• Tidak ada hasil yang ditemukan

PUSAT KERAJINAN BATIK TULIS MADURA DI BANGKALAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PUSAT KERAJINAN BATIK TULIS MADURA DI BANGKALAN."

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

PUSAT KERAJ INAN

BATIK TULIS MADURA

DI BANGKALAN

Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S-1)

Diajukan Oleh :

NOVIANA IR IANTIE

0751010004

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”

JAWA TIMUR

(2)

TUGAS AKHIR

PUSAT KERAJ INAN

BATIK TULIS MADURA DI BANGKALAN

Dipersiapkan dan Disusun Oleh:

NOVIANA IR IANTIE

0751010004

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji

Pada Tanggal : 1 Juni 2012

Pembimbing Utama : Penguji I :

Ir. Muchlisiniyati Safeyah, MT Ami Arfianti, ST, MT NPT. 3 6706 94 0034 1 NPT. 3 6911 97 0158 1

Pembimbing Pendamping : Penguji II

Ir. Erwin Djuni Winarto, MT Ir. Niniek Anggriani, MTP

NPT. 3 6506 99 0166 1 NIP. 19580124 198703 2 00 1

Penguji III

Ir. Eva Elviana, MT NPT. 3 6604 94 0032 1

Tugas Akhir ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan Untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik (S-1)

Tanggal : 4 Juni 2012

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

(3)

PUSAT KERAJ INAN BATIK TULIS MADURA

DI BANGKALAN

Noviana Iriantie 0751010004

ABSTRAKSI

Batik Madura merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Kerajinan batik tulis Madura telah di kenal oleh seluruh masyaraskat Indonesia, bahkan beberapa negara lain juga mengenal batik tulis Madura. Amat sangat disayangkan jika batik tulis Madura tidak di lestarikan apalagi di abaikan. Keaneka ragaman motif serta warna yang dimiliki batik tulis Madura merupakan satu ciri khas tersendiri. Tidak banyak yang tahu bahwa batik tulis Madura tidak hanya di hasilkan dari kabupaten Bangkalan yang tepatnya di Tanjung Bumi. Namun, batik yang di hasilkan terdapat di 3 kabupaten lainnya yang ada di Pulau Madura. Dari ke-4 kabupaten yang ada di Pulau Madura, batik yang dihasilkanpun beraneka macam.

Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura merupakan salah satu objek rancangan yang mewadahi suatu kegiatan yang berhubungan dengan kerajinan batik tulis. Dimana pada objek rancangan ini tidak hanya memberikan suatu sarana untuk berbelanja, namun pada objek rancangan ini juga memberikan suatu wawasan untuk mengetahui proses pembuatan batik tulis Madura. Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura juga ingin mengenalkan, meningkatkan, melestarikan serta mempertahankan kerajinan batik tulis Madura yang sudah diminati banyak konsumen dari lokal maupun konsumen dari mancanegara. Sedangkan sasaran dari rancangan ini di tujukan untuk semua kalangan baik dari kalangan remaja maupun dewasa, juga para pecinta pecinta batik.

Lokasi yang dipilih untuk Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura ini di pilih di kota Bangkalan tepatnya di Burneh. Dimana lokasi ini memiliki potensi yang baik, karena selain dekat dengan jembatan Suramadu, lokasi ini juga merupakan jalur penghubung untuk menuju kota-kota lain yang berada di Pulau Madura. Beberapa galeri batik yang berada di sekitar kawasan juga mendukunga adanya rancangan Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura. Selain itu, kawasan rumah penduduk yang masih memiliki tatanan khas Madura (Tanean Lanjang) bisa dijadikan acuan untuk rancangan.

(4)

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur ditujukan kehadirat Allah SWT, yang mana atas rahmat dan ridho-Nya, sehingga penyusunan Proposal Tugas Akhir yang berjudul “PUSAT KERAJ INAN BATIK TULIS MADURA DI BANGKALAN” ini dapat terselesaikan dengan baik, untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh Gelar Sarjana Teknik (S-1) Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran“ Jawa Timur di Surabaya.

Bersama ini penyusun juga mengucapkan terimakasih kepada:

1. Ir. Naniek Ratni. JAR, M.Kes. Selaku Dekan Fakultas Tekni Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Jawa Timur.

2. Dr. Ir. Pancawati Dewi, MT. selaku Ketua Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Jawa Timur.

3. Ir. Eva Elviana, MT. selaku dosen pengampu mata kuliah Seminar.

4. Dyan Agustin, ST. dosen pengampu Tugas Akhir, terima kasih banyak atas bimbingannya.

5. Ami Arfianti, ST., MT. selaku dosen wali.

6. Ir.Muchlisiniyati Safeyah, MT. selaku dosen pembimbing utama, terima kasih banyak atas bimbingannya.

7. Ir. Erwin Djuni Winarto, MT. selaku dosen pembimbing pedamping, yang membimbing tugas akhir saya dari awal penyusunan. Terima kasih atas bimbingannya.

8. Ami Arfianti, ST., MT ; Ir. Eva Elviana, MT ; Ir. Niniek Anggriani, MTP. Selaku dosen penguji. Terima kasih atas semua kritik dan sarannya.

(5)

10. Kedua orang tua saya, Bapak H. Ach. Irianto, S.Pd dan Ibu Hj. Siti Fatimah yang selalu mendukung dalam penyusunan tugas akhir saya. Terima kasih atas segalanya.

11. Saudara saya, Dwi Oktavia Arianie dan Ahmad Rizqi.

12. Teman-teman angkatan 2007 dan teman-teman penghuni studio tugas akhir yang selalu mendukung saya, Adek, Dina, Nita, Syarif, Mufid, Yanuar, Rezha, Asro, Adit, Irham, Kenyul, Tiar, Ulik, Dicky, Mas Sonie, Kakak Yudha, Kakak Reno, Kakak Arif, Kakak Rian, Nabila, Adhe, Savitri, Syahfitri, Indah dan lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

13. Special thanks for Rofizal Faiz M., ST yang selalu memberi semangat dan ancaman agar cepat lulus.

14. Sahabat spesial yang selalu memberi semangat, Reny Norma Hidayati, Elvira Ulil Azmi, Irham Bashir Ghozali, Febriana Sekar Sari, dan R. Sonnie Hidayat.

15. Teman-teman Al-Falah trima kasih atas dukungan serta doamya. 16. Semua pihak yang telah membantu dalam pengerjaan Tugas Akhir ini.

(6)

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ... i

Abstraksi . ... ii

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... v

Daftar Tabel ... vii

Daftar Gambar ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Dan Sasaran Perancangan ... 3

1.3 Batasan Dan Asumsi ... 4

1.4 Tahapan Perancangan ... 4

1.5 Sistematika Laporan ... 5

BAB II TINJAUAN OBJEK PERANCANGAN ... 7

2.1 Tinjauan Umum Rancangan ... 7

2.1.1 Pengertian Judul ... 7

2.1.2 Studi Literatur ... 8

2.1.3 Studi Kasus ... 14

2.1.4 Analisa Hasil Studi ... 21

2.2 Tinjauan Khusus ... 22

2.2.1 Lingkup Penekanan Rancangan ... 22

2.2.2 Lingkup Pelayanan ... 22

2.2.3 Aktifitas Dan Kebutuhan Ruang ... 22

2.2.4 Perhitungan Ruang ... 24

BAB III TINJAUAN LOKASI PERANCANGAN ... 35

3.1 Latar Belakang Pemilihan Lokasi ... 35

3.2 Penetapan Lokasi ... 37

3.3 Kondisi Fisik Lokasi ... 41

3.3.1 Existing Site ... 42

(7)

3.3.3 Potensi Lingkungan ... 45

3.3.4 Infrastruktur Kota ... 46

3.3.5 Peraturan Bangunan Setempat ... 47

BAB IV ANALISA PERANCANGAN ... 48

4.1 Analisa Site ... 48

4.1.1 Analisa Aksebilitas ... 48

4.1.2 Analisa Iklim ... 50

4.1.3 Analisa Lingkungan Sekitar ... 52

4.1.4 Analisa Zoning ... 54

4.2 Analisa Ruang ... 55

4.2.1 Organisasi Ruang ... 55

4.2.2 Hubungan Ruang dan Sirkulasi ... 57

4.2.3 Diagram Abstrak ... 60

4.3 Analisa Bentuk Dan Tampilan ... 61

4.3.1 Analisa Bentuk Massa Bangunan ... 61

4.3.2 Analisa Tampilan ... 62

BAB V KONSEP RANCANGAN ... 64

5.1 Tema Rancangan ... 64

5.1.1 Pendekatan Rancangan ... 64

5.2 Konsep Tapak ... 65

5.2.1 Konsep Zooning ... 65

5.2.2 Konsep Tatanan Massa ... 65

5.2.3 Konsep Bentukan Massa ... 66

5.2.4 Konsep Fasade ... 67

5.3 Konsep Ruang Dalam ... 67

BAB VI APLIKASI RANCANGAN ... 68

6.1 Zooning ... 68

6.2 Entrance ... 68

6.3 Ruang Dalam ... 69

6.4 Ruang Luar ... 71

(8)

DAF TAR TABEL

Tabel 1.1 Jumlah Unit Usaha Industri Sandang Kecamatan Tanjung Bumi,

Bangkalan ... 2

Tabel 1.2 Data Jumlah Daya Tarik Wisatawan Mancanegara Dan Nusantara Di Kota Bangkalan ... 2

