• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN QUALITY OF LIFE (QoL) PENDERITA GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "GAMBARAN QUALITY OF LIFE (QoL) PENDERITA GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Pemahaman konsep sehat oleh masyarakat sangat beragam dan dipengaruhi oleh unsur- unsur pengalaman masa lalu dan unsur sosial budaya (Maulana, 2014). Secara umum masyarakat Indonesia mengartikan sehat sebagai kondisi yang tidak mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang (Elwes dan Sinett,1994) namun saat ini konsep sehat berkembang luas dan sejak tahun 2008 WHO mendefinisikan sehat sebagai suatu keadaan sempurna yang melibatkan kondisi fisik, mental, dan kesejahteraan sosial. bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Pendapat ini diperkuat dengan definisi sehat yang dimuat dalam Undang –undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 yang memberikan batasan tentang kesehatan mencakup keadaan sehat baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Notoatmodjo, 2012).

Hidup sehat merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia meskipun untuk mencapainya mereka haruus menempuh berbagai cara berdasar pola pikir, konsep, teori dan aplikasi yang berbeda (Jegede, 2002). Saat ini, untuk menciptakan hidup yang sehat diperlukan suatu keharmonisan dalam masyarakat yang lebih tinggi terkait penyediaan layanan kesehatan yang berkaitan dengan pengobatan.

Berdasarkan pemaparan diatas, dapat dipahami bahwa sakit fisik tidak terlepas dari kondisi mental dan psikologis yang buruk. Individu yang menderita penyakit fisik cenderung akan mengkhawatirkan kondisi kesehatannya dan apabila penyakitnya tidak kunjung sembuh

(2)

maka hal ini dapat menyebabkan kondisi fisik negatif seperti rasa cemas yang tinggi maupun reaksi stres yang mungkin timbul dan berkembang. Jika kondisi ini dibiarkan secara terus menerus maka masalah kesehatannya tidak hanya terkait penyakit fisik saja namun merambah ke masalah kesejahteraan mental/ psikologis. Kondisi psikologis yang negatif akan memperburuk penyakit fisik yang diderita, penyakit yang mungkin timbul adalah penyakit yang umum di dalam masyarakat yakni penyakit jantung, tekanan darah tinggi (hipertensi), stroke serta masalah pencernaan (gerd).

GERD merupakan salah satu penyakit yang erat kaitannya dengan reaksi psikologis dimana ketika penderita mengalami rasa cemas maka akan lebih sensitif dan menimbulkan GERD. Secara patologis, penyakit ini merupakan keadaan ketika cairan lambung mengalami reflux secara berulang ke dalam esofagus melebihi jumlah yang seharusnya serta menimbulkan gejala yang khas seperti lidah terasa asam, nyeri ulu hati, dada terasa terbakar, serta sulit menelan makanan maupun minuman. (Syam, et al., 2013).

Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI (Purbaningsih 2020), angka presentase penyakit GERD di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 penduduk (Gustin,2011). Persebaran angka kejadian penyakit tersebut cukup tinggi meliputi Surabaya 31,2 %, Denpasar 46%, Jakarta 50% serta Medan dengan angka kejadian paling tinggi sebesar 91,6 % (Sulastri,2012 dalam Sunarmi,2018).

Berdasarkan hasil penelitian, salah satu Rumah Sakit di Bandung periode Januari - Desember 2019 dengan pengumpulan data dari 41 rekam medik pasien GERD di instalasi rawat inap dapat disimpulkan bahwa penderita GERD sebagian besar adalah perempuan sebesar 53,66%, berdasarkan usia paling banyak pada usia 26-35 tahun sebesar 29,26 % (Linda Suherman, 2019).

