STUDI POPULASI DAN VEGETASI LUTUNG KELABU (Trachypithecus cristatus Raffles, 1821) di HUTAN MANGROVE
DESA PERCUT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN
SKRIPSI
OLEH :
JONATHAN SIBURIAN 121201036
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
STUDI POPULASI DAN VEGETASI LUTUNG KELABU (Trachypithecus cristatus Raffles, 1821) di HUTAN MANGROVE
DESA PERCUT KECAMATAN PERCUT SEI TUAN
SKRIPSI
OLEH :
JONATHAN SIBURIAN 121201036
Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan
Universitas Sumatera Utara
DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Studi Populasi dan Vegetasi Lutung Kelabu (Trachypithecus cristasus Raffles, 1821) di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Nama : Jonathan Siburian
NIM : 121201036
Departemen : Konservasi Sumberdaya Hutan
Disetujui oleh, Komisi Pembimbing :
Pindi Patana, S.Hut., M.Sc. Dr. Ir. Ma’rifatin Zahra, M.Si.
Ketua Anggota
Mengetahui,
Dr. Achmad Siddick Thoha, S.Hut., M.Si Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan
Tanggal lulus : 19 Agustus 2018
ABSTRAK
JONATHAN SIBURIAN : Studi Populasi dan Vegetasi Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Salah satu primata arboreal pemakan daun yang umum di Sumatera bagian timur adalah Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus). International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) menetapkan status Lutung Kelabu masuk kategori Near Treathened dan CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) ke dalam status Appendix II. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan populasi dan kondisi vegetasi hutan mangrove sebagai tempat tinggal alami Lutung Kelabu. Metode yang digunakan adalah metode titik terkonsentrasi untuk menghitung populasi dan metode analisis vegetasi pada tingkat pohon untuk menghitung indeks nilai penting serta tingkat keanekaragaman tumbuhan pada tingkat pohon.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 6 kelompok Lutung Kelabu dengan jumlah 122 individu dengan kepadatan 1,99 ind/ha. Pola penyebaran Lutung Kelabu berkelompok dengan indeks penyebaran 7,805. Pada vegetasi mangrove diperoleh Indeks Nilai Penting (INP) yang terbesar dimiliki jenis pohon Avicennia officinalis sebesar 149,56 % sedangkan yang terendah adalah Ficus spp sebesar 0,356 %. Indeks keanekaragaman Shannon - winner menunjukkan tingkat keanekaragaman rendah dengan nilai 1,76. Terdapat 5 jenis spesies pohon tidur yang digunakan oleh Lutung Kelabu serta 6 jenis spesies tanaman pakan.
Kata kunci : INP, jenis pakan, kepadatan, Lutung Kelabu
ABSTRACT
JONATHAN SIBURIAN: Study of Population and Vegetation of Silvered Leaf Monkey (Trachypithecus cristatus) in Mangrove Forest of Percut Village of Percut Sei Tuan Sub District
One of the common leaf-eating arboreal primates in eastern Sumatra is the protected Silvered Leaf Monkey (Trachypithecus cristatus) At the international level, IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) establishes the status of Silvered Leaf Monkey in the category of Near Treathened and CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) into the status of Appendix II. The aim of this research is to know the population and condition of mangrove forest vegetation as a natural residence of Silvered Leaf Monkey. The method used is a consonated point method for calculating population and vegetation analysis methods at the tree level to calculate the important value index as well as the level of plant diversity at the tree level.
The results showed there were 6 groups of Silvered Leaf Monkey with the number of 122 individuals with a density of 1.99 ind / ha. Spreading pattern of Silvered Leaf Monkey is grouped with spread index of 7,805. In mangrove vegetation, INP obtained the largest type of Avicennia officinalis tree of 149.56%
while the lowest is Ficus spp of 0.356%. The Shannon-winner diversity index shows low diversity with a value of 1.76. There are 5 species of sleeping tree species used by Silvered Leaf Monkey as well as 6 species of feed plant species.
Keywords: density, silvered leaf monkey, INP, type of feed
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di kota Medan pada tanggal 19 September 1994 dari Ayah M. Siburian dan Ibu N. Siregar. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Tahun 2006 Penulis lulus dari SD Negeri 112199 Kampung Padang – Pangkatan, kemudian pada tahun 2009 Penulis menyelesaikan pendidikan pertama di SMP Negeri 1 Bilah Hulu – Aeknabara dan pada tahun 2012 penulis menyelesaikan masa studi di SMA Negeri 3 Rantau Utara – RantauPrapat dan pada tahun yang sama diterima sebagai mahasiswa Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Nasional jalur tertulis (SNMPTN). Selama mengikuti kuliah, Penulis aktif dalam beberapa organisasi, yaitu Unit Kegiatan Mahasiswa Putera-Puteri Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (UKM PARINTAL FP-USU), Himpunan Mahasiswa Silva (HIMAS), dan Persekutuan Kristen Antar Universitas (PERKANTAS).
Penulis melakukan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) pada tahun 2015 di Hutan Mangrove Pulau Sembilan Kec. Pangkalan Susu. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan pada 01 Februari hingga 02 Maret di KPH Banyuwangi Barat Perum PERHUTANI Divisi Regional 2 Jawa Timur. Pada akhir masa studi penulis melaksanakan penelitian di bawah bimbingan Bapak Pindi Patana, S.Hut., M.Sc. dan Ibu Dr. Ir. Ma’rifatin Zahra, M.Si. dengan judul
“Studi Populasi dan Vegetasi Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus Raffles, 1821) di Hutan Mangrove desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan”.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, atas berkat dan anugerah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul
“Studi Populasi dan Vegetasi Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus Raffles, 1821) di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada kedua orangtua Penulis Bapak M. Siburian dan Ibu R. Siregar. Penulis juga menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Pindi Patana S.Hut., M.Sc.
dan Ibu Dr. Ir. Marifatin Zahra, M.Si., selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan berbagai masukan berharga kepada Penulis dalam penyelesaian proposal ini. Serta rekan-rekan PARINTAL FP-USU dan Mapala USU, Mahasiswa Fakultas Kehutanan USU, Saudara Dame Barus, serta pihak yang telah membantu Penulis menyelesaikan skripsi ini
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan baik segi materi maupun aturan penulisan. Oleh karena itu diharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca demi penyempurnaan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap skripsi ini bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan upaya konservasi satwa liar di Indonesia.
DAFTAR ISI
Hal.
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR TABEL ... vii
PENDAHULUAN ... 1
Latar belakang ... 1
Tujuan penelitian ... 3
Kegunaan penelitian ... 3
TINJAUAN PUSTAKA ... 4
Klasifikasi ilmiah ... 4
Morfologi Lutung Kelabu ... 5
Perilaku Lutung Kelabu ... 6
Habitat Lutung Kelabu ... 7
Penyebaran Lutung Kelabu... 8
Status Konservasi... 8
Hutan Mangrove ... 9
METODE PENELITIAN ... 12
Waktu dan Tempat Penelitian ... 12
Alat dan Bahan Penelitian ... 12
Objek penelitian dan Data yang Dikumpulkan ... 12
Metode Penelitian ... 13
Populasi Lutung Kelabu ... 13
Analisis Vegetasi ... 13
Pengolahan Dan Analisis Data ... 15
Populasi Lutung Kelabu ... 15
Vegetasi Hutan Mangrove ... 16
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 18
Kondisi Umum Lokasi Penelitian ... 18
Populasi Lutung Kelabu ... 19
Pola Penyebaran Lutung Kelabu ... 21
Habitat Lutung Kelabu ... 23
Pohon Tidur ... 26
Jenis pakan ... 27
KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
Kesimpulan ... 30
Saran ... 30
DAFTAR PUSTAKA ... 31
DAFTAR GAMBAR
No. Hal.
