TUGAS dan tanggung jawab secara UMUM

24 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TUGAS UMUM

JENIS-JENIS BENTUK SEDIAAN FARMASI

Oleh

Dewa Ayu Pramesti Utari 1708551063

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA

(2)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Kesehatan merupakan salah satu hal yang penting dan bahkan menjadi prioritas sebagian besar masyarakat. Tidak heran jika banyak orang mempertimbangkan banyak hal dalam pola hidupnya untuk menjaga suatu kestabilan kondisi fisik dan psikis. Untuk mencapai keadaan tersebut, baik mencegah, maupun megobati penyakit menjadi bagian dari hal itu. Sejak zaman dahulu masyarakat khususnya di Indonesia sendiri sudah lazim memanfaatkan bahan-bahan alam di sekitar mulai dari mencoba-coba hingga menemukan khasiat dari masing-masing bahan temuan mereka. Terlebih lagi kondisi alam di Indonesia yang berlimpah akan ketersediaan sumber daya alam. Pengobatan tradisional pun semakin diperbaharui seiring berjalannya waktu.

Dewasa ini sering kali terjadi kasus-kasus yang terjadi akibat kesalahan penggunaan obat. Meskipun kesehatan menjadi prioritas, tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat untuk menempuh cara mereka sendiri yang terkadang justru tidak sesuai dengan yang diharapkan atau berdampak lebih buruk. Kesalahan dalam pemilihan obat kerap kali menjadi perbincangan publik. Begitu juga dalam pemilihan bentuk sediaan obat yang sering diabaikan oleh masyarakat. Oleh sebab itu dengan dibuatnya makalah dengan judul “Jenis-Jenis Bentuk Sediaan Farmasi” dapat bermanfaat bagi masyarakat untuk memperluas penyebaran informasi guna tercapainya pemahaman yang lebih mendalam lagi terkait bagaimana sediaan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan pasien agar nantinya lebih efisien dalam menimbulkan efek yang sesuai dengan harapan.

1.2Rumusan Masalah

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan bentuk sediaan farmasi?

(3)

2 1.3Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan bentuk sediaan farmasi 1.3.2 Mengetahui bagaimana pengelompokan jenis-jenis sediaan

berdasarkan bentuk sediannya

(4)

3 BAB II

PEMBAHASAN 2.1Bentuk Sediaan Farmasi

Bentuk sediaan obat adalah sediaan farmasi dalam bentuk tertentu dengan kebutuhan, mengandung suatu zat aktif atau lebih dalam pembawa yang digunakan sebagai obat dalam maupun luar. Bentuk sediaan obat (BSO) dapat diperlukan agar penggunaan senyawa atau zat berkhasiat dalam famakoterapi dapat juga digunakan secara aman, efisien, dan atau memberikan efek yang optimal. Pada umumnya BSO mengandung senyawa tertentu/ vehikulum yang diperlukan untuk formulasi tertentu (Murini, 2013).

2.2Jenis-Jenis Sediaan

Obat dapat digolongkan berdasarkan banyak hal. Obat dapat digolongkan berdasarkan kegunaannya, berdasarkan cara penggunaannya, berdasarkan cara kerjanya, berdasarkan undang-undang, berdasarkan sumber obat, berdasarkan proses fisiologis dan biokimia dalam tubuh, serta berdasarkan bentuk sediaan obat atau yang dikenal dengan bentuk sediaan farmasi (Syamsuni, 2006). Berikut ini jenis-jenis bentuk sediaan farmasi, diantaranya sebagai berikut:

A. Padat/ Solid a. Serbuk

Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang diserbukkan. Cara pembuatan serbuk kasar terutama dari simplisia nabati yakni: simplisia digerus sampai derjat halus terentu setelah itu dikeringkan pada suhu tidak lebih dari 50oC, bagian yang mudah mnguap dikeringkan dengan pertolongan kapur tohor atau bahan pengering lain yang sesuai, kemudian digiling, ditumbuk, dan digerus. (Anief, 2010.) Serbuk umumnya digunakan dalam pemakaian secara oral atau topikal.

b. Tablet / compressi

(5)

