• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggunaan Mulsa Organik Untuk Pengendal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penggunaan Mulsa Organik Untuk Pengendal"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTEK LAPANGAN

PENGGUNAAN MULSA ORGANIK UNTUK

PENGENDALIAN SUHU TANAH PADA TANAMAN

KARET

THE USE OF ORGANIC MULCH FOR CONTROLLING

SOIL TEMPERATURE ON RUBBER PLANT

Dorpaima Lumbangaol

05121007028

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

SUMMARY

DORPAIMA LUMBANGAOL. The Use of Organic Mulch For Controlling Soil Temperature on Rubber Plant (Suprervised DWI SETYAWAN).

Organic mulch is a covering material that can maintain stability of soil temperature and soil moisture. This field practice of organic mulching dry leaves on the rubber plant practice was conducted because during June until the end of October occurred long droughts in North Indralaya Ogan Ilir, South Sumatra. This practice was conducted on September 25 until October 24, 2015 with 2 treatments; before mulch application treatments and after mulch application treatments. The potential organic mulch on rubber for 2 weeks during dry season. The observed variables were temperature and humidity, permeability, and soil texture. The result of the field practice showed that the effect of organic mulch on soil is potensial in lowering the temperature to 2°C and improving moisture of the soil up to 2%. Giving organic mulch of dry leaves will be more optimal if it was added with other organic materials and a longer application time.

(3)

RINGKASAN

DORPAIMA LUMBANGAOL

. Penggunaan Mulsa Organik Untuk Pengendalian Suhu Tanah pada Tanaman Karet (Dibimbing Oleh DWI

SETYAWAN).

Mulsa organik merupakan salah satu bahan penutup tanah yang dapat menjaga kestabilan suhu dan kelembaban tanah. Praktek lapangan pemberian mulsa organik daun kering pada tanaman karet ini dilaksanakan sebab pada bulan Juni hingga akhir Oktober terjadi musim kemarau yang panjang didaerah Kelurahan Timbangan Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan. Praktek lapangan ini dilakukan pada 25 September sampai 24 Oktober 2015 dengan 2 perlakukan yaitu, perlakuan sebelum aplikasi mulsa dan perlakukan sesudah aplikasi mulsa. Dengan demikian akan diukur potensi mulsa organik pada tanaman karet selama musim dua minggu pada saat musim kemarau berlangsung. Peubah yang diamati adalah suhu dan kelembaban, permeabilitas, tekstur tanah. Hasil praktek lapangan menunjukkan bahwa pengaruh mulsa organik pada tanah berpotensi menurunkan suhu hingga 2°C dan meningkatkan kelembaban tanah hingga 2%. Dengan demikian, mulsa organik tidak berpengaruh secara signifikan, juga seperti yang ditunjukkan oleh data analisis permeabilitas dan tekstur tanah. Pemberian mulsa organik daun kering akan semakin optimal apabila mulsa daun organik daun kering ditambah dengan bahan-bahan organik lainnya dan waktu pengaplikasian lebih lama.

(4)

LAPORAN PRAKTEK LAPANGAN

PENGGUNAAN MULSA ORGANIK UNTUK

PENGENDALIAN SUHU TANAH PADA TANAMAN

KARET

THE USE OF ORGANIC MULCH FOR CONTROLLING

SOIL TEMPERATURE ON RUBBER PLANT

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

Dorpaima Lumbangaol

05121007028

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

(5)
(6)
(7)

Universitas Sriwijaya viii

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sidikalang pada 23 November 1993, merupakan anak dari Maringan Lumbangaol dan Delima Siregar.

Pendidikan TK diselesaikan di St.Yoseph Sumbul Pegagan Kabupaten Dairi pada tahun 2000, sekolah dasar pada tahun 2006 di SD Negeri 3 Sumbul Kabupaten Dairi, sekolah menengah pertama pada tahun 2009 di SMP Negeri 10 Medan, dan sekolah menengah atas pada tahun 2012 di SMA N 2 Medan. Sejak Juli 2012 penulis tercatat sebagai mahasiswa di Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

(8)

Universitas Sriwijaya ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang sennatiasa melimpahkan RahmatNya kepada penulis serta memberikan kesehatan dan kesempatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktek lapangan ini yang berjudul ‘’Penggunaan Mulsa Organik Untuk Pengendalian Suhu pada Tanaman Karet’’. Penulis sangat berterimakasih kepada bapak Dr.Ir. Dwi Setyawan, M.Sc selaku Ketua Peminatan Ilmu Tanah dan sekaligus dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis sejak perencanaan, pelaksanaan, penyusunan hingga penulisan dalam bentuk laporan praktek lapangan ini.

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak Baskoro beserta keluarga yang telah memberikan izin dan kesempatan kepada penulis untuk dapat melakukan praktek lapangan di lahan karet kepemilikan beliau.

Ucapan terimakasih kepada penulis sampaikan kepada orangtua tercinta, kakak dan adikku tersayang, yang selalu mendoakan dan memberikan semangat maupun motivasi baik dalam bentuk moril dan materil kepada penulis. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan buat rekan kerja Hendra Edison Manullang dan Sunariati Simarmata atas bantuan dan kerja sama yang baik selama pelaksanaan laporan praktek lapangan ini. Terimakasih juga kepada sahabat-sahabatku ‘’PANGULA 2012’’ secara khusus sahabat-sahabatku anak Ilmu Tanah, atas bantuan dan semangatnya.

Laporan ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki segala kekurangan dalam laporan ini. Semoga laporan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang bemanfaat bagi kita semua.

