Contoh Proposal Yang Benar Dan Benar

15 

Teks penuh

(1)

Al-Qur’an bukan merupakan buku teks tentang sains, melainkan kitab petunjuk bagi manusia, hudan lin naas (QS. Al-Baqarah (2):185). Sebagai petunjuk bagi umat manusia, tentunya Al-Qur’an berisi tentang segala macam persoalan dan solusi bagi umat manusia secara universal. Universalitas Al-Qur’an bisa dijadikan landasan bagi pengembangan dunia sains yang Islami, karena di era modern ini ilmu pengetahuan sangat terkait erat dengan majunya peradaban. Itulah sebabnya mengapa Al-Qur’an mementingkan tiga macam pengetahuan untuk manusia. Pertama, pengetahuan mengenai alam yang telah dibuat Allah tunduk kepada manusia, atau sains-sains alamiah. Kedua, adalah pengetahuan sejarah dan geografi, Al-Qur’an senantiasa mendesak manusia untuk “berjalan di muka bumi” sehingga dapat menyaksikan apa yang telah terjadi kepada kebudayaan-kebudayaan di masa lampau dan mengapa kebudayaan-kebudayaan tersebut dapat bangkit dan runtuh. Ketiga, pengetahuan mengenai dirinya sendiri.1 Seperti dalam firman Allah SWT:

                   

Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”2

Berangkat dari hal tersebut, Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa Al-Qur’an mengajak manusia untuk berpikir dengan beragam bentuk redaksi tentang segala hal, kecuali tentang zat Allah SWT. karena mencurahkan akal untuk memikirkan zat-Nya adalah pemborosan energi akal, mengingat pengetahuan tentang zat Allah tidak mungkin dicapai oleh akal manusia. Maka, manusia cukup memikirkan tentang ciptaan-ciptaan Allah di langit, di bumi, dan dalam diri manusia sendiri. Maka, hendaknya kaum ulul-albab mencurahkan segenap potensi mereka untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi beserta isinya dengan seluruh keteraturan dan ketelitian penciptaannya, sehingga Allah SWT. menunjukkan kepada mereka suatu kesimpulan bahwa penciptaan keduanya adalah untuk suatu hikmah, bukan untuk kesia-siaan.3

1 Fazlur Rahman, Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin, (Bandung: Pustaka, 1996), cet. II, hlm.

51

2 QS. Fushshilat (41): 53

3 Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, terj. Abdul Hayyie

al-Kattani dkk., Cet. I, (Jakarta: Gema Insani, 1998), hlm. 42-43

(2)

Berdasarkan penelitian Maurice Bucaille dalam bukunya “La Bible, Le Coran Et La Science” yang dikutip oleh Mahfudz, lebih dari 750 ayat Al-Qur’an membahas tentang fenomena alam, yang notabene merupakan objek kajian sains. Fenomena alam yang terakandung di dalam Al-Qur’an memiliki cakupan yang amat luas, yang dapat dijadikan sebagai sumber dan inspirasi bagi kajian sains dan teknologi maupun sosial sains, salah satunya adalah ilmu Astronomi. Disamping ayat-ayat khusus yang menggambarkan penciptaan, ada lebih dari 40 ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang astronomi.4 Bahkan

ada beberapa nama surat Al-Qur’an yang menggunakan substansi dunia Astronomi antara lain: An Najm (bintang) As-Syams (Matahari), Al Qamar (bulan) dan Ad-Dhuha (Waktu matahari sepenggal naik). Berulang-ulang Al-Qur’an menyerukan untuk memperhatikan dan memikirkan mengapa tidak kamu gunakan akalmu untuk berfikir/ afala tatafakkarun (QS. Al-An’am(6):50).5