4 kaplet (Depkes RI, 1995) Cara pembuatann dapat dilakukan dengan tiga cara: cara granulasi basah, granulasi kering, dan cara kempa langsung. Cara granulasi basah dilakukan dengan mencampur zat khasiat, zat pengisi, dan zat penghancur sampai homogen, lalu dibasahi dengan larutan bahan pengikat, ditambahkan pewarna (jika perlu), diayak menjadi granul, dikeringkan (tidak lebih dari 60oC), diayak

kembali, ditambahan peici, dan dicetak dengan mesin tablet (Syamsuni, 2006). Biasanya digunakan untuk pemakaian oral.

c. Pil/ pillulae

Pil atau pillulae berasal dari kata “pila” yang berarti bola kecil. Pil ialah suatu sediaan berupa massa bulat mengandung satu atau lebih bahan obat yang digunakan untuk obat dalam dan bobotnya 50-300 mg per pil, namun ada juga yang menyebut bobot pil 1-5 gram (Depkes RI, 1979). Cara pembuatannya adalah: campurkan bahan-bahan baik bahan obat atau zat utama dan zat tambahan sampai homgen, campuran diteteskan zat pmbasah hingga plastis dan elastis, lalu dibua bentuk batang den dipotong dengan alat pemotong pil, bahan penaur ditabur pada pil, alat peengguun dan alat potong pil, agar massa pil tidak melekat. Penyalutan dilakukan apabila perlu dan dikeringkan terleebih dahulu (Syamsuni, 2006). Kegunaan pil adalah dalam pengobatan secara oral.

d. Kapsul/ capsulae

Kasul adalah bentuk sediaan padat yang terbungkus dalam suatu cngkang keras atau lunak yang dapat larut. Cara pembuatan kapsul yakni dengn menyiapkan terlebih dahulu sedian yang akan diisi di dalam cangkang kapsul dengan teliti kemudian sediaan tersebut dimasukkan ke dalam cangkang kapsul hingga penuh. Cangkang kapsul ditutup dengan rapat (Syamsuni, 2006). Kegunaannya sebagai pembungkus obat yang memiliki rasa dan aroma tidak enak dan untuk menggabungkan dua sediaan berbeda.

(6)

5 Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk yang diberikn melalui rektu, vagna atau uretra (Depkes RI, 1995). Cara pembuatannya dapat dilakukan dengan tangan, dengan encetak hasil leburan, maupun denga kompresi. Kegunaannya sebagai pengobatan lokal baik di dalam rektum, vagina, atau uretra. Contohnya pada penyakit heroid/wasir/ambeien, dan infeksi lainnya (Syamsuni, 2006). B. Setengah Padat/ Semi Solid

a. Salep/ unguenta/ unguentum/ ointment

Merupakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar (Depkes RI, 1979). Dapat dibuat dengan zat padat (pellidol, iodium, dan lainnya), zat cair, dan bahan lainnya (Syamsuni, 2006). Kegunaannya dalam pengobatan topikal.

b. Krim/ cremores

Krim adalah sediaan berupa emulsi yang mengandung satu atau lebih bahan obat terlaru atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (mengandng air tidak kurang dari 60%). Krim dibuat dengan mencampur bahan seperti pembuatan salep, melibatkan penyabunan, dan hasilnya berupa emulsi. Kegunaannya dalam pengobatan topikal. c. Pasta/ pastae

Pasta adalah sediaan semi padat (massa lembek) yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditunjukan untuk pemakaian topikal dengan bahan padat lebih dari 50% (Syamsuni, 2006). Kegunaannya sebagai...Cara pembuatan....

d. Linimentum

Merupakan sediaan cair atau kental, mengandung analgetik dan zat yang mempunyai sifat rubefacient unntuk melemaskan otot-otot atau enghangatkan. Kegunaannya sebagai obat luar yang dioleskan pada kuli yang tidak dalam keadaan luka. Cara pembuatannya sama seperti salep melibatkan pencampuran bahan, penyabunan, dan pembentukan emulsi (Syamsuni, 2006).

(7)

6 Merupakan sediaan yang terdiri atas suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.Pembuatan dilakukan dengan memasukan gelatin pada botol agar gelatin mengembang, dipanaskan di atas tangas air sampai gelatin larut, Zinci oxydum digerus dalam lumpang bersama glisern, kemudian dimasukan pada botol dan diaduk hingga rata dan dingin. Gel digunakan untuk pengobatan topikal atau dimasukkan ke dalam lubang tubuh (Syamsuni, 2006).

f. Occulenta/ occulentum/ salep mata

Salep mata adalah alp steril untuk pengobatan mata dengan menggunkn dasar salep yang cocok. Dapat dibuat dengan menambhkan bahan obat sebagai larutan steril atau serbuk streril termikronisasi pada dasar salep steril, hasilnya dimasukkan secara aseptik ke dalam tube steril (Syamsuni, 2006).

