• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Kerangka Teori"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

14 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teori 1. Tanggung Jawab Keperdataan

a. Pengertian Tanggung Jawab

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya. Tanggung jawab merupakan sesuatu yang menjadi kewajiban atau keharusan untuk dilaksanakan. Apabila terjadi sesuatu maka seseorang yang dibebani tanggung jawab wajib menanggung segala sesuatu.

Terdapat 2 (dua) istilah dalam kamus hukum yang menunjuk pada pertanggungjawaban, yakni liability (the state of being liable) dan responsibility (the state or fact being responsible). Liability merupakan istilah hukum yang luas, yang di dalamnya antara lain mengandung makna bahwa, liability menunjuk pada makna yang paling komprehensif, meliputi hampir setiap karakter risiko atau tanggung jawab, yang pasti, yang bergantung, atau yang mungkin.

Liability didefinisikan untuk menunjuk semua karakter hak dan kewajiban. Di samping itu, liability juga merupakan kondisi tunduk pada kewajiban secara aktual atau potensial, kondisi bertanggung jawab terhadap hal-hal yang aktual atau mungkin seperti kerugian, ancaman, kejahatan, biaya, atau beban, kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan undang-undang dengan segera atau pada masa yang akan datang. Sementara itu, Responsibility berarti hal dapat dipertanggungjawabkan atas suatu kewajiban, dan termasuk putusan, keterampilan, kemampuan, dan kecakapan. Responsibility juga berarti kewajiban bertanggung jawab atas undang-undang yang dilaksanakan, dan memperbaiki atau sebaliknya memberi ganti rugi atas kerusakan apapun yang telah ditimbulkan (Ridwan H.R, 2006: 334-335).

(2)

15

Tanggung jawab merupakan kewajiban yang harus dilakukan sebagai akibat dari perbuatan pihak yang berbuat. Tanggung jawab sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat buruknya perbuatannya itu dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengadilan.

b. Pengertian Tanggung Jawab Menurut Hukum Perdata

Menurut pendapat Munir Fuady maka model tanggung jawab hukum adalah sebagai berikut (Munir Fuady, 2002: 3) :

1) tanggung jawab dengan unsur kesalahan (kesengajaan dan kelalaian) yang terdapat dalam Pasal 1365 KUHPerdata yaitu tiap-tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu, mengganti kerugian tersebut;

2) tanggung jawab dengan unsur kesalahan khususnya kelalaian sebagaimana terdapat dalam Pasal 1366 KUHPerdata yaitu setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya;

3) tanggung jawab mutlak (tanpa kesalahan) sebagaimana terdapat dalam Pasal 1367 KUHPerdata yang disebutkan sebagai berikut:

a) seseorang tidak saja bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan karena perbuatan orang- orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barangbarang yang berada dibawah pengawasannya;

b) orang tua dan wali bertanggung jawab tentang kerugian, yang disebabkan oleh anak-anak belum dewasa, yang tinggal pada mereka dan tehadap siapa mereka melakukan kekuasaan orang tua dan wali;

c) majikan-majikan dan mereka yang mengangkat orang- orang lain untuk mewakili urusan-urusan mereka, adalah

(3)

16

bertanggung jawab tentang kerugian yang diterbitkan oleh pelayan-pelayan atau bawahan-bawahan mereka di dalam melakukan pekerjaan untuk mana orang-orang ini dipakainya;

d) guru-guru sekolah dan kepala-kepala tukang bertanggung jawab tentang kerugian yang diterbitkan oleh murid -murid dan tukang-tukang mereka selama waktu orang-orang ini berada dibawah pengawasan mereka;

e) tanggung jawab yang disebutkan diatas berakhir jika orang tua, wali, guru sekolah dan kepala-kepala tukang itu membuktikan bahwa mereka tidak dapat mencegah perbuatan untuk mana mereka seharusnya bertanggung jawab.

Selain dari tanggung jawab perbuatan melawan hukum, KUHPerdata melahirkan tanggung jawab hukum perdata berdasarkan wanprestasi. Diawali dengan adanya perjanjian yang melahirkan hak dan kewajiban. Apabila dalam hubungan hukum berdasarkan perjanjian tersebut, pihak yang melanggar kewajiban tidak melaksanakan atau melanggar kewajiban yang dibebankan kepadanya maka ia dapat dinyatakan lalai (wanprestasi) dan atas dasar itu dapat dimintakan pertanggungjawaban hukum berdasarkan wanprestasi.

Sementara tangung jawab hukum perdata berdasarkan perbuatan melawan hukum didasarkan adanya hubungan hukum, hak dan kewajiban yang bersumber pada hukum (Baiq Setiani, 2016: 8).

c. Prinsip-Prinsip Tanggung Jawab

Prinsip tentang tanggung jawab merupakan perihal yang sangat penting dalam hukum perlindungan konsumen. Kasus-kasus pelanggaran hak konsumen diperlukan kehati-hatian dalam menganalisis siapa yang harus bertanggung jawab dan seberapa tanggung jawab dapat dibebankan kepada pihak-pihak terkait. Prinsip- prinsip tersebut terdiri dari (Shidarta, 2006: 75-78):

(4)

17

1) Prinsip Tanggung Jawab Berdasarkan Unsur Kesalahan (Fault Liability atau Liability Based on Fault)

Prinsip ini sudah cukup lama berlaku baik dalam hukum pidana maupun hukum perdata, dalam sistem hukum perdata ada prinsip perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad) sebagaimana dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata khususnya Pasal 1365, yang lazim dikenal d engan perbuatan melewan hukum, mengharuskan terpenuhinya empat unsur pokok, yaitu:

a. adanya perbuatan;

b. adanya unsur kesalahan;

c. adanya kerugian yang diderita;

d. adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kerugian.

