Konstruksi Identitas Kolektif Pada Gerakan Aksi Kamisan
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh:
Nilla Nurvian Sari 11161110000045
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
▸ Baca selengkapnya: mabadi' khaira ummah disahkan menjadi gerakan pembentukan identitas dan karakter warga nu pada
(2)i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
ii
Konstruksi Identitas Kolektif Pada Gerakan Aksi Kamisan
Skripsi :
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Oleh Nilla Nurvian Sari
11161110000045
Di bawah bimbingan
M. Hasan Ansori, Ph.D
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
2020
iii
LEMBAR PERSETUJUAN BIMBINGAN SKRIPSI
Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa : Nama : Nilla Nurvian Sari
NIM : 11161110000045
Program Studi : Sosiologi
Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul :
KONSTRUKSI IDENTITAS KOLEKTIF PADA GERAKAN AKSI KAMISAN JAKARTA
...
...
dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji.
Ciputat, 13 Agustus 2020
Memenuhi, Menyetujui,
Ketua Program Studi Pembimbing
Dr, Cucu Nurhayati, M.Si M. Hasan Ansori, Ph.D
NIP. 197609182003122003 NIP
iv
v ABSTRAK
Skripsi ini menganalisis tentang konstruksi identitas kolektif pada gerakan Aksi Kamisan Jakarta, gerakan sosial ini merupakan sebuah gerakan yang menyuarakan isu-isu pelanggaran HAM terutama pelanggaran HAM berat dimasa lalu agar negara bertanggung jawab ata semua tindakannya. Gerakan aksi kamisan ini telah berlangsung sejak tanggal 18 Januari 2007 dan diadakan setiap hari kamis pada pukul 16.00-17.00 WIB di depan Istana Negara. Aksi kamisan ini sudah berlangsung selama 13 tahun dan hingga saat ini aksi kamisan tetap berjalan walaupun sedang terjadinya wabah Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan bagaimana proses kontruksi identitas kolektif pada gerakan aksi kamisan Jakarta, dan apa saja faktor-faktor pendorong dan penghamba dalam proses konstruksi identitas kolektif tersebut.
Pendekatan penelitian yang digunakan oleh penulis adaalah metode kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Kerangka teori gerakan sosial yang digunakan adalah Teori Proses Konstruksi Identitas Kolektif. Kerangka teori ini yang menjadi acuan penulis dalam menjawab pertanyaan penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah melalui wawancara melalui virtual, observasi serta dokumen pelengkap. Dalam hal ini ada 3 aspek yang akan saling melengkapi hasil data yang ditemukan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terjadinya proses dalam melakukan konstruksi identitas kolektif yang digunakan dalam Aksi Kamisan yaitu proses menciptakan batas, protagonis yang dimana orang-orang yang didalamnya ini terlibat atau melakukan sebuah advokasi, dan berismpati pada gerakan aksi kamisan. Pihak antagonis disini adalah pihak-pihak pelaku pelanggaran HAM yang bersembunyi dibalik negara. Pihak audien kelompok atau orang-orang yang memiliki sifat netral dimana tidak memihak keduanya. Lalu proses menciptaan kesadaran, ini bisa merujuk pada instrument identifikasi diri dan mengidentifikasi diri. Yang dimana proses identifikasi diri ini muncul karena adanya perasaan senasib dengan para korban pelanggaran HAM dan adanya rasa empati dan simpati yang muncul. Sedangkan proses mengidentifikasi diri ini merupakan proses timbulnya kesadaran pada diri yang cenderung mencari informasi mengenai gerakan aksi kamisan ini melalui media sosial seperti Instagram, website, twitter atau bahkan dari teman. Selanjutnya proses negosisasi, yang dilakukan oleh aksi kamisan ini adalah melakukan pembingkaian ulang pada identitas kolektif karena adanya serangan identitas oleh kelompok penentang gerakan aksi kamisan.
Lalu faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam gerakan Aksi Kamisan. Pertama, kampanye online yang dilakukan aksi kamisan itu sendiri seperti menggunakan kampanye melalui website atau media sosial yang sangat aktif dan masif. Kedua, keterlibatan anak muda dan public figure yang dimana peran anak-anak muda ini akan membuat gerakan aksi kamisan semakin kreatif dan aktif. Untuk faktor penghambat gerakan aksi kamisna ini terbagi menjadi dua faktor penghambat yaitu ada faktor internal pada konstruksi identitas kolektif ini
vi
terjadi karena adanya proses afiliasi kelompok yang memerlukan waktu lama dan faktor eksternal lebih pada permasalahan diluar gerakan yang dianggap menghalangi cita-cita gerakan seperti regulasi yang tidak mendukung.
Kata kunci : Gerakan Sosial, Aksi Kamisan, Teori Konstruksi Identitas Kolektif, HAM
vii
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kepada Allah SWT berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga saya sebagai penulis bisa menyelesaikan tugas akhir ini, berjudul : KONSTRUKSI IDENTITAS KOLEKTIF PADA GERAKAN AKSI KAMISAN JAKARTA. Shalawat serta salam tak lupa saya sampaikan kepada Rasulullah SAW, yang dengan perantara-Nya saya dapat merasakan nikmatnya kehidupan.
Saya berhadap agar skripsi saya ini dapat dipahami bagi siapapun yang membaca nantinya dan dapat berguna dalam menambah wawasan serta pengetahuan tentang Gerakan Sosial.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini tidak akan berhasil dan selesai tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak baik itu berupa moril maupun materil.
Dengan segala kerendahan hati maka penulis akan memberikan ucapan terimakasih dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu penulis bisa menyelesaikan skripsi ini terutama kepada :
1. Ibu Prof. Dr. Hj. Amany Burhanudin Lubis, Lc, MA selaku Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Prof. Dr. Ali Munhanif, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak M. Hasan Ansori Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing penulisan dari proposal skripsi hingga skripsi ini selesai, dengan mengorbankan banyak waktu, tenaga dari beliau dan semoga beliau selalu mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.
viii
4. Ibu Dr. Cucu Nurhayati, M.Si selaku ketua program studi Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan arahan akademis kepada penulis.
5. Ibu Joharatul Jamilah, S.Ag., M.Si selaku sekertaris jurusan program studi Sosiologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Ibu Dr. Neng Dara Affiah, M.Si dan Bapak Kasyfiyullah, M.Si selaku dosen penguji Skripsi yang telah memberikan saran dan masukan pada penulisan pada skripsi saya.
7. Segenap Bapak dan Ibu Dosen Pengajar Prodi Sosiologi. FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan banyak ilmu, motivasi, inspirasi, dan bimbimgan selama masa perkuliahan.
8. Tak lupa ucapan terimakasih ku kepada kedua orang tua penulis yang tercinta yaitu ayahanda Sarino Marno Rejo dan Ibunda Suwarni yang tidak pernah berhenti memberikan motivasi dan semangat kepada penulis. Terimakasih juga kepada adikku tercinta yaitu Gibran Arivaldy yang dimana selalu menjadi penyemangat saya untuk menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu. Terimaksih saya ucapkan juga kepada saudara-saudari saya yaitu Mulyadi, S.E., Evi Agus Styo Rini, S.E., dan Budeh Umi serta Eyang Uty yang selalu mendoakan agar dipermudah dalam melakukan penulisan skripsi ini.
9. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada para presidium JSKK yaitu Ibu Sumarsih, Bapak Bedjo Untung, dan Ibu Sanu Maria yang telah menjadi infoman saya dalam penulisan skripsi ini. Tak lupa saya
ix
ucapkan juga kepada temen-temen LSM LBH Jakarta yaitu Andi Komar, YLBHI Jakarta yaitu Niccolo Attar dan KontraS yaitu Nita Noviyanti Anugerah yang dimana kalian memberikan segudang informasi untuk penulisan skripsi saya. Lalu saya ucapkan terimakasih juga kepada temen-temen aktivis mahasiswa dari UIN Jakarta yaitu Bang Sultan Rivandi dan Kakak Rivanny, UPN Veteran Jakarta yaitu Afif Fauzi, Universitas Indonesia yaitu Fajar Adi Nugroho, UNJ yaitu Maulana Malik Ibrahim, dan Universitas Budi Luhur Jakarta yaitu Anhar.
10. Saya ucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Sdr Sulaiman, S.Sos., beliau merupakan salah satu orang yang banyak membantu saya dalam memberikan masukan dan saran untuk skripsi saya.
