commit to user BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka 1. Bising
a. Definisi
Bising tidak terlepas dari satu gelombang yang disebut dengan bunyi. Bunyi merupakan suatu gelombang berupa getaran dari molekul-molekul zat yang saling beradu satu sama lain secara terkoordinasi sehingga menimbulkan gelombang dan meneruskan energi serta sebagian dipantulkan kembali. Media pengantar mempunyai masa yang elastis sehingga bunyi tersebut dapat dirambatkan. Bunyi merambat dengan kecepatan 344 m/detik pada suhu 20o C dan menimbulkan gelombang dengan sumber bunyi sebagai titik dan disebarkan secara radial membentuk bidang gelombang (Emil, 2002)
Intensitas bunyi sendiri dinyatakan dalam satuan logaritmis yang disebut desible (dB) dengan memperbandingkan dengan kekuatan dasar 0,0002 dyne/cm2 yaitu kekuatan dari bunyi dengan frekuensi 100Hz yang tepat dapat didengar normal (Suma’mur, 1996).
Bising merupakan suara atau bunyi yang tidak diinginkan yang memungkinkan memiliki efek merugikan bagi kesehatan individu dan populasi (Buchari, 2007). Definisi lain dari Siswanto (1991):
Hirrs dan Ward, bising adalah suara yang kompleks yang mempunyai sedikit atau bahkan tidak periodik, bentuk gelombang tidak dapat diikuti atau diprodusir dalam waktu tertentu.
Burn, Littler, dan Wall, bising adalah suara yang tidak dikehendaki kehadirannya oleh yang mendengar dan mengganggu.
Menurut permenkes RI no. 718/menkes/per/XI/1987 tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan, kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki, sehingga mengganggu dan atau membahayakan kesehatan.
b. Klasifikasi
Klasifikasi bising yang sering ditemuakn di lingkungan meliputi (Suma’mur, 1996) :
1) Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state, wide band noise) misalnya, mesin, kipas angin, dapur pijar, dan lain-lain.
2) Kebisingan kontinyu dengan spektrum frekuensi sempit (steady state, narrow band noise) misalnya, gergaji mesin, katup gas, dan lain-lain.
3) Kebisingan terputus-putus (intermittent) misalnya, lalulintas, suara kapal terbang di bandar udara.
4) Kebisingan impulsive (impact or impulsive noise) seperti tembakan senapan atau meriam.
5) Kebisingan impulsive berulang, misalnya mesin tempa di perusahaan.
Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, bising dapat diklasifikasikan menjadi (Karvanen dan Mikheev cite op. Buchari, 2007):
1) Bising yang mengganggu (irritating noise). Intensitasnya tidak terlalu keras, misalnya berdengkur.
2) Bising yang menutupi (masking noise) merupakan bising yang menutupi pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan membahayakan kesehatan karena teriakan atau isyarat tanda bahaya dapat tenggelam dalam bising dari sumber lain.
3) Bising yang merusak (damaging/injurious noise) adalah bunyi yang intensitasnya melampaui Nilai Ambang Batas (NAB). Bunyi jenis ini dapat merusakkan atau menurunkan fungsi pendengaran.
Bising dapat berdampak pada gangguan kesehatan individu.
c. Intensitas Bising
Intensitas merupakan serapan energi gelombang bunyi di udara per satuan waktu melalui satu satuan luas (Karvanen dan Mikheev cite op.
