• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kata kunci : Pendidikan Kesehatan, Kepatuhan, Alat Pelindung Diri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Kata kunci : Pendidikan Kesehatan, Kepatuhan, Alat Pelindung Diri"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

P E N GA R U H P E MB E R IA N P EN D ID IK A N K ES E H AT A N T E NT A N G INFEKSI NOSOKOMIAL TERHADAP KEPATUHAN PENGGUNAAN ALAT

PELINDUNG DIRI (APD) PADA CLEANING SERVICE DI RS AISYIYAH BOJONEGORO

1Agung Widodo, 2Edy Yusuf

ABSTRAK

Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan. Infeksi terjadi karena interaksi antara mikroorganisme dengan pejamu rentan yang terjadi melalui kode transmisi kuman tertentu. Sumber penularan bisa melalui tangan petugas kesehatan, jarum injeksi, kateter, kasa pembalut atau perban dan karena penanganan yang kurang tepat dalam menangani luka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang Infeksi Nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS).

Desain penelitian ini eksperimental dengan pendekatan pra eksperimen, dengan populasi cleaning service (CS) sebanyak 37 orang diambil 34 responden sebagai sampel melalui simple random sampling. Pengolahan data dengan editing, coding, scoring dan tabulating serta analisis data dengan Wilcoxon sign rank test.

Hasil penelitian ini lebih dari sebagian responden yaitu 22 responden (64,71%) tidak patuh menggunakan APD dan lebih dari sebagian responden yaitu 26 responden (76,47%) patuh menggunakan APD serta didapatkan nilai signifikan 0,002 maka H

1

diterima.

Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2017 maka diharapkan Rumah Sakit diharapkan menetapkan kebijakan tentang penggunaan APD sehingga dapat memperbaiki proses pelaksanaan penggunaan APD yang belum maksimal.

Kata kunci : Pendidikan Kesehatan, Kepatuhan, Alat Pelindung Diri

(2)

LATAR BELAKANG

Infeksi nosokomial atau saat ini sering disebut Healthcare- associated Infections (HAIs) merupakan masalah penting di seluruh dunia dan menjadi isu yang menarik untuk diteliti, terutama tentang upaya pencegahan infeksi tersebut. Menurut definisi World Health Organization (WHO) (2010), HAIs adalah infeksi yang terjadi pada pasien dan tenaga medis di rumah sakit yang terjadi selama proses perawatan ataupun selama bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan (Darmadi, 2008).

Berdasarkan perkiraan WHO pada tahun 2012 terjadi 16000 kasus Hepatitis C, 66000 kasus Hepatitis B dan 1000 kasus HIV akibat tertusuk jarum yang terjadi pada tenaga kesehatan diseluruh dunia. Angka kejadian di 10 Rumah Sakit Umum Pendidikan di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 6-16% dengan rata-rata 9,8% pada tahun 2010. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Setjonegoro Kabupaten Wonosobo dengan menggunakan data sekunder tahun 2011 diperoleh hasil pada semester I sebesar 9,68 dan semester II prevalensi 19,71 per 1000 pasien rawat inap (Nugraheni R, 2012). Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2015 mulai membentuk Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dimana hal ini merupakan salah satu standar dalam akreditasi 2012 versi KARS, namun belum terdapat data jelas angka kejadian infeksi nosokomial yang terjadi. Laporan awal berkaitan dengan infeksi nosocomial yang sudah dikumpulkan Komite PPI yaitu laporan pajanan tertusuk jarum dimana terdapat 2 kejadian pada perawat dan 4 kejadian terjadi pada cleaning service.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Alsa (2011) diperoleh

hasil karyawan yang memiliki disiplin tinggi dalam menggunakan APD sebnyak 94 orang (84,68 %), karyawan yang memiliki kedisiplinan sedang dalam menggunakan APD sebanyak 17 orang (15,32%), dan tidak ada karyawan yang memiliki disiplin rendah dalam menggunkan APD.

Hasil survey pendahuluan di RS Aisyiyah Bojonegoro tanggal 25 Maret 2015 terhadap 11 orang pegawai cleaning service didapatkan hasil sebanyak 11 orang (100%) cuci tangan sesudah bekerja, 3 orang (27,3%) tidak memakai handscoon dan 7 orang (72,7%) menggunakan handscoon, 1 orang (9,1%) menggunakan celemek dan yang tidak menggunakan 10 orang (90,9%), 2 orang (19,2%) menggunakan masker dan 9 orang (81,8%) tidak memakai masker serta seluruhnya menggunakan alas kaki saat melakukan pekerjaan (100%).

Infeksi di rumah sakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat dari orang lain (cross infection) atau disebabkan oleh flora normal dari pasien itu sendiri (endogenous infection). Selain pasien, infeksi nosokomial ini juga dapat mengenai petugas rumah sakit yang berhubungan langsung dengan pasien maupun penunggu dan para pengunjung pasien (Bararah, 2009).

Peningkatan infeksi nosokomial berdampak pada lama hari dirawat dirumah sakit, kematian, komplikasi, dan biaya. Peneliti yang mengkaji tentang peningkatan biaya akibat infeksi nosokomial menyebutkan dampak HAIs menyebabkan tambahan biaya untuk setiap pasien.

Dampak infeksi nosokomial mengakibatkan Length of Stay (LOS) yang menjadi lebih panjang 1-6 hari hingga 18,2 hari. Peningkatan lama waktu perawatan berdampak pada penggunaan alat yang meningkat,

(3)

perawatan pasien penyakit berat meningkat, peningkatan beban kerja staf dan peningkatan sumber daya lainnya yang itu semua berdampak dalam manajemen rumah sakit (Rosenthal dkk, 2011 dalam Valendri YN, 2014). Bahkan lebih parah lagi, pasien bisa menderita kecacatan hingga meninggal (Kurniawati, 2013).

Upaya pencegahan infeksi nosokomial dilakukan terhadap pasien dan tenaga pelayanan kesehatan. Kewaspadaan standar tenaga pelayanan kesehatan adalah kebersihan tangan, penggunaan alat pelindung diri (APD), manajemen limbah dan benda tajam, manajemen lingkungan, penanganan linen, peralatan perawatan pasien, perlindungan kesehatan karyawan, penyuntikan yang aman, dan etika batuk. Tiga kunci pencegahan infeksi yang harus dipatuhi yakni imunisasi, kebersihan tangan dan penggunaan APD. Dukungan manajemen rumah sakit sangat penting untuk peningkatan kualitas dan memiliki hubungan positif terhadap upaya pencegahan terjadinya infeksi nosokomial. Dukungan tersebut melalui pendekatan budaya organisasi, kerjasama tim, dan manajemen mutu (Valendri, 2014).

Keberhasilan upaya pencegahan yang dilakukan oleh manajemen RS sangat dipengaruhi oleh ketaatan individu pada aturan yang berlaku atau lebih dikenal dengan istilah kepatuhan. Banyak penelitian yang menunjukkan rendahnya kepatuhan terhadap penggunaan APD.

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang Infeksi Nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri

(APD) pada Cleaning Service (CS) di RS Aisyiyah Bojonegoro tahun 2015.

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan kesehatan tentang Infeksi Nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di RS Aisyiyah Bojonegoro.

Desain penelitian

Desain penelitian adalah suartu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian.

Jenis desain yang digunakan adalah desain pra eksperimen yaitu suatu rancangan penelitian yang digunakan untuk mencari hubungan sebab akibat dengan adanya keterlibatan penelitian dalam melakukan manipulasi terhadap variabel bebas. Pendekatan yang digunakan adalah pra eksperimen yaitu rancangan pra pasca test dalam suatu kelompok (one group pra test- post tet design). Ciri dari penelitian ini adalah mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan satu kelompok subjek.

Subjek diobservasi sebelum dilakukan intervensi, kemudian diobservasi lagi setelah intervensi (Nursalam, 2008).

Pola : O1 X

O2

O = observasi X = perlakuan Kerangka Kerja

Kerangka kerja adalah pentahapan/langkah-langkah dalam aktifitas ilmiyah yang dilakukan dalam melakukan penelitian yang mencakup kegaiatan awal sampai akhir penelitian (Alimul, 2009).

(4)

3.1 Identifiasi Variabel

Variabel adalah suatu ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota suatu Sampel : Sebagian poplasi dari petugas Cleaning Service (CS) tahun 2017 di Rumah Sakit

Aisyiyah Bojonegoro dengan jumlah 34 responden

Populasi : seluruh petugas Cleaning Service (CS) tahun 2015 di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro dengan jumlah 37 orang

Sampling dengan teknik probability sampling yaitu simple random sampling

Desain penelitian : Eksperimental pra-test dan pasca-test

Pemberian pendidikan kesehatan kepada CS tentang infeksi nosokomial

Observasi pra tes penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Pengolahan data dengan editing, coding dan tabulating serta analisa data dengan Wilcoxon sign rank test

Intrepretasi hasil

Kesimpulan

Observasi pasca tes penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Gambar 3.1 Kerangka Kerja pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi

nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan APD pada CS di Rumah

Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2017.

(5)

Variabel independen

Variabel independen adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain (Nursalam, 2008) variabel independen pada penelitian ini adalah pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial.

Variabel dependen

Variabel dependen adalah variabel yang nilainya ditentukan variabel lain (Nursalam, 2008 ) variabel dependen pada penelitian ini adalah kepatuhan penggunaan APD.

Definisi Operasional

Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati (diukur) itulah merupakan kunci definisi operasional. Dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu obyek atau fenomena yang kemudian dapat diulang lagi oleh orang lain (Nursalam, 2008). Definisi operasional pada penelitian ini akan diuraikan dalam tabel dibawah ini : Tabel 3.1 Definisi Operasional Kerja Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang

Prosedur Infeksi nosokomial Terhadap Kepatuhan penggunaan APD pada CS di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2015.

Variabel Definisi

Operasional Parameter Alat ukur Skala Skor Variabel

independen : Pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial

Pemberian informasi tentang infeksi nosokomial berupa penyampaian materi yang berkaitan dengan infeksi

nosokomial kepada CS di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro

Materi pendidikan kesehatan : 1. Pengertian

Infeksi Nosokomial 2. Cara

penularan Infeksi Nosokomial 3. Kondisi-

kondisi yang mempermudah terjadinya Infeksi nosokomial 4. Penyebab

Infeksi Nosokomial 5. Cara

Pencegahan Infeksi Nosokomial

SAP dan leaflet tentang infeksi nosokomial

Kode : - Sebelum

diberikan : 1 - Sesudah

diberikan : 2

(6)

Variabel Definisi

Operasional Parameter Alat ukur Skala Skor Variabel

dependen : Kepatuhan penggunaan APD

Perilaku manusia yang taat terhadap aturan, perintah, prosedur, dan displin

alat pelindung diri untuk

cleaning service : 1. Sarung tangan 2. Masker 3. Celemek 4. Alas kaki

Observasi Nominal Kategori : 1. Patuh jika

responden menggunakan semua APD 2. Patuh jika

responden tidak

menggunakan salah satu semua APD Kode :

1 : Tidak Patuh 2 : Patuh

Sampling Desain Populasi

Populasi adalah setiap subjek (misalnya : pasien) yang memenuhi kreiteria yang ditetapkan (Nursalam, 2008) pada penelitian ini populasi adalah keseluruhan Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2015 berjumlah 37 orang.

Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2008).

Besar sampel adalah banyaknya anggota yang dijadikan sampel (Nursalam, 2008). Adapun perkiraan besar sampel dalam penelitian ini ditetapkan berdasarkan rumus sebagai berikut (Notoatmodjo, 2012) :

(d)

2

N 1 n N

 

Keterangan : n = Besar sampel

N = Besar Populasi d = Tingkat

signifikasi (d = 0,05)

37(0,05)

2

1 n 37

 

0,0925 1

n 37

 

1,0925 n  37

n = 33,86

n = 34 responden 3.1.1 Sampling

Sampling adalah proses menyeleksi populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam, 2008) pada penelitian ini menggunakan probability sampling dimana setiap subjek dalam populasi dipilih peneliti sesuai dengan persyaratan tertentu, dengan menggunakan teknik simple random sampling yaitu

(7)

pengambilan sampel sedemikian rupa sehingga setiap unit dasar atau individu mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel (Arikunto S, 2010).

3.1.2 Kriteria sampel

1) Kriteria inklusi adalah karakteristik umum subjek penelitian dari populasi yang terjangkau yang akan diteliti (Nursalam, 2008). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah CS yang bekerja di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro pada waktu penelitian dan bersedia menandatangani informed consent.

2) Kriteria eksklusi adalah

menghilangkan atau

mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena pelbagai sebab (Nursalam, 2008). Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah CS yang sedang mengambil cuti atau sakit pada waktu pengambilan data dilakukan.

Tekhnik analisa data

1) Pemeriksaan Data (Editing) adalah memeriksa data yang telah dikumpulkan baik berupa pertanyaan, kartu atau buku register. Yang dilakukan pada kegiatan memeriksa data yaitu menjumlah dan melakukan koreksi.

2) Pemberian kode (Coding) yaitu dengan memberikan kode pada variabel dependen untuk patuh diberi kode 2 dan tidak patuh diberi kode 1 pada saat pre test, kemudian pada post test, pemberian kode dilakukan dengan kode 2 untuk setelah diberikan dan kode 1 untuk sebelim diberikan.

3) Pentabulasian data (Tabulating) pada penelitian ini yaitu data yang telah terkumpul diperiksa ulang dengan tujuan untuk mengetahui kelengkapan dan kebenarannya, kemudian ditabulasi dan diprosentasekan dalam tabel distribusi frekuensi.

Dari pengolahan data kemudian dilakukan analisis data. Analisis data merupakan bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan dimana tujuan pokok penelitian adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan

penelitian dalam

mengungkapkan fenomena (Nursalam, 2008).

Dari pengolahan data hasil penelitian yang telah dilaksanakan, data kemudian dimasukkan dalam tabel distribusi yang dikonfirmasi dalam bentuk prosentase.

Setelah data terkumpul dan diberi penilaian kemudian dilakukan pengolahan data ke dalam suatu tabel deskriptif kemudian nilai diprosentase sesuai dengan rumus sebagai berikut :

100%

N x P  f

Keterangan : P = Prosentase f = Nilai yang diperoleh

N = Frekuensi total atau keseluruhan

Interpretasi data adalah sebagai berikut :

(1) 90%-100% : mayoritas.

(2) 70%-89% : sebagian besar.

(3) 51%-69% : lebih dari sebagian.

(4) 50% : sebagian.

(5) < 50% : kurang dari sebagian (Nursalam, 2008)

(8)

Analisis univariat yang dilakukan terhadap tiap variabel untuk mendeskripsikan variabel pemberian pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial dan variabel kepatuhan penggunaan APD pada CS sebelum dan sesudah diberi pendidikan kesehatan dengan tidak melakukan analisis perbedaan atau hubungan antar variabel (Alimul, 2009). Setiap variabel dependent dan variabel independent di analisis dengan statistik descriptive yaitu Prosentase untuk mendapatkan gambaran mengenai sikap pasien sebelum dan sesudah perlakuan.

Data yang telah terkumpul diperiksa ulang dengan tujuan untuk mengetahui kelengkapan dan kebenarannya, kemudian ditabulasi dan diprosentasekan dalam tabel distribusi frekuensi.

Selanjutnya data yang sudah ditabulasi dianalisa dengan metode analisis deskriptif.

Analisis bivariat digunakan untuk mendapatkan gambaran antara variabel dependent dan independent (Alimul, 2009). Sampel pada penelitian ini menggunakan sampel non-probability sehingga tidak memenuhi syarat untuk uji statistik dengan demikian analisis statistik yang digunakan adalah deskriptif.

Selanjutnya untuk mengetahui hubungan antar variabel dilakukan tabulasi silang (Cross Table), dimana analisis dengan tabulasi merupakan metode

analisis paling sederhana tapi memiliki kemampuan yang kuat untuk menjelaskan hubungan antar variabel. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kepatuhan penggunaan APD antara sebelum dan setelah dilakukan perlakuan pendidikan kesehatan, dipakai analisa Wilcoxon sign rank test dengan menggunakan SPSS 16.00.

Instrumen

Instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan metode (Arikunto S, 2010) instrument yang digunakan pada penelitian ini adalah pemberian pendidikan kesehatan dengan leaflet dan lembar balik sedangkan untuk mengetahui sikap responden digunakan teknik wawancara.

Wawancara adalah teknik pengambilan data melalui pertanyaan yang diajukan secara lisan kepada responden.

Umumnya teknik pengambilan data dengan cara ini dilakukan jika peneliti bermaksud melakukan analisis kualitatif bermaksud melakukan analisis kualitatif atas penelitiannya (Nursalam, 2008).

1. Pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit

‘Aisyiyah Kabupaten Bojonegoro.

(9)

Tabel 4.6 Pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit ‘Aisyiyah Bojonegoro.

No

Pendidikan kesehatan tentang infeksi

nosokomial

Kepatuhan CS dalam penggunaan APD

Jumlah Patuh Tidak patuh

f %

f % f %

1.

2.

Sebelum Sesudah

12 26

35.29 76.47

22 8

64.71 23.53

34 34

100 100

Jumlah

38 55.88 30 44.12 64 100

Tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yaitu sebagian besar responden yaitu 22 (64,71%) tidak patuh dalam penggunaan APD sebelum diberikan pendidikan kesehatan sedangkan sebagian besar responden yaitu 26 responden (76,47%) patuh dalam penggunaan APD sebelum diberikan pendidikan kesehatan.

Kemudian dari hasil uji statistik Wilcoxon Sign Rank test diperoleh nilai signifikan 0,002 yang lebih kecil dari α = 0,05 sehingga hipotesis diterima yaitu ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2015.

Pembahasan

Kepatuhan CS dalam penggunaan APD sebelum diberi pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian responden yaitu 22 responden (64,71%) tidak patuh menggunakan APD.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan (Setiadi, 2007) salah satunya adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Pengetahuan merupakan faktor yang

sangat penting membentuk tindakan atau perilaku seseorang (Notoatmodjo, 2007).

Proses adopsi perilaku, sebelum seseorang mengadopsi perilaku, di dalam diri orang tersebut terjadi suatu proses yang berurutan.

Menurut Rifa’i (2008), mengatakan bahwa segala sesuatu yang akan dilakukan tergantung dari cara kita memandang suatu hal atau masalah.

Adapun responden yang kurang pendidikannya dan responden tersebut tidak mau berupaya, maka hal tersebut kembali pada individu masing–masing.

Karena responden tersebut pasti sudah mengetahui konsekuensi yang akan ditanggung nantinya.

Hasil analisa data menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak patuh dalam pemakaian APD.

Penggunaan APD penting untuk melindungi diri cleaning service (CS).

Perlindungan dari berbagai kemungkinan penyakit yang menular dan benda-benda yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja CS. Namun CS di RS Aisyiyah Bojonegoro sebagian besar masih tidak patuh dalam menggunakan APD. Hal ini menunjukkan bahwa CS masih belum menyadari pentingnya penggunaan APD bagi diri mereka saat bekerja.

Kepatuhan CS dalam penggunaan APD sesudah diberi pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa lebih dari sebagian

(10)

responden yaitu 26 responden (76,47%) patuh menggunakan APD.

Pendidikan kesehatan dapat merubah perilaku responden, hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan merupakan suatu cara proses perubahan perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia yang meliputi pengetahuan, sikap ataupun pratek yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara individu kelompok maupun mansyarakat serta merupakan komponen dari program kesehatan (Uha, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar CS patuh dalam penggunaan APD, hal disebabkan metode pendidikan kesehatan dengan demonstrasi lebih efektif dalam merubah perilaku menjadi lebih baik, dengan metode ini responden lebih mudah untuk memahami informasi yang diberikan dan dapat langsung untuk mempraktekkan.

Pendidikan kesehatan menambah pengetahuan responden, sehingga mampu merubah perilaku responden baik dari segi pengetahuan, sikap maupun keterampilan.

pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit ‘Aisyiyah Bojonegoro

Tabel 4.6 diatas menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yaitu sebagian besar responden yaitu 22 (64,71%) tidak patuh dalam penggunaan APD sebelum diberikan pendidikan kesehatan sedangkan sebagian besar responden yaitu 26 responden (76,47%) patuh dalam penggunaan APD sebelum diberikan pendidikan kesehatan.

Kemudian dari hasil uji statistik Wilcoxon Sign rank test diperoleh nilai signifikan 0,002 yang lebih kecil dari α = 0,05 sehingga hipotesis diterima yaitu ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap

kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2015.

Kepatuhan adalah merupakan suatu perubahan perilaku dari perilaku yang tidak mentaati peraturan ke perilaku yang mentaati peraturan. Pengetahuan merupakan faktor yang sangat penting membentuk tindakan atau perilaku seseorang. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo, 2007).

Pendidikan kesehatan merupakan suatu cara proses perubahan perilaku yang dinamis dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia yang meliputi pengetahuan, sikap ataupun pratik yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara individu kelompok maupun masyarakat serta merupakan komponen dari program kesehatan (Uha, 2012).

Teori diatas sesuai dengan hasil penelitian di RS Aisyiyah yang menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan pendidikan kesehatan tentang infeksi nosocomial terhadap kepatuhan CS dalam penggunaan APD. Hal ini disebabkan karena dengan mendapatkan pendidikan kesehatan CS akan mendapatkan pengetahuan tambahan tentang pentingnya penggunaan APD bagi diri mereka. Pengetahuan ini akan dapat merubah perilaku CS yang mana sebelumnya tidak patuh menggunakan APD menjadi patuh. Infeksi nosokomial menjadi sesuatu yang diperhitungkan sebagai salah satu dampak tidak menggunakan APD. Walaupun secara data dan fakta di RS Aisyiyah belum terdapat angka kejadian pasti infeksi nosocomial akan tetapi langkah pencegahan tetap harus diutamakan. Hal ini juga menjadi salah satu bentuk untuk menumbuhkan kesadaran bagi semua

(11)

pihak yang terkait dengan RS Aisyiyah Bojonegoro untuk dapat melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi dii rumah sakit tersebut.

Dengan demikian jelas bahwa peran perawat menjadi sangat penting yang mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Dalam hal ini ditekankan bidang promotif yaitu pemberian pendidikan kesehatan yang mana dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor predisposisi seperti tingkat pengetahuan, sikap, kepercayaan, faktor pendukung seperti fasilitas atau sarana yang ada, lingkungan fisik, keterjangkauan serta faktor pendorong seperti sikap atau perilaku petugas, teman sebaya.

Pada bab ini akan dibahas simpulan dan saran dari hasil penelitian tentang ” pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di Rumah Sakit ‘Aisyiyah Bojonegorotahun 2015”.

Simpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan di ruang RS Aisyiyah Bojonegoro, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Sebagian besar Cleaning Service (CS) di RS Aisyiyah Bojonegoro sebelum dilakukan pendidikan kesehatan tentang infeksi nosocomial tidak patuh dalam penggunaan APD.

2. Sebagian besar Cleaning Service (CS) di RS Aisyiyah Bojonegoro sesudah dilakukan pendidikan kesehatan tentang infeksi nosocomial patuh dalam penggunaan APD.

3. Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) pada Cleaning Service (CS) di

Rumah Sakit ‘Aisyiyah Bojonegoro tahun 2015

Saran

Terkait dari hasil penelitian dengan segala keterbatasan yang peneliti miliki maka peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut :

Bagi responden

Diharapkan responden dapat lebih mematuhi pemakaian alat pelindung diri karena hal ini juga untuk kepentingan bersama termasuk untuk menjaga diri dari berbagai penyakit yang dapat dengan mudah menular jika kita tidak menggunakan alat pelindung diri dengan benar. Dan risiko ini sangat mungkin terjadi karena setiap hari CS bersinggungan langsung dengan lingkungan sekitar pasien yang mengalami penyakit menular maupun tidak menular.

Bagi Praktek Keperawatan

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dilihat bagaimana tabelan pelaksanaan supervisi dengan kepatuhan perawat pelaksana, sehingga diharapkan dalam praktek manajeman keperawatan kepala ruangan sebagai supervisor mengetahui faktor-faktor apa saja yang perlu ditingkatkan, seperti kegiatan rutin dan model supervisi sehingga pelaksanaan supervisi akan lebih baik yang nantinya akan meningkatkan kinerja perawat.

Penelitian Keperawatan

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pelaksanaan pendidikan kesehatan secara berkelanjutan terhadap individu yang bekerja di rumah sakit dengan melihat indikator yang berbeda dan teori yang lain. Penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan dengan metode observasi langsung sehingga faktor bias berupa subjektivitas perawat dapat dihindari. Selain itu perlu juga dilakukan penelitian tentang faktor – faktor yang lain.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, H. 2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data, Jakarta: Salemba Medika.

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Bararah. 2009. Waspadai Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit.

Diakses tanggal 26 Maret 2015

<http://indofarma.co.id>.

Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial,

Problematika dan

Pengendaliannya. Jakarta : Salemba Medika.

Depkes RI. 2009. Pedoman Manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Kesehatan lainnya.

Jakarta : Depkes RI.

Ivancevich,dkk. 2007. Perilaku dan Manajemen Organisasi.Jakarta:

Erlangga

Kurniawati & Nursalam. 2007. Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi. Jakarta : Salemba Medika.

Kurniawati, A. 2013. Dampak Infeksi Nosokomial : Rugi Finansial Hingga Taruhan Nyawa.

Detik.com.

Nasronudin, 2013. 3 Dokter Gigi Tertular Pasien Pengidap AIDS.

Tempo.co

Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan Teori Dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.

. 2007. Promosi Kesehatan.

Jakarta : Rineka Cipta.

. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

. 2010. Pengantar Pendidikan Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan. Yogyakarta : Andi offset.

. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Nugraheni, R. 2012. Studi prevalensi angka kejadian Nosokomial di RSUD Setjonegoro Kabupaten Wonosobo. Semarang : Jurnal Universitas Diponegoro.

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Media.

Panggabean, R. 2008. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Petugas Laboratorium terhadap Kepatuhan Menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) di Puskesmas Kota Pekan Baru Tahun 2008. Diakses tanggal 29

Maret 2015

<http://www.repository.usu.ac.i d.>

Rusmana, N. 2010. Konsep Dasar Dinamika Kelompok. Diakses tanggal 29 Maret 2015 dari

<http://file.upi.edu/>

Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta:

Graha Ilmu.

Stavrost. 2009. Kehidupan Petugas Kebersihan (Cleaning Service).

Diakses tanggal 29 Maret 2015 <

http://stavrostworld.blogspot.co m>

(13)

Subyantoro, A. 2009. Karakteristik Individu, Karakteristik Pekerjaan, Karakteristik Organisasi dan Kepuasan Kerja Pengurus yang Dimediasi oleh Motivasi Kerja.

Diunduh pada tanggal 16 Oktober

2010 dari

http://www.puslit2.petra.ac.id/ejou rnal/index.php/man/article/.../1766 1. 17740-19700-1-PB.pdf

Sudhakar, C. 2012. Infection Control Aupdate. Intech

Suliha, U. 2012. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. Jakarta : EGC.

Tarwaka, 2008. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Surakarta.

Harapan Press.

Tim Penyusun, 2008. Buku Pedoman Praktikum Hiperkes. Surakarta : Hiperkes dan KK.

Valendri, YN. 2014. Analisis Tingkat Kepatuhan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Yogyakarta : FK UMY.

Wirjoadmodjo, B. 2009. Faktor-faktor

Yang Mempengaruhi

Pengendalian Infeksi Nosokomial : Penataran Pengendalian Infeksi Nosokomial Bagi Dokter Dan Paramedis RSU Propinsi.

Surabaya : RSUD DR. Soetomo.

(14)
(15)
(16)
(17)

Gambar

Gambar 3.1 Kerangka  Kerja  pengaruh  pendidikan  kesehatan  tentang  infeksi  nosokomial  terhadap  kepatuhan  penggunaan  APD  pada  CS  di  Rumah  Sakit Aisyiyah Bojonegoro tahun 2017
Tabel 4.6   Pengaruh pendidikan kesehatan tentang infeksi nosokomial terhadap  kepatuhan  penggunaan  Alat  Pelindung  Diri  (APD)  pada  Cleaning  Service (CS) di Rumah Sakit ‘Aisyiyah Bojonegoro

Referensi

Dokumen terkait

Perilaku agresif pasien skizofrenia setelah diberikan terapi musik sebagian besar yaitu sebanyak 12 orang (80%) dalam katagori ringan Hasil uji statistik Wilcoxon Sign Rank test

Hasil penelitian uji hipotesis Wilcoxon Sign Ranks Test pada hasil akhir p- Value = 0,020 &lt; α = 0,05 sehingga dapat diambil Kesimpulan bahwa hipotesis penelitian

Selanjutnya dilakukan uji beda menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dengan nilai p &lt; 0,05 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara tekanan darah

Menurut peneliti, berdasarkan hasil uji Wilcoxon signed rank test, terdapat pengaruh yang signifikan pada kadar kolesterol sebelum dan sesudah diberikan

Uji wilcoxon signed rank test pada systole didapatkan p = 0,002 &lt; α = 0,05 pada diastole p = 0,001 &lt; α = 0,05 sehingga H0 ditolak dan Ha diterima artinya terdapat

Uji beda kelompok perlakuan I I menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank Test dari data pengukuran MMSE sebelum dan sesudah pelatihan aerobik intensitas sedang diperoleh nilai p &lt;

Uji Wilcoxon signed-rank atau signed-rank test atau uji “peringkat-bertanda Wilcoxon” adalah salah satu uji statistik non-parametrik yang digunakan untuk menguji

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data statistik non parametrik dengan menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank Test,