(3)

Penelitian yang dilakukan di RS Bhayangkara Medan pada Oktober – Desember 2020 menunjukkan bahwa pasien yang didiagnosis GERD cenderung meningkat setiap bulannya dengan presentase peningkatan 44,30 % pada pasien laki-laki dan 55,70% pada pasien perempuan (Eni Siska,2020) Wawancara juga dilakukan dengan tenaga kesehatan di Klinik Cenderawasih Medan dan diperoleh data pasien GERD yang melakukan rawat jalan maupun rawat inap bertambah semenjak beberapa tahun terakhir. Setiap harinya ada 3 – 5 orang yang datang ke klinik dengan keluhan GERD.

Penyakit GERD tidak dapat sembuh secara permanen. Pengobatan yang dianjurkan untuk menangani penyakit ini adalah perubahan pola hidup dan melakukan beberapa terapi serta mengonsumsi obat-obatan yang mengurangi asam di lambung. Kondisi ini tentu sangat memperburuk kondisi psikologis penderita GERD karena harus bergantung pada obat- obatan. Hal tersebut dapat memberikan dampak yaitu berkurangnya kualitas hidup pasien dan mempengaruhi mental pasien (Awadalla,2019).

Perkembangan teknologi, industri, dan sosial ekonomi telah membawa perubahan perilaku dan gaya hidup masyarakat serta lingkungan saat ini seperti salah satunya pola konsumsi makanan yang tidak seimbang.. Sekitar 60% pasien GERD melaporkan gejala memburuk selama stress. Pasien juga telah dilaporkan mengalami penurunan kualitas hidup (World Journal of Gastroenterology, 2017)

Pikiran dan tubuh memiliki hubungan yang berkaitan sehingga kecemasan, ketakutan, dan emosi negatif dapat menyebabkan perubahan kesehatan fisiologis seperti gastroenteritis, penyakit kardiovaskular, penyakit kulit, kanker dan penyakit kronis lainnya (Hamedi &

Ameri, 2013) Kecemasan dan ketakutan yang terus menerus terjadi juga dapat menimbulkan depresi hingga delusi. Depresi merupakan kondisi emosional yang biasanya ditandai dengan

(4)

kesedihan yang amat sangat,perasaan yang tidak berarti,menarik diri,tidak dapat tidur,kehilangan selera makan,serta minat dalam aktivitas yang dilakukan sedangkan delusi adalah kondisi dimana penderita tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak.

(Davison, 2006).

Menurunnya kesehatan individu dari segi fisik maupun psikologis akan mempengaruhi kualitas hidup yang ia miliki. Kualitas hidup merupakan ukuran yang menggambarkan mutu dari berbagai aspek kehidupan manusia dalam upaya pemenuhan kebutuhannya. Beberapa indikator yang mempengaruhi kualitas hidup terdiri dari kesehatan, kemiskinan, pendidikan, keamanan sosial serta terpeliharanya kehidupan (Rahardjo,2005)

Kualitas hidup memiliki beberapa komponen yakni fungsi fisik, status psikologis, fungsi sosial dan gejala yang berhubungan dengan penyakit atau pengobatan (Kahn & Juster, 2002). Seseorang yang dapat mencapai kualitas hidup yang baik kemungkinan besar kehidupannya akan mengarah pada keadaan sejahtera (well-being), sebaliknya jika seseorang mencapai kualitas hidup yang buruk, maka kemungkinan besar kehidupannya akan mengarah pada keadaan tidak sejahtera (ill-being) (Brown, 2004).

GERD memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi fisik, psikologis serta hubungan sosial penderitanya. Aspek –aspek tesebut merupakan bagian dari quality of life (qol). Aspek fisik meliputi aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada obat-obatan, bantuan medis, energi dan kelelahan serta sakit dan ketidak nyamanan, aspek psikologis meliputi tuntutan dari dalam dan luar dirinya sedangkan aspek hubungan sosial meliputi hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas seksual.

