TUGAS AKHIR STUDY KEPEMILIKAN SEPEDA MOTOR DI KOTA MAKASSAR

70  Download (0)

Full text

(1)

i

TUGAS AKHIR

”STUDY KEPEMILIKAN SEPEDA MOTOR DI KOTA MAKASSAR”

DISUSUN OLEH :

RISMA SABRINA ATIKA D111 11 620

JURUSAN SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2013

(2)

ii

(3)

iii ABSTRAK : Pertumbuhan sepeda motor yang sangat tinggi tentu sangat merisaukan bagi pemakai jalan yang lain. Sepeda motor merupakan penyumbang kecelakaan terbesar. Penggunaan sepeda motor yang tinggi disinyalir juga dapat menyebabkan menurunnya tingkat pelayanan jalan disamping naiknya tingkat kecelakaan lalulintas. Selama ini belum banyak tindakan dari pemerintah berkenaan dengan keberadaan sepeda motor, misalnya dengan membatasi pertumbuhannya, pergerakannya, memberikan fasilitas pergerakan, atau membuat regulasi yang mengatur sepeda motor.

Kata kunci : Sepeda motor.

ABSTRACT: the growth of the motorcycle extremely high certainly very troubling for other road users. motorcycle accidents are the biggest contributor.

the use of high motorcycle allegedly also can lead to reduced levels of service in addition to rising levels of road traffic accidents. so far the government has not been a lot of action with respect to the presence of a motorcycle, for example by limiting its growth, movement, facilitating the movement of, or make regulations governing motorcycle.

Keywords: motorcycle.

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, dengan mengucapkan syukur ke hadirat Allah SWT, akhirnya penulis berhasil menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

Banyak pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan studi ini.

Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada :

1. Dr.Eng. Muhammad Isran Ramli, ST . MT selaku pembimbing pertama, yang telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

2. Ir. Arifin Asri, MS selaku pembimbing ke dua, atas saran-saran, komentar dan petunjuknya yang sangat membantu.

3. DR. Ir. Lawalenna Samang, MS, M.Eng, selaku Ketua Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, atas segala nasehat dan petunjuknya selama penulis menjalani kehidupan bermahasiswa di Jurusan Sipil Unhas.

4. Dosen dan seluruh Staf Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang telah membagikan ilmu, pengetahuan dan pengalamannya.

5. Orang tua dan saudara-saudara penulis, atas dukungan materi, moral serta motivasinya.

(5)

v 6. Seluruh mahasiswa angkatan 2011 dan rekan-rekan yang tidak dapat disebutkan satu per satu terima kasih karena kalian selalu ada di saat suka maupun duka, kalian selalu memberi semangat dalam jiwa ketika semangatku padam.

Sangat disadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam penulisan ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan demi menuju pada kesempurnaan skripsi ini, meskipun penulis sangat menyadari bahwa untuk mencapai titik kesempurnaan adalah suatu hal yang mustahil, hanyalah Tuhan Yang Maha Pencipta yang dapat mencapainya. Namun demikian penulis berharap semoga skripsi ini bisa memberikan manfaat bagi yang membutuhkannya.

Makassar, Desember 2013

Penulis

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

ABSTRAK ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR...iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... I-1 1.2 Rumusan Masalah ... I-2 1.3 Maksud dan Tujuan ... I-3 1.4 Ruang Lingkup Penelitian ... I-3 1.5 Manfaat Penelitian ... I-4 1.6 Sistematika Penulisan ... I-4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Transportasi ... II-1 2.1.1 Pemodelan Transportasi ... II-2 2.1.2 Pengertian Kendaraan ... II-3 2.2 Sepeda Motor... II-3 2.3 Sepeda Motor di Wilayah Perkotaan ... II-5

(7)

vii 2.4 Kepemilikan Sepeda Motor di Kota Makassar ... II-7 2.4.1 Kepemilikan ... II-7 2.4.2 Sepeda Motor Di Kota Makassar ... II-7 2.5 Model Regresi ... II-9 2.5.1 Regresi ... II-9 2.5.2 Koefisien Korelasi ... II-10

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Bagan Metode Penelitian ... III-1 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populsi ... III-2 3.3.2 Sampel ... III-2 3.4 Metode pengumpulan Data ... III-3 3.4.1 Data Primer ... III-3 3.4.2 Penentua Jumlah Sampel... III-3 3.5 Variabel Penelitin ... III-4 3.6 Metode Analisa Data ... III-5 3.6.1 menentukan nilai R pada tiap hubungan Variabel ... III-5 3.7 Uji Asumsi Regresi Berganda ... III-5

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Perhitungan jumlah sampel ... IV-1 4.2.12 Berdasarkan cara Pembelian Sepeda Motor ... IV-17

(8)

viii 4.3 Regresi Linier Berganda Terhadap Kepemilikan Sepeda Motor di

Kota Makassar ... IV-19 4.4 Berdasarkan Hasil Pada Tabel Maka Dapat Dibentuk Suatu

Persamaan Regresi Linear Berganda ... IV-20 4.4.1 Pengaruh Usia (X1) Terhadap Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Y) ... IV-22 4.4.2 Pengaruh Jumlah Anggota Keluarga (X2)

Terhadap Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Y) ... IV-23 4.4.3 Pengaruh Jumlah Anggota Keluarga Yang Bekerja (X3) Terhadap Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Y) ... IV-24 4.4.4 Pengaruh Jumlah Kepemilikan mobil (X4)

Terhadap Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Y) ... IV-24

(9)

ix BAB. V PENUTUP

5.1. Kesimpulan ... V-1 5.2. Saran ... V-2

(10)

x DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Proses Pemilihan Sampel ... IV-1

Table 4.2 Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Tingkatan Usia……….. IV-2

Table 4.3 Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarakan Tingkat Pendidikan terakhir ... IV-4 Table 4.4 Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan Profesi ... IV-5 Tabel 4.5 Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan Tingkat Penghasilan ... IV-7 Table 4.6 Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan Banyaknya Anggota Keluarga ... IV-8 Table 4.7 Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang Bekerja ... IV-10 Tabel 4.8 Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarkan Jumlah Angota Keluaga yang Bersekolah ... IV-11 Table 4.9 Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar

berdasarkan Merek Motor yang digunakan ... IV-13 Tabel 4.10 Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Jenis Motor yang digunakan ... IV-14

(11)

xi Table 4.11 Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar

berdasarkan Isi Silinder Motor yang digunakan ... IV-15 Tabel 4.12 Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan Tahun Pembelian ... IV-16 Tabel 4.13 Karakteristik sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan cara pembelian ... IV-18 Tabel 4.14 Berdasarkan Kepemilikan Sepeda Motor vs Mobil ... IV-19 Table 4.15 Estimasi regresi linear berganda terhadap kepemilikan

sepeda motor di kota Makassar ... IV-20

(12)

xii DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 4.1 Lokasi survey Jln.Andi Pettarani ... III- 2 Gambar 4.1 Persentase responden berdasarkan Tingkat Usia ... IV-3 Gambar 4.2 Persentase responden berdasarkan Tingkat Pendidikan

terakhir ... IV-4 Gambar 4.3 Persentase responden berdasarkan Tingkat Profesi ... IV-6 Gambar 4.4 Persentase responden berdasarkan Tingkat Penghasilan ... IV-7 Gambar 4.5 Persentase responden berdasarkan Tingkat Banyaknya

Anggota Keluarga ... IV-9 Gambar 4.6 Persentase responden berdasarkan Tingkata Jumlah

Anggota Keluarga yang Bekerja ... IV-10 Gambar 4.7 Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarkan Jumlah Angota Keluaga yang Bersekolah ... IV-12 Gambar 4.8 Persentase responden berdasarkan Tingkat Merek Motor

yang digunakan ... IV-13 Gambar 4.9 Persentase responden berdasarkan Tingkat

Jenis Motor yang digunakan ... IV-14 Gambar 4.10 Persentase responden berdasarkan Tingkat Isi Silinder

Motor yang digunakan ... IV-16 Gambar 4.11 Persentase responden berdasarkan Tingkat Tahun

Pembelian ... IV-17

(13)

xiii Gambar 4.12 Persentase responden berdasarkan Tingkat Berdasarkan

cara pembelian ... IV-18 Gambar 4.13 Kepemilikan Sepeda Motor vs Mobil IV-19

(14)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Dilihat dari data POLWILTABES Kota Makassar bahwa jumlah kepemilikan sepeda motor menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi. Tercatat pada tahun 2012 populasi sepeda motor dengan berbagai merek berjumlah 815.392 unit (Samsat Makassar). Hal ini dimungkinkan karena kemudahan sepeda motor dalam melakukan pergerakan serta karena harga yang cukup terjangkau, sehingga sepeda motor menjadi pilihan utama sebagai alat transportasi untuk melakukan perjalanan.

