ABSTRAK
M. Sri Widyaningtyas. 2013. Implementasi Perangkat Pembelajaran Bangun
Ruang Dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di
Kelas IV B SD Kanisius Sengkan, Condongcatur, Depok, Sleman.
Yogyakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi
perangkat pembelajaran matematika pada materi bangun ruang dengan
pendekatan PMRI untuk peserta didik kelas IV di SD Kanisius Sengkan dan
mengetahui kemunculan karakteristik PMRI yang direalisasikan dalam kegiatan
pembelajaran matematika pada materi bangun ruang untuk peserta didik kelas IV
di SD Kanisius Sengkan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Terdapat 3 tahap dalam
penelitian ini yaitu pralapangan, pekerjaan lapangan, dan analisis data. Pada
penelitian ini subyek penelitian berjumlah 44 siswa, Obyek penelitian dilakukan
di SD Kanisius Sengkan dan instrumen yang digunakan adalah data kualitatif dan
kuantitatif.
Hasil
implementasi
perangkat
pembelajaran
menunjukkan
bahwa
penghitungan penggunaan konteks sebesar sebesar 72.92% dapat dikatakan telah
muncul secara maksimal, penggunaan media telah muncul sangat maksimal
ditunjukkan dengan penghitungan sebesar 94.45%, penggunaan kontribusi telah
muncul dengan maksimal ditunjukkan dengan penghitungan sebesar 66.67%,
penggunaan interaktivitas telah muncul secara maksimal ditunjukkan dengan
penghitungan sebesar 82.17%, dan karakateristik interwining muncul sangat
maksimal ditunjukkan dengan penghitungan sebesar 87.22%.
ABSTRACT
M. Sri Widyaningtas. 2013. Implementation of Geometry Learning Device with
PMRI approach at 4
thgrade. Kanisius Sengkan elementary school. Condong
catur. Depok. Sleman. Yogyakarta: Primary School Teacher Education
Program, Sanata Dharma University.
Purpose of this research is to understand the implementation of geometrical
learning device of geometrical material with PMRI approach for 4
thgrader at
Kanisius Sengkan elementary school and to know emergence of PMRI
characteristic realized on mathematics learning activities of geometrical material
for 4
thgrader at Kanisius Sengkan elementary school.
This research is descriptive research. There are 3 steps in this research, they
are pre-field, Work field, and data analytics. In this research, subjects are 44
students. Research object done at Kanisisus Sengkan elementary school and
instrument used are both qualitative and quantitative data.
Implementation result on learning device shows that context usage
calculation as much as 72,92% is a maximum approach. Maximum media usage
shown with 94.45 % calculation result. Contribution usage approached maximum,
shown with 66.67% calculation result. Interactivity usage reached maximum
result as much as 82,17%, and interwining characteristic approached maximum
with the result as much as 87.22%.
IMPLMMMNTASI PMRANGKAT PMMBMLAJARAN BANGUN RUANG DMNGAN PMNDMKATAN PMNDIDIKAN MATMMATIKA
RMALISTIK INDONMSIA SISWA KMLAS IV B SD KANISIUS SMNGKAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Proeram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Disusun Oleh : M. Sri Widyaningtyas
091134082
PROGRAM STUDI PMNDIDIKAN GURU SMKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PMNDIDIKAN
FAKULTAS KMGURUAN DAN ILMU PMNDIDIKAN UNIVMRSITAS SANATA DHARMA
i
IMPLMMMNTASI PMRANGKAT PMMBMLAJARAN BANGUN RUANG DMNGAN PMNDMKATAN PMNDIDIKAN MATMMATIKA
RMALISTIK INDONMSIA SISWA KMLAS IV B SD KANISIUS SMNGKAN
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Proeram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Disusun Oleh : M. Sri Widyaningtyas
091134082
PROGRAM STUDI PMNDIDIKAN GURU SMKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PMNDIDIKAN
FAKULTAS KMGURUAN DAN ILMU PMNDIDIKAN UNIVMRSITAS SANATA DHARMA
iv
MOTTO DAN PMRSMMBAHAN
Hidupmu adalah milikmu, kamu sendiri yg menentukan baik buruknya, dan kamulah yg memimpin dirimu sendiri, bukan orang lain.
Aku datang, aku belajar, aku ujian, aku revisi dan aku menang!
Impian tidak akan menggerakan seseorang utk maju, alasan kuat dibalik impian itulah yg menggerakannya.
karya ini aku persembahkan kepada:
Tuhan Yesus Kristus, dan Bunda Maria yang selalu ada dalam setiap langkahku, keputusasaanku.
Kedua orang tuaku tercinta,
Bapak Martinus Wakidjan dan Ibu Chatarina Siti Rahayuningsih yang tak pernah lelah menyemangati dalam doa dan setiap langkah.
Kakak-kakakku tersayang,
Yohana Susi Widiyastuti, Vincentia Sri Widiyantari dan Chatarina Tri Widiyaningrum atas motivasi dan doanya.
Keponakan tercinta:
Rosaria Purbaningrum dan Vincentius Vindy Arya Putra serta si kecil Fransiska Widya Arumsari yang dengan kepolosan dan kelucuannya memotivasi dan menyemangati dalam kepenatanku.
Sahabat terbaikku :
Shelly, Reno, Tyas, Nana, Megi, Eka Pras, Dian, Laura terima kasih atas segala semangat, dan kebersamaan.
vii ABSTRAK
M. Sri Widyaninetyas. 2013. Implementasi Peranekat Pembelajaran Baneun Ruane Denean Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di Kelas IV B SD Kanisius Senekan, Condonecatur, Depok, Sleman. Yoeyakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meneetahui baeaimana implementasi peranekat pembelajaran matematika pada materi baneun ruane denean pendekatan PMRI untuk peserta didik kelas IV di SD Kanisius Senekan dan meneetahui kemunculan karakteristik PMRI yane direalisasikan dalam keeiatan pembelajaran matematika pada materi baneun ruane untuk peserta didik kelas IV di SD Kanisius Senekan.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Terdapat 3 tahap dalam penelitian ini yaitu pralapanean, pekerjaan lapanean, dan analisis data. Pada penelitian ini subyek penelitian berjumlah 44 siswa, Obyek penelitian dilakukan di SD Kanisius Senekan dan instrumen yane dieunakan adalah data kualitatif dan kuantitatif.
Hasil implementasi peranekat pembelajaran menunjukkan bahwa penehitunean peneeunaan konteks sebesar sebesar 72.92% dapat dikatakan telah muncul secara maksimal, peneeunaan media telah muncul saneat maksimal ditunjukkan denean penehitunean sebesar 94.45%, peneeunaan kontribusi telah muncul denean maksimal ditunjukkan denean penehitunean sebesar 66.67%, peneeunaan interaktivitas telah muncul secara maksimal ditunjukkan denean penehitunean sebesar 82.17%, dan karakateristik interwining muncul saneat maksimal ditunjukkan denean penehitunean sebesar 87.22%.
viii ABSTRACT
M. Sri Widyaninetas. 2013. Implementation of Geometry Learnine Device with PMRI approach at 4th erade. Kanisius Senekan elementary school. Condone catur. Depok. Sleman. Yoeyakarta: Primary School Teacher Education Proeram, Sanata Dharma University.
Purpose of this research is to understand the implementation of eeometrical learnine device of eeometrical material with PMRI approach for 4th erader at Kanisius Senekan elementary school and to know emereence of PMRI characteristic realized on mathematics learnine activities of eeometrical material for 4th erader at Kanisius Senekan elementary school.
This research is descriptive research. There are 3 steps in this research, they are pre-field, Work field, and data analytics. In this research, subjects are 44 students. Research object done at Kanisisus Senekan elementary school and instrument used are both qualitative and quantitative data.
Implementation result on learnine device shows that context usaee calculation as much as 72,92% is a maximum approach. Maximum media usaee shown with 94.45 % calculation result. Contribution usaee approached maximum, shown with 66.67% calculation result. Interactivity usaee reached maximum result as much as 82,17%, and interwining characteristic approached maximum with the result as much as 87.22%.
ix
KATA PMNGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas limpahan kasihNya sehineea penulis dapat menyelesaikan skripsi yane berjudul “Implementasi Peranekat Pembelajaran Baneun Ruane denean Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia Siswa Kelas IV B SD Kanisius Senekan” denean lancar.
Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh eelar sarjana pendidikan di Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keeuruan dan Ilmu Pendidikan, Proeram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dalam penulisan ini penulis menyadari bahawa dalam penyusunan skripsi tidak lepas ari bimbinean, bantuan, doronean dan kerjasama dari berbaeai pihak. Oleh karena itu, penulis meneucapkan terima kasi kepada:
1. Rohandi, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.
2. G. Ari Nuerahanta, SJ., S.S. BST., MA., Ketua Proeram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A. Ed.D Wakaprodi serta dosen pembimbine akademik, yane telah memberikan penearahan dan motivasi dalam penulisan skripsi.
4. Dra.Haniek Sri Pratini, M.Pd., dosen pembimbine I, yane telah membimbine, menearahkan dan memotivasi dalam penulisan skripsi. 5. Veronika Fitri Rianasari, M.Sc., dosen pembimbine II, yane telah
x
6. Semua dosen dan karyawan PGSD, terima kasih atas pelayanan yane telah diberikan.
7. Semua peeawai perpustakaan, terima kasih telah memberi pelayanan kepada penulis dalam mendapatkan referensi.
8. M. Sri Wartini, Kepala Sekolah SD Kanisius Senekan yane telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian.
9. S. Gilane Adiwan Prayudha, A. Ma. Pd., Guru pelajaran Matematika yane telah bersedia bekerjasama dan membantu selama melakukan penelitian. 10. Siswa-siswi kelas IV B SD Kanisius Senekan atas kerjasama selama
penelitian.
11. Orane tuaku tercinta, Martinus Wakidjan dan Chatarina Siti Rahayuninesih yane telah memberikan dukunean, kepercayaan, motivasi dan doa.
12. Kakak-kakakku tersayane dan keponakan yane telah memberi motivasi dalam menyelesaikan skripsi.
13. Sahabat-sahabatku terbaikku, Shelly, Reno, Aenes Tyas, Eka Pras, Meei, Nana, Dian, dan Laura terima kasih atas bantuan, perhatian, dukunean dan penehiburan yane telah diberikan.
14. Teman-teman seperjuanean payine yane telah membantu dan kerjasama dalam karya penyusunan skripsi.
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO DAN HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi
ABSTRAK ... vii
ABSTRACT ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakane Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
E.Definisi Operasional ... 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 6
A. Landasan Teori ... 6
1. Pembelajaran Matematika ... 6
2. Peranekat Pembelajaran ... 7
3. Baneun Ruane ... 12
4. Pendidikan Matematika Realistik ... 17
B. Keraneka Berpikir ... 22
BAB III METODE PENELITIAN ... 24
xiii
B. Settine Penelitian ... 26
1. Tempat Penelitian ... 26
2. Subyek Penelitian ... 26
3. Objek Penelitian ... 26
C. Rancanean Penelitian ... 26
1. Mempelajari Penelitian Sebelumnya ... 27
2. Revisi Peranekat Pembelajaran ... 28
3. Validasi Ahli ... 28
4. Uji Keterbacaan ... 29
5. Implementasi ... 29
D. Instrumen Penelitian ... 30
1. Jenis Data ... 30
2. Instrumen Peneumpulan Data ... 30
E. Teknik Peneumpulan Data ... 31
F. Teknik Analisis Data ... 32
BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISA, DAN PEMBAHASAN ... 34
A. Paparan Penelitian Tahun Lalu ... 34
B. Paparan Revisi Peranekat Pembelajaran ... 36
C. Validasi Peranekat Pembelajaran ... 63
D. Uji Keterbacaan ... 63
E. Paparan Hasil Analisis dan Pembahasan Implementasi Peranekat Pembelajaran ... 65
1. Deskripsi Pelaksanaan ... 65
2. Hasil Analisis Kemunculan Indikator Setiap Karakteristik PMRI ... 65
3. Ranekuman Kemunculan Indikator Setiap Karakteristik PMRI dalam Pembelajaran ... 108
F. Respon Guru dan Siswa ... 122
1. Respon Guru ... 123
2. Respon Siswa ... 125
xiv
BAB V PENUTUP ... 130
A. Kesimpulan ... 130
B. Saran ... 134
xv
DAFTAR TABML
Tabel 3.1. Kriteria Penilaian Peranekat Pembelajaran ... 32
Tabel 3.2. Kriteria Kemunculan Indikator Karakteristik PMRI ... 33
Tabel 4.1. Hasil validasi peranekat pembelajaran ... 36
Tabel 4.2. Revisi alokasi waktu pembelajaran ... 37
Tabel 4.3. Revisi indikator Pembelajaran ... 37
Tabel 4.4. Revisi Pendekatan, model, dan metode pembelajaran ... 41
Tabel 4.5. Revisi nilai kemanusiaan ... 41
Tabel 4.6. Revisi keeiatan awal ... 41
Tabel 4.7. Revisi keeiatan inti ... 44
Tabel 4.8. Revisi keeiatan akhir ... 46
Tabel 4.9. Revisi sumber belajar ... 47
Tabel 4.10. Revisi media dan sumber belajar ... 48
Tabel 4.11. Revisi penilaian ... 48
Tabel 4.12. Revisi naskah cerita ... 49
Tabel 4.13. Revisi materi ajar ... 51
Tabel 4.14. Revisi bahan ajar ... 51
Tabel 4.15. Revisi LKS ... 54
Tabel 4.16. Revisi kisi-kisi soal evaluasi ... 57
Tabel 4.17. Revisi soal evaluasi ... 58
Tabel 4.18. Kunci jawaban soal evaluasi ... 60
Tabel 4.19. Revisi rubrik penilaian ... 62
Tabel 4.20. Hasil Validasi peranekat pembelajaran ... 63
Tabel 4.21. Hasil uji keterbacaan di SD Kanisius Kalasan ... 64
Tabel 4.22. Ranekuman Kemunculan Indikator Karakteristik Peneeunaan Konteks ... 109
Tabel 4.23. Ranekuman Kemunculan Indikator Karakteristik Peneeunaan model ... 112
xvi
Tabel 4.25. Ranekuman Kemunculan Indikator Karakteristik
Peneeunaan Interaktivitas ... 117
Tabel 4.26. Ranekuman Kemunculan Indikator Karakteristik Pemanfaatan Keterkaitan ... 120
Tabel 4.27. Hasil wawancara denean euru ... 123
Tabel 4.28. Hasil wawancara denean peserta didik ... 125
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Baneun ruane balok ... 13
Gambar 2.2. Jarine-jarine balok ... 15
Gambar 2.3. Baneun ruane kubus ... 15
Gambar 2.4. Jarine-jarine kubus ... 16
Gambar 3.1. Tahap penelitian kualitatif menurut Boedan ... 24
Gambar 3.2. Tahapan Penelitian ... 27
Gambar 4.1. Siswa meneeunakan kardus semir rambut ... 69
Gambar 4.2. Siswa meneeunakan kardus sabun ... 70
Gambar 4.3. Siswa meneeunakan kardus pasta eiei ... 70
Gambar 4.4. Siswa memperhatikan euru menjelaskan denean alat peraea . 71 Gambar 4.5. Siswa antusias meneerjakan LKS denean media ... 71
Gambar 4.6. Siswa memperhatikan media yane diperoleh ... 71
Gambar 4.7. Jarine-jarine kubus seperti aneka 7 ... 74
Gambar 4.8. Jarine-jarine kubus berbentuk salib ... 74
Gambar 4.9. Siswa meneukur kardus sabun ... 74
Gambar 4.10. Siswa meneukur kardus susu ... 75
Gambar 4.11. Siswa meneukur baneun ruane ... 75
Gambar 4.12. Siswa meneeambar balok ... 76
Gambar 4.13. Siswa memotone baneun ruane ... 76
Gambar 4.14. Siswa menjiplak jarine-jarine balok ... 76
Gambar 4.15. Siswa meneeambar jarine-jarine ... 77
Gambar 4.16. Siswa meneidentifikasi baneun ruane ... 77
Gambar 4.17. Siswa membonekar baneun ruane ... 78
Gambar 4.18. Menjiplak jarine-jarine baneun ruane ... 78
Gambar 4.19. Siswa membuat kubus ... 78
Gambar 4.20. Hasil prakarya siswa ... 79
Gambar 4.21. Jarine-jarine berbentuk T ... 82
Gambar 4.22. Jarine-jarine kubus berbentuk salib ... 82
xviii
Gambar 4.24. Peserta didik memilih kardus susu ... 85
Gambar 4.25. Siswa menaneeapi kelompok lain yane presentasi ... 85
Gambar 4.26. Guru meneeunakan alat peraea untuk menjelaskan materi ... 92
Gambar 4.27. Guru membimbine siswa dalam kelompok ... 93
Gambar 4.28. Bimbinean dalam kelompok ... 93
Gambar 4.29. Penilaian melalui presentasi ... 95
Gambar 4.30. Siswa membacakan hasil diskusi ... 95
Gambar 4.31. Siswa melakukan evaluasi ... 96
Gambar 4.32. Guru meneeunakan isyarat tanean aear siswa tenane ... 97
Gambar 4.33. Guru mendatanei kelompok yane sedane bercanda ... 97
