• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. ANALISA DAN PEMBAHASAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

4. ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

Karakteristik responden yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan tiap bulan, tabungan tiap bulan, harga apartemen, jumlah total pinjaman, uang muka, suku bunga, jangka waktu, angsuran tiap bulan serta keputusan kredit pemilikan apartemen. Adapun karakteristik tersebut disajikan pada tabel-tabel di bawah ini:

Tabel 4.1. Karakteristik Responden dalam Faktor Demografi dengan Keputusan Kredit Pemilikan Apartemen

Karakteristik Responden Keputusan Kredit Total Diterima Ditolak

Jenis Kelamin:

Laki-laki 46 15 61

Perempuan 28 11 39

Usia:

21-30 tahun 11 6 17

31-40 tahun 32 6 38

41-50 tahun 25 9 34

Diatas 50 tahun 6 5 11

Pendidikan:

Dibawah SMP 3 3 6

SMA 20 11 31

Sarjana 43 12 55

Master/Doktor 8 0 8

(2)

Tabel 4.2. Lanjutan Tabel 4.1.

Karakteristik Responden Keputusan Kredit Total Diterima Ditolak

Pekerjaan:

Pegawai Swasta 28 14 42

Pegawai Negeri 8 2 10

Wiraswasta 36 10 46

Professional 2 0 2

Pendapatan per Bulan:

<25.000.000 32 22 54

25.000.000-50.000.000 24 3 27

50.000.000-75.000.000 10 1 11

>75.000.000 8 0 8

Berdasarkan tabel 4.1 dan 4.2 diatas, dapat dilihat bahwa 46% responden yang kreditnya diterima adalah responden laki-laki yang rata-rata berusia 31-40 tahun.

Dengan tingkat pendidikan sarjana yang sebagian besar bekerja sebagai wiraswasta dengan pendapatan 25.000.000 rupiah setiap bulannya. Sedangkan pengajuan kredit yang paling banyak ditolak adalah responden pria dengan kisaran umur 41-50 tahun.

Bertingkat pendidikan sarjana dan merupakan pegawai swasta dengan pendapatan dan di bawah 25.000.000 rupiah per bulan.

Tabel 4.3. Karakteristik Responden dalam Faktor Finansial dengan Keputusan Kredit Pemilikan Apartemen

Karakteristik Responden Keputusan Kredit Total Diterima Ditolak

Harga:

<250.000.000 18 11 29

250.000.000,1-500.000.000 27 12 39

500.000.000,1-750.000.000 19 1 20

(3)

Tabel 4.4. Lanjutan dari Tabel 4.3

Karakteristik Responden Keputusan Kredit Total Diterima Ditolak

>750.000.000,1 10 2 12

Total Pinjaman:

<250.000.000 32 16 48

250.000.000,1-500.000.000 30 7 37

500.000.000,1-750.000.000 4 2 6

>750.000.000,1 8 1 9

Persentase Uang Muka:

20% 1 3 4

30% 35 21 56

40% 17 2 19

>40% 1 0 1

Persentase Suku Bunga:

9% 20 1 21

10% 20 3 23

11% 22 8 30

12% 11 13 24

>13% 1 1 2

Jangka Waktu Pinjaman:

12-60 bulan 22 1 23

61-120 bulan 38 15 53

121-180 bulan 14 10 24

Angsuran tiap bulan:

<25.000.000 65 24 89

25.000.000,1-50.000.000 6 2 8

50.000.000,1-75.000.000 2 0 2

>75.000.000,1 1 0 1

(4)

Berdasarkan Tabel 4.3. dan 4.4. dapat dilihat bahwa 27% pengajuan kredit yang diterima berada pada kisaran harga apartemen 250.000.000,1-500.000.000 rupiah. Dengan melakukan pembayaran uang muka sebesar 30% sehingga mengakibatkan jumlah total pinjaman menjadi dibawah 250.000.000,1 rupiah. Suku bunga yang didapatkan berada pada poin 11% dengan jangka waktu pinjaman rata-rata 60-120 bulan sehingga dapat meringankan angsuran bulanan dengan membayar dibawah 25.000.000,1 setiap bulannya. Di sisi lain, sebesar 12% kredit ditolak dengan besar suku bunga pinjaman sebesar 13%.