Indralaya, Maret 2016

(9)

Universitas Sriwijaya

1.3. Manfaat Praktek Lapangan... 3

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA... 4

2.3.1. Tinjauan Tanaman Karet Secara Umum………. 7

2.3.2. Kesesuaian Tempat Tumbuh Pohon Karet……….… 7

2.4. Pengaruh Mulsa Terhadap Organik terhadap Sifat Fisik Tanah... 8

BAB 3. PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANGAN... 11

3.1. Tempat dan Waktu………... 11

3.2. Bahan dan Metode... 11

3.2.1. Bahan……….………. 11

3.2.2. Metode Kerja……….…………. 11

3.2.2.1. Pengukuran, Pengambilan, dan Analisis Tanah Awa…….. 11

3.2.2.2. Pembuatan Bokoran, Pengaplikasian Mulsa, dan Pengukuran. 11 3.3. Analisis Sampel Tanah di Laboratorium………. 13

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN……….. 14

(10)

Universitas Sriwijaya xi

4. 2. Ciri dan Morfologi Tanah……..……….... 15

4.2.1. Profil Tanah……… 15

4.2.2. Horizon Tanah……… 16

4.2.3. Warna Tanah……….. 16

4.2.4. Struktur Tanah……… 17

4.3. Pengaruh Mulsa Terhadap Suhu dan Kelembaban Tanah…………. 18

4.4. Pengaruh Mulsa Organik Terhadap Sifat Fisik Tanah………. 20

4.4.1. Permeabilitas………..……… 20

4.4.2. Tekstur………..………. 20

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN……….. 22

5.1. Kesimpulan………... 22

5.2. Saran……… 22

(11)

Universitas Sriwijaya xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 3.1. Persiapan Bokoran, Pengaplikasian Mulsa, Pengukuran

dan Pengambilan Sampel Tanah……… 12

Gambar 3.2. Analisis Tekstur dan Permeabilitas………... 13

Gambar 4.1. Kondisi Lahan Karet………. 14

Gambar 4.2. Profil tanah pada lahan karet………. 14

Gambar 3.4. Pengamatan Warna Tanah………. 17

Grafik 4.1. Pengukuran Suhu Setelah Aplikasi Mulsa Organik……….. 18

(12)

Universitas Sriwijaya xiii

DAFTAR TABEL

(13)

Universitas Sriwijaya xiv

DAFTAR LAMPIRAN

(14)

Universitas Sriwijaya 1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penggunaan mulsa organik hingga saat ini menjadi salah satu alternatif yang sangat diminati oleh petani. Ada 3 alasan yang mendukung pemanfaatan mulsa yaitu : 1) Mulsa organik dapat menjaga kestabilan suhu dan kelembaban tanah, 2) mulsa dapat menambah unsure hara melalu bahan organik yang terdapat dalam mulsa, dan 3) ketersediaan mulsa yang mudah didapatkan oleh para petani.

Damaiyanti et al., (2013) menyatakan bahwa permintaan akan penggunaan mulsa organik semakin meningkat. Hal itu disebabkan semakin meningkatnya pemanasanan global yang berpengaruh pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Pemanasan global semakin terasa dikala memasuki musim kemarau panjang yang terjadi mulai dari bulan Juni hingga Oktober, dan hingga saat ini menjadi keresahan bagi masyarakat luas secara khusus para petani. Dampak pada bidang pertanian, pemanasan global akan mengakibatkan kenaikan suhu tanah yang disebabkan oleh peningkahan suhu panas matahari.

Peningkatan suhu tersebut akan tampak pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Untuk mengatasi kenaikan suhu tersebut maka perlu dilakukan teknik modifikasi iklim mikro seperti pemberian mulsa sebagai penutup tanah, dengan tujuan menjaga kestabilan tanah tetap terjaga. Tanaman yang paling sering diaplikasikan mulsa organik oleh petani didominasi oleh tanaman hortikultura, dikarenakan tanaman hortikultura pertumbuhannya sensitif dan mudah terganggu oleh hama, penyakit maupun perubahan musim. Namun, penggunaan mulsa organik tidak menutup kemungkinan digunakan pada tanaman tahunan, seperti tanaman karet..

(15)

2

Universitas Sriwijaya biasanya. Pada tanaman Karet Belum Menghasilkan (TBM), memasuki musim kemarau panjang terjadi pengguguran daun yang sangat banyak. Hal tersebut menjadi antisipasi para petani terganggunya system pertumbuhan tanaman karet tersebut.

Pemanfaatan mulsa pada tanaman karet dinilai menjadi alternatif yang paling tepat. Fenomaena alam yang tak dapat dibendung membuat petani memutar akal untuk mengatasi persoalan yang dapat merugikan system pertanian mereka. Peningkatan suhu menyebabkan suhu tanah tinggi, kelembaban tanah rendah dan mengakibatkan kehilangan air melalui penguapan. Sehingga, pertumbuhan tanaman dan produksi lateks kurang optimal.

Mulsa organik yang dapat diaplikasikan pada tanaman sangat bermacam-macam, misalnya adalah terdiri dari bahan organik sisa tanaman (seresah padi, serbuk gergaji, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman yang akan dapat memperbaiki kesuburan, struktur dan secara tidak langsung akan mempertahankan agregasi dan porositas tanah, yang berarti akan mempertahankan kapasitas tanah menahan air, setelah terdekomposisi.

