NUSANTARA IV MEDAN PERSERO
SKRIPSI
OLEH:
FARID RUSLAN LUBIS 130301272
BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
NUSANTARA IV MEDAN PERSERO
SKRIPSI
OLEH:
FARID RUSLAN LUBIS 130301272
BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
Sripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Melakukan Penelitian di Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara Medan
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Nama : Farid Ruslan Lubis Nim : 130301272
Prodi : Agroteknologi/BPP
Disetujuioleh : KomisiPembimbing
FARID RUSLAN LUBIS : Pengaruh Curah Hujan Hari Hujan dan Pemupukan N, P, K, Mg Terhadap Produksi Kelapa Sawit Pada Beberapa Tahun tanam di Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Medan Persero, dibimbing oleh IRSAL dan CHAIRANI HANUM.
Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan yang toleran terhadap kondisi lingkungan yang kurang baik, namun untuk mencapai tingkat pertumbuhan optimal membutuhkan kisaran kondisi lingkungan tertentu serta dibutuhkan pemupukan yang sesuai. Penelitian ini Untuk mengetahui pengaruh curah dan hari hujan dan pemupukan N, P, K, dan Mg terhadap produksi kelapa sawit di PT.Perkebunan Nusantara IV persero di kebun laras. Penelitian ini dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Kebun Laras, Sumatera Utara pada bulan September 2018 sampai dengan November 2018. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif maupun kualitatif. Data dikumpulkan, disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis dengan analisis regresi berganda dan korelasi yang diuraikan secara deskriptif. Alat bantu yang digunakan untuk mengolah data tersebut adalah SPSS.v.20. Hasil penelitian menunjukkan curah hujan, , dan pemupukan N, P, K, Mg berpengaruh tidak nyata pada peningkatan produksi kelapa sawit pada tahun 2010, 2011, 2012, dan 2013 dan hari hujan berpengaruh nyata. Curah hujan, hari hujan dan pemupukan N, P, K, Mg menunjukkan hubungan terhadap produktivitas pada produksi kelapa sawit tahun 2010, 2011, 2012, 2013.
Kata kunci : kelapa sawit, curah hujan, hari hujan, N, P, K, Mg
FARID RUSLAN LUBIS: Effect of Rainy Days Rainfall and N, P, K, Mg Fertilizer on Palm Oil Production in Several Years Planting in PT. Perkebunan Nusantara IV Medan Persero, guided by IRSAL and CHAIRANI HANUM.
Oil palm is a plantation that is tolerant of unfavorable environmental conditions, but to achieve optimal growth rates requires a certain range of environmental conditions and suitable fertilization is needed. This study is to determine the effect of rainfall and rainy days and N, P, K and Mg fertilization on palm oil production in PT. Perkebunan Nusantara IV persero in the barrel garden. This research was conducted at PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Kebun Laras, North Sumatra in September 2018 to November 2018. The research used quantitative and qualitative descriptive methods. Data is collected, compiled, explained, and then analyzed with multiple regression analysis and correlations described descriptively. The tool used to process the data is SPSS.v.20. The results showed that rainfall, and fertilization of N, P, K, Mg had no significant effect on increasing oil palm production in 2010, 2011, 2012 and 2013 and the rainy day had a significant effect. Rainfall, rainy days and fertilizing N, P, K, Mg show the relationship to productivity in palm oil production in 2010, 2011, 2012, 2013.
Keywords: oil palm, rainfall, rainy day, N, P, K, Mg
RIWAYAT HIDUP
Penulis di lahirkan di Medan 8 Maret 1996 dari seorang ayah yang bernama Ir, Dharma Bhakti Lubis dan seorang ibu yang bernama Elly Yusni Dalimunthe. Penulis merupakan anak ke-3 dari 3 bersaudara
Tahun 2013 penulis lulus dari SMA Negeri 4 Medan , kemudian pada tahun yang sama penulis masuk ke program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian USU melalui jalus Seleksi Ujian Mandiri Bersama (UMB). Penulis memilih minat/konsentrasi bealajar di bidang budidaya pertanian dan perkebunan
Selama mengikuti perkuliahan, penulis dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK) FP USU periode 2016-2017 sebagai anggota bidamg minat dan bakat
Penulis melaksanakan praktek kerja lapangan di PT. Perkebunan Nusantara 6 di batang hari, Jambi
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
Judul dari skripsi ini adalah “Pengaruh Curah Hujan Hari Hujan dan pemupukan N, P, K, Mg Terhadap Produksi Kelapa Sawit Pada Beberapa tahun tanam Di Kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Persero”
Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk dapat meraih gelar sarjana di program studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan
Pada kesempatan ini penulis juga tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Ir. Irsal M.P, selaku ketua komisi pembimbing, dan Ibu Dr. Dra. Ir Chairani Hanum, M.S. selaku anggota komisi pembimbing. Serta kepada teman-teman mahasiswa Kiwul, Dimas, Turman, Uli, Kevin, Razak, Rio, Tapi, Baggas, Sayed Fasri Mandalika, Mahdy, Romy serta keluarga AET 5 yang ada di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan yang telah membantu dalam menyelesaikan usulan penelitian ini.
Semoga hasil skripsi ini bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan.
Medan, Agusuts 2019
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...i
ABSTRACT ...ii
RIWAYAT HIDUP ...iii
KATA PENGANTAR ...iv
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR TABEl ...vii
DAFTAR LAMPIRAN ...ix
PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1
Tujuan Penelitian ... 4
Hipotesis Penelitian ... 4
Kegunaan Penelitian... 4
TINJAUAN PUSTAKA Botani tanaman ... 4
Syarat Tumbuh Iklim ... 7
Tanah ... 8
Curah hujan dan hari hujan ... 10
Umur tanaman ... 12
Pengaruh Curah Hujan dan Hari Hujan dan pemupukan N, P, K, Mg Terhadap Produtivitas Kelapa Sawit Pada Beberapa tahun tanam………….15
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 19
Bahan dan Alat ... 19
Peubah Amatan Produksi Tandan Buah Segar ... 20
Curah Hujam... 20
Hari Hujan ... 21
Pemupukan Nitrogen ... 21
Pemupukan Phospor ... 21
Pemupukan Kalium ... 21
Pemupukan Magnesium ... 22
PELAKSANAAN PENELITIAN Pengumpulan Data ... 23
Uji Asumsi Klasik ... 24
Uji Normalitas ... 25
Uji Heteroskedastisitas ... 25
Uji Multikolinearitas ... 25
Uji Autokorelasi ... 26
Pengujian Hipotesis ... 26
Penarikan Kesimpulan ... 27
HASIL DAN PEMBAHASAN Curah hujan ... 28
Hari hujan ... 29
Produktivitas kelapa sawit... 30
Hubungan curah hujan dan haru hujan terhadap produktivitas kelapa sawit (2010-2013) ... 31
Uji Asumsi klasik ... 32
Analisis data ... 34
Analsisi regresi linier berganda ... 34
Analisis korelasi ... 37
Pengaruh curah hujan dan hari hujan terhadap produksi kelapa sawit tahun (2010-2013) ... 38
Pemupukan N ... 40
Pemupukan P ... 41
Pemupukan K ... 42
Pemupukan Mg ... 43
Produktivitas kelapa sawit... 44
Hubungan pemupukan N, P, K, Mg terhadap produktivitas kelapa sawit (2010-2013) ... 45
Uji asumsi klasik ... 46
Analisis data ... 48
Analisis regresi linier berganda ... 49
Analisi korelasi... 51
Pengaruh pemupukan N, P, K, Mg terhadap produktivitas kelapa sawit (2010-2013) ... 53
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 57
Saran ... 57 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
No Hal
1. Rataan curah hujan (mm/bulan) tahun 2009 – 2013………….………. 28
2. Rataan hari hujan (hari/bulan) 2009-2013... 29
3. Rataan produktivitas kelapa sawit (kg/ha/bulan) 2010-2013... 30
4. Rataan curah hujan dan hari hujan tahun (2009-2012) pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013... 31
5. Transformasi rataan curah hujan dan hari hujan (2009-2012) pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013…... 32
6. Nilai signifikansi pada uji heteroskedastisitas pada produktivitas tahun produktivitas tahun 2010-2013... 33
7 Uji multikolinearitas nilai VIF dan Tolerance pada produktivitas tahun 2010-2013... 34
8 Nilai koefisien persamaan regresi linier berganda pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013…... 35
9 Uji t-parsial curah hujan dan hari hujan pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013... 36
10. Sidik ragam persamaan regresi linier berganda pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013………... 36
11. Model pengujian analisis regresi linier berganda pada produksi kelapa sawit tahun 2010-2013………... 37
12. Interpretasi nilai R pada analisis korelasi ………..… 37
13. Uji analisis korelasi pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-201………... 38
14. Rataan pemupukan N (kg/ha/thn) 2009-2012……….... 41
15. Rataan pemupukan P (kg/ha/thn) 2009-2012………... 42
16. Rataan pemupukan K (kg/ha/thn) 2009-2012……….... 43
17. Rataan pemupukan Mg (kg/ha/thn) 2009-2012……….. 44
19. Rataan pemupukan N, P, K, Mg (2009-2012) pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013………. 46 20. Transformasi rataan curah hujan dan hari hujan (2009-2012) pada
produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013...……… 47 21. Nilai signifikansi pada uji heteroskedastisitas pada produktivitas
tahun produktivitas tahun 2010-2013………. 48 22. Uji multikolinearitas nilai VIF dan Tolerance pada produktivitas
tahun 2010-2013………... 49
23. Nilai koefisien persamaan regresi linier berganda pada prouktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013…...……….. 50 24. Uji t-parsial pemupukan N, P, K, Mg pada produktivitas tanaman
kelapa sawit tahun 2010-2013…...………. 51 25. Sidik ragam persamaan regresi linier berganda pada produktivitas
tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013…...……….. 51 26. Model pengujian analisis regresi linier berganda pada produksi kelapa
sawit tahun 2010-2013 ……….. 52
27. Interpretasi nilai R pada analisis korelasi………...… 53 28. Uji analisis korelasi pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun
2010-2013………... 53
DAFTAR LAMPIRAN
No Hal
1. Data rataan curah hujan (mm/bulan) 2009-2012 ... 62 62 2. Data rataan hari hujan (hari/bulan) 2009-2012 ... 62 62 3. Data rataan produktivitas (kg/ha/bulan) 2010-2013 ... 63 63 4. Data rataan curah hujan dan hari hujan terhadap produktivitas kelapa
sawit tahun 2010-2013………. 63
5. Data rataan pemupukan N (kg/ha/thn) 2009-2012………... 64
6. Data rataan pemupukan P (kg/ha/thn) 2009- 2012……… 64
7. Data rataan pemupukan K (kg/ha/thn) 2009-2012………... 64
8. Data rataan pemupukan Mg (kg/ha/thn) 2009-2012……… 65
9. Data rataan produktivitas (kg/ha/thn) 2010-2013……… 65
10. Data rataan pemupukan N, P, K, Mg terhadap produktivitas kelapa sawit tahun 2010-2013………. 66
11. Uji one Sample Kolmogrov-Sminov curah hujan dan Hari hujan……... 66
12. Nilai signifikansi pada uji heteroskedastisitas pada curah hujan dan hari hujan 2009-2012………... 66
13. Uji multikolinearitas nilai VIF dan Tolerance pada curah hujan dan hari hujan 2009-2012……….. 67
14. Nilai durbin watson curah hujan dan hari hujan……….. 67
15. Nilai koefisien persamaan regresi linier berganda pada prouktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013………... 67
16. Uji t-parsial curah hujan dan hari hujan pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013……….. 67
17. Sidik ragam persamaan regresi linier berganda pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013………... 68 18. Analisis regresi linier berganda pada produksi kelapa sawit tahun
68
19. Analisis korelasi pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-
2013……….. 68
20. Uji one-sample Kolmogorov-smirnov test pemupukan N, P, K, Mg pada produktivitas kelapa sawit tahun 2010-2013………... 69 21. Nilai signifikansi pada uji heteroskedastisitas pemupukan N, P, K, Mg
tahun 2019-2012………... 69
22. Multikolinearitas nilai VIF dan Tolerance padapemupukan N, P, K,
Mg tahun 2009-2012……… 69
23. Nilai durbin Watson pemupukan N, P, K, Mg 2009-2012………... 70 24. Koefisien persamaan regresi linier berganda pada prouktivitas tanaman
kelapa sawit tahun 2010-2013……….. 70 25. Uji t-parsial pemupukan N, P, K, Mg pada produktivitas tanaman
kelapa sawit tahun 2010-2013……….. 70 26. Sidik ragam persamaan regresi linier berganda pada produktivitas
tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013………... 70 27. Pengujian analisis regresi linier berganda pada produksi kelapa sawit
tahun 2010-2013………... 71
28. Analisis korelasi pemupukan pada produktivitas tanaman kelapa sawit
tahun 2010-2013………... 71
PENDAHULUAN Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) berasal dari daerah Afrika dan Amerika Selatan. Awalnya tumbuhan ini tumbuh liar dan setengah liar di daerah tepi sungai. Tanaman ini pertama kali diintroduksikan ke Indonesia oleh pemerintah colonial Belanda pada tahun 1848 di Kebun Raya Bogor (s’Lands Plantentuin Buitenzorg). Sejak saat itu kelapa sawit mulai berkembang diberbagai daerah di Indonesia sebagai komoditas perkebunan (Pahan, 2008).
Efektivitas pemupukan berhubungan dengan persentase hara pupuk yang diserap tanaman. Pemupukan dikatakan efektif jika sebagian besar hara pupuk diserap tanaman sedangkan efisiensi pemupukan berkaitan dengan hubungan antara biaya (bahan pupuk, alat kerja, dan upah) dengan tingkat produksi yang dihasilkan. Agar kebutuhan tanaman atas unsur hara dapat tercukupi dengan tepat maka sebelum diadakan pemupukan terlebih dahulu perlu analisis kebutuhan unsur hara tanaman tersebut melalui analisis tanah dan daun (Pahan 2008)
Pemupukan yang efektif dan efisien dapat dicapai jika dilakukan dengan tepat jenis dan dosis pupuk, cara pemberian pupuk, waktu pemupukan, tempat aplikasi, dan pengawasan dalam pelaksanaan pemupukan. Pemupukan merupakan salah satu faktor penting yang berperan untuk mencapai produktivitas yang tinggi, terutama dalam memenuhi persyaratan unsur hara (Poeloengan et al. 2003). Aspek manajemen pemupukan juga penting untuk dipelajari agar pelaksanaan pemupukan sesuai dengan standar operasional baku yang dijalankan oleh suatu perusahaan sehingga penggunaan pupuk efektif dan efisien.
Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan yang toleran terhadap kondisi
optimal membutuhkan kisaran kondisi lingkungan tertentu. Kondisi iklim merupakan salah satu factor lingkungan utama yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan kelapa sawit (Buana et al., 2004).
Kelapa sawit yang bernilai ekonomi tinggi adalah buah yang tersusun dalam sebuah tandan, biasa disebut dengan TBS ( tandan buah segar). Buah sawit dibagian sabut (daging buah atau mesocarp) menghasilkan minyak sawit kasar (crude palm oil atau CPO) sebanyak 20 – 24 %.Sementara itu, bagian inti sawit menghasilkan minyak inti sawit (palm kernel oil atau PKO) 3 – 4
%.(Sunarko,2006).
Unsur-unsur ilkim yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kelapa sawit meliputi curah hujan, radiasi matahari, temperatur dan kelembapan udara. Secara umum, kekurangan air pada kelapa sawit dapat menyebabkan hal- hal berikut: a) buah lambat masak, b) bobot tandan buah berkurang dan hasil ekstraksi CPO menurun, c) jumlah tandan buah menurun hingga sembilan bulan kemudian, dan d) jumlah bunga jantan meningkat sedangkan bunga betina menurun (Siregar et al., 2005).
Pemupukan kelapa sawit bertujuan untuk menambah unsur-unsur hara yang kurang atau tidak tersedia didalam tanah, yang mana unsur hara tersebut diperlukan oleh tanaman untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif agar didapatkan tandan buah segar yang optimal. Menurut Sutarta dan Winanrna (2003) pemupukan merupakan suatu upaya untuk menyediakan unsur hara yang cukup guna mendorong pertumbuhan vegetatif yang sehat dan produksi TBS hingga mencapai produktivitas maksimum.
Pemupukan merupakan faktor yang sangat penting untuk meningkatkan produksi. Biaya yang dikeluarkan untuk pemupukan berkisar antara 40-60% dari biaya pemeliharaan tanaman secara keseluruhan atau sekitar 24% dari total biaya produksi. Pemupukan pada tanaman kelapa sawit harus dapat menjamin pertumbuhan vegetatif dan generatif yang normal sehingga dapat memberikan produksi Tandan Buah Segar (TBS) yang optimal serta menghasilkan minyak sawit mentah yang tinggi baik kualitas maupun kuantitas (Adiwiganda, 2007).
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh curah, hari hujan dan pemupukan N, P, K, dan Mg terhadap produksi kelapa sawit di PT. Perkebunan Nusantara IV persero di kebun laras
Hipotesis Penelitian
Ada pengaruh nyata curah, hari hujan dan pemupukan N, P, K,Mg terhadap produksi kelapa sawit di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Laras Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk mendapatkan data penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai informasi bagi pihak yang membututhkan, untuk menduga produktivitas di masa akan datang
TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman
Klasifikasi botani kelapa sawit adalah divisio Spermatophyta, dengan subdivisio Pteropsida, kelapa sawit tergolong dalam kelas Angiospermae, dan subkelas Monocotyledoneae, ordo dari kelapa sawit adalah Cocoidae, Famili dari kelapa sawit adalah Palmae, dan genusnya adalah Elaeis, serta spesies dari kelapa sawit adalah Elaeis guinensis (Hadi, 2004).
Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping, membentuk akar primer, sekunder, tertier, dan kuarter. Akar primer tumbuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Akar sekunder, tertier, dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah bahkan akar tertier dan kuarter menuju ke lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung zat hara. Di samping itu, tumbuh pula akar nafas yang muncul di atas permukaan atau di dalam air tanah. Penyebaran akar terkonsentrasi pada lapisan tanah atas. Dengan perakaran kuat tersebut, jarang ditemukan pohon kelapa sawit yang tumbang (Fauzi et al, 2002).
Pohon kelapa sawit tumbuh tegak lurus tidak bercabang. Diameter batang kelapa sawit adalah 35-60 cm. Setiap tahun batang kelapa sawit bertambah panjang 35-45 cm. Semakin lambat pertambahan panjang batang kelapa sawit semakin baik. Hal ini akan memudahkan perawatan, terutama untuk memanen buah dan memperpanjang masa produktifnya (Hadi, 2004).
Pelepah daun kelapa sawit berpenampang melintang menyerupai bentuk segi tiga, dengan luas penampang 100-112 cm2, dengan ketebalan dinding (lapisan epidermis: sklereid dan silica) dapat mencapai hingga 4-6 mm. Parenkim
pelepah daun memiliki dimensi serat sebagai berikut : panjang antara 70-150 cm, diameter serat 0,08- 0,8 mm (Intara dan Dyah, 2012).
Daun kelapa sawit mirip kelapa yaitu membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap, dan bertulang sejajar. Jumlah anak daun di setiap pelepah berkisar antara 250-400 helai. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat.
Pada tanah yang subur, daun cepat membuka sehingga semakin efektif dalam melakukan fungsinya sebagai tempat berlangsugnya fotosintesis dan sebagai alat respirasi. Daun kelapa sawit yang sehat dan segar berwarna hijau tua (Fauzi et al, 2002).
Pada kelapa sawit, letak bunga jantan dan bunga betina terpisah, masing- masing tersusun pada tandan yang berbeda tetapi masih satu pohon. Oleh karena itu kelapa sawit disebut tanaman berumah satu atau monoceous. Namun demikian, terkadang dalam satu tandan terdapat bunga jantan sekaligus bunga betina. Bunga ini disebut hermaprodit. Satu tandan bunga jantan terdiri dari 150-200 spinkelet atau manggar. Dalam satu spinkelet (manggar) terdapat 600-1.500 bunga jantan (Hadi, 2004).
Pada umumnya tanaman kelapa sawit yang tumbuh baik dan subur sudah dapat menghasilkan buah serta siap dipanen pada umur sekitar 3,5 tahun jika dihitung mulai dari penanaman biji berkecambah di pembibitan. Namun, jika dihitung mulai penanaman di lapangan maka tanaman berbuah dan siap panen pada umur 2,5 tahun. Buah terbentuk setelah terjadi penyerbukan dan pembuahan.
Waktu yang diperlukan mulai dari penyerbukan sampai buah matang dan siap panen kurang lebih 5-6 bulan. Warna buah tergantung varietas dan umurnya (Fauzi et al, 2002).
Buah kelapa sawit secara umum terbagi dalam tiga bagian utama, yaitu epikarp atau kulit buah, mesokarp atau daging buah, dan endokarp yang terdiri
dari tempurung dan inti buah atau kernel. Epikarp merupakan bagian terluar buah kelapa sawit. Epikarp biasanya mempunyai warna tertentu sesuai varietas dan umur buah. Dari warna epikarp inilah seseorang bisa menentukan tingkat kemasakan buah. Mesokarp merupakan bagian utama buah kelapa sawit karena dari bagian inilah minyak kelapa sawit mentah (CPO) akan diperoleh melalui proses ekstraksi atau penggilingan. Tempurung merupakan bagian buah kelapa sawit yang melindungi inti. Kernel merupakan bagian penting kedua setelah mesokarp karena dari iti inilah akan dihasilkan KPO sebagai produk unggulan
kedua setelah CPO (Hadi, 2004).
Biji pada kelapa sawit adalah bagian dari buah dan bisa diperoleh dengan membuang daging buah. Biji terdiri cangkang (endocarp), inti (endosperm), dan lembaga (embrio). Embrio kelapa sawit panjangnya 3 mm, berdiameter 1,2 mm, berbentuk silindris dengan 2 bagian utama. Bagian yang tumpul permukaannya berwarna kuning dan bagian lain yang berwarna putih bentuknya agak tajam.
Bakal biji terdiri 3 ruang tetapi setelah penyerbukan dan menjadi buah, ruang yang berkembang hanya satu; kadang-kadang dijumpai dua ruang. Jika endosperm mendapat air yang mengembang dan kemudian lembaganya akan berkecambah (Soehardjo, 1999).
Berdasarkan tebal dan tipisnya cangkang, buah kelapa sawit digolongkan atas dura, psifera, dan tenera. Buah yang paling baik untuk dijadikan bibit kelapa sawit adalah jenis tenera yang merupakan hasil persilangan antara dura dan psifera. Tenera memiliki perbandingan sabut, tempurung, dan inti yang
proporsional. Dura memiliki tempurung yang tebal sehingga sabut dan inti sangat kecil, sedangkan untuk psifera memiliki sabut yang besar sehingga inti amat kecil.
Padahal bagian buah kelapa sawit yang dimanfaatkan tidak hanya sabutnya untuk menghasilkan crude palm oil (CPO), tetapi juga memanfaatkan bagian inti untuk menghasilkan kernel palm oil (KPO) yang berwarna putih (Widyawati, 2009).
Syarat Tumbuh Iklim
Iklim merupakan salah satu faktor pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman yang dibudidayakan. Iklim merupakan faktor yang sulit, bahkan tidak dapat dikendalikan. Budidaya tanaman apapun pada areal terbuka sangat dipengaruhi iklim, demikian juga tanaman kelapa sawit. Kelapa sawit mudah mengalami stres akibat kekurangan air. Hal ini mengakibatkan menurunnya produksi dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, sebelum membudidayakan suatu tanaman, khususnya kelapa sawit, keadaan iklim setempat mutlak dipertimbangkan. Faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit meliputi curah hujan, radiasi sinar matahari, suhu, dan kelembaban udara (Hadi, 2004).
Tanaman kelapa sawit menghendaki curah hujan 1.500-4.000 mm per tahun, tetapi curah hujan optimal adalah 2.000-3.000 mm pert tahun, dengan jumlah hari hujan tidak lebih dari 180 hari per tahun. Pembagian hujan yang merata dalam satu tahunnya berpengaruh kurang baik karena pertumbuhan vegetatif lebih dominan daripada pertumbuhan generatif, sehingga bunga atau buah yang terbentuk pun relatif sedikit (Hartanto, 2011).
Produksi TBS per tahun juga dipengaruhi oleh jumlah jam efektif penyinaran matahari. Penyinaran efektif didefenisikan sebagai total jumlah penyinaran yang diterima sepanjang periode kelembaban air tanah yang mencukupi ditambah selama periode stres air dan dikurangi dengan lamanya stres air-tanah yang terjadi. Pada kondisi di daerah khatulistiwa yang menerima lebih dari 2.400 jam penyinaran efektif sepanjang tahun maka rata-rata pohon dapat menghasilkan minimal 125 kg TBS atau 18 ton/ha/tahun. Panjang penyinaran matahari yang diperlukan kelapa sawit yaitu 5-12 jam/hari dengan kondisi kelembaban udara 80 % (Pahan, 2006).
Suhu optimal rata-rata yang diperlukan oleh kelapa sawit adalah 27-320C.
Tinggi rendahnya suhu berkaitan erat dengan ketinggian lahan dari permukaan air laut. Oleh karena itu, ketinggian lahan yang baik untuk perkebunan kelapa sawit adalah 0-400 m dpl,karena pada ketinggian tersebut temperatur udara diperkirakan 27-320C (Hadi, 2004).
Daerah pengembangan tanaman kelapa sawit yang sesuai adalah daerah yang berada pada 150 LU-150 LS. Sedangkan bentuk wilayah merupakan faktor penentu produktivitas yang akan mempengaruhi kemudahan panen, pengawetan tanah dan air, pembuatan jaringan jalan, serta efektivitas pemupukan (Hartanto, 2011).
Tanah
Meskipun kelapa sawit tidak berbeda jauh dengan tumbuhan dari familia palmae lain misalnya pinang, palem, kelapa, aren, dan lain lain yang dapat tumbuh di hampir semua jenis tanah, namun karena diinginkan produksi yang optimal dalam jangka waktu yang lama, maka jenis tanah untuk budidaya kelapa
sawit harus memenuhi standart atau persyaratan yang dapat menunjang
pertumbuhan dan produksi yang optimal, yaitu tanah yang subur (Hadi, 2004).
Kelapa sawit menghendaki tanah yang gembur, subur, datar, berdrainase baik dan memiliki lapisan solum yang dalam tanpa lapisan padas. Tanaman kelapa sawit membutuhkan unsur hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Karena itu, untuk mendapat produksi yang tinggi dibutuhkan kandungan unsur hara yang tinggi juga. Selain itu pH tanah sebaiknya bereaksi asam dengan kisaran nilai 4,0-6,0 dan ber-pH optimum 5,0-5,5. Secara umum kelapa sawit dapat tumbuh pada jenis tanah podzolik, latosol, hidromorfik, kelabu, alluvial, atau regosol. Secara umum kelapa sawit berproduksi dengan baik pada jenis tanah ultisol, inceptisol, andisol, dan histosol (Hartanto, 2011).
Sifat fisik tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit ialah memiliki solum yang dalam lebih dari 80 cm, karena baik untuk perkembangan akar sehingga efisiensi penyerapan hara tanaman akan lebih baik. Tekstur tanah yang paling ideal untuk kelapa sawit adalah lempung atau lempung berpasir dengan komposisi 20-60% pasir, 10-40% lempung dan 20-50% liat. Struktur tanah yang paling ideal untuk kelapa sawit adalah perkembangannya kuat, konsistensi gembur sampai agak teguh dan permeabilitas sedang. Selain itu,
ketebalan gambut yang baik adalah 0-0,6 m dan tidak dijumpai laterite (Soehardjo, 1999).
Bentuk wilayah yang cocok untuk kelapa sawit adalah: pertama, wilayah yang datar sampai berombak, yaitu wilayah dengan kemiringan lereng 0-8 %.
Kedua, di wilayah bergelombang sampai berbukit dengan kemiringan lereng 8-30
%, kelapa sawit masih dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik melalui upaya pengelolaantertentu seperti pembuatan teras (Hartanto, 2011).
Curah Hujan dan Hari Hujan
Iklim sangat berpengaruh terhadap variasi pertumbuhan kelapa sawit.
Salah satu faktor iklim yang sangat berpengaruh terhadap produktifitas kelapa sawit adalah air. Ketersediaan air ini sangat dipengaruhi oleh curah hujan, irigasi
yang diberikan ke perkebunan serta kapasitas tanah dalam menahan air (Lubis, 1992).
Curah hujan adalah air hujan yang jatuh di permukaan tanah selama jangka waktu tertentu, diukur dalam satuan tinggi kolom di atas permukaan horizontal, apabila tidak terjadi penghilangan-penghilangan oleh proses penguapan, pengaliran dan peresapan ke dalam tanah. Curah hujan dinyatakan dalam tinggi air (mm) diukur dengan penakar hujan dengan luas moncong 100 cm2. Satu hari hujan adalah periode 24 jam terkumpulnya curah hujan setinggi 0.5 mm atau lebih dan curah hujan dengan tinggi kurang dari ketentuan tersebut, hari hujan dianggap nol tetapi curah hujan tetap diperhitungkan (Siregar et al, 2006).
Air hujan merupakan sumber air utama untuk tanaman perkebunan.
Menurut Mangoensoekarjo (2007) curah hujan optimal untuk tanaman kelapa sawit adalah 1.250 – 2.500 mm/tahun, sedangkan Hadi (2004) menyatakan bahwa curah hujan yang ideal untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit adalah 2.500 – 3.000 mm/tahun dengan distribusi merata sepanjang tahun serta tidak terdapat 7 bulan kering berkepanjangan dengan curah hujan di bawah 120 mm dan tidak terdapat bulan basah dengan hujan lebih dari 20 hari.
Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tabaman kelapa sawit adalah di atas 2000 mm dan merata sepanjang tahun. Hujan yang tidak turun selama 3 bulan menyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai hujan turun (anak daun atau janur tidak dapat memecah). Hujan yang lama tidak turun juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau masak (brondol) sampai turun hujan (Sastrosayono, 2003).
Mangoensoekarjo dan Semangun (2005) menyatakan bahwa kekurangan air pada tanaman kelapa sawit dapat mengakibatkan penurunan produksi tandan buah segar. Hadi (2004) menambahkan kekurangan air pada tanaman kelapa sawit dapat mengakibatkan buah terlambat masak, berat tandan buah berkurang, jumlah tandan buah menurun hingga sembilan bulan kemudian, serta meningkatkan jumlah bunga jantan dan menurunkan jumlah bunga betina.
Kelebihan air yang dikarenakan tingginya curah hujan dapat meneyebabkan kegagalan matang tandan pada bunga yang telah mengalami anthesis. Curah hujan yang tinggi biasanya diikuti dengan penambahan hari hujan.
Hari hujan yang banyak mengakibatkan penurunan intensitas penyinaran matahari sehingga laju fotosintesis turun dan dapat menyebabkan turunnya produktivitas.
Curah hujan yang tinggi mendorong peningkatan pembentukan bunga, tetapi di lain pihak dapat menghambat penyerbukan karena sebagian serbuk hilang terbawa aliran air hujan. Sedangkan curah hujan yang rendah akan menghambat pembentukan daun, yang akan menghambat pembentukan bunga di ketiak daun (Nugraheni, 2007).
Pola curah hujan tahunan mempengaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit. Curah hujan yang tinggi dapat menghambat kegiatan panen
karena rusaknya sarana transportasi dan kesulitan pemanen dalam pengumpulan berondolan karena bercampur dengan tanah. Curah hujan yang tinggi mendorong peningkatan pembentukan bunga, tetapi menghambat terjadinya penyerbukan karena serbuk sari hilang terbawa aliran air dan serangga penyerbuk tidak keluar dari sarangnya dan juga kegagalan matang tandan pada bunga yang telah mengalami anthesis. Proses pematangan buah dipengaruhi keadaan curah hujan, bila curah hujan tinggi buah kelapa sawit cepat memberondol (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2006).
Umur Tanaman
Tinggi rendahnya produktivitas tanaman kelapa sawit di suatu kebun dipengaruhi oleh komposisi umur tanaman yang ada di kebun tersebut. Semakin luas komposisi umur tanaman remaja dan tanaman tua, semakin rendah pula produktivitas per hektarnya. Komposisi umur tanaman berubah setiap tahunnya sehingga juga berpengaruh terhadap pencapaian produksi per hektar per tahunnya (Risza, 2009). Lubis (1992) menyatakan bahwa produktivitas maksimal tanaman kelapa sawit dapat dicapai ketika tanaman berumur 7 – 11 tahun. Umur ekonomis tanaman kelapa sawit yang dibudidayakan umumnya 25
Tahun. Pengelompokan umur tanaman 3-8 tahun (muda), 9-13 (remaja), 14-20 tahun (dewasa), >20 tahun (tua). Pengelompokan masa berbuah TBM (Tanaman Belum Menghasilkan) 0-3 tahun dan TM (Tanaman Menghasilkan) >3 tahun.(Lubis, 2008)
Tingkat produktivitas tanaman kelapa sawit akan meningkat secara tajam dari umur 3–7 tahun (periode tanaman muda, young), mencapai tingkat produksi maksimal pada umur sekitar 15 tahun (periode tanaman remaja, prime) dan mulai
menurun secara gradual pada periode tanaman tua sampai saat menjelang peremajaan (replanting) (Pahan, 2008).
Umur tanaman berpengaruh pada pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman kelapa sawit. Peran umur tanaman jika ditinjau dari pertumbuhan vegetatif tanaman kelapa sawit yaitu berpengaruh dalam pembentukan pelepah yakni jumlah pelepah, panjang pelepah, dan jumlah anak daun. Tanaman yang berumur tua jumlah pelepah dan anak daun yang dihasilkan lebih banyak. Pelepah yang terbentuk juga lebih panjang dibandingkan dengan tanaman yang masih muda. Ini berkolerasi positif terhadap ketersediaan makanan bagi tanaman karena pelepah berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Peran umur tanaman jika ditinjau dari pertumbuhan generatif yakni berpengaruh terhadap organ reproduksi tanaman yaitu dalam proses pembentukan dan perkembangan buah. Kelapa sawit yang memiliki komposisi umur tanam muda akan memiliki jumlah janjang yang lebih banyak tetapi berat janjang yang dihasilkan lebih kecil dibandingkan dengan tanaman yang memiliki komposisi umur tanaman yang lebih tua. Kondisi ini berpengaruh pada berat janjang rata-rata (BJR) kebun yang berpengaruh terhadap pencapaian produksi TBS yang diharapkan (Prihutami, 2011).
Drajat (2004) dalam penelitiannya mengatakan bahwa umur tanaman mempengaruhi kualitas rendemen TBS, yang pada akhirnya sangat berpengaruh terhadap harga TBS. Kualitas rendemen TBS dikatakan tinggi ketika tanaman berumur pada selang waktu 7 hingga 22 tahun, sehingga perkiraan harga TBS lebih tinggi. Tetapi kualitas rendemen TBS masih rendah pada selang umur
tanaman 3 sampai 6 tahun dan 23 sampai 25 tahun, sehingga perkiraan harga TBS lebih rendah.
Pengaruh Curah, Hari Hujan dan pemupukan N, P, K, Mg Terhadap Produtivitas Kelapa Sawit Pada Beberapa tahun tanam
Tanaman Kelapa Sawit
Berdasarkan penelitian Yunita (2010) yang menyatakan bahwa penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit kebun Sei Lala PT Tunggal Perkasa Plantations Indragiri Hulu Riau, dipengaruhi oleh curah hujan. Produktivitas tanaman kelapa sawit terbesar diperoleh saat curah hujan terbesar pula (curah hujan > 100 mm/bulan). Akan tetapi pada curah hujan 60–100 mm/bulan produktivitas tanaman kelapa sawit yang dihasilkan lebih kecil daripada produktivitas tanaman pada curah hujan < 60 mm/bulan.
Menurut Bando (2012) di Morowali Sulawesi Tengah, data curah hujan tahunan di Kabupaten Morowali, tahun 1991 merupakan tahun dimana jumlah curah hujan paling tinggi, dengan curah hujan total mencapai 5220 mm, sedang curah hujan terendah terjadi pada tahun 2003 dengan total curah hujan mencapai 2115 mm. Produksi kelapa sawit tertinggi adalah pada tahun 2008 dengan total jumlah produksi sebesar 279.540 kg, sedang yang terendah pada tahun 1990 sebesar 440.328 kg. Produksi kelapa sawit mengalami peningkatan seiring dengan pertumbuhan atau umur kelapa sawit serta perluasan wilayah perkebunan.
Berdasarkan penelitian Pasaribu dkk. (2012) di perkebunan kelapa sawit di PPKS sub unit Kalianta Kabun Riau, besar kecilnya curah hujan sangat mempengaruhi nilai lolosan tajuk dan aliran batang serta intersepsi yang terjadi setiap bulannya. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa lolosan tajuk pada
lolosan tajuk mencapai 353.9 mm. Tingginya nilai lolosan tajuk pada bulan ini dikarenakan oleh tingginya curah hujan pada bulan tersebut. Sebaliknya pada bulan Juni 2011 memiliki curah hujan yang rendah sehingga perolehan nilai lolosan tajuk pada bulan ini hanya sebesar 2.2 mm. Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit adalah di atas 2000 mm dan merata sepanjang tahun. Hujan yang tidak turun selama 3 bulan menyebabkan pertumbuhan kuncup daun terhambat sampai hujan turun (anak daun atau janur tidak dapat memecah). Hujan yang lama tidak turun juga banyak berpengaruh terhadap produksi buah, karena buah yang sudah cukup umur tidak mau masak (brondol) sampai hujan turun.
Kekeringan dengan defisit air di atas 250 mm pertahun akan mengakibatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kelapa sawit terganggu yang berlangsung sampai 2–3 tahun ke depan. Sebagai contoh, produksi tandan buah segar di Kebun Bekri (Lampung) menurun akibat kekeringan pada musim kemarau panjang yang terjadi pada tahun 1982. Penurunan tersebut 5–11 % pada tahun berjalan, 14–55 % pada tahun 1983, dan 4–30 % pada tahun 1984 (Lubis, 1992).
Berdasarkan penelitian Prihutami (2011) di Sungai Bahaur Estate Kalimantan Tengah, yang menyatakan bahwa umur tanaman memiliki peranan yang sangat penting terhadap produksi TBS kelapa sawit. Hasil analisis menunjukkan umur tanaman 7-11 tahun memberikan pengaruh terbaik terhadap produksi TBS. Tanaman kelapa sawit pada umur 7-11 tahun dapat mencapai produksi optimum dengan jumlah TBS yang dihasikan banyak dan berat janjang
yang dihasilkan juga cukup tinggi sehingga berpengaruh kepada pencapaian produksi TBS per hektarnya yang tinggi pula.
Pemupukan
Budidaya kelapa sawit meliputi beberapa tahapan kegiatan yaitu persiapan areal, pembibitan, penanaman, sensus pokok, penyulaman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit tanaman (HPT), pengendalian gulma, kastrasi, penunasan, pemanenan, dan pemanfaatan limbah, Pemupukan adalah menambahkan suatu bahan atau material pada media tanam atau tanaman sehingga tanaman dapat bereproduksi dan mempunyai kualitas produksi dengan baik.
Menurut Pahan (2008), Pupuk adalah suatu bahan atau material yang mengandung satu atau lebih jenis unsur hara yang berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Berdasarkan bahan pembuatnya pupuk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu pupuk anorganik dan pupuk organik. Pupuk majemuk dan pupuk tunggal merupakan klasifikasi pupuk berdasarkan banyaknya jenis kandungan nutrisinya. Berdasarkan jumlah nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman, pupuk dapat dibagi menjadi pupuk makro dan pupuk mikro.
Salah satu dari kegiatan pemeliharaan yang memerlukan perhatian intensif yaitu pemupukan. Hal tersebut karena biaya pemupukan tergolong tinggi, kurang lebih 30 % dari total biaya produksi atau 40 – 60 % dari biaya pemeliharaan sehingga menuntut pihak praktisi perkebunan untuk secara tepat menentukan jenis dan kualitas pupuk yang akan digunakan dan mengelolanya mulai dari pengadaan hingga aplikasinya di lapangan baik secara teknis maupun manajerial (Winarna et al. 2003).
Menurut Mangoensoekarjo dan Semangun (2005), unsur - unsur hara yang dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman merupakan bagian dari sel-sel dalam tubuh tanaman ataupun berfungsi melancarkan berlangsungnya proses metabolisme. Oleh karena itu kebutuhan akan unsur hara berlangsung sepanjang kehidupan tanaman. Berikut ini merupakan unsur makro yang dibutuhkan oleh tanaman kelapa sawit sebagai berikut:
Nitrogen (N)
Nitrogen merupakan unsur hara penting yang diperlukan untuk pertumbuhan vegetatif tanaman, pembentukan protein, sintesis klorofil, membantu proses metabolisme, dan pada tanaman muda diperlukan untuk menunjang agar saat TM batangnya sehat dan kuat. Gejala defisiensi N umumnya dijumpai pada tanaman di tanah mineral, antara lain daun pada pelepah tua berwarna hijau pucat sampai kuning.
Phosphor (P)
Phosfor merupakan unsur hara penting yang diperlukan untuk energi pada proses asimilasi, mendorong pembentukan perakaran pada awal pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan daya absorbsi hara dari dalam tanah. Gejala defisiensi P yaitu tanaman tumbuh kerdil dengan pelepah yang pendek, tajuk berbentuk piramida terbalik, dan batang yang meruncing.
Kalium (K)
Kalium merupakan unsur hara penting yang diperlukan untuk membantu proses fotosintesis pada daun dan metabolisme tanaman, menjaga keseimbangan Mg dalam tanaman, penting dalam menentukan jumlah dan pembentukan ukuran janjangan, serta penting dalam ketahanan tanaman dalam serangan penyakit.