11. Terimakasih juga untuk teman seperjuangan skripsi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah lulus terlebih dahulu yaitu Sdr Iqbal Abdul Muqsit, S.Sos., beliau merupakan salah satu teman yang selalu menjadi penyemangat saya dalam melakukan penulisan skripsi ini dan selalu mendengarkan cerita saya selama berada di kampus
12. Terimakasih juga untuk teman seperjuangan skripsi saya dan sekaligus mejadi teman turun lapangan dalam melakukan wawancara dengan beberapa informan yaitu Sdr Muhammad Ghifari Suhud mungkin tanpa beliau aku tidak bisa menyelesaikan skripsi ini tanpa adanya bantuan dari beliau. Semangat juga untuk mengerjakan skripsinya.
x
13. Ucapan terimakasih ini juga saya tuturkan kepada teman seperbimbingan saya yang telah lulus terlebih dahulu dan beliau juga menjadi mahasiswa internasional yaitu Abdou Barrow, S.Sos,. Beliau merupakan teman seperbimbingan yang telah lulus terlebih dahulu dan kembali ke Negara asalnya yang berada di Gambia, Afrika Barat.
14. Terimakasih untuk teman-teman dari kelas Sosiologi A yaitu Sdri Izzah Corrie, Ika Nurparadila, S.Sos., Zahra dan Sosiologi B yaitu Sudrajat Wibisono, Eliza Nur Azizah, Netti Wahyuni, Ali, Sherin Soraya, Zalfa Alifia, dan semuanya yang telah menjadi teman sepermainan selama empat tahun saya berada di kampus. Terkhusus untuk teman-teman Sempro yaitu Innas, Sifa Rohmawati, Icha, Sarno yang dimana beliau merupakan temen-teman yang menjadi pengingat saya dalam melakukan skripsi.
15. Terimakasih juga saya ucapkan untuk senior-senior yang telah menjadi teman cerita saya dalam berbagi keluh dan kesah kepada kalian yaitu Abdillah, S.Sos., Sayyidah Nailu Afiyah, S.Sos., dan Bang Rafli
16. Terimkasih juga untuk organisasi ekstra HMI dan Kohati yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
17. Terimakasih untuk teman-teman KKN 172 Eliza, Radja, Rifa, Arda, Yuyun, Aulia, Wilda, Mega, Azka, Elsa, Hilmi, Ribbi, Fauzan, Ikhsan, Ohim, Noval, Rayen.
xi
18. Terimkasih untuk temen-temen terdekat ku yang bernama Yunita Fianti Mala, Rizky Apriyadi, Kasmarani Adinapriyanka, Puji Wahyu, Aditya Krisna Bayu, dan Adam Irwansyah, kalian adalah teman terbaik yang selalu mendengarkan curhatan saya mengenai skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu banyak terhadap perjalanan penulisan skrpsi ini dan dalam mencapai serta meraih gelar S.Sos, saya berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi pembacanya.
Wassalamuaalaikum.Wr.Wb Ciputat, 19 Agustus 2020
Nilla Nurvian Sari
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
Konstruksi Identitas Kolektif Pada Gerakan Aksi Kamisan ... ii
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ... i
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI .... Error! Bookmark not defined. LEMBAR PERSETUJUAN BIMBINGAN SKRIPSI ... iii
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xv
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 9
D. Tinjauan Pustaka ... 10
E. Kerangka Teori ... 17
1. Definisi Gerakan Sosial ... 17
2. Fungsi dan ciri gerakan sosial ... 20
3. Teori Konstruksi Identitas Kolektif ... 21
B. Memunculkan kesadaran dalam diri individu (Raising Awareness) ... 28
F. Metodologi Penelitian ... 31
1. Pendekatan Penelitian ... 31
2. Teknik Pengumpulan Data ... 31
3. Strategi Pemilihan Infroman ... 32
4. Profil Informan ... 33
5. Lokasi dan Waktu penelitian ... 35
G. Sistematika Penulisan ... 38
BAB II ... 40
xiii
GAMBARAN UMUM ... 40
GERAKAN SOSIAL AKSI KAMISAN ... 40
A. Sejarah JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan) ... 40
1. Kemunculan JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan ... 40
2. Presidium JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan) ... 41
3. Basecamp JSKK ... 47
4. Kegiatan-kegiatan JSKK ... 47
B. Sejarah Aksi Kamisan ... 48
1. Kemunculan Aksi Kamisan ... 48
2. Aksi Kamisan di Indonesia ... 52
3. Simbol Aksi Kamisan ... 54
4. Kasus Pelanggaran HAM Masa Lalu ... 55
BAB III ... 61
Konstruksi identitas Kolektif Gerakan Sosial Aksi Kamisan Jakarta ... 61
A. Proses Konstruksi Identitas Kolektif ... 61
1. Membangun batas-batas kelompok (Group Boundary) ... 63
2. Memunculkan kesadaran dalam diri individu (Raising Awareness) ... 77
3. Negosiasi (Negotiation) ... 83
B. Faktor Pendorong dan Penghambat Proses Kontruksi Idenitias pada Gerakan Aksi Kamisan Jakarta ... 85
1. Faktor pendorong ... 85
2. Faktor penghambat ... 89
BAB IV ... 91
PENUTUP ... 91
A. Kesimpulan ... 91
B. Saran ... 94
DAFTAR PUSTAKA ... 95
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel I.1. Proses Konstruksi Identitas Kolektif ...30 Tabel I.2. Daftar Nama Informan ...36
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1. Maria Catarina Sumarsih ………. 43
Gambar II. 2. Ibu Suciwati ……… 44
Gambar II. 3. Bedjo Untung ……….. 45
Gambar II. 4. Mugiyanto ……….. 46
Gambar II. 5. Gerakan Mardes Plaza de Mayo ………... 49
Gambar II. 6. Gerakan Aksi Kamisan ………. 51
Gambar II. 7. Mahasiswa Papua dalam Aksi Kamisan ………. 53
Gambar II. 8. Simbol Aksi Kamisan ………... 54
Gambar III. 1. Ibu Sumarsih Sedang Melalukan Aksi ………. 69
Gambar III. 2. Pak Bedjo Untung menggunakan Payung Hitam ………. 70
Gambar III. 3. Sultan Rivandi Mahasiswa UIN Jakarta ………... 74
Gambar III. 4. Pamflet Aksi Kamisan Online ………. 87
Gambar III. 5. Public Figure Ari Kriting dan Panji Pragiwaksono ……….. 89
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Gerakkan sosial awalnya muncul di negara-negara Eropa dan Amerika.
Gerakan ini terjadi karena adanya perubahan sistem demokrasi atau tidak terwujudnya suatu tujuan dalam kebijakan publik sehingga menimbulkan suatu gerakan untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat. Gerakan sosial menurut Darmawan Tri-wibowo (Gerakan Sosial Wahana Civil Society bagi Demokratisasi, hal xv) gerakan sosial diartikan sebagai ―sebentuk aksi kolektif dengan orientasi konfliktual yang jelas terhadap lawan sosial dan politik tertentu, dilakukan dalam konteks jejaring lintas kelembagaan yang erat oleh aktor-aktor yang diikat rasa solidaritas dan identitas kolektif yang kuat melebihi bentuk ikatan dalam koalisi.
Menurut (Donatella Porta and Mario Diani 2006:20) gerakan sosial adalah sebuah gerakan kolektif masyarakat seperti protes, kerusuhan, dan demo-demo.
Oleh sebab itu gerakan sosial adalah pertentangan kolektif dari suatu perkumpulan individu yang memiliki solidaritas dengan berbagai sifat seperti tindakan penentangan terhadap elite, otoritas dan terhadap aturan kelompok dan budaya mapan lainnya, dilakukan atas nama klaim yang sama terhadap pihak lawan, pihak berwenang dan elite, didasari oleh rasa solidaritas dan identitas kolektif, dan meneruskan arah tujuan kolektif sehingga ada perubahan menjadi gerakan sosial.
2
Menurut (Sztompka 2010:325-326)memberikan perspektifnya tentang gerakan sosial dengan melihat komponen-komponen dari gerakan sosial.
Komponen-komponen dari gerakan sosial yaitu:
1. Kolektivitas orang yang bertindak sama.
2. Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan oleh partisipan menurut cara yang sama.
3. Kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah dari pada organisasi formal.
4. Tindakannya mempunyai derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dalam bentuk formal dan bentuknya tak konvensional.