Tabel 4.5. Karakteristik Responden dalam Tabungan dengan Keputusan Kredit Pemilikan Apartemen

Karakteristik Responden Keputusan Kredit Total Diterima Ditolak

Tabungan:

<25.000.000 49 23 72

25.000.000-50.000.000 11 2 13

50.000.000-75.000.000 7 1 8

>75.000.000 7 0 7

4.2. Hasil Analisa Data Uji Chi-Square

Tabel 4.6. Chi-Square Faktor Demografi dan Faktor Finansial Harga Uang

Muka

Total Pinjaman

Suku Bunga

Jangka Waktu

Angsuran per bulan Jenis

Kelamin

0,783 0,391 0,074 0,108 0,784 0,760

Usia 0,132 0,940 0,356 0,722 0,238 0,574

Pendidikan 0,015 0,556 0,027 0,260 0,968 0,237 Pekerjaan 0,002 0,378 0,011 0,053 0,261 0,000 Pendapatan 0,000 0,002 0,000 0,583 0,191 0,000

(5)

Hasil uji Chi-square antara faktor demografi dan faktor finansial dapat dilihat pada table 4.4. Dapat dilihat bahwa nilai p value pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan tabungan < 0,05 dengan harga yang berarti signifikan. Kemudian, pendapatan memiliki hubungan dengan uang muka ditunjukkan dengan p value sebesar 0,002.

Tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan hubungan berhubungan signifikan dengan total pinjaman dengan nilai p value < 0,05. Sedangkan pekerjaan, pendapatan dan tabungan memnuhi syarat signifikansi dengan p value 0,000.

Tabel 4.7. Chi-Square Tabungan dan Faktor Finansial Harga Uang

Muka

Total Pinjaman

Suku Bunga

Jangka Waktu

Angsuran per bulan Tabungan 0,000 0,071 0,000 0,177 0,756 0,000

Hasil uji chi-square antara tabungan dan faktor finansial menunjukkan bahwa tabungan dengan harga, total pinjaman serta angsuran menunjukkan angka signifikan dengan p value < 0,05. Dimana hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel-variabel tersebut.

Tabel 4.8. Chi-Square Hubungan antara Faktor Demografi dan Finansial dengan Keputusan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) di Surabaya

Variabel Keputusan Terima / Tolak KPA

Jenis Kelamin 0,688

Usia 0,173

Pendidikan Terakhir 0,077

Pekerjaan 0,476

Pendapatan per Bulan 0,003

Tabungan per Bulan 0,151

Harga Apartemen 0,520

(6)

Tabel 4.9. Lanjutan dari Tabel 4.8.

Variabel Keputusan Terima / Tolak KPA

Jumlah Uang Muka 0,000

Total Pinjaman 0,319

Besar Suku Bunga Pinjaman

0,002

Jangka Waktu Pinjaman 0,012

Angsuran per Bulan 0,777

Hasil uji hipotesa hubungan antara faktor demografi dan faktor finansial dengan keputusan kredit pemilikan apartemen (KPA) di Surabaya menunjukkan bahwa p value

< 0,05 dimana pendapatan, jumlah uang muka, suku bunga pinjaman, dan juga jangka waktu pinjaman saling berhubungan dengan keputusan kredit pemilikan apartemen (KPA) di Surabaya. Sedangkan jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, tabungan, harga, total pinjaman, angsuran tidak memenuhi syarat p value < 0,05 yang berarti tidak signifikan atau tidak memiliki hubungan dengan keputusan kredit pemilikan apartemen (KPA) di Surabaya.

4.3. Pembahasan

Dalam penelitian ini, pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan tabungan menjadi faktor penentu sesorang untuk menentukan seberapa besar harga apartemen yang dapat dibeli sesuai dengan kemampuan orang tersebut. Hal ini sependapat dengan Quercia dan Wachter (1996) bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka peluang pekerjaan yang didapat akan semakin besar dan baik. Sehingga dengan pekerjaan yang baik hal ini diharapkan dapat memberikan efek peningkatan pada tingkat pendapata.

Dimana semakin tinggi jabatan seseorang dalam suatu perusahaan, maka tingkat pendapatnnya pun akan semakin tinggi pula. Dengan semakin tingginya tingkat pendapatan, maka jumlah tabungan juga akan semakin tinggi, dengan pendapatan yang tinggi, seseorang dapat menyisihkan sejumlah uang dalam jumlah yang lebih besar

(7)

Dengan begitu, maka orang tersebut mampu membeli apartemen dengan harga yang lebih tinggi dan juga dapat memperkecil jumlah dari total pinjaman. Sehingga dengan total pinjaman yang lebih kecil maka jumlah angsuran yang harus dibayarkan setiap bulan juga akan menjadi lebih sedikit, apalagi bila orang tersebut memilih jangka waktu yang lebih panjang. Dengan tingkat pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik, seseorang dapat memperhitungkan dan lebih hati-hati dalam mengkalkulasi seberapa besar batas kemampuannya dalam mengajukan ataupun melakukan kredit. Sehingga meminimalkan resiko gagal bayar di masa yang akan datang.

Hasil uji hipotesa hubungan antara faktor demografi dan faktor finansial dengan keputusan kredit pemilikan apartemen (KPA) di Surabaya menunjukkan bahwa p value

< 0,05 dimana pendapatan, jumlah uang muka, suku bunga pinjaman, dan juga jangka waktu pinjaman saling berhubungan dengan keputusan kredit pemilikan apartemen (KPA) di Surabaya. Tingkat pendapatan menjadi penentu dari keputusan diterima atau ditolaknya sebuah pinjaman. Seperti yang telah diuraikan diatas, tingkat pendapatan yang tinggi memberikan efek positif terhadap kredit yang akan dilakukan. Sebab dengan pendapatan yang tinggi, seorang pelaku kredit diharapkan dapat membayar uang muka dan juga jumlah angsuran yang lebih besar.

Tabungan memiliki p value > 0.05 dengan uang muka dimana hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan antara kedua variabel. Hal ini bertentangan dengan Hendershott dan Peek (1989), Krumm dan Kelly (1989), Skinner (1989), dan Hsueh dan Lee (1998) dimana mereka menyatakan bahwa tabungan berhubungan dengan pembayaran uang muka. Dimana seorang harus menabung untuk membayar sejumlah uang muka untuk membeli apartemen maupun rumah.

Jangka waktu dan juga suku bunga pinjaman mengindikasikan signifikansi dengan hasil p value ≤ 0,05. Sependapat dengan Chan dan Kanatas (1985), Besanko dan Thakor (1987a), dan Blester (1987) bahwa seseorang cenderung memilih suku bunga yang lebih besar dengan jangka waktu yang lebih panjang. Seorang yang mengajukan kredit dengan pendapatan yang lebih kecil, memiliki kecenderungan untuk memilih jangka waktu yang lebih panjang dan dengan suku bunga pinjaman yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan kemampuan bayar peminjam lebih rendah oleh sebab itu

(8)

untuk menghindari resiko gagal bayar, orang tersebut memilih jangka waktu yang lebih panjang. Lain hal nya dengan yang memiliki pekerjaan dan pendapatan yang lebih baik, kecenderungannya orang tersebut akan memilih jangka waktu pinjaman yang lebih pendek dengan suku bunga yang lebih rendah pula dimana dalam hal ini orang tersebut harus membayarkan sejumlah angsuran yang lebih besar setiap bulannya.

Dengan ini dapat dilihat bahwa hubungan antara faktor demografi dan faktor finansial dengan keputusan kredit pemilikan apartemen (KPA) adalah bahwa kedua faktor tersebut menjadi pertimbangan untuk diterima atau ditolaknya sebuah pengajuan kredit. Besanko dan Thakor (1987b), menyatakan bahwa apabila seseorang dapat memperhitungkan serta mempertimbangkan semua faktor tersebut dengan baik, maka potensi untuk diterimanya sebuah kredit akan menjadi lebih besar. Sebab orang tersebut telah memperkirakan seberapa besar kapasitas dan kemampuannya sebelum pada akhirnya mengajukan kredit kepada pihak bank.

Referensi

Dokumen terkait

Gayarupa Seni bina Prairie adalah nama yang telah diberikan kepada reka bentuk segelintir arkitek Amerika yang mementingkan bahasa seni bina vernakular Amerika dengan menggunakan

1) Meneruskan kehidupan demokratis seperti pemerintahan sebelumnya (memberikan kebebasan berpendapat di kalangan masyarakat minoritas, kebebasan beragama, memperbolehkan

Dari pengertian di atas, disimpulkan bahwa kinerja karyawan adalah kemampuan mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan, dimana suatu target kerja dapat diselesaikan

Kenyataan menunjukkan bahwa pada umumnya mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Cenderawasih memiliki tingkat penguasaan matematika yang

Hasil uji lipase (Gambar 7) menunjukkan bahwa ketiga isolat khamir adalah negatif yang ditandai dengan tidak adanya zona bening yang terdapat disekitar koloni khamir.. Hal

Admin memasukkan username dan password yang akan divalidasi ke dalam database, apabila username dan password salah akan kembali ke halaman login, jika benar

a) Pola retak spesimen merupakan retak lentur yang merambat menjadi retak geser lentur, tetapi retak lentur lebih dominan, sehingga keruntuhan yang terjadi adalah

Flame Assisted Spray Pyrolysis adalah salah satu metode yang tidak memerlukan biaya mahal, efektif digunakan untuk produksi dalam jumlah yang banyak, produk