Di daerah perkotaan dengan ciri perjalanan jarak pendek (<50 km), sepeda motor merupakan moda transportasi yang memiliki banyak keunggulan antara lain: 1.) lebih fleksibel terhadap rute dari pada menggunakan angkutan umum, bahkan lebih fleksibel dari pada mobil karena sepeda motor dapat melewati jalan- jalan sempit yang tidak dapat dilalui oleh mobil bahkan banyak ruas-ruas jalan yang searah untuk mobil namun tidak bagi sepeda motor. 2) waktu tempuh rata- rata pada daerah yang cenderung macet lebih singkat dari pada memakai angkutan umum, bahkan dengan mobil sekalipun. 3) biaya operasi relatif kecil jika dibandingkan dengan mobil. 4) cara kepemilikan sepeda motor mudah dibandingkan dengan mobil. Dapat dimiliki dengan cara kredit dengan uang muka yang ringan atau dengan cara arisan yang berkembang dimasyarakat.

Pertumbuhan sepeda motor yang sangat tinggi tentu sangat merisaukan bagi pemakai jalan yang lain. Dari penelitian terdahulu, sepeda motor merupakan

I-

(15)

2 penyumbang kecelakaan terbesar. Pertumbuhan penggunaan sepeda motor yang tinggi disinyalir juga dapat menyebabkan menurunnya tingkat pelayanan jalan disamping naiknya tingkat kecelakaan lalulintas. Selama ini belum banyak tindakan dari pemerintah berkenaan dengan keberadaan sepeda motor, misalnya dengan membatasi pertumbuhannya, pergerakannya, memberikan fasilitas pergerakan, atau membuat regulasi yang mengatur sepeda motor.

Untuk mengurangi permasalahan kota di masa mendatang, perlu adanya kebijakan-kebijakan dan kegiatan-kegiatan. Sebagian program kerja yang dilaksanakan adalah berupa revitalisasi non fisik terutama kota Makassar.

Program ini berupa kegiatan pembenahan dan pengembangan kebijakan guna menjaga keindahan, ketertiban dan kenyamanan kota Makassar terutama pada jalur utamanya yang erat kaitannya dengan aktifitas masyarakat dan perlunya perencanaan sistem transportasi yang lebih baik.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:

a) Bagaimana karakteristik Pengguna Sepeda Motor Di Kota Makassar?

b) Apakah terdapat pengaruh antara jumlah kepemilikan kendaraan motor terhadap usia, jumlah anggota keluarga, jumlah anggota keluarga yang bekerja, jumlah mobil, jumlah anggota keluarga yang bersekolah, cara pembelian,dan pendapatan ?

I-

(16)

3 1.3. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud pelaksanaan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepemilikan kendaraan bermotor di kota Makassar.

Sedangkan tujuan penelitian yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:

a. Menganalisis karakteristik Pengguna Sepeda Motor Di Kota Makassar b. Menganalisis pengaruh antara jumlah kepemilikan kendaraan motor

terhadap usia, jumlah anggota keluarga, jumlah anggota keluarga yang bekerja, jumlah mobil, jumlah anggota keluarga yang bersekolah, cara pembelian,dan pendapatan

1.4. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk memberikan arah yang lebih terfokus dan mempermudah penyelesaian masalah dengan baik sesuai dengan tujuan ingin dicapai, serta karena adanya keterbatasan kami, maka penelitian ini dibatasi sebagai berikut:

a. Lingkup penulisan ini dibatasi pada karakteristik Pengguna Sepeda Motor Di Kota Makassar.

b. Data primer diambil dengan menggunakan metode survei yaitu melakukan wawancara langsung dengan pengguna sepeda motor yang melintas jalan Andi Pangeran Pettarani.

c. Pengolahan data menggunakan software SPSS.

1.5. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian adalah:

I-

(17)

4 a. Sebagai masukan kepada Pemerintah Kota Makassar dalam mengevaluasi kebijakan yang digunakan untuk mengatur kendaraan Sepeda Motor di Makassar.

b. Sebagai referensi bagi peneliti dan perencana angkutan pribadi khususnya sepeda motor pada masa yang akan datang.

c. Bahan informasi bagi peneliti selanjutnya, khususnya yang berkaitan dengan permasalahan transportasi perkotaan.

1.6. Sistimatika Penulisan

Penulisan Tugas Akhir ini disesuaikan dengan sistematika yang telah ditetapkan sebelumnya agar lebih mudah memahami isinya. Sistematika penulisan ini memuat hal-hal sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan penulisan, batasan penulisan, manfaat dan sistematika penulisan.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

Berisi uraian sistematika tentang teori-teori yang mendukung tema yang dibahas berasal dari buku-buku maupun dari tulisan-tulisan lain yang ada hubungannya dengan Tugas Akhir yang dikerjakan.

BAB III: METODE PENELITIAN

Berisi tentang penjelasan penelitian, cara pengumpulan data dan cara menganalisanya.

I-

(18)

5 BAB IV: HASIL PERENCANAAN DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang hasil perencanaan dan pembahasan dari data-data yang diperoleh.

BAB V: PENUTUP

Bab ini memberikan hasil penelitian secara singkat dan jelas sebagai jawaban dari masalah yang diangkat dalam penelitian.

I-

(19)

1 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Transportasi

Transportasi merupakan bagian integral dari suatu fungsi masyarakat. Ia menunjukkan hubungan yang sangat erat dengan gaya hidup, jangkauan dan lokasi dari kegiatan yang produktif serta barang-barang dan pelayanan yang tersedia untuk dikomsumsi. Dapat dikatakan transportasi merupakan proses pergerakan atau perpindahan manusia atau barang dari suatu tempat ke tempat lain untuk tujuan tertentu. Pengguna atau manusia selalu berusaha mencapai transportasi yang efisien yaitu berusaha mengangkut barang atau orang dengan waktu yang secepat mungkin dan dengan pengeluaran biaya yang sekecil mungkin.

Di Indonesia terdapat tiga jenis moda yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan jasa transpotasi, yaitu moda darat, moda laut dan moda udara. Dari ketiga jenis moda yang dominan dipergunakan oleh masyarakat adalah moda darat. Untuk moda darat ada yang mempergunankan moda rel (kereta api) dan moda jalan raya (bus, angkutan kota, paratransit, mobil pribadi, sepeda motor dan kendaraan tak bermotor). Dari berbagai jenis moda jalan raya kendaraan bermotor roda dua termasuk jenis moda yang banyak dipergunakan, apalagi sekarang sudah tersedia berbagai jenis kendaraan bermotor.

Sehingga apabila ingin menganalisis kelayakan suatu jalan, BOK bermotor roda dua (sepeda motor) merupakan suatu factor yang perlu dipertimbangkan.

II-

(20)

2 Untuk menganalisis kelayakan suatu jalan yang perlu diketahui antara lain biaya atau ongkos yang dikeluarkan, besar manfaat yang diperoleh, dari kedua unsur tersebut kemudian dibandingkan. Biaya (ongkos) yang dikeluarkan meliputi biaya konstruksi dan biaya perawatan jalan sedangkan manfaat yang diperoleh dapat dilihat dari biaya operasional kendaraan dengan jumlah kendaraan yang lewat

2.2.1 Pemodelan Transportasi

Dalam perencanaan transportasi dikenal ada 4 (empat) langkah pembuatan model, antara lain:

a. Bangkitan Perjalanan (Trip Generation)

Pembangkit perjalanan adalah tahapan pemodelan yang memperkirakan jumlah pergerakan yang berasal dari suatu zona atau tata guna lahan dan jumlah pergerakan yang tertarik ke suatu zona atau tata guna lahan.

b. Sebaran Perjalanan (Trip Distribution)

Penyebaran pergerakan merupakan tahapan yang menggabungkan interaksi antara tata guna lahan, jaringan transportasi dan arus lalu lintas.

c. Pemilihan Moda (Modal Choice / Modal Split)

Dalam interaksi antara dua tata guna lahan atau lebih di suatu wilayah, maka seseorang akan memutuskan bagaimana interaksi tersebut harus dilakukan,dimana sering interaksi tersebut mengharuskan terjadinya perjalanan, baikantan tata guna lahan ataupun inter tata guna lahan. Keputusan dalam pemilihan moda berkaitan dengan jenis transportasi yang digunakan.

II-

(21)

3 Jika terdapat lebih dari satu moda, maka moda yang dipilih biasanya yang mempunyai rute terpendek, tercepat, atau termurah, atau teraman, atau kombinasi dari faktor-faktor tersebut. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah ketidaknyamanan dan keselamatan dan hal seperti ini harus dipertimbangkan dalam pemilihan moda.

d. Pemilihan Rute (Traffic Assignment)

Model ini bertujuan memprediksi pemilihan rute perjalanan yang akan digunakan. Diasumsikan pemakai jalan mempunyai informasi yang cukup (misalnya tentang kemacetan jalan), sehingga dapat menentukan rute yang terbaik.