Forth (1994) mengemukakan bahwa penutupan tanah dengan bahan organik yang berwarna muda dapat memantulkan sebagian besar dari radiasi matahari, menghambat kehilangan panas karena radiasi, meningkatkan penyerapan air dan mengurangi penguapan air di permukaan tanah. Setelah rentang waktu tertentu mulsa organik dapat terdekomposisi dan mineralisasi yang dapat memberikan tambahan hara, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman, sehingga produktivitas lateks tanaman karet tetap menghasilkan dengan jumlah yang maksimal.

1.2. Tujuan Praktek Lapangan

(16)

3

Universitas Sriwijaya 1.3. Manfaat Praktek Lapangan

(17)

4

Mulsa diartikan sebagai bahan atau material yang sengaja dihamparkan di permukaan tanah atau lahan pertanian (Umboh, 2002). Metode pemulsaan dapat dikatakan sebagai metode hasil penemuan petani. Artinya, dengan pemahaman seadanya dari petani bahwa segala sesuatu akan awet bila tertutupi maka petani mulai mencoba-coba mengawetkan lahan pertaniannya dengan cara menutupkan bahan-bahan sisa atau limbah hasil panen seperti dedaunan, batang-batang jagung atau jerami padi. Ditinjau dari praktik penggunaanya, awalnya pemulsaan lebih ditujukan untuk pencegahan erosi pada musim hujan atau pencegahan kekeringan tanah pada musim kemarau. Namun, dewasa ini ternyata pemulsaan juga dapat diterapkan untuk tujuan-tujuan lainnya seperti untuk peningkatan penangkapan radiasi matahari oleh daun-daun tanaman.

2.1.2. Jenis dan Bahan Mulsa

Menurut Budiono (2012), berdasarkan sumber bahan dan cara pembuatannya, bahan mulsa pada dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu :

1. Mulsa Organik

Mulsa organik meliputi semua bahan sisa pertanian yang secara ekonomis kurang bermanfaat seperti jerami padi, batang jagung, batang kacang tanah, batang kedelai, daun pisang, pelepah batang pisang, daun tebu, alang - alang dan serbuk gergaji.

2. Mulsa Anorganik

Mulsa anorganik meliputi semua bahan batuan dalam berbagai bentuk dan ukuran seperti batu kerikil, batu koral, pasir kasar, batu bata, dan batu gravel. Untuk tanaman semusim, bahan mulsa ini jarang digunakan. Bahan mulsa ini lebih sering digunakan untuk tanaman hias dalam pot.

(18)

5

Universitas Sriwijaya 3. Mulsa kimia sintetis

Mulsa kimia sintetis meliputi bahan - bahan plastik dan bahanbahan kimia lainnya. Bahan - bahan plastik berbentuk lembaran dengan daya tembus sinar matahari yang beragam. Bahan plastik yang saat ini paling sering digunakan sebagai bahan mulsa adalah plastik transparan, plastik hitam, plastik perak, dan plastik perak hitam.

Setiap jenis bahan mulsa memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan penggunaan mulsa jerami adalah :

a. Dapat diperoleh secara bebas/gratis b. Memiliki efek menurunkan suhu tanah

c. Mengkonsenvasi tanah dengan menekan erosi

d. Dapat menghambat pertumbuhan tanaman penganggu

e. Menambah bahan organik tanah karena mudah lapuk setelah rantang waktu tertentu.

2.2. Manfaat Mulsa

Menurut Umboh (2002), beberapa manfaat mulsa dalam system pertanian yaitu sebagai berikut :

1. Manfaat terhadap Tanaman

Manfaat awal pemberian mulsa terhadap tanaman adalah manfaat dalam hal kompetisi dengan tanaman pengganggu atau gulma untuk memperoleh sinar matahari. Agar dapat berkecambah, benih gulma membutuhkan sinar matahari. Dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, benih gulma tidak mendapatkan sinar matahari. Kalaupun ada sinar matahari, pertumbuhannya akan terhalang. Akibatnya tanaman yang ditanam akan bebas tumbuh tanpa kompetisi dengan gulma dalam penyerapan hara mineral tanah. Ketiadaan kompetisi dengan gulma tersebut merupakan salah satu penyebab adanya keuntungan berikutnya yang diharapkan yaitu meningkatnya produksi tanaman budidaya.

2. Manfaat terhadap Tanah

(19)

6

Universitas Sriwijaya tanah mengalami kekurangan air sehingga berpengaruh secara langsung terhadap pertumbuhan tanaman. Teknologi pemulsaan dapat mencegah evaporasi. Dalam hal ini air yang menguap dari permukaan tanah akan ditahan oleh bahan mulsa dan jatuh kembali ke tanah. Akibatnya lahan yang ditanami tidak akan kekurangan air karena penguapan air ke udara hanya terjadi melalui proses transpirasi. Proses transpirasi ini merupakan proses normal yang terjadi pada tanaman. Melalui proses transpirasi inilah dapat menarik air dari dalam tanah yang di dalamnya telah terlarut berbagai hara yang dibutuhkan tanaman.

3. Manfaat terhadap Neraca Energi

Unsur fisik tanah yang sangat dipengaruhi oleh bahan mulsa ialah suhu tanah. Suhu tanah ini sangat bergantung pada proses pertukaran panas antara tanah dengan lingkungannya. Proses ini terjadi akibat adanya radiasi matahari dan pengaliran panas ke dalam tanah melalui proses konduksi.

Perubahan suhu tanah terjadi karena perubahan radian energi yang mencapai tanah. Adanya mulsa akan menyebabkan panas yang mengalir ke dalam tanah lebih sedikit dibanding tanpa mulsa. Selain itu, permukaan tanah yang diberi mulsa memiliki suhu maksimum harian lebih rendah dibanding tanpa mulsa. Hal ini penting karena saat musim panas biasanya suhu permukaan tanah yang terbuka dapat mencapai 40°C (Umboh, 2002).