Buchari, 2007). Satuan sistem internasional untuk tingkat intensitas adalah desibel (dB), 10 desibel = 1 bel (Rosidah, 2003). Telinga manusia secara rata-rata bisa mendengar bunyi yang memiliki intensitas paling rendah sekitar 10-12 W/m2 (disebut juga ambang pendengaran), intensitas di bawah ini tidak bisa didengar). Intensitas
yang paling tinggi sekitar 1 W/m2, disebut juga ambang rasa sakit karena bunyi dengan intensitas sebesar ini menimbulkan rasa sakit bagi sebagian besar orang (Siswanto et al., 1991). Intensitas kebisingan dapat diukur melalui cara modern menggunakan Sound Level Meter (SLM) atau ,menghitung dengan rumus rumus (Buchari, 2007):
Li = 10 log (I/Io) dB Dimana :
Li = Tingkat intensitas bunyi (dB) I = Intensitas suara/bunyi (watt/m2)
Io = Intensitas ambang pendenganran manusia (10 - 12 watt/m2) d. Nilai Ambang Batas Bising
Nilai ambang kebisingan dapat diukur dengan suatu alat yang disebut Sound Level Meter dan Noise Dosimeter. Nilai ambang batas kebisingan adalah 85 dB yang dianggap aman untuk sebagian besar manusia terutama tenaga kerja bila bekerja 8 jam per hari atau 40 jam per minggu (Siswanto et al., 1991). Menurut The Workplace and Safety (Noise) Compliance Standar 1995, SL No 381, nilai ambang batas kebisingan yang diperbolehkan adalah 8 jam terus-menerus pada level tekanan suara 85 dB (A) dengan referensi 20 µPa (NIOSH, 1998). Sedangkan menurut surat edaran Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi no. SE-01/MEN/1978, nilai ambang batas kebisingan di lingkungan dinyatakan sebagai berikut:
Tabel 2.1 Besar Nilai Ambang Batas Kebisingan di Lingkungan No Besar Intensitas dalam dB (A) Lama Paparan Per Hari
1 82 16 jam
2 85 8 jam
3 88 4 jam
4 91 2 jam
5 94 1 jam
6 97 30 menit
7 100 15 menit
8 103 7,5 menit
9 106 3,5 menit
(Siswanto et al., 1991)
e. Dampak Bising terhadap Kesehatan
Babisch (2003) dan Lundberg (1999) berpendapat bahwa gejala patologis akibat bising seluruhnya bermuara pada gangguan keseimbangan aksis HPA. Gangguan ini menyebabkan manifestasi klinis yang bervariasi, secara garis besar dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1) Gangguan fisiologis
Pada berbagai penyelidikan ditemukan bahwa pemaparan bunyi menimbulkan reaksi fisiologis seperti hipertensi, gangguan metabolisme, gangguan tidur dan penyempitan pembuluh darah (Seidman dan Standring, 2010;
Stefan et al., 2006). Reaksi ini terutama terjadi pada
permulaan pemaparan terhadap bunyi kemudian akan kembali pada keadaan semula. Bila terus-menerus terpapar maka akan terjadi adaptasi sehingga perubahan itu tidak tampak lagi (Stefan et al., 2006).
2) Gangguan sistem imun
Bedanova et al. (2010) melaporkan bahwa paparan bising dengan intensitas 70 dan 80 dB (A) mengakibatkan supresi sistem imun yang ditandai dengan penurunan hitung heterofil, limfosit, dan basofil. Hal senada juga dilaporkan Cheng Zheng dan Arizumi (2007), subjek yang terpapar bising dalam waktu 5 jam perhari dengan intensitas 90 dB (A) selama 3 hari akan mengalami stres yang akan disertai dengan penurunan jumlah limfosit CD4+ dan kadar IgG serum.
3) Gangguaan psikologis
Kebisingan, terutama bising intermiten kronik, dapat mempengaruhi stabilitas mental dan reaksi psikologis, seperti rasa khawatir, jengkel, takut dan sebagainya. Gangguan psikologis yang terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan stres, penurunan fungsi kognitif dan daya ingat (Bo Cui et al., 2009; Gary et al. 1998).
4) Gangguan patologis organis
Gangguan kebisingan yang paling menonjol adalah pengaruhnya terhadap alat pendengaran atau telinga, yang dapat menimbulkan ketulian yang bersifat sementara hingga permanen. Pada umumnya tuli akibat kebisingan terjadi akibat pemaparan bising kontinyu dengan intensitas lebih dari 85 dB selama 8 jam per hari (Peter dan Rabinowitz, 2000).
5) Mental emosional
Gangguan seperti gangguan hidup, mudah marah dan menjadi peka atau mudah tersinggung (Dwi, 2000).
6) Produktivitas kerja
Kebisingan dapat menimbulkan gangguan terhadap pekerjaan yang sedang dilakukan seseorang melalui gangguan psikologis dan gangguan konsentrasi sehingga menurunkan produktivitas kerja (Dwi, 2000).
2. Lambung
Lambung adalah bagian dari saluran yang dapat meregang, memiliki struktur seperti kantong yang berfungsi sebagai pencair makanan dan dilanjutkan dengan proses pencernaan yang dibantu oleh asam Hidroklorat (HCL) dan enzim-enzim seperti pepsin, renin, lipase dan hormon Parafin (Bringman, 1995).
a. Anatomi lambung
Morfologi organ tikus analog dengan organ pada manusia sehingga dapat digunakan sebagai hewan pengujian obat sebelum diberikan pada manusia. Salah satu organ yang analog adalah lambung (Malole et al. 1989).
