1 TESIS
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Mencapai Gelar Magister Hukum (M.H) Pada Program Studi Hukum Islam
Disusun Oleh
GAFNEL. SHI NIM. 101. 15. 013
PROGRAM STUDI MAGISTER (S2) HUKUM ISLAM FAKULTAS SYARIAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BUKITTINGGI
2019
ABSTRAK
Tesis ini berjudul: “Pemikiran Buya Hamka Tentang ‘Urf Dan
Relevansinya Dengan Pembaharuan Hukum Islam Di Indonesia”, Latarbelakang penulis membahas judul tersebut karena penulis melihat beberapa pemikiran Buya Hamka yang kebanyakan menggunakan „urf sebagai landasan berpikirnya, sehingga penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut terkait pemikiran-pemikirannya serta relevansinya dengan pembaruan hukum Islam di Indonesia.
Persoalan pokok yang menjadi kajian penulis dalam penelitian pada tesis ini adalah bagaimana konsep pemikiran Buya Hamka terhadap „urf sebagai hukum Islam dan contoh-contoh pemikirannya serta relevansi pemikiran Buya Hamka terhadap pembaharuan hukum Islam di Indonesia.
Tujuan umum yang ingin dicapai dalam penelitian ini di antaranya adalah untuk mengetahui bagaimana konsep pemikiran Buya Hamka terhadap „urf sebagai hukum Islam dan contoh-contoh pemikirannya, serta untuk mengetahui relevansi pemikiran Buya Hamka terhadap pembaharuan hukum Islam di Indonesia.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat analisis eksploratoris dan pola pikir deduktif. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer karya-karya Buya Hamka seperti tafsir al-Azhar, Islam dan Adat Minangkabau, Ilmu Ushul Fiqh karangan Abdulal-Wahab Khalaf. Adapun bahan hukum sekunder terdiri dari literatur-literatur baik dalam bentuk buku, makalah, artikel, atau lainnya, yang terkait dengan penelitian. Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan cara melakukan studi kepustakaan.
Hasil penelitian menemukan bahwa Pada dasanya, Hamka dalam setiap pemikirannya kerap kali menggunakan „urf sebagai pertimbangan untuk menetapkan status hukum suatu perkara. Terdapat beberapa contoh pemikiran/ijtihad Hamka yang menjadikan „urf sebagai landasannya di antaranya adalah terkait persoalan waris di Minangkabau di mana masyarakat Minangkabau ini menganut sistem matrilineal sehingga dalam pembagian warisnya, terdapat sedikit perbedaan dengan yang diatur dalam hukum Islam. Menurut Hamka, pembagian waris didasarkan pada garis keturunan ibu (matrilineal) adalah boleh untuk dilakukan pada harta pusaka tinggi. Karena tidak salah bila mengamalkan konsep „urf yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau selama itu demi kemashlahatan. Adapun untuk harta pusaka rendah, Hamka berpendapat harus dibagikan sesuai dengan aturan faraidh dalam Islam. Pendapatnya ini juga belaku untuk pekara tanah ulayat. Contoh lainnya adalah perkara poligami. Adapun pembaharuan hukum Islam harus dilakukan dalam memberikan respon terhadap tuntutan perubahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dalam artian bahwa pemikiran hukum Islam tidak konstan dalam satu zaman, tempat dan keadaan. Hal ini sesuai dengan pemikiran-pemikiran Buya Hamka dalam memandang ijtihad.
Buya Hamka merupakan sosok pemikir yang pemikirannya sangatlah dinamis dan selalu mengedepankan kondisi serta fenomena-femomena terkini yang terjadi di
iv
masyarakat. Maka jelas pemikiran-pemikiran Hamka masih sangat relevan dengan konteks kekinian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Peranan dalil dalam menetapkan hukum Islam sangatlah urgen dan menjadi sebagai pondasi dalam menggali dan mendudukan suatu produk hukum islam. Selain Dalil al-Qur‟an dan Sunnah yang utama diantara dalil-dalil yang ditetapkan sebagai sumber hujjah oleh para ulama ushul fiqh dan disebut sebagai sumber penetapan hukum yaitu „urf.
Keberadaan ‟urf sebagai dalil hukum Islam terkadang tidak ditonjolkan oleh sebahagian ulama fiqih, karena menurutnya „urf masih menjadi perdebatan dalam penerapannya sebagai dalil dalam produk hukum islam. Padahal `urf memiliki posisi penting untuk pengembangan hukum Islam.
Konsep ilmu usul fiqh pengertian adat (al-„adah) dan „urf mempunyai peran yang cukup signifikan. Keduanya berasal dari bahasa Arab yang diadopsi ke dalam bahasa Indonesia yang baku. Kata „urf berasal dari kata „araf yang mempunyai derivasi kata al- ma‟ruf yang berarti sesuatu yang dikenal atau diketahui. Sedangkan kata adat berasal dari kata al„ad yang mempunyai derivasi kata al-„adah yang berarti sesuatu yang di ulang (kebiasaan).
1Arti „urf secara harfiah adalah suatu keadaan, ucapan, perbuatan, atau ketentuan yang telah dikenal manusia dan telah menjadi tradisi untuk
1Amir syarifuddin, Ushul fiqih, jilid 2, (Jakarta : logos wacana ilmu, 2001), h. 363
melaksanakan atau meninggalkannya. Dikalangan masyarakat, „urf ini sering disebut sebagai adat.
2Menurut Abdul Wahab Al-khalaf “urf”adalah apa yang dikenal oleh manusia dan menjadi tradisinya, baik ucapan, perbuatan, atau pantangan- pantangan, dan disebut juga adat. Menurut istilah ahli syara‟, tidak ada perbedaan antara „urf dan adat.
3Adat perbuatan, seperti kebiasaan umat manusia jual beli dengan tukar menukar secara langsung, tanpa bentuk ucapan akad. Adat ucapan, seperti kebiasaan umat manusia menyebut al-walad secara mutlak berarti anak pria, bukan anak perempuan, dan kebiasaan mereka untuk mengucapkan kata daging sebagai ikan.Adat terbentuk dari kebiasaan mereka menurut derajat mereka, secara umum maupun khusus. Berbeda dengan ijma‟, yang berbentuk dari kesepakatan para mujtahid saja, tidak termasuk manusia secara umum.
4Musthafa Ahmad al-Zarqa‟ (Guru Besar Fiqih di Universitas „Amman, Jordania), sebagaimana yang dikatakan dalam bukunya bahwa „urf merupakan bagian dari adat, karena adat lebih umum dari „urf. Suatu „urf harus berlaku pada kebanyakan orang di daerah tertentu, bukan pada pribadi atau kelompok tertentu.
Abdul Wahhab Khalaf membagi „uruf menjadi dua bagianyaitu : 1. „Urf yang shahih
2. „Urf yang fasid
2Rachmat syafe‟i,Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: Pustaka setia, 2007), h. 128
3Abdul Wahab Al- khalaf, Ilmu Ushul Fiqih, (Semarang: Dina Utama Semarang,Cet pertama, 1994), h. 123
4Abdul Wahab Al- khalaf, Ilmu Ushul Fiqih, …, h. 123
„Urf yang shahih ialah : sesuatu yang saling dikenal oleh manusia, dan tidak bertentangan dengan dalil syara‟, tidak menghalalkan sesuatu yang diharamkan, dan tidak pula membatalkan sesuatu yang wajib, sebagaimana kebiasaan mereka mengadakan akad jasa pembuatan (produksi), kebiasaan mereka membagi maskawin kepada maskawin yang didahulukan dan maskawin yang diakhirkan penyerahan, tradisi mereka, bahwasanya perhiasan dan pakaian diberikan oleh peminang kepada wanita yang dipinangnya adalah hadiah, bukan bagian dari pada mas kawin.
Adat mencakup kebiasaan individu dan kebiasaan orang banyak.Kebiasaan orang banyak dikenal juga dengan istilah „urf (ف ْسُعلا). Jadi, istilah adat lebih umum dari „urf; karena istilah „urf hanya dipakai untuk menunjukkan kebiasaan banyak orang banyak saja, dan tidak mencakup kebiasaan individu.
5Demikianlah perbedaan antara adat dan „urf, namun keduanya sama-sama dipakai dan diperhitungkan dalam menetapkan hukum syar‟i.