1. Ordo Primata ... 4
2. Lokasi Penelitian di Hutan Mangrove Desa Percut ... 12
3. Metode Lingkaran ... 14
4. Kelompok Lutung Kelabu di pohon Sonneratia caseolaris ... 19
5. Bayi Lutung dengan induknya (a) dan Lutung remaja (b) ... 20
6. Peta sebaran lokasi penemuan Lutung Kelabu ... 21
7. Pinggiran sungai yang mengelilingi hutan mangrove Percut... 24
8. Bunga Rhizophora mucronata (a) daun Exocaria agllocha (b) pohon Avicennia marina (c) akar Sonneratia caseolaris (d) ... 25
9. Lutung tidur di atas pohon Avicennia Alba (a) dan pohon Rhizophora apiculata (b) ... 27
10. Lutung Kelabu memakan daun Rizhophora apiculata (a) jeruju hitam (Acanthus ilicifolius) (b) buah Sonneratia caseolaris (c) dan daun Rhizophora mucronata (d) ... 29
DAFTAR TABEL
No. Hal.
1. Populasi Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di Hutan
Mangrove Desa Percut ... 13 2. Tally sheet Analisis vegetasi Hutan Mangrove Desa Percut ... 14 3. Kelompok Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di Hutan
Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan ... 20 4. Ukuran populasi Lutung Kelabu berdasarkan pengamatan pada titik
terkonsentrasi di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan
Percut Sei Tuan ... 22 5. Indeks Nilai Penting Tumbuhan Tingkat Pohon di Hutan Mangrove
Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan... 23 6. Jenis Pohon Tidur Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus)
di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan ... 27 7. Jenis pakan Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus)
di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan ... 28
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Primata merupakan salah satu kekayaan dari keanekaragaman hayati bernilai sangat tinggi yang dimiliki oleh Indonesia. Terdapat 40 jenis satwa primata yang ada di Indonesia, yang merupakan bagian dari 195 jenis satwa primata dunia yang telah diketahui, 24 diantaranya merupakan jenis endemik (Supriatna dan Wahyono, 2000). Namun keberadaan satwa tersebut masih banyak yang tidak diketahui oleh masyarakat oleh karena itu kerap terjadi konflik antara masyarakat dengan satwa liar karena menganggap tidak mempunyai nilai atau karena bersifat merugikan. Data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Utara, ternyata hampir 90 persen kawasan hutan mangrove di Pantai Timur Sumatera Utara mengalami kerusakan. Kepala BLH Sumatera Utara mengatakan salah satu faktor terbesar kerusakan hutan mangrove adalah perubahan lahan perkebunan dan tambak perikanan masyarakat (Karokaro, 2013)
Kerusakan ekosistem hutan mangrove Sumatera Utara yang paling tinggi berada di Wilayah Pantai Timur Sumatera Utara, yaitu Kota Tanjung Balai (Kabupaten Asahan) yang mencapai 12.900 Ha (89,6%) dari 14.400 Ha.
Kemudian Kecamatan Medan Belawan (Kota Medan) sebesar 150 Ha (71,8%) dari 250 Ha, Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai 12.400 Ha (62%) dari 20.000 Ha, dan Kabupaten Langkat 25.300 Ha (60%) dari 35.300 Ha.
Tetapi kerusakan hutan mangrove di Kabupaten Labuhan Batu hanya 500 Ha (29,4%) dari 1.700 Ha. Sedangkan di wilayah Pantai Barat Sumatera Utara, kerusakan ekosistem hutan mangrove masih sangat kecil. Seperti di Kabupaten Tapanuli Tengah hanya 250 Ha (13,9%) dari 1.800 Ha, Kabupaten Mandailing
Natal dan Kabupaten Tapanuli Tengah sebesar 200 Ha (6,9%) dari 2.900 Ha, dan Kabupaten Nias dan Kabupaten Nias Selatan hanya 650 Ha (9,1%) dari 7.200 Ha.
Ekosistem hutan mangrove yang mengalami kerusakan di Kecamatan Medan Belawan seluas 150 Ha (71,8%) dari 250 Ha. Kerusakan ekosistem mangrove di Pesisir Pantai Timur Suatera Utara disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya pembukaan lahan untuk perkebunan rakyat, tambak ikan dan udang (Supriatna dan Wahyono, 2000).
Salah satu primata arboreal pemakan daun yang umum di Sumatera bagian timur adalah Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus). Pada tingkat internasional, IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) menetapkan status Lutung Kelabu masuk kategori Near Treathened dan CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild Fauna and Flora) ke dalam status Appendix II. Guna mencegah jumlah populasi Lutung Kelabu yang terus menurun di Hutan Mangrove Desa Percut, diperlukan pengelolaan yang tepat untuk mencegah kepunahannya oleh karena itu, dibutuhkan ketersediaan data populasi dan juga habitat Lutung Kelabu sebagai dasar penyusunan suatu standar pengelolaan untuk menjamin kelestarian populasi Lutung Kelabu di Hutan Mangrove Desa Percut.
Menurut Supriatna dan Wahyono (2000) habitat Lutung Kelabu telah berkurang. Berkurangnya habitat tersebut membuat Lutung Kelabu harus menempati sisa-sisa habitat yang masih ada di hutan mangrove. Hutan mangrove adalah salah satu ekosistem tempat hidup Primata seperti yang ada di Desa Percut Kecamatan Sei Tuan. Kawasan hutan mangrove adalah daerah perairan yang memiliki ekosistem produktif serta merupakan daerah peralihan antara lingkungan
terestrial dan lautan. Daerah ini umumnya ditumbuhi oleh jenis vegetasi yang khas berupa tumbuhan yang relatif toleran terhadap salinitas, karena pengaruh pasang surut air laut. Hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai yang dapat mengurangi dan mencegah terjadinya pengikisan daerah pantai. Hutan ini juga berperan dalam mendukung kehidupan fauna di daerah pesisir dan lautan.
Tujuan Penelitian
1. Memperkirakan kepadatan serta pola penyebaran Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) yang ada di kawasan hutan mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan.
2. Mendapatkan indeks nilai penting dan keanekaragaman jenis tumbuhan berupa pohon yang ada pada vegetasi hutan mangrove Desa Percut. Serta mendata jenis pohon tidur dan jenis pakan Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus).
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna sebagai referensi bagi masyarakat dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam upaya-upaya konservasi dan pelestarian satwa liar khususnya Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di hutan mangrove yang ada di Sumatera Utara maupun secara nasional.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Ilmiah
Satwa primata merupakan satu ordo tersendiri yang disebut dengan nama ordo primata yang termasuk manusia di dalamnya. Ordo primata terdiri dari dua subordo, yaitu Prosimii dan Anthropoidea (Gambar 1). Subordo Anthropoidea terbagi menjadi New World Monkey, Old World Monkey, Apes, dan manusia.
Lutung termasuk ke dalam grup Old World Monkey (Sajuthi, 1984). Ciri-ciri Old World Monkey adalah sebagai berikut : 1) Mempunyai ischial pads, 2) Mempunyai colon yang terbagi atas bagian ascending, transverse dan descending (adanya sigmoid flexure) dan 3) Tidak mempunyai appendix (Sajuthi, 1984).
Gambar 1. Ordo Primata
Sumber : www.ck12.org
Klasifikasi ilmiah Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus R.) berdasarkan IUCN red list of threatened species (2008) dikelompokkkan ke dalam Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Mamalia, Ordo Primata, Famili Cercopithecidae, Subfamili Colobinae, Genus Trachypithecus, Spesies Trachypithecus cristatus.
Morfologi Lutung Kelabu
Lutung Kelabu (Trachyphitecus cristatus) memiliki ciri-ciri muka berwarna hitam tanpa lingkaran putih di sekitar mata dan rambut diatas kepalanya meruncing dengan puncak ditengahnya. Seperti jenis Lutung lainnya, Lutung Kelabu memiliki ekor panjang berukuran sekitar 75 cm (Wikipedia, 2007).
Tangan dan kaki merupakan anggota badan yang prehensile yaitu yang digunakan untuk mencengkram dan memegang, tidak memiliki rambut dan umumnya berwarna hitam (Napier dan Napier, 1985). Lutung jantan dan betina hampir tidak dapat dibedakan hanya ada perbedaan yang jelas yaitu suatu bidang putih yang tidak beraturan dibagian panggul betina. Selain itu jantan berukuran lebih besar dibandingkan dengan betina. Betina memiliki bobot sekitar 89% dari tubuh bobot jantan (Bedore, 2005 dalam Prayogo, 2006).