Lambung terdiri dari curvatura mayor yang berbentuk cembung dan curvatura minor yang berbentuk cekung (Miller, 1996). Bagian gaster mamalia dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu cardia, fundus, corpus dan pylorus. Cardia, merupakan bagian dengan ruangan yang kecil dan berlokasi dekat dengan gastroesophageal junction. Fundus merupakan regio berbentuk kubah terletak di sebelah kiri dari esofagus dan terdapat banyak sel kelenjar. Corpus adalah bagian terluas dari lambung mencakup 2/3 luas seluruh lambung yang membentang dari fundus inferior sampai pylorus. Pylorus adalah bagian paling akhir yang berbentuk corong (Bringman, 1995; Miller, 1996).
b. Struktur Dinding Lambung
Brown dan Hardisty (1990) serta Frappier (1998) menyatakan mukosa lambung depan (lambung nonkelenjar) berbentuk epitel pipih banyak lapis yang tertutupi oleh lapis keratin. Ketebalan lapisan keratin bervariasi tergantung pada spesies, umur, diet dan derajat perluasan lambung. Batas antara lambung nonkelenjar dan lambung kelenjar dapat terlihat pada peralihan bentuk epitel pipih banyak lapis
ke bentuk epitel silindris sebaris. Menurut Beveleander et al. (1988);
Bringman et al. (1995); Gartner dan Hiatt (2001), secara umum, histologi lambung dapat dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu:
mukosa, submukosa, muskularis mukosa dan serosa. Berikut merupakan gambaran histologi lambung beserta lapisan-lapisannya:
Gambar 2.1 Histologi Lambung Tikus Bagian Pylorus. M= mukosa;
MM= Muskularis Mukosa; SM= Submukosa; TM=
Tunika Muskularis. (Dyah, 2008)
Dinding lambung terdiri atas empat lapisan umum saluran cerna:
1) Mukosa:
Mukosa lambung berwarna pucat, merah-keabuan. Muskularis mukosa tidak tebal, terdiri atas lapisan dalam yang melingkar dan lapisan luar yang memanjang. Terdapat tiga kelenjar yaitu kelenjar kardia, kelenjar lambung, kelenjar Pylorus (Leeson, 1996).
Mukosa lambung terdiri atas beberapa sel, yaitu:
a) Sel epitel lambung, berfungsi untuk sekresi mucus glikoprotein netral yang melindungi mukosa dari asam.
b) Sel zimogen (Chief Cell), berfungsi untuk sekresi protein (zimogen) yang dapat melepaskan pepsinogen.
c) Sel parietal (Oksntik), berfungsi untuk sekresi asam hidroklorida dan faktor intriksik (suatau glikoprotein yang terikat vitamin B12 dan membantu absorbsinya).
d) Sel mucus leher, berfungsi menghasilkan mucus asam, berbeda dengan mucus netral yang dibentuk oleh sel mucus permukaan.
e) Sel enteroendokrin (Lesson 1996).
2) Submukosa
Lapisan yang berada di bawah mukosa muskularis adalah submukosa. Submukosa mengandung jaringan ikat tidak teratur.
(Eroschenko, 2003).
3) Muskularis eksterna
Tunika eksterna dibentuk oleh tiga lapisan otot polos : lapisan luar longitudinal, lapisan tengah sirkular, dan lapisan oblik (Lesson, 1996).
4) Serosa
Lapisan ini adalah lapisan tipis jaringan ikat yang menutupi muskularis eksterna. (Eroschenko, 2003).
c. Mekanisme Pertahanan Lambung
Mukosa lambung merupakan barier antara tubuh dengan berbagai bahan, termasuk makanan, produk-produk pencernaan, toksin, obat- obatan dan mikroorganisme yang masuk lewat saluran pencernaan.
Sistem proteksi lambung digunakan untuk mencegah bahan-bahan yang berasal dari luar tubuh maupun produk-produk pencernaan berupa asam dan enzim proteolitik dapat merusak jaringan mukosa lambung (Malik, 1992). Proteksi (faktor pertahanan) tersebut dilakukan oleh adanya beberapa faktor:
1) Faktor pre-epitelial
Faktor pre-epitelial merupakan faktor proteksi terluar saluran pencernaan yang letaknya merata lapisan permukaan sel epitel mukosa saluran pencernaan. Cairan mukus dan bikarbonat yang disekresikan oleh kelenjar-kelenjar dalam mukosa lambung berfungsi sebagai faktor preepitelial untuk proteksi lapisan epitel terhadap enzim-enzim proteolitik dan asam lambung. Bikarbonat berfungsi menetralisir keasaman di sekitar lapisan sel epitel. Suasana netral dibutuhkan agar enzim-enzim dan transpor aktif di sekeliling dan dalam lapisan sel epitel mukosa dapat bekerja dengan baik (Guyton dan Hall 1997).