Tanggung jawab seperti ini kemudian diperluas dengan vicarious liability, yakni tanggung jawab majikan pemimpin perusahaan terhadap pegawainya atau orang tua terhadap anak sebagaimana diatur dalam Pasal 1367 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

2) Prinsip Praduga Untuk Selalu Bertanggung Jawab (Presumption of Liability Principle)

Yakni tergugat selalu dianggap bertanggung jawab sampai ia dapat membuktikan, ia tidak bersalah. Jadi, beban pembuktian ada pada tergugat. Pembuktian kesalahan tersebut ada pada pihak pengangkut yang digugat. Penumpang berarti tidak dapat sewenang-wenang mengajukan gugatan.

3) Prinsip Praduga Tidak Selalu Bertanggung Jawab (Presumption of Nonliability Principle)

Prinsip ini menggariskan bahwa tergugat tidak selamanya bertanggung jawab. Apabila melihat pasal 24 ayat (2) UUPK, penjual yang menjual lagi produknya kepada penjual lainnya

(5)

18

dibebaskan dari tanggung jawab jika penjual lainnya tersebut melakukan perubahan atas produk tersebut.

4) Prinsip Tanggung Jawab Mutlak (Strict Liability)

Prinsip ini merupakan kebalikan dari prinsip pertama.

Dengan prinsip ini tergugat harus bertanggung jawab atas kerugian yang diderita konsumen tanpa harus membuktikan ada tidaknya kesalahan pada dirinya.

5) Prinsip Tanggung Jawab Terbatas (Limitation of Liability)

Prinsip ini menguntungkan para pelaku usaha karena mencantumkan klausula eksonerasi yang diartikan sebagai klausula pengecualian atau tanggung jawab dalam perjanjian standart yang dibuatnya.

2. Pengangkutan Laut

a. Pengertian Pengangkutan

Menurut pendapat Abdulkadir Muhammad pengangkutan merupakan rangkaian kegiatan pemindahan penumpang atau barang dari satu tempat pemuatan (embarkasi) ke tempat tujuan (debarkasi) sebagai tempat penurunan penumpang atau pembongkaran barang muatan. Peristiwa memindahkan itu meliputi 3 (tiga) kegiatan yang disebut pengangkutan dalam arti luas yaitu (Abdulkadir Muhammad, 2013:42) :

1) memuat penumpang atau barang ke dalam alat pengangkut;

2) membawa penumpang atau barang ke tempat tujuan; dan

3) menurunkan penumpang atau membongkar barang ditempat tujuan.

Pengangkutan juga dapat dirumuskan dalam arti sempit, dikatakan dalam arti sempit karena hanya meliputi kegiatan membawa penumpang atau barang dari stasiun/terminal/pelabuhan/bandara tempat pemberangkatan ke stasiun/terminal/pelabuhan/bandara tujuan.

(6)

19

Untuk menentukan pengangkut itu dalam arti luas atau sempit bergantung pada perjanjian pengangkut yang dibuat oleh pihak-pihak, bahkan kebiasan masyarakat. Menurut M.N. Nasution pengangkutan didefinisikan sebagai pemindahan barang dan manusia dari tempat asal menuju tempat tujuannya. Selanjutnya dijelaskan bahwa proses pengangkutan tersebut merupakan gerakan dari tempat asal, dimana kegiatan angkutan itu dimulai, ke tempat tujuan dan kemana kegiatan pengangkutan diakhiri (M.N. Nasution, 2007: 3).

Menurut Lestari Ningrum pengangkutan niaga adalah rangkaian kegiatan atau peristiwa pemindahan penumpang dan/atau barang dari suatu tempat pemuatan ke tempat tujuan sebagai tempat penurunan penumpang atau pembongkaran barang. Rangkaian kegiatan pemindahan tersebut sebagai berikut (Lestari Ningrum, 2004: 134):

1) Dalam arti luas, terdiri dari :

a) memuat penumpang dan/atau barang ke dalam alat pengangkut;

b) membawa penumpang dan/atau barang ke tempat tujuan;

c) menurunkan penumpang atau membongkar barang-barang di tempat tujuan.

2) Dalam arti sempit, meliputi kegiatan membawa penumpang dan/atau barang dari stasiun/terminal/pelabuhan/bandar udara tempat tujuan.

Menurut H.M.N. Purwosutjipto, pengangkutan adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut dan pengirim, dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ketempat tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan (H.M.N. Purwosutjipto, 2003: 2).

b. Asas-Asas Hukum Pengangkutan

Menurut Abdulkadir Muhammad dalam hukum pengangkutan terdapat asas-asas hukum yang terbagi ke dalam dua jenis, yaitu bersifat publik dan bersifat perdata. Asas yang bersifat publik merupakan

(7)

20

landasan hukum pengangkut yang berlaku dan berguna bagi semua pihak, yaitu pihak-pihak dalam pengangkutan, pihak ketiga yang berkepentingan dengan pengangkut, dan pihak pemerintah. Asas-asas yang bersifat publik biasanya terdapat di dalam penjelasan Undang- Undang yang mengatur tentang pengangkutan, sedangkan asas-asas yang bersifat perdata merupakan landasan hukum pengangkutan yang hanya berlaku dan berguna bagi kedua pihak dalam pengangkutan niaga, yaitu pengangkut dan penumpang atau pengirim barang (Abdulkadir Muhammad, 2013:17).

Menurut Abdulkadir Muhammad, asas-asas hukum perdata adalah landasan Undang-Undang yang lebih mengutamakan kepentingan pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengangkutan, yang dirumuskan dengan kata-kata: perjanjian (kesepakatan), koordinatif, campuran, retensi, dan pembuktian dengan dokumen serta dijelaskan sebagai berikut (Abdulkadir Muhammad, 2013:14):

1) Asas perjanjian

Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan diadakan dengan perjanjian antara pihak perusahaan pengangkutan dan penumpang atau pemilik barang. Tiket/karcis penumpang dan dokumen pengangkutan merupakan tanda bukti telah terjadi perjanjian antara pihak-pihak. Perjanjian pengangkutan tidak diharuskan dalam bentuk tertulis, sudah cukup dengan kesepakatan pihak-pihak. Akan tetapi, untuk menyatakan bahwa perjanjian itu sudah terjadi dan mengikat harus dibuktikan dengan atau didukung oleh dokumen pengangkutan.

2) Asas koordinatif

Asas ini mengandung makna bahwa pihak-pihak dalam pengangkutan mempunyai kedudukan setara atau sejajar, tidak ada pihak yang mengatasi atau membawahi yang lain. Walaupun pengangkut menyediakan jasa dan melaksanakan perintah penumpang atau pemilik barang, pengangkut bukan bawahan

(8)

21

penumpang atau pemilik barang. Asas ini menunjukan bahwa pengangkut adalah perjanjian pemberian kuasa (agency agreement).

3) Asas campuran

Asas ini mengandung makna bahwa pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian, yaitu pemberian kuasa, penyimpanan barang, dan melakukan pekerjaan dari penumpang atau pemilik barang kepada pengangkut. Ketentuan ketiga jenis perjanjian ini berlaku pada pengangkutan, kecuali jika ditentukan lain dalam perjanjian pengangkutan.

4) Asas retensi

Asas ini mengandung makna bahwa pengangkut tidak menggunakan hak retensi (hak menahan barang). Pengguna hak retensi bertentangan dengan tujuan dan fungsi pengangkutan.

Pengangkut hanya mempunyai kewajiban menyimpan barang atas biaya pemiliknya.

5) Asas pembuktiaan dengan dokumen

Asas ini mengandung makna bahwa setiap pengangkutan selalu dibuktikan dengan dokumen pengangkutan. Tidak ada dokumen pengangkutan berarti tidak ada perjanjian pengangkutan, kecuali jika ada kebiasaan yang sudah berlaku secara umum.

Menurut pendapat Abdulkadir Muhammad asas-asas hukum pengangkutan bersifat publik terdiri dari beberapa asas sebagai berikut (Abdulkadir Muhammad, 2013: 12) :

1) Asas manfaat

Pelayaran harus dapat memberikan manfaat sebesar- besarnya bagi kemanusiaan, peningkatan kesejahteraan rakyat dan pengembangan perikehidupan yang berkesinambungan bagi warga negara, serta upaya peningkatan pertahanan dan keamanan negara;

(9)

22

2) Asas usaha bersama dan kekeluargaan

Penyelenggaraan usaha di bidang penerbangan dilaksanakan untuk mencapai cita-cita dan aspirasi bangsa yang dalam kegiatannya dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat dan dijiwai oleh semangat kekeluargaan;

3) Asas adil dan merata

Penyelenggaraan penerbangan harus dapat memberikan pelayanan yang adil dan merata kepada segenap lapisan masyarakat dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat;

4) Asas keseimbangan

Penerbangan harus diselenggarakan sedemikian rupa sehingga terdapat keseimbangan yang serasi antara saran dan prasarana, antara kepentingan pengguna dan penyedia jasa, antara kepentingan individu dan masyarakat, serta antara kepentingan nasional dan internasional;

5) Asas kepentingan umum

Penyelenggaraan penerbangan harus mengutamakan kepentingan pelayanan umum bagi masyarakat luas;

6) Asas keterpaduan

Penerbangan harus merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, terpadu, saling menunjang, dan saling mengisi baik intra maupun antar transportasi;

7) Asas kesadaran hukum

Mewajibkan kepada pemerintah untuk menegakkan dan menjamin kepastian hukum serta mewajibkan kepada setiap warga negara Indonesia untuk selalu sadar dan taat kepada hukum dalam penyelenggaraan penerbangan;

8) Asas percaya pada diri sendiri

Penerbangan harus berlandaskan pada kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri, serta bersendikan kepada kepribadian bangsa;

(10)

23 9) Asas keselamatan penumpang

Setiap penyelenggaraan pengangkutan penumpang harus disertai dengan asuransi kecelakaan.

c. Pengertian Pengangkutan di Perairan

Menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Pelayaran adalah salah satu kesatuan sistem terdiri dari atas pengangkutan di perairan, kepelabuhan, keselamatan dan keamanan, serta perlindungan lingkungan maritim. Perairan Indonesia adalah laut territorial Indonesia beserta perairan kepualauan dan perairan pedalamannya. Pengangkutan di perairan adalah kegiatan mengangkut dan/atau memindahkan penumpang dan/atau barang dengan menggunakan kapal. Pengangkutan perairan dapat berupa pengangkutan sungai, danau, dan penyebarangan laut (Abdulkadir Muhammad, 2013: 9-10). Beradasarkan Pasal 3 ayat (3) dan (4) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia, Perairan kepualauan Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi dalam garis pangkal lurus kepulauan tanpa memperhatikan kedalaman atau jaraknya dari pantai. Sedangkan Perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak pada sisi darat dari garis air rendah dari pantai-pantai Indonesia, termasuk ke dalamnya semua bagian dari perairan yang terletak pada sisi darat dari garis penutup.

d. Hak Pengangkut

Menurut H.M.N. Purwosutjipto hak-hak yang dimiliki oleh pihak pengangkut sebagai berikut (H.M.N. Purwosutjipto, 2003: 34):

1) pihak pengangkut berhak menerima biaya pengangkutan;

2) pemberitahuan dari pengirim mengenai sifat, macam dan harga barang yang akan diangkut, yang disebutkan dalam Pasal 469, 470 ayat (2), 479 ayat (1) KUHD;

3) penyerahan surat-surat yang diperlukan dalam rangka mengangkut barang yang disertakan oleh pengirim kepada pengangkut berdasarkan ketentuan Pasal 478 ayat (1) KUHD.

(11)

24 e. Kewajiban Pengangkut

Menurut Lestari Ningrum terdapat beberapa kewajiban pokok pengangkut udara yaitu sebagai berikut (Lestari Ningrum, 2004: 151):

1) mengangkut penumpang dan/atau barang serta menerbitkan dokumen angkutan sebagai imbalan haknya memperoleh pembayaran biaya angkutan;

2) mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang jika terjadi pembatalan pemberangkatan pesawat udara;

3) dapat menjual kiriman yang telah disimpan (bukan karena sitaan) yang karena sifat dari barang tersebut mudah busuk, yang lebih dari 12 (dua belas) jam setelah pemberitahuan tidak diambil oleh penerima kiriman barang;

4) bertanggung jawab atas kematian atau lukanya penumpang yang diangkut, musnah, hilang atau rusaknya barang yang diangkut, keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut.

Menurut H.M.N. Purwosutjipto menerangkan bahwa kewajiban- kewajiban dari pihak pengangkut, sebagai berikut (H.M.N.

Purwosutjipto, 2003:33-34) :

1) menyediakan alat pengangkut yang akan digunakan untuk menyelenggarakan pengangkutan;

2) menjaga keselamatan orang (penumpang) dan/atau barang yang diangkutnya. Dengan demikian maka sejak pengangkut menguasai orang (penumpang) dan/atau barang yang akan diangkut, maka sejak saat itulah pihak pengangkut mulai bertanggung jawab (Pasal 1235 KUHPerdata);

3) kewajiban yang disebutkan dalam Pasal 470 KUHD yang meliputi : a) mengusahakan pemeliharaan, perlengkapan atau peranakbuahan

alat pengangkutnya;

(12)

25

b) mengusahakan kesanggupan alat pengangkut itu untuk dipakai menyelenggarakan pengangkutan menurut persetujuan;

c) memperlakukan dengan baik dan melakukan penjagaan atas muatan yang diangkut.

4) menyerahkan muatan ditempat tujuan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian.

3. Penumpang

a. Pengertian Penumpang

Menurut Abdulkadir Muhammad penumpang adalah orang yang mengikatkan diri untuk membayar biaya angkutan atas dirinya yang diangkut atau semua orang/badan hukum pengguna jasa angkutan, baik angkutan darat, laut dan kereta api, terdapat beberapa ciri penumpang sebagai berikut (Abdulkadir Muhammad, 2013: 51):

1) orang yang berstatus pihak dalam perjanjian pengangkutan;

2) membayar biaya angkutan;

3) pemegang dokumen angkutan.

b. Hak Penumpang

Sebelum menyelenggarakan pengangkutan, terlebih dahulu harus ada perjanjian pengangkutan antara pengangkut dan penumpang.

Dilihat dari pihak dalam perjanjian pengangkutan orang, penumpang adalah orang yang mengikatkan diri untuk membayar biaya pengangkutan dan atas dasar ini ia berhak untuk memperoleh jasa pengangkutan (Abdulkadir Muhammad, 2013: 65).

Di samping itu penumpang juga berhak untuk menuntut ganti rugi atas kerugian yang dideritanya sebagai akibat adanya kecelakaan selama pelayaran, selain itu hak-hak penumpang lainnya adalah menerima dokumen yang menyatakannya sebagai penumpang, mendapatkan pelayanan yang baik, memperoleh keamanan dan keselamatan selama dalam proses pengangkutan.

(13)

26 c. Kewajiban Penumpang

Pengangkutan sebagai perjanjian selalu didahului oleh kesepakatan antara pihak pengangkut dengan pihak penumpang atau pihak pengirim.

Kesepakatan tersebut pada dasarnya berisi kewajiban dan hak sebagai pihak pengangkut dan penumpang atau pengirim. Kewajiban pengangkut adalah mengangkut penumpang atau barang sejak di tempat pemberangkatan sampai ke tempat tujuan yang telah disepakati dengan selamat. Sedangkan kewajiban penumpang atau pengirim adalah membayar sejumlah uang sebagai biaya pengangkutan (Abdulkadir Muhammad, 2013: 2)

4. Kecelakaan Kapal dan Keselamatan dan Keamanan Angkutan Perairan

Kecelakaan (accident) adalah peristiwa hukum pengangkutan berupa kejadian atau musibah; yang tidak dikehendaki oleh pihak-pihak;

terjadi sebelum, dalam waktu,dan sesudah penyelenggaraan pengankutan;

karena perbuatan manusia atau kerusakan alat pengangkut sehingga menimbulkan kerugian material, fisik, jiwa, atau hilangnya mata pencarian bagi pihak penumpang, bukan penumpang,pemilik barang, atau pihak pengangkut.

Menurut Pasal 245 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, kecelakaan kapal adalah kejadian yang dialami oleh kapal yang dapat mengancam keselamatan kapal dan/atau jiwa manusia berupa:

a. Kapal tenggelam b. Kapal terbakar c. Kapal tubrukan d. Kapal kandas

Menurut Pasal 117 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang disebutkan mengenai keselamatan dan keamanan perairan, disebutkan bahwa:

(14)

27

(1) Keselamatan dan keamanan angkutan perairan kondisi terpenuhnya persyaratan:

a. Kelaiklautan kapal, dan b. Kenavigasian

(2) Kelaiklautan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a wajib dipenuhi setiap kapal sesuai dengan daerah-daerahnya yang meliputi:

a. Keselamatan kapal

b. Pencegahan pencemaran dari kapal c. Pengawalan kapal

d. Garis muat kapal dan pemuatan

e. Kesejahteraan awak kapal dan kesehatan penumpang f. Status hukum kapal

g. Manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari kapal, dan

h. Manajemen keamanan kapal

(3) Pemenuhan setiap persyaratan kelaiklautan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat dan surat kapal.

5. Perjanjian Pengangkutan Laut a. Pengertian Perjanjian

Menurut Subekti perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Peristiwa ini timbulah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya.

Perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis (Subekti, 2005:

1).

(15)

28

Berdasarkan ketentuan Pasal 1313 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perjanjian adalah perbuatan dimana satu orang atau lebih mengikatkan diri terhadap satu orang lain atau lebih.

Syarat sahnya perjanjian menurut Pasal 1320 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata diperlukan empat syarat, yaitu:

1) Sepakat mereka yang mengikatkan diri (Toestemming). Kesesuaian, kecocokan, pertemuan kehendak dari yang mengadakan perjanjian atau pernyataan kehendak yang disetujui antara para pihak. Unsur kesepakatan yaitu:

a) offerte (penawaran) adalah pernyataan pihak yang menawarkan.

b) acceptasi (penerimaan) adalah pernyataan pihak yang menerima penawaran.