C. Cair/ Liquid a. Sirup

Merupakan larutan oral yang mengansung sukrosa atu gula lain yang berkadar tinggi sekitar 64-66%, kecuali dinyatakan lain (Syamsuni, 2006). Sirup dibuat dengan menggunakan air sebagai pelarut yang telah didihkan, kemudian sukrosa yang telah ditimbang dilarutkan pada air, diakukan penyaringan, ditambahkan zat aktif hingga tercampur sempurna. Saat sudah homogen, larutan dapat dimasukkan ke dalam botol.

b. Clysma

(8)

7 diagnostig (Ba-sulfat), sedatif (klorhidrat, luminal-Na, paraldehid), antelmitik (quassiase, tanin).

c. Injeksi

Merupakan sediaan steril berupa larutan emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikn terlebih dahuusebelum dgunakan, yang disuntikan dengan cara merbek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit, atau selaput lendir. Digunakan sebagai obat injeksi, zat penahan rasa setempat, dan stabilisator (Syamsuni, 2006).

d. Infus intravena

Merupakan sediaan steril berupa laruan atau emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis dengan darah dan disuntikan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak. Kegunaannya dapat digunakan untuk mengganti cairan tubuh, dalam bentuk larutan koloid dapat dipakai menggantikan darah manusia, penambahan kalori, dan sebagai obat lainnya (Syamsuni, 2006).

e. Douche

Merupakan larutan cair yang dimasukkan dengan suatu alat ke dalam vagina, baik untuk pengobatan maupun pembersihan dan mengandung antiseptik. Disamping itu untuk mempermudah penggnaannya dapat juga dalam bentuk serbuk atau tablet yang dilarukan sebelum digunakan (Syamsuni, 2006).

D. Gas

Merupakan sediaan yag engandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah yang diberikan tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup untuk memancarkan isinya hingga habis. Dapat digunakan untuk obat luar atau obat dalam dengan menggunakan propelan yang cocok. Jika digunakan sebagai obat dalam atau secara inhalasi, aerosol dilengkapi dengan pengatur dosis (Depkes RI, 1979).

a. Inhalasi/ aerosol/ spray

(9)

8 atau mulut untuk memperoleh efek lokal atau sistemik (Syamsuni, 2006).

2.3Kelebihan dan Kekurangan Suatu Bentuk Sediaan

Untuk dapat mengetahui bagaimana pengaruh bentuk sediaan maka salah satu hal yang harus diketahui terlebih dahulu yakni mengenal kelebihan maupun kekurrangan dari berbagai jenis-jenis bentuk sediaan. Hal ini dilakukan agar dapat memilih bentuk sediaan yang efektif sesuai kebutuhan karena setiap sediaan memiliki karakter yang berbeda-beda. Berkut ini merupakan kelebihan dan kekuranga dari beberapa bentuk sediaan menurut Syamsuni tahun 2006:

A. Serbuk

Kelebihan: lebih mudah terdispersi dan lebih larut, mudah dikonsumsi, masalah stabilitas yang ditemukan pada sediaan cair tidak ditemukan dalam sediaan serbuk, obt yang ukuranya besar dapat diberkecil dengan bentuk serbuk, dan dkter menjadi lebih leluasa memilih dosis yang sesuai engan keadaan pasien.

Kekurangan: tidak tertutupnya rasa dan aroma yang tidak mengenakkan, serta lebih sulit dalam penyimpanan untuk menghindarkan dari basah dan lembab.

B. Kapsul

Kelebihan: bentuknya menarik dan praktis, cangkang kapsu tidak berasa sehingga menutupi rasa dan aroma obat yang tidak mengenakkan, mudah ditelan, cepat hancur, dapat mengombinasikan beberapa macam obat yang tidak sefase dengan dosis yang berbeda sesuai kebutuhan pasien, pembuatan kapsul cepat karena pengisiannya tidak memerlukan zat tambahan atau penolong seerti pada pembuatan tablet dan pil.

