BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori 2.1.1 Stewardship Theory
Teori Stewardship menjelaskan mengenai situasi manajemen tidaklah termotivasi oleh tujuan-tujuan individu melainkan lebih ditujukan pada sasaran hasil utama mereka untuk kepentingan organisasi (Donaldson, 1989 dan Davis, 1991 dalam Rusnindhita, 2017). Teori ini mengambarkan tentang adanya hubungan yang kuat antara kepuasan dan kesuksesan organisasi. Sedangkan menurut Etty Murwaningsari (2009) Teori stewardship berdasarkan asumsi filosofis mengenai sifat manusia bahwa manusia dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan manusia merupakan individu yang berintegritas. Pemerintah selaku steward dengan fungsi pengelola sumber daya dan rakyat selaku principal pemilik sumber daya. Terjadi kesepakatan yang terjalin antara pemerintah (steward) dan rakyat (principal) berdasarkan kepercayaan, kolektif sesuai tujuan organisasi.
Organisasi sektor publik memiliki tujuan memberikan pelayanan kepada publik dan dapat di pertanggungjawabkan kepada masyarakat (public). Sehingga dapat diterapkan dalam model kasus organisasi sektor publik dengan teori stewardship. Menurut Putro (2013) teori stewardship mengasumsikan hubungan yang kuat antara kesuksesan organisasi dengan kepuasan pemilik. Pemerintah akan berusaha maksimal dalam menjalankan pemerintahan untuk mencapai tujuan pemerintah yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Putro juga menjelaskan apabila tujuan ini mampu tercapai oleh pemerintah maka rakyat selaku pemilik akan merasa puas dengan kinerja pemerintah.
Teori stewardship dapat diterapkan pada penelitian akuntansi organisasi sektor publik seperti organisasi pemerintahan (Morgan, 1996; David, 2006 dan Thorton, 2009) dan non profit lainnya (Vargas, 2004; Caers Ralf, 2006 dan Wilson 2010) yang sejak awal perkembangannya, akuntansi organisasi sektor publik telah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi hubungan antara stewards dengan principals. Akuntansi sebagai penggerak informasi
8
keuangan (driver) berjalannya transaksi kearah yang semakin kompleks dan diikuti dengan tumbuhnya spesialisasi dalam akuntansi dan perkembangan organisasi sektor publik. Kondisi semakin kompleks dengan bertambahnya tuntutan akan akuntabilitas pada organisasi sektor publik, principal semakin sulit untuk melaksanakan sendiri fungsi-fungsi pengelolaan. Pemisahan antara fungsi kepemilikan pada masyarakat dengan fungsi pengelolaan pada pemerintah menjadi semakin nyata. Berbagai keterbatasan, pemilik sumber daya (capital suppliers/principals) mempercayakan (trust = amanah) pengelolaan sumber daya tersebut kepada pihak lain (steward = manajemen) yang lebih mampu dan siap.
Kontrak hubungan antara stewards dan principals atas dasar kepercayaan (amanah
= trust), bertindak kolektif sesuai dengan tujuan organisasi, sehingga model yang sesuai pada kasus organisasi sektor publik adalah stewardship theory. Teori ini merupakan penata layanan dimana kaitannya terhadap organisasi didalam kepemerintahan. Menurut Mahsun (2010) pemerintahan yang baik harus memiliki akuntabilitas kinerja yang baik. Stewardship mengacu pada pengelolaan atas suatu aktivitas secara ekonomis dan efisien tanpa dibebani kewajiban untuk melaporkan, sedangkan akuntabilitas mengacu pada pertanggungjawaban oleh seorang yang diberi amanah kepada pemberi tanggung jawab dengan kewajiban membuat pelaporan dan pengungkapan secara jelas.
Implikasi teori stewardship terhadap penelitian ini, dapat menjelaskan eksistensi Pemerintah Pusat sebagai suatu lembaga yang dapat dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan publik dengan melaksanakan tugas dan fungsinya dengan tepat sehingga kinerja instansi pada badan pengelolaan kuangan dan aset daerah dapat membuat pertanggungjawaban keuangan yang diamanahkan kepadanya, sehingga tugas dan fungsi yang dilakukan dapat tercapai secara maksimal. Untuk melaksanakan tanggungjawab tersebut maka stewards mengarahkan semua kemampuan dan keahliannya dalam pengembangan dan penerapan pertanggungjawaban yang jelas, tepat, teratur, dan efektif.