4. Manfaat terhadap Pemeliharaan Tanaman

Kegiatan-kegiatan dalam proses budidaya yang cukup menyita waktu, tenaga dan biaya antara lain pemupukan, penyiraman dan penyiangan. Pemupukan menyita waktu karena biasanya harus 2-3 kali perlakuan dalam satu musim tanam. Namun, dengan pemulsaan dapat memperkecil perlakuan pemupukan karena hanya dilakukan sekali saja, yaitu saat sebelum tanam. Demikian juga dengan penyiraman, perlakuannya hanya dilakukan sekali saja. Selain itu kegiatan penyiangan pada lahan yang diberi mulsa tidak perlu dilakukan pada keseluruhan lahan, melainkan hanya pada lubang tanam atau di sekitar batang tanaman (Umboh, 2002).

Menurut Antari et al (2012), keuntungan pemakaian mulsa organik adalah sebagai berikut:

(20)

7

Universitas Sriwijaya 2. menciptakan kondisi lingkungan (dalam tanah) yang baik bagi aktivitas

mikroorganisme tanah

3. Menghemat pemakaian air sampai 41 %, dengan mulsa akar-akar halus akan berkembang.

4. Mulsa organik dapat terdekomposisi dan mineralisasi yang dapat memberikan tambahan hara, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman.

2.3.Tanaman Karet

2.3.1. Tinjauan Tanaman Karet Secara Umum

Karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, sebagai sumber pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan sumberdaya hayati. Kayu karet juga akan mempunyai prospek yang baik sebagai sumber kayu menggantikan sumber kayu asal hutan. Negara dengan luas areal kebun karet terbesar dan produksi kedua terbesar di dunia (Goenadi et al., 2005). Oleh karena itu tanaman karet merupakab tanaman yang sangat primado untuk dibudidayakan oleh petani hingga saat ini.

2.3.2.Kesesuaian Tempat Tumbuh Pohon Karet

Sesuai dengan habitat aslinya di Amerika Selatan, terutama di Brazil yang beriklim tropis, maka karet juga cocok ditanam di daerah – daerah tropis lainnya. Daerah tropis yang baik ditanami karet mencakup luasan antara 15° LU-10° LS. Walaupun daerah itu panas, sebaiknya tetap menyimpan kelembapan yang cukup. Suhu harian yang diinginkan tanaman karet rata – rata 25°C – 30°C. Apabila dalam jangka waktu panjang suhu harian rata – rata kurang dari 20°C, maka tanaman karet tidak cocok di tanam di daerah tersebut. Pada daerah yang suhunya terlalu tinggi, pertumbuhan tanaman karet tidak optimal (Setiawan, 2000).

(21)

8

Universitas Sriwijaya Sinar matahari yang cukup melimpah di negara – negara tropis merupakan syarat lain yang diinginkan tanaman karet. Dalam sehari tanaman karet membutuhkan sinar matahari dengan intensitas yang cukup paling tidak selama 5 – 7 jam (Setiawan, 2000). Tanah yang kurang subur seperti podsolik merah kuning yang terhampar luas di Indonesia dengan bantuan pemupukan dan pengelolaan yang baik bisa dikembangkan menjadi perkebunan karet dengan hasil yang memuaskan. Selain jenis podsolik merah kuning, tanah latosol dan alluvial juga bisa dikembangkan untuk penanaman karet.

Tanah yang derajat keasamannya mendekati normal cocok untuk ditanami karet. Derajat keasaman yang paling cocok adalah 5 – 6. Batas toleransi pH tanah bagi pohon karet adalah 4 – 8. Tanah yang agak masam masih lebih baik dari pada tanah yang basa. Topografi tanah sedikit banyak juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Akan lebih baik apabila tanah yang dijadikan tempat tumbuhnya pohon karet datar dan tidak berbukit – bukit (Nazarrudin dan Paimin, 2006).

2.4. Pengaruh Mulsa Organik terhadap Sifat Fisik Tanah

Penggunaan mulsa organik didasarkan pertimbangan bahwa mulsa organik mudah didapat, murah harganya dan mudah penggunaannya. Penggunan mulsa organik akan membantu menurunkan suhu tanah, mempertahankan kelembaban tanah, memperbaiki drainase, mengurangi pemadatan tanah, dan memperbaiki sifat fisik tanah yang lainnya, (Subowo, 2011).

Menurut Antari (2012), ada beberapa alas an mulsa organic dapat menurunkan suhu tanah yaitu:

1. Suhu tanah bergantung pada proses pertukaran panas antara tanah dan lingkungannya. Proses tersebut terjadi akibat adanya radiasi matahari dan pengaliran panas ke dalam tanah melalui proses konduksi.

2. Adanya perubahan radian energi yang mencapai tanah dan menyebabkan panas yang mengalir kedalam tanah lebih sedikit dibandingkan tanpa mulsa.

(22)

9

Universitas Sriwijaya mengurangi radiasi yang diterima dan diserap oleh tanah sehingga dapat menurunkan suhu tanah pada siang hari. Selanjutnya Sulistyono (1990) menyatakan, dengan menurunkan suhu udara dan tanah dapat menekan kehilangan air tanah dari permukaan tanah sehingga mengurangi adanya cekaman kekeringan.

Menurut Timlin et al. (2006), suhu tanah yang rendah dapat mengurangi laju respirasi akar sehingga asimilat yang dapat disumbangkan untuk penimbunan cadangan bahan makanan menjadi lebih banyak dibanding tanpa pemberian mulsa. Penurunan suhu akibat pemberian mulsa organik, mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar air tanah karena mulsa dapat mencegah evaporasi. Air yang menguap dari permukaan tanah akan ditahan oleh mulsa dan jatuh kembali ke tanah, maka tanah mempunyai kelembaban yang lebih tinggi dibanding tanpa pemberian mulsa. Hal ini sejalan dengan Umboh (1999) menyatakan bahwa mulsa di atas permukaan tanah dapat menahan hantaman bitiran air hujan sehingga agregat tanah tetap stabil dan terhindar dari proses penghancuran sehingga pemulsaan dapat mencegah evaporasi dan air jatuh kembali ke tanah.

Menurut Tejasuwarno (1999), bahwa penambahan bahan organik pada tanah akan meningkatkan kadar air akibat meningkatnya pori tanah sehingga daya menahan air meningkat. Mulsa dapat menjaga kestabilan kadar air dalam tanah sehingga mendorong aktifitas mikroorganisme tanah tetap aktif dalam mendekomposisi bahan organik sehingga terjadinya peningkatan total ruang pori dan penurunan kerapatan pori serta akan mensuplai kebutuhan unsur hara yang dibutuhkan pada pertumbuhan organ vegetatif tanaman. Hal tersebut sesuai dengan Kohnke dan Bertrand (1959), bahwa penggunaan mulsa mempengaruhi kehidupan fauna secara tidak langsung, yaitu melalui perubahan lingkungan yang meliputi aerasi, kelembaban, suhu, dan unsur hara.

(23)

10

Universitas Sriwijaya menempati ruang di antara partikel tanah sehingga tanah menjadi porous (Baver, 1956).

(24)

11

Universitas Sriwijaya

BAB 3

PELAKSANAAN PRAKTEK LAPANGAN

3.1. Tempat dan Waktu

Praktek lapangan ini dilaksanakan di perkebunan karet petani di Timbangan KM.32 Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan mulai dari bulan September sampai dengan Oktober 2015. Analisis sampel tanah dilakukan di laboratorium Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.

3.2. Bahan dan Metode

3.2.1. Bahan

Alat yang digunakan dalam praktek lapangan ini adalah sebagai berikut: 1) cangkul, 2) ring sampel, 3) meteran, 4) mulsa organik, 5) thermohygrometer 6) Alat-alat analisis laboratorium. Bahan yang akan digunakan dalam praktek lapangan ini adalah: 1) Mulsa organik daun kering 2) Bahan kimia analisis laboratorium.

3.3.2. Metode Kerja

3.3.2.1. Pengukuran, Pengambilan dan Analisis Sampel Tanah Awal

Sebelum aplikasi dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban dan pengambilan serta analisis sampel tanah menggunakan cincin ring (ring sampel) dan di analisis meliputi: permeabilitas, dan tekstur di laboratorium sebagai data pengukuran awal sebelum aplikasi mulsa organik.

3.3.2.2. Pembuatan Bokoran, Pengaplikasian Mulsa, dan Pengukuran

a. Pembuatan Bokoran

Lahan yang digunakan merupakan lahan karet yang belum menghasilkan yang berumur 3 tahun 5 bulan, kemudian membuat bongkoran sekitar perakaran tanaman karet dengan luas 1m x 1m.

(25)

12

Universitas Sriwijaya Gambar 3.1. Persiapan Bokoran, Pengaplikasian Mulsa, Pengukuran dan

Pengambilan Sampel Tanah

b. Pengaplikasian Mulsa Organik

(26)

13

Universitas Sriwijaya c. Pengukuran dan Pengambilan Sampel Tanah Akhir

Setelah dilakukan penngaplikasian mulsa organik pada tanaman, selanjutnya dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban tanah pada tanaman selama 15 hari (2 minggu). Pengukuran dilakukan setiap hari pada pukul 08.00 wib dan sore hari pukul 16.00 WIB. Pengukuran tersebut untuk melihat perbandingan perubahan suhu dan kelembaban tanah antara pagi hari dan sore hari. Setelah pengukuran suhu dan kelembaban selesai, maka dilakukan pengambilan sampel tanah untuk dianalisis setelah perlakukan aplikasi mulsa organik.

3.4. Analisis Sampel Tanah di Laboratorium

Analisis tanah dilakukan dilaboratorium meliputi permeabilitas dan tekstur sebanyak 2 sampel tanah sebelum aplikasi mulsa organik dan 2 sampel tanah sesudah aplikasi mulsa organik. Analisis permeabilitas dilakukan dengan menggunakan permeameter dan analisis tekstur dengan metode hydrometer.

(27)

14

Universitas Sriwijaya

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Keadaan Lahan Karet di Kelurahan Timbangan

Lokasi pelaksanaan merupakan lahan perkebunan dengan komoditi yang diusahakan adalah tanaman karet. Tanaman karet yang dibudidayakan merupakan tanaman karet yang berumur 3 tahun 5 bulan, yang dalam artinya tanaman tersebut belum menghasilkan. Akan tetapi disekitar pinggiran lahan terdapat lahan kosong yang belum ditanami, dan ditumbuhi oleh semak belukar.

Gambar 4.1. Kondisi Lahan Karet

Lokasi yang ditanami tanaman karet secara keseluruhan sekitar 3 Hektar. Dengan demikian, dalam skla petani local luas lahan 3 Hektar merupakan luasan yang cukup besar dan jika mengalami terjadi penurunan produksi dari yang semestinya akan sangat berdampak.