Mengenai Astronomi, Machfudz mengutip dari Afzalur Rahman dan mendefinisikannya sebagai ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan gerakan, penyebaran, dan karakteristik benda-benda langit.6 Jika kita mengamati langit, semua benda selalu

kelihatan tetap penampakannya. Benda-benda langit ini (matahari, planet-planet, atau bintang-bintang) selalu tetap penampilanya, paling tidak dalam batas-batas ketajaman mata manusia. Tetapi ada satu benda langit yang selalu berubah penampilannya. Sejak zaman dahulu, kecerlangan benda ini selalu berubah secara periodik. Kita bisa melihatnya saat benda ini terang sekali di langit, menerangi langit malam. Tetapi kadang kala kita alami juga saat benda ini tidak bisa menerangi langit malam. Benda yang dimaksud di atas adalah bulan.7

Fenomena di atas akhirnya membuat para ilmuwan untuk mengamati lebih lanjut mengenai salah satu benda langit tersebut. Bulan merupakan benda langit seperti bumi yang tidak memancarkan cahaya, tetapi sekedar memantulkan cahaya yang di terimanya. Bentuk penampakan terangnya yang selalu berubah menandakan adanya perubahan bagian yang memantulkan cahaya yang dapat di lihat dari bumi.8 Selanjutnya, ilmu Astronomi

menemukan fakta bahwa bulan dahulu menyala dan berpijar kemudian cahayanya padam.

4 Machfudz, Penelitian Astronomi dan Kemukjizatan Al-Qur’an, (Wonosobo: Center Of Excellence

Program UNSIQ, 2010), hlm. 1

5Ibid, hlm. 2-3 6Ibid, hlm. 5

7 A. Gunawan Admiranto, Menjelajahi Tata Surya, edisi kedua, (Yogyakarta: Kanisius, 2009), hlm.

198-199

8 Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan, cet. I, (Bandung: Mizan,

(3)

Teleskop modern dan satelit-satelit generasi pertama berhasil menunjukkan foto-foto bulan secara detail. Dari foto-foto tersebut ada sebuah petunjuk dan tampak jelas adanya kawah-kawah gunung berapi, dataran-dataran tinggi, dan cekungan-cekungan. Meskipun demikian, para ilmuwan kala itu belum dapat mengetahui karakter bulan hingga akhirnya astronot Amerika Serikat, Neil Amstrong, menginjakkan kakinya di bulan pada tahun 1969.9

Bulan dengan salah satu penampakanya, yakni berupa penampakanya berupa sabit, merupakan tanda bagi waktu. Salah satu tanda waktu adalah selang atau rentang waktu tertentu yang berulang dan di kenai sebagai periode. Bulan mempunyai banyak tempat, dan bulan beerpindah dari satu tempat ke lain tempat, tetapi akhirnya kembali dalam posisi melengkung dsn condong. Kembali secara berulang sejak masa silam sampai masa sekarang, penggalan waktu pengulangan ini adalah periode. Artinya, bulan bergerak dari satu tempat ke lain tempat secara periodik, dan pada awal serta akhire periode ditandai oleh penampakan bulan yang melengkung dan condong.10 dan hal tersebut sudah tertulis dalam Al-Qur’an lebih

dari 15 abad yang silam sebelum penemuan sains modern mulai berbicara.

Masyarakat umum tentu ingin memahami istilah-istilah tersebut dari fakta empiris, Matahari selalu tampak bundar dan kehadiranya menyebabkan siang yang terang benderang. Bulan tidak selalu tampak bundar, tetapi berevolusi dari melengkung dan condong yang makin tebal, separuh lingkaran lebih sampai suatu ketika bundar penuh yang di kenal sebagai bulan purnama. Setelah purnama bulatan bulan kembali mengecil sampai berbentuk setengah lingkaran kembali. Apakah ini yang di maksud dengan bulan telah terbelah? Menurut riwayat fenomena tersebut terkait dengan mukjizat Nabi Muhammad SAW, membelah bulan, tentu hal ini dapat di jadikan bahan kajian lebih lanjut. Bulan terbelah, apa implikasinya yang dapat di deteksi sampai saat ini? Satu hal yang jelas bagi kita adalah dua kali dalam sebulan, bulan tampak seperti setengah lingkaran. Setelah setengah lingkaran kedua, tampakan bulan terus mengecil dan menjadi seperti sabit kembali sampai akhirnya tidak tampak. 11