Gambar 4.34. Siswa mempresentasikan denean media ... 98
Gambar 4.35. Siswa membacakan hasil diskusi ... 98
Gambar 4.36. Siswa bekerja sama dalam meneerjakan tueas LKS ... 99
Gambar 4.37. Menjiplak jarine-jarine bersama kelompok ... 99
Gambar 4.38. Bekerja sama meneeambar jarine-jarine ... 99
Gambar 4.39. Bekerja sama membuat kubus ... 99
Gambar 4.40. Siswa memberikan komentar terhadap presentasi teman ... 100
Gambar 4.41. Siswa meneanekat tanean sebelum memberikan berpendapat . 101 Gambar 4.42. Salah satu siswa dalam kelompok berpendapat, teman yane lain memperhatikan ... 102
Gambar 4.43. Siswa memperhatikan teman yane sedane presentasi ... 102
Gambar 4.44. Siswa menehitune jumlah rusuk denean media pembelajaran . 103 Gambar 4.45. Siswa membonekar baneun ruane kubus ... 107
Gambar 4.46. Siswa menjiplak baneun ruane kubus ... 107
Gambar 4.47. Siswa meneeuntine jarine-jarine baneun ruane kubus ... 108
xix
DAFTAR LAMPIRAN
xx
Lampiran 30. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan I ... 252 Lampiran 31. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan II ... 258 Lampiran 32. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan IV ... 262 Lampiran 33. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan V ... 266 Lampiran 34. Hasil Evaluasi Sifat-sifat Baneun Ruane ... 270 Lampiran 35. Hasil Evaluasi jarine-jarine Baneun Ruane ... 271 Lampiran 36. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan I ... 272 Lampiran 37. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan II ... 281 Lampiran 38. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan III ... 290 Lampiran 39. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan IV ... 292 Lampiran 40. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan V ... 304 Lampiran 41. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan VI ... 311 Lampiran 42. Hasil Penilaian Sifat-sifat Baneun Ruane ... 314 Lampiran 43. Hasil Penilaian Sifat-sifat Baneun Ruane ... 316 Lampiran 44. Surat Ijin Melakukan Penelitian ... 318 Lampiran 45. Surat Keteranean Telah Melakukan Penelitian ... 319 Lampiran 46. Dokumentasi Penelitian ... 320
1 BABBIB PENDAHULUANB
B
Bab ini akan membahas latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian dan definisi operasional.
A. LatarBBelakangBMasalah
Banyak orang memandang matematika sebagai mata pelajaran yang paling
sulit, namun matematika mempunyai peranan penting dalam kehidupan
sehari-hari dan perkembangan IPTEK. Mata pelajaran matematika perlu diberikan mulai
dari sekolah dasar untuk membekali kemampuan berpikir logis, analitis,
sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerja sama (BNSP, 2007: 143).
Selama ini matematika dianggap sebagai ilmu yang abstrak dan kurang menyenangkan hanya berisi rumus-rumus dan tidak bermanfaat. Namun hal
tersebut salah, karena matematika sangat bermanfaat untuk kehidupan kita. Agar
hal tersebut tidak berkelanjutan, maka perlu adanya inovasi pembelajaran supaya
siswa mulai tertarik dengan matematika.
Salah satu upaya penerapan inovasi pembelajaran yang mampu membuat
siswa tertarik pada matematika adalah penggunaan media yang konkret dalam
pembelajaran matematika. Pernyataan tersebut ditegaskan oleh pendapat Piaget
dalam Komalasari (2010:20) yang menyatakan bahwa tahap pemikiran antara
umur 7–12 tahun termasuk tahap operasional konkret. Hal tersebut menandakan
bahwa anak usia SD dalam pemahamannya anak masih memerlukan media yang
17 Januari 2013, beliau mengemukakan kesulitan dalam memfokuskan perhatian
siswa sealama proses pembelajaran matematika. Guru juga mengatakan bahwa
siswa yang terlalu banyak yaitu 44 orang terdiri dari 22 laki-laki dan 22
perempuan dengan ukuran ruang kelas 6 x 8m sangat mempengaruhi proses
kegiatan belajar mengajar. Pernyataan hasil wawancara tersebut didukung dengan hasil observasi peneliti pada tanggal 20 Januari 2013. Selama proses pembelajaran
matematika, ada 8 siswa yang tidak bisa duduk tenang, mereka berjalan-jalan di
kelas dan mengobrol sehingga konsentrasi siswa yang lain mudah terpecah.
Terlihat bahwa ruangan berukuran 6 x 8 m dengan 44 siswa kurang memadai.
Kelas terlihat sangat penuh oleh siswa. Selain itu metode mengajar yang sering
digunakan guru adalah ceramah. Saat dilakukan observasi, materi yang diajarkan
adalah materi sudut. Dalam menjelaskan materi guru hanya menggunakan media
pembelajaran dengan hanya 5 siswa yang mencoba menggunakannya dan lainnya
hanya melihat. Hal tersebut juga terlihat dari persentase hasil pembelajaran yaitu
41% dari 44 siswa belum mencapai nilai KKM 6,2.
Dari paparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa siswa mudah sekali
terganggu konsentrasinya karena metode ceramah yang banyak dilakukan saat
pembelajaran, dan keterbatasan alat peraga yang digunakan sehingga menghambat
penerimaan materi yang diberikan dari guru kepada siswa.
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi nilai, perlu
adanya sebuah inovasi yang baru dalam pembelajaran yang membuat siswa
antusias dalam mengikuti pembelajaran dan terutama memudahkan pemahaman
Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pendekatan PMRI merupakan
pendekatan yang memfokuskan pada pelajaran matematika. Pendekatan PMRI
adalah pembelajaran yang menggunakan masalah kontekstual yang dekat dengan
kehidupan siswa sehari-hari serta melibatkan partipasi seluruh siswa dalam setiap
kegiatan pembelajaran untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga diharapkan dapat memaksimalkan pemahaman materi yang diterima oleh siswa.
Penggunaan masalah kontekstual yang dekat dengan anak digunakan untuk
menarik perhatian anak dan membantu anak dalam memahami pelajaran
matematika dari hal yang konkret menjadi konsep matematika yang abstrak.
Penelitian dilakukan untuk mengimplementasikan perangkat pembelajaran
bangun ruang pada mata pelajaran matematika kelas IV SD. Penelitian ini
merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya yaitu untuk mengembangkan
perangkat pembelajaran yang telah direvisi dan disesuaikan dengan kondisi
sekolah SD Kanisius Sengkan.
B. RumusanBMasalahB
Berdasarkan latar belakang yang telah diidentifikasikan di atas maka
peneliti merumuskan masalah yang diambil yaitu
a. Bagaimana implementasi perangkat pembelajaran matematika pada materi
bangun ruang dengan pendekatan PMRI untuk siswa kelas IV di SD
Kanisius Sengkan?
b. Bagaimana karakteristik PMRI direalisasikan dalam kegiatan
pembelajaran matematika pada materi bangun ruang untuk siswa kelas IV
Berdasarkan rumusan masalah di atas penelitian ini bertujuan untuk:
a. Mengetahui implementasi perangkat pembelajaran matematika pada materi
bangun ruang dengan pendekatan PMRI untuk siswa kelas IV di SD
Kanisius Sengkan.
b. Mengetahui karakteristik PMRI direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika pada materi ruang untuk siswa kelas IV di SD
Kanisius Sengkan.
D. ManfaatBPenelitianB 1. Peneliti
Menambah pengetahuan dan pengalaman menggunakan pendekatan PMRI
untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa
lebih aktif dalam pembelajaran.
2. Siswa
Berpartisipasi aktif, berpikir kreatif, dan membangun sendiri
pemahamannya dalam pembelajaran yang menyenangkan. 3. Sekolah
Menambah sumber bacaan yang dapat dimanfaatkan bagi guru sebagai
referensi dalam mengajar.