Tanaman Karet yang dibudidayakan oleh petani adalah tanaman karet belum menghasilkam (TBM), pada umumnya lahan tersebut hanya merupakan usaha sampingan petani. Hal tersebut diketahui melalui wawancara dengan pemilik lahan karet tersebut. Umur tanaman karet adalah 3,4 tahun atau dapat digolongkan pada tanaman belum menghasilkan (TBM). Tanaman karet ini diusahakan seluas

(28)

15

Universitas Sriwijaya 2 Ha dengan jarak tanak 3m x 6 m. tanaman karet ini dapat dikatakan tanaman baik, karena tidak ada tanda-tanda terganggu serangan hama atau penyakit yang dapat membuat tanaman karet ini layu bahkan mati.

Organisme yang ada pada permukaan tanah adalah didominasi oleh semut. Hal tersebut karena pada musim kemarau aktivitas semut pada tanah akan semkin meningkat dibandingkan dengan kondisi penghujan. Pada kebun karet ini dilengkapi dengan irigasi berupa bak besar penampungan air, namun pada saat pengamatan bak penampungan kering disebabkan keterbatasan air pada musim kemarau.

4.2. Ciri dan Morfologi Tanah pada Lahan Karet

4.2.1. Profil Tanah

Profil tanah merupakan suatu iris dan melintang pada tubuh tanah, dibuat dengan cara membuat lubang dengan ukuran panjang, dan lebar serta kedalaman tertentu sesuai dengan keadaan tanah dan keperluan penelitian.

Gambar 4.2. Profil tanah pada lahan karet

(29)

16

Universitas Sriwijaya praktek lapangan ini profil yang diamati adalah 2 horizon dengan kedalaman 0-50 cm. Menurut wawancara dengan pemilik kebun, jenis tanah yang ditanami tanaman karet ini adalah jenis tanah mineral. Melalui penampang profil tanah ini dapat digambarkan kondisi tanah pada saat praktek lapangan, secara khusus membahas kondisi sifat fisik tanah meliputi: horizon tanah, warna tanah, dan struktur. Dibawah ini akan dijelaskansecara singkat tentang kondisi sifat fisik tanah tersebut.

4.2.2. Horizon Tanah

Tanah terdiri dari lapisan berbeda horisontal, pada lapisan yang disebut horizon. Mulai dari bahan yang kaya organik lapisan atas (humus dan tanah) sampai ke lapisan yang rocky (lapisan tanah sebelah bawah, dan regolith bedrock). Dalam praktek lapangan ini, dilihat dari penampang profil tanah diatas, maka horizon tanah meliputi :

1. Horizon A - Juga disebut lapisan tanah, yang ditemui di bawah cakrawala O dan E di atas cakrawala. Bibit akar tanaman tumbuh dan berkembang dalam lapisan warna gelap.

2. Horizon E- Ini eluviation (leaching) adalah lapisan warna terang dalam hal ini adalah lapisan bawah dan di atas A Horizon B Horizon. Hal ini terdiri dari pasir dan lumpur, setelah kehilangan sebagian besar dari tanah liat dan mineral sebagai bertitisan melalui air tanah (dalam proses eluviation)

.

4.2.3. Warna Tanah

(30)

17

Universitas Sriwijaya Gambar 3.4. Pengamatan Warna Tanah

Dalam praktek lapangan ini, warna tanah pada kedalaman 0-25 cm adalah 10 YR 2/1 dan dikategorikan kedalam tanah berwana hitam (black). Dan pada kedalaman 25-50 cm, warna tanah adalah 10 YR 8/1 yaitu dikategorikan kedalam warna kuning terang. Warna 10 YR 2/1 memiliki banyak bahan organik dikarenakan proses dikomposisi masih aktif di lapisan tersebut. Sedangkan pada tanah berwarna kuning terang didominasi oleh liat.

4.2.4. Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat (Haridjaja, 1980). Dalam praktek lapangan ini, melalui pengamatan dilapangan struktur tanahnya dalah membulat. Kondisi tersebut di indikasikan bhawa kondisi tanah tidak baik, tanah yang strukturnya membulat biasanya di dominasi oleh pasir (struktur lepas). Hal tersebut kemungkinan diakibatkan oleh kondisi musim kemarau sehingga struktur tanah menjadi rusak oleh karena kurangnya pasokan air pada tanah.

(31)

18

Universitas Sriwijaya langsung yaitu melalui pengaruhnya terhadap pemampatan, kadar lengas, dan temperatur tanah (Kohnke, 1968).

4.3. Pengaruh Mulsa Terhadap Suhu dan Kelembaban Tanah

Pengukuran suhu pada kondisi awal sebelum aplikasi mulsa organic, pada pukul 08.00 WIB suhu tanah berada pada 20°C dan suhu awal pada sore hari pukul 16.00 WIB berada pada 34°C. Melihat syarat tumbuh tanaman karet yang dapat tumbuh optimal pada suhu 32°C maka perlu diaplikasikan mulsa organic. Setelah pengaplikasian mulsa organic dan dilakukan pengamatan selama dua minggu makas dihasilkan perubahan suhu setelah perlakuan dan sesudah perlakuan tidak memperlihatkan perubahan yang signifikan, hal tersebut dikarenakan musim kemarau yang panjang membuat pasokan air pada tanaman menjadi terbatas. Perubahan nilai pengukuran suhu setelah aplikasi mulsa organik dapat ditunjukkan dalam gfafik 4.1. berikut.

