NILAI-NILAI KEWIRAUSAHAAN ISLAM BAGI ANAK MIKYAL OKTARINA
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh Email: [email protected]
ABSTRAK
Pada era globalisasi modern saat ini dunia dihadapkan dengan berbagai problem, terutama sekali dalam menghadapi ekonomi di era ini yang semakin rumit, dari segi permasalahan muamalah, perkembangan dunia usaha dan dalam bertransaksi mulai begeser nilai dan visinya. Islam sebagai agama universal seluruh aspek kehidupan manusia sudah diatur Allah SWT termasuk tentang ekonomi. Dalam Al-Qur'an dan Hadits sudah tercantum cara dan prinsip melakukan wirausaha dan bertransaki secara halal sesuai yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yang bisa menjadi tuntunan umat muslim sedunia. Maka dari itu pendidikan nilai-nilai kewirausahaan islami perlu diterapkan pada anak sedini mungkin. Terlebih lagi semangat wirausaha dan pendidikan kewirausahaan telah tumbuh di mana-mana. Pendidikan merupakan hak manusia yang harus diberikan karna pada zaman modern saat ini seharusnya setiap komponen pendidikan sadar bahwa pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar. Penanaman nilai karakter entrepreneurship dalam pembelajaran dapat di mulai dari sejak usia dini.
Kata Kunci: Nilai-nilai kewirausahaan Islam, Anak A. Pendahuluan
Kewirausahaan Islam merupakan aspek kehidupan yang dikelompokkan kedalam masalah mu'amalah. Di dalam kehidupan zaman era modern sekarang ini perkembangan dunia usaha dan
dalam bertransaksi mulai begeser nilai dan visinya. Islam sebagai agama universal seluruh aspek kehidupan manusia sudah diatur Allah SWT termasuk tentang ekonomi. Dalam Al Qur'an dan Hadits sudah tercantum cara dan prinsip melakukan wirausaha dan bertransaki secara halal sesuai yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yang bisa menjadi tuntunan umat muslim.
Kewirausahaan bukan hanya dunianya para orang dewasa, tetapi juga bisa menjadi bagian dari dunianya para anak-anak. Bedanya, berwirausaha pada anak-anak tidak bisa dijalankan sendirian, namun membutuhkan bimbingan dan dukungan dari orang dewasa, orangtua maupun guru. Anak-anak yang mengenal dunia wirausaha sejak dini, akan mendapatkan dampak manfaat yang sangat besar untuk bekal masa depan selanjutnya. Pada tahapan usia dini, anak-anak yang belajar menumbuhkan pembelajaran wirausaha akan tumbuh menjadi pribadi yang kreatif. Kreativitas yang terlatih sejak dini, termasuk melalui berbagai kegiatan kewirausahaan menjadi modal utama produktivitas dan kemandirian anak dimasa kehidupan dewasa nantinya. Jiwa wirausaha (entrepreneurship) harus ditanamkan oleh para orang tua dan sekolah ketika anak-anak mereka dalam usia dini, mengingat bahwa kewirausahaan lebih kepada menggerakkan perubahan mental.
Barnawi dan Arifin (2012: 62) menjelaskan, sejak usia dini hendaknya peserta didik mulai diajarkan kreativitas dan kemandirian, dengan cara memberi kesempatan pada anak mulai mengekspresikan imajinasinya, melalui berbagai macam kegiatan dari yang sederhana menuju yang kompleks, mudah ke sulit, mengelola diri sehingga mampu menghidupi dirinya sendiri. Jika demikian, maka anak akan
dapat berfikir untuk memberikan manfaat bagi orang lain, merasa dirinya berharga bagi orang lain dan lingkungannya, hal ini sejalan dengan upaya untuk membentuk generasi yang berkarakter.
