(Tugas paper UTS Pengkajian Stratejik) Nama : M Musa AL Hasyim
Kelas : HI/A
NIM : 1113113000049
Menguak Tabiat Perang Amerika Serikat
A. Di Balik Tragedi 9/11 dan Invasi AS terhadap Afghanistan
Peristiwa besar terjadi dan mengemparkan dunia ketika pesawat misterius menabrak gedung pusat perekonomian di pusat kota Washington DC. Gedung pencakar langit dengan ribuan karyawan maupun rakyat sipil Amerika Serikat turut menjadi korban kebengisan sebuah oknum yang melakukan aksi bom bunuh diri dengan cara keji. Bom bunuh diri memang sering terjadi dewasa ini namun belum ada bom bunuh diri yang mengakibatkan ribuan bahkan menabrakan diri di salah satu gedung tertinggi di Amerika Serikat.
Jutaan warga di berbagai belahan dunia menyaksikan peristiwa tersebut lewat media cetak maupun visual yang tentunya pada waktu itu menjadi Trending Topic dunia mengalahkan berita bola atau berita manapun di dunia. Wartawan dari berbagai dunia berbondong-bondong datang untuk melihat siapa sebenarnya dalang atas penyerangan gedung WTC tersebut.
Berbagai ucapan bela sungkawa datang dari berbagai dunia sesaat setelah penyerangan tersebut terjadi. Bahkan negara yang dikenal anti Amerika Serikat seperti Cina, Rusia, dan Mesir. Presiden Cina Jiang Zemin mengirimkan surat simpati kepada Presiden Georg W Bush sesaat setelah peristiwa tersebut terjadi. Presiden Rusia, Vladimir Putin pun mengirimkan telegram dengan menyatakan bela sungkawa dan mengutuk tindakan bejat oknum tertentu tersebut. (Jamiluddin dan Bien Pasaribu, 2001)
Presiden Georg W Bushnya menyatakan ultimatum dan memerintahkan milisi Taliban untuk segera menutup secara permanen setiap kamp latihan teroris di Afghanistan dan menyerahkan seluruh teroris yang berada di Afghanistan.(Jamiluddin dan Bien Pasaribu,2001)
Amerika Serikat tidak sendiri dalam meyikapi terorisme di Afghanistan. Pada 9 Oktober 2001, NATO melalui panglima tertingginya di Eropa, Jenderal Joseph Ralston menambahkan tambahan pesawat radar AWACS ke AS. Bahkan para duta besar NATO mengijinkan lima pesawatnya di Jerman ditransfer ke AS sebagai senjata tambahan AS menyerang teroris.(Jamiluddin dan Bien Pasaribu,2001)
Setelah AS benar-benar melancarkan aksinya di Afghanistan dan malah memperbesar militernya ke segala penjuru di Afghanistan membuat negara-negara yang tadinya bersimpati menjadi antipati. Pasalnya, AS tidak hanya membasmi terorisme di Afghanistan saja melainkan warga sipil pun turut menjadi korban kebengisan militer AS yang mempumyai senjata lengkap mulai dari AL,AU, maupun AD. Hal tersebut seolah-olah sebagai alat balas dendam AS terhadap dunia teroris bahkan dunia Islam pada umumnya.
Melalui mimbar-mimbar khutbah jumat di Palestina, Mesir, Pakistan dengan tegas mengutuk kebiadaban AS dalam aksi balas dendamnya yang seolah-olah ingin menuntaskan warga sipil yang berada di Afghanistan. Hal ini dibuktikan dengan korban yang berjatuhan justru lebih banyak dari peristiwa 9/11 sendiri. Selain itu mereka juga menganggap AS sebagai teroris yang sebenarnya dan lebih berbahaya dari terorisme Taliban maupun Al Qaeda itu sendiri.
Aksi-aksi warga di seluruh dunia mulai dari Rusia, Jerman, Swedia, Inggris, bahkan AS sendiri melakukan aksi protes di jalan-jalan dengan menyebarkan selebaran pamflet, poster, spanduk yang berisi ketidaksetujuan mereka terhadap aksi AS yang malah menggunakan kekerasan berlebihan terhadap rakyat Afghanistan. Mereka juga menganggap bahwa tidak semua warga Arab adalah teroris sehingga bisa dibunuh dengan seenaknya.
sendiri. Polisi dunia yang suka ikut campur dan terlalu khawatir terhadap tindakan terorisme yang sebetulnya belum jelas identifikasinya.