2.1.2 Pengertian Kendaraan.

Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik untuk pergerakkannya, dan digunakan untuk transportasi darat. Umumnya kendaraan bermotor menggunakan mesin pembakaran dalam, namun mesin listrik dan mesin lainnya juga dapat digunakan.

Kendaraan bermotor memiliki roda, dan biasanya berjalan diatas jalanan.

(http://id.wikipedia.org/wiki/kendaraan_bermotor,2011).

Menurut Undang Undang No.22 tahun 2009, yang disebut kendaraan adalah suatu sarana angkut di jalan yang terdiri atas Kendaraan Bermotor dan Kendaraan Tidak Bermotor.

Kendaraan Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh peralatan mekanik berupa mesin selain Kendaraan yang berjalan di atas rel

II-

(22)

4 sedangkan, Kendaraan Tidak Bermotor adalah setiap Kendaraan yang digerakkan oleh tenaga manusia dan/atau hewan.

2.2. Sepeda Motor

Kota yang baik dapat ditandai, antara lain, dengan melihat kondisi transportasinya yang harus memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat dalam segala kegiatannya dan tersebar dengan karakteristik fisik yang berbeda pula. Transportasi yang aman dan lancar, selain mencerminkan keteraturan kota, juga mencerminkan kelancaran perekonomian kota. Dengan demikian, transportasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia selama hal itu dibutuhkan dalam pendistribusian bahan dan pergerakan aktivitas manusia.

Sepeda motor sebagai salah satu alat transportasi merupakan sarana yang cukup dominan di Indonesia pada umumnya dan di kota Makassar pada khususnya, baik dilihat dari angka populasi dan perannya, berbagai merek sepeda motor yang sudah dikenal masyarakat setiap tahunnya selalu menunjukkan peningkatan produksinya yang signifikan ditambah lagi produksi dari merek- merek baru yang ikut meramaikan pasar sepeda motor. Tercatat pada tahun 2012 populasi sepeda motor dengan berbagai merek mendekati angka 815.392 unit (Samsat Makassar).

Penjualan sepeda motor dari tahun ke tahun yang mengalami peningkatan ini ditunjukkan dengan adanya ambisi perusahaan-perusahaan sepeda motor untuk merajai pasar sepeda motor di Indonesia. Dilihat dari data Asosiasi Industry Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan sejak 30 tahun sepeda motor Honda menguasai pasar sepeda motor di Indonesia tetapi pada tahun 2007 terjadi persaingan penjualan antara sepeda Honda dan Yamaha, seperti pada bulan

II-

(23)

5 januari sepeda motor Honda masih menguasai pasar sepeda motor dengan tingkat penjualan 153.806 unit sedangkan sepeda motor Yamaha tingkat penjualannya hanya sebanyak 130.589. Tetapi pada bulan Maret sepeda motor Yamaha mengungguli penjualan sepeda motor Honda dengan penjualan sebanyak 159.035 unit sementara sepeda motor Honda hanya terjual sebanyak 151.074 unit. Khusus untuk kota Makassar, di bulan februari 2007, sepeda motor Suzuki menguasai pasar. Di ikuti Yamaha dan Honda (Koran Tribun Timur, 2007).

2.3 Sepeda Motor di Wilayah Perkotaan

Sistem angkutan pribadi dapat dibedakan dalam dua kategori dasar yaitu angkutan pribadi roda empat (mobil) dan angkutan pribadi roda dua (Motor).

Sedangkan di negara Indonesia, tingkat kepemilikan sepeda motor tergolong tinggi, yaitu sekitar 68 sepeda motor per 1000 penduduk pada tahun 2000 (Putranto, 2004).

Beberapa faktor yang mempengaruhi kepemilikan kendaraan bermotor roda dua adalah keadaan sosial dan ekonomi, ditinjau dari segi kegunaannya dan situasi dan kondisi lingkungan (Rahmani dan Mu’min, 2005).

Di Indonesia terdapat 10 kota metropolitan (BPS, 2000), 8 kota besar, 39 kota sedang dan sebagian besar kota kecil lainnya, dengan total penduduk perkotaan sebesar 90 juta jiwa (42% dari jumlah penduduk Indonesia).

Karakteristik transportasi perkotaan merupakan pergerakan jarak pendek dan maksud perjalanan dapat lebih dari satu. Moda jenis kendaraan yang lebih banyak digunakan di Kota adalah Sepeda Motor.

II-

(24)

6 Pertumbuhan sepeda motor di Kota-kota besar Indonesia seperti makassar telah meningkat tajam yaitu sekitar 60% dimana 1.528 juta unit pada tahun 1998 sedangkan di tahun 2002 jumlahnya 2.446 juta unit (2004). Pertambahan ini dikarenakan buruknya angkutan umum bis dan turunnya harga sepeda motor.

Sepeda motor sangat popular untuk masyarakat dengan pendapatan menengah.

Mempertahankan suatu angka jumlah sepeda motor adalah sangat penting untuk pengendalian pencemaran udara dan keamanan lalu lintas (Ammari, 2005) :

 Identifikasi dampak terhadap kualitas udara serta daya dukung fasilitas di kota.

 Membuat usulan action plan untuk manajemen kesemrawutan moda sepeda motor, baik pada tingkat kebijakan makro maupun tingkat manajemen operasional.

 Menerapkan Transport Demand Management. Misalnya penerapannya terhadap motor dinas, motor pribadi pegawai kantor pemerintah dan swasta yang secara logika bisa didata.

Untuk penyiapan strageic and action plan (SAP), ruang lingkup materi pekerjaan meliputi:

 Melihat secara keseluruhan peran moda sepeda motor dalam konteks aktivitas ekonomi kota, dan kebutuhan pergerakan penduduk kota.

 Mereview peraturan, perundangan-undangan, serta kebijakan yang terkait dengan moda sepeda motor.

 Analisis dan simulasi model perkembangan industri dan penjualan sepeda motor.

II-

(25)

7

 Prediksi pertumbuhan sepeda motor serta prakiraan dampak yang ditimbulkan terhadap kinerja lalu lintas (traffic impact) dan lingkungan (environment impact).

 Melihat cara pengelolaan manajemen sepeda motor termasuk regulasi di Negara lain.

2.4 Kepemilikan Sepeda Motor di Kota Makassar 2.4.1 Kepemilikan

Kepemilikan adalah kekuasaan yang didukung secara sosial untuk memegang kontrol terhadap sesuatu yang dimiliki secara eksklusif dan menggunakannya untuk tujuan pribadi. Definisi ini mirip dengan definisi kepemilikan sepeda motor

2.4.2 Sepeda Motor di Kota Makassar

Sepeda motor, merupakan salah satu alternatif kendaraan murah dan juga memiliki mobilitas yang sangat tinggi. Di negara-negara Asia, pada umumnya kepemilikan sepeda motor memiliki tingkat kepemilikan yang tinggi dibanding dengan kepemilikan kendaraan roda empat. Kondisi ini terjadi sebelum pendapatan per kapita masyarakat meningkat, sehingga sebelum membeli mobil, mereka membeli sepeda motor terlebih dahulu. Berdasarkan data yang dihimpun dari AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia), kepemilikan sepeda motor di Indonesia saat ini adalah sekitar 1: 10 penduduk. Dibandingkan dengan negara tetangga; Malaysia dan Thailand yang kepadatan sudah mencapai 3,5 orang per

II-

(26)

8 sepeda motor, maka tidaklah mengherankan sampai tahun mendatang jumlah kepemilikan sepeda motor akan semakin meningkat.