Melihat fenomena gerakan sosial di Indonesia yang dilakukan oleh kalangan mahasiswa maupun masyarakat. Pada tahun 2019 banyak gerakan sosial yang bermunculan seperti aksi buruh, aksi 212, aksi Gejayaan Memanggil, Aksi Indonesia Tanpa Pacaran, dan Aksi Kamisan. Hal-hal tersebut merupakan bukti nyata bahwasanya gerakan sosial di Indonesia terus berkembang sesuai dengan tuntutan yang ingin dicapai. Contoh pada gerakan aksi 212 yang dilakukan secara berjilid-jilid itu merupakan bentuk salah satu untuk mencapai tujuan mereka dalam menuntut proses hukum terhadap Ahok yang dianggap telah menistakan agama. Aksi ini pun memenuhi sebuah kawasan di Monas, dan Bundaran HI.
Bahkan banyak massa yang berdatangan dari sejumlah daerah tidak hanya Jakarta tetapi di luar Jawa pun banyak yang mendatangi aksi tersebut.
Dari kasus pada fenomena diatas bahwa terlihat upaya dalam pembentukan identitas kolektif yang dibangun oleh suatu gerakan. Identitas kolektif pada aksi tersebut memusatkan perhatian mereka pada fenomena gerakan
3
yang cenderung bersifat non materialistik namun lebih pada perilaku ekspresif.
Dalam hal ini identitas bukan suatu kebijakan yang otonom atau menempel begitu saja, tetapi merupakan proses sosial dimana aktor sosial mengenali atau dikenal orang lain sebagai bagian dari kelompok. Identitas kolektif yang diciptakan oleh kelompok orang yang terlibat dalam gerakan 212 dengan orang-orang yang berada di luar kelompok 212 akan berlawanan. Maka untuk memperkuat identitas mereka, kelompok orang yang terlibat dalam aksi 212 mengangkat isu bahwa mereka anti penistaan agama, bajunya serba putih, pakai koko, dan bendera berlafazkan ―lailahaillah‖ sehingga terciptanya kata ―Tidak ada kamu dan saya tetapi kita‖.
Aksi Gejayan Memanggil di Jogja merupakan seruan mosi tidak percaya ke DPR. Aksi ini dilakukan paa senin, 23 September 2019 di Yogyarakarta (Haryanto, Alexander "Aksi Gejayan Memanggil di Jogja Serukan Mosi Tidak Percaya ke DPR" diakses pada tanggal 25 Febuari 2020 https://tirto.id/), bertujuan untuk mengusung aspirasi masyarakat terhadap sejumlah persoalan seperti penundaan RKUHP, revisi UU KPK, menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia, menolak pasal yang bermasalah dalam RUU Keternagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja, serta mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Hal-hal tersebut merupakan tuntutan yang ingin dicapai oleh aksi Gejayaan Memanggil. Dimana para aktor-aktor gerakan sosial ini meminta kepada pemerintah agar semua tuntutan dapat terwujud.
Identitas kolektif yang dibangun dalam aksi gejayaan menanggil ini dirasakan
4
oleh anggota-anggota dalam gerakan tersebut. Mereka merasa bahwa pemerintah telah menanamkan suatu regulasi kepada masyarakat sehingga para mahasiswa ini merasa tidak percaya kepada pemerintahan terutama DPR.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi pembentukan identitas kolektif dari gerakan Gejayaan memanggil yaitu faktor makro dan faktor mikro.faktor mikro berupa motivasi dan keyakinan Individu dan faktor makro berupa struktur ekonomi dan politik, di mana strukturnya tidak menguntungkan masyarakat sehingga menimbulkan gerakan sosial. (Rusydan Fathy "Analisis Fenomena Gerakan Sosial" 2019. Sosiologi Fisip UIN Jakarta)
Ada beberapa hal yang muncul dalam gerakan sosial yaitu adanya kondisi yang dimana terdapat ketidakpuasan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, lalu adanya share beliefs yaitu keinginan bersama untuk melakukan sesuatu, lalu ada upaya pengorganisasian untuk menarik masalah seperti adanya keyakinan bersama dan pengumpulan dana.
Penulis akan melakukan penelitian mengenai gerakan aksi kamisan yang dimana gerakan ini tidak hanya dilakukan di kota Jakarta tetapi ada di beberapa kota seperti kota Malang, Padang, Surabaya, Bandung, Yogyakarta. Aksi kamisan merupakan sebuah gerakan yang menyuarakan aspirasi masyarakat yang dimana gerakan sosial tersebut mempunyai tuntutan yang ingin dicapai seperti menyuarakan isu-isu pelanggaran HAM terutama pelanggaran HAM berat di masa lalu dan berusaha untuk menuntut negara agar bertanggung jawab atas semua tindakanya. Aksi Kamisan pada awalnya diadakan di Jakarta pertama kali pada 18 Januari 2007 oleh para korban maupun keluarga korban pelanggaran
5
HAM di Indonesia yang dilakukan oleh Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK).
Aksi Kamisan ini berlangsung setiap kamis pukul 16.00-17.00 WIB, mereka mengenakan pakaian dan atribut serba hitam, berdiri, diam, dan berpayung hitam bertuliskan berbagai kasus pelanggaran HAM. Aksi Kamisan kini sudah menggelar aksi di depan Istana Negara sebanyak 600 kali terhitung pada aksi tanggal 5 September 2019 pukul 16.00 WIB (CNN Indonesia, 24 Februari 2020). Aksi ini sudah berlangsung pada dua era pemerintahan yang berbeda, yakni pada kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Aksi Kamisan ini lebih memuat nilai perlawanan kolektif dari sejumlah orang yang memiliki tujuan dan soidaritas yang sama. Aksi ini menjadi rutinitas yang berguna untuk mempererat solidaritas antar sesama korban/keluarga korban pelanggaran HAM berat yang pengusutannya (dalam perspektif politis) belum tuntas hingga detik ini.
Salah satu penggagas dalam Aksi Kamisan adalah perempuan yang bernama Maria Katarina Sumarsih beliau merupkan keluarga korban dalam penggaran HAM, anaknya bernama Benardinus yang tewas akibat terkena tembakan pada peristiwa Semanggi 1. Sumarsih bersama korban dan keluarga korban pelanggaran HAM lainnya membentuk sebuah paguyuban, yaitu Paguyuban Korban/Keluarga Korban Tragedi Berdarah 13-15 Mei 1998, Semanggi I (13 November 1998), Semanggi II (24 September 1999), dan Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TruK). ―Mereka sampai sekarang berjuang mencari keadilan, tapi ternyata tidak mudah walau Indonesia adalah negara hukum,‖ kata
6
Sumarsih yang ditemui dalam dikusi publik 12 tahun Kamisan di Gedung Joang 45, Jakarta (Ristianto " 8 Fakta Tentang 12 Tahun Aksi Kamisan, Hanya Sekali Diajak Masuk ke Istana" 2016. di akses 25 Febuari 2020 https://nasional.kompas.com/)
Dari beberapa kasus yang ada, banyak kasus pelanggaran HAM yang tidak diadili secara jelas oleh pemerintah. Seperti kasus pembunuhan Munir, Marsinah, Kerusuhan Mei, Trisakti, Semanggi satu dan dua, Tragedi Tanjung Priok, Tragedi 1965, Talangsari, Penghilangan Paksa, serta sederet kasus pelanggaran HAM lainnya, jadi prioritas untuk diperjuangkan dan selalu didengungkan di setiap Aksi Kamisan (Asumsi.com, 24 Februari 2020). Aksi kamisan tidak hanya meminta pemerintah untuk menuntaskan kasus lama saja tetapi kasus pelanggaran HAM yang baru seperti perkara teror terhadap penyidikan KPK Novel Baswedan, dan penetapan tersangka pengacara HAM Veronica Koman hingga pelemahan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi pun masuk kedalam kasus pelanggaran HAM.