2.1.2 Agency Theory
Teori keagenan yang menjelaskan hubungan principal dan agent berakar pada teori ekonomi, teori keputusan, sosiologi, dan teori organisasi. Teori keagenan menganalisis hubungan kontraktual diantara dua atau lebih individu, kelompok, atau organisasi. Salah satu pihak (principal) membuat suatu kontrak, baik secara implisit maupun eksplisit, dengan pihak lain (agent) dengan harapan bahwa agent akan bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh principal.
Berdasarkan agency theory, pemerintah harus diawasi untuk memastikan bahwa pengelolaan dilakukan dengan penuh kepatuhan kepada berbagai peraturan dan ketentuan yang berlaku. Meningkatnya akuntabilitas pemerintah menjadikan informasi yang diterima masyarakat lebih berimbang, yang artinya information asymmetry yang terjadi dapat berkurang. Kemungkinan untuk melakukan korupsi menjadi lebih kecil dikarenakan semakin berkurangnya information asymmetry (Puspitasari 2013) . Keterlibatan good governance dapat diartikan sebagai bentuk keterlibatan mental dan emosi para pelaku baik di dalam pemerintah maupun dikalangan luar pemerintah (kelompok masyarakat) untuk menyumbangkan pikiran serta bertanggungjawab di dalam perbaikan kinerja yang kurang memadai.
2.1.3 Akuntabilitas
Akuntabilitas kinerja adalah kewajiban untuk menjawab dari perorangan, badan hukum atau pimpinan kolektif secara transparan mengenai keberhasilan atau kegagalan dalam melaksanakan misiorganisasi kepada pihak-pihak yang berwenang menerima pelaporan akuntabilitas/pemberi amanah. Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Sumatera Selatan melaksanakan kewajiban berakuntabilitas melalui penyajian Laporan Kinerja (LKj) BPKAD yang dibuat sesuai ketentuan yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tatacara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Laporan Kinerja tahun 2014 Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah
(BPKAD) merupakan Laporan Kinerja (LKj) tahun pertama dari pelaksanaan Rencana Strategis Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah periode 2019–
2023.
Secara harfiah akuntabilitas adalah pertanggungjawaban (Mardiasmo ,2018), menyatakan bahwa Akuntabilitas adalah kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut.
Akuntanbilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seorang/badan hukum/pimpinan suatu organisasi kepada pihak yang memliki hak atau berkewenangan untuk meminta keuangan atau pertanggungjawaban.Berdasarkan pada pengertian tersebut diatas,maka semua instansi Pemerintah,Badan dan Lembaga Negara di Pusat dan Daerah sesuai dengan tugas pokok masing-masing harus memahami lingkup akuntabilitasnya masing-masing,karena akuntabilitas yang diminta meliputi keberhasilan dan juga kegagalan pelaksanaan misi instansi yang bersangkutan.
Di samping itu, Akuntabilitas (accountability) merupakan konsep yang lebih luas dan stewardship. Stewardship mengacu pada pengelolaan atas suatu aktivitas secara ekonomis dan efisien tanpa dibebani kewajiban untuk melaporkan, sedangkan akuntabilitas mengacu pada pertanggungjawaban oleh seorang steward kepada pemberi tanggung jawab. Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:
1. Akuntabilitas vertikal, merupakan pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi.
2. Akuntabilitas horizontal, merupakan pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.
Akuntabilitas juga diinterpretasikan mencakup keseluruhan aspek tingkah laku seorang yang mencakup baik perilaku bersifat pribadi dan dissebut dengan akuntabilitas spiritual, maupun perilaku yang bersifat eksternal terhadap lingkungan dan orang sekeliling.
