29
BUNDA EDU-MIDWIFERY JOURNAL (BEMJ)
p-ISSN: 26227482 dan e-ISSN: 26227487
HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR, LINGKUNGAN DAN STATUS IMUNISASI DENGAN KATEGORI TINGKAT ISPA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUKARAJA NUBAN KABUPATEN LAMPUNG TIMUR
Mega Rahmawati1, Sielvia HS 2, Heri Purnomo3 Akademi Kebidanan Patriot Bangsa Husada123,
[email protected]1, [email protected]2
Keywords:
Baby Weight, Environment, Immunization Status, ARI
ABSTRACT
ARI or Acute Respiratory Infections is a group of diseases who attack the respiratory duct. ARI file of cases in public health center Sukaraja Nuban in 2018 as many as 83.554 cases. The purpose of this research is to know the correlation between baby weight, immunization status and the environment with the ARI level category of toddler in working area Public Health Center Sukaraja Nuban East Lampung. The purpose of this research are knowing the relationship between Birth Weight, Environment and Immunization Status with the incidence of ARI in Toddlers in Sukaraja Nuban Health Center. The design used in this study analytic survey with cross sectional approach. Total population is 156 toddlers with sample 112 respondents. Statistical test in this study using Chi Square test. Statistical test result with baby weight wih ARI was obtained P-Value of 0,001, which means there is asignificant correlation between baby weight with ARI. Result of statistical tests to the environment with ARI obtained p-value of 0,000 means that there is a significant correlation between the environment habitation of toddler with ARI. Statistical test result immunization status with ARI was obtained p- value of 0,012 means that tere is a correlation immunization status with ARI. In this research, researchers gave advice to the public and health professionals should pay attention to three risk factor of happen ARI for toddler and always gave information and counseling about ways that birth with normal baby weight, a healthy enviroment and a complete immunization status.
PENDAHULUAN
Penyebab angka kesakitan dan kematian anak terbanyak saat ini masih disebabkan oleh diare dan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).
ISPA atau infeksi saluran nafas akut adalah suatu kelompok penyakit yang menyerang saluran pernafasan. Secara anatomis, ISPA dapat dibagi dalam dua bagian yaitu ISPA atas dan ISPA bawah, dengan batas anatomis adalah suatu bagian dalam tenggorokan yang disebut epiglotis. Salah satu ISPA bawah yang
berbahaya adalah pneumonia (Maryunani, 2010).
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) sebagian besar hanya bersifat ringan seperti batuk-batuk, pilek, disebabkan oleh virus, dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Infeksi saluran pernafasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada musim dingin. ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia (radang paru –
30 paru) sering terjadi pada anak-anak terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak sehat.
Resiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban imunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau malah berlebihannya pemakaian antibiotik. Hingga saat ini angka kematian akibat ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian sering kali disbabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan parah/lanjut dan sering disertai penyulit – penyulit dan kurang gizi (Wahidiyat, 2011).
ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) sebagian besar hanya bersifat ringan seperti batuk-batuk, pilek, disebabkan oleh virus, dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Infeksi saluran pernafasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh virus sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada musim dingin. ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia (radang paru – paru) sering terjadi pada anak-anak terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan lingkungan yang tidak sehat.
Resiko terutama terjadi pada anak-anak karena meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban imunologisnya terlalu besar karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau malah berlebihannya pemakaian antibiotik. Hingga saat ini angka kematian akibat ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian sering kali disbabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan parah/lanjut dan sering disertai penyulit – penyulit dan kurang gizi (Wahidiyat, 2011).
Pada negara miskin dan berkembang, sekitar 20 – 25 % angka morbiditas balita disebabkan oleh ISPA. ISPA merupakan penyakit infeksi saluran pernafasan akut yang disebabkan oleh lebih dari 300 jenis kuman, baik berupa bakteri, virus maupun ricksettsia masuk mengineksi tubuh melalui jalan pernafasan secara percikan atau secara droplet (Maryunani, 2010).
Menurut data WHO (World Health Organisation) 2010 setiap tahun diperkirakan lebih dari 2 juta Balita meninggal karena ISPA (1 Balita/20 detik) dari 9 juta total kematian Balita. Diantara 5 kematian Balita, 1 di
antaranya disebabkan oleh pneumonia. Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta), Pakistan (10 juta), Bangladesh dan Nigeria masing-masing 6 juta episode (Depkes, 2010).