4. Dunia Pengetahuan
Sumbangan pengetahuan untuk menambah pengetahuan bagi para
pembaca dalam menciptakan pembelajaran yang kreatif dan
1. Implementasi
Implementasi adalah penerapan suatu ide atau rancangan yang telah dibuat
untuk disajikan ke dalam bentuk aksi/tindakan.
2. Perangkat pembelajaran
Perangkat pembelajaran adalah segala sesuatu yang berhubungan dalam penyampaian materi dalam proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran
tersebut dapat berupa RPP, silabus, alat peraga, LKS dan soal evaluasi.
3. Bangun ruang
Bangun ruang adalah benda tiga dimensi yang dibatasi oleh titik sudut, sisi
dan rusuk. Bangun ruang pada penelitian ini adalah bangun ruang balok
dan bangun ruang kubus.
4. PMRI
PMRI adalah pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dalam
proses pembelajarannya menggunakan masalah kontekstual kehidupan
sehari hari siswa, penggunaan model, penggunaan kontribusi siswa, interaksi, keterkaitan dalam pembelajaran.
Jadi pengertian dari judul skripsi ini adalah implementasi pendekatan PMRI
terhadap materi bangun ruang kubus dan balok untuk kelas IV dengan
mengkaitkan hal yang dekat dengan keseharian anak dan melibatkan peran aktif
6
BABBIIB
KAJIANBPUSTAKAB
B
Bab II ini akan membahas tentang landasan teori dan kerangka berpikir penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.
A. LandasanBTeoriB
1. PembelajaranBMatematika
a) Pembelajaran
Pembelajaran menurut Daryanto (2012:154) adalah penyiapan suatu kondisi agar terjadinya belajar yang didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan belajar anak.Sependapat dengan Daryanto, Arifin (2009:10) mengemukakan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara yang dilakukan agar seseorang dapat melakukan kegiatan belajar.Berbeda halnya dengan pendapat Surya (2004:7) yang mengemukakan pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang direncanakan agar kegiatan belajar siswa berlangsung dengan lancar sehingga siswa memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan.
b) Matematika
1) Penanaman konsep dasar
Pembelajaran penanaman konsep merupakan jembatan untuk menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan konsep baru matematika yang abstrak.Dalam tahap ini media atau alat peraga sangat penting untuk membantu pemahaman siswa. 2) Pemahaman konsep
Dalam tahap ini siswa lebih memahami suatu konsep matematika.Pemahaman konsep tersebut merupakan kelanjutan dari penanaman konsep.
3) Pembinaan keterampilan
Pada tahap pembelajaran pembinaan keterampilan diharapkan siswa lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika untuk menyelesaikan masalah
Dari beberapa tahap tersebut maka pembelajaran matematika adalah kegiatan suatu kegiatan belajar yang direncanakan agar seorang anak mengalami perubahan perilaku secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman setiap individu. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya pemahaman siswa dari sesuatu yang konkret menjadi suatu konsep matematika sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan untuk menyelesaikan permasalahan sehari-hari anak.
2. PerangkatBPembelajaran
(2012:154) mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manuasiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa perangkat pembelajaran adalah peralatan yang diperlukan untuk kelancaran proses kegiatan belajar mengajar sehingga tujuan yang direncanakan tercapai. Perangkat pembelajaran itu antara lain: silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), bahan ajar, dan evaluasi.
a. Silabus
Sanjaya (2006:26) mengungkapkan bahwa silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan penilaian hasil belajar.
Muslich (2007:32) mengemukakan bahwa silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Silabus menurut Mulyasa (2008:132-133) diartikan sebagai rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran, yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan, berdasarkan standar nasional pendidikan (BSNP).
kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Komponen-komponen yang terdapat dalam silabus adalah sebagai berikut: kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, langkah pembelajaran, alokasi waktu, sarana dan sumber belajar, penilaian (Sanjaya: 2006:26-27).
Pengembangan silabus yang baik terdapat tujuh prinsip dasar yaitu: relevansi, fleksibilitas, kontinuitias, efektivitas, konsisten, dan memadai (Mulyasa: 2008:138-141).
b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Munthe (2009:200) menyatakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus.
Sependapat dengan Munthe, BNSP (2007:445) menyatakan bahwa rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi dasar yang mengacu kepada kompetesi dan indikator yang telah dijabarkan dalam silabus.
serta mencapai indikator yang telah dibuat sebagai penanda bahwa kompetensi dasar telah dicapai.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka rencana pelaksanaan pembelajaran menurut peneliti adalah rencana pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang telah dijabarkan dalam silabus.
Muslich (2007:53) mengungkapkan bahwa secara teknis RPP minimal mencakup beberapa komponen, antara lain standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, pendekatan dan metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, alat dan sumber belajar, dan evaluasi pembelajaran.
Trianto (2010:108) menyatakan bahwa mengembangkan RPP harus berpedoman pada 4 prinsip pengembangan RPP, yaitu:
1. Kompetensi yang direncanakan harus jelas, konkret, dan mudah dipahami oleh siapapun yang membaca.
2. Sederhana dan fleksibel.
3. Bersifat menyeluruh, utuh, dan jelas tujuannya.
4. Koordinasi dengan komponen pelaksana program sekolah, agar tidak mengganggu jam pelajaran yang lain (jika sekolah menggunakan guru mata pelajaran bukan guru kelas).
c. Lembar Kerja Siswa (LKS)
Trianto (2009:222-223) mengungkapkan bahwa LKS adalah panduan siswa yang memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa untuk membantu pemahamannya sesuai indikator pencapaian yang telah dibuat.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka LKS menurut peneliti adalah panduan kegiatan siswa untuk belajar agar memahami suatu materi sesuai dengan indikator yang telah dibuat.
d. Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar baik tertulis maupun tidak tertulis (Mudjito,2009:2). Berbeda dengan pendapat Susilo (2007:146) yang mengungkapkan materi pembelajaran adalah uraian singkat materi yang akan dipelajari saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka menurut peneliti bahan ajar adalah rangkuman materi disusun dan dipersiapkan untuk membantu guru mencapai tujuan pembelajaran sesuai indikator yang telah dibuat.
e. Evaluasi
merupakan bagian dari proses belajar mengajar yang secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan mengajar.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka menurut peneliti evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data berupa penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan untuk mengetahui kemajuan siswa dari tujuan yang telah ditentukan.
3. BangunBRuang
Menurut Shamsudin (2002:44) geometri adalah cabang matematika yang mempelajari hubungan, ciri-ciri atau ukuran pada titik, garis, sudut, bidang permukaan, dan benda ruang.
Shamsudin (2002:8) menyatakan bangun ruang adalah adalah bangun ruang tiga dimensi, baik berongga maupun padat, misalnya kubus atau bola.Sedangkan Patilla (2007:15) mengemukakan bahwa bentuk ruang adalah semua bentuk yang memiliki panjang, lebar dan tinggi.Bentuk ruang memiliki tiga dimensi (matra).Tidak semua bentuk ruang memiliki sisi datar (bidang banyak, bidang banyak beraturan, tiga dimensi).
Mustaqim dan Astuty (2008:207) mengungkapkan bahwa bangun ruang mempunyai tiga unsur, yaitu:
a. Sisi
Sisi merupakan bidang atau permukaan yang membatasi bagian dalam dan bagian luar suatu bangun ruang.
b. Rusuk
c. Titik sudut
Titik sudut merupakan pertemuan dari tiga buah rusuk atau lebih pada bangun ruang.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, menurut peneliti bangun ruang adalah bangun yang terdiri dari 3 dimensi sehingga membentuk ruang. Bangun ruang dalam penelitian ini dibatasi pada bangun ruang balok dan kubus.
a. Balok
Mustaqim dan Astuty (2008:211) mengemukakan bahwa balok adalah benda ruang yang dibatasi tiga pasang persegi panjang dimana setiap pasang persegi panjang saling sejajar (berhadapan) dan kongruen (berukuran sama).
[image:36.595.101.499.238.635.2]Sifat-sifat balok menurut Mustaqim dan Astuti (2008:210) antara lain:
Gambar 2.1.bangun ruang balok
1) Sisi-sisi pada balok ABCD.EFGH adalah: - ABCD - DCGH
- ABFE - CBFG - ADHE - EFGH
Sisi ABFE = sisi DCGH Sisi ADFE = sisi BCGH
2) Rusuk pada balok ABCD.EFGH adalah:
Jadi, rusuk pada bangun ruang balok ABCD.EFGH memiliki 12 rusuk.