Akuntabilitas yang harus dilakukan oleh organisasi sektor publik terdiri dari empat dimensi. 4 (empat) dimensi akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh organisasi sektor publik, yaitu:
1. Akuntabilitas kejujuran dan Akuntabilitas hukum, akuntabilitas kejujuran terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan, sedangkan akuntabilitas hukum terkait dengan jaminan adanya kepatuhan terhadap hukum dan peraturan lain yang disyaratkan dalam penggunaan sumber dana publik.
2. Akuntabilitas proses, terkait dengan apakah prosedur yang digunakan dalam melaksanakan tugas sudah cukup baik dalam hal kecukupan sistem informasi akuntansi. Akuntabilitas proses termanifestasikan melalui pemberian pelayanan publik yang cepat, responsif, dan murah biaya.
3. Akuntabilitas program, terkait dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat dicapai atau tidak, dan apakah telah mempertimbangkan alternatif program yang memberikan hasil yang optimal dengan biaya yang minimal.
4. Akuntabilitas kebijakan, terkait dengan pertanggungjawaban pemerintah, baik pusat maupun daerah, atas kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah terhadap DPR/DPRD dan masyarakat luas (Haryanto, 2007)
2.1.4 Prinsip-Prinsip Akuntabilitas
Prinsip akuntabilitas menginginkan setiap pelaksanaan tugas dan hasil akhir dari program pemerintahan dan pembangunan harus dapat dan patut dipertanggungjawabkan sebaik-baiknya kepada masyarakat dan para pihak yang terkait sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pertanggungjawaban kepada masyarakat meripakan kewajiban pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan UUD 1945. Prinsip tersebut memfokuskan semua kegiatan dan hasil akhir yang diperoleh harus dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada masyrakat atau rakyat secara jujur dan benar dengan data/informasi yang lengkap. Kewajiban dalam menerapkan konsep ini mengingkatkan aktivitas pemerintah mempunyai dampak yang cukup besar dan juga kegiatan pemerintah dibiayai dari yang rakyat maka dari itu segala aktivitas dan hasilnya wajib dapat dipertanggungjawabkan (Pankrasia, 2019)
Dalam pelaksanaan akuntabilitas dilingkungan instansi pemerintah, perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukanpengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel.
2. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber- sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang- undangan yangberlaku
3. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan
4. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh
5. Harus jujur, obyektif, transparan, dan inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam bentuk pemutakhiran metode dan teknik pengukuran kinerja dan penyusunan laporan akuntabilitas.
2.1.5 Transparansi
Transparansi adalah prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluasluasnya tentang keuangan daerah. Dengan adanya transparansi dapat menjamin akses atau kebebasan bagi setiap orang untuk memperoleh informasi tentang penyelenggarakan pemerintahan, yakni informasi tentangkebijakan proses pembuatan, dan pelaksanaannya serta hasil-hasil yang dicapai.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 menjelaskan bahwa transparan adalah memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban Pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada Perundang-undangan.
Transparansi merupakan pelaksanaan tugas dan kegiatan yang bersifat terbuka bagi masyarakat mulai dari proses kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian yang mudah diakses oleh semua pihak yang membutuhkan informasi tersebut. Transparansi juga memiliki arti keterbukaan organisasi dalam memberikan informasi yang terkait dengan aktifitas pengelolaan sumber daya publik kepada pihak-pihak yang menjadi pemangku kepentingan.
Transparansi dibangun atas dasar harus informasi yang bebas. Seluruh proses pemerintahan, lembaga-lembaga dan informasi perlu dapat diakses oleh pihak-
pihak yang berkepentingan dan informasi yang tersedia harusmemadai agar dapat dimengerti dan dipantau.
Transparansi pengelolaan keuangan publik merupakan salah satu prinsip good governance yang harus dipenuhi oleh organisasi sektor publik. Transparansi dilakukan guna memperoleh informasi yang factual dan aktual sehingga mereka dapat menggunakan informasi tersebut untuk membandingkan kinerja keuangan yang dicapai dengan yang direncanakan, guna melihat dan menilai ada tidaknya korupsi dan manipulasi dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban anggaran, menetapkan tingkat kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, mengetahui kewajiban dan hak masing- masing pihak, yaitu antar manajemen organisasi sektor publik dengan masyarakat dan dengan pihak yang terkait (Mahmudi, 2010).