Di Indonesia angka cakupan penemuan pneumonia selama kurun waktu tahun 2009 - 2014 balita tidak mengalami perkembangan berarti yaitu berkisar antara 20%-30%. Pada tahun 2015 – 2018 terjadi peningkatan cakupan dikarenakan adanya perubahan angka perkiraan kasus dari 10% menjadi 3,55%, selain itu ada peningkatan dalam kelengkapan pelaporan dari 94,12% pada tahun 2016 menjadi 97,30% pada tahun 2017, dan 100%
pada tahun 2018
Pada tahun 2018 terdapat satu provinsi yang cakupan penemuan pneumonia balita sudah mencapai target yaitu DKI Jakarta 95,53%, sedang provinsi yang lain masih di bawah target 80%. Capaian terendah di provinsi Kalimantan Tengah 5,35%. Di Provinsi Lampung cakupan penemuan pneumonia 46,65% (Profil Kesehatan Indonesia, 2018).
Berdasarkan profil Indonesia, kejadian ISPA tahun 2018, didapatkan insiden (per 1000 balita) di Indonesia sebesar 20,06% hampir sama dengan data tahun sebelumnya 20,56%.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penyakit ini yaitu dengan meningkatkan penemuan pneumonia pada balita. Perkiraan kasus pneumonia secara nasional sebesar 3,55% namun angka perkiraan kasus pneumonia di masing-masing provinsi menggunakan angka yang berbeda- beda sesuai angka yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukan bahwa penanganan ISPA di Indonesia belum sepenuhnya berhasil (Profil Indonesia, 2018).
Hasil Pola 10 besar penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di puskesmas Provinsi Lampung Tahun 2018: 1. Hipertensi Hipertensi essensial primer 30%, Penyakit hipertensi lainnya 17% dan ISPA 15% (Profil Dinkes Lampung 2018). Di Lampung Timur pola 10 besar penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di Puskesmas Kabupaten Lampung Timur yang menduduki urutan terbesar adalah Hipertensi (19347 kasus), Gastritis (17003 kasus), Influenza (16154 kasus) (Profil Kesehatan Lamtim, 2016).
Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor resiko
31 terjadinya ISPA yaitu: Faktor Lingkungan (Pencemaran udara dalam rumah, ventilasi rumah, kepadatan hunian rumah), Faktor Individu Anak (Umur anak, berat badan lahir, status gizi, vitamin A, status imunisasi), dan Faktor Perilaku (Maryunani, 2010).
Sedangkan menurut Rudan (2010) Faktor - risiko yang selalu ada (definite) meliputi gizi kurang, berat badan lahir rendah, tidak ada/tidak memberikan ASI, polusi udara dalam - ruang, dan pemukiman padat.
Data di Puskesmas Sukaraja Nuban masih di dominasi oleh penyakit-penyakit infeksi. Pola penyakit di Puskesmas Sukaraja Nuban pada tahun 2018 antara lain : 1. ISPA 2.728 (34,04%) ; 2. Penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat 1.349 (16,84%); 3.
Hipertensi 1.107 (13,82%); 4. Gastritis 983 (12,27%); 5. Diare 768 (9,58%); 6. Penyakit Alergi 271 (3,38%); 7. Caries Gigi 256 (3,19%); 8. Asma 230 (2,87%); 9. Infeksi Kulit 179 (2,23%); 10. Tonsilitis 142 ( 1,77%) (Profil Puskesmas Sukaraja Nuban, 2018).
Hasil prasurvey yang dilakukan di Puskesmas Sukaraja Nuban tanggal 8 s.d 10 April 2018, didapatkan hasil dari 15 ibu yang mempunyai balita (100%). 5 balita (33,33%) mengatakan anaknya terkena ISPA disebabkan faktor lingkungan karena memasak menggunakan tungku kayu bakar. 2 ibu balita (40%) karena memiliki anggota keluarga yang merokok, 1 (20 %) ventilasi rumah kurang, 2 (40%) memiliki rumah yang jaraknya kurang dari 1 meter. Sedangkan 7 ibu yang mempunyai balita (46,67 %) mengatakan 4 (57,14%) melahirkan dengan berat badan kurang dari 2500 gram, 3 (42,86%) imunisasi tidak lengkap.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yaitu suatu penelitian yang dilakukan sesaat, artinya objek penelitian diamati hanya satu kali dan tidak ada perlakuan terhadap responden.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita yang sakit ISPA di Ruang KIA Puskesmas Sukaraja Nuban sejumlah 156 balita. Teknik sampel yang digunakan adalah stratifed random sampling, yaitu cara mengambil sampel secara acak.