6Para ulama sepakat bahwa „urf shahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentangan dengan Syara‟. Ulama Malikiyyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama Madinah dapat dijadikan hujjah, demikian pula ulama Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama Kufah dapat dijadikan dasar hujjah. Imam Syafi‟i terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadidnya. Ada suatu kejadian tetapi beliau menetapkan hukum yang berbeda pada waktu beliau masih berada di Makkah (qaul qadim) dengan setelah beliau berada di Mesir (qaul jadid). Hal ini menunjukkan bahwa ketiga madzhab itu berhujjah dengan urf.
5Dr. Muhammad Shidqi al-Borno:al-Wajîz fi Idhâh Qawâ‟idil Fiqh al-Kulliyyah, (Muassasah ar-Risalah, tth), h.276
6Dr. Abdurrahman al-Abdullathif, al-Qawâ‟id al-Fiqhiyyah, h. 26
Tentu saja, urf fasid tidak mereka jadikan sebagai dasar hujjah. Adapun kehujjahan „urf sebagai dalil syara‟ didasarkan atas argumen-argumen berikut ini:
a. Firman Allah pada surah al-A‟raf ayat 199
َهيِلِه ََٰجۡلٱ ِهَع ۡض ِس ۡعَأ َو ِف ۡسُعۡلٱِب ۡسُمۡأ َو َىۡفَعۡلٱ ِرُخ
٩١١
Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma‟ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang bodoh”. (Al-A‟raf:199) Melalui ayat di atas Allah memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakan yang ma‟ruf. Sedangkan yang disebut sebagai ma‟ruf itu sendiri ialah, yang dinilai oleh kaum muslimin sebagai kebaikan, dikerjakan berulang- ulang, dan tidak bertentangan dengan watak manusia yang benar, yang dibimbing oleh prinsip-prinsip umum ajaran Islam.
b. Ucapan sahabat Rasulullah SAW; Abdullah bin Mas‟ud:
ئيس اللهدىع ىهف أيس نىملسملا يازامو هسح اللهدىع ىهف اىسح نىملسملا ياز امف
Artinya: “Sesuatu yang dinilai baik oleh kaum muslimin adalah baik di sisi Allah, dan sesuatu yang mereka nilai buruk maka ia buruk di sisi Allah”.
Ungkapan Abdullah bin Mas‟ud di atas, baik dari segi redaksi maupun maksudnya, menunjukkan bahwa kebiasaan-kebiasaan baik yang berlaku di dalammasyarakat muslim yang sejalan dengan tuntunan umum syari‟at Islam adalah juga merupakan sesuatu yang baik di sisi Allah. Sebaliknya, hal-hal yang bertentangan dengan kebiasaan-kebiasaan yang dinilai baik oleh masyarakat, akan melahirkan kesulitan dan kesempitan dalam kehidupan sehari-hari.
Adat yang benar, wajib diperhatikan dalam pembentukan hukum syara‟
dan putusan perkara. Seorang mujtahid harus memperhatikan hal ini dalam
pembentukan hukumnya dan bagi hakim juga harus memperhatikan hal itu dalam
setiap putusannya. Karena apa yang sudah diketahui dan dibiasakan oleh manusia adalah menjadi kebutuhan mereka, disepakati dan ada kemaslahatannya.
Adapun adat yang rusak, maka tidak boleh diperhatikan, karena memperhatikan adat yang rusak berarti menentang dalil Syara‟ atau membatalkan hukum Syara‟. Hukum yang didasarkan pada adat akan berubah seiring perubahan waktu dan tempat, karena masalah baru bisa berubah sebab perubahan masalah asal. Oleh karena itu, dalam hal perbedaan pendapat ini para ulama fikih berkata:
“Perbedaan itu adalah pada waktu dan masa, bukan pada dalil dan alasan.”
7Para ulama sejatinya telah berbicara panjang lebar tentang ‟urf sebagai dasar hukum.„Urf, bukanlah kebiasaan alami sebagai mana yang berlaku dalam kebanyakan adat, tetapi muncul dari suatu pemikiran dan pengalaman, yang dibahas para ulama usul fiqih, dalam kaitanya dengan salah satu dalil dalam menetapkan hukum syara‟ adalah „urf dan bukan adat.
8„Urf bukan merupakan dalil syara‟ tersendiri. Pada umumnya, „urf ditunjuk untuk memelihara kemaslahatan umat serta menunjang pembentukan hukum dan penafsiran beberapa nash. Dengan „urf dikhususkan lafal yang „am (umum) dan dibatasi yang mutlak. Karena „urf pulalah yang membuat qiyas ditinggalkan.
9Para ulama banyak yang sepakat dan menerima „urf sebagai dalil dalam mengistinbatkan hukum, selama ia merupaka „urf sahih dan tidak
7Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh (Kaidah Hukum Islam), (Jakarta: Pustaka Amani), h.118-119
8Nasrun Harroen, Ushul Fiqih, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 138-139.
9Rachmat Syafe‟i, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: Pustaka Setia, 2007), h. 131
bertentangan dengan hukum Islam, baik berkaitan dengan „urf ‟am atau „urf khas.
10Seorang mujtahid dalam menetapkan suatu hukum, menurut Imam Al- Qarafi, yang dikutip oleh Nasrun Haroen yang ditulis dibuku usul fiqih karangannya yaitu harus terlebih dahulu meneliti kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat setempat, sehingga hukum yang ditetapkan itu tidak bertentangan atau menghilangkan suatu kemaslahatan yang menyangkut masyarakat tersebut.
11Ulama kontemporer seperti Abu Zahrah, Wahab khalaf dan Wahbah Zuhaili memandang „urf merupakan sebagai salah satu dalil dalam menetapkan hukum Islam. Di Indonesia salah seorang ulama besar yang pernah menjabat sebagai ketua MUI RI dimasa pemerintahan Presiden Soekarno yang bernama Buya Hamka juga menjadikan „urf sebagai dalil dalam hukum fikih Islam, sebagaimana beliau ungkap dalam bukunya berjudul “Ayahku” menurut nya „urf dan adat disetiap negeri, bilamana tidak melanggar peraturan Islam maka diakui sebagai suatu kenyataan.
12Buya Hamka dalam berbagai redaksi tafsirnya yang fenomenal “Al- Azhar” selalu menjelaskan tafsiran ayat dengan mengemukakan „urf yang berada dilingkungan sekitar dan mencontohkan dengan hikayat yang terjadi daerah tanah kelahirannya Ranah Minang dengan semboyan luhurnya adat Minang “adat bersandikan syara‟ dan syara‟ bersandikan kepada Kitabullah, syara‟ mangato, adat mamakai, syara‟ nan kawi, adat nan lazim ungkap leluhur orang
10http://Darul-ulum.blogspot.com/2007/04/urf.html., Diakses 13 maret 2014
11Nasrun Harroen, Ushul Fiqih, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 142
12Buya Hamka “ Ayahku” (Jakarta:Ummida, tth), h. 6
Minangkabau, di samping itu beliau nukilkan juga contoh di zaman Nabi dan Shahabat.
Dari pengembaraannya dalam mencari ilmu dan pengalamannya, beliau sangat bangga dilahirkan dari keturunan Minangkabau, bahkan dalam berbagai tulisan beliau seperti “ Islam di Minangkabau, Ayahku, dan karya tafsirnya yang fenomenal selalu menginformasikan bahwa beliau sangat bangga dengan adat dan segala kesepakatan yang telah ditulis oleh leluhur dan ulama dan tokoh adat minang, namun disisi lain beliau juga mengemukan pendapat guru ayahnya yakni Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang mengemukakan, bahwa tanah pusaka dan gadai adat di Minangkabau ini haram, sehingga beliau tidak mau pulang ke Ranah Minang sampai dia meninggal dunia tetap di Mekah.
Penulis menilai terdapat kontradiktif ungkapan Buya Hamka dalam tulisan beliau dimana Hamka sangat membanggakan budaya adat Minangkabau dengan segala budaya dan adat Minangkabau dimanapun beliau berbicara selalu mengagungkan adat dan budaya Minang, sementara di sisi lain beliau pun berpandangan lain seperti masalah perkawinan, jual beli dan lainnya. Sementara beliau dalam tafsir al-Azhar menjadikan „urf sebagai alat dan penopang untuk mentafsirkan ayat terutama ayat-ayat hukum.
Menilik kepada komposisi isi dari al-Qur‟an, maka para mufassirin
mengelompokkan ayat-ayat dalam al-Qur‟an kepada ayat-ayat hukum, ayat-ayat
berkenaan dengan neraka, surga dan tema lain supaya lebih memudahkan
menggali isi al-Qur‟an berdasarkan tema (tafsir tematik istilah sekarang). Menurut
Saiyid Mahadhir, ada dua pendapat utama mengemukakan tentang jumlah ayat hukum dalam al-Qur‟an.
