• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MELALUI METODE ROLE PLAYING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 LOLOFITU MOI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MENINGKATKAN MINAT BELAJAR TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MELALUI METODE ROLE PLAYING PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 LOLOFITU MOI."

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

MENINGKATKAN MINAT BELAJAR TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MELALUI METODE ROLE PLAYING

PADA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 LOLOFITU MOI

Oleh:

Yastin Warasi

Guru SMP Negeri 2 Lolofitu Moi Abstract

Role playing or role play is a method of learning as part of a simulation directed to recreate historical events, creating actual events or events that may arise in the future.

Topics that can be raised on role playing for example: play the role of a party campaigner, or a picture of the circumstances that may appear in the century of information technology. Playing a role in principle is a method to portray the roles that exist in the real world into a role show in the classroom/meeting, which is then used as a reflection material to give participants an assessment of the exhibition. For example assessing the advantages and disadvantages of each of these roles, and then provide suggestions/

alternative opinions for the development of these roles. This method is more emphasis on the issues raised in the show and not on the ability of players in performing role playing. Role playing methods can improve learning interest and increase student activities of SMP Negeri 2 Lolofitu Moi or the quality of learning in Christian learning. In addition to improving learning interest and student activities, can also improve the ability of teachers in preparing the lesson plans and the ability of teachers in implementing learning.

Keywords: Role Playing, Learning Interest, Christian Learning

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada umumnya diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara perbuatan mendidik.

Undang-undang sistem pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, menggariskan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kretif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab.

Salah satu unsur penting yang menjadi faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran dan pendidikan adalah guru. Menurut Anni (2006:102), seorang guru memiliki tugas untuk membimbing belajar, sebagai katalisator, model pemecahan masalah, sebagai pembantu dalam proses belajar, dan sebagai teman siswa dalam mengkaji dan memecahkan masalah. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, metode yang disiapkan seorang guru dalam mengajar sangatlah penting. Guru harus dapat memilih dan menentukan metode yang akan digunakan pada pembelajaran.

Dalam bukunya Deni Koswara Halimah mengatakan bahwa

“Dalam bidang pendidikan, yang memegang kunci dalam pembangkitan dan

(2)

pengembangan daya kreatifitas peserta didik ialah guru. Seorang guru, yang ingin memgembangkan kreativitas pada anak didiknya, harus lebih dahulu berusaha

supaya ia sendiri kreatif. Pada umumnya guru yang kreatif itu pernah dididik oleh orang- orang yang kreatif dalam lingkungan yang mendukungnya”.1

Guru merupakan elemen kunci dalam sistem pendidikan, khususnya disekolah. Semua komponen lain mulai dari kurikulum, sarana prasarana, dan sebagainya tidak akan berarti banyak apabila esensi pembelajaran yaitu interaksi guru dengan siswa tidak berkualitas.

Dengan demikian seorang guru sangatlah berperan penting dalam mensukseskan dan menyempurnakan proses pembelajaran, sehingga mendapat hasil yang maksimal.

Pelajaran Agama Kristen adalah salah satu mata pelajaran yang diharuskan dalam UU pendidikan kita.Dalam bukunya yang berjudul “Christian Religius Education” Thomas Groome mengatakan bahwa tujuan pendidikan Agama Kristen adalah agar manusia mengalami hidupnya sebagai respon terhadap Kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus. Di Indonesia dalam sisdiknas, Pendidikan Agama Kristen bertujuan

untuk menumbuhkan dan

mengembangkan iman serta kemampuan siswa untuk dapat memahami dan menghayati kasih Allah yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam peraturan pemerintah No.55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, dan pada Bab III Pasal 8 Pendidikan Keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan atau menjadi ahli ilmu agamanya.

Namun pada kenyataannya mata pelajaran agama seringkali membosankan

1 D. Deni Koswara Halimah, Bagaimana menjadi Guru Kreatif, (Bandung : PT Pribumi Mekar) , 2008, hal. 57

bagi siswa. Kurang diminati, Karena pola klasik guru mata pelajaran PAK yang mengajarkan agama hanya sebatas rutinitas, menggunakan metode yang hanya didominasi oleh guru, monoton semuanya berorientasi pada guru dan strategi pembelajaran siswa cenderung malas, tidak aktif, dan tidak merasa menjadi bagian pada kelas itu. Sehingga cenderung menunjukkan sikap seperti tidak memperhatikan apa yang sedang diajarkan, ribut, sering keluar masuk, tidak merespon dan sering ngobrol, sehingga pesan pendidikan, moral dan akhlak yang disampaikan pada pelajaran agama Kristen tidak diterima dengan baik.

Permasalahan yang pernah saya temui di SMP Negeri 5 Mandrehe Utara adalah, proses pembelajaran tidak berjalan maksimal karena beberapa faktor yang mempengaruhi, misalnya dari fasilitas sekolah yang kurang memadai, mata pelajaran kurang diminati oleh siswa, jarak tempuh dari rumah siswa menuju sekolah berjauhan sehingga sering membuat siswa mengantuk, seingga tujuan pembelajaran sering tidak tercapai.

Selain itu faktor lain yang sangat mempengaruhi adalah metode pembelajaran. Secara khusus pada mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen, metode pengajaran yang sering digunakan oleh guru yaitu metode ceramah, guru hanya menjelaskan terus dan siswa hanya duduk mendengar saja, bahkan siswa hampir tidak dilibatkan didalam pembelajaran, siswa hanya sebagai objek pembelajaran. Hal ini membuat siswa mengantuk, bosan dan akhirnya tidak meminati pembelajaran. Seorang guru agama jika hanya menjelaskan, berbicara sendiri di depan kelas tanpa memperhatikan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh siswa-siswinya, tidak akan mencapai tujuan pembelajaran.

Pembelajaran pendidikan agama Kristen dengan menggunakan metode role playing mengajak siswa untuk mencoba bereksplorasi. Metode bermain peran (role playing) ini akan membangkitkkan

(3)

kreatifitas dan mengembangkan peran siswa selama proses pembelajaran.

Kejadian atau proses analogis yang dimunculkan dalam bermain peran (role playing) akan memudahkan siswa untuk memahami proses atau kejadian sebenarnya yang tidak dapat diamati secara langsung. Dengan penerapan metode role playing maka akan mampu meningkatkan minat dan mengembangkan ranah kognitif, efektif, dan psikomotorik siswa dalam pembelajaran pendidikan agama Kristen. Berdasarkan kondisi ini, penulis mengadakan penelitian dengan Judul “Meningkatkan Minat Belajar Terhadap Pendidikan Agama Kristen Melalui Metode Role Playing Pada Siswa Kelas Viii Smp Negeri 2 Lolofitu Moi.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Lolofitu Moi yaitu faktor internal dan eksternal :

a. Faktor Internal yaitu: siswa tidak dapat memahami materi yang diberikan oleh guru, daya tangkap dan bakat siswa yang berbeda-beda, kejenuhan, motivasi diri dan minat siswa yang masih kurang, siswa kurang menyukai mata pelajaran agama.

b. Faktor eksternal yaitu: suasana tempat belajar atau jam belajar, guru kurang optimal dalam memberikan materi, metode guru yang cenderung membosankan contohnya hanya memakai metode yang klasik yaitu ceramah dan bersifat monoton, guru tidak melibatkan siswa dalam pembelajaran, tingkat kesulitan pelajaran, kurangnya motivasi dari guru, dll.

Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan identifikasi masalah maka penulis merumuskan masalah:

a. Bagaimana pelaksanaan proses pengajaran PAK di kelasVIIISMP N 2 Lolofitu Moi selama ini?

b. Apakah metode Role Playing dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Lolofitu Moi pada mata pelajaran Agama Kristen?

Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka pada penelitian ini penulis tidak bisa melakukan penelitian secara keseluruhan.oleh sebab itu penulis membatasi masalah penelitian pada peningkatan minat belajar terhadap PAK melalui metode Role Playing pada siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Mandrehe Utara.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian adalah : a. Untuk mengetahui sejauh mana minat

belajar mempengaruhi tercapainya pembelajaran

b. Untuk mengetahui sejauh mana metode role playing meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran PAK

Manfaat Penelitian a. Manfaat Akademis

1. Sebagai sumbangan pemikiran bagi para pengelola pendidikan pada umumnya dan pendidikan agama Kristen pada khususnya dalam pembelajaran.

2. Memberikan manfaat bagi guru agama Kristen yaitu dengan memberikan wawasan baru tentang

metode-metode dalam

pembelajaran. Dan memotivasi mereka mengembangkan model- model pembelajaran.

3. Bagi peserta didik, bermanfaat untuk meningkatkan minat belajar siswa, dan supaya siswa benar- benar menyenangi pelajaran Pendidikan Agama Kristen.

4. Untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar

(4)

Sarjana Pendidikan Agama Kristen.

b. Manfaat Praktis

1. Sebagai sumbangsih pemikiran dari penulis untuk meningkatkan kualitas Pendidikan Agama Kristen.

2. Sebagai salah satu referensi untuk peneliti selanjutnya yang berkaitan dengan metode role playing.

LANDASAN TEORITIS Pengertian Minat

Secara umum pengertian minat adalah perhatian yang mengandung unsur- unsur perasaan.Minat merupakan dorongan atau keinginan dari dalam diri seseorang pada objek tertentu.Misalnya, minat terhadap pelajaran, olahraga, atau hobi.Minat juga merupakan pemusatan perhatian yang tidak sengaja yang terlahir dengan penuh kemauannya dan tergantung dari bakat dan lingkungannya. Menurut Drs. Dyimyati Mahmud (1982), minat adalah sebagai sebab yaitu kekuatan pendorong yang memaksa seseorang menaruh perhatian pada orang, situasi atau aktifitas tertentu dan bukan pada yang lain. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata minat diartikan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, atau keinginan. Sedangkan menurut Djali (2008:121) minat pada dasarnya merupakan penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Minat sangat besar pengaruhnya dalam mencapai prestasi dalam suatu pekerjaan, jabatan atau akhir.

Menurut Slameto (2003:57), minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Sedangkan menurut Sudirman (2003:76) minat seseorang terhadap suatu objek akan lebih kelihatan apabila objek tersebut sesuai sasaran dan berkakitan dengan keinginan dan kebutuhan yang bersangkutan. Dari beberapa pendapat ini,penulis menyimpulkan bahwa minat merupakan kecenderungan pada seseorang

yang ditandai dengan rasa senang atau ketertarikan pada objek tertentu disertai dengan adanya pemusata perhatian kepada objek tertentu. Sehingga mengakibatkan seseorang memiliki keinginan untuk terlibat secara langsung dalam suatu objek atau aktifitas tertentu, karena dirasakan bermakna bagi dirinyadan ada harapan yang dituju.Oleh karena itu timbulnya minat disebabkan oleh beberapa factor yaitu intern dan ekstern.

Ciri-ciri Minat Anak

Minat seseorang dapat timbul dari berbagai sumber antara lain perkembangan insting dan hasrat, fungsi- fungsi intelektual, pengaruh lingkungan, pengalaman, kebiasaan, pendidikan dan sebagainya.

Oleh karena itu, dalam pembelajaran seorang guru harus mengetahui minat yang ada pada siswa, guru dapat membedakan mana siswa yang berminat dan mana yang tidak dalam pembelajaran. Adapun ciri-ciri minat adalah:

a. Keputusan diambil dengan mempertahankan seluruh kepribadian b. Sifatnya irasional

c. Berlaku perseorangan dan pada suatu situasi

d. Melakukan sesuatu terbit dari lubuk hati

e. Melaksanakan sesuatu tanpa ada paksaan

f. Melakukan sesuatu dengan senang hati.2

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Belajar

Dalam proses pembelajaran, ada beberapa factor yang mempengaruhi minat belajar seseorang. Akan tetapi, dapat digolongkan dalam dua kategori yaitu factor internal dan factor eksternal.

Adapun hal-hal yang mempengaruhi minat adalah:

2 Agus Sudjanto,Psikologi Umum, (Jakarta : Bumi Aksara), 2007, hal.88

(5)

a. Motivasi

Motivasi belajar seseorang akan semakin tinggi apabila disertai motivasi, baik secara internal maupun eksternal.

Menurut D.P Tampubolon, minat belajar merupakan perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada motivasi.3

b. Belajar

Minat belajar dapat diperoleh melalui belajar, karena dengan belajar siswa yang awalnya tidak menyenangi suatu pelajaran tertentu lama kelamaan akhirnya bertambah pengetahuannya mengenai pelajaran tersebut, dan minat belajarnya pun tumbuh sehingga ia lebih giat lagi mempelajari pelajaran tersebut.

Minat belajar akan timbul dari sesuatu yang diketahui dan kita dapat mengetahui sesuatu dengan belajar, karena itu semakin banyak belajar semakin luas juga bidang minat belajar.4

c. Bahan Pelajaran dan Sikap Guru Faktor yang dapat mebangkitkan dan merangsang minat belajar adalah factor bahan pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Bahan pelajaran yang menarik minat belajar siswa, akan sering dipelajari oleh siswa yang bersangkutan. Demikian juga sebaliknya, bahan pelajaran yang tidak menarik minat belajar siswa tentu akan diabaikan oleh siswa, sebagaimana dikemukakan oleh Slameto bahwa minat belajar mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap belajar. Karena apabila bahan yang dipelajari tidak sesuai dengan dengan minat belajar siswa, maka siswa tidak akan belajar dengansebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya.

Guru juga salah satu objek yang dapat merangsang dan membangkitkan minat belajar siswa. Menurut Kurt Singer,

“guru yang berhasil membina kesediaan

3 D.P Tampubolon,Mengembangkan Minat Membaca Pada

Anak,Bandung:Angkasa,1993,hal.41

4 D.G. Singgih,dan Ny.SDG,Psikologi Perawatan,Jakarta:BPK.Gunung Mulia,19889,hal.41

belajar murid-muridnya, berarti telah melakukan hal-hal yang terpenting yang dapat dilakukan demi kepentingan murid- muridnya.”5Seorang guru yang pandai, ramah, baik, displin serta disenangi siswa ataupun murid sangat besar pengaruhnya dalam membangkitkan minat belajar siswa. Sebaliknya guru yang memiliki sikap buruk dan tidak disukai siswa, akan sukar merangsang timbulnya minat dan perhatian siswa.

d. Keluarga

Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga.Oleh karena itu keluarga sangat berpengaruh dalam menentukan minat belajar seorang siswa terhadap pelajaran.Apa yang diberikan oleh keluarga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan jiwa anak. Dalam proses perkembangan minat belajar, diperlukan dukungan perhatian dan bimbingan dari keluarga khususnya orang tua.

e. Teman Bergaul

Melalui pergaulan seseorang akan dapat terpengaruh arah minat belajarnya oleh teman-temannya, khususnya teman akrabnya. Khusus bagi remaja, pengaruh teman ini sangat besar karena dalam pergaulan itulah mereka memupuk pribadi dan melakukan aktifitas bersama-sama untuk mengurangi ketegangan dan kegoncangan yang mereka alami.

f. Lingkungan

Lingkungan sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Lingkungan adalah keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik, masyarakat tempat bergaul, juga tempat bermain sehari-hari dengan keadaan alam iklimnya.

Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung kepada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.6

5 http:/emprints.uny.ac.id/7781/3/bab.pdf.

6 M. Dalyono,Psikologi Pendidikan,Jakarta:Rineka Cipta,2009,hal.130

(6)

g. Cita-cita

Setiap manusia memiliki cita-cita di dalam hidupnya, termasuk para siswa.

Cita-cita juga mempengaruhi minat belajar siswa, bahkan cita-cita juga dapat dikatakan sebagai perwujudan dari minat belajar seseorang dalam prospek kehidupan di masa yang akan datang.

Sehingga cita-cita ini senantiasa dikejar dan diperjuangkan.

h. Bakat

Melalui bakat seseorang akan memiliki minat belajar. jika seseorang memiliki bakat pada sesuatu hal yang memang ada bakatnya maka minat untuk mempelajarinya langsung tumbuh.

Sebaliknya jika seseorang tidak memiliki bakat pada suatu hal tertentu yang diajarkan, maka minatnya akan sulit tumbuh .jika seseorang dipaksakan akan sesuatu yang dibencinya akan menjadi beban baginya. Oleh karena itu, pihak sekolah atau aktifitas lainnya seharusnya disesuaikan dengan bakat yang dimiliki.

i. Hobi

Bagi setiap orang hobi merupakan salah satu hal yang menyebabkan timbulnya minat belajar.contohnya seseorang yang memiliki hobi terhadap matematika maka secara tidak langsung dalam dirinya timbul minat belajar untuk menekuni ilmu matematika, begitu juga dengan hobi lainnya. Dengan demikian, factor hobi tidak bisa dipisahkan dari factor minat belajar.

j. Fasilitas atau Sarana Prasarana Berbagai fasilitas berupa sarana dan prasarana, baik yang berada dirumah, disekolah, dan dimasyarakat memberikan pengaruh yang positif dan negativ. Wina sanjaya mengungkapkan defenisi dari sarana adalah segala sesuatu yang berkaitan secara langsung dengan peserta didik dan mendukung kelancaran serta keberhasilan proses belajar peserta didik yang meliputi media pembelajaran, alat- alat pelajaran, perlengkapan sekolah dll.

Sedangkan prasarana merupakan segala sesuatu yang tidak secara langsung berkaitan dengan peserta didik, namun

dapat mendukung kelancaran dan keberhasilan proses belajar peserta didik yang meliputi jalan menuju kesekolah, penerangan sekolah, kamar kecil` dll. 7

Pentingnya Minat

Elizabeth Hurlock(1993:214) mengatakan bahwa pada semua usia, minat memainkan peran yang pengting dalam kehidupan seseorang dan mempunyai dampak yang besar atas perilaku dan sikap, terutama selama kanak-kanak. Karena jenis pribadi anak sebagian besar ditentukan oleh minat yang berkembang selama masa kanak-kanak.Di samping itu pengalaman belajar anak juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan minat anak.

Minat mempunyai pengaruh besar terhadap proses dan pencapaian hasil belajar. apabila materi pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka siswa tidak akan tertarik untuk belajar sebaik-baiknya. Jika tidak daya tarik bagi siswa mengakibatkan keengganan untuk belajar.keengganan belajar mengakibatkan tidak adanya kepuasan dari pelajaran tersebut. Namun sebaliknya, pelajaran yang menarik siswa, lebih mudah direncanakan karena minat menambah aktifitas belajar.

Jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, maka dapatlah diusahakan agar mempunyai minat yang lebih besar yaitu dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita kaitannya dengan materi pelajaran yang dipelajari.

Fungsi Minat Belajar

The Liang Gie (1998:28) mengemukakan bahwa minat merupakan salah satu factor untuk meraih sukses dalam belajar. Secara lebih terinci arti dan peranan penting minat dalam kaitannya dengan pelaksanaan belajar atau studi ialah :

7 Wina Sanjaya,Kurikulum dan

Pembelajaran,Jakarta:Kencana,2010,hal.200

(7)

a. Minat melahirkan perhatian yang serta merta

Perhatian seseorang terhadap suatu hal dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: perhatian yang serta merta dan perhatian yang dipaksakan.

Perhatian yang serta merta secara spontan, bersifat wajar, mudah bertahan, yang tumbuh tanpa pemaksaandan kemauan dalam diri seseorang.Sedangkan perhatian yang dipaksakan harus menggunakan daya untuk mengembangkan dan kelangsungannya. Semakin besar minat seseorang, maka akan semakin besar derajat spontanitas perhatiannya.

b. Minat memudahkan terciptanya kosentrasi

Minat memudahkan terciptanya kosentrasi dalam pikiran seseorang.Perhatian serta merta yang diperoleh secar wajar dan tanpa pemaksaan tenaga kemampuan

seseorang memudahkan

berkembangnya kosentrasi, yaitu memusatkan pemikiran terhadap suatu pelajaran.

c. Minat mencegah gangguan perhatian di luar

Minat mencegah terjadinya gangguan perhatian dari sumber luar misalnya, orang berbicara. Seseorang mudah terganggu perhatiannya atau sering mengalami pengalihan perhatian dari pelajaran kepada suatu hal yang lain, kalau minat studinya kecil.

d. Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan

Bertalian erat dengan kosentrasi terhadap pelajaran ialah daya mengingat pelajaran.Daya mengingat itu hanya bisa terlaksana kalau seseorang berminat terhadap pelajarannya.

e. Minat memperkecil kebosanan belajar dalam diri sendiri

Segala sesuatu yang menjemukan, membosankan, sepele, dan terus menerus berlangsung secara otomatis

tidak akan memikat perhatian.

(Kartini Kartono, 1996:31).Karena itu penghapusan kebosanan dalam belajar dari seseorang juga hanya bisa terlaksana dengan jalan pertama-tama menumbuhkan minat belajar dan kemudian meningkatkan minat yang sebesar-besarnya.

Pendidikan Agama Kristen (PAK) Pengertian Pendidikan Agama Kristen (PAK)

Dalam kekristenan pendidikan agama dikenal dengan namaPendidikan Agama Kristen (PAK).Istilah ini lebih baik digunakan dalam konteks pendidikan agama di Indonesia mengingat di Indonesia memiliki keberagaman agama, sehingga hanya dipakai istilah pendidikan agama saja.Hal ini masih kabur dan belum secara khusus mengarah keagama Kristen.

Istilah pendidikan agama Kristen diambil dari terjemahan bahasa inggris yaitu Christian Religious Education, yang dalam prakteknya adalah sebuah proses pembelajaran bersumber dari kebenaran firman Tuhan.

Menurut tokoh reformasi Martin Luther (1488-1548) Pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta berskacita dalam firman Yesus

Dasar Pendidikan Agama Kristen (PAK) Landasan pembelajaran pendidikan agama Kristen merupakan acuan atau dasar pijakan daalam pencapaian tujuan pendidikan agama Kristen. Pendidikan agama krkisten yang diselenggarakan dengan suatu landasan yang kokoh, maka prakteknya akan mantap, artinya jelas dan tepat tujuannya, tepat pilihan isi kurikulumnya, efesien dan efektif cara- cara pendidikan yang dipilihnya. Dengan landasan yang kokoh maka konsep-konsep yang merugikan dapat dihindarkan.

(8)

Esensi Pendidikan Agama Kristen (PAK) Di Sekolah

Pendidikan Agama Kristen yang sering disebut sebagai Christian Educationpada tataran konteks pemahaman merupakan sebuah amanat ilahi. Amanat dari Allah kepada umatNya, agar melalui para pengajar (Efesus 4:11), sebagai instrumenNya akan membawaanak didik beriman kepada Yesus Kristus sebagai juru selamatnya.8 Dalam kerangka inilah Hulman Sihombing mengutip pernyataan Homrighausen dan Enklaar yang menegaskan pengetahuan dan pengertian mereka akan penyataan Tuhan itu harus diperbaharui, diperdalam, dan diperluas.

Sebuah pernyataan yang lugas dan serius berkaitan dengan iman anak didik yang sedang dibina oleh para pendidik Kristen .respon siswa terhadap penyataan kasih Allah itiu kelak membawa mereka pada keadaan sesungguhnya, yakni mengalami pembebasan dalam dunia.

Metode Mengajar

Seorang guru dalam proses belajar mengajar membutuhkan metode untuk mencapai tujuan pembelajaran dan hasil belajar siswa, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Pada kenyataannya tidak semua materi pembelajaran dapat disajikan degan metode yang sama. Selain itu memilih metode harus memperhatikan keadaaan dan kondisi siswa, bahan belajar serta sumber-sumber belajar yang ada, agar penggunaan metode dapat diterapkan secara efektif dan menunjang keberhasilan siswa.

Seorang guru yang profesional tidak hanya menguasai sejumlah materi pembelajaran.

Metode Role Playing

Role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai

8 Hulman Sihombing, Penuntun Mengenal Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti, (Yogyakarta : Andi), 2014, hal. 48

bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual atau kejadian- kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk memerankan peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu pertunjukkan peran di dalam kelas atau pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta mmemberikan penilaian terhadap pameran.Misalnya menilai keunggulan maupun kelemahan masing- masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/alternatif pendapat bagi

pengembangan peran-peran

tersebut.Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam pertunjukkan dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Role Playing

Adapun kelebihan metode role playing ini adalah :

a. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa b. Sangat menarik bagi siswa, sehingga

memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias

c. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan, kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi

d. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnnya dengan penghayatan siswa sendiri.

e. Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa.

f. Melibatkan seluruh siswa untuk berpartisipasi setiap mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerja sama.

g. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.

(9)

h. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.

i. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.

j. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

k. Melatih daya imajinasi siswa.

Selain kelebihan metode role playing juga memiliki kelemahan yaitu : a. Bermain peran memerlukan waktu

yang relatif lama.

b. Memerlukan kreatifitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun siswa.

c. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerankan suatu adegan tertentu.

d. Apabila pelaksanaan bermain peran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberikan kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.

e. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode bermain peran ( role playing).

f. Pada pelajaran agama masalah keimanan, sulit disajikan dengan metode bermain peran.

Jadi metode bermain peran (role playing) mempunyai kelebihan dan kekurangan, secara umum kelebihan metode bermain peran (role playing) yaitu dapat memotivasi siswa karena karna siswa diajak belajar sambil bermain, dan semua siswa terlibat dalam permainan serta memahami peristiwa yang terjadi di lingkungan siswa.

Langkah-langkah metode Role Playing pada pembelajaran PAK

a. Siswa dibentuk kelompok untuk melakukan role playing, satu kelas dibagi menjadi enam kelompok b. Guru member lembar kerja yang

berisi langkah-langkah role playing

c. Guru menjelaskan cara melakukan role playing

d. Tiap kelompok melakukan role playing

e. Guru membimbing siswa dalam kegiatan role playing

f. Siswa melaporkan hasil kegiatan role playing

g. Kelompok lain member tanggapan hasil role playing kelompok lain h. Menyimpulkan hasil role playing

Guru memberi kesempatan kepada para pendengar atau siswa lain untuk memberi pendapat atau mencari pemecahan dengan cara-cara lain, kemudian diambil kesimpulan. Dalam diskusi kemungkinan terjadi diskusi yang seru karna adanya perbedaan pendapat.

DAFTAR RUJUKAN

1. Dalyono. M, 2009, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta.

2. Djamaraah Syaiful Bahri dan Aswin Zain, 2002, Strategi Belajar Mengajar , Jakarta : Rineka Cipta.

3. Halimah Deni Koswara D. 2008, Bagaimana menjadi Guru Kreatif, Bandung : PT Pribumi Mekar .

4. Nuhamara Daniel, 1992, Pembimbing Pendidikan Agama Kkristen, Jakarta : Ditjen Bimas Kristen dan Universitas Terbuka Protestan.

5. Sihombing Hulman, 2014, Penuntun Mengenal Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti, Yogyakarta : Andi

6. Sudjanto Agus, 2007, Psikologi Umum, Jakarta : Bumi Aksara.

7. Sanjaya Wina, 2010, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Kencana.

8. Tampubolon D.P, 1993, Mengembangkan Minat Membaca Pada Anak, Bandung : Angkasa.

9. Singgih D,G, dan Ny. SDG, 1989, Psikologi Perawatan, Jakarta BKP Gunung Mulia.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan minat belajar pada mata pelajaran IPS melalui strategi Role Playing.Pendekatan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan minat belajar IPS siswa kelas III SDN Tompegunung setelah mengikuti

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah untuk meningkatkan minat siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK) dan hasil

agama Islam pada peserta didik dan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan.. upaya guru Pendidikan Agama Islam kurang maksimal dalam meningkatkan. minat belajar peserta

Temuan hasil belajar siswa kelas V SD Negeri Trosemi 02 dan metode yang telah digunakan sebelumnya ini mendasari peneliti untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran

Sehingga mata pelajaran geografi di SMA Negeri I Suwawa sesuai dengan hasil wawancara dari guru mata pelajaran geografi bahwa hasil belajar siswa masih rendah dikatakan

Guru as a sahabat adalah guru harus menjadi teman dan sahabat siswa sebagai orang tua yang mereka segani and guru harus berkomunikasi dan memiliki komunikasi

siswa kurang terarah dan memerlukan waktu yang banyak. Selain itu, siswa juga belum termotivasi untuk belajar sehingga diskusi menjadi kurang optimal. Pada siklus