RINGKASAN
BERRY NAHDIAN FORQAN. PENERAPAN TEKNOLOGI
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHDIRO (PLTMH) BERBASIS MASYARAKAT DALAM PEMENUHAN ENERGI, PENGEMBANGAN KEGIATAN SOSIAL EKONOMI BUDAYA, DAN PELESTARIAN HUTAN. (STUDI KASUS: PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PLTMH DI DESA HARATAI I KECAMATAN LOKSADO KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN).
Komisi Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Emmy Sri Mahreda, M.P, (Ketua), Dr. Ir. Taufik Hidayat, M.Si (Anggota), Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. (Anggota).
Potensi sumberdaya energi yang cukup berlimpah di tanah air belum termanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan energi listrik bagi penduduk. Sampai akhir tahun 2011, kapasitas pembangkit di seluruh Indonesia hanya 29.268,16 Mega Watt dengan tingkat elektrifikasi rata-rata hanya tercapai 67,98%, dan ini tidak terdistribusi secara proporsional pada daerah-daerah di Indonesia. Rendahnya rata-rata tenaga listrik ini terefleksi dalam konsumsi per kapita yang hanya di bawah 600 kilo watt hour (kWh). Bukan saja ini sangat berpengaruh pada penyediaan listrik bagi rumah tangga namun juga berpengaruh pada kemampuan warga dalam membangun peradabannya untuk mencapai kesejahteraan dan kemakmuran.
Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) merupakan salah satu solusi bagi memenuhi kebutuhan energi listrik di pedesaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Salah satunya adalah PLTMH Buntasan berbasis masyarakat yang menghasilkan daya sebesar 12.000 watt yang dikembangkan sejak tahun 2008 di Desa Haratai I Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan Provinsi Kalimantan Selatan. Selanjutnya untuk mengetahui lebih jauh bagaimana dampak dari penerapan teknologi PLTMH dapat memenuhi kebutuhan energi listrik bagi masyarakat, pengembangan ekonomi sosial budaya dan pelestarian hutan maka perlu dilakukan sebuah penelitian sebagai acuan yang bisa dijadikan landasan bagi pengembangnya kedepan.
Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Data primer bersumber langsung dari penduduk pengguna PLTMH sebagai subjek penelitian sejumlah 34 kepala keluarga dengan teknik wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari berbagai sumber tertulis lainnya. Data hasil lapangan dianalisis melalui tahapan koleksi data (data collection), penyederhanaan data (data reductional), penyajian data (data display), dan pengambilan kesimpulan dan verifikasi (conslusion, drawing verivying). Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, yakni penyajian data dengan menggunakan metode uraian, tabulasi, dan grafis.
Hasil yang diperolah dari penelitian ini menunjukkan bahwa PLTMH dengan daya terpasang 12.000 Watt telah mampu memasok kebutuhan listrik di 2 balai yaitu Balai Haratai dan Balai Janggar. Berdampak terhadap kegiatan pengembangan ekonomi masyarakat yaitu : adanya penghematan yang signifikan terhadap pengeluaran untuk kebutuhan energi; semakin terbukanya akses pasar untuk produk hasil bumi dan produk lokal lainnya seperti anyaman karena ditunjang oleh mudahnya arus informasi; terbangunnya pengembangan usaha ekonomi masyarakat untuk produk-produk hasil hutan bukan kayu dengan inovasi-inovasi yang meningkatkan nilai ekonomis seperti hasil kayu manis. Dampak terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat yaitu : mudahnya akses informasi melalui media radio dan televisi, waktu belajar anak sekolah pada malam hari makin panjang sehingga mampu meningkatkan kemampuan belajar; mempermudah aktivitas keagamaan (upacara adat) dan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya; kelembagaan masyarakat lokal makin berkembang; penguatan dan peningkatan kelembagaan pengelola PLTMH; terbangunnya partisipasi masyarakat; dan mampu meningkatkan semangat gotong royong. Dampak terhadap upaya pelestarian hutan yaitu: meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan upaya perlindungan dan pelestarian sumberdaya hutan; terbangunnya model pengelolaan daerah tangkapan air (water cathment area) yang mendukung keberlanjutan PLTMH dan kelestarian hutan di kawasan desa Haratai; dan berkontribusi terhadap penurunan laju emisi gas rumah kaca.