= = =
= = =
= = =
3) Titik sudut pada balok ABCD.EFGH adalah: Titik sudut A titik sudut E Titik sudut B titik sudut F Titik sudut C titik sudut G Titik sudut D titik sudut H
Jadi, titik sudut pada bangun ruang balok ABCD.EFGH memiliki 8 titik sudut.
Marsigit (2009:178) menyatakan bahwa jaring-jaring suatu bangun ruang adalah pola gambar dimensi dua yang digunakan untuk membentuk suatu bangun ruang.Sedangkan Mustaqim dan Astuty (2008:214) mengungkapkan bahwa jaring-jaring bangun ruang adalah gabungan dari beberapa bangun datar yang membentuk sebuah bangun ruang.
Mustaqim dan Astuty (2008:214) mengungkapkan bahwa jaring-jaring balok adalah gabungan dari beberapa persegi panjang.
Gambar 2.2.jaring-jaring balok
b. Kubus
Mustaqim dan Astuty (2008:208) mengungkapkan bahwa kubus merupakan benda ruang yang dibatasi oleh enam buah persegi yang berukuran sama.
Mustaqim dan Astuty (2008:208) menyatakan bahwa sifat-sifat kubus adalah:
Gambar 2.3.bangun ruang kubus
1) Sisi pada kubus ABCD.EFGH adalah: - ABCD - CBFH
- ABFE EFGH
- ADHE - DCGH
2) Rusuk pada kubus ABCD.EFGH adalah:
Jadi, rusuk pada bangun ruang kubus ABCD.EFGH memiliki 12 rusuk. 3) Titik sudut pada ABCD.EFGH adalah:
Titik sudut A titik sudut E Titik sudut C titik sudut G Titik sudut D titik sudut H
Jadi, titik sudut pada bangun ruang balok ABCD.EFGH memiliki 8 titik sudut.
[image:39.595.100.511.240.700.2]Jaring-jaring kubus menurut Mustaqim dan Astuty (2008:214) adalah gabungan dari beberapa persegi yang berukuran sama yang membentuk kubus.
4. PendidikanBMatematikaBRealistikBIndonesia
a. Pengertian PMRI
Van den Heuvel Panhuizen dalam Wijaya (2011:20) menyatakan PMRI merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang mengacu pada penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan oleh siswa.Sedangkan menurut Suryanto (2010:37) menyatakan bahwa PMRI adalah pendidikan matematika sebagai hasil adaptasi Realistik uathematic Education yang disesuaikan dengan kondisi budaya, geografi dan kehidupan
masyarakat Indonesia.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa PMRI adalah suatu pendekatan dalam pelajaran matematika yang berpusat pada siswa yaitu fokus pembelajarannya disesuaikan dengan kondisi budaya, geografi dan kehidupan masyarakat Indonesia ataupun yang dekat kehidupan keseharian sehingga dapat dibayangkan siswa.
b. Sejarah PMRI
Menurut Suryanto (2010:37) menyatakan PMRI merupakan pendekatan pembelajaran matematika yang diadaptasi dari Belanda yaitu RME.PMRI tersebut telah disesuaikan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan masyarakat Indonesia.
mengadaptasi pendekatan dalam pembelajaran matematika di Belanda yang bernama RME.RME sendiri terbentuk dari suatu lembaga pendidikan matematika Freudenthal Institute yang berada di Universitas Utrecht. Upaya pembaharuan tersebut dipelopori oleh Hans Freudenthal pada tahun 1970-an. Karya pembaharuan tersebut menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika dan bagaimana matematika harus diajarkan. Menurut Freudenthal pendidikan harus mengarahkan siswa kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan untuk menemukan kembali matematika dengan cara mereka sendiri. Konsep matematika muncul dari proses matematisasi, yaitu mulai dari penyelesaian yang terkait dengan konteks, secara perlahan siswa mengembangkan alat dan pemahaman matematika ke tingkat yang lebih formal. Model-model yang muncul dari kegiatan matematik siswa dapat membantu terjadinya interaksi di kelas, sehingga mengarah pada level berpikir matematik yang lebih tinggi. Daryanto (2012:150).
c. Prinsip PMRI
Suryanto (2010:42) menyatakan bahwa PMRI memiliki 3 prinsip, yaitu: 1) Guided Reinvention and Progressive uathematization (Menemukan
Kembali dan Matematisasi Progresif)
matematis.Setelah siswa menemukan ide dan konsep kemudian siswa diarahkan untuk berpikir matematis. Dikatakan progressive karena ada dua tahap yang berurutan, yaitu matematisasi horizontal (berawal dari masalah kontekstual dan berakhir pada matematika formal) dan matematisasi vertikal (berawal dari matematika formal ke matematika formal yang lebih rumit).
2) Didactical Phenomenology (Fenomenologi Didaktis)
Prinsip Didactical Phenomenology adalah prinsip yang penekanannya pada fenomena pembelajaran yang bersifat mendidik dan menekankan pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan matematika kepada siswa. Pemilihan masalah kontekstual dengan mempertimbangkan aspek kecocokan aplikasi yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan kecocokan dengan proses penemuan siswa, yang berarti bahwa siswa menemukan sendiri konsep, aturan, cara atau sifat dan model Matematis.
3) Self-developed model (Membangun sendiri model)
model of dan masih disebut matematika informal. Selanjutnya akan
[image:43.595.98.497.217.587.2]bergeser menjadi model for saat siswa mengembangkan model yang mengarah pada pencarian solusi secara matematis. Penemuan solusi tersebut mengarahkan siswa pada pemikiran abstrak atau matematika formal. Contoh Model of dan model for ditunjukkan pada gambar 2.5 di bawah ini:
Gambar 2.5. model of dan for
Berdasarkan prinsip PMRI di atas, diketahui bahwa PMRI memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri, mereka dapat dengan leluasa menemukan dan membangun sendiri pengetahuan yang menjadi tujuan
Rita membeli kado untuk temannya yang akan merayakan ulang tahun. Dia akan membungkus kado dengan membentuk balok, namun tidak muat karena kardus balok dari bungkus pasta gigi yang Rita punya terlalu kecil. Rita akhirnya membuat kardus berbentuk balok yang lebih besar untuk membungkusnya. Untuk mengetahui cara membuatnya dia membongkar kardus yang dia punya untuk melihat bagaimana cara membuat sebuah balok.
Konteks Situasi Nyata
Dibongkar menjadi jarring-jaring balok:
pembelajaran dari permasalahan konteks yang sudah dikenal anak. Peran guru hanya membimbing siswa.
d. Karakteristik PMRI
Menurut Treffers dalam Wijaya (2012:21-22) merumuskan 5 karakteristik PMRI, yaitu:
1) Penggunaan konteks
Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal pembelajaran Matematika yang dapat memotivasi siswa dalam belajar matematika.Melaluipenggunaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk melakukan kegiatan eksplorasipermasalahan.
2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif
Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari pengetahuan dan matematikatingkat konkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal. Penggunaan modeldalam pembelajaran dapat memperjelas materi pelajaran yang bersifat abstrak sehinggadapat memperlancar dan meningkatkan proses belajar siswa.
3) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
4) Interaktivitas
Proses belajar siswa merupakan suatu proses sosial di mana dalam proses tersebutterjadi interaksi/komunikasi antara guru dan siswa, siswa dan guru serta antara siswa dan siswa. Proses belajar tersebut akan lebih singkat, bermakna, mengembangkankemampuan kognitif dan afektif siswa secara simultan.
5) Keterkaitan
Konsep-konsep dalam matematika saling berkaitan sehingga konsep-konsep tersebuttidak dikenalkan siswa secara terpisah satu sama lain. Pendidikan Matematika Realistikmenempatkan keterkaitan antar konsep matematika yang harus dipertimbangkan dalamproses pembelajaran. Melalui keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkanbisa mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara bersamaan.
B. KerangkaBBerpikirB
Matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang paling sulit, hal tersebut terlihat dari persentase hasil pembelajaran yaitu 41% dari 44 siswa belum mencapai nilai KKM.Pada anak usia SD tahap pemikiran anak termasuk dalam tahap operasional konkret. Namun kebanyakan guru sering mengajar langsung pada konsep matematika yang abstrak.Pengajaran yang langsung pada konsep matematika membuat siswa kesulitan memahami materi matematika.Anak lebih mudah memahami jika guru mengajarkan menggunakan media pembelajaran.Media pembelajaran mempermudah anak memahami konsep matematika.