13Pendapat Pertama yang dikemukakan ulama semisal al-Ghazali, ar-Razi, al-Mawardi dan lainnya menilai bahwa jumlah ayat hukum itu terbatas dalam jumlah tertentu, tapi mereka masih berselisih dalam bilangan jumlah. Ibnu al- Arabi misalnya, beliau berpendapat bahwa jumlah ayat hukum dalam al-Qur‟an lebih dari 800 ayat, namun imam al-Ghazali menilai jumlahnya kisaran 500-an saja, sementara As-Shan‟ani berpendapat Ibnu al-Qoyyim hanya meyakini bahwa jumlahnya lebih kurang 150-an ayat saja.
14Pendapat kedua ini adalah pendapat mayoritas ulama yang menilai bahwa ayat hukum itu tidak terbatas jumlahnya, semua ayat dalam al-Quran memungkin bagi kita untuk menyimpulkan hukum darinya, walaupun dalam aslinya ayat tersebut secara redaksional tidak sedang berbicara masalah hukum, hal ini sesuai dengan penejeasan az-Zarkasyi dalam al-Burhan fi Ulum al-Quran, pun begitu juga menurut keterangan As-Suyuthi dalam Al-Itqan.
Menurut Najmuddin At-Thufi seperti yang dinukil oleh Izzuddin bin Abdis Salam dalam kitabnya Al-Imam fi Bayani Adilah Al-Ahkam menerangkan bahwa kesimpulan hukum itu tidak hanya bisa didapat dari ayat-ayat perintah (al- awamir) atau ayat-ayat larangan (an-nawahi) saja, namun lebih jauh dari sana bahwa ayat-ayat yang isinya cerita pun (al-qashash) bisa dipakai untuk meng-
13 https://www.rumahfiqih.com/z-77-berapakah-jumlah-ayah-hukum.html. Di posting hari senin/04 Februari 2019 jam 12.12 wib
14https://www.rumahfiqih.com/z-77-berapakah-jumlah-ayah-hukum.html. Di posting hari senin/04 Februari 2019 jam 12.12 wib
istinbath (menyimpulkan) sebuah hukum, begitu dengan ayat-ayat yang isinya nasihat (mau‟izhah).
Az-Zarkasyi menilai bahwa pendapat kedua lebih utama karena dua alasan. Pertama: bahwa memang banyak hukum-hukum didalam Al-Quran itu didapat memalui penjelasan ayat Al-Quran yang memang secara redaksi menyebutkannya dengan jelas.
15Pengungkapan diatas dapat dijadikan sebagai sumber bahwa untuk memudahkan memahami al-Qur‟an salah satunya melalui pengelompokkan ayat, berdasarkan keterangan para ulama diatas bahwa ayat-ayat hukum itu tercatat dalam al-qur‟an lebih 500an sesuai dengan pemahaman mufassirin yang tidak perlu kita perdebatkan berapa kali Allah mengungkap isi al-Qur‟an yang bermuatan hukum.
Murujuk kepada penjelasan mufassirin di atas Buya Hamka dalam karya tafsirnya yang populer “ al-Azhar “ pun memuat penjelasan ayat dalam tafsirnya terkait dengan hukum, berikut beberapa ayat yang penulis kutip yang berkenaan dengan hukum ditinjau dari perspektif tafsir Buya Hamka “ Al-Azhar “
1. Berkaitan dengan poligami dalam perkawinan , di terangkan dalam QS. An- Nisa‟ ayat 3 ;
َٰىَىۡثَم ِءٓاَسِّىلٱ َهِّم مُنَل َباَط اَم ْاىُحِنوٱَف َٰىَمََٰتَيۡلٱ يِف ْاىُطِسۡقُت الََّأ ۡمُتۡف ِخ ۡنِإ َو الََّأ َٰٓىَوۡدَأ َلِلََٰذ ۡۚۡمُنُى ََٰمۡيَأ ۡتَنَلَم اَم ۡوَأ ًةَد ِح ََٰىَف ْاىُلِدۡعَت الََّأ ۡمُتۡف ِخ ۡنِإَف ََۖعََٰب ُز َو َثََٰلُث َو ْاىُلىُعَت ٣
Artinya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka
15https://www.rumahfiqih.com/z-77-berapakah-jumlah-ayah-hukum.html. Di posting hari senin/04 Februari 2019 jam 12.12 wib
kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil[265], Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS: An-Nisa‟:3)
Tinjauan Buya Hamka dalam tafsirnya memulai penjelasannya dengan mengutip sebuah hadist yang di riwayatkan oleh „Aisyah ra. yakni terkait dengan asbabun nuzul ayat tersebut. Dalam hadist dimaksud dijelaskan bahwa Urwah bin Zubair, anak Asmah, yang juga saudara Aisyah, sering bertanya kepada Aisyah tentang masalah-masalah agama.
Urwah bertanya tentang bagaimana asal mula orang dibolehkan beristeri lebih dari satu sampai dengan empat dengan alasan memelihara anak yatim.
Ketika itu Aisyah menjawab, wahai kemenakanku! Ayat ini berkenaan dengan anak perempuan yatim yang berada didalam penjagaan walinya. Sementara itu si wali tertarik kepada harta dan kecantikkan anak yatim dimaksud, maka si wali berencana menikahi anak asuhnya itu dengan tanpa membayar mas kawin secara adil sebagaimana layaknya layaknya mas kawin perempuan lain. Oleh karena itu, dari pada si wali yatim melakukan niat yang tidak jujur, maka si wali dianjurkan lebih baik menikah saja dengan perempuan lain walaupun sampai empat perempuan.
16Aisyah kemudian meneruskan pembicaraannya, “Kemudian ada orang meminta fatwa kepada Rasulullah Saw tentang perempuan-perempuan itu (perempuan-perempuan yatim) sesudah ayat ini turun, maka turunlah ayat (surat An-Nisa` ayat 17)”. Mereka meminta fatwa kepadamu tentang para perempuan,
16Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002), h. 224.
katakanlah: “Allah akan memberi keterangan kepadamu tentang mereka, dan juga apa-apa yang dibacakan kepadamu di dalam kitab ini dari hal anak-anak yatim perempuan yang kamu tidak mau memberikan kepada mereka yang diwajibkan atas mereka, pada hal kamu ingin menikahinya”. Maka kata Aisyah selanjutnya,
“Yang dimaksud dengan yang dibacakan kepadamu dalam kitab ini ialah ayat yang pertama itu yaitu “Jika kamu takut tidak akan berlaku adil (bila menikahi) anak-anak yatim, maka nikahilah wanita-wanita lain yang kamu senangi”.
Kata Aisyah selanjutnya, ayat lain menyatakan: dan kamu ingin menikah dengan mereka, yaitu tidak suka kepada anak yang dalam asuhannya itu karena hartanya sedikit dan tidak berapa cantik, maka dilaranglah dia menikahi anak itu selama yang diharapkan hanya harta dan kecantikannya. Ia baru boleh nikah kalau mas kawin dibayar secara adil.
17Hamka menjelaskan bahwa dalam hadits shahih yang lain disebutkan pula bahwa Aisyah berkata, “Ayat ini diturunkan mengenai seorang laki-laki yang mengasuh seorang anak yatim perempuan. Ia menjadi wali dan waris anak tersebut. Anak itu memiliki harta, sementara si anak tidak memiliki orang lain yang menjadi sandarannya. Meskipun demikian, anak tersebut tidak dinikahinya dan dibiarkannya sehingga si anak mengalami hidup susah dan menderita. Maka kata Aisyah, turunlah ayat ini, “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil (bila menikahi) anak-anak yatim, maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang
17Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, …, h. 224
kamusenangi”.Maksudnya, “Ambil yang halal bagi kamu dan tinggalkan hal yang berakibat kesusahan bagi anak itu”.
18Dan ada pula riwayat lain yang shahih yang ada hubungannya antara ayat di atas dengan ayat yang lain, yaitu, “Dan juga apa-apa yang dibacakan kepadamu dari kitab (ini) mengenai anak-anak yatim perempuan, yang kamu tidak mau memberikan kepada mereka yang diwajibkan untuk mereka, pada hal kamu ingin menikahinya. Dan kata Aisyah, “Ayat ini diturunkan mengenai anak yatim perempuan yang tinggal dengan seorang laki-laki yang mengasuhnya, pada hal hartanya telah dikuasai pengasuhnya, sedang dia tidak mau menikahinya dan tidak pula melepaskannya untuk dinikahi orang lain. Jadi, harta anak itu dikuasainya, sementara anak tersebut ditelantarkannya, dalam artian tidak dinikahinya sendiri dan tidak pula diserahkannya kepada orang lain untuk dinikahkan. Setelah melihat ketiga riwayat yang sahih dari Aisyah di atas, maka Hamka menyimpulkan bahwa ada hubungan yang jelas antara memelihara anak yatim perempuan dengan kemestian adanya keizinan (kebolehan) beristeri lebih dari satu hingga empat.
