Hubungan Faktor Maternal Terhadap Berat Badan Lahir
Bayi di Rumah Sakit UKRIDA
Oleh:
Susi Sugiarti
10.2007.046
Universitas Kristen Krida Wacana
Daftar Isi... (i)
3.2 Tempat dan Waktu Pengumpulan Data... 7
3.3 Variabel... 7
3.4 Populasi dan Sampel ... 8
Kata Pengantar
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan izin dan kekuatan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul ’’ Hubungan Faktor Usia, Hipertensi, Rokok, Dan Pendidikan Terhadap BBLR Periode Juli 2014 Di Rumah Sakit Umum UKRIDA” tepat pada waktunya. Tugas ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodelogi Penelitian. Dan juga kami mengucapkan terimakasih kepada: 1. Dr Djap Hadi Susanto selaku dosen pembimbing mata kuliah metodelogi peneliatian.
2. Orangtua saya yang selalu ada di hati, terima kasih atas kesetiaan serta nasihat dan motivasi yang telah diberikan.
3. Semua pihak yang tidak sempat kami sebutkan satu per satu yang turut membantu kelancaran dalam penyusunan makalah ini.
Abstrak
Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi di dunia, terutama dinegara berkembang. Di Indonesia diperkirakan sekitar 400.000-900.000 bayi dilahirkan dengan BBLR setiap tahunnya. BBLR sangat berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas neonatus. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian BBLR diantaranya karakteristik ibu seperti umur, paritas, jarak kelahiran, antenatal care, dan riwayat penyakit ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik ibu hamil dengan kejadian BBLR yang dilakukan secara deskriptif analitik observasional dengan pendekatan crossectional terhadap 300 ibu yang melahirkan bayi BBLR dan yang melahirkan bayi dengan berat lahir normal di Rumah Sakit UKRIDA periode 2014. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara karakteristik ibu hamil berdasarkan umur, hipertensi, aktivitas merokok, dan pendidikan dengan kejadian bayi BBLR.
Kata kunci: BBLR, karakteristik ibu hamil
Abstract
Low birth weight is one of the causes of the death of babies around the world. In Indonesia, it is estimated that around 400,00-900,000 low birth weight babies are delivered every year. Low birth weight babies are highly related to foetal and neonatal mortality and morbidity. There are several influencing factors in the prevalence of low birth weight babies, one of them is the characteristics of the pregnant mothers, including the maternal age, parity, inter-pregnancy interval, antenatal care, and the mothers’ medical history.
This study aims to determine the relationship between the characteristics of pregnant women with LBW conducted a descriptive cross-sectional observational analytic approach to the 300 mothers who gave birth to LBW babies and give birth to babies with normal birth weight in Hospital UKRIDA period of 2014. Results of this study indicate that there are the relationship between maternal characteristics by age, hypertension, smoking activity, and education with incidence of LBW infants.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental yang baik sejak awal kehidupan di masa bayi sangat penting artinya dalam tahap tumbuh kembangnya hingga mencapai masa kedewasaannya. Secara Internasional, Bayi Berat Lahir Rendah masih dipandang sebagai masalah kesehatan yang cukup menonjol karena mempunyai risiko yang cukup tinggu untuk mengalami kematian pada masa neonatal sebesar 40 kali dibandingkan bayi lahir dengan berat normal. Disamping itu dalam pendapat lain, kemungkinan bayi BBLR meninggal dunia sebelum usia 1 tahun, 17 kali lebih besar daripada bayi lahir normal. Pada masa perinatal kemungkinan terjadinya kematian pada bayi berat lahir rendah adalah 5-13 kali lebih besar dibandingkan bayi yang lahir dengan berat normal.
Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa untuk menerima ide yang baru oleh masyarakat sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Tingginya pendidikan masyarakat menjadi penunjang dalam mempermudah untuk mencerna informasi yang diterima untuk dapat dimengerti termasuk untuk menyebar luaskan program penurunan angka kematian bayi dengan menekan angka kejadian BBLR.
Faktor ibu lainnya yakni usia ibu, paritas pertama dan terlalu sering melahirkan memberi kontribusi penting untuk terjadinya BBLR.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun masalah yang dirumuskan penulis adalah: 1. Apakah ada hubungan kejadian BBLR dengan faktor umur ibu ?
2. Apakah ada hubungan kejadian BBLR dengan faktor penyakit hipertensi pada ibu? 3. Apakah ada hubungan kejadian BBLR dengan faktor kebiasaan merokok pada ibu ? 4. Apakah ada hubungan kejadian BBLR dengan faktor tingkat pendidikan ibu?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh faktor maternal terhadap kejadian berat bayi lahir rendah di RS UKRIDA tahun 2014, khususnya faktor umur ibu, penyakit hipertensi, kebiasaan merokok dan tingkat pendidikan pada ibu.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Sebagai masukan bagi RS UKRIDA dan instansi terkait yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pelayanan terutama ibu hamil.