(10)

9 C. Larutan

Kelebihan: campuran bahan obat telah homogen, dosis obat dapat diubahubah dalam pembuatannya, dapat diberikan dalam larutan encer, kerj awal obat lebih cepat karena mudah diabsorpsi, dapat diberi penambah rasa seperti pemanis, warna, dan lainnya yang menarik minat anak-anak, dan bentuk larutan mudah digunakan untuk penggunaan luar Kekurangan: vume bentuk larutan cenderung lebih besar, ada obat yang tidak stabil jika dibuat dalam bentuk larutan, serta ada obat yang sukar ditutupi rasa dan baunya dalam bentuk larutan.

D. Supositoria

Kelebihan: dapat menghindari terjadinya iritasi pada lambung, dapat menghindari kerusakan obat olh enzim pencernaan, obat dapat langsung ke saluran darah sehingga obat dapat berefek lebih cepat, serta baik bagi pasien yang mudah muntah atau dalam keadaan tidak sadar.

Kekurangan: supositoria dengan bahan dasar PEG dapat menarik cairan dari jaringan tubuh setelah dimasukkn sehingga terjadi rasa yang menyengat dan dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan obat.

E. Aerosol

Kelebihan: mudah digunakan, sedikit melibatkan kontak dengan tangan, bahaya kontaminasi tidak ada karena wadah tertutup kedap, iriasi karena pemakaian topikal dapat dikurangi, takran yang dikehendaki dapat diukur, dan bentuk semprotan untuk sediaan dapat diatur atau disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

(11)

10 BAB III

PENUTUP 3.1Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, penuis dapat menarik kesimpulan bahwa alkaloid sebagai senyawa yang dapat diekstrak dari dalam bahan tumbuhan dapat dikelompokan berdasarkan kajian tersendiri, contohnya berdasarkan jenis cicin heterosiklik nitrogen dan asal-usul biogenetik. Alkaloid memiliki keaktifan biologis sehingga selain bermanfaat, namun sebagian kecil berpotensi sebagai racun. Alkaloid pada tumbuhan penghasil itu sendiri berfungsi sebagai tandon dan ekstraknya juga memberikan suatu manfaat seperti piperin; sebagai antifeedant (bioinsektisida).

3.2Saran

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 2010. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan

Republik Indonesia.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Murini, T. 2013. Bentuk Sediaan Obat (BSO) dalam Preskripsi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

(13)

TUGAS UMUM ALKALOID

Oleh

Dewa Ayu Pramesti Utari 1708551063

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA

(14)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Sejak dahulu masyarakat seringkali menggunakan ekstrak dari berbagai bagian tumbuhan seperti akar, batang, daun, buah, danbiji-bijian sebagai obat. Hal tersebut dikarenakan adanya anggapan bahwa banyak tumbuhan yang mengandung senyawa yang berdampak faali yang nyata. Terlebih lagi mengingat Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Hampir segala jenis tumbuhan dapat tumbuh di negara ini. Berbagai zat dari bahan tumbuhan tersebut dapat diisolasi dan ditelusuri kandungannya.

Secara organoleptik, daun-daunan yang memiliki rasa sepat dan pahit, biasanya teridentifikasi mengandung alkaloid. Disamping itu, Alkaloida dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji, daun, ranting dan kulit batang. Alkaloida pada umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit dari jaringan tumbuhan.

(15)

2 dengan dibuatnya makalah ini pembaca dapat lebih memahami hal-hal terkait alkaloid serta manfaatnya seiring dengan perkembangannya berdasarkan hasil kajian-kajian ilmiah.

1.2Rumusan Masalah

1.2.1 Apa yang dimaksud dengan alkaloid? 1.2.2 Bagaimana penggolongan alkaloid? 1.2.3 Bagaimana peran alkaloid?

1.3Tujuan

1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan alkaloid 1.3.2 Mengetahui bagaimana penggolongan alkaloid

(16)

3 BAB II

PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Alkaloid

Senyawa alkaloid telah banyak ditemukan dengan berbagai variasi struktur yang unik, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Alkaloid secara umum mengandung paling sedikit satu buah atom nitrogen yang bersifat basa dan merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Kebanyakan alkaloid berbentuk padatan kristal dengan titik lebur tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Alkaloid dapat juga berbentuk amorf atau cairan. Alkaloid merupakan senyawa nitrogen dalam tumbuhan yang mengandung atom nitrogen basa yang dapat diekstrak dari dalam bahan tumbuhan tersebut dengan asam encer (Fessenden, 1982).