Grafik 4.1. Pengukuran Suhu Setelah Aplikasi Mulsa Organik

Kelembaban tanah bertolak belakang dengan suhu, sebab dikala suhu akan semakin tinggi makan kelembaban akan semakin rendah. Pada pengukuran kelembaban tanah sebelum aplikasi mulsa pada pukul 08.00 WIB persentase kelembaban mencapai 58% dan pada pukul 16.00 WIB persentase kelembabannya menurun menjadi 34%. Namun, setelah dilakukan aplikasi mulsa maka

(32)

19

Universitas Sriwijaya kelembaban semakin menurun meskipun tidak signifikan. Rata-rata kelembaban setelah aplikasi mulsa pada pagi hari adalah 61,2% dan pada sore hari adalah 37,40%.

Grafik 4.2. Pengukuran Kelembaban Setelah Aplikasi Mulsa

Dari grafik 4.2. diatas dapat lihat bahwa pemberian mulsa organik kurang memadi untuk membantu mengendalikan suhu yang tinggi pada musim kemarau. Perlu dilakukan penambahan bahan-bahan organik lainnya selain seresah, dan sisa-sisa tanaman yang digunakan dalam mulsa organik yang telah diaplikasikan tersebut. Sehingga dalam pemanfaatannya, mulsa organic dapat menjadi lebih signifikan mengendalikan perubahan suhu dan kelembaban pada tanah tanaman karet.

Kondisi suhu dan kelembaban pada tanaman karet setelah aplikasi mulsa organik berpengaruh hingga 2-3 %. Hal tersebut dapat ditunjukkan dalam hasil tabel pengukuran yang terdapat lampiran 1. Pemberian mulsa organik daun kering selama dua minggu pada tanaman tidak berpengaruh secara nyata pada tanah. Hal tersebut terjadi dimungkinkan bahan organik yang diaplikasikan tidak seimbang dengan suhu yang meningkat tinggi pada musim kemarau.

(33)

20

Universitas Sriwijaya 4.4. Pengaruh Mulsa Terhadap Sifat Fisik Tanah

4.4.1. Permeabilitas

Tanah adalah kumpulan partikel padat dengan rongga yang saling berhubungan (Jamulya dan Suratman, 1983). Rongga ini memungkinkan air dapat mengalir di dalam partikel melalui rongga dari satu titik yang lebih tinggi ke titik yang lebih rendah. Oleh karena itu,pengukuran permeabilitas mutlak dilakukan untuk mengetahui sifat fisik tanah.

Dalam praktek lapangan ini, pengukuran permeabilitas dilakukan sebelum aplikasi mulsa organik dan sesudah aplikasi mulsa organik melalui pengambilan sampel tanah menggunakan ring sampel. Suhu dan kelembaban mempengaruhi kondisi sifat fisik tanah seperti : Permeabilitas dan tekstur. Dalam hal ini, jika dilihat dari kondisi suhu dan kelembaban setelah aplikasi mulsa organic, maka didapatkan hasil analisisa rata-rata permeabilitas adalah 0,85 cm/ menit dengan criteria agak cepat dan data permeabilitas sebelum aplikasi mulsa pada tanah adalah 0,95 dengan criteria agak cepat. Data hasil analisis permeabilitas akan disajikan pada tabel 4.1. berikut :

Tabel 4.1. Hasil Analisis Permeabilitas Tanah

Perlakuan Kedalaman (cm) Permeabilitas Cm/Jam

(34)

21

Universitas Sriwijaya Dalam praktek lapangan ini, adapun tesktur tanahnya pada kedalaman 0-25 cm dikategorikan kedalam pasir berlempung sedangkan pada kedalaman 26-50 cm dikategorikan kedalam pasir liat berlempung. Hasil tersebut diperoleh dari analisis laboratorium. Data yang didapatkan dari hasil analisis sample tanah setelah aplikasi mulsa, disajaikan dalam bentuk tabel 4.2. berikut:

Tabel 4.2. Hasil analisis tekstur sebelum dan sesudah aplikasi mulsa organik

(35)

24

Universitas Sriwijaya

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktek lapangan ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Pada aplikasi mulsa organik pada tanah suhu tertinggi terdapat pada sore hari dengan rata-rata suhu mencapai 32,47°C dan suhu pada pagi hari dengan rata-rata 18,73°C. Kondisi suhu tanah tegak lurus dengn kondisi kelembaban tanahnya.

2. Nilai pengukuran permeabilitasmenjelaskan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat cepat meloloskan air. Hal itu dapat terlihat dari hasil analisis permeabilitas dan sesuai dengan pengamatan kondisi tanah dilapangan.

3. Nilai tekstur yang dihasilkan melalui analisis didapatkan kriteria tekstur yang dominan adalah pasir berlempung dan kriteria tekstur tanah tidak berubah meskipun telah mendapat perlakuan aplikasi mulsa organik. 4. Melalui data hasil pengukuran dan analisis tanah dinyatakan bahwa

pemanfaatan mulsa organik yang terdiri dari seresah dan daun-daunan pada musim kemarau kurang berpengaruh secara nyata dalam mengendalikan suhu dan kelembaban tanah yang tidak stabil.

5.2. Saran

Untuk mendapatkan pengaruh aplikasi mulsa organik secara nyata perlu dilakukan penambahan bahan-bahan organik lainnya seperti kompos dan pupuk organik, sehingga kelembaban tanah lebih baik dan proses dekomposisi mulsa organik dapat berlangsung secara cepat melihat kondisi kadar air tanah yang sangat rendah.