Pembelajaran kewirausahaan pada diri anak memerlukan latihan secara bertahap. Bisa dimulai dari hal-hal terkecil dalam aktivitas keseharian anak. Misalnya, merapikan mainan selesai bermain, rajin sikat gigi sebelum tidur dan membereskan tempat tidur. Ini merupakan latihan-latihan berdisiplin, bertanggung jawab dan awal pengajaran tentang kepemilikan. Latihan selanjutnya, mengajarkan anak untuk mampu mengelola uang dengan baik. Latihan yang perlu diajarkan bukan hanya cara membelanjakan, tapi juga menabung, sedekah dan mencari uang.
B. Pembahasan
1. Kewirausahaan dalam Perspektif Islam
Islam menekankan pentingnya pembangunan dan penegakkan budaya kewirausahaan dalam kehidupan setiap muslim. Budaya kewirausahaan muslim itu bersifat manusiawi dan religius, berbeda dengan budaya profesi lainnya yang tidak menjadi pertimbangan agama sebagai landasan kerjanya. Dengan menjadi seorang wirausahawan muslim, akan memiliki sifat-sifat dasar dan perilaku yang mendorong wirausaha untuk menjadi pribadi yang kreatif dan handal dalam menjalankan usahanya atau menjalankan aktivitas pada perusahaan tempatnya bekerja. Sifat-sifat dasar yang harus dimiliki wirausaha muslim di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Shidiq/ Jujur
Jujur merupakan akhlak dasar yang harus dimiliki seorang wirausaha, karena dengan kejujuran itu usaha dan pekerjaan yang
mereka jalani akan lebih dipercaya oleh orang lain, sehingga setiap usaha dan hasil yang di dapatkan bisa maksimal, karena orang lain sudah percaya dengan pribadi dan akhlak mulia itu (Farid, 2017: 29). Seperti firman Allah dalam Surat (Al-Ahzab: 70-71), yaitu:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar (70), niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (71) Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya dan menyembah-Nya dengan penyembahan sebagaimana seseorang yang melihat-Nya, dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar, yang jujur, tidak bengkok, tidak pula mentimpang. Lalu Allah SWT menjanjikan jika mereka melakukan perintah-Nya ini, Allah akan memberi pahala dengan memperbaiki amal perbuatan mereka.
b. Toleransi
Toleransi bisa diartikan juga sebagai tenggang rasa, menghargai dan lapang dada (Ebta, ofline: 1.2), dengan akhlak toleransi akan mudah menerima segala kemungkinan yang nantinya kita hadapi, karena dalam dunia usaha, tidak menutup kemungkinan akan adanya hambatan dan masalah, yang mengharuskan untuk bersikap positif, dan diharapkan dengan sikap tersebut, mampu memudahkan untuk menyelesaikan masalah yang ada.
c. Menepati Janji
Seorang pedagang/wirausaha juga dituntut untuk menepati janjinya, baik kepada para pembeli, maupun kepada sesema wirausaha, terlebih lagi tentu saja, harus dapat menepati janji kepada Allah SWT Janji yang harus ditepati oleh seorang pedagang kepada pembeli misalnya; tepat waktu pengiriman, menyerahkan barang yang
kualitas warna, ukuran dan spesifikasinya sesuai dengan perjanjian semula, memberi layanan penjual, dan garansi. Adapun janji yang harus ditepati kepada sesama para pedagang misalnya; pembayaran dengan jumlah dan waktu yang tepat. Sementara janji Allah yang harus ditepati oleh para pedagang muslim adalah shalatnya. Sebagaimana Firman Allah dalam Al-Qur’an, yaitu:
Artinya : Apabilan telah ditunaikan shalat, maka bertebaran kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan mereka bubar untuk menuju kepada-Nya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dari pada permainan dan perniagaan, dan Allah sebaik-baik pemberi Rizeki”. (QS. Al-Jumu’ah (62) 10-11).