Lutung Kelabu biasanya beranak satu, dengan masa kehamilan tujuh bulan.
Bayi Lutung Kelabu yang baru lahir akan berwarna jingga dengan tangan, muka dan kaki berwarna putih. Setelah berumur tiga bulan, rambut warna jingga ini akan berubah menjadi rambut tubuh berwarna Kelabu kehitaman seperti Lutung Kelabu dewasa. Lutung Kelabu dapat hidup hingga 20 tahun. Panjang badan Lutung Kelabu jantan berkisar dari 52,4 hingga 56,0 cm, sedangkan betina berukuran sekitar 46,5-49,6 cm. Keduanya baik jantan maupun betina memiliki ekor yang lebih panjang dari tubuhnya, kisaran panjang ekornya sekitar 63-84 cm.
Jantan memiliki bobot tubuh rata-rata 7,1 kg dan betina sekitar 6,2 kg. Individu yang lahir memiliki bobot badan 0,4 kg dan panjang tubuh 20 cm. Individu ini mencapai ukuran dewasa pada usisa sekitar lima tahun. Formulasi gigi Lutung Kelabu adalah 2:1:2:3 (Napier & Napier, 1967 dalam Prayogo, 2006).
Perilaku Lutung Kelabu
Perilaku satwa, termasuk primata dapat dikelompokkan atau dibagi ke dalam kategori-kategori yang didasarkan pada fungsinya yang meliputi perilaku pemeliharaan, peilaku pakan, orientasi dan navigasi dan beberapa perilaku sosial baik interspesifik maupun intraspesifik yang juga disebut sosio-biologi (Slater, 1990 dalam Setiawan, 1996).
Lutung Kelabu hidup di pohon (arboreal) dan aktif pada siang hari (diurnal). Pada saat petang hari mereka tidur di tepian sungai. Perilaku ini menurut pendapat para ahli akan memudahkan terhindar dari predator. Umumnya mereka sangat agresif dengan primata jenis lain dan berusaha mengusir jenis lain untuk menjauh dari pohon tidur atau pohon makan. Seperti yang terjadi di Taman Nasional Tanjung Puting, sekelompok Lutung jantan sebagai pemimpin kelompok, mengusir sekelompok bekantan (Nasalis larvatus) yang mendekati pohon tidurnya. Walupun bekantan badannya relatif lebih besar, namun tidak selincah Lutung Kelabu. Seperti halnya jenis Lutung lainnya, satwa ini menggunakan keempat anggota tubuhnya (quadropedal) saat melalui cabang pohon yang cukup besar, namun sering meloncat saat akan berpindah pohon.
Jelajah hariannya dapat menempuh jarak 300-600 meter sehari. Mereka mempunyai daerah teriitorialnya antara 5-20 hektar. Lutung Kelabu jantan sering mengeluarkan suara sebagai tanda bahaya (alarm) kepada anggota kelompoknya.
Suara ini juga dikeluarkan untuk memperlihatkan kekuatannya, khususnya jantan.
Selain itu suaranya yang keras patah-patah (ghek ghok...ghek ghok...) dan diulang berkali kali sering terdengar saat mengusir kelompok lain agar menjauh dari anggota kelompoknya (Supriatna dan Wahyono, 2000).
Lutung termasuk hewan siang (diurnal) dan sangat aktif pada pagi dan sore hari. Hewan ini hidup bergerombol antara 9-30 ekor terdiri dari satu Lutung jantan dewasa dan Lutung-lutung betina yang secara komunal membesarkan anak Lutung. Jantan dewasa melindungi kelompok dan wilayahnya dari Lutung-lutung lain. Lutung Kelabu jantan mampu melakukan teriakan keras yang diikuti lompatan. Perilaku ini sering ditemukan ketika dua kelompok saling bertemu sehingga konfrontasi antar kelompok tidak dapat dihindarkan (Nowalk dan Paradiso, 1983 dalam Setiawan, 1996). Lutung Kelabu betiana biasanya mempunyai satu anak setiap kali melahirkan dan saling bantu membesarkan anak- anak Lutung. Seringkali Lutung Kelabu betina bersifat sangat agresif ketika bertemu dengan Lutung Kelabu betina kelompok lain.
Habitat Lutung Kelabu
Habitat Lutung untuk hidup terutama adalah di hutan hujan. Namun kadang- kadang Lutung juga sering dijumpai di daerah perkebunan karet, hutan primer pegunungan atau hutan sekunder daerah perbukitan hingga 600 meter dpl (Nurwulan, 2002). Lutung Kelabu adalah hewan arboreal yaitu hewan yang hidup di atas pepohonan, sehingga Lutung Kelabu jarang meninggalkan pohon-pohon besar tempatnya tingggal secara alami. Kadang-kadang Lutung turun ke tanah, tetapi akan cepat-cepat kembali ke atas pohon jika merasa terancam. Menurut Yasuma dan Alikodra (1992), sebagai adaptasi hidup di pohon, hewan yang hidup jauh dari tanah dan diurnal, maka mata primata akan semakin bergeser ke bagian depan wajah agar dapat mengukur jarak, menyebabkan nilai indera pengelihatan semakin meningkat, namun indera penciumannya berkurang.
Penyebaran Lutung Kelabu
Penyebaran Lutung Kelabu terdapat di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, dan semenanjung Malaysia. Daerah sebaran Lutung Kelabu adalah hutan hujan tropis, hutan bakau, dan hutan-hutan sekitar pantai dan sungai di indocina, Thailand, Semenanjung Melayu, Pulau Sumatera, Pulau kalimantan, dan beberapa pulau kecil lainnya. Selain itu, Lutung juga dapat ditemui di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Gunung Arjuna, Pegunungan Hyang, Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Baluran, Pulau Sempu, dan Taman Nasional Merubetiri (Grehenson, 2008).
Status Konservasi
Lutung Kelabu adalah salah satu satwa liar yang belum masuk ke dalam satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa hal ini berbeda dengan kerabat dekatnya yaitu Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang ditetakan sebgai satwa yang dilindungi sesuai dengan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 733/Kpts- II/1999. Namun pada tahun 2018 berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P. 20/MENLHK/SETJEN/KUM. 1/6/2018 satwa ini telah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi. Secara internasional, CITES (Convention on International Trade in Endangered Spesies of Wild fauna and Flora) mengkategorikan ke dalam Appendix II (Suyanto et al., 2002). Sementara IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resource) menyatakan status konservasi Lutung Kelabu near threatened, artinya rentan terhadap gangguan dan dikhawatirkan akan punah apabila tidak dilakukan perlindungan dan pelestarian habitatnya.
Hutan Mangrove
Hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya di sepanjang sisi pulau yang terlindung dari angin (Nybakken 1988). Menurut LPP Mangrove (2008), mangrove adalah sebutan untuk sekelompok tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut pantai. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland atau juga hutan payau. Menurut Kusmana (1995) mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas di daerah pasang surut.
Menurut Nontji (1996) mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pantai-pantai yang datar. Biasanya di tempat yang tidak ada muara sungainya, luasan mangrovenya tipis, namun pada tempat yang mempunyai muara sungai besar dan delta yang aliran airnya banyak mengandung lumpur dan pasir, mangrove biasanya tumbuh luas. Mangrove merupakan ekosistem khas yang memiliki ciri-ciri yang unik. Adapun ciri-ciri ekosistem mangrove menurut Lembaga Pusat Penelitian (LPP) Mangrove (2008) sebagai berikut:
a) Ciri-ciri terpenting dari penampakan hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah :
1. Memiliki jenis pohon yang relatif sedikit
2. Memiliki akar tidak beraturan (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau (Rhizophora spp.), serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada pidada (Sonneratia spp.) dan pada api-api (Avicennia spp.)