Di sisi lain juga jumlah kendaraan yang dimiliki tiap rumah tangga merupakan salah satu faktor penentu jumlah dan moda yang dipakai dalam 11 perjalanan yang dilakukan oleh sebuah keluarga. Faktor tersebutlah yang menyebabkan keluarga di Indonesia cenderung mempunyai sepeda motor Menurut data Kementerian Perhubungan, 72 persen keluarga memilih sepeda motor untuk transportasi utama. Setiap 1.000 penduduk di Indonesia terdapat 210 motor atau berskala 4,7: 1. Pada tahun 2002 kepemilikan sepeda motor masih sedikit, lebih banyak keluarga tidak punya sepeda motor (presentasenya sampai 67 persen). Namun pada tahun 2010 terjadi perubahan Drastic Hanya 28 persen keluarga yang tidak punya sepeda motor (Susantono, 2010). Peningkatan kepemilikan sepeda motor di Indonesia terus terjadi seiring membaiknya tingkat ekonomi. Penjualan sepeda motor terus tumbuh mencapai 7,3 juta unit. Persentase keluarga pemilik sepeda motor lebih dari satu di Indonesia juga bertambah 3 persen pada tahun 2010 menjadi 17 persen. Tercatat pula 84 persen keluarga pengguna mobil juga mempunyai sepeda motor. Ini bukti sepeda motor adalah kendaraan alternatif yang menjadi pilihan masyarakat. Sampai kini, diprediksi populasi kendaraan bermotor di seluruh Indonesia mencapai 47 juta unit dan 9,5 juta mobil . Di Jakarta saja, tercatat 11 juta kendaraan bermotor, 9 juta adalah sepeda motor. Jumlah sepeda motor di seluruh Indonesia saat ini diperkirakan 50 juta unit. Tingginya kepemilikan sepeda motor bisa disamakan dengan angka kecelakaannya. Dari data Kepolisian RI dilaporkan. bahwa dari total kasus

II-

(27)

9 kecelakaan, 70 persennya dialami oleh pengendara sepeda motor. Bahkan PT Jasa Raharja yang menyantuni korban kecelakaan harus mengeluarkan santunan Rp 1,3 triliun untuk pengendara motor periode Januari Oktober 2010. Sepeda motor adalah kendaraan beroda dua yang ditenagai oleh sebuah mesin. Rodanya sebaris dan pada kecepatan tinggi sepeda motor tetap tidak terbalik dan stabil disebabkan oleh gaya giroskopik, pada kecepatan rendah pengaturan berkelanjutan setangnya oleh pengendara memberikan kestabilan, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

 Fisik kendaraan beroda dua

 Berkapasitas angkut dua orang

 Mempunyai tipe sport, bebek dan skuter

2.5 MODEL REGRESI

2.5.1 Model Analisis Regresi

Model analisis regresi adalah suatu model dalam pemodelan Trip Generation yang dilakukan sebagai usaha untuk mendapatkan hubungan linier antara jumlah pergerakan yang dibangkitkan atau tertarik oleh zona dari ciri sosio- ekonomi rata-rata dari rumah tangga pada setiap zona.

Ada 2 (dua) pendekatan untuk analisa regresi :

A. Analisis Regresi Linier Berganda

Teknik ini merupakan teknik analisis regresi linier sederhana yang diperluas untuk mendapatkan hubungan lebih dari satu variabel bebas. Hal ini penting karena kenyataannya jumlah variabel penyebab pergerakan lalu lintas yang

II-

(28)

10 mungkin akan mempengaruhinya cukup banyak atau lebih dari satu peubah/

variabel bebas.

Multiple Linier Regression Analysis (Tamin, 1996) adalah teknik statistik yang sering digunakan dalam memperkirakan Bangkitan-Pergerakan pada masa yang akan datang, dimana dua atau lebih variabel (faktor) bebas yang mempengaruhi jumlah pergerakan. Teknik ini mengukur sampai sejauh mana pengaruh dari setiap faktor dan hubungannya dengan faktor lainnya.

Model umum bentuk ini adalah :

Y = a + b1X1 + b2X2 + … + bMXM (2)

Dimana :

Y = Variabel tidak bebas X1, XM = m variabel bebas b1, bM = koefisien regresi a = konstanta

Model regresi harus berdasarkan atas prinsip asumsi statistik berikut :

a. Peubah tidak bebas (Y) adalah merupakan fungsi linier dari peubah bebas (X). Jika hubungannya tidak linier data kadang-kadang harus ditransformasikan terlebih dahulu agar menjadi linier.

b. Peubah, terutama peubah bebas, adalah tetap dan telah diukur tanpa galat.

c. Tidak ada korelasi yang kuat antara sesama peubah bebas.

II-

(29)

11 d. Variansi dari peubah tidak bebas terhadap garis regresi adalah sama

untuk semua nilai peubah bebas.

e. Nilai peubah tidak bebas harus tersebar normal atau minimal mendekati normal.

B. Analisis Regresi Non Linier

Selain bentuk analisa regresi linier sederhana dan berganda terdapat pula analisa regresi dengan bentuk persamaan logaritma, eksponensial, hiperbola, power/berpangkat, polynomial, compound, Fungsi S dan Fungsi Growth. Namun demikian persamaan-persamaan regresi non linier ini dalam penyelesaiannya dapat ditransformasikan ke dalam bentuk regresi linier. Tidaklah mudah mendeteksi kasus ketidaklinieran karena sebenarnya hubungan linier bisa berubah menjadi tidak linier jika terdapat peubah tambahan lain dalam model. Penting diketahui bahwa terdapat kelas peubah yang mempunyai sifat kualitatif yang mempunyai perilaku tidak linier (misalnya usia, kelamin, pekerjaan, dan lain- lain).

Secara umum, terdapat dua metode yang dapat digunakan dalam menggabungkan peubah-peubah tidak linier dalam suatu model yaitu :

1. Transformasikan peubah tersebut sehingga menjadi linier (misalnya dengan fungsi logaritma, atau pemangkatan). Akan tetapi, memilih jenis transformasi yang cocok tidaklah mudah karena kalau salah permasalahannya akan menjadi lebih rumit.

2. Gunakan peubah fiktif. Pada kasus ini, peubah bebas yang dikaji dibagi menjadi beberapa interval diskret dan setiap interval tersebut dianalisis

II-

(30)

12 terpisah di dalam model. Dalam bentuk ini, tidak perlu diasumsikan peubah tersebut linier karena setiap bagian dipertimbangkan secara terpisah dalam perilakunya.

2.5.2 Koefisien Korelasi

Salah satu tahapan terpenting di dalam analisis trip generation (bangkitan perjalanan) terutama dengan metode analisis regresi adalah penentuan hubungan antara variabel-variabelnya baik antara sesama variabel bebas (pada regresi berganda) maupun antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas (pada regresi berganda dan sederhana).

Untuk menentukan apakah suatu variabel mempunyai tingkat korelasi dengan permasalahan ataupun dengan variabel yang lainnya dapat digunakan dengan suatu teori korelasi. Apabila X dan Y menyatakan dua variabel yang sedang diamati maka diagram pencar menggambarkan titik-titik lokasi (X,Y) menurut sistem koordinat. Apabila semua titik di dalam diagram pencar nampak berbentuk sebuah garis, maka korelasi tersebut disebut linier.

Apabila Y cenderung meningkat dan X meningkat, maka korelasi tersebut disebut korelasi positif atau korelasi langsung. Sebaliknya apabila Y cenderung menurun sedangkan X meningkat, maka korelasi disebut korelasi negatif atau korelasi terbalik. Apabila tidak terlihat adanya hubungan antara variabel-variabel, maka dikatakan tidak terdapat korelasi antara kedua variabel.

Korelasi antara variabel tersebut dapat dinyatakan dengan suatu koefisien korelasi (r). Nilai r berkisar antara –1 dan +1. Tanda (+) dan tanda (-) dipakai

II-

(31)

13 untuk korelasi positif dan korelasi negatif. Dalam penelitian ini tahapan analisis korelasi merupakan tahapan terpenting didalam menentukan hubungan antara faktor-faktor yang berpengaruh pada pergerakan/transportasi.

II-

(32)

1 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Bagan Metode Penelitian

Metode yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan studi, secara garis besar diperlihatkan pada gambar 3.1.

Pengolahan Data : regresi linear dengan software SPSS v 20.0 Studi Pustaka

MULAI

Pengklasifikasian Data

Kesimpulan

&

Saran

SELESAI

Gambar 3.1. Bagan alir penelitian Pengumpulan Data

Data Primer Data Survey Di

Lapangan

Identifikasi Lokasi Penelitian

Analisa Data dan Pembahasan

Jika Sesuai

Jika Tidak Sesuai

III-

(33)

2 3.2 Peta dan Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah gambaran umum tentang sepeda motor di kota Makassar. Wilayah yang dimaksud adalah jl. Andi Pangeran Pettarani yang waktu penelitiannya dilakukan pada tanggal 17 April 2013.

Gambar 4.1 lokasi survey Jln.Andi.Pettarani 3.3 Populasi dan Sampel Penelitian

3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh sepeda motor yang terdaftar pada tahun 2012 di kota Makassar. Jumlah sepeda motor yang menjadi populasi adalah 815.392 unit, yang terdiri dari 3 jenis sepeda motor dan 6 merek sepeda motor (Samsat Makassar)

3.3.2 Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara metode Random Sampling dimana setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk masuk menjadi anggota sampel, sehingga setiap kendaraan sepeda motor yang kebetulan ketemu dengan surveyor dapat dijadikan sebagai sampel (Walpole dan Mayers).