Dengan demikian, menurut Farid (2017: 35), bahwa sesibuk-sibuknya urusan dagang, urusan bisnis dan urusan jual beli yang sedang ditangani, sebagai pedagang muslim, janganlah pernah sekali-kali meninggalkan shalat.
d. Tidak melupakan akhirat
Menurut Ichwan Fauzi (2015: 248-255), menjelaskan bahwa jual beli adalah perdagangan dubia, sedangkan melaksanakan kewajiban syariat Islam adalah perdagangan akhirat. Keuntungan akhirat pasti lebih utama di bandingkan dengan keuntungan dunia. Maka, para pedagang muslim sekali-kali tidak boleh terlalu menyibukkan dirinya semata-mata untuk mencari keuntungan materi dengan meninggalkan keuntungan akhirat. Sehingga jika datang waktu shalat, mereka wajib melaksanakannya sebelum habis waktunya. Alangkah baiknya, jika mereka bergegas bersama-sama melakukan shalat berjamaah, ketika
azan telah di kumandangkan. Begitu pula dengan kewajiban memenuhi rukun iman yang lain.
Dengan demikian, dapat diartikan bahwasanya pribadi muslim dalam berbisnis (dalam sebuah perusahaan) adalah dengan memosisikan perusahaan sebagai sebuah lahan amal dan lahan jihad baginya. Oleh karenanya, pribadi muslim yang bekerja di perusahaan tidak ada alasan untuk membedakan perusahaan dengan lembaga pengajian.
e. Inovatif
Bersifat inovatif, yang membedakan dengan orang selain muslim, Al-Qur’an menempatkan manusia sebagai khalifah, dengan tugas memakmurkan bumi, melakukan perubahan dan perbaikan, sekiranya kamu tahu akan mata esok hari silahkan kamu menanam kurma/amalan baik hari ini (Ichwan Fauzi, 2015: 248-255).
2. Etika Bekerja dalam Islam
Kegiatan haruslah dilakukan dengan etika atau norma-norma yang berlaku di masyarakat bisnis. Etika atau norma-norma ini digunakan, agar para pengusaha tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan, dan usaha yang dijalankan memperoleh simpati dari berbagai pihak. Etika tersebut, pada akhirnya ikut membentuk pengusaha yang bersih dan dapat memajukan, serta membesarkan usaha tersebut dalam waktu jangka yang panjang.
Etos kerja yang harus di miliki wirausaha muslim di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Niat Ikhlas karena Allah SWT
Sebagai kewajiban dari Allah yang harus dilakukan oleh setiap hamba dan konsekwensinya adalah ia selalu memulai aktifitas
pekerjaannya, dengan zikir kepada Allah bismillahi tawakkaltu alallah, la haula wala quwwata illa billah dan diakhiri dengan tahmid.
b. Sungguh-sungguh dan professional dalam bekerja (Itqan) Syarat kedua agar pekerjaan dijadikan sarana surga dari Allah SWT adalah harus propesional, sungguh-sungguh dan tekun dalam bekerja.
c. Bersikap Jujur dan Amanah
Karena pada hakekatnya, pekerjaan yang dilakukan tersebut merupakan amanah, yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukan. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai. Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: Seorang pembisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para Nabi, shiddiqin dan Syuhada. (HR. Turmudzi)
d. Menjaga Etika sebagai Seorng Muslim
Dalam bekerja harus memperhatikan adab dan etika sebagai seorang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini, merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu’min. Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda:
Artinya: sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling bagus akhlaknya (HR. Turmudzi)
e. Tidak Melanggar Prinsip-prinsip Syariah
Etika lainnya dengan tidak melanggar prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang dilakukannya. Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal:
Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memproduksi, tidak boleh barang yang haram, menyebarkan kefasadan (seperti pornografi), mengandung unsur riba, maysir, gharar, dan sebagainya. Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti risywah, membuat fitnah dalam persaingan, tidak menutup aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan perempuan, dan sebagainya.
f. Menghindari Syubhat
Dalam bekerja, terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat, atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian dari pihak luar, yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan tertentu, atau seperti bekerja sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzaliman, atau pelanggarannya terhadap syariah. Syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal.
