Makalah Iman Kepada Dan Allah

25  48  Download (0)

Teks penuh

(1)

IMAN KEPADA ALLAH

MAKALAH ILMU TAUHID

Makalah Ini Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Mengikuti Mata Kuliah Ilmu Tauhid

Dosen Pengampu : Mimin Mintarsih, M.Ag Oleh :

Kelompok 4

1. Azhar Muhammad ( 1157050022 )

2. Rifky Febriana ( 1157050143 )

3. Amrun Tajdid( 1167050024 )

4. Istawa Limma Yuha( 1167050086 )

5. Raka Iqbal Syamsuddin (1167050128)

TEKNIK INFORMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

(2)

i

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum wr wb

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah yang Maha Kuasa atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan Makalah keimanan kepada Allah SWT ini tepat pada waktunya tanpa halangan suatu apapun.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang.

Wassalamu’alaikum wr wb

Bandung, November 2017

(3)

ii DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

BAB I, Pendahuluan ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Makalah ... 2

BAB II, Pembahasan ... 3

A. Pengertian Iman Kepada Allah ... 3

B. Bukti Wujud Allah ... 4

C. Menatap Wajah Allah ... 12

BAB III, Penutup ... 21

A. Kesimpulan ... 21

(4)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Adanya alam semesta beserta isinya, termasuk manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya pasti ada yang menciptakan. Siapa Dia? Sudah tentu “Sang Pencipta” Dialah Allah SWT. Untuk mengakui

kebenaran dan keberadaan Allah SWT dibutuhkan dalam hati, mengakui dan membenarkan tentang adanya Allah SWT.

Allah SWT adalah Tuhan pencipta dan pemelihara alam semesta dan segala isinya, Yang Maha Esa dalam zat-Nya, maksudnya Zat Allah SWT hanya satu, tidak dua, tidak tiga, dan tidak pula lebih. Zat Allah SWT tidak sama atau serupa dengan zat selainnya. Allah SWT Esa dalam sifat-Nya, maksudnya sifat Allah SWT walaupun banyak, tetapi hanya dimiliki oleh Allah SWT sendiri. Tidak ada zat selain Allah SWT yang memiliki atau menandingi sifat-sifat Allah SWT. Allah SWT Esa dalam perbuatan-Nya, maksudnya perbuatan-perbuatan Allah tidak terhingga banyaknya, tetapi hanya dimiliki oleh Allah SWT sendiri. Tidak ada zat selain Allah SWT yang dapat menandingi, apalagi melebihi perbuatan-Nya

B. Rumusan Masalah

1. Apa arti / pengertian Iman kepada Allah SWT? 2. Bagaimana bukti wujud Allah SWT?

(5)

2 C. Tujuan Makalah

1. Dapat mengetahui dan memahami arti Iman kepada Allah dan menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari.

(6)

3 BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Iman Kepada Allah SWT

Arti iman kepada Allah adalah membenarkan tentang adanya Allah SWT dengan keyakinan dan pengetahuan bahwa sesungguhnya Allah SWT wajib ada-Nya dengan dzat nya. Dia Maha Esa, yang menguasai langit dan bumi beserta isinya, Yang Maha Kuasa, Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri, Yang Kekal. Sesungguhnya Allah SWT mengetahui atas segala sesuatu dan Maha Kuasa. Allah melakukan apa yang Dia Kehendaki, dan Allah Maha Bijaksana terhadap apa yang DIA kehendaki. Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai DIA. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat, Maha Suci dan Maha Tinggi (Mulya) Allah dari sesuatu yang menyerupai dan menandingi, dan Maha Suci Allah dari teman dan pembantu (mitra dan asisten). Allah tiak membatasi waktu, tidak ada yang menyibukan atau merepotkan Allah, dan Allah tidak terbatasi dengan arah, Allah Maha Kaya, artinya dengan mutlak Allah tidak butuh terhadap segala sesuatu.1

Akan tetapi segala sesuatu selain Allah sangat butuh kepada-Nya. DIA (Allah) yang telah menciptakan perbuatan-perbuatan mereka, baik dan buruknya, manfaat dan madharatnya, DIA (Allah) yang memberi hidayah kepada orang yang DIA kehendaki, dan menyesatkan kepada orang yang DIA kehendaki, dan DIA (Allah) yang mengampuni kepada orang yang

