• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

1. LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan merupakan obyek dari analisis terhadap laporan keuangan.

Oleh karena itu, memahami latar belakang penyusunan dan penyajian laporan keuangan merupakan langkah yang sangat penting sebelum menganalisis laporan keuangan itu sendiri.

1.1 PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN

Akuntansi adalah seni daripada pencatatan, penggolongan dan peringkasan daripada peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang setidak-tidaknya sebagian bersifat keuangan dengan cara yang setepat-tepatnya dan dengan penunjuk atau dinyatakan dalam uang, serta penafsiran terhadap hal-hal yang timbul daripadanya.

Dari definisi akuntansi tersebut diketahui bahwa peringkasan dalam hal ini dimaksudkan adalah pelaporan dari peristiwa-peristiwa keuangan perusahaan yang dapat diartikan sebagai laporan keuangan, menurut Myer dalam bukunya Financial Statement Analysis mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laporan keuangan adalah: " Dua daftar yang disusun oleh Akuntan pada akhir periode untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah daftar neraca atau daftar posisi keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi-laba. Pada waktu akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk menambahkan daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar Iaba yang tak dibagikan (laba yang ditahan)".

9

(2)

10

Pada umumnya laporan keuangan itu terdiri dari Neraca dan Perhitungan Rugi Laba serta Laporan Perubahan Modal, di mana Neraca menunjukkan/

menggambarkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan Perhitungan (laporan) Rugi Laba memperlihatkan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu, dan Laporan Perubahan Modal menunjukkan sumber dan penggunaan atau alasan- alasan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan. Tetapi dalam prakteknya sering diikut-sertakan kelompok lain yang sifatnya membantu untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut, misalnya laporan perubahan modal kerja, laporan sumber dan penggunaan kas atau laporan arus kas, laporan sebab-sebab perubahan laba kotor, laporan biaya produksi serta daftar-daftar lainnya. (Drs. S. Munawir, Ak., 1996, 5)

1.2 ARTIPENTINGNYA LAPORAN KEUANGAN

Kondisi keuangan suatu perusahaan akan dapat diketahui dari laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, yaitu terdiri dari Neraca, Laporan Perhitungan Rugi Laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan mengadakan analisa terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisa terhadap laporan rugi labanya akan memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.

1.3 KOMPONEN-KOMPONEN LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan yang lengkap biasanya akan meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan, catatan dan laporan lain serta materi

(3)

penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan, termasuk juga skedul dan informasi tambahan yang berkaitan dengan laporan keuangan.

Dua jenis laporan keuangan (utama) yang umumnya dibuat oleh setiap perusahaan adalah neraca dan laporan laba rugi (dan biasanya dilengkapi dengan laporan perubahan modal), yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Neraca

Neraca adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai posisi keuangan (aktiva, kewajiban dan ekuitas) perusahaan pada saat tertentu.

b) Laporan Laba-Rugi

Laporan laba rugi adalah laporan keuangan yang memberikan informasi mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu.

Meskipun neraca dan laporan laba rugi merupakan dua dokumen yang terpisah, akan tetapi keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat dan saling terkait, serta merupakan suatu siklus. Antara neraca dan laporan laba rugi sering dihubungkan dengan satu laporan yang disebut laporan perubahan modal (laba ditahan), yang memberikan informasi mengenai perubahan modal (laba ditahan) selama periode tertentu. (Drs. Dwi Prastowo D., MM., Akt., 1995, hal 16 - 17) 1.3.1 NERACA

Untuk dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu, neraca mempunyai tiga unsur laporan keuangan, yaitu aktiva, kewajiban dan ekuitas.

(Drs. Dwi Prastowo D., MM., Ak., 1995,17)

(4)

12

1.3.1.1 AKTIVA

Merupakan sumber daya yang dikuasai perusahaan dapat disubklasifikasi lebih jauh menjadi lima sub-klasifikasi aktiva, yaitu:

• Aktiva lancar, yaitu aktiva yang manfaat ekonominya diharapkan akan diperoleh dalam waktu satu tahun atau kurang (atau siklus operasi normal), misalnya kas, surat berharga, persediaan, piutang dan persekot biaya.

• Investasi jangka panjang, yaitu penanaman modal yang biasanya dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan tetap atau untuk menguasai perusahaan lain dan jangka waktunya lebih dari satu tahun, misalnya investasi saham, investasi obligasi.