Data dari US News and World Report (2019) menunjukkan kualitas hidup Indonesia berada di peringkat ke-40 dari 80 negara yang disurvei. Skor Indonesia tergolong rendah

(5)

dibandingkan dengan negara-negara lainnya, yaitu 1,8 dari skala 10. Rendahnya skor ini disebabkan sembilan indikator yang membentuk kualitas hidup hanya memiliki rata-rata sebesar 1,7. Dari sembilan indikator tersebut, terdapat delapan indikator yang memiliki skor di bawah dua. Indikator terendah terdapat pada sistem kesehatan dan pendidikan dengan skor masing-masing 0,1 dan 0,3. Sementara itu, peringkat terendah selanjutnya terdapat pada stabilitas ekonomi dengan skor 0,4. Stabilitas politik menyusul dengan skor sebesar 0,6.

Untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat mengenai quality of life (qol) penderita GERD, maka peneliti melakukan wawancara kepada 2 penderita yang mendapatkan pernyataan sebagai berikut :

“ Saya menderita GERD sejak tahun 2020. Awalnya saya pikir ini sakit lambung biasa yang akan sembuh dengan cepat namun kenyataannya tidak. Penyakit ini sering kambuh dan membuat saya sulit beraktivitas seperti biasanya, saya harus memilah pekerjaan dan kegiatan yang saya kerjakan padahal terkadang saya harus mengejar deadline yang ada.

Ditambah lagi saya harus benar -benar mengubah pola hidup saya dari makanan, kebiasaan serta belajar mengelola pikiran saya agar tidak mudah stress. Saya merasa hidup yang saya jalani sudah berubah secara signifikan semenjak saya menderita GERD”.

(G, 06 Mar 2022)

“ Pertama kali saya didiagnosa menderita GERD dan diharuskan untuk merubah kebiasaan yang saya jalani selama ini rasanya sangat sulit. Pekerjaan saya yang menuntut harus aktif dalam bergerak dan berpikir juga pastinya sangat terganggu. Saya jadi mudah lelah dan sulit berkonsentrasi apalagi jika GERD ini kambuh ketika saya sedang bekerja.

Selama saya menderita GERD saya juga menjadi orang yang lebih tertutup dan mudah stress”.

(J, 06 Mar 2022) Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber diatas maka dapat dilihat bahwa kualitas hidup yang dimiliki kedua subjek mengalami peurbahan semenjak menderita GERD. Subjek G sulit beraktivitas seperti biasanya dan harus belajar untuk merubah pola hidup yang dimiliki. Subjek J mengalami penurunan kondisi fisik yakni menjadi cepat lelah serta kurang berkonsentrasi dan mudah stress..

(6)

Penelitian ini sesuai dengan penelitian dari Jurnal Fakultas Ilmu Keperawatan UNAIR (2019) yang menunjukkan bahwa GERD menyebabkan kecemasan dan sebaliknya kecemasan menyebabkan meningkatnya reaksi asam di di lambung yang dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan GERD. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa keduanya memiliki hubungan yang berkaitan. Hubungan yang saling mempengaruhi ini bagaikan lingkaran setan yang menimbulkan reaksi fisik dan menimbulkan keluhan seperti sakit tenggorokan, telinga berdengung, sakit kepala dan keluhan lainnya. Jika penderita gerd tidak memperhatikan kondisi psikologisnya maka ia akan berlarut dalam penyakit tersebut sehingga membuat psikologisnya menderita.

Penelitian ini juga selaras dengan penelitian Tandarto (2020) yang melakukan penelitian pada 92 pasien GERD di Rumah Sakit Atma Jaya, Jakarta, Indonesia dari April hingga Juni 2018 yang mengidentifikasi adanya korelasi antara GERD dan kualitas hidup pasien. Hal ini juga semakin memberikan pandangan bahwa penderita GERD akan mengalami reaksi psikologis yang negatif dan mempengaruhi kehidupannya sehari-hari yang tentunya berdampak pada kualitas hidupnya. Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti tertarik untuk mengembangkan penelitian mengenai gambaran quality of life (qol) pada penderita gastroesophageal reflux disease (GERD) .

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah yang ingin diteliti adalah untuk mengetahui gambaran quality of life (qol) pada penderita gastroesophageal reflux disease (GERD).

1.3. TUJUAN PENELITIAN

(7)

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran terperinci mengenai quality of life (qol) pada penderita gastroesophageal reflux disease (GERD).