Jadi kesepakatan itu penting diketahui karena merupakan awal terjadinya perjanjian.

2) Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Menurut pendapat Handri Raharjo dalam ilmu hukum, kecakapan dibedakan menjadi (Handri Raharjo, 2009: 47-57) :

a) kecakapan tindakan pribadi orang perseorangan (Pasal 1329 sampai dengan Pasal 1331 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata). menurut ketentuan Pasal 1330 KUHPerdata, pada prinsipnya semua orang dianggap cakap untuk melakukan perbuatan hukum.

b) kecakapan dalam hubungan dengan pemberian kuasa untuk dapat melakukan tindakan hukum, baik pemberi kuasa maupun penerima kuasa harus sama-sama cakap.

c) kecakapan dalam hubungannya dengan sifat perwalian dan perwakilan. Dalam hal perwalian harus memperhatikan kewenangan bertindak yang diberikan oleh hukum, peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Suatu hal tertentu. Mengenai hal ini terdapat dalam Pasal 1332 dan 1333 KUHPerdata. Berdasarkan ketentuan Pasal 1332 KUHPerdat a

(16)

29

dijelaskan bahwa hanya barang-barang yang dapat diperdagangkan saja dapat menjadi pokok suatu perjanjian.

Sedangkan pada Pasal 1333 KUHPerdata yaitu suatu perjanjian harus mempunyai pokok berupa suatu barang yang sekurang- kurangnya ditentukan jenisnya. Jumlah barang itu tidak perlu pasti, asal saja jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung.

4) Suatu sebab yang halal. Isi dari perjanjian tidak dilarang oleh Undang-Undang atau tidak bertentangan dengan kesusilaan atau ketertiban umum yang diatur dalam Pasal 1337 KUHPerdata.

Sedangkan berdasarkan ketentuan Pasal 1335 dijelaskan bahwa sutau persetujuan tanpa sebab, atau dibuat berdasarkan suatu sebab yang palsu atau yang terlarang, tidaklah mempunyai kekuatan.

b. Perjanjian Pengangkutan Laut

Menurut Abdulkadir Muhammad, pengangkutan sebagai perjanjian selalu didahului oleh kesepakatan antara pihak pengangkut dengan pihak penumpang atau pihak pengirim. Kesepakatan tersebut pada dasarnya berisi kewajiban dan hak sebagai pihak pengangkut dan penumpang atau pengirim. Kewajiban pengangkut adalah mengangkut penumpang atau barang sejak di tempat pemberangkatan sampai ke tempat tujuan yang telah disepakati dengan selamat. Sebagai imbalan, pengangkut berhak memperoleh sejumlah uang jasa atau uang sewa yang disebut biaya pengangkutan. Sedangkan kewajiban penumpang atau pengirim adalah membayar sejumlah uang sebagai biaya pengangkutan dan memperoleh hak atas pengangkutan sampai di tempat tujuan dengan selamat (Abdulkadir Muhammad, 2013: 2).

Secara umum, dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) tidak dijumpai definisi pengangkut, kecuali dalam pengangkutan laut.

Menurut Siti Nurbaiti suatu perjanjian pengangkutan pada dasarnya merupakan suatu perjanjian biasa, yang dengan sendirinya tunduk pada ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk suatu perjanjian

(17)

30

pada umumnya, yaitu tunduk pada ketentuan yang terdapat dalam Buk u ke III KUHPerdata tentang Perikatan, selama tidak ada pengaturan khusus tentang perjanjian pengangkutan dalam peraturan perUndang- Undangan di bidang angkutan (Siti Nurbaiti, 2009: 13).

Berdasarkan ketentuan Pasal 38 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran menjelaskan bahwa perusahaan angkutan di perairan wajib mengangkut penumpang dan/atau barang yang disepakati dalam perjanjian pengangkutan. Perjanjian pengangkutan di buktikan dengan karcis penumpang dan dokumen muatan.

c. Pihak-Pihak dalam Pengangkutan Laut

Menurut Abdulkadir Muhammad pihak-pihak dalam pengangkutan adalah para subjek hukum sebagai pendukung hak dan kewajiban dalam hubungan hukum pengangkutan, yaitu pihak-pihak yang terlibat secara langsung dalam proses perjanjian sebagai pihak d alam perjanjian pengangkutan, terdiri atas (Abdulkadir Muhammad, 2013: 59):

1) pihak pengangkut;

2) pihak penumpang;

3) pihak pegirim; dan 4) pihak penerima kiriman.

Pihak-pihak yang berkepentingan dengan pengangkutan sebagai perusahaan penunjang pengangkutan. Mereka itu adalah:

1) perusahaan ekspedisi muatan;

2) perusahaan agen perjalanan;

3) perusahaan agen pelayaran; dan 4) perusahaan muatan bongkar.

Pihak pengangkut pada hukum pengangkutan dapat berstatus badan hukum, persekutuan bukan badan hukum, atau perseorangan.

Pihak penumpang selalu berstatus perseorangan, sedangkan pihak penerima kiriman dapat berstatus perseorangan atau perusahaan. Pihak- pihak lainnya yang berkepentingan dengan pengangkutan selalu

(18)

31

berstatus perusahaan badan hukum atau persekutuan bukan badan hukum (Abdulkadir Muhammad, 2013: 53).

Menurut H.M.N. Purwosutjipto pihak-pihak dalam pengangkutan yaitu pengangkut dan pengirim. Pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan/atau orang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. Lawan dari pihak pengangkut adalah pengirim yaitu pihak yang mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan, dimaksudkan juga ia memberikan muatan (H.M.N. Purwosutjipto, 2003: 4).

Pihak-pihak yang telah diuraikan diatas merupakan pihak-pihak yang secara langsung terkait pada perjanjian pengangkutan. Disamping pihak yang terkait langsung, ada juga mereka yang secara tidak langsung terikat pada perjanjian pengangkutan niaga karena bukan pihak melainkan bertindak atas nama atau untuk kepentingan pihak lain, seperti ekspeditur, agen perjalanan, pengusaha bongkar muat, pengusaha perdagangan, atau karena dia memperoleh hak dalam perjanjian pengangkutan niaga seperti penerima (Abdulkadir Muhammad, 2013: 54).