Tujuan Aksi Kamisan ini adalah untuk menuntut negara untuk bertanggung jawab atas kasus pelanggaran HAM dan meminta negara untuk menyelesaikan kasus-kasus yang masih terhambat di Kejaksaan Agung. Aksi kamisan juga merupakan suatu bentuk gerakan melawan lupa dalam arti tragedi pelanggaran HAM dimasa lalu jangan sampai terulang kembali dan jangan sampai ada korban dalam pelanggaran HAM lalu agar kita bisa menghormati HAM setiap warga negara dan pelanggaran bisa diadili secara adil-adilnya. ―Aksi kamisan ini juga mengingatkan kepada masyarakat bahwa kekerasan akan terus terjadi kalau
7
keadilan tidak diberikan. Lalu keadilan harus diperjuangkan, tidak ada yang diberikan cuma-cuma oleh negara ini‖ kata pakar hukum juga dosen di Sekolah Tinggi Hukum, Bivitria Susanti (Bisma Septalisma "600 Aksi Kamisan di Seberang Istana Tanpa Keadilan Negara" 2019. Diakses 25 Febuari 2020 https://www.cnnindonesia.com/)
Dalam hal ini penulis akan melihat aksi kamisan dari prespektif identitas kolektif di mana hal ini dilakukan berdasarkan literature review yang akan dilakukan oleh penulis. Penelitian mengenai konstruksi identitas kolektif dalam gerakan sosial memang masih sedikit, sehingga penulis cukup kesulitan menemukan literaturnya, namun penulis telah mengumpulkan beberapa hasil penelitian yang dianggap relevan. Ada beberapa skripsi yang membahasa mengenai gerakan aksi kamisan seperti pada skripsi Sulaiman tahun 2016 yang dimana dalam fokus penelitiannya menggunakan prespekti framing (pembingkaian) dan skripsi Nia Nadia yang menggunakan fokus penelitiannya pada strategi resouce mobilization (startegi sumber daya), tetapi dalam hal ini penulis memiliki prespektif yang berbeda yang dimana penulis akan memfokuskan penelitiannya pada konstruksi identitas kolektif dalam gerakan aksi kamisan.
Dalam aksi tersebut terjadi pengelompokan yang tidak harus merujuk pada karakter sosial khusus seperti kelas, gender, agama, suku. Aksi kamisan ini muncul dari sebuah perekumpulan yang dilakukan oleh para korban-korban kasus pelanggaran HAM masa lalu. Paguyuban ini diberi nama JSKK (Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan) dan sering melakukan diskusi, membuat buku
8
mengenai para korban pelanggaran HAM masa lalu. Didalam Aksi Kamisan ini juga terjadi pengelompokan yang tidak harus merujuk pada karakter sosial seperti kelas, gender, agam dan suku, tetapi pengelompokan ini terjadi karena adanya rasa solidaritas terhadap para korban pelanggaran HAM masa lalu. Lalu identitas kolektif yang dibangun ini di dasarkan pada suatu nilai, perilaku secara bersama yaitu dimana dalam dalam melakukan gerakan aksi kamisan selalu menggunakan baju hitam, payung hitam dan aksi diam dan merasakan hal yang sama yaitu ingin adanya keadilan pada korban-korban pelanggaran HAM. Dengan latar belakang inilah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Kontruksi Identitas Kolektif Gerakan Aksi Kamisan Di Jakarta”
B. Pertanyaan Penelitian
Bedasarkan latar belakang diatas, yang menggambarkan mengenai pembentukan identitas pada gerakan sosial maka dari itu peneliti bermaksud untuk menganalisis konstruksi identitas kolektif pada gerakan aksi kamisan di kota Jakarta, dengan merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana proses konstruksi identitas kolektif pada aksi kamisan di kota Jakarta?
2. Apa saja yang menjadi faktor pendorong dan penghambat dalam proses konstruksi identitas kolektif pada aksi kamisan di kota Jakarta?
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui dan mendeskripsikan proses kontruksi identitas kolektif pada aksi kamisan di kota Jakarta.
9
2. Mengetahui dan mendeskripsikan faktor pendorong dan penghambat dalam proses identitas kolektif pada aksi kamisan di kota Jakarta.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang ada, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui dan mendeskripsikan proses kontruksi identitas kolektif pada aksi kamisan di kota Jakarta.
2. Mengetahui dan mendeskripsikan faktor pendorong dan penghambat dalam membentuk identitas kolektif pada aksi kamisan di kota Jakarta.
Penelitian ini dibuat dengan harapan dapat bermanfaat bagi dunia akademik, dan bahkan lebih luas bagi kehidupan sosial
a. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan, informasi, dan wawasan bagi kajian gerakan sosial khususnya dalam menganalisis kontsruksi identitas kolektif dalam sebuah aksi kamisan. Penelitian ini juga dapat digunakan sebagai referensi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Jakarta khususnya jurusan sosiologi
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi masyarakat maupun pelaku gerakan yang memperjuangkan hak dan keadilan para korban pelanggaran HAM baik itu dimasa lalu hingga masa kini yang memicu gerakan sosial di Indonesia yang terbangun karena adanya konstruksi identitas kolektif.
10 D. Tinjauan Pustaka
Mengenai pembahasan dan penulisan dalam prespektif identitas kolektif dalam gerakan sosial telah banyak dikaji oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Dalam skripsi yang ditulis oleh Sulaiman dengan prodi sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatulah Jakarta tahun 2016 yang berjudul ―Strategi Pembingkain (Framing) Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK)”. Penelitian ini menggunakan mentode Kualitatif.
Pendekatan teori yang digunakan adalah teori Framing Strategy. (Sulaiman, 2016) Dari penelitian tersebut diketahui bahwa aksi kamisan merupakan suatu stategi untuk menyuarakan tuntutan korban yang belum diselesaikan. Terdapat tiga pembingkaian dalam proses aksi tersebut, yaitu frame bridging, frame amplifikasi, dan frame extension. Frame bridging yang dimana frame ini dilakukan pada saluran media yang menggiring aksi kamisan hingga sampai ke publik. Hal ini dilakukan melalui media massa, maupun media elektronik serta atribut yang serba hitam. Frame amplifikasi yang dimana merupakan strategi untuk membangun nilai dan keyakinan, nilai yang dibangun dalam aksi kamisan ini adalah nilai kemanusiaan, keadilan dan kepedulian. Lalu yang terakhir adalah Frame Extension yang dimana dalam frame ini merupakan suatu perluasan partisipasi dalam aksi kamisan dengan cara mengangkat isu-isu terbaru seputar pelanggaran HAM dan tidak hanya pada pelanggaran HAM yang lalu.
Lalu ada skripsi yang ditulis oleh Nia Nadia dengan prodi sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tahun 2019 dengan judul “Mobilisasi Sumberdaya dalam Aksi Kamisan”. Penelitian ini menggunakan metode
11
kualitatif dan studi kasus dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi serta pelengkapan dokumen. Pendekatan teori yang digunakan adalah teori mobilisasi sumberdaya dengan pendekatan khusus teori jaringan. (Nia Nadia, 2019).
Dari penelitiannya diketahui bahwa strategi mobilisasi partisipan dalam aksi kamisa ini ada tiga yaitu stategi pemanfaatan public figure yang dimana aksi tersebut memanfaatkan jejaring para insiator untuk memobilisasi partisipan seperti Melani Subono, Rieke Diah serta Sony Tulung. Selanjutnya strategi penggunaan media sosial, dimana media sosial membuat poster tiap minggu, video, dan dokumentasi di laman media sosial aksi kamisan. Lalu strategi yang melibatkan anak-anak muda, dimana terjadinya pergeseran kehadiran dari keluarga korban ke temen-temen muda bukanlah hal yang tidak disengaja. Tetapi bagaimana kekuatan dari temen-temen muda yang saling support dengan media sosial sehingga akan memudahkan proses mobilisasi partisipan saat ini. Selanjutnya strategi yang terakhir adalah stategi pengembangan isu, yang dimana aksi kamisan ini bersifat terbuka dan tidak eklusif sehingga siapapun dapat menyuarakan mengenai keadilan. Dalam 12 tahunpun kasus atau tema yang diangkat dalam gerakan ini beragam dan menyentuh berbagai golongan.
Lalu ada skripsi yang ditulis Anasshoffa‘ Ul Jannah dengan prodi sosiologi dan konsentrasi pada sosiologi agama Fakultas Usuludin dan Pemikiran Islam Universitas Negeri Sunan Kalijaga tahun 2013 dengan judul “Konstruksi Identitas Kolektif Perempuan Gerakan Salafi (studi di Masjid Ibnu Sina Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta)”. Penelitian ini menggunakan metode
12
kualitatif serta menggunakan pendekatan deskriptif analitik dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara atau interview. Pendekatan teori yang digunakan teori konstruksi identitas kolektif Peter L. Berger dan teori Emile Durkheim yang dimana Berger membagi proses dialektika menjadi tiga fase yaitu eksternalisasi, obyektifikasi dan internalisasi (Jannah, 2013)
Dari hasil penelitian diketahui bahwa proses konstruksi dalam pemahaman aqidah tauhid dan cara berpakaian syar‘i menurut Gerakan Salafi terjadi melalui dua cara yaitu dengan cara yang umum seperti mengadakan kajian, seminar dan diskusi. Sedangkan dengan cara khusus yaitu dengan menggunakan pendekatan secara personal. Pemahaman ini dilegitimasikan dengan dalil-dalil al- Qur‘an dan al-Hadits serta penjelasan yang dianggap logis. Sedangkan identitas kolektif dari perempuan Gerakan Salafi masjid Ibnu Sina FK UGM Yogyakarta, dapat dilihat dari aqidah tauhid dan bahasa sebagai nilai identitas kolektif. Lalu pakaian dan eksklusifitas sebagai praktik dari identitas kolektif.
Dalam artikel yang ditulis oleh Eric Hiariej (2010) yang berjudul “Aksi dan Identitas Kolektif Gerakan Islam Radikal di Indonesia”, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Volume 14, Nomor 2, November 2010 (131-168), ISSN 1410-4946 (Eric Hiariej, 2010) Proses internal sebuah gerakan yang berlangsung sebelum aksi kolektif ini adalah proses pembentukan identitas kolektif, yang mengambil jalan non-rasional, yakni jalan identifikasi dengan ‗kawan‘ dan
‗lawan‘. Dalam teori-teori gerakan sosial baru (GSB), identitas kolektif yang melahirkan rasa senasib sepenanggungan, rasa menghadapi musuh bersama dan rasa memiliki tujuan bersama—yang membentuk ‗ke-kita-an‘ dari setiap gerakan
13
sosial—bukan saja menentukan bentuk dan berhasil tidaknya sebuah aksi, tapi juga bisa dipandang sebagai tujuan gerakan itu sendiri.
Erick Hiariej menggunakan konsep identitas kolektif untuk mengetahui tentang aksi kolektif yang dilakukan oleh gerakan islam radikal di Indonesia.
Beliau berpendapat bahwa aksi dari gerakan islam radikan di Indonesia ini cenderung menyimpang dari norma yang ada dimana terlihat sekali tidak rasional dalam suatu gerakan islam radikal ini. Hal ini bisa dibuktikan bahwa seseorang yang termasuk dalam gerakan islam radikal ini cenderung melakukan bom bunuh diri, dan senang jika dijatuhi hukuman mati, inilah yang membuat identitas kolektif terbentuk dalam sebuah gerakan tersebut. Sehingga para aktivis dalam gerakan tersebut mencoba untuk menyelesaikan persoalan ini dengan hal yang beragam mulai dari penggunaan kekerasan sampai hingga serangan kematian.
Tetapi pada kenyataanya bahwa gerakan ini sangat identik sekali dengan serangkaian bom yang dimana sebagai salah satu aksi yang sangat efektif dalam melakukan protes yang dilakukan oleh para aktivis dalam gerakan islam radikal di Indonesia.
Dalam proses konstruksi identitas kolektifnya bahwa protes menjadi terminologi yang digunakan dalam gerakan sosial yang dimana akan terbentuk aksi kolektif yang digunakan oleh para aktivis dalam memperjuangkan tuntutannya dan protes ini yang dipahami sebagai cerminan identitas kolektif.
Bentuk aksi kolektif kelompok Islam radikal cukup beragam, dari penggunaan kekerasan dan serangan mematikan sampai pawai massa dan protes damai.
Identitas kolektif dalam aksi ini terjadi karena adanya elemen kesatuan internal ini
14
diciptakan melalui dua proses framing: Pertama, dengan mendefenisikan siapa dirinya dan siapa musuhnya, dan Kedua, dengan menguraikan persoalan- persoalan yang tengah dihadapi dan bagaimana mengatasinya. Tapi tidak berarti gerakan Islam radikal adalah sebuah kesatuan yang utuh dan kompak.
Artikel yang di tulis oleh Dadan Adnan S dalam jurnal ilmu jurnalistik Universitas Islam Bandung tahun 2018 berjudul “Konstruksi Identitas Kolektif Dalam Aksi Kamisan Bandung”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan prespektif analisis naratif yaitu metode yang memaparkan atau membahas penelitian tanpa menguji hipotesis atau angka-angka. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara sebagai data primer dan observasi serta studi kepustakaan sebagai data sekunder. Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori interaksi simbolik George Hebert Mead (Adnan S, 2018).
Hasil penelitian dalam konteks mind, self, society, pemaknaan simbol secara verbal dan non verbal sebagai bentuk identitas yang mencerminkan entitas khas yang berupa bahasa yang diucapkan pada saat aksi serta penampilan dan cara berpakaian yang serba hitam yang merepresentasikan bentuk kekuatan dan keteguhan hati terhadap ilahi yang akan terus konsisten dalam menuntut pelanggaran HAM di Indonesia yang sampai sekarang belum diusut tuntas.
Identitas tersebut terlahir dari diri yang peduli terhadap sisi kemanusian serta rasa empati terhadap keluarga korban HAM, aksi kamisan ini juga mendapatkan dukungan postif dari masyarakat karena tidak mengganggu ketentraman publik.
15
Dalam artikel yang di tulis oleh Gilang Ramadhan dalam jurnal Ilmu Politik yang berjudul “Identitas dan Gerakan Sosial di Rumpin” Universitas Sultan Ageng Tirtayasa tahun 2018 Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dan peneliti mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi deskriptif, dokumentasi, dan data lainnya dari objek yang diteliti (Ramadhan, 2018)
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Hadirnya kelompok referensi dalam suatu gerakan sosial di satu sisi akan membawa kebaikan dan di satu sisi justru akan menghancurkan identitas yang dimiliki oleh suatu kelompok gerakan sosial. Kebaikan akan datang jika kelompok referensi yang dicontoh adalah kelompok yang matang dalam gerakan dan kelompok yang mempunyai solidaritas kuat dalam gerakan sehingga kelompok tersebut setidaknya telah berhasil dalam membuat wacana baru yang sesuai dengan tujuan gerakan. Tetapi di lain sisi kehadiran kelompok identitas akan membawa dampak yang buruk bagi kelompok gerakan sosial apabila kelompok referensi yang dituju adalah kelompok yang tidak seimbang secara identitas. Hal ini justru akan secara drastis merebut identitas mereka dan membawa perpecahan dan hilangnya orientasi dalam gerakan.
Dalam thesis yang ditulis oleh Arnodya Rizkiawan (2016) dengan judul
“Identitas Kolektif Femmes Africa Solidaritas Sebagai Suatu Gerakan Perdamaian di Afrika", Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada. Metode yang digunakan adalah kulitatif (Rizkiawan, 2016)
16
FAS telah berhasil membuat suatu formulasi strategi dalam rangka menangani pemilu, yaitu melalui 3M: Mobilisasi, Mediasi, dan Monitoring.
Dengan 3M ini harapannya FAS dapat mengawal pemilu agar dapat berjalan dengan baik tanpa adanya kekerasan. Strategi yang digunakan oleh FAS adalah dengan cara mengunjungi langsung para perempuan yang memang terkena dampak konflik untuk mendengarkan keluhan mereka. Identitas kolektif inilah yang digunakan oleh FAS untuk bergerak dan menyebarkan idenya sehingga FAS bisa mendapatkan dukungan lebih luas lagi terutama dari perempuan-perempuan di Afrika. Harapannya, tujuan mereka untuk mendorong kontribusi perempuan dalam usaha perdamaian dapat segera tercapai.
Berasarkan dari beberapa literatur yang telah penulis temukan ada beberapa jurnal yang membahasa gerakan sosial, tetapi ada beberapa perbadaan dalam hal penlitian. Dalam skripsi Sulaiman membahas gerakan aksi kamisan dalam perspektif framing, dimana lebih berfokus pada saluran media yang menggiring aksi kamisan hingga sampai ke publik. Dalam skripsi Nia Nadia lebih berfokus strategi resource mobilitation, di mana lebih menekankan pada sumber daya yang di dapat dari anggota kelompok. Kemudian dalam jurnal yang di tulis Dadan, lebih melihat bahwa konstruksi identitas melalui pendekatan simbol. Dari beberapa sumber yang peneliti jadikan referensi di atas, dalam hal ini peneliti berfokus untuk melalukan penelitian dengan konsep konstruksi identitas sosial, melalui sumber dari kelompok yang melakukan gerakan aksi kamisan. Lalu skripsi yang ditulis oleh Jannah bahwa gerakan sosial yang diambil adalah gerakan salafi yang dimana fokus penelitiannya pada proses konstruksi yang
17
dibangun dalam gerakan salafi. Selanjutnya ada artikel yang ditulis oleh Erick dimana dia lebih fokus dengan gerakan islam radikal yang ada di Indonesia dan dia memfokuskan penelitiannya pada proses pembentukan islam radikal yang cenderung menyimpang dari norma yang ada. Lalu terakhir ada thesis yang ditulis oleh Arnodya yang dimana peneliti mengambil gerakan perdamaian yang ada di Afrika serta lebih fokus dengan identifikasi permasalahan yang timbul karena konflik.