Penggunaan PMRI merupakan suatu penerapan pendekatan matematika yang memiliki lima karakteristik meliputi kontekstual, pemodelan, konstruktif, interaksi, dan keterkaitan dalam pembelajaran sehingga siswa mudah dalam memahami konsep matematika yang abstrak.
24 BABBIIIB
METODEBPENELITIANB
Dalam bab ini akan diuraikan tentang jenis penelitian, seting penelitian,
rancangan penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik
analisis data.
A. JenisBPenelitianB
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemunculan indikator-indikator
karakteristik PMRI pada implementasi perangkat pembelajaran bangun ruang.
berdasarkan tujuan tersebut, penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian
deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif.
Menurut Sukmadinata (2011-73), penelitian deskriptif suatu penelitian yang
menggambarkan suatu kondisi apa adanya sesuai dengan fenomena yang terjadi,
baik yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.
Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan 3 tahap (Bogdan dalam Barowi
dan Suwandi, 2008:84-92). Tiga tahapan yang menjadi dasar dalam penelitian ini
[image:48.595.102.512.185.589.2]dapat dilihat melalui bagan berikut:
Gambar 3.1. Tahap penelitian kualitatif menurut Bogdan.
Tahap penelitian kualitatif yang pertama adalah tahap pralapangan. Pada
tahap pralapangan terdapat enam kegiatan yang harus dilakukan peneliti yaitu
menyusun rancangan penelitian, memilih lokasi penelitian, mengurus perizinan
penelitian, menjajaki dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan
PRALAPANGANB PEKERJAANB
LAPANGANBB
informan, dan menyiapkan perlengkapan penelitian. Kegiatan-kegiatan tersebut
untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan agar penelitian berjalan lancar.
Dalam penelitian ini, yang dilakukan peneliti adalah mempelajari penelitian
sebelumnya, merevisi perangkat pembelajaran, melakukan validasi kepada 3 ahli
matematika, melakukan uji keterbacaan kepada 3 orang siswa dengan subyek
yang berbeda, memilih SD yang akan dilakukan untuk implementasi
pembelajaran. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan guru
pelajaran dan observasi kegiatan pembelajaran.
Tahap penelitian kualitatif yang kedua adalah tahap pekerjaan lapangan.
Pada tahap pekerjaan lapangan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu memahami latar
penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan serta
mengumpulkan data. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data saat penelitian
berlangsung sesuai yang peneliti butuhkan. Dalam penelitian ini yang peneliti
lakukan adalah melakukan implementasi ke SD Kanisius Sengkan. saat
pembelajaran berlangsung peneliti mengumpulkan data dengan merekam setiap
kegiatan pembelajaran. Peneliti juga membagikan angket respon siswa dan
wawancara kepada siswa dan guru untuk melihat pendapat mereka tentang proses
pembelajaran yang telah dilakukan menggunakan pendekatan PMRI.
Tahap penelitian kualitatif yang ketiga adalah tahap analisis data. Tahap
analisis data yang dilakukan adalah konsep dasar analisis data, menemukan tema
serta menganalisis berdasarkan data yang diperoleh. Pada tahap ini peneliti
memproses data yang telah dikumpulkan saat pekerjaan lapangan. Peneliti
siswa serta hasil pembelajaran menggunakan lembar pengamatan yang telah
dibuat.
B. LettingBPenelitianB
1. TempatB
Penelitian dilaksanakan di SD Kanisius Sengkan, yang beralamat di Jl.
Kaliurang Km 7 RT 002/10, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta,
55283.
2. LubjekB
Subjek penelitian ini yaitu siswa dan guru matematika kelas IV B SD
Kanisius Sengkan tahun pelajaran 2012/2013. Di dalam kelas IV SD Kanisius
Sengkan terdapat 44 peserta didik yang terdiri dari 22 putra dan 22 putri.
3. ObjekBPenelitianB
Objek dalam penelitian ini adalah implementasi perangkat pembelajaran
dalam pembelajaran bangun ruang kubus dan balok menggunakan pendekatan
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
C. RancanganBPenelitianB
Dalam penelitian ini, peneliti merancang penelitian yang terdiri dari 5
tahapan. Pima tahapan itu yaitu: mempelajari penelitian sebelumnya, revisi
perangkat pembelajaran, validasi ahli, uji keterbacaan dan implementasi. Berikut
Gambar 3.2. Tahapan penelitian
Penjelasan mengenai rancangan penelitian di atas adalah sebagai berikut:
1. MempelajariBPenelitianBLebelumnyaB
Tahap pertama adalah mempelajari penelitian sebelumnya. Pada tahap ini
peneliti mempelajari penelitian tahun lalu yang telah dilakukan sebelumnya.
Tahap Penelitian sebelumnya telah menghasilkan produk berupa silabus, RPP,
bahan ajar, PKS, dan evaluasi materi bangun ruang. Peneliti mempelajari dan
memahami penelitian sebelumnya agar mengetahui materi yang dikembangkan
oleh peneliti sebelumnya. Setiap peneliti dalam penelitian sebelumnya hanya
membahas satu karakteristik dari lima karakteristik PMRI, berikut empat judul
penelitian tahun lalu:
a. Natalia Purwanti dengan judul: Pengembangan perangkat pembelajaran
bangun ruang menggunakan masalah kontekstual sebagai starting point MEMPELAJARIBPENELITIANB
LEBELUMNYAB
REVILIBPERANGKATB PEMBELAJARANB
VALIDALIBAHLIB
UJIB
KETERBACAANB
pembelajaran dengan pendekatan PMRI di kelas IVB SD Tarakanita
Magelang.
b. Adella Citra Yuni Puspitasari dengan judul: Pengembangan perangkat
pembelajaran bangun ruang yang menggunakan kontribusi siswa dengan
pendekatan PMRI di kelas IVB SD Kanisius Kalasan.
c. Ag. Tri Hardianta dengan judul: Pengembangan perangkat pembelajaran
bangun ruang yang mencakup interaktivitas dengan pendekatan PMRI di
kelas IV SDN Kledokan tahun pelajaran 2011/2012.
d. Antonius Kris Aditya dengan judul: Pengembangan perangkat pembelajaran
bangun ruang yang mencakup interwining dengan pendekatan PMRI di
kelas IVB SD Kanisius Kalasan tahun pelajaran 2011/2012.
2. RevisiBPerangkatBPembelajaranB
Tahap kedua yang dilakukan adalah revisi perangkat pembelajaran.
Setelah mempelajari penelitian tahun lalu peneliti merevisi perangkat
pembelajaran:silabus, RPP, bahan ajar, PKS, dan soal evaluasi. Revisi
perangkat pembelajaran dilakukan dengan mengubah perangkat pembelajaran
yang telah ada disesuaikan dengan keadaan di lingkungan sekitar SD Kanisius
Sengkan.
3. ValidasiBAhliB
Tahap ketiga adalah validasi ahli. Peneliti melakukan validasi ahli untuk
mengetahui kelayakan perangkat pembelajaran yang telah direvisi sebelum
matematika Universitas Sanata Dharma dan 1 guru matematika SD Kanisius
Sengkan.
4. UjiBKeterbacaanB
Tahap keempat adalah uji keterbacaan. Setelah perangkat pembelajaran
divalidasi, peneliti melakukan uji keterbacaan. Uji keterbacaan dilakukan
kepada siswa kelas IV yang berbeda dengan subyek penelitian. Uji keterbacaan
dilakukan untuk mengetahui pemahaman peserta didik tentang perangkat
pembelajaran yang telah dibuat peneliti. Perangkat pembelajaran yang diuji
keterbacaan kepada siswa adalah PKS dan evaluasi.
5. ImplementasiB
Setelah melakukan uji keterbacaan tahap terakhir yang dilakukan peneliti
adalah implementasi. Implementasi dilakukan di kelas IV B SD Kanisius
Sengkan. Penelitian dilakukan sebanyak 6 kali pertemuan. Enam kali
pertemuan tersebut yaitu: pertemuan pertama adalah mempelajari sifat-sifat
balok, pertemuan kedua mempelajari sifat-sifat kubus, pertemuan ketiga
dilakukan evaluasi tentang sifat-sifat balok dan kubus yang telah dipelajari
dalam 2 pertemuan sebelumnya, pertemuan keempat adalah mempelajari
tentang jaring-jaring kubus, pertemuan kelima adalah mempelajari tentang
jaring balok, dan pertemuan keenam dilakukan evaluasi tentang
jaring-jaring balok dan kubus yang telah dipelajari dalam 2 pertemuan sebelumnya.