6. Syahbandar

a. Pengertian Syahbandar

Kata syahbandar menurut etimologinya terdiri dari kata Syah dan Bandar. Syah berarti penguasa dan kata Bandar berarti pelabuhan- pelabuhan dan sungai-sungai yang digunakan sebagai tempat kepil atau tempat labuh, tempat-tempat kepil pada jembatan panggah dan jembatan-jembatan muat, dermaga-dermaga dan cerocok-cerocok dan tempat-tempat kepil lainnya yang lazim digunakan oleh kapal-kapal, juga daerah laut yang dimaksudkan sebagai tempat-tempat kepil kapal- kapal yang karena syaratnya atau sebab lain, tidak dapat masuk dalam batas-batas tempat kepil yang lazim digunakan.

Berdasarkan pengertian di atas, terlihat beberapa unsur yang berhubungan langsung satu sama lainnya yaitu adanya penguasa laut,

(19)

32

sungai, dermaga dan kapal. Atau dengan kata lain ada unsur manusia (pengusaha/pemerintah) dan unsur sarana dan prasarana yaitu laut dan sungai, dermaga dan kapal. Sarana dan prasarana harus diatur dan ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang lancaran lalu lintas angkuan laut (Aguw Randy Y. C., 2013: 46-47).

Menurut Rudolph Matthee, Shahbandar berasal dari bahasa Persia (bahasa Inggris: harbourmaster), yang artinya komandur/ kepala pelabuhan. Syahbandar adalah sebutan bagi seorang pejabat pelabuhan di Safawi Persia dan dikenal juga di pantai lain di Samudra Hindia.

Syahbandar bertanggung jawab atas para pedagang di pelabuhan dan bertanggung jawab pula atas pengumpulan pajak (Rudolph Matthee, 2012: 716).

Menurut Purnadi Purbatjaraka, syahbandar pertama kali ditemukan di Indonesia pada bagian pantai utara Pulau Sumatra, kemudian menyebar ke bagian timur Nusantara Indonesia, seperti Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara (Purnadi Purbatjaraka, 1961: 2-3).

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Pasal 1 ayat 56, Syahbandar adalah pejabat pemerintah di pelabuhan yang diangkat oleh Menteri dan memiliki kewenangan tertinggi untuk menjalankan dan melakukan pengawasan terhadap dipenuhinya ketentuan peraturan perundang-undangan untuk menjamin keselamatan dan keamanan pelayaran.

b. Fungsi Syahbandar

Menurut Pasal 207 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, fungsi syahbandar adalah melaksanakan fungsi keselamatan dan keamanan pelayanan yang mencakup, pelaksanaan pengawasan dan penegakan hukum di bidang pengangkutan di perairan, kepelabuhan dan perlindugan lingkungan maritim di pelabuhan.

(20)

33 c. Tugas Syahbandar

Menurut Pasal 208 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, tugas syahbandar adalah:

1) Mengawasi kelaiklautan kapal, keselamatan keamanan dan ketertiban di pelabuhan.

2) Mengawasi tertib lalu lintas di perairan pelabuhan dan alur pelayaran.

3) Mengawasi kegiatan alih muat di perairan pelabuhan.

4) Mengawasi kegiatan syahbandar dan pekerjaan bawah air.

5) Mengawasi kegiatan penundaan kapal.

6) Mengawasi pemanduan.

7) Mengawasi bongkar muat barang berbahaya serta limbah bahan berbahaya dan beracun.

8) Mengawasi pengisian bahan bakar.

9) Mengawasi ketertiban embarkasi dan debarkasi penumpang.

10) Mengawasi pengerukan dan reklamasi.

11) Mengawasi kegiatan pembangunan fasilitas pelabuhan.

12) Melaksanakan bantuan pencarian dan penyelamatan.

13) Memimpin penanggulangan pencemaran dan pemadaman kebakaran di pelabuhan.

14) Mengawasi pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim.

d. Kewenangan Syahbandar

Menurut Pasal 209 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, kewenangan syahbandar adalah:

1) Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pemerintahan di pelabuhan.

2) Memeriksa dan menyimpan surat, dokumen, dan warta kapal.

3) Menerbitkan persetujuan kegiatan kapal di pelabuhan.

4) Melakukan pemeriksaan kapal.

5) Menerbitkan surat persetujuan berlayar.

6) Melakukan pemeriksaan kecelakaan kapal.

(21)

34

7) Menahan kapal atas perintah pengadilan.

8) Melaksanakan sijil awak kapal.

Lalu menurut Pasal 3 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 36 Tahun 2012 tentang Organisasi Tata Kerja Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan fungsi dari kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan adalah :

1) Pelaksanaan pengawasan dan pemenuhan kelaiklautan kapal, sertifikasi kapal, pencegahan pencemaran dari kapal dan penetapan status hukum kapal.

2) Pelaksanaan pemeriksaan manajemen keselamatan kapal.

3) Pelaksanaan pengawasan keselamatan dan keamanan pelayaran terkait dengan kegiatan bongkar muat barang berbahaya, barang khusus, limbah berbahaya dan beracun (B3), pengisian bahan bakar, ketertiban embarkasi dan debarkasi penumpang, pembangunan fasilitas pelabuhan, pengerukan dan reklamasi, laik layar dan kepelautan, tertib lalu lintas kapal di perairan pelabuhan dan alur pelayaran, pemanduan dan penundaan kapal, serta penertiban surat persetujuan berlayar.

4) Pelaksanaan pemeriksaan kecelakaan kapal, pencegahan dan pemadaman kebakaran di perairan pelabuhan, penanganan musibah di laut, pelaksanaan perlindungan lingkungan maritim dan penegakkan hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran.

5) Pelaksanaan koordinasi kegiatan pemerintah di pelabuhan yang terkait dengan pelaksanaan pengawasan dan penegakkan hukum di bidang keselamatan dan keamanan pelayaran.

(22)

35 e. Subjek Hukum

Dikutip dari situs doktorhukum.com

(https://doktorhukum.com/perbedaan-subjek-hukum-orang-pribadi- naturlijk-persoon-dan-badan-hukum-rechtpersoon/, diakses pada tanggal 30 September 2021, pukul 19.54 WIB), pada dasarnya subjek hukum perdata adalah orang (persoon). Namun subjek hukum orang (persoon) tersebut dibagi menjadi 2 (dua), yaitu pertama manusia pribadi (naturalijk persoon) dan kedua, badan hukum (rechtpersoon).

1) Manusia pribadi (naturalijk persoon)

Adanya pengakuan bahwa manusia pribadi (naturalijk persoon) sebagai subjek hukum pada umumnya dimulai sejak dilahirkan, perkecualiannya dapat dilihat pada Pasal 2 KUHPerdata yang menyatakan bahwa anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap telah dilahirkan bilamana kepentingan si anak menghendaki. Sedangkan , meninggal sewaktu dilahirkan dianggap tidak pernah ada.

Berakhirnya subjek hukum manusia pribadi adalah pada saat meninggal dunia.

2) Badan hukum (rechtpersoon)

Badan hukum adalah perkumpulan atau organisasi yang oleh hukum diperlakukan seperti manusia yang juga mempunyai hak dan kewajiban. Terdapat beberapa syarat materiil yang harus dipenuhi dalam pembentukan badan hukum, yaitu ada harta kekayaan terpisah, mempunyai tujuan tertentu, mempunyai kepentingan sendiri, ada organisasi teratur.

Berakhirnya badan hukum tidak sama dengan manusia pribadi, dikarenakan badan hukum berakhir karena dibubarkan berdasarkan perjanjian atau dibubarkan berdasarkan hukum yang berlaku dengan menerbitkan instrumen hukum yang dikeluarkan oleh pemerintah.

(23)

36 7. Wanprestasi

a. Pengertian Wanprestasi

Menurut Abdulkadir Muhammad wanprestasi yaitu tidak memenuhi kewajiban yang telah disepakati dalam perikatan. Kewajiban tidak dapat dipenuhi oleh salah satu pihak karena kemungkinan alasan, yaitu (Abdulkadir Muhammad, 2010: 241):

1) kesalahan debitor, baik kesengajaan maupun kelalaian; dan 2) keadaan memaksa (force majeure).

Menurut Mariam Darus Badrulzaman, bentuk wanprestasi itu hanya ada tiga macam, yaitu (Mariam Darus Badrulzaman, 2015: 18):

1) Debitur sama sekali tidak memenuhi perjanjian.

Hal ini jelas debitur tidak mau melaksanakan prestasi perikatan yang telah disanggupinya untuk dilaksanakan. Debitur secara tegas menolak melakukan untuk melakukan prestasi yang telah diperjanjikannya kepada kreditur, dalam keadaan ini pihak kreditur dapat menuntut ganti rugi.

2) Debitur terlambat memenuhi perjanjian.

Keadaan ini kreditur belum mengetahui secara pasti dari debitur, karena pada umumnya dalam suatu perjanjiaan para pihak tidak menentukan jangka waktu prestasi perlu diberikan jangka waktu untuk memastikan pelaksanaan prestasi tersebut.

Oleh karena itu diperlukan somasi yang menentukan kapan prestasi harus dilaksanakan, akan tetapi jika debitur tetap tidak melaksanakan prestasinya, maka ia dapat dinyatakan lalai, dimana pihak kreditur dapat meminta ganti rugi.

3) Debitur keliru atau tidak pantas memenuhi perjanjian.

Keadaan ini sama dengan debitur tidak melaksanakan prestasi sama sekali, oleh karena itu tidak perlu dilakukan somasi.

(24)

37 b. Akibat Hukum Wanprestasi

Menurut Abdulkadir Muhammad akibat yang dilakukan salah satu pihak tidak memenuhi prestasi, antara lain: (Abdulkadir Muhammad, 2010: 242-243)

1) Debitor wajib membayar ganti kerugian (Pasal 1243 KUHPerdata);

2) Apabila perikatan tersebut timbal balik, maka pemutusan melalui pengadilan (Pasal 1266 KUHPerdata);

3) Apabila perikatan tersebut untuk memberikan sesuatu, maka resiko akan beralih (Pasal 1237 ayat (2) KUHPerdata);

4) Debitor wajib membayar biaya perkara jika dimuka pengadilan dinyatakan bersalah.

Kewajiban membayar ganti rugi tersebut timbul seketika terjadi kelalaian, melainkan baru efektif setelah debitor dinyatakan lalai dan tetap tidak melaksanakan prestasinya. Hal ini diatur dalam Pasal 1243 KUHPerdata yang menyatakan penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan Ialai, tetap Ialai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.

8. Ganti Rugi

a. Pengertian Ganti Rugi

Ganti rugi adalah cara pemenuhan atau kompensasi oleh pengadilan yang diberikan kepada satu pihak yang menderita kerugian oleh pihak lain yang melakukan kelalaian atau kesalahan sehingga menyebabkan kerugian (http://www.kamusbisnis.com/arti/ganti-rugi, diakses pada tanggal 19 September 2020, pukul 19.23 WIB).

Menurut Abdulkadir Muhammad bahwa Pasal 1234 KUHPerdata sampai dengan Pasal 1248 KUHPerdata merupakan pembatasan- pembatasan yang sifatnya sebagai perlindungan undang- undang

(25)

38

terhadap pengangkut dari perbuatan sewenang-wenang pihak penumpang sebagai akibat wanprestasi (Abdulkadir Muhammad, 2013:

41).

Berdasarkan ketentuan Pasal 100 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran menjelaskan Orang perseorangan warga negara Indonesia dan/atau badan usaha yang melaksanakan kegiatan di pelabuhan bertanggung jawab untuk mengganti kerugian atas setiap kerusakan pada bangunan dan/atau fasilitas pelabuhan yang diakibatkan oleh kegiatannya. Pemilik dan/atau operator kapal bertanggung jawab untuk mengganti kerugian atas setiap kerusakan pada bangunan dan/atau fasilitas pelabuhan yang diakibatkan oleh kapal. Untuk menjamin pelaksanaan tanggung jawab atas ganti kerugian pemilik dan/atau operator kapal yang melaksanakan kegiatan di pelabuhan wajib memberikan jaminan..

Berdasarkan ketentuan tersebut penumpang berhak mendapatkan ganti rugi akibat kesalahan yang dilakukan oleh pengangkut.

b. Unsur-Unsur Ganti Rugi

Berdasarkan ketentuan Pasal 1246 KUHPerdata menyebutkan bahwa biaya, ganti rugi dan bunga, yang boleh dituntut kreditur, terdiri atas kerugian yang telah dideritanya dan keuntungan yang sedianya dapat diperolehnya, tanpa mengurangi pengecualian dan perubahan.

Menurut Abdulkadir Muhammad dari Pasal 1246 KUHPerdata tersebut dapat ditarik unsur-unsur ganti rugi adalah sebagai berikut (Abdulkadir Muhammad, 2010: 41):

1) ongkos-ongkos atau biaya-biaya yang telah dikeluarkan (cost), misalnya ongkos cetak, biaya materai, biaya iklan;

2) kerugian karena kerusakan, kehilangan atas barang kepunyaan kreditur akibat kelalaian debitur (damages). Kerugian disini adalah yang sungguh-sungguh diderita, misalnya busuknya buah-buahan karena keterlambatan penyerahan,.

(26)

39

3) bunga atau keuntungan yang diharapkan (interest). Karena debitur lalai, kreditur kehilangan keuntungan yang diharapkannya.

(27)

40

B. Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

• Tanggung Jawab Penyelenggara Pengangkutan Laut atau Syahbandar

• Ganti Rugi Penyelenggara

Pengangkutan Laut atau Syahbandar

Hak Penumpang Perjanjian Pelayaran

Penumpang

Wanprestasi Force Majeure

(Keadaan Memaksa) Faktor

Cuaca

Teknis Operasional

Kerusakan Pada Kapal

Efisiensi Pihak Penyelenggara Kecelakaan Kapal yang Mengakibatkan

Kematian Penumpang

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran

(28)

41 Keterangan:

Kerangka pemikiran di atas mencoba memberikan gambaran mengenai berpikir dalam menggambarkan, menelaah, menjabarkan, dan menemukan jawaban atas permasalahan hukum tentang pertanggung jawaban pihak penyelenggara pengangkutan laut atau syahbandar terhadap penumpang jika mengalami kecelakaan selama berlayar dan mengakibatkan kematian terhadap penumpang. Hubungan hukum antara pihak penumpang dengan pihak penyelenggara pengangkutan laut terjadi pada saat penumpang membeli tiket sebagai pemenuhan kewajiban untuk membayar biaya penggunaan jasa pelayaran dan penumpang berhak mendapatkan haknya untuk diantar sampai ke tujuan dengan aman, selamat dan tepat waktu.

Perjanjian pelayaran ini memuat hak-hak dan kewajiban antara pihak penyelenggara pengangkutan laut dan penumpang. Penyelenggara pengangkutan laut memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan pelayaran sesuai dengan perjanjian yang tertera pada tiket. Pada saat waktu pelayaran dan ternyata terjadi kecelakaan kapal dimana hak penumpang tidak dapat dipenuhi.

Faktor terjadinya kecelakaan pelayaran dapat disebabkan karena faktor cuaca ataupun faktor teknis selama operasional dalam hal ini pihak penyelenggara pelayaran dibebaskan dari tanggung jawab karena dianggap batal yang bisa disebut dengan force majeure atau keadaan memaksa atau kejadian di luar kehendak para pihak. Beda halnya apabila kecelakaan kapal terjadi karena faktor kerusakan pada kapal dan alasan efisiensi pihak penyelenggara maka dapat menimbulkan wanprestasi atau melanggar perjanjian terhadap penumpang.

Dengan tidak dipenuhinya kewajiban dari pihak penyelenggara pelayaran, sebagai wujud pelaksanaan perlindungan terhadap penumpang, penyelenggara pengangkutan laut harus memenuhi tanggung jawab atas kecelakaan kapal yang mengakibatkan kematian penumpang berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Selain tanggung jawab pihak penyelenggara pengangkutan laut juga harus memberikan ganti rugi kepada pihak keluarga penumpang yang dirugikan akibat dari kecelakaan kapal.

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Terbukti dari hasil FGD dan wawancara terhadap 14 (empat belas) orang pemustaka, menyatakan yaitu 10 (sepuluh) orang pengguna perpustakaan mengatakan pustakawan/ petugas

tersebut ingin memecah belah bangsa Indonesia. Kelompok tersebut tidak ikut berjuang mengusir Penjajah. Mereka tidak belajar Islam secara mendalam, padahal dalam

2. Hasil Pembelajaran Pada Siklus II.. Pembelajaran yang dilakukan adalah untuk mengetahui proses peningkatan hasil belajar siswa terhadap pelajaran salat

Dalam tulisan ini dijabarkan pengelolaan hutan produksi alam yang dilaksanakan di Indonesia, pengelolaan hutan skala kecil dan kegiatan yang akan dilakukan terhadap hutan

Adanya konsentrasi uap pelarut yang melebihi batas ketentuan yang berlaku dapat mengakibatkan efek negatif pada kesehatan seperti iritasi pada membran mucous dan sistem

Untuk Pejabat Eseion HI dan IV beserta staf di luar lingkup Sekretariat Daerah Kota Banjarmasin, penandatanganan Surat Tugas dan Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) luar daerah

Secara umum, perbedaan kelimpahan perifiton setiap stasiun dipengaruhi oleh faktor fisika dan kimia perairan yang sama untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan

Pada hasil percobaan kita dapat melihat bahwa gambar puncak gelombang output lebih jelas terlihat dan lebih beraturan dari gambar gelombang output pada saat nilai