2. Sebagai bahan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan berat badan lahir rendah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Faktor Usia Ibu terhadap BBLR
Wanita yang berusia kurang dari 20 tahun lebih besar kemungkinannya untuk melahirkan bayi dengan berat badan kurang dari normal dan meninggal sebelum usia satu tahun dari pada bayi yang dilahirkan oleh ibu berusia 20-35 tahun, demikian pula umur ibu diatas 35 tahun cenderung melahirkan bayi dengan risiko BBLR sebesar 4-5 kali.
Umur ideal untuk kehamilan yang risikonya rendah adalah pada kelompok umur 20-35 tahun. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, perempuan yang mengalami kehamilan pada usia berisiko tinggi (35 tahun ke atas) 4,6% tidak pernah memeriksakan kehamilan, dan yang berusia <20 tahun 5,1% memeriksakan kehamilan pada dukun.
Kehamilan pada remaja putri sangat berisiko terhadap dirinya karena pertumbuhan linier (tinggi badan) pada umumnya baru selasai pada usia 16-18 tahun, dan dilanjutkan dengan pematangan rongga panggul beberapa tahun setelah pertumbuhan linier selesai.
2.2 Kajian Pengaruh Penyakit Hipertensi pada Ibu terhadap BBLR
Berdasarkan hasil penelitian tinggi rendahnya tekanan darah sistolik dan diastolik dalam kehamilan mempunyai pengaruh terhadap berat badan lahir. Faktor tekanan darah dalam kehamilan mempunyai pengaruh terhadap berat badan lahir. Rendahnya tekanan darah ibu hamil berkaitan dengan gangguan vaskular yang dapat mengakibatkan rendahnya asupan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh janin. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan gangguan terhadap proses tumbuh kembang janin normal.
ditemukan kelainan-kelainan tersebut sehingga perfusi nutrisi dan oksigen untuk pertumbuhan janin lebih adekuat.
Secara global hipertensi pada kehamilan juga merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas dari ibu bersalin. Mortalitas dan morbiditas akibat hipertensi dalam kehamilan juga masih tinggi di Indonesia. Hal ini tentu memberikan sumbangan besar terhadap angka kematian ibu bersalin, maupun angka kematian bayi.
2.3 Kajian Pengaruh Kebiasaan Merokok pada Ibu terhadap BBLR
Penelitian yang ditulis dalam European Heart Journal menemukan bahwa bayi yang lahir dari seorang ibu yang merokok pada masa kehamilan, memiliki tingkat kolesterol “baik” (HDL) yang berdampak pada serangan jantung dan stroke di kemudian hari. Asap rokok mengandung 2500 bahan kimia individu yang berbahaya bagi kehidupan janin. Penelitian menunjukkan bahwa merokok saat hamil dapat memiliki dampak yang menghancurkan dan bahkan mengancam perkembangan janin. Merokok melebihi 20 batang sehari dapat memberikan pengaruh buruk terhadap kehamilan karena dapat menimbulkan gangguan sirkulasi intervilous plasenta sehingga mengganggu pertukaran O2 dan CO2 serta
menyebabkan darah terlalu banyak mengandung CO sehingga kapasitas pengangkutan O2 dan
CO2 makin berkurang. Dapat dipastikan bahwa tumbuh kembang janin dalam uterus akan
mengalami gangguan dalam bentuk abortus, persalinan prematur, berat badan lahir rendah dengan perkiraan akan berkurang beratnya sekitar 200-300 gram dibandingkan dengan ibu bukan perokok. Keuntunganya, pengaruh rokok ini tidak berlangsung lama. Oleh karena itu, menghentikan kebiasaan merokok selama hamil cukup membantu mengurangi kemungkinan pengaruh buruk rokok terhadap janin.
2.4 Kajian Faktor Tingkat Pendidikan Ibu dalam Kehamilan
tidak hanya dinikmati oleh orang yang meningkatkan pendidikan tersebut (private rate to retum) melainkan juga dinikmati oleh masyarakat luas (social rate retum).