Menurut (Guyton dan Hall (1997)), mukus adalah sekresi kental yang terutama terdiri dari air, elektrolit dan campuran beberapa glikoprotein, yang terdiri dari sejumlah besar polisakarida yang berikatan dengan protein dalam jumlah yang lebih sedikit. Menurut teori dua komponen barier mukus dari Hollander, lapisan mukus lambung yang tebal dan liat merupakan garis depan pertahanan terhadap autodigesti. Lapisan ini memberikan perlindungan terhadap trauma mekanis dan kimia (Wilson dan Lester 1994).
Mukus menutupi lumen saluran pencernaan yang berfungsi sebagai proteksi mukosa. Fungsi mukus sebagai proteksi mukosa: a) pelicin yang menghambat kerusakan mekanis (cairan dan benda keras), b) barier terhadap asam, c) barier terhadap enzim proteolitik (pepsin) dan d) pertahanan terhadap organisme patogen (Julius 1992).
2) Faktor epitelial
Integritas dan regenerasi lapisan sel epitel berperan penting dalam fungsi sekresi dan absorbsi dalam saluran pencernaan. Kerusakan sedikit pada mukosa (gastritis/duodenitis) dapat diperbaiki dengan mempercepat penggantian sel-sel yang rusak. Sel-sel epitel saluran pencernaan terus-menerus mengalami regenerasi setiap satu sampai tiga hari dipengaruhi oleh banyak faktor (Malik, 1992).
3) Faktor sub-epitelial
Integritas mukosa lambung terjadi akibat penyediaan glukosa dan oksigen secara terus-menerus. Aliran darah mukosa mempertahankan mukosa lambung melalui oksigenasi jaringan yang memadai dan sebagai sumber energi. Selain itu, fungsi aliran darah mukosa adalah untuk membuang atau sebagai buffer difusi balik ion H+ (Julius, 1992).
4) Proteksi oleh sistem imun lokal dan sistemik
Sistem pencernaan juga diproteksi oleh sistem imun baik lokal maupun sistemik serta sistem limfe terhadap berbagai toksin, obat dan bahan lainnya. Sistem imun lokal terdapat dalam saluran pencernaan,
sedangkan sistem imun sistemik terdapat dalam sistem peredaran darah. Komponen dari sistem imun dalam saluran cerna adalah sel-sel radang lokal saluran cerna (sel plasma, limfosit, monosit) dan jaringan limpoid yang bersifat sistemik (Malik 1992).
Selain beberapa faktor pertahanan di atas, pada selaput lendir saluran pencernaan juga terdapat komponen protektif mukosa yaitu prostaglandin (PG) (Julius 1992; Kartasasmita 2002). Prostaglandin merupakan kelompok senyawa turunan asam lemak arakhidonat yang dihasilkan melaui jalur siklooksigenase (COX). Prostaglandin meningkatkan resistensi selaput lendir terhadap iritasi mekanis, osmotis, termis atau kimiawi dengan cara regulasi sekresi asam lambung, sekresi mukus, bikarbonat dan aliran darah mukosa. Dalam suatu telaah telah ditunjukkan, bahwa pengurangan prostaglandin pada selaput lendir lambung memicu terjadinya ulkus. Hal ini membuktikan salah satu peranan penting prostaglandin untuk memelihara fungsi barier selaput lendir (Kartasasmita 2002).
3. Mekanisme Terjadinya Kerusakan Mukosa lambung Akibat Paparan Kebisingan
Kebisingan merupakan salah satu faktor yang dapat memicu stres fisikpsikobiologik (Olfe et al., 2010). Sensasi kebisingan akan ditangkap oleh sensor indra pendengaran dan hipokampus. Apabila hipokampus merespon kebisingan tersebut sebagai suatu gangguan maka akan terjadi hiperaktivitas sistem ascendent batang otak, sistem organ
circumventricular, dan sistem HBF yang kemudian memanipulasi aktivitas parvocellular PVN (Ziegler and Herman, 2002). Peningkatan aktivitas parvocellular PVN akan meningkatkan ambilan serotonin dan dopamin di neuron pre-sinap sehingga terjadi polarisasi sistem ascendent batang otak seperti amigdaloid, traktus nucleus solitarius, dan serotonergic dorsal raphe (López, 1998).