Tabel 1 Distribusi sampel balita yang sakit ISPA di Ruang KIA Puskesmas Sukaraja Nuban
Jumlah Balita
Sakit Populasi Sampel
Januari 46 46
156 x 112 = 33
Februari 56 56
156 x 112 = 40
Maret 35 35
156 x 112 = 25
April 19 19
156 x 112 = 14
Jumlah 156 112
Kriteria sampel pada penelitian ini adalah: Orang tua yang bersedia, balita mengalami ISPA, jumlah balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sukaraja Nuban.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Analisis Univariat a. ISPA
Tabel. 2. Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA pada Balita di Puskesmas Sukaraja Nuban
No Kejadian
ISPA Frekuensi (%)
1 Sedang 72 64,3
2 Ringan 40 35,7
Total 112 100
Tabel 2 dapat disimpulkan bahwa distribusi kejadian yang paling banyak adalah ISPA Sedang yaitu sebanyak 72 orang (64,35%).
b. Berat Badan Lahir
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Berat Badan Lahir Balita di Puskesmas Sukaraja Nuban
No Berat Badan
Lahir Frekuensi (%)
1 Rendah 38 33,9
2 Normal 74 66,1
Total 112 100
Tabel 3 dapat disimpulkan bahwa distribusi berat badan lahir balita yang paling banyak adalah berat badan lahir normal yaitu sebanyak 74 orang (66,1%).
32 c. Lingkungan
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Lingkungan Tempat Tinggal Balita di Puskesmas Sukaraja Nuban
No Lingkungan Frekuensi (%) 1 Tidak Sehat 89 79,5
2 Sehat 23 20,5
Total 112 100
Tabel 4 dapat disimpulkan bahwa distribusi lingkungan tempat tinggal balita yang paling banyak adalah lingkungan tidak sehat yaitu sebanyak 89 lingkungan (79,5%).
d. Status Imunisasi
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Status Imunisasi Balita di Puskesmas Sukaraja Nuban
No Lingkungan Frekuensi (%) 1 Tidak
Lengkap
41 36,6
2 Lengkap 71 63,4
Total 112 100
Tabel 5 dapat disimpulkan bahwa status imunisasi balita yang paling banyak adalah imunisasi lengkap yaitu sebanyak 71 orang (63,4%).
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan Berat Badan Lahir dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Tabel 6. Hubungan Berat Badan Lahir dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung
BB Lahir
ISPA Sedang
ISPA
Ringan Total P
value OR
∑ % ∑ % ∑ %
Rendah 33 86,8 5 13,2 38 100 0,001
5,923 (2,082 – 16,849) Normal 39 52,7 35 47,3 74 100
Total 72 64,3 40 35,7 112 100
Didapatkan hasil uji statistik menggunakan chi square diperoleh p value = 0,001 dan OR = 5,923 yang berarti ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA. Bayi berat badan lahir rendah lebih beresiko terkena ISPA 6 kali dari berat badan lahir normal.
b. Hubungan Lingkungan Tempat Tinggal dengan Kejadian ISPA pada Balita Tabel 7. Hubungan Lingkungan Tempat Tinggal dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Sukaraja Nuban
Lampung Timur
Lingkunga n
ISPA Sedang
ISPA
Ringan Total P
value OR
∑ % ∑ % ∑ %
Tidak
Sehat 67 75,3 22 24,7 89 100 0,000
10,964 (3,643 – 32,991) Sehat 5 21,7 18 78,3 23 100
Total 72 64,3 40 35,7 112 100
Berdasarkan tabel 11 dapat dilihat dari dari 89 balita dengan lingkungan tempat tinggal tidak sehat yang terkena ISPA Sedang sejumlah 67 balita (75,3%).