Tabel 2.1 Jenis Ruang Pada Bangunan Rumah Produksi Batik Dan Galeri ... 17

Tabel 2.2 Tabel Jenis Ruang Pada Bangunan Gedung Pertemuan ... 17

Tabel 2.3 Analisa Hasil Studi ... 21

Tabel 2.4 Aktifitas Pengunjung dan Kebutuhan Ruang ... 23

Tabel 2.5 Aktifitas Pengrajin dan Kebutuhan Ruang ... 23

Tabel 2.6 Aktifitas staff pengelola dan kebutuhan ruang ... 23

Tabel 2.7 Perhitungan Luas Ruang Produksi ... 25

Tabel 2.8 Perhitungan Luas Restauran ... 27

Tabel 2.9 Tabel Perhitungan Luas Galeri ... 29

Tabel 2.10 Perhitungan Luasan Ruang Pengelola ... 30

Tabel 3.1 Perbandingan Alternatif Lokasi Bangkalan ... 37

Tabel 3.2 Pertimbangan Lokasi Site ... 39

(9)

DAF TAR GAMBAR

Gambar 1.1 Skema Tahapan Rancangan ... 5

Gambar 2.1 Contoh Motif Batik Tulis Tanjung Bumi ... 13

Gambar 2.2 Tampilan bangunan galeri batik ... 14

Gambar 2.3 Sketsa Layout Sogan Village ... 15

Gambar 2.4 Suasana Restauran ... 18

Gambar 2.5 Salah satu pengrajin desa Kowel ... 18

Gambar 2.6 Denah Rumah Ibu Aminatus ... 19

Gambar 2.7 Ruang Membatik ... 20

Gambar 2.8 Ruang Pewarnaan ... 20

Gambar 2.9 Ruang Jemur ... 21

Gambar 3.1 Peta Struktur Perwilayahan Kabupaten Bangkalan ... 35

Gambar 3.2 Tiga Alternatif Lokasi ... 38

Gambar 3.3 Lokasi Site ... 40

Gambar 3.4 Foto Eksisting Site, bangunan yang ada di sekitar site ... 41

Gambar 3.5 Site dengan Luasnya ... 42

Gambar 3.6 Utilitas sekitar tapak ... 43

Gambar 3.7 Aksesibilitas ke Lokasi Site ... 44

Gambar 3.8 Peta Wisata Kabupaten Bangkalan ... 45

Gambar 3.9 Keberadaan Lokasi Dengan Jembatan Suramadu ... 46

Gambar 4.1 Sudut Pandang Orang ke Site ... 49

Gambar 4.2 Letak Entrance pada site ... 50

Gambar 4.3 Orientasi matahari, arah angin dan curah hujan pada lokasi site ... 50

Gambar 4.4 View dari tapak ... 52

Gambar 4.5 View ke tapak ... 53

Gambar 4.6 Orientasi Bangunan ... 53

Gambar 4.7 Analisa kebisingan ... 54

Gambar 4.8 Penzoningan ... 55

Gambar 4.9 Diagram hubungan ruang antar massa ... 57

(10)

Gambar 4.11 Hubungan antar ruang fasilitas penunjang ... 58

Gambar 4.12 Hubungan antar ruang fasilitas pengelola ... 59

Gambar 4.13 Skema sirkulasi antar ruang ... 59

Gambar 4.14 Hubungan antar massa bangunan ... 60

Gambar 4.15 Bentuk tatanan massa pada Tanean Lanjang ... 61

Gambar 4.16 Analisa bentukan massa bangunan ... 62

Gambar 4.17 Bentukan rumah adat Madura ... 63

Gambar 4.18 Ukiran Madura ... 63

Gambar 5.1 Zooning ... 65

Gambar 5.2 Sketsa Tatanan Tanean Lanjang ... 66

Gambar 5.3 Bentukan Rumah Madura (Rumah Trompesan) ... 66

Gambar 5.4 Ukiran Yang Dipakai Pada Fasade ... 67

Gambar 5.5 Salah Satu Motif Interior ... 67

Gambar 6.1 Zooning ... 68

Gambar 6.2 Main Entrance ... 69

Gambar 6.3 Denah Gedung Produksi ... 69

Gambar 6.4 Galeri ... 70

Gambar 6.5 Denah Restoran dan Penjualan Batik ... 70

Gambar 6.6 Lahan Parkir ... 71

Gambar 6.7 Plaza ... 71

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Saat ini seni batik sangat diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya dari kalangan orang tua saja yang memiliki minat untuk menggunakan pakaian batik, namun adanya berbagai corak yang berbeda dan indah dapat mengajak kalangan anak muda untuk menggunakan pakaian yang berbahan dasar dari kain batik. Indonesia merupakan negara yang kaya akan hasil seni budaya, salah satunya adalah batik. Indonesia memiliki beraneka ragam batik yang sangat khas dan tidak dapat di temui di negara-negara lain. Di Pulau Jawa sendiri memiliki beberapa macam batik yaitu batik Solo, batik Yogyakarta, batik Pekalongan, batik Cirebon, batik Lasem, batik Indramayu (Dermayu), batik Madura dan lain sebagainya.

(12)

Tabel 1.1 Jumlah Unit Usaha Industri Sandang Kecamatan Tanjung Bumi,

Sumber : Dinas Perindustrian Perdagangan dan Penanaman Modal Kabupaten Bangkalan, 2007

Sebenarnya, batik Madura tidak hanya dihasilkan di Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan saja. Namun, Madura yang memiliki 4 kabupaten yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan, dan Kabupaten Sumenep ini menghasilkan batik yang memiliki motif dan warna batik yang berbeda di tiap kabupatennya.

Dengan adanya bermacam-macam motif batik yang di hasilkan di tiap-tiap kabupaten yang ada di Madura ini menambah ragam motif batik Madura yang kini diminati para konsumen. Apalagi setelah adanya jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Madura dan Surabaya menambah banyaknya peminat batik yang datang ke Pulau Madura. Hal ini bisa dilihat dari tabel 1.2 di bawah ini:

Tabel 1.2 Data Jumlah Daya Tarik Wisatawan Mancanegara Dan Nusantara Di Kota Bangkalan

No Objek Dan Daya Tarik Wisata

Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 Wisman Wisnus Wisman Wisnus Wisman Wisnus 1. Batik Tulis

(13)

Bila dilihat dari tabel 1.2 di atas, ternyata batik tulis Tanjung Bumi juga dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang hanya sekedar ingin tahu tentang proses pembuatan batik tulis Tanjung Bumi ataupun hanya sekedar ingin membeli batik tulis khas Tanjug Bumi.

Dengan memanfaatkan potensi batik Tanjung Bumi yang terletak sekitar 70 km dari jembatan Suramadu, maka diusulkan untuk dibuatnya pusat kerajinan / galeri batik tulis yang tidak hanya menampung batik dari Bangkalan saja. Namun, menampung batik dari Sumenep, Sampang, dan Pamekasan yang akan diletakkan di Bangkalan dengan alternatif jarak tempuh yang cukup dekat untuk pengunjung.

1.2Tujuan Dan Sasar an Per ancangan

Pada dasarnya tujuan dari perancangan Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura Di Bangkalan ini antara lain yaitu untuk :

− Mengenalkan, meningkatkan, melestarikan serta mempertahankan kerajinan batik tulis Madura yang sudah diminati banyak konsumen dari lokal maupun konsumen dari mancanegara.

− Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura Di Bangkalan juga memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan belanja dan mempermudah masyarakat pecinta batik, baik penduduk dari luar pulau Madura maupun penduduk Madura sendiri. − Memberikan suatu pengalaman tentang cara membuat batik tulis Madura.

Sedangkan sasaran yang ingin dicapai dengan dirancangnya Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura Di Bangkalan ini yaitu :

− Untuk menyediakan suatu wadah yang dapat menampung aktifitas para pengrajin batik maupun desainer batik dalam mewujudkan, menggelar, dan mengkomunikasikan karya-karyanya kepada para masyarakat.

− Memberikan pelatihan kepada para pecinta batik, baik pecinta batik dari mancanegara maupun nusantara tentang pembuatan batik tulis Madura, sehingga batik tulis Madura lebih dikenal dan dapat dilestarikan.

(14)

1.3Batasan Dan Asumsi

Dalam penyelenggaran Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura Di Bangkalan ini untuk menghindari pembahasan agar tidak melebar pada masalah-masalah yang tidak seharusnya dibahas, maka perlu adanya batasan-batasan yang melingkupi permasalahan yang ada maka batasan. Objek perancangan pusat kerajinan batik tulis Madura ini diperuntukkan bagi para pecinta batik dan peminat batik baik dari Madura maupun dari luar Pulau Madura. Sedangkan batik yang akan dikembangkan hanya di batasi dari batik yang dihasilkan di Pulau Madura saja. Bangunan ini memiliki jam operasional kegiatan dari pagi sampai sore hari setiap harinya. Selain itu, pada bangunan ini tidak hanya mengajarkan bagaimana cara membuat batik tulis khas Madura dan juga tempat sumber informasi, namun pada bangunan ini juga memiliki fasilitas penunjang yaitu adanya galeri, cafe, dan lain sebagainya.

Sedangkan kepemilikan bangunan di asumsikan sebagai milik swasta, sehingga fungsi bangunan dan nilai ruang akan mempunyai nilai komersial. Bangunan ini di asumsikan mampu menampung hingga 10 tahun yang akan datang, karena diasumsikan 10 tahun mendatang jumlah peminat batik akan terus meningkat. Dan dalam menawarkan sebuah produk kerajinan batik tidak menutup kemungkinan untuk menampilkan berbagai macam jenis dan pola batik khususnya dari Pulau Madura.