g. Menjaga ukhuwah Islamiyah
Aspek lain yang juga sangat penting diperhatikan, adalah masalah ukhuwah islamiah, antara sesama muslim. Jangan sampai dalam bekerja atau berusaha melahirkan perpecahan, di tengah-tengah kaum muslimin. Rasulullah SAW sendiri mengemukakan tentang hal yang bersifat prefentif, agar tidak menusak ukhuwah islamiah dikalangan kaum muslimin. Beliau mengemukakan, “Dan janganlah kalian membeli barang yang sudah dibeli saudara kalian” karena jika terjadi kontadiktif dari hadist diatas, tentu akan merenggang juga ukhuwah islamiah diantara mereka, saling curiga, su’udzan dan lain sebagainya (Tafsir Al-Qur’an Tematik, 2009: 304).
3. Manfaat Wirausaha Islam
Sebagai satu sistem yang komprehensif (berkeseimbangan), Islam dipercayai oleh pemeluknya sebagai ajaran yang ramatan lil alamin, dan secara umum mengarahkan manusia untuk memperoleh dua dimensi kebahagiaan, dunia dan akhirat. Keduanya merupakan kesatuan yang integral, yang tidak dapat dipisahkan, sesuai dengan karakter manusia, yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Di samping memberikan aturan tentang persoalan akidah, syariah dan ibadah, Islam juga memberikan rambu-rambu tentang persoalan ekonomi, baik secara implisit dan ekplisit.
Semakin maju suatu Negara, dan untuk mensukseskan persoalan pembangunan di Indonesia saat ini, maka sangat di rasa perlu untuk mengembangkan dunia wirausaha salah satunya dengan mengetahui manfaat adanya kegiatan wirausaha. Menurut Gitosardjono ada beberapa manfaat adanya kegiatan berwirausaha, yaitu sebagai berikut:
a. Menambah daya tampung tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran.
b. Sebagai generator pembangunan lingkungan, bidang produksi, distribusi, pemeliharaan lingkungan, kesejahteraan dan lain sebagainya.
c. Menjadi contoh bagi anggota masyarakat lain, sebagai pribadi yang unggul yang patut dicontoh dan diteladani, karena seorang wirausaha itu adalah orang terpuji, jujur, berani, dan hidup tidak merugikan orang lain.
d. Selalu menghormati hukum dan peraturan yang berlaku, berusaha selalu memperjuangkan lingkungan
e. Berusaha memberi bantuan kepada orang lain dan pembangunan sosial yang sesuai dengan kemampuannya
f. Memberikan contoh bagaimana harus bekerja keras, tetapi tidak melupakan perintah-perintah agama, yaitu dekat kepada Allah SWT
g. Berusaha mendidik karyawannya menjadi orang mandiri, disiplin, tekun, dan jujur dalm menghadapi pekerjaan
h. Hidup secara efesien, tidak berfoya-foya dan tidak boros, sesuai dengan ajaran agama
i. Memelihara keserasian lingkungan, baik dalam pergaulan, maupun kebersihan lingkungan (Gitosardjono, 2013: 230-231).
4. Kegiatan-Kegiatan Kewirausahaan Anak
a. Penanaman jiwa wirausaha melalui metode bercerita Menurut psikolog anak, Seto Mulyadi, menjelaskan bahwa cara yang mudah untuk dilakukan orangtua adalah dengan cara bercerita. Misalkan saja orangtua menceritakan kisah tentang teman yang dulu sejak kecil sudah bisa mencari uang dengan berbisnis kecil-kecilan. Selain itu, orang tua juga bisa bercerita soal kisah sukses dan masa kecil para pengusaha ternama. Kisah sukses nabi Muhammad SAW ketika dahulu berdagang. Setelah bercerita, yakinkan pula pada sang anak bahwa dirinya juga bisa sukses seperti itu jika melaksanakan perniangaan sesuai dengan syariat Islam. Sehingga, anak akan menjadi tertantang untuk mengikuti kisah sukses itu.