Transparansi juga memiliki tujuan untuk menghasilkan rasa saling percaya antar pihak pemerintah dengan masyarakat melalui media informasi yang diberikan oleh pihak pemerintah dengan mendukung kemudahan memperoleh informasi tersebut. Berdasarkan tujuan dari transparansi tesebut maka dibutuhkan adanya cara-cara yang strategis yang dapat digunakan oleh pihak pemerintah agar terwujudnya transparansi publik.
2.1.6 Kinerja Instansi
Kinerja instansi atau organisasi merupakan indikator tingkatan prestasi yang dapat dicapai dan mencerminkan keberhasilan suatu organisasi, serta merupakan hasil yang dicapai dari perilaku anggota organisasi.Kinerja bisa juga dikatakan sebagai sebuah hasil (output) dari suatu proses tertentu yang dilakukan oleh seluruh komponen organisasi terhadap sumber-sumber tertentu yang digunakan (input). Selanjutnya, kinerja juga merupakan hasil dari serangkaian proses kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu organisasi. Bagi suatu organisasi, kinerja merupakan hasil dari kegiatan kerjasama diantara anggota atau komponen organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. Supriyanto (2015 : 40) menyatakan bahwa kinerja perusahaan tidak cukup hanya diukur berdasarkan laba akuntansi saja, karena laba
akuntansi tidak mempunyai makna riil apabila tidak didukung oleh kemampuan perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah secara ekonomis.Mangkunegara (2010:15) menyebutkan bahwa kinerja dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
1. Kinerja individu
Kinerja individu adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan.
2. Kinerja organisasi
Kinerja organisasi adalah gabungan dari kinerja individu dengan kinerja kelompok.
Dalam mencapai tujuan organisasi diperlukannya suatu strategi. Strategi organisasi bisasnya dijabarkan dalam suatu program dan kegiatan sehingga organisasi tersebut akan lebih mudah dalam mencapai tujuannya. Untuk menjamin bahwa kegiatan dan program tersebut sesuai dengan strategi dan dapat dilaksanakan maka diperlukannya system pengendalian manajemen (Halim, 2012). Menurut Mangkunegara (2009) kinerja adalah suatu capaian hasil kerja, baik dari segi kualitasnya maupun kuantitas dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya.
Kinerja dapat dilihat dari segi lingkungan birokrasi dan masyarakat yang menggunakan pelayanan (Mardiasmo, 2009). Pemahaman mengenai kinerja instansi pemerintah dapat dilakukan dengan 2 pendekatan. Pertama dilihat dari perspektif birokrasi. Kedua dilihat dari persepektif kelompok yaitu dilihat dari sasaran organisasi dan pengguna jasa organisasi tersebut. Kinerja instansi pemerintah erat kaitannya dengan produktifitas, kualitas pelayanan, akuntabilitas, responsibilities dan responsiveness. Dengan demikian kinerja ialah capaian hasil kerja dalam melaksanakan strategi, program dan kebijakan demi mencapai tujuan organisasi yang sudah dipaparkan dalam visi dan misi.
2.1.7 Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja (Mahmudi, 2016) pengukuran kinerja merupakan suatu alat untukmenilai keberhasilan suatu organisasi dalam memberikan pelayanan yang murah dan berkualitas. Adapun penilaian kinerja sebagai alat evaluasi
kinerja karyawan sekarang dan masa lalu yang dilihat dari kontibusi karyawan kepada organisasi tempat mereka bekerja. Pengukuran kinerja sektor publik dapat membantu manajer public dalam menilai capaian strategi yang sudah ditetapkan.