Berdasarkan hal tersebut di atas, bahwa terdapat hubungan (munasabah al- ayat) yang erat antara surat An-Nisa` ayat tiga dan ayat dua yang penekanannya adalah tentang memelihara anak yatim. Jadi Hamka memahami dari pada berfikir menikahi anak yatim dengan alasan untuk memandang harta ini merupakan suatu pikiran uang yang tidak sehat dan rasional dalam pandangan Islam. Dalam mentelaah ayat tentang beristri lebih dari satu, menurut Hamka ayat ini adalah azas monogami bukan poligami dari pemahaman beliau, tapi dari berbagai
18Hamka, Tafsir Al-Azhar, Juz IV, …, h. 224
keterangan dan penjelsan beliau kalaupun dipahami ayat ini sebagai batasan untuk beristeri lebih dari satu, kalau memang itu satu-satunya solusi membendung gejolak sex terutama laki-laki. Tapi Buya Hamka menjawab dan memahami persoalan poligami dengan memakai „uruf, beliau tampakkan dia seorang yang berasal dari Minangkabau yang memakai azas Raso Jo Pareso, Raso Dibaok
Naik, Pareso Dibaok Turun, dalam menerangkan pandangannya tentangpoligami, dia contoh kan pribadinya Mancaliak Contoh Ka Nan Sudah, Batuah
Ka Nan Manang. Menurutnya poligami akan mempunyai dampak yang tidakbaik kepada pelaku dan keluarga (anak-anak dan isteri sebelumnya) penegasan itu disampaikan dalam buku karangan putra beliau yang mengutarakan sikap ayah beliau, bahwa Hamka hanyalah beristeri satu. Hamka menjelaskan:
“Beristeri satu adalah cita-cita yang luhur, tinggi, dan murni (ideal).
Memang itulah yang kita tuju. Kita berdoa moga-moga pribadi kita dapat
mencapainya, dengan kita menutup mata betapa hebatnya perjuangan batin tiap
laki-laki yang beristeri satu orang itu, terutama pada zaman mudanya, sebab dia
terjadi dari darah dan daging. Maka orang-orang yang memegang teguh ajaran
Islam dan mengerti filsafatnya, tidaklah pernah merasa ada satu peraturan yang
menghalanginya menikah lagi. Tetapi setelah dibawanya berfikir tentang keadilan,
tentang tanggungan mendidik anak dan segala resikonya, tidaklah jadi dia
menikah lagi sampai akhirnya hari tua ditempuhnya dengan selamat, sampai
menyaksikan anak-anak yang telah dewasa dan sampai tembilang penggali kuburlah yang memisahkannya dengan isteri yang satu itu.”
192. Berkaitan dengan kewarisan, contoh kedua penjelasan Buya Hamka menjadikan „urf sebagai dalil hukum.
Faktanya sejak dahulu Ulama Minangkabau tidak semuanya sepakat bahwa kewarisan harta pusaka tinggi diselesaikan menurut hukum adat, dan artinya dikecualikan dari ketentuan hukum faraidh. Ulama besar Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Ulama Besar yang berasal dari Minangkabau yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram Mekah, sekaligus menjadi Mufti Mazhab Syafi‟i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
20Beliau tidak setuju hukum kewarisan harta pusaka tinggi itu diatur menurut hukum adat, dan menggolongkannya termasuk harta syubhat dan haram dimakan, dan beliau tidak mau pulang lagi ke ranah Minang selama harta pusaka tinggi tidak tunduk pada hukum kewarisan Islam, bahkan sampai wafat beliau tidak mau pulang ke ranah Minang lagi.
21Para ulama Minang yang tidak sependapat dengan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi itu, antara lain murid beliau sendiri, seperti Syaikh H.
Abd.Karim Amrullah (ayah Buya Hamka), sebagaimana ditulis oleh Bapak Azmi Dt. Bagindo sebagai berikut: “Beliau berpendapat bahwa harta pusaka (tinggi) itu sama keadaannyadengan harta wakaf atau harta musabalah yang pernah diperlakukan olehUmar bin Khattab atas harta yang didapatnya di Khaibar, yang
19Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Hamka (Jakarta: Pustaka Panjimas,1983), h. 235
20http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Khatib_Al-Minangkabawi#Riwayat.[10 juli 2014].
21http://rezakifadly.blogspot.com/2012/harta-warisan-di-minangkabau.html.
telah dibekukan tasarrufnya (penggunaannya) dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Penyamaan harta pusaka dengan harta wakaf tersebut walaupun masih ada perbedaannya, adalah untuk menyatakan bahwa harta tersebut tidak dapat diwariskan. Karena tidak dapat diwariskan maka terhindarlah harta tersebut dari kelompok harta yang harus diwariskan menurut hukum faraidh, artinya tidak salah kalau padanya tidak berlaku hukum faraidh.
Pendapat beliau ini diikuti oleh ulama lain, diantaranya Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (Amir Syarifuddin, Pelaksanaan Hukum Kewarisan IslamDalam Adat Minangkabau, halaman 278). Kemudian Buya Hamka berpendapat tentang harta pusaka sebagai berikut:
Pertama, “Bahwa Islam masuk ke Minangkabau tidak mengganggu
susunan adat Minangkabau dengan pusaka tinggi. Begitu hebat peperangan Paderi, hendak merubah daki-daki adat jahiliyyah di Minangkabau, namun Haji Miskin, H. Rachman Piobang, Tuanku Lintau, tidaklah menyinggung atau ingin merombak susunan harta pusaka tinggi itu. Bahkan pahlawan Paderi radikal, Tuanku nan Renceh, yang sampai membunuh mak uncunya (adik perempuan ibunya) karena tidak mau mengerjakansembahyang bukanlah karena bahwa beliau menyinggung-nyinggung susunan adat itu. Kuburan Tuanku Nan Renceh di Kamang terdapat di dalamTanah Pusako Tinggi.”
Kedua, “Ayah saya DR. Syaikh Abdulkarim Amrullah berfatwa bahwa
harta pusaka tinggi adalah sebagai wakaf juga, atau sebagai harta musabalah yang
pernah dilakukan Umar bin Khattab, pada hartanya sendiri di Khaibar, boleh
diambil isinya tetapi tidak boleh ditasarrufkan tanahnya. Beliau mengemukakan
kaidah ushul yang terkenal yaitu: “al „adatu muhakkamatu, wal „urfu qaadhin.”
Artinya: adat adalah diperkokoh (jadi dasar hukum), dan „urf (tradisi) adalah berlaku”.
22Ketiga, satu hal yang tidak disinggung-singgung, sebab telah begitu
keadaan yang telah didapati sejak semula, yaitu harta pusaka yang turun temurun jalan keibuan. Adat dan syara‟ di Minangkabau bukanlah seperti air dengan minyak, melainkan berpadu satu, sebagai air dengan minyak dalam susu. Sebab Islam bukanlah tempelan-tempelan dalam adat Minangkabau, tetapi satu susunan Islam yang dibuat menurut pandangan hidup orang Minangkabau.(Hamka, Ayahku hlm.9).
Keempat, “Pusaka Tinggi” inilah dijual tidak dimakan bali di gadai tidak
dimakan sando (sandera). “Inilah Tiang Agung Minangkabau” selama ini. Jarang kejadian pusako tinggi menjadi pusako rendah, entah kalau adat tidak berdiri lagi pada suku yang menguasainya (Hamka, dalam Naim,1968: 29).
Dari dua contoh diatas sangatlah jelas bahwa keberadaan „urf sangatlah dipentingkan oleh ulama dalam mengistimbatkan hukum Islam termasuk oleh ulama ranah Minang Buya Hamka, bagaimana pokok fikiran Hamka tentang „urf dan pentingnya dipakai sebagai landasan berpijak menjadikan dalil, maka penulis akan coba menerangkan dalam sebuah karya ilmiah yang berjudul:
“PEMIKIRAN BUYA HAMKA TENTANG ‘URF DAN RELEVANSINYA
DENGAN PEMBAHARUAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA”
22http://www.inibangsaku.com/sejarah-syekh-ahmad-khatib-al-minangkabawi.