1.4 MANFAAT PENELITIAN

a. Manfaat Teoritis :

Penelitian ini diharapkan memperkaya sumber pustaka psikologi dan juga sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian selanjutnya yang terkait dengan pembahasan ini.

b. Manfaat praktis :

Penelitian ini diharapkan pengetahuan, solusi dan menjadi sarana pengaplikasian teori tentang kualitas hidup terkhususnya pada penderita GERD.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Quality of Life (QoL)

2.1.1. Definisi Quality of Life (QoL)

(8)

Menurut World Health Organization Quality of Life (WHOQOL) kualitas hidup adalah persepsi individu tentang posisi mereka dalam hidup dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka hidup dan dalam kaitannya dengan tujuan, harapan, standar dan perhatian mereka (Haugan, 2007).

Hornuist mengemukakan kualitas hidup sebagai tingkat kepuasan hidup individu pada area fisik, psikologis, sosial, aktivitas, materi, dan kebutuhan struktural . Quality of Life menurut Taylor, menggambarkan kemampuan individu untuk memaksimalkan fungsi fisik, sosial, psikologis, dan pekerjaan yang merupakan indikator kesembuhan atau kemampuan beradaptasi dalam penyakit kronis (dalam Vergi, 2013).

Cohen & Lazarus (1893) mengartikan kualitas hidup adalah tingkatan yang menggambarkan keunggulan seorang individu yang dapat dinilai dari kehidupan mereka.

Kualitas hidup individu tersebut biasanya dapat dinilai dari kondisi fisiknya, psikologis serta hubungan sosial dan lingkungannya (WHOQOL Group 1998 dalam Larasati, 2012).

2.1.2. Aspek –aspek Quality of Life (QoL)

Terdapat beberapa aspek yang memicu terciptanya kualitas hidup yang baik (Power dalam Lopez dan Snyder, 2004) yaitu :

a. Aspek Kesehatan fisik.

Kesehatan fisik dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk melakukan aktivitas.

Aktivitas yang dilakukan individu akan memberikan pengalaman-p engalaman baru yang merupakan modal perkembangan ke tahap selanjutnya. Kesehatan fisik mencakup aktivitas sehari-hari, ketergantungan pada obat-obatan dan bantuan medis, energi dan kelelahan, mobilitas (keadaan mudah bergerak), sakit dan ketidak nyamanan, tidur dan istirahat dan kapasitas kerja.

(9)

b. Aspek psikologis

Aspek psikologis terkait dengan keadaan mental individu. Keadaan mental mengarah pada mampu atau tidaknya individu menyesuaikan diri terhadap berbagai tuntutan perkembangan sesuai dengan kemampuannya baik tuntutan dari dalam diri maupun dari luar dirinya.

c. Aspek hubungan sosial

Aspek hubungan sosial yaitu hubungan antara dua individu atau lebih dimana tingkah laku individu tersebut akan saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki tingkah laku individu lainnya, mengingat manusia adalah mahluk sosial maka dalam hubungan sosial maka manusia dapat merealisasikan kehidupan serta dapat berkembang menjadi manusia seutuhnya. Hubungan sosial mencakup hubungan pribadi, dukungan sosial, aktivitas seksual.

d. Aspek lingkungan

Aspek lingkungan yaitu tempat tinggal individu termasuk di dalamnya keadaan, ketersediaan tempat tinggal untuk melakukan segala aktivitas kehidupan serta sarana dan prasarana yang dapat menunjang kehidupan.

