1
Universitas Kristen Petra
1.1. Latar Belakang Masalah
Dengan adanya perkembangan ekonomi secara globalisasi mendorong perusahaan ``X`` selaku perusahaan konveksi untuk mengembangkan industrinya.
Untuk dapat mengembangkan industrinya, perusahaan harus mampu mencapai hasil produksi yang diinginkan pasar. Agar perusahaan dapat merealisasikan permintaan pasar atau berproduksi sesuai dengan permintaan pasar, perlu kita ketahui ada beberapa faktor produksi yang penting selain modal, mesin, dan bahan baku yaitu faktor sumber daya manusia. Faktor sumber daya manusia itu tidak lain adalah faktor tenaga kerja yang seharusnya mendapat sorotan dari pihak perusahaan, walaupun di era globalisasi ini telah tersedia mesin-mesin canggih dan lengkap yang dapat mempermudah pekerjaan manusia karena unsur manusia memegang peranan utama dalam mengatur, melaksanakan, memimpin dan mengatasi masalah serta menyelesaikan pekerjaan untuk mencapai tujuan perusahaan. Nasution (1992) mengemukakan bahwa tenaga kerja adalah modal (asset) perusahaan yang tidak ternilai oleh karena itu sudah sewajarnya mereka mendapat perlakuan yang lebih baik, mengingat keberadaan mereka sangat menentukan peningkatan hasil produksi perusahaan.
Seperti perusahaan ``X``, faktor tenaga kerja menjadi sorotan perusahaan untuk meningkatkan hasil produksinya. Sementara faktor – faktor produksi lain seperti bahan baku dan mesin selalu tersedia. Perusahaan “X“ merupakan perusahaan yang memproduksi seprei berukuran besar (160cm X 200cm) dan seprei berukuran kecil (100cm X 200cm). Jumlah karyawan yang bekerja untuk memproduksi adalah 15 orang untuk memproduksi seprei berukuran besar dan 15 orang untuk memproduksi seprei berukuran kecil. Kemampuan tiap karyawan untuk memproduksi seprei berukuran besar selama minimal 70 menit sedangkan untuk menyelesaikan seprei kecil selama 60 menit. Sehingga Rata-rata kemampuan berproduksi seorang karyawan perhari untuk seprei berukuran besar adalah 5 sampai 6 buah, sedangkan untuk seprei berukuran kecil adalah 6 sampai 7 buah. Walaupun demikian perusahaan belum dapat merealisasikan permintaan
Universitas Kristen Petra
pasar yang cenderung konstan. Ditambah lagi saat ini perusahaan sedang menghadapi masalah penurunan hasil produksi yang drastis perusahaan selama 5 bulan berturut-turut sejak awal Mei 2006 sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan pasar. Permintaan pasar cenderung konstan yaitu 3300 set seprei per bulan, namun hasil produksi perusahaan pada Mei 2006 rata-rata adalah 2461 set seprei, Juni 2006 adalah 2270 set seprei, Juli 2006 adalah 2215 set seprei, Agustus 2006 adalah 2185 set seprei, September 2006 adalah 2141 set seprei. Sedangkan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan tetap, bahan baku dan mesin tetap tersedia untuk diproses dan digunakan oleh para karyawan.
Peningkatan produktivitas dapat dilihat melalui jumlah produksi yang meningkat pula dengan menggunakan sumber daya yang sama. (Hansen dan Mowen:1995,944). Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa perusahaan mengalami penurunan produktivitas.
Menurut wawancara penulis dengan pemilik perusahaan, penurunan hasil produksi perusahaan disebabkan oleh ketidakpuasan karyawan atas gaji yang diperoleh. Hal ini dapat dilihat dari aksi karyawan yang melakukan demonstrasi pada tanggal 25 Juni 2006 ke perusahaan agar meningkatkan gaji mereka. Selain itu, pemilik perusahaan mengatakan bahwa karyawan tidak mau bekerja sesuai dengan kemampuan mereka karena tuntutan mereka tidak dipenuhi oleh perusahaan. Menurut Lawlor (1995), salah satu sistem yang dapat mempengaruhi produktivitas adalah upah dimana upah merupakan sistem internal yang dapat dikendalikan oleh perusahaan. Dengan demikian, perusahaan menerapkan sistem pengupahan insentif yaitu upah per potong proporsional (Straight Piecework Plan). Sistem pengupahan ini didasarkan oleh output atau hasil produksi yang dapat dicapai oleh karyawan per harinya. Seperti perusahaan “X” memiliki standard produksi tiap-tiap karyawannya untuk seprei berukuran besar adalah 5 buah per hari dan untuk seprei berukuran kecil yaitu 6 buah per hari. Perusahaan menetapkan standard output bagi karyawannya yaitu 3 untuk seprei berukuran besar dan 4 untuk seprei yang berukuran kecil. Sehingga apabila seorang karyawan mampu untuk memproduksi melebihi 3 seprei besar atau 4 seprei kecil, maka tiap seprei yang dihasilkan akan diberikan upah tambahan. Contohnya seorang karyawan di berikan upah sebesar Rp 15.000 per hari mampu
Universitas Kristen Petra
menghasilkan seprei sebanyak 5 seprei besar per hari, maka karyawan tersebut mendapatkan upah insentif (upah tambahan) yang besarnya 2x Rp 5000 = Rp 10.000 selain upah pokoknya sebesar Rp 15.000. Maka, semakin karyawan mampu menghasilkan output diatas standard, maka mereka akan mendapatkan upah lebih untuk setiap output yang dihasilkan disamping upah pokok mereka.