Polarisasi tersebut akan meningkatkan sekresi glutamat sehingga mencetuskan produksi CRH di hipotalamus. Hormon ini akan memasuki sinus kapiler di antara sel-sel kelenjar dan akhirnya mengalir ke hipofisis anterior melalui pembuluh darah porta hipotalamus-pituitary. CRH yang masuk ke pituitary kemudian mensensitisasi sel kortikotropin (basofil) hipofisis anterior untuk merangsang pembentukan Adrenocorticotropic Hormon (ACTH). Hormon ini disekresikan ke capillary bed pembuluh darah hipofisis kemudian bersirkulasi ke pembuluh darah porta hipotalamus-pituitary. ACTH kemudian bersirkulasi ke zona fasikulata korteks adrenal untuk merangsang pembentukan hormon kortisol (López, 1998).
Saat stres, umpan balik kortisol ke hipotalamus dan pituitary tidak berfungsi dengan baik (Ziegler dan Herman, 2002). Stres merusak keseimbangan neurotransmitter di celah sinaptik neuron otak sehingga memicu kerusakan N-methyl-D-aspartate receptor (NMDAR) di hipokampus dan korteks pre-frontalis (Bo Cui et al., 2009), keadaan ini ditandai dengan penurunan ekspresi reseptor umpan balik glukokortikoid
di eminensia mediana hipotalamus anterior, hipokampus, korteks pre- frontalis, dan medial preoptic area. Hilangnya reseptor umpan balik glukokortikoid di beberapa bagian otak menyebabkan kegagalan umpan balik negatif kortisol sehingga kadar kortisol tetap tinggi saat stres (Ziegler dan Herman, 2002; López, 1998). Peningkatan kortisol ini akan merangsang produksi asam lambung dan dapat menghambat Prostaglandin E yang merupakan penghambat enzim adenil siklase pada sel parietal yang bersifat protektif terhadap mukosa lambung (Zubir, 2002; Lavenstein,2000).
Keseimbangan antarfaktor agresif dan faktor defensif merupakan peran penting dalam menjaga mukosa lambung agar tetap sehat. Faktor agresif adalah faktor yang dapat menyebabkan kerusakan lambung, yaitu asam dan pepsin (Julius,1992 : Malik, 1992). Faktor defensif adalah mekanisme pertahanan mukosa lambung, meliputi pembentukan dan sekresi mucus, sekresi bikarbonat, aliran darah mukosa, mekanisme permeabilitas ion hidrogen, dan regenerasi epitel (Julius, 1992).
Pada saat stres, saraf simpatis akan teraktifasi menyebabkan vasokontriksi pembuluh-pembuluh darah daerah spanikus menyebabkan perfusi mukosa menurun sehingga terjadi pengurungan kapasitas mukosa untuk menyekresi bahan bikarbonat Buffer yang dapat menyebabkan ulserasi. Variasi terjadinya ulser dititik-beratkan pada berat ringannya gangguan oksigen yang dapat menyebabkan gangguan kerja dari
prostaglandin lokal dalam hal perannya sebagai sitoprotektif lambung (Guyton & Hall, 1996).
Rangsangan emosional kuat dapat meningkatkan BAO melalui saraf parasimpatis (vagus) dan diduga merupakan salah satu penyebab ulkus peptikum (Price and Wilson, 2006). Mekanisme ini terjadi pada saat stres dimana akan terjadi aktifasi nervus vagus sehingga terjadi pengeluaran asetilkolin. Selain asetilkolin, perangsangan tersebut akan memicu pengeluaran hormon gastrin oleh sel-sel gastrin yang kemudian menuju ke sirkulasi darah sehingga sel-sel parietal akan secara cepat mensekresi asam hidroklorida, hingga delapan kali lipat. Jika asetilkolin dan gastrin merangsang sel parietal secara bersamaan maka jumlah histamin normal yang jumlahnya sedikit akan meningkatkan sekresi asam. Oleh karena itu jika ketiga rangsangan (asetilkolin, gastrin, dan histamin) secara bersamaan teraktifasi maka akan meningkatkan proses sekretoris sehingga jumlah asam yang disekresikan meningkat banyak (Guyton & Hall, 1996).
4. Akupuntur a. Definisi
Akupuntur adalah teknik pengobatan menggunakan penusukan jarum pada titik-titik tertentu yang bersumber pada falsafah alamiah ilmu kesehatan tradisional Cina (Saputra, 2000). Dahulu akupuntur masih dianggap sebagai terapi tradisional karena masih sedikit pembuktian secara empiris. Kemudian beberapa peneliti dari berbagai
negara mulai meneliti pengobatan menggunakan akupuntur dan mengemukakan hipotesis cara kerja akupuntur. Tahun 1980, World Health Organization (WHO) telah merekomendasikan lebih dari 42 indikasi untuk terapi akupuntur (Kiswojo, 2007). Kemudian oleh the National Institute of Health, mengakui kebenaran akupuntur sebagai terapi tambahan dalam berbagai penyakit kecanduan, rehabilitasi stroke, dan asma (Hoediono, 2005).