Uniknya, semakin jauh mempelajari dan menjelajahi alam semesta, semakin bertambah pula keimanan dan keyakinan manusia bahwa zat yang menciptakan alam semesta ini adalah zat yang sama yang telah menurunkan kitab suci Al-Qur’an. Jika di teliti lebih lanjut, terdapat banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyinggung masalah tersebut dengan berbagai macam

9 Machfudz, Penelitian Astronomi dan Kemukjizatan Al-Qur’an, hlm. 219

(4)

pendekatan. Secara lebih terperinci, terdapat banyak ayat Al-Qur’an yang memberikan gambaran tentang bulan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Agus Purwanto, seorang

Doctor of Science, memberikan hasil bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang mempunyai redaksi tentang bulan ada 9 ayat dengan berbagai macam bentuk pembahasan, tidak menutup kemungkinan pula ada banyak ayat-ayat lain yang secara tekstual tidak berbicara tentang bulan namun mempunyai relasi arti dengan ayat-ayat bulan tersebut.12

Berangkat dari sejumlah permasalahan di atas, menurut hemat penulis perlu diadakanya suatu penelitian yang berusaha mengintegrasikan antara ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara seputar bulan dengan perkembangan sains dewasa ini. Maka dari itu, penulis merasa terpanggil untuk melakukan penelitian kepustakaan dengan judul ”Bulan dalam Al-Qur’an (Studi Pendekatan Integrasi Al-Qur’an dan Sains)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah diwujudkan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana klasifikasi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan tentang bulan?

2. Bagaimana konfirmasi dan relasi kemukjizatan Al-Qur’an tentang bulan dengan perkembangan sains modern?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian diwujudkan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui klasifikasi ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan tentang bulan.

2. Untuk mengetahui konfirmasi dan relasi kemukjizatan Al-Qur’an tentang bulan dengan perkembangan sains modern.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat penelitian diwujudkan dalam bentuk pernyataan sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah koleksi khazanah ilmu pengetahuan mengenai bidang Astronomi khususnya tentang bulan dalam tradisi intelektual Islam, sehingga dapat menjadi referensi maupun masukan bagi perkembangan ilmu

(5)

pengetahuan dalam studi Al-Qur’an secara khusus, dan perkembangan ilmu pengetahuan secara umum.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah keimanan terhadap Allah SWT dengan ciptaanya, serta dapat menambah wawasan penulis mengenai bidang keilmuan Astronomi khususnya tentang bulan yang bersumber dari Al-Qur’an tersebut dalam proses tholabul ‘ilmi penulis.

b. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan untuk pembaca secara umum dapat mengetahui serta memahami mengenai bidang keilmuan Astronomi khususnya tentang bulan yang bersumber dari Al-Qur’an. Selain itu, diharapkan pembaca dapat mengetahui, memahami dan membenarkan kemukjizatan Al-Qur’an dengan kesungguhan hati. E. Kajian Pustaka

Sejauh pengetahuan dan pengamatan penulis yang terbatas, hingga saat ini sudah banyak ditemukan penelitian atau tulisan yang membahas tentang kajian ayat-ayat Al-Qur’an yang bersinggungan dengan bidang Astronomi dan bulan. dan untuk mengetahui posisi penulis dalam melakukan penelitian ini, penulis berusaha untuk melakukan review terhadap beberapa literatur yang ada kaitannya atau relevan terhadap masalah yang menjadi obyek penelitian ini. Berikut adalah beberapa karya ilmiah yang penulis anggap mempunyai korelasi dengan tema yang akan penulis teliti:

Pertama, dalam sebuah jurnal yang berjudul Analisis Materi Astronomi Pada Pembelajaran Sains (Penyajian Sains Modern dan Al-Qur’an) karya Esti Yuli Widayanti menjelaskan. Menyandingkan Al-Qur’an dan sains dalam metode pembelajaran memang sudah banyak diperbincangkan, namun masih belum banyak diaplikasikan dalam pembelajaran sains sendiri, penulisan karya ilmiah ini bertujuan memberikan sebuah acuan bagi para guru kelas SD/MI dalam membelajarkan materi sains/IPA, dan ini sangat berbeda dengan konsep yang penulis angkat, karena penulis sendiri lebih cenderung kepada pemahaman masyarakat secara umum tentang substansi bulan menurut pandangan Al-Qur’an yang diintegrasikan dengan sains modern.13

13Esti Yuli Widayanti, “Analisis Materi Astronomi Pada Pembelajaran Sains (Penyajian Sains

(6)

Kedua, dalam sebuah jurnal yang berjudul Astronomi Islam dan Teori Heliocentris Nicolaus Copernicus karya Slamet Hambali menjelaskan. Konsep teori Heliocentris memang dikenal luas dalam dunia Astronomi. Namun, Al-Qur’an yang diwahyukan jauh sebelum teori ini dikemukakan, telah menjelaskan konsep Astronomi dalam ruang lingkup yang lebih luas, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyinggung masalah Astronomi. Jurnal ini juga sangat berbeda dengan penelitian penulis, karena karya ilmiah Slamet Hambali ini lebih condong dalam menjelaskan teori Astronomi Heliocentris dan hubunganya dengan kemu’jizatan Qur’an, sedanglkan penulis akan membahas tentang relasi dan konfirmasi ayat-ayat Al-Qur’an khusus tentang bulan yang di integrasikan dengan sains modern.14

Ketiga, dalam sebuah jurnal yang berjudul Benda Astronomi dalam Al-Qur’an Dari Perspektif Sains karya Muhammad Hasan. Dalam penulisan karya ilmiahnya ini Muhammad Hasan lebih condong kepada pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an tentang peredaran benda-benda langit, karya ilmiah ini juga berbeda dengan penelitian penulis yang teliti, karena penulis tiidak hanya mebahas tentang peredaran benda-benda langit, tetapi juga membahas tentang substansi dan pengertian khusus tentang bulan yang dikaji dari ayat-ayat Al-Qur’an yang bersinggungan dan diintegrasikan dengn sains modern.15

Keempat, dalam sebuah jurnal yang berjudul Desain Sistem Pengamatan Sabit Bulan Di Siang Hari karya Adi Damanhuri menjelaskan. Astronomi sebagai ilmu yang tertua di muka Bumi, telah berperan sangat besar bagi kehidupan manusia, khususnya di Indonesia yang mayoritas muslim. Di Indonesia ilmu Astronomi berperan penting sebagai penentu awal datangnya bulan Ramadhan dan 1 Syawal yang di tandai dengan terlihatnya bulan sabit sebagai awal dan akhir umat muslim menjalankan ibadah puasa. Jurnal ini juga sangat berbeda dengan penelitian penulis, karena jurnal ini hanya membahas khusus tentang pengamatan bulan sabit. Sedangkan penulis sendiri akan lebih luas membahas tentang bulan dengan substansi dan peranannya.16

14 Slamet Hambali, “Astronomi Islam dan Teoriui Heliocentris Nicolaus Copernicus”, diakses dari

http://journal.walisongo.ac.id/index.php/ahkam/article/viewFile/24/93, pada tanggal 27 Desember 2017 pukul 21:35 WIB

15 Muhammad Hasan, “Benda Astronomi dalam Al-Qur’an Dari Perspektif Sains”, diakses dari http:// www.journal.walisongo.ac.id/index.php/teologia/article/view/409/374, pada tanggal 27 Desember 2017 pukul 22:02 WIB

16 Adi Damanhuri, “Desain Sistem Pengamatan Sabit Bulan Di Siang Hari”, diakses dari

(7)