1 (Alhabib Zaen bin Ibrahim bin Sumait Al-Husaeni Al-alawi, 2007 :

(7)

4

DIA kehendaki, dan menyiksa kepada orang yang DIA kehendaki. Allah, tidak layak dipertanyakan atas apa yang DIA lakukan dan makhluk lah (manusia dan jin) yang pantas ditanya atas apa yang mereka lakukan. Artinya manusia harus mempertanggungjawabkan atas segala perbuatannya. Dan tidak wajib atas Allah kepada seseorang atas segala sesuatu, artinya Allah tidak terbebani atas segala kepentingan makhluknya. Karena DIA Maha Menguasai terhadap segala –Nya dan DIA lah yang mengendalikan segala-Nya, maka tidak ada seorangpun yang bersekutu dengan DIA (Allah) didalam kerajaan-Nya. Dan tidak ada hak bagi seorangpun atas sesuatu yang ada di sisi Allah.

Allah berjanji kepada orang-orang yang berbuat kebaikan dengan pahala (Surga) semata-mata karena rahmat-Nya. Dan Allah mengancam kepada orang-orang yang berbuat keburukan dengan siksaan (Neraka) semata-mata karena keadilan-Nya.2

B. Bukti Wujud Allah

ِقَلاْطِلإْاِب

ِقْلَخْلِل

فِلاَخُم

#

ْيِقاَب

مْيِدَق

د ْوُج ْوَم

ُللاَف

“Maka Allah SWT adalah Dzat yang bersifat Wujud (Ada), Qadim (tidak

ada permulaan-Nya), Kekal, dan berbeda dengan makhluk secara mutlak”

Syarh (Penjelasan):

Dzat disana bukanlah dzat dalam lisan orang indonesia yang mempunyai arti materi datu benda, akan tetapi Dzat disana adalah Dzat dalam lisan

(8)

5

orang arab yang mempunyai arti “Dirinya sendiri”, “Haqiqat-nya” karena Allah ada tanpa membutuhkan bentuk, tempat dan tidak membutuhkan makhluqnya, karena semuanya adalah ciptaanya dan Allah berdiri sendiri tanpa ada yang menciptakan dan tidak membutuhkan pertolongan makhluqnya. Sifat wajib Allah SWT yang dua puluh tersebut yang pertama adalah sifat Nafsiyah Wujud

Sifat Wujud pengertiannya tetapnya sesuatu dan pasti adanya, sifat wujud ini wajib bagi Allah SWT. Dzatnya bukan Illat (Pengaruh Luar) maksudnya bahwa selain Allah (Makhluk) tidak dapat mempengaruhi adanya Allah. Adapun sifat wujud tanpa Dzat itu terjadi seperti keberadaan kita yaitu melalui perbuatan Allah Ta’ala. Adapun bukti adanya Allah yaitu adanya makhluk ini, jika Allah SWT tidak ada, maka tidak akan ada satu makhlukpun. Allah Ta’ala berfirman,

ي ِرْكِذِل َةَلاَّصلا ِمِقَأ َو يِن ْدُبْعاَف اَنَأ َّلِإ َهَلِإ َل ُالل اَنَأ يِنَّنِإ

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Thaha : 14) dan firman Allah Ta’ala,

“Tidaklah mereka memikirkan tentang kejadian diri mereka? Allah tidak

(9)

6

kebanyakan diantara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (QS. Ar Rum :8)3

Seseorang muslim yang beriman kepada Allah adalah yang membenarkan adanya Tuhan Yang Maha Agung Tuhan maha Pencipta langit dan bumi. Dia mengetahui alam ghaib dan alam nyata, maha Pengatur, Raja segala sesuatu. Tiada Tuhan melainkan Dia. Dialah Yang Maha Agung, yang memiliki sifat-sifat maha sempurna. Untuk pertama kalinya kita mendapat petunjuk dari petunjuk-Nya. (Allah berfirman : Kalaulah bukan karena petunjuk Allah, tidaklah kita mendapat petunjuk). Kemudian petunjuk untuk beriman itu kita peroleh berdasarkan dalil naqli dan aqli.

Dalil naqli

1. Di dalam Al-quran Allah memberitakan keberadaan, pengaturan, nama, dan sifat-sifat-Nya. Allah berfirman :

ََّنيإ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia

3http://www.pilarislam.com/2015/12/sifat-allah-bukti-sifat-wujud-allah.html (diakses pada

(10)

7

menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari, bulan, dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah ! Menciptakan dan memerintahkan itu hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf : 54).

“Wahai, Musa. Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.”

(QS. Al-Qashash : 30).

(11)

8

sebanyak ini sepakat untuk berdusta. Begitu juga pemberitaan sesuatu yang belum diketahui mereka, tidak diselidiki oleh mereka kebenarannya, dan yang belum pasti kepada mereka, padahal mereka itu manusia pilihan, manusi terbaik. Mereka itu manusia-manusia yang mempunyai alasan rasional yang lebih kuat, dan mereka itu manusia-manusia yang terpercaya dalam pembicaraannya.

3. Berimannya berjuta-juta manusia kepada adanya Allah SWT., penyembahan serta ketaatan mereka kepada-Nya, padahal pada saat itu berlaku adat kebiasaan manusia bahwa membenarkan satu atau dua orang lebih patut daripada mebenarkan suatu kelompok atau umat manusia atau suatu julah besar manusia yang tidak dapat dihitung, berdasarkan kesaksian rasio dan fitrah terhadapap kebenaran mengenai apa yang diberitakan kepada mereka, dan mengenai apa yang mereka mendekatkan diri kepada-Nya.

4. Berita dari berjuta-juta ulama tentang Allah, sifat-sifat, nama-nama, dan pengaturan-Nya terhadap segala sesuatu, kemampuan-Nya terhadap segala sesuatu, kemampuan-Nya terhadap segala sesuatu, kerana itulah mereka menyembah dan menaati, mencitai-Nya, serta menentang keras demi diri-Nya.

Dalil aqli

(12)

9

adanya sesuatu itu tak ada yang mengadakan. Bahkan mustahil pula adanya sesuatu yang jelasitu tanpa ada yang mengadakan. Demikian pula, seperti halnya makanan, tak mungkin ada tanpa ada yang memasaknya, dan tak mungkin ada hamparan tanah di planet bumi ini tanpa ada yang menciptakannya. Jadi, bagaimana mungkin alam semesta seperti langit, planet, matahari, bintang-bintang, bulan, padahal semuanya berbeda serta jarak masing-maasing berjauhan, dan berputar. Planet bumi dan apa-apa yang ada seperti manusia, jin, dan binatang-binatang yang beraneka macam jenisnya itu berbeda pengetahuan dan pemahamannya, keistimewaan dan ilmunya, juga barang-barang yang bermanfaat yang ada padanya. Tak mungkin semua ini ada tanpa adanya Pencipta. Demikian pula hal nya dengan sungai yang airnya mengalir, uapnya mengepul, tumbuh-tumbuhan yang tumpul dan buah-buahan yang beraneka rasa dan warna serta ciri-ciri khusus dan manfaatnya.

2. Adanya firman Allah yang sampai kepada kita, yang kita renung-renungkan dan kita pahami makna-maknanya merupakan bukti akan adanya Pencipta semua itu, yaitu Allah SWT. Mustahil ada kalau tanpa Mutakallim, dan mustahil ada ucapan tetapi tidak ada yang mengucapkannya.

(13)

hukum-10

hukum yang terbaik bagi manusia, sebagaimana pula bahwa Firman Allah itu mengandung teori-teori ilmiah yang paling benar, meliputi hal-hal yang ghaib, juga peristiwa-peristiwa sejarah. Semua itu adalah hal yang memang benar bagi siapa saja yang mau membenarkan, dan hukum syariat, dan faedahnya tidak terbatas untuk sepanjang masa walaupun dengan perbedaaan waktu dan tempat, dan tidak ada teori ilmiah apapun hal menolak hal itu, dan tidak ada satu berita ghaib pun yang meleset dari yang diberiatakan didalamnya, sama sekali tidak mengurangi arti faedah hukum-Nya walaupun masa telah berlalu sekian lama. Demikian pula sejarawan tidak akan bisa menolak dan mendustakan berbagai kisah yang disebutkan didalamnya atau memeperkuat pendustaan atau penolakan peristiwa-peristiawa sejarah yang diisyaratkan dan dijelaskan oleh-Nya.

Terhadap kalam Allah yang bijak seperti ini mustahil akal mengatakan bahwa ia adalah ciptaan seorang manusia karena kalam itu betul-betul berada diatas kemampuan dan pengetahuan manusia. Adalah salah bila kalam itu kalam manusia. Dialah kalam Pencipta Manusia, yang menjadi bukti terhadap adanya Allah, kemampuan, serta kebijaksanaan-Nya.