1.4Tahapan Per ancangan

Dalam penulisan laporan ini deperlukan adanya kerangka tahapan perancangan yang khususnya berguna dalam membantu mempermudah perencanaan dan perancangan dalam penulisan laporan ini, disamping itu juga dapat mampermudah menyusun perencanaan dari kerangka pikiran konsep, tema sampai penyusunan analisa studi kasus. Tahapan ini yaitu sebagai berikut :

(15)

study komperatif dengan survei lapangan, browsing melalui internet, wawancara untuk memperoleh data dengan melakukan proses tanya jawab, study banding atau studi kasus serta standarisasi dari obyek rancangan yang dibutuhkan.

Dari azas-azas perancangan sehingga terbentuk sebuah tema dan konsep rancangan yang menentukan ide bentuk serta gagasan pra desain. Setelah terbentuk ide bentuk atau gagasan pra desain dilakukan kontrol kembali trhadap prinsip, teori dan azas serta tema dan konsep rancangan, sehingga menghasilkan sebuah rancangan obyek yang sesuai (hasil desain).

Berikut diagram tahapan perencanaan :

1.5Sistematika Laporan

Dalam penyusunan laporan diharapkan dapat memberikan gambaran secara umum mengenai usulan laporan, mulai dari bagian umum hingga ke bagian khusus dengan pengaturan sedemikian rupa sehingga mencerminkan suatu pola

Perumusan Tema / Konsep Perancangan

Gagasan Pra Desain

Hasil Rancangan Intepretasi Judul

Latar Belakang

Pengumpulan Data

Kajian Teori, Azas Serta Prinsip Perancangan

(16)

pikir perencanaan yang sistematis. Sistematika penulisan yang dilakukan dalam pembahasan laporan ini, meliputi :

Bab 1 Pendahuluan : bab ini menjelaskan latar belakang perencanaan dan perancangan Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura yang ditegaskan dengan data – data mengenai kerajinan batik tulis Madura, tujuan dan sasaran perancangan, batasan dan asumsi, tahapan perancangan dan sistematika laporan.

Bab 2 Tinjauan Obyek Perancangan : bab ini dimulai dari tahap pengertian judul yang berisi pengertian tentang Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura di Bangkalan itu sendiri yang kemudian disimpulkan menjadi suatu pengertian baru dari rancangan. Tahap studi literatur yang berisi tentang segala data dari bermacam jenis literatur yang digunakan sebagai data penunjang yang berkaitan dengan rancangan. Tahap tinjauan obyek perancangan yang berisi dua obyek studi kasus sejenis secara fungsi dan aktivitas yang digunakan sebagai acuan yang membantu rancangan nantinya, dari hasil analisa dan pembandingan yang dilakukan pada studi kasus.

Bab 3 Tinjauan Lokasi Perancangan : bab ini menjelaskan latar belakang pemilihan lokasi, penetapan lokasi untuk perancangan Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura di Bangkalan ini. Kemudian penjelasan mengenai kondisi fisik lokasi yang meliputi existing site, aksebilitas, potensi lingkungan, infrastruktur kota dan peraturan bangunan setempat.

Bab 4 Analisa Perancangan : isinya sudah mengarah ke arah lebih lanjut yaitu mulai dari analisa sampai dengan gambaran secara abstrak tentang konsep perancangan yang akan dibuat. Seperti dari mulai analisa ruang berserta hubungannya, analisa aksesibilitas, view, kebisingan, iklim, potensi daerah sekitar. Sampai dengan diagram abstrak yang kurang lebih menggambarkan secara abstrak konsep bentukan atau lay out.

(17)
(18)

BAB II

TINJ AUAN OBJ EK PERANCANGAN

2.1Tinjauan Umum 2.1.1 Penger tian J udul

Adapun pengertian Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura Di Bangkalan adalah sebagai berikut :

Pusat Kerajinan :

Kata pusat memiliki makna yaitu suatu tempat pemusatan aktivitas atau pokok pangkal berbagai kegiatan berkaitan dengan seni, sesuatu yang indah yang bernilai tinggi. (Purwadarminta, 1982)

Kerajinan memiliki arti hal yang berkaitan dengan buatan tangan atau kegiatan yang berkaitan dengan barang yang dihasilkan melalui keterampilan tangan (kerajinan tangan). Kerajinan yang dibuat biasanya terbuat dari berbagai bahan. Dari kerajinan ini menghasilkan hiasan atau benda seni maupun barang pakai. (Wikipedia, 2010)

Batik Tulis Madura :

Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik". Sedangkan batik tulis Madura memiliki makna kain yang dihias dengan teksture dan corak batik khas dari pulau Madura menggunakan tangan. (Wikipedia, sejarah batik, 2010)

Di Kota Bangkalan

Di memiliki makna yaitu menunjukkan suatu tempat. (Purwadarminta, 1982)

Sedangkan Bangkalan merupakan salah satu ibukota dari Kabupaten Bangkalan di Pulau Madura. Kota Bangkalan merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam lingkup Gerbangkertosusilo. (Wikipedia, Kabupaten Bangkalan, 2010)

(19)

berkaitan dengan seni membatik atau menghias kain dengan teksture dan corak batik khas dari Pulau Madura, juga merupakan suatu tempat dimana pengrajin batik menggelar serta mempromosikan karya-karya batik yang memiliki motif khas dari Pulau Madura yang terletak di Bangkalan.

2.1.2 Studi Liter atur

Dalam studi literatur, dapat dijelaskan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan materi objek rancangan. Studi literatur disini juga bisa bersifat non arsitektural yang dapat bersumber dari beberapa buku atau referensi khusus. Pada studi literatur, data-data yang diambil dari internet yaitu mengenai hal-hal yang berhubungan dengan seni batik yang sesuai dengan proyek yang akan dilaksanakan.

a. Budaya Batik Di Indonesia

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

(20)

b. Alat-alat Yang Digunakan Pada Saat Membatik

Proses membatik secara tradisional ini dari masa ke masa tidak mengalami banyak perubahan sampai sekarang. Melihat dari bentuk dan fungsinya, peralatan batik yang digunakan merupakan alat batik tradisional yang unik. Alat-alat yang digunakan pada saat membatik antara lain :

- Bandul

Bandul dibuat dari timah, atau kayu, atau batu yang dikantongi. Fungsi pokok bandul ialah untuk menahan mori yang baru dibatik agar tidak mudah tergeser ditiup angin, atau tarikan si pembatik secara tidak disengaja. Jadi tanpa bandul pekerjaan membatik dapat dilaksanakan.

- Dingklik

Dingklik merupakan tempat duduk orang yang membatik, tingginya disesuaikan dengan tinggi orang duduk saat membatik.

- Gawangan

Gawangan terbuat dari kayu atau bamboo yang mudah dipindah-pindahkan dan kokoh. Fungsi gawangan ini untuk menggantungkan serta membentangkan kain mori sewaktu akan dibatik dengan menggunakan canting.

- Wajan

Wajan ialah perkakas untuk mencairkan “malam” (lilin untuk membatik). Wajan dibuat dari logam baja, atau tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan dari perapian tanpa mempergunakan alat lain. Oleh karena itu wajan yang dibuat dari tanah liat lebih baik daripada yang dari logam karena tangkainya tidak mudah panas. Tetapi wajan tanah liat agak lambat memanaskan “malam”.

- Anglo (Kompor)

(21)

banyak dipergunakan orang di desa-desa. Keren pada prinsipnya sama dengan anglo, tetapi tidak bertingkat.

- Tepas

Tepas ini tidak dipergunakan jika perapian menggunakan kompor. Tepas ialah alat untuk membesarkan api menurut kebutuhan dan terbuat dari bambu. Selain tepas, digunakan juga ilir. Tepas dan ilir pada pokoknya sama, hanya berbeda bentuk. Tepas berbentuk empat persegi panjang dan meruncing pada salah satu sisi lebarnya dan tangkainya terletak pada bagian yang runcing itu. - Taplak

Taplak berfungsi untuk menutup dan melindungi paha pembatik dari tetesan lilin malam dari canting.

- Kemplongan

Kemplongan merupakan alat yang terbuat dari kayu yang berbentuk meja dan palu pemukul alat ini dipergunakan untuk menghaluskan kain mori sebelum di beri pola motif batik dan dibatik.

- Canting

Canting merupakan alat untuk melukis atau menggambar dengan coretan lilin malam pada kain mori. Canting ini sangat menentukan nama batik yang akan dihasilkan menjadi batik tulis. Alat ini terbuat dari kombinasi tembaga dan kayu atau bamboo yang mempunyai sifat lentur dan ringan.

c. Tahapan-tahapan Membatik

Tahap-tahap membatik sepotong mori harus dikerjakan dengan beberapa tahapan. Setiap tahapan dapat dikerjakan oleh orang yang berbeda, tetapi sepotong kain mori tidak dapat dikerjakan beberapa orang dalam waktu yang bersamaan. Tahapan-tahapan membatik yaitu :

− Nglowongi atau membatik kerangka

(22)

− Ngisen-iseni

Ngisen-iseni berasal dari kata “isi”, dimana ngisen-iseni memiliki arti yaitu memberi isi atau mengisi. Ngisen-iseni dengan mempergunakan canting cucuk kecil disebut juga canting isen. Canting isen memiliki model bermacam-macam., tetapi tergantung pada motif yang dibuat.

− Nerusi

Nerusi merupakan penyelesaian yang kedua. Batikan yang berupa ngengrengan kemudian dibalik permukaannya, dan dibatik kembali pada permukaan kedua itu. Membatik nerusi ialah membatik mengikuti motif pembatikan pertama pada bekas tembusnya.