3. Memiliki biji yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora
4. Memiliki lentisel pada bagian kulit pohon
b) Tempat tumbuh hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah :
1. Tanah tergenang air laut secara berkala, baik setiap harinya atau hanya tergenang pada saat pasang purnama
2. Menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat
3. Daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat
4. Airnya berkadar garam (bersalinitas), dari payau (2-22 ‰) hingga asin Mangrove mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon yang selalu berdaun. Keadaan lingkungan hutan mangrove tumbuh, mempunyai faktor-faktor yang ekstrim seperti salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus menerus. Menurut LPP Mangrove (2008) meskipun mangrove toleran terhadap tanah bergaram (halophytes), namun mangrove dapat tumbuh dengan baik di air tawar.
Kecamatan Percut Sei Tuan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara yeng memiliki potensi ekosistem mangrove yang besar dengan luas sekitar 3.817 ha dengan peruntukan/status Hutan Suaka Alam (HSA) seluas 2.580,60 ha dan Hutan Penggunaan lain (HPL) seluas 1.236,40 ha (BPS, 2005). Salah satu desa di Kecamatan Percut Sei Tuan adalah Desa Percut, memiliki luas 10,63 km2, berjarak 20,00 km dari ibukota kecamatan, terdiri dari 19 dusun, 48 RT dan 19 RW. Kepadatan penduduk Desa Percut terbilang tinggi
yakni 20 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk 14.168 jiwa yang terdiri dari 7.218 laki-laki dan 6.942 perempuan. Topografi lahan baik lahan sawah maupun darat rata-rata datar dengan kemiringan kurang dari 5% dan berjenis tanah alluvial, kondisi tanah di Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki bentuk wilayah yang landai (dataran rendah) dengan ketinggian 0-20 meter di atas permukaan laut. Suhu udara Kecamatan Percut Sei Tuan berkisar 270C hingga 330C dan kelembaban udara 75%-80%. Sedangkan untuk curah hujan 2330 mm/tahun dengan bulan kering kurang dari 3 bulan dan digolongkan tipe D1 Oldeman (BPS, 2015).
12
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan November 2017 sampai Maret 2018. Penelitian ini dilakukan di Hutan Mangrove Desa Percut, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, lokasi penelitian tersaji pada Gambar 2.
Gambar 2. Peta lokasi penelitian di Hutan Mangrove Desa Percut Alat dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa perahu, binokuler, perangkat lunak Arc View 10.1, GPS Garmin 62s, kamera DSRL Nikon D5300 lensa Nikkor 55-300 mm, pita ukur 50 m, alat penghitung, buku panduan pengenalan mangrove di Indonesia.
Objek Penelitian dan Data yang Dikumpulkan
Objek penelitian yang diamati dalam penelitian ini adalah Lutung Kelabu (Trachyphitecus cristatus) dengan spesifikasi populasi dan vegetasi yang ada di
hutan mangrove Desa Percut. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung di lapangan. Sedangkan data sekunder diperoleh dari studi literatur, wawancara dengan masyarakat setempat, jurnal, serta penelitian sebelumnya.
Metode Penelitian Populasi Lutung Kelabu
Metode pengumpulan data populasi Lutung Kelabu dilakukan dengan sensus langsung menggunakan metode terkonsentrasi (concentration count).
Alikodra (2002) mengatakan metode ini cocok digunakan untuk satwa liar yang hidup berkelompok. Pengamatan dilakukan pada pukul 15.00-18.00 WIB, waktu ini ditentukan berdasarkan hasil survei awal kapan waktu berkumpul Lutung Kelabu serta kondisi pasang surut air laut yang memungkinkan pengamatan dengan perahu dapat dilakukan. Lokasi pengamatan ditentukan berdasarkan survei awal lokasi kumpul Lutung Kelabu seperti tempat tidur dan beristirahat. Beberapa satwaliar termasuk spesies primata mempunyai tempat yang khas dan dan selalu dipertahankan dengan aktif seperti tempat tidur dan istirahat disebut teritori.
Pengambilan data berupa jumlah kelompok, jumlah individu, dan koordinat lokasi, seperti terlihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Tally sheet Populasi Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Kelompok Jumlah (ekor) Koordinat
Latitude (N) Longitude (E) I
II
Analisis vegetasi
Untuk mengetahui kondisi habitat dilakukan dengan cara analisis vegetasi sehingga dapat mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan pada daerah
yang digunakan Lutung Kelabu. Analisis dilakukan hanya pada tingkat pohon saja hal ini dikarekan Lutung lebih banyak beraktivitas tidur, istirahat, makan dll pada tumbuhan tingkat pohon (d ≥ 10 cm). Metode yang digunakan adalah metode lingkaran dengan diameter 20 meter. Berdasarkan Davies (1931) dalam Mueller dan Ellenberg (1974), penggunaan sampling area berbentuk lingkaran mempunyai tingkat keanekaragaman tumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan area berbentuk bujur sangkar dengan luas yang sama. Jumlah plot yang digunakan sebanyak 159 plot yang ditentukan secara sistematis, seperti yang ada pada Gambar 3.
Gambar 3. Metode lingkaran
Identifikasi jenis pakan dan pohon tidur dilakukan bersamaan saat pengamatan Lutung Kelabu. Pengambilan data berupa jenis yang dimakan dan bagian pohon yang dimakan sementara untuk data pohon tidur dicatat jenis pohon, luas tajuk, diameter, dan tinggi pohon, seperti yang tersaji pada Tabel 2 dibawah.
Tabel 2. Tally sheet Analisis vegetasi Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Plot No.
Spesies
Nama lokal Nama latin Jumlah individu 1
2 dst...
Pengolahan dan Analisis Data Populasi Lutung Kelabu
Jumlah populasi merupakan jumlah indivudu terbanyak pada seluruh ulangan pengamatan dengan rumus :
Pi = Xi terbesar P = ΣPi
Keterangan :
Pi = ukuran populasi pada pengulangan pada lokasi konsentrasi ke–i (ind) P = total seluruh populasi pada areal penelitian (ind)
Xi = jumlah individu yang dijumpai pada pengamatan ke-i (ind)
Kepadatan populasi menunjukkan jumlah individu terhadap seluruh areal penelitian. Kepadatan populasi diperoleh dengan rumus :
Keterangan :
D = kepadatan (ind/ha)
A = luas areal pengamatan (ha)
Pola penyebaran ditentukan dengan rumus Ludwig & Reynolds (1988), berdasarkan indeks penyebaran (IP), yaitu:
̅
Keterangan :
S2 = Keragaman jenis
X = rata-rata jumlah individu pada lokasi pengamatan Xi = jumlah individu pada lokasi terkonsentrasi ke-i N = jumlah plot pengamatan
Jika hasil dari indeks penyebaran (IP) = 1, maka pola penyebaran populasi berbentuk acak, jika IP < dari 1 (mendekati 0) pola penyebaran berbentuk seragam, dan apabila nilai IP > 1 maka pola penyebaran berkelompok.
Vegetasi Hutan Mangrove
Data hasil analisis vegetasi selanjutnya digunakan untuk mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) setiap jenis pohon. INP digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya. Soerianegara dan Indrawan (1998) menjelaskan INP dihitung berdasarkan penjumlahan nilai kerapatan relatif (KR), frekuensi relatif (FR), dominansi relatif (DR).
Kerapatan (K) = jumlah individu suatu jenis luas petak contoh
Kerapatan relatif (KR) = kerapatan suatu jenis x 100%
kerapatan seluruh jenis
Frekuensi (F) = jumlah petak contoh ditemukan jenis ke-i jumlah seluruh plot dalam unit contoh Frekuensi Relatif (FR) = frekuensi suatu jenis x 100%
frekuensi seluruh jenis Dominansi (D) = dominansi suatu jenis
luas petak contoh
Dominasi relatif (DR) = dominansi suatu jenis x 100%
dominansi seluruh jenis Indeks Nilai Penting(INP) = KR + FR + DR
Komponen biotik (tumbuhan) dianalisis dengan menggunakan indeks Shannon-Wiener untuk mengetahui keanekaragaman jenis di setiap tingkat tumbuhan (Magurran, 1998).
H’ = -∑ ni/N ln ni/N Keterangan :
H’ = indeks Shannon-wiener ni = jumlah individu ke-i N = jumlah total individu
Barbour et al. (1987) menyatakan bahwa nilai H’ berkisar antara 0-7, dengan kriteria 0-2 tergolong rendah, 2-3 tergolong sedang, dan < 3 tergolong tinggi.
18
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini pada dasarnya adalah dua buah pulau yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka di sebelah utara yang merupakan bagian dari pesisir Pantai Timur Kabupaten Deli Serdang yang mempunyai karakter substrat lumpur yang dalam. Pantai Timur Kabupaten Deli Serdang termasuk ke dalam zona intertidal karena dipengaruhi pasang surut dan pasang tinggi selama dua kali dalam satu hari (Webster dkk, 2003). Pasang naik dimulai pukul 00.00-06.00 WIB dan 12.00 – 18.00 WIB, sedangkan pasang surut terjadi pada pukul 06.00 – 12.00 dan 18.00 – 00.00 WIB (Easytide, 2018). Tinggi rendahnya air berubah-ubah setiap harinya hal ini karena diperngaruhi oleh gravitasi bulan. Berdasarkan citra satelit luas tutupan lahan pulau tersebut hampir 50 % sudah berupa tambak terutama wilayah yang dekat dengan daratan utama. Kegiatan pengambilan kayu dari hutan juga terjadi hampir setiap hari oleh masyarakat untuk digunakan sebagai kayu bakar atau dijual kepada pengumpul. Jenis yang paling banyak ditebang adalah tumbuhan yang berasal dari suku Rhizophoraceae seperti Bruguiera sexangula, Ceriops tagal, dan Rhizophora apiculata yang memamang mempunyai kayu yang sangat kuat dan bagus dijadikan arang karena kadar karbon yang sangat tinggi.
Pulau ini mempunyai ketinggian antara 0-10 mdpl, kelembapan relatif 75- 80%, suhu 27-33 0C, curah hujan 2330 mm/thn dengan bulan kering kurang dari 3 bulan dan digolongkan Tipe D1 Oldeman (BPS, 2015). Selain menjadi habitat alami Lutung Kelabu pulau ini juga menjadi rumah monyet ekor panjang (Macaca fasicularis), burung migran seperti cerek pasir besar (Charadrius leschenaultii),
cerek pasir mongolia (Charadrius mongolus), Gajahan Penggala (Numenius phaeopus), Gajahan Besar (Numenius arquata), Gajahan Timur (Numenius madagascariensis), reptil seperti biawak dan ular, kepiting bakau, udang-udangan serta berbagai macam jenis ikan (Harahap, 2013).
Populasi Lutung Kelabu
Populasi Lutung yang ditemukan pada penelitian ini berjumlah 6 kelompok dengan jumlah individu 122 ekor. Jumlah individu setiap kelompok terdiri dari 16-25 ekor (Gambar 5) hal ini sesuai jika dibandingkan dengan jumlah individu per kelompok Lutung jawa (Trachpithecus auratus) 6-23 ekor (Rowe, 1996).
Gambar 4. Kelompok Lutung Kelabu di pohon Sonneratia caseolaris Sensus Lutung Kelabu ini dilakukan di tempat istirahat dan makan Lutung Kelabu yang berada di pinggir sungai. Luas areal pengamatan adalah daerah berhutan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon hasil suksesi dari lahan bekas tambak. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan ditemukan bahwa Lutung tidak ditemukan di areal yang tertutup rapat hal ini diduga untuk menghindari serangan pemangsa seperti ular atau biawak. Luas areal pengamatan 61,3 ha yang terbagi dalam dua blok di kanan dan kiri sungai. Kelompok Lutung Kelabu yang ditemukan tersaji pada Tabel 3.
Tabel 3. Kelompok Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Kelompok Jumlah
(ekor)
Koordinat
Latitude Longitude
Kelompok 1 16 3°43’8.42”N 98°47’2.79”E
Kelompok 2 20 3°43’13.22”N 98°46’55.23”E
Kelompok 3 24 3°43’15.97”N 98°46’53.45”E
Kelompok 4 25 3°43’18.12”N 98°46’49.26”E
Kelompok 5 20 3°43’9.79”N 98°46’38.22”E
Kelompok 6 17 3°43’32.40”N 98°46’54.14”E
Total 122
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan kepadatan populasi yaitu 1,99 ind/ha. Nilai kepadatan ini diperolah dari hasil pembagian jumlah Lutung Kelabu dengan luas areal penelitian. Kelompok Lutung terdiri atas Lutung dewasa dengan umur berkisar 8-20 tahun, jantan dewasa memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari betina dewasa umumnya dijumpai berada di dekat anak (mengasuh anak).
Remaja adalah individu yang berumur antara 4-8 tahun, memiliki ukuran badan sedang, sudah mencapai kematangan sexual sampai mencapai usia reproduksi optimum. Anak adalah individu dengan kisaran 0-4 tahun, memiliki ukuran badan yang kecil dan masih berada dalam asuhan oleh induknya (sangat tergantung induk) sampai mencapai usia kematangan seksual (Hidayatullah, 2015) seperti yang terlihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Bayi Lutung dengan induknya (a) dan Lutung remaja (b)
a b
Pola Penyebaran Lutung Kelabu
Lokasi penelitian ini dibagi oleh sungai yang berdekatan dengan Laut Pantai Timur Pulau Sumatera. Pada dasarnya kedua blok ini adalah dua buah pulau yang mempunyai karakteristik vegetasi yang sama yang ditumbuhi oleh tumbuhan mangrove. Apabila pasang naik lebar sungai ini dapat sampai 50 meter dan bila surut bisa sampai 5 meter. Alikodra (1990) menyebutkan pola persebaran bagi satwaliar merupakan strategi untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Pola persebaran suatu jenis satwa dapat ditelaah secara horizontal maupun vertikal, yang dapat berbentuk acak, seragam atau mengelompok. Menurut Tarumingkeng (1994) pola sebaran spasial horizontal dapat ditentukan berdasarkan jumlah individu/contoh yang ditemukan pada suatu luasan dan waktu tertentu. Lokasi pertemuan kelompok Lutung tersaji pada Gambar 6.
Gambar 6. Peta sebaran lokasi penemuan Lutung Kelabu
Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui pola penyebaran Lutung berkelompok dengan nilai indeks penyebaran yaitu 7,805(jika IP > 1
mengelompok). Pola penyebaran Lutung Kelabu yang berkelompok ini menunjukkan satwa ini memiliki kecenderungan untuk berkumpul pada satu titik.
Lokasi yang paling banyak ditemukan Lutung Kelabu adalah daerah pinggiran sungai hal ini diduga karena Lutung Kelabu dapat memperoleh lebih banyak cahaya matahari daripada daerah yang rapat serta bisa memperoleh banyak makanan seperti pohon Sonneratia caseolaris, Rizhopora spp, yang banyak tumbuh di daerah pinggir sungai serta Acanthus ilicifolius yang tumbuh pada areal terbuka karena merupakan jenis yang intoleran. Lokasi yang dekat dengan sungai juga berfungsi sebagai sumber air untuk minum selain itu, hal ini juga memungkinkan Lutung untuk berpindah tempat dari blok satu ke blok lain, ditemukan bahwa Lutung dapat berenang dengan baik. Sesuai dengan pendapat Hutchinson (1953) bahwa pola spasil atau penyebaran suatu komunitas dipengaruhi oleh fakto-faktor vektorial yakni gaya eksternal lingkungan seperti angin, pergerakan air, dan cahaya serta faktor intrinsik yakni reproduksi, sosial dan koaktif. Ukuran populasi Lutung Kelabu yang tersebar di Hutan Mangrove Desa Percut tersaji pada Tabel 4.
Tabel 4. Ukuran populasi Lutung Kelabu berdasarkan pengamatan pada titik terkonsentrasi di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
Titik Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3 Hari ke-4 Xi(individu)
T1 20 0 20 0 20
T2 11 11 0 25 11
T3 17 1 0 0 17
T4 21 14 24 0 24
T5 14 20 0 13 20
T6 10 11 0 16 16
Total 122
Keterangan : Xi adalah jumlah individu dalam 1 kelompok berdasarkan jumlah individu yang terbesar dari seluruh ulangan pada satu titik terkonsentrasi ke-i
Habitat Lutung Kelabu
Keberadaan Lutung Kelabu di habitat alaminya tidak lepas dari keberadaan tumbuhan yang terdapat pada habitatnya di hutan mangrove Desa Percut, yang dikelilingi oleh sungai (Gambar 7) di bagian timur, barat dan selatan serta di bagian utara berbatasan langsung dengan laut yang secara berkala mengalami pasang surut. Oleh karena itu diperlukan identifikasi jenis tumbuhan agar diketahui tingkat keanekaragamannya. Vegetasi merupakan komponen habitat penting bagi satwaliar yang digunakan sebagai pakan atau cover. Berdasarkan hasil analisis vegetasi yang dilakukan terdapat 17 spesies mangrove (Gambar 8) yang ditemukan dengan tingkat pertumbuhan berupa pohon dengan tingkat keanekaragaman yang rendah yaitu 1,76, seperti yang tersaji pada Tabel 5.
Tabel 5. Indeks Nilai Penting Tumbuhan Tingkat Pohon di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
No Jenis Pohon KR
(%)
FR (%)
DR (%)
INP (%)
H’
1 Avicennia alba BI. 1,560 2,457 2,123 6,141 2 Avicennia marina (Forsk.) Vierh. 8,012 8,353 6,051 22,417 3 Avicennia officinalis L. 42,351 27,764 73,444 143,56 4 Bruguiera cylindrica (L.) BI. 0,156 0,737 0,049 0,942 5 Bruguiera parviflora (Roxb.)
W.& A. Ex Griff.
2,393 6,879 1,421 10,694 6 Bruguiera sexangula (Lour.) Poir. 6,295 13,267 2,875 22,438 7 Ceriops tagal (Perr.) C.B.Rob. 0,416 0,982 0,124 1,523 1,76 8 Excoearia agallocha L. 8,584 15,233 5,497 29,315
9 Ficus spp. 0,0520 0,245 0,058 0,356
10 Lumnitzera littorea (Jack) Voigt 0,520 1,719 0,312 2,552 11 Rhizophora apiculata BI. 24,453 10,319 6,293 41,066 12 Rhizophora mucronata Lmk. 0,312 0,491 0,190 0,994 13 Rhizophora stylosa Griff. 0,156 0,737 0,097 0,990 14 Sonneratia alba J.E. Smith 0,104 0,491 0,096 0,691 15 Sonneratia caseolaris (L.) Engl. 0,416 0,982 0,319 1,718 16 Sonneratia ovata Back. 4,058 8,845 1,028 13,931 17 Xylocarpus granatum Koen 0,156 0,491 0,015 0,663
Berdasarkan hasil penelitian dari 159 petak contoh dengan total luasan 5 Ha didapatkan bahwa indeks nilai penting yang tertinggi adalah Avicennia officinalis yaitu 143,56 % dan berbeda jauh dengan INP spesies yang lain hal ini menunjukkan Avicennia officinalis sangat mendominasi, sesuai dengan pernyataan MacNae (1986) dalam Noor et al. (2006) bahwa marga avicennia memiliki kemampuan toleransi terhadap kadar salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lain. Tingkat INP yang tinggi adalah parameter yang menunjukkan tingkat dominansi suatu spesies di dalam komunitas (Soegianto 1994 dalam Indrianto 2006).
Gambar 7. Pinggiran sungai yang mengelilingi hutan mangrove Percut Tumbuhan yang mempunyai INP yang tinggi menunjukkan tingkat adaptasi, reproduksi dan kompetisi yang lebih baik dibandingkan tanaman yang lain pada suatu areal tertentu (Soerinegara dan Indrawan, 1998). Hal ini terlihat dari nilai kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi relatif yang tinggi dari spesies Avicennia officinalis. Selain itu diduga tingkat eksploitasi terhadap Avicennia officinalis cukup rendah dibandingkan dengan spesies lain terutama marga Rhizophoraceae yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena terkenal kuat dan bagus dijadikan arang, bertolak belakang dengan spesies Avicennia officinalis yang kualitas kayunya tidak bagus dijadikan arang atau bahan bangunan. Kayu
bakau diketahui sangat bagus untuk dijadikan arang karena memiliki berat jenis yang tinggi, sifat arang sangat dipengaruhi oleh sifat kayu. Kayu dengan berat jenis tinggi akan menghasilkan arang dengan kadar karbon terikat dan nilai karbon yang tinggi (Sudrajat, 1983).
Gambar 8. Bunga Rhizophora mucronata (a) daun Exocaria agllocha (b) pohon Avicennia marina (c) akar Sonneratia caseolaris (d)
Jenis yang memiliki nilai INP terbesar kedua adalah Rhizophora apiculata yaitu 41,066 % namun memiliki FR yang lebih rendah dibandingkan Bruguiera sexangula 13,267 % dan Excoearia agallocha 15,233 %. Hal ini menunjukkan tingkat penyebarannya tidak merata di semua petak contoh hal ini dikarenakan sifat dari Rhizophora apiculata yang tumbuh secara berkelompok pada daerah pinggir yang berbatasan langsung dengan sungai yang selalu tergenang.
a b
c d
Sedangkan jenis yang mempunyai INP yang paling rendah adalah Ficus spp, sejatinya tidak termasuk dalam spesies mangrove namun ditemukan tumbuh pada bagian pinggir tambak hasil dari timbunan tanah galian diduga dibawa oleh burung atau satwa tertentu yang akhirnya tumbuh di tempat tersebut.
Keanekaragaman jenis tumbuhan dengan tingkat pohon pada kawasan ini sebesar 1,769 masuk ke dalam kategori rendah yang menunjukkan bahwa ada spesies yang terlalu mendominasi pada komunitas ini yaitu Avicennia officinalis dengan INP yang sangat tinggi dibandingkan dengan spesies lain. Nilai keanekaragaman yang semakin tinggi menunjukkan semakin stabil komunitas di suatu kawasan. Kestabilan ekosistem artinya sistem akan kembali ke keadaan yang semula setelah terjadi gangguan yang menyebabkan goncangan ekosistem tersebut. Suatu komunitas dikatakan stabil jika jumlah jenis yang ada relatif konstan sepanjang waktu (Indriyanto, 2006)
Pohon tidur
Pohon tidur adalah pohon yang dipakai untuk tidur oleh kelompok Lutung pada malam hari. Lutung tidur dipangkal percabangan. Betina tidur pada satu pohon dengan anaknya dari hasil pengamatan satu induk Lutung hanya merawat satu anak Lutung. Saat tidur ada Lutung yang tidur sendirian pada satu cabang dan ada yang bersama-sama. Alikodra (2002) menyatakan struktur vegetasi sangat menentukan peranannya sebagai pelindung, terutama ditentukan oleh bentuk tajuk dan percabangan. Pemilihan pohon tidur Lutung Kelabu di hutan mangrove Desa Percut dipengaruhi beberapa faktor seperti yang ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Jenis Pohon Tidur Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
No Jenis pohon Luas Tajuk (m2) Tinggi (m) Diameter (cm)
1 Avicennia alba BI. 22,89 5,3 29
2 Rhizophora apiculata BI. 50,24 6,5 25
3 Sonneratia caseolaris (L.) Engl. 28,26 7,2 22,2
4 Rhizophora mucronata Lmk. 38,46 6,5 23,5
5 Exocaria agallocha 42,98 9,7 28
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan Lutung Kelabu lebih banyak beraktivitas pada tumbuhan tingkat pohon (d ≥ 10 cm). Hal ini disebabkan tajuk pohon yang lebar sehingga memudahkan Lutung untuk bergelantungan, di saat siang yang terik Lutung juga terlindung dari panas radiasi matahari. Berdasarkan pengamatan ditemukan 5 jenis pohon (Gambar 9) yang mempunyai karakteristik tajuk pohon bersambungan dengan pohon lain, tajuk yang bersambungan memudahkan pergerakan dan melarikan diri saat merasa terganggu, dan merupakan pohon dengan keringgian 5,3 - 9,7 meter dan diameter 22,2 – 29 meter.
Gambar 9. Lutung tidur di atas pohon Avicennia Alba (a) dan pohon Rhizophora apiculata (b)
Jenis Pakan
Ketersediaan makanan adalah hal yang terpenting untuk makhluk hidup serta jaminan terhadap kelestarian Lutung Kelabu di alam. Supriatna dan Wahyono (2000) mencatat terdapat 66 jenis tumbuhan dan serangga. Pakan
a b
Lutung terdiri dari dedaunan baik muda atau tua, buah-buahan baik matang ataupun mentah, bunga kuncup bunga, dan larva serangga (Kool, 1993) dan menyukai daun yang masih muda atau berupa pucuk yang tersaji pada Tabel 7.
Tabel 7. Jenis pakan Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
No Jenis pakan Suku Bagian yang dimakan
1 Acanthus ilicifolius Acanthaceae Daun
2 Avicennia alba BI. Avicenniaceae Daun
3 Avicennia officinalis L. Avicenniaceae Daun 4 Rhizophora apiculata BI. Rhizophoraceae Daun 5 Rhizophora mucronata Lmk. Rhizophoraceae Daun
6 Sonneratia caseolaris (L.) Engl. Sonneratiaceae Daun, buah, bunga Berdasarkan hasil penelitian terdapat 6 jenis tumbuhan yang dimakan Lutung Kelabu, bagian yang paling utama dimakan adalah daun. Lutung cukup selektif dalam memilih makanannya, daun yang dimakan umumnya adalah bagian ujung daun, tidak semua bagian daun dimakan habis hal ini sesuai dengan pernyataan Written (1982) dalam Bismark (1993) menyebutkan Lutung merupakan pemakan daun dengan komposisi pakan berupa daun 50 %, buah 32 % dan 13 % sisanya berupa bagian tumbuhan lain dan serangga. Lutung Kelabu memakan beragam daun saat dia sedang makan hal ini diduga karena kadar tanin pohon mangrove yang tinggi, sehingga untuk dapat menetralisir kadar tanin yang tinggi di perutnya mereka memakan berbagai macam daun mangrove.
Salah satu jenis kesukaannya adalah jenis Acanthus ilicifolius atau jeruju hitam (Gambar 10) yang mudah sekali ditemui di kawasan ini karena ketersediaanya yang melimpah. Umumnya jenis pohon yang menjadi tempat tidur Lutung Kelabu juga merupakan pohon yang bisa dimakan. Menurut Colishaw dan Dunbar (2000) Lutung memperoleh energi dari daun yang dimakan yang tersedia secara melimpah tapi merupakan makanan berkualitas rendah karena hanya
sedikit nutrisi, oleh karena itu Lutung juga memakan bagian-bagian tanaman yang lain seperti buah dan bunga. Menurut Napier dan Napier (1985) seperti halnya marga colobine yang lain. Daun yang dikonsumsi umumnya daun muda yaitu tiga lembar pucuk di bagian ranting, selanjutnya bunga dan buah.
Gambar 10. Lutung Kelabu memakan daun Rizhophora apiculata (a) jeruju hitam (Acanthus ilicifolius) (b) buah Sonneratia caseolaris (c) dan daun Rhizophora mucronata
Daun, bunga, dan buah dapat diambil secara langsung dengan menggunakan mulut atau dengan cara memetiknya terlebih dahulu lalu dimasukkan ke dalam mulut. Daun dimakan satu persatu atau dengan cara menggabungkan dua atau lebih daun sekaligus untuk digigit, setiap gigitan dikunyah antara 10-30 kali (Prayogo, 2006).
a b
c d
30
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Jumlah populasi Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus) di hutan mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan yang ditemukan sebanyak 122 individu yang terbagi ke dalam 6 kelompok. Kepadatan populasi Lutung Kelabu adalah 1,99 individu/ha. Pola penyebaran Lutung Kelabu berkelompok dengan indeks penyebaran 7,805.
2. Hasil analisis vegetasi ditemukan 17 jenis pohon mangrove dengan Indeks nilai penting yang tertinggi adalah Avicennia officinalis sebesar 143,56 % dan yang terendah adalah Ficus spp sebesar 0,356 %. Indeks keanekaragaman Shanno-Winner menunjukkan tingkat keanekaragaman rendah dengan nilai 1,76. Terdapat 5 jenis spesies pohon tidur yang digunakan oleh Lutung Kelabu serta 6 jenis spesies tanaman pakan, bagian tanaman yang dimakan terdiri dari daun, buah, dan bunga.
Saran
Kawasan hutan mangrove Desa Percut Sei Tuan sebagai habitat alami Lutung Kelabu harus terus dijaga kelestariannya dan dimanfaatkan dengan melibatkan masyarakat sekitar. Salah satu upaya pelestarian habitat dan memperkenalkan kawasan ini adalah dengan melakukan reboisasi, pengembangan paket wisata yang ramah lingkungan seperti menggabungkan atraksi satwa serta pengembangan wisata kuliner yang sudah ada sebelumnya.
31
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, H.S. 2002. Pengelolaan Satwa Liar Jilid I. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Alikodra, H. S. 1990. Pengelolaan Satwaliar Jilid 1. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2005. “Kabupaten Deli Serdang dalam Angka”
https://deliserdangkab.bps.go.id. (diakses 19 September 2018).
Badan Pusat Statistik (BPS). 2015. “Kecamatan Percut Sei Tuan dalam Angka ”.
https://percutseituan.wordpress.com. (diakses 10 Agustus 2017).
Barbour, C.A., J.H. Burk &W. D. Pitt. 1987. Terrestrial PlantEcology. The Benjamin CunningsPublishing Company.
Bismark, M. 1993. Beberapa Aspek Ekologi Lutung (Presbytis cristata) di Suaka Marga Satwa Meru Betiri Jawa Timur. Lembaga Penelitian Hutan Departemen Pertanian. Bogor.
Cowlishaw, G. and R. Dunbar. 2000. Primate Couservation Biology. Chicago :Unv Chicago Pr.
Grehenson, G. 2008. Lutung Jawa Diperdagangkan Secara Ilegal.
http://bdh.fkt.ugm.ac.id. [15 Mei 2008].
Hidayatullah, R.R. (2015). Parameter Demografi dan Penggunaan Ruang Vertikal Lutung Jawa (Trachyphitecus auratus Geoffroy 1812) di Resort Tamanjaya Taman Nasional Ujung Kulon. Unpublished Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor IPB. Bogor.
Hutchinson GE, 1953. Proceedings of the academy of natural Sciences of Philadelphia. Vol. 105, pp1-12. Philadelphia
Indrianto, 2006. Ekologi Hutan. Bumi aksara. Jakarta
IUCN. 2008. The IUCN Red List of Treathened Spesies.
http://www.iucnredlist.org. (diakses 24 September 2018).
Karokaro, AS. 2013. Penelitian : Hutan Mangrove Sumatera Utara Rusak Parah.
http://www.mongabay.co.id (diakses 24 September 2018).
Kool KM. 1993. The diet and feeding behavior of the silver leaf monkey (Tranhypithecus auratus sondaicus) in Indonesia. International Journal of Primatology 14(5):667-700.
Kusmana, C. 1995. Manajemen Hutan Mangrove di Indonesia. Prosiding Simposium Penerapan Ekolabel di Hutan Produksi. Jakarta, 10-12 Agustus 1995.
LPP Mangrove. 2008. Ekosistem Mangrove di Indonesia. http:www.imred.org (24 September 2018).
Ludwig dan Reynold. 1988. Statistical Ecology. John Wiley and Sons; New York.
Magurran AE. 1998. Ecological Diversity and Its Measurement. New Jersey [US]:
Princetown University Press.
Mueller DD dan Ellenberg H. 1974. Aim and Methods of Vegetation Ecology.
New York : John Willey & Son.
Napier, J.R and P.H. Napier. 1985. The Natural History of The Primates. The MIT Press, Cambridge. Massachusetts.
Nontji, A. 1996. Laut Nusantara. Djamban. Jakarta.
Noor, Y.R., Khazali, M.W., Suryadiputra I.N.N., 2006. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Bogor. Indonesia.
Nurwulan, N. 2002. Pola pemberian pakan Lutung perak Kalimantan (Trachypithecus villosus) di Taman Margasatwa Ragunan. Laporan Magang. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia.
Jakarta
Prayogo, H. 2006. Kajian Tingkah Laku dan Analisis Pakan Lutung Perak (Trachypithecus cristatus) di Pusat Primata Schmutzer Taman Margasatwa Ragunan. Tesis. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rowe, N. 1996. The Pictorial Guide to The Living Primatas. Pogonias Press. New York.
Setiawan, K. 1996. Interaksi antara monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan Lutung (Presbytis cristata) di TN Baluran. FMIPA [skripsi]. Malang (ID): Universitas Brawijaya
Soerianegara I dan A Indrawan. 1998. Ekologi Hutan Indonesia. Laboraturium Ekologi. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor
Sudrajat, 1983. Pengaruh Bahan Baku, Jenis Perekat, Dan Tekanan Kempa Terhadap Kualitas Briket Arang. Laporan LPPPHH/FPRDC No. 165.
Bogor.
Sulistyadi E. 2013. Perilaku Lutung Jawa Trachypithecus auratus (E.Geoffroy,1812) Pada fragmen Habitat Terisolasi di TWA Gunung Pancar, Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor, Sekolah Pascasarjana.
Supriatna J dan Wahyono EH. 2000. Panduan lapangan primata Indonesia.
Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
Suyanto, A, M. Yoneda, I. Maryanto, Maharadatunkamsi and J. Sugardjito. 2002.
Checklist of The Mammals of Indonesia. 2nd Edition. LIPI-JICA. PHKA.
Bogor.
Tarumingkeng, R.C. 1994. Dinamika Populasi : Kajian Ekologi Kuantitatif.
Pustaka Sinar Harapan Universitas Kristen Krida Wacana. Jakarta. 284 hlm.
The United Kingdom Hydrographic Office Admiralty Easytide. 2018.
http://www.ukho.gov.uk/easytide/easytide/SelectPort.aspx. (diakses 23 Februari 2018).
Webster I.T., P.W. Ford, B.Robson, N. Margvelashvili, J. Parslow. 2003.
Conseptual models of the hydrodynamics, fine sediment dynamics, biogeochemistryand primary production in the Fitzroy Estuary. Draft Final Report For Coastal CRC Project CM-2 October 2003. CSIRO Land and Water GPO Box 1666, Canberra 2601. 53 p
Wikipedia. 2007. Lutung Kelabu, Melinjo, Sawi, Bayam dan Kangkung.
Http://www.wikipedia.com. [diakses 4 Januari 2008].
Yasuma, S. dan H.S. Alikodra. 1992. Mammal of Bukit Soeharto Protection Forest. The Tropical Forest Research Project. Spesial Publication No.1. 2nd Edition. Mulawarman University. Samarinda. Kalimantan Timur.
34
LAMPIRAN
Lampiran 1. Indeks Nilai Penting Tumbuhan Tingkat Pohon di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan
No Jenis Pohon Jpohon Jplot LBDS (m) K (ind/m2) KR (%) F FR (%) D DR (%) INP
1 Avicennia alba BI. 30 10 1.8558 0.0006 1.5609 0.0629 2.4570 3.71E-05 2.1238 6.1416
2 Avicennia marina (Forsk.) Vierh. 154 34 5.2877 0.00308 8.0125 0.2138 8.3538 0.000106 6.0510 22.4173 3 Avicennia officinalis L. 814 113 64.1790 0.01628 42.3517 0.7107 27.7641 0.001284 73.4443 143.5601 4 Bruguiera cylindrica (L.) BI. 3 3 0.0429 0.00006 0.1561 0.0189 0.7371 8.58E-07 0.0491 0.9423 5 Bruguiera parviflora (Roxb.) W.& A. Ex Griff. 46 28 1.2423 0.00092 2.3933 0.1761 6.8796 2.48E-05 1.4216 10.6946 6 Bruguiera sexangula (Lour.) Poir. 121 54 2.5129 0.00242 6.2955 0.3396 13.2678 5.03E-05 2.8756 22.4390 7 Ceriops tagal (Perr.) C.B.Rob. 8 4 0.1089 0.00016 0.4162 0.0252 0.9828 2.18E-06 0.1246 1.5237 8 Excoearia agallocha L. 165 62 4.8040 0.0033 8.5848 0.3899 15.2334 9.61E-05 5.4975 29.3157
9 Ficus spp. 1 1 0.0510 0.00002 0.0520 0.0063 0.2457 1.02E-06 0.0584 0.3561
10 Lumnitzera littorea (Jack) Voigt 10 7 0.2731 0.0002 0.5203 0.0440 1.7199 5.46E-06 0.3125 2.5527 11 Rhizophora apiculata BI. 470 42 5.4995 0.0094 24.4537 0.2642 10.3194 0.00011 6.2934 41.0665 12 Rhizophora mucronata Lmk. 6 2 0.1665 0.00012 0.3122 0.0126 0.4914 3.33E-06 0.1905 0.9941 13 Rhizophora stylosa Griff. 3 3 0.0854 0.00006 0.1561 0.0189 0.7371 1.71E-06 0.0977 0.9909 14 Sonneratia alba J.E. Smith 2 2 0.0840 0.00004 0.1041 0.0126 0.4914 1.68E-06 0.0961 0.6916 15 Sonneratia caseolaris (L.) Engl. 8 4 0.2796 0.00016 0.4162 0.0252 0.9828 5.59E-06 0.3199 1.7190 16 Sonneratia ovate Back. 78 36 0.8984 0.00156 4.0583 0.2264 8.8452 1.8E-05 1.0281 13.9316 17 Xylocarpus granatum Koen 3 2 0.0137 0.00006 0.1561 0.0126 0.4914 2.74E-07 0.0157 0.6631
Total 1922 87.3846 0.03844 2.5597 0.001748
Luas Petak Contoh (m2) 50000
Jumlah Plot (unit) 159
Lampiran 2. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan di Hutan Mangrove Desa Percut
No Nama Latin INP INP/tINP ln(INP/tINP) INP/tINP x ln(INP/tINP)
1 Avicennia alba BI. 6.1416 0.0205 -3.8887 -0.0796
2 Avicennia marina (Forsk.) Vierh. 22.4173 0.0747 -2.5939 -0.1938
3 Avicennia officinalis L. 143.5601 0.4785 -0.7370 -0.3527
4 Bruguiera cylindrica (L.) BI. 0.9423 0.0031 -5.7633 -0.0181
5 Bruguiera parviflora (Roxb.) W.& A. Ex Griff. 10.6946 0.0356 -3.3340 -0.1189
6 Bruguiera sexangula (Lour.) Poir. 22.4390 0.0748 -2.5930 -0.1939
7 Ceriops tagal (Perr.) C.B.Rob. 1.5237 0.0051 -5.2827 -0.0268
8 Excoearia agallocha L. 29.3157 0.0977 -2.3257 -0.2273
9 Ficus spp. 0.3561 0.0012 -6.7362 -0.0080
10 Lumnitzera littorea (Jack) Voigt 2.5527 0.0085 -4.7666 -0.0406
11 Rhizophora apiculata BI. 41.0665 0.1369 -1.9886 -0.2722
12 Rhizophora mucronata Lmk. 0.9941 0.0033 -5.7097 -0.0189
13 Rhizophora stylosa Griff. 0.9909 0.0033 -5.7129 -0.0189
14 Sonneratia alba J.E. Smith 0.6916 0.0023 -6.0725 -0.0140
15 Sonneratia caseolaris (L.) Engl. 1.7190 0.0057 -5.1621 -0.0296
16 Sonneratia ovata Back. 13.9316 0.0464 -3.0696 -0.1425
17 Xylocarpus granatum Koen 0.6631 0.0022 -6.1146 -0.0135
Total (t) 300.00 -1.7693 x (-1)
H' 1,7 (rendah)
Lampiran 3. Peta Penyebaran Lutung Kelabu di Hutan Mangrove Desa Percut Kecamatan Percut Sei Tuan