Kebijakan AS dalam mengintervensi Afghanistan tidak hanya menuai kontra dari warga sipil di belahan dunia tapi juga datang dari pakar, akademisi, maupun sarjana Hubungan Internasional yang menganggap tindakan AS terlalu ceroboh dan gegabah tanpa melihat dampak negatif yang akan ditimbulkan olehnya. Hal ini diperkuat dengan data-data baik data korban warga sipil Afghanistan yang turut menjadi korban, beberapa gedung dan pusat pemerintahan Afghanistan yang ikut diserang dan beberapa tindakan penyiksaan terhadap warga yang diduga sebagai anggota teroris dan ikut terlibat menyembunyikan Osama Bin Laden.
Setelah peristiwa 9/11 ini berlalu banyak warga non muslim di berbagai belahan dunia berbondong-bondong masuk Islam meskipun banyak juga dari mereka yang menjadi anti Islam dan phobia terhadap Islam. Namun perang yang dikait-kaitkan dengan agama ini sejatinya adalah setingan semata sehingga bagi mereka malah membuka pikiran untuk mempelajari Islam yang sebenarnya. Apakah benar agama Islam mengajarkan tindakan terorisme, kekerasan dan sebagainya merupakan pertanyaan besar warga non muslim yang suka mengkaitkan perang 9/11 sebagai perang ideologi atau agama.
B. Perang yang Tak Ada Gunanya (Studi Kasus Invasi AS di Irak)
Setelah langkah AS sebagai polisi dunia pada 9/11 yang bertujuan mentertibkan keamanan dan stabilitas di dunia dinilai kurang efektif maka AS mengambil tindakan lain yang berkaitan dengan kebijakan luar negerinya. Tindakan selanjutnya yakni dengan melakukan invasi ke negara Irak atas nama menyelamatkan warga Irak di bawah kediktatoran pemimpinnya yakni Saddam Husein. AS dinilai sebagai negara super power
pasca Perang Dingin membuat AS merasa yakin bisa menuntaskan warga-warga di bawah kendali negara yang gagal Failed States.
Presiden Bush memilih Preventive War dikarenakan pilihan Containment adalah pilihan yang lemah dan AS harus siap perang menghadapi Irak.
John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt dalam artikelnya membantah secara terang-terangan terhadap kebijakan luar negeri AS dalam melakukan operasi militer di Irak pada tahun 2003. Preventive war menyatakan bahwa rezim Saddam Hussein dengan sifatnya yang nekat,kejam, dan alasan yang kurang rasional atas kepemilikan senjata nuklir menjadikan AS was-was dan mencegah kepentingan AS dalam mengambil langkah kebijakan luar negerinya. Menurut AS Saddam Hussein akan mengekplorasi dan mendominasi wilayah Timur Tengah padahal hal tersebut hanya akal-akalan AS dalam menjalankan kebijakan luar negerinya di Irak.
John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt mengungkapkan bahwa meskipun Saddam Hussein kejam dan nekat hal tersebut bisa ditangkal karena Saddam Hussein memiliki alasan yang rasional terhadap aksinya sedangkan AS menganggap hal tersebut secara berlebihan. Ada tiga hal yang perlu dibandingkan mengenai tindakan Saddam Hussein.
Pertama, kebijakan luar negeri AS dalam menjalankan operasi militernya mengungkapkan bahwa Saddam Hussein bersifat kejam dan nekat terutama jika dikaitkan dengan dua perang besar yakni Irak dan Iran serta Irak dengan Kuwait. Dalam perang atau agresi Irak terhadap Iran adalah tindakan rasionalitas yang harus dipilih oleh Saddam Hussein karena terdapat aksi mobilitas dari kaum Kurdi dan Syiah yang hendak menjatuhkan rezimnya. Kemudian tindakan Irak terhadap Kuwait semata-mata hanyalah tindakan National Interest karena Irak yang pada waktu itu dilanda krisis ekonomi diacuhkan oleh Kuwait yang ekonominya lebih baik darinya.
Ketiga, kebijakan luar negeri AS dalam menjalankan operasi militernya memprediksi bahaya transfer teknologi senjata pemusnah massal Irak kepada kelompok teroris seperti Al Qaeda. Poinnya adalah kelompok ini bersifat lebih nekat dan irasional untuk menyerang AS. Pendapat berbeda disampaikan John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt bahwa terorisme nuklir kecil kemungkinannya terjadi, atau yang disebut Nuclear Handoff. Hal ini berdasarkan dua argumen, pertama, transfer kepada teroris tidak akan menambah keamanan rezim Saddam Hussein, kedua, jika transfer telah dilakukan Saddam Hussein tidak dapat mendikte kelompok teroris untuk menargetkan serangan. Namun Saddam Hussein sama sekali tidak menggunakan senjata pemusnah massal tersebut karena Saddam Hussein sudah menduga akan menimbulkan polemik lebih besar dari PBB dan akan membuat AS semakin was-was sehingga menambahkan pasukan militernya di Irak. Meskipun begitu AS tetap melayangkan tuduhannya terhadap Saddam Hussein. ( John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt, 2003)
Kebijakan AS pada peristiwa di atas dianggap para ilmuwan politik sebagai tindakan yang sia-sia karena bagaimanapun tindakan invasi tersebut memakan biaya yang tidak sedikit. Biaya untuk menambahkan jumlah pasukan, biaya senjata, biaya akomodasi dan sebagainya. Hal tersebut malah membuat opini baru di mata dunia kalau AS sedang berbuat bully terhadap rakyat Irak. Rakyat Irak yang pada awal kedatangan pasukan militer AS merasa bahagia karena diharapkan bisa mengatasi masalah kediktatoran Saddam Hussein tersebut namun lama-kelamaan mereka lebih nyaman dengan kediktatoran Saddam Hussein ketimbang keikutcampuran pasukan AS terhadap Irak karena banyaknya jumlah korban yang berjatuhan justru datang dari pasukan AS.( John J. Mearsheimer dan Stephen M. Walt, 2003)
dunia. AS sebagai negara Super Power menjadikan rakyat di belahan dunia tidak terlalu mencampuri urusannya dan lebih mempercayainya meskipun tidak secara penuh. Selain itu peran AS dalam mempengaruhi dunia akan bahayanya terorisme terutama setelah peristiwa 11 September 2001 sangatlah besar sehingga banyak masyarakat di seluruh dunia mengutuk tindakan terorisme tersebut. Hal tersebut dijadikan AS sebagai batu loncatan dalam menginvasi Irak pada 2003.
Para ilmuwan meyakini bahwa ada misi khusus yang dijalankan oleh militer AS apalagi kalau bukan kekayaan sumber daya alam Irak terutama di sektor perminyakan. Terdapat konspirasi antara AS dengan PBB yang mana pada waktu itu PBB melalui Dewan Keamanannya menyetujui tindakan AS dalam mengambil kebijakan luar negerinya. Bahkan Dewan Keamanan PBB menambah jumlah pasukan militer salah satu militer yang bergabung adalah militer Inggris. PBB yang pada hakikatnya adalah menjaga perdamaian dunia malah ikut terlibat menyalakan api peperangan semakin besar. Padahal peperangan tesebut sejatinya sudah terkonsep matang-matang sebelumnya. Meskipun sudah ditutup-tutupi tetap saja dunia tidak buta. Kini orang-orang tahu sebenarnya yang salah siapa, dan apa kepentingannya.
C. Kegagalan Dewan Keamanan PBB
Beberapa tindakan invasi AS baik ke Afghanistan dalam rangka membasmi terorisme maupun invasi ke Irak dalam rangka menyelamatkan warga Irak dari kediktatoran Saddam Hussein sebenarnya belum sepenuhnya mendapatkan ijin dari Dewan Keamanan PBB. Tokoh-tokoh utama dibalik perang tersebut seperti Presiden Georg W Bush, Donald Rumsfeld, Condoleeza Rice, dan Paul Wolfowitz tidak ingin politik luar negeri AS dikalahkan hanya oleh aturan-aturan multilateral karena aturan multilateral tersebut hanya akan melemahkan pihak AS semata. Sehingga mereka tidak peduli dengan aturan-aturan yang dibuat oleh Dewan Keamanan justru Dewan Keamanan lah yang harus menuruti kehendak AS tersebut.
negara lain kecuali untuk membela diri dari serangan musuh. Meski di Afghanistan dan di Irak tidak ditemukan terdapat ancaman musuh yang besar dan tidak adanya senjata pemusnah masal di Irak membuktikan bahwa invasi AS bisa disalahkan di mata hukum internasional namun lagi-lagi PBB dinilai gagal setalah nyawa-nyawa hilang begitu saja. (Makarim Wibisono,2006)
Para sarjana berharap agar dilakukan pembenahan di badan Dewan Keamanan PBB karena tugas pokok Dewan Keamanan PBB yang tak lain adalah menjaga perdamaian dunia dan stabilitas keamanan. Perlu adanya transparansi hak veto, sistem kerja, dan faktor memaksa agar PBB tidak dikalahkan oleh hegemoni utama AS di kemudian hari. Setalah Perang Irak, kreadibilitas PBB perlu dibangun kembali meskipun hal tersebut bukanlah hal mudah. PBB harus bisa lebih terampil dalam diplomasi serta keberanian untuk menegakkan keadilan di atas dunia. (Makarim Wibisono,2006)
D. Sarjana HI pun Berbicara
Thomas Hobbes, tokoh realis klasik berpendapat bahwa keadaan alamiah seorang manusia bagi manusia lainnya sangat tidak bersahabat. Manusia satu dengan lainnya dianggap saling mementingkan dirinya untuk bisa bertahan. Keadaan alam ini berbahaya bagi setiap sendi-sendi kehidupan. (Robert Jacskon dan Georg Sorensen,2009). Hal tersebut sama halnya dengan keadaan dunia, yang mana antara negara satu dengan yang lainnya saling curiga dan memendam rasa ketakutan yang berlebihan hal ini sama dengan peristiwa dimana AS menginvasi Afghanistan pasca 9/11 runtuh. Invasi AS ini didasari oleh rasa takut AS terhadap terorisme yang mengancam kedaulatan AS dan berbahaya bagi dunia pada umumnya. Sehingga atas dasar ini AS yang mengaku sebagai polisi dunia berhak atas invasi tersebut.
(Robert Jacskon dan Georg Sorensen,2009). Sehingga baik Perang Irak maupun Perang Afghanistan merupakan hanya sebagai alat untuk mencapai kekuasaan bagi AS. Kekuasaan ini ingin direalisasikan oleh AS sehingga negara-negara lain di dunia akan tunduk terhadap kebijakan AS. Tak hanya itu kekuasaan lain yang dimaksud adalah kekuasaan untuk memenuhi kepentingan nasional bagi AS. Kepentingan nasional tersebut tercermin dalam maksud yang terselubung AS dalam melancarkan aksi invasinya baik di Irak maupun di Afghanistan.
E. Kesalahan Besar Strategi Perang AS
AS sebagai satu-satunya negara Super Power yang ditandai dengan runtuhnya Uni Soviet pasca Perang Dingin membuat AS merasa sebagai satu-satunya polisi di dunia dan berhak melakukan invasi maupun intervensi ke negara lain atas dasar kemanusiaan dan keadilan. Seperti pasca peristiwa 9/11 yang mana AS menganggap bahwa terorisme adalah monster yang sangat berbahaya dan mengancam kedaulatan di seluruh dunia. Kekhawatiran tersebut membuat AS melakukan berbagai kebijakan luar negerinya dengan melaksanakan invasi ke negara yang dianggap sebagai sarang teroris. Tak hanya peristiwa 9/11 pada 2001, invasi AS di Irak 2003, Perang Vietnam, Arab Spring menjadi bukti nyata bahwa AS memiliki strategi perang yang dinilai ampuh oleh AS sendiri. Meskipun beberapa negara di dunia justru menanggap bahwa strategi perang AS dinilai ceroboh dan sia-sia belaka.