− Nembok

Sebuah batikan tidak seluruhnya diberi warna, atau akan diberi warna yang bermacam-macam pada waktu penyelesaian menjadi kain. Maka bagian-bagian yang tidak akan diberi warna, atau akan diberi warna sesudah bagian yang lain harus ditutup dengan malam. Cara menutupnya seperti cara membatik bagian lain dengan mempergunakan canting tembokan.

Sebenarnya fungsi malam selain digunakan untuk membentuk motif, malam juga digunakan untuk menutup pada tahap-tahap pemberian warna kain, dimana warna itu sebagai pembentuk motif batik yang sesungguhnya.

− Blikiri

Blikiri adalah tembokan agar bagian-bagian itu tertutup sungguh-sungguh. Blikiri mempergunakan canting tembokan dan caranya seperti nemboki. Apabila tahap terakhir ini sudah selesai berarti proses membatik selesai juga.

(23)

daya serap. Proses mengembang ini memperkuat melekatnya malam yang mulai akan meleleh, sebelum malam itu meleleh batikan harus diangkat dengan hati-hati ke tempat teduh. Dengan demikian selesailah proses membatik.

− Mbabar

Mbabar adalah proses penyelesaian dari batikan menjadi kain. Setelah batikan dibliriki, menungkat pengerjaan selanjutnya, yaitu memproses menjadi kain. Proses mbabar batikan menjadi kain membutuhkan beberapa proses yang terdiri dari beberapa tahapan yang harus diselesaikan secara urut. Tahapan-tahapan tersebut yaitu :

a. Mbironi

Mbironi yaitu memberi warna pada batik. Kain yang sudah dibatik dicelupkan kedalam warna dasar. Bagian yang terkena lilin tidak ikut terkena warna. Kemudian, lilin dihilangkan dan kain dilukis lagi pada bagian yang ingin kita beri warna lain. Setelah itu, kain dicelupkan lagi kedalam warna sehingga nanti terdapat dua warna dan begitu seterusnya.

b. Nyoga

Sesudah dibironi dan kering, batikan itu disoga dengan cara batikan diwiru, yaitu dilipat bolak-balik (lipatan spiral). Setelah diwiru, dimasukkan kedalam wadah yang berisi soga hangat, ditekan-tekan sedemikian rupa agar merata. Setelah cukup rata, kain diangkat dan disampirkan ke atas wadah tersebut, supaya soga dapat menetes kembali ke dalam wadah tadi. Jika cairan soga tidak menetes lagi, maka batikan dijemur pada sinar matahari sampai setengah kering, kemudian dipindah ke tempat teduh sampai kering.

c. Ngelorot

(24)

d. Cor ak Dan War na Khas Batik Tulis Madura

Motif khas batik Madura yang banyak dicari pendatang adalah golongan batik tulis yang dikenal dengan nama Batik Genthongan. Di sebut genthongan karena pada proses pewarnaannya dilakukan dengan merendam kain batik yang telah digambar ke dalam wadah gentong selama dua bulan. Setelah direndam, lembaran batik tersebut kemudian disikat. Selain untuk membersihkan malam yang tersisa, juga agar warna lebih awet melekat pada kain. Melalui proses ini maka batik ini bisa berusia hingga puluhan tahun lebih dengan warna tetap. Dikarenakan proses pembuatan batik tulis yang rumit ini, maka Batik Genthongan Madura biasa dijual dengan harga yang cukup mahal, bahkan bisa mencapai jutaan rupiah.

Gambar 2.1 Contoh motif batik tulis Tanjung Bumi Sumber : www.butikbatikonline.com

(25)

2.1.3 Studi Kasus

Studi kasus objek ini bertujuan untuk memperoleh suatu gambaran atau perbandingan yang berhubungan dengan proyek yang direncanakan. Contoh objek studi kasus tersebut antara lain sebagai berikut :

1. Sogan Batik Village di Yogyakar ta

Sogan Batik Village merupakan sebuah area rekreasi budaya yang berlokasi di Jl. Palagan Tentara Pelajar km10 Rejodani, Sleman, Yogyakarta. Sogan Village terletak di tengah dusun Rejodani pada bangunan kuno 1854. Bangunan milik Iffah M. Dewi ini memiliki fasilitas dimana pengunjung dapat melihat langsung proses produksi batik tulis, bahkan membuat batik dengan kreasi sendiri untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Di Gallery Batik, pengunjung dapat berbelanja batik yang telah di dibuat oleh tangan pembatik dari dusun Rejodani.

Gambar 2.2 Tampilan bangunan galeri batik Sumber : www.soganvilage.com

a. Sejarah Berdirinya

(26)

budaya, seni, spiritualitas yang dikemas dalam satu wadah kegiatan. Fasilitas yang ada pada bangunan Sogan Batik Village ini yaitu Produksi batik, Gallery Batik, Resto Kebun dan outdoor activities. Penggagas awal adalah Iffah M. Dewi yang lahir pada tahun 1982. Iffah M. Dewi sangat mencintai batik. pada tahun 2002 dengan tekad kuat mulai mempelajari pernik batik. Dengan keinginan yang cukup sederhana yaitu "menciptakan lapangan pekerjaan" dan dibekali pendidikan manajemen, Iffah melatih ibu-ibu dusun Rejodani belajar batik tulis.

Tidak lama kemudian Iffah mendirikan rumah produksi batik tulis di dusun Rejodani dengan nama SOGAN Batik. Sogan adalah nama jenis warna alam, yaitu coklat yang dihasilkan dari 3 jenis kayu, merupakan representasi dari 3 hal yang harus dijaga selalu keseimbangannya, yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia dan lingkungan alam.

Dimulai dari produksi syal kemudian semakin berkembang menjadi lebih bervariasi, sehingga hasil karyanya sudah dinikmati oleh masyarakat luas dalam maupun luar negeri.

b. Bangunan

Komplek bangunan Sogan Village terdiri dari tiga bangunan utama, yaitu :

Gambar 2.3 Sketsa Layout sogan Village Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

Pada bangunan pertama, dibangun pada tahun 1854, oleh Kyai H. Muhammad Darrum sebagai rumah tinggal sekaligus tempat usaha keluarga

1 Podium

2 Galeri dan Rumah Produksi

3 Restauran 1

(27)

diantaranya adalah usaha tani, pengovenan dan perajangan tembakau dan konveksi dari kain blaco pada masa tahun 1940an. Dan sekarang teras depan (kuncung) pada bangunan limasan digunakan sebagai podium, sedangkan ruangan luas pada bagian dalam dimanfaatkan sebagai meeting room atau acara indoor seperti wedding.

Pada bangunan kedua, Dibangun pada tahun 1858, dahulu selain digunakan sebagai rumah tinggal, bangunan ini digunakan untuk berbagai aktivitas sosial pada saat perjuangan Indonesia melawan penjajah. Diantaranya: SMP Dharma Siswa dan Madrasah pada tahun 1900-an serta kegiatan organisasi mahasiswa di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya pada tahun 1990-an. Setelah lama bangunan ini tidak dimanfaatkan, atap utama bangunan runtuh pada tahun 2001. Iffah yang masih keluarga pemilik bangunan melihat bahwa kompleks bangunan tempat tinggalnya memiliki potensi wisata budaya, alam dan pedesaan di wilayah Yogyakarta. Dan sekarang dimanfaatkan sebagai galeri dan rumah produksi batik tulis.

Pada bangunan ketiga, dibangun pada tahun 1930, yang pada jaman dahulu digunakan sebagai gudang penyimpanan sekaligus pengasapan tembakau. Saat ini dimanfaatkan sebagai dapur resto kebun yang menyediakan menu masakan spesial Sogan Village ala Indonesia, Asia, dan Barat. Sedangkan halaman luas yang dimiliki rumah limasan dimanfaatkan sebagai tempat penjemuran beras. Saat ini dimanfaatkan resto kebun yang terbuka dengan pemandangan halaman rumput luas.

c. Program Ruang

Sogan batik Village merupakan komplek dari 3 bangunan yang dikembangkan secara baik. Dari 3 bangunan ini memiliki program ruang yang berbeda dan memiliki fasilitas-fasilitas sesuai dengan bangunannya. Fasilitas itu antara lain :

1. Rumah Produksi Dan Galeri

(28)

belajar membuat batik tulis. Berikut tabel 2.1 yang menjelaskan tentang ruang yang ada pada bangunan Rumah Produksi Dan Galeri :

Tabel 2.1 Jenis Ruang Pada Bangunan Rumah Produksi Batik Dan Galeri

Nama Ruang Kegunaan Ruang Ruang penjualan dan

administrasi

Ruang yang digunakan untuk transaksi jual beli maupun pemajangan hasil produksi batik dan merangkap sebagai ruang administrasi.

Ruang pola kain Ruang yang digunakan untuk memola kain. Ruang batik dan belajar

membatik

Ruang yang digunakan untuk membatik dengan proses tulis. Juga digunakan pengunjung untuk belajar membuat batik. Penghawaan alami dan ruangan sedikit terbuka untuk menghindari pengap dari asap malam.

Ruang pewarnaan Ruang yang digunakan untuk mewarna kain yang sudah dibatik dengan pola yang digambar.

Ruang Plorot Ruang khusus yang terletak dibelakang, yang digunakan untuk ngelorot atau merebus kain batik kain hilang.

Ruang Jemur Ruang yang digunakan untuk menjemur kain yang telah mengalami proses pembatikan.