B. Identifikasi Masalah 1. Rumusan Masalah
Dengan mencermati berbagai permasalahan yang berkaitan dengan pemikiran Buya Hamka tentang „urf sebagai dalil huku islam, maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Bagaimanakah konsep pemikiran Buya Hamka terhadap „urf sebagai hukum Islam ?
b. Bagaimana relevansinya „urf dengan pembaharuan hukum Islam di Indonesia?
2. Batasan Masalah
Untuk lebih terarahnya dan supaya tidak terjadi suatu kesalah pahaman bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya dalam memahami tesis ini, maka penulis membatasi pembahasan tesis ini hanya mengenai konsep pemikiran Buya Hamka tentang „urf yang dijadikan sebagai dalil hukum Islam tinjauan khusus kedalam tafsir beliau “al-Azhar“ dan keberadaannya dalam pembaharuan hukum Islam di Indonesia.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan tesis ini adalah : a. Untuk mengetahui biografi dan pola fikir Buya Hamka sebagai seorang sososk
ulama otodidak kelahiran Minangkabau.
b. Bagaimana corak penafsiran Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar.
c. Untuk mendudukan pemikiran Buya Hamka tentang „urf sebagai salah satu
dalil dalam hukum Islam dan relevansinya dalam pembaharuan dan
perkembangan hukum Islam.
D. Kegunaan penelitian
Kegunaan dari penulisan tesis ini adalah:
a. Sebagai sumbangan pemikiran untuk para akademisi yang ingin mengetahui
„urf dan pemakaiannya sebagai dalil hukum Islam dan kaitannya sebagai upaya mengaplikasikannya dalam perkembangan hukum Islam di zaman sekarang.
b. Untuk memenuhi persyaratan guna mencapai gelar Magister Hukum Islam pada Program Studi Hukum Islam, Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Bukittinggi.
E. Penjelasan Judul
Pemikiran :Bahan untuk dipikirkan atau dipertimbangkan ;
23Buya Hamka :Prof.DR.H.Abdul Karim Amrullah, pemilik nama Pena Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia yang dilahirkan di Sungai batang, Tanjung raya, 17 Februari 1908. Tanjung raya. Kab.Agam.
‘Urf
:Merupakan istilah Islam yang dimaknai sebagai adat kebiasaan. „uruf terbagi menjadi ucapan atau perbuatan dilihat dari segi objeknya, menjadi umum atau khusus, dari segi cakupanya menjadi sah atau rusak dari segi keabsahannya menurut syari‟at.
24Tujuan akhir dari penetapan sebuah hukum yang diletakkan Syâri‟ yang
23 https://Kbbi.web.id/pemikiran .html
24 https;//id.m.wikipedia.org)wiki) Urf
mempunyai satu sasaran utama yaitu untuk memberikan kemaslahatan bagi hamba-Nya baik di dunia dan di akhirat Relevansi :Keterangan yang dijadikan bukti atau alasan suatu
kebenaran terutama berdasarkan ayat Al-quran, atau dalil bisa juga berarti bukti kuat yang mendukung argumentasi seseorang. Atau petunjuk atau tanda bukti dari suatu kebenaran , karena untuk menentukan bahwa, sesuatu itu benar , dapat dipercayai dan diyakini perlu ada bukti yang sah dan akurat, sehingga kebenaran dan keyakinan itu dapat ditegakkan, sekaligus memberantas keragu-raguan dan rasa was-was di hati.
25Hukum Islam :Peraturan dan ketentuan yg berkenaan dng kehidupan berdasarkan Alquran dan hadis; hukum syarak.
26Jadi yang penulis maksud dengan judul penulis di atas adalah pemikiran- pemikiran Buya Hamka yang terkait dengan‟urf serta relevansi atau hubungannya dengan pembaharuan hukum Islam di Indonesia.
F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Berdasarkan tempatnya, jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research),
27yakni segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Studi pustaka tidak hanya sekedar membaca dan mencatat literatur
25http://rieyfasweety.blogspot.com/2011/08/pengertian-dalil-dan-macam-macamnya.html
26https://www.kamusbesar.com/hukum-islam
27Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian, (Malang: UIN-MALIKI PRESS, 2010), h. 11
atau buku-buku sebagaimana yang sering dipahami banyak orang selama ini.
Namun juga serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.
28Teknik penelitian menggunakan kualitatif, dan sifat penelitian ini adalah analisis eksploratoris dan pola pikir deduktif.
2. Sumber Data
Agar dalam pembahasan tesis ini nantinya bisa dipertanggungjawabkan dan relevan dengan permasalahan yang diangkat, maka penulis membutuhkan data yang berisi data tentang tinjauan konsep „urf dan hal-hal terkait tentangnya, sebagai berikut:
a) Sumber Data Primer
1) Ensiklopedi Hukum Islam, Abdul Azis Dahlan… {et al}
2) Tafsir al-Azhar, Prof.DR.Hamka
3) Islam dan Adat Minangkabau oleh Prof.DR.Hamka Datuk Indomo 4) Fiqh al-Sunnah oleh Sayyid Sabiq
5) Ilmu Ushul Fiqh, Prof. Abdul Wahhab Khalaf b) Sumber Data Sekunder
1) Dasar-dasar Filosofis Hukum Islam olehDr. Busyro. M.Ag 2) Ayahku oleh Prof.Dr.Hamka
3) Pandangan Hidup Muslim oleh Prof.Dr.Hamka 3. Teknik pengumpulan data
28Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004), h. 3
Oleh karena penelitian ini adalah penelitian pustaka, maka pengumpulan data akan dilakukan dengan jalan penelusuran bahan bacaan, mulai dari membaca, mencatat dan menginventarisasi beberapa sumber data yang telah diperoleh tersebut, yang kemudian diolah dan klasifikasi sesuai dengan kebutuhan penelitian.
Selain itu penulis juga memanfaatkan perpustakaan untuk memperlancar penelitian dalam mengumpulkan dokumen yang diperlukan, selanjutnya penulis berusaha mengelompokkan dan menyeleksi serta membandingkan bahan-bahan yang berkaitan dengan penulisan penelitian.
4. Teknik Pengolahan Data
Setelah semua data yang diperlukan terkumpulkan, maka peneliti menggunakan teknik berikut ini untuk mengolah data:
a. Editing, yaitu kegiatan memeriksa atau meneliti data yang telah diperoleh untuk menjamin apakah data tersebut dapat dipertanggungawabkan kebenarannya atau tidak.
b. Organizing, yaitu mengatur dan menyusun bagian-bagian sehingga seluruhnya menjadi suatu kesatuan yang teratur.
5. Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif eksplotaris, yang akan menyelidiki kemudian memaparkan suatu objek pengetahuan yang masih kurang atau bahkan tidak ada data kajian pada objek tersebut.
29
29 Masruhan, Metode Penelitian Hukum, (Surabaya: Hilal Pustaka, 2013), h. 47.
Dimana dalam penelitian ini akan digali dasar dan dalil yang digunakan dalam perumusan konsep pemikiran Buya Hamka tentang „urf dalam Tafsir al- Azhar.
G. Sistematika Penelitian
Agar pembahasan dalam tesis ini lebih terarah kepada tercapainya tujuan yang ada, maka penulis membuat sistematika sebagai berikut:
Bab Pertama berisi pendahuluan. Bab ini berfungsi sebagai pola umum yang menggambarkan seluruh bahasan tesis ini yang di dalamnya mencakup latar belakang masalah, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab Kedua berisi tinjauan teori sumber perumusan hukum Islam. Bab ini terdiri dari pengertian sumber dan dalil hukum Islam, sumber dan dalil hukum yang disepakati dan sumber dan dalil hukum yang tidak disepakati.
Bab Ketiga berisi tinjauan teori Uruf. Bab ini terdiri dari pengertian „Uruf dan objek kajiannya, macam-macam „Uruf, cara penetapan „Uruf dalam perkembangan „Uruf.
Bab Empat berisi konsep „Uruf Menurut Para Ulama Salaf dan khalaf, ulama kontemporer dan Konsep „Uruf Menurut Buya Hamka
Bab Kelima bab ini berisi tinjauan Konsep „Uruf dalam Konsep Pemikiran Buya Hamka sebagai dalil hukum Islam dan Aplikasinya dalam Tafsir al-Azhar.
Bab Keenam adalah penutup, berisi tentang kesimpulan dan saran.
