• Tidak ada hasil yang ditemukan

ix Daftar Isi

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "ix Daftar Isi"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASANAKUT (ISPA) PADA BALITA

DI DESA KUALA IDI KECAMATAN IDI RAYEUK KABUPATEN ACEH TIMUR

Skripsi

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana keperawatan

Disusun Oleh :

NURUL FAJAR NIM :1812210053

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS SAINS TEKNOLOGI DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BINA BANGSA GETSEMPENA BANDA ACEH

2022

(2)

ii

(3)

iii DAFTAR ISI

Halaman Sampul ... i

Halaman Judul ... ii

Halaman Pengesahan ... iii

Halaman Persetujuan ... iv

Kata Pengantar ... vi

Abstrak (Bahasa Indonesia) ... viii

Abstrak (Bahasa Inggris) ... ix

Daftar Isi ... xi

Daftar Tabel ... xii

Daftar Gambar ... xiii

Daftar Singkatan ... xiv

Daftar Lampiran ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 latar belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.3.1 Tujuan Umum ... 5

1.3.2 Tujuan Khusus ... 5

1.4 Manfaat penelitan... 6

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 6

1.4.2 Manfaat Praktis ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7

2.1 Kajian Teori ... 7

2.1.1 Konsep Dasar ISPA ... 7

2.1.1.1 Pengertian (ISPA) ... 8

2.1.1.2 Penyebab (ISPA) ... 8

2.1.1.3 Klasifikasi (ISPA) ... 9

2.1.1.4 Gejala (ISPA) ... 9

2.1.1.5 Pencegahan (ISPA) ... 10

2.1.1.6 Pengobatan (ISPA) ... 10

2.1.2 Konsep Dasar Kondisi Fisik Rumah ... 11

2.1.2.1 Pengertian Rumah ... 12

2.1.2.2 Fungsi Rumah... 13

2.1.2.3 Kriteria Rumah Sehat ... 14

2.1.2.4 Komponen Kondisi Fisik Rumah ... 14

2.1.3 Konsep Dasar Balita ... 16

2.1.3.1 Pengertian Balita ... 16

2.1.3.2 Karakteristik Balita ... 17

2.1.3.3 Tumbuh Kembang Balita ... 18

2.1.3.4 Kubutuhan Utama Balita ... 19

(4)

iv

2.4 Kerangka Berpikir ... 22

2.5 Kerangka Konsep ... 23

2.6 Hipotesis ... 24

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

3.1 Desain Peneltian ... 25

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian... 25

3.2.1 Tempat ... 25

3.2 1 Waktu penelitian ... 25

3.3 Populasi dan Sampel ... 25

3.3.1 Populasi ... 25

3.3.2 Sampel ... 26

3.4 Variabel Penelitian ... 26

3.4.1 Variabel Independen ... 26

3.4.2 Variabel Dependent ... 26

3.5 Definisi Penelitian ... 27

3.6 Instrumen Penelitian ... 27

3.7 Vaiditas dan Reabilitas ... 29

3.7.1 Validitas ... 29

3.7.2 Reablitas ... 30

3.8 Prosedur Pengumpulan Data ... 30

3.8.1 Data Primer ... 30

3.8.1 Data Sekunder ... 30

3.9 Pengolahan dan Analisis Data ... 31

3.9.1 Pengolahan Data ... 31

3.9.1 Analisis Data ... 32

3.10 Etika Penelitian ... 33

BAB IV HASIL DAN PEMABAHASAN ... 35

4.1. Hasil Penelitian ... 35

4.2. Pembahasan Penelitian ... 42

4.3. Keterbatasan Penelitian ... 50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………. 51

5.1 Kesimpulan ... 51

5.2 Saran ... 53 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(5)

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atau Acute Respiratory Infectious Disease merupakan penyakit angka morbiditas dan mortalitas khususnya di negara miskin dan berkembang. ISPA merupakan salah satu penyebab kematian utama didunia dan penyebab turunnya kualitas hidup (disability adjusted life years atau DALY) khususnya terhadap balita (Mokdad A.H, 2017).

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa kematian anak pada balita disebabkan oleh ISPA yang merupakan salah satu masalah kesehatan di dunia. Ada 15.000 anak balita meninggal dunia setiap harinya. Tahun 2017 jumlah total kematian anak pada balita mencapai 5,4 juta anak. ISPA menyumbang 16% dari seluruh jumlah kematian anak dibawah umur 5 tahun di dunia, sebesar 920.136 balita meninggal atau lebih 2.500 balita per hari (Suryananda, 2019).