Berdasarkan literatur review yang telah dikaji dan diketahui bahwa penelitian dengan tema gerakan sosial telah banyak dilakukan, namun kebanyakan tidak menggunakan pendekatan identitas kolektif sebagai metode penelitiannya.
Kamisan telah menjadi objek dalam beberapa penelitian dengan metode yang beragam. Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui lebih dalam mengenai aksi kamisan di Jakarta dengan menggunakan pendekatan identitas kolektif pada aksi kamisan. Jika dilihat dari aksi ini bahwa aksi ini sudah ada dalam 13 tahun dan tetap bertahan hingga sekarang sehingga penulis ingin mengatahui bagaimana proses konstruksi identitas kolektif yang dibangun dalam gerakan aksi kamisan Jakarta.
E. Kerangka Teori
1. Definisi Gerakan Sosial
Dalam pembahasan tentang gerakan sosial, banyak sekali para teoritis sosial memberikan definisi mengenai gerakan sosial (social movement) karena ruang lingkup yang beragam. Salah satunya definisi gerakan sosial dari Anthony Giddens menyatakan bahwa ―gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif untuk
18
mengejar suatu kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action) di luar lingkup lembaga-lembaga yang mapan‖ (Putra Fadhillah, 2009). Jadi dapat di tafsirkan, pernyataan Giddens bahwa gerakan sosial ini merupakan gerakan atau tindakan yang dilakukan secara bersama-sama untuk suatu kepentingan dan mencapai tujuan yang sama yang diinginkan kelompok.
Definisi gerakan sosial juga muncul dari pernyataan (Tarrow, 2008) gerakan sosial adalah pertentangan kolektif yang dimulai dari suatu perkumpulan individu yang memiliki solidaritas dengan berbagai sifat seperti adanya tindakan penentangan terhadap elite, otoritas dan terhadap aturan kelompok dan budaya mapan lainnya, dilakukan atas nama klaim yang sama terhadap pihak lawan, pihak berwenang dan elite, didasari oleh rasa solidaritas dan identitas kolektif, dan meneruskan arah tujuan kolektif sehingga ada perubahan menjadi gerakan sosial. Gerakan sosial ini memiliki keselarasan dengan definisi yang dikemukakan oleh (Donatella della Porta and Mario Diani 2006), bahwa gerakan sosial adalah bentuk dari aksi kolektif dengan orientasi konfliktual yang jelas terhadap lawan sosial dan politik tertentu, dilakukan dalam konteks jejaring lintas kelembagaan yang erat oleh aktor-aktor yang diiikat oleh rasa solidaritas dan identitas kolektif bersama.
Menurut (Macionis, 1999) gerakan sosial merupakan aktifitas yang diorganisasikan dan memiliki tujuan untuk mendorong atau menghambar suatu perubahan sosial. Adapun dua ciri gerakan sosial yaitu dimana adanya suatu aktivitas yang diorganisir dan adanya tujuan yang berkaitan dengan perubahan
19
sosial. Menurut (Spencer 1982) menyatakan bahwa adanya upaya kolektif yang bertujuan untuk mewujudkan perubahan dalam tatanan kehidupan baru.
Gerakan sosial merupakan wadah yang memungkinkan manusia secara kolektif mempengaruhi perjalanan peristiwa-peristiwa manusia melalui organisasi formal (Donatella della Porta and Mario Diani 2006). Menurut Borgatta dan Marie (Sujatmiko, 2006), gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang mencoba untuk mempromosikan atau menentang perubahan di dalam masyarakat atau kelompok. Menurut (Mirsel, 2004), gerakan sosial adalah seperangkat keyakinan serta tindakan tak terlembaga yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan ataupun menghalangi perubahan dalam masyarakat.
Touraine dalam (The Voice and the Eye, 1981), mendefinisikan gerakan sosial sebagai interaksi berorientasi normatif antara musuh atau saingan berikut penafsiran yang sarat konflik dengan model kemasyarakatan yang berlawanan dari sebuah medan budaya bersama (Touraine 1973:32). Menurut (Hunt dan Benford dalam Snow, Soule 2004) menyatakan bahwa identitas kolektif dan konsep- konsep lainnya yang berhubungan seperti solidaritas (solidarity) dan komitmen (commitment), merupakan suatu kemajuan yang sangat menarik dalam memahami tentang gerakan sosial. Lebih penting lagi adalah bahwa identitas kolektif, solidaritas, dan komitmen dapat membantu dalam menjawab pertanyaan- pertanyaan yang bersifat psikologis (psychological), psikologi sosial (social- psychological), dan sosiologi makro (macrosociological) tentang gerakan sosial.
Terdapat empat komponen dalam gerakan sosial, yaitu (Sztompka 2010:325-326):
20
1. Kolektivitas orang yang bertindak bersama.
2. Tujuan bersama tindakannya adalah perubaha tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan partisipasipan menurut cara yang sama.
3. Kolektivitasnya relatif tersebar namun rendah derajatnya daripada organisasi formal.
4. Tindakannya mempunyai derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dan bentuknya tak konvensional.
2. Fungsi dan ciri gerakan sosial
Gerakan Sosial memberikan sumbangsih kedalam pembentukan opini publik dengan memberikan diskusi-diskusi masalah sosial dan politik dan melalui penggabungan sejumlah gagasan-gagasan gerakan kedalam opini publik yang dominan. Gerakan Sosial memberikan pelatihan para pemimpin yang akan menjadi bagian dari elit politik dan mungkin meningkatkan posisinya menjadi negarawan penting. Gerakan-gerakan buruh sosialis dan kemerdekaan nasional menghasilkan banyak pemimpin yang sekarang memimpin negaranya. Adapun ciri-ciri gerakan sosial (Laode, 2003) :
1. Ada upaya kolektif melakukan perubahan 2. Adanya organisasi sebagai wadah gerakan
3. Gerakan tersebut melembaga serta memiliki gagasan alternatif perubahan 4. Aktivitas dan gerakannya terus menerus
5. Memiliki visi, misi, tujuan dan ide, nilai sosial dan politik 6. Dilakukan secara sistematis dan terorganisir
7. Memiliki identitas kolektif dan alternatif perubahan
21
Dalam hal ini bahwa gerakan Aksi Kamisan memiliki beberapa kriteria yang sejalan dengan gerakan sosial, yaitu memiliki visi dan misi serta tujuan yang jelas dalam gerakan meminta kepada pihak presiden atau negara untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu. Aksi kamisan juga merupakan gerakan yang terjadi secara terus menerus dan berulang-ulang setiap minggunya dengan berbagai tuntutan yang sama. Aksi kamisan juga memiliki identitas kolektif yang dibangun oleh sekelompok aktivis dan pegiat aksi sehingga akan membentuk solidaritas untuk para korban-korban pelanggaran HAM masa lalu. Aksi kamisan dilakukan secara terorganisir dan sistematis yang dimana setiap anggotanya memiliki peran masing-masing dalam melakukan aksinya seperti ada yang sebagai perencana aksi, menentukan tujuan gerakan aksi kamisan, koordinasi lapangan yang bertanggung jawab pada saat gerakan aksi kamisan berlangsung di lapangan, aktor negosiator, keamanan. Aksi kamisan ini sebagai wadah gerakan yan terbuka untuk siapapun yang ingin menyuarakan suaranya terkait dengan keresahan yang mereka alami kemudian suara itu tunjukkan kepada lembaga pemerintahan. Jadi, menurut penulis gerakan aksi kamisan ini merupakan gerakan sosial yang memang memiliki beberapa ciri-ciri seperti pada gerakan sosial pada umumnya.
3. Teori Konstruksi Identitas Kolektif
Konsep identitas lebih menekankan pada basis perspektif mereka dan peranan identitas yang melandasi semangat individu dalam suatu gerakan. Teori berorientasi identitas lahir dan muncul di Eropa. Para teoritisi yang berada di dalam garis utama pemikiran ini adalah Pizzorno (1978,1985), kemudian seorang
22
akademisi model identitas murni yaitu Jean Cohen (1985), termasuk juga kalangan akademisi post-Marxis seperti Laclau dan Mouffe (1985), Alain Touraine (1981, 1985, 1987).
Teori aksi kolektif secara sistematis menjelaskan konsep identitas kolektif (collective identity), solidaritas (solidarity), dan komitmen (commitment). Ketiga konsep ini membentuk basis sistematis, teori komprehensif yang mensintesakan perspektif-perspektif psikologi, psikologi social dan sosiologi makro. Secara umum, identitas kolektif (collective identity) menjelaskan bahwa kelompok individu memiliki kepentingan (interest), nilai (values), perasaan (feelings) dan tujuan (goals) bersama.