b. Membuat kue dan minuman ringan dan menjualnya dalam acara-acara tertentu
Untuk dapat menanamkan jiwa berwirausaha kepada anak, guru dapat memberikan suatu kegiatan pembelajaran yang dapat melibatkan orangtua dan anak. Seperti misalnya acara Cooking Classes And Food Bazaar, dimana acara ini merupakan acara memasak bersama antara anak dan orangtua, dengan dibimbing oleh guru atau pendidik yang menu makanannya dapat disesuaikan dengan kesukaan anak-anak. Setelah itu, makanan-makanan yang dibuat tersebut dijual ke dalam acara Food Bazaar pada hari itu juga, dengan penjual adalah anak-anak itu sendiri dan orangtua siswa sebagai pembelinya atau
dapat juga melibatkan masyarakat luar di sekitar lingkungan sekolah anak. Sujiono dan Nurani mengatakan bahwa, permainan memasak merupakan kegiatan untuk mengembangkan keterampilan memasak dan cara pembuatannya, dengan menggunakan bahan-bahan yang sesungguhnya dan hasilnya dapat di nikmati langsung oleh anak, seperti: Menyeduh susu atau sirup, membuat es, memasak nasi, memasak sayur, memasak kue, memasak pop corn, membuat juice, menggoreng krupuk, menggoreng telur ceplok dan seterusnya (Sujiono dan Bambang, 2010: 91).
c. Membuat craft dan menjualnya dalam acara “Market Day” Aplikasi pendidikan terintegrasi mengenai kewirausahaan adalah kegiatan “Market Day” dengan melibatkan semua siswa dalam proses produksi, distribusi, dan konsumsi. Kegiatan produksi adalah dengan memberikan tanggung jawab kepada siswa berdasakan kelas secara bergantian untuk membuat produk yang memiliki nilai jual dan bermanfaat bagi selurus civitas academica sekolah. Kemudian siswa diminta untuk menjual produknya (distribusi), sedangkan siswa yang lainnya termasuk para guru bertanggung jawab sebagai konsumen (pembeli). Kegiatan “Market Day” bisa dilakukan secara mandiri (memproduksi barang secara individu) atau secara klasikal (memproduksi barang dengan berkelompok) sesuai minat siswa dan produk yang akan diproduksikan. Untuk satuan pendidikan TK dan SD kegiatan di atas tidak sepenuhnya dibebankan kepada siswa. Peran orang tua dan guru juga diperlukan dan harus disertakan. Satu lagi yang perlu ditambahkan adalah fungsi kontrol ketika kegiatan distribusi berlangsung, disini dibutuhkan peran guru, karena “Market Day” biasanya dilaksanakan di area sekolah. Fungsi kontrol bertujuan
untuk mengajarkan kepada siswa berjual beli yang benardalam bentuk barang dan uang. Sedangkan yang menjadi konsumennya adalah semua siswa dan guru.
Kegiatan “Market Day” bukan hanya mengajarkan tata cara bertransaksi bagi siswa. Nilai moril yang bisa ditanamkan kepada para siswa, seperti kemandirian, kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, komunikasi interpersonal, membantu siswa dalam memahami pelajaran yang berkaitan dengan kegiatan “Market Day”, serta menanamkan nilai-nilai syari’at Islam yang benar dalam kegiatan jual-beli kepada siswa yang berhubungan erat dengan Pendidikan Agama Islam.