Sumber : www.soganvillage.com

2. Gedung Pertemuan

Ruang Pertemuan dan seminar bertempat didalam bangunan Limasan 1854. suasana tenang dan nyaman mendukung acara pertemuan yang akan selenggarakan disini. Beberapa ruang dan jumlah kapasitas yang ada pada gedung ini bisa dilihat dari tabel 2.2 berikut :

Tabel 2.2 Jenis Ruang Pada Bangunan Gedung Pertemuan

Nama Ruang Kegiatan Ruang Kapasitas Ruang Theater Style Digunakan untuk acara pertemuan / seminar yang

bersifat resmi dengan fasilitas terdapat layar untuk presentasi

70 orang

Ruang U Shape Digunakan untuk rapat, dengan susunan meja berbentuk U.

35 orang Ruang Round Digunakan untuk rapat, dengan susunan meja

melingkar.

40 orang

Sumber : www.soganvillage.com

3. Restauran

(29)

Asia dan Internasional melebur dalam suasana tempo dulu diantara bangunan kuno Limasan dan Joglo 1854.

Gambar 2.4 Suasana restauran Sumber : www.soganvillage.com

2. Pengr ajin Batik Tulis Pamekasan

Pamekasan merupakan salah satu kabupaten yang berada di Pulau Madura yang memiliki julukan sebagai kota batik. Pamekasan merupakan penghasil batik tulis dengan corak khas sendiri. Pengrajin Batik Tulis Pamekasan ini salah satunya terletak di Desa Kowel, Kabupaten Pamekasan. Bagi penduduk Desa Kowel, batik merupakan salah satu mata pencaharian utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu pengrajin batik yang besar di Desa Kowel ini yaitu milik Ibu Aminatus. Di rumah Ibu Aminatus ini biasanya beberapa para pengrajin batik berkumpul untuk membuat batik tulis bersama-sama.

(30)

a. Sejarah Berdirinya

Ibu Aminatus merupakan salah satu pengrajin batik tulis Pamekasan yang tinggal di Desa Kowel. Biasanya para pembatik di desa ini membuat batik bersama di rumah Ibu Aminatus setiap hari Rabu dan Sabtu. Rumah Ibu Aminatus memang dari dulu sebagai tempat berkumpul para pengrajin batik. Tidak diketahui sejak kapan para pengrajin berkumpul untuk membuat batik bersama, namun menurut Ibu Aminatus sejak beliau kecil para pengrajin batik memang berkumpul dirumahnya hanya untuk membuat batik tulis.

b. Bangunan

Sebenarnya bangunan ini merupakan rumah atau tempat tinggal Ibu Aminatus yang dijadikan sebagai tempat berkumpul para pengrajin batik tulis di Desa Kowel. Pada bangunan ini terdiri dari satu bangunan yang luas, dimana pada bangunan ini juga terdapat ruang untuk pewarnaan batik, ruang plorotan malam, dan ruang penjemuran. Dari gambar 2.6 di bawah ini bisa dilihat, ruang-ruang yang ada pada bangunan ini dibagi antara tempat tinggal Ibu Aminatus dan ruang-ruang yang digunakan untuk kegiatan membatik.

Gambar 2.6 Denah rumah Ibu Aminatus Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

Tempat tinggal Ibu Aminatus

Ruang Pewarnaan

Ruang Jemur dan Ruang Plorotan malam

(31)

c. Program Ruang

Program ruang pada rumah Ibu Aminatus yang digunakan untuk berkumpulnya para pengrajin dibagi menjadi beberapa ruang utama, yaitu :

− Ruang Membatik

Pada ruang membatik ini merupakan ruang yang sangat luas diantara ruang-ruang lainya, karena biasanya para pengrajin yang berkumpul untuk membuat batik kurang lebih 10 sampai 15 orang sehingga dibutuhkan ruang yang sangat luas dan nyaman.

Gambar 2.7 Ruang membatik Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

Pada ruangan ini memiliki luas kurang lebih 52 m2, dimana pada ruang ini hanya digunakan untuk membatik kain mori dengan malam.

− Ruang Pewarnaan

Pada ruang pewarnaan ini kain mori yang sudah memiliki motif dicelupkan pada pewarna yang sudah ada. Ruang pewarnaan dan ruang plorotan malam menjadi satu ruangan yang cukup luas.

(32)

Pada ruang pewarnaan yang menjadi satu dengan ruang plorotan malam ini memiliki luas kurang lebih 15 m2 yang dibagi menjadi 2 bagian antara ruang pewarnaan dan ruang plorotan malam.

− Ruang Jemur

Ruang jemur merupakan ruang terbuka luas dan memiliki pencahayaan alami karena disini memerlukan proses penjemuran yang sempurna. Pada ruang jemur ini memiliki luas kurang lebih 15 m2.

Gambar 2.9 Ruang jemur

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

2.1.4 Analisa Hasil Studi

Dari hasil pengamatan terhadap 2 objek studi kasus tersebut di atas, maka dapat ditarik kesimpulan seperti pada tabel 2.3 dibawah ini :

Tabel 2.3 Analisa Hasil Studi

KRITERIA SOGAN BATIK VILLAGE PENGRAJ IN BATIK PAMEKASAN Aspek L okasi Lokasi terdapat di kawasan

perkampungan, yaitu kampung Sogan yang masih memiliki keramaian dan mudah terjangkau dari pusat kota.

Terdapat di kawasan perkampungan, tepatnya di Desa Kowel.

Aspek Fasilitas Terdapat beraneka macam fasilitas yang ditawarkan, misalnya fasilitas utama di tekankan pada tempat produksi membatik dan galeri. Dan juga memiliki fasilitas penunjang seperti restauran dan ruang serbaguna (auditorium).

Fasilitas yang ada pada bangunan ini hanya tempat produksi batik.

(33)

KRITERIA SOGAN BATIK VILLAGE PENGRAJ IN BATIK PAMEKASAN konsep dan lingkungannya. Pada

bentukan bangunan tetap mempertahankan bentukan atap tradisional.

rumah khas Madura, karena pada awalnya bangunan ini merupakan bangunan tempat tinggal.

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

2.2Tinjauan Khusus

2.2.1 Lingkup Penekanan Rancangan

Agar pembahasan lebih terarah dan teratur, maka perlu diterapkan suatu penekanan rancangan yang membatasi proyek perancangan yaitu :

a. Desain perancangan diselesaikan dengan penyelesaiaan tatanan massa b. Pembagian dan penataan ruang yang disesuaikan dengan kebutuhan akan

aktivitas yang dilakukan pada masing – masing ruang.

c. Penataan dan perencanaan sirkulasi yang sesuai dengan standarisasi. d. Penciptaan suasana ruang melalui pengolahan lantai, dinding, plafon,

sistem pencahayaan, serta sistem penghawaan.

2.2.2 Lingkup Pelayanan

Batik Tanjung Bumi yang sudah dikenal oleh banyak masyarakat baik masyarakat dari Pulau Madura maupun dari luar Pulau Madura ini ternyata juga menjadi pusat wisata yang dikunjugi oleh banyak orang.

Lingkup dari Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura Di Bangkalan ini, memiliki lingkup pelayanan meliputi seluruh lapisan masyarakat dan wisatawan mancanegara juga wisatawan nusantara yang datang untuk mengetahui cara pembuatan batik atau juga pengunjug yang hanya ingin berbelanja batik, khususnya batik tulis Madura.

2.2.3 Aktivitas dan Kebutuhan Ruang

(34)

a. Pengunjung

Tabel 2.4 Aktifitas pengunjung dan kebutuhan ruang

Pemakai Bangunan Aktifitas Kebutuhan Ruang

Pengunjung

Datang Area Parkir Memasuki bangunan Hall atau lobby Mencari informasi Resepsionis Melihat pembuatan batik Ruang produksi Belajar membuat batik Ruang pembuatan batik Membaca buku-buku tentang

kerajinan batik Madura.

Ruang baca Melihat koleksi batik dan alat-alat

membatik

Ruang koleksi Membeli kerajinan batik Galeri Membayar Kasir

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

b. Pengrajin

Tabel 2.5 Aktifitas pengrajin dan kebutuhan ruang

Personil Aktifitas Kebutuhan Ruang

Pengrajin

Membuat pola pada kain Ruang pola kain Membatik tulis Ruang batik Kerok malam Ruang kerok

Ruang pewarnaan Ruang rebus dan ruang cuci Mengeringkan atau menjemur Ruang jemur

Membuat pola untuk kerajinan Ruang pola Menjahit Ruang jahit Teknisi Memeriksa dan meperbaiki

kerajinan yang telah dibuat

Ruang maintenence

Karyawan

Memeriksa stok kain Gudang kain Memeriksa stok kerajinan yang

dibuat Gudag kerajinan

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

c. Staff dan pengelelola

Tabel 2.6 Aktifitas staff pengelola dan kebutuhan ruang

(35)

Personil Aktifitas Kebutuhan Ruang keuangan

Kepala bagian dan staff Mengurus operasional bagan Ruang kepala bagian dan staff / ruang pengawas Pengelola Mengadakan rapat dan menerima

tamu

Ruang pengelola, ruang rapat, dan ruang tamu Staff dan karyawan Istirahat Ruang karyawan Staff maintenace Menerima dan mencatat barang

masuk

Ruang maintenance

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

2.2.4 Per hitungan Luasan Ruang

Perhitungan luasan ruang disusun berdasarkan jumlah standar satuan terkecil dari masing-masing aktifitas, serta prasarana yang dibutuhkan pada masing-masing ruang tersebut. Sedangkan jumlah kapasitas pengunjung diambil berdasarkan hasil survei. Secara jelas diuraikan dan dihitung pada tabel dibawah ini :

1. Ruang Pr oduksi

Tabel 2.7 Perhitungan Luas Ruang Produksi

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

(36)