BAB II
HAMKA
A. Riwayat Hidup Buya Hamka dan Pendidikannya
Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Buya Hamka, lahir di Sungai Batang, Maninjau Sumatera Barat pada hari Ahad, tanggal 17 Februari 1908 M/13 Muharram 1326 H. Buya Hamka berasal dari kalangan keluarga yang taat agama. Ayahnya adalah Haji Abdul Karim Amrullah atau sering disebut Haji Rasul bin Syekh Muhammad Amarullah bin Tuanku Abdullah Saleh. Haji Rasul merupakan salah seorang ulama yang pernah mendalami agama di Mekah, ia juga merupakan pelopor kebangkitan kaum muda dan tokoh Muhammadiyah di Minangkabau, sedangkan ibunya bernama Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria (w.
1934). Dari geneologis ini maka dapat diketahui bahwa ia berasal dari keturunan yang taat beragama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaharu Islam di Minangkabau pada akhir abad XVIII dan pada awal abad XIX. Ia lahir dalam struktur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal. Oleh karena itu, dalam silsilah Minangkabau, ia berasal dari suku Tanjung, sebagaimana suku ibunya.
30Sejak kecil, Hamka menerima dasar-dasar agama dan membaca al- Qur‟an langsung dari ayahnya. Ketika 6 tahun tepatnya pada tahun 1914, ia dibawa ayahnya ke Padang Panjang. Pada usia 7 tahun, ia kemudian
30Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 15-18
dimasukkan ke sekolah desa yang hanya dienyamnya selama 3 tahun, karena kenakalannya ia dikeluarkan dari sekolah. Pengetahuan agama, banyak ia peroleh dengan belajar sendiri (autodidak). Tidak hanya ilmu agama, Hamka juga seorang autodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat.
31Ketika usia Hamka mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan dan mengembangkan Sumatera Thawalib di Padang Panjang, ditempat itulah Hamka mempelajari ilmu agama dan mendalami ilmu bahasa arab. Sumatera Thawalib adalah sebuah sekolah dan perguruan tinggi ynag mengusahakan dan memajukan macam- macam pengetahuan berkaitan dengan islam yang membawa kebaikan dan kemajuan dunia akhirat. Awalnya Sumatera Thawalib adalah sebuah orgnisasi atau perkumpulan murid-murid atau pelajar mengji di Surau Jembatan Besi Padang Panjang dan Surau Parabek Bukittingi, Sumatera Barat. Namun dalam perkembangannya, Sumatera Thawalib bergerak dalam bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah dan perguruan yang mengubah pengajian surau menjadi sekolah berkelas.
32Secara formal, pendidikan yang ditempuh Hamka tidaklah tinggi. Pada usia 8-15 tahun, ia mulai belajar agama di sekolah Dinniyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan Parabek. Diantara gurunya adalah syekh Ibrahim musa parabek, Engku Mudo Abdul Hamid, Sutan Marajo dan Zainuddin Labay El-Yunus. Keadaan Padang Panjang saat itu ramai dengan
31Hamka, Kenang-kenangan Hidup, (Jakarta: Bulan Bintang, 1974), h. 46
32Badiatul Roziqin, 101 Jejak Tokoh Islam Indonesia, (Yogyakarta: e-Nusantara, 2009), h. 53
penuntut ilmu agama islam, dibawah pimpinan ayahnya sendiri. Pelaksanaan pendidikan pada waktu masih bersifat tradisional dengan menggunakan sistem halaqah.
33Pada tahun 1916, sistem klasikal baru diperkenalkan di Sumatera Thawalib Jembatan Besi. Hanya saja, pada saat itu sistem klasikal yang diperkenalkan belum memiliki bangku, meja, kapur dan papan tulis. Materi pendidikan masih berorientasi pada pengajian kitab-kitab klasik, seperti kitab nahwu, sharaf, manthiq, bayan, fiqh, dan yang sejenisnya. Pendekatan pendidikan dilakukan dengan menekankan kepada aspek hafalan. Pada waktu itu, sistem hafalan merupakan cara yang paling efektif bagi pelaksanaan pendidikan.
34Meskipun kepadanya diajarkan membaca dan menulis huruf Arab dan Latin, akan tetapi ada yang lebih diutamakan yaitu mempelajari dengan membaca kitab-kitab Arab klasik dengan standar buku-buku pelajaran sekolah agama di Mesir. Pendekatan pelaksanaan pendidikan tersebut tidak diiringi dengan belajar menulis secara maksimal. Akibatnya banyak di antara teman- teman Hamka yang fasih membaca kitab, akan tetapi tidak dapat menulis dengan baik. Meskipun tidak puas dengan sistem pendidikan waktu itu, namun ia tetap mengikutinya dengan seksama. Di antara metode yang dipergunakan guru-gurunya, hanya metode pendidikan yang digunakan oleh Engku Zainuddin Labay el-Yunusi yang menarik hatinya. Pendekatan yang dilakukan
33 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, …, h. 21
34 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, …, h. 21
Engku Zainuddin bukan hanya mengajar (transfer of knowledge), akan tetapi juga melakukan proses mendidik (transformation of value).
35Melalui Diniyah School Padang Panjang yang didirikannya, ia telah memperkenalkan bentuk lembaga pendidikan Islam modern dengan menyusun kurikulum pendidikan yang lebih sistematis, memperkenalkan sistem pendidikan klasikal dengan menyediakan kursi dan bangku tempat duduk siswa, menggunakan buku-buku di luar kitab standar, serta memberikan ilmu- ilmu umum seperti, matematika, bahasa, sejarah, dan ilmu bumi.
36Rajin membaca telah membuat Hamka semakin kurang puas dengan pelaksanaan pendidikan yang ada. Kegelisahan intelektual yang dialaminya itu telah menyebabkan ia berhasrat untuk merantau guna menambah wawasannya.
Oleh karenanya, di usia yang sangat muda Hamka sudah melalang buana.
Tatkala usianya masih 16 tahun, tepatnya pada tahun 1924, ia sudah meninggalkan Minangkabau menuju Jawa, Yogyakarta. Ia tinggal bersama adik ayahnya, Ja‟far Amrullah. Di sini Hamka belajar dengan Ki Bagus Hadikusumo, R.M. Suryopranoto, H. Fachruddin, HOS Cokroaminoto, Mirza Wali Ahmad Baiq, A. Hasan Bandung, Muhammad Natsir, dan A.R St.
Mansur.
37Di Yogyakarta Hamka mulai berkenalan dengan Serikat Islam (SI).
Ide-ide pergerakan ini banyak mempengaruhi pembentukan pemikiran Hamka tentang Islam sebagai suatu yang hidup dan dinamis. Hamka mulai melihat
35 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, …, h. 22
36 Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka Tentang Pendidikan Islam, …, h. 22
37M. Dawan Rahardjo, Intelektual Inteligensi dan Perilaku Politik Bangsa, (Bandung:
Mizan, 1993), h. 201-202
perbedaan yang demikian nyata antara Islam yang hidup di Minangkabau, yang terkesan statis, dengan Islam yang hidup di Yogyakarta, yang bersifat dinamis.
38Di Yogyakarta inilah mulai berkembang dinamika pemikiran Islam Hamka. Perjalanan ilmiahnya berlanjut ke Pekalongan, dan belajar dengan iparnya, AR. St. Mansur, seorang tokoh Muhammadiyah. Hamka banyak belajar tentang Islam dan juga politik. Di sini pula Hamka mulai berkenalan dengan ide pembaharuan Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida yang berupaya mendobrak kebekuan umat. Rihlah ilmiah yang dilakukan Hamka ke pulau Jawa selama kurang lebih setahun ini sudah cukup mewarnai wawasannya tentang dinamika dan universalitas Islam. Dengan bekal tersebut, Hamka kembali pulang ke Maninjau (pada tahun 1925) dengan membawa semangat baru tentang Islam.
39Ia kembali ke Sumatera Barat bersama AR. St.
Mansur, di tempat tersebut, AR. St. Mansur menjadi mubaligh dan penyebar Muhammadiyah, sejak saat itu Hamka menjadi pengiringnya dalam setiap kegiatan kemuhammadiyahan.
40Berbekal pengetahuan yang telah diperolehnya, dan dengan maksud ingin memperkenalkan semangat modernis tentang wawasan Islam, ia pun membuka kursus pidato di Padang Panjang. Hasil kumpulan pidato ini kemudian ia cetak dalam sebuah buku dengan judul Khatib al-Ummah. Selain
38A. Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam, (Jakarta: Amzah, 2009), h. 101
39 A. Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam, …, h. 101
40Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 2
itu, Hamka banyak menulis pada majalah seruan Islam, dan menjadi koresponden di harian Pelita Andalas. Hamka juga diminta untuk membantu pada harian Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah di Yogyakarta. Berkat kepiawaian Hamka dalam menulis, akhirnya ia diangkat sebagai pemimpin majalah Kemajuan Zaman.