Program market day, merupakan salah satu inovasi sekolah dalam membangun keterampilan berwirausaha siswa, yang dilatih dan ditanamkan sejak dini. Menurut Muhammad Saroni (2012: 161) mengungkapkan bahwa, keterampilan kewirausahaan merupakan sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang, dalam hal ini siswa sebagai bentuk penguasaan pengetahuan, dan menerapkannya pada kegiatan nyata dalam kehidupannya.
d. Kegiatan “Family Day”
Program “Family Day”, di mana ayah dan bunda terlibat dalam kegiatan sekolah di antaranya menampilkan pentas, hasil karya yang di buat anak serta berbagai makanan yang telah anak coba pada program masak-memasak. Dalam program ini, diharapkan orang tua bertanya tentang proses pembuatannya sehingga titik berat kegiatan ini adalah bagaimana anak bisa menjelaskan pada orang dewasa karya yang telah mereka buat, dan juga mengajarkan pembelajaran kewirausahaan bahwa apa yang telah mereka buat dapat
mengahasilkan karya dan uang, dan seluruh hasil penjualannya ditabung sebagai kas kelas.
C. Penutup
Pembinaan dan penanaman nilai-nilai pendidikan Islam, tata cara perniangaan, berwirausaha yang berlandaskan syariat Islam sangat perlu ditanamkan pada anak didik sejak dini. Dikarenakan sekarang hidup di zaman era super modern yang jauh dari visi-misi syiar Islam. Maka dari itu pendidikan kewirusahaan berlandaskan Islam bagi anak sejak dini sangat di perlu untuk diterapkan dan di aplikasikan disetiap lini baik dari keluarga hingga lembaga-lembaga pendidikan formal dan non formal. Dengan adanya pengajaran, bimbingan dan asuhan terhadap anak agar kelak jika selesai pendidikanya dan ketika memulai untuk berwirusaha di jiwa anak sudah tertanam untuk berniaga sesuia dengan syariat Allah SWT.
Daftar Pustaka
Barnawi dan Mohammad Arifin, (2012), School Preneur: Membangkitkan Jiwa dan Sikap Kewirausahaan Siswa, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. Ebta Setiawan, (ofline), KBBI (kamus Besar Bahasa Indonesia) offline, versi
1.2.
Farid, (2017), Kewirausahaan Syariah, Depok: Kencana.
Hughes, K., & Batten, L. (2016). The Development of Social and Moral Responsibility in Terms of Respect for the Rights of Others. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(2), 147-160. doi:10.26811/peuradeun.v4i2.93
Ichwan Fauzi, (2015), Ensiklopedia Nabi Muhammad SAW Sebagai Wirausaha, Jakarta: Lentera Abadi.
Idris, S., & Tabrani ZA. (2017). Realitas Konsep Pendidikan Humanisme dalam Konteks Pendidikan Islam. Jurnal Edukasi:
Jurnal Bimbingan Konseling, 3(1), 96–113.
https://doi.org/10.22373/je.v3i1.1420
Mohammad Saroni, (2012), Mendidik dan Melatih Entrepreneur Muda: Membuka Kesadaran Atas Pentingnya Kewirausahaan bagi Anak Didik, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Pembangunan Ekonomi Umat, (2019), Tafsir Al-Qur’an Tematik, Jakarta: Lajnah Pentasihan Al-Qur’an.
Sarboini, S. (2016). Performance of Employees and Impact on Promotion of Position. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 4(1), 103-114. doi:10.26811/peuradeun.v4i1.89
Sujiono, Y, Nuraini dan Bambang, S, (2010), Bermain Kreatif Berbasis Kecerdasan Jamak, Jakarta: Indeks.
Sukamdani Gitosardjono, (2013), Kewirausahaan Berbasis Islam & Kebudayaan, Jakarta: Pustaka Bisnis Indonesia.
Tabrani ZA, & Masbur. (2016). Islamic Perspectives on the Existence of Soul and Its Influence in Human Learning (A Philosophical Analysis of the Classical and Modern Learning Theories). JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling, 1(2), 99–112. Retrieved from
http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/cobaBK/article/view/600
Walidin, W. (2016). Informal Education as a Projected Improvement of the Professional Skills of Employees of Organizations. Jurnal
Ilmiah Peuradeun, 4(3), 281-294.
doi:10.26811/peuradeun.v4i3.103
Walidin, W., Idris, S., & Tabrani ZA. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif & Grounded Theory. Banda Aceh: FTK Ar-Raniry Press.