Berdasarkan data laporan rutin Subdit ISPA Tahun 2018, didapatkan insiden (per 1000 balita) di Indonesia sebesar 20,06% hampir sama dengan data tahun sebelumnya 20,56%. Perkiraan kasus ISPA secara nasional sebesar 3,55%

namun angka perkiraan kasus ISPA di masing-masing provinsi menggunakan angka yang berbeda-beda sesuai angka yang telah ditetapkan. Untuk di Indonesia, Persentase Kasus ISPA pada Balita sebesar 3,55%, sedangkan di DKI Jakarta sebesar 4,22%. (Kemenkes RI, 2019).

(6)

Penyakit ISPA merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia terutama pada balita dengan angka kesakitan 3-6 kali pertahun. Infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan bakteri. Penyakit ini diawali dengan panas disertai salah satu gejala : tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau berdahak. Data Riskesdas tahun 2018, di Indonesia angka prevalensi ISPA berdasarkan diagnosis nakes dan gejala mencapai 9,3%. Untuk angka prevalensi ISPA berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan dan gejala pada tahun 2018 di DKI Jakarta mencapai 9%. (Riskesdas, 2018).

ISPA dipengaruhi atau ditimbulkan oleh tiga hal yaitu adanya kuman, keadaan daya tahan tubuh, keadaan lingkungan, dan kualitas udara. Lingkungan di dalam rumah sangat berinteraksi erat dengan tempat tinggal di kehidupan sehari - hari, lingkungan di dalam rumah merupakan tempat suatu keluarga berkumpul dan berlindung tidak sehat jika adanya serangan infeksi oleh bakteri atau virus maka dapat menimbulkan berbagai penyakit yaitu penyakit ISPA (Sihombing, 2018).

Rumah merupakan lingkungan tempat tinggal yang harus memenuhi kriteria kenyamanan, keamanan, dan kesehatan sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani maupun sosial budaya. Dalam hal ini untuk memenuhi kebutuhan pysiologis dan mencegah penularan penyakit sangat penting adalah kondisi fisik rumah. Memenuhi kebutuhan pysiologis yang dimaksud disini adalah yang berhubungan dengan penyakit, khususnya ISPA karena penyakit tersebut dapat timbul karena kondisi fisik rumah yang kurang sehat seperti ventilasi kurang memadai, jenis lantai yang tidak memenuhi standar serta kondisi dinding kurang baik. (Suryanto, 2013).

(7)

Lantai rumah dapat mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA karena lantai yang tidak memenuhi standar merupakan media yang baik untuk perkembangbiakan bakteri atau virus penyebab ISPA. Lantai yang baik adalah lantai yang dalam keadaan kering dan tidak lembab. Bahan lantai harus kedap air dan mudah dibersihkan, jadi paling tidak lantai perlu diplester dan akan lebih baik kalau dilapisi ubin atau keramik yang mudah dibersihkan (Ditjen PPM dan PL, 2012).

Dinding rumah yang baik menggunakan tembok, tetapi dinding rumah di daerah tropis khususnya di pedesaan banyak yang berdinding papan, kayu dan bambu. Hal ini disebabkan masyarakat pedesaan perekonomiannya kurang.

Rumah yang berdinding tidak rapat seperti papan, kayu dan bambu dapat menyebabkan penyakit pernafasan yang berkelanjutan seperti ISPA, karena angin malam yang langsung masuk ke dalam rumah. Jenis dinding mempengaruhi terjadinya ISPA, karena menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman (Suryanto, 2012).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Oktaviani, 2013) yang berjudul Hubungan Antara Sanitasi Fisik Rumah Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) Pada Balita Di Desa Cepogo Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali didapatkan hasil sebagai berikut, Hasil analisis statistik dengan uji Chi square untuk hubungan antara ventilasi rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Cepogo, didapatkan nilai p (0,046) lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian terdapat hubungan yang signifikan antara ventilasi

(8)

rumah dengan kejadian ISPA. Hasil analisis statistik dengan uji Chi square untuk hubungan antara lantai rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Cepogo, didapatkan nilai p (0,025) lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian terdapat hubungan yang signifikan antara lantai rumah dengan kejadian ISPA. Hasil analisis statistik dengan uji Chi square untuk hubungan antara dinding rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Cepogo, didapatkan nilai p (0,00) lebih kecil dari nilai α (0,05), dengan demikian terdapat hubungan yang signifikan antara dinding rumah dengan kejadian ISPA

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada tahun 2014 sebesar 63,78% dan pada tahun 2015 sebesar 70,36%, urutan pertama terbanyak dari 10 jenis penyakit menular (Profil Dinas Kesehatan Propinsi Aceh, 2016), dan data dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada tahun 2014 sebesar 50,91% dan pada tahun 2015 sebesar 46,8%, urutan pertama terbanyak dari 10 jenis penyakit menular (Dinas Kesehatan Aceh, 2016).