(14)

11

dari tananan tersebut. Seorang suami, misalnya, menyemburkan spermanya kedalam Rahim istrinya sehingga terjadi pembuahan yang menakjubkan, yang tidak dibantu oleh seorang manusia pun. Hanya Allah lah yang dapat memasukan benih janin itu sampai keluar menjadi bayi. Ini dalam hal penciptaan awal, demikian pula dalam menumbuhkan dan mendewasakannya, mulai dari bayi dan anak kecil sampai menjadi pemuda, orang dewasa, dan kakek-kakek.

Ini hukum umum yang terjadi pada manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan. Hal yang sama juga terjadi pada planet-planet angkasa dan bintang-bintang dilangit. Semuanya tunduk, patuh, saling berkaitan, dan tidak ada hukum yang keluar daripadanya. Jika penyimpangan terjadi dari hukumnya, maka hal itu pertanda telah matinya planet tersebut.

Berdasarkan dalil aqli yang rasional dan dalil naqli yang dapat didengar, manusiapun meyakini Allah dan pengurusan-Nya terhadap segala sesuatu, ketuhanan-Nya (bagi orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang datang kemudian). Atas dasar inilah maka kehidupan Muslim, dalam segala aspeknya, sangat bergantung pada keimanan terhadap Allah SWT.4

(15)

12 C. Menatap Wajah Allah

Kata Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, “Ini merupakan puncak kerinduan pecinta surga dan bahan kompetisi mereka. Dan untuk hal ini seharusnya orang-orang bekerja keras untuk mendapatkannya.”

Nabi Musa pernah meminta hal ini. Dijawab oleh Allah SWT seperti yang tertera di ayat 143 surat Al-A’raf.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya,

berkatalah Musa, “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.”Tuhan berfirman, “Kamu

sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku. Tapi lihatlah ke gunung itu, jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu

hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau

dan aku orang yang pertama-tama beriman.” Ada tujuh pelajaran dari ayat di atas:

1. Tidak boleh menuduh kepada Nabi Musa bahwa ia meminta sesuatu yang tidak diperkenankan oleh Allah swt.

2. Allah tidak memungkiri permintaan Nabi Musa.

(16)

13

4. Allah Mahakuasa untuk menjadikan gunung itu tetap kokoh di tempatnya, dan ini bukan hal mustahil bagi Allah, itu merupakan hal yang mungkin. Hanya saja dalam hal ini Allah juga mempersyaratkan adanya proses ru’yah (melihat). Jadi, seandainya hal itu merupakan sesuatu yang mustahil, sudah tentu Allah tidak akan mempersyaratkan hal itu.

5. Kalimat “tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luruh” adalah bukti bahwa bolehnya melihat Allah swt. Jika boleh bagi-Nya menampakkan diri kepada gunung, bagaimana terhalang untuk menampakan diri kepada para nabi, rasul, dan wali-Nya di kampung akhirat?

6. Di ayat itu Allah swt. memberitahu kepada Nabi Musa bahwa gunung saja tidak mampu melihat-Nya di dunia, apalagi manusia yang lebih lemah dari gunung.

7. Allah swt. telah berbicara dengan Nabi Musa. Nabi Musa juga telah mendengar perkataan Allah swt. tanpa perantara. Maka, melihat-Nya sudah pasti sangat bisa.5

Firman Allah Ta’ala,

َ هوُجُو

َ

ٌَةَ يضِاَّنَٖذيئَمۡوَي

٢٢

ََ

َ ةَريظاَنَاَهي بَرََٰ

لَيإ

َ

٢٣َ

َ

5

(17)

14

Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri (indah).

Kepada Rabbnyalah mereka melihat” (QS al-Qiyaamah:22-23) . Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman akan melihat wajah Allah Ta’ala dengan mata mereka di akhirat nanti, karena dalam ayat ini Allah Ta’alamenggandengakan kata “melihat” dengan kata depan “ilaa” yang ini berarti bahwa penglihatan tersebut berasal dari

wajah-wajah mereka, artinya mereka melihat wajah Allah Ta’ala dengan indera penglihatan mereka.

