentuk tulisan. Kesulitan itu nanti berakhir ketika naskah dari ayat tersebut

ditemukan ditangan Abu Khuzaimah al-Anshari15

Setelah ia wafat pada tahun 13 H, lembaran- lembaran itu berpindah ke

tangan Umar selaku khalifah kedua dan tetap berada di tanganya hingga ia wafat.

Kemudian mushaf itu berpindah ke tangan Hafsah, puteri Umar.

Adapun karakteristik penulisan al-qur‟an pada masa Abu Bakar ini

adalah16:

1. Seluruh ayat Al-qur‟an dikumpulkan dan ditulis dalam satu mushaf

berdasarkan penelitian yang cermat dan seksama.

2. Meniadakan ayat- ayat yang telah mansukh.

3. Seluruh ayat yang ada telah diakui kemutawatiranya.

4. Dialek arab yang dipakai dalam pembukuan ini berjumlah 7 (qiraat)

sebagaimana yang dinukil berdasar riwayat yang benar- benar sahih.

Masa pengumpulan al-Qur‟an ini terlihat sangat singkat. Sebagai mana

diketahui, Abu Bakar hanya memerintah kekhalifaan Islam ketika itu selama

kurang lebih dua tahun mulai Rabi‟ul Awwal 11 H sampai Jumadil Tsani 13 H..

Sementara Zaid melalui tugasnya setelah peperangan Yamamah (bulan ketiga

tahun 12 H). Hal ini berarti bahwa waktu yang tersisa bagi Zaid hanya 15 bulan.17

Al-Zarqani mengemukakan bahwa mushaf yang disusun pada masa Abu

Bakar hanyalah penulisan urutan-urutan ayat-ayatnya saja tanpa mengurut

surah-surahnya.18

Perlu untuk kita ketahui bersama bahwa perbuatan Abu Bakar Ash Shiddiq

dengan mengumpulkan Al Qur‟an bukanlah perkara bid‟ah yang menyesatkan.

Akan tetapi perbuatan ini berasarkan dari kaedah yang diletakkan oleh Rasulullah

Sallahu „Alaihi wa Sallam di dalam penulisan Al Qur‟an semasa hidupnya. Al

Imam Abu Abdillah Al Muhasibi berkata di dalam kitabnya ( Fahmu As Sunan ) :

15 Manna‟ al-Qattan,

Ibid., hal. 126 16

Said Agil Husin Al- Munawwar, Ibid., hal. 19 17

Taufik Adnan Amal,Sejarah al-Qur’an(Cet.I; Jakarta: Forum kajian Budaya dan Agama,2001), hal. 148. 18

(14)

14

“Penulisan Al Qur‟an bukanlah perbuatan bid‟ah, karena Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam pernah memerintahkan untuk menulisnya. Akan tetapi ketika itu masih tercecer dan terpisah di atas kulit binatang, tulang dan pelepah daun

korma. Perintah Ash Shiddiq tidak lain hanyalah memindah dari tempat ke tempat

lain untuk di kumpulkan. Di antaranya kumpulan kertas berupa Al Qr‟an yang

terdapat di dalam rumah Rasulullah Sallahu „Alaihi wa Sallam, lalu kertas-kertas

(15)

15

BABIV

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Abu Bakar Ash- Shiddiq adalah orang pertama yang memerintahkan

penghimpunan Al-qur‟an, Umar bin Khatab adalah pelontar idenya, serta Zaid bin

Tsabit adalah pelaksana pertama yang melakukan kerja besar penulisan Al-

qur‟an secara utuh dan sekaligus menghimpunya kedalam satu mushaf.

Kodifikasi yang di lakukan atas perintah Abu Bakar Ash Shiddiq adalah

seluruh ayat Al Qur‟an di kumpulkan dan di tulis menjadi sebuah mushaf setelah

melalui proses penelitian yang sangat detail, teliti dan cermat. Para ulama

berpendapat bahwa penyebutan Al Qur‟an dengan mushaf mulai berlaku sejak

zaman Abu Bakar Ash Shiddiq.

Ali bin Abi Thalib ra berkata :

“Orang yang mendapatkan pahala paling besar di dalam ( pengumpulan )

mushaf adalah Abu Bakar. Kesejahteraan Allah ata Abu Bakar. Dialah orang

(16)

16

3.2. DAFTAR PUSTAKA

https://imamhasanuddin.wordpress.com/2010/12/07/sejarah-penyusunan-al-quran/

Abdurrahman, Hafidz. Ulumul Qur’an Praktis.Bogor: Idea Pustaka Utama.

2003.

Al- Munawar, Said Agil Husin. Al- Qur’an: Membangun Tradisi Kesalehan

Hakiki. Jakarta: Ciputat Press. 2002.

Al- Qaththan, Manna‟. Mabahis fi Ulum Al-Qur’an. Jakarta: Al- Kautsar.

2009.

al-Zarqani, Muhammad „Abd al-„Azim. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al

-Qur’an,Juz.1. Dar al-Kitab al-‟Arabi. 1996.

Amal, Taufik Adnan. Rekosntruksi Sejarah Alquran. Yogyakarta: Forum

Kajian Budaya dan Agama. 2001.

Ash- Shabuuniy, Muhammad Ali. Studi Ilmu Al- Qur’an. Bandung: Pustaka

Setia. 1991.

Ash- Shieddieqi, Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al- Qur’an/ Tafsir.

Jakarta: Bulan Bintang, 1980.

Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya, Ed. Revisi.

Surabaya: Mahkota. 1989.

Khalifah, Ibrahim „Abd al-Rahman. Al-Mausu’ah al-Qur’aniyyah al -Mutakhassisah. Kairo: Al-Majlis al-A‟la li al-Syuun al-Islamiyyah. 2006.

Mardan. Al-Qur’an: Sebuah Pengantar Memahami Alquran Secara Utuh.

Jakarta: Pustaka MAPAN. 2009.

Referensi

Dokumen terkait

Menjadikan Al Qur’an dan hadist nabawi sebagai hiasan dalam bentuk kaligrafi, sama sekali tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tidak pernah dikenal

“Al Imam Tirmidzi meriwayatkan suatu hadits tentang tafsir peribadatan di dalam ayat itu, dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat itu dihadapan 'Adi Ibnu

Setelah selesai salam, dia berkata, 'Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, Aku adalah orang yang paling menyerupai Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- dalam salat.” Hadis

Lalu Abu Rofi’ bertanya pada Abu Hurairah, “Apa ini?” Abu Hurairah pun menjawab, “Aku bersujud di belakang Abul Qosim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ketika sampai

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahih mereka berdua dari Abdullah bin Umar berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di

Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada suami istri yang saling menuduh: "Perhitungan kamu berdua terserah kepada

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Tidak wahai ‘Umar, demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya sampai engkau menjadikan aku lebih engkau cintai dari segala

Namun jumhur ulama berpendapat bahwa kafarat tersebut wajib atas istri juga, mereka mengatakan bahwa di dalam hadist tersebut Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak