• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN. 1. Surat Keputusan Bupati Magelang Nomor : 188.4/001/KEP/01/2006 tentang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DAFTAR LAMPIRAN. 1. Surat Keputusan Bupati Magelang Nomor : 188.4/001/KEP/01/2006 tentang"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Keputusan Bupati Magelang Nomor : 188.4/001/KEP/01/2006 tentang Penetapan Lokasi Untuk Rute Pembebasan Tanah Ruas Magelang – Keprekan 2. Surat Keputusan Bupati Magelang Nomor : 188.4/317/KEP/01/2005 tentang

Panitia Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

3. Surat Keputusan Bupati Magelang Nomor : 188.4/256/KEP/01/2006 tentang

Perubahan Lampiran Keputusan Bupati Magelang Nomor :

188.4/317/KEP/01/2005 tentang Panitia Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

4. Formulir Monitoring Bulanan Pelaksanaan LARAP, Kab. Magelang, periode pelaporan Januari 2006, tentang pelaksanaan sosialisasi kepada calon warga yang terkena pelebaran jalan

5. Formulir Monitoring Bulanan Pelaksanaan LARAP Kab. Magelang, periode pelaporanAgustus 2006, tentang pelaksanaan musyawarah penetapan bentuk dan besarnya ganti rugi

6. Formulir Monitoring Bulanan Pelaksanaan LARAP, Kab. Magelang, periode pelaporan Desember 2006, tentang implementasi pembayaran tali asih untuk PKL

(2)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Tanah mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia karena sebagian besar kehidupan manusia tergantung pada tanah. Tanah bukan saja dilihat dalam hubungan ekonomis sebagai faktor produksi dimana orang hidup di atasnya, tetapi tanah adalah merupakan sarana pengikat kesatuan sosial dikalangan masyarakat Indonesia untuk kelangsungan hidup, disamping itu tanah merupakan faktor modal dalam pelaksanaan pembangunan. Dengan bertambahnya jumlah penduduk, bertambah pula kebutuhan akan tanah, baik untuk pemukiman maupun untuk tempat usaha. Bagi pemerintah, tanah juga diperlukan bagi pembangunan sarana yang akan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.

(3)

2 Perkembangan pembangunan di Indonesia semakin hari semakin meningkat. Kegiatan pembangunan meliputi jalan umum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, waduk, bendungan, irigasi, saluran air minum, saluran pembuangan air dan sanitasi, pelabuhan, bandara, tempat pemakaman umum, pasar, pelebaran jalan dan lain sebagainya memerlukan tanah sebagai sarana utamanya. Persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana proses pengambilan tanah masyarakat yang akan digunakan untuk keperluan pengadaan proyek pembangunan.

Dalam perkembangan perekonomian dan juga pembangunan di Indonesia yang semakin meningkat, permasalahan terkait dengan tanah merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari. Pertumbuhan usaha dan kebutuhan atas tanah tidak sebanding dengan jumlah luasan tanah yang masih tersedia. Hal tersebut menimbulkan potensi permasalahan terkait dengan tanah, baik terkait dengan pengadaan tanah maupun tumpang tindih kepemilikan atas tanah.

(4)

3

Tanah memiliki fungsi sosial, Kartini dan Gunawan1 menyatakan

hal ini berarti seseorang tidak diperkenankan mempergunakan ataupun tidak mempergunakan hak miliknya (atas tanah) semata-mata hanya untuk kepentingan pribadinya, apalagi kalau itu menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Jika untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dan rakyat, hak-hak atas tanah pribadi dapat dicabut, dengan memberikan ganti rugi yang layak dan menurut cara yang diatur dengan undang-undang. Jadi apabila Negara membutuhkan tanah dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional, sedangkan tanah tersebut dihaki oleh warga, maka pemilik tanah harus memiliki kesadaran menerapkan asas fungsi sosial atas tanah tersebut yaitu dengan merelakan tanahnya untuk diserahkan kepada pemerintah. Begitu juga dengan pihak pemerintah, harus memperhatikan jumlah kerugian yang wajar, layak dan adil untuk pemegang tanah. Dengan demikian tujuan UUPA untuk mencari keseimbangan antara dua kepentingan dapat segera terwujud dengan baik.

Berkenaan dengan pengambilan tanah masyarakat yang akan dipakai untuk keperluan pembangunan, dilaksanakan melalui pengadaan tanah dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah sesuai pasal 2 ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

1 Kartini Muljadi dan Gunawan Widdjaja, 2012, Hak-hak Atas Tanah, Kencana Prenada Media

(5)
(6)

5 hak atas tanah. Apabila pengadaan tanah melalui musyawarah tidak dapat mencapai mufakat antara pemerintah dengan pemegang hak atas tanah, sedangkan tanah tersebut dibutuhkan untuk kepentingan umum, maka dapat ditempuh dengan cara pencabutan hak atas tanah sebagai mana diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 1961

Begitu pula dengan pengadaan tanah yang telah selesai dilakukan di Kabupaten Magelang dimulai pada tahun 2005, yaitu pelebaran jalan sepanjang 8.60 kilometer, dari 7 meter menjadi 18 meter ditambah 1 meter untuk median jalan, disepanjang Jalan Magelang - Keprekan yang telah selesai

proses pelebarannya pada akhir 2011 dengan total anggaran Rp. 103,9 miliar2.

Proses mekanisme pelaksanaannya pastilah tidak terlepas dengan peraturan-peraturan tentang pertanahan khususnya peraturan-peraturan tentang pengadaan tanah. Apakah mekanisme pelaksanaanya sesuai dengan peraturan atau tidak, Oleh sebab itu penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana proses mekanisme pengadaan pelebaran jalan tersebut dalam tesis dengan judul “MEKANISME PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM (STUDI KASUS PELEBARAN JALAN MAGELANG – KEPREKAN DIMAGELANG)”.

2 Majalah Tempo, “Pelebaran Jalur Palbapang-Keprekan”,

(7)

6

B. Perumusan masalah

Dari latar belakang tersebut di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan permasalahan sebagaimana berikut ini:

1. Bagaimanakah mekanisme pengadaan tanah untuk kepentingan umum pada pelebaran Jalan Magelang - Keprekan?

2. Permasalahan apa saja yang muncul selama proses pengadaan tanah pelebaran Jalan Magelang – Keprekan?

C. Keaslian penelitian

Menurut pengetahuan penulis, setelah melakukan beberapa pengamatan di perpustakaan dan di internet, terdapat tulisan ilmiah dalam bentuk skripsi dan tesis yang menurut penulis skripsi dan tesis tersebut berjudul hampir sama dengan tesis yang penulis buat ini, akan tetapi permasalahan yang dibahas sangat berbeda.

1. Skripsi tersebut di buat oleh Diksa Galih Anggia Sari3, dengan judul

“Tinjauan Yuridis Proses Penetapan Ganti Rugi Dalam Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Pelebaran Jalan Palbapang-Mertoyudan Di Kabupaten Magelang”. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui proses penetapan ganti rugi dalam pengadaan tanah untuk pembangunan pelebaran jalan Palbapang – Mertoyudan, rumusan masalahnya yaitu bagaimana proses penetapan besarnya ganti rugi dan bagaimana alternatif

3 Diksa Galih Anggia Sari, 2010, Skipsi, Tinjauan Yuridis Proses Penetapan Ganti Rugi Dalam

(8)

7 penyelesaian bila ada pemilik hak atas tanah yang belum mau melepaskan hak atas tanahnya untuk pembangunan pelebaran jalan Palbapang - Mertoyudan tersebut. Perbedaan antara skripsi dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis yaitu terletak pada judul dan permasalahannya sehingga pembahasannya pun akan berbeda.

Penelitian yang akan dilakukan penulis membahas tentang bagaimanakah mekanisme pengadaan tanah untuk kepentingan umum pada pelebaran Jalan Magelang - Keprekan dan permasalahan yang muncul pada saat proses pengadaan tanah pelebaran Jalan Magelang - Keprekan, sedangkan skripsi tersebut lebih membahas tinjauan yuridis proses penetapan ganti ruginya dan alternatif penyelesaian masalah ganti rugi.

2. Penulisan hukum yang kedua adalah tesis yang dibuat oleh Dwi

Fratmawati4, dengan judul “Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan

Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Di semarang (Studi Kasus Pelebaran Jalan Raya Ngaliyan - Mijen)”. Penelitian ini yang menjadi pokok permasalahannya adalah bagaimana proses pelaksanaan pengadaan tanah untuk pelebaran Jalan Ngaliyan - Mijen di Semarang dan hambatan-hambatan apa yang timbul dan upaya-upaya untuk mengatasi hambatan-hambatan yang timbul dalam pelaksanaan pengadaan tanah dan proses pemberian ganti rugi pada pelebaran jalan raya Ngaliyan - Mijen. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah terletak pada objek penelitiannya, tesis tersebut menggunakan objek penelitian terletak di Semarang yaitu

4 Dwi Fratmawati, 2006, Tesis, Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk

Kepentingan Umum Di semarang (Studi Kasus Pelebaran Jalan Raya Ngaliyan-Mijen), Unidip,

(9)

8 Jalan Raya Ngaliyan - Mijen sedangkan penulis menggunakan objek penelitian di Magelang yaitu Jalan Magelang - Keprekan. Objek penelitian yang berbeda, permasalahan dan pembahasannya juga berbeda. Perbedaan yang lainnya yaitu, tesis tersebut menggunakan metode yuridis empiris, sedangkan penulis menggunakan metode yuridis normatif. Jika ditinjau dari judul dan permasalahan yang ditulis dalam penelitian di atas, maka terdapat perbedaan dengan pembahasan yang akan ditulis. Tesis ini terfokus pada tinjauan yuridis normatif yang berkaitan dengan mekanisme pengadaan tanah untuk kepentingan umum dalam pelebaran Jalan Magelang – Keprekan berdasarkan data dari Pemerintah Kabupaten Magelang. Dengan demikian, penulisan tesis ini bukan merupakan suatu pangulangan dari penelitian yang telah ada sebelumnya.

D. Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian hukum ini adalah :

1. Untuk mengetahui mekanisme pengadaan tanah untuk kepentingan umum pada proses pengadaan pelebaran Jalan Magelang - Keprekan

2. Untuk mengetahui permasalahan apa saja yang muncul pada saat proses pelaksanaan pelebaran Jalan Magelang – Keprekan

E. Kegunaan penelitian

(10)

9 1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi

pengembangan ilmu pengetahuan hukum pada umumnya dan khusunya dalam hal pengadaan tanah yaitu pelebaran jalan.

Referensi

Dokumen terkait

SALINAN BUPATI MAGELANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI MAGELANG NOMOR 19 TAHUN 2019 TENTANG PENETAPAN RENCANA KERJA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MAGELANG TAHUN 2020 DENGAN RAHMAT

Yang dimaksud dengan “sesuai jenis dan harga yang berlaku” adalah jenis obat atau bahan habis pakai yang diberikan/digunakan pasien sesuai resep dokter dengan

Dari penegasan istilah di atas dapat ditegaskan judul skripsi ”Manajemen Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (Studi Kasus Pengelolaan Materi dan Penggunaan Metode

maupun tingkah laku. Media pembelajaran audiovisual dalam bentuk diktat kartun adalah media yang menarik dan menyenangkan untuk digunakan dalam proses pembelajaran,

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini terjadi penurunan nilai kadar Chemycal Oxygen Demand (COD) pada limbah cair domestik setelah mengenai kontak dengan Smart

Pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara aktif dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah sehingga perlu dipilih dan

Gambar 4 Hasil analisis SEM terhadap sampel gerabah dari situs Gua Delubang Pengujian SEM dan XRF, hasil memberi gambaran mengenai bahan material pada gerabah yang akan dianalisis

Aspek akses kelayakan sarana sanitasi air limbah dilihat dari faktor kepemilikan sarana buang air besar (BAB), khususnya toilet yang dilengkapi leher angsa, dan kepemilikan tangki