III-

(34)

3 3.4 Metode Pengumpulan Data

3.4.1 Data Primer

Pengambilan data ini dilakukan secara langsung dengan cara pengamatan dan wawancara langsung dilapangan dimana data yang dikumpulkan tersebut adalah:

a. Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar

Survei dilakukan di Makassar pada tanggal 17 April 2013 yaitu karakteristik sepeda motor. Survey ini untuk mengidentifikasi jumlah kepemilikan sepeda motor terhadap tingkatan usia,pendidikan terakhir,profesi,penghasilan,jumlah anggota keluarga,jumlah anggota yang bekerja,jumlah anggota keluarga yang bersekolah,merek motor,jenis motor,isi silinder,tahun pembelian,cara pembelian,uang muka,besar angsuran dan lama angsuran.

Survei ini dilakukan untuk mengetahui kondisi kendaraan sepeda motor yang ada dikota Makassar. Dengan menggunakan kuisioner survey sesuai lampiran. Pengambilan data dilakukan pada jalan Andi Pangeran Pettarani 3.4.2 Penentuan Jumlah Sampel

Metode Survei Dan Pengambilan Data

Teknik pengambilan data dengan menggunakan metode Sampling Acak Berlapis (Stratified Random Sampling), yaitu dilakukan jika populasi mempunyai karakteristik yang heterogen, dimana dapat dipisah-pisahkan menurut lapisan tertentu, kemudian dari masing-masing lapisan dilakukan pengambilan sampel secara random. Untuk penentuan jumlah sampel di dasarkan jumlah populasi

III-

(35)

4 pengguna jasa moda yang diamati Menurut Notoadmodjo (2002) dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dimana :

n : Prakiraan besar sampel

N : Prakiraan besar populasi

Z : Nilai Standar Deviasi Normal, biasnya ditentukan, Untuk Tingkat kepercayaan 95%, nilai z = 1.96, sedangkan untuk 90% dan 99%

masing-masing adalah 1.645 dan 2.57.

P : Proporsi untuk sifat tertentu yang diperkirakan terjadi pada populasi.

Pada umumnya digunakan rumus :

Apabila tidak diketahui proporsi tersebut, maka P = 0,5 Q : 1 - P

D : Penyimpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang diinginkan, biasanya 0,05 atau 0,001.

Untuk Tingkat kepercayaan 95 %, nilai z = 1,96

N Z^2 P Q d^2 n

Motor 815392 3.84 0.5 0.5 0.0025

Total Populasi 815392 Total Sampel 383,979

III-

(36)

5

= 815392.3.84.0,5.0,5

0,025(815392 − 1) + 3,84.0,5.0,5

= 383,979

Jadi sampel minimumnya untuk kepemilikan sepeda motor di kota makassar yang telah di survey berdasarkan cara pengambilan sampel sampling random sebanyak 383 orang.

3.5 Variabel-variabel Penelitian

Variabel-variabel yang berpengaruh dalam pembuatan model kepemilikan sepeda motor yaitu :

a. kendaraan motor terhadap usia

b. penghasilan ,jumlah anggota keluarga c. jumlah anggota yang bekerja

d. cara pembelian e. pendapatan

3.6 Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan program Statistic Program for Special Science (SPSS). Dalam menganalisis data beberapa tahapan uji statistik harus dilakukan agar model tarikan pergerakan yang dihasilkan dinyatakan absah, yaitu:

III-

(37)

6 3.6.1 Menentukan Nilai R pada Tiap Hubungan Variabel

Interpretasi nilai R dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3.3 Interpretasi nilai R

R Intepretasi

0 0,01 – 0,20 0,21 – 0,40 0,41 – 0,60 0,61 – 0,80 0,81 – 0,99

1

Tidak Berkorelasi Sangat rendah

Rendah Agak rendah

Cukup Tinggi Sangat tinggi

3.7 Uji Asumsi Regresi Beganda 3.7.1 Uji Multikolinearitas

Untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi korelasi, maka dinamakan terdapat problem multikolinieritas (Multiko). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel independen.

Uji Normalitas

Untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel dependen, variabel independen atau keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak.

Model regrasi yang baik adalah distribusi data atau mendekati normal

III-

(38)

1

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Jumlah Sampel

Dalam menentukan jumlah responden (sepeda motor), maka variabel yang digunakan adalah jumlah kepemilikan sepeda motor .Oleh karena itu dalam survei pendahuluan harus mencakup karakteristik pengguna sepeda motor &

karakteristik kepemilikan sepeda motor itu sendiri.

Pada survei pendahuluan diambil 1200 data sampel sebagai data awal.

Adapun yang tidak memenuhi kriteria yaitu sebanyak 817 sampel. Maka rata-rata sampel akan mendekati distribusi normal (N) makin besar,proses pengambilan sampel dapat dilihat pada tabel 4.1:

Tabel 4.1: Proses pemilihan sampel

No Keterangan Jumlah

1 Jumlah Populasi 815.392 Responden

2 Sampel Awal 1200 Responden

3 Data yang digunakan sebagai

sampel 383 Responden

Sumber: Data setelah diolah, 2013.

Data yang terdapat pada table diatas. Terdiri dari 383 responden yang terpilih sebagai sampel yang digunakan, dan sampel yang digunakan sebagai penelitian adalah sampel yang memenuhi kriteria untuk di jadikan data pada penelitian tersebut.

IV-

(39)

2 4.2. Karakteristik Pengguna Sepeda Motor Di Kota Makassar

4.2.1. Berdasarkan Tingkat Usia

Karakteristik pengguna sepeda motor di kota Makassar berdasarkan tingkatan usia yang ditinjau adalah usia 12 s.d 15 tahun, 16 s.d 19 tahun, 20 s.d 23 tahun, 24 s.d 27 tahun, 28 s.d 31 tahun dan 32 s.d 35 thn, 36 s.d 55 tahun diatas 55 tahun.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data seperti yang ditabelkan pada tabel 4.2

Tabel 4.2 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Tingkatan Usia

No Usia Jumlah

Orang

Persentase

%

1 12 s.d 15 thn 4 1.04

2 16 s.d 19 thn 51 13.32

3 20 s.d 23 thn 82 21.41

4 24 s.d 27 thn 53 13.84

5 28 s.d 31 thn 55 14.36

6 32 s.d 35 thn 43 11.23

7 36 s.d 55 thn 92 24.02

8 diatas 55 thn 4 1.04

Total 383 100.00

Sumber: Data Setelah Diolah,2013.

Gambar 4.1 : Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Usia

IV-

(40)

3 Dari hasil survei pengguna sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan tingkat usia menunjukkan bahwa pengguna sepeda motor terbesar berusia 36 tahun sampai dengan 55 tahun dengan Persentase 24.02%. Pengguna sepeda motor terkecil ditempati pengguna sepeda motor berusia 12 tahun sampai 15 tahun dan diatas 55 tahun dengan Persentase 1.04%.

4.2.2. Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir

Karakteristik Pengguna Sepeda motor di kota Makassar berdasarkan tingkat pendidikan terakhir vang ditinjau adalah TK, SD, SMP, SMU, Diploma dan Sarjana S1, S2 dan S3.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data seperti yang ditabelkan pada tabel 4.3

Tabel 4.3 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarakan Tingkat Pendidikan terakhir No Pendidikan

Terakhir Jumlah Persentase %

1 TK 0 0.00

2 SD 5 1.31

3 SMP 22 5.74

4 SMA 192 50.13

5 D1/D3 31 8.09

6 S1 122 31.85

7 S2 10 2.61

8 S3 0 0.00

Total 383 100.00

Sumber: Data Setelah diolah, 2013.

IV-

(41)

4 Dari hasil survei, berdasarkan tingkat pendidikan terakhir pengguna sepeda motor terbesar di Kota Makassar menunjukkan 50.13% berpendidikan terakhir SMA.

Sedangkan pengguna sepeda motor yang berpendidikan TK dan S3 tidak dijumpai pada saat melakukan survei.

4.2.3. Berdasarkan Profesi

Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan profesi/pekerjaan yang ditinjau adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS), TNI/Polri, Karyawan Swasta, Petani, Buruh/Sopir, Wirausaha, pelajar, mahasiswa dan lainnya.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data seperti yang ditabelkan pada tabel 4.4

Gambar 4.2 : Persentase Responden Berdasarkan Tingkatan Pendidikan Terakhir

IV-

(42)

5 Tabel 4.4 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di

Kota Makassar Berdasarkan Profesi.

No Profesi Jumlah Persentase

%

1 PNS 117 30.55

2 TNI/POLRI 4 1.04

3 KARYAWAN 95 24.80

4 PETANI 0 0.00

5 BURUH/SOPIR 15 3.92

6 WIRAUSAHA 56 14.62

7 MAHASISWA /

PELAJAR 109 28.46

8 Dan lain-lain 15 3.92

Total 383 100

Sumber: data setelah diolah, 2013

Dari hasil survei Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Profesi/Pekerjaan menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna sepeda motor tersebut berprofesi sebagai pegawai negeri sipil dengan Persentase 30.55%.

