KULIAH AKTUALITA
PROGRAM STUDI PASCASARJANA
MAGISTER THEOLOGIAE
OLEH : RAMLI SN HARAHAP
N I M : 242106
BIDANG STUDI : SEJARAH GEREJA
AGAMA DAN RUANG PUBLIK:
MEMPERBINCANGKAN KEMBALI SEKULARISME1
Nara Sumber: Dick van der Meij dan Syamsurizal Panggabean Moderador: Novriantoni Khahar
I. MATERI KULIAH
A. DICK van der MEIJ
Sebelum memaparkan sekularisme sebagai aliran filosofi kenegaraan dan kemasyarakatan, Dick Van der Meij terlebih dahulu memberikan pemahaman dasar dan definisi sekularisme. Menurut Meij sekularisasi berarti pemisahan negara dan agama dalam semua lapisan ketatanegaraan. Sekularisasi tidak berarti negara tidak ada agama atau negara tidak ada kaitannya dengan negara. Sedangkan sekularisme didefinisikan sebagai a netral attitude especially of the State, local goverment and public services, in matters relating to religion; nonreligious rather than anti-religious. Sekularisasi—seperti semua istilah diartikan dengan cara berbeda-beda oleh individu atau kelopok di negara masing-masing karena alasan politik, agama dan alasan lainnya.
Dengan melihat hubungan negara dan individu, Meij menekankan negara tidak boleh campur tangan dengan hal privasi individu selain hal yang diatur dalam perundangan. Dalam hal ini Meij menempatkan agama sebagai hal privasi individu, sehingga ia kembali menegaskan, hubungan negara dan individu lebih horizontal daripada vertikal seperti sering ditemukan dalam negara non-sekuler.
Menurut Meij, sejarah sekularisasi di Eropa terlihat ketika Eropa selama dua abad atau sebelum Napoleon muncul, berada dalam keadaan perang dan perang saudara karena perbedaan agama. Sehingga pada 1803, Napoleon Bonaparte mulai memisahkan agama dan negara, termasuk semua hak milik institusi agama disita oleh negara. Baru pada 1905 pemisahan agama dan negara disahkan secara mutlak di Perancis. Meij melihat pada perkembangan selanjutnya di era modern ini dan sekularisasi lebih terlihat sebagai pengeluargerejaan dan pengindividualisasian agama. Adapun alasan Meij mengatakan demikian, karena pembicaraan agama selalu
ditetapkan sebagai sesuatu yang tidak berubah, padahal pemikiran tentang agama dan sekularisme selalu berubah. Contoh negara yang disebutkan Meij anatara lain: Perancis sebagai negara sekuler, namun negara tersebut juga dikenal sebagai negara yang paling sibuk memugar Katedral. Di Inggris, Ratu merupakan kepala negara dan kepala gereja. Jerman, yang dikenal paling sekuler, tetapi paling banyak menyumbang ke Vatikan. Hal ini membuktikan kecenderungan bahwa orang sekuler menjadi lebih beragama.
B. SYAMSURIZAL PANGGABEAN
Dalam sajianya Rizal Panggabean lebih melihat sekularisasi dalam praktek pengalaman beberapa negara khususnya negara Islam dan negara mayoritas Islam. Menurut Panggabean doktrin sekularisme sebagai bentuk pemisahan atau tembok pemisah (the wall of separation) antara agama dan politik tampak di dalam praktik dan kenyataan negara-negara Muslim sebagaimana tampak juga di negara yang minoritas Muslim. Dalam konteks negara bangsa, penerapan Syari’at Islam dalam situasi ketika umat Islam menjadi yang dominan akan dirasa mengancam minoritas. Sebaliknya di negara-negara tempat komunitas Islam menjadi minoritas, keinginan menerapkan Syari’at Islam dihadapkan kepada penentangan atau kecurigaan dari yang mayoritas. Karenanya, perlindungan konstitusional terhadap minoritas (minority protection) menjadi sesuatu yang niscaya walau masih perlu diperjuangkan.