Selain itu peneliti juga menyebarkan angket respon peserta didik dan
mengetahui respon guru dan siswa tentang pembelajaran menggunakan
pendekatan PMRI yang telah dilakukan
D. InstrumenBPenelitianB
1. JenisBDataB
Jenis data dalam penelitian yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data
kuantitatif dalam penelitian ini diperoleh dari hasil validasi perangkat
pembelajaran, hasil uji keterbacaan, dan hasil evaluasi. Data kualitatif
diperoleh dari hasil menganalisis implementasi perangkat pembelajaran yang
telah dilakukan berdasarkan indikator-indikator karakteristik PMRI yang
nampak dalam kegiatan pembelajaran bangun ruang dalam bentuk video dan
foto. Data kualitatif diperoleh juga dari hasil angket respon peserta didik, hasil
wawancara siswa dan guru matematika terhadap pembelajaran yang telah
dilakukan.
2. InstrumenBPengumpulanBDataB
a. Instrumen data kuantitatif
Instrumen data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
lembar validasi perangkat pembelajaran oleh ahli, lembar uji keterbacaan, dan
lembar angket respon peserta didik. Pembar uji keterbacaan berisi penilaian
siswa kelas IV terhadap perangkat pembelajaran yang telah dibuat sebagai
hasil dari pemahaman siswa yang berupa PKS dan evaluasi. Pembar angket
respon siswa menggunakan skala likert dengan kategori 1. TS (tidak setuju),
b. Instrumen data kualitatif
Instrumen data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
lembar pedoman wawancara guru matematika dan peserta didik, dan
dokumentasi selama pembelajaran berlangsung. Pembar pengamatan kegiatan
pembelajaran dan lembar soal evaluasi. Pembar pengamatan berisi
bentuk-bentuk aktivitas yang telah disusun peneliti sebelumnya berdasarkan
indikator-indikator 5 karakteristik PMRI.
E. TeknikBPengumpulanBDataB
Data kuantitatif dikumpulkan melalui hasil uji keterbacaan dan validasi ahli
perangkat pembelajaran yang berupa komponen-komponen pembelajaran yaitu
silabus, RPP, bahan ajar, PKS, dan evaluasi. Hasil uji keterbacaan dan hasil
perhitungan validasi digunakan sebagai gambaran bahwa perangkat pembelajaran
layak untuk implementasikan.
Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan angket.
Observasi yang dilakukan ada dua macam, yaitu observasi langsung dan tidak
langsung. Observasi langsung dilakukan dengan melakukan pengamatan saat
pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar pengamatan. Observasi
tidak langsung dilakukan melalui transkrip data berdasarkan analisa video
pembelajaran. Video digunakan untuk melengkapi data yang saat pembelajaran
berlangsung terlewatkan, peneliti dapat melihat ulang pembelajaran secara
lengkap dari awal hingga akhir pembelajaran kembali untuk melengkapi data yang
dibutuhakan. Video pembelajaran diperoleh dengan merekam selama
melakukan wawancara terhadap beberapa siswa dan guru mata pelajaran
matematika. Angket dilakukan setelah semua pembelajaran selesai.
F. TeknikBAnalisisBDataB
Teknik analisis data yang digunakan ada dua yaitu analisis data kuantitatif
dan analisis data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dengan melakukan validasi
perangkat pembelajaran yang telah direvisi peneliti oleh ahli. Validasi diperlukan
untuk mengetahui apakah perangkat pembelajaran sudah layak diimplementasikan
atau masih perlu direvisi. Kriteria validitas perangkat pembelajaran menggunakan
kriteria penilaian dari disertasi Setiani (2011). Berikut ini tabel 3.1 kriteria yang
[image:56.595.102.503.311.589.2]digunakan untuk penilaian perangkat pembelajaran:
Tabel 3.1. Kriteria Penilaian Perangkat Pembelajaran AngkaB IntervalBLkorBRata-rataB KategoriB
4 3.25 < M ≤ 4.00 Sangat Baik
3 2.50 < M ≤ 3.25 Baik
2 1.75 < M ≤ 2.50 Kurang Baik
1 0.00 < M ≤ 1.75 Tidak Baik
Sumber: Setiani (2011)
B
Keterangan:B
M = rata-rata skor untuk setiap aspek yang dinilai
Data kualitatif diperoleh dengan menganalisis kemunculan indicator
karakteristik PMRI. Kemunculan indikator-indikator karakteristik PMRI
diharapkan dapat dilihat berdasarkan RPP yang telah disusun. Persentase
kemunculan indikator dapat dihitung dengan membandingkan kegiatan
kriteria kemunculan indikator yang telah ditentukan di awal penelitian. Kriteria
kemunculan indikator merupakan hasil persentase setiap indikator yang
berpedoman pada tabel kriteria kemunculan indikator karakteristik PMRI.
Rentangan skor dalam bentuk skor menggunakan kurva normal sebagai acuan.
Penggunaan kurva normal dengan melihat keadaan kelas yang heterogen dari
kemampuan peserta didik dan sebagian besar data memusat di bagian tengah.
Kriteria kemunculan indikator menggunakan persentil 56% dari total persentase
yang seharusnya dicapai, dan diberi kriteria cukup (Masijdo, 1995:157). Kriteria
[image:57.595.101.497.304.595.2]kemunculan indikator karakteristik dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut:
Tabel 3.2. Kriteria Kemunculan Indikator Karakteristik PMRI
No.B RentanganBPersentaseB KriteriaB
1 81% - 100% Sangat maksimal
2 66% - 80% Maksimal
3 56% - 65% Cukup Maksimal
4 46% - 55% Kurang Maksimal
34
HASILBPENELITIAN,BANALISA,BDANBPEMBAHASANB B
A. PaparanBPenelitianBTahunBLaluB
Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian dan pengembangan
(Research and Development) yang telah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya.
Penelitian tahun lalu mengembangkan produk perangkat pembelajaran bangun
ruang khususnya kubus dan balok untuk kelas IV dengan pendekatan PMRI.
Penelitian sesuai dengan KTSP yaitu kompetensi 8.1. Menentukan sifatgsifat
bangun ruang sederhana dan 8.2. Menentukan jaringgjaring balok dan kubus.
Peneliti mempelajari penelitian tahun lalu sebelum melanjutkan tahap
penelitian selanjutnya. Peneliti sebelumnya dalam melakukan penelitian diawali
dengan melakukan pemilihan SD yang akan dijadikan penelitian. Setelah
mendapatkan SD sebagai tempat penelitian, peneliti melakukan analisis kebutuhan
untuk menemukan segala yang diperlukan di SD tersebut untuk penelitian.
Analisis kebutuhan ini dilakukan dengan observasi dan wawancara. Observasi dan
wawancara dilakukan untuk melihat proses pembelajaran yang berlangsung
sehingga mengetahui komponen perangkat pembelajaran yang sesuai dengan
pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI. Penelitian sebelumnya telah
menghasilkan produk pembelajaran berupa silabus, RPP, bahan ajar, LKS, dan
evaluasi.
Silabus disusun berdasarkan KTSP. Silabus dijabarkan dalam indikator yang
memuat 3 aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek indikator
menjadi 6 pertemuan. Alokasi waktu untuk setiap pertemuan 35 menit, setiap sub
materi ada 3 pertemuan untuk materi sifatgsifat kubus dan balok, dan 3 pertemuan
selanjutnya untuk materi jaringgjaring kubus dan balok.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjabarkan apa yang telah
dibuat pada silabus. Indikator dalam RPP dibuat menjadi 3 aspek: askep kognitif,
afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek indikator tersebut dikembangkan dalam
kegiatan pembelajaran yang memuat tiga kegiatan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan
konfirmasi. Kegiatan pembelajaran yang memuat tiga kegiatan tersebut dibuat
agar proses pembelajaran menampakkan lima karakteristik PMRI pada setiap
kegiatannya. RPP dilengkapi dengan rubrik penilaian kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Bahan ajar yang disusun bersumber dari buku pegangan guru dan beberapa
referensi buku yang sesuai dengan materi. Peneliti juga membuat 2 cerita
kontekstual yang berjudul “Paijo dan Kotak Ajaib” sebagai pengantar untuk
materi sifatgsifat balok dan kubus, serta jaringgjaring kubus dan balok. Selain
membuat cerita peneliti juga menyiapkan media yang berbentuk balok dan kubus
untuk digunakan siswa dalam proses pembelajaran.