Akupuntur medis merupakan perkembangan terapi akupuntur konvensional yang terbukti secara ilmiah melalui riset Evidence Based Medicine (EBM) (Saputra, 2000). Dasar dari ilmu akupuntur sendiri berasal dari ilmu akupuntur klasik yang dipengaruhi oleh berbagai falsafah ilmu antara lain: falsafah Taiji, falsafah Yin Yang, falsafah Sancai, falsafah Wuxing, falsafah Qi-Xue-Jinje, dan konsep otak (Kiswojo, 2007).
Berbagai falsafah dalam ilmu akupuntur tradisional menghasilkan konsep sistem meridian sebagai dasar dan titik akupuntur sebagai sasaran rangsangan untuk mencapai tujuan pengobatan (Hoediono, 2005). Meridian merupakan sistem alami dalam tubuh manusia, yang terdiri dari saluran yang menjaring tubuh menjadi satu kesatuan, yang menghubungkan bagian atas dengan bagian bawah tubuh, bagian kanan dengan bagian kiri tubuh, bagian ventral dengan bagian dorsal, permukaan tubuh dengan organ viscera, antarorgan viscera, organ viscera dengan panca indera, yang dapat bereaksi
terhadap rangsangan baik rangsangan dari luar maupun dari dalam tubuh, serta dapat menyalurkan Qi Xue, mengatur harmoni Yin Yang, sehingga bagian-bagian tubuh dapat melakukan kegiatan dengan selaras serasi dalam suatu keseimbangan yang dinamis (Kiswojo, 2007).
Titik akupuntur sebagai sasaran pengobatan terletak di sepanjang meridian. Titik akupuntur menurut ilmu kesehatan Cina adalah titik pancaran Qi dari Zangfu meridian pada permukaan tubuh.
Titik pancaran ini merupakan titik peka rangsang dan titik reaksi yang berubah mengikuti perubahan kegiatan dari Qi Zangfu meridian (Filshie dan White, 1998). Pada umumnya letak titik akupuntur berhimpit dengan motor neuron (±70%) sehingga diduga setiap rangsangan jarum akupuntur dapat diartikan sebagai sinyal saraf tepi menuju ke susunan saraf pusat (Hoediono, 2005).
Perangsangan pada titik akupuntur secara mekanis akan merangsang serabut saraf berbagai tipe sehingga menimbulkan efek terapi (Filshie dan White, 1998). Rangsangan jarum yang mengenai reseptor sensorik akan dilanjutkan melalui akson perifer menuju akson sentral. Kemudian, rangsangan tersebut akan mengakibatkan aktivasi keseimbangan neurotransmitter, neurokimiawi, serta sistem imun (Saputra, 2000). Selanjutnya, aktivasi keseimbangan biologis tersebut akan menghasilkan refleks akson serabut saraf C dan Aδ sehingga muncul efek terapi yang ditandai rasa hangat (terlihat kemerahan) pada kulit pasien (Filshie dan White, 1998).
b. Elektroakupuntur
Beberapa tahun terakhir akupuntur telah berkembang menggunakan stimulasi listrik, metode ini disebut dengan elektroakupuntur, di mana jarum yang telah ditusukkan ke titik akupuntur dihubungkan ke alat elektrik yang berfungsi mengatur frekuensi dan intensitas gelombang sesuai dengan kebutuhan (Saputra, 2000). Pengaturan gelombang listrik pada elektroakupuntur digunakan sebagai pengganti stimulasi manual pada akupuntur. Dalam beberapa keadaan, elektroakupuntur memiliki kelebihan daripada akupuntur manual karena dengan menggunakan elektroakupuntur seorang terapis dapat mengatur efek rangsang bergantung pada besar kecilnya frekuensi rangsang:
1) Elektroakupuntur frekuensi rendah (2-4 Hz) (endorphin-dependent system) merangsang reseptor sensorik di otot
Elektroakupuntur frekuensi rendah mengakibatkan impuls rangsang yang merangsang nukleus spinal basal di substansia grisea medula spinalis menghasilkan endorfin yang akan berikatan dengan reseptor opiat di sel transmisi nyeri, sehingga terjadi penghambatan presinaptik melalui penghambatan pelepasan substansi P oleh serabut saraf halus tak bermielin (Rudy, 1999).
Selain merangsang nukleus spinal basal, elektroakupuntur frekuensi rendah juga merangsang substansia grisea periakuaduktus (periaqueductal grey matter) menghasilkan enkefalin yang akan
mengaktifkan nukleus raphe dan nukleus retikular magnoselular mengirimkan impuls penghambat nyeri ke medulla spinalis melalui jaras kaudal-retikular (descending inhibitory system) (Zhao, 2008).
Jaras kaudal-retikuler yang berasal dari nukleus raphe adalah serabut serotonergik, sedangkan yang berasal dari nukleus retikular magnoselular adalah serabut norepinefrinergik. Di medula spinalis kedua jenis serabut saraf tersebut bersinaps dengan serabut enkefalinergik yang juga melakukan penghambatan presinaptik melalui penghambatan pelepasan substansi P oleh serabut saraf halus tak bermielin. Jalur kedua ini disebut juga acupuncture efferent pathway (Zhao, 2008).
Perangsangan hipotalamus menghasilkan endorfin yang berikatan dengan reseptor opiat di substansia grisea periakuaduktus, nukleus accumbens, amigdala, habenula, termasuk nukleus arcuatus hipothalami yang dikenal sebagai mesolimbic loop of analgesia sehingga terjadi central pain relief (Rudy, 1999).
2) Elektroakupuntur frekuensi tinggi (>80 Hz) (serotonin-dependent system) merangsang reseptor sensorik di kulit
Impuls rangsang ini berasal dari medulla spinalis secara langsung merangsang nukleus raphe dan nukleus retikular magnoselular, tanpa melalui substansia grisea periakuaduktus.
Perjalanan selanjutnya melalui acupuncture efferent pathway mengaktifkan analgesia inhibitory system yang terdiri dari nukleus
sentromedian lateralis thalami dan hipotalamus posterior sehingga mencetuskan sekresi neurotransmitter kolesistokinin.
Kolesistokinin merupakan salah satu antagonis opioid endogen bekerja dengan menduduki reseptor opiat di substansia grisea periakuaduktus sehingga dapat mengurangi efektivitas analgesi yang dihasilkannya (Rudy, 1999).
c. Titik Akupuntur Weishu (BL 21) dan Zusanli (ST 36)
Titik akupuntur Weishu (BL 21) adalah shu belakang lambung.
Titik ini berfungsi untuk memperkuat organ pankreas dan mempengaruhi regulasi dalam lambung, melancarkan pencernaan.
Pada pelaksaaannya titik ini digunakan untuk mengobati masalah gastrointestinal seperti gastritis, ulcus lambung, dilatasi lambung, gastrospasm, gastroptosis, enteritis dan disentri (Fei Xiao, 2000). Titik ini berada pada bagian punggung tepatnya di bawah procesus spinosus vertebrae thorak 12 (Xin, 2012).
Titik akupuntur Zusanli (ST 36) memiliki potensi untuk memperkuat fungsi organ pankreas, regulasi gerakan lambung dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Titik ini memiliki banyak manfaat medis dalam mengobati berbagai penyakit di antaranya gangguan pencernaan akut maupun kronik, gangguan vaskularisasi otak dan jantung, hematopathy, endokrinopathy (Fei Xiao, 2000).
Titik ini berada pada anterolateral dari kaki bagian belakang dekat
dengan peninggian anterior dari tibia di bawah lutut di bawah muskulus tibialis anterior (Xinyan, 2012).
d. Efek Elektroakupuntur terhadap Lambung
Pada penetilian di Inggris pada tahun 1994 beberapa model akupuntur seperti sham-akupuntur, akupuntur, dan laserpuntur pada berbagai titik termasuk Weishu (BL 21) dan Zusanli (ST 36) berpotensi menurunkan sekresi asam lambung melalui nervus vagus. Pada penelitian lain dari Kanada elektroakupuntur menunjukan penurunan Basal Acid Output (BAO) yang digabungkan dengan sham- akupuntur,namun tidak berefek pada pentagastrin-stimulated Maximal Acid Output (MAO). Elektroakupuntur secara signifikan menghambat sekresi asam sebesar 75%, hal ini diindikasi dengan meningkatnya plasma somatostatin, Vasoactive Intestinal Peptide (VIP) dan β- endorphin. Peningkatan β-endorfin dan enkefalin memberikan efek penenang sehingga memberikan rasa rileks dan menyeimbangkan tingkat emosi (Cho et al., 2008). Penelitian yang dilakukan oleh Zhou dan Chey (1984) telah menemukan bahwa akupunktur memberikan gambaran peningkatan dari sekresi bikarbonat dan penurunan sekresi asam lambung (David, 1999).