Sedangkan pengguna sepeda motor terkecil berprofesi sebagai petani memperoleh Persentase 0.00%.

Gambar 4.3 : Persentase Responden Berdasarkan Profesi/Pekerjaan.

IV-

(43)

6 4.2.4 Berdasarkan Tingkat Penghasilan

Karakteristik pengguna sepeda motor di kota Makassar berdasarkan tingkat penghasilan yang ditinjau adalah Dibawah Rp 500.000, Rp 500.000 - Rp 1.000.000, Rp 1.000.0000 – Rp 1.500.000, Rp 1.500.000 – Rp 2.000.000, Rp 2.000.000 – Rp 2.500.000, Rp 2.500.000 – Rp 3.000.000, Rp 3.000.0000 – Rp 3.500.000, Rp 3.500.000 – Rp 4.000.000 dan diatas Rp 4.000.000.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data yang ditabelkan pada tabel 4.5

Tabel 4.5 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarkan Tingkat Penghasilan No Pendapatan Jumlah Persentase

%

1 < 0.5 jt 48 12.53

2 0.5 - 1.0 jt 49 12.79

3 1.0 - 1.5 jt 40 10.44

4 1.5 - 2.0 jt 41 10.70

5 2.0 - 2.5 jt 94 24.54

6 2.5 - 3.0 jt 9 2.35

7 3.0 - 3.5 jt 64 16.71

8 3.5 - 4.0 jt 23 6.01

9 > 4.0 jt 17 4.44

Total 383 100.00

Sumber: Data setelah diolah, 2013.

IV-

(44)

7 Dari hasil survei pengguna sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan tingkat penghasilan menunjukkan bahwa Persentase terbesar dari pengguna sepeda motor memiliki penghasilan antara Rp 2.000.000,- sampai dengan Rp 2.500.000,- Persentase yaitu 24.54%. Dan untuk Persentase terkecil di capai oleh pengguna sepeda motor yang berpenghasilan di atas Rp 2.500.000,- sampai dengan Rp 3.000.000,- dengan Persentase yaitu 2.23%.

4.2.5 Berdasarkan Jumlah Anggota keluarga

Karakteristik pengguna sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan jumlah anggota keluarga yang ditinjau adalah banyaknya anggota dalam satu keluarga.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data seperti yang ditabelkan pada tabel 4.6

Gambar 4.4 : Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Penghasilan

IV-

(45)

8 Tabel 4.6 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota

Makassar Berdasarkan Banyaknya Anggota Keluarga No Banyaknya Anggota

Keluarga (orang) Jumlah Persentase (%)

1 1 2 0.52

2 2 20 5.22

3 3 64 16.71

4 4 108 28.20

5 5 96 25.07

6 6 56 14.62

7 7 15 3.92

8 8 10 2.61

9 9 6 1.57

10 10 6 1.57

Total 383 100

Sumber: Data setelah diolah, 2013

Dari hasil survei pengguna sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan banyaknya anggota keluarga menunjukkan bahwa persentase terbesar adalah 28,20% dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 4 orang setiap keluarga

Gambar 4.5 : Persentase Responden Berdasarkan Banyaknya Anggota Keluarga

IV-

(46)

9 sedangkan persentase terkecil adalah 0,52% dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 1 orang setiap keluarga.

4.2.6 Berdasarkan Jumlah Anggota keluarga yang Bekerja

Karakteristik pengguna sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan jumlah anggota keluarga yang kerja ditinjau adalah banyaknya anggota keluarga yang bekerja

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data seperti yang ditabelkan pada tabel 4.7

Tabel 4.7 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang Bekerja

No

Banyaknya Anggota Keluarga yang bekerja

(orang) Jumlah Persentase

(%)

1 0 3 0.78

2 1 127 33.16

3 2 177 46.21

4 3 54 14.10

5 4 14 3.66

6 5 4 1.04

7 6 2 0.52

Total 383 100

Sumber: Data setelah diolah, 2013

IV-

(47)

10 Dari hasil survei pengguna sepeda motor di Makassar berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja menunjukkan bahwa persentase terbesar adalah 46,21%

dengan jumlah anggota keluarga sebanyak 2 orang dari penggguna sepeda motor yang bekerja,sedangkan persentase terkecil adalah 0,52% dengan jumlah keluarga sebanyak 6 orang dari jumlah anggota keluarga yang bekerja. .

4.2.7 Berdasarkan Jumlah Anggota keluarga yang bersekolah

Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan jumlah anggota keluarga yang beksekolah ditinjau adalah banyaknya anggota keluarga yang bersekolah.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data yang ditabelkan pada tabel 4.8.

Gambar 4.6 : Persentase Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang bekerja.

IV-

(48)

11 Tabel 4.8 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan Jumlah Angota Keluaga yang Bersekolah

No

Banyaknya Anggota Keluarga yang

bersekolah (orang) Jumlah Persentase (%)

1 0 24 6.27

2 1 141 36.81

3 2 135 35.25

4 3 51 13.32

5 4 18 4.70

6 5 6 1.57

7 6 5 1.31

8 7 2 0.52

Total 383 100

Sumber: Data setelah diolah, 2013

Dari hasil survei sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan banyaknya anggota keluarga yang bersekolah menunjukkan bahwa persentse terbesar adalah 36,81% dengan jumlah keluarga sebanyak 1 orang dan disusul persentase kedua sebesar 35,25% dengan jumlah keluarga sebanyak 2 orang disetiap keluarga

Gambar 4.7 : Persentase Responden Berdasarkan Banyaknya Anggota Keluarga yang Bersekolah

IV-

(49)

12 sedangkan persentase terkecil 0,52% dengan jumlah keluarga sebanyak 7 orang di setiap keluarga

4.2.8 Berdasarkan Merek Motor yang Digunakan

Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan merek motor yang digunakan yang ditinjau adalah merek motor Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki, Vesva dan lainnya.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data seperti pada tabel 4.9

Tabel 4.9: Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Merek Motor yang digunakan

No Merek Jumlah Persentase %

1 Honda 125 32.64

2 Yamaha 177 46.21

3 Suzuki 75 19.58

4 Kawasaki 4 1.04

5 Vespa 2 0.52

6 Lainnya: 0 0.00

Total 383 100.00

Sumber: Data yang diolah, 2013

Gambar 4.8 Persentase Responden Berdasarkan Merek Motor yang

IV-

(50)

13 Dari hasil survei sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan merek motor yang digunakan menunjukkan bahwa 46.21% pengguna sepeda motor tersebut menggunakan sepeda motor bermerek Yamaha. Sedangkan untuk pengguna sepeda motor terkecil bermerek lainnya hanya mencapai 0.00%.

4.2.9 Berdasarkan Jenis Motor yang Digunakan

Karakteristik sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan jenis motor yang digunakan ditinjau adalah jenis 2 tak, 4 tak dan matik.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir). Diperoleh data yang ditabelkan pada tabel 4.10.

Tabel 4.10 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Jenis Motor yang digunakan No Jenis Mesin Jumlah Persentase

%

1 2 tak 14 3.66

2 4 tak 220 57.44

3 Matik 149 38.90

Total 383 100.00

Sumber: Data Setelah diolah, 2013

Gambar 4.9 : Persentase Responden Berdasarkan Jenis Motor yang Digunakan

IV-

(51)

14 Dari hasil survei sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan jenis motor yang digunakan menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna sepeda motor tersebut menggunakan jenis 4 tak dengan Persentase 57.44%. Nilai persentase terkecil diperoleh sepeda motor jenis mesin 2 tak sebesar 3.66%.

4.2.10 Berdasarkan Isi Silider Motor yang Digunakan

Karakteristik sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan isi silinder motor yang digunakan ditinjau adalah 100cc,110cc,125cc,135cc,150cc,225cc,250cc Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir). Diperoleh data yang ditabelkan pada tabel 4.11.

Tabel 4.11 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Isi Silinder Motor yang digunakan No Isi Silinder (cc)

Jumlah Motor Persentase (%)

1 100 7 1.83

2 110 241 62.92

3 125 93 24.28

4 135 14 3.66

5 150 21 5.48

6 225 6 1.57

7 250 0 0.00

Total 383 100.00

Sumber data setelah diolah 2013

IV-

(52)

15 Dari hasil survei sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan isi silinder motor yang digunakan menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna sepeda motor tersebut menggunakan jenis silinder 110cc dengan Persentase 62,92%. Nilai persentase terkecil diperoleh sepeda motor jenis 250cc sebesar 0,00%.

4.2.11 Berdasarkan Tahun Pembelian Motor yang Digunakan

Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan tahun pembelian motor yang digunakan yang ditinjau adalah tahun 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, 2013

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir), diperoleh data yang ditabelkan pada tabel 4.12.