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

15 orang Pendekatan

- SP : 1 orang memola batik

Ruang Jahit 25 orang Pendekatan :

- SP : 1 orang = 2 m2

(37)

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

Sumber : Analisa Penulis, 2011

2. Restaur an dan Penjualan Batik

Tabel 2.8 Perhitungan Luas Restauran

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

Lobby 30 Orang Pendekatan :

(38)

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS Total :

9 m2 + 11,25 m2 = 20,25 m2

Dapur 1 unit Asumsi :

Kebutuhan minimal 20 m2

20 m2

- NAD : Kebutuhan minimal untuk :

Sirkulasi 40% Perhitungan :

Total luas x 40 % =

443,25 m2 x 40 % = 177,3 m2

177,3 m2

JUMLAH 620,6 m2

(39)

3. Galer i

Tabel 2.9 Tabel Perhitungan Luas Galeri

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

Lobby 100 Orang Pendekatan :

100 orang Pendekatan : - NAD :

- NAD : Kebutuhan minimal untuk :

- Pria : 2 closet @ 2m2 Urinoir @ 1 m2 2 Wastafel @1m2

(40)

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

Sumber : Analisa Penulis, 2011

4. Ruang Pengelola

Tabel 2.10 Perhitungan Luasan Ruang Pengelola

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

Lobby 30 Orang Pendekatan :

Ditentukan = 13,5 m2

(41)

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS 1 Wakil Direktur = 10 m2

Perhitungan :

Ditentukan = 10 m2

Sekretaris 1 orang Pendekatan :

- NAD :

Ruang Rapat 21 orang Pendekatan : - NAD :

(42)

RUANG KAPASITAS PERHITUNGAN LUAS

Sirkulasi 30% Perhitungan :

Total luas x 30 % =

247,5 m2 x 30 % = 68,85 m2

68,85 m2

JUMLAH 298,3 m2

Sumber : Analisa Penulis, 2011 Keterangan :

- NAD : Neufert Architect Data - SP : Studi Pembanding

- Luas Total Bidang Ter bangun

= Luas ruang produksi + Luas restauran dan penjualan batik + Luas ruang galeri + Luas staff Pengelola

= 1.122,8 m2 + 620,6 m2 + 419,3 m2 + 298,3 m2 = 2.467 m2

- Sir kulasi dan Par kir

= Luas Bidang Terbangun x 30% = 2.467 m2 x 30%

= 740,1 m2

(43)

= 2.467 m2 + 740,1 m2 = 3.207,1 m2

- Luas Bidang Kosong

= Jumlah Luas Bidang Terbangun dan Sirkulasi dan Parkir x 40% = 3.207,1 m2 x 40%

= 1.284,8 m2

J umlah total luas lahan yang akan ter bangun adalah : 4491,5 m2

2.2.5 Pr ogr am Ruang

Program ruang yang ada pada Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura di Bangkalan adalah sebagai berikut :

1. Fasilitas Utama

• Ruang Produksi, terdiri dari : - Ruang informasi

- Ruang pola kain - Ruang pola batik - Ruang membatik tulis - Ruang kerok malam - Ruang plorot malam / cuci - Ruang jemur

- Ruang jahit

- Ruang belajar membatik • Galeri, terdiri dari :

- Batik shop

2. Fasilitas Penunjang, terdiri dari : • Ruang Koleksi, terdiri dari :

- Ruang pamer - Ruang baca

(44)

3. Fasilitas Pengelola • Ruang direktur • Ruang wakil direktur • Ruang sekretaris • Ruang staff • Ruang rapat 4. Fasilitas Pelengkap

• Service Area, terdiri dari : lobby, kantin, musholla, toilet

(45)

BAB III

TINJ AUAN LOKASI P ERANCANGAN

3.1Latar Belakang Pemilihan Lokasi

Kabupaten Bangkalan berada dikawasan Pulau Madura dengan titik koordinat berada diposisi 112º 40’.60” - 113º 08’ 04” Bujur Timur dan 6º 51’ 39” - 7º 11’ 39” Lintang Selatan. Ditinjau dari aspek luas wilayah, Kabupaten Bangkalan memiliki luas mencapai 1.260,14 km2 dimana terdiri dari 18 kecamatan dan memiliki batasan-batasan sebagai berikut :

− Sebelah Utara berbatasan dengan : Laut Jawa

− Sebelah Timur berbatasan dengan : Kabupaten Sampang − Sebelah Barat berbatasan dengan : Selat Madura − Sebelah Selatan bertatasan dengan : Selat Madura

Gambar 3.1 Peta Struktur Perwilayahan Kabupaten Bangkalan Sumber : PU Cipta Karya Kabupaten Bangkalan, 2010

(46)

Jembatan Suramadu. Strategi penataan pemanfaatan ruang di sub cluster ini adalah terfokus pada penciptaan kawasan industri, perumahan dan wisata yang tertata, dan mengembangkan perkotaan Bangkalan sebagai pusat dengan menyediakan infrastruktur yang mewadahi sebagai pusat pelayanan Cluster ini. Sehingga penentuan lokasi untuk proyek Pusat Kerajinan batik Tulis Madura di Kota Bangkalan adalah pada Kabupaten Bangkalan tepatnya di Kecamatan Burneh yang merupakan SSWP I. Hal tersebut didasarkan atas pertimbangan pengunaan lahan dan aspek-aspek lainnya. Sedangkan karakteristik site atau kriteria yang dipakai sebagai dasar pemilihan alternatif site di Kabupaten Bangkalan.

Berdasarkan Studi literatur dan studi kasus, proyek Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura ini merupakan pusat kerajinan yang bisa digunakan untuk sumber informasi maupun wisata. Terdapat beberapa kriteria khusus dalam pemilihan lokasi untuk proyek Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura di Bangkalan ini perlu pertimbangan khusus antara lain :

Lokasi yang dipilih harus memiliki aksesibilitas yang mudah.

• Lokasi berada pada tataguna lahan pariwisata yang mampu mendukung pembelajaran membatik, sumber informasi, maupun pusat belanja.

• Lokasi terdapat dipusat keramaian namun masih terdapat penghijauan yang cukup, karena pada saat proses membatik biasanya terdapat lahan hijau dimana bila orang mulai bosan membatik akan merefresh diri dengan melihat pemandangan yang ada.

• Penentuan lokasi berdasarkan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) sebagi penjabaran Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), sehingga tercapai sasaran dan tujuanpengembangan kota yang terencana dan terpadu. • Luas tapak memenuhi syarat kebutuhan ruang.

(47)

3.2Peneta pan Lokasi

Penetapan lokasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan juga dilakukan dengan mengikuti tingkatan hirarki yang ada di Bangkalan, kemudian membandingkan alternatif lokasi seperti yang dijelaskan pada tabel 3.1. berikut.

Tabel 3.1. Perbandingan Alternatif Lokasi Bangkalan

No. Kriteria Alternatif Kawasan Pusat Kegiatan Nasional

(PKN)

Kawasan Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) 1. Lokasi Kawasan kaki jembatan Suramadu. Kawasan perkotaan pada

masing-masing Kecamatan di Kabupaten Bangkalan yang terletak di sepanjang jalan utama.

2. Guna Lahan Merupakan daerah dengan sektor industri dan perdagangan jasa.

Merupakan daerah dengan sektor perdagangan dan jasa serta fasilitas umum 3. Sosial

Ekonomi

Area masih tergolong baru dan tidak terlalu padat. Masih banyak lahan kosong.

Masyarakat kelas menengah ke atas banyak bermukim pada wilayah ini. Juga terdapat banyaknya galeri batik. 4. Pencapaian

a. Dari Dalam Kota

Pencapaian ke wilayah ini lebih susah, karena jarak terlalu jauh dari wilayah pusat kota.

Jalan ke wilayah barat lebih banyak dari pusat kota. Akses dari wilayah lain cukup mudah. b. Dari Luar

Kota

Berdekatan dengan Gerbang Kertasusila, maka akses dari luar kota ke wilayah ini mudah, karena didukung jalan tol.

Berdekatan dengan Gerbang Kertasusila, maka akses dari luar kota ke wilayah ini mudah, karena didukung jalan tol. Juga merupakan jalan penghubung ke 4 kabupaten yang ada di Madura.

5. Potensi Pengembangan Kota

− Kawasan dengan kepadatan yang masih belum meningkat.

− Wilayah ini sebagai pemusatan lokasi industri dan

perdagangan jasa.

− Kawasan dengan kepadatan yang mulai meningkat.

− Wilayah ini sebagai pemusatan lokasi

perdagangan dan jasa serta fasilitas umum.

6. Transportasi Terdapat angkutan umum Terdapat angkutan umum

Sumber : Analisa Penulis, 2011

(48)

masing-masing Kecamatan di Kabupaten Bangkalan yang terletak di sepanjang jalan utama ini digunakan sebagai pusat perdagangan dan jasa serta fasilitas umum. Selain itu, suasana pada kawasan ini sangat kondusif untuk fasilitas umum seperti Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura yang juga memiliki suasana yang mendukung dengan adanya lahan hijau seperti sawah, dimana bila orang mulai bosan membatik akan merefresh diri dengan melihat pemandangan yang ada. Serta pencapaiannya cukup mudah baik dari dalam kota maupun dari luar kota, serta terdapat angkutan umum yang memudahkan pengguna bangunan yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Gambar 3.2 Tiga Alternatif Lokasi Sumber : www.googlemaps.com

Terdapat tiga alternatif lokasi di Bangkalan yang akan digunakan sebagai lokasi proyek Pusat Kerajinan Batik Tulis ini. Salah satu lokasi dengan persyaratan terlengkap dan memadai akan digunakan dalam perancangan. Tiga alternatif lokasi tersebut akan dijelaskan pada tabel 3.2 di bawah ini :

A

B

(49)

Tabel 3.2 Pertimbangan Lokasi Site Kesesuaian lokasi site untuk

peruntukan lahan dan luas tapak yang tersedia. Terletak di kawasan daerah

pengembangan fasilitas Pencapaian Site Dekat dengan akses

Jembatan Suramadu Sarana Transportasi Terdapat angkutan

umum, seperti L300 Lebar jalan dan keadaan

jalan. Infrastruktur Terdapat jaringan

(50)

Par ameter Lokasi A View Lokasi A memiliki

view yang baik,

Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011 Keter angan :

1 = Kurang 2 = Cukup 3 = Baik

Berdasarkan penilaian beberapa aspek di atas, seperti kemudahan pencapaian, standart kebutuhan lahan, aktifitas penunjang dan pengaruh lingkungan maka pemilihan site yang sesuai berada di Jalan KH. Munif Arif, Burneh.

(51)

Alasan-alasan dipilihnya lokasi ini sebagai lokasi rancangan proyek ini adalah :

− Bangkalan merupakan Kabupaten Pertama, sebagai kabupaten penerima tamu dan area penyambut atau teras kedatangan.

− Kabupaten yang paling dekat dengan fasilitas penyeberangan antara Surabaya–Madura.

− Merupakan kabupaten yang menjadi prioritas utama dalam rencana pembangunan daerah.

− Lokasi strategis, terletak pada jalur utama menuju kota-kota lain yang berada di Madura.

− Sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang Kota ( RDTK ) kota Bangkalan dari dinas Bapeda mengenai peruntukan lahan, bahwasannya lahan tersebut dipergunakan untuk perdagangan dan jasa serta fasilitas umum.

− Infrastruktur yang cukup mendukung.

− Tersedianya prasarana yang memadai seperi listrik, air bersih, telepon serta jaringan infrastruktur seperti jalan, saluran pembuangan dan lain-lain.

3.3Kondisi Fisik Loka si − Batasan Site

SITE

Lahan Kosong dan

PLN

Rumah M akan dan Gudang Area persaw ahan

Sekolah, pemukiman

w arga, rumah makan,

dan galeri bat ik

(52)

Utara : Jalan KH. Munif Arif Selatan : Lahan kosong (sawah) Timur : Gudang, rumah makan

Barat : Pemukiman penduduk, sekolah, galeri batik tulis

3.3.1 Existing Site

Berikut akan dijelaskan mengenai kondisi eksisting site pada lokasi site yang terletak pada Jalan KH. Munif Arif, Burneh berdasarkan :

− Ukuran Site

Kebutuhan ruang bangunan untuk proyek ini adalah kurang lebih 4491,5 m². Sedangkan ukuran atau luasan site yang dipilih untuk proyek ini adalah sekitar 4500 m². Luas site ini sudah cukup memenuhi kebutuhan ruang proyek Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura di Kota Bangkalan.

Gambar 3.5 Site dengan Luasnya Sumber : Analisa Penulis, 2010

Luas keseluruhan kebutuhan ruang adalah : 4491,5 m2 jika ditambah dengan KDB sebesar 60% : 4491.5 + 60% (2694,9 m2) = 2694,9 m2

U

130,3 m

138,4 m

(53)

Luas bangunan = 4491,5 m2

Luas halaman = 2694,9 m²

− Utilitas

Utilitas telah tersedia, karena sekitar tapak merupakan permukiman penduduk dan juga adanya fasilitas umum seperti restoran dan galeri yang telah berfungsi. Saluran air bersih dapat langsung diambil melalui PDAM, jaringan listrik juga telah tersedia.

Gambar 3.6 Utilitas Sekitar Tapak Sumber : Google Earth dan Data Pribadi 2010 Keterangan :

Jaringan listrik yang terdapat di sepanjang Jalan KH. Munif Arif.

− Kondisi Site

Wilayah perencanaan berstruktur sedang yang merupakan lahan persawahan, kondisi tanahnya berada pada ketinggian 10.00 m di atas permukaan air laut. Kondisi tapak memiliki kemiringan tanah antara 0% – 2% dan memiliki tekstur tanah sedang. Sedangkan pada lahan ini memiliki kedalaman spektip tanah yaitu 0 cm – 30 cm dan tidak mengalami erosi.

3.3.2 Aksebilitas

(54)

melalui akses jembatan Suramadu, dimana jalur ini merupakan akses utama menuju kabupaten dan kota lain yang ada di Pulau Madura. Pencapaian menuju lokasi site juga dipermudah dengan adanya sarana transportasi yang dapat digunakan untuk menuju lokasi objek rancangan.

Transportasi tersebut antara lain sebagai berikut : − Bus antar kota

− Angkutan mini L300 − Mini bus

Gambar 3.7 Aksesibilitas ke Lokasi Site Sumber : Hasil Pengamatan Lapangan, 2011

Dari gambar di atas dapat dilihat kemudahan pencapaian menuju lokasi site juga didukung oleh kondisi jalan beraspal yang cukup baik, karena Jalan KH. Munif Arif merupakan jalan kabupaten maka kondisi jalan sangat diperhatikan dengan baik disekitar lokasi ini, terutama di Jalan KH. Munif Arif sampai menuju pusat kota.

U

Dari pusat kota Bangkalan

(55)

3.3.3 Potensi Lingkungan

Dilihat dari segi potensi lingkungan yang ada, lokasi rancangan Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura yang memiliki lokasi di Burneh memiliki jarak kurang lebih 7 km untuk menuju pusat kota. Dari gambar 3.8 di bawah ini bisa diketahui keberadaan lokasi rancangan Pusat Kerajinan Batik Tulis Madura terhadap lokasi wisata lainnya yang berada di kota Bangkalan.

Gambar 3.8 Peta Wisata Kabupaten Bangkalan Sumber : Bappeda Kab. Bangkalan 2010

Selain melihat keberadaan lokasi yang berdekatan dengan akses jalur Suramadu, di lingkungan sekitar site juga terdapat pemukiman penduduk yang cukup padat dan juga terdapat beberapa fasilitas pendidikan dan fasilitas umum seperti restauran dan galeri batik tulis yang dapat mendukung proyek perancangan bangunan ini. Sehingga lebih mudah dijangkau oleh penduduk sekitar dan menambah fasilitas umum di lokasi tersebut.

(56)

Gambar 3.9 Keberadaan Lokasi Dengan Jembatan Suramadu Sumber : Analisa Penulis, 2011

3.3.4 Infr astr uktur Kota

Infrastruktur kota di daerah ini sudah tersedia, karena sekitar site merupakan area fasilitas penduduk dan juga fasilitas umum yang telah berrfungsi.

Jalur akses suramadu yang merupakan jalur penghubung Pulau Madura dan Pulau Jawa Lahan kosong yang merupakan area

persawahan menjadi view yang cukup baik untuk lahan.

Dari pusat kota Bangkalan

Dari akses Suramadu dan dari kota-kota lain yang akan menuju pusat kota Bangkalan.

(57)

Saluran air bersih dapat langsung diambil melalui PDAM, jaringan listrik dan telepon juga telah tersedia.

a. Jaringan Listrik

Jaringan listrik pada lokasi ini merupakan jaringan tegangan tinggi terdapat di sepanjang Jalan KH. Munif Arif. Karena jaringan listrik di daerah ini selain diperuntukkan bagi permukiman warga juga digunakan bagi fasilitas umum yang ada di daerah ini.

b. Jaringan Air Bersih

Pelayanan air bersih untuk wilayah distrik ini dikelola oleh PDAM dengan jaringan yang sudah menjangkau keseluruhan wilayah tersebut.

c. Pedestrian

Pada wilayah ini tidak terdapat pedestrian di sepanjang site, sehingga dalam perancangan nantinya dapat ditambahkan pedestrian di sekeliling site sehingga pejalan kaki dapat merasa aman dan nyaman.

3.3.5 Per atur an Bangunan Setempat

Ditinjau dari kedudukannya dalam struktur kota, wilayah Bangkalan merupakan bagian dari unit Pusat Pengembangan Kawasan. Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2013, yang termasuk dalam kawasan Pusat Pengembangan Kawasan adalah Kecamatan Burneh, dima memiliki persyaratan lokasi yaitu :

• KDB maksimum : 60%

• Ketinggian bangunan : 2 lantai • Garis Sempadan Bangunan (GSB)

(58)

BAB IV

ANALISA PERANCANGAN

4.1Analisa Site

Dalam perencanaan dan perancangan, analisa site mempunyai peranan penting dalam penentuan zonning, perletakan entrance atau pintu masuk, arah hadap bangunan dan tampilan bangunan.

4.1.1 Analisa Aksesibilitas

Pencapaian site lokasi dari daerah sekitarnya ditentukan berdasarkan pertimbangan terhadap :

- Keleluasaan pengamatan untuk berorientasi terhadap obyek

- Ruang yang memiliki potensi sebagai titik pandang pengamat untuk mengenali obyek.

- Sudut pandang

- Kecepatan maksimum kendaraan pada lalu lintas yang ada.

