• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KUALITAS CAHAYA TERHADAP KECEPA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH KUALITAS CAHAYA TERHADAP KECEPA"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH KUALITAS CAHAYA TERHADAP KECEPATAN FOTOSINTESIS

LAPORAN PRAKTIKUM

Oleh :

Golongan C/Kelompok 5

1. Rizkiyanti Faradina 151510501312

2. Rosyid Rohmadani 151510501271

3. Nur Afwiyatur R. 151510501267

4. Fauziah Nurul L. 151510501278

5. Shofiyuddin Azhar 151510501281

6. Winda Ruliyanti 151510501289

7. Farida Puput K. 151510501297

8. Lutfi Amanda Wardani 151510501305

9. Rendi Tri Wibowo 151510501311

10.Muhammad. Rizal R. 151510501319

LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER

(2)

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tumbuhan merupakan penyedia pangan bagi konsumen tingkat satu dan seterusnya, oleh karena itu tumbuhan dikenal sebagai produsen yaitu penyedia sumber pangan. Tumbuhan tergolong sebagai makhluk autrotrof yang mampu mengubah zat anorganik menjadi zat organik, selain itu peranan penting lainnya dari tumbuhan adalah tumbuhan sebagai penghasil oksigen. Tumbuhan menyerap gas CO2 dan memanfaatkan gas tersebut memalui suatu reaksi yang dikenal dengan reaksi fotosintesis. Fotosintesis merupakan proses biokimiawi yang dilakukan oleh tumbuhan yang bertujuan menghasilkan energi dengan memanfaatkan energi cahaya. Reaksi fotosintesis ini berlangsung pada organ daun, hal ini dikarenakan pada daun terdapat organel yang mengandung klorofil. Klorofil berperan dalam penyerapan energi cahaya sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk menghasilkan energi (nutrisi). Fotosintesis ini memegang peran penting yang tidak hanya berguna bagi tanaman tetapi juga untuk semua makluk hidup di bumi, hal tersebut dikarenakan dalam proses fotosintesis menghasilkan oksigen.

(3)

dengan cahaya yang cukup akan mengalami pertumbuhan dengan baik serta daun yang dihasilkan pun lebih lebar dan hijau, serta batangnya lebih kokoh.

Sinar matahari yang mencapai atrnosfir merupakan sebagian dari cahaya yang dipancarkan oleh matahari, hal ini dikarenakan cahaya yang berbahaya telah mengalami penyaringan oleh laposan ozon. Sepertiga dari total radiasi matahari yang diterima akan direfleksikan kembali. Sinar matahari dengan panjang gelombang lebih pendek (ultra violet) akan terabsopsi oleh lapisan ozon, sedangkan sinar matahari dengan panjang gelombang berkisar 0.4-0.7 pm disebut sebagai cahaya tampak yang sampai pada permukaan bumi. Cahaya matahari bersifat polikromatik yang apabila dibiaskan akan menghasilkan cahaya monokromatik. Cahaya tampak inilah yang akan dimanfaatkan oleh tumbuhan berklorofil dalam proses fotosintesis pada reaksi terang yang kemudian akan menghasilkan energi dan O2 sebagai hasil sampingannya.

1.2 Tujuan

(4)

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari tanaman itu sendiri, misal hormon, morfologi organ, dan gen, sedangkan faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan tempat tanaman tersebut tumbuh, misal cahaya, air, kelembaban dan tanah (Sumenda, 2011). Tanaman tergolong dalam organisme yang mampu menghasilkan energi dengan menafaatkan energi cahaya yang dikenal dengan fototrof. Tanaman bersifat autotrof yan berarti tanaman mampu mensintesis makanannya sendiri atau mampu mengubah zat anorganik menjadi zat organik. Tanaman akan mengubah zat-zat anorganik H2O dan CO2 menjadi zat organik karbohidrat dengan bantuan cahaya yang diterima oleh klorofil, oleh sebab itu maka proses fotosintesis hanya dapat dilakukan oleh tumbuhan berklorofil. Proses tersebut dikenal sebagai fotosintesis yang mana dalam prosesnya menghasilkan oksigen sebagai produk sampingan (Puspitaningrum dkk., 2012).