Gambar 4.10 : Persentase Responden berdasarkan Isi Silinder Motor yang digunakan

IV-

(53)

16 Tabel 4.12 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar

Berdasarkan Tahun Pembelian.

No Tahun Jumlah Persentase

(%)

1 2003 1 0.26

2 2004 2 0.52

3 2005 9 2.35

4 2006 11 2.87

5 2007 14 3.66

6 2008 42 10.97

7 2009 56 14.62

8 2010 58 15.14

9 2011 80 20.89

10 2012 88 22.98

11 2013 19 4.96

Total 383 100.00

Sumber: Data setelah diolah, 2013

Gambar 4.11 : Persentase Responden Berdasarkan Tahun Pembelian Motor

IV-

(54)

17 Dari hasil survei sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan tahun pembelian motor yang digunakan menunjukkan bahwa 22.98% pengguna sepeda motor terbesar dengan pembelian tahun 2012. Nilai Persentase terkecil dicapai oleh pengguna sepeda motor pada tahun pembuatan 2003 dengan nilai Persentase 0,26%.

4.2.12 Berdasarkan Cara Pembelian Sepeda Motor

Karakteristik sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan cara pembelian sepeda motor yang digunakan ditinjau adalahcash dan kredit.

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir). Diperoleh data yang ditabelkan pada tabel 4.13.

Tabel 4.13 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan cara Pembelian Sepeda Motor yang digunakan No Cara Pembelian Jumlah orang Persentase

(%)

1 Cash 212 55.35

2 Kredit 171 44.65

Total 383 100

Sumber: Data Setelah diolah, 2013

Gambar 4.12 : Persentase Responden Berdasarkan Cara Pembelian Sepeda Motor yang Digunakan

IV-

(55)

18 Dari hasil survei sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan cara pembelian sepeda motor yang digunakan menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna sepeda motor tersebut menggunakan cara pembelian dengan cash Persentase 55,35%. Nilai persentase terkecil diperoleh sepeda motor dengan cara pembelian kredit dengan persentase 44,65%

4.2.13 Berdasarkan Kepemilikan Sepeda Motor vs Mobil

Karakteristik sepeda motor di Kota Makassar berdasarkan kepemilikan sepeda motor vs mobil terlampir dari hasil grafik dibawah ini :

Dari hasil perhitungan data survei utama (terlampir). Diperoleh data yang ditabelkan pada tabel 4.14.

Gambar 4.13 : Persentase Responden Kepemilikan Sepeda Motor vs Mobil

IV-

(56)

19 4.3 Regresi linear berganda terhadap kepemilikan sepeda motor di kota makassar

Pengaruh terhadap Usia, Jumlah Anggota Keluarga, Jumlah Anggota Keluarga Yang Bekerja, Jumlah Mobil, Jumlah Anggota Keluarga Yang Bersekolah, Cara Pembelian Dan Pendapatan Terhadap Jumlah Kepemilikan Sepeda Motor Di Kota Makassar

Berdasarkan hasil analisis regresi linear berganda, usia, jumlah anggota keluarga, jumlah anggota keluarga yang bekerja, jumlah mobil, jumlah anggota keluarga yang bersekolah, cara pembelian dan pendapatan terhadap jumlah kepemilikan sepeda motor di kota makassar dapat dilihat pada Tabel berikut.

Tabel 4.15 : estimasi regresi linear berganda terhadap kepemilikan sepeda motor di kota makassar

Variabel Penelitian Koef.Reg T hitung R r2

Usia (X1) 0.006 2.635

0.840 0.706 Jum. Anggota

keluarga (X2) 0.125 5.310

Jum. Anggota kel.

Yg Bekerja (X3) 0.121 3.419

Jum. Kepemilikan

mobil (X4) 0.087 2.276

Jum. Anggota kel

yg bersekolah (X5) 0.062 2.254 Cara pembelian

(X6) 0.208 2.042

Pendapatan (X7) 2.389 9.103

F hitung : 128.403 standar eror : 0.244 F table : 119.515 t Tabel : -3.665 R Square : 0.840

Konstanta : 0.517

Berdasarkan hasil pada Tabel maka dapat dibentuk suatu persamaan regresi linear berganda sebagai berikut :

Y= 0.517+0.006X1+0.125X2+0.121X3+0.087X4+0.062X5+0.208X6+2.389X7

IV-

(57)

20 Dari persamaan regresi linear berganda diperoleh nilai koefisien regresi yaitu untuk variabel usia (X1) jumlah anggota keluarga (X2), jumlah anggota keluarga yang bekerja (X3), jumlah kepemilikan mobil (X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5), cara pembelian (X6), pendapatan (X7) terhadap jumlah motor (Y) memiliki pengaruh yang signifikan. Kepemilikan mobil (X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5) terhadap jumlah motor (Y) memiliki pengaruh yang tidak tidak signifikan, artinya setiap kenaikan nilai variabel jumlah kepemilikan mobil dan anggota keluarga yang bersekolah maka tidak menyebabkan kenaikan jumlah kendaraan bermotor.

Adapun nilai konstanta sebesar 0.517 menunjukkan bahwa pada saat nilai variabel bebas yaitu, usia (X1) jumlah anggota keluarga (X2), jumlah anggota keluarga yang bekerja (X3), jumlah kepemilikan mobil (X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5), cara pembelian (X6), pendapatan (X7) sama dengan nol, maka pendapatan (Y) akan bernilai 0.517

Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (independen) terhadap variabel terikat (dependen) secara bersama-sama (simultan) maka dilakukan uji F, dalam analisa ini dilakukan dengan membandingkan antara nilai F hitung dengan F tabel, pada taraf kepercayaan 95% atau α = 0,05. Jika nilai F hitung lebih besar dari pada F

tabel, maka dengan demikian varabel bebas (independen) secara bersama-sama berpengaruh nyata (signifikan) terhadap variabel terikat (dependen).

Dari hasil perhitungan di peroleh F hitung sebesar 128.403 sedangkan nilai F

tabel 119.515, berarti F hitung lebih besar dari F tabel (128.403 > 119.515) hal ini menunjukkan bahwa variabel usia (X1), jumlah anggota keluarga (X2), jumlah

IV-

(58)

21 anggota keluarga yang bekerja (X3), jumlah kepemilikan mobil (X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5), cara pembelian (X6), pendapatan (X7) berpengaruh signifikan terhadap kepemilikan kendaraan bermotor (Y) pada jumlah kepemilikan sepeda motor di Kota Makassar.

Nilai R menunjukkan regresi berganda, yaitu regresi berganda antara variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai R berkisar antara 0 – 1, jika mendekati 1, maka hubungan semakin erat. Sebaliknya jika mendekati 0, maka regresi semakin lemah. Angka R yang didapatkan 0.840 artinya korelasi antara variabel independen usia (X1), jumlah anggota keluarga (X2), jumlah anggota keluarga yang bekerja (X3), jumlah kepemilikan mobil (X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5), cara pembelian (X6), pendapatan (X7), terhadap kepemilikan sepeda motor(Y) sebesar 0.840 Hal ini berarti terjadi hubungan yang erat karena mendekati 1.

Nilai R Square (R2) atau kuadrat R menunjukkan koefisien determinasi.

Angka ini akan diubah ke bentuk persen, artinya persentase sumbangan pengaruh variabel independen terhadap pendapatan sebesar 80,2%, sedangkan sisanya sebesar 19,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang yang tidak dimasukkan dalam model ini.

Setelah melakukan uji F, maka untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara sendiri-sendiri, maka dilakukan uji t pada uji t dilakukan dengan membandingkan antara nilai t hitung dengan t tabel pada taraf kepercayaan 95% atau α = 0,05, jika t hitung lebih besar dari pada t tabel, maka variabel bebas secara individu berpengaruh nyata terhadap variabel terikat.

IV-

(59)

22 Untuk mengetahui kuatnya pengaruh variabel bebas (X1,X2,X3,X4,X5,X6,X7) secara bersama terhadap variabel jumlah kendraan bermotor (Y) di Kota Makassar dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi berganda (R), dimana nilainya adalah 0,931 yang berarti bahwa semua variabel bebas usia (X1), jumlah anggota keluarga (X2), jumlah anggota keluarga yang bekerja (X3), jumlah kepemilikan mobil (X4), jumlah anggota keluarga yang bersekolah (X5),cara pembelian (X6), pendapatan (X7) secara bersama-sama memiliki hubungan yang sangat kuat dan arah hubungannya positif terhadap variabel kepemilikan kendaraan bermotor (Y). Jika dilihat dari nilai koefisien determinan (R2) yaitu 0.706 ,maka besarnya pengaruh variabel bebas terhadap pendapatan (Y) sebesar 85,1% sedangkan sisanya 15,9% dipengaruhi oleh variabel lain di luar model yang digunakan.