Pengukuran kinerja sektor public dilakukan untuk menilai akuntabilitas organsasi dan manajer ketika memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Akuntabilitas tidak hanya melihat dari segi uang itu sudah dibelanjakan, namun akuntabilitas dilihat dari uang itu dibelanjakan secara ekonomis, efisien dan efektif atau sering disebut sebagai konsep value for money (Halim, 2015) Konsep value for money ini untuk mengukur ekonomis, efisien dan efektif kinerja program, kegiatan dan organisasi. Konsep VFM ini mengandung tentang penghargaan dengan nilai uang, maksutnya setiap nilai uang harus dihargai secara layak dan digunakan sebagaimana mestinya (Mahmudi, 2007). Konsep pengukuran VFM dapat dilihat dari segi ekonomis, efisien, dan efektif
2.2 Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu guna membantu penulis dalam penyusunan penelitian ini yang berkaitan dengan variabel – variabel yang akan diuji, variabel tersebut yaitu Akuntabilitas (X1), Transparansi (X2), dan Kinerja Instansi pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Y) Penelitian – penelitian tersebut dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Judul Nama
Peneliti (Tahun)
Variabel Hasil Penelitian
1 Analisis Pengaruh Transparansi dana Akuntanbilitas Keuangan Daerah terhadap Kinerja Organisasi
Perangkat Daerah(Studi pada badan pengelola
Chifniyatul Ulyadan Ernawati Budi Astuti (2019)
X1 :
Transparansi
X2 : Kinerja Pemerintah
X3 :
Transparansi
• Pengaruh Transparansi Terhadap Kinerja
• Pengaruh Akuntanbilit as Terhadap Kinerja
• Pengaruh Transparansi
Keuangan danaset daerah kab, BUMD kab, T egal, Ikatan profesi Notariat Kab Tegal,Camat dan Lurah Kab Tegal)
Y : Kinerja Organisasi Perangkat Daerah
dan
Akuntanbilita s secara
simultan terhadap Kinerja
2 Pengaruh Pengawasan Internal, akuntabilitas dan
Transparansi terhadap kinerja instansi
pemerintah
Bambang Jattmiko (2020)
X1 :
Pengawasan Internal X2 :
Akuntabilita s
X3 :
Transparansi
Berpengaruh positif signifikan terhadap Kinerja Pemerintah Daerah.
3 Pengaruh
Transparansi dan Akuntabilitas Terhadap Kinerja Instansi Pemerintah
Diandra Pepi Vabian(201 9)
X1 :
Transparansi X2 :
Akuntabilitas Y : Kinerja Instansi
Pemerintah
• Berpengaruh t TerhadapKinerja Instansi
• Berpengaruh terhadap Kinerja Instansi
• Transapranasi Berpengaruh Terhadap Kinerja Instansi
4 Pengaruh partisipasi anggaran
dan akuntansi pertanggungjawa ban terhadap kinerja pegawai kantor BPKAD kota palopo
Anisa Abib Ramadhn Ahmad Suardi (2022)
X1 : Partisipasi Anggaran X2 : Akuntansj Pertanggungjaw aban
Y : Terhadap kinerja pegawai kantorBPKAD
Kota Palopo
• Berpengaruh terhadap partisipasi
anggaran terhadap kinerja
kantor
BPKADKota Palopo
• Berpengaruh terhadap akuntansi
pertanggungjawab an terhadap kinerja pegawai pada Kantor BPKAD Kota Palopo Sumber : Penelitian terdahulu tahun 2017-2022
2.3 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran (Sugiyono, 2019) merupakan konsep yang menggambarkan hubungan antara teori dengan berbagai faktor yang teridentifikasi sebagai masalah riset. Berdasarkan teori yang telah dijelaskan, dimana variabel dependen (Y) dari penelitian ini adalah Kinerja Instansi pada BPKAD Pemprov Sumatera Selatan, dan untuk variabel independen adalah Akuntabilitas Kinerja (X1), dan Transparansi (X2). Sehingga kerangka pemikiran dapat dilihat pada gambar berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
(Sumber : Data yang diolah,2022)
2.4 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan,belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban
H1
H2
H3
Kinerja Instansi
Transparansi Akuntabilitas
teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik.
H1 : Akuntabilitas berpengaruh pada kinerja instansi H2 : Transparansi berpengaruh pada kinerja instansi
H3 : Akuntabilitas, Transparansi, berpengaruh pada kinerja instansi pada BPKAD