Bahkan firman Allah Ta’ala ini menunjukkan bahwa wajah-wajah mereka yang indah dan berseri-seri karena kenikmatan di surga yang mereka rasakan, menjadi semakin indah dengan mereka melihat wajah Allah Ta’ala. Dan waktu mereka melihat wajah Allah Ta’ala adalah sesuai dengan tingkatan surga yang mereka tempati, ada yang melihat-Nya setiap hari di waktu pagi dan petang, dan ada yang melihat-Nya hanya satu kali dalam setiap pekan.

Firman Allah Ta’ala,

َسْحَأ َنيِذَّلِل{

ِةَّنَجْلا ُباَحْصَأ َكِئَلوُأ ٌةَّلِذ لا َو ٌرَتَق ْمُهَهوُج ُو ُقَه ْرَي لا َو ٌةَداَي ِز َو ىَنْسُحْلا اوُن

}َنوُدِلاَخ اَهيِف ْمُه

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala). Dan muka mereka tidak

ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni

(18)

15

Arti “tambahan” dalam ayat ini ditafsirkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih, yaitu kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling memahami makna firman Allah Ta’ala. Dalam hadits yang shahih dari seorang sahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’alaBerfirman: “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)? Maka mereka menjawab: Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka? Maka (pada waktu itu) Allah Membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Ta’ala”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tersebut di atas. Bahkan dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan yang paling mulia dan agung serta melebihi kenikmatan-kenikmatan di surga lainnya.

Imam Ibnu Katsir berkata, ”(Kenikmatan) yang paling agung dan

(19)

16

(melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah berikan kepada para penghuni surga. Mereka berhak mendapatkan kenikmatan tersebut bukan (semata-mata) karena amal perbuatan mereka, tetapi karena karunia dan rahmat Allah”.

Lebih lanjut imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab beliau “Ighaatsatul lahafaan” menjelaskan bahwa kenikmatan tertinggi di akhirat ini (melihat wajah Allah Ta’ala) adalah balasan yang Allah Ta’ala berikan kepada orang yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia, yaitu kesempurnaan dan kemanisan iman, kecintaan yang sempurna dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya, serta perasaan tenang dan bahagia ketika mendekatkan diri dan berzikir kepada-Nya. Beliau menjelaskan hal ini berdasarkan lafazh do’a Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang shahih,

َكِئاَقِل ىَلِإ َق ْوَّشلا َو َكِهْج َو ىَلِإ ِرَظَّنلا َةَّذَل َكُلَأْسَأ

[As-aluka ladzdzatan nazhor ila wajhik, wasy-syauqo ilaa liqo’ik] “Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia).

Firman Allah Ta’ala,

َ

َ دييزَمَاَنۡيَ

لََوَاَهييفََنوُءٓا َشَيَاَّمَمُهَل

َ

٣٥َ

(20)

17

Mereka di dalamnya (surga) memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami (ada) tambahannya (melihat wajah Allah Ta’ala)” (QS

Qaaf:35).

Firman Allah Ta’ala,

ََّٓ َكَل

َ

ََنوُبوُجۡحَمَّلَٖذيئَمۡوَيَۡميهي بَّرَنَعَۡمُهَّنيإ

٥١َ

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) pada hari

kiamat benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka” (QS al -Muthaffifin:15).

Imam asy-Syafi’i ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Ketika Allah menghalangi orang-orang kafir (dari melihat-Nya) karena Dia murka (kepada mereka), maka ini menunjukkan bahwa orang-orang yang dicintai-Nya akan melihat-Nya karena Dia ridha (kepada mereka)”.

Demikian pula dalil-dalil dari hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan masalah ini sangat banyak bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalur sehingga tidak bisa ditolak).

(21)

18

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian (Allah Ta’ala pada hari kiamat nanti) sebagaimana kalian melihat bulan purnama (dengan jelas), dan kalian tidak akan berdesak-desakan dalam waktu melihat-Nya…”6

Namun, bukan sebuah perkara mudah untuk bisa mendapatkan kenikmatan ini. Melainkan dengan usaha berupa amal saleh saat menjalani kehidupan di dunia. Berikut ini tiga amalan yang bisa dilakukan manusia agar kelak di akhirat dapat melihat wajah Allah SWT.