2.1.3. Faktor – faktor Quality of Life (QoL)

Menurut Ghozally dalam Larasati (2009) faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup diantaranya mengenali diri sendiri, adaptasi, merasakan penderitaan orang lain, perasaan kasih dan sayang, bersikap optimis, mengembangkan sikap empati. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi kualitas hidup adalah :

a. Jenis kelamin

(10)

Fadda dan Jiron (1999) mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan dalam peran serta akses dan kendali terhadap berbagai sumber sehingga kebutuhan atau hal- hal yang penting bagi laki-laki dan perempuan juga akan berbeda.

b. Usia

Wagner, Abbot, dan Lett (2004) menemukan terdapat perbedaan yang terkait dengan usia dalam aspek-aspek kehidupan yang penting bagi individu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ryff dan Singer (1998) individu dewasa mengekspresikan kesejahteraan yang lebih tinggi pada usia dewasa madya.

c. Pendidikan

Pendidikan juga merupakan faktor kualitas hidup, senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahl dkk (2004) menemukan bahwa kualitas hidup akan meningkat seiring dengan lebih tingginya tingkat pendidikan yang didapatkan oleh individu.

d. Pekerjaan

Hultman, Hemlin, dan Hornquist (2006) menunjukkan dalam hal kualitas hidup juga diperoleh hasil penelitian yang tidak jauh berbeda dimana individu yang bekerja memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan individu yang tidak bekerja.

2.2. Reaksi psikologis terhadap GERD yang mempengaruhi QoL.

Faktor psikologis memiliki peran penting dalam perkembangan GERD. Gejala yang dialami penderita secara berulang-ulang akan memicu terjadinya kecemasan hingga depresi.

Respon kecemasan terhadap perilaku ditandai dengan gelisah, tremor, menghindar dan sangat waspada (Stuart dan Sundeen,2007). Respon kecemasan terhadap kognitif adalah perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa, prroduktivitas menurun hingga mimpi buruk

(11)

(Hawari,2008) sedangkan respon kecemasan pada afektif dapat berupa gelisah, gugup, ketakutan, kekhawatiran, kebingungan hingga curiga berlebihan (Suliswati, 2005). Respon yang ditimbulkan ini akan mempengaruhi aktivitas sehari-hari individu dan berdampak besar terhadap kualitas hidupnya.

2.3. Gastreoesophageal reflux disease (GERD)

2.3.1. Definisi Gastreoesophageal reflux disease (GERD)

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) diartikan sebagai suatu gejala dikarenakan regurgitasi dari lambung sehingga mengalami heartburn ( kondisi dada yang panas ) serta gejala lain (Bastari, 2011). GERD menurut Buntara (2020) merupakan gejala komplikasi pada lambung yang disebabkan karena pada motilitas menurun pada saluran cerna sehingga isi lambung masuk kedalam rongga mulut dan esophagus.

2.3.2. Gejala Klinis Gastreoesophageal reflux disease (GERD)

Gejala klinis GERD dapat berupa gejala yang tipikal dam gejala atipikal. Gejala yang dialami penderita GERD, antara lain :

a. Heartburn , kondisi berupa sensasi terbakar di daerah dada dan merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Heartburn adalah rasa panas atau membakar yang dirasakan didaerah sekitar dada dan naik kekerongkongan.

b. Regurgitasi, kondisi ini ditandai dengan naiknya isi lambung ke faring. Gejala lainnya adalah mulut terasa asam dan pahit.

c. Disfagia, kondisi ini ditandai dengan kesulitan menelan makanan/cairan yang muncul dari tenggorokan atau kerongkongan.

d. Batuk Kronik, kondisi ini ditandai dengan batuk yang sudah berlangsung lebih dari dua bulan pada orang dewasa.

(12)

e. Hematemesis, kondisi ini ditandai dengan terdapat darah didalam muntah. Muntah itu sendiri adalah keluarnya isi makanan dalam lambung (Bestari,2011)

2.3.3. Faktor . Faktor Gastreoesophageal reflux disease (GERD) Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya GERD antara lain : a. Menurunnya tonus lower esophageal sphincter (LES)

LES adalah otot yang berbentuk cincin yang bertugas mengatur proses buka tutup saluran kerongkongan yang menghubungkan esophagus bawah dengan lambung. Klep ini normalnya menutup saluran kerongkongan setelah makanan masuk kedalam mulut namun dalam kondisi ini kinerja LES menurun.