• Aktiva tetap, yaitu aktiva yang memiliki substansi fisik, digunakan dalam operasi normal perusahaan (tidak dimaksudkan untuk dijual) dan memberikan manfaat ekonomi lebih dari satu tahun. Termasuk dalam sub- klasifikasi aktiva ini antara lain tanah, gedung, kendaraan dan mesin serta peralatan.

• Aktiva yang tidak berwujud, yaitu aktiva yang tidak mempunyai substansi fisik dan biasanya berupa hak atau hak istimewa yang memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam sub-klasifikasi aktiva ini misalnya patent, goodwill, royalty, hak cipta, merek/nama dagang, franchise dan lisensi.

(5)

• Aktiva Iain-lain, yaitu aktiva yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari empat sub-klasifikasi tersebut, misalnya beban ditangguhkan, piutang kepada direksi.

1.3.1.2 KEWAJIBAN

Merupakan utang perusahaan masa kini dapat disub-klasifikasi lebih jauh menjadi tiga sub-klasifikasi, yaitu:

• Kewajiban lancar, yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu satu tahun atau kurang (atau siklus operasi normal). Termasuk dalam kategori kewajiban ini misalnya utang dagang, utang wesel, utang gaji dan upah, utang pajak, dan utang biaya.

• Kewajiban jangka panjang, yaitu kewajiban yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan (yang memiliki manfaat ekonomi) dalam jangka waktu lebih dari satu tahun. Termasuk dalam kategori kewajiban ini misalnya utang obligasi, utang hipotik dan utang bank.

• Kewajiban Iain-lain, yaitu kewajiban yang tidak dapat dikategorikan ke dalam salah satu sub-klasifikasi kewajiban tersebut, misalnya utang pada Direksi.

(6)

14

1.3.1.3 EKUITAS

Merupakan bagian hak pemilik dalam perusahaan yang merupakan selisih antara aktiva dan kewajiban yang ada. Unsur ekuitas ini dapat disubklasifikasikan lebih jauh menjadi dua sub-klasifikasi, yaitu:

• Ekuitas yang berasal dari setoran para pemilik, misalnya modal saham (termasuk agio saham bila ada)

• Ekuitas yang berasal dari hasil operasi, yaitu laba yang tidak dibagikan kepada para pemilik, misalnya dalam bentuk dividen (ditahan)

1.3.2 LAPORAN LABA RUGI

Untuk dapat menggambarkan informasi mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu , laporan laba rugi mempunyai dua unsur, yaitu penghasilan dan beban. (Drs. Dwi Prastowo D., MM., Ak., 1995,20)

1.3.2.1 PENGHASILAN (INCOME)

Diartikan sebagai kenaikan manfaat ekonomi dalam bentuk pemasukan atau peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban (yang menyebabkan kenaikan ekuitas selain yang berasal dari kontribusi pemilik) perusahaan selama periode tertentu dapat disubklasifikasikan menjadi:

a) Pendapatan (revenues)

Penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas yang biasa dan yang dikenal dengan sebutan yang berbeda, seperti misalnya penjualan

(7)

barang dagang, penghasilan jasa, pendapatan bunga, pendapatan dividen, royalitas dan sewa.

b) Keuntungan (gains)

Pos lain yang memenuhi definisi penghasilan dan mungkin timbul atau tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa, yang meliputi misalnya pos yang timbul dalam pengalihan aktiva lancar, revaluasi sekuritas, kenaikan jumlah aktiva jangka panjang.

1.3.2.2 BEBAN (EXPENSE)

Penurunan manfaat ekonomi dalam bentuk arus keluar atau penurunan aktiva atau kewajiban (yang menyebabkan penurunan ekonomis yang tidak menyangkut pembagian kepada pemilik) perusahaan selama periode tertentu dapat disubklasifikasikan menjadi:

a) Beban

Timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa (yang biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas, persediaan, aktiva tetap), yang meliputi misalnya harga pokok penjualan, gaji dan upah, penyusutan.

b) Kerugian

Mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang timbul atau tidak timbul dari aktivitas perusahaan yang biasa, seperti misalnya rugi karena bencana kebakaran, banjir atau pelepasan aktiva tidak lancar.

Selisih antara total penghasilan dan beban disebut penghasilan bersih (laba).

Di dalam laporan laba rugi, keuntungan dan kerugian biasanya disajikan secara

(8)

16

terpisah, sehingga akan memberikan informasi yang lebih baik dalam pengambilan keputusan ekonomi.

1.4 BENTUK-BENTUK LAPORAN KEUANGAN

1.4.1 NERACA

Neraca dapat disajikan dengan menggunakan dua bentuk (format), yaitu bentuk rekening (skontro) dan bentuk laporan (stafel), yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut: (Drs. Dwi Prastowo D., MM., Ak., 1995, 18)

a. Rekening (skontro)

Pada bentuk ini, unsur aktiva disajikan pada sisi kiri (debit), sedangkan unsur kewajiban dan ekuitas disajikan pada sisi kanan (kredit).

b. Laporan (stafel)

Pada bentuk ini baik aktiva, kewajiban maupun ekuitas disajikan secara unit dari atas ke bawah, yang dimulai dari aktiva, kewajiban dan terakhir ekuitas.

Contoh neraca yang disusun baik dalam bentuk rekening (skontro) maupuq laporan (stafel) disajikan berikut ini.

(9)

Tabel2.1

PT BAGAS PERKASA JAYA Neraca

Per 31 Desemberl994 (Bentuk Rekening)

AKTIVA Aktiva lancar

Investasi Aktiva tetap

Aktiva tak berwujud Aktiva Iain-Iain

Total Aktiva

Rp 100.000,00 250.000,00 1.000.000,00 100.000,00 50.000,00

Rp 1.500.000,00

KEWAJIBAN DAN EKUITAS Kewajiban lancar

Kewajiban jk panjang Kewajiban Iain-Iain Total kewajiban Modal saham Laba ditahan

Total kewajiban dan ekuitas

Rp 250.000,00 200.000,00

50.000,00 Rp 500.000,00

800.000,00 200.000,00 Rp 1.500.000,00

Sumber: Drs. Dwi Prastowo D, MM., Ak., 1995,18

(10)

Tabel 2.2

PT BAGAS PERKASA JAYA Neraca

Per 31 Desember 1994 (Bentuk Laporan)

AKTIVA Aktiva Lancar:

Kas

Surat Berharga Piutang Dagang Persediaan Supplies Porsekot Biaya Total Aktiva Lancar Investasi

Aktiva Tetap:

Tanah Bangunan Mesin

Mebel dan Peralatan Akumulasi Depresiasi Total Aktiva Tetap Aktiva Tak Berwujud:

Patent Trade Mark

Total Aktiva Tak Berwujud Aktiva Lain-lain

Total Aktiva

KEWAJIBAN DAN EKUITAS Kewajiban Lancar:

Utang Dagang Utang Wesel Utang PPh Utang Biaya Utang jatuh tempo Total Kewajiban Lancar

Kewajiban Jangka Panjang-Obligasi Kewajiban Lain-lain

Total Kewajiban EKUITAS Modal Saham Laba Ditahan

Total Kewajiban dan Ekuitas

Rp 25.400,00 15.200,00 42.000,00 4.700,00 4.900,00

Rp 60.500,00 882.400,00 18.300,00 227.900,00 (422.000,00)

Rp 10.000,00 5.000,00

Rp 16.500,00 4.200,00 20.900,00 800,00 26.000,00

Rp 200.000,00 120.100,00

Rp 92.200,00

Rp 767.100,00

Rp 15.000,00 Rp 10.000,00 Rp 900.300,00

Rp 68.400,00 Rp 486.000,00 25.000,00 Rp 580.200,00

Rp 320.100,00 Rp 900.300,00

Sumber: Drs. Dwi Prastowo D., MM., Ak., 1995, 19

(11)

1.4.2 LAPORAN LABA RUGI

Laporan laba rugi dapat disajikan dengan menggunakan dua bentuk, yaitu bentuk single-step dan bentuk multiple-step, yaitu dapat dijelaskan sebagai berikut:

(Drs. Dwi Prastowo D., MM., Ak., 1995,2) a. Single-Step

Pada bentuk ini semua penghasilan yang diperoleh dari berbagai kegiatan/aktivitas dikelompokkan menjadi satu kelompok yang disebut kelompok penghasilan, sedangkan untuk semua beban dikelompokkan ke dalam satu kelompok yang disebut biaya. Penghasilan bersih (laba) merupakan selisih antara kelompok penghasilan dan total kelompok beban.

b. Multiple-Step

Pada bentuk ini penghasilan bersih (laba) dihitung secara bertahap sesuai dengan aktivitas perusahaan. Dengan demikian, semua penghasilan dan beban disajikan sesuai dengan kegiatan/aktivitas, yaitu kegiatan usaha, di luar usaha dan luar biasa.

Bentuk laporan laba rugi dalam berbagai bentuk dan konsep disajikan pada contoh-contoh berikut ini:

(12)

Tabel 2.3

PT BAGAS PERKASA JAYA Laporan Laba Rugi

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 1994 (Single Step)

Penjualan barang Pendapatan sewa Pendapatan dividen Total penghasilan Harga pokok penjualan Beban usaha

Biaya bunga

Rugi kebakaran gedung Total beban

Laba sebelum pajak Pajak(15%)

Penghasilan (laba) bersih

Rp 1.000.000,00 10.000,00 10.000,00 Rp 1.020.000,00

Rp 600.000,00 1.00.000,00 15.000,00 25.000,00 Rp 740.000,00 Rp 280.000,00 42.000,00 Rp 238.000,00

Sumber: Drs. Dwi Prastowo D , MM., Ak., 1995,22

(13)

PT BAGAS PERKASA JAYA Laporan Laba Rugi

Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 1994 (Multiple-step, All-inclusive)

Penjualan Barang

Harga Pokok Penjualan Laba Kotor

Beban Usaha:

Biaya Pemasaran Biaya Administrasi umum

Laba Usaha

Pendapatan dan Beban di Luar Usaha Pendapatan Sewa

Pendapatan Dividen Biaya Bunga

Pos Luar Biasa

Rugi Kebakaran Gedung Laba Sebelum Pajak

Pajak(15%)

Penghasilan (laba) Bersih

Rp 25.000,00 75.000,00

Rp 10.000,00 10.000,00 (15.000,00)

Rp 1.000.000,00 600.000,00 Rp 400.000,00

100.000,00 Rp 300.000,00

Rp 5.000,00 Rp 305.000,00 (25.000,00) Rp 280.000,00 Rp 42.000,00 Rp 238.000,00

Sumber: Drs. Dwi Prastowo D., MM., Ak., 1995, 22

(14)

22

1.5 HUBUNGAN NERACA DENGAN LAPORAN LABA RUGI

Untuk mengetahui tendensi atau trend bertambahnya modal atau kekayaan perusahaan, ini hanya akan diketahui dari Neraca, tetapi untuk mengetahui kemajuan atau sebab-sebab perubahan modal tersebut diperlukan laporan yang lain, yaitu Laporan Laba Rugi.

Bagi calon kreditor untuk mengetahui jaminan (borg) yang disediakan oleh perusahaan atas semua hutang-hutangnya akan dapat dilihat dalam neraca, tetapi untuk mengetahui kemampuan perusahaan untuk membayar bunga modal yang dipinjamnya sangat tergantung pada keuntungan di masa mendatang, hal ini akan diketahui dari laporan laba rugi yang dibuat oleh perusahaan yang bersangkutan, dan hanya perusahaan yang mampu memperoleh keuntungan dari modal yang dipinjamnyalah yang merupakan jaminan yang baik bagi para kreditor.

2. ANALISA LAPORAN KEUANGAN

2.1 PENGERTIAN ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Analisa laporan keuangan pada hakikatnya adalah kegiatan untuk mengadakan penilaian atau pengkajian atas keadaan keuangan dan potensi atas kemajuan-kemajuan suatu perusahaan melalui laporan keuangan perusahaan tersebut dengan mempelajari angka-angka yang terdapat dalam laporan keuangan dan mencari hubungan sebab akibatnya.

(15)

2.2 TUJUAN ANALISA LAPORAN KEUANGAN

Bagi pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan, data-data keuangan tersebut diperbandingkan untuk dua periode atau lebih dan dianalisa lebih lanjut guna mendukung pengambilan keputusannya.

Khususnya bagi manajemen keuangan, dengan selalu mengadakan analisa atas laporan keuangan mempunyai tujuan agar apabila terdapat kekurangan-kekurangan dalam manajemennya dapat segera dicari sebab-sebabnya untuk kemudian diperbaiki di masa yang akan datang.

23 METODE DAN TEKNIK ANALISA

2.3.1 TUJUAN METODE DAN TEKNIK ANALISA

Setiap metode dan teknik analisa bertujuan untuk menyederhanakan data sehingga lebih dapat dimengerti. Seorang penganalisa harus mengorganisir atau mengumpulkan data yang diperlukan, mengukur dan kemudian menganalisanya dengan menggunakan suatu metode dan teknik analisa tertentu. Setelah itu barulah diinterpretasikan sehingga data tersebut menjadi lebih berarti.

23.2 KEGUNAAN METODE DAN TEKNDX ANALISA

Metode dan teknik analisa digunakan untuk menentukan dan megukur hubungan antara pos-pos yang ada dalam laporan keuangan, sehingga dapat diiketahui perubahan-perubahan dari masing-masing pos tersebut bila diperbandingkan dengan laporan keuangan dari beberapa periode untuk suatu perusahaan tertentu, atau diperbandingkan dengan alat-alat pembanding lainnya.

(16)

24

Misalkan diperbandingkan dengan laporan keuangan yang dibudgetkan atau laporan keuangan perusahaan lain yang sejenis. (Drs. Syafaruddin AIwi, 1989,93)

3. KLASIFIKASIMETODE DAN TEKNIK ANALISA

Pada bagian ini penulis akan membahas tentang macam-macam metode dan macam-macam teknik analisa yang digunakan dalam menganalisa laporan keuangan perusahaan. (Drs. Syafaruddin Alwi, 1989,93)

3.1 METODE ANALISA

Ada dua cara atau metode yang dapat dilakukan di dalam membandingkan rasio keuangan perusahaan, yaitu:

• Cross Sectional Approach

• Time Series Analisis

3.1.1 CROSS SECTIONAL APPROACH

Metode ini dilakukan dengan jalan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang satu dengan perusahaan lain yang sejenis dan kira-kira hampir sama ukurannya, atau dengan rasio rata-rata industri pada saat yang sama.

Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa baik/buruk suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya atau dengan rasio rata- rata industri. Disamping itu terdapat kesulitan juga di dalam mendapatkan / mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan keuangan dari suatu _pecusahaan,karena sebagian besar perusahaan di Indonesia masih tertutup

!manajeroennya.

(17)

3.1.2 TIME SERIES ANALYSIS

Metode ini dilakukan dengan jalan membandingkan ratio-ratio yang ada di dalam perusahaan itu sendiri. Ada dua cara di dalam membandingkan rasio-rasio tersebut, yaitu:

• Analisa Horisontal

Analisa dengan mengadakan pembandingan laporan keuangan untuk beberapa periode atau antara rasio saat ini dengan waktu yang lampau, sehingga akan diketahui perkembangan keuangan perusahaan dan dari perkembangan tersebut dapat dibuat rencana-rencana untuk masa yang akan datang. Analisa ini disebut juga analisa dinamis.

• Analisa Vertikal

Analisa dengan mengadakan pembandingan laporan keuangan untuk satu periode saja, yaitu, dengan memperbandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lain dalam laporan keuangan tersebut, sehingga hanya akan diketahui keadaan keuangan atau hasil operasi perusahaan pada saat itu saja.

Analisa vertikal disebut juga sebagai metode analisa yang statis karena kesimpulan yang dapat diperoleh hanya untuk periode itu saja tanpa mengetahui perkembangannya.

(18)

26

3.2 TEKNIKANALISA

Ada banyak teknik analisa yang dapat digunakan di dalam menganalisa laporan keuangan. Dalam penelitian ini penulis akan menjelaskan satu teknik analisa, yaitu, Analisa Ratio.

3.2.1 ANALISA RATIO

Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa ratio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka ratio tersebut dibandingkan dengan angka ratio pembanding yang digunakan sebagai standar.

Analisa ratio seperti halnya alat-alat analisa yang lain adalah "future oriented", oleh karena itu penganalisa harus mampu untuk menyesuaikan faktor- faktor yang ada pada periode atau waktu ini dengan faktor-faktor di masa yang akan datang yang mungkin akan mempengaruhi posisi keuangan atau hasil operasi perusahaan yang bersangkutan.(Drs. S. Munawir, Ak., 1996,64)

Macam-macam Rasio Keuangan

Pada umumnya berbagai ratio yang dihitung bisa dikelompokkan ke dalam 4 (empat) tipe dasar: (Drs. Suad Hasnan, MBA., 1993,63)

1. Ratio likuiditas

Mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya.

(19)

2. Ratio leverage

Mengukur seberapa jauh perusahaan dibelanjai dengan hutang.

3. Ratio aktivitas

Mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan sumber dayanya.

4. Ratio keuntungan

Mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan sebagaimana ditunjukkan dari keuntungan yang diperoleh dari penjualan dan investasi.

Ratio likuiditas dan ratio leverage dikenal sebagai ratio neraca (Balance sheet ratio), karena faktor yang diperbandingkan adalah faktor-faktor yang terdapat dalam neraca. Ratio aktivitas dikenal dengan istilah Inter Statement Ratio, karena faktor yang diperbandingkan adalah antara faktor-faktor yang terdapat dalam laporan laba- rugi dengan faktor-faktor yang terdapat dalam neraca. Sedangkan ratio keuntungan, digolongkan dalam Income Statement Ratio, karena faktor yang diperbandingkan adalah faktor-faktor yang terdapat di dalam laporan laba-rugi.

Ratio Likuiditas

Ratio ini mengukur kemapuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek yang berupa hutang-hutang jangka pendek (short-term debt).

(Drs. Syafaruddin Alwi, 1989,97)

Ratio-ratio yang tergolong dalam ratio likuiditas yaitu:

1. Current Ratio

Ratio ini memeperbandingkan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar. Ratio ini merupakan ratio yang paling umum digunakan untuk menganalisa posisi modal kerja suatu^penisahaan. Current Ratio ini

(20)

28

menunjukkan tingkat keamanan kreditor jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutang-hutang tersebut.

Tetapi suatu perusahaan dengan Current Ratio yang tinggi belum tentu menjamin akan dapat dibayarnya hutang perusahaan yang jatuh tempo karena proporsi atau distribusi dari aktiva lancar yang tidak menguntungkan.

Untuk menghitung Current Ratio dapat digunakan rumus:

Curent Ratio = Aktiva Lancar Hutang Lancar

2. Quick ratio

Ratio ini disebut juga sebagai Acid Test Ratio yaitu perbandingan antara (Aktiva Lancar - Persediaan) dengan Hutang Lancar.

Ratio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan tidak memperhitungkan persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk direalisir menjadi uang kas dan menganggap bahwa piutang segera dapat direalisir sebagai uang kas, walaupun kenyataannya mungkin persediaan lebih likuid daripada piutang.

Untuk menghitung Quick Ratio dapat digunakan rumus:

Quick Ratio = Aktiva Lancar - Persediaan Hutang Lancar

(21)

Ratio Leverage

Ratio ini menyangkut jaminan, yang mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar hutang bila pada suatu saat perusahaan dilikuidasikan atau dibubarkan.

(Drs. Syafaruddin Alwi, 1989 : 97)

Pengertian lain adalah ratio ini menunjukkan seberapa jauh perusahaan difinansir oleh pihak luar atau kreditor.

Ratio-ratio yang tergolong dalam ratio leverage, yaitu:

1. Total Debt to Equity Ratio

Ratio ini mengukur, seberapa jauh perusahaan dibelanjai dari pihak kreditur. Makin tinggi ratio ini berarti semakin besar dana yang diambil dari luar.

Ditinjau dari sudut solvabilitas, ratio yang tinggi relatif kurang baik, karena bila terjadi likuidasi, perusahaan akan mengalami kesukaran.

Untuk mengukur ratio ini dapat digunakan ramus:

Total Debt to Equity Ratio = Total Hutang Modal sendiri

2. Long Term Debt to Equity Ratio

Long Term Debt to Equity Ratio adalah bagian modal sendiri yang dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjang.

Untuk menghitung ratio ini dapat digunakan ramus:

Long Term Debt to Equity Ratio = Hutang Jangka Panjang Modal Sendiri

(22)

30

3. Total Debt to Assets Ratio

Total Debt to Assets Ratio adalah bagian dari keseluruhan dana yang dibelanjai dengan hutang.

Untuk menghitung ratio ini dapat digunakan rumus:

Total Debt to Assets Ratio = Total Hutang Total Aktiva

4. Time Interest Earned Ratio

Time Interest Earned Ratio adalah besarnya jaminan keuntungan untuk membayar bunga hutang jangka panjang.

Kreditur disamping melihat besarnya hutang dengan kekayaan yang menjadi jaminan, juga memperhatikan kemampuan perusahaan dalam memberikan servis atas hutang tersebut.

Dengan demikian time interest earned ratio yang rendah, menunjukkan gejala yang kurang menguntungkan, karena laba yang tersedia untuk membayar beban bunga relatif kecil dan sebaliknya.

Untuk menghitung ratio ini dapat digunakan rumus:

Time Interest Earned Ratio = EBIT Beban Bunga

Ratio Aktivitas

Ratio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam menggunakan dana yang tersedia yang terjamin dalam perputaran modalnya. (Drs. Syafaruddin Alwi, 1989:

97).

(23)

Ratio-ratio ini yang tergolong dalam ratio aktivitas yaitu:

1. Total Assets Turn Over

Total Assets Turn Over yaitu kemampuan dana yang tertanam dalam keseluruhan perputaran aktiva dalam suatu periode tertentu atau kemampuan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan revenue.

Perputaran yang lamban dari aktiva menunjukkan adanya hambatan, kemungkinan turunnya penjualan, akan mempengaruhi ratio ini.

Diharapkan perputaran total assets akan semakin naik, yang berarti pemakaian lebih efisien.

Untuk menghitung Total assets turn over ini dapat digunakan rumus:

Total Assets Turn Over = Penjualan bersih Jumlah Aktiva a. Fixed Assets Turn Over

Fixed Assets Turn Over adalah perputaran yang ingin mengukur kecepatan perputaran modal yang tertanam di dalam aktiva tetap.

Biasanya tertanam di dalam gudang, mesin, perlengkapan.

Untuk menghitung fixed assets turn over dapat digunakan rumus:

Fixed Assets Turn Over = Penjualan Aktiva Tetap b. Current Assets Turn Over

Current Assets Turn Over adalah perbandingan antara penjualan dengan jumlah aktiva lancar.

(24)

32

Untuk menghitung current assets turn over dapat digunakan rumus:

Current Assets Turn Over = Penjualan Aktiva Lancar

2. Inventory Turn Over

Inventory Turn Over adalah merupakan ratio antara jumlah harga pokok barang yang terjual dengan nilai rata-rata persediaan yang dimiliki oleh perusahaan. Perputaran ini menunjukkan berapa kali jumlah persediaan barang dagangan diganti dalam satu tahun.

Bila ratio ini rendah, berarti masih banyak stock yang belum terjual.

Hal ini akan menghambat cash flow, sehingga berpengaruh terhadap keuntungan.

Untuk menghitung Inventory Turn Over ini dapat digunakan rumus:

Inventory Turn Over = Harga Pokok Penjualan Rata-rata Persediaan

3. Average Day's Inventory

Average Day's Inventory adalah periode rata-rata persediaan barang berada di gudang.

Untuk menghitung Average Day's Inventory dapat digunakan rumus:

Average Day's Inventory = Rata-rata persediaan x 360 Harga Pokok Penjualan Atau = 360 hari

Perputaran Persediaan

(25)

4. Working Capital Turn Over

Perputaran modal kerja adalah kemampuan perputaran modal kerja (netto) dalam suatu periode tertentu atau indikasi dari siklus dari perusahaan.

Perputaran modal kerja yang rendah menunjukkan adanya kelebihan modal kerja yang mungkin disebabkan rendahnya perputaran persediaan, piutang atau adanya saldo kas yang terlalu besar.

Untuk menghitung Working Capital Turn Over dapat digunakan rumus:

Working Capital Turn Over = Penjualan Bersih Modal Kerja Rata-rata

Ratio Keuntungan

Ratio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. (Drs.

Syafaruddin Alwi, 1989 : 97). Ratio-ratio yang tergolong dalam ratio keuntungan yaitu:

1. Gross Profit Margin

Gross Profit Margin adalah merupakan ratio atau perimbangan antara Gross Profit (laba kotor) yang diperoleh perusahaan dengan tingkat penjualan yang dicapai pada periode yang sama.

Ratio ini dipengaruhi oleh penjualan dan biaya operasi. Ratio yang rendah, bisa disebabkan penjualan turun lebih besar dari turunnya ongkos, dan sebaliknya. Setiap perusahaan berkepentingan terhadap profit margin yang tinggi.

(26)

34

Untuk menghitung Gross Profit Margin dapat digunakan rumus:

Gross Profit Margin = Laba Kotor Penjualan Bersih

2. Operating Ratio

Operating ratio mencerminkan tingkat efisiensi perusahaan sehingga ratio yang tinggi menunjukkan keadaan yang kurang baik karena berarti bahwa setiap rupiah penjualan yang terserap dalam biaya juga tinggi, dan tersedia untuk laba kecil. Tetapi ratio yang tidak mungkin tidak hanya disebabkan oleh faktor intern yang dapat dikendalikan oleh manajemen, tetapi juga faktor extern misalnya faktor harga yang sulit dikendalikan oleh manajemen.

Makin tinggi ratio ini, semakin kurang baik, karena biaya-biaya operasi berarti naik. Gejala ini menunjukkan kemungkinan adanya pemborosan.

Untuk menghitung Operating Ratio dapat digunakan rumus:

Operating Ratio = Laba Usaha Penjualan

3. Net Profit Margin

Net Profit Margin adalah margin keuntungan yang ditentukan atas harga penjualan. Margin keuntungan menunjukkan besar kecilnya laba dibandingkan dengan harga penjualan.

(27)

Untuk menghitung Net Profit Margin dapat digunakan rumus:

Net Profit Margin = Laba Sesudah Pajak /^%^-»

Penjualan feL^ U_"'

4. Earning Power

Earning Power adalah kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bersih.

Tinggi rendahnya earning power memberikan indikasi seberapa jauh efisiensi penggunaan modal, dan turun-naikya penjualan dan biaya.

Diharapkan Earning Power yang diperoleh akan lebih besar dari cost of capital dari dana yang digunakan.

Untuk menghitung Earning Power dapat digunakan rumus:

Earning Power • Laba Sesudah Pajak Jumlah Aktiva

5. Rentabilitas Modal Sendiri

Rentabilitas modal sendiri sering juga dinamakan rentabilitas usaha adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri di satu pihak dengan modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di lain pihak atau dengan kata lain Rentabilitas Modal Sendiri adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan keuntungan.

2 !

(28)

56

Untuk menghitung ratio ini dapat digunakan ramus:

Rentabilitas Modal Sendiri = Laba Sesudah Pajak Modal Sendiri

4. KETERBATASAN ANALISA RATIO

Meskipun ratio-ratio keuangan merapakan alat yang berguna di dalam menganalisa laporan keuangan, namun tetap ada keterbatasannya, sehingga haras digunakan secara hati-hati. Beberapa keterbatasan analisa ratio seperti yang dikatakan oleh David F. Hawkins dalam bukunya yang berjudul Corporate Financial Reporting and Analysis, Text and Cases, 1986 : 185, adalah sebagai berikut:

• Analisa ratio hanya berhubungan dengan data-data yang bersifat kuantitatif, tidak menunjukkan faktor-faktor kualitatifhya, seperti nilai- nilai etika manajemen, kualitas manajemennya, moral para pekerjanya.

Padahal hal tersebut juga perlu dipertimbangkan di dalam mengevaluasi suatu perusahaan.

• Kesamaan dengan ratio-ratio sektor industri yang bersangkutan tidak menjamin bahwa perusahaan berjalan dengan normal dan dikelolah dengan baik. Manajemen dapat saja mengambil tindakan-tindakan jangka pendek sebelum tanggal laporan keuangan guna mempengarahi ratio-ratio keuangannya. Misalnya suatu perusahaan dengan current ratio 1:1 dapat memperbaiki ratio tersebut dengan melunasi hutang-hutang jangka pendeknya sebelum tanggal neraca.

(29)

• Ratio-ratio keuangan disusun dari data akuntansi, sedangkan data tersebut dapat ditafsirkan dengan bermacam-macam cara dan bahkan bisa dimanipulasi. Misalnya perbedaan di dalam menggunakan metode penyusutan atau penilaian persediaan.

• Laporan keuangan sebagai sumber penghitungan ratio-ratio keuangan berasal dari pencatatan akuntansi dalam nilai rupiah secara historis, sementara perubahan dalam nilai rupiahnya dapat menyesatkan pembandingan angka-angka ratio untuk periode waktu yang berbeda.

Referensi

Dokumen terkait

Auditor sistem manajemen lingkungan dibutuhkan untuk mengevaluasi keefektifan implementasi sistem manajemen lingkungan perusahaan yang merupakan kegiatan mandiri, sistematis

Dalam blog ini diberikan beberapa contoh perhitungan struktur jembatan beton prategang mulai dari struktur atas yang terdiri dari slab lantai jembatan dan girder

Guru SMP Yayasan ‘X’ di Bandung diharuskan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaannya, baik tugas utama sebagai guru dan tugas tambahan dari jabatan struktural maupun

Siswantoro M Sadam, dengan judul penelitian pengaruh dana pihak ketiga dan tingkat suku bunga terhadap kredit yang diberikan (studi kasus pada perusahaan perbankan

Motivasi belajar matematika siswa kelas V masih kurang dilihat dari siswa yang masih malas mengerjakan tugas, ada beberapa siswa yang juga mengalami kendala

Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 0,000, yang berarti nilai signifi kan lebih kecil dari taraf signifi kan 5%

WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan WSD merupakan tindakan invasive yang dilakukan untuk mengeluarkan udara, cairan (darah,pus) dari

Dilihat dari hasil penelitian diatas, sebenarnya sudah banyak peran dan program dari pihak pemerintah dan swasta yang diberikan terhadap desa Kranggan, hanya saja dari penduduk