Lembar Kerja Siswa (LKS) disusun sesuai dengan materi RPP yang telah
dibuat. LKS berisi petunjuk kegiatan pembelajaran dan pedoman kegiatan belajar
yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran. Dalam pada bagian akhir LKS
terdapat refleksi yang berupa pertanyaan terhadap proses pembelajaran yang telah
setiap akhir kegiatan pembelajaran dan setiap kompetensi dasar. Evaluasi dibuat
berupa soal uraian yang memungkinkan variasi jawaban dari siswa.
Tahap selanjutnya perangkat pembelajaran yang telah dibuat kemudian
divalidasi oleh para ahli. Validasi dilakukan oleh 2 orang dosen ahli matematika
dan 1 guru matematika tempat penelitian dilakukan. Penelitian dilakukan di 3 SD
yang berbeda maka validasi ahli oleh 3 guru di sekolah yang berbeda. Berikut
tabel 4.1 menunjukkan hasil validasi oleh ketiga dosen dan ketiga guru:
Tabel 4.1. Hasil validasi perangkat pembelalaran NoB NamaBSekolahB SkorBRata-rataB KriteriaB
1 SD Kanisius Kalasan 3.64 Sangat Baik
2 SD Negeri Kledokan 3.46 Sangat Baik
3 SD Tarakanita Magelang 3.54 Sangat Baik
Setelah melakukan validasi ahli peneliti melakukan uji ketebacaan secara terbatas ke 6 siswa di SD Negeri 2 Turi untuk melihat kelayakan perangkat pembelajaran digunakan dalam penelitian. Setelah uji keterbacaan dilakukan, perangkat pembelajaran tersebut diujicobakan pada tempat penelitian yang telah dipilih yaitu ke SD Kanisius Kalasan, SD Negeri Kledokan, dan SD Tarakanita Magelang.
B. PaparanBRevisiBPerangkatBPembelajaranB
Langkah selanjutnya setelah mempelajari penelitian tahun lalu adalah
merevisi perangkat pembelajaran yang telah ada disesuaikan dengan sekolah
tempat penelitian. Tempat penelitian di SD Kanisius Sengkan. Revisi perangkat
pembelajaran disesuaikan dengan lingkungan sekolah. Perangkat pembelajaran
yang direvisi menyesuaikan model pembelajaran yang dipakai di sekolah yaitu
PPR. Dalam merevisi perangkat pembelajaran peneliti mengakomodasikan model
pembelajaran PPR dan pendekatan PMRI. Hasil revisi yang dilakukan sebagai
37
1. Silabus dan RPP
Revisi yang dilakukan peneliti pada silabus dan RPP, yaitu:
a. Alokasi waktu
Tabel 4.2. Revisi alokasi waktu pembelalaran
PertemuanB PenelitianBTahunBLaluB RevisiB AlasanB
1g2 dan 4g5 2 x 35 menit (2
JP) 3 x 40 menit (3 JP) Alokasi waktu pada penelitian ini alokasi waktu ditambah 1 JP, karena waktu penelitian pada tahun lalu kurang. Alokasi waktu
disesuaikan dengan alokasi waktu di sekolah yaitu 1 JP = 40 menit
3 dan 6 2 x 35 menit (2
JP) 1 x 40 menit (1 JP) Alokasi waktu dikurangi karena dalam pada pertemuan 3 dan 6 hanya dilakukan pengerjaan soal evaluasi yang berjumlah 5 soal uraian.
b. Indikator Pembelajaran
Indikator yang awalnya dari kognitif, afektif, dan psikomotorik menjadi 3 C: compentence (akademik), conscience (hati
nurani), dan compassion (kepedulian terhadap sesama). Dalam silabus yang telah direvisi ditambahkan nilai kemanusiaan,
kecakapan hidup, model pembelajaran yang digunakan di sekolah yaitu PPR. Kegiatan pembelajarannya memuat refleksi dan aksi.
Berikut tabel 4.3 menunjukkan revisi yang telah dilakukan peneliti terhadap indikator pembelajaran:
Tabel 4.3. Revisi indikator Pembelalaran
PertemuanB PenelitianBTahunBLaluB RevisiB AlasanB
38
PertemuanB PenelitianBTahunBLaluB RevisiB AlasanB
balok/kubus.
g Menyebutkan sifatgsifat
balok/kubus.
g Menyebutkan sifatgsifat balok/kubus.
g Menggambar balok/kubus. menggunakan PPR, dan indikator yang menggambar balok yang pada
awalnya di indikator psikomotorik diganti menjadi indikator
competence.
1 dan 2
Afektif
g Menyampaikan pendapatnya
mengenai hasil identifikasi balok/kubus dengan percaya diri
Conscience
g Percaya diri dalam menyampaikan
pendapatnya mengenai hasil identifikasi balok/kubus.
Perbaikan dalam indikator ini hanya mengubah bentuk pola kalimatnya namun artinya tetap sama.
1 dan 2
Psikomotorik
g Terampil menggunakan media
balok dalam mengidentifikasi sifatg sifatnya.
g Menggambar balok dengan
tepat.
Compassion
g Bekerjasama dengan teman lain dalam
mengidentifikasi sifatgsifat balok. Perbaikan dalam indikator ini disesuaikan dengan aspek indikator
yaitu compassion (bela rasa).
3
g Menentukan sifatgsifat balok
dan kubus.
g Menyebutkan sifatgsifat balok
dan kubus.
g Menyelesaikan evaluasi sifatg
sifat balok dan kubus dengan jujur.
g Menggambarkan balok dan
kubus dengan tepat.
Competence
g Menyebutkan sifatgsifat balok.
g Menyebutkan sifatgsifat kubus.
g Menyebutkan perbedaan sifatgsifat kubus
dan balok.
g Menggambarkan balok.
g Menggambarkan kubus.
Conscience
g Jujur dalam menyelesaikan soal evaluasi
Compassion
g Menghargai teman yang sedang
39
PertemuanB PenelitianBTahunBLaluB RevisiB AlasanB
mengerjakan evaluasi.
4 dan 5
Kognitif
g Menjelaskan pengertian jaringg
jaring bangun ruang.
g Mengidentifikasi jaringgjaring
kubus/balok.
Competence
g Menjelaskan pengertian jaringgjaring
bangun ruang.
g Menjelaskan pengertian jaringgjaring
kubus/balok.
g Mengidentifikasi jaringgjaring
kubus/balok.
g Menjiplak jaringgjaring kubus/balok.
g Menggambarkan jaringgjaring
kubus/balok.
g Membuat jaringgjaring kubus/balok.
Perbaikan indikator dilakukan dengan menambahkan indikator yang sesuai dengan kompetensi dasar yang mampu menambah pemahaman siswa. Misalnya dalam penelitian tahun lalu menjelaskan jaringgjaring bangun ruang, ditambahkan dengan menjelaskan jaringgjaring kubus/balok.
Afektif
g Bekerja sama dalam
mengidentifikasi jaringgjaring kubus.
g Percaya diri dalam
mempresentasikan hasil diskusi.
Conscience
g Percaya diri dalam mempresentasikan
hasil diskusi.
Perbaikan indikator dengan
menghilangkan satu indikator yang telah ada pada penelitian
sebelumnya. Penghapusan indikator dilakukan karena tidak sesuai dengan indikator PPR.
Psikomotorik
g Menggambarkan jaringgjaring
kubus.
g Membuat jaringgjaring kubus.
Compassion
Bekerja sama dengan teman sekelompok dalam mengidentifikasi jaringgjaring kubus.
40
PertemuanB PenelitianBTahunBLaluB RevisiB AlasanB
indikator PPR.
6
g Mengidentifikasi jaringgjaring
kubus dan balok.
g Menyelesaikan evaluasi jaringg
jaring kubus dan balok dengan jujur.
g Menggambarkan jaringgjaring
balok dan kubus.
Competence
g Menyebutkan cirigciri jaringgjaring kubus.
g Menyebutkan cirigciri jaringgjaring balok.
g Menyebutkan perbedaan jaringgjaring
kubus dan balok.
g Menggambarkan jaringgjaring kubus.
g Menggambarkan jaringgjaring balok.
Conscience
Jujur dalam menyelesaikan soal evaluasi jaringgjaring kubus dan balok.
Compassion
Menghargai teman yang sedang mengerjakan evaluasi soal sifatgsifat balok dan kubus.
Perbaikan in