b. Infeksi bakteri Helicobacter pylori dengan corpus predominan gastritis

Helicobacter pylori merupakan bakteri yang dapat hidup didalam lambung serta

menyerang dan merusak dinding lambung. Bakteri ini dapat menyebar dengan cara kontak mulut penderita dengan orang sehat, penularan melalui kotoran penderita yang tidak dibersihkan dengan benar serta konsumsi air/makanan yang terkontaminasi bakteri.

c. Alergi makanan atau tidak bisa menerima makanan yang memicu refluks

Makanan bersifat asam, coklat, minuman berkafein dan berkarbonat, alkohol, rokok dan obat-obatan yang menganggu fungsi esophagus bagian bawah.

2.4. Hasil penelitan terdahulu

Hasil penelitian terdahulu oleh Tandarto (2020) yang berjudul Correlation between Quality of Life and Gastroesophageal Reflux Disease menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara GERD dan kualitas hidup pasien dengan gejala saluran cerna bagian atas. Dengan demikian, GERD mempengaruhi kualitas hidup pasien.

(13)

Hasil penelitian terdahulu Lei Zhang (2017) yang berjudul Health-related quality of life in gastroesophageal reflux patients with noncardiac chest pain mengemukakan bahwa kecemasan dan depresi relatif mempengaruhi penyakit fisik dan memainkan peran penting dalam menentukan kualitas hidup pasien GERD.

Hasil penelitian terdahulu lainnya oleh Puspitasari (2014) yang berjudul Perbandingan Kualitas Hidup pasien dispepsia yang menggunakan lanzoprazole dan injeksi ranitidin menjelaskan secara terperinci bahwa terdapat pembatasan aktivitas sehari-hari serta pemilihan pengonsumsian jenis makanan dan minuman yang sesuai dengan kondisi keparahan GERD.

Hasil penelitian terdahulu oleh Jurnal Fakultas Kedokteran Lampung (2013) yang berjudul Gastroesophageal disease pada ibu rumah tangga dewasa muda dengan stressor finansial keluarga memaparkan bahwa GERD timbul akibat stress yang dialami dalam finansial keluarga dan penyakit tersebut mengganggu pekerjaan dan aktivtas sehari-hari penderita.

Hasil penelitian terdahulu lainnya oleh Jurnal Fakultas Ilmu Keperawatan UNAIR (2019) menunjukkan bahwa GERD menyebabkan kecemasan dan sebaliknya kecemasan menyebabkan meningkatnya reaksi asam di di lambung yang dalam jangka waktu tertentu akan menyebabkan GERD.

2.5. Perspektif teoritis

Gangguan kesehatan mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari dalam peningkatan kualitas hidup. Pengukuran kualitas hidup dapat membantu menentukan masalah apa yang mungkin muncul untuk pasien dengan penyakit tertentu (Health Psychology, 2018). World Health Organization (2001) mendefinisikan kualitas hidup sebagai persepsi individu tentang posisi mereka dalam hidup, dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka tinggal serta dalam hubungannya dengan tujuan, harapan, standar dan perhatian. Hal ini merupakan konsep

(14)

luas yang terpengaruh dalam cara yang kompleks dengan kesehatan fisik seseorang, keadaan psikologis, tingkat kemandirian, hubungan sosial, keyakinan pribadi dan hubungan mereka dengan lingkungan.

Adapun kualitas hidup memiliki dimensi-dimensi yang memiliki aspek yang terkandung didalamnya, yakni :

Dimensi Quality of life (QoL) menurut WHO

Dimensi Aspek yang berhubungan dengan

dimensi

1. Kesehatan fisik Energi dan kelelahan

Rasa sakit dan tidak nyaman Tidur dan istirahat

2. Psikologis Gambar tubuh dan penampilan

Perasaan negatif Perasaan positif Harga diri

Berpikir, belajar, memori, dan konsentrasi

3. Tingkat kemandirian Mobilitas

Aktivitas sehari-hari

Ketergantungan obat dan bantuan medis

Kapasitas kerja

4. Hubungan sosial Hubungan pribadi

(15)

Dukungan sosial Aktivitas seksual

5. Lingkungan Sumber keuangan

Kebebasan

Keselamatan dan keamanan fisik Kesehatan dan kepedulian sosial : aksebilitas dan kualitas

Lingkungan rumah

Peluang untuk mendapatkan informasi dan keterampilan baru

Partisipasi dan kesempatan untuk rekreasi atau santai

Lingkungan fisik (Polusi/ kebisingan/

Lalu lintas/ iklim) Transportasi 6. Spiritualitas/Agama/Kepercayaan

Pribadi

Spiritualitas/ Agama/ Kepercayaan Pribadi.

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian

(16)

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan fakta-fakta dan sifat-sifat populasi secara sistematis dan akurat.

Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek alamiah dimana peneliti merupakan instrumen kunci. Margono memaparkan bahwa dalam penelitian kualitatif ini analisis yang digunakan lebih bersifat deskriptif yang berarti Interpretasi terhadap isi disusum secara menyeluruh dan sistematis.

3.2. Unit Analisis

Dalam penelitian ini dilakukan unit analisis yang hendak di deskripsikan dan diramalkan dan unit eksplanasi yakni faktor yang memiliki dampak terhadap unit analisis.

Unit analisis dibuat untuk memberikan penjelasan tentang hal yang akan dikaji dan memberi fokus pada hal yang akan diteliti serta untuk menghindari bias dalam penarikan kesimpulan agar tetap berada pada fokus penelitian. Pada penelitian ini yang menjadi unit analisis adalah kualitas hidup (Quality of life) pada penderita GERD. Sub unit analisis dalam penelitian ini adalah aspek-aspek dan faktor-faktor dari kualitas hidup (Quality of life).

3.3 Subjek Penelitian

3.3.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Karakterisik subjek dalam penelitian ini adalah dua orang penderita GERD berusia dibawah 40 tahun. Usia tersebut dipilih karena sesuai dengan pendapat Lemos Kodrigues (2015) yakni usia dibawah 40 tahun memiliki kapasitas fungsional yang produktif sehingga ketika aktivitas dan produktiiftas yang ia miliki terganggu karena penyakit yang ia derita maka akan mempengaruhi kualitas hidupnya

(17)

3.3.2. Jumlah Subjek Penelitian

Sampel yang dipilih digunakan untuk mendapatkan informasi yang akurat dan maksimal. Dalam penelitian ini peneliti merencanakan jumlah subjek penelitian sebanyak dua orang yang sesuai dengan karakteristik yang ditentukan. Subjek tersebut akan mengarahkan pemahaman secara mendalam terkait penelitian ini.

3.3.3. Informan Penelitian

Informan bertindak sebagai pemberi informasi mengenai subjek yang akan diteliti dengan lebih mendalam. Informan pada penelitian ini merupakan orang terdekat dan memiliki hubungan dengan subjek seperti keluarga, teman dan orang disekitarnya.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut dipergunakan untuk memperoleh data dan informasi yang melengkapi tentang kualitas hidup penderita GERD .

1. Wawancara (Interview)

Wawancara adalah percakapan langsung yang dilakukan oleh 2 pihak dengan satu tujuan yang telah ditetapkan. Sebagai informasi kunci, peneliti memilih penderita GERD berusia 26 - 35 tahun.

2. Observasi

Observasi penelitian dilakukan untuk mengumpulkan data dengan melihat langsung ke lapangan terhadap objek yang diteliti.

3. Dokumentasi

(18)

Merupakan metode mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda, dan sebagainya yang berkaitan dengan pengaruh GERD terhadap kualitas hidup penderitanya.