(36)

24 tanah. Skripsi: Universitas Muhammadiyah. Bandung

Anwar, C. 2001. Budidaya Tanaman Karet. PT.Grafindo. Persada

Baver, L. D. 1956. Soil Phisics. Third Edition. John Wiley and Sons, Inc. New York.

Burdiono, M. 2012. Pemanfaatan Serasah Tebu Sebagai Mulsa Terhadap

Pemadatan Tanah Akibat Lintasan Traktor Pada PG Takalar. Skripsi.

Universitas Hasanudin. Makasar. Diakses tanggal 22 Februari 2016

Damaiyanti D dan Koesriharti. 2013. Kajian Penggunaan Macam Mulsa Organik pada Pertumbuhan & Hasil Tanaman Cabai Besar (Capsicum

annuum L.).J. Produksi Tanaman 1 (2).

Damanik, S et al., 2010. Budidaya dan Pasca Panen Karet. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.

Departemen Pertanian. 2006. Pola Peningkatan Produksi Tanaman Karet. Kebun Raya Bogor.

Foth, H. P. 1994. Dasar-dasar ilmu tanah. Edisi 6. Penerbit Erangga. Jakarta.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta rafindo Persada

Haridjadja, O. 1980. Pengantar Fisika Tanah. Bogor: Staf Dept Ilmu Tanah IPB

Kadarso, 2008. Kajian Penggunaan Jenis Mulsa Terhadap Hasil Tanaman Cabai

Merah Varietas Red Charm. Laporan Hasil Penelitian. Universitas

Janabdra Yogyakarta. Diakses tanggal 22 Februari 2016

Kohnke, H. 1986. Soil Physics. Tata Mc Graw Hill Rubl Co.Ltd, New Delhi.

Samiati, A. Bahrun, dan L. O. Safuan. 2012. Pengaruh Takaran Mulsa Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Sawi (Brassica juncea L.). Berkala Penelitian Agronomi (2): 121-125.

Sulistyono. 1990. Pengaruh Berbagai pupuk Organik dan Pupuk Daun Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Rimpang Jahe (Zingiber officinale Rosc.). Bul. Agron. XIX (1) : 33-38.

(37)

24

Universitas Sriwijaya Sudjianto. U. 2009. Studi Pemulsaan Dan Dosis NPK Pada Hasil Buah Melon.

Jurnal Sains Dan Teknologi. Universitas Muria Kudus. Diakses tanggal 08 Maret 2013.

Sutanto. R. 2002. Pertanian Organik.Yogyakarta. Kanisius.

Timlin, D., et al. 2006. Whole plant photosynthesis, development, and carbon partitioning in potato asa function of temperature. Agron. J. 98(5):1195-1203

Tejasuwarno, 1999. Pengaruh Pupuk Kandang Terhadap Hasil Wortel dan Sifat

Fisik Tanah. Kongres Nasional VII. HITI. Bandung

(38)

Universitas Sriwijaya

LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengukuran Suhu dan Kelembaban Setelah Aplikasi Mulsa Pengukuran

(Harike-)

Suhu (°C)

Kelembaban (%)

08.00 WIB 16.00 WIB 08.00 WIB 16.00 WIB

1 20 34 60 36

2 21 36 59 34

3 19 35 61 33

4 20 36 60 34

5 18 34 62 36

6 18 36 62 34

7 19 32 61 38

8 18 32 62 38

9 17 30 63 40

10 18 30 62 40

11 19 30 61 40

12 18 31 62 39

13 19 30 61 40

14 19 30 61 40

15 18 31 62 39

Gambar

Gambar 3.1. Persiapan Bokoran, Pengaplikasian Mulsa, Pengukuran dan Pengambilan Sampel Tanah
Gambar 3.2. Analisis Tekstur dan Permeabilitas
Gambar 4.1. Kondisi Lahan Karet
Gambar 4.2. Profil tanah pada lahan karet
+6

Referensi

Dokumen terkait

Nilai-nilai kesenian reyog Ponorogo apabila dilihat dari konsep nilai Max Scheler, meliputi: (a) Nilai-nilai kerohanian yaitu memuat unsur-unsur batiniah seperti

Artinya bahwa toleransi akan resiko yang meliputi responden selalu meminta pendapat dari orang lain ketika menghadapi persoalan yang sulit, setiap pekerjaan harus disertai

terhadap aturan terkait pengelolaan sistem drainase perkotaan, kegiatan- kegiatan apa yang telah dilakukan dalam mendorong peran serta masyarakat misalnya saja k egiatan

Disisi lain perkembangan pinjaman, simpanan masyarakat serta nisbah pinjaman terhadap masyarakat pada BRI Udes, LDKP dan Bank pasar dalam kurun waktu terakhir menunjukkan

Alhamdulillah Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan Proyek Akhir “ALAT UKUR

Terdapat hubungan yang signifikan antara peran kader dengan keaktifan lansia dalam mengikuti kegiatan di Posyandu lansia RW 1 Desa Kentangan wilayah kerja Puskesmas Sukomoro

• Tulisan kiri atas dan bawah : menunjukkan tentang materi yang akan disampaikan tentang bersyukur, warna hijau merupakan kedamaian dan kesejukkan tentang kesyukuran kita

unggul dаn tеknologi yаng аndаl, Bаnk BNI yаkin tеlаh bеrаdа di jаlur yаng tеpаt untuk mеnjаdi bаnk nаsionаl yаng bеrkеmаmpuаn globаl. Pеnеlitiаn ini аkаn