Gejalah defisiensi K yaitu pelepah daun tua pada bagian bawah berwarna kuningtua kecokelatan dan berbintik orange (orange spot).
Magnesium ( Mg )
Magnesium merupakan unsur hara penting yang dalam penyusunan klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis. Gejala defisiensi Mg yaitu tampak dari helai daun tua sebagian menguning dan sebagian lagi tetap berwarna hijau. Daun tampak berwarna kuning khususnya jika terkena sinar matahari.
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di PT. Perkebunan Nusantara IV Persero Kebun Laras, Sumatera Utara pada bulan September 2018 sampai dengan November 2018.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif maupun kualitatif. Data dikumpulkan, disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis dengan analisis regresi berganda dan korelasi yang diuraikan secara deskriptif. Alat bantu yang digunakan untuk mengolah data tersebut adalah SPSS.v.20
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis linier regresi berganda dan korelasi. Teknik analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh fungsional antar variabel terikat dan variabel bebas dan analisis korelasi berguna untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat serta hubungan antar variabel komponen produksi.
Variabel tidak bebas adalah varibel yang keberadaannya dipengaruhi oleh variabel bebas dan dinotasikan dengan Y. Variabel tidak bebas dalam penelitian ini adalah produksi TBS kelapa sawit, sedangkan variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya variabel tidak bebas dan dinotasikan dengan X. Variabel bebas pada penelitian ini adalah curah hujan, hari hujan bulanan dan pemupukan N, P, K, Mg . Pengaruh fungsional variabel curah hujan dan hari hujan bulanan dan pemupukan per kuartal terhadap produksi TBS yang dinalaisis dengan fungsi matermatis sebagai berikut :
Y = + ε
Keterangan :
Y : produksi TBS
a : intersep dan garis pada sumbu Y b : koefisien regresi linier
X1 : curah hujan bulanan X2 : hari hujan bulanan X3 : Nitrogen
X4 : Phospor X5 : Kalium X6 : Magnesium ε : error Peubah amatan
Peubah amatan yang diamati adalah data primer berupa data-data PT. Perkebunan Nusantara IV Persero kebun Laras Kecamatan Bandar Huluam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.
Produksi Tandan Buah Segar (Ton/Tahun)
Data produksi tandan buah segar (ton/tahun) yang digunakan berdasarkan data produksi kelapa sawit tahunan selama 4 tahun yakni 2010 ,2011, 2012 dan 2013 dikumpulkan.. Data produksi TBS dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan analisis korelasi.
Curah Hujan (mm)
Data curah hujan yang digunakan berdasarkan data pengukuran curah hujan bulanan selama 4 tahun yakni 2009, 2010, 2011 dan 2012. Data diperoleh
dari PT. Perkebunan Nusantara IV Persero kebun Laras Kecamatan Bandar Huluam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.
Hari Hujan (hari)
Data hari hujan yang digunakan diperoleh dengan cara menjumlahkan hari dimana turunnya hujan setiap bulannya selama 4 tahun yakni 2009, 2010, 2011 dan 2012. Data diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV Persero kebun Laras Kecamatan Bandar Huluam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara
Pemupukan Nitrogen
Data pemupukan nitrogen yang digunakan diperoleh dengan cara menjumlahkan pengaplikasian pupuk per semester selama 4 tahun yakni 2009, 2010, 2011 dan 2012. Data diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV Persero kebun Laras Kecamatan Bandar Huluam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.Sumber pupuk adalah Urea
Pemupukan Phosfor
Data pemupukan phosfor yang digunakan diperoleh dengan cara menjumlahkan pengaplikasian pupuk per semester selama 4 tahun yakni 2009, 2010, 2011 dan 2012. Data diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV Persero kebun Laras Kecamatan Bandar Huluam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.Sumber pupuk adalah Rock Phosphate (RP)
Pemupukan Kalium
Data pemupukan kalium yang digunakan diperoleh dengan cara menjumlahkan pengaplikasian pupuk per semester selama 4 tahun yakni 2009, 2010, 2011 dan 2012. Data diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV Persero
kebun Laras Kecamatan Bandar Huluam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.
Sumber Pupuk MOP.
Pemupukan Magnesium
Data pemupukan magnesium yang digunakan diperoleh dengan cara menjumlahkan pengaplikasian pupuk per semester selama 4 tahun yakni 2009, 2010, 2011 dan 2012. Data diperoleh dari PT. Perkebunan Nusantara IV Persero kebun Laras Kecamatan Bandar Huluam Kabupaten Simalungun Sumatera Utara.
Sumber pupuk adalah Kiserit.
PELAKSANAAN PENELITIAN Pengumpulan Data
Pengumpulan data skunder adalah meliputi data primer untuk laporan umum dan data sekunder untuk keperluan analisis. Data primer ini diperoleh dari studi literatur yang didapat di kantor tentang PTPN IV kebun Laras. Data primer untuk analisis disesuaikan dengan kelengkapan data pada administrasi kebun.
Data primer untuk laporan umum meliputi keadaan umum perusahaan, letak geografis, iklim, luas tata guna kebun, keadaan produksi dan produktivitas tanaman. Data skunder untuk keperluan analisis ini diambil data Tahunan selama 4 tahun yakni pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012 dan 2013 meliputi data curah hujan, hari hujan pemupukan dan data produksi, data tahun tanaman 1990, 1991, 1992, 1993, 1994, 1995, 1996, 1997,1998 dan 1999.
Pengolahan Data Dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan analisis korelasi. Regresi linier berganda berguna untuk menghitung besarnya pengaruh hubungan dua atau lebih variabel bebas terhadap satu variabel terikat dan memprediksi variabel terikat dengan menggunakan dua atau lebih variabel bebas. Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Pengolahan data dibantu dengan software spss.v.20.
Analisi data bersifat deskriptif dengan menggunakan bantuan statistic untuk melihat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Analisis data dilakukan untuk memperoleh hasil pengolahan data. Data yang diperoleh tersebut dianalisis dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda untuk
mengetahui pengaruh curah, hari hujan dan pemupukan N, P, K, Mg, Tahunan yang mempengaruhi produksi kelapa sawit dan hubungan kedua variabel bebas dan terikat pada Tahun Tanam 1990, 1991, 1992, 1993, 1994, 1995, 1996, 1997, 1998 dan 1999 berdasarkan data yang diperoleh dari administrasi kebun.
Berdasarkan hipotesis yang diajukan, untuk menguji hipotesis digunakan Uji-T (parsial), Uji-F (serempak) dan R2. Uji hipotesis menggunakan uji dua arah dengan tingkat signifikan (α) sebesar 0,05. Teknik analisis data dengan menggunakan analisis regresi berganda dengan model persamaan berikut :
Y = ε
Y = ε
Model yang digunakan dalam membuat suatu persamaan regresi linier berganda ini, dapat terjadi beberapa keadaan yang dapat menyebabkan estimasi koefisien regresi tidak lagi menjadi penduga koefisien tak bias terbaik, sehingga diperlukan beberapa asumsi mendasar yang perlu diperhatikan dengan melakukan uji asumsi klasik.
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik berguna untuk menguji apakah model regresi yang digunakan dalam penelitian layak diuji atau tidak. Kelayakan model regresi dapat terlihat dari data yang dihasilkan terdistribusi normal, dan tidak terdapat multikolinearitas, heteroskedasitisitas, autokorelasi dalam model yang digunakan.
Jika keseluruhan syarat tersebut terpenuhi berarti model analisis telah layak digunakan.
Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel tidak bebas dan variabel bebas memiliki data yang terdistribusi normal atau tidak. Data yang terdistribusi normal menunjukkan bahwa tidak terdapat nilai ekstrim yang nantinya dapat mengganggu hasil penelitian. Model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal dan mendekati normal. Dalam pembahasan ini akan digunakan uji one sample Kolmogorov – Sminov dengan menggunakan taraf signifikan 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika signifikan dan nilai uji one sample Kolmogorov – Sminov lebih besar dari 5%
atau 0,05.
Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpanan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varians dan residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas atau biasa disebut homoskedastisitas. Metode pengujian yang digunakan adalah uji Glejser. Uji glejser dilakukan dalam meregresikan nilai absolute residual terhadap variabel independen lainnya. Jika nilai β signifikan maka mengindikasikan terdapat heteroskedastisitas dalam model.
Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan linear antar variabel independen dalam model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya multikolinearitas. Uji Multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai varian inflation factor (VIF) dan
nilai tolerance pada model regresi. Model regresi yang baik ialah yang terjadi multikolinearitas yang dibuktikan dengan nilai VIF<5 dan nilai tolerance > 0,1.
Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan adanya pengamatan lain pada model regresi. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson (d) dibandingkan dengan nilai tabel durbin Watson. Prasyarat yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Metode uji Durbin-Watson (uji DW) dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Jika d terletak antara 0 dan dI, maka autokorelasi positif.
2. Jika d terletak antara dL dan dU atau d terletak antara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak dapat disimpulkan.
3. Jika d terletak antara dU dan (4-dU), maka tidak ada autokorelasi.
4. Jika d terletak antara (4-dL) dan 4, maka ada autokorelasi negative.
Pengujian Hipotesis
Berdasarkan hipotesis yang diajukan, untuk menguji hipotesis digunakan Uji-T (parsial), Uji-F (serempak) dan R2. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji dua arah dengan tingkat signifikan (α) sebesar 0,05 apakah diterima atau ditolak. Nilai koefisien determinasi (R2) digunakan untuk melihat besarnya presentase pengaruh variabel bebas terhadap nilai variabel terikat. Nilai R2 semakin mendekati nol memperlihatkan semakin kecil pengaruh semua variabel bebas terhadap nilai variabel terikat sedangkan nilai R2 semakin mendekati satu
memperlihatkan semakin besar pula pengaruh semua variabel bebas terhadap nilai variabel terikat. Uji hipotesis secara parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel independen terhadap variabel independen.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai T-hitung dengan T-tabel.
Uji hipotesis secara serempak digunakan untuk mengetahui pengaruh dari variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel independen. Uji ini dilakukan dengan membandingkan nilai F hitung dengan nilai F tabel, hipotesis yang diajukan dalam analisis ialah :
H0 : bi = 0 Hi : bi ≠ 0,
Bi = koefisien regresi variabel ke-i
Pengambilan keputusan untuk melihat apakah hipotesis H0 diterima atau ditolak. Hipotesis H0 ditolak membuktikan bahwa variabel bebas yang digunakan berpengaruh nyata terhadap produksi TBS.
Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan dilakukan untuk meringkas hasil pengolahan data yang telah di analisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan analisis korelasi. Kesimpulan dapat menjelaskan kebenaran dari hipotesis yang telah dibuat apakah diterima atau ditolak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data produkivitas (kg/ha) pada tahun 2010, 2011, 2012, 2013 data curah hujan (mm/bulan) dan hari hujan (hari/bulan) dan pemupukan pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012 dari kebun Laras PT. Perkebunan Nusantara IV Medan
Curah hujan
Data curah hujan pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012 dari kebun laras PT.Perkebunan Nusantara IV Medan dapat di lihat pada tabel 1 (lampiran 1 )
Tabel 1. Rataan curah hujan (mm/bulan) tahun 2009-2012
Bulan Tahun
2009 2010 2011 2012 Rataan
Januari 182 87 226 109 151
Februari 11 34 76 117 59,5
Maret 283 83 415 201 245,5
April 175 66 166 401 202
Mei 213 128 224 259 206
Juni 49 281 148 86 141
Juli 79 244 153 274 187,5
Agustus 106 263 436 235 260
September 354 317 176 382 307,25
Oktober 256 123 322 310 252,75
November 142 317 158 221 209,5
Deember 141 222 196 156 178,75
Total 1991 2165 2696 2751 2400,75
Tabel 1 dapat dilihat rataan curah hujan tertinggi terdapat pada bulan September sebesar 307,25 mm dan rataan terendah terdapat pada bulan februari 59,5 mm . total curah hujan tertinggi pada tahun 2009 terdapat pada bulan September sebesar 354 mm dan terendah terdapat pada bulan februari sebesar 11 mm. total curah hujan tertinggi pada tahun 2010 terdapat pada bulan November sebesar 317 mm dan terendah terdapat pada bulan februari sebesar 34 mm. total curah hujan tertinggi pada tahun 2011 terdapat pada bulan maret sebesar 415 mm dan terendah
2012 terdapat pada bulan april sebesar 401 mm dan terendah terdapat pada bulan juni sebesar 86 mm.
Hari hujan
Data hari hujan pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012 dari kebun laras PT.Perkebunan Nusantara IV Medan dapat di lihat pada tabel 2 (lampiran 2 )
Tabel 2. Rataan hari hujan (hari/bulan) tahun 2009-2012
Bulan Tahun
2009 2010 2011 2012 Rataan
Januari 8 8 10 5 7,75
Februari 2 3 3 6 3,5
Maret 13 5 12 6 9
April 10 4 5 12 7,75
Mei 11 6 10 8 8,75
Juni 3 9 8 4 6
Juli 6 5 9 10 7,5
Agustus 8 10 14 6 9,5
September 14 16 7 14 12,75
Oktober 12 25 11 11 14,75
November 10 17 7 11 11,25
Desember 17 11 6 8 10,5
Total 114 119 102 101 7,75
Tabel 2. dapat dilihat rataan hari hujan tertinggi terdapat pada bulan oktober 14,75 dan rataan hari hujan terendah terdapat pada bulan februari 3,5. total hari hujan tertinggi pada tahun 2009 terdapat pada bulan desember sebesar 17 hari/bulan dan terendah terdapat pada bulan juni sebesar 3 hari/bulan. total hari hujan tertinggi pada tahun 2010 terdapat pada bulan oktober sebesar 25 hari/bulan dan terendah terdapat pada bulan februari sebesar 3 hari/bulan. total hari hujan tertinggi pada tahun 2011 terdapat pada bulan agustus sebesar 14 hari/bulan dan terendah terdapat pada bulan februari sebesar 3 hari/bulan. total hari hujan
tertinggi pada tahun 2012 terdapat pada bulan september sebesar 14 hari/bulan dan terendah terdapat pada bulan juni sebesar 4 hari/bulan.
Produktivitas kelapa sawit
Data hari hujan pada tahun 2010, 2011, 2012, 2013 dari kebun laras PT.
Perkebunan Nusantara IV Medan dapat di lihat pada Tabel 3
Tabel 3. Rataan produktivitas kelapa sawit (kg/ha/bulan) pada tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013
Bulan
Tahun .….kg/ha/bulan…..
2010 2011 2012 2013 Rataan
Januari 1440,46 1272,70 1886,61 1927,88 1631,91 Februari 1516,38 1468,68 1847,38 1726,47 1639,73 Maret 2162,20 2177,22 1975,98 1663,98 1994,84 April 1806,99 2148,65 1927,68 1874,79 1939,53
Mei 2242,46 2389,93 1967,89 1626,87 2056,79
Juni 2518,97 2416,86 2054,55, 1255,15 2061,38
Juli 2882,66 2620,77 2316,21 2114,98 2483,65
Agustus 2418,02 2564,38 2217,56 2088,11 2322,02 September 2404,71 2751,35 2506,95 1976,42 2409,86 Oktober 2145,94 2654,95 2054,00 1973,94 2207,21 November 2259,19 2458,05 2400,55 2103,79 2305,40 Deember 2111,24 2424,42 2604,15 1479,41 2154,80
Total 25909,22 27347,94 25759,50 21811,79
Tabel 3 menyatakan rataan produktivitas kelapa sawit tertinggi terdapat pada bulan juli sebesar 2483,65 kg/ha dan rataan produktivitas kelapa sawit terendah pada bulan januari sebesar 1631,91 kg/ha.total produktivitas tertinggi pada tahun 2010 terdapat pada bulan juli sebesar 28882,66 kg/ha dan terednah terdapat pada bulan januari sebesar 1440,46 kg/ha. Total produktivitas tertinggi pada tahun 2011 terdapat pada bulan September sebesar 2751,35 kg/ha dan terendah terdapat pada bulan januari sebesar 1272,70. Total produktivitas tertinggi pada tahun 2012 terdapat pada bulan desember sebesar 2604,15 kg/ha dan terednah terdapat pada
terdapat pada bulan juli sebesar 2114,98 kg/ha dan terendah terdapat pada bulan desember sebesar 1479,41 kg/h.
Hubungan curah hujan dan hari hujan terhadap produktivitas kelapa sawit tahun 2010-2013
Tabel 4. Rataan curah hujan dan hari hujan tahun 2009-2012 pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013
Bulan
Rataan Curah hujan
(mm) Hari hujan (hari) Produktivitas (kg/ha)
Januari 151 7,75 1631,91
Februari 59,5 3,5 1639,73
Maret 245,5 9 1994,84
April 202 7,75 1939,53
Mei 206 8,75 2056,79
Juni 141 6 2061,38
Juli 187,5 7,5 2483,65
Agustus 260 9,5 2322,02
September 307,25 12,75 2409,86
Oktober 252,75 14,75 2207,21
November 209,5 11,25 2305,40
Desember 178,75 10,5 2154,80
Total 2400,75 109 25207,11
Tabel 4. Menyatakan bahwa total rataan curah hujan pada tahun 2009-2012 sebesar 2400,75, total rataan hari hujan pada tahun 2009-2012 sebesar 109 dan total produktivitas tanaman kelapa sawit pada tahun 2010-2013 sebesar 25207,22 kg. berikut disajikan hubungan curah hujan hari hujan dan produktivitas tanaman kelapa sawit tahun (2010-2013) dilihat dari tabel 4 di atas data tidak tersebar dengan baik, maka dilakukan transformasi dengan rumus √ .
Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik terdiri dari uji normalitas, uji heteroskedastisitas, uji multikolinearitas, dan uji autokorelasi
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak. Persyaratan uji normalitas adalah data berdistribusi normal. Data di analisis dengan uji One Sample Kolmogrov-Sminov pada taraf uji α 0,05. Data dinyatakan berdistribusi normal jika nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 (Sig > α 0,05). Untuk persamaan regresi pada tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013 diperoleh nilai Kolmogorov-Sminov dan nilai signikansi yaitu 1,114(α =0,167) pada lampiran 1 yang berarti data telah terdistribusi normal.
Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menetahui adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi. Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Metode pengujian yang digunakan ialah uji glejser. Uji glejser dilakukan dengan meregresikan nilai absolute residual terhadap variable independent lainnya. Jika nilai β signifikan maka mengindikasikan terdapat heteroskedastisitas dalam model. Berikut disajikan uji heteroskedastisitas menggunakan uji glejser pada model persamaan regresi linier berganda pada produktivitas tahun 2010-2013 pada Lampiran 12
Tabel 5. Nilai signifikansi pada uji heteroskedastisitas pada produktivitas tahun produktivitas tahun 2010-2013
Variable Sig.
Constant 0,009
Curah hujan 0,264
Hari hujan 0,050
Berdasarkan hasil uji heteroskedastisitas di atas menunjukan bahwa variable curah hujan memiliki nilai signifikansi pada tanaman kelapa sawit yaitu sebesar 0,264, dan variable hari hujan memiliki nilai signifikansi 0,050. Variable curah hujan dan hari hujan memiliki nilai signifikansi di atas 0,01 dalam model ini sehingga memiliki sebaran varian yang sama (homogen). Dengan kata lain, tidak terdapat heteroskedastisitas dalam model ini.
Model regresi yang memenuhi prasyarat adalah tidak adanya multikolinearitas. Uji multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai varian inflation factor (VIF) dan nilai tolerance pada regresi. Model regresi yang baik
adalah tidak terjadi multikolinearitas yang dibuktikan dengan nilai VIF < 10 dan nilai tolerance > 0,1. Berikut disajikan nilai VIF dan tolerance model regresi linier berganda pada produktivitas tahun 2010-2013
Tabel 6 .Uji multikolinearitas nilai VIF dan Tolerance pada produktivitas tahun 2010-2013
Variable Tolerance VIF
Curah hujan 0,586 1,707
Hari hujan 0,586 1,707
Berdasarkan hasil uji multikolinearitas di atas diperoleh nilai VIF yang lebih kecil dari 10 dan nilai tolerance lebih besar dari 0,1, Untuk semua variable yang diuji dapat diartikan bahwa tidak terdapat multikolinearitas dalam model persamaan regresi tersebut.
Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan yang terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson (d) yang dibandingkan dengan nilai dari tabel Durbin Watson (Lampiran 14). Untuk model persamaan regresi pada
produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013 di atas, diperoleh nilai Durbin Watson (d) ialah 2,892 dengan nilai dL = 0,8122 dan nilai dU = 1,5794 dari tabel Durbin Watson
Berdasarkan kriteria pada uji autokorelasi, jika d terletak antara 0 dan dL, maka ada autokorelasi positif, jika d terletak antara dL dan dU atau diantara (4- dU) dan (4-dL), maka tidak dapat disimpulkan, jika d terletak antara dU dan 4-dU, maka tidak ada autokorelasi, jika d terletak antara 4-dL dan 4, maka ada autokorelasi negatif. Oleh karena itu, pada persamaan regresi pada tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013 tidak terdapat auto korelasi. Dari keempat uji asumsi tersebut menyatakan bahwa persamaan regresi pada tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013 telah memenuhi syarat
Analisis Data
Analisis produktivitas kelapa sawit pada tahun 2010, 2011, 2012 dan 2013 di kebun laras PTPN IV dilakukan dengan menggunakan analisis regresi linear berganda dan analisis korelasi. Analisis linear berganda untuk mengetahui apakah variabel curah hujan dan hari hujan akan memberikan pengaruh terhadap produksi kelapa sawit. Analisis korelasi berguna untuk melihat kuat-lemahnya hubungan antara variabel bebas dan terikat. Alat bantu untuk mengolah data menggunakan SPSS.v.20 for windows.
Analisis Regresi Liner Berganda
Dalam uji regresi berganda dikenal nilai koefisien korelasi (r), koefisien determinasi R2, dan koefisien determinasi terkoreksi (Adjusted R2). Koefisien korelasi (r) digunakan untuk melihat besarnya hubungan antar variabel bebas dan variabel terikat. Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui
persentase sumbangan pengaruh serentak variabel-variabel bebas terhadap variabel terikat. Berikut disajikan nilai koefisien pada model persamaan regresi linear berganda pada tanaman kelapa sawit tahun (2010-2013).
Tabel 7. Nilai koefisien persamaan regresi linier berganda pada prouktivitas tanaman kelapa sawit tahun (2010-2013)
Model Summaryb Model r R Square Adjusted R
Square
Std. Error of the Estimate
1 .606a .367 .226 1726852984
Nilai koefisien(r) sebesar 60,6% koefisien determinasi Sebesar 36,7% dan koefisien determinasi terkoreksi ( Adjusted ) sebesar 22,6%.
Koefisien determinasi menandakan bahwa 36,7% produktivitas dapat dijelaskan oleh variasi variable Curah Hujan dan Hari hujan dan sisanya sebesar 63,3% dijelaskan oleh variable lain yang tidak dimasukkan ke dalam model.
Uji t-parsial dilakukan dengan membandingkan nilai t-hitung dengan nilai t-tabel. Berikut disajikan uji t-parsial pada tanaman kelapa sawit tahun (2010- 2013)) pada Tabel 9
Tabel 8. Uji t-parsial curah hujan dan hari hujan pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun (2010-2013)
Peubah t-hitung Sig.
Curah hujan -1,190 0,264
Hari hujan 2,258 0,050
Hasil uji T-parsial di atas, terlihat bahwa nilai signifikan pada curah hujan (2009-2012) dengan nilai t-hitung lebih kecil dari t-tabel (-1.190<2,201).lebih besar dari α 5% (Sig > α 0,05), nilai t-tabel sebesar 2.201 Dapat dikatakan bahwa curah hujan secara parsial berpengaruh tidak nyata terhadap produktivitas
Hasil uji T-parsial di atas, terlihat bahwa nilai signifikan pada hari hujan t-hitung lebih besar dari t-tabel (2,258>2,201) Dapat dikatakan hari hujan secara parsial berpengaruh nyata terhadap produktivitas
Berikut disajikan analisis sidik ragam untuk uji serempak pada persamaan regresi linier berganda variable Curah Hujan dan Hari hujan dengan produktivitas kelapa sawit pada tahun (2010-2013)
Tabel 9. Sidik ragam persamaan regresi linier berganda pada produktivitas tanaman kelapa sawit tahun 2010-2013
Tahun produktivitas
Sumber keragaman
F-hitung Sig
2010-2013 regresi 2,608 0,128
Bersasarkan sidik ragam di atas, pada data produktivitas tahun 2010 diperoleh nilai F-hitung sebesar 2,608 lebih kecil dari F-tabel sebesar 4.256 F hitung < F-tabel dan nilai signifikansi pada uji F lebih besar dari α 5% (Sig > α 0,05), dikatakan bahwa Curah hujan dan Hari hujan bersama sama berpengaruh tidak nyata pada taraf kepercayaan 95%.
Tabel 10. Model pengujian analisis regresi linier berganda pada produksi kelapa sawit tahun 2010-2013
Produktivitas Variabel Koefisien regresi
2010-2013
konstan 6176603286
Curah hujan -0,779
Hari hujan 2,020
Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat dibentuk persamaan regresi yang dihasilkan oleh curah hujan dan hari hujan dalam memprediksi produktivitas tanaman kelapa sawit pada tahun (2010-2013) berikut ini: