1 A. Latar Belakang
Pembangunan ekonomi merupakan bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan akhir meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Pembangunan ekonomi negara pada dasarnya ditujukan untuk mencapai kemakmuran bersama melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Pertumbuhan ekonomi adalah pertumbuhan produksi yang dibentuk oleh sektor-sektor ekonomi yang berbeda untuk mewakili bagaimana kemajuan atau resesi sektor ekonomi itu terjadi selama periode waktu tertentu.
Salah satu indikator keberhasilan pembangunan ekonomi yang paling penting adalah pertumbuhan ekonomi, yang merupakan dampak nyata dari kebijakan pembangunan yang dilaksanakan. Pertumbuhan ekonomi erat kaitannya dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah dapat dilihat dari nilai PDRB riil di wilayah tersebut. PDRB riil adalah total nilai produksi barang dan jasa yang diproduksi di suatu daerah dengan menghitung suatu angka tertentu.
Permasalahan yang dihadapi oleh peningkatan PDRB riil di daerah memiliki banyak faktor yang berpengaruh, salah satunya adalah kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Agar proses mendorong pertumbuhan ekonomi berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka kebijakan yang dilaksanakan
oleh pemerintah perlu diidentifikasi terlebih dahulu dan disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Keterbatasan dan kegagalan dapat terjadi jika proses pembangunan tidak secara sinergis memadukan unsur-unsur yang mendukung pembangunan.
Supartoyo et al. (2014) menemukan bahwa pengukuran akan kemajuan sebuah perekonomian memerlukan alat ukur yang tepat, berupa alat pengukur pertumbuhan ekonomi antara lain yaitu Produk Domestik Bruto (PDRB) yaitu jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam jangka waktu satu tahun dan dinyatakan dalam harga pasar.
Dari definisi tersebut, bahwa Produk Domestik Reginal Bruto (PDRB) diketahui menjadi salah satu faktor yang digunakan sebagai ukuran dasar untuk menghitung pertumbuhan ekonomi di daerah. Pertumbuhan ekonomi bisa positif atau negatif. Pertumbuhan ekonomi positif mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi selama periode tersebut, dan pertumbuhan ekonomi negatif mencerminkan penurunan aktivitas ekonomi selama periode tersebut. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi mencerminkan situasi ekonomi suatu negara, dan tingginya tingkat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) suatu wilayah dapat menjadi ukuran keberhasilan suatu wilayah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Setiap provinsi di Indonesia memiliki batas wilayah yang berbeda dalam hal jumlah penduduk, sumber daya alam, tenaga kerja dan tingkat pendidikan, yang menjadikan wilayah ini lebih makmur dan berkembang dibandingkan dengan provinsi lain. Setiap provinsi di Indonesia sedang melalui proses pembangunan
ekonomi yang komprehensif dan berkelanjutan untuk meningkatkan perekonomian rakyat. Pencapaian hasil pembangunan dipengaruhi oleh keberadaan kabupaten/kota di provinsi tersebut, termasuk sumber daya yang tersedia. Otonomi daerah dicanangkan oleh pemerintah Dalam Undang-undang Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2014 yang menggantikan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, Tujuan penyelenggaraan otonomi daerah dimana peran pemerintah daerah menjadi lebih besar untuk mengurus urusan pemerintahannya termasuk didalamnya dalam hal pembangunan ekonomi.
Dengan adanya desentralisasi dimana pemerintah memberikan kewenangan, keleluasaan kepada tiap-tiap daerah untuk mengembangkan pembangunan ekonomi berdasarkan potensi daerahnya.
Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki jumlah penduduk terbanyak yaitu 49 935 858 jiwa dan juga memiliki potensi yang besar baik dari pariwisata maupun budaya yang sangat kaya. Jawa barat juga memiliki banyak kontribusi terhadap Indonesia diantaranya berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional sebesar Rp 626 triliun atau 14,6%, kontribusi terhadap produk domestik (PDB) Sektor Industri Manufaktur sebanyak 41,8%, Kontribusi Investasi 15,9% terhadap nasional. Selain itu jawa barat juga mempunyai jumlah tenaga kerja yang banyak untuk penggerak dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi yaitu 21.674.854 orang.
Pembangunan nasional bertujuan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang pada akhirnya mendorong tercapainya kebahagiaan
masyarakat. Perkembangan pertumbuhan ekonomi kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Kabupaten dan Kota Tahun 2020 (Miliyar Rupiah)
Tabel 1. 1 Sumber BPS Provinsi Jawa Barat olahan Tableau
Dari tabel 1.1 PDRB ADHK Kabupaten dan Kota di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2017-2019 tiap tahunnya terus meningkat dan pada tahun 2020 terjadi penurunan. Kabupaten dan Kota yang memiliki nilai PDRB yang besar pada tahun 2020 yaitu Kabupaten Bekasi sebesar 243.195 milliyar rupiah
sedangkan PDRB yang memiliki nilai sedikit yaitu pada Kota Banjar dengan nilai sebesar 3.255 milliyar rupiah.
Meningkat dan turunnya PDRB di kabupaten dan kota Provinsi Jawa Barat ditunjukkan oleh dampak dari jumlah tenaga kerja, jumlah investasi, dan jumlah industri. Tenaga kerja dalam pembangunan nasional merupakan faktor yang menentukan laju pertumbuhan perekonomian baik dalam kedudukannya sebagai tenaga kerja produktif maupun konsumen. Dikarenakan manusialah yang menggerakkan atau mengoperasikan seluruh sumber-sumber tersebut untuk menghasilkan suatu barang yang bernilai yang nantinya akan berpengaruh terhadap besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di suatu daerah (Susanto, 2012).
Keberhasilan pertumbuhan PDRB tidak terlepas dari peningkatan investasi.
Jika tujuan utama dari suatu investasi adalah untuk memperoleh keuntungan yang layak di kemudian hari, maka dengan meningkatnya kegiatan investasi, demikian pula kegiatan ekonomi pun ikut meningkat. Menurut Sukirno (2012:121), investasi dapat diartikan menjadi pengeluaran atau pengeluaran penanam-penanam kapital atau perusahaan buat membeli barang-barang kapital serta perlengkapan-perlengkapan produksi buat menambah kemampuan menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.
Penanaman modal pada bentuk investasi akan memberikan kontribusi yang besar pada menaikkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Peranan sektor industri pada menaikkan pertumbuhan ekonomi berupa peningkatan hasil sektor industri, selain sebab adanya peningkatan jumlah
tenaga kerja, juga tidak terlepas dari adanya peranan investasi (Rudyansah, 2010). Industri (perindustrian) di Indonesia merupakan salah satu komponen perekonomian yang penting. Perindustrian memungkinkan perekonomian kita berkembang pesat serta semakin baik, sebagai akibatnya membawa perubahan dalam struktur perekonomian nasional (Julianto & Suparno, 2016).
Berdasarkan naik turunnya Produk Domestik Regional Bruto dikarenakan oleh pengaruh jumlah tenaga kerja, investasi, dan jumlah industri, sehingga dilakukan penelitian dan mengetahui bagaimana pengaruh dari jumlah tenaga kerja, investasi, dan jumlah industri untuk menjaga kestabilan Produk Domestik Bruto di Provinsi Jawa Barat.
B. Rumusan Masalah
Melihat dari keadaan riil yang terjadi di Provinsi Jawa Barat, maka dapat dirumuskan bagaimana pengaruh jumlah tenaga kerja, investasi, dan jumlah industri terhadap PDRB di Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Barat tahun 2017-2020.
C. Batasan Masalah
Sesuai dengan yang dituliskan dalam perumusan masalah di atas, agar pembahasan ini tidak meluas difokuskan pada pengaruh Jumlah Tenaga Kerja, Investasi, Jumlah Industri, terhadap PDRB Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Barat tahun 2017-2020.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah yang telah di uraikan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh jumlah
tenaga kerja, investasi, dan jumlah industri terhadap PDRB di Kabupaten dan Kota Provinsi Jawa Barat tahun 2017-2020.
E. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan atau informasi kepada para pengambil kebijakan terutama kepada pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat dan intansi terkait, dalam menentukan langkah kebijakan untuk pengembangan produksi di Provinsi Jawa Barat.
2. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat tambahan variabel dan referensi teori yang lebih baik sehingga dapat dipakai sebagai bekal jika nantinya terjun ke masyarakat.