Sifat fisika alkaloid umumnya mempunyai satu atom nitrogen. Meskipun ada beberapa yang memiliki lebih dari satu atom nitrogen seperti pada ergotamin yang memiliki 5 atom nitrogen. Atom nitrogen ini dapat berupa amin primer, sekunder maupun tersier yang semuanya bersifat basa. Tingkat keasamannya tergantung dari struktur molekul dan gugus fungsionalnya. Kebanyakan alkaloid yang telah diisolasi berupa padatan kristal tidak larut dengan titik lebur yang tertentu atau mempunyai kisaran dekomposisi. Sedikit alkaloid yang berbentuk amorf dan beberapa seperti: nikotin dan koniin berupa cairan. Kebanyakan alkaloid tidak berwarna, tetapi beberapa senyawa yang kompleks, spesies aromatik berwarna, contohnya berberin berwarna kuning dan betanin berwarna merah). Pada umumnya, basa bebas alkaloid hanya larut dalam pelarut organik, meskipun beberapa pseudoalkalod dan protoalkaloid larut dalam air. Garam alkaloid dan alkaloid quartener sangat larut dalam air (Anjelisa, 2007).

(17)

4 dietilamin lebih basa daripada etilamin. Sebaliknya, bila gugus fungsional yang berdekatan bersifat menarik elektron (contoh: gugus karbonil), maka ketersediaan pasangan elektron berkurang dan pengaruh yang ditimbulkan alkaloid dapat bersifat netral atau bahkan sedikit asam. Contohnya senyawa yang mengandung gugus amida. Kebasaan alkaloid menyebabkan senyawa tersebut sangat mudah mengalami dekomposisi, terutama oleh panas dan sinar dengan adanya oksigen. Hasil dari reaksi ini sering berupa N-oksida. Dekomposisi alkaloid selama atau setelah isolasi dapat menimbulkan berbagai persoalan jika penyimpanan berlangsung dalam waktu yang lama. Pembentukan garam dengan senyawa organik (tartarat, sitrat) atau anorganik (asam hidroklorida atau sulfat) sering mencegah dekomposisi. Itulah sebabnya dalam perdagangan alkaloid lazim berada dalam bentuk garamnya (Anjelisa, 2007).

Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder terbanyak yang memiliki atom nitrogen, yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan dan hewan. Sebagian besar senyawa alkaloid bersumber dari tumbuh-tumbuhan, terutama angiosperm. Lebih dari 20% spesies angiosperm mengandung alkaloid (Wink, 2008). Alkaloid dapat ditemukan pada berbagai bagian tanaman, seperti bunga, biji, daun, ranting, akar dan kulit batang. Alkaloida umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan. Alkaloid jarang ditemui pada tumbuhan tingkat rendah. Alkaloid juga ditemukan pada jamur Amanita mappa, selain yang ditemukan pada tumbuhan juga ditemukan pada jaringan

katak Bufo vulgaris (Ikan, 1969). Tidak menutup kemungkinan juga bahwa dalam satu tumbuhan dapat memiliki lebih dri satu jenis alkaloid, seperti pada tumbuhan karamunting (Rhodomyrtus tomentosa) memiliki tujuh alkaloid pada batang yaitu: maritidin, berberin, ismine, tazettine, lycorine, deoxytazettine, dan homolycorine (Ningrum, 2016).

(18)

5 asam fosfomolibdat LP dan asam fsfowolframat LP. Golongan II menyebabkan larutan percobaan yang dengan alkaloid membentuk senyawa kompleks bebas, kemudian membentuk endapan seperti: bourchard Lp dan wagner LP. Golongn III menyebabkan percobaan yang dengan alkaloid membentuk senyawa adisi yang tidak larut seperti: mayer LP, dragendorff Lp, dan Marine LP. Golongan I menyebabkan larutan percbaan yang dengan alkaloid membentuk ikatan asam organik dengan alkaloid, yakni hager LP (Depkes RI, 1977).