41Dua tahun setelah kembalinya dari Jawa (1927), Hamka pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan ibadah haji itu ia memanfaatkan untuk memperluas pergaulan dan bekerja. Selama enam bulan ia bekerja di bidang percetakan di Mekah. Sekembalinya dari Mekah, ia tidak langsung pulang ke Minangkabau, akan tetapi singgah di Medan untuk beberapa waktu lamanya. Di Medan inilah peran Hamka sebagai intelektual mulai terbentuk. Hal tersebut bisa diketahui dari kesaksian Rusydi Hamka, salah seorang puteranya, “Bagi Buya, Medan adalah sebuah kota yang penuh kenangan. Dari kota ini ia mulai melangkahkan kakinya menjadi seorang pengarang yang melahirkan sejumlah novel dan buku-buku agama, falsafah, tasawuf, dan lain-lain. Di sini pula ia memperoleh sukses sebagai wartawan dengan pedoman masyarakat. Tapi di sini pula, ia mengalami kejatuhan yang amat menyakitkan, hingga bekas-bekas luka yang membuat ia meninggalkan kota ini menjadi salah satu pupuk yang menumbuhkan pribadinya di belakang hari.”
42
41Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, (Jakarta: Gema Islami, 2006), h. 62
42 Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, …, h. 62
Di Medan ia mendapatkan tawaran dari Haji Asbiran Ya‟kub dan Muhammad Rasmi, bekas sekretaris Muhammadiyah Bengkalis untuk memimpin majalah mingguan pedoman masyarakat. Meskipun mendapatkan banyak rintangan dan kritikan, sampai tahun 1983 peredaran majalah ini berkembang cukup pesat, bahkan oplahnya mencapai 4000 eksemplar setiap penerbitannya. Namun ketika Jepang datang, kondisinya jadi lain. Pedoman Masyarakat dibredel, aktifitas masyarakat diawasi, dan bendera merah putih dilarang dikibarkan. Kebijakan jepang yang merugikan tersebut tidak membuat perhatiannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa luntur, terutama melalui dunia jurnalistik. Pada masa pendudukan Jepang, ia masih sempat menerbitkan majalah Semangat Islam. Namun kehadiran majalah ini tidak bisa menggantikan kedudukan majalah Pedoman Masyarakat yang telah melekat di hati rakyat. Di tengah-tengah kekecewaan masa terhadap kebijakan Jepang, ia memperoleh kedudukan istimewa dari pemerintah Jepang sebagai anggota Syu Sangi Kai atau Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 1944.
Sikap kompromistis dan kedudukannya sebagai “anak emas” Jepang telah menyebabkan Hamka terkucil, dibenci dan dipandang sinis oleh masyarakat.
Kondisi yang tidak menguntungkan ini membuatnya meninggalkan Medan dan kembali ke Padang Panjang pada tahun 1945.
43Seolah tidak puas dengan berbagai upaya pembaharuan pendidikan yang telah dilakukannya di Minangkabau, ia mendirikan sekolah dengan nama Tabligh School. Sekolah ini didirikan untuk mencetak mubaligh Islam dengan
43 Herry Mohammad, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, …, h. 62
lama pendidikan dua tahun. Akan tetapi, sekolah ini tidak bertahan lama karena masalah operasional, Hamka ditugaskan oleh Muhammadiyah ke Sulawesi Selatan dan baru pada kongres Muhammadiyah ke-11 yang digelar di Maninjau, maka diputuskan untuk melanjutkan sekolah Tabligh School ini dengan mengganti nama menjadi Kulliyatul Mubalighin dengan lama belajar 3 tahun. Tujuan lembaga ini pun tidak jauh berbeda dengan tabligh school, yaitu menyiapkan mubaligh yang sanggup melaksanakan dakwah dan menjadi khatib, mempersiapkan guru sekolah menengah tinggi tsanawiyah, serta membentuk kader-kader Muhammadiyah dan pimpinan masyarakat pada umumnya.
44Hamka merupakan koresponden di banyak majalah dan seorang yang amat produktif berkarya. Hal ini sesuai dengan penilaian Andries Teew, seorang guru besar di Universitas Leiden, dalam bukunya yang berjudul Modern Indonesia Literature. Menurutnya, sebagai pengarang, Hamka adalah penulis yang paling banyak tulisannya, yaitu tulisan yang bernafaskan Islam berbentuk sastra.
45Untuk menghargai jasa-jasanya dalam penyiaran Islam dengan bahasa Indonesia yang indah itu, maka pada permulaan tahun 1959 majelis tinggi Universitas al-Azhar, Kairo memberikan gelar Ustadziyah Fakkhiriyah (Doktor Honoris Causa) kepada Hamka. Sejak itu ia menyandang title “Dr” di pangkal namanya. Kemudian pada tanggal 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Kebangsaan
44 A. Susanto, Pemikiran Pendidikan Islam, …, h. 102
45Sides Sudyarto DS, Realisme Religius, dalam Hamka di Mata Hati Umat, (Jakarta:
Sinar Harapan, 1984), h. 139
Malaysia pada bidang kesusastraan, serta gelar professor dari Universitas Prof.
Dr. Moestopo. Kesemuanya ini diperoleh berkat ketekunannya yang tanpa mengenal putus asa untuk senantiasa memperdalam ilmu pengetahuan.
46Secara kronologis karir Hamka yang tersirat dalam perjalanan hidupnya adalah sebagai berikut:
1. Pada tahun 1927 Hamka memulai karirnya sebagai guru agama di perkebunan Medan dan guru agama di Padang Panjang.
2. Pendiri sekolah tabligh school, yang kemudian diganti namanya menjadi kulliyatul mubalighin (1934-1935). Tujuan lembaga ini adalah menyiapkan mubaligh yang sanggup melaksanakan dakwa dan menjadi khatib, mempersiapkan guru sekolah menengah tinggi tsanawiyah, serta membentuk kader-kader Muhammadiyah dan pimpinan masyarakat pada umumnya.
3. Ketua barisan pertahanan nasional Indonesia (1947), konstituante melalui partai Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam pilihan raya umum (1955).
4. Koresponden pelbagai majalah, seperti Pelita Andalas (Medan), Seruan Islam (Tanjung Pura), Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah (Yogyakarta), Pemandangan dan Harian Merdeka (Jakarta).
5. Pembicara kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi (1930) dan kongres Muhammadiyah ke-20 (1931).
6. Anggota tetap majelis konsul Muhammadiyah Sumatera Tengah (1934)
46Hamka, Tasawuf Modern, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1987), h. 19
7. Pendiri majalah al-Mahdi (Makasar, 1934).
8. Pemimpin majalah pedoman masyarakat (Medan, 1936).
9. Menjabat anggota Syu Sangi Kai atau Dewan Perwakilan Rakyat pada pemerintahan Jepang (1944).
10. Ketua konsul Muhammadiyah Sumatera Timur (1949).
11. Pendiri majalah Panji Masyarakat (1959), majalah ini dibredel oleh pemerintah karena dengan tajam mengkritik konsep demokrasi terpimpin dan memaparkan pelanggaran-pelanggaran konstitusi yang telah dilakukan Sukarno. Majalah ini diterbitkan kembali pada pemerintahan Soeharto.
12. Memenuhi undangan pemerintah Amerika (1952), anggota komisi kebudayaan di Muangthai (1953), menghadiri peringatan mangkatnya Budha ke-2500 di Burma pada tahun (1954), dilantik sebagai pengajar di Universitas Islam Jakarta pada tahun 1957-1958, dilantik menjadi rector perguruan tinggi Islam dan professor Universitas Mustapa, Jakarta.
Menghadiri konferensi Islam di Lahore (1958), menghadiri konferensi Negara-negara Islam di Rabat (1968), mukhtamar masjid di Makah (1976), seminar tentang Islam dan peradaban di Kuala Lumpur, menghadiri peringatan 100 tahun Muhammad Iqbal di Lahore dan konferensi ulama di Kairo (1977), badan pertimbangan kebudayaan kementerian PP dan K, guru besar perguruan tinggi Islam di Universitas Islam di Makasar.
13. Departemen Agama pada masa KH. Abdul Wahid Hasyim, penasehat
kementerian agama, ketua dewan kurator PTIQ.