Kelima, dalam sebuah jurnal yang bejudul Bumi Berotasi, Pendekatan Teks Wahyu Matahari Tidak Mungkin Mendahului Bulan karya Agus Purwanto menjelaskan. Pemahaman umum yang diterima masyarakat tentang fenomena siang dan malam adalah disebabkan rotasi bumi. Tetapi sebagian masyarakat, guru dan sekolah khususnya yang berbasis agama Islam, berdasar dalil dan pemahaman keagmaan menolak pandangan ini, mereka mengatakan bahwa Bumi diam dan Matahari serta Bulan yang bergerak mengelilingi Bumi. Jurnal ini juga mempunyai perbedaan dengan pembahasan penulis karena, jurnal ini meneliti tentang rapakah Bumi berotasi atau tidak yang ditinjau dari ayat Al-Qur’an surat Yaasin ayat 40, sedangkan penulis lebih mengkhususkan tentang bulan dan substansinya menurut Al-Qur’an yang di Integrasikan dengan sains modern.17

Keenam, dalam sebuah jurnal yang berjudul Literasi Pembelajaran Astronomi Berbasis Integrasi Sains, Tekhnologi dan Religi karya Asih Melati menjelaskan. Pembelajaran sains Astronomi yang selama ini diajarkan dalam ruang kelas dan laboratorium seolah terpisah dari kehidupan sehari-hari dan jauh dari nilai tekhnologi dan religi, Jurnal ini juga berbeda dengan penelitian yang penulis teliti, dalam jurnal ini cenderung mencari solusi atas permasalahan dalam pendidikan karakter dalam pembelajaran dan implementasi dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan penulis mengkaji lebih dalam tentang bulan dan substansinya untuk masyarakat umum.18

Ketujuh, dalam sebuah tesis yang berjudul Gerhana Pada Masa Nabi Muhammad SAW (Studi Analisis Gerhana Bulan Periode Madinah Perspektif Astronomi karya Ayu Nurul Faizahmenjelaskan. gerhana matahari dan bulan membawa pengaruh yang sangat besar pada Bumi, salah satunya yakni berpengaruh pada penentuan praktek ibadah umat muslim. Dengan mempelajari ilmu Astronomi juga dapat menjadi rujukan dalam menganalisa data hadits dan sejarah. Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa karya ilmiah ini juga berbeda dengan karya ilmiah yang sedang penulis kerjakan, karena skripsi tersebut lebih detail membahas tentang gerhana bulan pada periode klasik, sedangkan penulis akan membahas secara luas tentang bulan yang dikaji dari sumber ayat-ayat Al-Qur’an.19

17 Agus Purwanto, “Bumi Berotasi, Pendekatan Teks Wahyu Matahari Tidak Mungkin Mendahului

Bulan”, diakses dari http://www.jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosfis1/article/view/3372/2369, pada tanggal 27 Desember 2017 pukul 21:57 WIB

18 Asih Melati, “Literasi Pembelajaran Astronomi Berbasis Integrasi Sains, Tekhnologi dan Religi”

diakses dari http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosfis1/article/view/3758/2641, pada tanggal 27 Desember 2017 pukul 22:06 WIB

19 Ayu Nurul Faizah, ”Gerhana Pada Masa Nabi Muhammad SAW (Studi Analisis Geehana Bulan

(8)

Kedelapan:

Kesembilan:

Kesepuluh:

Namun, sejauh pengamatan penulis hingga saat ini belum ada yang membahas khusus tentang bulan menurut Al-Qur’an dalam pandangan integrasi Al-Qur’an dan sains, kebanyakan penulis hanya meneliti tentang fungsi bulan sebagai penentu awal bulan, sedangkan di sini penulis akan membahas tentang pengertian bulan beserta substansinya dalam perspektif Al-Qur’an yang diintegrasikan dengan sains modern.

F. Kerangka Teori

Bulan adalah satu-satunya satelit alami bumi, sekaligus satelit alami terbesar ke-5 di tata surya. Bulan berbentuk bola bundar yang keras dan berbatu. Ukuran bulan lebih kecil dari ukuran bumi, satu wilayah bumi dapat diisi oleh empat buah bulan. Diameter bulan adalah 3.474 km. Ini berarti, volume bulan hanya sekitar 2% volume bumi dan gaya gravitasi bumi. Bulan beredar mengelilingi bumi sekali setiap 27,3 hari (periode orbit).20 Bulan

merupakan benda langit seperti bumi yang tidak memancarkan cahaya, tetapi sekedar memantulkan cahaya yang diterimanya. Bentuk penampakan terangnya yang selalu berubah menandakan adanya perubahan bagian yang memantulkan cahaya yang dapat dilihat dari bumi.21

Selanjutnya, ilmu Astronomi menemukan fakta bahwa bulan dahulu menyala dan berpijar kemudian cahayanya padam. Teleskop modern dan satelit-satelit generasi pertama berhasil menunjukkan foto-foto bulan secara detail. Dari foto-foto tersebut ada sebuah petunjuk dan tampak jelas adanya kawah-kawah gunung berapi, dataran-dataran tinggi, dan cekungan-cekungan. Meskipun demikian, para ilmuwan kala itu belum dapat mengetahui karakter bulan hingga akhirnya Astronot Amerika Serikat, Neil Amstrong, menginjakkan kakinya di bulan pada tahun 1969.22

http://eprints.walisongo.ac.id/7525/2/135212008_bab1.pdf, pada tanggal 27 Desember 2017 pukul 21:48 WIB

20Ibid, hlm. 217

(9)

Para ilmuan menuturkan, secara umum bulan terbagi menjadi dua daerah, yaitu daerah terang dan daerah gelap. Daerah terang adalah daerah-daerah tinggi yang diberi nama

terrae (bentuk tunggal kata terra, yang artinya bumi), sedangkan daerah gelap disebut dengan nama maria (bentuk tunggal dari kata mare, yang artinya laut). Bahan-bahan penyusun daerah terang ini adalah mineral anortosit dan daerah gelap tersusun dari basalt. Daerah-daerah dataran tinggi lebih tua daripada mare sehingga kawah-kawah yang terdapat di daerah itu lebih banyak. Kawah-kawah yang terdapat di permukaan bulan muncul karena

bombardemen meteroit yang setiap saat jatuh ke permukaanya. Bumi juga mendapat

bombardemen meteroit tetapi karena bumi memiliki atmosfer, meteroit-meteroit ini sudah terbakar akibat gesekannya dengan atmosfer dan tidak sempat sampai ke permukaan bumi. Selain terdapat kawah-kawah, di bulan terdapat juga daerah-daerah yang bersih, tidak terlalu banyak mengalami bombardemen meteroit. Daerah-daerah ini kemudian diberi nama maria

atau mare dalam bentuk tunggal yang berarti laut. Nama-nama daerah ini, misalnya Mare Tranquilitatis, Mare Serenitatis, Mare Imbrium, Mare Nubuim, Mare Humorum, dan sebagainya. 23

Sebelum adanya peluncuran pesawat-pesawat luar angkasa, manusia hanya bisa mengamati bagian bulan yang menghadap bumi saja. Tentunya anda berpikir bagian bulan yang bisa diamati dari bumi hanya 50% dari seluruh permukaan bulan. Namun kenyataannya tidak demikian, permukaan bulan yang bisa diamati dari bumi adalah 59% dari seluruh permukaannya. Hal ini di sebabkan adanya peristiwa yang dinamakan librasi. Dalam usaha memperoleh informasi lebih banyak tentang bulan, Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba-lomba untuk melakukan eksplorasi permukaan bulan, baik menggunakan pesawat-pesawat berawak maupun tidak. Amerika bergerak menggunakan pesawat-pesawat Apollo sedakan Uni Soviet dengan pesawat-pesawat Luna. Seiring dengan majunya peradaban, sekarang manusia sudah mulai berpikir bagaimana memanfaatkan bulan untuk kepentingan manusia. Salah satu usaha pemanfaatan bulan adalah usaha untuk membuat fasilitas-fasilitas pengamatan bintang (observatorium). Dalam sebuah pidato yang diucapkan oleh presiden Amerika Serikat, George Bush, pada 20 Juli 1998, menyatakan dukungannya pada pembangunan suatu stasiun permanen di permukaan bulan, alasan untuk ini adalah tidak adanya atmosfer, kestabilan sismiknya relatif dibandingkan dengan bumi, sedikitnya

(10)

gangguan oleh cahaya dan gelombang radio, serta melimpahnya bahan-bahan mentah yang bisa digunakan untuk membangun observatorium.24

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah library research atau studi kepustakaan. Studi kepustakaan adalah melakukan studi literatur setelah penentuan topik dan penetapan rumusan masalah untuk pendalaman yang lebih luas dan mendalam terhadap masalah yang hendak diteiliti. Dan sebagian besar tugas peneliti adalah berada di perpustakaan.25

2. Pendekatan Penelitian

Yang digunakan di sini adalah jenis penelitian kualitatif deskriptif. Kualitatif yaitu tampilan yang berupa kata-kata lisan atau tertulis yang dicermati oleh peneliti, dan benda-benda yang diamati sampai detailnya agar dapat ditangkap makna yang tersirat dalam dokumen atau bendanya.26 Adapun data-data yang di peroleh seperti hasil

pengamatan, hasil wawancara, analisis dokumen, tidak dituangkan dalam bentuk angka-angka. Hasil analisis data berupa pemaparan mengenai situasi yang diteliti yang disajikan dalam bentuk uraian naratif. Hakikat pemaparan data pada umumnya menjawab pertanyaan-pertanyaan mengapa dan bagaimana suatu fenomena bisa terjadi. Untuk itu, peneliti dituntut memahami dan menguasai bidang ilmu yang ditelitinya sehingga dapat memberikan justifikasi mengenai konsep dan makna yang terkandung dalam data.27

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kategori, yaitu: sumber data utama (primer), sumber data penunjang (sekunder), dan sumber data pelengkap (tersier). Adapun yang dijadikan sumber data primer dari penelitian ini adalah ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan bulan. Kemudian sumber kedua yang menjadi sumber data penunjang adalah tafsir-tafsir serta buku-buku yang berkaitan dengan bulan dan teks-teks

24Ibid, hlm. 204-212

25 Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Cet. IX, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 34

26 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Cet. XIV, (Jakarta: Rineka

Cipta, 2010), hlm. 22

(11)

lain yang secara langsung maupun tidak langsung mengacu pada tema bulan. Sedangkan sumber ketiga yang menjadi data pelengkap adalah artikel-artikel dari jurnal dan internet. 4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang akan penulis gunakan dalam pengolahan data ini adalah deskriptif-analitis, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematik sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan.28 Dalam artian, penulis

mendeskripsikan pengertian bulan secara umum dan mencari serta menganalisis ayat-ayat tentang bulan dalam Al-Qur’an. Kemudian, penulis menjelaskan, menghubungkan dan mengintegrasikan mengenai ayat tentang bulan dalam Al-Qur’an dengan Sains dalam bidang Astronomi (khususnya tentang bulan). Setelah itu mengambil kesimpulan dari keterangan tersebut sbagai studi pendekatan integrasi Al-Qur’an dan Sains dengan cara mengumpulkan data dari berbagai rujukan.

H. Sistematika Pembahasan

Sebagai upaya memberi gambaran dalam penyusunan penelitian ini, penulis dalam menyusun karya ilmiah ini menyusun lima bab dengan rincian sebagai berikut:

Bab I, berisi pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.

Bab II, berisi tentang tinjauan umum bulan dalam perspektif sains modern. Dalam bab ini akan di jelaskan mulai dari penjabaran tentang bulan, fase dan orbit bulan, dan segala macam teori yang berkaitan tentang bulan, meliputi Librasi, Eksplorasi dan Kolonisasi bulan.

Bab III, berisi tentang pengertian tafsir Tematik (Maudhu’i), perkembangan metode Tematik, serta langkah penerapan metode Maudhu’i dan klasifikasi ayat-ayat Al-Qur’an tentang bulan.

Bab IV, berisi analisis tentang Integrasi ayat-ayat Al-Qur’an tentang bulan dengan sains modern diantaranya yang akan penulis bahas di dalamnya adalah tentang substansi bulan, garis edar bulan, sumpah atas nama bulan, fase bulan dan teori bulan menghilang.

Bab V, merupakan penutup yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, saran, rekomendasi dan kata penutup.

28 Mardalis, Metode Penelitian (Suatu Pendekatan Proposal), cet. 10 (Jakarta: Bumi Aksara, 2008),

(12)

Outline

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penulisan D. Manfaat Penulisan E. Kajian Pustaka F. Kerangka Teori G. Metode Penelitian H. Sistematika Pembahasan

Bab II Tinjauan Umum Bulan: Perspektif Sains Modern A. Deskripsi Bulan

1. Definisi 2. Komposisi

3. Pembentukan Bulan B. Fase dan Orbit Bulan C. Librasi

D. Eksplorasi Bulan E. Kolonisasi Bulan

Bab III Kajian Tematik Ayat-ayat Bulan A. Metode Tafsir Tematik

1. Pengertian Tafsir Tematik (Maudhu’i) 2. Perkembangan Metode Tematik

3. Langkah Penerapan Metode Maudhu’i B. Klasifikasi Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Bulan

(13)

6. QS. Al-Qiyamah (75): 8 7. QS. Al-Insyiqaq (84): 18 8. QS. Al-Syams (91): 2 9. QS. Nuh (71): 16

Bab IV Analisis: Integrasi Ayat-ayat Al-Qur’an Tentang Bulan Dengan Sains Modern

A. Substansi Bulan B. Garis Edar Bulan

C. Sumpah Atas Nama Bulan D. Fase Bulan

E. Teori Bulan Menghilang

Bab V Penutup

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Admiranto, A. Gunawan. 2009. Menjelajahi Tata Surya, edisi kedua.Yogyakarta: Kanisius.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Cet.XIV. Jakarta: Rineka Cipta.

Damanhuri, Adi. “Desain Sistem Pengamatan Sabit Bulan Di Siang Hari”. Diakses pada 27 Desember 2017 dari https://jurnal.umj.ac.id/index.php/semnastek/article/view/544.

Faizah, Ayu. Nurul. ”Gerhana Pada Masa Nabi Muhammad SAW (Studi Analisis Geehana Bulan Periode Madinah Perspektif Astronomi”. Diakses pada 27 Desember 2017 dari http://eprints.walisongo.ac.id/7525/2/135212008_bab1.pdf .

Hambali, Slamet. “Astronomi Islam dan Teoriui Heliocentris Nicolaus Copernicus”

diakses pada 27 Desember 2017 dari http://journal.walisongo.ac.id/index.php/ahkam/article/ viewFile/24/93 .

Hasan, Muhammad. “Benda Astronomi dalam Al-Qur’an Dari Perspektif Sains”, diakses pada 27 Desember 2017 dari

http://www.journal.walisongo.ac.id/index.php/teologia/article/view/409/374 .

Machfudz. 2010. Penelitian Astronomi dan Kemukjizatan Al-Qur’an. Wonosobo: Center Of Excellence Program UNSIQ.

Mardalis. 2008. Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, cet.x. Jakarta: Bumi Aksara.

Melati, Asih. “Literasi Pembelajaran Astronomi Berbasis Integrasi Sains, Tekhnologi dan Religi”. Diakses pada 27 Desember 2017 dari

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosfis1/article/view/3758/2641 .

Purwanto, Agus. 2008. Ayat-Ayat Semesta: Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan,

(15)

____________. “Bumi Berotasi: Pendekatan Teks Wahyu Matahari Tidak Mungkin Mendahului Bulan”. Diakses pada 27 Desember 2017 dari

http://www.jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosfis1/article/view/3372/2369 .

Qardhawi, Yusuf. 1998. Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, terj. Abdul Hayyie a-Kattani dkk. cet.I. Jakarta: Gema Insani.

Rahman, Fazlur. 1996. Tema Pokok Al-Qur’an, terj. Anas Mahyudin. cet.II. Bandung: Pustaka.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...