(59)

Gambar 4.1 Sudut Pandang Orang ke Site Sumber : Analisa Penulis, 2010

Dari tiga titik tersebut dapat dijelaskan bahwa titik A pencapaiannya terlalu jauh jika dari arah Timur, serta lebih susah dilihat jika dari arah Timur. Titik B berada pada bagian tengah, letaknya lebih mudah dicapai baik dari arah Barat maupun Timur. Sementara itu pengunjung juga dapat di arahkan untuk menikmati bangunan terlebih dahulu sebelum masuk. Sedangkan titik C merupakan kebalikan dari titik A, dimana pencapaian dari arah Barat terlalu jauh, dari arah Barat lebih susah dilihat dan dkenali. Dari penilaian ketiga titik alternatif perletakkan ME tersebut dapat disimpulkan titik yang paling sesuai digunakan sebagai Main Entrance (ME) adalah pada titik B.

Sedangkan kecepatan maksimum pada jalan ini tidak terlalu tinggi, karena jalan KH. Munif Arif ini hanya memiliki lebar kurang lebih 6 meter dan tidak terlalu padat. Berdasarkan penilaian-penilaian tersebut maka dapat ditentukan letak pintu masuk (entrance) dapat diletakkan pada sisi tengah site, seperti yang ditunjukkan oleh gambar 4.2. Letak Entrance pada Site di bawah ini.

U

Dari akses Suramadu dan dari kota-kota lain yang akan menuju pusat kota Bangkalan.

Dari pusat kota Bangkalan

(60)

Gambar 4.2. Letak Entrance pada Site Sumber : Analisa Penulis, 2011

4.1.2 Analisa Ik lim

Analisa iklim terdiri dari analisa orientasi matahari, arah angin dan curah hujan. Gambar 4.3 berikut menggambarkan orientasi matahari, arah angin dan curah hujan pada lokasi site.

Bagian terkena radiasi matahari, pada bagian ini bukaan harus diminimalisir

Bagian terkena radiasi matahari, pada bagian ini bukaan harus diminimalisir

Bagian t erkena r adiasi

mat ahari, pada bagian ini

bukaan harus diminimalisir

Bagian yang potensial dibuat bukaan secara maksimal, karena pada bagian ini tidak terkena panas matahari.

Angin musim

Angin Lokal

Gambar 4.3. Orientasi Matahari Arah Angin dan Curah Hujan pada Lokasi site.

Dari akses Suramadu dan dari kota-kota lain yang akan menuju pusat kota Bangkalan.

Dari pusat kota Bangkalan

Main entrance

(61)

a. Orientasi Matahari

Site yang terletak di sebelah barat jalan ini memiliki orientasi menghadap ke jalan utama, yaitu Jalan KH. Munif Arif. Untuk menghindari efek sinar matahari yang bergerak dari arah timur ke arah barat, maka bukaan yang menghadap dua arah tersebut harus diminimalisir. Pada bukaan semacam skylight cenderung diarahkan ke arah yang tidak terkena efek sinar matahari yaitu arah utara dan arah selatan.

Untuk mengurangi panas dan sinar matahari yang berlebih pada dinding bangunan yang menghadap ke sisi barat sebaiknya tidak diberi bukaan yang terlalu lebar. Selain itu dapat digunakan kisi-kisi berupa bidang garis dan kanopi. Panas matahari juga dapat dikurangi dengan menggunakan vegetasi berupa pohon-pohon tinggi dan rindang. Dengan adanya pohon-pohon yang tinggi panas matahari tidak langsung masuk ke dalam bangunan.

Sedangkan orientasi matahari paling dingin berada di sisi Timur dan Selatan. Sehingga bangunan-bangunan yang butuh kenyamanan dapat diletakkan pada bagian Timur dan Selatan, seperti bangunan utama yang fungsinya sebagai tempat terapi. Sementara itu dapat digunakan bukaan-bukaan lebar yang mengarah ke Timur dan Selatan, sehingga ruang-ruang yang membutuhkan pencahayaan cukup dapat dipenuhi namun tetap memberi kenyamanan.

b. Pembayangan

Perletakan bangunan diperhatikan terhadap arah datangnya sinar matahari. Dan letak bangunan juga akan mempengaruhi pembayangan terhadap bangunan itu sendiri dan kemungkinan besar mempengaruhi warna, tekstur, dan tampilan bangunan.

c. Pergerakan Udara

(62)

Untuk bangunan yang membutuhkan dan mengkondisikan udara buatan (AC), dihindarkan pembukaan yang terlalu besar agar udara buatan (AC) yang dipasang pada bangunan dapat bekerja secara optimal.

4.1.3 Analisa Lingkungan Sekitar

Dalam analisa lingkungan sekitar akan dijelaskan, diuraikan, digambarkan dan ditetapkan potensi-potensi lingkungan sekitar secara visual (view) dan bangunan sekitar yang potensial, yang dapat dijadikan orientasi.

a. Analisa view terhadap site − View dari tapak

View paling baik adalah pada sisi utara tapak, karena space pemandangan lebih luas, sehingga orientasi bangunan dapat ditetapkan ke arah utara, yaitu bagian yang diberi tanda positif (+) pada gambar 4.4 View dari Tapak dibawah ini.

Gambar 4.4 View dari Tapak Sumber : Analisa Penulis, 2010 U

(63)

− View ke Tapak

View ke tapak paling banyak didapatkan dari Jalan KH. Munif Arif pada sisi utara tapak. Sehingga orientasi bangunan ke bagian utara.

Gambar 4.5 View ke Tapak Sumber : Analisa Penulis, 2010

b. Bangunan yang Potensial sebagai Orientasi

Banyak bangunan yang terdapat disekitar lokasi site, yaitu bangunan pendidikan, restoran, galeri dan pemukiman penduduk. Diantara beberapa bangunan yang berada di sekitar site, restoran yang memiliki sebuah galeri batik tulis yang memiliki potensi yang baik untuk dijadikan orientasi site. Karena bangunan restoran dan galeri ini adalah bangunan baru dengan memiliki gaya arsitektur tradisional Madura.

U

(64)

4.1.4 Analisa Zoning

Analisa zoning dapat didasarkan oleh hasil analisa kebisingan, kebisingan tertinggi dihasilkan dari jalan KH. Munif Arif yang ditunjukkan oleh sketsa garis berwarna hijau. Kebisingan sedang dihasilkan area parkir pemukiman dan restoran yang ditunjukkan oleh sketsa garis berwarna ungu. Sedangkan kebisingan rendah dihasilkan oleh lahan kosong pada bagian selatan dan barat site yang ditunjukkan oleh sketsa garis berwarna biru.

Gambar 4.7 Analisa Kebisingan Sumber : Analisa Penulis, 2011

Bagian yang berbatasan area dengan tingkat kebisingan tinggi dapat digunakan sebagai zona publik, dengan pertimbangan area publik tidak mengalami masalah jika berdekatan dengan area kebisingan. Bagian Timur dan Barat yang berbatasan area dengan kebisingan sedang dapat digunakan sebagai zona semi publik. Sedangkan pada bagian yang berbatasan area dengan tingkat kebisingan rendah dapat digunakan sebagai zona privat dengan pertimbangan bahwa zona privat membutuhkan ketenangan. Perletakkan zoning dapat dilihat pada gambar 4.8. Penzonningan berikut ini.

(65)

Gambar 4.8 Penzoningan Sumber : Analisa Penulis, 2011 Keterangan :

: Zona Publik : Zona Semi Publik : Zona Service

4.2Analisa Ruang

Analisa ruang dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antar kelompok ruang yang terbentuk serta pola sirkulasi antar bangunan/fasilitas yang ada secara umum dan pola sirkulasi antar ruang yang terjadi secara khusus. Langkah-langkah yang dilakukan adalah membuat diagram hubungan antar ruang untuk menentukan tingkat hubungan ruang yang ada.

4.2.1 Or ganisasi Ruang

Dari pemrograman ruang berdasarkan kebutuhan yang telah dilakukan di bab 2 sebelumnya, telah ditemukan ruang-ruang dengan perbedaan fungsi, kebutuhan, aktivitas yang terjadi di dalamnya, dan juga perbedaan pengguna yang direncanakan hadir dalam perancangan proyek. Dari beragam jenis ruang-ruang

Main Entrance

Gambar

Gambar 2.6 Denah rumah Ibu Aminatus
Gambar 2.8 Ruang pewarnaan
Tabel 2.3 Analisa Hasil Studi
Tabel 2.8 Perhitungan Luas Restauran
+7

Referensi

Dokumen terkait

Secara teoretis, penelitian ini memberikan gambaran karakteristik batik tulis Madura karya Haji Sadili di Desa Pagendingan Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan, meliputi: (1)

(UMKM) pengrajin batik motif Medan yang terdapat di Medan Tembung.. UMKM tersebut meproduksi kain batik khas Sumatera Utara yaitu batik

Dengan usulan rancangan produk fasilitas kerja yang baru seperti : gawangan batik, bak pewarnaan kain batik, jemuran kain batik, kursi membatik, meja batik,

Pemilihan batik, dalam hal ini adalah batik Bangkalan, Madura, sebagai materi utama pembuatan sepatu adalah karena batik ini memiliki karakter yang unik dan tekstur katun yang

Pengrajin batik mendapat imbalan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dimana keberadaan batik di kampong tersebut memberikan lapagan pekerjaan

Tabel 1.2 menunjukkansetiap kabupaten memiliki kerajinan khas yang mewakili dari daerahnya sendiri, kerajinan yang ada di pulau Madura sangat beraneka ragam

Motif daun singkong adalah motif utama dalam pembuatan desain, kain batik perusahaan batik tulis Sumbersari yang dapat melambangkan bahwa kain batik tersebut merupakan batik ciri khas

Data tentang beberapa usaha batik tulis di Madura, termasuk jumlah konsumen, pelatihan karyawan, kenaikan harga bahan baku, dan keuntungan per