Sedangkan dari 23 balita dengan lingkungan tempat tinggal sehat yang terkena ISPA ringan sejumlah 18 balita (78,3%). Hasil uji statistik menggunakan chi square di peroleh p value 0,000 yang berarti ada hubungan antara lingkungan tempat tinggal balita dengan kejadian ISPA dan OR 10,964 yang berarti balita yang tinggal di lingkungan tidak sehat lebih beresiko terkena ISPA 11 kali dari balita yang tinggal di lingkungan sehat.
c. Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA pada Balita
Tabel 8. Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Puskesmas Sukaraja Nuban Lampung
Imunisas i
ISPA Sedang
ISPA
Ringan Total P
value OR
∑ % ∑ % ∑ %
Tidak
Lengkap 33 80,5 8 19,5 41 100 0,01 2
3,38 5 (1,37 2 - 8,34 9) Lengkap 39 54,9 32 45,1 71 100
Total
72 64,3 40 35,7 112 100
Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat dari dari 41 balita dengan imunisasi tidak lengkap yang terkena ISPA sedang sejumlah 33 balita (80,5%). Sedangkan dari 71 balita dengan imunisasi lengkap yang terkena ISPA ringan sejumlah 32 balita (45,1%). Hasil uji statistik menggunakan chi square di peroleh p value 0,012 yang berarti ada hubungan antara status imunisasi dengan kejadian ISPA dan OR 3,385 yang berarti balita dengan status imunisasi tidak lengkap lebih beresiko terkena ISPA 3,4 kali dibandingkan dengan balita dengan status imunisasi lengkap.
Setelah dilakukan tabulasi dan analisis data hasil penelitian, selanjutnya akan dibahas hasil penelitian sebagai berikut:
a. Hubungan Berat Badan Lahir dengan Kejadian ISPA Pada Balita
33 Hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0,001. Ini berarti p value lebih kecil dari alpha (0,05), artinya Ha diterima dan Ho ditolak dengan demikian ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA pada balita.
Dari uraian diatas peneliti dapat menunjukkan bahwa berat badan lahir bayi
< 2500 gram atau BBLR lebih mudah terserang penyakit ISPA atau penyakit saluran pernafasan lainnya karena bayi yang lahir dengan BBLR memiliki sistem pertahanan tubuh yang rendah sehingga mikroorganisme patogen akan lebih mudah masuk dan menginfeksi balita termasuk ISPA.
b. Hubungan Lingkungan dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0,000. Ini berarti p value lebih kecil dari alpha (0,05), artinya Ha diterima dan Ho ditolak dengan demikian ada hubungan antara lingkungan tempat tinggal balita dengan kejadian ISPA.
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi dan anak balita bermain.
Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi.
c. Hubungan Status Imunisasi dengan Kejadian ISPA Pada Balita
Hasil uji statistik didapatkan nilai p value 0,012. Ini berarti p value lebih kecil dari alpha (0,05), artinya Ha diterima dan Ho ditolak dengan demikian ada hubungan antara Status Imunisas dengan kejadian ISPA pada balita.
Bayi dan balita yang pernah terserang ISPA dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap ISPA sebagai komplikasi dari penyakit campak. Sebagian besar kematian akibat ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis dan campak. Dengan pemberian
imunisasi campak yang efektif maka 11 % kematian ISPA pada balita dapat dicegah dan dengan imunisasi DPT-Hib maka 6%
kematian ISPA pada balita dapat dicegah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Distribusi frekuensi kejadian ISPA pada
balita di Puskesmas Sukaraja Nuban yang paling banyak adalah ISPA sedang 64,3%.
2. Distribusi frekuensi berat badan lahir balita di Puskesmas Sukaraja Nuban yang paling banyak adalah berat badan lahir normal yaitu 66,1%.
3. Distribusi frekuensi lingkungan tempat tinggal balita di Puskesmas Sukaraja Nuban yang paling banyak adalah lingkungan tidak sehat 79,5 %
4. Distribusi frekuensi status imunisasi balita di Puskesmas Sukaraja Nuban yang paling banyak adalah imunisasi lengkap 63,4%
5. Ada hubungan antara berat badan lahir dengan kejadian ISPA pada balita Puskesmas Sukaraja Nuban, di peroleh nilai p value 0,001.
6. Ada hubungan antara lingkungan tempat tinggal balita dengan kejadian ISPA pada balita Puskesmas Sukaraja Nuban, di peroleh p value 0,000.