14. Imam masjid Agung Kebayoran Baru Jakarta, yang kemudian namanya diganti oleh Rektor Universitas al-Azhar Mesir, Syekh Muhammad Syaltut menjadi Mesjid Agung al-Azhar. Dalam perkembangannya al-Azhar adalah pelopor sistem pendidikan Islam modern yang punya cabang di berbagai kota dan daerah, serta menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah modern berbasis Islam. Lewat mimbarnya di al-Azhar, Hamka melancarkan kritik-kritiknya terhadap demokrasi terpimpin yang sedang digalakkan oleh Sukarno pasca dekrit presiden tahun 1959. Karena dianggap berbahaya, Hamka pun dipenjarakan Sukarno pada tahun 1964.
Ia baru dibebaskan setelah Sukarno runtuh dan orde baru lahir, tahun 1967.
Tetapi selama di penjara itu, Hamka berhasil menyelesaikan sebuah karya monumental, tafsir al-Azhar 30 Juz.
15. Ketua MUI tahun 1975-1981, Buya Hamka, dipilih secara aklamasi dan tidak ada calon lain yang diajukan untuk menjabat sebagai ketua umum dewan pimpinan MUI. Ia dipilih dalam satu musyawarah, baik oleh ulama maupun pejabat.
47Namun di tengah tugasnya ia mundur dari jabatannya karena berseberangan prinsip dengan pemerintah yang ada.
Dua bulan setelah Hamka mengundurkan diri sebagai ketua umum MUI, beliau masuk rumah sakit. Setelah kurang lebih satu minggu dirawat di rumah sakit pusat Pertamina, tepat pada tanggal 24 Juli 1981 ajal menjemputnya untuk kembali menghadap ke hadirat-Nya dalam usia 73
47Rusydi Hamka, Hamka di Mata Hati Umat, (Jakarta: Sinar Harapan, 1984), h. 55
tahun.
48Buya Hamka bukan saja sebagai pujangga, wartawan, ulama, dan budayawan, tetapi juga seorang pemikir pendidikan yang pemikirannya masih relevan dan dapat digunakan pada zaman sekarang, itu semua dapat dilihat dari karya-karya peninggalan beliau.
B. Karya-karya Buya Hamka
Sebagai seseorang yang berpikiran maju, Hamka tidak hanya merefleksikan kemerdekaan melalui berbagai mimbar dalam ceramah agama, tetapi ia juga menuangkannya dalam berbagai macam karyanya berbentuk tulisan. Orientasi pemikirannya meliputi berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, tasawuf, filsafat, pendidikan Islam, sejarah Islam, fiqh, sastra dan tafsir. Sebagai penulis yang sangat produktif, Hamka menulis puluhan buku yang tidak kurang dari 103 buku. Beberapa di antara karya-karyanya adalah sebagai berikut:
1. Tasawuf modern (1983), pada awalnya, karyanya ini merupakan kumpulan artikel yang dimuat dalam majalah Pedoman Masyarakat antara tahun 1937-1938. Karena tuntutan masyarakat, kumpulan artikel tersebut kemudian dibukukan. Dalam karya monumentalnya ini, ia memaparkan pembahasannya ke dalam XII bab. Buku ini diawali dengan penjelasan mengenai tasawuf. Kemudian secara berurutan dipaparkannya pula pendapat para ilmuwan tentang makna kebahagiaan, bahagia dan agama, bahagia dan utama, kesehatan jiwa dan badan, harta benda dan bahagia,
48Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 230
sifat qona‟ah, kebahagiaan yang dirasakan Rasulullah, hubungan ridho dengan keindahan alam, tangga bahagia, celaka dan munajat kepada Allah.
Karyanya yang lain yang berbicara mengenai tasawuf adalah “tasawuf:
perkembangan dan pemurniannya”. Buku ini adalah gabungan dari dua karya yang pernah ia tulis yaitu, Perkembangan Tasawuf dari Abad ke Abad dan Mengembalikan Tasawuf pada Pangkalnya.
2. Lembaga Budi (1983). Buku ini ditulis pada tahun 1939 yang terdiri dari XI bab. Pembicaraannya meliputi; budi yang mulia, sebab-sebab budi menjadi rusak, penyakit budi, budi orang yang memegang pemerintahan, budi mulia yang seyogyanya dimiliki oleh seorang raja (penguasa), budi pengusaha, budi saudagar, budi pekerja, budi ilmuwan, tinjauan budi, dan percikan pengalaman. Secara tersirat, buku ini juga berisi tentang pemikiran Hamka terhadap pendidikan Islam.
3. Filsafah Hidup (1950). Buku ini terdiri atas IX bab. Ia memulai buku ini
dengan pemaparan tentang makna kehidupan. Kemudian pada bab
berikutnya, dijelaskan pula tentang ilmu dan akal dalam berbagai aspek
dan dimensinya. Selanjutnya, ia mengetengahkan tentang undang-undang
alam atau sunatullah. Kemudian tentang adab kesopanan, baik secara
vertical maupun horizontal. Selanjutnya makna kesederhanaan dan
bagaimana cara hidup sederhana menurut Islam. Ia juga mengomentari
makna berani dan fungsinya bagi kehidupan manusia, selanjutnya tentang
keadilan dan berbagai dimensinya, makna persahabatan, serta bagaimana
mencari dan membina persahabatan. Buku ini diakhiri dengan
membicarakan Islam sebagai pembentuk hidup. Buku ini pun merupakan salah satu alat yang Hamka gunakan untuk mengekspresikan pemikirannya tentang pendidikan Islam.
4. Lembaga Hidup (1962). Dalam bukunya ini, ia mengembangkan pemikirannya dalam XII bab. Buku ini berisi tentang berbagai kewajiban manusia kepada Allah, kewajiban manusia secara sosial, hak atas harta benda, kewajiban dalam pandangan seorang muslim, kewajiban dalam keluarga, menuntut ilmu, bertanah air, Islam dan politik, al-Qur‟an untuk zaman modern, dan tulisan ini ditutup dengan memaparkan sosok Nabi Muhammad. Selain lembaga budi dan falsafah hidup, buku ini juga berisi tentang pendidikan secara tersirat.
5. Pelajaran Agama Islam (1952). Buku ini terbagi dalam IX bab.
Pembahasannya meliputi; manusia dan agama, dari sudut mana mencari Tuhan, dan rukun iman.
6. Tafsir al-Azhar juz 1-30. Tafsir al-Azhar merupakan karyanya yang paling monumental. Kitab ini mulai ditulis pada 1962. Sebagian besar isi tafsir ini diselesaikan di dalam penjara, yaitu ketika ia menjadi tahanan antara tahun 1964-1967.
7. Ayahku; Riwayat Hidup Dr. Haji Amarullah dan Perjuangan Kaum
Agama di Sumatera (1958). Buku ini berisi tentang kepribadian dan sepak
terjang ayahnya. Haji Abdul Karim Amarullah atau sering disebut Haji
Rosul. Hamka melukiskan perjuangan umat pada umumnya dan
khususnya perjuangan ayahnya, yang oleh Belanda diasingkan ke Sukabumi dan akhirnya meninggal dunia di Jakarta tanggal 2 Juni 1945.
498. Kenang-kenangan Hidup Jilid I-IV (1975). Buku ini merupakan upaya
untuk memaparkan secara rinci sejarah umat Islam, yaitu mulai dari Islam era awal, kemajuan, dan kemudian Islam pada abad pertengahan. Ia pun juga menjelaskan tentang sejarah masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.
9. Islam dan Adat Minangkabau (1984). Buku ini merupakan kritikannya terhadap adat dan mentalitas masyarakatnya yang dianggapnya tak sesuai dengan perkembangan zaman.
10. Sejarah umat Islam jilid I-IV (1975). Buku ini merupakan upaya untuk memaparkan secara rinci sejarah umat Islam, yaitu mulai dari Islam era awal, kemajuan, dan kemunduran Islam pada abad pertengahan. Ia pun juga menjelaskan tentang sejarah masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.
11. Studi Islam (1976), membicarakan tentang aspek politik dan kenegaraan Islam. Pembicaraannya meliputi, syariat Islam, studi Islam, dan perbandingan antara hak-hak azasi manusia deklarasi PBB dan Islam.
12. Kedudukan perempuan dalam Islam (1973). Buku ini membahas tentang perempuan sebagai makhluk Allah yang dimuliakan keberadaannya.
50
49Mif Baihaqi, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan; Dari Abendanon Hingga Islam Zarkasyi, (Bandung: Nuansa, 2007), h. 62
50Samsul Nizar, Memperbincangkan Dinamika Intelektual dan Pemikiran Hamka, …, h.
47