Mengidentifikasi alkaloid dapat dilakukan dengan tahapan berikut. Pertama timbang 500 mg serbuk simplisia yang akan diidentifikasi, tambahkan 1 ml asam klorida 2 M dan 9 ml, panaskan di atas pemanas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. Pindahkan 3 tetes filtrat pada kaca arloji, tambahkan 2 tetes bouchardat LP. Jika pada kedua percobaan tidak terjadi endapan, maka serbuk tidak mengandung alkaloid (Depkes RI, 1978). Jika dengan mayer LP terbentuk endapan menggumpal berwarna putih atau kuning yang larut dalam metano P dan dengan bouchardat LP terbentuk endapan dengan warna coklat sampai hitam, maka ada emungkinan terdapat alkaloid (Depkes RI, 1979). Percoaan tersebut dilanjtkan dengan mengocok sisa filtrat dengan 3 ml amonia pekat P dan 10 ml campuran 3 bagian volume eter P dan 1 bagian volume kloroform P. Kemudian fase organik dambil dan tambahkan ntrium sulfat anhidrat P, dan disaring (Depkes RI, 1980). Filtrat tersebut diuapkan di atas tangas air, larutkan sisa dalam sedikit asam klorida 2 M. Lakukan percobaan dengan keempat golongan larutan percobaan, serbuk simplisia mengandung alkaloid jika sekurang-kurangnya terbentuk endapan dengan menggunakan 2 golongan larutan percobaan yang digunakan (Depkes RI, 1989).

(19)

6 Larutan percobaan yang dapat digunakan adalah: asam sulfat P, asam nitrat P, frohde LP, dan erdmann LP (Depkes RI, 1995)

Reaksi kristal juga merupakan cara mengidentifikasi adanya alkaloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi kristal dragendorf, yaitu dengan mengaduk zat +HCl, lalu teteskan dragendorf di pinggirnya dan jangan dikocok, diamkan 1 menit kristal dragendorf maupun reaksi Fe-complex serta Cu-complex.

2.2 Klasifikasi alkaloid

Alkaloid dibagi menjadi dua bagian utama yakni non heterosiklik atau alkaloid atipikal, kadang disebut juga proto-alkaloid atau amina biologikal dan heterosiklik atau alkaloid tipikal. Pada umumnya alkaloida dikelompokkan menjadi beberapa jenis berdasarkan kajian-kajian tersendiri. Klasifikasi tersebut dapat dilakukan berdasarkan beberapa cara yaitu:

1. Berdasarkan jenis cicin heterosiklik nitrogen yang merupakan baian dari struktur molekul, alkaloid dapat dibedakan menjadi beberapa golongan: a. Golongan piridina, contohnya: piperine, conine, trigonelline, guvacine,

arecoline, arecaidine, cytisine, lobeline, sparteine, anabasine, dan palletierine.

b. Golongan pyrrolidine: hygrine, cuscohygrine, nikotina.

c. Golongan isokuinolina: alkaloid-alkaloid opium (misalnya: papaverine, narcotine, dan narceine), sanguinarine, hydrastine, berberine, emetine, berbamine, dan oxyacanthine.

d. Golongan kuinolina: kuinina, kuinidina, dihidrokuinina, dihidrokuinidina, strychnine, brucine, veratrine, dan cavadine

e. Golongan indola:

- Tryptamines: serotonin, DMT, 5-MeODMT,bufotenine, psilocybin - Ergolines: ergine, ergotamine, dan lysergic acid

- Beta-carboline: harmine, harmaline, dan tetrahydroharmine - Yohimbans: reserpine dan yohimbine

(20)

7 - Alkaloid Kratom: mitragynine, 7-hydroxymitragynine

- Alkaloid Tabernanthe iboga: ibogaine, voacangine, coronaridine - Alkaloid Strychnos nux-vomica: strychnine, dan brucine

2. Berdasarkan asal-usul biogenetik. Berdasarkna hal ini alkaloida dapat dibedakan atas tiga jenis utama yaitu: Alkaloida alisiklik yang berasal dari asam-asam amino ornitin dan lisin, Alkaloida aromatik jenis fenilalanin yang berasal dari fenilalanin, tirosin dan 3,4 – dihidrofenilalanin, Alkaloida aromatik jenis indol yang berasal dari triptopan.

Selain sistem pengelompokan di atas, sistem klasifikasi yang paling banyak diterima adalah menurut Hegnauer, yang mana alkaloid dikelompokkan menjadi beberapa kelompok seperti pada pengelompokan berikut, diantaranya yaitu:

1. Alkaloida sesungguhnya, alkaloida ini merupakan racun, senyawa tersebut menunjukkan aktivitas fisiologis yang luas, hamper tanpa kecuali bersifat basa. Umumnya mengandung nitrogen dalam cicin heterosiklik, diturunkan dari asam amino, biasanya terdapat dalam tanaman sebagai garam asam organik. Beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut adalah kolkhisin dan asam aristolkhoat yang bersifat bukan basa dan tidak memiliki cicin heterosiklik dan alkaloida quartener yang bersifat agak asam daripada bersifat basa.