Hal inilah yang memacu karyawan untuk berprestasi lebih. Menurut data hasil produksi karyawan pada periode Januari 2006 sampai April 2006 karyawan memiliki kemampuan untuk berproduksi melebihi output standar, akan tetapi pada periode Mei 2006 karyawan cenderung untuk berprestasi minimal dan mendapatkan upah yang sama walaupun ia mampu menghasilkan seprei di atas output standar. Perusahaan telah menerapkan sistem upah insentif ini mulai awal Oktober 2006. Penulis akan mengambil data hasil produksi selama penerapan
sistem upah yang baru selama 3 bulan berturut-turut yaitu mulai tanggal 1 Oktober 2006 sampai 31 Desember 2006 untuk dapat mengetahui dampak dari
penerapan sistem yang baru demi meningkatkan produktivitas karyawan.
1.2. Perumusan Masalah
Masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah
Bagaimana penerapan sistem pengupahan insentif Straight Piecework Plan oleh perusahaan “X” ?
Apakah terdapat perbedaan antara produktivitas karyawan sebelum dan sesudah menerapkan sistem tersebut ?
1.3. Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini dibatasi dengan pendokumentasian sistem pengupahan yang diterapkan oleh perusahaan “X”. Sedangkan periode data yang digunakan adalah data hasil produksi sebelum menerapkan sistem pengupahan insentif yaitu periode Juli 2006 – September 2006 dan setelah menerapkan sistem pengupahan insentif Straight Piecework Plan yaitu Oktober 2006 – Desember 2006.
Universitas Kristen Petra
1.4. Tujuan Penelitian
Penulis mempunyai tujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem pengupahan insentif (Straight Piecework Plan) yang telah diterapkan perusahaan sejak Oktober 2006. Evaluasi yang dilakukan diuraikan dalam bentuk Flowchart (bagan Alir) sistem pengupahan yang diterapkan perusahaan, DFD dari sistem pengupahan insentif yang diterapkan perusahaan. Selain itu, dapat mengetahui perbedaaan yang signifikan antara hasil produksi karyawan sebelum dan sesudah menerapkan sistem pengupahan Straight Piecework Plan.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui cara kerja sistem pengupahan yang diterapkan oleh perusahaan
“X” dengan melihat analisis dari bagan alir (Flowchart) yang dikemukakan oleh penulis.
2. Hasil dari evaluasi dapat menjadi acuan bagi pihak pimpinan perusahaan untuk tetap menerapkan sistem pengupahan insentif bagi karyawannya sehingga dapat meningkatkan produktivitas karyawannya.
1.6. Sistematika Skripsi
Sistematika pembahasan tugas akhir ini disusun sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika skripsi.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini dijelaskan tentang Pengertian upah, peranan upah, jenis sistem pengupahan insentif, pengertian produktivitas, faktor- faktor yang mempengaruhi produktivitas, dampak sistem pengupahan insentif terhadap peningkatan produktivitas, Teknik dokumentasi sistem yaitu menggunakan Diagram arus Data (Data Flow Diagram) dan Bagan Alir (Flowchart).
Universitas Kristen Petra
BAB III : METODE PENELITIAN
Dalam bab ini penulis akan menjelaskan jenis penelitian, jenis dan sumber data, pengumpulan dan pengolahan data, teknik analisis data dengan mengevaluasi sistem pengupahan yang diterapkan perusahaan dan dampak dari penerapan sistem menggunakan uji beda yaitu uji T sample berpasangan (Paired sample T test).
BAB IV : ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini diuraikan secara singkat latar belakang berdirinya perusahaan, Pemasaran hasil produksi, struktur organisasi perusahaan, hasil produksi, bahan baku dan mesin yang dipergunakan serta personalia perusahaan.
Dalam bab ini berisi tentang dokumentasi dari sistem pengupahan lama yang diterapkan oleh perusahaan “X” dalam bentuk Bagan Alir (Flowchart) dan dokumentasi dari penerapan sistem pengupahan insentif (Straight Piecework Plan) pada perusahaan dengan mendokumentasikan sistem pengupahan tersebut melalui Diagram Arus Data (DFD) dan Bagan Alir (Flowchart). Dampak dari penerapan sistem pengupahan insentif tersebut juga dianalisa menggunakan uji beda sample T berpasangan (Paired Sample T test) BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab terakhir ini berisi tentang kesimpulan yang didasarkan dari pembahasan dan uraian bab-bab sebelumnya, kemudian diberikan saran-saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perusahaan dalam mengatasi permasalahan tersebut.