Mekanisme perangsangan akupuntur Weishu (BL 21) akan diterima oleh saraf somatik afferentt dan diteruskan melalui sumsum tulang belakang menuju otak, selanjutnya rangsang tersebut akan mempengaruhi nervus vagus yang bekerja pada lambung (David, 1999).
Efek dari akupuntur Weishu (BL 21) adalah dapat meningkatkan motilitas dari lambung, sehingga meningkatkan kecepatan pengosongan lambung. Hal ini terjadi karena peningkatan N-Methyl-D-Aspartate Receptor (NMDAR) yang melalui Dorsal Motor Vagus (DMV) (Xin, 2012).
Akupuntur Zusanli (ST 36) memiliki potensi untuk meregulasi aksis HPA. Lin et al. (1991) menunjukan bahwa elektroakupuntur frekuensi rendah (2 Hz) Zusanli (ST 36) dapat mengembalikan fungsi adrenal anjing yang mengalami Iatrogenic Cushings Syndrome. Oleh karena itu, Zusanli (ST 36) dapat dipilih untuk memperkuat efek terapi Weishu (BL 21) terhadap stres yang dapat menyebabkan kerusakan lambung.
Titik Zusanli (ST 36) terletak pada 3 pembagian rata di bawah batas bawah patela, pada lateral tepi anterior tulang tibia. Dalam konsep akupuntur medis, titik Zusanli (ST 36) merupakan titik akupuntur yang menimbulkan efek terapetik antara lain sebagai antiinflamasi, spasmolitik, dan analgesik. Penusukan pada titik Zusanli (ST 36) menyebabkan rangsangan pada spinal, neuron segmen sacral, lumbar, thoracic berlanjut ke medula oblongata kemudian melalui nukleus motorik nervus vagus, nukleus traktus solitarius, area post-rema dan mensensitisasi neuron-neuron otak (Lee et al., 2001).
Perangsangan titik Zusanli (ST 36) berpengaruh pada neuron otak di antaranya nukleus retikuler, nukleus motorik dorsal nervus
vagus, nukleus raphe oscurus, nukleus raphe pallidus, nukleus raphe magnus, nukleus gigantoceluller, locus coeruleus, parvoceluller PVN, nukleus amigdala, dan nukleus hipotalamus retrochiasmatic, rangsangan tersebut menstimulasi pelepasan β-endorfin dan enkefalin (Lee et al., 2001). Peningkatan β-endorfin akan meningkatkan produksi somatostatin yang berefek pada penurunan sekresi gastrin, penurunan BAO, penurunan MAO serta peningkatan sekresi bikarbonat (David, 1999).
Perangsangan pada titik Zusanli (ST 36) diketahui dapat memperbaiki ekspresi reseptor umpan balik glukokortikoid saat stres.
Stres menyebabkan atrofi neuron sehingga menurunkan ekspresi protein Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) mRNA, mengakibatkan hilangnya respon umpan balik kortisol. Penusukan pada titik Zusanli (ST 36) dapat mengoreksi kerusakan tersebut, meningkatkan ekspresi protein Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) mRNA dan meregenerasi neuron sehingga ekspresi reseptor umpan balik glukokortikoid menjadi normal kembali. Proses ini bermanfaat untuk mengoreksi kadar kortisol yang tinggi (Su jin et al., 2002).
B. Kerangka Berfikir
Gambar 2.2 Kerangka Berfikir
Efek penenang
Keterangan:
Memacu :
Menghambat :
Jalur humoral Jalur neural
Sumsum tulang belakang
Nervus vagus
β Endorfin
Gastrin
Sekresi glutamat Saraf somatik
afferent
Elektroakupuntur ST 36 & BL 21
otak
BAO MAO Sekresi bikarbonat
Ambilan Serotonin Bising sebagai stres fisik psikobiologik
Indra pendengaran
Aktifasi Parvocellular PVN di hipokampus
Polarisasi sistem ascendents batang otak
CRH (di hipotalamus) Sekresi
Bikarbonat
ACTH di Hipofisis anterior
Sistem saraf otonom
KERUSAKAN LAMBUNG
Cortisol (di Kortek adrenal)
HCL Prostaglandin E simpati
s
parasimpati s
Nervus vagus
Gastrin
C. Hipotesis
Ada pengaruh elektroakupuntur weishu (BL 21) dan zusanli (ST 36) terhadap perbaikan mukosa pylorus tikus yang dipapar bising intermittent.