2. Protoalkaloida, merupakan amin yang relative sederhana dimana nitrogen asam amino tidak terdapat dalam cicin heterosiklik. Protoalkaloida diperoleh berdasarkan biosintesa dari asam amino yang bersifat basa. Pengeertian amin biologis sering digunakan untuk kelompok ini.

3. Pseudoalkaloida, tidak diturunkan dari precursor asam amino. Senyawa ini biasanya bersifat basa. Ada dua seri alkaloida yang penting dalam kelompok ini yaitu alkaloida steroidal dan purin.

2.3 Peran Alkaloid

(21)

8 berfungsi sebagai hasil buangan nitrogen seperti urea dan asam urat dalam hewan. Namun seiring berkembangnya pengetahuan, pendapat tersebut tidak dapat dipertahankan. Berdasarkan hasil penelitian, alkaloid bertindak sebagai tandon penyimpanan nitrogen meskipun banyak alkaloid ditimbun dan tidak mengalami metabolisme lebih lanjut meskipun sangat kekurangan nitrogen, alkaloid dapat melindungi tumbuhan dari serangan parasit atau pemangsa tumbuhan, pengatur pertumbuhan seperti pematangan buah, layu pada bunga dan pembusukan, sebagai sumber energi pada kasus defisiensi CO2 dan dapat

mengganti basa mineral dalam mempertahankan kesetimbangan ion dalam tumbuhan.

Selain bermanfaat bagi tumbuhan penghasil alkaloid itu sendiri, beberapa jenis alkaloid juga dimanfaatkan oleh masyarakat seperti: nikotin; sebagai stimulan pada syaraf otonom, morfin; sebagai analgesik, kodein; sebagai analgesik, obat batuk, atropin; untuk obat tetes mata, skopolamin; sebagai sedatif menjelang operasi, kokain; sebagai analgesik, piperin; sebagai antifeedant (bioinsektisida), quinin; untuk obat malaria, vinkristin; untuk obat kanker, ergotamin; sebagai analgesik pada migrain, reserpin; untuk pengobatan simptomatis disfungsi ereksi, mitraginin; sebagai analgesik dan antitusif, ainblastin; sebagai anti neoplastik, obat kanker, sera saponin; sebagai antibakteri. Selain itu masih banyak lagi alkaloid yang berkhasiat sebagai anti diare, anti diabetes, anti mikroba dan anti malaria. Beberapaa alkaloid di atas merupakan alkaloid yang sudah dimurnikan dan dipakai dalam pengobatan modern misalnya: ephidrin, codein, morphine, ergomitrine, pilocarpine, vincristine, hyocine, atropine, erythromycine dan lain-lain.

(22)
(23)

10 BAB III

PENUTUP 3.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, penuis dapat menarik kesimpulan bahwa alkaloid sebagai senyawa yang dapat diekstrak dari dalam bahan tumbuhan dapat dikelompokan berdasarkan kajian tersendiri, contohnya berdasarkan jenis cicin heterosiklik nitrogen dan asal-usul biogenetik. Alkaloid memiliki keaktifan biologis sehingga selain bermanfaat, namun sebagian kecil berpotensi sebagai racun. Alkaloid pada tumbuhan penghasil itu sendiri berfungsi sebagai tandon dan ekstraknya juga memberikan suatu manfaat seperti piperin; sebagai antifeedant (bioinsektisida).

3.2 Saran

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Anjelisa, Z.P., Hasibuan, Nainggolan A. 2007. Penentuan Sifat Kimia Fisika Senyawa Alkaloids Hasil Isolasi dari Daun Bandotan (Ageratum conyzoides Linn). Jurnal Penelitian MIPA. 1(1). 20-22.

Depkes RI, 1977. Materia Medika Indonesia. Jilid I. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI, 1978. Materia Medika Indonesia. Jilid II Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI, 1979. Materia Medika Indonesia. Jilid III Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI, 1980. Materia Medika Indonesia. Jilid IV Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI, 1989. Materia Medika Indonesia. Jilid V Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Depkes RI, 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid VI Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Fessenden, R.J. dan Joan S. F. 1982. Kimia Organik. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta: Erlangga.

Ikan, R. 1969. Natural Product A Laboratory Guide. Jerussalem: Israel Universities Press

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...