Sebagaimana dicatat Panggabean, kelompok Islam selalu melihat sekularisme sebagai sesuatu yang buruk dan berdampak negatif. Mereka mengartikan sekuler sebagai jahiliah, kebebasan mutlak, mengumbar nafsu, ateisme, murtad, kafir, politeisme, penyembahan terhadap berhala, menentang Tuhan, kolonialisme, imperialisme Barat, hukum buatan manusia, dan lain-lain. Sehingga bagi mereka berbicara mengenai sekularisme, atau mendapat cap sebagai sekularis akan mengundang bencana.
umumnya. Di Indonesia, amandemen UUD 1945 selalu dihadapkan kepada jalan buntu setiap kali pembicaraan memasuki pembicaraan penerapan Syari’at. Di Pakistan, dikenal dengan negara Islam, tetapi tidak ada konsensus mengenai negara Islam. Bahkan sengketea mengenai hukum kekeluargaan Muslim sudah dimulai sejak 1960-an dan sampai hari ini masih mengundang perdebatan. Di Sudan, islamisasi telah mendorong separatisme melalui pemberontakan bersenjata di wilayah Selatan. Dari pengalaman negara-negara Muslim di atas, tampak bahwa kontroversi penerapan Syari’at dapat dan telah memecah-belah masyarakat dan suatu bangsa secara keseluruhan. Lebih lanjut, perpecahan seperti ini bisa berupa konflik yang bersifat internal umat Islam. Ini khususnya menyangkut definisi dan pemahaman Syari’at Islam yang akan dilembagakan menjadi undang-undang. Sebab secara internal pun pemahaman mengenai Syari’at Islam selalu problematis dan bersifat khalifah sepanjang sejarah Islam. Selain itu juga dapat menciptakan perpecahan berupa konflik antar umat yang bergama lain dalam satu negara tertentu.
II. TANGGAPAN
Dari kedua sajian nara sumber di atas, yang mau ditekankan adalah perlunya memahami arti sekularisme secara benar. Sekularisme pada umumnya dipahami sebagai pemisahan negara dan agama dalam semua lapisan ketetanegaraan. Dalam arti, agama ditempatkan ke wilayah atau domain privat, sedangkan hukum atau kebijakan negara dimasukkan ke dalam domain publik. Tidak bisa dipungkiri sekularisasi akan diperhadapkan dengan berbagai tantangan, tetapi perlu juga melihat peluang apa yang bisa diberikan oleh sekularisme. Salah satu dampak positif sekularisme adalah pemahaman yang benar bahwa negara tidak boleh campur tangan tentang urusan agama, apalagi mengakomodir keinginan kelompok agama beraliran keras yang menginginkan penerapan Syari’ah Islam di Indonesia yang senantiasa mendesak disahkannya Undang-Undang bernuasa Syari’ah Islam. Hal ini terlihat, sejak disahkannya Undang-undang No 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, terdapat berbagai macam Peraturan Daerah yang berhubungan dengan pelaksanaan Syari’at Islam.2 Bahkan Penerapan Perda-perda di berbagai daerah wilayah Indonesia
(Sulawesi Selatan, Nangro Aceh Darussalam, Kalimantan Selatan, Padang, beberapa Kabupaten di Jawa Barat, Tangerang, dan Banten) merupakan bentuk politik identitas Islam yang tidak menghargai pluralisme dan meniadakan sekularime.