Tingkat pendidikan ibu sangat berpengaruh terhadap minat ibu untuk memelihara untuk memelihara kehamilannya. Semakin tinggi pendidikan, secara tidak langsung berpengaruh terhadap peningkatan status sosialnya. Sebaliknya pendidikan yang rendah menyebabkan kurangnya pengetahun tentang kehamilan dan sering menjadi penyebab kurang gizi pada bayi. Selama masa intrauteruin, asupan nutrisi yang adekuat pada ibu tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi lebih pada pertumbuhan janin. Dengan asupan nutrisi yang adekuat dari hari ke hari kehamilan ibu bertambah besar dan sejalan dengan itu, janin tumbuh dan berkembang sampai pada usia kehamilan yang matang maka janin siap dilahirkan dengan berat badan, panjang badan, dan pertumbuhan organ fisik lainnya yang normal. Sebaliknya, apabila ibu tidak mendapat asupan gizi yang adekuat, bayi dapat lahir dengan berat rendah
Pengetahuan maupun faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor sosial budaya serta ekonomi memang menjadi faktor utama seorang ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Survei demografi di 40 negara (Engendering Development, Bank Dunia, 2001) yang memperlihatkan bahwa makin tinggi tingkat pendidikan ibu, makin rendah angka kematian bayi. Bahkan, seorang ibu yang menyelesaikan pendidikan dasar enam tahun akan menurunkan angka kematian bayi secara signifikan dibandingkan dengan para ibu yang tidak tamat sekolah dasar. Angka kematian bayi ini bahkan semakin rendah bila para ibu menyelesaikan pendidikan menegah tingkat pertama.Menurut Undang-Undang No.2 tahun 1999, pengukuran tingkat pendidikan formal digolongkan menjadi:
1. Tingkat pendidikan tinggi: yaitu minimum pernah menempuh pendidikan tinggi, SLTA/sederajat
2. Tingkat pendidikan sedang: yaitu pendidikan SMP/sederajat 3. Tingkat pendidikan rendah: yaitu pendidikan SD/sederajat
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian
Adapun penelitian ini adalah bersifat analitik dengan desain/pendekatan cross sectional,
dimana pengumpulan data dan pengukuran variabel penelitian dilakukan pada saat yang sama.
3.2 Tempat dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di rumah sakit Ukrida pada bulan Juli 2014.
3.3 Pengumpulan data
Cara pengumpulan data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara wawancara menggunakan kuesioner untuk data primer dan untuk sekunder di peroleh dari buku registerasi di Rumah Sakit Ukrida tahun 2014 bulan Januari samapai Juni.
3.4 Analisa Data
a. Analisa univariat
Dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi pada tiap variabel dalam penelitian.
b. Analisa bivariat
Dilakukan untuk mengetahui hubungan antara ibu hamil yang merokok dengan kejadian BBLR menggunakan uji statistik Chi–Square( X2). Analisa dilakukan pada tingkat
kemaknaan 95% (α=0,05) untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan yang bermakna secara statistik menggunakan uji SPSS versi.
3.5 Populasi dan Sampel
1. Populasi
2. Sampel
Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan metode random sampling, dengan jumlah sampel 101 ibu yang telah melahirkan
3.6 Variabel Penelitian
Dalam Penelitian ini terdapat beberapa variabel yang diteliti, yaitu sebagai berikut:
• Berat badan bayi pada waktu di lahirkan kurang dari 2500 gram dan yang lebih atau sama dengan dari 2500gram. Variabel ini akan diukur dengan wawancara menggunakan checklist. Hasil ukur dikategorikan dalam 2 kategori, yaitu: (1) BBLR jika < 2499 gram dan (2) Normal jika >= 2500 gram. Hasil ukur tersebut berskala ordinal.
• Ibu merokok : Ibu hamil yang telah bersalin dan merokok sebelum dan atau selama hamil. Variabel ini akan diukur dengan wawancara menggunakan kuesioner. Hasil ukur dikategorikan dalam 2 kategori, yaitu: (1) merokok (2) tidak merokok Hasil ukur tersebut berskala nominal.