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai Fhitung sebesar 128.403 dan nilai Ftabel

sebesar 119.515. Karena nilai Fhitung > Ftabel maka dengan demikian variabel bebas usia (X1), jumlah anggota keluarga (X2), jumlah anggota keluarga yang bekerja (X3), cara pembelian (X6), pendapatan (X7) secara bersama-sama memberikan pengaruh yang nyata terhadap jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Makassar. Hal ini bisa juga dilihat dari nilai signifikan 0,000 < α = 0,050.

4.3.1 Pengaruh Usia (X1) Terhadap Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Y) Nilai koefisien regresi untuk variabel usia (X1) sebesar 0.006 Artinya bahwa usia memberikan pengaruh yang searah, dimana jika usia mengalami kenaikkan 1 usia maka jumlah kepemilikan kendaraan bermotor meningkat perunitnya asumsi variabel lain tetap. Nilai koefisien regresi (r) variabel usia (X1)

IV-

(60)

23 sebesar 0,006 menunjukkan bahwa usia memiliki keeratan hubungan yang kuat dan positif terhadap variabel kepemilikan kendaraan bermotor (Y).

Nilai thitung variabel harga jual (X1) yaitu sebesar 2.635 dan nilai ttabel

sebesar -3.665. Karena thitung > ttabel (2.635 > -3.665), maka variabel usia memberi pengaruh nyata terhadap jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Makassar. Hal ini dikarenakan usia pengguna kendaraan akan mempengaruhi besarnya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Makassar.

4.3.2 Pengaruh Jumlah Anggota Keluarga (X2) Terhadap Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Y)

Nilai koefisien regresi untuk variabel jumlah anggota keluarga (X2) sebesar 0,125 Artinya bahwa jumlah anggota keluarga memberikan pengaruh yang searah, dimana jika jumlah anggota keluarga bertambah 1 orang maka jumlah kepemilikan kendaaraan bermotor meningkat perunit dengan asumsi variabel lain tetap. Nilai koefisien regresi (r) variabel volume penjualan (X2) sebesar 0,125 menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga memiliki keeratan hubungan yang sangat kuat dan positif terhadap variabel jumlah kepemilikan kendaraan bermotor (Y). Nilai thitung variabel Jumlah anggota keluarga (X2) yaitu sebesar 5.310 dan nilai ttabel sebesar 119.515. Karena thitung > ttabel (5.310 > - 3.665), maka variabel volume jumlah anggota keluarga memberi pengaruh nyata terhadap kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Makassar. Hal ini dikarenakan jumlah anggota keluarga mempengaruhi tingkat jumlah kepemilikan kendaraan bermotor.

IV-

(61)

24 4.3.3 Pengaruh Jumlah Anggota Keluarga Yang Bekerja (X3) Terhadap Kepemilikan Kendaraan Bermotor (Y)

Nilai koefisien regresi untuk variabel jumlah anggota keluarga yang bekerja (X3) sebesar 0,121. Artinya bahwa jumlah anggota keluarga yang bekerja memberikan pengaruh yang searah, dimana jika jumlah anggota keluarga yang bekerja mengalami kenaikkan 1 maka jumlah kepemilikan kendaraan bermotor meningkat perunitnya asumsi variabel lain tetap. Nilai koefisien regresi (r) variabel usia (X1) sebesar 0,121 menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga yang bekerja memiliki keeratan hubungan yang kuat dan positif terhadap variabel kepemilikan kendaraan bermotor (Y).

Nilai thitung variabel harga jual (X3) yaitu sebesar 3.419 dan nilai ttabel

sebesar -3.665. Karena thitung > ttabel (3.419 > -3.665), maka variabel jumlah anggota keluarga yang bekerja memberi pengaruh nyata terhadap jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Makassar. Hal ini dikarenakan usia pengguna kendaraan akan mempengaruhi besarnya jumlah kepemilikan kendaraan bermotor di Kota Makassar.

4.3.4 Pengaruh Terhadap Jumlah Kepemilikan Mobil (X4)

Nilai koefisien regresi untuk variabel jumlah kepemilikan mobil (X4) sebesar 0.087, artinya bahwa jumlah kepemilikan mobil memberikan pengaruh yang searah, dimana jika jumlah anggota keluarga bertambah 1 orang maka jumlah kepemilikan kendaaraan bermotor meningkat perunit dengan asumsi variabel lain tetap. Nilai koefisien regresi (r) variabel volume penjualan (X4) sebesar 0.087 menunjukkan bahwa cara pembelian memiliki keeratan hubungan

IV-

Figure

Gambar 3.1.  Bagan alir penelitian Pengumpulan Data

Gambar 3.1.

Bagan alir penelitian Pengumpulan Data p.32
Tabel 3.3  Interpretasi nilai R

Tabel 3.3

Interpretasi nilai R p.37
Tabel 4.1: Proses pemilihan sampel

Tabel 4.1:

Proses pemilihan sampel p.38
Tabel 4.2 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di  Kota Makassar berdasarkan Tingkatan Usia

Tabel 4.2 :

Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Tingkatan Usia p.39
Gambar 4.1 : Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Usia

Gambar 4.1 :

Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Usia p.39
Tabel 4.3 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota  Makassar Berdasarakan Tingkat Pendidikan terakhir  No  Pendidikan

Tabel 4.3 :

Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarakan Tingkat Pendidikan terakhir No Pendidikan p.40
Gambar 4.2 : Persentase Responden Berdasarkan Tingkatan Pendidikan  Terakhir

Gambar 4.2 :

Persentase Responden Berdasarkan Tingkatan Pendidikan Terakhir p.41
Gambar 4.3 : Persentase Responden Berdasarkan Profesi/Pekerjaan.

Gambar 4.3 :

Persentase Responden Berdasarkan Profesi/Pekerjaan. p.42
Tabel 4.5 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di  Kota Makassar Berdasarkan Tingkat Penghasilan  No  Pendapatan  Jumlah  Persentase

Tabel 4.5 :

Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarkan Tingkat Penghasilan No Pendapatan Jumlah Persentase p.43
Gambar 4.4 : Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Penghasilan

Gambar 4.4 :

Persentase Responden Berdasarkan Tingkat Penghasilan p.44
Gambar 4.5 : Persentase Responden Berdasarkan Banyaknya  Anggota Keluarga

Gambar 4.5 :

Persentase Responden Berdasarkan Banyaknya Anggota Keluarga p.45
Tabel 4.7 : Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota  Makassar Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang Bekerja

Tabel 4.7 :

Karakteristik Pengguna Sepeda Motor di Kota Makassar Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang Bekerja p.46
Gambar 4.6 : Persentase Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga  yang bekerja.

Gambar 4.6 :

Persentase Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga yang bekerja. p.47
Gambar 4.7 : Persentase Responden Berdasarkan Banyaknya Anggota  Keluarga yang Bersekolah

Gambar 4.7 :

Persentase Responden Berdasarkan Banyaknya Anggota Keluarga yang Bersekolah p.48
Tabel 4.9: Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar  berdasarkan Merek Motor yang digunakan

Tabel 4.9:

Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Merek Motor yang digunakan p.49
Tabel 4.10 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota  Makassar berdasarkan Jenis Motor yang digunakan  No  Jenis Mesin  Jumlah  Persentase

Tabel 4.10 :

Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Jenis Motor yang digunakan No Jenis Mesin Jumlah Persentase p.50
Tabel 4.11 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar  berdasarkan Isi Silinder Motor yang digunakan  No  Isi Silinder (cc)

Tabel 4.11 :

Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan Isi Silinder Motor yang digunakan No Isi Silinder (cc) p.51
Gambar 4.10 :  Persentase Responden berdasarkan Isi Silinder Motor yang  digunakan

Gambar 4.10 :

Persentase Responden berdasarkan Isi Silinder Motor yang digunakan p.52
Gambar 4.11 : Persentase Responden Berdasarkan Tahun Pembelian Motor

Gambar 4.11 :

Persentase Responden Berdasarkan Tahun Pembelian Motor p.53
Tabel 4.13 : Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar  berdasarkan cara Pembelian Sepeda Motor yang digunakan  No  Cara Pembelian  Jumlah orang  Persentase

Tabel 4.13 :

Karakteristik Sepeda Motor di Kota Makassar berdasarkan cara Pembelian Sepeda Motor yang digunakan No Cara Pembelian Jumlah orang Persentase p.54
Gambar 4.13 :  Persentase  Responden Kepemilikan Sepeda Motor vs Mobil

Gambar 4.13 :

Persentase Responden Kepemilikan Sepeda Motor vs Mobil p.55
Tabel  4.15 : estimasi regresi linear berganda terhadap kepemilikan sepeda motor  di kota makassar

Tabel 4.15 :

estimasi regresi linear berganda terhadap kepemilikan sepeda motor di kota makassar p.56

References

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in