Laju fotosintesis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal tersebut meliputi kadar CO2, suhu, cahaya, air, dan kadar O2. Cahaya yang diserap oleh tanaman bergantung memiliki intensitas cahaya tertentu yang berkaitan langsung dengan kualitas cahaya tersebut (Darwati dkk., 2013). Kualitas cahaya tersebut berperan dalam perkembangan tanaman mulai dari perkecambahan, induksi bunga dan perkembangan buah. Tanaman menerjemahkan suatu set yang kompleks kualitas sinyal cahayanya menjadi sinyal biokimia melalui sejumlah diskrit fotoreseptor, seperti ultraviolet (UV) reseptor A/cahaya biru, cryptochrome dan phototropin, dan fitokrom (Xiaoying et al., 2012). Tanaman yang kekurangan cahaya akan menunjukkan gejala etiolasi, dimana batang tanaman tumbuh lebih cepat akan tetapi batang tersebut lemah, daun berukuran lebih kecil dengan jarak antar daun berjauhan serta warna kuning atau pucat (Sudarmono, 1997).

(5)

tanaman. Matahari memancarkan cahaya dalam bentuk gelombang panjang dan gelombang pendek dengan panjang gelombang sekitar 400-700 nm. Integrasi, kualitas, durasi dan intensitas dari cahaya merah, jauh-merah, biru, UV-A (320-500 nm) dan UV-B (280-320 nm) memiliki pengaruh yang besar terhadap tanaman dengan memacu reaksi fisiologis khususnya fotosintesis (Li et al., 2012). Gelombang cahaya akan diserap oleh klorofil guna memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen, gas hidrogen ini diikat oleh tanaman bersama dengan gas karbondioksida kemudian menjadi zat gula atau glukosa (Nasoetion dan Amini, 1983).

(6)

BAB 3. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Pelaksanaan praktikum Pengaruh Kualitas Cahaya terhadap Kecepatan Fotosintesis dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 29 Oktober 2016 pada jam 06.00 WIB sampai selesai bertempat di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Gedung Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Alat dan Bahan

5. Lampu dengan 4 warna yaitu merah, kuning dan biru serta transparan 6. Pinset

1. Menyiapkan dan memotong bahan Hydrilla sp. didalam wadah berisi air. 2. Memasukkan potongan Hydrilla sp. ke dalam dasar beaker glass yang telah

berisi aquadest.

(7)

4. Menghitung jumlah oksigen yang muncul di permukaan air menggunakan hand counter.

(8)

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Menit ke-5 Menit ke-10 Menit ke-15

Merah 288 799 1192 760

Praktikum pengaruh kualitas cahaya terhadap kecepatan fotosintesis ini menggunakan Hidrilla sebagai tanaman yang hidup di air dengan tujuan dapat teramatinya gelembung oksigen yang dihasilkan dalam satuan waktu tertentu. Menurut Puspitaningrum dkk. (2012), Tanaman melakukan proses fotosintesis, dimana tanaman mampu mengubah zat-zat anorganik H2O dan CO2 menjadi zat organik glukosa serta O2 sebagai produk sampingannya dengan bantuan cahaya yang diabsorpsi oleh klorofil. Perbedaan cahaya menyebabkan perbedaan laju fotosintesis yang ditandai dengan perbedaan jumlah gelembung yang dihasilkan. Menurut Darwati dkk. (2013) Laju fotosintesis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya yaitu cahaya. Cahaya yang diserap oleh tanaman bergantung memiliki intensitas cahaya tertentu yang berkaitan langsung dengan kualitas cahaya tersebut. Berdasarkan rata-rata gelembung yang dihasilkan setiap 5 menit, tanaman Hidrilla yang diletakkan dibawah lampu dengan cahaya merah menunjukkan hasil paling tinggi yaitu sejumlah 760 gelembung dan hasil terendah terjadi pada tanaman yang diletakkan dibawah lampu hijau

(9)

oleh klorofil a dan klorofil b, namun berbanding terbalik dengan panjang gelombang hijau yang sangat kurang diabsorpsi (Ai, 2012).

Fotosintesis memerlukan cahaya guna memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen, gas hidrogen ini diikat oleh tanaman bersama dengan gas karbondioksida kemudian menjadi zat gula atau glukosa (Nasoetion dan Amini, 1983). Laju fotosintesis sendiri dipengaruhi oleh intensitas cahaya tertentu yang berkaitan langsung dengan kualitas cahaya tersebut (Darwati dkk., 2013). Cahaya matahari memiliki spektrum warna tampak mulai dari merah hingga ungu, namun hanya beberapa spektrum warna dari cahaya tampak tertentu saja yang akan diabsorpsi oleh klorofil. Panjang gelombang biru dan ungu serta jingga dan merah diabsorbsi sangat kuat oleh klorofil a dan klorofil b, namun berbanding terbalik dengan panjang gelombang hijau yang sangat kurang diabsorpsi (Ai, 2012). Hal tersebut terbukti dalam hasil praktikum dimana cahaya merah memiliki laju fotosintesis tercepat dibanding cahaya lain dimana cahaya merah memiliki panjang gelombang 650-700 nm yang nantinya akan menuju pada fotosistem I, bebeda dengan cahaya hijau dengan panjang gelombang 500-600 nm yang harus melalui fotosistem II terlebih dahulu (Yerina et al., 2012).

(10)

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

 Berdasakan hasil praktikum diketahui bahwa cahaya merah merupakan

cahaya yang paling efektif dalam proses fotosintesis, sedangkan cahaya hijau merupakan cahaya paling lemah jika dibanding dengan cahaya lainnya.

 Kualitas cahaya mempengaruhi laju fotosintesis. Klorofil a dan b lebih kuat dalam mengabsorpsi gelombang cahaya biru dan ungu serta jingga dan merah, namun berbanding terbalik dengan panjang gelombang hijau yang sangat kurang diabsorpsi.

 Efek emerson menjelaskan tentang efektivitas cahaya, dimana spektrum

cahaya gelombang pendek akan dapat memacu laju fotosintesis lebih cepat jika dipadukan dengan cahaya gelombang panjang.

5.2 Saran

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Ai, N. S. 2012. Evolusi Fotosintesis pada Tumbuhan. Ilmiah Sains, 12(1) : 28-34.

Darwati, I., Rosita S.M., Setiawan dan H. Nurhayati. 2013. Identifikasi Karakter Morfo-Fisiologi Penentu Produktivitas Jambu Mete (Anacardium occidentale). Littri, 19(4): 186-193.

Juansyah, J., R.K Ariyati, dan Akhiruddin. 2013. Potensi Metode Optik untuk Pendugaan Kandungan Antosianin pada Buah Black Mulberry dan Stroberi. Biofisika, 9(1):22-30.

Li, H., C. Tang., Z. Xu., X. Liu, and X. Han. 2012. Effects of Different Light Sources on the Growth of Non-Heading Chinese Cabbage (Brassica Campestris L.). Agricultural Science, 4(4): 262 – 263.

Nasoetion, A. H. dan A. Nasoetion. 1983. Matahri, Manusia dan Makanan. Jakarta : Balai Pustaka.

Puspitaningrum M., M. Izzati. dan S. Haryanti. 2012. Produksi dan Konsumsi Oksigen Terlarut oleh Beberapa Tumbuhan Air. Anatomi dan Fisiologi, 10(1): 47-55.

Sudarmono, A. S. 1997. Mengenal dan Menrawat Tanaman Hias Ruangan. Yogyakarta:Kanisius.

Sumenda, L., H. L. Rampe, F. R. Mantiri. 2011. Analisis Kandungan Klorofil Daun Mangga (Mangifera indica L.) pada Tingkat Perkembangan Daun yang Berbeda. BIOSLOGOS, 1(1) : 20-24.

Xiaoying, L., G. Shirong, C. Taotao1, X. Zhigang and T. Tezuka. 2012. Regulation of the Growth and Photosynthesis of Cherry Tomato Seedlings by Different Light Irradiations of Light Emitting Diodes (LED). Biotechnology, 11(22):6169-6177.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini yang menyebabkan tanaman masih dapat tumbuh walaupun tidak secepat warna merah karena pada spektrum biru energi cahaya hanya diserap oleh karotenoid klorofil –

Data menunjukkan bahwa perkecambahan kacang hijau ( Vigna radiata L.) pada spektrum warna merah lebih cepat dibandingkan pada spektrum warna hijau karena spektrum warna

Ternyata cahaya putih matahari yang bagi kita tidak tampak berwarna, oleh prisma tersebut dipecahkan menjadi susunan cahaya berwarna yang tampak di mata sebagai cahaya merah,

Setiap sumber cahaya akan menghasilkan spektrum yang mencirikan warna yang dihasilkan, hal tersebut dinyatakan dalam koordinat (x; y) pada diagram

antara penyerapan cahaya pada varietas Fiji pink yang ditanam pada lingkungan yang diberi lampu dengan plastik merah menyebabkan akumulasi penyerapan cahaya warna

Tujuan dari penelitian ini adalah identifikasi (penentuan) kualitas susu suatu grafik spektrum dari peralatan spektroskopi cahaya tampak mengguna- kan jaringan syaraf

Setiap sumber cahaya akan menghasilkan spektrum yang mencirikan warna yang dihasilkan, hal tersebut dinyatakan dalam koordinat (x; y) pada diagram

Menunjukan hasil grafik perkecambahan tinggi tanaman kacang hijau Vigna Radiata L, ketinggian kacang hijau dalam pengaruh spektrum warna ungu, merah, hijau, dan biru, yang memiliki