Masalah penerapan Syarit Islam di Indonesia sudah dimulai pada pra-kemerdekaan, hal ini jelas ketika para pendiri Republik ini mengesahkan Piagam Jakarta, yaitu: yang dikenal dengan tujuh kata ”dengan kewajiban menjalankan Syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.3 Hingga pada masa pemerintahan Orde
Baru sampai pada era Reformasi, keinginan kelompok-kelompok Islam yang terlibat dalam Partai politik Islam terlihat jelas dengan tuntutan amandemen pasal 29 UUD 1945 dan kelompok Islam radikal atau kelompok pengusung Syari’ah masih getol memperjuangkan penerapan Syari’ah Islam.4 Tetapi gerakan-gerakan Islam yang
mengusung perjuangan menegakkan Syari’at Islam dalam struktur negara itu akhirnya gagal dalam memasukkan Piagam Jakarta dalam amandemen UUD 1945 pada momentum Sidang MPR 2000. Kelompok Islam yang membangkitkan kembali Piagam Jakarta dan penegakan Syari’at Islam menurut Syafii Maarif sebagaimana dikutip Nashir adalah tergolong dalam kategori Islam ideologis. Dikatakan Islam ideologis karena watak dan orientasi agamanya berbasasis pada agama Islam sebagai ideologi yang mempertautkan secara langsung hubungan Islam dan negara atau politik serta memperjuangkan cita-cita Islam.5
Mengingat Indonesia bukanlah negara teokrasi atau sekular, tetapi negara berdasarkan Pancasila, maka saya pikir perlu menghargai pluralisme agama-agama yang ada di wilayah Indonesia dengan tidak mengeksklusifkan ataupun menonjolkan salah satu agama. Belajar dari pengalaman negara-negara Muslim (seperti Sudan, Pakistan), perdebatan mengenai penerapan Syari’at Islam telah menjadi salah satu faktor disintegrasi sosial. Pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan bahwa dosis penerapan Syari’at Islam dapat melebihi daya tahan integrasi negara-negara tersebut sehingga krisis konstitusi dan perang saudara menjadi ancaman nyata.
Menanggapi perkataan Meij yang mengatakan ”kecenderungan orang sekuler, menjadi lebih beragama” tidak bisa dipungkiri. Pandangan ini juga dibenarkan oleh
PGI pada tanggal 4 Oktober 2006 di Pondok Remaja PGI Cipayong-Bogor.
3 B.J. Boland, Pergumulan Islam di Indonesia 1945 – 1970, (Jakarta: Grafiti Pers, 1985), hlm. 97-100. 4 Hal ini tampak jelas dengan berdirinya beberapa Komite Persiapan Penegak Penerapan Syariah
Islam (KPPSI) di berbagai daerah dan provinsi dan Komite Penegakan Syariat Islam (KPSI) di Sulawesi Selatan, menunjukkan adanya suatu gerakan keagamaan yang sangat aktif memperjuangkan politik Islam di negara ini. Bnd. Taufik Adnan Amal dan Syamsurizal Panggabean, Politik Syariat Islam dari Indonesia sampai Nigeria, (Jakarta: Alvabet, 2004), hlm. 82-95.
Berger seperti yang dikutip AL Qurtuby yang mengatakan ”dunia sekarang bukan berjalan menuju tahap sekularisasi tanpa iman, tetapi sebaliknya berjalan melangkah menuju sakralisasi (istilah lain desekularisasi) yang penuh keimanan.6 Pandangan
Berger ini merupakan hasil rekonstruksi atas fenomen keagamaan masyarakat agama dewasa ini. Berger berkeyakinan bahwa ”spirit ke-Tuhan-an” tidak akan pernah rontok dari kehidupan manusia meskipun digembur oleh arus sekularisasi dan rasionalisasi bahkan sebaliknya proses sekularisasi dan rasionalisasi justru semakin menyuburkan praktik spritualisasi dan mistifikasi pada diri umat beragama.7 Dari
pemahaman Berger ini, tidak heran jika ”demam Syari’at” yang melanda negeri ini merupakan serangan balik Islam kepada arus sekularisme dan modernisasi.
6 Sumanto Al Qurtuby, Lubang Hitam Agama, (Yogyakarta: ILHAM Institute & Rumah Kata, 2005), hlm. 21-22.