Dari data pusat kesehatan masyarakat (PUSKESMAS) Idi Rayek, terdapat sebesar 290 (100%) kasus penderita penyakit ISPA secara keseluruhan, dan diantaranya 190 (66%) penderita ISPA tersebut adalah balita serta 102 (44%) diantaranya adalah anak dan dewasa sepanjang tahun 2021 (PUSKESMAS Idi Rayeuk, 2021).

Berdasarkan hasil survei pendahuluan pada tanggal 08 sampai 10 Maret 2022 Kuala Idi Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur didapatkan bahwa dari 10 orang ibu diwawancarai tentang penyakit ISPA terdapat 7 anak balitanya

(9)

pernah menderita penyakit ISPA seperti flu, bersin-bersin batuk, pilek serta demam dalam sebulan terakhir serta 5 diantaranya memiliki kondisi fisik rumah kurang baik seperti ventilasi rumah kurang memadai, lantai kotor dan dinding rumah terbuat dari papan dan bambu. Dari 10 indikator PHBS yang telah diwawancarai hanya 3 indikator yang dilkukan oleh masyarakat sekitar seperti Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, Bayi di beri ASI ekslusif dan Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, sedangkan untuk 7 indikator lainnya masih belum dilaksanakan.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian Infeksi Saluran Pernapasam Akut (ISPA) pada balita di desa Kuala Idi Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur tahun 2022.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melihat apakah ada hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian Infeksi Saluran Pernapasam Akut (ISPA) pada balita di desa Kuala Idi Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur tahun 2022.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di desa Kuala Idi Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur tahun

(10)

2022.

1.3.2 Tujuan Khusus

1) Untuk mengetahui hubungan ventilasi rumah dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di desa Kuala Idi Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur tahun 2022.

2) Untuk mengetahui hubungan dinding rumah dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di desa Kuala Idi Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur tahun 2022.

3) Untuk mengetahui hubungan kondisi lantai rumah dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada balita di desa Kuala Idi Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur tahun 2022.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Bagi Mahasiswa

Diharapkan dapat memperoleh pengalaman dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan dan menjadi bahan pengetahuan bagi mahasiswa dan menambah wawasan khusus tentang penyakit Ispa pada balita.

1.4.2 Bagi Subjek Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkaan dapat bermanfaat dan menjadi referensi serta informasi bagi orang tua balita tentang penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pengendalianya.

(11)

1.4.3 Bagi Universitas Bina Bangsa Getsempena

Penulis berharap hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan ilmu baru untuk Universitas Bina Bangsa Getsempena dan dapat menjadi acuan untuk penelitian selanjutnya

1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan dibidang kesehatan dan sumber data yang nantinya lebih bisa dikembangkan lagi dengan penelitian selanjutnya dan lebih mendalam terhadap variabel yang diteliti.

1.4.5 Bagi Tempat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkaan dapat menjadi masukan serta informasi bagi masayarakat di desa Kuala Idi Rayeuk dalam upaya pencegahan kejadian penyakit ispa pada balita dan meningkatkan derajat kesehatan yang optimal

Referensi

Dokumen terkait

Hasil uji statistik dengan menggu nakan Chi Square pada α = 0,05 didapatkan nilai p sebesar 0,000 (p < α) yang berarti bahwa secara statistik terdapat hubungan

Berdasarkan hasil uji simultan diperoleh nilai chi-square sebesar 173.915 dan nilai ini lebih besar dari nilai kritis pada tabel chi-square (16,92) dengan nilai p-value< 0,

Hasil analisis hubungan antara riwayat ISPA dengan kejadian tonsilitis kronik menggunakan uji chi square menunjukkan nilai p (0,010) < α (0,05) sehingga disimpulkan

Hasil analisis hubungan antara riwayat ISPA dengan kejadian tonsilitis kronik menggunakan uji chi square menunjukkan nilai p (0,010) < α (0,05) sehingga disimpulkan

Uji statistik Chi-Square menggambarkan bahwa di Kecamatan Banda Sakti Kota Lhokseumawe nilai 0,374 > nilai sig α (0,05) merepresentasikan signifikansi

Dengan Hasil uji chi square dengan tingkat kepercayaan 95% atau α= 0, 05 didapatkan nilai X2 = 55, 662 > X2 tabel (5,991), nilai p =0,000 ternyata X2 hitung lebih besar dari

Distribusi Riwayat ISPA dalam 2 Bulan Terakhir pada Balita Stunting dan Tidak Stunting di wilayah Kerja Puskesmas Sebabi Riwayat ISPA balita Status stunting chi-square p-value

53 Uji Chi-Square Asal Daerah dengan Pembuangan Limbah Black Water di Permukiman Kumuh Bantaran Sungai .... 54 Uji Chi-Square Lama Tinggal dengan Pembuangan Limbah Black Water di