7. Ada hubungan antara status imunisasi dengan kejadian ISPA pada balita Puskesmas Sukaraja Nuban, di peroleh p value 0,012.
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dokumentasi perpustakaan yang dapat menyumbang materi mengenai ISPA pada balita serta digunakan pembaca untuk menambah pengetahuan dan sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya, sehingga dapat menambah refrensi khususnya bagi mahasiswa tentang ISPA pada balita di wilayah penelitian selanjutnya. Bagi Puskesmas Sukaraja Nuban agar memberikan penyuluhan kepada masyarakat pentingnya pemeriksaan kehamilan yang teratur sehingga dapat melahirkan bayi dengan berat badan lahir normal. Penyuluhan tentang lingkungan yang sehat bagi masyarakat.
Pemberian imunisasi dasar secara lengkap bagi balita. Sedangkan bagi Ibu balita agar dapat menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan bagi balita
34 DAFTAR PUSTAKA
Adelina, Betty, 2014, Hubungan Status Imunisasi Dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita Sakit (1-5 Tahun) di Puskesmas Teladan Medan Tahun 2014, USU, Medan
Arikunto, S, 2013, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta
Bobak, Irene, dkk, 20010, Buku Ajar Keperawatan Maternitas, EGC, Jakarta Cahyaningrum, Putri, 2010, Hubungan Kondisi
Faktor Lingkungan dan Angka Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada balita di wilayah kerja Puskesmas Cangkringan Kabupaten Sleman Daerah Isimewa Yogyakarta Pasca Erupsi Gunung Merapi Tahun 2010, UNY, Yogyakarta Dinkes Lampung Timur, 2016, Profil Dinas
Kesehatan Lampung Timur Tahun 2016, Dinas Kesehatan Lampung Timur, Lampung Timur
Dinkes Provinsi Lampung, 2018, Profil Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2018, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Lampung
Hartono, R, dkk, 2012, ISPA Gangguan Pernafasan Pada Anak, Nuha Medika, Yogjakarta
Hastono, Sutanto, 2006, Analisis Data Kesehatan, FKM UI, Depok
Hassan, R, dkk, 2007, Ilmu Keshatan Anak 1 Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Infomedika, Jakarta
Irwanto, 2014, Lingkungan,
http://id.wikipedia.org/wiki/Lingkungan KEMENKES RI, 2010, Pneumonia Balita,
Kemenkes RI, Jakarta
KEMENKES RI, 2012, Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran Pernafasan Akut, Kemenkes RI, Jakarta
KEMENKES RI, 2013, Pedoman Teknis Program Imunisasi, Dinkes Provinsi Lampung
KEMENKES RI, 2018, Riset Kesehatan Dasar, Kemenkes RI, Jakarta
Lemeshow, S, dkk, 1997, Besar Sempel dalam Penelitian Kesehatan, Gajah Mada University Press, Yogyakarta
Marni, 2014, Asuhan Keperawatan Pada Anak Sakit dengan Gangguan Pernafasan, Pustaka Baru, Yogyakarta
Maryunani, A, 2010, Ilmu Kesehatan Anak dalam Kebidanan, TIM, Jakarta
Masriroh, S, 2014, Keperawatan Pediatric, Imperium,Yogyakarta
Mulyani, S, dkk, 2013, Imunisasi Untuk Anak.
Nuha Medika, Yogyakarta
Notoatmojo,S, 2005, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta
Notoatmojo,S, 2012, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta
Proverawati, A, 2010, Imunisasi dan vaksinasi, Nuhamedika, Yogyakarta
Ranantha, R, 2009, Hubungan antara Karakteristik Balita dengan Kejadian ISPA pada Balita di Desa Gandon Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung, Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Jawa Tengah
Rikegalina, 2015, Konsep Berat Badan Bayi Baru Lahir, Rikegalina.blogspot.com, [diakses selasa tanggal 14 april 2015]
Saryono, 2008, Metodologi Penelitian Kesehatan, Mitra Cendikia Press, Jogjakarta Sugiyono, 2010, Statistika untuk Penelitian, Alfa
Beta, Bandung
Widoyono, 2012, Penyakit Tropis, Airlangga, Bekasi
Wijayaningsih, S, dkk, 2013, Asuhan Keperawatan Anak,Tran Info Media, Jakarta