Konsep identitas merupakan pengelompokan (groupings) tidak harus merujuk pada karakter sosial khusus, seperti kelas, gender, agama, suku, organisasi. Identitas kolektif bisa dibentuk berdasarkan pada persamaan nilai, perilaku, pandangan yang sama. Sifat identitas terbagi menjadi dua yaitu secara ekslusif dan inklusif. Cara kerja identitas yaitu dengan menciptakan batas dimana batas antara kelompok yang kita bangun dengan kelompok lain, menciptakan kekitaan yang dimana kita satu kelompok dan satu tujuan, munculnya rasa solidaritas yang terbangun dalam suatu kelompok. (Donatella Porta and Mario Diani, 2006)
Identitas kolektif memusatkan perhatian mereka pada fenomena gerakan yang cenderung bersifat non materialistik, namun lebih pada perilaku yang ekspresif. Demikian juga para anggotanya dilihat sebagai makhluk subyektif.
Walaupun konsep identitas mempertanyakan masalah integrasi dan solidaritas.
23
Menurut konsep identitas, para partisipan menegaskan aksi-aksi mereka bukan dalam kerangka menjadi pengemban nilai-nilai buruh, melainkan sebagai manusia secara keseluruhan. Ada kesepakatan umum bahwa gerakan berorientasi identitas dan aksi kolektif (collective action) adalah ekspresi pencarian manusia terhadap identitas, otonomi dan pengakuan. Menurutnya bahwa identitas tidak bisa dibentuk melalui partisipasi tak langsung, delegasi atau perwakilan, melainkan produksi identitas melibatkan interaksi kolektif itu sendiri (Pizzorno 1978:96).
Pizzorno menilai bahwa logika aksi kolektif sebagai ekspresi. Para aktor sosial dalam sebuah gerakan sosial ini mencari identitas dan pengakuan melalui aksi ekspresif, melalui tuntutan universalistik dan tak dapat ditawar. Semuanya itu harus dijalani melalui partisipasi langsung berarti pada rentang yang sama para aktor tersebut sudah membangun dan mengakui kolektivitas (seperti perserikatan dan partai-partai politik) dan secara umum menghampiri penggunaan rasionalitas instrumental strategis (sebagaimana diajukan oleh paradigma mobilisasi sumber daya sebelumnya). Partisipasi langsung para aktor pada rentang yang sama mengakui kolektivitas berarti hasilnya tuntutan mereka bisa dinegosiasikan dan karakter partisipasinya jadi terwakilkan dan lebih representasional (Pizzorno 1978:96).
(Johnston dan Klandermans 1995) mendefinisikan identitas kolektif (collective identity) sebagai saling interaksi dan berbagi yang diproduksi oleh beberapa individu (atau kelompok pada level yang lebih kompleks) dan memusatkan orientasinya pada tindakan serta peluang dan kendala dimana aksi terjadi. Terdapat tiga unsur dalam identitas kolektif, yakni: (1) identitas kolektif
24
sebagai proses yang melibatkan definisi kognitif tentang tujuan, sarana, dan bidang tindakan; (2) identitas kolektif adalah sebagai proses yang mengacu kepada jaringan relasi aktif antara actor yang berinteraksi (interact), berkomunikasi (communicate), saling mempengaruhi (influence each other), negosiasi (negotiate), dan membuat keputusan (make decisions). Bentuk organisasi dan model kepemimpinan, saluran komunikasi, dan teknologi komunikasi adalah merupakan bagian dari jaringan relasi; dan (3) Tingkat tertentu dari investasi emosional, yang memungkinkan individu merasakan seperti seabagi bagian dari suatu kesatuan.
(Donatella Porta and Mario Diani 2004) menyatakan bahwa identitas kolektif dan konsep-konsep lainnya yang berhubungan seperti solidaritas (solidarity) dan komitmen (commitment), merupakan suatu kemajuan yang sangat menarik dalam memahami tentang gerakan sosial. Lebih penting lagi adalah bahwa identitas kolektif, solidaritas, dan komitmen dapat membantu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat psikologis (psychological), psikologi sosial (social-psychological), dan sosiologi makro (macrosociological) tentang gerakan sosial.
(Snow, Soule, & Kriesi 2004) menurut Taylor dan Whitter terdapat tiga alat analisis untuk memahami bagaimana konstruksi suatu identitas kolektif, yaitu:
(1) Bata-batas (boundaries); (2) Kesadaran (consciousness); dan (3) Negosiasi (negotiation). Ketiga alat analisis identitas kolektif ini, yakni bata-batas (boundaries), kesadaran (consciousness); dan negosiasi (negotiation) meskipun analisisnya berbeda namun secara empiris ketiganya saling terkait. Bata-batas
25
(boundaries) mengacu kepada struktur sosial, psikologis, dan fisik yang membangun perbedaan antara kelompok penentang dan kelompok dominan (challenging group and dominant group). Kesadaran (consciousness) mengacu kepada kerangka kerja interpretatif yang memunculkan perjuangan kelompok penentang untuk mendefinisikan dan mewujudkan kepentingannya. Sedangkan negosiasi (negotiation) meliputi simbol-simbol dan tindakan sehari-hari dari kelompok subordinat yang digunakan untuk melawan dan merestrukturisasi dominasi sistem sosial.
A. Menciptakan Batas-Batas Kelompok (Group Boundary)
Batasan menandai wilayah sosial dari hubungan kelompok dengan menonjolkan putatif moral, kognitif, afektif, perilaku, dan perbedaan terkait lainnya antara peserta gerakan sosial dan web orang lain dalam dunia sosial yang diperebutkan (Taylor dan Whittier 1992). Pekerjaan batas dengan demikian merupakan dinamika sentral konstruksi identitas kolektif. Berdasarkan membangun pengertian yang dielaborasi tentang siapa mereka, peserta dan penganut gerakan juga membangun rasa tentang siapa mereka tidak. Dengan kata lain, pekerjaan batas memerlukan pembentukan diri kolektif dan kolektif lainnya, sebuah '' kami '' dan '' mereka '' (Taylor 1989; Taylor dan Whittier 1992; Hunt et al. 1994; Gamson 1997; Sanders 2002)
Pada mekanisme di mana tindakan ―membentuk‖ identitas ini terjadi yaitu melalui definisi batas antara aktor yang terlibat dalam konflik. interaksi antara ketegangan struktural dan kemunculan aktor kolektif yang mendefinisikan dirinya dan lawan-lawannya berdasarkan nilai dan atau kepentingan tertentu (Touraine
26
1981). Tindakan kolektif tidak dapat terjadi tanpa adanya "kita" yang ditandai oleh sifat-sifat umum dan solidaritas tertentu. Yang tidak dapat dipisahkan adalah pengidentifikasian "pihak lain" yang didefinisikan sebagai yang bertanggung jawab atas kondisi aktor dan yang dengannya mobilisasi disebut (Gamson 1992b).
Konstruksi identitas karenanya menyiratkan definisi positif dari mereka yang berpartisipasi dalam kelompok tertentu, dan identifikasi negatif dari mereka yang secara aktif menentang (Touraine 1981; Melucci 1996; Taylor dan Whittier 1992;
Robnett 2002; Tilly 2004a). Ini juga mencakup hubungan dengan mereka yang berada dalam posisi netral. Dengan mengacu pada "protagonis, antagonis, dan audiensi" (Hunt, Benford, dan Snow 1994) identitas gerakan dibentuk dan dihidupkan kembali.
Oleh sebab itu dalam melakukan analisisnya peneliti menggunakan pendekatan protagonis, antagonis, dan audiens dalam melihat batas-batas agar telihat kelompok yang mendukung adanya gerakan sosial, kemudian kelompok yang menentang adanya kelompok sosial dan kelompok yang berada dalam posisi netral.
1. Pendekatan Protagonis
Pendekatan protogonis adalah orang-orang yang terlibat atau melakukan sebuah advokasi, bersimpati pada setiap nilai-nilai keyakinan, tujuan, dan aktivitas yang akan mendapatkan manfaat dari aksi tersebut.
Orang yang termasuk dalam golongan protogonis ini juga merupakan orang yang memang menjadi salah satu pencetus dalam gerakan sosial yaitu mereka peka terhadap segala sesuatu.
27 2. Pendekatan Antagonis
Dalam menggunakan pendekatan ini mereka yang termasuk orang- orang atau kelompok yang bersebrangan dengan pihak-pihak protagonis.