1. Iman dan Ihsan (Merasa Selalu Diawasi oleh Allah) Iman dan ihsan menjadi pintu untuk bisa melihat wajah Allah SWT. Dengan Iman dan ihsan seorang mukmin akan senantiasa merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap ibadahnya. Seakan-akan dia melihat-Nya dengan hatinya di saat beribadah kepada-Nya. Maka ganjarannya adalah dengan melihat wajah Allah dengan mata kepala di akhirat.

Penghulu Ulama` Madzhab Hanabilah, Al-Hafiz Ibn Rajab al-Hanbali Rahimahullahu Ta’ala berkata, bahwa “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS Yunus : 26 yang artinya:

6:

(22)

19

“Bagi orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah).” (QS Yunus [10]: 26)

Telah sahih dalam Ṣaḥīḥ Muslim dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menafsirkan ziyādah (tambahan) dalam ayat ini dengan melihat wajah Allah di Surga.

“Wajah–wajah orang-orang yang beriman pada hari itu berseri–seri kepada Rabbnya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

2. Menjaga Salat Subuh dan Ashar

Amalan selanjutnya yang dapat membuat manusia dapat melihat wajah Allah di akhirat adalah menjaga salat Subuh dan Ashar. Salat merupakan ibadah wajib yang paling mulia dan bisa mengantarkan seorang hamba untuk meraih kenikmatan melihat Allah.

Dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu berkata, “Ketika kami duduk-duduk bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiba-tiba beliau melihat ke arah bulan di malam purnama seraya berkata, ’Sesungguhnya

kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak samar dalam melihatnya. Jika kalian mampu untuk tidak meninggalkan salat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan salat sebelum terbenamnya matahari (Asar), maka lakukanlah.” (HR

al-Bukhari: 7434, Muslim: 1432)

(23)

20

ini menjelaskan bahwa melihat wajah Allah SWT bukan sekedar angan-angan, melainkan sebuah kepastian yang hanya akan didapatkan kesungguhan dalam beramal dan menjalankan ibadah. Rasulullah SAW juga mengajarkan kita agar memperhatikan dan menjaga dua salat yang agung yaitu salat Fajar (Subuh) dan salat Asar yang memiliki banyak keutamaan dan berat bagi orang munafik.

3. Doa

Berdoa merupakan ibadah yang mulia dan menunjukan bagaimana kesungguhan Hamba dalam meminta kepada Rabb-nya. Ternyata Rasulullah SAW juga telah mengajarkan kepada umatnya sebuah doa yang agar bisa “ melihat Allah”

di kahirat nanti.

“Aku meminta kepada-Mu (ya Allah) kenikmatan memandang wajah-Mu (di akhirat nanti) dan aku meminta kepada-Mu kerinduan untuk bertemu dengan-Mu (sewaktu di dunia) tanpa ada mara bahaya dan fitnah yang menyesatkan.” Diriwayatkan oleh al-Nasa’i: 1305, Bazzar: 1393, Ibn Hibban: 1971 dan dinilai sahih oleh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi‘ 1301. Baginda Rasulullah memunajatkan doa ini dalam ibadah yang paling utama yaitu salat. 7

(24)

21 BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Iman kepada Allah adalah membenarkan tentang adanya Allah SWT dengan keyakinan dan pengetahuan bahwa sesungguhnya Allah SWT wajib ada-Nya dengan dzat nya.

2. Sifat Wujud pengertiannya tetapnya sesuatu dan pasti adanya, Allah SWT adalah Dzat yang bersifat Wujud (Ada), Qadim (tidak ada permulaan-Nya), Kekal, dan berbeda dengan makhluk secara mutlak.

3. Tiga amalan yang bisa dilakukan manusia agar kelak di akhirat

dapat melihat wajah Allah SWT.

a. Iman dan Ihsan (Merasa Selalu Diawasi oleh Allah)

Iman dan ihsan menjadi pintu untuk bisa melihat wajah

Allah SWT.

b. Menjaga Salat Subuh dan Ashar.

(25)

xxii

DAFTAR PUSTAKA

Alhabib Zaen bin Ibrahim bin Sumait Al-Husaeni Al-Alawi. 2007. Syarah Hadits Jibril atau Hidayah At-Tholibin Fii Bayani Muhimati. Yaman.

El-Jazair, Abu Bakar Jabir. 1990. Pola Hidup Muslim atau Minhajul Muslim. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

https://www.dakwatuna.com/2007/02/02/89/menatap-wajah-allah-swt/#ixzz4xYN7zKJK

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...