Beberapa kesalahan strategi perang AS dan menjadi pelajaran besar bagi AS ditinjau dari para ahli yakni:
1. Strategi perang AS dinilai boros
Pengalaman AS dalam memperkuat militernya di berbagai negara baik dari Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua, Perang Dingin, Perang Teluk maupun perang dalam teror lainnya dinilai memakan biaya yang tidak sedikit. AS dalam membuat pangkalan militer baik darat, udara, maupun laut membuat AS harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak sementara hasil dari perang tersebut kurang memuaskan. Seperti dalam Perang Teluk jumlah korban yang ditargetkan lebih sedikit sementara peralatan perang yang digunakan lebih banyak. (Stephen M Walt, 2005)
AS sebagai kekuatan Single Power pasca Perang Dingin membuat beberapa negara merasa was-was. Apalagi AS membuat sebuah strategi perang baru yang mana melalui tudingan tertentu sehingga AS bisa memasuki wilayah negara lain di dunia dengan mudah seperti kasus Irak, Afghanistan, Vietnam maupun negara-negara lain di dunia. Kekhawatiran ini membuat Rusia dan Cina membuat sebuah traktat persahabatan pada 2001 yang bertujuan untuk menentang dan membuat tameng masuknya AS ke kedua negara tersebut. (Stephen M Walt, 2005)
3. Adanya pengakuan negatif dari mantan tentara AS
Militer AS dalam melancarkan aksi invasinya di Afghanistan dengan menyiksa tahanan, merusak berbagai bangunan, melukai rakyat sipil bahkan sampai membakar jasad yang diduga sebagai anggota Taliban. Hal tersebut membuat image di mata dunia bahwa militer AS sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Bahkan Pemerintah AS menilai hal tersebut bukanlah suatu kejahatan melainkan sebuah keharusan. (Jerry D Gray, 2007)
Menurut pengakuan Jerry D Gray yang merupakan mantan anggota militer Angkatan Udara AS menuturkan bahwa selama AS melakukan perang melawan teror, militer AS tidak segan-segan menyiksa anak-anak muda yang berumur 13-15 dengan cara mengikat tubuhnya lalu diinjak-injak kepalanya. Lalu adanya beberapa mayat tahanan yang tidak diketahui identitasnya di Afghanistan dikeluarkan begitu saja dari konteiner dan dilemparkan begitu saja ke tanah. Hal ini tentu menodai kaidah-kaidah terutama melanggar pasal 3 dari Konvensi Jenewa yang mengatakan bahwa kekerasan,pembunuhan, perlakuan kejam atau penyiksaan lainnya terhadap tahanan merupakan kejahatan yang tidak bisa dimaafkan. Sedangkan pasal 20 Konvensi Jenewa megatakan bahwa tahanan perang harus dilakukan secara manusiawi.
4. Tuduhan Tanpa Dasar
Pejabat senior AS pun mengakui sendiri bahwa terdapat ketidakjelasan dalam daftar nama-nama sebagai teroris yang diperoleh oleh FBI. Pejabat senior AS tersebut menyelidiki apakah daftar nama-nama tersebut merupakan identitas palsu atau tidak. Bahkan setelah itu media Israel menyatakan bahwa terdapat 4000 warganya yang bekerja di gedung juga turut menjadi korban 9/11 namun ternyata tak ada satupun warga Israel yang turut menjadi korban bahkan disebutkan dalam media Al watan yang mana orang-orang Israel yang bekerja di gedung tersebut absen ketika pesawat menabrakkan diri di gedung tersebut. Hal ini juga yang menjadi kecurigaan bagaimana mungkin Pemerintah Israel yang menjadi mitra utama AS bisa mempelajari insiden tersebut. Tentunya banyak opini publik mengatakan bahwa insiden 9/11 hanya setingan belaka. (Jamiluddin dan Bien Pasaribu,2001).
Daftar Pustaka
Fukuyama,Francis dkk.Amerika dan Dunia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,2005.
Jackson,Robert dan Georg Sorensen. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
D Gray, Jerry. Demokrasi Barbar ala Amerika. Depok: Sinergi, 2008.
Wibisono, Makarim. Tantangan Diplomasi Multilateral. Jakarta: Pustaka LP3ES, 2006.
Ritonga, M Jamiluddin dan Bien Pasaribu. Perang, Bush Memburu Osama. Jakarta:Papas Sinar Sinanti, 2001.
Mearsheimer, John J dan Stephen M Walt. Keepimg Saddam Hussein in a Box. New York Times, 2003.