• Hipertensi : Ibu hamil yang tekanan darah sistolenya >140 dan diastole >90. Variabel ini akan diukur dengan data yang didapat dari RS Ukrida pada bulan januari sampai maret. Hasil ukur dikategorikan dalam 2 kategori, yaitu: (1) Hipertensi (2) tidak hipertensi. Hasil ukur tersebut berskala nomnal
• Usia ibu: Hasil pengurangan dari tanggal bulan dan tahun ibu ketika hamil dengan tanggal bulan dan tahun kelahiran ibu. Variabel ini diukur melalui KTP ibu. Hasil ukur tersebut berskala rasio
BAB IV
HASIL PENELITIAN 1. Hubungan Umur Ibu dengan BBL
Tabel 1. Statistics
umur ibu
N Valid 140
Missing 0
Mean 23.3571
Median 22.5000
Mode 22.00
Std. Deviation 5.55039
Variance 30.807
Range 31.00
Minimum 14.00
Tabel 2. umur ibu
Dari tabel diatas didapatkan hasil sel yang bernilai nol, ekspected celnya kurang dari lima, kurang dari 20% maka digunakan penilaian korelasi pearson, didapatkan hasil 0,023 , (Asymp. Sig. 2-sided)) sehingga Ho ditolak yang artinya antara variabel umur ibu dan berat badan lahir bayi memiliki hubungan. Adapun Proporsi dari umur ibu dengan berat badan bayi sebagai berikut:
Tabel 4. pendidikan ibu * bbl Crosstabulation
Bbl
Total >=2500 <2500
pendidikan ibu Sedang Count 59 23 82
Expected Count 64.4 17.6 82.0
Rendah Count 51 7 58
Expected Count 45.6 12.4 58.0
Total Count 110 30 140
Expected Count 110.0 30.0 140.0
Pada tabel ini diperlihatkan ibu yang memiliki pendidikan sedang 17,6% ( 23 orang ) memiliki
bayi dengan berat badan <2500 gr, dan 64,4% (59 orang) memiliki berat badan ≥2500 gr. Pada ibu
yang memiliki pendidikan rendah sebanyak 12,4% (7 orang) memiliki berat badan <2500 gr, dan
45,6% (51 orang) memiliki anak dengan berat badan ≥2500 gr.
2. Hubungan Penyakit Hipertensi dengan BBL
Pearson Chi-Square 5.152a 1 .023
Continuity Correctionb 4.247 1 .039
Likelihood Ratio 5.440 1 .020
Fisher's Exact Test .035 .018
Linear-by-Linear
Association 5.115 1 .024
N of Valid Casesb 140
a. 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.43.
Tabel 5. Hipertensi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid tidak 131 93.6 93.6 93.6
ya 9 6.4 6.4 100.0
Total 140 100.0 100.0
Dalam penelitian ini digunakan sampel sebanyak 140 orang ibu setelah melahirkan di dapatkan ibu yang tidak hipertensi sebanyak 131 orang (93,6%). Sedangkan ibu dengan hipertensi sebanyak 9 orang (6,4%). Dari analisis data dengan metode analitik didapatkan data hubungan korelasi antara
berat badan lahir dengan hipertensi ibu sebagai berikut:
Tabel 6. Group Statistics
hiperten
si N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
berat badan lahir tidak 131 3.1361E3 647.73399 56.59278
ya 9 2.9096E3 709.49015 236.49672
T-test hubungan antara berat badan lahir dengan hipertensi di dapatkan rata-rata ibu hamil tidak
hipertensi mempunyai bayi berat badan lahir 3,136 gram dan ibu hamil dengan hipertensi mempunyai
bayi berat badan lahir 2,909 gram maka terdapat selisih 226 gram. Sign 2 tailed 0,315 dengan α= 5%
maka ada perbedaan berat badan lahir dengan hipertensi (Lamiran 1)
3. Pengaruh Merokok pada Ibu terhadap BBL
Tabel 7. Rokok
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Tidak 87 62.1 62.1 62.1
Merokok 53 37.9 37.9 100.0
Dalam penelitian ini digunakan sampel sebanyak 140 orang ibu yang tidak merokok sebanyak 87 orang (62,1%) sedangkan ibu yang merokok sebanyak 53 orang (37,9%). Dari analisis data dengan metode analitik didapatkan data hubungan korelasi antara berat badan lahir dengan ibu merokok sebagai berikut:
Tabel 8. Group Statistics
Rokok N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
berat badan lahir Tidak 87 3.2620E3 661.06364 70.87346
merokok 53 2.8910E3 569.83901 78.27341
T-test hubungan antara berat badan lahir dengan merokok di dapatkan rata-rata ibu hamil tidak
merokok mempunyai bayi berat badan lahir 3,262 gram dan ibu hamil dengan merokok mempunyai
bayi berat badan lahir 2,891 gram maka terdapat selisih 371 gram. Sign 2 tailed 0,001 dengan α= 5%
hipotesisnya 0 tidak ada hubungannya antara berat badan lahir dengan rokok maka ada perbedaan
berat badan lahir dengan merokok (Lamiran 2)
4. Pengaruh Tingkat Pendidikan Ibu terhadap BBL
Tabel 9. pendidikan ibu
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Sedang 82 58.6 58.6 58.6
Rendah 58 41.4 41.4 100.0
Total 140 100.0 100.0
Dalam penelitian ini digunakan sampel sebanyak 140 orang ibu yang memiliki pendidikan sedang sebanyak 82 orang (58,6%) sedangkan ibu yang memiliki pendidikan rendah sebanyak 58 orang (41,4%). Dari analisis data dengan metode analitik didapatkan data hubungan korelasi antara berat
Tabel 10. pendidikan ibu * bbl Crosstabulation
bbl
Total
0 1
pendidikan ibu Sedang Count 59 23 82
Expected Count 64.4 17.6 82.0
Rendah Count 51 7 58
Expected Count 45.6 12.4 58.0
Total Count 110 30 140
Expected Count 110.0 30.0 140.0
Pada tabel ini diperlihatkan ibu yang memiliki tingkat pendidikan sedang sebanyak 17,6% ( 23 orang ) memiliki bayi dengan berat badan <2500 gr, dan 64,4 % (59 orang) memiliki berat badan ≥2500 gr. Pada tingkat pendidikan rendah sebanyak 12,4% (7 orang) memiliki berat badan <2500 gr, dan 45,6% (51 orang) memiliki anak dengan berat badan ≥2500 gr.