Dalam hubungan-hubungan sosial ini dapat menjadi lokus antagonisme dimana hubungan-hubungan ini dikonstruksi sebagai hubungan-hubungan subordinasi. Ada banyak format-format subordinasi yang berbeda sehingga menjadi awal terjadinya konflik dan perjuangan.
Pendekatan antagonis memainkan peran penting dalam teori discourse Laclau dan Mouffe mengutip dari perkataannya bahwa antagonis ini merupakan “a failure of difference”. Antagonisme memainkan peran penting dalam pembentukan identitas dan hegemoni, karena penciptaan suatu antagonisme sosial meliputi penciptaan musuh yang akan menjadi sesuatu yang penting bagi political frontiers.
Antagonisme sosial membuat setiap makna sosial berkontestasi, dan tidak akan pernah menjadi stabil (mapan), yang kemudian memunculkan political frontier: setiap aktor akan memahami identitas mereka melalui hubungan antagonistik, karena antagonisme mengidentifikasikan musuh mereka.
3. Pendekatan Audiens
Dalam pendekatan audiens orang-orang atau kelompok ini memiliki sifat yang netral. Dimana kelompok atau orang-orang dengan pendekatan ini tidak memihak pada protagonis atau antagonis. Pendekatan
28
audiens ini juga hanya sebagai pengamat saat kegiatan.
B. Memunculkan kesadaran dalam diri individu (Raising Awareness) Penelitian menunjukkan bahwa kesadaran kelompok dibangun melalui berbagai mekanisme termasuk bicara, narasi, proses pembingkaian, kerja emosi. Whittier (1997) memberikan bukti yang menunjukkan bahwa identitas kolektif dalam suatu gerakan atau gerakan organisasi mungkin didasarkan pada identifikasi kelompok. Poin penting di sini adalah bahwa setiap gerakan tertentu, bahkan mungkin organisasi gerakan mana pun, memiliki keragaman identitas kolektif
Bahwa identitas kolektif dapat dipaksakan orang luar dan dengan demikian mengarah pada pengembangan dinamika oposisi (Castells 1997;Kuumba 2001; Wieloch 2002). Seperti yang dinyatakan Mansbridge (2001: 4–5), '' oposisional kesadaran adalah keadaan mental yang memberdayakan yang mempersiapkan anggota yang tertindas untuk bertindak merusak, mereformasi, atau menggulingkan sistem dominasi manusia ''. Namun, seperti yang diingatkan oleh Whittier (2002: 302), identitas kolektif dibentuk oleh kekuatan di luar gerakan.
Dalam memunculkan kesadaran ada empat unsur yang digunakan yaitu adanya perasaan senasib, puas akan kekuatan dan pengaruh kelompok, keyakinan bahwa perbedaan kekuasaan adalah hasil dari struktur daripada faktor-faktor individu, dan orientasi kolektif menebus ketidakadilan.
(Stekelenburg, Klandermans 2007). Kesadaran ini juga mucul karena adanya proses mengidentifikasi diri mereka sendiri dan diidentifikasi
29
sebagai bagian dari suatu gerakan yang berarti mampu mengandalkan bantuan dan kesungguhan dari para aktivisnya (Gerlach dan Hine 1970;
Gerlach 1971). Dalam mengidentifikasi diri dengan suatu gerakan maka memerlukan perasaaan solidaritas terhadap orang yang biasanya tidak dihubungkan oleh kontak pribadi langsung tetapi dengan berbagai aspirasi dan nilai.
Untuk mengidentifikasikan diri dengan suatu gerakan juga memerlukan perasaan solidaritas terhadap orang-orang yang biasanya tidak dihubungkan oleh kontak pribadi langsung, tetapi dengan siapa seseorang berbagi aspirasi dan nilai. Aktor menarik motivasi dan dorongan untuk bertindak, bahkan ketika bidang peluang konkret tampak terbatas dan ada rasa solidaritas yang kuat.
C. Negosiasi
Melucci (1989:34) merefleksikan mengenai pandangan pada dimensi interaktif dan negosisasi dalam identitas kolektif, identitas kolektif adalah interaksi bersama yang dihasilkan oleh beberapa individu.
Identitas kolektif dengan demikian merupakan proses di mana para aktor menghasilkan kerangka kerja kognitif umum yang memungkinkan mereka menilai lingkungan mereka dan manfaat dari tindakan mereka. Definisi yang mereka rumuskan sebagian merupakan hasil dari interaksi yang dinegosiasikan.
Bahwa identitas kolektif tidak hanya muncul dari interaksi para aktivis dalam gerakannya tetapi juga dihasilkan dari hubungan antara
30
kelompok mereka yang menentang gerakan, serta penonton yang melihat atau menyaksikan jalannya aksi tersebut sehingga proses negosiasi ini bisa dilihat melalui penciptaan batas antara protagonis, antagonis, dan audiens sehingga akan mengalami pembingkaian ulang dalam proses interaksi dan identitas kolektif yang terjadi. Cara yang dilakukan dalam mempertahankan dan memperbaiki identitas gerakannya yaitu dengan cara pembingkaian ulang sebagai tanggapan, termasuk mengabaikan, merangkul, menjauhkan, dan melawan fitnah yang telah dilakukan oleh kelompok penentang gerakan.
Tabel 1.1. Proses Konstruksi Identitas Kolektif (dikutip dari Hunt dan Benford dalam Snow, Soule 2004)
Dalam hal ini penulis akan menggunakan teori identitas kolektif karena menurut penulis teori Taylor dan Whittier sangat relevan dengan temuan hasil lapangan, dan penulis juga ingin mengetahui bagaimana proses konstruksi identitas kolektif yang dibangun oleh gerakan Aksi Kamisan Jakarta karena identitas kolektif ini melibatkan partisipasi langsung dari
Batas-batas
(Boundaries) Kesadaran
(Consciousness)
Negosiasi (Negotiation) Identitas Kolektif
31
para aktor dan interaksi dalam aksi kolektifnya sehingga muncul rasa solidaritas yang terbangun dalam satu kelompok.
F. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Untuk memperdalam data, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kualitatif khususnya pada gerakan Aksi Kamisan Jakarta. Pendekatan ini berusaha menggali permasalahan yang dialami oleh informan menurut sudut pandang mereka sendiri, yang di teliti tidak hanya ditanya namun diberi waktu untuk bercerita dan didengar sehingga peneliti juga merasakan dan adanya kebeperpihakan pada permasalahan yang dialami (Trisakti, 2006: 68-75)
2. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer dalam penelitian ini meliputi data lapangan yang bersumber dari wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk menggali segala informasi terkait kegiatan dalam kelompok Aksi Kamisan Jakarta. Kemudian data sekunder dalam penelitian ini seperti data yang bersumber dari internet yang meliputi segala kegiatan Aksi Kamisan Jakarta untuk mendukung data lapangan dan analisis penulis (Moleong, 2000)
a. Wawancara adalah kegiatan tanya jawab (interview) yang secara mendalam (indepth interview) dan memberikan subjek untuk bercerita mengenai pengalamannya. Wawancara dilakukan pada
32
dua belas narasumber dari berbagai kalangan ada yang mahasiswa, pegiat aksi kamisan, LSM KontraS dan LBH Jakarta, serta korban pelanggaran HAM. Peneliti melakukan wawancara melalui virtual Zoom, video call Whatsapp, Google Meet tetapi ada beberapa yang dilakukan wawancara secara langsung.
b. Observasi merupakan data yang diperboleh dari lapangan berupa gambaran, sikap, tindakan, interaksi dan lain-lain. Jenis observasi yang dilakukan adalah observasi partisipan dan non partisipan artinya dalam kasus ini peneliti terlibat secara langsung dalam kegiatan gerakan Aksi Kamisan Jakarta. Tetapi peneliti juga mengamati melalui media sosial dan media massa, kemudia dicatat dan disusun secara sistematis untuk memperoleh data (Raco: 2010) c. Studi dokemen melalui studi kepustakaan berdasarkan buku-buku
atau literatur yang digunakan sebagai rujukan untuk mendukung penelitian. Penelitian ini merujuk pada penelitian terlebih dahulu dan juga didukung oleh beberapa berita-berita di internet atau di televisi seputar isu-isu mengenai Hak Asasi Manusia. Kemudian untuk pengumpulan dokumen dari masing-masing kelompok subjek penelitian seperti foto kegiatan aksi, dokumen tertulis, dan lain sebagainya.
3. Strategi Pemilihan Infroman
Informan dalam penelitian adalah orang yang diminta untuk memberikan informasi tentang situasi kondisi latar belakang permasalahan