3.5. Teknik Pengorganisasian Dan Analisis Data

Analisis data dalam penelitian dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Melis dan Humberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Aktivitas dalam analisis data yaitu : a. Reduksi Data (Data Reduction)

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, dan memfokuskan pada hal-hal yang penting dan merupakan proses berpikir sintesif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan wawasan yang tinggi.

b. Penyajian Data (Data Display)

Penyajian data akan disajikaan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart, dan sejenisnya. Penyajian data yang dilakukan oleh peneliti memuat data-data yang diperoleh dari wawancara dan observasi dengan penderita GERD.

c. Kesimpulan (Conclusion)

Merupakan kesimpulan awal yang masih bersifat sementara dan akan berubah bila ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap penelitian berikutnya.

3.6. Tahap – Tahap Penelitian

Penelitian kualitatif memiliki tahap-tahap penelitian yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Menurut Moleong (2017) tahap-tahap penelitian kualitatif adalah :

(19)

1. Tahap persiapan penelitian

Tahap ini dilakukan agar peneliti dapat mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam penelitian, yakni :

a. Mengumpulkan informasi dan teori-teori terkait penelitian.

Informasi yang dikumpulkan berupa identitas dan latar belakang subjek penelitian. Dengan demikian, informasi yang diperoleh dapat menentukan apakah individu tersebut layak menjadi subjek penelitian.

b. Menyusun pedoman wawancara.

Hal ini dilakukan agar wawancara fokus terhadap tujuan penelitian. Pedoman wawancara disusun berdasarkan teori yang telah ada.

c. Menghubungi calon subjek yang sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan.

Setelah peneliti memperoleh beberapa calon subjek maka peneliti harus menanyakan kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian.

2. Tahap pelaksanaan penelitian

Setelah tahap persiapan penelitian sudah rampung, maka peneliti memasuki tahap pelaksanaan penelitian, yakni :

a. Mengonfirmasi waktu dan tempat wawancara.

Sebelum wawancara dilaksanakan, peneliti harus mengonfirmasi waktu dan tempat bersama dengan subjek. Hal ini dilakukan untuk memastikan wawancara dapat dilaksanakan.

b. Melaksanakan wawancara.

(20)

Wawancara dilakukan sesuai dengan pedoman yang telah disusun. Sebelum memulai wawancara, subjek harus menandatangi lembar persetujuan wawancara yang menyatakan bahwa subjek memahami tujuan dari wawancara, bersedia menjawab pertanyaan, serta memahami bahwa hasil wawancara bersifat rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian.

3. Tahap akhir penelitian

Setelah tahap pelaksanaan penelitian sudah selesai maka peneliti memasuki tahap pelaksanaan penelitian, yakni

a. Memindai rekaman hasil wawancara dalam bentuk verbatim.

Setelah hasil wawancara diperoleh, peneliti memindahkan hasil wawancara ke dalam data verbatim tertulis.

b. Melakukan analisis data.

Data yang diperoleh berdasarkan hasil wawancara ditranskrip untuk dianalisis.

c. Menarik kesimpulan dan saran.

Setelah analisis data selesai, peneliti menarik kesimpulan untuk menjawab permasalahan dan hasil penelitian. Setelah kesimpulan dibuat, peneliti memberikan saran bagi subjek, lingkungan yang terkat penelitian dan peneliti berikutnya.

Referensi

Dokumen terkait

it can be concluded that increased body mass index impairs the health related quality of life of the respondents, except in scales such as bodily pain, social functioning and mental

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, karya tulis yang berjudul“Quality of Life pada

RESEARCH ARTICLE Better health-related quality of life in kidney transplant patients compared to chronic kidney disease patients with similar renal function Jung-Hwa Ryu1,2, Tai Yeon

Chronic kidney disease CKD afflicts approximately 500 million adults worldwide,1 majority of whom are in the asymptomatic predialysis stages.2 Impaired health-related quality of life

Abbreviations BP:Bodily pain; CI: Confidence intervals; ERF: Emotional role functioning; GHP: General health perceptions; HRQoL: Health-related quality of life; MCS: Mental Component

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PENDERITA KANKER SERVIKS STADIUM III QUALITY OF LIFE DESCRIPTION OF STAGE III CERVICAL CANCER PATIENTS 1*Mutia Nadra Maulida, 2Antarini Idriansari, 3Karolin