BAB V PEMBAHASAN
Kelahiran bayi dengan BBLR merupakan indikator untuk menilai sejauh mana tumbuh kembang seorang anak serta kesiapan sumber daya dimasa yang akan datang. Data dari hasil penelitian ini yang melibatkan ibu dari bayi baru lahir sebesar 140 orang yang ditolong di Rumah Sakit UKRIDA hingga bulan Juli 2014, dan secara keseluruhan dijadikan sampel. Untuk mengungkap ada tidaknya hubungan antara faktor yang menjadi variabel dalam penelitian ini, berikut akan dilakukan pembahasan sejauh mana kontribusi berbagai faktor maternal yang menjadi variabel independen dalam penelitian ini antara lain.
1. Umur Ibu
berusia 14 tahun dan 45 tahun. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu dengan BBLR, dimana hipotesis kita diterima.
2. Penyakit Hipertensi
Dari data yang diperoleh dimana faktor tekanan darah dalam kehamilan mempunyai pengaruh terhadap berat badan lahir. Rendahnya tekanan darah ibu hamil berkaitan dengan gangguan vaskular yang dapat mengakibatkan rendahnya asupan nutrisi dan oksigen yang dibutuhkan oleh janin. Hal ini tentunya dapat mengakibatkan gangguan terhadap proses tumbuh kembang janin normal. Namun dari hasil penelitian korelasi yang didapatkan negatif dimana justru semakin tinggi tekanan darah yang mempengaruhi BBLR.
3. Kebiasaan merokok
Dari data mengenai kebiasaan merokok diperoleh bahwa tumbuh kembang janin dalam uterus akan mengalami gangguan dalam bentuk abortus, persalinan prematur, berat badan lahir rendah dengan perkiraan akan berkurang beratnya sekitar 200-300 gram dibandingkan dengan ibu bukan perokok. Hasil penelitian menyatakan ada korelasi negatif artinya semakin sering merokok maka semakin rendah pula berat badan bayi yang dilahirkan. Namun hubungan korelasinya tidak terlalu erat. Dan dari penilaian hipotesis yang diterima meyatakan tidak ada hubungan antara merokok dan BBLR.
4. Pendidikan Ibu
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh disimpulkan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor yang berhubungan dengan kejadian BBLR di RS UKRIDA, sedangkan umur ibu, kebiasaan merokok, dan adanya penyakit hipertensi tidak berhubungan dengan kejadian BBLR.
6.2 Saran
sarana kesehatan yang ada khususnya di RS UKRIDA, baik pada saat kunjungan ANC masa kehamilan, maupun melalui peran serta kader, tanpa membedakan latar belakang pendidikan ibu.
DAFTAR PUSTAKA
1. Effndy N. Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat. Jakarta: Erlangga; 2002.h. 45_53.
2. Sinclair C. Buku saku kebidanan. Jakarta: EGC; 2010.h. 384_90.
3. Jumiarni, Mulyani S, Nurlina. Asuhan keperawatan perinatal. Jakarta: EGC; 2003. H.18-22
4. Pickett G, Hanlon. Kesehatan masyarakat administrasi dan praktik. Edisi ke-9. Jakarta: EGC; 2009.h. 418_23.
5. Budiarto E. Metodologi penelitian kedokteran. Jakarta: EGC; 2004. h.63_7
6. Stolte KM. Diagnosa keperawatan sejahtera. Jakarta: EGC; 2004. h. 65_9
7. Manuaba I.B.G, Manuaba I.A.C, Manuaba I.B.G.F. Pengantar kuliah obstetri Jakarta: EGC; 2007.h. 200_8.